Adab-adab Indah di Hari Raya

Jannatul-firdaus.net

Menyebar Ilmu Syar’i



Jannatul-firdaus.net

Menyebar Ilmu Syar’i



Bagikan…

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram



Adab-adab Indah di Hari Raya

  • Oleh: Al-Ustadz Abdul Qodir Abu Fa’izah, Lc. -hafizhahullah-

Hari Ied “lebaran” merupakan hari berbahagia dan bersuka cita bagi kaum muslimin di seluruh penjuru dunia. Kegembiraan ini nampak di wajah,tindak-tanduk dan kesibukan mereka.

Orang yang dulunya berselisih dan saling benci, pada hari itu saling mema’afkan. Ibu-ibu rumah tangga sibuk membuat berbagai macam kue, ketupat, makanan yang akan dihidangkan kepada para tamu yang akan berdatangan pada hari ied. Bapak-bapak sibuk belanja baju baru buat anak dan keluarganya.

Para pekerja dan penuntut ilmu yang ada diperantauan nun jauh di negeri orang sibuk menghubungi keluarga mereka, entah lewat surat atau telepon.

Di balik kesibukan dan kegembiraan ini, terkadang mengantarkan sebagian manusia  lalai untuk mempersiapkan apa yang mereka harus kerjakan di hari Ied.

Diantaranya, seperti berikut ini :

 

~ Dianjurkan Mandi sebelum Berangkat ke Musholla (Lapangan)

Seorang di hari ied disunnahkan untuk bersuci dan membersihkan diri agar bau tak sedap tidak mengganggu saudara kita yang lain ketika sholat dan bertemu.

Ini berdasarkan atsar dari Ali bin Abi Tholib -radhilallahu anhu- pernah ditanya tentang mandi, maka beliau menjawab,

يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَيَوْمَ عَرَفَةَ وَيَوْمَ النَّحْرِ وَيَوْمَ الْفِطْرِ

“(Mandi seyogyanya dilakukan) di hari Jum’at, hari Arafah (wuquf), hari Iedul Adh-ha, dan hari Iedul Fitri”. [HR.Asy-Syafi’i dalam Al-Musnad (114), dan Al-Baihaqy (5919)]

~ Memakai Pakaian yang Bagus dan Berhias dengannya

Diantara bentuk kegembiraan seorang muslim, dia mempersiapkan dan memakai pakaian baru di hari raya iedul Fitri dan iedul Adhha.

Ketahuilah, Sunnah ini diambil dari hadits Ibnu Umar , ia berkata:

أَخَذَ عُمَرُ جُبَّةً مِنْ إِسْتَبْرَقٍ تُبَاعُ فِيْ السُّوْقِ فَأَخَذَهَا  فَأَتَى رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَارَسُولَ اللهِ اِبْتَعْ هَذِهِ تَجَمَّلْ بِهَا لِلْعِيْدِ وَالْوُفُوْدِ 

” Umar mengambil jubah dari sutera yang dijual di pasar. Diapun mengambilnya lalu dibawa kepada Rasulullah r seraya berkata: [” Ya Rasulullah, Belilah ini agar engkau bisa berhias dengannya untuk hari ied dan para utusan …”] “[HR.Al-Bukhory dalam Shohih-nya (906), Muslim dalam Shohih-nya (2068)]

Al-Allamah Asy-Syaukani -rahimahullah– berkata dalam Nail Al-Author (3/349),” Segi pengambilan dalil dari hadits ini tentang disyari’atkannya berhias di hari ied adalah adanya taqrir Nabi r bagi Umar atas dasar bolehnya berhias di hari ied, dan terpokusnya pengingkaran beliau atas orang yang memakai sejenis pakaian tersebut, karena ia dari sutera”.

 

~ Di hari Iedul Fithri, Disunnahkan Makan Sebelum ke Musholla (Lapangan)

Sebelum berangkat ke musholla (lapangan), maka dianjurkan makan –utamanya kurma- sebagaimana ini dilakukan oleh Nabi kita Muhammad r pada hari iedul fitri. Adapun iedul Adhha, maka sebaliknya seseorang dianjurkan makan setelah sholat ied agar nantinya bisa mencicipi hewan kurbannya.

Buraidah –radhiyallahu anhu– berkata:

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ الْفِطْرِ لَا يَخْرُجُ حَتَّى يَطْعَمَ وَيَوْمَ النَّحْرِ لَا يَطْعَمُ حَتَّى يَرْجِعَ

“Nabi r tidaklah keluar di hari iedul Fithri sampai beliau makan, dan pada hari iedul Adh-ha beliau tak makan sampai beliau kembali”. HR. Ibnu Majah dalam As-Sunan (1756). Di-hasan-kan oleh Syu’aib Al-Arna’uth dalam Takhrij Al-Musnad  (5/352/no.23033)

Al-Muhallab bin Abi Shofroh –Rahimahullah– berkata,”Hikmahnya makan sebelum sholat ied adalah agar orang tidak menyangka wajibnya puasa sampai usai sholat ied. Seakan Nabi r hendak menepis persangkaan itu”. [Lihat Fath Al-Bari (2/447)]

Diantara hikmahnya agar masih ada waktu mengeluarkan shodaqoh di waktu-waktu yang cocok dan sangat dibutuhkannya oleh para faqir-miskin.

Ibnul Munayyir –Rahimahullah– berkata: “Nabi r makan di dua hari ied pada waktu yang masyru’ (disyari’atkan) agar bisa mengeluarkan shodaqoh khusus bagi ied tersebut. Maka waktu mengeluarkan shodaqoh ied fithri sebelum berangkat (ke musholla), dan waktu mengeluarkan shodaqoh kurban setelah disembelih. Jadi, keduanya bersatu pada satu sisi, dan berbeda pada sisi yang lain.”. [Lihat Fath Al-Bari (2/448)]

~ Bertakbir Menuju Lapangan

Mengumandangkan takbiran saat menuju musholla merupakan sunnah yang dilakukan pada dua hari raya kaum muslimin. Sunnah ini dilakukan bukan Cuma saat keluar dari rumah, bahkan terus dilakukan dengan suara keras sampai tiba di lapangan. Setelah tiba di lapangan, tetap bertakbir sampai imam datang memimpin sholat ied. Inilah sunnahnya !

Ada suatu riwayat dari Nabi r : “Bahwa beliau keluar di hari iedul Fithri seraya bertakbir sampai tiba di musholla dan sampai usai sholat. Jika usai sholat, beliau hentikan takbir”. [HR.Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushonnaf (2/165) dan Al-Firyabi dalam Ahkam Al-Iedain (95).Lihat juga Silsilah Ahadits Ash-Shohihah (171)]

Dalam riwayat lain, Ibnu Umar -radhiyallahu anhu- berkata,

أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَخْرُجُ فِيْ الْعِيْدَيْنِ مَعَ الْفَضْلِ بْنِ عَبَّاسٍ وَعَبْدِاللهِ وَالْعَبَّاسِ وَعَلِيٍ وَجَعْفَرٍ وَأُسَامَةَ بْنِ زَيْدٍ وَزَيْدٍ بْنِ حَارِثَةَ وَأَيْمَنَ بْنِ أُمِّ أَيْمَنَ رَافِعًا صَوْتَهُ بِالتَّهْلِيْلِ وَالتَّكْبِيْرِ

“Nabi r keluar di dua hari raya bersama Al-Fadhl bin Abbas, Abdullah, Al-Abbas, Ali, Ja’far, Al-Hasan,Al- Husain , Usamah bin Zaid, Zaid bin Haritsah, dan Aiman bin Ummi Aiman sambil mengangkat suaranya bertahlil dan bertakbir”.[HR.Al-Baihaqy dalam As-Sunan Al-Kubro (3/279) dan dihasankan oleh Al-Albany dalam Al-Irwa’ (3/123)

Jadi, disyari’atkan di hari ied saat hendak keluar ke lapangan untuk mengumandangkan takbir dengan suara keras berdasarkan kesepakatan empat Imam madzhab. Tapi tidak dilakukan secara berjama’ah.[Lihat Majmu’ Al-Fatawa 24/220]

Muhaddits Negeri Syam, Muhammad Nashiruddin Al-Albany rahimahullah– berkata dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shohihah (1/281) ketika mengomentari hadits pertama di atas,”

وفي الحديث دليلٌ على مشروعيّةِ ما جرى عليه عملُ المسلمين من التكبير جهراً في الطريق إلى المصلى، وإنْ كان كثير منهم بدؤوا يتساهلون بهذه السنَّة حتى كادت تصبح في خبر كان..

Dalam hadits ini terdapat dalil disyari’atkannya sesuatu yang telah dilakukan oleh kaum muslimin berupa adanya takbir dengan suara keras di jalan-jalan menuju musholla. Sekalipun kebanyakan di antara mereka sudah mulai meremehkan sunnah ini sehingga hampir menjadi tinggal cerita belaka. Itu disebabkan lemahnya dasar agama mereka serta canggungnya mereka menampakkan sunnah”.

 

Faidah :

Tentang lafazh takbir, tak ada yang shohih datangnya dari Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-. Akan tetapi disana ada beberapa atsar yang shohih datangnya dari para sahabat Radhiyallahu anhum ajma’in.

  • Dari sahabat Ibnu Mas’ud, beliau mengucapkan:

اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ لَاإِلَهَ إِلَّااللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

[HR. Ibnu Abi Syaibah  dalam Al-Mushonnaf (2/168) dengan sanad yang shohih

  • Ibnu Abbas -radhiyallahu ‘anhu-, beliau mengucapkan:

اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، وَلِلَّهِ الْحَمْدُ، اَللهُ أَكْبَرُ وَأَجَلُّ، اَللهُ أَكْبَرُ عَلَى مَا هَدَانَا

[HR.Al-Baihaqy dalam As-Sunan AlKubro (3/315) dengan sanad yang shohih.]

  • Salman Al-Farisy, beliau mengucapkan, “Bertakbirlah :

اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا

[HR.Al-Baihaqy dalam As-Sunan Al-Kubro (3/316) dengan sanad yang shohih.]

Adapun tambahan yang diberikan oleh orang-orang di zaman kita pada lafazh takbir, maka semua itu merupakan buatan orang-orang belakangan, tak ada dasarnya.

Al-Hafizh Ibnu Hajar Asy-Syafi’i –rahimahullahberkata dalam Al-Fath (2/536), “Di zaman ini telah diciptakan semacam tambahan pada masalah (lafazh takbir), itu yang tak ada dasarnya”.

 

Faedah Lain :

Waktu takbiran di hari raya iedul Adhha mulai waktu fajar hari Arafah (tanggal 9 Dzulhijjah) sampai akhir hari Tasyriq (13 Dzulhijjah).

Inilah madzhab Jumhur salaf dan ahli fiqh dari kalangan sahabat dan lainnya. [Lihat Majmu’ Al-Fatawa (24/220)]

Sebagian orang mengkhususkannya takbiran sehabis sholat. Tapi ini tak ada dalilnya. Yang benar, seseorang disunnahkan bertakbir dalam semua waktu dari hari-hari tersebut (mulai Hari Arofah sampai hari terakhir dari hari-hari Tasyriq).

Ini dikuatkan dengan sebuah atsar :“Ibnu Umar bertakbir di Mina pada hari-hari itu –tasyriq,pen-, seusai sholat, di atas tempat tidur, dalam tenda, majlis, dan waktu berjalan pada semua hari-hari tersebut “. [HR.Al-Bukhory dalam Ash-Shohih (1/330)]

Adapun di hari raya Idul Fithri, maka disunnahkan bertakbir pada hari raya sampai imam selesai sholat.

~ Disyari’atkan Wanita dan Anak Kecil Ikut ke Lapangan

Di hari ied wanita -walaupun ia haid- dan anak-anak kecil disyari’atkan untuk keluar menyaksikan sholat dan doanya kaum muslimin.

