Notice: Fungsi _load_textdomain_just_in_time ditulis secara tidak benar. Pemuatan terjemahan untuk domain seedlet dipicu terlalu dini. Ini biasanya merupakan indikator bahwa ada beberapa kode di plugin atau tema yang dieksekusi terlalu dini. Terjemahan harus dimuat pada tindakan init atau setelahnya. Silakan lihat Debugging di WordPress untuk informasi lebih lanjut. (Pesan ini ditambahkan pada versi 6.7.0.) in /home/u1443300/public_html/wp-includes/functions.php on line 6170
Tiga Maksiat Pembinasa – Jannatul-firdaus.net

Tiga Maksiat Pembinasa

  • Oleh : Al-Ustadz Abdul Qodir Abu Fa’izah hafizhahullah
  • [Pembina Ponpes Al-Ihsan Gowa]

ย 

Kehidupan dunia adalah kehidupan yang penuh dengan aral dan rintangan.

Barang siapa yang tak berhati-hati mencari jalan yang dapat menyelamatkan dirinya, maka ia akan celaka di dunia, bahkan boleh jadi nanti di akhirat.

Karena itu, hendaknya kita menghindari segala perkara yang mendatangkan kebinasaan.

Disebutkan dalam sebuah hadits :

Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda,

ุซูŽู„ุงูŽุซูŒ ู…ูู‡ู’ู„ููƒูŽุงุชูŒ ุŒ ูˆูŽุซูŽู„ุงูŽุซูŒ ู…ูู†ู’ุฌููŠูŽุงุชูŒ ุŒ ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ : ุซูŽู„ุงูŽุซูŒ ู…ูู‡ู’ู„ููƒูŽุงุชูŒ : ุดูุญู‘ูŒ ู…ูุทูŽุงุนูŒ ูˆู‡ูŽูˆู‹ู‰ ู…ูุชู‘ูŽุจูŽุนูŒ ูˆูŽุฅูุนู’ุฌูŽุงุจู ุงู„ู’ู…ูŽุฑู’ุกู ุจูู†ูŽูู’ุณูู‡ู

“Ada tiga perkara yang dapat membinasakan dan tiga perkara yang menyelamatkan. Tiga perkara yang membinasakan adalah kebakhilan yang ditaati, hawa nafsu yang diperturutkan dan bangganya seseorang terhadap dirinya”.

ย 

รพย ย Takhrij Hadits

Hadits ini diriwayatkan dari beberapa orang sahabat: Anas bin Malik, Abdullah bin Abbas, Abu Hurairah, Abdullah bin Abi Awfa dan Abdullah bin Umarย -radhiyallahu anhum-.

Hadits Anas –radhiyallahu anhu– diriwayatkan oleh Al-Bazzar dalamย Musnad-nya (no. 80), Al-Uqoiliy dalamย Adh-Dhu’afaa’ย (hal. 352), Abu Bakr Ad-Dainuriy dalamย Al-Mujalasah wa Jawaahir Al-Ilmย (no. 899), Abu Muslim Al-Kaatib dalamย Al-Amaaliย (261/1), Abu Nu’aim dalamย Al-Hilyahย (2/343) dan Al-Harowiy dalamย Dzammul Kalaamย (145/1) ย dan Al-Qudho’iy dalamย Musnad Asy-Syihaabย (no. 327).

Hadits ini sanadnyaย dho’ifย (lemah). Akan tetapi ia memiliki beberapaย mutabi’ย danย syawahidย sehingga derajatnya menjadiย hasan, bahkan boleh jadiย shohih. [Lihatย Ash-Shohihahย (no. 1802) karya Syaikh Al-Albaniy –rahimahullah-]

รพย ย Faedah Ilmiah Hadits Ini

Hadits ini lafazhnya pendek, tapi mengandung banyak manfaat dan faedah serta nasihat.

Begitulah salah satu ciri sabda Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-, pendek lafazhnya. Tapi faedahnya banyak sekali.

Lain halnya dengan ucapan kebanyakan diantara kita. Lafazhnya bertele-tele dan panjang, namun sedikit manfaatnya.

