Anjuran Membersihkan Halaman Rumah dan Masjid


| Menu

| MENU

Bagikan…

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram



Anjuran Membersihkan Halaman Rumah dan Masjid

dari Kotoran dan Sampah-sampah yang Menodainya

  • Oleh: Ust. Abdul Qodir Abu Fa’izah, Lc. hafizhahullah

Membersihkan rumah, baik pada bagian dalam rumah, ataukah luarnya, merupakan adab islami yang kini banyak disepelekan oleh sebagian besar kaum muslimin, sehingga tidak heran apabila kita akan menemukan sampah-sampah, dedaunan bertebaran dan rerumputan yang menjalar dan berkeliaran di halaman rumahnya. Bahkan ada diantara mereka yang membiarkan rerumputan itu memasuki rumah mereka dan jadilah pekarangan rumah mereka laksana hutan belantara, dan rumah mereka ibarat kandang hewan yang berantakan.

Sebuah pemandangan yang amat menjijikkan, sebagian muslim mengumpulkan dan membiarkan berbagai macam barang-barang rongsokan menumpuk di dalam atau di luar rumahnya, sehingga menciptakan pemandangan yang jorok. Belum lagi, anak-anak mereka sembarang membuang sampah di halaman rumah, tanpa menyiapkan tempat khusus pembuangan sampah, seperti tong sampah dan lainnya yang dapat mencegah sampah berserakan kemana-mana.

Ajaran membuang sampah ini telah dicanangkan oleh Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- kepada umatnya sejak 14 abad yang lalu, sebelum orang-orang barat mengenal peradaban.

Rasulullah –Shallallahu alaihi wa sallam– bersabda,

طَهِّرُوْا أَفْنِيَتَكُمْ، فَإِنَّ الْيَهُوْدَ لاَ تُطَهِّرُ أَفْنِيَتَهَا

“Bersihkanlah halaman-halaman kalian. Karena, kaum Yahudi tidak membersihkan halaman-halaman mereka.” [HR. Ath-Thobroniy dalam Al-Mu’jam Al-Ausath (4/231). Hadits ini hasan sebagaimana yang dijelaskan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Ash-Shohihah (no. 236)]

Seorang yang memiliki keimanan yang bersih, maka keimanannya akan memberikan pengaruh kepada anggota-anggota tubuhnya, sehingga anggota-anggota tubuh itu akan selalu bersih dan mencintai kebersihan.

Akan tetapi apabila raga seseorang kotor, maka itu adalah cerminan akan kotornya kalbu dan jiwa orang itu.

Al-Imam Abdur Rouf Al-Munawiy -rahimahullah- berkata dalam menjelaskan hadits di atas,

ونبه بالأمر بطهارة الأفنية الظاهرة على طهارة الأفنية الباطنة وهي القلوب والأرواح

“Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- memberi peringatan melalui perintah membersihkan halaman-halaman rumah yang tampak tentang halaman-halaman yang bathin (tersembunyi), yakni hati dan ruh.” [Lihat Faidhul Qodir (4/271)]

Perintah membersihkan pekarangan rumah ini semakin kuat, dengan adanya perintah menyelisihi Ahli Kitab dari kalangan Yahudi. Sebab, hidup jorok adalah kebiasaan dan jalan hidup mereka yang sudah dikenal pada zaman kenabian. Sementara kebiasaan hidup kaum muslimin (yakni, Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- dan para sahabatnya) saat itu adalah HIDUP BERSIH di atas bimbingan wahyu.

Al-Imam Al-Amir Muhammad bin Isma’il Al-Kahlaniy Al-Hasani Ash-Shon’aniy –rahimahullah– berkata saat memetik ibrah dari hadits ini,

ومخالفتهم مراده في مثل هذا أو ليكون تفرقة بين دوركم ودورهم للناظر.

“Menyelisihi mereka (kaum Yahudi), itulah maksud beliau dalam perkara seperti ini, atau agar hal itu menjadi pembeda antara rumah-rumah kalian dengan rumah-rumah mereka bagi orang yang melihatnya. [Lihat At-Tanwir Syarhul Jami’ Ash-Shoghir (7/139)]

Syariat kita adalah syariat yang membangun kehidupan nazhofah (bersih). Lantaran itu, di dalam syariat kita, diterangkan tata cara membersihkan kotoran, najis berupa darah, tahi, kencing, jilatan anjing, atau tata cara mandi junub, membuang najis dari air dan makanan, membersihkan gigi dengan siwak, berwudhu’, dan masih banyak lagi syiar-syiar nazhofah (kebersihan) dalam agama Islam yang tidak ada pada umat-umat kafir.

Oleh karena itu, suatu aib dan celaan besar apabila seorang muslim “BERGAYA HIDUP JOROK” (Makassar : rantasa’).

Seorang muslim hendaknya selalu menjaga dan memperhatikan

kebersihan diri dan lingkungannya, mulai dari anggota-anggota badannya, pakaian, kendaraan, rumah (baik dalam, maupun luarnya), kantor, dan lainnya.

Kebersihan adalah sesuatu yang indah, sedang sesuatu yang indah adalah perkara yang dicintai oleh Allah -Azza wa Jalla-.

Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda,

إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ

“Sesungguhnya Allah adalah Maha Indah, mencintai keindahan.” [HR. Muslim dalam Shohih-nya (no. 91)]

“Allah memiliki keindahn muthlaq : keindahan pada dzat-Nya, sifat-sifatnya, dan perbuatan-perbuatannya.” [Lihat At-Taisir bi Syarh Al-Jami’ Ash-Shoghir (1/504)

Ketika Allah menyifati dirinya dengan keindahan, maka Dia juga mengabarkan bahwa dirinya mencintai keindahan lahiriah dan batin pada diri hamba-hamba-Nya.

Al-Allamah Abdur Rohman Ibnu Nashir As-Sa’diy –rahimahullah– berkata,

فإنه تعالى جميل في ذاته وأسمائه وصفاته وأفعاله ،

يحب الجمال الظاهري والجمال الباطني .

فالجمال الظاهر : كالنظافة في الجسد ، والملبس ، والمسكن ، وتوابع ذلك .

والجمال الباطن : التجمل بمعاني الأخلاق ومحاسنها .

“Sesungguhnya Dia (Allah) -Ta’ala- adalah Maha Indah pada dzat (diri)-Nya, nama-nama, sifat-sifat dan perbuatan-perbuatan-Nya.

Dia mencintai keindahan lahiriah dan keindahan batin.

Keindahan lahiriah : seperti, kebersihan pada jasad, pakaian, tempat tinggal, dan pelengkap-pelengkapnya.

Sedang keindahan batin : memperindah diri dengan makna-makna akhlak serta akhlak-akhlak yang indah.” [Lihat Bahjah Qulub Al-Abror wa Qurroh Uyun Al-Akhyar fi Syarh Jawami’ Al-Akhbar (1/233) karya As-Sa’diy]

Jadikanlah keindahan lahiriah dan batin kita sebagai prinsip yang selalu mewarnai kehidupan kita, dimanapun kita berada.

Prinsip itu harus berada di tangan kaum muslimin, jangan sampai direbut oleh kaum kafir, sehingga merekalah yang dikenal sebagai pelopor kebersihan dan sebagai “manusia bersih”, walaupun hakikatnya mereka tetap saja kotor!![1].

Para pembaca yang budiman, diantara rumah-rumah yang harus lebih kita jaga kebersihannya adalah rumah-rumah Allah (baca : masjid-masjid) dan pesantren-pesantren yang menjadi tempat kita beribadah, sholat, berdzikir, bermajelis ilmu, berkumpul, membaca Al-Qur’an, dan lainnya.

Tugas menjaga kebersihan masjid, bukanlah kerendahan dan kehinaan. Tugas menjaga kebersihan masjid merupakan tugas para nabi dan rasul yang mulia.

Inilah yang Allah -Tabaroka wa Ta’ala- sinyalir dalam sebuah firman-Nya,

وَعَهِدْنَا إِلَى إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ أَنْ طَهِّرَا بَيْتِيَ لِلطَّائِفِينَ وَالْعَاكِفِينَ وَالرُّكَّعِ السُّجُودِ  [البقرة : 125]

“Dan Telah kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail: “Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang thawaf, yang i’tikaf, yang ruku’ dan yang sujud”. (QS. Al-Baqoroh : 125)

Al-Allamah Ibnu Asyur Al-Malikiy -rahimahullah- berkata,

وَالْمُرَادُ مِنْ تَطْهِيرِ الْبَيْتِ مَا يَدُلُّ عَلَيْهِ لَفْظُ التَّطْهِيرِ

– مِنْ مَحْسُوسٍ : بِأَنْ يُحْفَظَ مِنَ الْقَاذُورَاتِ وَالْأَوْسَاخِ لِيَكُونَ الْمُتَعَبِّدُ فِيهِ مُقْبِلًا عَلَى الْعِبَادَةِ دُونَ تَكْدِيرٍ،

– وَمِنْ تَطْهِيرٍ مَعْنَوِيٍّ : وَهُوَ أَنْ يُبْعَدَ عَنْهُ مَا لَا يَلِيقُ بِالْقَصْدِ مِنْ بِنَائِهِ مِنَ الْأَصْنَامِ وَالْأَفْعَالِ الْمُنَافِيَةِ لِلْحَقِّ كَالْعُدْوَانِ وَالْفُسُوقِ، وَالْمُنَافِيَةِ لِلْمُرُوءَةِ كَالطَّوَافِ عُرْيًا دُونَ ثِيَابِ الرِّجَالِ وَالنِّسَاءِ.

وَفِي هَذَا تَعْرِيضٌ بِأَنَّ الْمُشْرِكِينَ لَيْسُوا أَهْلًا لِعِمَارَةِ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ لِأَنَّهُمْ لَمْ يُطَهِّرُوهُ مِمَّا يَجِبُ تَطْهِيرُهُ مِنْهُ

“Yang dimaksud dengan ‘MEMBERSIHKAN BAITULLAH’    adalah perkara yang ditunjukkan oleh lafazh “that-hir” (membersihkan), yakni (membersihkannya) dari:

– sesuatu yang bersifat kongkrit, misalnya : menjaganya dari tahi dan kotoran, agar orang beribadah di dalamnya dapat fokus di atas ibadahnya, tanpa ternodai.

– Juga berupa pembersihan yang bersifat abstrak, yaitu dijauhkan dari Baitullah sesuatu yang tidak sejalan dengan tujuan pembangunannya berupa berhala-berhala, dan perbuatan-perbuatan yang yang menyalahi kebenaran (seperti : permusuhan, dan kefasikan), perbuatan-perbuatan yang yang menyalahi harga diri (seperti : telanjang tanpa pakaian pria dan wanita).

Di dalam hal ini, terdapat sindirian bahwa kaum musyrikin bukanlah orang yang berhak memakmurkan Masjidil Haram, karena mereka tidaklah membersihkan Baitullah dari perkara-perkara yang wajib dibersihkan darinya.” [Lihat At-Tahrir wa At-Tanwir (1/712)]

Ayat ini menunjukkan bahwa kaum muslimin (sebagai pelanjut ajaran Islam yang sejak dahulu telah diajarkan oleh para nabi dan rasul) dianjurkan untuk senantiasa mengemban dan melanjutkan tugas mulia ini. Kaum muslimin harus lebih memperhatikan kebersihan masjid-masjid dan pesantren-pesantren mereka, melebihi perhatian para petugas kebersihan pada toilet-toilet di pusat perbelanjaan, dan pompa-pompa bensin.

Hendaknya kita malu kepada Allah -Azza wa Jalla- sebelum kita malu kepada manusia saat kita membiarkan WC dan toilet masjid atau pekarangan masjid diwarnai dengan kotoran dan sampah-sampah!!

Di dalam agama kita ada syariat KEBERSIHAN pada tempat-tempat ibadah dan ilmu. Jangan sia-siakan syariat mulia itu. Jika kalian menjaga kebersihan dimanapun dan kapan pun, baik di rumah, di jalan, apalagi di masjid, maka yakin –insya Allah- Allah membalas niat baik dan perbuatan mulia kalian itu.

Al-Imam Shiddiq Hasan Khan Al-Qinnaujiy –rahimahullah– berkata,

وفي الآية مشروعية طهارة المكان للطواف والصلاة

“Di dalam ayat ini terdapat pengsyariatan membersihkan tempat tawaf dan sholat.” [Lihat Fathul Bayan fi Maqoshidil Qur’an (1/278)]

Kebersihan adalah cerminan kepribadian seorang hamba. Kapan lahiriahnya bersih, maka itu adalah tanda bahwa hatinya bersih. Sebab, kebersihan batin adalah tugas utama sebelum kebersihan lahiriah. Disinilah perlunya mempelajari ilmu wahyu (Al-Qur’an dan Sunnah) agar kita berbuat di atas ilmu dan niat yang lurus. Nah, orang yang menjaga kebersihannya karena tahu ilmu dan keutamaannya, maka ia akan mendapat pahala dari kebersihannya. Dengannya, ia terpuji di sisi manusia, bahkan di sisi Allah.[2]

Sebaliknya, Kapan saja lahiriah seseorang kotor dan jorok, maka ini adalah isyarat bahwa batin orang itu adalah kotor. Sebab, tidak mungkin batinnya yang bersih dan terbimbing dengan ilmu wahyu, akan membiarkan jasad dan lahiriah serta lingkungan sekitarnya akan kotor dan jorok.

……………………………………………………………..

Selesai, Kamis 1 Dzul Qo’dah 1437 H

…………………………………………….

……………………………

[1] Perlu diketahui bahwa orang kafir bagaimana pun bersihnya, maka mereka tetap kotor (lahir dan batin). Secara batin, tentunya batin mereka terkotori dengan kekafiran, kesyirikan, dosa-dosa. Lahiriah dan jasad mereka juga kotor dan jorok. Bukankah kalian melihat mereka tidak menjaga diri dari najis berupa tahi, kencing, liur anjing dan hewan lainnya?!

[2] Adapun orang yang bersih karena kebiasaan dan tabiat pembawaannya yang suka bersih, tanpa didasari dengan bimbingan ilmu wahyu, maka ia hanya terpuji di sisi manusia, dan tidak mendapatkan pahala, wallahu a’lam.

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Tulisan lainnya

jannatul-firdaus.net @2022

Tips Jitu Meraih Khusyu’ dalam Sholat


| Menu

| MENU

Bagikan…

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram



Tips Jitu Meraih Khusyu’ dalam Sholat

  • Oleh: Ustadz Abdul Qodir Abu Fa’izah, Lc. hafizhahullah
  • [Pembina Ponpes Al-Ihsan Gowa]

Khusyu’ dalam sholat adalah inti sebuah sholat yang ditunaikan oleh seorang hamba.

Dia merupakan sebab utama yang memasukkan seseorang ke dalam jannah (surga) yang dipenuhi kenikmatan.

Allah –Azza wa Jalla– berfirman,

قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ (1) الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ (2) [المؤمنون : 1 ، 2]

“Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam sholatnya”. (QS. Al-Mukminun : 1-2)

Khusyu’ dalam sholat, artinya seseorang merasa tenang dalam mengerjakan sholatnya, karena ia merasa takut kepada Allah dan men-tadabburi (memahami) ayat-ayat dan dzikir yang ia baca dalam sholatnya.

Karena itu, orang yang khusyu’ akan memusatkan perhatian terhadap bacaan sholatnya dan menenangkan seluruh anggota badannya saat sholat, karena semata-mata mengharapkan pahala.

Dia tak akan tergesa-gesa mendatangi sholat, tak akan memalingkan pandangannya ke kiri dan ke kanan ketika sholat serta mengurangi gerakan dalam sholat. [Lihat Jami’ Al-Bayan (19/694-696)]

Para pembaca yang budiman, lantas apa yang perlu kita lakukan dan pahami agar dapat meraih khusyu’ dalam sholat? Nah, tentunya bila anda ingin khusyu, maka anda dianjurkan melakukan beberapa tips berikut ini:

—  Mengingat Kematian

Seseorang yang ingin meraih khusyu’ yang sempurna dalam sholat, ia harus menghadirkan perasaan takut kepada Allah saat melewati ayat-ayat ancaman atau takut jangan sampai menjadi orang yang celaka karena kelalaiannya dalam menjaga ke-khusyu’-an sholatnya.

Satu diantara perkara yang mampu menghadirkan rasa takut kepada Allah, seseorang mengingat mati saat ia sholat. Dia harus takut jangan sampai sholat yang ia sedang kerjakan adalah amalannya yang paling akhir.

Jika itu adalah amalan yang paling akhir, maka selayaknya ia persembahkan sholat yang baik dan paling khusyu’.

Rasulullah –Shallallahu alaihi wa sallam– bersabda,

اذْكُر المَوْتَ في صَلاَتِكَ فإِنَّ الرَّجُلَ إذا ذَكَرَ المَوْتَ في صَلاَتِهِ لَحَرِيٌّ أنْ يُحْسِنَ صلاتَهُ وَصَلِّ صلاةَ رَجُلٍ لا يَظُنُّ أنَّهُ يُصَلِّي صلاةً غَيْرَها وإِيَّاكَ وكُلَّ أمْرٍ يُعْتَذَرُ مِنْه

“Ingatlah kematian dalam sholatmu. Karena, bila seseorang mengingat kematian dalam sholatnya, maka ia akan lebih memperbaiki sholatnya. Sholatlah laksana sholatnya seorang yang menyangka bahwa ia tak akan lagi melakukan sholat selainnya. Waspadalah terhadap segala perkara yang (dibutuhkan di dalamnya) pengajuan alasan”. [HR. Ad-Dailamiy dalam Musnad Al-Firdaus (1755). Hadits ini di-hasan-kan oleh Al-Albaniy dalam Shohih Al-Jami’ (no. 489)]

Seorang yang takut dalam sholatnya akan mudah mendalami dan konsentrasi terhadap segala bacaan dan gerakannya sehingga ia seakan-akan bercakap-cakap dengan Allah atau seakan ia di alam akhirat.

Inilah sebabnya Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- amat mudah menangis sholatnya, sebab beliau hadirkan dalam hatinya perasaan takut dan dekatnya perjumpaan dengan Allah yang siap menghisab dirinya.

—   Mentadabburi Bacaan-bacaan Sholat

Sholat adalah munajat (bisik-bisik) antara seorang seorang hamba dengan Robb-nya. Di dalamnya ia menyampaikan hajatnya dengan penuh rasa harap dan takut.

Semua ini tak akan sempurna sampai ia memahami arti percakapan yang ia lakukan. Percakapan ini ibarat dialog seseorang dengan kekasihnya. Bahkan lebih dari itu!!

Karenanya, dialog ini butuh keseriusan dan kesadaran sehingga lahirlah saling memahami antara kedua pihak.

Begitulah seorang yang sholat, harus penuh tadabbur terhadap bacaannya yang merupakan dialognya dengan Allah.

Mentadabburi Al-Qur’an adalah perkara yang diperintahkan. Lantaran itu, Dia mencela orang yang tak mentadabburinya. Allah –Ta’ala– berfirman,

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَى قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا  [محمد : 24]

“Maka apakah mereka tidak mentadabburi (memperhatikan) Al Quran ataukah hati mereka terkunci?” (QS. Muhammad : 24)

Al-Imam Muhammad Al-Amin Asy-Syinqithiy –rahimahullah– berkata,

وَمَا تَضَمَّنَتْهُ هَذِهِ الْآيَةُ الْكَرِيمَةُ مِنَ التَّوْبِيخِ وَالْإِنْكَارِ عَلَى مَنْ أَعْرَضَ عَنْ تَدَبُّرِ كِتَابِ اللَّهِ ، جَاءَ مُوَضَّحًا فِي آيَاتٍ كَثِيرَةٍ،…وَمَعْلُومٌ أَنَّ كُلَّ مَنْ لَمْ يَشْتَغِلْ بِتَدَبُّرِ آيَاتِ هَذَا الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ أَيْ تَصَفُّحِهَا وَتَفَهُّمِهَا ، وَإِدْرَاكِ مَعَانِيهَا وَالْعَمَلِ بِهَا، فَإِنَّهُ مُعْرِضٌ عَنْهَا، غَيْرُ مُتَدَبِّرٍ لَهَا فَيَسْتَحِقُّ الْإِنْكَارَ وَالتَّوْبِيخَ الْمَذْكُورَ فِي الْآيَاتِ إِنْ كَانَ اللَّهُ أَعْطَاهُ فَهْمًا يَقْدِرُ بِهِ عَلَى التَّدَبُّرِ.” اهـ من أضواء البيان في إيضاح القرآن بالقرآن – (7 / 256_257)

“Apa yang dikandung oleh ayat yang mulia ini berupa kecaman dan pengingkaran bagi orang yang berpaling dari mentadabburi Kitabullah, telah datang secara jelas dalam banyak ayat…Sudah dimaklumi bahwa barangsiapa yang tidak menyibukkan diri dalam mentadabburi ayat-ayat Al-Qur’an yang agung ini, yakni membukanya, berusaha memahaminya dan menjangkau maknanya serta mengamalkannya, maka sungguh ia telah berpaling darinya lagi tidak mentadabburinya. Jadi, ia berhak mendapatkan pengingkaran dan kecaman yang tersebut dalam ayat-ayat itu, jika ia diberi pemahaman oleh Allah. Dengannya, ia mampu melakukan tadabbur”. [Lihat Adhwaa’ Al-Bayan (7/256-257), cet. Dar Al-Fikr, 1415 H]

Seorang yang sholat dengan membaca doa dan dzikir tanpa tadabbur –malah lalai-, ibarat orang yang membaca surat dari seseorang tanpa mengerti isinya. Disinilah urgensi tadabbur yang melahirkan khusyu’ bagi orang yang tegak di hadapan Allah -Azza wa Jalla-.