Ummu Athiyyah –radhiyallahu anha– berkata,

أَمَرَنَا رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ نُخْرِجَهُنَّ فِيْ الْفِطْرِ وَالْأَضْحَى الْعَوَاتِقَ وَالْحُيَّضَ وَ ذَوَاتِ الْخُدُوْرِ . فَأَمَّا الْحُيَّضُ فَيَعْتَزِلْنَ الصَّلَاةَ  وَيَشْهَدْنَ الْخَيْرَ وَدَعْوَةَ الْمُسْلِمِيْنَ  قُلْتُ يَارَسُوْلَ اللهِ إِحْدَانَا لَا يَكُوْنُ لَهَا جِلْبَابٌ؟ قَالَ: لِتُلْبِسْهَا أُخْتُهَا مِنْ جِلْبَابِهَا

“Rasulullah r memerintahkan kami mengeluarkan para wanita gadis, haidh, dan pingitan. Adapun yang haidh , maka mereka menjauhi sholat, dan menyaksikan kebaikan dan dakwah/doanya kaum muslimin.Aku berkata: ” Ya Rasulullah, seorang di antara kami ada yang tak punya jilbab”. Beliau menjawab: “Hendaknya saudaranya memakaikan (meminjamkan) jilbabnya kepada saudaranya”. [Al-Bukhory dalam Ash-Shohih (971) dan Muslim dalam Ash-Shohih (890)]

Al-Hafizh Ibnu Hajar Asy-Syafi’i -rahimahullah-  berkata dalam Fath Al-Bari (2/470), “Di dalamnya terdapat anjuran keluarnya para wanita untuk menyaksikan dua hari raya, baik dia itu gadis, ataupun bukan; baik dia itu wanita pingitan ataupun bukan”.

Bahkan sebagian ulama mewajibkan membawa serta para wanita dan anak-anak kecil ke lapangan ied.

~ Mencari Jalan lain Ketika Pulang ke Rumah

Disunnahkan mencari jalan lain ketika selesai melaksanakan sholat ied. Artinya ketika ia pergi ke musholla mengambil suatu jalan, dan ketika pulang ke rumah di mencari jalan lain dalam rangka mencontoh Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- .

Abu Hurairah -radhiyallahu anhu- berkata,

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا خَرَجَ إِلىَ الْعِيْدِ رَجَعَ فِيْ غَيْرِ الطَّرِيْقِ الَّذِيْ خَرَجَ فِيْهِ

“Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- jika keluar ied, beliau kembali pada selain jalan yang beliau tempati keluar”.[HR.Ibnu Majah dalam As-Sunan (1301). Lihat Shohih Ibnu Majah (1076) karya Al-Albaniy]

~ Berjalan Menuju dan Kembali dari Musholla

Pada hari ied di sunnahkan berjalan menuju musholla untuk melaksanakan sholat ied. Demikian pula ketika kembali ke rumah. Tapi ini jika mushollanya dekat sehingga orang tak berat jalan menuju musholla. Adapun jika jauh atau perlu sekali, maka tak masalah.

Ali bin Abi Tholib -radhiyallahu anhu- berkata,

مِنَ السُّنَّةِ أَنْ تَخْرُجَ إِلَى الْعِيْدِ مَاشِيًا

“Diantara sunnah, kamu keluar menuju ied sambil jalan“. [HR.At-Tirmidzy dalam As-Sunan (2/410) ; di-hasan-kan Al-Albany dalam Shohih Sunan At-Tirmidzy  (530)]

Abu ‘Isa At-Tirmidzy –rahimahullah berkata dalam Sunan At-Tirmidzy  (2/410),

“Hadits ini di amalkan di sisi para ahli ilmu. Mereka menganjurkan seseorang keluar menuju ied sambil jalan“.

 

~ Bersegera & Cepat Berangkat Melaksanakan Sholat Ied

Demikian pula bersegera berangkat menuju musholla untuk menunaikan sholat ied. Perkara ini dianjurkan agar setiap orang mengambil tempat dan banyak mengumandangkan takbir sampai keluarnya memimpin sholat ied.

Faedah :

Setelah tiba di musholla (lapangan), seseorang tidak dianjurkan sholat sebelum dan setelah sholat ied; juga tidak  disunnahkan melakukan adzan dan iqomat, karena Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- kita tak pernah melakukan hal itu, kecuali jika sholat  iednya di masjid (karena hujan atau udzur lain), maka ia harus sholat dua raka’at tahiyyatul masjid.

Ibnu Abbas –radhiyallahu anhu- berkata,

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى يَوْمَ الْفِطْرِ رَكْعَتَيْنِ لَمْ يُصَلِّ قَبْلَهَا وَلَا بَعْدَهَا

“Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- melaksanakan sholat iedul fithri sebanyak dua raka’at, namun beliau tidak sholat sebelum dan sesudahnya”. [HR.Al-Bukhory dalam Ash-Shohih (989)]

Al-Hafizh Ibnu Hajar –rahimahullah– berkata,

“Walhasil, sholat ied tidak terbukti memiliki sholat sunnah sebelum dan setelahnya, berbeda dengan orang yang meng-qiyas-kannya dengan sholat jum’at”. [Lihat Fath Al-Bari (2/476)]

Jabir bin Samurah -radhiyallahu ‘anhu-  berkata,

صَلَّيْتُ مَعَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْعِيْدَيْنِ غَيْرَ مَرَّةٍ وَلَا مَرَّتَيْنِ بِغَيْرِ أَذَانٍ وَلَا إِقَامَةٍ

“Aku telah melaksanakan sholat bersama Rasulullah –shollalahu alaihi wa sallam-, bukan Cuma sekali dua kali saja- tanpa adzan dan iqomat”. [HR. Muslim dalam Shohih-nya (no. 887)] 

Al-Allamah Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah rahimahullah- berkata, “Nabi –shollalahu alaihi wa sallam- jika tiba di musholla, beliau memulai sholat, tanpa ada adzan dan iqomah; tidak pula ucapan, “Ash-Sholatu jami’ah“. Sunnahnya, tidak dilakukan semua itu”. [Lihat Zaadul Ma’ad (1/441)]

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Tulisan lainnya

Adab-adab Indah nan Agung dalam Berhari Raya

Jannatul-firdaus.net

Menyebar Ilmu Syar’i



Jannatul-firdaus.net

Menyebar Ilmu Syar’i



Bagikan…

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram



Adab-adab Indah nan Agung dalam Berhari Raya

  • Oleh: Al-Ustadz Abdul Qodir Abu Fa’izah, Lc. -hafizhahullah-

Hari Ied “lebaran” merupakan hari berbahagia dan bersuka cita bagi kaum muslimin di seluruh penjuru dunia. Kegembiraan ini nampak di wajah,tindak-tanduk dan kesibukan mereka.

Orang yang dulunya berselisih dan saling benci, pada hari itu saling mema’afkan. Ibu-ibu rumah tangga sibuk membuat berbagai macam kue, ketupat, makanan yang akan dihidangkan kepada para tamu yang akan berdatangan pada hari ied. Bapak-bapak sibuk belanja baju baru buat anak dan keluarganya.

Para pekerja dan penuntut ilmu yang ada diperantauan nun jauh di negeri orang sibuk menghubungi keluarga mereka, entah lewat surat atau telepon.

Di balik kesibukan dan kegembiraan ini, terkadang mengantarkan sebagian manusia  lalai untuk mempersiapkan apa yang mereka harus kerjakan di hari Ied.

Diantaranya, seperti berikut ini :

~ Dianjurkan Mandi sebelum Berangkat ke Musholla (Lapangan)

Seorang di hari ied disunnahkan untuk bersuci dan membersihkan diri agar bau tak sedap tidak mengganggu saudara kita yang lain ketika sholat dan bertemu.
Ini berdasarkan atsar dari Ali bin Abi Tholib -radhilallahu anhu- pernah ditanya tentang mandi, maka beliau menjawab,

يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَيَوْمَ عَرَفَةَ وَيَوْمَ النَّحْرِ وَيَوْمَ الْفِطْرِ

“(Mandi seyogyanya dilakukan) di hari Jum’at, hari Arafah (wuquf), hari Iedul Adh-ha, dan hari Iedul Fitri”. [HR.Asy-Syafi’i dalam Al-Musnad (114), dan Al-Baihaqy (5919)]

~ Memakai Pakaian yang Bagus dan Berhias dengannya

Diantara bentuk kegembiraan seorang muslim, dia mempersiapkan dan memakai pakaian baru di hari raya iedul Fitri dan iedul Adhha.

Ketahuilah, Sunnah ini diambil dari hadits Ibnu Umar , ia berkata:

أَخَذَ عُمَرُ جُبَّةً مِنْ إِسْتَبْرَقٍ تُبَاعُ فِيْ السُّوْقِ فَأَخَذَهَا  فَأَتَى رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَارَسُولَ اللهِ اِبْتَعْ هَذِهِ تَجَمَّلْ بِهَا لِلْعِيْدِ وَالْوُفُوْدِ 

” Umar mengambil jubah dari sutera yang dijual di pasar. Diapun mengambilnya lalu dibawa kepada Rasulullah r seraya berkata: [” Ya Rasulullah, Belilah ini agar engkau bisa berhias dengannya untuk hari ied dan para utusan …”] “[HR.Al-Bukhory dalam Shohih-nya (906), Muslim dalam Shohih-nya (2068)]

Al-Allamah Asy-Syaukani -rahimahullah– berkata dalam Nail Al-Author (3/349),” Segi pengambilan dalil dari hadits ini tentang disyari’atkannya berhias di hari ied adalah adanya taqrir Nabi r bagi Umar atas dasar bolehnya berhias di hari ied, dan terpokusnya pengingkaran beliau atas orang yang memakai sejenis pakaian tersebut, karena ia dari sutera”.

 

~ Di hari Iedul Fithri, Disunnahkan Makan Sebelum ke Musholla (Lapangan)

Sebelum berangkat ke musholla (lapangan), maka dianjurkan makan –utamanya kurma- sebagaimana ini dilakukan oleh Nabi kita Muhammad r pada hari iedul fitri. Adapun iedul Adhha, maka sebaliknya seseorang dianjurkan makan setelah sholat ied agar nantinya bisa mencicipi hewan kurbannya.

Buraidah –radhiyallahu anhu– berkata:

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ الْفِطْرِ لَا يَخْرُجُ حَتَّى يَطْعَمَ وَيَوْمَ النَّحْرِ لَا يَطْعَمُ حَتَّى يَرْجِعَ

“Nabi r tidaklah keluar di hari iedul Fithri sampai beliau makan, dan pada hari iedul Adh-ha beliau tak makan sampai beliau kembali”. HR. Ibnu Majah dalam As-Sunan (1756). Di-hasan-kan oleh Syu’aib Al-Arna’uth dalam Takhrij Al-Musnad  (5/352/no.23033)

Al-Muhallab bin Abi Shofroh –Rahimahullah– berkata,”Hikmahnya makan sebelum sholat ied adalah agar orang tidak menyangka wajibnya puasa sampai usai sholat ied. Seakan Nabi r hendak menepis persangkaan itu”. [Lihat Fath Al-Bari (2/447)]

Diantara hikmahnya agar masih ada waktu mengeluarkan shodaqoh di waktu-waktu yang cocok dan sangat dibutuhkannya oleh para faqir-miskin.

Ibnul Munayyir –Rahimahullah– berkata: “Nabi r makan di dua hari ied pada waktu yang masyru’ (disyari’atkan) agar bisa mengeluarkan shodaqoh khusus bagi ied tersebut. Maka waktu mengeluarkan shodaqoh ied fithri sebelum berangkat (ke musholla), dan waktu mengeluarkan shodaqoh kurban setelah disembelih. Jadi, keduanya bersatu pada satu sisi, dan berbeda pada sisi yang lain.”. [Lihat Fath Al-Bari (2/448)]

~ Bertakbir Menuju Lapangan

Mengumandangkan takbiran saat menuju musholla merupakan sunnah yang dilakukan pada dua hari raya kaum muslimin. Sunnah ini dilakukan bukan Cuma saat keluar dari rumah, bahkan terus dilakukan dengan suara keras sampai tiba di lapangan. Setelah tiba di lapangan, tetap bertakbir sampai imam datang memimpin sholat ied. Inilah sunnahnya !