Para pembaca yang budiman, diantara faedah yang bisa kita petik dari hadits Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- yang mulia ini:

รฎย ย Bahaya Bakhil

Bakhil adalah penyakit hati yang timbul karena kurangnya tawakkal seseorang kepada Allah.

Sebab orang yang bakhil merasa bahwa apabila ia sedekahkan sebagian hartanya, maka harta itu akan hilang begitu saja, tanpa ada gantinya.

Padahal bila ia mau berpikir bahwa dengan sedekah, Allah akan membersihkan hartanya dan memberkahinya.

Dengan itu, ia akan diberi ganti yang lebih baik, entah di dunia, atau kalau tidakย โ€“insya Allahย di akhirat- dengan ganti yang jauh lebih baik.

Seorang yang bakhil akan jauh dari kebaikan, imannya tak akan bertambah, bahkan boleh jadi akan menurun.

Sebab dengan kikirnya seseorang, banyak sekali jalan-jalan kebaikan yang mestinya ia lakukan, tapi ia sia-siakan.

Dia tinggalkan kesempatan dalam memperbanyak amal yang bisa meningkatkan iman akibat sifat kikir pada dirinya.

Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda,

ู„ูŽุง ูŠูŽุฌู’ุชูŽู…ูุนู ุบูุจูŽุงุฑูŒ ูููŠ ุณูŽุจููŠู„ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ูˆูŽุฏูุฎูŽุงู†ู ุฌูŽู‡ูŽู†ู‘ูŽู…ูŽ ูููŠ ุฌูŽูˆู’ูู ุนูŽุจู’ุฏู ุฃูŽุจูŽุฏู‹ุง ูˆูŽู„ูŽุง ูŠูŽุฌู’ุชูŽู…ูุนู ุงู„ุดู‘ูุญู‘ู ูˆูŽุงู„ู’ุฅููŠู…ูŽุงู†ู ูููŠ ู‚ูŽู„ู’ุจู ุนูŽุจู’ุฏู ุฃูŽุจูŽุฏู‹ุง

“Tak akan berkumpul debu fi sabilillah dan asap Jahannam dalam rongga tubuh seorang hamba selama-lamanya, dan tak akan berkumpul sifat bakhil dan keimanan dalam hati seorang hamba selama-lamanya.”ย [HR. An-Nasa’iy dalamย Kitab Al-Jihadย (no. 3110 & 3111). Hadits ini di-shohih-kan oleh Syaikh Al-Albaniy dalamย Takhrij Al-Misykahย (3828)]

Al-Imam Abul Hasan Nuruddin As-Sindiyย –rahimahullah– berkata,

“ุฃูŽูŠ : ู„ูŽุง ูŠูŽู†ู’ุจูŽุบููŠ ู„ูู„ู’ู…ูุคู…ู†ู ุฃูŽู† ูŠุฌู…ุน ุจูŽูŠู†ู‡ู…ูŽุง ุฅูุฐู’ ุงู„ุดู‘ูุญ ุฃุจุนุฏ ุดูŽูŠู’ุก ู…ู† ุงู„ู’ุฅููŠู…ูŽุงู† ุฃูŽูˆ ุงู„ู…ูุฑูŽุงุฏ ุจูุงู„ู’ุฅููŠู…ูŽุงู† ูƒูŽู…ูŽุงู„ู‡ ูƒูŽู…ูŽุง ุชู‚ุฏู… ุฃูŽูˆ ุงู„ู…ูุฑูŽุงุฏ ุฃูŽู†ู‡ ู‚ูŽู„ู…ุง ูŠุฌู’ุชูŽู…ุน ุงู„ุดู‘ูุญ ูˆุงู„ุงูŠู…ุงู† ูˆูŽุงุนู’ุชุจุฑ ุฐูŽู„ููƒ ุจูู…ูŽู†ู’ุฒูู„ูŽุฉ ุงู„ู’ุนูŽุฏูŽู….” ุงู‡ู€ ุญุงุดูŠุฉ ุงู„ุณู†ุฏูŠ ุนู„ู‰ ุณู†ู† ุงู„ู†ุณุงุฆูŠ (6/ 13)