—   Membersihkan Diri dari Maksiat

Maksiat yang dilakukan oleh para hamba merupakan noda yang akan mengotori, bahkan menutupi hati.

Sementara hati adalah alat yang digunakan berpikir dan mentadabburi sesuatu.

Nabi –Shallallahu ‘alaihi wasallam– bersabda,

إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً نُكِتَتْ فِي قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ فَإِذَا هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ سُقِلَ قَلْبُهُ وَإِنْ عَادَ زِيدَ فِيهَا حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبَهُ

“Sesungguhnya orang yang beriman jika melakukan suatu dosa, maka akan dibuat titik hitam di dalam hatinya. Jika dia menahan diri (dari maksiat), memohon ampunan dan bertobat, maka hatinya akan mengilap (bercahaya). Jika ia kembali (melakukan dosa), maka titik hitam itupun bertambah pada hatinya hingga memenuhi hatinya”. [HR. At-Tirmidzi dalam Sunan-nya (3334), dan Ibnu Majah Sunan-nya (4244). Di-hasan-kan oleh Al-Albaniy dalam Shohih At-Targhib (1620)]

Jika ia menghitam akibat noda maksiat, maka hati tak mampu bertadabbur. Sebab hati ibarat cermin, bila ia penuh noda, maka ia tak mampu memantulkan cahaya dan tak bisa dipakai berkaca. Begitulah hati yang kita pakai mentadabburi Kitabullah.

Seorang yang membiarkan dirinya bermaksiat akan memberikan pengaruh bagi hatinya, sehingga doanya pun tak akan dikabulkan oleh Allah.

Nabi –Shallallahu alaihi wa sallam– bersabda,

ثلاثةٌ يَدْعُوْنَ اللهَ فَلاَ يُسْتَجَابُ لَهُمْ:رَجُلٌ كَانَتْ تَحْتَهُ امْرَأَةٌ سَيِّئةُ الْخُلُقِ فَلَمْ يُطَلِّقْهَا، وَرَجُلٌ كَانَ لَهُ مَالٌ فَلَمْ يُشْهِدْ عَلَيْهِ، وَرَجُلٌ آتَى سَفِيْهًا مَالَهُ

“Ada tiga orang yang berdoa, tapi doanya tak dikabulkan: (1) seorang suami yang memiliki istri yang buruk akhlaknya, namun ia tak menceraikannya,  (2) seorang yang memiliki harta, namun ia tak mempersaksikannya, (3) dan seorang yang memberikan hartanya kepada seorang safih (yang bodoh)”. [HR. Al-Hakim dalam Al-Mustadrok (no. 3181) dan Al-Baihaqiy dalam Al-Kubro (no. 21022). Hadits ini di-shohih-kan oleh Al-Albaniy dalam Ash-Shohihah (no. 1805)]

Hadits ini menjelaskan bahwa orang yang memiliki istri yang buruk perangainya, tak akan dikabulkan doanya, termasuk sholatnya yang berisi doa-doa.

Sebab, dengan memelihara dan mempertahankan istri yang durhaka merupakan penyiksaan batin bagi si suami. Orang yang memiliki istri yang durhaka amat sulit meraih khusyu’.

Sebab banyak kendala dan problema bila hidup bersamanya. Semua ini tentunya akan mengganggu hati.

Demikian pula orang yang mengutangkan uang yang banyak kepada orang lain tanpa saksi, lalu orang yang berutang mengingkarinya.

Si pengutang telah berbuat teledor dalam memenuhi perintah Allah dalam menghadirkan saksi dalam akad utang tersebut.

Ini tentunya kezholiman terhadap diri sendiri. Adapun orang yang memberikan hartanya kepada orang yang bodoh dan tak pandai mengurusi harta, seperti anak kecil atau orang yang tak berpengalaman, sedang ia tahu keadaannya, maka orang ini telah menyia-nyiakan hartanya. Padahal Allah dan Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- telah melarang hal tersebut. [Lihat At-Taisir bi Syarh Al-Jami’ Ash-Shoghir (1/979)]

Di saat tersia-siakannya harta karena menyerahkannya kepada selain ahlinya, jelas akan menjadi beban pikiran yang akan mencabut kekhusu’an dalam hati.

Seorang wanita durhaka pun akan terkena akibat dan imbas dosa kedurhakaannya sehingga ke-khusyu’-an dicabut dari dirinya.

Rasulullah –Shallallahu alaihi wa sallam– bersabda,

اثْنَانِ لا تُجَاوِزُ صَلاتُهُمَا رُءُوسَهُمَا : عَبْدٌ آبِقٌ مِنْ مَوَالِيهِ حَتَّى يَرْجِعَ إِلَيْهِمْ ، وَامْرَأَةٌ عَصَتْ زَوْجَهَا حَتَّى تَرْجِعَ

“Ada dua orang yang sholatnya tidak melewati kepalanya: budak yang lari dari majikannya sampai kembali kepada mereka dan istri yang durhaka kepada suaminya sampai ia (istri) mau rujuk kepada suaminya”. [HR. Ath-Thobroniy dalam Ash-Shoghir (no. 478) dan Al-Awsath (3628) serta Al-Hakim dalam Al-Mustadrok (no.7330). Hadits ini di-shohih-kan oleh Al-Albaniy dalam Shohih At-Targhib (no. 1888)]

Diantara maksiat yang menghalangi doa dan khusyu’-nya sholat kita, memakan makanan dan minuman yang haram serta memakai pakaian yang haram.

Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda,

“Sesungguhnya Allah -Ta’ala- itu Maha Baik, tidak mau menerima, kecuali yang baik; Allah telah memerintahkan kepada kaum mu’minun sesuatu yang telah Dia perintahkan kepada para rasul, seraya berfirman, “Hai rasul-rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal yang saleh” (QS. Al-Mukminun : 51). Dia berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezki yang baik-baik yang kami berikan kepadamu”. (QS. Al-Baqoroh : 172)

Kemudian beliau (Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam-) menyebutkan seorang yang melakukan safar yang jauh dalam keadaan kusut, lagi berdebu; dia mengulurkan tangannya ke langit (seraya berdo’a), “Wahai Robb-ku, wahai Robb-ku”, sedang makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan dikenyangkan dengan sesuatu yang haram. Maka bagaimana mungkin dikabulkan (doa) bagi orang itu”. [HR. Muslim dalam Shohih-nya (1015)]

—  Menjauhi Kebiasaan Banyak Tertawa

Banyak tertawa akan mematikan hati. Hati yang mati tak akan bergeming dengan ancaman dan berita gembira yang dibacakan kepadanya.

Nah, bagaimana mungkin orang yang berhati demikian akan khusyu’.

Itulah sebabnya Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- melarang banyak tertawa dalam sabdanya,

وَلَا تُكْثِرْ الضَّحِكَ فَإِنَّ كَثْرَةَ الضَّحِكِ تُمِيتُ الْقَلْبَ

“Janganlah engkau memperbanyak tawa, karena banyak tawa akan mematikan hati”. [HR. At-Tirmidziy dalam As-Sunan (2305). Hadits ini di-hasan-kan oleh Al-Albaniy dalam Ash-Shohihah (no. 930)]

Para pembaca yang budiman, inilah beberapa terapi dan tips dalam meraih khusyu’.

Sebenarnya masih ada lagi hal lain yang dapat menjadi sebab lahirnya khusyu’ dalam sholat, seperti jangan terlalu sibuk dan tenggelam dengan dunia sehingga dunia lebih menguasai hati. Akhirnya, ia tak hadir ke masjid, selain hatinya dipenuhi berbagai macam pikiran dan urusan dunia.

Semoga di lain waktu kami akan ulas lagi materi ini, insya Allah…

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Tulis komentar

Logged in as admin. Log out »




Tulisan lainnya

jannatul-firdaus.net @2022

Kisah Kayu Ajaib


| Menu

| MENU

Bagikan…

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram



Kisah Kayu Ajaib

  • HR.Bukhari

Abu Hurairah meriwayatkan dari Rasulullah bahwa Seorang laki- laki dari kalangan Bani Israil meminta kepada seseorang Bani Israil lainnya agar memberikan pinjaman kepadanya seribu dinar. 

Lalu si pemberi pinjaman berkata, “Datangkanlah para saksi. Saya meminta mereka untuk bersaksi.” 

Lantas orang yang meminta pinjaman berkata, “Cukuplah Allah yang menjadi saksi.” 

Pemberi pinjaman menambahkan, “Datangkanlah seorang penjamin.” Dia menjawab, “Cukuplah Allah sebagai penjamin.” 

Pemberi pinjaman berkata, “Engkau benar.” 

Kemudian dia menyerahkan piutang tersebut kepadanya sampai waktu yang ditentukan. Selanjutnya si peminjam pergi mengarungi lautan untuk memenuhi kebutuhannya. 

Setelah itu, dia mencari perahu yang akan digunakan untuk mendatangi pemberi pinjaman sesuai waktu yang telah ditetapkan. Ternyata dia tidak menemukan perahu. 

Lantas dia mengambil kayu dan melubanginya, lalu dia memasukkan seribu dinar di dalamnya dan selembar kertas untuk temannya (si pemberi pinjaman). Kemudian dia menutupnya kembali. 

Selanjutnya dia membawa kayu tersebut ke laut. Dia berkata, “Ya Allah! Sungguh, Engkau mengetahui bahwa saya meminjam seribu dinar kepada si fulan, lalu dia meminta penjamin kepadaku dan saya berkata, ‘Cukuplah Allah sebagai penjamin. Dia pun ridha karena Engkau. Dia juga meminta saksi, lalu saya berkata, “Cukuplah Allah menjadi saksi: Dia pun ridha karena Engkau. Sesungguhnya saya telah bersusah payah untuk menemukan kendaraan untuk mengantarkan utangku kepada pemiliknya, ternyata saya tidak menemukan. Sungguh, saya menitipkan kayu ini kepada-Mu.” 

Lantas dia melemparkannya ke laut sempai masuk ke dalam laut kemudian bergerak. 

Di samping itu dia masih saja mencari kendaraan untuk menuju ke daerahnya. Di lain pihak, si pemberi pinjaman menanti-nanti barangkali kendaraan yang membawa piutangnya telah datang. 

Ternyata ada kayu yang mengapung di dekatnya. Lalu dia mengambil kayu tersebut untuk dijadikan sebagai kayu bakar buat keluarganya.

Ketika dia membelah kayu tersebut, dia menemukan uang dan selembar kertas. 

Kemudian orang yang meminjam tadi datang dengan membawa uang seribu dinar, lalu dia berkata, ‘Demi Allah, sebelum ini aku tidak mendapatkan kapal yang dapat mengantarkan aku untuk membayar hutangmu.” 

Lalu si pemberi hutang berkata, “Apakah engkau telah mengirim sesuatu untukku?” 

Dia berkata, “Aku sudah kabarkan bahwa aku tidak mendapatkan kapal untuk mengantarkan aku kepadamu.” 

Maka orang itu berkata, “Sesungguhnya Allah telah mengirimkan uang tersebut yang terdapat di dalam kayu yang engkau kirim. Bawalah kembali uangmu yang seribu dinar tersebut.”

Artboard 2
Artboard 3
Artboard 4
Artboard 5
Artboard 6
Artboard 7
Artboard 8
Artboard 9

Sebelumnya
Selanjutnya

  • gambar: #anakJF

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Tulis komentar

Logged in as admin. Log out »




Tulisan lainnya

jannatul-firdaus.net @2021

Agar Bacaan Al-Qur`an Lebih Menyentuh Hati


| Menu

| MENU

Bagikan…

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram



Agar Bacaan Al-Qur`an Lebih Menyentuh Hati

  • Oleh : Ustadz Dzulqarnain Muhammad Sunusi hafizhahullah
  • (Pembina Peduli Dakwah)

Allah Subhânahu wa Ta’âlâ memerintahkan Nabi Muhammad shallallâhu ‘alaihi wa sallam sebagaimana dalam firman-Nya,

وَاتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنْ كِتَابِ رَبِّكَ لَا مُبَدِّلَ لِكَلِمَاتِهِ وَلَنْ تَجِدَ مِنْ دُونِهِ مُلْتَحَدًا

“Dan bacakanlah apa-apa yang diwahyukan kepadamu, yaitu kitab Rabb-mu (Al-Qur`an). Tiada (seorang pun) yang dapat mengubah kalimat-kalimat-Nya. Dan engkau tidak akan dapat menemukan tempat berlindung selain Dia.” [Al-Kahf: 27]

Juga dalam firman-Nya,

إِنَّمَا أُمِرْتُ أَنْ أَعْبُدَ رَبَّ هَذِهِ الْبَلْدَةِ الَّذِي حَرَّمَهَا وَلَهُ كُلُّ شَيْءٍ وَأُمِرْتُ أَنْ أَكُونَ مِنَ الْمُسْلِمِينَ. وَأَنْ أَتْلُوَ الْقُرْآنَ

“Aku hanya diperintah untuk menyembah Rabb negeri (Makkah) ini Yang telah menjadikan (negeri) itu suci, dan kepunyaan-Nya-lah segala sesuatu. Serta, aku diperintah agar aku tergolong sebagai orang-orang yang berserah diri, dan supaya aku membacakan Al-Qur`an (kepada manusia).” [An-Naml: 91-92]

Kepada kaum mukminin, Allah ‘Azza wa Jalla menganjurkan,

إِنَّ الَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَنْفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلَانِيَةً يَرْجُونَ تِجَارَةً لَنْ تَبُورَ. لِيُوَفِّيَهُمْ أُجُورَهُمْ وَيَزِيدَهُمْ مِنْ فَضْلِهِ إِنَّهُ غَفُورٌ شَكُورٌ.

“Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca (tilawah) kitab Allah, mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka secara diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi. (Yakni) agar Dia menyempurnakan pahala untuk mereka dan menambah kepada mereka dari karunia-Nya. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.” [Fathir: 29-30]

Tidak diragukan bahwa membaca Al-Qur`an adalah salah satu tugas pokok seorang muslim dan muslimah serta sumber kebaikan dan kebahagiaan yang dia tidak bisa terlepas dari kehidupannya.

Membaca Al-Qur`an sesuai dengan perintah Allah ‘Azza wa Jalla akan mewariskan keimanan yang sangat agung di dalam Allah dan akan menambah keyakinan, ketenangan, dan kelembutan[1].

Allah Subhânahu wa Ta’âlâ berfirman,

وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ وَلَا يَزِيدُ الظَّالِمِينَ إِلَّا خَسَارًا.

“Dan dari Al-Qur`an, Kami menurunkan sesuatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman, sedang Al-Qur`an itu tidaklah menambah (sesuatu) kepada orang-orang zhalim, kecuali kerugian.” [Al-Isra`: 82]

Keutamaan dan manfaat membaca Al-Qur`an tentunya sangatlah banyak. Namun, yang menjadi masalah pada sebagian kaum muslimin pembaca Al-Qur`an adalah kurangnya pengaruh pada jiwa dalam membaca Al-Qur`an Al-Karim.

Oleh karena itu, pada tulisan ini, kami akan menjelaskan beberapa kiat yang bisa membantu seorang muslim dan muslimah agar hati dan jiwanya lebih tersentuh serta lebih membuat dia bisa cinta dan mengagungkan Al-Qur`an.

Berikut penjelasan beberapa kiat tersebut dengan memohon pertolongan kepada Allah.

Pertama, mengetahui keutamaan, keagungan derajat, dan ketinggian kedudukan Al-Qur`an sehingga seseorang membaca Al-Qur`an dengan penuh kegembiraan dan rasa harap, serta penuh penghormatan, pengagungan, dan rasa takut kepada Allah, Yang menurunkan Al-Qur`an tersebut. Allah Subhânahu wa Ta’âlâ berfirman,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُمْ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ. قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ.

“Wahai manusia, sesungguhnya telah datang pelajaran dari Rabb kalian kepada kalian, penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada, serta petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman. Katakanlah, ‘Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah mereka bergembira dengan itu. (Karunia Allah dan rahmat-Nya) itu adalah lebih baik daripada apa-apa yang mereka kumpulkan. ” [Yunus: 57-58]

Kedua, pengetahuan seorang hamba bahwa Al-Qur`an adalah kalamullah (firman Allah) yang merupakan sebaik-baik pembicaraan dan ucapan jujur yang teragung dan terbenar.

Mencermati bahwa Al-Qur`an adalah kalamullah akan membuat pembaca Al-Qur`an merasakan bahwa seakan-akan Allah berbicara kepadanya. Tentunya, pengagungan seperti ini akan berpengaruh kepada hati seorang hamba. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

ذَلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوبِ.

“Demikianlah (perintah Allah), dan barangsiapa yang mengagungkan syiar-syiar Allah, sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati.” [Al-Hajj: 32]

Ketiga, membaca Al-Qur`an dengan menadabburi dan mencermati kandungannya.

Karena, maksud utama penurunan Al-Qur`an adalah agar kita menadabburi ayat-ayat-Nya sebagaimana yang dijelaskan dalam firman-Nya,

كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ.

“Ini adalah sebuah kitab penuh berkah yang Kami turunkan kepadamu supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan agar orang-orang yang mempunyai pikiran mendapat pelajaran.” [Shad: 29]

Meninggalkan tadabbur terhadap Al-Qur`an akan menimbulkan kekerasan dalam hati. Allah Subhânahu wa Ta’âlâ menegaskan,

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَى قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا.

“Maka apakah mereka tidak menadabburi Al-Qur`an, ataukah hati mereka terkunci?” [Muhammad: 24]

Hendaknya diketahui bahwa menadabburi dan mencermati Al-Qur`an adalah lebih baik daripada sekadar membaca Al-Qur`an. Oleh karena itu, Ibnu Hajar Al-Asqalâny rahimahullâh berkata, “Siapa saja yang membaca (Al-Qur`an) dengan tartil dan mencermati (Al-Qur`an), dia bagaikan orang yang bersedekah dengan suatu permata yang sangat mahal.”[2]

Ibnul Qayyim rahimahullâh berkata, “Barangsiapa yang membaca Al-Qur`an dengan tafakkur (memikirkan dan merenunginya) hingga, jika melalui sebuah ayat yang dia perlukan dalam mengobati hatinya, dia mengulangi walaupun seratus kali, bahkan semalam penuh, karena membaca satu ayat dengan tafakkur dan memahami (ayat) itu adalah lebih baik daripada bacaan khatam tanpa tadabbur dan memahami. (Hal tersebut) juga lebih bermanfaat bagi hati dan lebih mengajak untuk memperoleh keimanan dan merasakan kemanisan Al-Qur`an.”[3]

Keempat, membaca Al-Qur`an dengan memohon perlindungan kepada Allah Ta’âlâ dari gangguan syaithan yang terkutuk. Allah ‘Azza wa Jalla memerintahkan,

فَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ.

