Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Adab Safar yang Sering Dilupakan oleh Banyak Orang
Oleh : Al-Ustadz Abdul Qodir Abu Fa’izah hafizhahullah
[Pembina Ponpes Al-Ihsan Gowa]
Salah satu adab safar yang sering dilupakan oleh para saudara kita, ucapan doa yang disyariatkan oleh Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- dan diajarkan kepada para sahabat. Doa yang amat dibutuhkan oleh seorang dalam safar dan kehidupannya, baik di dunia, maupun di akhirat.
Seorang ulama tabi’in, Qoza’ah bin Yahya Al-Bashriy–rahimahullah– menuturkan,
“Ibnu Umar pernah berkata kepadaku, “Kemarilah!! Aku akan mengucapkan selamat kepadamu sebagaimana halnya Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- pernah mengucapkan selamat kepadaku,
“Aku titipkan kepada Allah agama, amanah dan penutup-penutup amalmu “. [HR. Abu Dawud dalam As-Sunan (no. 2600), Al-Hakim dalam Al-Mustadrok ala Ash-Shohihain (2/97/no. 2476), Ahmad dalam Al-Musnad (2/25/no. 4781) dan Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimasyqo (49/314-316). Dinyatakan shohih oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Ash-Shohihah (no. 14)]
قوله: ((أستودع الله)) هو طلب حفظ الوديعة، وفيه نوع مشاكلة للتوديع، جعل دينه وأمانته من الودائع؛ لأن السفر يصيب الإنسان فيه المشقة والخوف، فيكون ذلك سبباً لإهمال بعض الدين، فدعا له النبي صلى الله عليه وسلم بالمعونة والتوفيق، ولا يخلو الرجل في سفره ذلك من الاشتغال بما يحتاج فيه إلي الأخذ والإعطاء
والمعاشرة مع الناس، فدعا له بحفظ الأمانة والاجتناب عن الخيانة، ثم إذا انقلب إلي أهله يكون مأمون العاقبة عما يسوؤه في الدين والدنيا”. الكاشف عن حقائق السنن – (6 / 1901_1902)
“Sabdanya, “Aku titipkan kepada Allah…”, ia merupakan permintaan penjagaan titipan. Di dalamnya terdapat semacam penitipan. Seseorang menjadikan agama dan amanahnya sebagai barang titipan. Karena, safar itu di dalamnya manusia akan tertimpa sesuatu berupa perkara yang memberatkan dan rasa takut, sehingga hal itu menjadi sebab bagi penelantaran sebagian urusan agama. Itulah sebabnya Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- mendoakan pertolongan dan taufiq bagi orang yang safar.
Seorang dalam safarnya tak akan lepas dari kesibukan dalam mengerjakan sesuatu yang ia butuhkan berupa mengambil, memberi dan mempergauli manusia. Itulah sebabnya Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- mendoakan baginya agar dijaga amanahnya dan dijauhkan dari khianat. Kemudian, bila ia kembali ke keluarganya, maka ia pun aman nasibnya dari sesuatu yang mencoreng dirinya, baik di dunia, maupun di akhirat”. [Lihat Tuhfah Al-Ahwadziy (9/284), Faidhul Qodir (5/96) dan Mirqotul Mafaatih (8/326)]
Hadits lain yang mengajarkan kita adab-adab safar, hadits dari Abdullah bin Umar -radhiyallahu anhuma-, ia berkata,
“Dulu Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- bila melepaskan seseorang (ketika hendak safar,- pen.), maka beliau memegang tangannya. Beliau tak melepaskan tangannya sampai orang itulah yang melepaskan tangan Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- seraya berdoa (untuk orang itu),
“Aku titipkan kepada Allah agama, amanah dan penutup-penutup amalmu “. [HR. At-Tirmidziy dalam As-Sunan (2442), dan Ibnu Majah dalam As-Sunan (2826). Hadits ini di-shohih-kan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Shohih Al-Jami’ (4795)]
Al-Imam Abul Ulaa Muhammad Ibnu Abdir Rahim Al-Mubarokfuriy -rahimahullah- berkata,
أي فلا يترك يد ذلك الرجل من غاية التواضع ونهاية إظهار المحبة والرحمة“ اهـ من تحفة الأحوذي – (9 / 284)
“Maksudnya, beliau tidak melepaskan tangan orang itu karena tingginya sifat tawadhu’ beliau dan puncak penampakan rasa cinta dan sayang kepadanya”. [Lihat Syarah Sunan At-Tirmidziy (9/284)]
Yang dimaksud dengan memegang tangan disini adalah berjabat tangan sebagaimana yang disebutkan dalam riwayat Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimasyqo (49/316) dari Qoza’ah, ia berkata,
كنت عند عبد الله بن عمر فأردت الانصراف فقال مكانك حتى أودعك كما ودعني رسول الله ( صلى الله عليه وسلم ) فأخذ بيدي فصافحني ثم قال أَسْتَوْدِعُ اللهَ دِيْنَكَ وَأَمَانَتَكَ وَخَوَاتِيْمَ عَمَلِكَ
“Dulu aku di sisi Abdullah bin Umar. Kemudian aku hendak pulang (safar). Beliau berkata, “Tetaplah di tempatmu sampai aku melepaskan kepergianmu sebagaimana dahulu Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- melepaskan kepergianku. Beliau (yakni, Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam-) memegang tanganku seraya menjabat tanganku, lalu berdoa,
“Aku titipkan kepada Allah agama, amanah dan penutup-penutup amalmu “.
Dahulu Rasulullah –Shallallahu alaihi wa sallam– bukan hanya satu-dua orang yang dilepas kepergiaannya dengan iringan doa yang berkah ini, bahkan beliau jika melepaskan kepergian pasukan, maka beliau memberikan wejangan kepada mereka, lalu mengucapkan doa di atas.
Abdullah Al-Khothmiy –radhiyallahuanhu– berkata,
كَانَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- إِذَا أَرَادَ أَنْ يَسْتَوْدِعَ الْجَيْشَ قَالَ « أَسْتَوْدِعُ اللَّهَ دِينَكُمْ وَأَمَانَتَكُمْ وَخَوَاتِيمَ أَعْمَالِكُمْ ».
“Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- bila ingin melepaskan kepergian pasukan, maka beliau berdoa,
“Aku titipkan kepada Allah agama, amanah dan penutup-penutup amal kalian”. [HR. Abu Dawud dalam As-Sunan (2601). Hadits ini dinilai shohih oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Takhrij Al-Misykah (no. 2436)]
Doa safar yang diajarkan oleh Nabi –Shallallahu alaihi wa sallam– kepada para sahabat –radhiyallahu anhum-, juga diajarkan oleh mereka kepada para tabi’in.
Mujahid -rahimahullah- berkata,
خرجت إلى العراق أنا ورجل معي فشيعنا عبد الله بن عمر فلما أراد أن يفارقنا قال : إنه ليس معي شيء أعطيكما ولكن سمعت رسول الله صلى الله عليه و سلم يقول : ( إذا استودع الله شيئا حفظه وإني أستودع الله دينكما وأمانتكما وخواتيم عملكما )
“Aku pernah mau keluar ke negeri Iraq bersama seorang lelaki. Abdullah bin Umar pun melepaskan kepergian kami. Tatkala beliau hendak meninggalkan kami, maka beliau berkata, “Sesungguhnya tak ada sesuatu bersamaku yang bisa aku berikan kepada kalian berdua. Akan tetapi, aku pernah mendengarkan Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda,
“Bila Allah dititipi sesuatu, maka ia akan menjaganya. Nah, sungguh aku menitipkan kepada Allah agama, amanah dan penutup-penutup amal kalian berdua”. [HR. Ibnu Hibban dalam Ash-Shohih (13571) dan Ath-Thobroniy dalam Al-Mu’jam Al-Kabir (17571), An-Nasa’iy dalam As-Sunan Al-Kubro (10343), Al-Baihaqiy dalam As-Sunan Al-Kubro (18358). Hadits ini di-shohih-kan oleh Al-Arna’uth dalam Takhrij Shohih Ibni Hibban (12/427)]
Para pembaca yang budiman, di dalam sejumlah hadits yang ada di depan kita terdapat berbagai macam faedah ilmu yang bisa kita petik berkaitan dengan sunnah dan adab yang semestinya dijaga saat melakukan safar:
1. Disyariatkan mengucapkan doa kepada seorang musafir saat melepaskan kepergiannya, yaitu doa yang diajarkan oleh Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-,
2.Berjabat tangan di saat bertemu dan berpisah adalah perkara yang disyariatkan.
Disana banyak sekali dalil yang menunjukkan disunnahkannya jabat tangan di saat bertemu dan berpisah.
Jabat tangan telah masyhur di kalangan para sahabat sejak zaman kenabian. Kebiasaan ini pertama kali digalakkan oleh kaum muslimin dari Yaman, lalu di-taqrir disetujui oleh Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam-.
Qotadah –rahimahullah– berkata kepada Anas –radhiyallahu anhu-,
“Apakah berjabat tangan ada di kalangan para sahabat Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-?” Beliau menjawab, “Ya”. [HR. Al-Bukhoriy dalam Shohih-nya (6263), At-Tirmidziy dalam Sunan-nya (2729)]
Semua ini mereka lakukan karena di dalamnya terdapat keutamaan yang besar. Rasulullah –Shallallahu alaihi wa sallam– bersabda,
“Tak ada dua orang muslim yang bertemu, lalu berjabatan tangan, kecuali keduanya akan diampuni sebelum keduanya berpisah”. [HR. Abu Dawud (5212) dan Ibnu Majah (3703). Hadits ini dinilai shohih oleh Syaikh Al-Albaniy -rahimahullah- dalam dalam Ash-Shohihah (525)]
Rasulullah –Shallallahu alaihi wa sallam– menggambarkan keutamaan berjabat tangan yang menjadi sebab bergugurannya dosa-dosa, dengan sabdanya,
“Sesungguhnya seorang mukmin bila menjumpai mukmin lain seraya memberikan salam kepadanya dan memegang tangannya, lalu menjabatinya, maka berguguranlah dosa-dosanya sebagaimana bergugurannya dedaunan pohon-pohon itu”. [HR. Ath-Thobroniy dalam Al-Awsath (245) Al-Baihaqiy dalam Syu’abul Iman (8953), dan Ad-Dailamiy dalam Musnad Al-Firdaus (714). Hadits ini dinilai shohih oleh shohih oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Ash-Shohihah (526) & (2692)]
3.Dianjurkan bagi seseorang untuk memberikan hadiah dan oleh-oleh kepada saudaranya, bila saudaranya kembali dan bersafar menuju kampung halamannya. Jika tidak ada yang bisa diberi, maka jangan lupa mendoakannya dengan doa safar tersebut.
4.Jabat tangan menunjukkan kedekatan dan solidaritas kaum muslimin. Itulah sebabnya Rasulullah –Shallallahu alaihi wa sallam– menganjurkan hal seperti ini, bahkan menjanjikan ampunan dosa bagi orang yang melakukannya. Namun disini perlu kami ingatkan bahwa jabat tangan jangan dikhususkan usai sholat, sebab itu bid’ah!!
Kaum Muslimin dan Muslimat, Jamaah shalat Id yang berbahagia!
Pada pagi hari yang berbahagia ini, kita semua berkumpul dengan suatu kegembiraan akan karunia dan rahmat Allah, menyaksikan suatu hari yang sangat agung, salah satu simbol Islam yang besar: Hari Idul Fitri.
“Bagi tiap-tiap umat, Kami telah menetapkan syariat tertentu yang mereka lakukan.” [Al-Hajj: 67]
Ibnu ‘Abbâs menafsirkan bahwa setiap umat dijadikan suatu Id untuknya. Demikianlah yang diriwayatkan oleh Ibnu Jarîr Ath-Thabary.
Ketika Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam mendatangi kota Madinah, penduduk Madinah memiliki dua hari yang mereka bergembira pada dua hari tersebut pada masa Jahiliyah. Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam pun bersabda,
“Sesungguhnya Allah telah mengganti kedua hari itu untuk kalian dengan dua hari yang lebih baik daripada keduanya: hari Idul Fitri dan hari An-Nahr (Idul Adha).” [Diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Dawud, dan An-Nasâ`iy]
Oleh karena itu, berbahagialah dengan nikmat hari Idul Fitri ini. Bersyukurlah kepada Allah atas segala karunia yang tidak mungkin kita jumlah dan atas berbagai nikmat yang tiada terhingga dan terbilang.
وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَتَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا
“Dan jika kalian menghitung nikmat Allah, niscaya kalian tidak akan mampu membilangnya.” [Ibrâhîm: 34]
Wahai Umat Islam,
Bersyukur akan nikmat Allah adalah suatu kewajiban yang merupakan lambang penghambaan dan mahligai ‘ubûdiyyah kepada Allah. Allah Ta’âlâ memerintah,
“Dan (ingatlah juga) tatkala Rabb kalian memaklumkan, ‘Sesungguhnya jika kalian bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepada kalian. Namun, jika kalian mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya adzab-Ku sangat pedih.’.” [Ibrâhîm: 7]
Siapa saja yang bersyukur akan nikmat Allah tidak perlu khawatir terhadap musibah dan siksaan karena Allah telah menjamin sebagaimana dalam firman-Nya,
“Mengapa Allah akan menyiksa kalian jika kalian bersyukur dan beriman? Dan Allah adalah Maha Mensyukuri lagi Maha Mengetahui.” [An-Nisâ`: 147]
Kaum muslimin dan muslimat,
Pada hari Idul Fitri yang bergelimang nikmat ini, marilah kita merenungi dan mengingat-ingat berbagai nikmat agung, yang dengannya Allah memuliakan kita, sebelum datang suatu hari saat segala nikmat Allah akan dipertanyakan. Allah Ta’âlâ mengingatkan,
ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ
“Kemudian, kalian pasti akan ditanyai pada hari (kiamat) tentang segala kenikmatan (di dunia).” [At-Takâtsur: 8]
Salah satu nikmat-nikmat itu adalah nikmat keislaman dan keimanan. Janganlah sekali-kali mencari pedoman dan tuntunan hidup dari selain Islam karena Allah telah menyempurnakan segala nikmat dalam syariat Islam ini,
“Pada hari ini, telah Kusempurnakan agama kalian untuk kalian, dan telah Ku-cukupkan nikmat-Ku kepada kalian, serta telah Ku-ridhai Islam sebagai agama kalian.” [Al-Mâ`idah: 3]
Pelajari dan renungilah keindahan Islam yang merupakan satu-satunya agama penyelamat di dunia dan di akhirat, serta janganlah sekali-kali mengharap pedoman dan solusi, kecuali dari syariat Islam,
“Barangsiapa yang mencari agama selain agama Islam, sekali-kali tidaklah (agama itu) akan diterima darinya, dan di akhirat dia tergolong sebagai orang-orang yang rugi.” [Âli ‘Imrân: 85]
Di antara nikmat Allah yang banyak dilalaikan oleh manusia adalah memurnikan ibadah hanya kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Nabi Yusuf ‘alaihis salâm mengingatkan,
“Dan aku mengikuti agama bapak-bapakku, yaitu Ibrahim, Ishaq, dan Ya’qub. Tiadalah kami (para Nabi) patut mempersekutukan sesuatu apapun dengan Allah. Yang demikian itu adalah dari karunia Allah kepada kami dan kepada manusia (seluruhnya); tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur (kepada-Nya).” [Yûsuf: 38]
Oleh karena itu, bersyukurlah kepada Allah dengan memurnikan segala ibadah hanya untuk-Nya,
بَلِ اللَّهَ فَاعْبُدْ وَكُنْ مِنَ الشَّاكِرِينَ
“Oleh karena itu, hendaklah hanya kepada Allah semata engkau menyembah, dan hendaklah engkau tergolong sebagai orang-orang yang bersyukur.”“ [Az-Zumar: 66]
Ketahuilah, bahwa dalam memurnikan ibadah kepada Allah, terdapat cahaya dalam kehidupan dan jaminan kebahagian di dunia dan akhirat sebagaimana yang Allah jelaskan dalam firman-Nya,
“Barangsiapa yang mengerjakan amal shalih, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, sesungguhnya Kami akan memberi kehidupan yang baik kepadanya dan sesungguhnya Kami akan membalas mereka dengan pahala yang lebih baik daripada apa-apa yang telah mereka kerjakan.” [An-Nahl: 97]
Ingatlah, hanya dalam pemurnian ibadah kepada Allah-lah, tercipta keamanan dan ketenangan hidup bagi orang-orang yang ingin terlepas dari belenggu makhluk dan syaithan. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,
“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezhaliman (syirik), mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” [Al-An’âm: 82]
Berdoalah hanya kepada Allah!
Mohonlah perlindungan kepada Allah saja!
Tuluskan nadzar dan penyembelihan hanya untuk Allah!
Berharaplah hanya kepada-Nya semata!
Gantungkanlah segala masalah dan gundah gulana kehidupan hanya kepada Allah Yang Mencukupi hamba-Nya,
“Katakanlah, ‘Sesungguhnya shalatku, ibadahku, serta hidup dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb alam semesta, tiada sekutu bagi-Nya. Demikian itulah yang diperintahkan kepadaku, dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah).”“ [Al-An’âm: 162-163]
Berhati-hatilah terhadap perbuatan kesyirikan. Kesyirikan adalah penghancur kenikmatan dan dosa terbesar yang akan mengakibatkan pelakunya kekal di dalam neraka. Allah Subhânahu mengingatkan,
“Sesungguhnya, barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, pasti Allah mengharamkan surga kepadanya, sedang tempatnya ialah neraka. Tidaklah ada seorang penolong pun bagi orang-orang zhalim itu.” [Al-Mâ`idah: 72]
Memalingkan ibadah kepada selain Allah adalah kehancuran terhadap seorang hamba. Allah menegaskan,
“Barangsiapa yang mempersekutukan sesuatu dengan Allah, ia seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan oleh angin ke tempat yang jauh.” [Al-Hajj: 31]
Bahkan, keberadaan kesyirikan di tengah manusia adalah ancaman terhadap sebuah negeri dan penduduknya menuju malapetaka dan kebinasaan. Allah mengingatkan,
“Dan mereka berkata, ‘Ar-Rahmân (Allah Yang Maha Pemurah) mengambil (mempunyai) anak.’ Sesungguhnya kalian telah mendatangkan suatu perkara yang sangat mungkar. Hampir-hampir langit pecah, karena ucapan itu, serta bumi terbelah dan gunung-gunung runtuh, sebab mereka menyerukan bahwa Ar-Rahmân mempunyai anak. Padahal, Ar-Rahmân tidaklah layak mengambil (mempunyai) anak.” [Maryam: 88-92]
Kaum Muslimin dan Muslimat, rahimani wa rahimakumullah!
Di antara nikmat Allah yang patut kita syukuri adalah sesuatu yang Allah jelaskan dalam firman-Nya,
“Dan ingatlah (wahai para Muhajirin) ketika kalian masih berjumlah sedikit lagi tertindas di muka bumi (Makkah). Kalian takut bila orang-orang (Makkah) akan menculik kalian maka Allah memberi kalian tempat menetap (Madinah), dan Dia menjadikan kalian kuat dengan pertolongan-Nya, serta Dia melimpahkan rezeki kepada kalian berupa yang baik-baik agar kalian bersyukur.” [Al-Anfâl: 26]
Oleh karena itu, Allah memerintah dengan mengingatkan nikmat-Nya itu dalam firman-Nya,
“Dan berpeganglah kalian semua kepada tali (agama) Allah, janganlah kalian bercerai-berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepada kalian ketika dahulu (pada masa Jahiliyah) kalian bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hati kalian, lalu menjadilah kalian orang-orang yang bersaudara karena nikmat Allah; juga kalian telah berada di tepi jurang neraka, tetapi Allah menyelamatkan kalian dari (neraka) itu. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada kalian agar kalian mendapat petunjuk.” [Âli ‘Imrân: 103]
Agama kita satu, Rabb yang kita sembah hanyalah satu , dan kiblat kita juga satu. Hindarilah segala bentuk perpecahan dan perselisihan, baik berupa kesukuan, kelompok, maupun persekutuan.