“Maksudnya, tak pantas bagi seorang mukmin untuk mengumpulkan antara kedua hal itu, sebab sifat kikir adalah sesuatu yang amat jauh dari keimanan; atau maksudnya, jarang berkumpul antara sifat kikir dengan keimanan. Perkara itu dianggap seakan-akan tak ada”.ย [Lihatย Hasyiyah As-Sindiy ala Sunan An-Nasa’iyย (6/13), cet. Maktab Al-Mathbu’at Al-Islamiyyah, 1406 H]

Abu Bakr Al-Kalaabaadziy –rahimahullah– berkata,

“ูˆูŽุงู„ู’ุจูุฎู’ู„ู ูŠูŽูƒููˆู†ู ู…ูู†ู’ ุณููˆุกู ุงู„ุธู‘ูŽู†ู‘ู ุจูุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุชูŽุนูŽุงู„ูŽู‰ุ› ู„ูุฃูŽู†ู‘ูŽู‡ู ูŠูŽุฎูŽุงูู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ุฃูŽู†ู’ ู„ูŽุง ูŠูŽุฎู’ู„ูููŽุŒ ูˆูŽู„ูŽู…ู’ ูŠูู…ู’ูƒูู†ู’ ุชูŽุญู’ู‚ููŠู‚ู ุงู„ุซู‘ูŽูˆูŽุงุจู ู…ูู†ู’ ู‚ูุจูŽู„ูู‡ูุŒ ููŽุงู„ู’ุจูุฎู’ู„ู ุจูุงู„ู’ู…ูŽุงู„ู ู…ูู†ู’ ุณููˆุกู ุงู„ุธู‘ูŽู†ู‘ู ุจูุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูุŒ ูˆูŽุณููˆุกู ุงู„ุธู‘ูŽู†ู‘ู ูŠููˆู‡ูู†ู ุงู„ุชู‘ูŽุตู’ุฏููŠู‚ูŽ.” ุงู‡ู€ ู…ู† ุจุญุฑ ุงู„ููˆุงุฆุฏ ุงู„ู…ุณู…ู‰ ุจู…ุนุงู†ูŠ ุงู„ุฃุฎุจุงุฑ ู„ู„ูƒู„ุงุจุงุฐูŠ (ุต: 187)

“Sifat kikir muncul dari adanya buruk sangka kepada Allah -Ta’ala-. Karena si kikir khawatir bila Allah tak memberinya ganti. Tak mungkin akan terwujud pahala dari orang yang seperti. Jadi, sifat kikir muncul dari buruk sangka kepada Allah, sedang buruk sangka kepada Allah akan melemahkan iman”.ย [Lihatย Bahr Al-Fawa’idย (hal. 187), cet. Dar Al-Kutub Al-Ilmiyyah, 1420 H]

Perkataan beliau ini amatlah benar. Sebab tak mungkin seseorang kikir dan menahan hartanya, kecuali karenan lemahnya iman yang lahir adanya buruk sangka kepada Allah. Karenanya, layaklah bila imannya tak bertambah, bahkan berkurang.

Allah -Ta’ala- berfirman dalam mencela kaum munafiq akibat sifat bakhil mereka,

{ุฃูŽุดูุญู‘ูŽุฉู‹ ุนูŽู„ูŽูŠู’ูƒูู…ู’ ููŽุฅูุฐูŽุง ุฌูŽุงุกูŽ ุงู„ู’ุฎูŽูˆู’ูู ุฑูŽุฃูŽูŠู’ุชูŽู‡ูู…ู’ ูŠูŽู†ู’ุธูุฑููˆู†ูŽ ุฅูู„ูŽูŠู’ูƒูŽ ุชูŽุฏููˆุฑู ุฃูŽุนู’ูŠูู†ูู‡ูู…ู’ ูƒูŽุงู„ู‘ูŽุฐููŠ ูŠูุบู’ุดูŽู‰ ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ู…ูู†ูŽ ุงู„ู’ู…ูŽูˆู’ุชู ููŽุฅูุฐูŽุง ุฐูŽู‡ูŽุจูŽ ุงู„ู’ุฎูŽูˆู’ูู ุณูŽู„ูŽู‚ููˆูƒูู…ู’ ุจูุฃูŽู„ู’ุณูู†ูŽุฉู ุญูุฏูŽุงุฏู ุฃูŽุดูุญู‘ูŽุฉู‹ ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ู’ุฎูŽูŠู’ุฑู ุฃููˆู„ูŽุฆููƒูŽ ู„ูŽู…ู’ ูŠูุคู’ู…ูู†ููˆุง ููŽุฃูŽุญู’ุจูŽุทูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุฃูŽุนู’ู…ูŽุงู„ูŽู‡ูู…ู’ ูˆูŽูƒูŽุงู†ูŽ ุฐูŽู„ููƒูŽ ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ูŠูŽุณููŠุฑู‹ุง } [ุงู„ุฃุญุฒุงุจ: 19]