“Apabila membaca Al-Qur`an, hendaklah engkau meminta perlindungan kepada Allah dari syaithan yang terkutuk.” [An-Nahl: 98]

Hendaknya dia membaca, “A’ûdzu billâhi minasy syaithânir rajîm,” dengan menyadari bahwa syaithan sungguh berusaha memalingkannya dari mengambil manfaat dan mengamalkan Al-Qur`an.

Kelima, membaca Al-Qur`an dengan rasa khusyu’. Allah telah memerintah, disertai dengan peringatan, kepada orang-orang yang beriman dalam firman-Nya,

أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ وَلَا يَكُونُوا كَالَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الْأَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ وَكَثِيرٌ مِنْهُمْ فَاسِقُونَ.

“Belumkah datang waktunya, bagi orang-orang yang beriman, untuk hati mereka khusyu’ dalam mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka). Janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al-Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka, (tetapi) kemudian hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang fasik.” [Al-Hadîd: 16]

Keenam, membaca Al-Qur`an secara tartil.

Allah telah memerintahkan dalam firman-Nya,

وَرَتِّلِ الْقُرْآنَ تَرْتِيلًا.

“Dan bacalah Al-Qur`an itu secara tartil (perlahan-lahan).” [Al-Muzzammil: 4]

Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam telah memberi contoh dengan membaca secara tartil dalam shalat malamnya. Jika melewati bacaan ayat yang mengandung tasbih, beliau bertasbih. Jika melewati bacaan ayat tentang rahmat, beliau berhenti dan memohon rahmat Allah. Bila melalui bacaan ayat tentang ayat adzab, beliau berlindung kepada Allah[4].

Dalam sebuah hadits[5], Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam mengerjakan shalat malam hanya dengan mengulangi membaca sebuah ayat, yaitu firman Allah Ta’âlâ,

إِنْ تُعَذِّبْهُمْ فَإِنَّهُمْ عِبَادُكَ وَإِنْ تَغْفِرْ لَهُمْ فَإِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ.

“Jika Engkau menyiksa mereka, sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba Engkau, tetapi jika Engkau mengampuni mereka, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” [Al-Maidah: 118]

 

Ketujuh, mempelajari kandungan dan tafsir Al-Qur`an dari para ulama.

Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam mengingatkan,

وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللهِ، يَتْلُونَ كِتَابَ اللهِ، وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ، إِلَّا نَزَلَتْ عَلَيْهِمِ السَّكِينَةُ، وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمُ الْمَلَائِكَةُ، وَذَكَرَهُمُ اللهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ.

“Tidaklah suatu kaum berkumpul di sebuah rumah (baca: masjid) di antara rumah-rumah Allah, yang mereka membaca kitab Allah dan saling mempelajari (kitab) tersebut di antara mereka, kecuali bahwa pasti turun ketenangan di tengah mereka, mereka akan diliputi rahmat, dinaungi oleh para malaikat, dan Allah akan menyebut mereka (di depan para malaikat) di sisi-Nya.”

Kedelapan, memahami makna tilawah Al-Qur`an yang sebenarnya.

Allah Subhânahu wa Ta’âlâ berfirman,

الَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَتْلُونَهُ حَقَّ تِلَاوَتِهِ أُولَئِكَ يُؤْمِنُونَ بِهِ وَمَنْ يَكْفُرْ بِهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ.

“Orang-orang yang telah Kami beri Al-Kitab, mereka menilawah (Al-Qur`an) dengan bacaan yang sebenarnya. Mereka itu beriman kepada (Al-Qur`an). Dan barangsiapa yang ingkar terhadap (Al-Qur`an), mereka itulah orang-orang yang merugi.” [Al-Baqarah: 121]

Tilawah terhadap Al-Qur`an adalah dengan tiga hal:

  1. Membacanya sesuai dengan ketentuan-ketentuan pembacaan Al-Qur`an yang ada di kalangan ahli qirâ`ah dan tajwid.
  2. Memahami kandungan dan penafsirannya.
  3. Mengimani dan mengamalkan kandungan dan hukum-hukumnya[6].

Kesembilan, mencontoh keadaan para nabi dan orang-orang shalih dalam membaca Al-Qur`an.

Salah satu sifat para malaikat, yang selalu taat dan takut kepada Allah ‘Azza wa Jalla, adalah membaca kalamullah sebagaimana dalam firman-Nya,

فَالتَّالِيَاتِ ذِكْرًا.

“Dan demi (rombongan malaikat) yang membacakan Kalamullah.” [Ash-Shaffat: 3]

Tentang para nabi, Allah Subhânahu wa Ta’âlâ berfirman,

أُولَئِكَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ مِنْ ذُرِّيَّةِ آدَمَ وَمِمَّنْ حَمَلْنَا مَعَ نُوحٍ وَمِنْ ذُرِّيَّةِ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْرَائِيلَ وَمِمَّنْ هَدَيْنَا وَاجْتَبَيْنَا إِذَا تُتْلَى عَلَيْهِمْ آيَاتُ الرَّحْمَنِ خَرُّوا سُجَّدًا وَبُكِيًّا.

“Mereka itu adalah orang-orang yang telah Allah beri nikmat, yaitu para nabi dari keturunan Adam, dari orang-orang yang Kami angkat bersama Nuh, dari keturunan Ibrahim dan Israil, serta dari orang-orang yang telah Kami beri petunjuk dan telah Kami pilih. Apabila ayat-ayat Allah Yang Maha Pemurah dibacakan kepada mereka, mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis.” [Maryam: 58]

Juga, Allah menjelaskan sifat orang-orang yang berilmu saat mendengar ayat-ayat Allah sebagaimana dalam firman-Nya,

إِنَّ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ مِنْ قَبْلِهِ إِذَا يُتْلَى عَلَيْهِمْ يَخِرُّونَ لِلْأَذْقَانِ سُجَّدًا. وَيَقُولُونَ سُبْحَانَ رَبِّنَا إِنْ كَانَ وَعْدُ رَبِّنَا لَمَفْعُولًا. وَيَخِرُّونَ لِلْأَذْقَانِ يَبْكُونَ وَيَزِيدُهُمْ خُشُوعًا.

“Sesungguhnya orang-orang yang diberi pengetahuan sebelumnya, apabila dibacakan Al-Qur`an kepada mereka, bersungkur di atas muka mereka sambil bersujud seraya berkata, ‘Maha Suci Rabb kami, sesungguhnya janji Rabb kami pasti dipenuhi.’ Dan mereka bersungkur di atas muka mereka sambil menangis, dan mereka pun bertambah khusyu’.” [Al-Isra`: 107-109]

Nabi kita, Muhammad shallallâhu ‘alaihi wa sallam, menangis pada banyak keadaan dalam membaca Al-Qur`an atau ketika mendengar bacaan Al-Qur`an para shahabat sebagaimana telah sah dalam sejumlah hadits.

Kesepuluh, kekhawatiran terhadap diri bila tergolong sebagai orang-orang yang meninggalkan dan mengacuhkan Al-Qur`an.

Allah Subhânahu wa Ta’âlâ telah mengingatkan,

وَقَالَ الرَّسُولُ يَا رَبِّ إِنَّ قَوْمِي اتَّخَذُوا هَذَا الْقُرْآنَ مَهْجُورًا.

“Berkatalah Rasul, ‘Wahai Rabb-ku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al-Qur`an itu sebagai sesuatu yang tidak diacuhkan.’.” [Al-Furqan: 30]

Ibnul Qayyim rahimahullâh menyebut lima bentuk tentang meninggalkan Al-Qur`an:

  1. Meninggalkan mendengar, mengimani, dan memperhatikan Al-Qur`an.
  2. Meninggalkan beramal dengan Al-Qur`an serta berhenti pada setiap halal dan haramnya.
  3. Meninggalkan berhukum dan tahâkum kepada Al-Qur`an.
  4. Meninggalkan tadabbur dan memahami (Al-Qur`an).
  5. Meninggalkan berobat dan mencari kesembuhan dengan (Al-Qur`an)[7].

Demikianlah sepuluh kiat agar hati lebih tersentuh ketika membaca Al-Qur`an. Semoga Allah membersihkan hati dan jiwa kita dari segala dosa dan maksiat, dari segala penyakit dan bahaya, serta semoga Allah senantiasa memerangi dan menyejukkan hati-hati kita dengan Al-Qur`an Al-Karim. Innahu waliyyu dzalika wal qadiru ‘alaihi wa huwa jawwadun karîm.

[Disarikan dari Makalah Tsamaniyyah Khathawât Min Ajl Qirâ’ah Mu`tsirah Li Al-Qur`ân Al-Karîm dengan banyak tambahan]

[1] Majmû’ Al-Fatâwâ 7/283 karya Ibnu Taimiyah.

[2] Fath AlBâry.

[3] Miftâh Dâr As-Sa’âdah.

[4] Diriwayatkan oleh Muslim.

[5] Diriwayatkan oleh Ahmad, An-Nasâ`iy, dan Ibnu Mâjah dengan sanad yang hasan. Bacalah Ashl Shifât Ash-Shalah 2/534-535 karya Al-Albâny.

[6] Ahkâm Min Al-Qur`ân Al-Karîm 1/322 karya Syaikh Shalih bin ‘Utsaimin.

[7] Al-Fawâ`id.

Silakan klik di sini untuk mengunduh

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Tulis komentar

Logged in as admin. Log out »




Tulisan lainnya

jannatul-firdaus.net @2018

Kiat-Kiat Agar Mudah Mengerjakan Shalat Malam


| Menu

| MENU

Bagikan…

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram



Kiat-Kiat Agar Mudah Mengerjakan Shalat Malam

  • Oleh : Ustadz Dzulqarnain Muhammad Sunusi hafizhahullah
  • (Pembina Peduli Dakwah)

Berikut beberapa kiat yang, insya Allah, sangat memudahkan seorang hamba untuk melaksanakan shalat malam.

(1). Mengikhlaskan amalan hanya untuk Allah sebagaimana Dia telah memerintahkan dalam firman-Nya,

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ

“Padahal mereka tidak disuruh, kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (hal menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat. Yang demikian itulah agama yang lurus.” [Al-Bayyinah: 5]

(2). Mengetahui keutamaan qiyamul lail dan kedudukan orang-orang yang mengerjakan ibadah tersebut di sisi Allah Ta’âlâ.

Hal tersebut karena siapa saja yang mengetahui keutamaan ibadah shalat malam, dia akan bersemangat untuk bermunajat kepada Rabb-nya dan bersimpuh dengan penuh penghambaan kepada-Nya. Hal ini tentunya dengan mengingat semua keutamaan yang telah diterangkan dalam banyak ayat dan hadits.

(3). Meninggalkan dosa dan maksiat karena dosa dan maksiat akan memalingkan hamba dari kebaikan.

Al-Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullâh berkata, “Apabila tidak mampu mengerjakan shalat malam dan puasa pada siang hari, engkau adalah orang yang terhalang dari (kebaikan) lagi terbelenggu. Dosa-dosamu telah membelenggumu.”[1]

(4). Menghadirkan di dalam diri bahwa Allah yang menyuruhya untuk menegakkan shalat malam itu.

Bila seorang hamba menyadari bahwa Rabb-nya, yang Maha Kaya lagi tidak memerlukan sesuatu apapun dari hamba, telah memerintahnya untuk mengerjakan shalat malam itu, hal itu tentu menunjukkan anjuran yang sangat penting bagi hamba guna mendapatkan kebaikan untuk dirinya sendiri. Bukankah Allah telah menyeru Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam dan umat beliau dalam firman-Nya,

يَا أَيُّهَا الْمُزَّمِّلُ. قُمِ اللَّيْلَ إِلَّا قَلِيلًا. نِصْفَهُ أَوِ انْقُصْ مِنْهُ قَلِيلًا. أَوْ زِدْ عَلَيْهِ وَرَتِّلِ الْقُرْآنَ تَرْتِيلًا

Wahai orang yang berselimut (Muhammad), bangunlah (untuk mengerjakan shalat) pada malam hari, kecuali sedikit (dari malam itu), (yaitu) seperduanya atau kurangilah sedikit dari seperdua itu, atau lebih dari seperdua itu. Dan bacalah Al-Qur`ân itu dengan perlahan-lahan.” [Al-Muzzammil: 1-4]

(5). Memperhatikan keadaan kaum salaf dan orang-orang shalih terdahulu, dari kalangan shahabat, tabi’in, dan setelahnya, tentang keseriusan mereka dalam hal mendulang pahala shalat malam ini.

Abu Dzar Al-Ghifary radhiyallâhu ‘anhu berkata, “Wahai sekalian manusia, sesungguhnya aku adalah penasihat untuk kalian lagi orang yang sangat mengasihi kalian, kerjakanlah shalat oleh kalian pada kegelapan malam guna kengerian (alam) kuburan, berpuasalah di dunia untuk terik panas hari kebangkitan, dan bersedekahlah sebagai rasa takut terhadap hari yang penuh dengan kesulitan. Wahai sekalian manusia, sesungguhnya aku adalah penasihat untuk kalian lagi orang yang sangat mengasihi kalian.”[2]

Tsabit bin Aslam Al-Bunany rahimahullâh berkata, “Tidak ada hal lezat yang saya temukan dalam hatiku melebihi qiyamul lail.” [3]

Sufyân Ats-Tsaury rahimahullâh berkata, “Apabila malam hari datang, saya pun bergembira. Bila siang hari datang, saya bersedih.” [4]

Hisyam bin Abi Abdillah Ad-Dastuwa`iy rahimahullâh berkata, “Sesungguhnya Allah mempunyai hamba-hamba yang menolak tidur pada malam hari karena mengkhawatirkan kematian saat mereka tidur.” [5]

Abu Sulaiman Ad-Dârâny rahimahullâh berkata, “Ahli ketaatan merasa lebih lezat dengan malam hari mereka daripada orang yang lalai dengan kelalaiannya. Andaikata bukan karena malam hari, niscaya saya tidak suka tetap hidup di dunia.” [6]

Ketika Yazîd Ar-Raqasiy rahimahullâh mendekati ajalnya, tampak tangisan dari beliau. Saat ditanya, “Apa yang membuatmu menangis?” Beliau menjawab, “Demi Allah, saya menangisi segala hal yang telah saya telantarkan berupa shalat lail dan puasa pada siang hari.” Beliau juga berkata, “… Wahai saudara-saudaraku, janganlah kalian tertipu dengan waktu muda kalian. Sungguh, bila sesuatu yang menimpaku, berupa kedahsyatan perkara (kematian) dan beratnya kepedihan maut, telah menimpa kalian, pastilah (kalian) hanya (akan berpikir) untuk keselamatan dan keselamatan, untuk kehati-hatian dan kehati-hatian. Bersegeralah, wahai saudara-saudaraku –semoga Allah merahmati kalian-.” [7]

Ishaq bin Suwaid Al-Bashry rahimahullâh berkata, “Mereka (para Salaf) memandang bahwa tamasya (itu) adalah dengan berpuasa pada siang hari dan mengerjakan shalat pada malam hari.” [8]

Adalah Malik bin Dînar rahimahullâh tidak tidur pada malam hari. Ketika ditanya, “Mengapa saya melihat manusia tidur pada malam hari, sedangkan engkau tidak?” Beliau menjawab, “Ingatan tentang neraka Jahannam tidak membiarkan aku untuk tidur.” [9]

Mu’âdzah bintu Abdillah rahimahullâh -yang menghidupkan malamnya dengan mengerjakan ibadah- berkata, “Saya takjub kepada mata (seseorang) yang tertidur, sedang dia mengetahui akan panjangnya tidur pada kegelapan kubur.” [10]

(6). Mengenal semangat syaithan untuk memalingkan manusia dari qiyamul lail.

Dalam hadits Abu Hurairah radhiyallâhu ‘anhu, Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يَعْقِدُ الشَّيْطَانُ عَلَى قَافِيَةِ رَأْسِ أَحَدِكُمْ ثَلاَثَ عُقَدٍ إِذَا نَامَ بِكُلِّ عُقْدَةٍ يَضْرِبُ عَلَيْكَ لَيْلاً طَوِيلاً فَإِذَا اسْتَيْقَظَ فَذَكَرَ اللَّهَ انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ وَإِذَا تَوَضَّأَ انْحَلَّتْ عُقْدَتَانِ فَإِذَا صَلَّى انْحَلَّتِ الْعُقَدُ فَأَصْبَحَ نَشِيطًا طَيِّبَ النَّفْسِ وَإِلاَّ أَصْبَحَ خَبِيثَ النَّفْسِ كَسْلاَنَ

“Syaithan mengikat tengkuk kepala salah seorang dari kalian sebanyak tiga ikatan ketika orang itu sedang tidur. Dia memukul setiap tempat ikatan (seraya berkata), ‘Malam yang panjang atas engkau, maka tidurlah.’ Apabila orang itu bangun kemudian menyebut nama Allah, terlepaslah satu ikatan. Apabila orang itu berwudhu, terlepaslah satu ikatan (yang lain). Apabila orang itu mengerjakan shalat, terlepaslah seluruh ikatannya. Orang itupun berada pada pagi hari dengan semangat dan jiwa yang baik. Kalau tidak (mengerjakan amalan-amalan tadi), orang itu akan berada pada pagi hari dalam keadaan jiwa yang jelek dan pemalas.” [11]

(7). Memendekkan angan-angan dan banyak mengingat kematian.

Ini adalah kaidah yang akan memacu semangat hamba dalam pelaksanaan ketaatan dan menghilangkan rasa malas. Dari Ibnu Umar, beliau berkata, “Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam memegang bahuku seraya berkata,

كُنْ فِى الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ ، أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ

‘Jadilah engkau di dunia seperti orang asing atau pengembara yang sekadar berlalu.’.”

Adalah Ibnu Umar berkata setelah itu, “Apabila berada pada waktu sore, janganlah engkau menunggu waktu pagi, dan, jika engkau berada pada waktu pagi, janganlah engkau menunggu waktu sore. Ambillah dari waktu sehatmu untuk waktu sakitmu, dan ambillah dari kehidupanmu untuk kematianmu.” [12]

(8). Mengingat nikmat kesehatan dan waktu luang.

Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda,

نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ ، الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ

Dua nikmat yang banyak manusia melalaikannya: kesehatan dan waktu luang.” [13]

Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallâhu ‘anhumâ, dari Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam, Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada seorang lelaki sembari menasihati lelaki tersebut,

اغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ : شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ ، وَصِحَتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ ، وَغِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ ، وَفَرَاغَكَ قَبْلَ شُغْلِكَ ، وَحَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ

“Manfaatkan lima perkara dengan segera sebelum (datang) lima perkara; waktu mudamu sebelum (datang) waktu tuamu, kesehatanmu sebelum (datang) sakitmu, kekayaanmu sebelum (datang) kefakiranmu, waktu luangmu sebelum (datang) waktu sibukmu, dan kehidupanmu sebelum (datang) kematianmu.” [14]

(9). Segera tidur pada awal malam.

Dalam hadits Abi Barzakh radhiyallâhu ‘anhu, beliau berkata,

وَكَانَ يَكْرَهُ النَّوْمَ قَبْلَهَا وَالْحَدِيثَ بَعْدَهَا

Adalah (Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam) membenci tidur sebelum (mengerjakan shalat) Isya dan berbincang-bincang setelah (mengerjakan shalat Isya) tersebut.” [15]

(10). Menjaga etika-etika tidur sesuai tuntunan

Sangat penting untuk menjaga etika-etika tidur yang dituntunkan oleh Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam, seperti tidur dalam keadaan berwudhu, membaca “tiga qul” (yakni surah Al-Ikhlash, Al-Falaq, dan An-Nâs), ayat kursi, dua ayat terakhir dari surah Al-Baqarah, dzikir-dzikir yang disyariatkan untuk dibaca ketika tidur, serta tidur dengan bertumpu di atas rusuk kanan. 

(11). Menghindari berbagai sebab yang mungkin melalaikan seorang hamba terhadap shalat malamnya.

Para ulama menyebutkan bahwa di antara sebab tersebut adalah terlalu banyak makan dan minum, terlalu meletihkan diri pada siang hari dengan berbagai amalan yang tidak bermanfaat, tidak melakukan qailûlah (tidur siang), dan selainnya.

Demikian beberapa kiat agar kita mudah mengerjakan shalat malam. Semoga risalah ini bermanfaat untuk seluruh kaum muslimin dan bisa menjadi pedoman dalam hal menghidupkan malam-malam penuh berkah pada bulan Ramadhan dan seluruh bulan lain. Âmîn, Yâ Rabbal ‘ÂlamînWallâhu Ta’âlâ A’lam.