“Dan janganlah kalian tergolong sebagai orang-orang yang mempersekutukan Allah, yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa-apa yang ada pada golongan mereka.” [Ar-Rûm: 31-32]
Di antara nikmat Allah kepada manusia adalah adanya sebagian dari mereka yang menjaga sebagian yang lain. Allah Subhanahu mengingatkan,
“Seandainya Allah tidak menolak (keganasan) sebagian umat manusia terhadap sebagian yang lain, pasti rusaklah bumi ini, tetapi Allah mempunyai karunia (yang dicurahkan) atas alam semesta.” [Al-Baqarah: 251]
Ada dua tonggak pengaman di tengah manusia: pemerintah dan ulama.
Imam Sahl bin Abdillah At-Tastury berkata, “Manusia akan terus menerus berada di atas kebaikan selama mereka masih mengagungkan Sulthan dan Ulama. Tatkala mereka mengagungkan keduanya, Allah akan memperbaiki dunia dan akhirat mereka. Apabila mereka menghinakan keduanya, mereka telah merusak dunia dan akhirat mereka sendiri.” [Tafsîr Al-Qurthuby 5/260-261]
Oleh karena itu, hargailah pemimpin dan pemerintah kalian sebagaimana wejangan Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam,
“Barangsiapa yang memuliakan sulthan Allah di dunia, Allah akan memuliakannya pada hari kiamat. (Namun) barangsiapa yang menghinakan sulthan Allah di dunia, Allah akan menghinakannya pada hari kiamat.” [Diriwayatkan oleh Ahmad dan selainnya. Dihasankan oleh Syaikh Al-Albâny dalam Ash-Shahîhah]
Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,
“Barangsiapa yang membenci sesuatu (yang ada) pada pemimpinnya, hendaknya dia bersabar, karena siapa yang keluar terhadap sulthan sejengkal kemudian dia mati, matinya adalah mati jahiliyah.” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhâry dan Muslim dari Abdullah bin ‘Abbâs]
Bukanlah hal terlarang bila memberi nasihat kepada penguasa, tetapi bukan dengan cara ribut-ribut dan keonaran, bukan pula dengan cara berteriak-teriak di jalan dan menzhalimi manusia.
Kewajiban untuk memberi nasihat adalah terhadap orang yang berakal sesuai dengan etika dan ketentuannya. Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Barangsiapa yang menasihati penguasa, janganlah dia menampakkan (nasihat itu) secara terang-terangan, tetapi hendaknya dia mengambil tangan (penguasa tersebut) dan berduaan dengannya. Kalau (sang penguasa) menerima, itulah (yang diinginkan). Akan tetapi, jika (sang penguasa) menolak, dia telah menunaikan kewajibannya.” [Diriwayatkan oleh Ibnu Abi ‘Âshim, Al-Hâkim, dan Al-Baihaqy]
Terhadap pemimpin untuk berlaku lembut terhadap rakyatnya dan menjaga segala kebaikan dan kemashlahatan mereka. Rasulullah mengingatkan,
“Tidaklah seorang hamba diberi tanggung jawab oleh Allah dengan suatu tanggung jawab, kemudian dia tidak menjaganya secara tulus dan maksimal kecuali dia tidak akan mencium baunya sorga.” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhâry dan Muslim dari Ma’qil bin Yasar. Lafazh hadits adalah milik Al-Bukhâry]
Kaum muslimin dan muslimat,
Juga ketahuilah kedudukan para ulama sebagai lentera umat dan pembimbing mereka menuju kepada jalan yang lurus. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,
“Bertanyakanlah kalian kepada orang-orang yang berilmu, jika kalian tiada mengetahui.” [Al-Anbiyâ`: 7]
Rasulullah bersabda,
خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ القُرْآنَ وَعَلَّمَهُ
“Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur`an dan mengajarkan (Al-Qur`an).” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhâry dari Utsman bin Affan]
Keberadaan rumah tangga yang memberikan kesejukan antara satu dengan lainnya adalah suatu nikmat yang hendaknya dijaga. Hendaknya kepala rumah tangga tidak menelantarkan nikmat Allah dengan membiarkan ada kemungkaran di tengah rumah tangganya. Allah Subhânahu wa Ta’âlâ berfirman,
“Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” [At-Tahrîm: 6]
Kaum Muslimin dan Muslimat,
Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam mengingatkan kepada kita akan lima nikmat yang banyak dilalaikan. Beliau berpesan dalam sabdanya yang mulia,
“Manfaatkanlah segera lima perkara sebelum (datang) lima perkara: waktu mudamu sebelum (datang) waktu tuamu, kesehatanmu sebelum (datang) sakitmu, kekayaanmu sebelum (datang) kefakiranmu, waktu luangmu sebelum (datang) waktu sibukmu, dan kehidupanmu sebelum (datang) kematianmu.” [Diriwayatkan oleh Al-Hâkim dan selainnya dari Ibnu ‘Abbâs radhiyallâhu ‘anhumâ. Dishahihkan oleh Al-Albany rahimahullâh]
Wahai Para Pemuda dan Pemudi harapan umat,
Tataplah kehidupan untuk masa depan, jadilah orang yang paling bermanfaat bagi manusia, dan jadilah orang-orang yang berbekah di manapun kalian berada sebagaimana keberadaan yang Nabi Isa ‘alaihis salâm yang berkata,
وَجَعَلَنِي مُبَارَكًا أَيْنَ مَا كُنْتُ.
“Dan Dia menjadikanku sebagai orang yang diberkahi di mana saja aku berada.” [Maryam: 31]
Wahai Kaum Muslimat!
Penghormatan dan penjagaan Islam kepada kaum perempuan adalah suatu nikmat yang sangat agung. Tidak pernah tercatat, dalam sejarah umat manapun, bahwa ada yang melebihi syariat Islam dalam hal pengagungan kepada kaum perempuan. Oleh karena itu, suatu hal yang sangat mengherankan bahwa banyak kaum muslimat yang berkiblat kepada perempuan-perempuan kafir yang tidak pernah mengenal makna kehormatan. Allah telah memerintah,
“Wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang mukmin, ‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.’ Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah dikenal maka mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” [Al-Ahzâb: 59]
Kaum Muslimin dan Muslimat,
Pada hari kemarin kita dimuliakan dengan bulan Ramadhan. Tiada terasa waktu terus bergulir, dan hari ini kita telah meninggalkan Ramadhan. Itulah hari-hari kehidupan yang terus berjalan tanpa henti menuju suatu yang pasti: kehidupan akhirat, yang di hadapan Allah kita akan berdiri,
“Dan peliharalah diri kalian dari (adzab yang terjadi pada) hari yang, pada waktu itu, kalian semua dikembalikan kepada Allah. Kemudian masing-masing diri diberi balasan sempurna terhadap segala sesuatu yang telah mereka kerjakan, sedang sedikitpun mereka tidak dianiaya (dirugikan).” [Al-Baqarah: 281]
Perbaharuilah lembaran-lembaran kehidupan yang segala hasilnya akan kembali kepada kita juga,
“Barangsiapa yang mengerjakan amalan shalih, (pahalanya) untuk dirinya sendiri, sedangkan barangsiapa mengerjakan perbuatan jahat, (dosanya) untuk dirinya sendiri; dan sekali-kali tidaklah Rabb-mu menganiaya hamba-hamba-Nya.” [Fushshilat: 46]
Wahai Umat Islam,
Bulan Ramadhan telah meninggalkan kita. Siapa saja yang beribadah kepada Allah, menegakkan shalat, puasa, dan zakat, membaca Al-Qur’an, serta amalan kebaikan hanya di bulan Ramadhan, sesungguhnya Ramadhan telah berlalu. Namun, siapa saja yang menegakkan ibadah-ibadah tersebut karena Allah, sesungguhnya Allah Maha Hidup dan Maha Kekal, serta Allah mencintai hamba yang telah menyelesaikan suatu ibadah kemudian menyambung ibadah tersebut dengan ibadah yang lain. Allah memerintah kepada Nabi-Nya,
“Maka apabila engkau telah selesai (dari suatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) lain, dan hanya kepada Rabb-mulah hendaknya engkau berharap.” [Asy-Syarh: 7-8]
Hiasilah kehidupan dengan ibadah kepada Allah pada segala keadaan dan pada setiap waktu sebagaimana sabda Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam,
“Bertakwalah kepada Allah di manapun engkau berada, dan ikutilah kejelekan dengan kebaikan niscaya (kebaikan itu) menghapus (kejelekan), serta berinteraksilah dengan manusia dengan akhlak yang baik.” [Diriwayatkan oleh At-Tirmidzy dari Abu Dzarr]
Kaum muslimin dan muslimat!
Bersyukurlah kepada Allah akan nikmat ketenangan, keamanan, dan kecukupan.
Pada hari yang berbahagia ini, sejumlah kaum muslimin menghadiri hari Id ini dengan linangan air mata serta berbagai duka dan nestapa. Oleh karena itu, ulurkanlah tangan kebaikan dan tuangkanlah dari ketulusan hati kepada saudara-saudara seagama. Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Tidaklah kalian mendapat pertolongan dan kelapangan rezeki, kecuali dengan sebab (memperhatikan) orang-orang lemah di antara kalian.” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhary dari Sa’d bin Abi Waqqâsh radhiyallahu ‘anhu]
Juga janganlah lupa kepada kaum muslimin di berbagai belahan dunia: di Suriah, Myanmar, dan selainnya yang diliputi oleh berbagai kesedihan. Curahkanlah doa dan bantuan untuk mereka. Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam mengingatkan,
“Seorang mukmin bagi mukmin yang lain seperti bangunan, yang sebagiannya menguatkan sebagian yang lain.” (Dikeluarkan oleh Al-Bukhâry dan Muslim dari Abu Musa Al-Asy’ary radhiyallahu ‘anhu)
Pada hari ini, marilah kita senantiasa menghargai nikmat Allah dengan menggunakan nikmat tersebut dalam hal yang dicintai dan diridhai oleh Allah. Janganlah menggunakan nikmat Allah dalam dosa, maksiat, permusuhan, dan memutus silaturahim.
Semoga Allah ‘Azza wa Jalla senantiasa menjaga kita semua di atas segala nikmat dan melindungi kita dari segala musibah dan malapetaka.
Sebagaimana, kita bermohon kepada-Nya agar Dia menerima amalan puasa, shalat, zakat, sedekah, bacaan Al-Qur`an, dan segala amalan shalih, serta menjadikan amalan tersebut sebagai pembebas leher-leher kita dari api neraka.
Semoga, pada setiap tahunnya, kaum muslimin dan muslimat selalu berada di atas kebaikan dan ketakwaan, tergolong ke dalam Al-Fâ`izin ‘orang-orang yang beruntung’ dan Al-Â’idin ‘orang-orang yang terlahir kembali, bersih dari dosa’.
“Hari yang paling agung di sisi Allah adalah hari An-Nahr kemudian hari Al-Qarr.”[Diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Dâwud, An-Nasâ`iy dan selainnya dari Abdullah bin Qurâth radhiyallahu ‘anhu. Dishahihkan oleh Al-Albâny dalam Irwâ’ul Ghalîl no. 1958.]
Suatu hal yang dimaklumi bahwa, pada hari yang agung ini, Allah telah mengumpulkan berbagai ibadah yang agung berupa shalat Id, ibadah qurban, dzikir dan takbir, pelemparan jamratul aqba bagi jamaah haji, thawaf ifadhah, dan selainnya.
Marilah, pada hari yang agung ini, kita merenungi keagungan dan kebesaran Allah ‘Azza wa Jalla yang telah mensyariatkan sejumlah ibadah agung pada hari yang berbahagia ini.
Allah menyebutkan dua kaidah agung dalam dua ayatAl-Qur`an yang patut kita renungi dan menjadi pijakan kehidupan kita.
“Demikianlah (perintah Allah).Dan barangsiapa yang mengagungkan apa-apa yang terhormat di sisi Allah, hal itu adalah lebih baik baginya di sisi Rabb-nya.” [Al-Hajj: 30]
“Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa yang mengagungkan syiar-syiar Allah, sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati.” [Al-Hajj: 32]
Dua ayat di atas berisi kaidah pengagungan terhadap segala hal yang diharamkan dan dibesarkan di sisi Allah dan kaidah pengagungan terhadap simbol-simbol pokok agama Islam.
Kenalilah kebesaran dan keagungan Allah Al-‘Azhîm (Yang Maha Agung). Allah telah mengingatkan dalam sebuah hadits qudsy,
“Kebesaran adalah rida`-Ku dan keagungan adalah sarung-Ku. Barangsiapa yang mengganggu-Ku pada salah satu di antara keduanya, Aku akan melemparkannya kedalam neraka.” [Diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Dawud, dan Ibnu Mâjah. Dishahihkan oleh Al-Albâny dalam Ash-Shahîhah no. 541]
Mereka yang lalai dari mengagungkan dan membesarkan Allah bukanlah tergolong sebagai orang-orang yang beriman kepada-Nya,
“Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya, padahal bumi seluruhnya berada dalam genggaman-Nya pada hari kiamat, sedang langit digulung dengan tangan kanan-Nya. Maha Suci (Allah) dan Maha Tinggi Dia dari kesyirikan yang mereka lakukan.” [Az-Zumar: 67]
Marilah, pada hari yang agung ini, kita membesarkan Allah ‘Azza wa Jalla dan mengagungkan segala tuntunan dan syariat-Nya.
Pada hari raya Idul Qurban ini, Allah telah menyebutkan kewajiban pengagungan yang paling besar. Allah berfirman,
“Dan bagi tiap-tiap umat, telah Kami syariatkan penyembelihan (qurban) supaya mereka menyebut nama Allah pada binatang ternak yang telah Allah direzekikan kepada mereka maka sembahan kalian ialah Sembahan Yang Maha Satu. Oleh karena itu, berserah-dirilah kalian kepada-Nya. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (kepada Allah).” [Al-Hajj: 34]
Memurnikan ibadah kepada Allah adalah kewajiban terbesar yang merupakan misi dakwah setiap nabi dan rasul. Allah mengingatkan,
“Dan sesungguhnya, Kami telah mengutus rasul pada setiap umat (untuk menyerukan), ‘Beribadahlah kepada Allah (semata) dan jauhilah thaghut (segala sesuatu yang diibadahi selain Allah).’.” [An-Nahl: 36]
Oleh karena itu, agungkanlah Allah dengan mengikhlaskan ibadah hanya kepada-Nya.
“Katakanlah, ‘Sesungguhnya shalatku, ibadahku, serta hidup dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb alam semesta, tiada sekutu bagi-Nya.Demikian itulah yang diperintahkan kepadaku, dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah).”“ [Al-An’âm: 162-163]
Agungkanlah peribadahan hanya kepada Allah agar kita semua meraih kebahagian hidup yang hakiki,
“Barangsiapa yang beramal shalih, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman (bertauhid), sesungguhnya Kami akan memberi kehidupan yang baik (indah, bahagia) kepadanya dan sesungguhnya Kami akan membalas mereka dengan pahala yang lebih baik daripada apa-apa yang telah mereka kerjakan.” [An-Nahl: 97]
Agungkanlah Allah dalam segala ibadah jika kalian menghendaki kesejahteraan dan kebaikan di negeri ini,
“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu maka Kami menyiksa mereka disebabkan oleh perbuatan mereka.”[Al-A’râf: 96]
Kaum Muslimin dan Muslimat,
Di antara pengagungan kepada Allah Subhânahu wa Ta’âlâ adalah menyucikan Allah terhadap segala bentuk kesyirikan. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,
“Maka hendaknya kalian menjauhi berhala-berhala yang najis itu dan jauhilah perkataan-perkataan dusta dengan ikhlas kepada Allah, tidak mempersekutukan sesuatu apapun dengan Dia. Barangsiapa yang mempersekutukan sesuatu dengan Allah, ia seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan oleh angin ke tempat yang jauh.” [Al-Hajj: 30-31]
Perhatikanlah kehancuran orang-orang yang berbuat kesyirikan kepada Allah.
Suatu hal yang sangat mengherankan bahwa kita melihat pada seorang, apabila mendapatkan kepastian akan datangnya gelombang tsunami, letusan gunung berapi, gempa bumi, banjir bandang, lonsor, dan selainnya, akan terlihat padanya ketakutan yang luar biasa dan berbagai persiapan untuk menyelamatkan diri, keluarga dan harta benda. Merupakan pengagungan yang sangat besar kepada harta dan jiwa mereka. Namun, dia tidak pernah berpikir untuk mengagungkan Allah, bahkan mereka mengundang datangnya petaka dan kehancuran dengan berbagai praktik kesyirikan yang mereka lakukan. Adakah yang mengetahui bahwa sebab kebinasaan dan kehancuran alam semesta adalah dengan adanya kesyirikan? Bukankah Allah ‘Azza wa Jalla telah mengingatkan,
“Dan mereka berkata, ‘Ar-Rahmân (Allah Yang Maha Pemurah) mengambil (mempunyai) anak.’Sesungguhnya kalian telah mendatangkan suatu perkara yang sangat mungkar. Hampir-hampir langit pecah, karena ucapan itu, serta bumi terbelah dan gunung-gunung runtuh, sebab mereka menyerukan bahwa Ar-Rahmân mempunyai anak. Padahal, Ar-Rahmân tidaklah layak mengambil (mempunyai) anak.” [Maryam: 88-92]
Wahai Umat Islam,
Agungkanlah Allah dengan meninggalkan segala dosa dan kemaksiatan,
“Jika kalian menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang kalian dilarang kerjakan, niscaya Kami menghapus kesalahan-kesalahan kalian dan memasukkan kalian ke tempat yang mulia (surga).” [An-Nisâ`: 31]
Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam mengingatkan,
“Hindarilah tujuh hal yang membinasakan.” Ditanyakan kepada beliau, “Wahai Rasulullah, apa (ketujuh) hal itu?” Beliau menjawab, “(1) Berbuat kesyirikan kepada Allah, (2) (berbuat) sihir, (3) membunuh jiwa yang Allah haramkan, kecuali dengan haq, (4) memakan harta anak yatim, (5) memakan riba, (6) lari pada hari perjumpaan dengan musuh, dan (7) menuduh perempuan mukminah, yang menjaga diri lagi tidak kenal maksiat, dengan perbuatan zina.”.” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhâry dan Muslim dari hadits Abu Hurairah radhiyallâhu ‘anhu]
Di mana pengagungan sejumlah kaum muslimin yang masih saja mendatangi dukun-dukun dan memercayai paranormal? Bukankah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda,
“Barangsiapa yang mendatangi dukun atau paranormal, lalu membenarkan ucapan (dukun atau paranormal) itu, sungguh dia telah kafir terhadap (risalah) yang diturunkan kepada Muhammad.” [Dikeluarkan oleh Ahmad dan Al-Hâkim. Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albâny dalam Irwâ`ul Ghalîl 7/69-70]
Di mana pengagungan sejumalah kaum muslimat yang masih saja menanggalkan jilbab dan mengikuti pakaian perempuan-perempuan kafir? Bukankah Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam telah mengingatkan,
“Dua golongan dari penduduk neraka, yang aku belum pernah melihat keduanya: suatu kaum yang membawa cambuk-cambuk seperti ekor-ekor sapi, dia memukul manusia dengan (cambuk-cambuk) itu, dan para perempuan yang berpakaian tetapi telanjang, menyesatkan orang lain, bersisir seperti pezina, kepala mereka seperti punuk-punuk unta yang miring. Mereka tidak akan dimasukkan ke dalam surga dan tidak akan mencium bau (surga), padahal bau (surga) bisa dicium dari jarak begini dan begini.” [Diriwayatkan oleh Muslim dari Abu Hurairah radhiyallâhu ‘anhu]
Janganlah mengundang musibah dan petaka dengan dosa dan kemaksiatan. Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam mengingatkan,
“Wahai kaum Muhajirin, ada lima perkara, apabila kalian tertimpa dengannya -dan saya berlindung kepada Allah agar kalian tidak mendapatinya-. (Pertama,) tidaklah kekejian tampak pada suatu kaum, kemudian mereka melakukan (kekejian) itu secara terang-terangan, kecuali bahwa akan tersebar kepada mereka penyakit thâ’ûn dan penyakit-penyakit yang belum pernah melanda pendahulu-pendahulu mereka yang telah berlalu. (Kedua,) tidaklah mereka mengurangi takaran dan timbangan, kecuali bahwa mereka akan ditimpa oleh kemarau yang panjang, krisis pangan, dan keseweng-wenangan penguasa. (Ketiga,) tidaklah mereka menunda untuk mengeluarkan zakat harta mereka, kecuali bahwa hujan dari langit akan ditahan untuk mereka. Andaikata bukan karena hewan-hewan ternak, niscaya mereka tidak mendapatkan hujan (sama sekali). (Keempat,) tidaklah mereka melanggar perjanjian dengan Allah dan perjanjian dengan Rasul-Nya, kecuali bahwa Allah akan menjadikan musuh, yang bukan dari kalangan mereka, berkuasa terhadap mereka kemudian (para musuh itu) mengambil sebagian (harta) yang berada di tangan mereka. (Kelima,) tidaklah para penguasa mereka tidak berhukum dengan kitab Allah dan tidak memilih (hukum) yang Allah turunkan, kecuali bahwa Allah menjadikan kehancuran mereka antara sesama mereka sendiri.” [Diriwayatkan oleh Ibnu Mâjah dan selainnya.Dihasankan oleh Al-Albâny dengan beberapa pendukungnya. Bacalah Ash-Shahîhah no. 106]
Wahai Kaum Muslimin dan Muslimat,
Pada hari-hari Tasyrîq yang agung, Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam pernah berkhutbah,
“Wahai sekalian manusia, ketahuilah bahwa Rabb kalian adalah satu, dan ayah kalian semua adalah satu. Ketahuilah, tidak ada keutamaan orang Arab di atas orang Ajam, juga tidak ada (keutamaan) orang Ajam di atas orang Arab, serta tidak ada (keutamaan) orang berkulit merah di atas orang yang berkulit hitam, dan tidak ada (keutamaan) orang berkulit hitam di atas orang berkulit merah, kecuali dengan ketakwaan.” [Diriwayatkan oleh Ahmad dan selainnya. Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albâny dalam Ash-Shahîhah no. 2700]
Wahai Umat Islam, Rabb yang kita sembah hanyalah Allah Yang Maha Satu!