Ada suatu riwayat dari Nabi r : “Bahwa beliau keluar di hari iedul Fithri seraya bertakbir sampai tiba di musholla dan sampai usai sholat. Jika usai sholat, beliau hentikan takbir”. [HR.Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushonnaf (2/165) dan Al-Firyabi dalam Ahkam Al-Iedain (95).Lihat juga Silsilah Ahadits Ash-Shohihah (171)]

Dalam riwayat lain, Ibnu Umar -radhiyallahu anhu- berkata,

أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَخْرُجُ فِيْ الْعِيْدَيْنِ مَعَ الْفَضْلِ بْنِ عَبَّاسٍ وَعَبْدِاللهِ وَالْعَبَّاسِ وَعَلِيٍ وَجَعْفَرٍ وَأُسَامَةَ بْنِ زَيْدٍ وَزَيْدٍ بْنِ حَارِثَةَ وَأَيْمَنَ بْنِ أُمِّ أَيْمَنَ رَافِعًا صَوْتَهُ بِالتَّهْلِيْلِ وَالتَّكْبِيْرِ

“Nabi r keluar di dua hari raya bersama Al-Fadhl bin Abbas, Abdullah, Al-Abbas, Ali, Ja’far, Al-Hasan,Al- Husain , Usamah bin Zaid, Zaid bin Haritsah, dan Aiman bin Ummi Aiman sambil mengangkat suaranya bertahlil dan bertakbir”.[HR.Al-Baihaqy dalam As-Sunan Al-Kubro (3/279) dan dihasankan oleh Al-Albany dalam Al-Irwa’ (3/123)

Jadi, disyari’atkan di hari ied saat hendak keluar ke lapangan untuk mengumandangkan takbir dengan suara keras berdasarkan kesepakatan empat Imam madzhab. Tapi tidak dilakukan secara berjama’ah.[Lihat Majmu’ Al-Fatawa 24/220]

Muhaddits Negeri Syam, Muhammad Nashiruddin Al-Albany rahimahullah– berkata dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shohihah (1/281) ketika mengomentari hadits pertama di atas,”

وفي الحديث دليلٌ على مشروعيّةِ ما جرى عليه عملُ المسلمين من التكبير جهراً في الطريق إلى المصلى، وإنْ كان كثير منهم بدؤوا يتساهلون بهذه السنَّة حتى كادت تصبح في خبر كان..

Dalam hadits ini terdapat dalil disyari’atkannya sesuatu yang telah dilakukan oleh kaum muslimin berupa adanya takbir dengan suara keras di jalan-jalan menuju musholla. Sekalipun kebanyakan di antara mereka sudah mulai meremehkan sunnah ini sehingga hampir menjadi tinggal cerita belaka. Itu disebabkan lemahnya dasar agama mereka serta canggungnya mereka menampakkan sunnah”.

 

Faidah :

Tentang lafazh takbir, tak ada yang shohih datangnya dari Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-. Akan tetapi disana ada beberapa atsar yang shohih datangnya dari para sahabat Radhiyallahu anhum ajma’in.

Dari sahabat Ibnu Mas’ud, beliau mengucapkan:

اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ لَاإِلَهَ إِلَّااللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

[HR.Ibnu Abi Syaibah  dalam Al-Mushonnaf (2/168) dengan sanad yang shohih

Ibnu Abbas -radhiyallahu ‘anhu-, beliau mengucapkan:

اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ اَللهُ أَكْبَرُ وَأَجَلُّ اَللهُ أَكْبَرُ عَلَى مَا هَدَانَا

[HR.Al-Baihaqy dalam As-Sunan Al-Kubro (3/315) dengan sanad yang shohih.]

Salman Al-Farisy, beliau mengucapkan :“Bertakbirlah :

اَللهُ أَكْبَرُاَللهُ أَكْبَرُاَللهُ أَكْبَرُكَبِيْرًا

[HR.Al-Baihaqy dalam As-Sunan Al-Kubro (3/316) dengan sanad yang shohih.]

Adapun tambahan yang diberikan oleh orang-orang di zaman kita pada lafazh takbir, maka semua itu merupakan buatan orang-orang belakangan, tak ada dasarnya.

Al-Hafizh Ibnu Hajar Asy-Syafi’i –rahimahullahberkata dalam Al-Fath (2/536), “Di zaman ini telah diciptakan semacam tambahan pada masalah (lafazh takbir) itu yang tak ada dasarnya”.

 

Faedah :

Waktu takbiran di hari raya iedul Adhha mulai waktu fajar hari Arafah (tanggal 9 Dzulhijjah) sampai akhir hari Tasyriq (13 Dzulhijjah). Inilah madzhab Jumhur salaf dan ahli fiqh dari kalangan sahabat dan lainnya. [Lihat Majmu’ Al-Fatawa (24/220)]

Sebagian orang mengkhususkannya takbiran sehabis sholat. Tapi ini tak ada dalilnya. Yang benar, seseorang disunnahkan bertakbir dalam semua waktu dari hari-hari tersebut (mulai Hari Arofah sampai hari terakhir dari hari-hari Tasyriq).

Ini dikuatkan dengan sebuah atsar :“Ibnu Umar bertakbir di Mina pada hari-hari itu –tasyriq,pen-, seusai sholat, di atas tempat tidur, dalam tenda, majlis, dan waktu berjalan pada semua hari-hari tersebut “. [HR.Al-Bukhory dalam Ash-Shohih (1/330)]

Adapun di hari raya Idul Fithri, maka disunnahkan bertakbir pada hari raya sampai imam selesai sholat.

~ Disyari’atkan Wanita dan Anak Kecil Ikut ke Lapangan

Di hari ied wanita -walaupun ia haid- dan anak-anak kecil disyari’atkan untuk keluar menyaksikan sholat dan doanya kaum muslimin.

Ummu Athiyyah –radhiyallahu anha– berkata,

أَمَرَنَا رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ نُخْرِجَهُنَّ فِيْ الْفِطْرِ وَالْأَضْحَى الْعَوَاتِقَ وَالْحُيَّضَ وَ ذَوَاتِ الْخُدُوْرِ . فَأَمَّا الْحُيَّضُ فَيَعْتَزِلْنَ الصَّلَاةَ  وَيَشْهَدْنَ الْخَيْرَ وَدَعْوَةَ الْمُسْلِمِيْنَ  قُلْتُ يَارَسُوْلَ اللهِ إِحْدَانَا لَا يَكُوْنُ لَهَا جِلْبَابٌ؟ قَالَ: لِتُلْبِسْهَا أُخْتُهَا مِنْ جِلْبَابِهَا

“Rasulullah r memerintahkan kami mengeluarkan para wanita gadis, haidh, dan pingitan. Adapun yang haidh , maka mereka menjauhi sholat, dan menyaksikan kebaikan dan dakwah/doanya kaum muslimin.Aku berkata: ” Ya Rasulullah, seorang di antara kami ada yang tak punya jilbab”. Beliau menjawab: “Hendaknya saudaranya memakaikan (meminjamkan) jilbabnya kepada saudaranya”. [Al-Bukhory dalam Ash-Shohih (971) dan Muslim dalam Ash-Shohih (890)]

Al-Hafizh Ibnu Hajar Asy-Syafi’i -rahimahullah-  berkata dalam Fath Al-Bari (2/470), “Di dalamnya terdapat anjuran keluarnya para wanita untuk menyaksikan dua hari raya, baik dia itu gadis, ataupun bukan; baik dia itu wanita pingitan ataupun bukan”.

Bahkan sebagian ulama mewajibkan membawa serta para wanita dan anak-anak kecil ke lapangan ied.

~ Mencari Jalan lain Ketika Pulang ke Rumah

Disunnahkan mencari jalan lain ketika selesai melaksanakan sholat ied. Artinya ketika ia pergi ke musholla mengambil suatu jalan, dan ketika pulang ke rumah di mencari jalan lain dalam rangka mencontoh Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- .

Abu Hurairah -radhiyallahu anhu- berkata,

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا خَرَجَ إِلىَ الْعِيْدِ رَجَعَ فِيْ غَيْرِ الطَّرِيْقِ الَّذِيْ خَرَجَ فِيْهِ

“Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- jika keluar ied, beliau kembali pada selain jalan yang beliau tempati keluar”.[HR.Ibnu Majah dalam As-Sunan (1301). Lihat Shohih Ibnu Majah (1076) karya Al-Albaniy]

~ Berjalan Menuju dan Kembali dari Musholla

Pada hari ied di sunnahkan berjalan menuju musholla untuk melaksanakan sholat ied. Demikian pula ketika kembali ke rumah. Tapi ini jika mushollanya dekat sehingga orang tak berat jalan menuju musholla. Adapun jika jauh atau perlu sekali, maka tak masalah.

Ali bin Abi Tholib -radhiyallahu anhu- berkata,

مِنَ السُّنَّةِ أَنْ تَخْرُجَ إِلَى الْعِيْدِ مَاشِيًا

“Diantara sunnah, kamu keluar menuju ied sambil jalan“. [HR.At-Tirmidzy dalam As-Sunan (2/410) ; di-hasan-kan Al-Albany dalam Shohih Sunan At-Tirmidzy  (530)]

Abu ‘Isa At-Tirmidzy –rahimahullah berkata dalam Sunan At-Tirmidzy  (2/410),

“Hadits ini di amalkan di sisi para ahli ilmu. Mereka menganjurkan seseorang keluar menuju ied sambil jalan“.

 

~ Bersegera & Cepat Berangkat Melaksanakan Sholat Ied

Demikian pula bersegera berangkat menuju musholla untuk menunaikan sholat ied. Perkara ini dianjurkan agar setiap orang mengambil tempat dan banyak mengumandangkan takbir sampai keluarnya memimpin sholat ied.

Faedah:

Setelah tiba di musholla (lapangan), seseorang tidak dianjurkan sholat sebelum dan setelah sholat ied; juga tidak  disunnahkan melakukan adzan dan iqomat, karena Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- kita tak pernah melakukan hal itu, kecuali jika sholat  iednya di masjid (karena hujan atau udzur lain), maka ia harus sholat dua raka’at tahiyyatul masjid.

Ibnu Abbas –radhiyallahu anhu- berkata,

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى يَوْمَ الْفِطْرِ رَكْعَتَيْنِ لَمْ يُصَلِّ قَبْلَهَا وَلَا بَعْدَهَا

“Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- melaksanakan sholat iedul fithri sebanyak dua raka’at, namun beliau tidak sholat sebelum dan sesudahnya”. [HR.Al-Bukhory dalam Ash-Shohih (989)]

Al-Hafizh Ibnu Hajar –rahimahullah– berkata,

“Walhasil, sholat ied tidak terbukti memiliki sholat sunnah sebelum dan setelahnya, berbeda dengan orang yang meng-qiyas-kannya dengan sholat jum’at”. [Lihat Fath Al-Bari (2/476)]

Jabir bin Samurah -radhiyallahu ‘anhu-  berkata,

صَلًَّيْتُ مَعَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْعِيْدَيْنِ غَيْرَ مَرَّةٍ وَلَا مَرَّتَيْنِ بِغَيْرِ أَذَانٍ وَلَا إِقَامَةٍ

“Aku telah melaksanakan sholat bersama Rasulullah r -bukan Cuma sekali dua kali saja- tanpa adzan dan iqomat”. 

Al-Allamah Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah rahimahullah- berkata, “Nabi  r jika tiba di musholla, beliau memulai sholat, tanpa ada adzan dan iqomah; tidak pula ucapan, “Ash-Sholatu jami’ah“. Sunnahnya, tidak dilakukan semua itu”. [Lihat Zaadul Ma’ad (1/441)]

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Tulisan lainnya

Manfaat dan Hikmah Pensyariatan Zakat

Jannatul-firdaus.net

Menyebar Ilmu Syar’i



Jannatul-firdaus.net

Menyebar Ilmu Syar’i



Bagikan…

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram



Manfaat dan Hikmah Pensyariatan Zakat

  • Oleh: Ustadz Dzulqarnain Muhammad Sunusi hafizhahullah
Pada syariat zakat, terdapat berbagai manfaat yang sangat bernilai dan sejumlah hikmah yang sangat agung. Di antara manfaat dan hikmah tersebut adalah:

Pertama, dengan mengeluarkan zakat, seorang muslim telah menegakkan suatu ibadah yang merupakan bagian pokok dalam agama.

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ.

“Padahal mereka tidak disuruh, kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, serta supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.” [Al-Bayyinah: 5]

Kedua, menjawab dan melaksanakan perintah Allah dan Rasul-Nya.

Allah Subhânahu wa Ta’âlâ berfirman,

وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ.

“Dan dirikanlah shalat serta tunaikanlah zakat.” [Al-Baqarah: 43]

Ketiga, menyempurnakan keislaman seorang hamba karena ibadah tersebut merupakan salah satu rukun Islam.