[1] Al-Hilyah karya Abu Nu’aim 8/96.

[2] Az-Zuhd karya Al-Imam Ahmad hal. 148 -dengan perantaraan Ruhbânul Lail 1/328-.

[3] Lihatlah Sifât Ash-Shafwah 2/262 karya Ibnul Jauzy.

[4] Bacalah Al-Jahr wa At-Ta’dil 1/85 karya Ibnu Abi Hatim.

[5] Dikeluarkan oleh Ibnu Abid Dunyâ, dalam Kitâb At-Tahajjud wa Qiyâmil Lail no. 61, dan Muhammad bin Nashr Al-Marwazy, sebagaimana dalam Mukhtashar Qiyâmul Lail hal. 57.

[6] Disebutkan oleh Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah 9/275, Ibnul Jauzy dalam Sifât Ash-Shafwah 2/262, dan Al-Khathib dalam Tarikh Baghdad 10/248.

[7] Diriwayatkan oleh Ibnu ‘Asâkir dalam Tarikh-nya 65/92.

[8] Dikeluarkan oleh Ibnu Abid Dunyâ dalam Kitâb At-Tahajjud wa Qiyâmil Lail no. 35.

[9] Dikeluarkan oleh Ibnu Abid Dunyâ, dalam Kitâb At-Tahajjud wa Qiyâmil Lail no. 59, dan Muhammad bin Nashr Al-Marwazy, sebagaimana dalam Mukhtashar Qiyâmul Lail hlm. 76.

[10] Siyâr A’lam An-Nubalâ` 4/509.

[11] Diriwayatkan oleh Al-Bukhâry, Muslim, Abu Dâud, An-Nasâ`iy, dan Ibnu Majah.

[12] Diriwayatkan oleh Al-Bukhâry, At-Tirmidzy, dan Ibnu Majah, hanya saja Ibnu Majah tidak menyebutkan ucapan Ibnu ‘Umar. Selain itu, ada tambahan pada akhir riwayat hadits beliau, “… dan hitunglah dirimu dari penghuni kubur.”

[13] Diriwayatkan oleh Al-Bukhâry, At-Tirmidzy, dan Ibnu Majah.

[14] Diriwayatkan oleh Al-Hâkim dan selainnya. Dishahihkan oleh Al-Albâny.

[15] Diriwayatkan oleh Al-Bukhâry, Muslim, Abu Dâud, At-Tirmidzy, An-Nasâ`iy, dan Ibnu Majah.

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Tulis komentar

Logged in as admin. Log out »




Tulisan lainnya

jannatul-firdaus.net @2021

Meraih Pahala di Balik Rutinitas Harian

Bagikan…

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Meraih Pahala di Balik Rutinitas Harian

  • Oleh : Ustadz Syafaat Al-Munawiy hafizhahullah
  • (Pengajar Ma’had Subulus Salam Samaya, Gowa)[1]

Pernahkah anda membayangkan bahwa sebagian orang diganjar dengan pahala karena rutinitas dunia yang ia tunaikan? Mungkin hal itu tidak terlintas di benak kebanyakan orang di antara kita. Padahal perkara seperti itu bisa saja terjadi dengan sebab kehadiran niat yang suci.

Niat memiliki kedudukan yang agung dan tempat yang mulia di dalam syariat Islam. Bagaimana tidak? Niat merupakan syarat setiap amalan yang syar’i (amalan ibadah). Niat menjadi sebab diterimanya suatu amalan ketaatan disertai dengan mencocoki Sunnah Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam-.

Ini telah ditegaskan oleh Nabi kita Muhammad -shallallahu ‘alaihi wasallam- di dalam sebuah hadits yang masyhur :

«إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى» متفق عليه

Setiap amalan itu tergantung pada niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan balasan sesuai yang dia niatkan. [HR. Al-Bukhoriy (no. 1) dan Muslim (no. 1907)]

Syaikh Abdul Karim bin Abdillah Al-Khudhoir -hafizhahullah- berkata,

“Niat itu adalah syarat untuk benarnya (sahnya) setiap amalan yang syar’iy.  Dia adalah sumber diterimanya amalan disertai dengan mengikuti Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- dan mencocoki Sunnah. [Lihat Irsyadul Akhyar ‘Ilaa Syarhi Jawami’il Akhbar (hlm. 19)]

Tahukah anda bahwa ternyata niat juga memiliki pengaruh yang amat besar dan dapat membuahkan kesudahan yang baik pada aktivitas duniawi dan rutinitas harian kita (seperti makan, minum tidur, dan lain sebagainya)?

Aktivitas duniawi dan rutinitas harian ini pada asalnya bukan amalan ibadah. Namun, ia bisa bernilai ibadah dan berbuah pahala bagi pelakunya.

Lihat saja -misalnya- beberapa perbuatan dan aktivitas, seperti makan, minum,  tidur,  mandi, mencari rezeki dan yang semisalnya di antara amalan-amalan dan rutinitas duniawi. Semuanya bisa menjadi sumber pahala dan keutamaan bagi seseorang pengaruh niat yang mengiringinya.

Lalu bagaimana hal itu bisa terjadi? Sebuah pertanyaan penting yang harus kita terangkan bahwa seorang hamba ketika melakukan amalan dan rutinitas harian tersebut, ia meniatkan untuk mendekatkan dirinya kepada Allah -azza wa jalla-.

Ketika dia makan dan minum,  dia niatkan untuk mendapatkan kekuatan dalam beribadah,  dan dia tidur dengan niat agar bisa bangun shalat malam atau mengerjakan shalat subuh pada waktunya. Dia berolah raga dengan niat agar kuat dalam berjihad dan berdakwah. Dia mencari uang untuk menghidupi dan menafkahi keluarganya, dan agar dapat bersedekah dan berinfak dengan uang hasil kerjanya.

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’diy rahimahullahu- berkata,

“وكذلك تجري النية في المباحات والأمور الدنيوية. فإن من قصد بكسبه وأعماله الدنيوية والعادية الاستعانة بذلك على القيام بحق الله وقيامه بالواجبات والمستحبات، واستصحب هذه النية الصالحة في أكله وشربه ونومه وراحاته ومكاسبه: انقلبت عاداته عبادات، وبارك الله للعبد في أعماله، وفتح له من أبواب الخير والرزق أموراً لا يحتسبها ولا تخطر له على بال.

ومن فاتته هذه النية الصالحة لجهله أو تهاونه فلا يلومن إلا نفسه.” اهـ من بهجة قلوب الأبرار وقرة عيون الأخيار (ص: 12)

“Demikian pula niat itu berlaku pada amalan-amalan yang mubah dan perkara-perkara duniawiKarena, barang siapa yang meniatkan di dalam mencari harta serta amalan-amalan dunia dan kebiasaannya untuk menolong dirinya menunaikan hak Allah ta’ala dan menegakkan amalan-amalan yang wajib dan yang sunnah, lalu dia menyertakan niat yang baik ini pada makan, minum, tidur, istrahatnya, dan usaha-usahanya (dalam mencari rezeki), maka rutinitas-rutinitas ini akan berubah menjadi ibadah, dan Allah -azza wa jalla- akan memberi berkah kepada si hamba ini dalam amalannya, serta akan membukakan untuknya pintu-pintu kebaikan dan pintu-pintu rezeki (yang merupakan) perkara-perkara yang tidak pernah dia sangka dan tidak pernah terbetik dalam ingatannya.

Siapa saja yang luput darinya niat yang baik ini, karena kebodohannya atau peremehannya, maka janganlah dia mencela, kecuali dirinya sendiri.” [Lihat Bahjatu Qulubil Abrar  (hlm.12)]

Di dalam hadits di atas, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Setiap orang akan mendapatkan balasan sesuai yang dia niatkan.”

Syaikh Muhammad bin Abdillah bin Abdil Lathif Al-Jardaniy Ad-Dimyatiy Asy-Syafi’iy –rahimahullahu– berkata saat menerangkan potongan hadits tersebut,

“Sesungguhnya sabda Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- ini memberikan faedah bahwasanya amalan-amalan kebiasaan (rutinitas harian) akan menjadi amalan ketaatan, yang pelakunya akan diberi pahala apabila dia meniatkannya untuk mendekatkan dirinya kepada Allah -ta’ala-, seperti makan dan minum jika dia meniatkan untuk menguatkan dirinya dalam beribadah; tidur dia memaksudkan untuk istrahat agar terbangun menunaikan shalat subuh;  mendatangi istri (karena) dia inginkan menjaga kehormatan dari perbuatan zina dan untuk memperoleh keturunan; membersihkan diri untuk menolak bau yang akan mengganggu orang lain;  memberi infaq kepada istri, budak,  dan hewan ternak, sedang dia maksudkan untuk mengerjakan perintah syariat.” [Lihat AlJawahir Al-Lu’luiyyah fi Syarh AlArba’in AnNawawiyyah (hlm. 103-104)]

Dari sini, tampak jelas bahwa sepantasnyalah seseorang untuk selalu menghadirkan niat yang baik di dalam mengerjakan amalan-amalan dunia dan rutinitas harian agar berbuah pahala dan keutamaan baginya.

Wallahu a’lam

✍Ditulis di Ma’had Al-Ihsan Gowa,  tanggal 6 Robi’ul Akhir 1443 H, bertepatan dengan 9 Januari 2022 M.

————————-

Selesai diedit oleh Ustadz Abdul Qodir Abu Fa’izah Al-Bugisiy –hafizhahullah- pada hari Kamis, 9 Jumadal Akhiroh 1443 H.

[1] Ma’had Subulus Salam adalah sebuah pondok pesantren yang dirintis oleh Ustadz Fadhly Abu Harun Al-Makassariy –hafizhahullah-. Ma’had ini pada awal perintisannya bernama “Ma’had As-Sunnah Samaya”. Namun, karena sesuatu dan lain hal, namanya berubah menjadi Ma’had Subulus Salam yang berada di Dusun Samaya, Desa, Romangloe, Kecamatan Bontomarannu, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan 92171.

Alamatnya dapat anda kunjungi via link Google Maps berikut ini : https://goo.gl/maps/EenBACcq14PshTRHA

—————————————————————————–

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Tulisan lainnya

jannatul-firdaus.net @2018

Hukum Memaksa Anak Gadis Menikah dengan Seorang Pria

Bagikan…

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Hukum Memaksa Anak Gadis Menikah dengan Seorang Pria

  • Oleh : Al-Ustadz Abdul Qodir Abu Fa’izah hafizhahullah
  • [Pengajar dan Pembina Ma’had Al-Ihsan Gowa]

Sebuah realita yang terkadang muncul ke permukaan, adanya orang tua atau wali nikah yang memaksa anak perempuannya untuk menikah dengan seorang pria, sedangkan si anak tidak menyukai pria tersebut.

Lalu apa hukum pernikahan seorang wanita yang dipaksa oleh walinya untuk menikah, sedangkan ia tidak menyukai pria itu?

Jawabannya, kita serahkan kepada seorang ulama yang bernama Syaikh Muhammad bin Sholih Al-Utsaimin –rahimahullah-. Beliau berkata saat menjawab hal itu,

“فأي امرأة أجبرت على النكاح فنكاحها فاسد، سواء أجبرها أخوها أو عمها أو أبوها أو جدها، ليس لأحد أن يجبر امرأة على نكاح من لا ترغب.

كما أنه لا يحل للولي أن يمتنع من تزويج فتاة خطبها كفء ورغبت به.” اهـ

“Wanita manapun yang dipaksa menikah, maka pernikahannya itu rusak baik itu ia dipaksa oleh saudaranya, pamannya, ayahnya atau kakeknya. Tidak boleh bagi seseorang memaksa seorang wanita untuk menikahi orang yang tidak ia sukai, sebagaimana halnya tidak halal bagi walinya untuk menahan diri dari menikahkan seorang wanita yang telah dilamar oleh orang yang cocok baginya dan telah ia sukai.”

Sumber : Silsilah Al-Liqo’ AsySyahriy (20) – Syamilah.

—————————————————————————–

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Tulisan lainnya

Tulis komentar

Logged in as admin. Log out »




jannatul-firdaus.net @2018

Adab Safar yang Sering Dilupakan oleh Banyak Orang

Bagikan…

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Adab Safar yang Sering Dilupakan oleh Banyak Orang

  • Oleh : Al-Ustadz Abdul Qodir Abu Fa’izah hafizhahullah
  • [Pembina Ponpes Al-Ihsan Gowa]

Salah satu adab safar yang sering dilupakan oleh para saudara kita, ucapan doa yang disyariatkan oleh Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- dan diajarkan kepada para sahabat. Doa yang amat dibutuhkan oleh seorang dalam safar dan kehidupannya, baik di dunia, maupun di akhirat.

Seorang ulama tabi’in, Qoza’ah bin Yahya Al-Bashriy rahimahullah– menuturkan,

قَالَ لِى ابْنُ عُمَرَ هَلُمَّ أُوَدِّعْكَ كَمَا وَدَّعَنِى رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- : أَسْتَوْدِعُ اللَّهَ دِينَكَ وَأَمَانَتَكَ وَخَوَاتِيمَ عَمَلِكَ

“Ibnu Umar pernah berkata kepadaku, “Kemarilah!! Aku akan mengucapkan selamat kepadamu sebagaimana halnya Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- pernah mengucapkan selamat kepadaku,

أَسْتَوْدِعُ اللَّهَ دِينَكَ وَأَمَانَتَكَ وَخَوَاتِيمَ عَمَلِكَ

Aku titipkan kepada Allah agama, amanah dan penutup-penutup amalmu “. [HR. Abu Dawud dalam As-Sunan (no. 2600), Al-Hakim dalam Al-Mustadrok ala Ash-Shohihain (2/97/no. 2476), Ahmad dalam Al-Musnad (2/25/no. 4781) dan Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimasyqo (49/314-316). Dinyatakan shohih oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Ash-Shohihah (no. 14)]

Al-Imam Syarofuddin Ath-Thibiy –rahimahullah– berkata,

قوله: ((أستودع الله)) هو طلب حفظ الوديعة، وفيه نوع مشاكلة للتوديع، جعل دينه وأمانته من الودائع؛ لأن السفر يصيب الإنسان فيه المشقة والخوف، فيكون ذلك سبباً لإهمال بعض الدين، فدعا له النبي صلى الله عليه وسلم بالمعونة والتوفيق، ولا يخلو الرجل في سفره ذلك من الاشتغال بما يحتاج فيه إلي الأخذ والإعطاء

والمعاشرة مع الناس، فدعا له بحفظ الأمانة والاجتناب عن الخيانة، ثم إذا انقلب إلي أهله يكون مأمون العاقبة عما يسوؤه في الدين والدنيا”. الكاشف عن حقائق السنن – (6 / 1901_1902)

“Sabdanya, “Aku titipkan kepada Allah…”, ia merupakan permintaan penjagaan titipan. Di dalamnya terdapat semacam penitipan. Seseorang menjadikan agama dan amanahnya sebagai barang titipan. Karena, safar itu di dalamnya manusia akan tertimpa sesuatu berupa perkara yang memberatkan dan rasa takut, sehingga hal itu menjadi sebab bagi penelantaran sebagian urusan agama. Itulah sebabnya Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- mendoakan pertolongan dan taufiq bagi orang yang safar.

Seorang dalam safarnya tak akan lepas dari kesibukan dalam mengerjakan sesuatu yang ia butuhkan berupa mengambil, memberi dan mempergauli manusia. Itulah sebabnya Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- mendoakan baginya agar dijaga amanahnya dan dijauhkan dari khianat. Kemudian, bila ia kembali ke keluarganya, maka ia pun aman nasibnya dari sesuatu yang mencoreng dirinya, baik di dunia, maupun di akhirat”. [Lihat Tuhfah Al-Ahwadziy (9/284), Faidhul Qodir (5/96) dan Mirqotul Mafaatih (8/326)]

Hadits lain yang mengajarkan kita adab-adab safar, hadits dari Abdullah bin Umar -radhiyallahu anhuma-, ia berkata,

كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا وَدَّعَ رَجُلاً أَخَذَ بِيَدِهِ ، فَلاَ يَدَعُهَا حَتَّى يَكُونَ الرَّجُلُ هُوَ يَدَعُ يَدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، وَيَقُولُ : أَسْتَوْدِعِ اللَّهَ دِينَكَ وَأَمَانَتَكَ وَآخِرَ عَمَلِكَ.

“Dulu Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- bila melepaskan seseorang (ketika hendak safar,- pen.), maka beliau memegang tangannya. Beliau tak melepaskan tangannya sampai orang itulah yang melepaskan tangan Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- seraya berdoa (untuk orang itu),

أَسْتَوْدِعُ اللَّهَ دِينَكَ وَأَمَانَتَكَ وَآخِرَ عَمَلِكَ.

Aku titipkan kepada Allah agama, amanah dan penutup-penutup amalmu “. [HR. At-Tirmidziy dalam As-Sunan (2442), dan Ibnu Majah dalam As-Sunan (2826). Hadits ini di-shohih-kan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Shohih Al-Jami’ (4795)]

Al-Imam Abul Ulaa Muhammad Ibnu Abdir Rahim Al-Mubarokfuriy -rahimahullah- berkata,

أي فلا يترك يد ذلك الرجل من غاية التواضع ونهاية إظهار المحبة والرحمة  اهـ من تحفة الأحوذي – (9 / 284)

“Maksudnya, beliau tidak melepaskan tangan orang itu karena tingginya sifat tawadhu’ beliau dan puncak penampakan rasa cinta dan sayang kepadanya”. [Lihat Syarah Sunan At-Tirmidziy (9/284)]

Yang dimaksud dengan memegang tangan disini adalah berjabat tangan sebagaimana yang disebutkan dalam riwayat Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimasyqo (49/316) dari Qoza’ah, ia berkata,

كنت عند عبد الله بن عمر فأردت الانصراف فقال مكانك حتى أودعك كما ودعني رسول الله ( صلى الله عليه وسلم ) فأخذ بيدي فصافحني ثم قال أَسْتَوْدِعُ اللهَ دِيْنَكَ وَأَمَانَتَكَ وَخَوَاتِيْمَ عَمَلِكَ

“Dulu aku di sisi Abdullah bin Umar. Kemudian aku hendak pulang (safar). Beliau berkata, “Tetaplah di tempatmu sampai aku melepaskan kepergianmu sebagaimana dahulu Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- melepaskan kepergianku. Beliau (yakni, Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam-) memegang tanganku seraya menjabat tanganku, lalu berdoa,

 أَسْتَوْدِعُ اللهَ دِيْنَكَ وَأَمَانَتَكَ وَخَوَاتِيْمَ عَمَلِكَ

Aku titipkan kepada Allah agama, amanah dan penutup-penutup amalmu “.

Dahulu Rasulullah –Shallallahu alaihi wa sallam– bukan hanya satu-dua orang yang dilepas kepergiaannya dengan iringan doa yang berkah ini, bahkan beliau jika melepaskan kepergian pasukan, maka beliau memberikan wejangan kepada mereka, lalu mengucapkan doa di atas.

Abdullah Al-Khothmiy radhiyallahu anhu– berkata,

كَانَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- إِذَا أَرَادَ أَنْ يَسْتَوْدِعَ الْجَيْشَ قَالَ « أَسْتَوْدِعُ اللَّهَ دِينَكُمْ وَأَمَانَتَكُمْ وَخَوَاتِيمَ أَعْمَالِكُمْ ».

“Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- bila ingin melepaskan kepergian pasukan, maka beliau berdoa,

أَسْتَوْدِعُ اللَّهَ دِينَكُمْ وَأَمَانَتَكُمْ وَخَوَاتِيمَ أَعْمَالِكُمْ

“Aku titipkan kepada Allah agama, amanah dan penutup-penutup amal kalian”. [HR. Abu Dawud dalam As-Sunan (2601). Hadits ini dinilai shohih oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Takhrij Al-Misykah (no. 2436)]

Doa safar yang diajarkan oleh Nabi –Shallallahu alaihi wa sallam– kepada para sahabat –radhiyallahu anhum-, juga diajarkan oleh mereka kepada para tabi’in.