Nabi yang menjadi panutan kita hanyalah Nabi Muhammad shallallâhu ‘alaihi wa sallam!
Kita semua melaksanakan shalat hanya menghadap kepada kiblat yang satu!
Kita semua adalah keturunan Nabi Adam, ayah seluruh manusia.
Tanggalkanlah segala perpecahan dan perselisihan.
Hindarilah segala bentuk fanatisme suku dan golongan.
Janganlah menjadi pendukung syaithan ke jalan kehancuran.
“Dan janganlah kalian tergolong sebagai orang-orang yang mempersekutukan Allah, yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan.Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa-apa yang ada pada golongan mereka.” [Ar-Rûm: 31-32]
Kaum muslimini dan Muslimat,
Di antara pengagungan kepada Allah adalah mengagungkan dua golongan yang kedudukan mereka telah dijelaskan di tengah manusia.
“Manusia akan terus menerus berada di atas kebaikan selama mereka masih mengagungkan sulthan dan ulama. Tatkala mereka mengagungkan keduanya, Allah akan memperbaiki dunia dan akhirat mereka. Apabila mereka menghinakan keduanya, mereka telah merusak dunia dan akhirat mereka sendiri.” [Tafsîr Al-Qurthuby 5/260-261]
Adanya pemimpin di tengah manusia adalah sebuah hikmah dan anugerah dari Allah. Allah Subhânahu mengingatkan,
“Seandainya Allah tidak menolak (keganasan) sebagian umat manusia terhadap sebagian yang lain, pasti rusaklah bumi ini, tetapi Allah mempunyai karunia (yang dicurahkan) atas alam semesta.” [Al-Baqarah: 251]
Oleh karena itu, hargailah pemimpin dan pemerintah kalian sebagaimana wejangan Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam,
“Barangsiapa yang memuliakan sulthan Allah di dunia, Allah akan memuliakannya pada hari kiamat. (Namun), barangsiapa yang menghinakan sulthan Allah di dunia, Allah akan menghinakannya pada hari kiamat.” [Diriwayatkan oleh Ahmad dan selainnya. Dihasankan oleh Syaikh Al-Albâny dalam Ash-Shahîhah]
Terhadap pemimpin, hendaklah dia berlaku lembut kepada rakyatnya dan menjaga segala kebaikan dan kemashlahatan mereka. Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam mengingatkan,
“Ya Allah, siapa saja yang memimpin suatu perkara dari umatku, tetapi kemudian dia memberatkan mereka, beratkanlah terhadapnya. Namun, siapa saja yang memimpin suatu perkara dari umatku, lalu dia berlemah lembut kepada mereka, berlemah-lembutlah kepadanya.” [Diriwayatkan oleh Muslim dari Aisyah radhiyallâhu ‘anhâ]
Kaum muslimin dan muslimat,
Juga ketahuilah kedudukan para ulama yang merupakan pewaris para nabi dan penegak kebaikan di tengah umat. Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Bukanlah dari umatku, orang yang tidak menghormati orang tuanya, (tidak) merahmati orang mudanya, dan (tidak) mengenal hak orang berilmu di kalangan kami.” [Diriwayatkan oleh Ahmad dan Al-Hâkim]
Juga beliau bersabda,
خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ القُرْآنَ وَعَلَّمَهُ
“Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur`an dan mengajarkan (Al-Qur`an).” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhâry dari Utsman bin Affan]
Jamaah Shalat Id yang berbahagia,
Agungkanlah Al-Qur`an dan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Pelajarilah kandungan ilmu dan kebaikan yang terdapat padanya.Amalkan segala tuntunan dan syari’atnya.Itulah jalan kebahagian dan kesejahteraan umat Islam. Allah berfirman,
“Maka jika datang kepada kalian petunjuk daripada-Ku, barangsiapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan sengsara.Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.” [Thâhâ: 123-124]
Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Apabila kalian telah berjual-beli dengan cara‘înah (salah satu bentuk riba), telah mengambil ekor-ekor (baca: sibuk beternak) sapi, telah ridha dengan pertanian, dan meninggalkan jihad, niscaya Allah akan menimpakan suatu kehinaan kepada kalian. Tidaklah Dia mencabut (kehinaan) itu, kecuali setelah kalian kembali kepada agama kalian.”[Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan selainnya dari Ibnu Umar radhiyallâhu ‘anhumâ. Dishahihkan oleh Al-Albâny dengan beberapa jalurnya dalam Ash-Shahîhah no. 11]
Wahai Hamba-hamba Allah!
Allahu Akbar, Dialah Allah Yang Maha Besar dalam penciptaan dan kekuasaannya.
Allahu Akbar, Dialah Allah Yang Maha Besar dalam kemurnian ibada kepada-Nya.
Allahu Akbar, Dialah Allah Yang Maha Besar dalam seluruh nama dan sifat-Nya.
Allahu Akbar, Dialah Allah Yang Maha Besardalam agama dan syari’at-Nya.
Allahu Akbar, Dialah Allah Yang Maha Besar dalam ketentuan dan takdir-Nya.
Tataplah kehidupan ini dengan tatapan seorang hamba yang memahami keagungan Rabb-Nya, pandangan seorang yang hatinya makmur dengan rasa takut kepada-Nya, dan penghayatan seorang yang sangat menyadari bahwa dirinya akan kembali kepada Allah.
“Dan peliharalah diri kalian dari (adzab yang terjadi pada) hari yang, pada waktu itu, kalian semua dikembalikan kepada Allah.Kemudian masing-masing diri diberi balasan sempurna terhadap segala sesuatu yang telah mereka kerjakan, sedang sedikitpun mereka tidak dianiaya (dirugikan).” [Al-Baqarah: 281]
Agungkan Allah yang telah memberi nikmat kehidupan agar engkau menggunakannya sebagai jalan keselamatan yang mengantar kepada sorga.
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada mereka sendiri.Mereka itulah orang-orang yang fasik.Tidaklah sama penghuni-penghuni neraka dengan penghuni-penghuni jannah; penghuni-penghuni jannah itulah orang-orang yang beruntung.” [Al-Hasyr: 18-19]
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Tidak akan bergeser kedua kaki seorang hamba pada hari kiamat hingga dia ditanya tentang empat perkara: (1) tentang umurnya, pada hal apa dia habiskan, (2) tentang ilmunya, bagimana dia beramal dengannya, (3) tentang hartanya, dari mana dia dapatkan dan pada hal apa dia belanjakan (4) dan tentang jasadnya pada hal apa dia usangkan.”[Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi, Ad-Darimy, Abu Ya’lâ, Al-Baihaqy dalam Al-Madkhal dan selainnya dari Abu Barzah Al-Aslamy radhiyallahu ‘anhu.Lafazh hadits milik Al-Baihaqy. Baca penshahihannya dalam Ash-Shahîhah no. 946 karya Syaikh Al-Albâny]
Kaum muslimin dan muslimat!
Dari pengagungan kepada Allah pada hari ini dan hari-hari Tasyrîq dan simbol Islam yang sangat agung adalah menyembelih hewan qurban sebagaimana dalam perintah Allah,
فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ
“Maka dirikanlah shalat karena Rabb-mu, dan berqurbanlah.” [Al-Kautsar: 2]
Agungkan dan besarkanlah Allah dengan menyembelih hewan ternak yang baik dan layak.Ingat bahwa ada beberapa cacat yang tidak diperbolehkan pada hewan qurban. Standar cacat yang tidak diperbolehkan itu adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa salllam,
“Sembelihan pincang yang kepincangannya sangat tampak, sembelihan yang sebelah matanya buta yang kebutaannya sangat tampak, sembelihan sakit yang sakitnya sangat tampak, dan sembelihan kurus yang tidak berlemak (bersumsum).”[Diriwayatkan oleh Malik, Ahmad, Imam Empat, dan selainnya. Dishahihkan oleh Al-Albâny dalam Irwâ’ul Ghalîl no. 1148]
Waktu penyembelihan bermula setelah pelaksanaan shalat ‘Id hingga matahari terbenam pada hari ke-13 Dzulhijjah.
Perlu diketahui bahwa umur hewan udh-hiyyah sebagai berikut.
– Untuk unta, yang telah mencukupi umur lima tahun dan mulai memasuki tahun keenam.
– Untuk sapi, yang telah mencukupi umur dua tahun dan mulai memasuki tahun ketiga.
– Untuk kambing yang bukan domba, yang telah mencukupi umur setahun dan mulai memasuki tahun kedua.
– Untuk domba jadza’, yang telah mencukupi umur enam bulan dan mulai memasuki bulan ketujuh.
Berbuat baiklah kepada sesama kaum muslimin pada hari yang agung ini, karena seorang mukmin adalah raga mukmin yang lainnya,
“Perumpamaan kaum mukminin dalam hubungan kasih sayang, rahmat, dan sikap berlemah lembut di antara mereka bagaikan satu jasad.Apabila salah satu anggota tubuhnya mengeluh (karena sakit), seluruh jasad akan turut merasakan keluhan itu dengan tidak bisa tidur dan merasakan demam.” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhary dan Muslim dari An-Nu’mân bin Basyir radhiyallahu ‘anhumâ]
Kita bersyukur kepada Allah ‘Azza wa Jalla karena hari Idul Adha atau hari An-Nahr pada tahun ini (10 Dzulhijjah 1433H) jatuh pada hari jum’at.Hal tersebut karena pada hari tersebut berkumpul dua keutamaan yang tidak terdapat pada hari-hari yang lainnya dalam setahun, keutamaan hari An-Nahr dan keutamaan hari Jum’at.
Siapa yang telah menyaksikan shalat Id, gugur terhadapnya menghadiri shalat Jum’at.Namun terhadap Imam Mesjid kewajiban untuk tetap menegakkan shalat Jum’at agar dihadiri oleh siapa yang ingin menghadirinya.
Bagi mereka yang tidak menghadiri shalat Jum’at, boleh untuk shalat Zhuhur di rumahnya.Kalau dia menghadiri Jum’at tentu lebih afdhal dan lebih selamat dari silang pendapat ulama dalam masalah ini.
Semoga Allah selalu mencurahkan rahmat dan kebaikan-Nya kepada kita semua dan mengukuhkan kita di atas keislaman dan Sunnah Rasulullah di kehidupan dunia, di alam kubur dan saat kita berdiri di depan-Nya mempertanggungjawabkan seluruh amalan.
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Agar Hidup Lebih Berarti
Oleh : Al-Ustadz Abdul Qodir Abu Fa’izah hafizhahullah
[Pembina Ponpes Al-Ihsan Gowa]
Booklet Khutbah Idul Fithri 1435 H
Mungkin setiap orang diantara kita sudah pernah mendengar istilah “virus”. Virus berasal dari bahasa latin yang berarti racun.
Virus secara istilah adalah mikro organisme yang tidak dapat dilihat dengan menggunakan mikroskop biasa, hanya dapat dilihat dengan mikroskop elektron.
“Dialah yang menjadikan malam bagi kalian supaya kalian beristirahat padanya dan (menjadikan) siang terang benderang (supaya kalian mencari karunia Allah). Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang mendengar.” [Yûnus: 67]
Maha Agung Allah yang telah menunjuki jalan keislaman, mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju kepada cahaya,
“Katakanlah, ‘Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Karunia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik daripada sesuatu yang mereka kumpulkan.’.” [Yûnus: 58]
Maha Suci Allah yang memberi rahmat, membuka pintu harapan, dan mencurahkan berbagai nikmat yang tak terhingga,
وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَتَ اللهِ لَا تُحْصُوهَا.
“Dan jika kalian menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kalian membilangnya.” [Ibrâhîm: 34]
Maha Suci Allah yang menerima taubat, memaafkan kesalahan, dan mengetahui segala hal yang hamba lakukan,
“Dan Dialah yang menerima taubat dari hamba-hamba-Nya dan memaafkan kesalahan-kesalahan serta mengetahui segala sesuatu yang kalian lakukan.” [Asy-Syûrâ: 25]
Maha Besar Allah yang semua makhluk fakir kepada-Nya, sedang Dia adalah Yang Maha Kaya lagi Maha Terpuji,
“Mengapa kalian kafir kepada Allah, padahal sebelumnya kalian mati, lalu Allah menghidupkan kalian, kemudian kalian dimatikan dan dihidupkan oleh-Nya kembali, kemudian kepada-Nyalah kalian dikembalikan?” [Al-Baqarah: 28]
Maha Besar Allah yang tidak seorang pun di langit dan di bumi, kecuali akan menghadap kepada-Nya sebagai hamba,
“Demikianlah Kami mewahyukan Al-Qur`an kepadamu dalam bahasa Arab supaya kamu memberi peringatan kepada ummul Qura (penduduk Makkah) dan penduduk (negeri-negeri) sekelilingnya serta memberi peringatan (pula) tentang hari berkumpul (kiamat) yang tiada keraguan padanya. Segolongan masuk surga, tetapi segolongan pula masuk neraka.” [Asy-Syûrâ: 7]
Kaum muslimin dan muslimat yang berbahagia,
Bersama lembaran baru hari Idul Fitri yang berbahagia ini, ada sebuah keistimewaan dalam Islam yang harus selalu kita renungi, suatu pijakan dalam memandang kehidupan yang terbaik.
Ketahuilah -semoga Allah merahmati Kita semua- bahwa Allah ‘Azza wa Jalla telah memberi rahmat kepada umat ini dengan tuntunan yang jelas, suatu jalan kehidupan yang membedakan antara cahaya dan kegelapan. Allah Ta’âlâ berfirman,
“Adakah sama orang buta dan yang dapat melihat, atau samakah gelap gulita dan terang benderang?” [Ar-Ra’d: 16]
Dengan agama ini, teranggaplah manusia menjadi dua golongan: mereka yang hidup dengan cahaya agung dan mayat yang berpaling dari petunjuk. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,
“Dan apakah orang yang sudah mati kemudian Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang yang, dengan cahaya itu, dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap-gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar dari (gelap-gulita) itu?” [Al-An’âm: 122]
Dalam merasakan manfaat cahaya tersebut, manusia juga terbagi dua,
“Sesungguhnya telah datang dari Rabb kalian bukti-bukti yang terang maka barangsiapa yang melihat (kebenaran itu), (manfaatnya adalah) bagi diri dia sendiri; sedangkan barangsiapa yang buta (terhadap kebenaran itu), (kemudharatannya) kembali kepada dia.” [Al-An’âm: 104]
Ciri pokok dari pengutusan Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam adalah mengajak manusia kepada hal yang merupakan hakikat kehidupannya sebagaimana dalam firman Allah Subhânahu wa Ta’âlâ,
لِيُنْذِرَ مَنْ كَانَ حَيًّا.
“Supaya dia (Muhammad) memberi peringatan kepada orang-orang yang (benar) hidup.” [Yâsîn: 70]
Dengan ketentuan cahaya agama ini, akan tampak jelas siapa saja yang hidup bahagia atau berada dalam kebinasaan,
“Yaitu agar orang yang binasa itu kebinasaannya dengan keterangan yang nyata dan agar orang yang hidup itu kehidupannya dengan keterangan yang nyata (pula).” [Al-Anfâl: 42]
Marilah, pada hari Id yang berbahagia ini, Kita mengisi lembaran kehidupan baru dengan makna kehidupan yang lebih berarti.
Cermatilah sebab-sebab yang membuat amanah umur dan kesempatan lebih bernilai di sisi Allah Ta’âlâ.
Kaum muslimin dan muslimat yang dirahmati oleh Allah,
Pokok kehidupan seorang mukmin dan mukminah yang merupakan sumber kebahagiaannya adalah keimanan dan amalan shalih. Allah Subhânahu wa Ta’âlâ berfirman,
“Barangsiapa yang mengerjakan amalan shalih, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, sesungguhnya akan Kami hidupkan dia dengan kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik daripada apa-apa yang telah mereka kerjakan.” [An-Nahl: 97]
Keimanan adalah keyakinan hati yang diucapkan dengan lisan dan disertai amalan perbuatan mencakup berbagai cabang keimanan. Pokoknya adalah keimanan kepada Allah Ta’âlâ, kepada malaikat, kitab-kitab, para rasul, dan hari akhirat, serta keimanan kepada takdir yang baik dan yang buruk.
Juga Ketulusan dan kemurnian ibadah, bersih dari noda kesyirikan, sebagaimana firman Allah Jalla Jalâluhu,
“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan keimanan mereka dengan kezhaliman (kesyirikan), mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” [Al-An’âm: 82]
Keimanan inilah yang menjadi pembelaan untuk hamba pada segala keadaan,
إِنَّ اللهَ يُدَافِعُ عَنِ الَّذِينَ آمَنُوا.
“Sesungguhnya Allah membela orang-orang yang telah beriman.” [Al-Hajj: 38]
“Sesungguhnya Kami menolong rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia dan pada hari berdirinya saksi-saksi (hari kiamat).” [Ghâfir: 51]
Dan amalan shalih adalah segala perbuatan yang dibangun di atas tuntunan Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam yang disertai dengan keikhlasan.
“Dan sesungguhnya kalau mereka melaksanakan pelajaran yang diberikan kepada mereka, tentulah hal yang demikian itu lebih baik bagi mereka dan lebih menguatkan (keimanan mereka), dan kalau demikian, Kami pasti memberikan kepada mereka pahala yang besar dari sisi Kami, dan Kami pasti memberi petunjuk kepada mereka menuju jalan yang lurus.” [An-Nisâ`: 66-68]
Kaum muslimin dan muslimat, hamba-hamba Allah!
Di antara pokok perkara yang membuat kehidupan lebih berarti adalah tunduk kepada segala perintah Allah dan Rasul-Nya,
“Wahai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan rasul apabila dia menyeru kalian kepada sesuatu yang memberi kehidupan kepada kalian. Ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya dan sesungguhnya kepada-Nyalah kalian akan dikumpulkan.” [Al-Anfâl: 24]
Perhatikanlah keagungan agama ini dari keterangan ayat ini, bahwa segala tuntunannya adalah hal yang memberi kehidupan yang sebenarnya kepada seorang hamba.
Oleh karena itu, keluar dari perintah Allah dan Rasul-Nya itulah kematian hidup,
“Hanya mereka yang mendengar sajalah yang mematuhi (seruan Allah), dan orang-orang yang (teranggap) mati, akan dibangkitkan oleh Allah, kemudian kepada-Nyalah mereka dikembalikan.” [Al-An’âm: 36]
Jawablah seruan Allah dan Rasul-Nya sebelum tiba suatu hari yang penyesalan tiada bermanfaat lagi,
“Patuhilah seruan Rabb kalian sebelum datang dari Allah suatu hari yang kedatangannya tidak dapat ditolak. Kalian tidak memperoleh tempat berlindung pada hari itu tidak pula dapat mengingkari (dosa-dosa kalian).” [Asy-Syûrâ: 47]
Jawablan seruan Allah dan Rasul-Nya dengan melaksanakan segala perintah dan meninggalkan larangan.