Dalam hadits Ibnu Umar radhiyallâhu ‘anhumâ, Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda,

بُنِىَ الإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ ، وَإِقَامِ الصَّلاَةِ ، وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ ، وَالْحَجِّ ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ

“Islam dibangun di atas lima pondasi; syahadat bahwa tidak ada yang berhak diibadahi kecuali Allah dan Muhammad Rasul Allah, menegakkan shalat, mengeluarkan zakat, haji dan puasa Ramadhan.”

Tidak ada perbedaan pendapat di kalangan ulama bahwa zakat adalah rukun islam yang ketiga.

Keempat, pengeluaran zakat oleh seorang hamba merupakan bukti akan kejujuran keimanan.

Dimaklumi bahwa harta adalah suatu hal yang dicintai oleh jiwa manusia. Seseorang yang memiliki kejujuran keimanan niscaya mengeluarkan hal-hal yang jiwanya cintai sepanjang Allah dan Rasul-Nya mencintai hal tersebut.

Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَلَدِهِ وَوَالِدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ

“Tidaklah salah seorang di antara kalian beriman, kecuali setelah ia menjadikan saya lebih dia cintai daripada anaknya, ayahnya, dan seluruh manusia.”

 

Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

الطُّهُورُ شَطْرُ الإِيمَانِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ تَمْلأُ الْمِيزَانَ. وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ تَمْلآنِ – أَوْ تَمْلأُ – مَا بَيْنَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ وَالصَّلاَةُ نُورٌ وَالصَّدَقَةُ بُرْهَانٌ وَالصَّبْرُ ضِيَاءٌ وَالْقُرْآنُ حُجَّةٌ لَكَ أَوْ عَلَيْكَ كُلُّ النَّاسِ يَغْدُو فَبَائِعٌ نَفْسَهُ فَمُعْتِقُهَا أَوْ مُوبِقُهَا

“Bersuci adalah sebagian dari keimanan, (bacaan) “Alhamdulillah” memenuhi timbangan, dan (bacaan) “Subhânallâhi wal hamdullillâh” kedua memenuhi -atau salah satu di antara keduanya memenuhi- antara langit dan bumi. Shalat adalah cahaya, shadaqah adalah bukti, dan kesabaran adalah sinar. Al-Qur`an adalah argumen yang menguatkanmu atau memberatkanmu. Setiap manusia berusaha, kemudian diri menjual dirinya (dalam usahanya), yang dia membebaskan dirinya atau membinasakannya.”

 

Kelima, merupakan bentuk kesyukuran akan nikmat harta dari Allah ‘Azza wa Jalla. Di antara bentuk kesyukuran akan nikmat adalah dengan mengeluarkan harta kepada hal-hal yang Allah Subhânahu wa Ta’âlâ cintai dan ridhai.

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman tatkala memuji orang-orang yang bersyukur,

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ.

“Dan (ingatlah juga) tatkala Rabb kalian memaklumkan, ‘Sesungguhnya, jika kalian bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kalian.” [Ibrâhîm: 7]

Keenam, menyucikan jiwa seorang hamba dan menghindarkan hamba tersebut dari penyakit hati dan akhlak yang tercela. Pengeluaran zakat memerangi sifat kekikiran dan ketamakan seorang hamba.

Allah Subhânahu wa Ta’âlâ berfirman,

خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْ إِنَّ صَلَاتَكَ سَكَنٌ لَهُمْ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ.

“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka yang, dengan zakat itu, kamu membersihkan dan menyucikan mereka, serta berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya doamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” [At-Taubah: 103]

Penyucian dan pembersihan yang tersebut dalam ayat mencakup orang yang mengeluarkan zakat, juga mencakup penerima zakat karena seorang fakir kadang dibisikkan rasa dengki dan hasad oleh syaithan terhadap harta yang didapat oleh saudaranya. Oleh karena itu, tatkala menerima zakat dari saudaranya, si fakir tersebut akan berbaik sangka kepada saudaranya.

Bahkan, zakat itu juga menyucikan harta itu sendiri karena Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ هَذِهِ الصَّدَقَاتِ إِنَّمَا هِىَ أَوْسَاخُ النَّاسِ

“Sesungguhnya shadaqah-shadaqah ini hanyalah kotoran-kotoran manusia ….”

Menunjukkan bahwa siapa saja yang mengeluarkan zakatnya, berarti ia telah membersihkan hartanya.

Ketujuh, menghiasi hamba tersebut dengan akhlak mulia.

Penyaluran zakat oleh seorang hamba juga melambangkan kedermawanan dan kecintaan kepada sesama manusia serta sifat rahmat dan menyayangi saudaranya yang sedang memerlukan. Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأَخِيهِ – أَوْ قَالَ لِجَارِهِ – مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

“Tidaklah beriman salah seorang dari kalian, kecuali setelah dia mencintai untuk saudaranya -atau beliau berkata, ‘Untuk tetangganya,’- hal yang dia cintai untuk dirinya sendiri.”

 

Kedelapan, mengeluarkan zakat adalah hal yang menambah rezeki dan keberkahan harta.

Allah Jalla Jalâluhu berfirman,

قُلْ إِنَّ رَبِّي يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَيَقْدِرُ لَهُ وَمَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهُ وَهُوَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ.

“Katakanlah, ‘Sesungguhnya Rabb-ku melapangkan rezeki bagi siapa saja yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya dan menyempitkan (rezeki siapa saja yang Dia kehendaki).’ (Terhadap harta) apa saja yang kalian nafkahkan, Allah akan menggantinya, dan Dia-lah Pemberi rezeki yang sebaik-baiknya.” [Saba`: 39]

Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda,

قَالَ اللَّهُ أَنْفِقْ يَا ابْنَ آدَمَ أُنْفِقْ عَلَيْكَ

“Allah berfirman, ‘Berinfaqlah, wahai anak Adam. Niscaya Aku akan memberi infaq kepadamu.’.”

 

Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda pula,

مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ وَمَا زَادَ اللَّهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلاَّ عِزًّا وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلاَّ رَفَعَهُ اللَّهُ

“Shadaqah itu tidaklah mengurangi harta, dan tidaklah Allah menambah rasa maaf kepada seorang hamba, kecuali kemulian, serta tidaklah seseorang merendah diri karena Allah, kecuali bahwa Allah akan mengangkatnya.”

 

Kesembilan, menyucikan dan menjaga harta terhadap kerusakan dan musibah.

Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا مِنْ يَوْمٍ يُصْبِحُ الْعِبَادُ فِيهِ إِلاَّ مَلَكَانِ يَنْزِلاَنِ فَيَقُولُ أَحَدُهُمَا اللَّهُمَّ أَعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا ، وَيَقُولُ الآخَرُ اللَّهُمَّ أَعْطِ مُمْسِكًا تَلَفًا

“Tiada satu hari pun yang para hamba memasuki waktu paginya, kecuali ada malaikat yang turun. Salah satu di antara mereka berkata, ‘Ya Allah, berilah pengganti bagi hamba yang berinfaq,’ sedangkan malaikat lain berkata, ‘Ya Allah, berilah kerugian bagi hamba yang menahan.’.”

 

Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam mengingatkan,

يَا مَعْشَرَ الْمُهَاجِرِيْنَ خَمْسٌ إِذَا ابْتُلِيْتُمْ بِهِنَّ وَأَعُوْذُ بِاللَّهِ أَنْ تُدْرِكُوْهُنَّ لَمْ تَظْهَرِ الْفَاحِشَةُ فِيْ قَوْمٍ قَطُّ حَتَّى يُعْلِنُوا بِهَا إِلاَّ فَشَا فِيْهِمُ الطَّاعُونُ وَالأَوْجَاعُ الَّتِيْ لَمْ تَكُنْ مَضَتْ فِي أَسْلاَفِهِمُ الَّذِيْنَ مَضَوْا. وَلَمْ يَنْقُصُوا الْمِكْيَالَ وَالْمِيْزَانَ إِلاَّ أُخِذُوا بِالسِّنِيْنَ وَشِدَّةِ الْمَؤُنَةِ وَجَوْرِ السُّلْطَانِ عَلَيْهِمْ. وَلَمْ يَمْنَعُوا زَكَاةَ أَمْوَالِهِمْ إِلاَّ مُنِعُوا الْقَطْرَ مِنَ السَّمَاءِ وَلَوْلاَ الْبَهَائِمُ لَمْ يُمْطَرُوا وَلَمْ يَنْقُضُوا عَهْدَ اللَّهِ وَعَهْدَ رَسُوْلِهِ إِلاَّ سَلَّطَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ عَدُوًّا مِنْ غَيْرِهِمْ فَأَخَذُوا بَعْضَ مَا فِيْ أَيْدِيْهِمْ. وَمَا لَمْ تَحْكُمْ أَئِمَّتُهُمْ بِكِتَابِ اللَّهِ وَيَتَخَيَّرُوا مِمَّا أَنْزَلَ اللَّهُ إِلاَّ جَعَلَ اللَّهُ بَأْسَهُمْ بَيْنَهُمْ

“Wahai kaum Muhajirin, ada lima perkara apabila kalian tertimpa dengannya –dan aku berlindung kepada Allah agar kalian tidak mengalami (perkara) tersebut-: (Pertama,) tidaklah tampak kekejian pada suatu kaum kemudian mereka melakukannya secara terang-terangan, kecuali bahwa penyakit thâ’ûn dan berbagai penyakit (lain), yang belum pernah menimpa pendahulu-pendahulu mereka yang telah berlalu, akan menjangkiti mereka. (Kedua,) tidaklah mereka mengurangi takaran dan timbangan, kecuali bahwa mereka akan ditimpa oleh kemarau panjang, krisis pangan, dan kesewenang-wenangan penguasa. (Ketiga,) tidaklah mereka menunda untuk mengeluarkan zakat harta mereka, kecuali bahwa hujan dari langit akan ditahan untuk mereka. Andaikata bukan karena hewan-hewan ternak, niscaya mereka tidak mendapatkan hujan (sama sekali). (Keempat,) tidaklah mereka melanggar perjanjian dengan Allah dan perjanjian dengan Rasul-Nya, kecuali bahwa Allah akan menjadikan musuh, yang bukan berasal dari kalangan mereka, berkuasa terhadap mereka kemudian (para musuh itu) mengambil sebagian (harta) yang berada di tangan mereka. (Kelima,) tidaklah para penguasa mereka berhukum dengan kitab Allah dan memilih (hukum) yang tidak Allah turunkan, kecuali bahwa Allah menjadikan kehancuran mereka antara sesama mereka sendiri.” [1]

Kesepuluh, zakat menggugurkan dosa.

Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَالصَّدَقَةُ تُطْفِئُ الْخَطِيئَةَ كَمَا يُطْفِئُ الْمَاءُ النَّارَ

“… Dan shadaqah memadamkan kesalahan sebagaimana air memadamkan api.”

 

Kesebelas, menenangkan hati dan melapangkan jiwa seorang hamba.

Pengeluaran zakat oleh seseorang karena kerelaan hati adalah bentuk penyerahan diri dan lambang keislaman. Sedang Allah ‘Azza wa Jalla telah berfirman,

أَفَمَنْ شَرَحَ اللَّهُ صَدْرَهُ لِلْإِسْلَامِ فَهُوَ عَلَى نُورٍ مِنْ رَبِّهِ فَوَيْلٌ لِلْقَاسِيَةِ قُلُوبُهُمْ مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ أُولَئِكَ فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ.

“Maka apakah orang-orang yang Allah lapangkan hatinya untuk (menerima) agama Islam lalu ia mendapat cahaya dari Rabb-nya (sama dengan orang yang hatinya membatu)? Maka kecelakaan besarlah bagi mereka yang hatinya telah membatu untuk mengingat Allah. Mereka itu berada dalam kesesatan yang nyata. [Az-Zumar: 22]

Kedua belas, menjadi sebab dimasukkannya seorang hamba ke dalam surga.

Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam mengabarkan bahwa memberi makan adalah salah satu sebab yang menjadikan seseorang dimasukkan ke dalam surga melalui sabda beliau,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ ، أَفْشُوا السَّلاَمَ ، وَأَطْعِمُوا الطَّعَامَ ، وَصِلُوا الأَرْحَامَ ، وَصَلُّوا وَالنَّاسُ نِيَامٌ ، تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ بِسَلاَمٍ.