Mujahid -rahimahullah- berkata,

خرجت إلى العراق أنا ورجل معي فشيعنا عبد الله بن عمر فلما أراد أن يفارقنا قال : إنه ليس معي شيء أعطيكما ولكن سمعت رسول الله صلى الله عليه و سلم يقول : ( إذا استودع الله شيئا حفظه وإني أستودع الله دينكما وأمانتكما وخواتيم عملكما )

“Aku pernah mau keluar ke negeri Iraq bersama seorang lelaki. Abdullah bin Umar pun melepaskan kepergian kami. Tatkala beliau hendak meninggalkan kami, maka beliau berkata, “Sesungguhnya tak ada sesuatu bersamaku yang bisa aku berikan kepada kalian berdua. Akan tetapi, aku pernah mendengarkan Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda,

“Bila Allah dititipi sesuatu, maka ia akan menjaganya. Nah, sungguh aku menitipkan kepada Allah agama, amanah dan penutup-penutup amal kalian berdua”. [HR. Ibnu Hibban dalam Ash-Shohih (13571) dan Ath-Thobroniy dalam Al-Mu’jam Al-Kabir (17571), An-Nasa’iy dalam As-Sunan Al-Kubro (10343), Al-Baihaqiy dalam As-Sunan Al-Kubro (18358). Hadits ini di-shohih-kan oleh Al-Arna’uth dalam Takhrij Shohih Ibni Hibban (12/427)]

Para pembaca yang budiman, di dalam sejumlah hadits yang ada di depan kita terdapat berbagai macam faedah ilmu yang bisa kita petik berkaitan dengan sunnah dan adab yang semestinya dijaga saat melakukan safar:

1. Disyariatkan mengucapkan doa kepada seorang musafir saat melepaskan kepergiannya, yaitu doa yang diajarkan oleh Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-,

أَسْتَوْدِعُ اللهَ دِيْنَكَ وَأَمَانَتَكَ وَخَوَاتِيْمَ عَمَلِكَ

2.Berjabat tangan di saat bertemu dan berpisah adalah perkara yang disyariatkan.

Disana banyak sekali dalil yang menunjukkan disunnahkannya jabat tangan di saat bertemu dan berpisah.

Jabat tangan telah masyhur di kalangan para sahabat sejak zaman kenabian. Kebiasaan ini pertama kali digalakkan oleh kaum muslimin dari Yaman, lalu di-taqrir disetujui oleh Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam-.

Qotadah –rahimahullah– berkata kepada Anas –radhiyallahu anhu-,

أَكَانَتِ الْمُصَافَحَةُ فِي أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ نَعَمْ

“Apakah berjabat tangan ada di kalangan para sahabat Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-?” Beliau menjawab, “Ya”. [HR. Al-Bukhoriy dalam Shohih-nya (6263), At-Tirmidziy dalam Sunan-nya (2729)]

Semua ini mereka lakukan karena di dalamnya terdapat keutamaan yang besar. Rasulullah –Shallallahu alaihi wa sallam– bersabda,

مَا مِنْ مُسْلِمَيْنِ يَلْتَقِيَانِ فَيَتَصَافَحَانِ إِلاَّ غُفِرَ لَهُمَا قَبْلَ أَنْ يَفْتَرِقَا

“Tak ada dua orang muslim yang bertemu, lalu berjabatan tangan, kecuali keduanya akan diampuni sebelum keduanya berpisah”. [HR. Abu Dawud (5212) dan Ibnu Majah (3703). Hadits ini dinilai shohih oleh Syaikh Al-Albaniy -rahimahullah- dalam dalam Ash-Shohihah (525)]

Rasulullah –Shallallahu alaihi wa sallam– menggambarkan keutamaan berjabat tangan yang menjadi sebab bergugurannya dosa-dosa, dengan sabdanya,

إِنَّ الْمُؤْمِنَ إِذَا لَقِيَ الْمُؤْمِنَ فَسَلَّمَ عَلَيْهِ وَأَخَذَ بِيَدِهِ فَصَافَحَهُ تَنَاثَرَتْ خَطَايَاهُمَا كَمَا يَتَنَاثَرُ وَرَقُ الشَّجَرِ

“Sesungguhnya seorang mukmin bila menjumpai mukmin lain seraya memberikan salam kepadanya dan memegang tangannya, lalu menjabatinya, maka berguguranlah dosa-dosanya sebagaimana bergugurannya dedaunan pohon-pohon itu”. [HR. Ath-Thobroniy dalam Al-Awsath (245) Al-Baihaqiy dalam Syu’abul Iman (8953), dan Ad-Dailamiy dalam Musnad Al-Firdaus (714). Hadits ini dinilai shohih oleh shohih oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Ash-Shohihah (526) & (2692)]

3.Dianjurkan bagi seseorang untuk memberikan hadiah dan oleh-oleh kepada saudaranya, bila saudaranya kembali dan bersafar menuju kampung halamannya. Jika tidak ada yang bisa diberi, maka jangan lupa mendoakannya dengan doa safar tersebut.

4.Jabat tangan menunjukkan kedekatan dan solidaritas kaum muslimin. Itulah sebabnya Rasulullah –Shallallahu alaihi wa sallam– menganjurkan hal seperti ini, bahkan menjanjikan ampunan dosa bagi orang yang melakukannya. Namun disini perlu kami ingatkan bahwa jabat tangan jangan dikhususkan usai sholat, sebab itu bid’ah!!

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Tulisan lainnya

Tulis komentar

Logged in as admin. Log out »




jannatul-firdaus.net @2018

Virus-Virus Ganas dalam Kehidupan

Bagikan…

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Virus-Virus Ganas dalam Kehidupan

  • Oleh : Al-Ustadz Abdul Qodir Abu Fa’izah hafizhahullah
  • [Pembina Ponpes Al-Ihsan Gowa]

Mungkin setiap orang diantara kita sudah pernah mendengar istilah “virus”. Virus berasal dari bahasa latin yang berarti racun.

Virus secara istilah adalah mikro organisme yang tidak dapat dilihat dengan menggunakan mikroskop biasa, hanya dapat dilihat dengan mikroskop elektron.

Walaupun ukurannya sangat kecil, tapi bahaya dan keganasannya mampu untuk membunuh ribuan nyawa.

Di dunia ini, sangat banyak virus-virus yang bertebaran. Mulai dari yang ringan sampai yang terganas.

Dalam edisi kali ini, kami akan mengulas tentang beberapa virus ganas dalam kehidupan manusia :

  • Virus HIV

Virus ini termasuk salah satu virus yang mematikan. Virus ini telah banyak merenggut korban di seluruh negara yang ada.

Virus ganas ini tersebar melalui hubungan badan, transfusi darah, jarum suntik dan lain-lain.

Tapi kebanyakannya virus ini tersebar dan mewabah melalui hubungan badan dengan bergonta-ganti pasangan.

Inilah yang kita saksikan di zaman ini, banyaknya orang mengidap penyakit AIDS akibat pergaulan bebas.

Mereka tidak tahu dan tidak mau tahu lagi aturan agama. Sebab mereka menyangka bahwa agama itu hanya mengekang gerak dan mengungkung kebebasan mereka.

Akhirnya perzinaan merajalela tanpa bisa dibendung lagi. Padahal Allah -Subhana Wa Ta’ala- telah memerintahkan kita untuk menjauhi zina.

Allah -Azza wa Jalla- berfirman,

{وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا } [الإسراء: 32]

“Dan janganlah kamu mendekati zina; Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. dan suatu jalan yang buruk”. (QS. Al-Isra’ : 32)

Allah telah melarang hamba-Nya untuk mendekati perzinaan, karena zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.

Lantaran itu, segala hal yang bisa mengantarkan kepada bentuk perzinaan telah diharamkan pula oleh Allah.

Pendorong-pendorong dan pengantar menuju zina banyak sekali ragamnya, misalnya: memandang lawan jenis, berduaan, bersentuhan, berciuman, berpelukan, mengucapkan ucapan-ucapan percintaan yang lembut lagi merayu, berpacaran, memakai pakaian seksi dan menampakkan aurat.

Masalahnya semakin parah di zaman ini karena banyaknya fasilitas dan teknologi yang ikut menyemarakkannya, mulai dari televisi, koran, majalah, HP, internet, radio, pakaian, reklame beserta berbagai acara yang mengajak manusia kepada zina.

Namun kita sesalkan, banyak manusia yang tidak mengindahkan larangan tuhannya, justru berlomba-lomba melakukannya.

Lihatlah anak muda sekarang!! Mereka merasa bangga dan jantan  jika sudah berzina dengan pacarnya atau wanita lainnya!! Na’udzu billah!!!

Lebih tragis lagi, sebagian diantara mereka menjadikan zina sebagai “jalan keluar” (baca: jalan konyol), ketika hubungan pacaran mereka tidak direstui oleh orang tua.

Tempat-tempat pelacuran semakin ramai dan semakin kurangnya keprihatinan banyak pihak tentang fenomena yang buruk ini!

Karenanya, tidak heran jika Allah -Subhana Wa Ta’ala-  menurunkan sedikit adzab-Nya kepada umat manusia berupa penyakit-penyakit diantaranya AIDS, untuk menyadarkan dari kedurhakaan mereka.

Allah -Tabara wa Ta’ala- berfirman,

{ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ } [الروم: 41]

“Telah tampak kerusakan di darat dan di lautan, disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (Q.S. Ar-Rum: 41 )

Ahli Tafsir Jazirah Arab, Syaik Abdur Rahman bin Nashir As-Sa’diy –rahimahullah– berkata ketika menafsirkan ayat di atas,

“أي: استعلن الفساد في البر والبحر أي: فساد معايشهم ونقصها وحلول الآفات بها، وفي أنفسهم من الأمراض والوباء وغير ذلك، وذلك بسبب ما قدمت أيديهم من الأعمال الفاسدة المفسدة بطبعها.” اهـ من تيسير الكريم الرحمن (ص: 643)

“Ditampakkan kerusakan di darat dan di laut, yaitu rusaknya kehidupan mereka, timbulnya berbagai musibah dan berbagai penyakit, wabah dan lainnya akan menimpa mereka. Semuanya disebabkan oleh perbuatan dosa mereka berupa amalan-amalan yang rusak dan merusak kehidupan”. [Lihat Taisir Al-Karim Ar-Rahman (hal. 642), tahqiq Abdur Rahman Al-Luwaihiq, cet. Mu’assasah Ar-Risalah, 1420 H]

Seorang ulama Tabi’in, Al-Imam Abul Aliyah –rahimahullah– berkata,

مَنْ عَصَى اللهَ فِي اْلأَرْضِ فَقَدْ أَفْسَدَ فِي اْلأَرْضِ؛ لأَنَّ صَلاَحَ اْلأَرْضِ وَالسَّمَاءِ بِالطَّاعَةِ

Barangsiapa yang bermaksiat (durhaka) kepada Allah di bumi, maka sungguh ia telah melakukan kerusakan di bumi, karena baiknya bumi dan langit dengan ketaatan”. [Lihat Tafsir Ibnu Katsir (6/320)]

Demikianlah jika kekejian (zina) dan maksiat tersebar dimana-mana, Allah akan datangkan musibah demi musibah atas manusia.

Jangan kita menyangka bahwa kerusakan dan musibah yang menimpa kita, hanya terjadi begitu saja, tanpa sebab!! Bahkan ia terjadi karena maksiat kita.

Rasulullah –Sallallahu ‘alaihi wa sallam– bersabda,

لَمْ تَظْهَرْ اَلْفَاحِشَةُ فِيْ قَوْمٍ قَطُّ حَتَّى يُعْلِنُوْا بِهَا إِلاَّ فَشَا فِيْهِمُ الطَّاُعُوْنُ وَاْلأَوْجَاعُ الَّتِيْ لَمْ تَكُنْ مَضَتْ فِيْ أَسْلاَفِهِمُ الَّذِيْنَ مَضَوْا

Kekejian (zina) tidaklah bertebaran pada suatu kaum sampai-sampai mereka melakukannya dengan terang-terangan, kecuali akan tersebar wabah tha’un (penyakit pes) dan berbagai macam wabah penyakit lainnya yang tidak pernah menyerang para pendahulu mereka yang telah berlalu. [HR. Ibnu Majah dalam As-Sunan (4019), dan lainnya. Hadits ini di-shohih-kan oleh Al-Albaniy –rahimahullah– dalam As-Silsilah Ash-shahihah (106)]

  • Virus Komputer

Virus computer adalah program ilegal yang dimasukkan ke dalam sistem komputer melalui jaringan atau disket, atau yang lainnya, sehingga menyebar dan merusak sistem yang ada.

Virus ini berasal dari ulah tangan orang-orang yang tidak bertanggung jawab dan tidak berperasaan.

Mereka membuat virus agar merusak komputer atau menghilangkan data  dan hasil usaha keras orang lain.

Tentu hal ini adalah suatu perbuatan yang tercela dan sangat merugikan orang lain.

Oleh karenanya, perbuatan ini diharamkan dalam agama kita dari beberapa sisi, diantaranya:

  1. a)Menzholimi Orang Lain.

Para pembuat virus itu tidak menyadari bahwa mereka telah menempatkan dirinya sendiri dalam situasi yang berbahaya.

Sebab dengan virus yang mereka ciptakan itu, akan menjadikan mereka sebagai orang yang zholim, karena telah merugikan orang lain.

Padahal Allah –Azza wa Jalla– berfirman,

{إِنَّهُ لَا يُفْلِحُ الظَّالِمُونَ } [الأنعام: 135]

“Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu tidak akan mendapatkan keberuntungan”. (Q.S. Al-An’am: 135)

Allah menjelaskan bahwa orang yang zholim tidak akan mendapatkan keberuntungan di dunia, terlebih lagi di akhirat.

Di dunia, ia akan dibenci dan senantiasa didoakan dengan kejelekan sampai ia terkena laknat Allah dan manusia.

Jika para pembuat ini tidak segera bertobat atas dosa-dosa itu kepada Allah –azza wa jalla-, maka tidak ada tempat kembali yang pantas bagi orang yang zholim, melainkan hanya neraka, sebagaimana firman-Nya,

{وَمَأْوَاهُمُ النَّارُ وَبِئْسَ مَثْوَى الظَّالِمِينَ } [آل عمران: 151]

“Tempat kembali mereka ialah neraka; dan itulah seburuk-buruk tempat tinggal orang-orang yang zhalim”. (Q.S. Ali-Imron: 151)

Di akhirat, dia akan menjadi orang yang sangat menyesal terhadap perbuatannya, saat ia di selimuti oleh kegelapan yang lahir dari kezhalimannya.

Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda,

اِتَّقُوْا الظُّلْمَ فَإِنَّ الظُّلْمَ ظُلُمَاتٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Takutlah terhadap perbuatan zholim, sebab kezholiman adalah kegelapan di atas kegelapan pada hari kiamat”. [HR. Al-Bukhary dalam Shohih-nya(2447), Muslim dalam Shohih-nya (2579)]

  1. b)Merugikan Orang Lain.

Adanya virus  tentu akan merugikan  para korbannya. Data super penting, file yang dikerja dengan susah payah dan program-program kesayangan ludes dimakan si jago virus.

Hal ini sangat merugikan orang lain dan bertentangan dengan syariat Islam yang mulia.

Di dalam Islam, kita dilarang untuk merugikan orang lain dalam segala perkara.

Allah –Subhana Wa Ta’ala– berfirman ,

{وَيْلٌ لِلْمُطَفِّفِينَ (1) الَّذِينَ إِذَا اكْتَالُوا عَلَى النَّاسِ يَسْتَوْفُونَ (2) وَإِذَا كَالُوهُمْ أَوْ وَزَنُوهُمْ يُخْسِرُونَ (3)} [المطففين: 1 – 3]

“Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang,  (yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi, dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi”.(Q.S. Al-Muthoffifin: 1-3)

Allah mengancam orang-orang yang curang dalam timbangan dan takaran, karena hal itu akan merugikan orang lain dan menyebabkan permusuhan dan kebencian.

Inilah yang disebut kezhaliman. Karenanya, Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- mengecam orang yang mau merugikan orang lain.

Abu Hurairah -radhiyallahu anhu- berkata,

مَرَّ عَلَى صُبْرَةِ طَعَامٍ، فَأَدْخَلَ يَدَهُ فِيهَا، فَنَالَتْ أَصَابِعُهُ بَلَلًا، فَقَالَ : مَا هَذَا، يَا صَاحِبَ الطَّعَامِ؟ قَالَ : أَصَابَتْهُ السَّمَاءُ، يَا رَسُولَ اللَّهِ، قَالَ : أَفَلَا جَعَلْتَهُ فَوْقَ الطَّعَامِ، كَيْ يَرَاهُ النَّاسُ؟ مَنْ غَشَّ فَلَيْسَ مِنِّي!

“Rasulullah melewati setumpuk makanan, lalu beliau memasukkan tangannya ke dalamnya, kemudian tangan beliau menyentuh sesuatu yang basah, maka beliau bertanya, “Apa ini wahai pemilik makanan?” Pemiliknya menjawab, “Makanan tersebut terkena air hujan wahai Rasulullah”. Beliau bersabda, “Mengapa kamu tidak meletakkannya di bagian atas makanan agar manusia dapat melihatnya. Barangsiapa menipu, maka dia bukan dari golongan kami”.[HR. Muslim dalam Kitab Al-Iman (102)]

Oleh karenanya Rasulullah –Sallallahu ‘alaihi wa sallam– telah memutuskan bahwa tidak boleh membahayakan dan merugikan orang lain dalam sabdanya,

لَا ضَرَرَ وَلَا ضِرَارَ

“Tidak boleh berbuat mudharat dan hal yang menimbulkan mudharat.” [HR. Ibnu Majah (2341). Di-shohih-kan oleh Al-Albaniy dalam Ash-Shohihah (no. 250)]

Syaikh Abdul Muhsin Al-Abbad –hafizhohullah– berkata, “Wajib bagi seorang muslim untuk tidak memudharati orang lain karena sengaja, atau tanpa sengaja”. [Lihat Fathul Qowiy Al-Matiin (hal. 101)]

  • Virus Tasyabbuh

Virus ini jauh lebih ganas daripada dua virus yang telah kami sebutkan. Sebab virus ini menyerang hampir di seluruh lini kehidupan kaum muslimin.

Virus ini sangat hebat karena berhasil masuk pada seluruh lapisan kaum muslimin. Mulai anak-anak sampai kakek-kakek, yang kaya maupun yang miskin, perempuan maupun laki-laki, ustadz  maupun anak muda berandalan.

Semua terinfeksi dengan virus ini, kecuali orang yang Allah rahmati dari kalangan pengikut Nabi –Shallallahu alaihi wa sallam- yang setia.

Itulah virus tasyabbuh (اَلتَّشَبُّهُ). Tasyabbuh artinya menyerupakan diri dengan orang kafir dalam hal ibadah, tradisi, adat istiadat, cara berpakaian, gaya bicara, penampilan dan sebagainya.

Sesungguhnya Allah –Azza wa Jalla– telah menyempurnakan agamanya sehingga kaum muslimin tidak butuh lagi dengan selainnya.

Seluruhnya telah terkandung di dalam Al-Qur’an baik dalam makna yang tersurat maupun tersirat, ketetapan secara nash maupun dalil-dalil umum.

Allah -Subhana Wa Ta’ala- berfirman,

{مَا فَرَّطْنَا فِي الْكِتَابِ مِنْ شَيْءٍ } [الأنعام: 38]

Tiadalah Kami alpakan sesuatupun dalam Al-Kitab” (Q.S. Al-An’am: 38)

Sayangnya kaum muslimin justru meninggalkan tuntunan agamanya dan mengambil gaya hidup dan pemikiran orang-orang kafir sebagai panutannya. 

Perhatikanlah! remaja-remaja yang “mejeng” di mall-mall, pinggir-pinggir jalan atau di pusat-pusat hiburan, maka kita akan melihat pemandangan yang sangat mengherankan.

Yang laki-laki kepalanya botak sebelah, rambutnya dicat, pakai anting-anting, kalung, dan lain sebagainya. wanitanya pun tak mau kalah, mereka tidak malu lagi dengan pakaian ketat yang kelihatan pusarnya, rok mini dengan kaos you can see, dan potongan rambut yang tidak karuan.

Yang lebih tragisnya lagi, ketika mengikuti orang-orang kafir dalam perkara-perkara ibadah. Lihatlah ketika orang-orang Nashrani merayakan tahun baru mereka, maka sebagian umat Islam mengikuti mereka dalam merayakan tahun baru hijriyah atau tahun baru Masehi itu sendiri.