“Mereka bakhil terhadapmu, apabila datang ketakutan (bahaya), kamu lihat mereka itu memandang kepadamu dengan mata yang terbalik- balik seperti orang yang pingsan karena akan mati, dan apabila ketakutan telah hilang, mereka mencaci kamu dengan lidah yang tajam,ย sedang mereka bakhil untuk berbuat kebaikan. Mereka itu belum beriman. Karenanya, Allah menghapuskan (pahala) amalnya. dan yang demikian itu adalah mudah bagi Allah”.ย (QS. Al-Ahzaab : 19)

Ahli Tafsir Jazirah Arab, Syaikh Abdur Rahman As-Sa’diyย –rahimahullah– berkata,

“{ุฃูŽุดูุญู‘ูŽุฉู‹ ุนูŽู„ูŽูŠู’ูƒูู…ู’} ุจุฃุจุฏุงู†ู‡ู… ุนู†ุฏ ุงู„ู‚ุชุงู„ุŒ ูˆุจุฃู…ูˆุงู„ู‡ู… ุนู†ุฏ ุงู„ู†ูู‚ุฉ ููŠู‡ุŒ ูู„ุง ูŠุฌุงู‡ุฏูˆู† ุจุฃู…ูˆุงู„ู‡ู… ูˆุฃู†ูุณู‡ู….” ุงู‡ู€ ู…ู† ุชูŠุณูŠุฑ ุงู„ูƒุฑูŠู… ุงู„ุฑุญู…ู† (ุต: 661)

“Mereka bakhil terhadapmu dalam hal badan mereka ketika perang dan dalam harta mereka ketika berinfaq di jalan Allah. Jadi, mereka itu tidak berjihad dengan harta dan jiwa mereka”.ย [Lihatย Taisir Al-Karim Ar-Rahmanย (hal. 660)]

Demikianlah Allah โ€“azza wa jalla- mencela pelaku kebakhilan, akibat keburukan laku bakhil mereka. Ia mengira bahwa dirinya akan mulia dengan menahan harta benda di tangannya, dan menumpuknya demi memperkaya diri dan berbangga-bangga, lalu melupakan tabungan di negeri akhirat, melalui infaq dan sedekah yang ia keluarkan.

รฎย ย Larangan Memperturutkan Hawa Nafsu

Hawa nafsu maknanya keinginan jiwa. Jiwa manusia terkadang menginginkan dan mencintai sesuatu berupa perkara-perkara yang menyenangkan dirinya.

Hanya saja banyak diantara mereka yang tak bisa menempatkan hawa nafsunya sesuai yang diridhoi oleh Allah, sehingga sering kali kita menemukan orang-orang yang memperturutkan hawa nafsu yang tidak mendatangkan ridho Allah, bahkan menyeret dirinya kepada jurang kebinasaan.

Para pembaca yang budiman, hawa nafsu bisa berupa kesenangan dan kecintaan kepada harta, pekerjaan, keturunan, kehormatan dan lainnya.

Dengan hawa nafsu, terkadang seseorang terpuji dan seringnya tercela.

Lantaran itu, seseorang harus mengerti hakikat hawa nafsu yang memiliki kesenangan dan kecintaan.

Menyenangi dan membenci sesuatu haruslah mengikuti kecintaan dan keridhoan Allah -Azza wa Jalla-.