“Wahai sekalian manusia, tebarkanlah salam, berilah makan, sambunglah silaturahmi, dan kerjakanlah shalat ketika manusia sedang tidur. Niscaya, kalian akan dimasukkan ke dalam surga dengan keselamatan.” [2]

Ketiga belas, penyelamat terhadap salah satu kengerian pada hari kiamat.

Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda,

سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللَّهُ فِى ظِلِّهِ يَوْمَ لاَ ظِلَّ إِلاَّ ظِلُّهُ الإِمَامُ الْعَادِلُ ، وَشَابٌّ نَشَأَ فِى عِبَادَةِ رَبِّهِ ، وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِى الْمَسَاجِدِ ، وَرَجُلاَنِ تَحَابَّا فِى اللَّهِ اجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ ، وَرَجُلٌ طَلَبَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ فَقَالَ إِنِّى أَخَافُ اللَّهَ . وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ أَخْفَى حَتَّى لاَ تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِينُهُ ، وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللَّهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ

“Ada tujuh golongan yang akan Allah Ta’âlâ teduhi di bawah teduhan arsy-Nya (pada hari kiamat), pada suatu hari yang tiada teduhan, kecuali teduhan-Nya: (1) Pemimpin yang adil, (2) Seorang pemuda yang tumbuh dalam peribadahan kepada Rabb-nya, (3) Seorang lelaki yang hatinya senantiasa terikat pada masjid-masjid, (4) Dua orang yang saling mencintai karena Allah, yang mereka berdua berjumpa karena-Nya dan berpisah karena-Nya, (5) Seorang lelaki yang diminta oleh seorang perempuan yang memiliki kedudukan dan kecantikan, tetapi dia berkata, ‘Sesungguhnya saya takut kepada Allah,’ (6) Seseorang yang bersedekah dengan sedekah yang dirahasiakan, sampai-sampai tangan kirinya tidak mengetahui apa-apa yang tangan kanannya infakkan, dan (7) Seorang lelaki yang mengingat Allah dalam keadaan sendiri kemudian berlinanglah air matanya.”

 

Keempat belas, adanya rasa saling mengasihi antara orang yang mampu dan orang yang kurang mampu.

Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا

“Seorang mukmin terhadap mukmin lain bagaikan bangunan. Sebagiannya menguatkan sebagian yang lain.”

Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda pula,

مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِى تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى

“Perumpamaan kaum mukminin dalam hal kasih-mengasihi, rahmat-merahmati, dan cinta-mencintai adalah seperti satu tubuh. Bila suatu anggota tubuh mengeluh, seluruh anggota tubuh (yang lain) akan merasa tidak bisa tidur dan panas.”

 

Kelima belas, penyaluran zakat adalah sebab yang mendatangkan rahmat Allah Subhânahu wa Ta’âlâ.

Allah Jalla Jalâluhu berfirman,

وَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ فَسَأَكْتُبُهَا لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَالَّذِينَ هُمْ بِآيَاتِنَا يُؤْمِنُونَ.

“Dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu. Oleh karena itu, Aku akan menetapkan (rahmat-Ku) untuk orang-orang yang bertakwa, yang menunaikan zakat, dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami.” [Al-A’râf: 156]

Allah Subhânahu wa Ta’âlâ juga berfirman,

وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ.

“Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan taatlah kepada rasul supaya kalian diberi rahmat.” [An-Nûr: 56]

Keenam belas, merupakan sebab turunnya pertolongan Allah Jalla Jalâluhu dan kekokohan kaum muslimin di atas muka bumi.

Allah ‘Azza wa Jalla menjelaskan,

وَلَيَنْصُرَنَّ اللَّهُ مَنْ يَنْصُرُهُ إِنَّ اللَّهَ لَقَوِيٌّ عَزِيزٌ. الَّذِينَ إِنْ مَكَّنَّاهُمْ فِي الْأَرْضِ أَقَامُوا الصَّلَاةَ وَآتَوُا الزَّكَاةَ وَأَمَرُوا بِالْمَعْرُوفِ وَنَهَوْا عَنِ الْمُنْكَرِ وَلِلَّهِ عَاقِبَةُ الْأُمُورِ.

“Sesungguhnya Allah pasti menolong orang-orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa. (Yaitu), orang-orang yang, jika Kami meneguhkan kedudukan mereka di muka bumi, niscaya mereka mendirikan shalat, menunaikan zakat, serta menyuruh untuk berbuat ma’ruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar; dan kepada Allah-lah segala urusan dikembalikan.” [Al-Hajj: 40-41]

Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda,

هَلْ تُنْصَرُونَ وَتُرْزَقُونَ إِلاَّ بِضُعَفَائِكُمْ

“Tidaklah kalian mendapat pertolongan dan memeroleh rezeki, kecuali dengan (perhatian kalian kepada) orang-orang lemah (di antara) kalian.”

 

Ketujuh belas, salah satu jalan agar seorang hamba terjaga di atas hidayah.

Allah Subhânahu wa Ta’âlâ berfirman,

إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَلَمْ يَخْشَ إِلَّا اللَّهَ فَعَسَى أُولَئِكَ أَنْ يَكُونُوا مِنَ الْمُهْتَدِينَ.

“Orang-orang yang memakmurkan masjid-masjid Allah hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan tidak takut (terhadap siapapun), kecuali terhadap Allah, maka merekalah yang diharapkan termasuk ke dalam golongan orang-orang yang mendapat petunjuk.” [At-Taubah: 18]

Kedelapan belas, pelipatgandaan pahala bagi mereka yang mengeluarkan zakatnya.

Allah Subhânahu wa Ta’âlâ berfirman,

مَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِائَةُ حَبَّةٍ وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ.

“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, yang tiap-tiap bulir berisi seratus biji. Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa saja yang Dia kehendaki. Dan Allah (karunia-Nya) Maha Luas lagi Maha Mengetahui.” [Al-Baqarah: 261]

Kesembilan belas, salah satu pembangun ekonomi umat.

Dimaklumi bahwa, di kalangan umat muslimin, terdapat orang-orang yang mampu berusaha, tetapi tidak memiliki modal usaha untuk membuka lapangan pekerjaan. Oleh karena itu, zakat akan membantu mereka dalam hal membuka lapangan pekerjaan, juga menutup jalur-jalur yang diharamkan terhadap mereka, seperti mencuri atau bermuamalah dengan cara riba.

Keduapuluh, merupakan bentuk takaful ijtimâ’i, yakni adanya saling menjamin antara seorang muslim dan muslim yang lain dalam hal mencukupi kebutuhan hidup.

Keduapuluh satu, merupakan sarana yang kuat dalam membangun dakwah di jalan Allah Subhânahu wa Ta’âlâ.

Sangatlah banyak hikmah, faedah, dan sisi pensyariatan lain sebuah ibadah yang tentunya akan sangat panjang untuk diuraikan.


[1] Diriwayatkan oleh Ibnu Mâjah dan selain beliau. Dihasankan oleh Al-Albâny rahimahullâh dengan beberapa pendukungnya.

[2] Diriwayatkan oleh Ahmad, At-Tirmidzy, Ibnu Mâjah, dan Al-Hâkim. Dishahihkan oleh Al-Albâny dalam Ash-Shahîhah no. 569.

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Tulisan lainnya

Wasiat-Wasiat Berharga Dari Merenungi Nikmat Allah

Bagikan…

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Wasiat-Wasiat Berharga Dari Merenungi Nikmat Allah

  • Oleh : Ustadz Dzulqarnain M. Sunusi hafizhahullah
  • [Pembina Peduli Dakwah]

أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ .

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا.

أَمَّا بَعْـدُ ..

فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كَلَامُ اللهِ ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرَّ الْأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ، وَكُلَّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ.

Amma Ba’du,

Kaum Muslimin dan Muslimat, Jamaah shalat Id yang berbahagia!

Pada pagi hari yang berbahagia ini, kita semua berkumpul dengan suatu kegembiraan akan karunia dan rahmat Allah, menyaksikan suatu hari yang sangat agung, salah satu simbol Islam yang besar: Hari Idul Fitri.

Allah Subhânahu wa Ta’âlâ berfirman,

لِكُلِّ أُمَّةٍ جَعَلْنَا مَنْسَكًا هُمْ نَاسِكُوهُ

“Bagi tiap-tiap umat, Kami telah menetapkan syariat tertentu yang mereka lakukan.” [Al-Hajj: 67]

Ibnu ‘Abbâs menafsirkan bahwa setiap umat dijadikan suatu Id untuknya. Demikianlah yang diriwayatkan oleh Ibnu Jarîr Ath-Thabary.

Ketika Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam mendatangi kota Madinah, penduduk Madinah memiliki dua hari yang mereka bergembira pada dua hari tersebut pada masa Jahiliyah. Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam pun bersabda,

إِنَّ اللهَ قَدْ أَبْدَلَكُمْ بِهِمَا خَيْرًا مِنْهُمَا: يَوْمَ الْفِطْرِ، وَيَوْمَ النَّحْرِ

“Sesungguhnya Allah telah mengganti kedua hari itu untuk kalian dengan dua hari yang lebih baik daripada keduanya: hari Idul Fitri dan hari An-Nahr (Idul Adha).” [Diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Dawud, dan An-Nasâ`iy]

Oleh karena itu, berbahagialah dengan nikmat hari Idul Fitri ini. Bersyukurlah kepada Allah atas segala karunia yang tidak mungkin kita jumlah dan atas berbagai nikmat yang tiada terhingga dan terbilang.

وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَتَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا

“Dan jika kalian menghitung nikmat Allah, niscaya kalian tidak akan mampu membilangnya.” [Ibrâhîm: 34]

Wahai Umat Islam,

Bersyukur akan nikmat Allah adalah suatu kewajiban yang merupakan lambang penghambaan dan mahligai ‘ubûdiyyah kepada Allah. Allah Ta’âlâ memerintah,

وَاشْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ

“Dan syukurilah nikmat Allah jika kalian menyembah hanya kepada-Nya semata.” [An-Nahl: 114]

Kesyukuran akan nikmat adalah hal yang menambah nikmat dan karunia Allah sebagaimana yang Allah ingatkan dalam firman-Nya,

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

“Dan (ingatlah juga) tatkala Rabb kalian memaklumkan, ‘Sesungguhnya jika kalian bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepada kalian. Namun, jika kalian mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya adzab-Ku sangat pedih.’.” [Ibrâhîm: 7]

Siapa saja yang bersyukur akan nikmat Allah tidak perlu khawatir terhadap musibah dan siksaan karena Allah telah menjamin sebagaimana dalam firman-Nya,

مَا يَفْعَلُ اللهُ بِعَذَابِكُمْ إِنْ شَكَرْتُمْ وَآمَنْتُمْ وَكَانَ اللهُ شَاكِرًا عَلِيمًا

“Mengapa Allah akan menyiksa kalian jika kalian bersyukur dan beriman? Dan Allah adalah Maha Mensyukuri lagi Maha Mengetahui.” [An-Nisâ`: 147]

Kaum muslimin dan muslimat,

Pada hari Idul Fitri yang bergelimang nikmat ini, marilah kita merenungi dan mengingat-ingat berbagai nikmat agung, yang dengannya Allah memuliakan kita, sebelum datang suatu hari saat segala nikmat Allah akan dipertanyakan. Allah Ta’âlâ mengingatkan,

ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ

“Kemudian, kalian pasti akan ditanyai pada hari (kiamat) tentang segala kenikmatan (di dunia).” [At-Takâtsur: 8]

Salah satu nikmat-nikmat itu adalah nikmat keislaman dan keimanan. Janganlah sekali-kali mencari pedoman dan tuntunan hidup dari selain Islam karena Allah telah menyempurnakan segala nikmat dalam syariat Islam ini,

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

“Pada hari ini, telah Kusempurnakan agama kalian untuk kalian, dan telah Ku-cukupkan nikmat-Ku kepada kalian, serta telah Ku-ridhai Islam sebagai agama kalian.” [Al-Mâ`idah: 3]

Pelajari dan renungilah keindahan Islam yang merupakan satu-satunya agama penyelamat di dunia dan di akhirat, serta janganlah sekali-kali mengharap pedoman dan solusi, kecuali dari syariat Islam,

وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Barangsiapa yang mencari agama selain agama Islam, sekali-kali tidaklah (agama itu) akan diterima darinya, dan di akhirat dia tergolong sebagai orang-orang yang rugi.” [Âli ‘Imrân: 85]