“Wahai orang-orang yang beriman, rukuklah kalian, sujudlah kalian, beribadahlah kepada Rabb kalian, dan perbuatlah kebajikan supaya kalian mendapat kemenangan.” [Al-Hajj: 77]
Jauhilah segala dosa dan maksiat agar kehidupan lebih bercahaya dan lebih berberkah.
“Jika kalian menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang dilarang dikerjakan terhadap kalian, niscaya Kami menghapus kesalahan-kesalahan kalian dan memasukkan kalian ke tempat yang mulia (surga).” [An-Nisâ`: 31]
Namun, sangat disayangkan bahwa, pada hari-hari ini, kita melihat banyak dari kaum muslimin yang meremehkan dosa, seakan dosa itu bukanlah ancaman yang bisa menghancurkan kehidupan seorang hamba.
“Sungguh kalian mengerjakan amalan-amalan yang, di mata kalian, seperti rambut, padahal kami, pada masa Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam, menganggap (amalan) tersebut sebagai hal yang membinasakan.” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhâry]
Di antara dosa yang banyak diremehkan oleh manusia adalah perbuatan kesyirikan, seperti berdoa kepada selain Allah, meminta hajat kepada penghuni kubur, menyembelih untuk selain Allah, dan mendatangi tempat-tempat yang dikeramatkan.
Kesyirikan adalah penghancur kenikmatan dan dosa terbesar yang akan mengakibatkan pelakunya kekal di dalam neraka. Allah Subhânahu mengingatkan,
“Sesungguhnya, barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, pasti Allah mengharamkan surga kepadanya, sedang tempatnya ialah neraka. Tidaklah ada seorang penolong pun bagi orang-orang zhalim itu.” [Al-Mâ`idah: 72]
“Barangsiapa yang mempersekutukan sesuatu dengan Allah, ia seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan oleh angin ke tempat yang jauh.” [Al-Hajj: 31]
Termasuk dosa yang banyak diremehkan adalah mendatangi dukun-dukun dan memercayai paranormal, padahal Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam telah bersabda,
“Barangsiapa yang mendatangi dukun atau paranormal, lalu membenarkan ucapan (dukun atau paranormal) itu, sungguh dia telah kafir terhadap (risalah) yang diturunkan kepada Muhammad.” [Dikeluarkan oleh Ahmad dan Al-Hâkim. Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albâny dalam Irwâ`ul Ghalîl 7/69-70]
Juga, di antara deretan dosa yang disepelekan adalah sebagaimana keadaan sebagian kaum muslimat yang menanggalkan jilbab dan mengikuti pakaian perempuan-perempuan kafir. Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam telah mengingatkan,
“Dua golongan dari penduduk neraka, yang aku belum pernah melihat keduanya: suatu kaum yang membawa cambuk-cambuk seperti ekor-ekor sapi, dia memukul manusia dengan (cambuk-cambuk) itu, dan para perempuan yang berpakaian tetapi telanjang, menyesatkan orang lain, bersisir seperti pezina, kepala mereka seperti punuk-punuk unta yang miring. Mereka tidak akan dimasukkan ke dalam surga dan tidak akan mencium bau (surga), padahal bau (surga) bisa dicium dari jarak begini dan begini.” [Diriwayatkan oleh Muslim dari Abu Hurairah radhiyallâhu ‘anhu]
Di antara dosa yang membawa kejelekan untuk suatu negeri adalah mencela dan menghujat pemerintah dan pemimpin muslim. Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Barangsiapa yang memuliakan sulthan Allah di dunia, Allah akan memuliakannya pada hari kiamat. (Namun) barangsiapa yang menghinakan sulthan Allah di dunia, Allah akan menghinakannya pada hari kiamat.” [Diriwayatkan oleh Ahmad dan selainnya. Dihasankan oleh Syaikh Al-Albâny dalam Ash-Shahîhah]
Bukanlah hal terlarang bila memberi nasihat kepada penguasa, tetapi memberi nasihat adalah dengan dengan cara yang jelas dan membawa manfaat dan perubahan, bukan dengan cara ribut-ribut, berteriak-teriak di jalan, dan menzhalimi manusia.
“Barangsiapa yang menasihati penguasa, janganlah dia menampakkan (nasihat itu) secara terang-terangan, tetapi hendaknya dia mengambil tangan (penguasa tersebut) dan berduaan dengannya. Kalau (sang penguasa) menerima, itulah (yang diinginkan). Akan tetapi, jika (sang penguasa) menolak, dia telah menunaikan kewajibannya.” [Diriwayatkan oleh Ibnu Abi ‘Âshim, Al-Hâkim, dan Al-Baihaqy]
Kaum muslimin dan muslimat yang berjalan ke negeri akhirat,
Di antara pokok perkara yang membuat kehidupan yang lebih berarti adalah mendidik diri dengan ilmu agama. Allah Ta’âlâ menyebut wahyu yang diturunkan kepada Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam sebagai ruh,
“Dan demikianlah Kami mewahyukan kepadamu ruh (wahyu Al-Qur`an) dengan perintah Kami. Sebelumnya engkau tidaklah mengetahui apakah Kitab (Al-Qur`an) itu tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al-Qur`an itu sebagai cahaya, yang dengan (Al-Qur`an) itu Kami memberi petunjuk kepada siapa saja yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya engkau benar- benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.” [Asy-Syûrâ: 52]
Juga Allah Ta’âlâ menyebut Al-Qur`an yang merupakan sumber ilmu dan kehidupan dengan berbagai sifat agung,
“Wahai manusia, sesungguhnya telah datang kepada kalian pelajaran dari Rabb kalian dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada serta petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” [Yûnus: 57]
“Wahai manusia, sesungguhnya telah datang kepada kalian bukti kebenaran dari Rabb kalian dan Kami telah menurunkan kepada kalian cahaya yang terang benderang.” [An-Nisâ`: 174]
Dari Ibnu ‘Abbâs radhiyallâhu ‘anhu, Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Ketahuilah, bahwa Saya telah meninggalkan pada kalian suatu perkara yang kalian tidak akan tersesat selamanya sepanjang kalian berpegang teguh dengannya, yaitu kitab Allah dan sunnah Nabi-Nya.” [Diriwayatkan oleh Al-Ajurry, Al Hakim, Al-Baihaqy, dan selainnya. Dihasankan oleh Syaikh Al-Albâny dalam At-Tawassul dengan mengisyaratkan syahid baginya dalam Ash-Shahîhah no. 1761]
“Bertanyalah kalian kepada orang-orang yang berilmu jika kalian tiada mengetahui.” [Al-Anbiyâ`: 7]
Kaum muslimin dan muslimat yang takut dari api neraka,
Di antara pokok pijakan yang membuat hidup kehidupan lebih berarti adalah mengikat diri dengan ketakwaan dalam menjalankan segala perintah dan meninggalkan segala larangan disertai takut akan siksaan dan kemurkaan-Nya,
“Wahai orang-orang yang beriman (kepada para rasul), bertakwalah kepada Allah dan berimanlah kepada Rasul-Nya, niscaya Allah memberikan dua bagian rahmat-Nya kepada kalian, dan menjadikan untuk kalian cahaya yang, dengan cahaya itu, kalian dapat berjalan, dan Dia mengampuni kalian. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” [Al-Hadîd: 28]
“Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada dia sangka-sangka.” [Ath-Thalâq: 2-3]
“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu maka Kami menyiksa mereka disebabkan oleh perbuatan mereka.” [Al-A’râf: 96]
Kaum muslimin dan muslimat, para pemimpin dan orang tua,
Hidup ini adalah kesempatan dan amanah. Terdapat kewajiban yang terpikul pada pundak seseorang yang diberi amanah kepemimpinan dan tanggung jawab.
“Tidaklah seorang hamba diberi tanggung jawab oleh Allah dengan suatu tanggung jawab, kemudian dia tidak menjaga (tanggung jawab) itu secara tulus dan maksimal, kecuali bahwa dia tidak akan mencium bau surga.” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhâry dan Muslim dari Ma’qil bin Yasar. Lafazh hadits adalah milik Al-Bukhâry]
“Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya adalah malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap segala sesuatu yang (Allah) perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan segala hal yang diperintahkan.” [At-Tahrîm: 6]
Wahai para pemuda dan pemudi harapan umat,
Kalian adalah buah hati dan harapan umat, jadilah orang yang paling bermanfaat bagi manusia, dan jadilah orang-orang yang berberkah di manapun kalian berada sebagaimana keberadaan Nabi Isa ‘alaihis salâm yang berkata,
وَجَعَلَنِي مُبَارَكًا أَيْنَ مَا كُنْتُ.
“Dan Dia menjadikanku sebagai orang yang diberkahi di mana saja aku berada.” [Maryam: 31]
Kaum muslimin dan muslimat yang seluruhnya akan menghadap kepada Allah,
Pada hari kemarin Kita dimuliakan dengan Ramadhan. Tiada terasa waktu terus bergulir, dan hari ini Kita telah meninggalkan Ramadhan. Itulah hari-hari kehidupan yang terus berjalan tanpa henti menuju suatu yang pasti: kehidupan akhirat, yang di hadapan Allah ‘Azza wa Jalla Kita akan berdiri,
“Dan peliharalah diri kalian dari (adzab yang terjadi pada) hari yang, pada waktu itu, kalian semua dikembalikan kepada Allah. Kemudian masing-masing diri diberi balasan sempurna terhadap segala sesuatu yang telah mereka kerjakan, sedang sedikitpun mereka tidak dianiaya (dirugikan).” [Al-Baqarah: 281]
Perbaharuilah lembaran-lembaran kehidupan yang segala hasilnya akan kembali kepada Kita jua,
“Barangsiapa yang mengerjakan amalan shalih, (pahalanya) untuk dirinya sendiri, sedangkan barangsiapa mengerjakan perbuatan jahat, (dosanya) untuk dirinya sendiri; dan sekali-kali tidaklah Rabb-mu menganiaya hamba-hamba-Nya.” [Fushshilat: 46]
Kaum muslimin dan muslimat yang memiliki kelembutan hati dan kasih sayang,
Pada hari yang berbahagia ini, ada sejumlah kaum muslimin menghadiri hari Id ini dengan linangan air mata dan berliput duka dan nestapa. Oleh karena itu, ulurkanlah tangan kebaikan dan tuangkanlah dari ketulusan hati kepada saudara-saudara seagama. Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Tidaklah kalian mendapat pertolongan dan kelapangan rezeki, kecuali dengan sebab (memperhatikan) orang-orang lemah di antara kalian.” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhâry dari Sa’d bin Abi Waqqâsh radhiyallâhu ‘anhu]
Juga janganlah lupa kepada kaum muslimin di berbagai belahan dunia: di Palestina, Suriah, Iraq, dan selainnya yang diliputi oleh berbagai kesedihan dan cobaan. Curahkanlah doa dan bantuan untuk mereka. Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam mengingatkan,
“Seorang mukmin bagi mukmin yang lain seperti bangunan, yang sebagiannya menguatkan sebagian yang lain.” [Dikeluarkan oleh Al-Bukhâry dan Muslim dari Abu Musa Al-Asy’ary radhiyallâhu ‘anhu]
Semoga Allah ‘Azza wa Jalla senantiasa menjaga kita semua di atas segala nikmat dan melindungi kita dari segala musibah dan malapetaka.
Sebagaimana, Kita bermohon kepada-Nya agar Dia menerima amalan puasa, shalat, zakat, sedekah, bacaan Al-Qur`an, dan segala amalan shalih, serta menjadikan amalan tersebut sebagai pembebas leher-leher Kita dari api neraka.
Semoga, pada setiap tahunnya, kaum muslimin dan muslimat selalu berada di atas kebaikan dan ketakwaan, tergolong ke dalam Al-Fâ`izin ‘orang-orang yang beruntung’ dan Al-Â’idin ‘orang-orang yang terlahir kembali, bersih dari dosa’.
Kaum muslimin dan muslimat, jamaah shalat Id yang Saya muliakan!
Marilah kita selalu memuji Allah dan menyanjung-Nya, bersyukur dan membesarkan-Nya, atas segala karunia dan nikmat yang tidak akan mungkin dihitung dan dijumlah,
وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَتَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا
“Dan jika kalian menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kalian menghinggakannya.” [Ibrâhim: 34, An-Nahl: 18]
Hari Id yang berbahagia ini adalah termasuk nikmat Allah yang wajib kita syukuri. Sebagaimana, kita telah melalui Ramadhan yang penuh dengan keutamaan dan keistimewaan. Sempurnakanlah kesyukuran akan segala nikmat ibadah dengan bergembira dengan-Nya sebagaimana firman Allah Ta’âlâ,
“Katakanlah, ‘Dengan kurnia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Kurnia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.’.” [Yûnus: 58]
Kaum muslimin dan muslimat,
Hari-hari kehidupan umat Islam bukanlah kehidupan yang sia-sia, bayang-bayang, atau fatamorgana yang berlalu tanpa arti, tetapi kehidupan ini adalah renungan, pelajaran, dan tanggung jawab. Allah Subhânahu wa Ta’âlâ mengingatkan,
“Allah mempergantikan malam dan siang. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran yang besar bagi orang-orang yang mempunyai penglihatan.” [An-Nûr: 44]
“Dan Dia (pula) yang menjadikan malam dan siang silih berganti bagi orang yang ingin mengambil pelajaran atau orang yang ingin bersyukur.” [Al-Furqân: 62]
Kaum muslimin dan muslimat yang Saya muliakan,
Bersama matahari yang terbit pada pagi hari Idul Fithri yang berberkah ini, Saya mengajak seluruh hadirin untuk merenungi beberapa pedoman hidup yang sangat kita perlukan sebagai warga negara Republik Indonesia yang sedang menghadapi berbagai ujian dan cobaan, suatu pijakan berharga dalam menata jiwa, meningkatkan kualitas hidup, serta menjaga keutuhan dan kebersamaan dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.
Umat Islam yang saya hormati dan saya muliakan,
Termasuk pokok pelajaran yang harus diingat pada hari Id ini adalah menjaga kebersamaan dan memelihara keutuhan dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Kaidah agung dan simbol agama ini telah diingatkan oleh Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wasallam dalam sebuah haditsnya,
“Puasa itu adalah hari kalian berpuasa. Berbuka itu adalah hari kalian berbuka. Adhhâ itu adalah hari kalian ber-udh-hiyah.” [Diriwayatkan oleh At-Tirmidzy dari Abu Hurairah radhiyallâhu ‘anhu]
Hukum agama yang disepakati oleh para ulama adalah bahwa penetapan hari Id adalah di tangan pemerintah karena pemerintah adalah lambang kebersamaan dan kesatuan. Sebagaimana, shalat berjama’ah diwajibkan terhadap laki-laki, shalat tarawih berjama’ah disyariatkan secara khusus di Ramadhan, serta syariat zakat fitri, zakat harta, dan ibadah haji, semua adalah pedoman dalam menjaga kebersamaan dan kesatuan.
Kaum muslimin dan muslimat,
Salah seorang pemimpin umat Islam sekaligus alim terpercaya yang pernah hidup pada masa dahulu: Imam Sahl bin Abdillah At-Tastury (wafat 283 H) pernah berucap kalimat yang layak ditulis dengan tinta emas. Beliau bertutur,
“Manusia akan terus menerus berada di atas kebaikan selama mereka masih mengagungkan sulthan dan ulama. Tatkala mereka mengagungkan keduanya, Allah akan memperbaiki dunia dan akhirat mereka. Namun, apabila mereka menghinakan keduanya, mereka telah merusak dunia dan akhirat mereka sendiri.” [Tafsîr Al-Qurthuby]
Maka di tengah umat, ada dua komponen yang wajib dijaga di tengah umat agar terjaga pula kebersamaan dan kesatuan mereka:
Yang pertama, menghormati pemimpin.
Adanya pemimpin di tengah manusia adalah anugerah dari Allah dan terdapat hikmah besar di belakang hal tersebut. Allah Subhânahu wa Ta’âlâ mengingatkan,
“Seandainya Allah tidak menolak (keganasan) sebahagian umat manusia dengan sebagian yang lain, pasti rusaklah bumi ini. Tetapi Allah mempunyai karunia (yang dicurahkan) atas semesta alam.” [Al-Baqarah: 251]
Oleh karena itu hargailah dan muliakan pemimpin kalian sebagaimana perintah Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wasallam akan hal tersebut,
“Barangsiapa yang memuliakan sulthan Allah di dunia, Allah akan memuliakannya pada hari kiamat. (Namun) barangsiapa yang menghinakan sulthan Allah di dunia, Allah akan menghinakannya pada hari kiamat.” [Diriwayatkan oleh Ahmad dan selainnya]
Juga Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wasallam bersabda,
“Kamu mendengar dan menaati penguasa, walaupun dia memukul punggungmu dan mengambil hartamu, maka dengar dan taatlah.” [Diriwayatkan oleh Muslim dari Hudzaifah radhiyallâhu ‘anhu]
Bukan hal terlarang memberi nasihat kepada penguasa, tetapi sampaikan nasihat dengan jelas dan baik langsung kepada yang bersangkutan secara pribadi, sebagaimana sabda Nabi shallallâhu ‘alaihi wasallam,
“Barangsiapa yang menasihati penguasa, janganlah dia menampakkan (nasihat itu) secara terang-terangan, tetapi hendaknya dia mengambil tangan (penguasa tersebut) dan berduaan dengannya. Kalau (sang penguasa) menerima, itulah (yang diinginkan). Akan tetapi, jika (sang penguasa) menolak, dia telah menunaikan kewajibannya.” [Diriwayatkan oleh Ibnu Abi ‘Âshim, Al-Hâkim, dan Al-Baihaqy]
Nasihat itu bukanlah dengan cara ribut-ribut dan berteriak-teriak di jalan dan menzhalimi manusia. Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wasallam mengingatkan,
“Siapa saja yang mempersempit tempat singgah (seseorang), memutus jalan, atau mengganggu seorang mukmin, maka tidak ada jihad baginya.” [Diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Dawud, dan selainnya dari Mu’âdz bin Anas radhiyallâhu ‘anhu]
“Bukanlah dari umatku, orang yang tidak menghormati orang tuanya, (tidak) merahmati orang mudanya, dan (tidak) mengenal hak orang berilmu di kalangan kami.” [Diriwayatkan oleh Ahmad dan Al-Hâkim]
Pada lisan ulama, terdapat hujjah dan argumen dari Al-Qur`an dan As-Sunnah yang bisa menundukkan hati dan jiwa, sesuatu yang kaddang tidak bisa ditundukkan oleh pedang dan senjata. Oleh karena itu, seluruh kata “Sulthan” di dalam Al-Qur`an ditafsirkan oleh para ulama berkaitan dengan ilmu agama.
Namun, ketahuilah bahwa bukanlah dari ulama, siapa saja yang menjual ilmu untuk dunia yang hina atau menjilat kepada siapapun di antara manusia. Juga, tidak ada di dalam sejarah, dari kalangan shahabat, tabi’in, Imam Empat, dan selainnya, ada ulama yang mencela dan menghina penguasa, apalagi melakukan demonstrasi, perlawanan, dan kudeta.