Ketika orang Nashrani merayakan kenaikan Isa Al-Masih, maka umat Islam mengikuti mereka dengan merayakan Isra’ dan Mi’raj.

Ketika orang Nashrani merayakan hari lahirnya Isa Al-Masih, maka umat Islam mengikuti mereka dengan merayakan maulid Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam-, dan lain-lain.

Alangkah benarnya sabda Nabi -Sallallahu ‘alaihi wa sallam-,

لَتَتَّبِعُنَّ سُنَنَ مَنْ قَبْلَكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرِاعٍ حَتَّى لَوْ سَلَكُوْا جُحْرَ ضَبٍّ لَسَلَكْتُمُوْهُ  قُلْنَا يَا رَسُوْلَ اللهِ الْيَهُوْدُ وَالنَّصَارَى ؟ قَالَ فَمَنْ ؟

Sungguh kalian akan mengikuti jejak umat-umat sebelum kalian sejengkal demi sejengkal, sehingga kalau mereka masuk ke dalam lubang biawak, niscaya kalian pun akan masuk ke dalamnya”. Para sahabat bertanya: “Ya Rasulullah, apakah kaum Yahudi dan Nashara? Maka beliau menjawab:” Siapa lagi (kalau bukan mereka)?”.[HR. Bukhariy dalam Shohih-nya (3269 & 6889), Muslim dalam Shohih-nya (2669), Ahmad dalam Musnad-nya (11817&11861)]

Inilah beberapa virus ganas yang dapat menghacurkan kehidupan dunia dan akhirat seseorang. Semoga kita semua dijauhkan oleh Allah darinya, aamiin!!

—————————————————————————–

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Tulisan lainnya

Tulis komentar

Logged in as admin. Log out »




jannatul-firdaus.net @2018

Hati-hati Memilih Teman Bergaul

Bagikan…

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Hati-hati Memilih Teman Bergaul

  • Oleh : Al-Ustadz Abdul Qodir Abu Fa’izah hafizhahullah
  • [Pembina Ponpes Al-Ihsan Gowa]

Dengan nikmat Allah yang begitu besar dan luas, Dia menjadikan manusia beraneka ragam bentuk dan warnanya.

Ada yang berkulit putih, hitam, coklat dan merah. Ada yang berpostur besar, kecil, tinggi dan pendek.

Itu semua terjadi karena ilmu Allah yang maha luas dan hikmah yang begitu dalam tentang keanekaragaman tersebut.

Jika tidak ada perbedaan penciptaan, maka akan terjadi kekacauan yang besar pada urusan manusia.

Akibatnya, seorang penjual tidak akan mengenal lagi yang mana pembelinya.

Seorang  yang berutang tidak mengetahui kepada siapa ia harus mengembalikan uang yang dipinjamnya.

Pengantin pria tidak lagi mengenal pengantin wanitanya dan sebaliknya.

Jadi, perbedaan tersebut membuat kita saling mengenal antara satu dengan  yang lainnya.

Allah –Azza wa Jalla– berfirman dalam Surah Al-Hujuraat (13),

{يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ } [الحجرات: 13]

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal”

Muhammad Al-Amin bin Muhammad Asy-Syinqithiy rahimahullah– berkata dalam menafsirkan ayat di atas,

”بَيَّنَ تَعَالَى أَنَّهُ جَعَلَهُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِأَجْلِ أَنْ يَتَعَارَفُوا أَيْ يَعْرِفُ بَعْضُهُمْ بَعْضًا، وَيَتَمَيَّزُ بَعْضُهُمْ عَنْ بَعْضٍ لَا لِأَجْلِ أَنْ يَفْتَخِرَ بَعْضُهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَيَتَطَاوَلَ عَلَيْهِ.

وَذَلِكَ يَدُلُّ عَلَى أَنَّ كَوْنَ بَعْضِهِمْ أَفْضَلَ مِنْ بَعْضٍ وَأَكْرَمَ مِنْهُ إِنَّمَا يَكُونُ بِسَبَبٍ آخَرَ غَيْرِ الْأَنْسَابِ.” اهـ من أضواء البيان في إيضاح القرآن بالقرآن (5/ 170)

Allah -Subhana Wa Ta’ala- menjelaskan bahwa ia telah menciptakan manusia berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar saling mengenal antara satu dan yang lainnya. Sebagian dari mereka bisa terbedakan dari sebagian yang lain, bukan untuk berbangga-bangga dan menyombongkan diri dengannya. Hal itu menunjukkan juga tentang kondisi sebagian mereka lebih utama dari sebagian yang lain. Sedang orang yang paling mulia diantara mereka, hanya bisa di dapatkan dengan ketakwaan, bukan dengan nasab”. [Lihat Adhwaa’ Al-Bayan (5/170) karya Asy-Syinqithiy, cet. Dar Ihyaa’ At-Turots Al-Arobiy, 1417 H]

Allah telah memberikan keterangan bahwa manusia telah diciptakan secara berbangsa-bangsa dan bersuku-suku.

Selanjutnya Allah kelompokkan orang-orang diantara mereka, ada yang baik dan yang buruk.

Setiap kelompok akan memiliki teman dan kebiasaan yang berbeda dengan yang lainnya.

Orang yang baik akan memiliki teman yang baik. Sebaliknya, orang yang buruk akan memiliki teman yang buruk pula.

Rasululllah –Shallallahu alaihi wa sallam– bersabda,

الْأَرْوَاحُ جُنُودٌ مُجَنَّدَةٌ فَمَا تَعَارَفَ مِنْهَا ائْتَلَفَ وَمَا تَنَاكَرَ مِنْهَا اخْتَلَفَ

Roh-roh itu seperti prajurit yang berkelompok-kelompok, jika saling mengenal, mereka akan menjadi akrab, dan jika saling bermusuhan, maka mereka akan saling berselisih.”[HR. Al-Bukhari dalam Kitab Ahadits Al-Anbiyaa’ (no. 3336) Muslim (2638) dari sahabat yang berbeda]

Al-Imam Abu Sulaiman Al-Khoththobiy –rahimahullah– berkata,

“يُحْتَمَلُ أَنْ يَكُونَ إِشَارَةً إِلَى مَعْنَى التَّشَاكُلِ فِي الْخَيْرِ وَالشَّرِّ وَالصَّلَاحِ وَالْفَسَادِ وَأَنَّ الْخَيِّرَ مِنَ النَّاسِ يَحِنُّ إِلَى شَكْلِهِ وَالشِّرِّيرَ نَظِيرُ ذَلِكَ يَمِيلُ إِلَى نَظِيرِهِ فَتَعَارُفُ الْأَرْوَاحِ يَقَعُ بِحَسَبِ الطِّبَاعِ الَّتِي جُبِلَتْ عَلَيْهَا مِنْ خَيْرٍ وَشَرٍّ فَإِذَا اتَّفَقَتْ تَعَارَفَتْ وَإِذَا اخْتَلَفَتْ تَنَاكَرَتْ.” اهـ من فتح الباري لابن حجر (6/ 446)

“Mungkin ini adalah isyarat tentang makna kesamaan dalam kebaikan dan keburukan, kesholihan dan kerusakan. Orang yang baik akan cenderung kepada sesamanya. Orang yang buruk sama halnya akan condong kepada sesamanya. Saling berkenalannya roh terjadi berdasarkan tabiat yang ia diciptakan atasnya berupa kebaikan dan keburukan. Bila ia sama, maka ia akan saling mengenal dan bila ia berbeda, maka ia akan saling bermusuhan”. [Lihat Fathul Bari (6/446), cet. Darus Salam, 1421 H]

Setiap roh telah dikelompokkan oleh Allah -Azza wa Jalla– sejak dahulu sebelum mereka diciptakan.

Lantaran itu, seseorang ketika di dunia akan mencari temannya yang dulu telah dikelompokkan bersama dengannya.

Seorang yang suka bermaksiat, akan bergabung dengan orang-orang yang setipe dengannya.

Seorang pendusta akan mencari para pendusta yang lainnya sebagai kawannya.

Seorang pencuri akan bergabung dengan kawanan pencurinya.

Orang yang jujur dan shalih akan mencari orang yang shalih juga.

Semuanya akan mencari pasangan dan bala tentaranya masing-masing.

Hadits di atas memperingatkan kepada kita agar berhati-hati dalam memilih teman duduk dan bergaul. Jangan sampai memilih orang yang buruk dalam kehidupan ini.

Sebab, hal itu menjadi tanda bahwa roh kita sebenarnya telah dikelompokkan dengan roh orang yang jelek amalannya.

Cukuplah hal itu sebagai suatu kerugian jika kita memilih teman duduk yang amalannya akan memberikan pengaruh buruk kepada kita.

Hal itu sebagaimana sabda Nabi -Sallallahu ‘alaihi wa sallam- ,

مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالْجَلِيسِ السَّوْءِ كَمَثَلِ صَاحِبِ الْمِسْكِ وَكِيرِ الْحَدَّادِ لَا يَعْدَمُكَ مِنْ صَاحِبِ الْمِسْكِ إِمَّا تَشْتَرِيهِ أَوْ تَجِدُ رِيحَهُ وَكِيرُ الْحَدَّادِ يُحْرِقُ بَدَنَكَ أَوْ ثَوْبَكَ أَوْ تَجِدُ مِنْهُ رِيحًا خَبِيثَةً

“Perumpamaan orang yang bergaul dengan orang shalih dan orang yang bergaul dengan orang buruk seperti penjual minyak wangi dan tukang tempa besi. Pasti kau dapatkan dari pedagang minyak wangi apakah kamu membeli minyak wanginya atau sekedar mendapatkan bau wewangiannya, sedangkan dari tukang tempa besi akan membakar badanmu atau kainmu atau kamu akan mendapatkan bau yang tidak sedap”.”. [HR. Al-Bukhoriy dalam Kitab Adz-Dzaba’ih wa Ash-Shoid (5214), dan Muslim dalam Kitab Al-Birr wa Ash-Shilah (2628)]

Al-Imam Abu Zakariyya Yahya bin Syarof An-Nawawi -rahimahullah- berkata,

“وَفِيهِ فَضِيلَةُ مُجَالَسَةِ الصَّالِحِينَ وَأَهْلِ الْخَيْرِ وَالْمُرُوءَةِ وَمَكَارِمِ الْأَخْلَاقِ وَالْوَرَعِ وَالْعِلْمِ وَالْأَدَبِ وَالنَّهْيُ عَنْ مُجَالَسَةِ أَهْلِ الشَّرِّ وَأَهْلِ الْبِدَعِ وَمَنْ يَغْتَابُ النَّاسَ أَوْ يَكْثُرُ فُجْرُهُ وَبَطَالَتُهُ وَنَحْوُ ذَلِكَ مِنَ الْأَنْوَاعِ الْمَذْمُومَةِ.” اهـ من شرح النووي على مسلم (16/ 178)

“Dalam ucapan Rasulullah -Sallallahu ‘alaihi wa sallam-  ini terkandung keutamaan duduk bersama orang-orang yang shalih, yang memiliki kebaikan, muru`ah (citra diri), akhlak yang mulia, wara’, ilmu serta adab. Juga terkandung larangan duduk bersama orang-orang yang jelek, ahlul bid’ah, orang yang suka menggunjing orang lain, atau sering melakukan perbuatan fajir, banyak mengganggu, dan berbagai macam perbuatan tercela lainnya”. [Lihat Syarh Shahih Muslim (16/178), cet. Dar Ihyaa’ At-Turots al-Arobiy, 1392 H]

Seorang yang cerdik akan berusaha mencari kawan yang mendatangkan kebaikan bagi dirinya dan orang-orang yang di sekelilingnya.

Sebab, barapa banyak orang yang dahulu istiqomah dan taat beragama, telah larut bersama dengan orang-orang berperangai buruk.

Kini manusia bingung dan serampangan dalam mencari kawan, sehingga sebagian orang ibaratnya kelinci lugu yang mendekati harimau yang ganas.

Kawan buruknya siap menghancurkan agama dan perilakunya, tanpa ia sadari.

“وَفِي الْحَدِيثِ النَّهْيُ عَنْ مُجَالَسَةِ مَنْ يُتَأَذَّى بِمُجَالَسَتِهِ فِي الدِّينِ وَالدُّنْيَا وَالتَّرْغِيبُ فِي مُجَالَسَةِ مِنْ يُنْتَفَعُ بِمُجَالَسَتِهِ فِيهِمَا.” اهـ من فتح الباري لابن حجر (4/ 324)

Al-Hafizh Ibnu Hajar -rahimahullah-  berkata saat mengomentari hadits di atas,”Di dalam hadits ini terkandung larangan duduk bersama orang yang dapat mengakibatkan kerugian pada agama maupun dunia, serta anjuran untuk duduk bersama orang yang dapat diambil manfaatnya bagi agama dan dunianya”. [Lihat Fathul Bari (4/324), cet. Dar Al-Fikr, tahqiq Muhibbuddin Al-Khothib, ]

Di dalam Kitab-Nya yang mulia, Allah telah memerintahkan kita untuk senantiasa duduk bersama orang yang shalih lagi jujur, bukan bersama para pendusta, sebagaimana dalam firman-Nya,

{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ} [التوبة: 119]

“Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang jujur”. (QS. At-Taubah: 119)

Allah -Azza wa Jalla- di dalam ayat ini telah memuji orang-orang yang jujur keimanan, ucapan dan perbuatannya, dan sebaliknya mencela orang-orang yang dusta keimanan, ucapan dan perbuatannya.

Seorang harus pandai-pandai memilih teman duduk dan kawan sejawat agar ia mendapatkan manfaat yang baik dalam pertemanan dan perkawanannya.

Teman duduk bila sholih, akan membawa kebaikan bagi dunia dan akhirat kita, walapun ia adalah orang-orang yang miskin dan papa.

Di zaman ini, banyak orang yang berbangga dan lebih senang memilih orang-orang kaya dan berkedudukan sebagai teman dan sahabat, walaupun teman-teman itu memiliki sifat buruk.

Mereka lebih memilih orang-orang buruk sebagai teman, dibandingkan orang-orang sholih yang papa dan miskin.

Karenanya, seseorang tidak selayaknya memalingkan pandangan dari orang-orang sholih, lalu menuju kepada orang-orang yang senantiasa mengejar dunia dan lalai dari mengingat Allah -Azza wa Jalla- .

Allah -Subhana Wa Ta’ala- befirman,

{وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ وَلَا تَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ تُرِيدُ زِينَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطًا } [الكهف: 28]

Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.” (Q.S. Al-Kahfi: 28)

Asy-Syaikh Abdurahman bin Nashir As-Sa’diy –rahimahullah–  berkata,

“ففيها الأمر بصحبة الأخيار، ومجاهدة النفس على صحبتهم، ومخالطتهم وإن كانوا فقراء فإن في صحبتهم من الفوائد، ما لا يحصى.” اهـ من تيسير الكريم الرحمن (ص: 475)

Di dalam ayat ini didapati perintah untuk bergaul dengan orang-orang yang baik, dan mengupayakan diri untuk tetap bersama mereka serta bergaul dengan mereka, walau mereka adalah orang-orang yang fakir. Karena bergaul bersama mereka membuahkan faedah yang tidak terhitung banyaknya. [Lihat Taisirul Karimir Rahman (hal. 475)]

Oleh karenanya, wajib bagi kita untuk memilih teman-teman yang baik dan menjauhi teman yang jelek agama, atau akhlak dan muamalahnya.

Sebab, teman memiliki pengaruh yang sangat besar pada diri seseorang.

Kisah dan fakta telah banyak terlintas di mata kita tentang seorang yang berbuat kemungkaran dan maksiat akibat salah memilih teman. Ia jauh dari agama, bahkan mungkin kafir dan murtad gara-gara teman dekatnya. Na’udzu billahi min dzalik.

Terkadang ia menyadari bahwa perbuatan temannya itu salah dan terlarang, tapi ia tidak mau mengingkarinya, bahkan ia menutup mata darinya demi menjaga perasaan dan persahabatan dengannya.

Lebih jahat dari itu, ia berusaha mencari-cari dalih dan pembenaran terhadap perbuatan temannya yang jelek itu dengan mengatakan “Itu kan urusannya! Dia melakukan perzinaan, perampokan, pembunuhan, korupsi, kenapa anda yang pusing? Bukanlah anda yang nanti akan ditanya di akhirat tentang perbuatannya! Urusi saja urusanmu sendiri!!!

Akhirnya, dengan ucapannya itu, ia telah menutup pintu nasehat kepada sesama kaum muslimin. 

Pantaslah apabila Rasulullah -Sallallahu ‘alaihi wa sallam- telah memperingatkan hal itu dalam sabdanya,

الرَّجُلُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ ، فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ

“Seseorang itu berada di atas agama temannya, maka hendaklah setiap kalian memperhatikan siapa yang dia jadikan teman.” [HR. Abu Dawud (4833) dan At-Tirmidziy dalam Sunan-nya (no. 2497). Di-hasan-kan Asy-Syaikh Al-Albani –rahimahullah–  dalam Shahih Sunan Abu Dawud (3/188)].

Ulama Negeri India, Syamsul Haqq Al-‘Azhim  Abadiy -rahimahullah- berkata,

“فَمَنْ رَضِيَ دِينَهُ وَخُلُقَهُ خَالَلَهُ وَمَنْ لَا تَجَنَّبَهُ فَإِنَّ الطِّبَاعَ سَرَّاقَةٌ.” اهـ من عون المعبود مع حاشية ابن القيم (13/ 123)

Oleh karena itu, siapa saja yang diridhai agama dan akhlaknya hendaknya dijadikan teman, dan siapa yang tidak seperti itu hendaknya dijauhi, karena tabiat itu akan suka meniru. [Lihat ‘Aunul Ma’bud Syarh Sunan Abi Dawud (13/123)]

Seorang ketika bergaul dengan orang yang buruk haruslah amat hati-hati. Jangan menjadikan mereka sebagai teman duduk dan sahabat karib.

Kalaupun ia dipergauli, maka ia dipergauli demi menasihatinya agar ia mau kembali kepada jalan kebaikan dan kebenaran.

Bila ia tak menerima nasihat, hendaknya dijauhi. Akan tetapi perlu diketahui bahwa amat jarang orang yang mampu menunaikan tugas nasihat seperti ini, kecuali ia akan larut bersamanya, tanpa ia sadari.

Oleh karena itu, seseorang jangan terlalu percaya dengan dirinya, lalu merasa yakin bahwa ia tak akan terbawa oleh orang buruk tersebut.

Alangkah banyaknya korban yang larut bersama mereka.

Itulah hikmahnya para ulama kita amat mengingatkan kita agar jangan condong kepada orang-orang zholim dari kalangan tukang maksiat, ahli bid’ah atau kafir.

Ini didasari oleh firman Allah,

{وَلَا تَرْكَنُوا إِلَى الَّذِينَ ظَلَمُوا فَتَمَسَّكُمُ النَّارُ وَمَا لَكُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ مِنْ أَوْلِيَاءَ ثُمَّ لَا تُنْصَرُونَ} [هود: 113]

“Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zhalim yang menyebabkan kamu disentuh api neraka, dan sekali-kali kamu tiada mempunyai seorang penolongpun selain daripada Allah, Kemudian kamu tidak akan diberi pertolongan”. (QS. Huud: 113)

Al-Imam Abu Hayyan Muhammad bin Yusuf Al-Andalusiy -rahimahullah- berkata,

“والنهي متناول لانحطاط فِي هَوَاهُمْ، وَالِانْقِطَاعَ إِلَيْهِمْ، وَمُصَاحَبَتَهُمْ، وَمُجَالَسَتَهُمْ، وَزِيَارَتَهُمْ، وَمُدَاهَنَتَهُمْ، وَالرِّضَا بِأَعْمَالِهِمْ، وَالتَّشَبُّهَ بِهِمْ، وَالتَّزَيِّيَ بِزِيِّهِمْ، وَمَدَّ الْعَيْنِ إِلَى زَهْرَتِهِمْ، وَذِكْرَهُمْ بِمَا فِيهِ تَعْظِيمٌ لَهُمْ.”