Bila hawa nafsu seseorang mencintai Allah atau mencintai sesuatu sesuatu yang Allah cintai, maka hawa nafsu ini terpuji.

Demikian pula, bila hawa nafsunya membenci setan dan segala yang disenangi oleh setan, maka hawa nafsu ini terpuji.

Intinya, hawa nafsu kita harus mencintai dan membenci karena Allah semata.

Inilah hawa nafsu yang terpuji, hawa nafsu yang memperhambakan diri kepada Allah, Sang Maha Pencipta.

Sebaliknya, bila hawa nafsu malah lebih mencintai setan dan segala hal yang disenangi oleh setan, maka hawa nafsu seperti ini adalah tercela.

Demikian pula, bila hawa nafsu malah membenci Allah atau membenci perkara yang dicintai oleh Allah, maka hawa nafsu ini juga tercela, dan pemiliknya telah menghambakan diri kepada hawa nafsunya.

Inilah yang dikatakan oleh Allah dalam firman-Nya,

{ุฃูŽููŽุฑูŽุฃูŽูŠู’ุชูŽ ู…ูŽู†ู ุงุชู‘ูŽุฎูŽุฐูŽ ุฅูู„ูŽู‡ูŽู‡ู ู‡ูŽูˆูŽุงู‡ู ูˆูŽุฃูŽุถูŽู„ู‘ูŽู‡ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽู‰ ุนูู„ู’ู…ู ูˆูŽุฎูŽุชูŽู…ูŽ ุนูŽู„ูŽู‰ ุณูŽู…ู’ุนูู‡ู ูˆูŽู‚ูŽู„ู’ุจูู‡ู ูˆูŽุฌูŽุนูŽู„ูŽ ุนูŽู„ูŽู‰ ุจูŽุตูŽุฑูู‡ู ุบูุดูŽุงูˆูŽุฉู‹ ููŽู…ูŽู†ู’ ูŠูŽู‡ู’ุฏููŠู‡ู ู…ูู†ู’ ุจูŽุนู’ุฏู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุฃูŽููŽู„ูŽุง ุชูŽุฐูŽูƒู‘ูŽุฑููˆู†ูŽ (23)} [ุงู„ุฌุงุซูŠุฉ: 23]

“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya berdasarkan ilmu-Nya dan Allah Telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka Mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?”ย (QS. Al-Jatsiyah : 23)

Al-Hafizh Abul Fidaa’ Ibnu Katsir Ad-Dimasyqiyย –rahimahullah– berkata,

“ุฃูŽูŠู’: ุฅูู†ู‘ูŽู…ูŽุง ูŠูŽุฃู’ุชูŽู…ูุฑู ุจูู‡ูŽูˆูŽุงู‡ูุŒ ููŽู…ูŽู‡ู’ู…ูŽุง ุฑูŽุขู‡ู ุญูŽุณูŽู†ู‹ุง ููŽุนูŽู„ูŽู‡ูุŒ ูˆูŽู…ูŽู‡ู’ู…ูŽุง ุฑูŽุขู‡ู ู‚ูŽุจููŠุญู‹ุง ุชูŽุฑูŽูƒูŽู‡.” ุงู‡ู€ ู…ู† ุชูุณูŠุฑ ุงุจู† ูƒุซูŠุฑ ุช ุณู„ุงู…ุฉ (7/ 268)

“Maksudnya, ia hanya mengikuti keinginannya (hawa nafsunya). Apa pun yang dipandang baik oleh keinginannya, maka ia lakukan dan apapun yang ia pandang buruk, maka ia meninggalkannya”.ย [Lihatย Tafsir Al-Qur’an Al-Azhimย (7/268) oleh Ibnu Katsir, cet. Dar Thoybah]

Orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai pengatur dirinya, yang mengarahkan dirinya kepada segala yang diinginkan oleh jiwa, tanpa memandang batasan-batasan Allah. Pelakunya telah mempertuhankan hawa nafsunya.