Di antara nikmat Allah yang banyak dilalaikan oleh manusia adalah memurnikan ibadah hanya kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Nabi Yusuf ‘alaihis salâm mengingatkan,

وَاتَّبَعْتُ مِلَّةَ آبَائِي إِبْرَاهِيمَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ مَا كَانَ لَنَا أَنْ نُشْرِكَ بِاللَّهِ مِنْ شَيْءٍ ذَلِكَ مِنْ فَضْلِ اللَّهِ عَلَيْنَا وَعَلَى النَّاسِ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَشْكُرُونَ

“Dan aku mengikuti agama bapak-bapakku, yaitu Ibrahim, Ishaq, dan Ya’qub. Tiadalah kami (para Nabi) patut mempersekutukan sesuatu apapun dengan Allah. Yang demikian itu adalah dari karunia Allah kepada kami dan kepada manusia (seluruhnya); tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur (kepada-Nya).” [Yûsuf: 38]

Oleh karena itu, bersyukurlah kepada Allah dengan memurnikan segala ibadah hanya untuk-Nya,

بَلِ اللَّهَ فَاعْبُدْ وَكُنْ مِنَ الشَّاكِرِينَ

“Oleh karena itu, hendaklah hanya kepada Allah semata engkau menyembah, dan hendaklah engkau tergolong sebagai orang-orang yang bersyukur.”“ [Az-Zumar: 66]

Ketahuilah, bahwa dalam memurnikan ibadah kepada Allah, terdapat cahaya dalam kehidupan dan jaminan kebahagian di dunia dan akhirat sebagaimana yang Allah jelaskan dalam firman-Nya,

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Barangsiapa yang mengerjakan amal shalih, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, sesungguhnya Kami akan memberi kehidupan yang baik kepadanya dan sesungguhnya Kami akan membalas mereka dengan pahala yang lebih baik daripada apa-apa yang telah mereka kerjakan.” [An-Nahl: 97]

Ingatlah, hanya dalam pemurnian ibadah kepada Allah-lah, tercipta keamanan dan ketenangan hidup bagi orang-orang yang ingin terlepas dari belenggu makhluk dan syaithan. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولَئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُونَ

“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezhaliman (syirik), mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” [Al-An’âm: 82]

Berdoalah hanya kepada Allah!

Mohonlah perlindungan kepada Allah saja!

Tuluskan nadzar dan penyembelihan hanya untuk Allah!

Berharaplah hanya kepada-Nya semata!

Gantungkanlah segala masalah dan gundah gulana kehidupan hanya kepada Allah Yang Mencukupi hamba-Nya,

قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ. لَا شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ

“Katakanlah, ‘Sesungguhnya shalatku, ibadahku, serta hidup dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb alam semesta, tiada sekutu bagi-Nya. Demikian itulah yang diperintahkan kepadaku, dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah).” [Al-An’âm: 162-163]

Berhati-hatilah terhadap perbuatan kesyirikan. Kesyirikan adalah penghancur kenikmatan dan dosa terbesar yang akan mengakibatkan pelakunya kekal di dalam neraka. Allah Subhânahu mengingatkan,

إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ

“Sesungguhnya, barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, pasti Allah mengharamkan surga kepadanya, sedang tempatnya ialah neraka. Tidaklah ada seorang penolong pun bagi orang-orang zhalim itu.” [Al-Mâ`idah: 72]

Memalingkan ibadah kepada selain Allah adalah kehancuran terhadap seorang hamba. Allah menegaskan,

وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَكَأَنَّمَا خَرَّ مِنَ السَّمَاءِ فَتَخْطَفُهُ الطَّيْرُ أَوْ تَهْوِي بِهِ الرِّيحُ فِي مَكَانٍ سَحِيقٍ

“Barangsiapa yang mempersekutukan sesuatu dengan Allah, ia seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan oleh angin ke tempat yang jauh.” [Al-Hajj: 31]

Bahkan, keberadaan kesyirikan di tengah manusia adalah ancaman terhadap sebuah negeri dan penduduknya menuju malapetaka dan kebinasaan. Allah mengingatkan,

وَقَالُوا اتَّخَذَ الرَّحْمَنُ وَلَدًا. لَقَدْ جِئْتُمْ شَيْئًا إِدًّا. تَكَادُ السَّمَاوَاتُ يَتَفَطَّرْنَ مِنْهُ وَتَنْشَقُّ الْأَرْضُ وَتَخِرُّ الْجِبَالُ هَدًّا. أَنْ دَعَوْا لِلرَّحْمَنِ وَلَدًا. وَمَا يَنْبَغِي لِلرَّحْمَنِ أَنْ يَتَّخِذَ وَلَدًا.

“Dan mereka berkata, ‘Ar-Rahmân (Allah Yang Maha Pemurah) mengambil (mempunyai) anak.’ Sesungguhnya kalian telah mendatangkan suatu perkara yang sangat mungkar. Hampir-hampir langit pecah, karena ucapan itu, serta bumi terbelah dan gunung-gunung runtuh, sebab mereka menyerukan bahwa Ar-Rahmân mempunyai anak. Padahal, Ar-Rahmân tidaklah layak mengambil (mempunyai) anak. [Maryam: 88-92]

Kaum Muslimin dan Muslimat, rahimani wa rahimakumullah!

Di antara nikmat Allah yang patut kita syukuri adalah sesuatu yang Allah jelaskan dalam firman-Nya,

وَاذْكُرُوا إِذْ أَنْتُمْ قَلِيلٌ مُسْتَضْعَفُونَ فِي الْأَرْضِ تَخَافُونَ أَنْ يَتَخَطَّفَكُمُ النَّاسُ فَآوَاكُمْ وَأَيَّدَكُمْ بِنَصْرِهِ وَرَزَقَكُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

“Dan ingatlah (wahai para Muhajirin) ketika kalian masih berjumlah sedikit lagi tertindas di muka bumi (Makkah). Kalian takut bila orang-orang (Makkah) akan menculik kalian maka Allah memberi kalian tempat menetap (Madinah), dan Dia menjadikan kalian kuat dengan pertolongan-Nya, serta Dia melimpahkan rezeki kepada kalian berupa yang baik-baik agar kalian bersyukur.” [Al-Anfâl: 26]

Oleh karena itu, Allah memerintah dengan mengingatkan nikmat-Nya itu dalam firman-Nya,

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنْتُمْ عَلَى شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ.

“Dan berpeganglah kalian semua kepada tali (agama) Allah, janganlah kalian bercerai-berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepada kalian ketika dahulu (pada masa Jahiliyah) kalian bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hati kalian, lalu menjadilah kalian orang-orang yang bersaudara karena nikmat Allah; juga kalian telah berada di tepi jurang neraka, tetapi Allah menyelamatkan kalian dari (neraka) itu. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada kalian agar kalian mendapat petunjuk.” [Âli ‘Imrân: 103]

Agama kita satu, Rabb yang kita sembah hanyalah satu , dan kiblat kita juga satu. Hindarilah segala bentuk perpecahan dan perselisihan, baik berupa kesukuan, kelompok, maupun persekutuan.

وَلَا تَكُونُوا مِنَ الْمُشْرِكِينَ. مِنَ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ.

“Dan janganlah kalian tergolong sebagai orang-orang yang mempersekutukan Allah, yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa-apa yang ada pada golongan mereka.” [Ar-Rûm: 31-32]

Di antara nikmat Allah kepada manusia adalah adanya sebagian dari mereka yang menjaga sebagian yang lain. Allah Subhanahu mengingatkan,

وَلَوْلَا دَفْعُ اللَّهِ النَّاسَ بَعْضَهُمْ بِبَعْضٍ لَفَسَدَتِ الْأَرْضُ وَلَكِنَّ اللَّهَ ذُو فَضْلٍ عَلَى الْعَالَمِينَ.

“Seandainya Allah tidak menolak (keganasan) sebagian umat manusia terhadap sebagian yang lain, pasti rusaklah bumi ini, tetapi Allah mempunyai karunia (yang dicurahkan) atas alam semesta.” [Al-Baqarah: 251]

Ada dua tonggak pengaman di tengah manusia: pemerintah dan ulama.

Imam Sahl bin Abdillah At-Tastury berkata, “Manusia akan terus menerus berada di atas kebaikan selama mereka masih mengagungkan Sulthan dan Ulama. Tatkala mereka mengagungkan keduanya, Allah akan memperbaiki dunia dan akhirat mereka. Apabila mereka menghinakan keduanya, mereka telah merusak dunia dan akhirat mereka sendiri.” [Tafsîr Al-Qurthuby 5/260-261]

Oleh karena itu, hargailah pemimpin dan pemerintah kalian sebagaimana wejangan Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam,

مَنْ أَكْرَمَ سُلْطَانَ اللهِ فِي الدُّنْيَا، أَكْرَمَهُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، وَمَنْ أَهَانَ سُلْطَانَ اللهِ فِي الدُّنْيَا ، أَهَانَهُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Barangsiapa yang memuliakan sulthan Allah di dunia, Allah akan memuliakannya pada hari kiamat. (Namun) barangsiapa yang menghinakan sulthan Allah di dunia, Allah akan menghinakannya pada hari kiamat.” [Diriwayatkan oleh Ahmad dan selainnya. Dihasankan oleh Syaikh Al-Albâny dalam Ash-Shahîhah]

Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

مَنْ كَرِهَ مِنْ أَمِيرِهِ شَيْئًا فَلْيَصْبِرْ، فَإِنَّهُ مَنْ خَرَجَ مِنَ السُّلْطَانِ شِبْرًا مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً

“Barangsiapa yang membenci sesuatu (yang ada) pada pemimpinnya, hendaknya dia bersabar, karena siapa yang keluar terhadap sulthan sejengkal kemudian dia mati, matinya adalah mati jahiliyah.” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhâry dan Muslim dari Abdullah bin ‘Abbâs]

Bukanlah hal terlarang bila memberi nasihat kepada penguasa, tetapi bukan dengan cara ribut-ribut dan keonaran, bukan pula dengan cara berteriak-teriak di jalan dan menzhalimi manusia.

Kewajiban untuk memberi nasihat adalah terhadap orang yang berakal sesuai dengan etika dan ketentuannya. Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ أَرَادَ أَنْ يَنْصَحَ لِذِي سُلْطَانٍ فَلَا يُبْدِهِ عَلَانِيَةً، وَلَكِنْ يَأْخُذُ بِيَدِهِ فَيَخْلُو بِهِ، فَإِنْ قَبِلَ مِنْهُ فَذَاكَ، وَإِلَّا كَانَ قَدْ أَدَّى الَّذِي عَلَيْهِ

“Barangsiapa yang menasihati penguasa, janganlah dia menampakkan (nasihat itu) secara terang-terangan, tetapi hendaknya dia mengambil tangan (penguasa tersebut) dan berduaan dengannya. Kalau (sang penguasa) menerima, itulah (yang diinginkan). Akan tetapi, jika (sang penguasa) menolak, dia telah menunaikan kewajibannya.” [Diriwayatkan oleh Ibnu Abi ‘Âshim, Al-Hâkim, dan Al-Baihaqy]

Terhadap pemimpin untuk berlaku lembut terhadap rakyatnya dan menjaga segala kebaikan dan kemashlahatan mereka. Rasulullah mengingatkan,

مَا مِنْ عَبْدٍ اسْتَرْعَاهُ اللَّهُ رَعِيَّةً، فَلَمْ يَحُطْهَا بِنَصِيحَةٍ، إِلَّا لَمْ يَجِدْ رَائِحَةَ الجَنَّةِ

“Tidaklah seorang hamba diberi tanggung jawab oleh Allah dengan suatu tanggung jawab, kemudian dia tidak menjaganya secara tulus dan maksimal kecuali dia tidak akan mencium baunya sorga.” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhâry dan Muslim dari Ma’qil bin Yasar. Lafazh hadits adalah milik Al-Bukhâry]

Kaum muslimin dan muslimat,

Juga ketahuilah kedudukan para ulama sebagai lentera umat dan pembimbing mereka menuju kepada jalan yang lurus. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

“Bertanyakanlah kalian kepada orang-orang yang berilmu, jika kalian tiada mengetahui.” [Al-Anbiyâ`: 7]