“Larangan itu mencakup keterjerumusan dalam hawa nafsu mereka, fokus  kepada mereka, menemaninya, menziarahinya, toleran, ridho dengan perbuatannya, meniru mereka, berpenampilan seperti penampilan mereka, menujukan pandangan kepada kesenangan mereka dan menyebut mereka dengan sesuatu yang mengandung pengagungan kepada mereka”. [Lihat Al-Bahr Al-Muhith (5/224), cet. Darul Fikr)

Disinilah perlunya kita berhati-hati terhadap orang yang zhalim dari kalangan ahli maksiat, ahli bid’ah, dan kaum kafir.

Jangan sampai hati kita lebih mencintai dan condong kepada mereka, sedang kita telah mengetahui kezhalimannya sehingga Allah menurunkan adzabnya kepada kita.

Pilihlah teman-teman bergaul dalam segala aktifitas kita dari kalangan orang-orang sholih yang bisa kita harapkan kebaikan dan berkahnya.

Hindarilah teman-teman buruk yang menyeret diri kita kepada jurang kebinasaan, yang menyebabkan hilangnya keberkahan dalam kehidupan dunia dan akhirat kita.

Kelompokkanlah dirimu dalam golongan orang-orang yang senantiasa bertaqwa dan taat kepada Allah -Azza wa Jalla-, yaitu orang-orang yang jujur dalam menginginkan kebaikan bagi dirimu.

Janganlah terbuai dan dilalaikan oleh para penipu yang berwajah manis kepadamu dan menampakkan “kebaikan” dan persahabatan. Padahal ia adalah serigala yang siap memangsa dirimu dan menjerumuskanmu dalam kecelakaan.

—————————————————————————–

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Tulisan lainnya

Tulis komentar

Logged in as admin. Log out »




jannatul-firdaus.net @2018

Tiga Maksiat Pembinasa

Bagikan…

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Tiga Maksiat Pembinasa

  • Oleh : Al-Ustadz Abdul Qodir Abu Fa’izah hafizhahullah
  • [Pembina Ponpes Al-Ihsan Gowa]

Kehidupan dunia adalah kehidupan yang penuh dengan aral dan rintangan.

Barang siapa yang tak berhati-hati mencari jalan yang dapat menyelamatkan dirinya, maka ia akan celaka di dunia, bahkan boleh jadi nanti di akhirat.

Karena itu, hendaknya kita menghindari segala perkara yang mendatangkan kebinasaan.

Disebutkan dalam sebuah hadits :

Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda,

ثَلاَثٌ مُهْلِكَاتٌ ، وَثَلاَثٌ مُنْجِيَاتٌ ، فَقَالَ : ثَلاَثٌ مُهْلِكَاتٌ : شُحٌّ مُطَاعٌ وهَوًى مُتَّبَعٌ وَإِعْجَابُ الْمَرْءِ بِنَفْسِهِ

“Ada tiga perkara yang dapat membinasakan dan tiga perkara yang menyelamatkan. Tiga perkara yang membinasakan adalah kebakhilan yang ditaati, hawa nafsu yang diperturutkan dan bangganya seseorang terhadap dirinya”.

þ  Takhrij Hadits

Hadits ini diriwayatkan dari beberapa orang sahabat: Anas bin Malik, Abdullah bin Abbas, Abu Hurairah, Abdullah bin Abi Awfa dan Abdullah bin Umar -radhiyallahu anhum-.

Hadits Anas –radhiyallahu anhu– diriwayatkan oleh Al-Bazzar dalam Musnad-nya (no. 80), Al-Uqoiliy dalam Adh-Dhu’afaa’ (hal. 352), Abu Bakr Ad-Dainuriy dalam Al-Mujalasah wa Jawaahir Al-Ilm (no. 899), Abu Muslim Al-Kaatib dalam Al-Amaali (261/1), Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah (2/343) dan Al-Harowiy dalam Dzammul Kalaam (145/1)  dan Al-Qudho’iy dalam Musnad Asy-Syihaab (no. 327).

Hadits ini sanadnya dho’if (lemah). Akan tetapi ia memiliki beberapa mutabi’ dan syawahid sehingga derajatnya menjadi hasan, bahkan boleh jadi shohih. [Lihat Ash-Shohihah (no. 1802) karya Syaikh Al-Albaniy –rahimahullah-]

þ  Faedah Ilmiah Hadits Ini

Hadits ini lafazhnya pendek, tapi mengandung banyak manfaat dan faedah serta nasihat.

Begitulah salah satu ciri sabda Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-, pendek lafazhnya. Tapi faedahnya banyak sekali.

Lain halnya dengan ucapan kebanyakan diantara kita. Lafazhnya bertele-tele dan panjang, namun sedikit manfaatnya.

Para pembaca yang budiman, diantara faedah yang bisa kita petik dari hadits Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- yang mulia ini:

î  Bahaya Bakhil

Bakhil adalah penyakit hati yang timbul karena kurangnya tawakkal seseorang kepada Allah.

Sebab orang yang bakhil merasa bahwa apabila ia sedekahkan sebagian hartanya, maka harta itu akan hilang begitu saja, tanpa ada gantinya.

Padahal bila ia mau berpikir bahwa dengan sedekah, Allah akan membersihkan hartanya dan memberkahinya.

Dengan itu, ia akan diberi ganti yang lebih baik, entah di dunia, atau kalau tidak –insya Allah di akhirat- dengan ganti yang jauh lebih baik.

Seorang yang bakhil akan jauh dari kebaikan, imannya tak akan bertambah, bahkan boleh jadi akan menurun.

Sebab dengan kikirnya seseorang, banyak sekali jalan-jalan kebaikan yang mestinya ia lakukan, tapi ia sia-siakan.

Dia tinggalkan kesempatan dalam memperbanyak amal yang bisa meningkatkan iman akibat sifat kikir pada dirinya.

Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda,

لَا يَجْتَمِعُ غُبَارٌ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَدُخَانُ جَهَنَّمَ فِي جَوْفِ عَبْدٍ أَبَدًا وَلَا يَجْتَمِعُ الشُّحُّ وَالْإِيمَانُ فِي قَلْبِ عَبْدٍ أَبَدًا

“Tak akan berkumpul debu fi sabilillah dan asap Jahannam dalam rongga tubuh seorang hamba selama-lamanya, dan tak akan berkumpul sifat bakhil dan keimanan dalam hati seorang hamba selama-lamanya.” [HR. An-Nasa’iy dalam Kitab Al-Jihad (no. 3110 & 3111). Hadits ini di-shohih-kan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Takhrij Al-Misykah (3828)]

Al-Imam Abul Hasan Nuruddin As-Sindiy –rahimahullah– berkata,

“أَي : لَا يَنْبَغِي لِلْمُؤمنِ أَن يجمع بَينهمَا إِذْ الشُّح أبعد شَيْء من الْإِيمَان أَو المُرَاد بِالْإِيمَان كَمَاله كَمَا تقدم أَو المُرَاد أَنه قَلما يجْتَمع الشُّح والايمان وَاعْتبر ذَلِك بِمَنْزِلَة الْعَدَم.” اهـ حاشية السندي على سنن النسائي (6/ 13)

“Maksudnya, tak pantas bagi seorang mukmin untuk mengumpulkan antara kedua hal itu, sebab sifat kikir adalah sesuatu yang amat jauh dari keimanan; atau maksudnya, jarang berkumpul antara sifat kikir dengan keimanan. Perkara itu dianggap seakan-akan tak ada”. [Lihat Hasyiyah As-Sindiy ala Sunan An-Nasa’iy (6/13), cet. Maktab Al-Mathbu’at Al-Islamiyyah, 1406 H]

Abu Bakr Al-Kalaabaadziy –rahimahullah– berkata,

“وَالْبُخْلُ يَكُونُ مِنْ سُوءِ الظَّنِّ بِاللَّهِ تَعَالَى؛ لِأَنَّهُ يَخَافُ عَلَيْهِ أَنْ لَا يَخْلُفَ، وَلَمْ يُمْكِنْ تَحْقِيقُ الثَّوَابُ مِنْ قِبَلِهِ، فَالْبُخْلُ بِالْمَالِ مِنْ سُوءِ الظَّنِّ بِاللَّهِ، وَسُوءُ الظَّنِّ يُوهِنُ التَّصْدِيقَ.” اهـ من بحر الفوائد المسمى بمعاني الأخبار للكلاباذي (ص: 187)

“Sifat kikir muncul dari adanya buruk sangka kepada Allah -Ta’ala-. Karena si kikir khawatir bila Allah tak memberinya ganti. Tak mungkin akan terwujud pahala dari orang yang seperti. Jadi, sifat kikir muncul dari buruk sangka kepada Allah, sedang buruk sangka kepada Allah akan melemahkan iman”. [Lihat Bahr Al-Fawa’id (hal. 187), cet. Dar Al-Kutub Al-Ilmiyyah, 1420 H]

Perkataan beliau ini amatlah benar. Sebab tak mungkin seseorang kikir dan menahan hartanya, kecuali karenan lemahnya iman yang lahir adanya buruk sangka kepada Allah. Karenanya, layaklah bila imannya tak bertambah, bahkan berkurang.

Allah -Ta’ala- berfirman dalam mencela kaum munafiq akibat sifat bakhil mereka,

{أَشِحَّةً عَلَيْكُمْ فَإِذَا جَاءَ الْخَوْفُ رَأَيْتَهُمْ يَنْظُرُونَ إِلَيْكَ تَدُورُ أَعْيُنُهُمْ كَالَّذِي يُغْشَى عَلَيْهِ مِنَ الْمَوْتِ فَإِذَا ذَهَبَ الْخَوْفُ سَلَقُوكُمْ بِأَلْسِنَةٍ حِدَادٍ أَشِحَّةً عَلَى الْخَيْرِ أُولَئِكَ لَمْ يُؤْمِنُوا فَأَحْبَطَ اللَّهُ أَعْمَالَهُمْ وَكَانَ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرًا } [الأحزاب: 19]

“Mereka bakhil terhadapmu, apabila datang ketakutan (bahaya), kamu lihat mereka itu memandang kepadamu dengan mata yang terbalik- balik seperti orang yang pingsan karena akan mati, dan apabila ketakutan telah hilang, mereka mencaci kamu dengan lidah yang tajam, sedang mereka bakhil untuk berbuat kebaikan. Mereka itu belum beriman. Karenanya, Allah menghapuskan (pahala) amalnya. dan yang demikian itu adalah mudah bagi Allah”. (QS. Al-Ahzaab : 19)

Ahli Tafsir Jazirah Arab, Syaikh Abdur Rahman As-Sa’diy –rahimahullah– berkata,

“{أَشِحَّةً عَلَيْكُمْ} بأبدانهم عند القتال، وبأموالهم عند النفقة فيه، فلا يجاهدون بأموالهم وأنفسهم.” اهـ من تيسير الكريم الرحمن (ص: 661)

“Mereka bakhil terhadapmu dalam hal badan mereka ketika perang dan dalam harta mereka ketika berinfaq di jalan Allah. Jadi, mereka itu tidak berjihad dengan harta dan jiwa mereka”. [Lihat Taisir Al-Karim Ar-Rahman (hal. 660)]

Demikianlah Allah –azza wa jalla- mencela pelaku kebakhilan, akibat keburukan laku bakhil mereka. Ia mengira bahwa dirinya akan mulia dengan menahan harta benda di tangannya, dan menumpuknya demi memperkaya diri dan berbangga-bangga, lalu melupakan tabungan di negeri akhirat, melalui infaq dan sedekah yang ia keluarkan.

î  Larangan Memperturutkan Hawa Nafsu

Hawa nafsu maknanya keinginan jiwa. Jiwa manusia terkadang menginginkan dan mencintai sesuatu berupa perkara-perkara yang menyenangkan dirinya.

Hanya saja banyak diantara mereka yang tak bisa menempatkan hawa nafsunya sesuai yang diridhoi oleh Allah, sehingga sering kali kita menemukan orang-orang yang memperturutkan hawa nafsu yang tidak mendatangkan ridho Allah, bahkan menyeret dirinya kepada jurang kebinasaan.

Para pembaca yang budiman, hawa nafsu bisa berupa kesenangan dan kecintaan kepada harta, pekerjaan, keturunan, kehormatan dan lainnya.

Dengan hawa nafsu, terkadang seseorang terpuji dan seringnya tercela.

Lantaran itu, seseorang harus mengerti hakikat hawa nafsu yang memiliki kesenangan dan kecintaan.

Menyenangi dan membenci sesuatu haruslah mengikuti kecintaan dan keridhoan Allah -Azza wa Jalla-.

Bila hawa nafsu seseorang mencintai Allah atau mencintai sesuatu sesuatu yang Allah cintai, maka hawa nafsu ini terpuji.

Demikian pula, bila hawa nafsunya membenci setan dan segala yang disenangi oleh setan, maka hawa nafsu ini terpuji.

Intinya, hawa nafsu kita harus mencintai dan membenci karena Allah semata.

Inilah hawa nafsu yang terpuji, hawa nafsu yang memperhambakan diri kepada Allah, Sang Maha Pencipta.

Sebaliknya, bila hawa nafsu malah lebih mencintai setan dan segala hal yang disenangi oleh setan, maka hawa nafsu seperti ini adalah tercela.

Demikian pula, bila hawa nafsu malah membenci Allah atau membenci perkara yang dicintai oleh Allah, maka hawa nafsu ini juga tercela, dan pemiliknya telah menghambakan diri kepada hawa nafsunya.

Inilah yang dikatakan oleh Allah dalam firman-Nya,

{أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَهَهُ هَوَاهُ وَأَضَلَّهُ اللَّهُ عَلَى عِلْمٍ وَخَتَمَ عَلَى سَمْعِهِ وَقَلْبِهِ وَجَعَلَ عَلَى بَصَرِهِ غِشَاوَةً فَمَنْ يَهْدِيهِ مِنْ بَعْدِ اللَّهِ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ (23)} [الجاثية: 23]

“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya berdasarkan ilmu-Nya dan Allah Telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka Mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?” (QS. Al-Jatsiyah : 23)

Al-Hafizh Abul Fidaa’ Ibnu Katsir Ad-Dimasyqiy –rahimahullah– berkata,

“أَيْ: إِنَّمَا يَأْتَمِرُ بِهَوَاهُ، فَمَهْمَا رَآهُ حَسَنًا فَعَلَهُ، وَمَهْمَا رَآهُ قَبِيحًا تَرَكَه.” اهـ من تفسير ابن كثير ت سلامة (7/ 268)

“Maksudnya, ia hanya mengikuti keinginannya (hawa nafsunya). Apa pun yang dipandang baik oleh keinginannya, maka ia lakukan dan apapun yang ia pandang buruk, maka ia meninggalkannya”. [Lihat Tafsir Al-Qur’an Al-Azhim (7/268) oleh Ibnu Katsir, cet. Dar Thoybah]

Orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai pengatur dirinya, yang mengarahkan dirinya kepada segala yang diinginkan oleh jiwa, tanpa memandang batasan-batasan Allah. Pelakunya telah mempertuhankan hawa nafsunya.

Al-Hafizh Ibnu Rajab Al-Hambaliy -rahimahullah- berkata,

“فَمَنْ أَحَبَّ شَيْئًا وَأَطَاعَهُ، وَأَحَبَّ عَلَيْهِ وَأَبْغَضَ عَلَيْهِ، فَهُوَ إِلَهُهُ، فَمَنْ كَانَ لَا يُحِبُّ وَلَا يُبْغِضُ إِلَّا لِلَّهِ، وَلَا يُوَالِي وَلَا يُعَادِي إِلَّا لَهُ، فَاللَّهُ إِلَهُهُ حَقًّا، وَمَنْ أَحَبَّ لِهَوَاهُ، وَأَبْغَضَ لَهُ، وَوَالَى عَلَيْهِ، وَعَادَى عَلَيْهِ، فَإِلَهُهُ هَوَاه.” اهـ من جامع العلوم والحكم (ص/ 210)

“Barangsiapa yang mencintai dan menaati sesuatu; ia mencintai dan membenci karena sesuatu tersebut, maka sesuatu itu adalah tuhannya. Barangsiapa yang tak mencintai dan membenci, kecuali karena Allah serta ia tak berloyal dan memusuhi, kecuali karena Allah, maka Allah adalah ilah-nya (Tuhannya) yang sebenarnya. Barangsiapa yang mencintai dan membenci sesuatu karena hawa nafsu (keinginan jiwa)nya serta ia berloyal dan memusuhi (sesuatu) karena hawa nafsunya, maka tuhannya adalah hawa nafsunya”. [Lihat Jami’ Al-Ulum wal Hikam (hal. 210), cet. Dar Al-Ma’rifah, 1408 H]

Dari sini ada sebuah permata ilmu yang amat berharga bagi kita bahwa seorang hamba tak boleh bergaya hidup bebas, sehingga apa saja yang diinginkan oleh jiwanya, maka ia lakukan, tanpa memperhatikan aturan dan batasan Allah -Azza wa Jalla-.

Seakan-akan ia hidup seperti binatang, tanpa aturan. Hidupnya ingin bebas tanpa kendali dan aturan syariat.

Gaya hidup bebas seperti ini tampak merambah pada sebagian generasi muslim yang jahil tentang agamanya, sehingga apa saja yang disenangi oleh jiwanya, maka ia lakukan, tanpa takut kepada Allah saat ia durhaka kepada-Nya.

Bila ia mau berzina, maka ia lakukan. Jika ia mau minum khomer atau narkoba, maka dengan bebas dan congkak ia pun meminum dan menggunakannya.

Bila ia mau berkata-kata jorok dan berbuat cabul, maka ia pun perbuat.

Segala penampilannya dirinya, mulai rambut sampai ke ujung kaki, semuanya bergaya hidup bebas dan jauh dari bimbingan agama.

Rambut disemir ala barat, baju ala metal, celana model bajingan alias preman. Rambut dicukur ala mohawk yang terlarang dalam Islam!

Sepatu juga tak ketinggalan bergaya bebas ugal-ugalan; itulah sepatu bot model serdadu.

Telinga dan hidung, bahkan lidah, semuanya dilubangi atau ditindih dengan logam dan permata, sehingga ia mirip wanita India atau sapi India.

Tak ketinggalan tangannya diberi gelang dengan berbagai macamnya, mulai dari logam sampai benang, tergantung mana yang keren menurut hawa nafsunya.

Jasad penuh tato dengan berbagai macam corak dan modelnya. Padahal tato adalah perkara sial yang menyebabkan pelakunya dilaknat oleh Allah dan Rasulullah –alaihish sholatu was salam-.

Inilah yang kita lihat pada penampilan dan lahiriah anak-anak kaum muslimin yang larut atau termakan oleh propaganda dan pengaruh serdadu setan dari kalangan pecandu musik aliran underground (seperti, Punk Metal, Trush Metal, Heavy Metal dan Blak Metal).

Kalau kita melihat kepada latar belakang dan keluarga mereka, ternyata mereka adalah muslim.

Tapi kini keislamannya sudah mulai muram. Sholat saja tidak. Kalaupun sholat, ya sholat asal-asalan atau sholat musiman!!! Laa haula walaa quwwata illa billah.

Kita memohon perlindungan dari buruknya hawa nafsu yang menjauhkan manusia dari Islam dan kebaikan.

î  Haramnya Ujub (Membanggakan Diri)

Sifat ujub (bangga diri) adalah sebuah sifat tercela yang dapat membinasakan pelakunya.

Sifat ujub ini seringnya menyerang orang-orang yang memiliki kelebihan dan keutamaan.

Sebab bila seseorang memiliki keutamaan dan kelebihan, maka ia akan selalu bangga dengannya sehingga ia melupakan bahwa semua itu asalnya dari Allah -Azza wa Jalla-.

Kisah Qorun masih segar dalam ingatan kita. Dia ditenggelamkan oleh Allah bersama kaumnya.

Padahal kaumnya telah mengingatkannya bahwa semua nikmat dan harta yang Allah berikan kepadanya adalah hal yang perlu disyukuri dengan menginfaqkannya dan menyedekahkannya di jalan kebaikan sebagai bekal ke akhirat.