Bahkan, para ulama membimbing umat untuk menjadi manusia terbaik dengan bimbingan ilmu mereka. Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wasallam bersabda,
خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ
“Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur`an dan mengajarkan (Al-Qur`an).” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhâry dari Utsman bin Affan]
Kaum muslimin dan muslimat,
Al-Hasan Al-Bashriy rahimahullâh pernah mengungkap hakikat hari Id. Beliau berucap,
“Tidaklah dua orang saling mencintai karena Allah atau karena keislaman, kemudian dipisahkan, kecuali karena dosa yang dilakukan oleh salah seorang di antara keduanya.” [Diriwayatkan dari beberapa orang shahabat]
Kewajiban kita semua adalah meninggalkan segala dosa dan maksiat. Allah Ta’âlâ berfirman,
“Jika kalian menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang dilarang kalian mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahan kalian (dosa-dosa kalian yang kecil) dan Kami masukkan kalian ke tempat yang mulia (surga).” [An-Nisâ`: 31]
Dosa terbesar yang mengakibatkan permusuhan dan kebencian di dunia dan di akhirat adalah adalah kesyirikan. Oleh karena itulah Allah Ta’âlâ telah memperingatkan agar menjauhi jalan kaum musyrikin,
“Dan janganlah kalian termasuk orang-orang yang berbuat kesyirikan kepada Allah, yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.” [Ar-Rûm: 31-32]
Ketahuilah, segala kesyirikan dalam bentuk berdoa kepada selain Allah, menyembelih untuk penghuni kubur, mendatangi tempat-tempat yang dikeramatkan, dan sejenisnya adalah pembatal keislaman dan penghancur segala amalan,
“Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu (wahai Nabi Muhammad) dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu, ‘Jika kamu berbuat kesyirikan (kepada Allah), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.’.” [Az-Zumar: 65]
“Sesungguhnya orang yang berbuat kesyirikan kepada Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zhalim itu seorang penolong pun.” [Al-Mâ`idah: 72]
Selalulah mengingat dengan baik bahwa kesyirikan adalah kebinasaan di atas kebinasaan,
“Dengan ikhlas kepada Allah, tidak mempersekutukan sesuatu dengan Dia. Barangsiapa mempersekutukan sesuatu dengan Allah, maka adalah ia seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh.” [Al-Hajj: 31]
Termasuk sebab permusuhan dan kebencian: mendatangi dukun dan paranormal. Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wasallam bersabda,
“Barangsiapa yang mendatangi dukun atau paranormal, lalu membenarkan ucapan (dukun atau paranormal) itu, sungguh dia telah kafir terhadap (risalah) yang diturunkan kepada Muhammad.” [Diriwayatkan oleh Ahmad dan Al-Hâkim]
Ingatlah juga bahwa minuman keras dan judi adalah sumber permusuhan dan kebencian,
“Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah kejelekan yang termasuk perbuatan syaithan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kalian mendapat keberuntungan. Sesungguhnya syaithan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kalian lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kalian dari mengingat Allah dan shalat; maka berhentilah kalian (dari mengerjakan pekerjaan itu).” [Al-Mâ`idah: 90-91]
Termasuk masalah besar yang menimpa manusia pada masa kini adalah kebiasaan mengadu domba, menebar kebencian, dan menyiarkan berita-berita dan hoax yang mengundang permusuhan, padahal Allah Subhânahu wa Ta’âlâ telah mengingatkan,
“Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat.” [An-Nûr: 19]
“Sesungguhnya seorang hamba berbicara berupa suatu kalimat yang tidak dia perjelas, dia terhempas disebabkan oleh kalimat itu ke dalam neraka sejauh timur dan barat.” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhâriy dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallâhu ‘anhu]
Kaum muslimin dan muslimat,
Tanpa terasa waktu terus bergulir. Bulan kemarin kita bergembira dengan hadirnya Ramadhan, dan hari ini kita telah berpisah dan ditinggalkan oleh Ramadhan. Tiada yang mengetahui apakah kita masih diberi kesempatan untuk berjumpa kembali dengan Ramadhan pada tahun mendatang. Itulah hari-hari kehidupan ini: ada yang datang dan ada yang pergi, ada yang hadir ada pula yang hilang. Akan tetapi, yang pasti adalah umur terus berkurang, ajal pasti akan menjemput, dan kita semua akan menghadap kepada Allah Subhânahu wa Ta’âlâ,
“Barangsiapa yang mengerjakan amal yang saleh maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri dan barangsiapa mengerjakan perbuatan jahat, maka (dosanya) untuk dirinya sendiri; dan sekali-kali tidaklah Rabb-mu menganiaya hamba-hamba-Nya.” [Fushshilat: 46]
Kaum muslimin dan muslimat, para pemimpin dan orang tua,
Hidup ini adalah kesempatan dan amanah. Terdapat kewajiban yang terpikul pada pundak seseorang yang diberi amanah kepemimpinan dan tanggung jawab.
“Tidaklah seorang hamba diberi tanggung jawab oleh Allah dengan suatu tanggung jawab, kemudian dia tidak menjaga (tanggung jawab) itu secara tulus dan maksimal, kecuali bahwa dia tidak akan mencium bau surga.” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhâry dan Muslim dari Ma’qil bin Yasar. Lafazh hadits adalah milik Al-Bukhâry]
“Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya adalah malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap segala sesuatu yang (Allah) perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan segala hal yang diperintahkan.” [At-Tahrîm: 6]
Wahai para pemuda dan pemudi harapan umat,
Kalian adalah buah hati dan harapan umat, jadilah orang yang paling bermanfaat bagi manusia, dan jadilah orang-orang yang berberkah di manapun kalian berada sebagaimana keberadaan Nabi Isa ‘alaihis salâm yang berkata,
وَجَعَلَنِي مُبَارَكًا أَيْنَ مَا كُنْتُ.
“Dan Dia menjadikanku sebagai orang yang diberkahi di mana saja aku berada.” [Maryam: 31]
Kaum muslimat, para perempuan yang beriman,
Kecantikan hakiki bukanlah pada wajah, jasad, dan pakaian. Kecantikan sesungguhnya adalah ketakwaan hati dan akhlak yang dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya. Allah Ta’âlâ telah memuliakan para perempuan dengan hijab dan kehormatan. Oleh karena itu, janganlah mengikuti para perusak yang menyesatkan perempuan,
“Dua golongan dari penduduk neraka, yang aku belum pernah melihat keduanya: suatu kaum yang membawa cambuk-cambuk seperti ekor-ekor sapi, dia memukul manusia dengan (cambuk-cambuk) itu, dan para perempuan yang berpakaian tetapi telanjang, menyesatkan orang lain, bersisir seperti pezina, kepala mereka seperti punuk-punuk unta yang miring. Mereka tidak akan dimasukkan ke dalam surga dan tidak akan mencium bau (surga), padahal bau (surga) bisa dicium dari jarak begini dan begini.” [Diriwayatkan oleh Muslim dari Abu Hurairah radhiyallâhu ‘anhu]
Kaum muslimin dan muslimat yang takut dari api neraka,
“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu maka Kami menyiksa mereka disebabkan oleh perbuatan mereka.” [Al-A’râf: 96]
Seluruh kebersamaan dan kecintaan hanyalah bermanfaat pada hari Kiamat dengan takwa,
“Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa.” [Az-Zukhruf: 67]
Kaum muslimin dan muslimat yang memiliki kelembutan hati dan kasih sayang,
Pada hari yang berbahagia ini, ada sejumlah kaum muslimin menghadiri hari Id ini dengan linangan air mata dan berliput duka dan nestapa. Oleh karena itu, ulurkanlah tangan kebaikan dan tuangkanlah dari ketulusan hati kepada saudara-saudara seagama. Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Tidaklah kalian mendapat pertolongan dan kelapangan rezeki, kecuali dengan sebab (memperhatikan) orang-orang lemah di antara kalian.” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhâry dari Sa’d bin Abi Waqqâsh radhiyallâhu ‘anhu]
Juga janganlah lupa kepada kaum muslimin di berbagai belahan dunia yang diliputi oleh berbagai kesedihan dan cobaan. Curahkanlah doa dan bantuan untuk mereka. Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam mengingatkan,
“Seorang mukmin bagi mukmin yang lain seperti bangunan, yang sebagiannya menguatkan sebagian yang lain.” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhâry dan Muslim dari Abu Musa Al-Asy’ary radhiyallâhu ‘anhu]
Mari kita berdoa kepada Allah, semoga Allah Subhânahu wa Ta’âlâ selalu menjaga kita semua di atas kebaikan dan kebersamaan, dan menghindarkan kita dari segala musibah dan petaka.
Ya Allah, kami memohon kepada-Mu agar Engkau menerima amalan puasa, shalat, zakat, sedekah, bacaan Al-Qur`an, i’tikaf, dan segala amalan shalih, serta jadikanlah amalan-amalan tersebut sebagai pembebas leher-leher kami dari api neraka.
Ya Allah, jagalah seluruh pemimpin kami di atas ketaatan, berilah mereka kekuatan dan taufiq dalam mengadakan kebaikan di negeri kami, serta selalulah bimbing mereka kepada ridha-Mu.
Semoga, pada setiap tahunnya, kaum muslimin dan muslimat selalu berada di atas kebaikan dan ketakwaan, tergolong ke dalam Al-Fâ`izin ‘orang-orang yang beruntung’ dan Al-Â’idin ‘orang-orang yang terlahir kembali, bersih dari dosa’.
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Virus-Virus Ganas dalam Kehidupan
Oleh : Al-Ustadz Abdul Qodir Abu Fa’izah hafizhahullah
[Pembina Ponpes Al-Ihsan Gowa]
Mungkin setiap orang diantara kita sudah pernah mendengar istilah “virus”. Virus berasal dari bahasa latin yang berarti racun.
Virus secara istilah adalah mikro organisme yang tidak dapat dilihat dengan menggunakan mikroskop biasa, hanya dapat dilihat dengan mikroskop elektron.
Walaupun ukurannya sangat kecil, tapi bahaya dan keganasannya mampu untuk membunuh ribuan nyawa.
Di dunia ini, sangat banyak virus-virus yang bertebaran. Mulai dari yang ringan sampai yang terganas.
Dalam edisi kali ini, kami akan mengulas tentang beberapa virus ganas dalam kehidupan manusia :
Virus HIV
Virus ini termasuk salah satu virus yang mematikan. Virus ini telah banyak merenggut korban di seluruh negara yang ada.
Virus ganas ini tersebar melalui hubungan badan, transfusi darah, jarum suntik dan lain-lain.
Tapi kebanyakannya virus ini tersebar dan mewabah melalui hubungan badan dengan bergonta-ganti pasangan.
Inilah yang kita saksikan di zaman ini, banyaknya orang mengidap penyakit AIDS akibat pergaulan bebas.
Mereka tidak tahu dan tidak mau tahu lagi aturan agama. Sebab mereka menyangka bahwa agama itu hanya mengekang gerak dan mengungkung kebebasan mereka.
Akhirnya perzinaan merajalela tanpa bisa dibendung lagi. Padahal Allah -Subhana Wa Ta’ala- telah memerintahkan kita untuk menjauhi zina.
“Dan janganlah kamu mendekati zina; Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. dan suatu jalan yang buruk”. (QS. Al-Isra’ : 32)
Allah telah melarang hamba-Nya untuk mendekati perzinaan, karena zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.
Lantaran itu, segala hal yang bisa mengantarkan kepada bentuk perzinaan telah diharamkan pula oleh Allah.
Pendorong-pendorong dan pengantar menuju zina banyak sekali ragamnya, misalnya: memandang lawan jenis, berduaan, bersentuhan, berciuman, berpelukan, mengucapkan ucapan-ucapan percintaan yang lembut lagi merayu, berpacaran, memakai pakaian seksi dan menampakkan aurat.
Masalahnya semakin parah di zaman ini karena banyaknya fasilitas dan teknologi yang ikut menyemarakkannya, mulai dari televisi, koran, majalah, HP, internet, radio, pakaian, reklame beserta berbagai acara yang mengajak manusia kepada zina.
Namun kita sesalkan, banyak manusia yang tidak mengindahkan larangan tuhannya, justru berlomba-lomba melakukannya.
Lihatlah anak muda sekarang!! Mereka merasa bangga dan jantan jika sudah berzina dengan pacarnya atau wanita lainnya!! Na’udzu billah!!!
Lebih tragis lagi, sebagian diantara mereka menjadikan zina sebagai “jalan keluar” (baca: jalan konyol), ketika hubungan pacaran mereka tidak direstui oleh orang tua.
Tempat-tempat pelacuran semakin ramai dan semakin kurangnya keprihatinan banyak pihak tentang fenomena yang buruk ini!
Karenanya, tidak heran jika Allah -Subhana Wa Ta’ala- menurunkan sedikit adzab-Nya kepada umat manusia berupa penyakit-penyakit diantaranya AIDS, untuk menyadarkan dari kedurhakaan mereka.
“Telah tampak kerusakan di darat dan di lautan, disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (Q.S. Ar-Rum: 41 )
Ahli Tafsir Jazirah Arab, Syaik Abdur Rahman bin Nashir As-Sa’diy –rahimahullah– berkata ketika menafsirkan ayat di atas,
“أي: استعلن الفساد في البر والبحر أي: فساد معايشهم ونقصها وحلول الآفات بها، وفي أنفسهم من الأمراض والوباء وغير ذلك، وذلك بسبب ما قدمت أيديهم من الأعمال الفاسدة المفسدة بطبعها.” اهـ من تيسير الكريم الرحمن (ص: 643)
“Ditampakkan kerusakan di darat dan di laut, yaitu rusaknya kehidupan mereka, timbulnya berbagai musibah dan berbagai penyakit, wabah dan lainnya akan menimpa mereka. Semuanya disebabkan oleh perbuatan dosa mereka berupa amalan-amalan yang rusak dan merusak kehidupan”. [Lihat Taisir Al-Karim Ar-Rahman (hal. 642), tahqiq Abdur Rahman Al-Luwaihiq, cet. Mu’assasah Ar-Risalah, 1420 H]
Seorang ulama Tabi’in, Al-Imam Abul Aliyah –rahimahullah– berkata,
“Barangsiapa yang bermaksiat (durhaka) kepada Allah di bumi, maka sungguh ia telah melakukan kerusakan di bumi, karena baiknya bumi dan langit dengan ketaatan”. [Lihat Tafsir Ibnu Katsir (6/320)]
Demikianlah jika kekejian (zina) dan maksiat tersebar dimana-mana, Allah akan datangkan musibah demi musibah atas manusia.
Jangan kita menyangka bahwa kerusakan dan musibah yang menimpa kita, hanya terjadi begitu saja, tanpa sebab!! Bahkan ia terjadi karena maksiat kita.
Rasulullah –Sallallahu ‘alaihi wa sallam– bersabda,
“Kekejian (zina) tidaklah bertebaran pada suatu kaum sampai-sampai mereka melakukannya dengan terang-terangan, kecuali akan tersebar wabah tha’un (penyakit pes) dan berbagai macam wabah penyakit lainnya yang tidak pernah menyerang para pendahulu mereka yang telah berlalu”. [HR. Ibnu Majah dalam As-Sunan (4019), dan lainnya. Hadits ini di-shohih-kan oleh Al-Albaniy –rahimahullah– dalam As-Silsilah Ash-shahihah (106)]
Virus Komputer
Virus computer adalah program ilegal yang dimasukkan ke dalam sistem komputer melalui jaringan atau disket, atau yang lainnya, sehingga menyebar dan merusak sistem yang ada.
Virus ini berasal dari ulah tangan orang-orang yang tidak bertanggung jawab dan tidak berperasaan.
Mereka membuat virus agar merusak komputer atau menghilangkan data dan hasil usaha keras orang lain.
Tentu hal ini adalah suatu perbuatan yang tercela dan sangat merugikan orang lain.
Oleh karenanya, perbuatan ini diharamkan dalam agama kita dari beberapa sisi, diantaranya:
a)Menzholimi Orang Lain.
Para pembuat virus itu tidak menyadari bahwa mereka telah menempatkan dirinya sendiri dalam situasi yang berbahaya.
Sebab dengan virus yang mereka ciptakan itu, akan menjadikan mereka sebagai orang yang zholim, karena telah merugikan orang lain.
“Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu tidak akan mendapatkan keberuntungan”.(Q.S. Al-An’am: 135)
Allah menjelaskan bahwa orang yang zholim tidak akan mendapatkan keberuntungan di dunia, terlebih lagi di akhirat.
Di dunia, ia akan dibenci dan senantiasa didoakan dengan kejelekan sampai ia terkena laknat Allah dan manusia.
Jika para pembuat ini tidak segera bertobat atas dosa-dosa itu kepada Allah –azza wa jalla-, maka tidak ada tempat kembali yang pantas bagi orang yang zholim, melainkan hanya neraka, sebagaimana firman-Nya,
“Takutlah terhadap perbuatan zholim, sebab kezholiman adalah kegelapan di atas kegelapan pada hari kiamat”. [HR. Al-Bukhary dalam Shohih-nya(2447), Muslim dalam Shohih-nya (2579)]
b)Merugikan Orang Lain.
Adanya virus tentu akan merugikan para korbannya. Data super penting, file yang dikerja dengan susah payah dan program-program kesayangan ludes dimakan si jago virus.
Hal ini sangat merugikan orang lain dan bertentangan dengan syariat Islam yang mulia.
Di dalam Islam, kita dilarang untuk merugikan orang lain dalam segala perkara.
“Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang, (yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi, dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi”.(Q.S. Al-Muthoffifin: 1-3)
Allah mengancam orang-orang yang curang dalam timbangan dan takaran, karena hal itu akan merugikan orang lain dan menyebabkan permusuhan dan kebencian.
Inilah yang disebut kezhaliman. Karenanya, Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- mengecam orang yang mau merugikan orang lain.
“Rasulullah melewati setumpuk makanan, lalu beliau memasukkan tangannya ke dalamnya, kemudian tangan beliau menyentuh sesuatu yang basah, maka beliau bertanya, “Apa ini wahai pemilik makanan?” Pemiliknya menjawab, “Makanan tersebut terkena air hujan wahai Rasulullah”. Beliau bersabda, “Mengapa kamu tidak meletakkannya di bagian atas makanan agar manusia dapat melihatnya. Barangsiapa menipu, maka dia bukan dari golongan kami”.[HR. Muslim dalam Kitab Al-Iman (102)]
Oleh karenanya Rasulullah –Sallallahu ‘alaihi wa sallam– telah memutuskan bahwa tidak boleh membahayakan dan merugikan orang lain dalam sabdanya,
لَا ضَرَرَ وَلَا ضِرَارَ
“Tidak boleh berbuat mudharat dan hal yang menimbulkan mudharat.” [HR. Ibnu Majah (2341). Di-shohih-kan oleh Al-Albaniy dalam Ash-Shohihah (no. 250)]
Syaikh Abdul Muhsin Al-Abbad –hafizhohullah– berkata, “Wajib bagi seorang muslim untuk tidak memudharati orang lain karena sengaja, atau tanpa sengaja”. [Lihat Fathul Qowiy Al-Matiin (hal. 101)]
Virus Tasyabbuh
Virus ini jauh lebih ganas daripada dua virus yang telah kami sebutkan. Sebab virus ini menyerang hampir di seluruh lini kehidupan kaum muslimin.
Virus ini sangat hebat karena berhasil masuk pada seluruh lapisan kaum muslimin. Mulai anak-anak sampai kakek-kakek, yang kaya maupun yang miskin, perempuan maupun laki-laki, ustadz maupun anak muda berandalan.
Semua terinfeksi dengan virus ini, kecuali orang yang Allah rahmati dari kalangan pengikut Nabi –Shallallahu alaihi wa sallam- yang setia.
Itulah virus tasyabbuh (اَلتَّشَبُّهُ). Tasyabbuh artinya menyerupakan diri dengan orang kafir dalam hal ibadah, tradisi, adat istiadat, cara berpakaian, gaya bicara, penampilan dan sebagainya.
Sesungguhnya Allah –Azza wa Jalla– telah menyempurnakan agamanya sehingga kaum muslimin tidak butuh lagi dengan selainnya.
Seluruhnya telah terkandung di dalam Al-Qur’an baik dalam makna yang tersurat maupun tersirat, ketetapan secara nash maupun dalil-dalil umum.
“Tiadalah Kami alpakan sesuatupun dalam Al-Kitab”(Q.S. Al-An’am: 38)
Sayangnya kaum muslimin justru meninggalkan tuntunan agamanya dan mengambil gaya hidup dan pemikiran orang-orang kafir sebagai panutannya.
Perhatikanlah! remaja-remaja yang “mejeng” di mall-mall, pinggir-pinggir jalan atau di pusat-pusat hiburan, maka kita akan melihat pemandangan yang sangat mengherankan.
Yang laki-laki kepalanya botak sebelah, rambutnya dicat, pakai anting-anting, kalung, dan lain sebagainya. wanitanya pun tak mau kalah, mereka tidak malu lagi dengan pakaian ketat yang kelihatan pusarnya, rok mini dengan kaos you can see, dan potongan rambut yang tidak karuan.
Yang lebih tragisnya lagi, ketika mengikuti orang-orang kafir dalam perkara-perkara ibadah. Lihatlah ketika orang-orang Nashrani merayakan tahun baru mereka, maka sebagian umat Islam mengikuti mereka dalam merayakan tahun baru hijriyah atau tahun baru Masehi itu sendiri.