Al-Hafizh Ibnu Rajab Al-Hambaliy -rahimahullah- berkata,

“ููŽู…ูŽู†ู’ ุฃูŽุญูŽุจู‘ูŽ ุดูŽูŠู’ุฆู‹ุง ูˆูŽุฃูŽุทูŽุงุนูŽู‡ูุŒ ูˆูŽุฃูŽุญูŽุจู‘ูŽ ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุฃูŽุจู’ุบูŽุถูŽ ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ูุŒ ููŽู‡ููˆูŽ ุฅูู„ูŽู‡ูู‡ูุŒ ููŽู…ูŽู†ู’ ูƒูŽุงู†ูŽ ู„ูŽุง ูŠูุญูุจู‘ู ูˆูŽู„ูŽุง ูŠูุจู’ุบูุถู ุฅูู„ู‘ูŽุง ู„ูู„ู‘ูŽู‡ูุŒ ูˆูŽู„ูŽุง ูŠููˆูŽุงู„ููŠ ูˆูŽู„ูŽุง ูŠูุนูŽุงุฏููŠ ุฅูู„ู‘ูŽุง ู„ูŽู‡ูุŒ ููŽุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุฅูู„ูŽู‡ูู‡ู ุญูŽู‚ู‘ู‹ุงุŒ ูˆูŽู…ูŽู†ู’ ุฃูŽุญูŽุจู‘ูŽ ู„ูู‡ูŽูˆูŽุงู‡ูุŒ ูˆูŽุฃูŽุจู’ุบูŽุถูŽ ู„ูŽู‡ูุŒ ูˆูŽูˆูŽุงู„ูŽู‰ ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ูุŒ ูˆูŽุนูŽุงุฏูŽู‰ ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ูุŒ ููŽุฅูู„ูŽู‡ูู‡ู ู‡ูŽูˆูŽุงู‡.” ุงู‡ู€ ู…ู† ุฌุงู…ุน ุงู„ุนู„ูˆู… ูˆุงู„ุญูƒู… (ุต/ 210)

“Barangsiapa yang mencintai dan menaati sesuatu; ia mencintai dan membenci karena sesuatu tersebut, maka sesuatu itu adalah tuhannya.ย Barangsiapaย yang tak mencintai dan membenci, kecuali karena Allah serta ia tak berloyal dan memusuhi, kecuali karena Allah, maka Allah adalah ilah-nya (Tuhannya) yang sebenarnya. Barangsiapa yang mencintai dan membenci sesuatu karena hawa nafsu (keinginan jiwa)nya serta ia berloyal dan memusuhi (sesuatu) karena hawa nafsunya, maka tuhannya adalah hawa nafsunya”.ย [Lihatย Jami’ Al-Ulum wal Hikamย (hal. 210), cet. Dar Al-Ma’rifah, 1408 H]

Dari sini ada sebuah permata ilmu yang amat berharga bagi kita bahwa seorang hamba tak boleh bergaya hidup bebas, sehingga apa saja yang diinginkan oleh jiwanya, maka ia lakukan, tanpa memperhatikan aturan dan batasan Allah -Azza wa Jalla-.

Seakan-akan ia hidup seperti binatang, tanpa aturan. Hidupnya ingin bebas tanpa kendali dan aturan syariat.

Gaya hidup bebas seperti ini tampak merambah pada sebagian generasi muslim yang jahil tentang agamanya, sehingga apa saja yang disenangi oleh jiwanya, maka ia lakukan, tanpa takut kepada Allah saat ia durhaka kepada-Nya.

Bila ia mau berzina, maka ia lakukan. Jika ia mau minum khomer atau narkoba, maka dengan bebas dan congkak ia pun meminum dan menggunakannya.

Bila ia mau berkata-kata jorok dan berbuat cabul, maka ia pun perbuat.

Segala penampilannya dirinya, mulai rambut sampai ke ujung kaki, semuanya bergaya hidup bebas dan jauh dari bimbingan agama.

Rambut disemir ala barat, baju ala metal, celana model bajingan alias preman. Rambut dicukur alaย mohawkย yang terlarang dalam Islam!

Sepatuย juga tak ketinggalan bergaya bebas ugal-ugalan; itulah sepatu bot model serdadu.