Rasulullah bersabda,

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ القُرْآنَ وَعَلَّمَهُ

“Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur`an dan mengajarkan (Al-Qur`an).” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhâry dari Utsman bin Affan]

Keberadaan rumah tangga yang memberikan kesejukan antara satu dengan lainnya adalah suatu nikmat yang hendaknya dijaga. Hendaknya kepala rumah tangga tidak menelantarkan nikmat Allah dengan membiarkan ada kemungkaran di tengah rumah tangganya. Allah Subhânahu wa Ta’âlâ berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” [At-Tahrîm: 6]

Kaum Muslimin dan Muslimat,

Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam mengingatkan kepada kita akan lima nikmat yang banyak dilalaikan. Beliau berpesan dalam sabdanya yang mulia,

اغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ : شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ ، وَصِحَتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ ، وَغِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ ، وَفَرَاغَكَ قَبْلَ شُغْلِكَ ، وَحَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ

“Manfaatkanlah segera lima perkara sebelum (datang) lima perkara: waktu mudamu sebelum (datang) waktu tuamu, kesehatanmu sebelum (datang) sakitmu, kekayaanmu sebelum (datang) kefakiranmu, waktu luangmu sebelum (datang) waktu sibukmu, dan kehidupanmu sebelum (datang) kematianmu.” [Diriwayatkan oleh Al-Hâkim dan selainnya dari Ibnu ‘Abbâs radhiyallâhu ‘anhumâ. Dishahihkan oleh Al-Albany rahimahullâh]

Wahai Para Pemuda dan Pemudi harapan umat,

Tataplah kehidupan untuk masa depan, jadilah orang yang paling bermanfaat bagi manusia, dan jadilah orang-orang yang berbekah di manapun kalian berada sebagaimana keberadaan yang Nabi Isa ‘alaihis salâm yang berkata,

وَجَعَلَنِي مُبَارَكًا أَيْنَ مَا كُنْتُ.

 “Dan Dia menjadikanku sebagai orang yang diberkahi di mana saja aku berada.” [Maryam: 31]

Wahai Kaum Muslimat!

Penghormatan dan penjagaan Islam kepada kaum perempuan adalah suatu nikmat yang sangat agung. Tidak pernah tercatat, dalam sejarah umat manapun, bahwa ada yang melebihi syariat Islam dalam hal pengagungan kepada kaum perempuan. Oleh karena itu, suatu hal yang sangat mengherankan bahwa banyak kaum muslimat yang berkiblat  kepada perempuan-perempuan kafir yang tidak pernah mengenal makna kehormatan. Allah telah memerintah,

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا

“Wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang mukmin, ‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.’ Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah dikenal maka mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” [Al-Ahzâb: 59]

Kaum Muslimin dan Muslimat,

Pada hari kemarin kita dimuliakan dengan bulan Ramadhan. Tiada terasa waktu terus bergulir, dan hari ini kita telah meninggalkan Ramadhan. Itulah hari-hari kehidupan yang terus berjalan tanpa henti menuju suatu yang pasti: kehidupan akhirat, yang di hadapan Allah kita akan berdiri,

وَاتَّقُوا يَوْمًا تُرْجَعُونَ فِيهِ إِلَى اللَّهِ ثُمَّ تُوَفَّى كُلُّ نَفْسٍ مَا كَسَبَتْ وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ.

“Dan peliharalah diri kalian dari (adzab yang terjadi pada) hari yang, pada waktu itu, kalian semua dikembalikan kepada Allah. Kemudian masing-masing diri diberi balasan sempurna terhadap segala sesuatu yang telah mereka kerjakan, sedang sedikitpun mereka tidak dianiaya (dirugikan).” [Al-Baqarah: 281]

Perbaharuilah lembaran-lembaran kehidupan yang segala hasilnya akan kembali kepada kita juga,

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا فَلِنَفْسِهِ وَمَنْ أَسَاءَ فَعَلَيْهَا وَمَا رَبُّكَ بِظَلَّامٍ لِلْعَبِيدِ.

“Barangsiapa yang mengerjakan amalan shalih, (pahalanya) untuk dirinya sendiri, sedangkan barangsiapa mengerjakan perbuatan jahat, (dosanya) untuk dirinya sendiri; dan sekali-kali tidaklah Rabb-mu menganiaya hamba-hamba-Nya. [Fushshilat: 46]

Wahai Umat Islam,

Bulan Ramadhan telah meninggalkan kita. Siapa saja yang beribadah kepada Allah, menegakkan shalat, puasa, dan zakat, membaca Al-Qur’an, serta amalan kebaikan hanya di bulan Ramadhan, sesungguhnya Ramadhan telah berlalu. Namun, siapa saja yang menegakkan ibadah-ibadah tersebut karena Allah, sesungguhnya Allah Maha Hidup dan Maha Kekal, serta Allah mencintai hamba yang telah menyelesaikan suatu ibadah kemudian menyambung ibadah tersebut dengan ibadah yang lain. Allah memerintah kepada Nabi-Nya,

فَإِذَا فَرَغْتَ فَانْصَبْ. وَإِلَى رَبِّكَ فَارْغَبْ.

“Maka apabila engkau telah selesai (dari suatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) lain, dan hanya kepada Rabb-mulah hendaknya engkau berharap. [Asy-Syarh: 7-8]

Hiasilah kehidupan dengan ibadah kepada Allah pada segala keadaan dan pada setiap waktu sebagaimana sabda Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam,

اتَّقِ اللَّهِ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ

“Bertakwalah kepada Allah di manapun engkau berada, dan ikutilah kejelekan dengan kebaikan niscaya (kebaikan itu) menghapus (kejelekan), serta berinteraksilah dengan manusia dengan akhlak yang baik.” [Diriwayatkan oleh At-Tirmidzy dari Abu Dzarr]

Kaum muslimin dan muslimat!

Bersyukurlah kepada Allah akan nikmat ketenangan, keamanan, dan kecukupan.

Pada hari yang berbahagia ini, sejumlah kaum muslimin menghadiri hari Id ini dengan linangan air mata serta berbagai duka dan nestapa. Oleh karena itu, ulurkanlah tangan kebaikan dan tuangkanlah dari ketulusan hati kepada saudara-saudara seagama. Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda,

هَلْ تُنْصَرُونَ وَتُرْزَقُون إِلّا بِضُعَفَائِكُمْ

“Tidaklah kalian mendapat pertolongan dan kelapangan rezekikecuali dengan sebab (memperhatikan) orang-orang lemah di antara kalian.” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhary dari Sa’d bin Abi Waqqâsh radhiyallahu ‘anhu]

Juga janganlah lupa kepada kaum muslimin di berbagai belahan dunia: di Suriah, Myanmar, dan selainnya yang diliputi oleh berbagai kesedihan. Curahkanlah doa dan bantuan untuk mereka. Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam mengingatkan,

المُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا

“Seorang mukmin bagi mukmin yang lain seperti bangunan, yang sebagiannya menguatkan sebagian yang lain.” (Dikeluarkan oleh Al-Bukhâry dan Muslim dari Abu Musa Al-Asy’ary radhiyallahu ‘anhu)

Pada hari ini, marilah kita senantiasa menghargai nikmat Allah dengan menggunakan nikmat tersebut dalam hal yang dicintai dan diridhai oleh Allah. Janganlah menggunakan nikmat Allah dalam dosa, maksiat, permusuhan, dan memutus silaturahim.

Semoga Allah ‘Azza wa Jalla senantiasa menjaga kita semua di atas segala nikmat dan melindungi kita dari segala musibah dan malapetaka.

Sebagaimana, kita bermohon kepada-Nya agar Dia menerima amalan puasa, shalat, zakat, sedekah, bacaan Al-Qur`an, dan segala amalan shalih, serta menjadikan amalan tersebut sebagai pembebas leher-leher kita dari api neraka.

Semoga, pada setiap tahunnya, kaum muslimin dan muslimat selalu berada di atas kebaikan dan ketakwaan, tergolong ke dalam Al-Fâ`izin ‘orang-orang yang beruntung’ dan Al-Â’idin ‘orang-orang yang terlahir kembali, bersih dari dosa’.

تَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ صَالِحَ الْأَعْمَالِ، وَصَلَّى اللهُ وَبَارَكَ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيمًا مَزِيدًا.

—————————————————————————–

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Tulisan lainnya

Tulis komentar

Logged in as admin. Log out »



jannatul-firdaus.net @2018

Pengagungan Kepada Allah

Bagikan…

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Pengagungan Kepada
Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى‎

  • Oleh : Ustadz Dzulqarnain M. Sunusi hafizhahullah
  • [Pembina Peduli Dakwah]

Kaum muslimin dan muslimat, Jamaah Shalat Idul Adha yang saya hormati dan saya muliakan,

Dalam sebuat haditsnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَعْظَمُالأَيَّامِعِنْدَاللَّهِيَوْمُالنَّحْرِثُمَّيَوْمُالْقَرِّ

“Hari yang paling agung di sisi Allah adalah hari An-Nahr kemudian hari Al-Qarr.”[Diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Dâwud, An-Nasâ`iy dan selainnya dari Abdullah bin Qurâth radhiyallahu ‘anhu. Dishahih­kan oleh Al-Albâny dalam Irwâ’ul Ghalîl no. 1958.]

Suatu hal yang dimaklumi bahwa, pada hari yang agung ini, Allah telah mengumpulkan berbagai ibadah yang agung berupa shalat Id, ibadah qurban, dzikir dan takbir, pelemparan jamratul aqba bagi jamaah haji, thawaf ifadhah, dan selainnya.

Marilah, pada hari yang agung ini, kita merenungi keagungan dan kebesaran Allah ‘Azza wa Jalla yang telah mensyariatkan sejumlah ibadah agung pada hari yang berbahagia ini.

Allah menyebutkan dua kaidah agung dalam dua ayatAl-Qur`an yang patut kita renungi dan menjadi pijakan kehidupan kita.

Ayat pertama adalah firman Allah,

ذَلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ حُرُمَاتِ اللَّهِ فَهُوَ خَيْرٌ لَهُ عِنْدَ رَبِّهِ

“Demikianlah (perintah Allah).Dan barangsiapa yang mengagungkan apa-apa yang terhormat di sisi Allah, hal itu adalah lebih baik baginya di sisi Rabb-nya.” [Al-Hajj: 30]

Ayat kedua adalah firman Allah,

ذَلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوبِ

“Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa yang mengagungkan syiar-syiar Allah, sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati.” [Al-Hajj: 32]

Dua ayat di atas berisi kaidah pengagungan terhadap segala hal yang diharamkan dan dibesarkan di sisi Allah dan kaidah pengagungan terhadap simbol-simbol pokok agama Islam.

Kenalilah kebesaran dan keagungan Allah Al-‘Azhîm (Yang Maha Agung). Allah telah mengingatkan dalam sebuah hadits qudsy,

الْكِبْرِيَاءُ رِدَائِي، وَالْعَظَمَةُ إِزَارِي، فَمَنْ نَازَعَنِي وَاحِدًا مِنْهُمَا، قَذَفْتُهُ فِي النَّارِ

“Kebesaran adalah rida`-Ku dan keagungan adalah sarung-Ku. Barangsiapa yang mengganggu-Ku pada salah satu di antara keduanya, Aku akan melemparkannya kedalam neraka.” [Diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Dawud, dan Ibnu Mâjah. Dishahihkan oleh Al-Albâny dalam Ash-Shahîhah no. 541]

Mereka yang lalai dari mengagungkan dan membesarkan Allah bukanlah tergolong sebagai orang-orang yang beriman kepada-Nya,

وَمَا قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ وَالْأَرْضُ جَمِيعًا قَبْضَتُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَالسَّمَاوَاتُ مَطْوِيَّاتٌ بِيَمِينِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُونَ

“Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya, padahal bumi seluruhnya berada dalam genggaman-Nya pada hari kiamat, sedang langit digulung dengan tangan kanan-Nya. Maha Suci (Allah) dan Maha Tinggi Dia dari kesyirikan yang mereka lakukan.” [Az-Zumar: 67]

Marilah, pada hari yang agung ini, kita membesarkan Allah ‘Azza wa Jalla dan mengagungkan segala tuntunan dan syariat-Nya.