Ketika orang Nashrani merayakan kenaikan Isa Al-Masih, maka umat Islam mengikuti mereka dengan merayakan Isra’ dan Mi’raj.
Ketika orang Nashrani merayakan hari lahirnya Isa Al-Masih, maka umat Islam mengikuti mereka dengan merayakan maulid Nabi-Shollallahu ‘alaihi wasallam-, dan lain-lain.
Alangkah benarnya sabda Nabi -Sallallahu ‘alaihi wa sallam-,
”Sungguh kalian akan mengikuti jejak umat-umat sebelum kalian sejengkal demi sejengkal, sehingga kalau mereka masuk ke dalam lubang biawak, niscaya kalian pun akan masuk ke dalamnya”. Para sahabat bertanya: “Ya Rasulullah, apakah kaum Yahudi dan Nashara? Maka beliau menjawab:” Siapa lagi(kalau bukan mereka)?”.[HR. Bukhariy dalam Shohih-nya (3269 & 6889), Muslim dalam Shohih-nya (2669), Ahmad dalam Musnad-nya (11817&11861)]
Inilah beberapa virus ganas yang dapat menghacurkan kehidupan dunia dan akhirat seseorang. Semoga kita semua dijauhkan oleh Allah darinya, aamiin!!
“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal”
Muhammad Al-Amin bin Muhammad Asy-Syinqithiy –rahimahullah– berkata dalam menafsirkan ayat di atas,
وَذَلِكَ يَدُلُّ عَلَى أَنَّ كَوْنَ بَعْضِهِمْ أَفْضَلَ مِنْ بَعْضٍ وَأَكْرَمَ مِنْهُ إِنَّمَا يَكُونُ بِسَبَبٍ آخَرَ غَيْرِ الْأَنْسَابِ.” اهـ من أضواء البيان في إيضاح القرآن بالقرآن (5/ 170)
“Allah -Subhana Wa Ta’ala- menjelaskan bahwa ia telah menciptakan manusia berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar saling mengenal antara satu dan yang lainnya. Sebagian dari mereka bisa terbedakan dari sebagian yang lain, bukan untuk berbangga-bangga dan menyombongkan diri dengannya. Hal itu menunjukkan juga tentang kondisi sebagian mereka lebih utama dari sebagian yang lain. Sedang orang yang paling mulia diantara mereka, hanya bisa di dapatkan dengan ketakwaan, bukan dengan nasab”. [Lihat Adhwaa’ Al-Bayan (5/170) karya Asy-Syinqithiy, cet. Dar Ihyaa’ At-Turots Al-Arobiy, 1417 H]
Allah telah memberikan keterangan bahwa manusia telah diciptakan secara berbangsa-bangsa dan bersuku-suku.
Selanjutnya Allah kelompokkan orang-orang diantara mereka, ada yang baik dan yang buruk.
Setiap kelompok akan memiliki teman dan kebiasaan yang berbeda dengan yang lainnya.
Orang yang baik akan memiliki teman yang baik. Sebaliknya, orang yang buruk akan memiliki teman yang buruk pula.
Rasululllah –Shallallahu alaihi wa sallam– bersabda,
“Roh-roh itu seperti prajurit yang berkelompok-kelompok, jika saling mengenal, mereka akan menjadi akrab, dan jika saling bermusuhan, maka mereka akan saling berselisih.”[HR. Al-Bukhari dalam Kitab Ahadits Al-Anbiyaa’ (no. 3336) Muslim (2638) dari sahabat yang berbeda]
Al-Imam Abu Sulaiman Al-Khoththobiy –rahimahullah– berkata,
“Mungkin ini adalah isyarat tentang makna kesamaan dalam kebaikan dan keburukan, kesholihan dan kerusakan. Orang yang baik akan cenderung kepada sesamanya. Orang yang buruk sama halnya akan condong kepada sesamanya. Saling berkenalannya roh terjadi berdasarkan tabiat yang ia diciptakan atasnya berupa kebaikan dan keburukan. Bila ia sama, maka ia akan saling mengenal dan bila ia berbeda, maka ia akan saling bermusuhan”. [Lihat Fathul Bari (6/446), cet. Darus Salam, 1421 H]
Setiap roh telah dikelompokkan oleh Allah -Azza wa Jalla– sejak dahulu sebelum mereka diciptakan.
Lantaran itu, seseorang ketika di dunia akan mencari temannya yang dulu telah dikelompokkan bersama dengannya.
Seorang yang suka bermaksiat, akan bergabung dengan orang-orang yang setipe dengannya.
Seorang pendusta akan mencari para pendusta yang lainnya sebagai kawannya.
Seorang pencuri akan bergabung dengan kawanan pencurinya.
Orang yang jujur dan shalih akan mencari orang yang shalih juga.
Semuanya akan mencari pasangan dan bala tentaranya masing-masing.
Hadits di atas memperingatkan kepada kita agar berhati-hati dalam memilih teman duduk dan bergaul. Jangan sampai memilih orang yang buruk dalam kehidupan ini.
Sebab, hal itu menjadi tanda bahwa roh kita sebenarnya telah dikelompokkan dengan roh orang yang jelek amalannya.
Cukuplah hal itu sebagai suatu kerugian jika kita memilih teman duduk yang amalannya akan memberikan pengaruh buruk kepada kita.
Hal itu sebagaimana sabda Nabi -Sallallahu ‘alaihi wa sallam- ,
“Perumpamaan orang yang bergaul dengan orang shalih dan orang yang bergaul dengan orang buruk seperti penjual minyak wangi dan tukang tempa besi. Pasti kau dapatkan dari pedagang minyak wangi apakah kamu membeli minyak wanginya atau sekedar mendapatkan bau wewangiannya, sedangkan dari tukang tempa besi akan membakar badanmu atau kainmu atau kamu akan mendapatkan bau yang tidak sedap”.”. [HR. Al-Bukhoriy dalam Kitab Adz-Dzaba’ih wa Ash-Shoid (5214), dan Muslim dalam Kitab Al-Birr wa Ash-Shilah (2628)]
Al-Imam Abu Zakariyya Yahya bin Syarof An-Nawawi -rahimahullah- berkata,
“وَفِيهِ فَضِيلَةُ مُجَالَسَةِ الصَّالِحِينَ وَأَهْلِ الْخَيْرِ وَالْمُرُوءَةِ وَمَكَارِمِ الْأَخْلَاقِ وَالْوَرَعِ وَالْعِلْمِ وَالْأَدَبِ وَالنَّهْيُ عَنْ مُجَالَسَةِ أَهْلِ الشَّرِّ وَأَهْلِ الْبِدَعِ وَمَنْ يَغْتَابُ النَّاسَ أَوْ يَكْثُرُ فُجْرُهُ وَبَطَالَتُهُ وَنَحْوُ ذَلِكَ مِنَ الْأَنْوَاعِ الْمَذْمُومَةِ.” اهـ من شرح النووي على مسلم (16/ 178)
“Dalam ucapan Rasulullah -Sallallahu ‘alaihi wa sallam- ini terkandung keutamaan duduk bersama orang-orang yang shalih, yang memiliki kebaikan, muru`ah (citra diri), akhlak yang mulia, wara’, ilmu serta adab. Juga terkandung larangan duduk bersama orang-orang yang jelek, ahlul bid’ah, orang yang suka menggunjing orang lain, atau sering melakukan perbuatan fajir, banyak mengganggu, dan berbagai macam perbuatan tercela lainnya”. [Lihat Syarh Shahih Muslim(16/178), cet. Dar Ihyaa’ At-Turots al-Arobiy, 1392 H]
Seorang yang cerdik akan berusaha mencari kawan yang mendatangkan kebaikan bagi dirinya dan orang-orang yang di sekelilingnya.
Sebab, barapa banyak orang yang dahulu istiqomah dan taat beragama, telah larut bersama dengan orang-orang berperangai buruk.
Kini manusia bingung dan serampangan dalam mencari kawan, sehingga sebagian orang ibaratnya kelinci lugu yang mendekati harimau yang ganas.
Kawan buruknya siap menghancurkan agama dan perilakunya, tanpa ia sadari.
“وَفِي الْحَدِيثِ النَّهْيُ عَنْ مُجَالَسَةِ مَنْ يُتَأَذَّى بِمُجَالَسَتِهِ فِي الدِّينِ وَالدُّنْيَا وَالتَّرْغِيبُ فِي مُجَالَسَةِ مِنْ يُنْتَفَعُ بِمُجَالَسَتِهِ فِيهِمَا.” اهـ من فتح الباري لابن حجر (4/ 324)
Al-Hafizh Ibnu Hajar -rahimahullah- berkata saat mengomentari hadits di atas,”Di dalam hadits ini terkandung larangan duduk bersama orang yang dapat mengakibatkan kerugian pada agama maupun dunia, serta anjuran untuk duduk bersama orang yang dapat diambil manfaatnya bagi agama dan dunianya”. [Lihat Fathul Bari (4/324), cet. Dar Al-Fikr, tahqiq Muhibbuddin Al-Khothib, ]
Di dalam Kitab-Nya yang mulia, Allah telah memerintahkan kita untuk senantiasa duduk bersama orang yang shalih lagi jujur, bukan bersama para pendusta, sebagaimana dalam firman-Nya,
“Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang jujur”. (QS. At-Taubah: 119)
Allah -Azza wa Jalla- di dalam ayat ini telah memuji orang-orang yang jujur keimanan, ucapan dan perbuatannya, dan sebaliknya mencela orang-orang yang dusta keimanan, ucapan dan perbuatannya.
Seorang harus pandai-pandai memilih teman duduk dan kawan sejawat agar ia mendapatkan manfaat yang baik dalam pertemanan dan perkawanannya.
Teman duduk bila sholih, akan membawa kebaikan bagi dunia dan akhirat kita, walapun ia adalah orang-orang yang miskin dan papa.
Di zaman ini, banyak orang yang berbangga dan lebih senang memilih orang-orang kaya dan berkedudukan sebagai teman dan sahabat, walaupun teman-teman itu memiliki sifat buruk.
Mereka lebih memilih orang-orang buruk sebagai teman, dibandingkan orang-orang sholih yang papa dan miskin.
Karenanya, seseorang tidak selayaknya memalingkan pandangan dari orang-orang sholih, lalu menuju kepada orang-orang yang senantiasa mengejar dunia dan lalai dari mengingat Allah -Azza wa Jalla- .
“Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.” (Q.S. Al-Kahfi: 28)
Asy-Syaikh Abdurahman bin Nashir As-Sa’diy –rahimahullah– berkata,
“ففيها الأمر بصحبة الأخيار، ومجاهدة النفس على صحبتهم، ومخالطتهم وإن كانوا فقراء فإن في صحبتهم من الفوائد، ما لا يحصى.” اهـ من تيسير الكريم الرحمن (ص: 475)
“Di dalam ayat ini didapati perintah untuk bergaul dengan orang-orang yang baik, dan mengupayakan diri untuk tetap bersama mereka serta bergaul dengan mereka, walau mereka adalah orang-orang yang fakir. Karena bergaul bersama mereka membuahkan faedah yang tidak terhitung banyaknya.”[Lihat Taisirul Karimir Rahman (hal. 475)]
Oleh karenanya, wajib bagi kita untuk memilih teman-teman yang baik dan menjauhi teman yang jelek agama, atau akhlak dan muamalahnya.
Sebab, teman memiliki pengaruh yang sangat besar pada diri seseorang.
Kisah dan fakta telah banyak terlintas di mata kita tentang seorang yang berbuat kemungkaran dan maksiat akibat salah memilih teman. Ia jauh dari agama, bahkan mungkin kafir dan murtad gara-gara teman dekatnya. Na’udzu billahi min dzalik.
Terkadang ia menyadari bahwa perbuatan temannya itu salah dan terlarang, tapi ia tidak mau mengingkarinya, bahkan ia menutup mata darinya demi menjaga perasaan dan persahabatan dengannya.
Lebih jahat dari itu, ia berusaha mencari-cari dalih dan pembenaran terhadap perbuatan temannya yang jelek itu dengan mengatakan “Itu kan urusannya! Dia melakukan perzinaan, perampokan, pembunuhan, korupsi, kenapa anda yang pusing? Bukanlah anda yang nanti akan ditanya di akhirat tentang perbuatannya!Urusi saja urusanmu sendiri!!!”
Akhirnya, dengan ucapannya itu, ia telah menutup pintu nasehat kepada sesama kaum muslimin.
Pantaslah apabila Rasulullah -Sallallahu ‘alaihi wa sallam- telah memperingatkan hal itu dalam sabdanya,
“Seseorang itu berada di atas agama temannya, maka hendaklah setiap kalian memperhatikan siapa yang dia jadikan teman.”[HR. Abu Dawud (4833) dan At-Tirmidziy dalam Sunan-nya (no. 2497). Di-hasan-kan Asy-Syaikh Al-Albani –rahimahullah– dalam Shahih Sunan Abu Dawud (3/188)].
Ulama Negeri India, Syamsul Haqq Al-‘AzhimAbadiy-rahimahullah- berkata,
“فَمَنْ رَضِيَ دِينَهُ وَخُلُقَهُ خَالَلَهُ وَمَنْ لَا تَجَنَّبَهُ فَإِنَّ الطِّبَاعَ سَرَّاقَةٌ.” اهـ من عون المعبود مع حاشية ابن القيم (13/ 123)
“Oleh karena itu, siapa saja yang diridhai agama dan akhlaknya hendaknya dijadikan teman, dan siapa yang tidak seperti itu hendaknya dijauhi, karena tabiat itu akan suka meniru. [Lihat‘Aunul Ma’budSyarh Sunan Abi Dawud (13/123)]
Seorang ketika bergaul dengan orang yang buruk haruslah amat hati-hati. Jangan menjadikan mereka sebagai teman duduk dan sahabat karib.
Kalaupun ia dipergauli, maka ia dipergauli demi menasihatinya agar ia mau kembali kepada jalan kebaikan dan kebenaran.
Bila ia tak menerima nasihat, hendaknya dijauhi. Akan tetapi perlu diketahui bahwa amat jarang orang yang mampu menunaikan tugas nasihat seperti ini, kecuali ia akan larut bersamanya, tanpa ia sadari.
Oleh karena itu, seseorang jangan terlalu percaya dengan dirinya, lalu merasa yakin bahwa ia tak akan terbawa oleh orang buruk tersebut.
Alangkah banyaknya korban yang larut bersama mereka.
Itulah hikmahnya para ulama kita amat mengingatkan kita agar jangan condong kepada orang-orang zholim dari kalangan tukang maksiat, ahli bid’ah atau kafir.
“Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zhalim yang menyebabkan kamu disentuh api neraka, dan sekali-kali kamu tiada mempunyai seorang penolongpun selain daripada Allah, Kemudian kamu tidak akan diberi pertolongan”. (QS. Huud: 113)
Al-Imam Abu Hayyan Muhammad bin Yusuf Al-Andalusiy -rahimahullah- berkata,
“Larangan itu mencakup keterjerumusan dalam hawa nafsu mereka, fokus kepada mereka, menemaninya, menziarahinya, toleran, ridho dengan perbuatannya, meniru mereka, berpenampilan seperti penampilan mereka, menujukan pandangan kepada kesenangan mereka dan menyebut mereka dengan sesuatu yang mengandung pengagungan kepada mereka”. [Lihat Al-Bahr Al-Muhith (5/224), cet. Darul Fikr)
Disinilah perlunya kita berhati-hati terhadap orang yang zhalim dari kalangan ahli maksiat, ahli bid’ah, dan kaum kafir.
Jangan sampai hati kita lebih mencintai dan condong kepada mereka, sedang kita telah mengetahui kezhalimannya sehingga Allah menurunkan adzabnya kepada kita.
Pilihlah teman-teman bergaul dalam segala aktifitas kita dari kalangan orang-orang sholih yang bisa kita harapkan kebaikan dan berkahnya.
Hindarilah teman-teman buruk yang menyeret diri kita kepada jurang kebinasaan, yang menyebabkan hilangnya keberkahan dalam kehidupan dunia dan akhirat kita.
Kelompokkanlah dirimu dalam golongan orang-orang yang senantiasa bertaqwa dan taat kepada Allah -Azza wa Jalla-, yaitu orang-orang yang jujur dalam menginginkan kebaikan bagi dirimu.
Janganlah terbuai dan dilalaikan oleh para penipu yang berwajah manis kepadamu dan menampakkan “kebaikan” dan persahabatan. Padahal ia adalah serigala yang siap memangsa dirimu dan menjerumuskanmu dalam kecelakaan.
“Ada tiga perkara yang dapat membinasakan dan tiga perkara yang menyelamatkan. Tiga perkara yang membinasakan adalah kebakhilan yang ditaati, hawa nafsu yang diperturutkan dan bangganya seseorang terhadap dirinya”.
þ Takhrij Hadits
Hadits ini diriwayatkan dari beberapa orang sahabat: Anas bin Malik, Abdullah bin Abbas, Abu Hurairah, Abdullah bin Abi Awfa dan Abdullah bin Umar -radhiyallahu anhum-.
Hadits Anas –radhiyallahu anhu– diriwayatkan oleh Al-Bazzar dalam Musnad-nya (no. 80), Al-Uqoiliy dalam Adh-Dhu’afaa’ (hal. 352), Abu Bakr Ad-Dainuriy dalam Al-Mujalasah wa Jawaahir Al-Ilm (no. 899), Abu Muslim Al-Kaatib dalam Al-Amaali (261/1), Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah (2/343) dan Al-Harowiy dalam Dzammul Kalaam (145/1) dan Al-Qudho’iy dalam Musnad Asy-Syihaab (no. 327).
Hadits ini sanadnya dho’if (lemah). Akan tetapi ia memiliki beberapa mutabi’ dan syawahid sehingga derajatnya menjadi hasan, bahkan boleh jadi shohih. [Lihat Ash-Shohihah (no. 1802) karya Syaikh Al-Albaniy –rahimahullah-]
þ Faedah Ilmiah Hadits Ini
Hadits ini lafazhnya pendek, tapi mengandung banyak manfaat dan faedah serta nasihat.
Begitulah salah satu ciri sabda Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-, pendek lafazhnya. Tapi faedahnya banyak sekali.
Lain halnya dengan ucapan kebanyakan diantara kita. Lafazhnya bertele-tele dan panjang, namun sedikit manfaatnya.
Para pembaca yang budiman, diantara faedah yang bisa kita petik dari hadits Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- yang mulia ini:
î Bahaya Bakhil
Bakhil adalah penyakit hati yang timbul karena kurangnya tawakkal seseorang kepada Allah.
Sebab orang yang bakhil merasa bahwa apabila ia sedekahkan sebagian hartanya, maka harta itu akan hilang begitu saja, tanpa ada gantinya.
Padahal bila ia mau berpikir bahwa dengan sedekah, Allah akan membersihkan hartanya dan memberkahinya.
Dengan itu, ia akan diberi ganti yang lebih baik, entah di dunia, atau kalau tidak –insya Allah di akhirat- dengan ganti yang jauh lebih baik.
Seorang yang bakhil akan jauh dari kebaikan, imannya tak akan bertambah, bahkan boleh jadi akan menurun.
Sebab dengan kikirnya seseorang, banyak sekali jalan-jalan kebaikan yang mestinya ia lakukan, tapi ia sia-siakan.
Dia tinggalkan kesempatan dalam memperbanyak amal yang bisa meningkatkan iman akibat sifat kikir pada dirinya.
Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda,
“Tak akan berkumpul debu fi sabilillah dan asap Jahannam dalam rongga tubuh seorang hamba selama-lamanya, dan tak akan berkumpul sifat bakhil dan keimanan dalam hati seorang hamba selama-lamanya.” [HR. An-Nasa’iy dalam Kitab Al-Jihad (no. 3110 & 3111). Hadits ini di-shohih-kan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Takhrij Al-Misykah (3828)]
Al-Imam Abul Hasan Nuruddin As-Sindiy –rahimahullah– berkata,
“Maksudnya, tak pantas bagi seorang mukmin untuk mengumpulkan antara kedua hal itu, sebab sifat kikir adalah sesuatu yang amat jauh dari keimanan; atau maksudnya, jarang berkumpul antara sifat kikir dengan keimanan. Perkara itu dianggap seakan-akan tak ada”. [Lihat Hasyiyah As-Sindiy ala Sunan An-Nasa’iy (6/13), cet. Maktab Al-Mathbu’at Al-Islamiyyah, 1406 H]
“Sifat kikir muncul dari adanya buruk sangka kepada Allah -Ta’ala-. Karena si kikir khawatir bila Allah tak memberinya ganti. Tak mungkin akan terwujud pahala dari orang yang seperti. Jadi, sifat kikir muncul dari buruk sangka kepada Allah, sedang buruk sangka kepada Allah akan melemahkan iman”. [Lihat Bahr Al-Fawa’id (hal. 187), cet. Dar Al-Kutub Al-Ilmiyyah, 1420 H]
Perkataan beliau ini amatlah benar. Sebab tak mungkin seseorang kikir dan menahan hartanya, kecuali karenan lemahnya iman yang lahir adanya buruk sangka kepada Allah. Karenanya, layaklah bila imannya tak bertambah, bahkan berkurang.