Telingaย dan hidung, bahkan lidah, semuanya dilubangi atau ditindih dengan logam dan permata, sehingga ia mirip wanita India atau sapi India.

Tak ketinggalanย tangannyaย diberi gelang dengan berbagai macamnya, mulai dari logam sampai benang, tergantung mana yang keren menurut hawa nafsunya.

Jasad penuh tatoย dengan berbagai macam corak dan modelnya. Padahal tato adalah perkara sial yang menyebabkan pelakunya dilaknat oleh Allah dan Rasulullah โ€“alaihish sholatu was salam-.

Inilah yang kita lihat pada penampilan dan lahiriah anak-anak kaum muslimin yang larut atau termakan oleh propaganda dan pengaruh serdadu setan dari kalangan pecandu musik aliranย undergroundย (seperti, Punk Metal, Trush Metal, Heavy Metal dan Blak Metal).

Kalau kita melihat kepada latar belakang dan keluarga mereka, ternyata mereka adalah muslim.

Tapi kini keislamannya sudah mulai muram. Sholat saja tidak. Kalaupun sholat, ya sholat asal-asalan atau sholat musiman!!!ย Laa haula walaa quwwata illa billah.

Kita memohon perlindungan dari buruknya hawa nafsu yang menjauhkan manusia dari Islam dan kebaikan.

รฎย ย Haramnyaย Ujubย (Membanggakan Diri)

Sifatย ujubย (bangga diri) adalah sebuah sifat tercela yang dapat membinasakan pelakunya.

Sifatย ujubย ini seringnya menyerang orang-orang yang memiliki kelebihan dan keutamaan.

Sebab bila seseorang memiliki keutamaan dan kelebihan, maka ia akan selalu bangga dengannya sehingga ia melupakan bahwa semua itu asalnya dari Allah -Azza wa Jalla-.

Kisah Qorun masih segar dalam ingatan kita. Dia ditenggelamkan oleh Allah bersama kaumnya.

Padahal kaumnya telah mengingatkannya bahwa semua nikmat dan harta yang Allah berikan kepadanya adalah hal yang perlu disyukuri dengan menginfaqkannya dan menyedekahkannya di jalan kebaikan sebagaiย bekal ke akhirat.

Tapi ia berkata denganย ujubย (bangga diri) sebagaimana dalam (QS. Al-Qoshosh : 78 & 81),

{ู‚ูŽุงู„ูŽ ุฅูู†ู‘ูŽู…ูŽุง ุฃููˆุชููŠุชูู‡ู ุนูŽู„ูŽู‰ ุนูู„ู’ู…ู ุนูู†ู’ุฏููŠ ุฃูŽูˆูŽู„ูŽู…ู’ ูŠูŽุนู’ู„ูŽู…ู’ ุฃูŽู†ู‘ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูŽ ู‚ูŽุฏู’ ุฃูŽู‡ู’ู„ูŽูƒูŽ ู…ูู†ู’ ู‚ูŽุจู’ู„ูู‡ู ู…ูู†ูŽ ุงู„ู’ู‚ูุฑููˆู†ู ู…ูŽู†ู’ ู‡ููˆูŽ ุฃูŽุดูŽุฏู‘ู ู…ูู†ู’ู‡ู ู‚ููˆู‘ูŽุฉู‹ ูˆูŽุฃูŽูƒู’ุซูŽุฑู ุฌูŽู…ู’ุนู‹ุง ูˆูŽู„ูŽุง ูŠูุณู’ุฃูŽู„ู ุนูŽู†ู’ ุฐูู†ููˆุจูู‡ูู…ู ุงู„ู’ู…ูุฌู’ุฑูู…ููˆู†ูŽ (78) ููŽุฎูŽุณูŽูู’ู†ูŽุง ุจูู‡ู ูˆูŽุจูุฏูŽุงุฑูู‡ู ุงู„ู’ุฃูŽุฑู’ุถูŽ ููŽู…ูŽุง ูƒูŽุงู†ูŽ ู„ูŽู‡ู ู…ูู†ู’ ููุฆูŽุฉู ูŠูŽู†ู’ุตูุฑููˆู†ูŽู‡ู ู…ูู†ู’ ุฏููˆู†ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ูˆูŽู…ูŽุง ูƒูŽุงู†ูŽ ู…ูู†ูŽ ุงู„ู’ู…ูู†ู’ุชูŽุตูุฑููŠู†ูŽ (81)} [ุงู„ู‚ุตุต: 78 ูˆ 81]