Tapi ia berkata dengan ujub (bangga diri) sebagaimana dalam (QS. Al-Qoshosh : 78 & 81),

{قَالَ إِنَّمَا أُوتِيتُهُ عَلَى عِلْمٍ عِنْدِي أَوَلَمْ يَعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ قَدْ أَهْلَكَ مِنْ قَبْلِهِ مِنَ الْقُرُونِ مَنْ هُوَ أَشَدُّ مِنْهُ قُوَّةً وَأَكْثَرُ جَمْعًا وَلَا يُسْأَلُ عَنْ ذُنُوبِهِمُ الْمُجْرِمُونَ (78) فَخَسَفْنَا بِهِ وَبِدَارِهِ الْأَرْضَ فَمَا كَانَ لَهُ مِنْ فِئَةٍ يَنْصُرُونَهُ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَمَا كَانَ مِنَ الْمُنْتَصِرِينَ (81)} [القصص: 78 و 81]

“Karun berkata: “Sesungguhnya Aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku”. Dan apakah ia tidak mengetahui, bahwasanya Allah sungguh telah membinasakan umat-umat sebelumnya yang lebih kuat daripadanya, dan lebih banyak mengumpulkan harta? Dan tidaklah perlu ditanya kepada orang-orang yang berdosa itu, tentang dosa-dosa mereka. Maka Kami benamkanlah Karun beserta rumahnya ke dalam bumi. Maka tidak ada baginya suatu golonganpun yang menolongnya terhadap siksa Allah. Dan tiadalah ia termasuk orang-orang (yang dapat) membela (dirinya)”.

Al-Imam Abdur Ra’uf Al-Haddadiy Al-Munawiy –rahimahullah-,

“أَي : ملاحظته اياها بِعَين الْكَمَال مَعَ نِسْيَان نعْمَة الله تعال،

قَالَ الْغَزالِيّ : حَقِيقَة الْعجب استعظام النَّفس وخصالها الَّتِي هِيَ من النعم والركون إِلَيْهَا مَعَ نِسْيَان اضافتها إِلَى الْمُنعم والأمن من زَوَالهَا.” اهـ من التيسير بشرح الجامع الصغير (1/ 470)

“Bangga diri, maksudnya ia memandang dirinya sempurna. Sementara ia melupakan nikmat-nikmat Allah -Ta’ala-. Al-Ghozali berkata, “Hakikat ujub (bangga diri) adalah menganggap hebat diri sendiri dan segala kelebihannya berupa nikmat-nikmat serta amat percaya kepadanya. Sementara ia lupa menyandarkan nikmat-nikmat itu kepada Pemberi nikmat (Allah) dan ia merasa aman (tak takut) dari hilangnya nikmat-nikmat tersebut”. [Lihat At-Taisiir bi Syarh Al-Jami’ Ash-Shoghier (1/956), cet. Maktabah Al-Imam Asy-Syafi’iy, 1408 H]

Inilah tiga dosa dan maksiat yang akan membinasakan seorang hamba. Tiga perkara ini menjauhkannya dari kebaikan dan jalan-jalannya.

Semoga Allah –azza wa jalla- melindungi kita dari tiga perkara itu dan memberi taufiq bagi untuk mencari keridhoan-Nya melalui amal-amal sholih yang mengantarkan kita kepada rahmat dan surga Allah, aamiin

—————————————————————————–

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Tulisan lainnya

Tulis komentar

Logged in as admin. Log out »




jannatul-firdaus.net @2018

Keutamaan Anjing atas Sebagian Manusia yang Berakal

Bagikan…

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Keutamaan Anjing atas Sebagian Manusia yang Berakal

  • Oleh : Al-Ustadz Abdul Qodir Abu Fa’izah hafizhahullah
  • [Pembina Ponpes Al-Ihsan Gowa]

Sebuah keutamaan besar bagi manusia, Allah anugerahkan kepadanya akal yang mampu membedakan antara yang baik dan buruk.

Dengan akal, manusia punya kasih dan perasaan kepada sesama.

Akal itu membantu dirinya dalam memahami wahyu yang Allah turunkan kepada para nabi dan rasul. Akal ibarat pelita yang digunakan dalam mengarungi perjalanan yang diselimuti oleh kegelapan.

Manusia telah diciptakan dengan bentuk yang paling sempurna. Andai seluruh makhluk berkumpul dan bekerja sama dalam menciptakan makhluk yang bernama “manusia”, niscaya mereka tak mampu!!

Maha Suci Allah –Azza wa Jalla– yang telah berfirman dalam Surah At-Tiin: 4-6,

{لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ (4) ثُمَّ رَدَدْنَاهُ أَسْفَلَ سَافِلِينَ (5) إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ فَلَهُمْ أَجْرٌ غَيْرُ مَمْنُونٍ (6) } [التين: 4 – 7]

“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya . Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka), kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh; Maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya”.

Al-Imam Abu Abdillah Al-Qurthubiy –rahimahullah– berkata,

“فَهَذَا يَدُلُّكَ عَلَى أَنَّ الْإِنْسَانَ أَحْسَنُ خَلْقِ اللَّهِ بَاطِنًا وَظَاهِرًا، جَمَالَ هَيْئَةٍ، وَبَدِيعَ تَرْكِيبٍ الرَّأْسُ بِمَا فِيهِ، وَالصَّدْرُ بِمَا جَمَعَهُ، وَالْبَطْنُ بِمَا حَوَاهُ، وَالْفَرْجُ وَمَا طَوَاهُ، وَالْيَدَانِ وَمَا بَطَشَتَاهُ، وَالرِّجْلَانِ وَمَا احْتَمَلَتَاهُ.” اهـ من تفسير القرطبي (20/ 114)

“Ini menunjukkan kepada anda bahwa manusia adalah makhluk Allah yang paling bagus secara batin dan lahiriahnya; dalam hal keindahan postur tubuhnya, kehebatan susunannya beserta sesuatu yang ada padanya, dada beserta sesuatu yang ia kumpulkan, perut beserta kandungannya, kemaluan beserta sesuatu yang ia kandung, kedua tangan beserta sesuatu yang ia pegang, dan kaki beserta sesuatu yang ia bawa”. [Lihat Al-Jami’ li Ahkam Al-Qur’an (20/114), karya Al-Qurthubiy, takhrij  Dr. Mahmud Hamid Utsman, cet. Dar Al-Hadits, 1416 H]

Dengan segala bentuk kesempurnaan dan anugerah Allah kepada manusia, namun sayangnya banyak manusia yang merendahkan dirinya dengan berbagai maksiat dan pelanggaran yang ia lakukan.

Semula ia diberi kemuliaan penciptaan dan fitrah oleh Allah -Azza wa Jalla-, tapi ia campakkan semua itu sehingga dirinya bukan lagi makhluk yang termulia, bahkan ia makhluk yang terhina dan paling rendah.

Saking rendahnya, ia lebih redah dibandingkan hewan-hewan yang tidak diberi akal.

Allah –azza wa jalla- berfirman,

{وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ لَهُمْ قُلُوبٌ لَا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لَا يَسْمَعُونَ بِهَا أُولَئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُولَئِكَ هُمُ الْغَافِلُون} [الأعراف: 179]

“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu bagaikan binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka Itulah orang-orang yang lalai. (QS. Al-A’raaf : 179)

Al-Hafizh Ibnu Katsir Ad-Dimasyqiy rahimahullah– berkata,

“يَعْنِي: لَيْسَ يَنْتَفِعُونَ بِشَيْءٍ مِنْ هَذِهِ الْجَوَارِحِ الَّتِي جَعَلَهَا اللَّهُ سَبَبًا لِلْهِدَايَةِ.” اهـ من تفسير ابن كثير ت سلامة (3/ 513)

“Maksudnya, mereka tidak mengambil manfaat dari organ-organ tubuh tersebut yang telah dijadikan oleh Allah sebagai sebab untuk mendapatkan hidayah”. [Lihat Tafsir Ibnu Katsir (3/513), tahqiq Sami bin Muhammad Salamah, cet. Dar Thoibah, 1420 H]

Bila seseorang yang tidak menggunakan hatinya untuk memahami ayat-ayat Allah, matanya tak digunakan membaca ayat Allah dan telinganya tak digunakan untuk mendengarkan ayat-ayat Allah, maka orang yang seperti ini akan menjadi orang-orang yang jauh dari kebenaran dan tak akan mendapatkan hidayah dari allah -Azza wa Jalla-.

Orang yang seperti ini ibarat binatang yang tidak memiliki hati yang digunakan untuk berpikir. Bahkan lebih buruk dibandingkan binatang, karena ia telah diberi hati, mata dan telinga, namun semua itu tidak digunakan dalam mencari keridhoan Allah -Azza wa Jalla-.

Mungkin anda pernah bertemu dengan orang yang seburuk ini. Ia memiliki hati, namun hatinya tak digunakan mentadabburi ayat-ayat dan sunnah Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-, bahkan ia gunakan untuk memikirkan perkara-perkara yang terlarang.

Hatinya bukan digunakan untuk memikirkan dan menghafal ayat-ayat, tapi dipakai menyimpan dan menghafal lagu-lagu yang dimurkai oleh Allah.

Dia gunakan untuk memikirkan wanita lain yang bukan mahramnya!!

Orang-orang semodel ini memiliki mata, tapi bukan digunakan untuk membaca dan mentadabburi hal-hal yang bermanfaat untuk dunia dan akhiratnya. Namun ia pakai melihat aurat wanita.

Dia punya pendengaran, namun ia penuhi pendengarannya dengan musik. Padahal telah diketahui bersama bahwa musik dalam syariat Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- adalah perkara yang diharamkan.

Fenomena banyaknya manusia yang tak menggunakan akal, mata dan pendengarannya serta organ-orang tubuh yang lainnya dalam perkara-perkara yang dicintai oleh Allah, membuat orang-orang berakal sehat dari kalangan pengikut setia para rasul bergeleng-geleng kepala.

Tak heran bila ada seorang ulama yang bernama Muhammad bin Kholaf bin Al-Marzuban Al-Baghdadiy (wafat 309 H) menulis sebuah kitab yang berjudul “Fadhl Al-Kilaab ala Katsirin mimman Labitsa Ats-Tsiyaab” (Keutamaan Anjing atas Kebanyakan Orang yang Menggunakan Pakaian).

Beliau menjelaskan beberapa perkara yang menunjukkan keutamaan anjing yang merupakan binatang yang paling hina dan menjijikkan dibandingkan kebanyakan manusia-manusia lalai yang tak menggunakan akal sehatnya.

Bila seseorang memperhatikan anjing, maka ia akan mendapati bahwa anjing itu amat penyayang kepada majikannya dibandingkan seorang ayah terhadap anaknya.

Lihatlah anjing bila ia menjaga majikannya dan keluarganya, ia ada atau tidak, ia tidur atau terjaga, anjing tak akan teledor dari tugasnya, walaupun terkadang sang majikan berbuat kasar kepadanya; ia tak akan menghinakan majikannya, walapun si majikan menghinakannya.

Bila dibandingkan dengan manusia-manusia di zaman ini, maka kita akan malu di hadapan anjing. Sebab, berapa banyak orang diantara kita bila diberi amanah, namun ia akan berbuat curang dan khianat kepada atasan atau orang yang memberinya amanah sehingga muncullah istilah “pagar makan tanaman” atau “jeruk makan jeruk”.

Dari sinilah bermunculan aksi korupsi, pencurian, pemerkosaan anak kandung dan sederet pengkhianatan lainnya!!

Para pembaca yang budiman, diantara sifat anjing, ia senantiasa takut kepada majikannya.

Begitulah sifat orang-orang sholih yang selalu takut kepada Allah, Sang Pemilik alam semesta.

Sementara kebanyakan manusia lalai diantara kita, ia tak pernah takut kepada Allah!! Dengan bebasnya ia bergumul dalam maksiat.

Tak ada rasa takut bila ia berbuat syirik, kekafiran dan pelanggaran lainnya. Rumah-rumah bordir dan diskotik dipenuhi oleh manusia yang berakal, namun hati dan akalnya tak berfungsi. Na’udzu billah…

Anjing tidaklah memiliki rumah, selain rumah majikannya.

Ini merupakan symbol kuatnya tawakkal mereka. Sifat tawakkal inilah yang layak kita contoh dari mereka.

Binatang saja bisa bertawakkal, mengapa kita sebagai manusia tak mampu bertawakkal kepada Allah?

Karenanya, seorang mukmin selayaknya berusaha mencari penghidupan untuk diri dan tanggungannya sambil menyandarkan urusan kepada Allah.

Bila berusaha mencari rezeki, lalu gagal, maka seorang yang bertawakkal tak sepantasnya frustasi, apalagi stres atau bahkan bunuh diri!!!

Dunia hanyalah sementara bagi orang-orang beriman untuk memetik bekal menuju akhirat. Orang jadi miskin atau gagal dalam urusan dunia, bukanlah tolok ukur bahagia tidaknya seseorang di sisi Allah.

Sifat lain yang dimiliki anjing, ia tidak tidur di malam hari, kecuali sedikit.

Demikian itulah sifat orang-orang yang menginginkan kebaikan dan pahala.

Di malam hari, ia bangun melaksanakan sholat tahajjud, sementara manusia tertidur lelap. Di siang hari ia bekerja dan beribadah.

Allah –Azza wa Jalla– berfirman,

{كَانُوا قَلِيلًا مِنَ اللَّيْلِ مَا يَهْجَعُونَ } [الذاريات: 17]

“Di dunia mereka sedikit sekali tidur diwaktu malam”. (QS. Adz-Dzariyaat : 17)

Begitulah kehidupan Nabi –Shallallahu alaihi wa sallam– dan para sahabat, sedikit tidur demi menghambakan diri di hadapan Allah.

Bukan seperti kebanyakan manusia di zaman ini, mereka banyak tidurnya dibandingkan ibadahnya.

Ada juga diantara mereka yang sedikit tidurnya, namun ia bukan begadang untuk kebaikan akhiratnya.

Dia begadang dalam maksiat dan perbuatan sia-sia, seperti mereka yang menghabiskan malamnya ngobrol (lewat telepon, SMS,  chating dan sejenisnya) dengan lawan jenisnya demi mengumbar syahwat.

Matanya mampu terbelalak dan menangis karena godaan kekasih. Sementara matanya tak pernah menangis karena takut kepada Allah.

Sifat lain bagi anjing, ia tidak mewariskan apapun bagi keturunannnya bila ia mati.

Dari sini ada isyarat tentang sifat zuhud. Sebab, seorang yang zuhud senantiasa memperhatikan dan mengutamakan kebaikan yang ia akan raih di negeri akhirat dibandingkan kepentingan duniawinya, sehingga ada sebagian diantara mereka yang tidak meninggalkan apapun untuk keluarga dan anak-anaknya, kecuali Allah -Azza wa Jalla-, seperti yang dialami oleh Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- dan sebagian sahabat -radhiyallahu anhum-.

Para pembaca yang budiman, anjing juga memiliki sifat kesetiaan yang tinggi.

Ini terlihat bila majikannya berbuat apapun, maka ia tak akan meninggalkannya, walaupun si majikan berbuat kasar dan memukulnya.

Ini adalah sifat setia dan sabar yang terdapat pada diri anjing. Berbeda dengan sebagian orang yang ada di zaman kita ini saat ia mencari suatu kebaikan dari seorang guru, lalu gurunya berbuat kasar dan tidak sopan –menurut penilaiannya-, maka ia akan lari dan gulung tikar, seraya membenci dan memusuhi gurunya.

Sifat qona’ah juga terdapat pada anjing.

Apapun yang kita berikan kepada anjing berupa makanan dan tempat, maka ia akan ridho.

Demikianlah selayaknya seorang yang tawadhu’ dan qona’ah (merasa puas atas pemberian Allah), apapun yang Allah berikan kepada dirinya, walapun itu sedikit, maka ia selalu bersyukur.

Bila ia diberi banyak, maka ia tak pernah menyombongkan diri dan angkuh di hadapan hamba-hamba Allah.

Ketika anjing bersalah, lalu ia diusir dan pergi dari tempatnya, maka ia akan kembali ke tempatnya.

Ini adalah sifat orang-orang yang ridho dan setia. Lain halnya dengan manusia di zaman ini, bila ia bersalah, maka ia akan bertahan pada posisinya dan siap melakukan perlawanan dengan segala cara. Dia tidak pergi untuk berpikir, lalu meminta maaf kepada orang yang ia zhalimi dan berbuat salah kepadanya.

Ia sudah tahu dirinya bersalah, tapi tetap mencari-cari pembenaran dan keras kepala.

Kadang orang yang seperti ini pergi, bukan untuk berpikir dan kembali dalam keadaan sadar, tapi ia pergi demi menyusun strategi dan makar.

Adapun anjing, tak demikian halnya; ia akan pulang ke kandangnya dengan tenang dan pelan.

Keutamaan lain, bila anjing kita usir dan pukul, lalu dipanggil kembali, maka ia akan menyambut panggilan, tanpa rasa dendam.

Ini adalah sifat orang-orang yang patuh. Orang yang diusir dan dijauhkan dari rahmat Allah, akibat maksiat yang ia lakukan, bila pada dirinya masih ada kebaikan, maka ia akan segera kembali kepada Allah -Azza wa Jalla- dan memohon ampunan-Nya, bukan semakin jauh dalam maksiatnya.

Oleh karenanya, seorang yang berakal saat ia bermaksiat, maka ia tidak boleh berpegang dengan prinsip konyol yang berbunyi “Terlanjur basah”!!

Tapi ia segera sadar dan berhenti. Ia berusaha memperbaiki diri dan mencari kekurangan dirinya.

Demikian pula seorang anak yang diusir oleh kedua orang tuanya, maka hendaknya jangan semakin menjauh dan durhaka, tapi hendaknya ia kembali kepada mereka untuk meminta maaf dan mencari keridhaannya, tanpa ada perasaan dendam kepada mereka, walaupun mereka pernah memukul dan menyakiti hati kita.

Apalagi orang tua biasanya berbuat demikian karena untuk kebaikan kita juga.

Perkara lain yang membuat kita takjub kepada anjing, bila waktu makan telah datang dan semuanya terhidang, maka ia akan duduk atau berada di tempat yang jauh demi mengharap sesuap nasi.

Begitulah ciri para masakin (orang-orang miskin), mereka selayaknya memiliki adab saat bertamu, bukan berbuat tak sopan dan melanggar tata krama.

Bahkan seorang miskin harus menjaga adab dan sifat malunya, jangan terlalu lancang sehingga orang pun akan jengkel kepadanya.

Sebagian orang-orang miskin kadang tidak memperhatikan waktu-waktu bertamu di sisi orang lain, misalnya : si miskin peminta-minta datang pada waktu-waktu istirahat, atau saat kedatangan tamu dan kerabat, dimana saat itu tuan rumah sibuk melayani tamu dan bercengkerama dengan para tamu.

Ada yang lebih parah dari itu, saat tuan rumah lalai, mereka manfaatkan waktu untuk mencuri!! Sudah miskin, kurang ajar lagi!!!

Anjing juga memiliki ketulusan kepada orang lain. Bila ada seorang yang datang dari suatu tempat, sambil membawa sesuatu, maka anjing itu akan menyertainya, tanpa melirik kepada barang bawaan orang itu.

Ini merupakan lambang ketulusan. Sifat ini seyogianya ada pada diri kaum muslimin.

Setiap kali ia menyertai orang lain dalam sebuah urusan atau perjalanan, maka semestinya ia selalu berlaku tulus dalam membantu urusannya.

Seorang mukmin hendaknya menghindari ungkapan “ada udang di balik batu”.

Orang yang memegang ungkapan ini sebagai prinsip hidup, ia tak akan bekerja dengan tulus hati bersama kita.

Orang yang seperti ini tak layak jadi pendamping, apalagi menjadi pemimpin!!

Diantara keistimewaan anjing, ia mengenal pemiliknya serta tempat tinggalnya.

Inilah selayaknya sifat yang dimiliki oleh seorang hamba di hadapan Allah.

Dia selalu mengenal dan mengingat Rabb-nya, baik di kala ia susah, maupun senang serta sadar bahwa suatu saat ia akan kembali kepada Allah di akhirat.

Ia selalu mengingat kampung halamannya (negeri akhirat). Ia sadar bahwa ia akan pulang ke negeri kekal abadi, yang di dalamnya ada banyak kenikmatan dan kesenangan bagi mereka yang membawa bekal berupa pahala amal sholihnya.

Inilah sebagian sifat dan keistimewaan anjing yang terkadang sirna pada kebanyakan manusia yang lalai terhadap ketaatan kepada Penciptanya, Allah -Ta’ala-, sehingga anjing pun lebih mulia dibandingkan mereka. Nas’alullahal afiyah was salamah.

—————————————————————————–

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Tulisan lainnya

Tulis komentar

Logged in as admin. Log out »




jannatul-firdaus.net @2018