Allah -Ta’ala- berfirman dalam mencela kaum munafiq akibat sifat bakhil mereka,
“Mereka bakhil terhadapmu, apabila datang ketakutan (bahaya), kamu lihat mereka itu memandang kepadamu dengan mata yang terbalik- balik seperti orang yang pingsan karena akan mati, dan apabila ketakutan telah hilang, mereka mencaci kamu dengan lidah yang tajam, sedang mereka bakhil untuk berbuat kebaikan. Mereka itu belum beriman. Karenanya, Allah menghapuskan (pahala) amalnya. dan yang demikian itu adalah mudah bagi Allah”. (QS. Al-Ahzaab : 19)
Ahli Tafsir Jazirah Arab, Syaikh Abdur Rahman As-Sa’diy –rahimahullah– berkata,
“{أَشِحَّةً عَلَيْكُمْ} بأبدانهم عند القتال، وبأموالهم عند النفقة فيه، فلا يجاهدون بأموالهم وأنفسهم.” اهـ من تيسير الكريم الرحمن (ص: 661)
“Mereka bakhil terhadapmu dalam hal badan mereka ketika perang dan dalam harta mereka ketika berinfaq di jalan Allah. Jadi, mereka itu tidak berjihad dengan harta dan jiwa mereka”. [Lihat Taisir Al-Karim Ar-Rahman (hal. 660)]
Demikianlah Allah –azza wa jalla- mencela pelaku kebakhilan, akibat keburukan laku bakhil mereka. Ia mengira bahwa dirinya akan mulia dengan menahan harta benda di tangannya, dan menumpuknya demi memperkaya diri dan berbangga-bangga, lalu melupakan tabungan di negeri akhirat, melalui infaq dan sedekah yang ia keluarkan.
î Larangan Memperturutkan Hawa Nafsu
Hawa nafsu maknanya keinginan jiwa. Jiwa manusia terkadang menginginkan dan mencintai sesuatu berupa perkara-perkara yang menyenangkan dirinya.
Hanya saja banyak diantara mereka yang tak bisa menempatkan hawa nafsunya sesuai yang diridhoi oleh Allah, sehingga sering kali kita menemukan orang-orang yang memperturutkan hawa nafsu yang tidak mendatangkan ridho Allah, bahkan menyeret dirinya kepada jurang kebinasaan.
Para pembaca yang budiman, hawa nafsu bisa berupa kesenangan dan kecintaan kepada harta, pekerjaan, keturunan, kehormatan dan lainnya.
Dengan hawa nafsu, terkadang seseorang terpuji dan seringnya tercela.
Lantaran itu, seseorang harus mengerti hakikat hawa nafsu yang memiliki kesenangan dan kecintaan.
Menyenangi dan membenci sesuatu haruslah mengikuti kecintaan dan keridhoan Allah -Azza wa Jalla-.
Bila hawa nafsu seseorang mencintai Allah atau mencintai sesuatu sesuatu yang Allah cintai, maka hawa nafsu ini terpuji.
Demikian pula, bila hawa nafsunya membenci setan dan segala yang disenangi oleh setan, maka hawa nafsu ini terpuji.
Intinya, hawa nafsu kita harus mencintai dan membenci karena Allah semata.
Inilah hawa nafsu yang terpuji, hawa nafsu yang memperhambakan diri kepada Allah, Sang Maha Pencipta.
Sebaliknya, bila hawa nafsu malah lebih mencintai setan dan segala hal yang disenangi oleh setan, maka hawa nafsu seperti ini adalah tercela.
Demikian pula, bila hawa nafsu malah membenci Allah atau membenci perkara yang dicintai oleh Allah, maka hawa nafsu ini juga tercela, dan pemiliknya telah menghambakan diri kepada hawa nafsunya.
Inilah yang dikatakan oleh Allah dalam firman-Nya,
“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya berdasarkan ilmu-Nya dan Allah Telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka Mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?” (QS. Al-Jatsiyah : 23)
Al-Hafizh Abul Fidaa’ Ibnu Katsir Ad-Dimasyqiy –rahimahullah– berkata,
“أَيْ: إِنَّمَا يَأْتَمِرُ بِهَوَاهُ، فَمَهْمَا رَآهُ حَسَنًا فَعَلَهُ، وَمَهْمَا رَآهُ قَبِيحًا تَرَكَه.” اهـ من تفسير ابن كثير ت سلامة (7/ 268)
“Maksudnya, ia hanya mengikuti keinginannya (hawa nafsunya). Apa pun yang dipandang baik oleh keinginannya, maka ia lakukan dan apapun yang ia pandang buruk, maka ia meninggalkannya”. [Lihat Tafsir Al-Qur’an Al-Azhim (7/268) oleh Ibnu Katsir, cet. Dar Thoybah]
Orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai pengatur dirinya, yang mengarahkan dirinya kepada segala yang diinginkan oleh jiwa, tanpa memandang batasan-batasan Allah. Pelakunya telah mempertuhankan hawa nafsunya.
“Barangsiapa yang mencintai dan menaati sesuatu; ia mencintai dan membenci karena sesuatu tersebut, maka sesuatu itu adalah tuhannya. Barangsiapa yang tak mencintai dan membenci, kecuali karena Allah serta ia tak berloyal dan memusuhi, kecuali karena Allah, maka Allah adalah ilah-nya (Tuhannya) yang sebenarnya. Barangsiapa yang mencintai dan membenci sesuatu karena hawa nafsu (keinginan jiwa)nya serta ia berloyal dan memusuhi (sesuatu) karena hawa nafsunya, maka tuhannya adalah hawa nafsunya”. [Lihat Jami’ Al-Ulum wal Hikam (hal. 210), cet. Dar Al-Ma’rifah, 1408 H]
Dari sini ada sebuah permata ilmu yang amat berharga bagi kita bahwa seorang hamba tak boleh bergaya hidup bebas, sehingga apa saja yang diinginkan oleh jiwanya, maka ia lakukan, tanpa memperhatikan aturan dan batasan Allah -Azza wa Jalla-.
Seakan-akan ia hidup seperti binatang, tanpa aturan. Hidupnya ingin bebas tanpa kendali dan aturan syariat.
Gaya hidup bebas seperti ini tampak merambah pada sebagian generasi muslim yang jahil tentang agamanya, sehingga apa saja yang disenangi oleh jiwanya, maka ia lakukan, tanpa takut kepada Allah saat ia durhaka kepada-Nya.
Bila ia mau berzina, maka ia lakukan. Jika ia mau minum khomer atau narkoba, maka dengan bebas dan congkak ia pun meminum dan menggunakannya.
Bila ia mau berkata-kata jorok dan berbuat cabul, maka ia pun perbuat.
Segala penampilannya dirinya, mulai rambut sampai ke ujung kaki, semuanya bergaya hidup bebas dan jauh dari bimbingan agama.
Rambut disemir ala barat, baju ala metal, celana model bajingan alias preman. Rambut dicukur ala mohawk yang terlarang dalam Islam!
Sepatu juga tak ketinggalan bergaya bebas ugal-ugalan; itulah sepatu bot model serdadu.
Telinga dan hidung, bahkan lidah, semuanya dilubangi atau ditindih dengan logam dan permata, sehingga ia mirip wanita India atau sapi India.
Tak ketinggalan tangannya diberi gelang dengan berbagai macamnya, mulai dari logam sampai benang, tergantung mana yang keren menurut hawa nafsunya.
Jasad penuh tato dengan berbagai macam corak dan modelnya. Padahal tato adalah perkara sial yang menyebabkan pelakunya dilaknat oleh Allah dan Rasulullah –alaihish sholatu was salam-.
Inilah yang kita lihat pada penampilan dan lahiriah anak-anak kaum muslimin yang larut atau termakan oleh propaganda dan pengaruh serdadu setan dari kalangan pecandu musik aliran underground (seperti, Punk Metal, Trush Metal, Heavy Metal dan Blak Metal).
Kalau kita melihat kepada latar belakang dan keluarga mereka, ternyata mereka adalah muslim.
Tapi kini keislamannya sudah mulai muram. Sholat saja tidak. Kalaupun sholat, ya sholat asal-asalan atau sholat musiman!!! Laa haula walaa quwwata illa billah.
Kita memohon perlindungan dari buruknya hawa nafsu yang menjauhkan manusia dari Islam dan kebaikan.
î Haramnya Ujub (Membanggakan Diri)
Sifat ujub (bangga diri) adalah sebuah sifat tercela yang dapat membinasakan pelakunya.
Sifat ujub ini seringnya menyerang orang-orang yang memiliki kelebihan dan keutamaan.
Sebab bila seseorang memiliki keutamaan dan kelebihan, maka ia akan selalu bangga dengannya sehingga ia melupakan bahwa semua itu asalnya dari Allah -Azza wa Jalla-.
Kisah Qorun masih segar dalam ingatan kita. Dia ditenggelamkan oleh Allah bersama kaumnya.
Padahal kaumnya telah mengingatkannya bahwa semua nikmat dan harta yang Allah berikan kepadanya adalah hal yang perlu disyukuri dengan menginfaqkannya dan menyedekahkannya di jalan kebaikan sebagai bekal ke akhirat.
Tapi ia berkata dengan ujub (bangga diri) sebagaimana dalam (QS. Al-Qoshosh : 78 & 81),
“Karun berkata: “Sesungguhnya Aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku”. Dan apakah ia tidak mengetahui, bahwasanya Allah sungguh telah membinasakan umat-umat sebelumnya yang lebih kuat daripadanya, dan lebih banyak mengumpulkan harta? Dan tidaklah perlu ditanya kepada orang-orang yang berdosa itu, tentang dosa-dosa mereka. Maka Kami benamkanlah Karun beserta rumahnya ke dalam bumi. Maka tidak ada baginya suatu golonganpun yang menolongnya terhadap siksa Allah. Dan tiadalah ia termasuk orang-orang (yang dapat) membela (dirinya)”.
قَالَ الْغَزالِيّ : حَقِيقَة الْعجب استعظام النَّفس وخصالها الَّتِي هِيَ من النعم والركون إِلَيْهَا مَعَ نِسْيَان اضافتها إِلَى الْمُنعم والأمن من زَوَالهَا.” اهـ من التيسير بشرح الجامع الصغير (1/ 470)
“Bangga diri, maksudnya ia memandang dirinya sempurna. Sementara ia melupakan nikmat-nikmat Allah -Ta’ala-. Al-Ghozali berkata, “Hakikat ujub (bangga diri) adalah menganggap hebat diri sendiri dan segala kelebihannya berupa nikmat-nikmat serta amat percaya kepadanya. Sementara ia lupa menyandarkan nikmat-nikmat itu kepada Pemberi nikmat (Allah) dan ia merasa aman (tak takut) dari hilangnya nikmat-nikmat tersebut”. [Lihat At-Taisiir bi Syarh Al-Jami’ Ash-Shoghier (1/956), cet. Maktabah Al-Imam Asy-Syafi’iy, 1408 H]
Inilah tiga dosa dan maksiat yang akan membinasakan seorang hamba. Tiga perkara ini menjauhkannya dari kebaikan dan jalan-jalannya.
Semoga Allah –azza wa jalla- melindungi kita dari tiga perkara itu dan memberi taufiq bagi untuk mencari keridhoan-Nya melalui amal-amal sholih yang mengantarkan kita kepada rahmat dan surga Allah, aamiin…
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Keutamaan Anjing atas Sebagian Manusia yang Berakal
Oleh : Al-Ustadz Abdul Qodir Abu Fa’izah hafizhahullah
[Pembina Ponpes Al-Ihsan Gowa]
Sebuah keutamaan besar bagi manusia, Allah anugerahkan kepadanya akal yang mampu membedakan antara yang baik dan buruk.
Dengan akal, manusia punya kasih dan perasaan kepada sesama.
Akal itu membantu dirinya dalam memahami wahyu yang Allah turunkan kepada para nabi dan rasul. Akal ibarat pelita yang digunakan dalam mengarungi perjalanan yang diselimuti oleh kegelapan.
Manusia telah diciptakan dengan bentuk yang paling sempurna. Andai seluruh makhluk berkumpul dan bekerja sama dalam menciptakan makhluk yang bernama “manusia”, niscaya mereka tak mampu!!
Maha Suci Allah –Azza wa Jalla– yang telah berfirman dalam Surah At-Tiin: 4-6,
“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya . Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka), kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh; Maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya”.
Al-Imam Abu Abdillah Al-Qurthubiy –rahimahullah– berkata,
“Ini menunjukkan kepada anda bahwa manusia adalah makhluk Allah yang paling bagus secara batin dan lahiriahnya; dalam hal keindahan postur tubuhnya, kehebatan susunannya beserta sesuatu yang ada padanya, dada beserta sesuatu yang ia kumpulkan, perut beserta kandungannya, kemaluan beserta sesuatu yang ia kandung, kedua tangan beserta sesuatu yang ia pegang, dan kaki beserta sesuatu yang ia bawa”. [Lihat Al-Jami’ li Ahkam Al-Qur’an (20/114), karya Al-Qurthubiy, takhrij Dr. Mahmud Hamid Utsman, cet. Dar Al-Hadits, 1416 H]
Dengan segala bentuk kesempurnaan dan anugerah Allah kepada manusia, namun sayangnya banyak manusia yang merendahkan dirinya dengan berbagai maksiat dan pelanggaran yang ia lakukan.
Semula ia diberi kemuliaan penciptaan dan fitrah oleh Allah -Azza wa Jalla-, tapi ia campakkan semua itu sehingga dirinya bukan lagi makhluk yang termulia, bahkan ia makhluk yang terhina dan paling rendah.
Saking rendahnya, ia lebih redah dibandingkan hewan-hewan yang tidak diberi akal.
“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu bagaikan binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka Itulah orang-orang yang lalai.(QS. Al-A’raaf : 179)
“يَعْنِي: لَيْسَ يَنْتَفِعُونَ بِشَيْءٍ مِنْ هَذِهِ الْجَوَارِحِ الَّتِي جَعَلَهَا اللَّهُ سَبَبًا لِلْهِدَايَةِ.” اهـ من تفسير ابن كثير ت سلامة (3/ 513)
“Maksudnya, mereka tidak mengambil manfaat dari organ-organ tubuh tersebut yang telah dijadikan oleh Allah sebagai sebab untuk mendapatkan hidayah”. [Lihat Tafsir Ibnu Katsir (3/513), tahqiq Sami bin Muhammad Salamah, cet. Dar Thoibah, 1420 H]
Bila seseorang yang tidak menggunakan hatinya untuk memahami ayat-ayat Allah, matanya tak digunakan membaca ayat Allah dan telinganya tak digunakan untuk mendengarkan ayat-ayat Allah, maka orang yang seperti ini akan menjadi orang-orang yang jauh dari kebenaran dan tak akan mendapatkan hidayah dari allah -Azza wa Jalla-.
Orang yang seperti ini ibarat binatang yang tidak memiliki hati yang digunakan untuk berpikir. Bahkan lebih buruk dibandingkan binatang, karena ia telah diberi hati, mata dan telinga, namun semua itu tidak digunakan dalam mencari keridhoan Allah -Azza wa Jalla-.
Mungkin anda pernah bertemu dengan orang yang seburuk ini. Ia memiliki hati, namun hatinya tak digunakan mentadabburi ayat-ayat dan sunnah Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-, bahkan ia gunakan untuk memikirkan perkara-perkara yang terlarang.
Hatinya bukan digunakan untuk memikirkan dan menghafal ayat-ayat, tapi dipakai menyimpan dan menghafal lagu-lagu yang dimurkai oleh Allah.
Dia gunakan untuk memikirkan wanita lain yang bukan mahramnya!!
Orang-orang semodel ini memiliki mata, tapi bukan digunakan untuk membaca dan mentadabburi hal-hal yang bermanfaat untuk dunia dan akhiratnya. Namun ia pakai melihat aurat wanita.
Dia punya pendengaran, namun ia penuhi pendengarannya dengan musik. Padahal telah diketahui bersama bahwa musik dalam syariat Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- adalah perkara yang diharamkan.
Fenomena banyaknya manusia yang tak menggunakan akal, mata dan pendengarannya serta organ-orang tubuh yang lainnya dalam perkara-perkara yang dicintai oleh Allah, membuat orang-orang berakal sehat dari kalangan pengikut setia para rasul bergeleng-geleng kepala.
Tak heran bila ada seorang ulama yang bernama Muhammad bin Kholaf bin Al-Marzuban Al-Baghdadiy (wafat 309 H)menulis sebuah kitab yang berjudul “Fadhl Al-Kilaab ala Katsirin mimman Labitsa Ats-Tsiyaab” (Keutamaan Anjing atas Kebanyakan Orang yang Menggunakan Pakaian).
Beliau menjelaskan beberapa perkara yang menunjukkan keutamaan anjing yang merupakan binatang yang paling hina dan menjijikkan dibandingkan kebanyakan manusia-manusia lalai yang tak menggunakan akal sehatnya.
Bila seseorang memperhatikan anjing, maka ia akan mendapati bahwa anjing itu amat penyayang kepada majikannya dibandingkan seorang ayah terhadap anaknya.
Lihatlah anjing bila ia menjaga majikannya dan keluarganya, ia ada atau tidak, ia tidur atau terjaga, anjing tak akan teledor dari tugasnya, walaupun terkadang sang majikan berbuat kasar kepadanya; ia tak akan menghinakan majikannya, walapun si majikan menghinakannya.
Bila dibandingkan dengan manusia-manusia di zaman ini, maka kita akan malu di hadapan anjing. Sebab, berapa banyak orang diantara kita bila diberi amanah, namun ia akan berbuat curang dan khianat kepada atasan atau orang yang memberinya amanah sehingga muncullah istilah “pagar makan tanaman” atau “jeruk makan jeruk”.
Dari sinilah bermunculan aksi korupsi, pencurian, pemerkosaan anak kandung dan sederet pengkhianatan lainnya!!
Para pembaca yang budiman, diantara sifat anjing, ia senantiasa takut kepada majikannya.
Begitulah sifat orang-orang sholih yang selalu takut kepada Allah, Sang Pemilik alam semesta.
Sementara kebanyakan manusia lalai diantara kita, ia tak pernah takut kepada Allah!! Dengan bebasnya ia bergumul dalam maksiat.
Tak ada rasa takut bila ia berbuat syirik, kekafiran dan pelanggaran lainnya. Rumah-rumah bordir dan diskotik dipenuhi oleh manusia yang berakal, namun hati dan akalnya tak berfungsi. Na’udzu billah…
Anjing tidaklah memiliki rumah, selain rumah majikannya.
Ini merupakan symbol kuatnya tawakkal mereka. Sifat tawakkal inilah yang layak kita contoh dari mereka.
Binatang saja bisa bertawakkal, mengapa kita sebagai manusia tak mampu bertawakkal kepada Allah?
Karenanya, seorang mukmin selayaknya berusaha mencari penghidupan untuk diri dan tanggungannya sambil menyandarkan urusan kepada Allah.
Bila berusaha mencari rezeki, lalu gagal, maka seorang yang bertawakkal tak sepantasnya frustasi, apalagi stres atau bahkan bunuh diri!!!
Dunia hanyalah sementara bagi orang-orang beriman untuk memetik bekal menuju akhirat. Orang jadi miskin atau gagal dalam urusan dunia, bukanlah tolok ukur bahagia tidaknya seseorang di sisi Allah.
Sifat lain yang dimiliki anjing, ia tidak tidur di malam hari, kecuali sedikit.
Demikian itulah sifat orang-orang yang menginginkan kebaikan dan pahala.