“Karun berkata: “Sesungguhnya Aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku”. Dan apakah ia tidak mengetahui, bahwasanya Allah sungguh telah membinasakan umat-umat sebelumnya yang lebih kuat daripadanya, dan lebih banyak mengumpulkan harta? Dan tidaklah perlu ditanya kepada orang-orang yang berdosa itu, tentang dosa-dosa mereka. Maka Kami benamkanlah Karun beserta rumahnya ke dalam bumi. Maka tidak ada baginya suatu golonganpun yang menolongnya terhadap siksa Allah. Dan tiadalah ia termasuk orang-orang (yang dapat) membela (dirinya)”.

Al-Imam Abdur Ra’uf Al-Haddadiy Al-Munawiyย –rahimahullah-,

“ุฃูŽูŠ : ู…ู„ุงุญุธุชู‡ ุงูŠุงู‡ุง ุจูุนูŽูŠู† ุงู„ู’ูƒูŽู…ูŽุงู„ ู…ูŽุนูŽ ู†ูุณู’ูŠูŽุงู† ู†ุนู’ู…ูŽุฉ ุงู„ู„ู‡ ุชุนุงู„ุŒ

ู‚ูŽุงู„ูŽ ุงู„ู’ุบูŽุฒุงู„ููŠู‘ : ุญูŽู‚ููŠู‚ูŽุฉ ุงู„ู’ุนุฌุจ ุงุณุชุนุธุงู… ุงู„ู†ู‘ูŽูุณ ูˆุฎุตุงู„ู‡ุง ุงู„ู‘ูŽุชููŠ ู‡ููŠูŽ ู…ู† ุงู„ู†ุนู… ูˆุงู„ุฑูƒูˆู† ุฅูู„ูŽูŠู’ู‡ูŽุง ู…ูŽุนูŽ ู†ูุณู’ูŠูŽุงู† ุงุถุงูุชู‡ุง ุฅูู„ูŽู‰ ุงู„ู’ู…ูู†ุนู… ูˆุงู„ุฃู…ู† ู…ู† ุฒูŽูˆูŽุงู„ู‡ูŽุง.” ุงู‡ู€ ู…ู† ุงู„ุชูŠุณูŠุฑ ุจุดุฑุญ ุงู„ุฌุงู…ุน ุงู„ุตุบูŠุฑ (1/ 470)

“Bangga diri, maksudnya ia memandang dirinya sempurna. Sementara ia melupakan nikmat-nikmat Allah -Ta’ala-. Al-Ghozali berkata, “Hakikat ujub (bangga diri) adalah menganggap hebat diri sendiri dan segala kelebihannya berupa nikmat-nikmat serta amat percaya kepadanya. Sementara ia lupa menyandarkan nikmat-nikmat itu kepada Pemberi nikmat (Allah) dan ia merasa aman (tak takut) dari hilangnya nikmat-nikmat tersebut”.ย [Lihatย At-Taisiir bi Syarh Al-Jami’ Ash-Shoghierย (1/956), cet. Maktabah Al-Imam Asy-Syafi’iy, 1408 H]

Inilah tiga dosa dan maksiat yang akan membinasakan seorang hamba. Tiga perkara ini menjauhkannya dari kebaikan dan jalan-jalannya.

Semoga Allah โ€“azza wa jalla- melindungi kita dari tiga perkara itu dan memberi taufiq bagi untuk mencari keridhoan-Nya melalui amal-amal sholih yang mengantarkan kita kepada rahmat dan surga Allah,ย aamiinโ€ฆ

โ€”โ€”โ€”โ€”โ€”โ€”โ€”โ€”โ€”โ€”โ€”โ€”โ€”โ€”โ€”โ€”โ€”โ€”โ€”โ€”โ€”โ€”โ€”โ€”โ€”โ€“