Notice: Fungsi _load_textdomain_just_in_time ditulis secara tidak benar. Pemuatan terjemahan untuk domain seedlet dipicu terlalu dini. Ini biasanya merupakan indikator bahwa ada beberapa kode di plugin atau tema yang dieksekusi terlalu dini. Terjemahan harus dimuat pada tindakan init atau setelahnya. Silakan lihat Debugging di WordPress untuk informasi lebih lanjut. (Pesan ini ditambahkan pada versi 6.7.0.) in /home/u1443300/public_html/wp-includes/functions.php on line 6170
Niat Belajar dan Kewajiban Menyampaikan Ilmu – Jannatul-firdaus.net

Bagikan...

Niat Belajar dan Kewajiban Menyampaikan Ilmu

(Tanya Jawab bersama Ustadz Dzulqarnain bin Muhammad Sunusi)

Pertanyaan:

“Bagaimana dengan saya sebagai penuntut ilmu yang tidak berkeinginan menjadi seorang ustadz, tapi tujuan saya menuntut ilmu agar saya bisa mengangkat kebodohan dari diri saya, dan tidak jahil dalam agama?”

Jawaban:

“Niatnya bagus, tetapi ilmu itu dia punya hak. Kalau dia punya ilmu, di antara hak ilmu, diajarkan kepada orang yang tidak mengetahui. Yang penting diajarkan, mau disebut “ustadz”, tidak disebut “ustadz”, itu urusan dia. Yang jelas diajarkan ilmu yang dia ketahui. Ndak mesti orang yang mengajarkan ilmu itu disebut “ustadz”.

Terus kalau dia belajar ilmu, dia tidak ajarkan dengan alasan zuhud tidak mau jadi ustadz?

Nanti siapa yang mau mengajari umat ini? Jadi, masalah itu jangan dilihat di satu sudut. Kadang ada orang di sudut tertentu dia ndak suka di situ, misalnya dia mengajar ilmu, lalu dia mengambil upah darinya, atau diberi sesuatu, sedang dia ndak suka. Itu bagus, tetapi jangan karena alasan itu, dia menelantarkan sudut-sudut syar’i yang lain.”

 

_________________

* Dijawab oleh Al ustadz Dzulqarnain bin Muhammad Sunusi –hafizahullahu-, dalam sesi tanya jawab Tafsir Surah Al-Baqarah.[1]

* Tulisan ini telah diedit oleh Ustadz Abdul Qodir Abu Fa’izah –hafizhahullah-.

[1] Sumber : Facebook Dzulqarnain M Sunusi