Di malam hari, ia bangun melaksanakan sholat tahajjud, sementara manusia tertidur lelap. Di siang hari ia bekerja dan beribadah.
“Di dunia mereka sedikit sekali tidur diwaktu malam”. (QS. Adz-Dzariyaat : 17)
Begitulah kehidupan Nabi –Shallallahu alaihi wa sallam– dan para sahabat, sedikit tidur demi menghambakan diri di hadapan Allah.
Bukan seperti kebanyakan manusia di zaman ini, mereka banyak tidurnya dibandingkan ibadahnya.
Ada juga diantara mereka yang sedikit tidurnya, namun ia bukan begadang untuk kebaikan akhiratnya.
Dia begadang dalam maksiat dan perbuatan sia-sia, seperti mereka yang menghabiskan malamnya ngobrol (lewat telepon, SMS, chating dan sejenisnya) dengan lawan jenisnya demi mengumbar syahwat.
Matanya mampu terbelalak dan menangis karena godaan kekasih. Sementara matanya tak pernah menangis karena takut kepada Allah.
Sifat lain bagi anjing, ia tidak mewariskan apapun bagi keturunannnya bila ia mati.
Dari sini ada isyarat tentang sifat zuhud. Sebab, seorang yang zuhud senantiasa memperhatikan dan mengutamakan kebaikan yang ia akan raih di negeri akhirat dibandingkan kepentingan duniawinya, sehingga ada sebagian diantara mereka yang tidak meninggalkan apapun untuk keluarga dan anak-anaknya, kecuali Allah -Azza wa Jalla-, seperti yang dialami oleh Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- dan sebagian sahabat -radhiyallahu anhum-.
Para pembaca yang budiman, anjing juga memiliki sifat kesetiaan yang tinggi.
Ini terlihat bila majikannya berbuat apapun, maka ia tak akan meninggalkannya, walaupun si majikan berbuat kasar dan memukulnya.
Ini adalah sifat setia dan sabar yang terdapat pada diri anjing. Berbeda dengan sebagian orang yang ada di zaman kita ini saat ia mencari suatu kebaikan dari seorang guru, lalu gurunya berbuat kasar dan tidak sopan –menurut penilaiannya-, maka ia akan lari dan gulung tikar, seraya membenci dan memusuhi gurunya.
Sifat qona’ah juga terdapat pada anjing.
Apapun yang kita berikan kepada anjing berupa makanan dan tempat, maka ia akan ridho.
Demikianlah selayaknya seorang yang tawadhu’ dan qona’ah (merasa puas atas pemberian Allah), apapun yang Allah berikan kepada dirinya, walapun itu sedikit, maka ia selalu bersyukur.
Bila ia diberi banyak, maka ia tak pernah menyombongkan diri dan angkuh di hadapan hamba-hamba Allah.
Ketika anjing bersalah, lalu ia diusir dan pergi dari tempatnya, maka ia akan kembali ke tempatnya.
Ini adalah sifat orang-orang yang ridho dan setia. Lain halnya dengan manusia di zaman ini, bila ia bersalah, maka ia akan bertahan pada posisinya dan siap melakukan perlawanan dengan segala cara. Dia tidak pergi untuk berpikir, lalu meminta maaf kepada orang yang ia zhalimi dan berbuat salah kepadanya.
Ia sudah tahu dirinya bersalah, tapi tetap mencari-cari pembenaran dan keras kepala.
Kadang orang yang seperti ini pergi, bukan untuk berpikir dan kembali dalam keadaan sadar, tapi ia pergi demi menyusun strategi dan makar.
Adapun anjing, tak demikian halnya; ia akan pulang ke kandangnya dengan tenang dan pelan.
Keutamaan lain, bila anjing kita usir dan pukul, lalu dipanggil kembali, maka ia akan menyambut panggilan, tanpa rasa dendam.
Ini adalah sifat orang-orang yang patuh. Orang yang diusir dan dijauhkan dari rahmat Allah, akibat maksiat yang ia lakukan, bila pada dirinya masih ada kebaikan, maka ia akan segera kembali kepada Allah -Azza wa Jalla- dan memohon ampunan-Nya, bukan semakin jauh dalam maksiatnya.
Oleh karenanya, seorang yang berakal saat ia bermaksiat, maka ia tidak boleh berpegang dengan prinsip konyol yang berbunyi “Terlanjur basah”!!
Tapi ia segera sadar dan berhenti. Ia berusaha memperbaiki diri dan mencari kekurangan dirinya.
Demikian pula seorang anak yang diusir oleh kedua orang tuanya, maka hendaknya jangan semakin menjauh dan durhaka, tapi hendaknya ia kembali kepada mereka untuk meminta maaf dan mencari keridhaannya, tanpa ada perasaan dendam kepada mereka, walaupun mereka pernah memukul dan menyakiti hati kita.
Apalagi orang tua biasanya berbuat demikian karena untuk kebaikan kita juga.
Perkara lain yang membuat kita takjub kepada anjing, bila waktu makan telah datang dan semuanya terhidang, maka ia akan duduk atau berada di tempat yang jauh demi mengharap sesuap nasi.
Begitulah ciri para masakin (orang-orang miskin), mereka selayaknya memiliki adab saat bertamu, bukan berbuat tak sopan dan melanggar tata krama.
Bahkan seorang miskin harus menjaga adab dan sifat malunya, jangan terlalu lancang sehingga orang pun akan jengkel kepadanya.
Sebagian orang-orang miskin kadang tidak memperhatikan waktu-waktu bertamu di sisi orang lain, misalnya : si miskin peminta-minta datang pada waktu-waktu istirahat, atau saat kedatangan tamu dan kerabat, dimana saat itu tuan rumah sibuk melayani tamu dan bercengkerama dengan para tamu.
Ada yang lebih parah dari itu, saat tuan rumah lalai, mereka manfaatkan waktu untuk mencuri!! Sudah miskin, kurang ajar lagi!!!
Anjing juga memiliki ketulusan kepada orang lain. Bila ada seorang yang datang dari suatu tempat, sambil membawa sesuatu, maka anjing itu akan menyertainya, tanpa melirik kepada barang bawaan orang itu.
Ini merupakan lambang ketulusan. Sifat ini seyogianya ada pada diri kaum muslimin.
Setiap kali ia menyertai orang lain dalam sebuah urusan atau perjalanan, maka semestinya ia selalu berlaku tulus dalam membantu urusannya.
Seorang mukmin hendaknya menghindari ungkapan “ada udang di balik batu”.
Orang yang memegang ungkapan ini sebagai prinsip hidup, ia tak akan bekerja dengan tulus hati bersama kita.
Orang yang seperti ini tak layak jadi pendamping, apalagi menjadi pemimpin!!
Diantara keistimewaan anjing, ia mengenal pemiliknya serta tempat tinggalnya.
Inilah selayaknya sifat yang dimiliki oleh seorang hamba di hadapan Allah.
Dia selalu mengenal dan mengingat Rabb-nya, baik di kala ia susah, maupun senang serta sadar bahwa suatu saat ia akan kembali kepada Allah di akhirat.
Ia selalu mengingat kampung halamannya (negeri akhirat). Ia sadar bahwa ia akan pulang ke negeri kekal abadi, yang di dalamnya ada banyak kenikmatan dan kesenangan bagi mereka yang membawa bekal berupa pahala amal sholihnya.
Inilah sebagian sifat dan keistimewaan anjing yang terkadang sirna pada kebanyakan manusia yang lalai terhadap ketaatan kepada Penciptanya, Allah -Ta’ala-, sehingga anjing pun lebih mulia dibandingkan mereka. Nas’alullahal afiyah was salamah.
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Pemutus Segala Kelezatan
Oleh : Al-Ustadz Abdul Qodir Abu Fa’izah hafizhahullah
[Pembina Ponpes Al-Ihsan Gowa]
Sebuah pohon tumbuh perlahan-lahan, dari sejari menjadi batang besar lagi menjulang tinggi. Tampak suatu kekokohan padanya.
Namun sebagian orang tak sadar bahwa pohon yang kokoh itu akan melemah dan hancur perlahan-lahan.
Demikianlah perumpamaan manusia dan seluruh makhluk. Sebuah kepastian yang tak terelakkan bagi setiap insan bahwa ia akan kembali kepada Allah Sang Maha Pencipta.
Segala kelezatan yang ia pernah rasakan dan terima di dunia berupa jasad beserta segala pelengkapnya, harta beserta segala macamnya, keluarga dan lainnya.
Semua itu memiliki masa yang telah ditentukan oleh Allah Allah –Azza wa Jalla-.
Lantaran itu, Nabi kita yang mulia –Shallallahu alaihi wa sallam– telah mengingatkan semua itu dalam sebuah sabda,
“Perbanyaklah mengingat pemutus segala kelezatan, yakni kematian”.[HR. At-Tirmidziy dalam Sunan-nya (no. 2307), An-Nasa’iy dalam Sunan-nya (1824) dan Ibnu Majah dalam Sunan-nya (no. 4258). Hadits ini di-shohih-kan oleh Al-Albaniy dalam Al-Irwa’ (no. 682)]
“Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- menyerupakan segala kelezatan yang fana dan segala keinginan duniawi dan kehancurannya dengan sebuah bangunan yang menjulang. Bangunan itu akan runtuh oleh berbagai goncangan hebat. Lalu Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- memerintahkan orang yang terlena dengan dunia untuk mengingat penghancur kelezatan tersebut (yakni, maut) agar ia tak terus-menerus condong kepadanya, (sehingga) ia pun menyibukkan diri dengan sesuatu yang wajib atas dirinya berupa penghadapan diri kepada kampung abadi (yaitu, akhirat)”. [Lihat Tuhfah Al-Ahwadziy (6/92)]
Wahai para hamba Allah, segala kelezatan yang kita terima di dunia bukanlah sesuatu yang perlu kita banggakan, bukan pula sesuatu yang perlu kita tumpuk sampai datangnya masa dimana Allah akan mencabut dan menariknya secara paksa dari kita.
Mau atau tidak, pasti akan hilang dari tangan kalian. Kelezatan itu akan hilang seiring dengan datangnya maut yang menjemput kita dan menghadapkan kita ke liang kubur.
“Bermegah-megahan telah melalaikan kamu sampai kamu masuk ke dalam kubur. Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu)”. (QS. At-Takaatsur : 1-3)
Al-Imam Ibnu Katsir –rahimahullah– berkata,
“يَقُولُ تَعَالَى: شَغَلَكُمْ حُبُّ الدُّنْيَا وَنَعِيمُهَا وَزَهْرَتُهَا عَنْ طَلَبِ الْآخِرَةِ وَابْتِغَائِهَا، وَتَمَادَى بِكُمْ ذَلِكَ حَتَّى جَاءَكُمُ الْمَوْتُ وَزُرْتُمُ الْمَقَابِرَ، وَصِرْتُمْ مِنْ أَهْلِهَا؟!” اهـ من تفسير ابن كثير ت سلامة (8/ 472)
“Allah -Ta’ala- berfirman, “Kalian telah disibukkan oleh kecintaan kepada dunia, kenikmatan dan perhiasannya dari mencari akhirat; Semua itu terus-menerus pada diri kalian sampai kalian didatangi maut dan memasuki liang kubur dan kalian pun menjadi penghuninya!!” [Lihat Tafsir Ibnu Katsir (8/472)]
Bermegah-megahan dengan banyaknya harta, anak, pengikut, kemuliaan, dan semisalnya.
Apakah semua itu telah melalaikan kamu dari ketaatan kepada Allah?!
Apakah kalian lebih mengutamakan harta benda dan kelezatan dunia yang kalian miliki dibandingkan merendahkan diri di hadapan Allah –Azza wa Jalla– di waktu-waktu adzan telah dikumandangkan.
Sungguh sial dan celakalah seseorang yang lebih disibukkan oleh hartanya dari menegakkan sholat bersama dengan kaum muslim di rumah-rumah Allah!!
Banyak diantara kita yang lebih betah di hadapan televisi, pekerjaan dan segala aktifitasnya dibandingkan ia mencari kebaikan di majelis-majelis ilmu.
Padahal ia memiliki waktu yang luang untuk menghadirinya. Namun kesibukan demi kesibukan, seiring dengan perkembangan zaman, manusia semakin lalai dengan berbagai macam pekerjaan dan fasilitas kehidupan, mulai dari televisi, komputer, mobil, motor dan lainnya
Taman-taman hiburan untuk tua-muda juga bertebaran dimana-mana. Pusat-pusat perbelanjaan dan pasar semakin banyak.
Belum lagi, sebagian orang ada yang disibukkan dengan berbagai macam aktifitas politik beserta tetek bengeknya berupa rapat-rapat, kampanye, sosialisasi masyarakat dan sederet acara-acara lainnya.
Semua itu telah menyibukkan kita dari perbekalan akhirat yang semestinya kita siapkan dalam dunia yang fana ini.
Tapi semua itu hilang dari catatan memori kehidupan kita. Sebagian orang lebih senang menghamburkan hartanya untuk kepentingan perutnya semata, tanpa mengingat bahwa semua harta yang kita hamburkan, tanpa faedah untuk akhirat kita.
Perutnya sudah sesak, masih terus diisi; saudaranya kelaparan, namun ia tidak tahu diri dan bermasa bodoh dengan keadaan saudara dan tetangganya yang berselimut kesusahan dan penderitaan, tanpa uluran tangan darinya.
Seonggok harapan tertumpu padanya, namun ia tak pedulikan. Seakan-akan ia binatang yang tak peduli kepada sesamanya.
Jangankan orang lain, orang tua dan kerabat saja ditelantarkan; tak ada tegur sapa, ziarah dan perhatian kepada mereka.
Dia lebih sibuk dengan setumpuk pekerjaannya dibandingkan baktinya kepada orang tua. Sementara orang tua semakin didera oleh ketuaan dan kelemahan, sedang ia telah berputus asa dari kebaikan anaknya. Sungguh sial orang yang seperti ini!!
Lebih celaka dari semua itu, ia gunakan hartanya untuk perkara sia-sia dan haram, mulai dari berjudi, minum khomer dan narkoba, menghamburkan uang di bar-bar, rumah-rumah tunasusila.
Rumah dan mobilnya dihiasi dengan berbagai macam sound system yang siap mengganggu tetangga dan penghuni rumahnya dengan berbagai macam alunan setan yang bernama “musik”.
Padahal Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- telah mengharamkannya dalam sebuah sabdanya,
“وَدَلَّتْ الْمَسْأَلَةُ عَلَى أَنَّ الْمَلَاهِيَ كُلَّهَا حَرَامٌ حَتَّى التَّغَنِّي بِضَرْبِ الْقَصَبِ.” اهـ من البحر الرائق شرح كنز الدقائق ومنحة الخالق وتكملة الطوري (8/ 214)
“Perkara ini menunjukkan bahwa semua jenis musik adalah haram sampai pun bernyanyi dengan memukulkan tulang-belulang”. [Lihat Al-Bahr Ar-Ro’iq Syarh Kanz Ad-Daqo’iq (8/214)]
Musik telah banyak membuat para generasi kita lalai dan gila. Waktunya tersibukkan dengan nyanyian dan lantunan musik sehingga ia pun malas mengaji dan membaca Al-Qur’an, apalagi mau hadir di majelis-majelis ilmu. Hatinya lebih tenang bila mendengarkan musik daripada mendengarkan Al-Qur’an; ia lebih bangga memegang gitar dan alat musik lainnya dibandingkan memegang Al-Qur’an dan buku-buku agama.
Dia lebih terpukau dengan penampilan para pemusik (muslim yang fasiq, maupun kafir) dibandingkan kepahlawanan dan pengorbanan Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- dan para sahabatnya.
Dia lebih rajin membuka kisah dan dongeng Walt Disney dan Negeri Anta Barantah dibandingkan kisah para nabi dan orang-orang sholih.
Masa lowongnya lebih senang ia sia-siakan di depan TV dan komputer, di gedung biokop, mall-mall, diskotik, rumah bordir, dan taman-taman hiburan lainnya.
Sedikitpun dari usianya tak ada untuk akhiratnya, semua untuk hawa nafsu dan kesenangan dunianya.
Di sudut lain, kita melihat sebagian wanita muslimah, tak kalah lalainya daripada kaum lelaki. Tidak jauh beda dengan gambaran di atas.
Hanya saja wanita-wanita muslimah di zaman ini, banyak di antara mereka yang tidak lagi memperhatikan rasa malunya di depan lawan jenisnya.
Pakaian-pakaian seronok dan setengah jadipun rela mereka pakai. Pakaian yang mestinya dipakai oleh orang-orang yang miring akalnya alias gila, nah mereka jadikan sebagai pakaian kebanggaan.
Adakah rasa malu lagi di hati mereka, bila mereka melepas pakaian kemuliaan yang bernama jilbab, lalu memamerkan segala macam kecantikan tubuhnya.
Sungguh musibah bagi umat ini tatkala kaum wanitanya telah melepaskan pakaian kemuliaan.
Miris rasanya, kita melihat wanita-wanita muslimah bertebaran di jalan dan di semua tempat-tempat umum; mereka menampilkan kemolekan tubuhnya, kecantikan parasnya untuk semua orang, tanpa malu dan risih kepada Allah dan hamba-hamba-Nya.
Kesibukan dan aktifitas mereka, tak kalah padatnya dengan kaum Adam. Mereka sibuk bekerja dengan segala penampilannya yang tak senonoh.
Padahal mereka dianjurkan tinggal di rumah melakukan aktifitas dan pekerjaan yang sesuai dengan kodratnya.
Mereka lebih senang membuka lembaran majalah dan tabloid yang berisi perkembangan model dan kehidupan para selebritis dibandingkan membuka lembaran sejarah kehidupan para wanita muslimah di zaman kenabian dan para salaf.
Para wanita kita lebih senang mengoleksi berbagai macam model pakaian ala Prancis dan Italia, segala merek parfum dan kosmetik produk mancanegara dan lainnya.
Waktunya banyak yang terbuang di depan TV mengikuti serial telenovela dan gossip para selebritis.
Kamarnya dipenuhi oleh gambar orang-orang fasik dan kafir dari kalangan artis dan pemusik mancanegara, dan terkhusus lagi artis Mandarin dan Korea.
Subhanallah, demikianlah gambaran kehidupan kaum muslimin dari orang tua sampai remaja.
Semuanya lupa adanya kematian yang akan menghancurkan segala kelezatan.
Karenanya, sedari dini, setiap orang mempersiapkan diri menghadapi hari yang penuh dengan siksaan dan kengerian.
“Sesungguhnya Kami telah memperingatkan kepada kalian tentang siksa yang dekat, pada hari manusia melihat apa yang telah diperbuat oleh kedua tangannya; dan orang kafir berkata:”Alangkah baiknya sekiranya dahulu aku adalah tanah”. (QS. An-Naba’ : 40)
Sebelum datangnya hari penyesalan, di saat kematian telah berada di depan, maka hendaknya kita memperbanyak bekal ketaatan menuju akhirat dan meninggalkan perbuatan maksiat dan kenistaan.
Ikutilah petunjuk dan jalan hidup Nabimu -Shallallahu alaihi wa sallam-. Jika tidak, maka sungguh anda telah menzholimi diri sendiri. Sedang bagi orang yang zholim, tak ada yang ia tunggu, selain penyesalan. Allah -Ta’ala- berfirman,
“Dan (ingatlah) hari (ketika itu) orang yang zhalim menggigit dua tangannya, seraya berkata, “Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama Rasul. Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan si fulan itu teman akrab(ku). Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al-Quran, ketika Al-Quran itu telah datang kepadaku”. Dan adalah syaitan itu tidak mau menolong manusia”. (QS. Al-Furqon : 27-29)
Hari itu, tak ada yang bermanfaat kecuali amal sholih yang pernah kita kerjakan di dunia.
Hari itu, sebelah biji korma yang di-infaq-kan di jalan Allah, amat berguna bagi pelakunya.
Itulah sebabnya Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,
“Handaknya salah seorang diantara kalian melindungi wajahnya dari neraka, sekalipun dengan sebelah biji korma”. [HR. Ahmad dalam Al-Musnad. Hadits ini di-shohih-kan oleh Al-Albaniy dalam Shohih At-Targhib (864)]
Amalan sholih yang ikhlash amat bermanfaat bagi pelakunya, walaupun nilainya sedikit menurut pandangan manusia.
Karenanya, setiap orang berusaha untuk beramal sholih sesuai kemampuan masing-masing dan jangan tertipu dengan jumlah!!