Pada hari raya Idul Qurban ini, Allah telah menyebutkan kewajiban pengagungan yang paling besar. Allah berfirman,

وَلِكُلِّ أُمَّةٍ جَعَلْنَا مَنْسَكًا لِيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَى مَا رَزَقَهُمْ مِنْ بَهِيمَةِ الْأَنْعَامِ فَإِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ فَلَهُ أَسْلِمُوا وَبَشِّرِ الْمُخْبِتِينَ

“Dan bagi tiap-tiap umat, telah Kami syariatkan penyembelihan (qurban) supaya mereka menyebut nama Allah pada binatang ternak yang telah Allah direzekikan kepada mereka maka sembahan kalian ialah Sembahan Yang Maha Satu. Oleh karena itu, berserah-dirilah kalian kepada-Nya. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (kepada Allah).” [Al-Hajj: 34]

Memurnikan ibadah kepada Allah adalah kewajiban terbesar yang merupakan misi dakwah setiap nabi dan rasul. Allah mengingatkan,

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ

“Dan sesungguhnya, Kami telah mengutus rasul pada setiap umat (untuk menyerukan), ‘Beribadahlah kepada Allah (semata) dan jauhilah thaghut (segala sesuatu yang diibadahi selain Allah).’.” [An-Nahl: 36]

Oleh karena itu, agungkanlah Allah dengan mengikhlaskan ibadah hanya kepada-Nya.

قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ. لَا شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ

“Katakanlah, ‘Sesungguhnya shalatku, ibadahku, serta hidup dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb alam semesta, tiada sekutu bagi-Nya.Demikian itulah yang diperintahkan kepadaku, dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah).”“ [Al-An’âm: 162-163]

Agungkanlah peribadahan hanya kepada Allah agar kita semua meraih kebahagian hidup yang hakiki,

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Barangsiapa yang beramal shalih, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman (bertauhid), sesungguhnya Kami akan memberi kehidupan yang baik (indah, bahagia) kepadanya dan sesungguhnya Kami akan membalas mereka dengan pahala yang lebih baik daripada apa-apa yang telah mereka kerjakan.” [An-Nahl: 97]

Agungkanlah Allah dalam segala ibadah jika kalian menghendaki kesejahteraan dan kebaikan di negeri ini,

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu maka Kami menyiksa mereka disebabkan oleh perbuatan mereka.”[Al-A’râf: 96]

Kaum Muslimin dan Muslimat,

Di antara pengagungan kepada Allah Subhânahu wa Ta’âlâ adalah menyucikan Allah terhadap segala bentuk kesyirikan. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

فَاجْتَنِبُوا الرِّجْسَ مِنَ الْأَوْثَانِ وَاجْتَنِبُوا قَوْلَ الزُّورِ. حُنَفَاءَ لِلَّهِ غَيْرَ مُشْرِكِينَ بِهِ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَكَأَنَّمَا خَرَّ مِنَ السَّمَاءِ فَتَخْطَفُهُ الطَّيْرُ أَوْ تَهْوِي بِهِ الرِّيحُ فِي مَكَانٍ سَحِيقٍ

“Maka hendaknya kalian menjauhi berhala-berhala yang najis itu dan jauhilah perkataan-perkataan dusta dengan ikhlas kepada Allah, tidak mempersekutukan sesuatu apapun dengan Dia. Barangsiapa yang mempersekutukan sesuatu dengan Allah, ia seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan oleh angin ke tempat yang jauh.” [Al-Hajj: 30-31]

Perhatikanlah kehancuran orang-orang yang berbuat kesyirikan kepada Allah.

Suatu hal yang sangat mengherankan bahwa kita melihat pada seorang, apabila mendapatkan kepastian akan datangnya gelombang tsunami, letusan gunung berapi, gempa bumi, banjir bandang, lonsor, dan selainnya, akan terlihat padanya ketakutan yang luar biasa dan berbagai persiapan untuk menyelamatkan diri, keluarga dan harta benda. Merupakan pengagungan yang sangat besar kepada harta dan jiwa mereka. Namun, dia tidak pernah berpikir untuk mengagungkan Allah, bahkan mereka mengundang datangnya petaka dan kehancuran dengan berbagai praktik kesyirikan yang mereka lakukan. Adakah yang mengetahui bahwa sebab kebinasaan dan kehancuran alam semesta adalah dengan adanya kesyirikan? Bukankah Allah ‘Azza wa Jalla telah mengingatkan,

وَقَالُوا اتَّخَذَ الرَّحْمَنُ وَلَدًا. لَقَدْ جِئْتُمْ شَيْئًا إِدًّا. تَكَادُ السَّمَاوَاتُ يَتَفَطَّرْنَ مِنْهُ وَتَنْشَقُّ الْأَرْضُ وَتَخِرُّ الْجِبَالُ هَدًّا. أَنْ دَعَوْا لِلرَّحْمَنِ وَلَدًا. وَمَا يَنْبَغِي لِلرَّحْمَنِ أَنْ يَتَّخِذَ وَلَدًا

“Dan mereka berkata, ‘Ar-Rahmân (Allah Yang Maha Pemurah) mengambil (mempunyai) anak.’Sesungguhnya kalian telah mendatangkan suatu perkara yang sangat mungkar. Hampir-hampir langit pecah, karena ucapan itu, serta bumi terbelah dan gunung-gunung runtuh, sebab mereka menyerukan bahwa Ar-Rahmân mempunyai anak. Padahal, Ar-Rahmân tidaklah layak mengambil (mempunyai) anak.” [Maryam: 88-92]

Wahai Umat Islam,

Agungkanlah Allah dengan meninggalkan segala dosa dan kemaksiatan,

إِنْ تَجْتَنِبُوا كَبَائِرَ مَا تُنْهَوْنَ عَنْهُ نُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَنُدْخِلْكُمْ مُدْخَلًا كَرِيمًا

“Jika kalian menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang kalian dilarang kerjakan, niscaya Kami menghapus kesalahan-kesalahan kalian dan memasukkan kalian ke tempat yang mulia (surga).” [An-Nisâ`: 31]

Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam mengingatkan,

اجْتَنِبُوْا السَّبْعَ الْمُوْبِقَاتِ قِيْلَ يَا رَسُوْلَ اللهِ وَمَا هُنَّ ؟ قَالَ الشِّرْكُ بِاللهِ وَالسِّحْرُ وَقَتْلُ النَّفْسِ الَّتِيْ حَرَّمَ اللهُ إِلَّا بِالْحَقِّ وَأَكْلُ مَالِ الْيَتِيْمِ وَأَكْلُ الرِّبَا وَالتَوَلِّيْ يَوْمَ الزَّحْفِ وَقَذْفُ الْمُحْصَنَاتِ الْغَافِلَاتِ الْمُؤْمِنَاتِ

“Hindarilah tujuh hal yang membinasakan.” Ditanyakan kepada beliau, “Wahai Rasulullah, apa (ketujuh) hal itu?” Beliau menjawab, “(1) Berbuat kesyirikan kepada Allah, (2) (berbuat) sihir, (3) membunuh jiwa yang Allah haramkan, kecuali dengan haq, (4) memakan harta anak yatim, (5) memakan riba, (6) lari pada hari perjumpaan dengan musuh, dan (7) menuduh perempuan mukminah, yang menjaga diri lagi tidak kenal maksiat, dengan perbuatan zina.”.” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhâry dan Muslim dari hadits Abu Hurairah radhiyallâhu ‘anhu]

Di mana pengagungan sejumlah kaum muslimin yang masih saja mendatangi dukun-dukun dan memercayai paranormal? Bukankah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda,

مَنْ أَتَى كَاهِنًا، أَوْ عَرَّافًا، فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُولُ، فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ

“Barangsiapa yang mendatangi dukun atau paranormal, lalu membenarkan ucapan (dukun atau paranormal) itu, sungguh dia telah kafir terhadap (risalah) yang diturunkan kepada Muhammad.” [Dikeluarkan oleh Ahmad dan Al-Hâkim. Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albâny dalam Irwâ`ul Ghalîl 7/69-70]

Di mana pengagungan sejumalah kaum muslimat yang masih saja menanggalkan jilbab dan mengikuti pakaian perempuan-perempuan kafir? Bukankah Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam telah mengingatkan,

صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا، قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُونَ بِهَا النَّاسَ، وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيلَاتٌ مَائِلَاتٌ، رُءُوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ، لَا يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ، وَلَا يَجِدْنَ رِيحَهَا، وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ كَذَا وَكَذَا

“Dua golongan dari penduduk neraka, yang aku belum pernah melihat keduanya: suatu kaum yang membawa cambuk-cambuk seperti ekor-ekor sapi, dia memukul manusia dengan (cambuk-cambuk) itu, dan para perempuan yang berpakaian tetapi telanjang, menyesatkan orang lain, bersisir seperti pezina, kepala mereka seperti punuk-punuk unta yang miring. Mereka tidak akan dimasukkan ke dalam surga dan tidak akan mencium bau (surga), padahal bau (surga) bisa dicium dari jarak begini dan begini.” [Diriwayatkan oleh Muslim dari Abu Hurairah radhiyallâhu ‘anhu]

Janganlah mengundang musibah dan petaka dengan dosa dan kemaksiatan. Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam mengingatkan,

يَا مَعْشَرَ الْمُهَاجِرِيْنَ خَمْسٌ إِذَا ابْتُلِيْتُمْ بِهِنَّ وَأَعُوْذُ بِاللَّهِ أَنْ تُدْرِكُوْهُنَّ لَمْ تَظْهَرِ الْفَاحِشَةُ فِيْ قَوْمٍ قَطُّ حَتَّى يُعْلِنُوا بِهَا إِلاَّ فَشَا فِيْهِمُ الطَّاعُوْنُ وَالأَوْجَاعُ الَّتِيْ لَمْ تَكُنْ مَضَتْ فِيْ أَسْلاَفِهِمُ الَّذِيْنَ مَضَوْا. وَلَمْ يَنْقُصُوا الْمِكْيَالَ وَالْمِيْزَانَ إِلاَّ أُخِذُوا بِالسِّنِيْنَ وَشِدَّةِ الْمَؤُنَةِ وَجَوْرِ السُّلْطَانِ عَلَيْهِمْ. وَلَمْ يَمْنَعُوا زَكَاةَ أَمْوَالِهِمْ إِلاَّ مُنِعُوا الْقَطْرَ مِنَ السَّمَاءِ وَلَوْلاَ الْبَهَائِمُ لَمْ يُمْطَرُوا وَلَمْ يَنْقُضُوا عَهْدَ اللَّهِ وَعَهْدَ رَسُوْلِهِ إِلاَّ سَلَّطَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ عَدُوًّا مِنْ غَيْرِهِمْ فَأَخَذُوا بَعْضَ مَا فِيْ أَيْدِيْهِمْ. وَمَا لَمْ تَحْكُمْ أَئِمَّتُهُمْ بِكِتَابِ اللَّهِ وَيَتَخَيَّرُوا مِمَّا أَنْزَلَ اللَّهُ إِلاَّ جَعَلَ اللَّهُ بَأْسَهُمْ بَيْنَهُمْ

“Wahai kaum Muhajirin, ada lima perkara, apabila kalian tertimpa dengannya -dan saya berlindung kepada Allah agar kalian tidak mendapatinya-. (Pertama,) tidaklah kekejian tampak pada suatu kaum, kemudian mereka melakukan (kekejian) itu secara terang-terangan, kecuali bahwa akan tersebar kepada mereka penyakit thâ’ûn dan penyakit-penyakit yang belum pernah melanda pendahulu-pendahulu mereka yang telah berlalu. (Kedua,) tidaklah mereka mengurangi takaran dan timbangan, kecuali bahwa mereka akan ditimpa oleh kemarau yang panjang, krisis pangan, dan keseweng-wenangan penguasa. (Ketiga,) tidaklah mereka menunda untuk mengeluarkan zakat harta mereka, kecuali bahwa hujan dari langit akan ditahan untuk mereka. Andaikata bukan karena hewan-hewan ternak, niscaya mereka tidak mendapatkan hujan (sama sekali). (Keempat,) tidaklah mereka melanggar perjanjian dengan Allah dan perjanjian dengan Rasul-Nya, kecuali bahwa Allah akan menjadikan musuh, yang bukan dari kalangan mereka, berkuasa terhadap mereka kemudian (para musuh itu) mengambil sebagian (harta) yang berada di tangan mereka. (Kelima,) tidaklah para penguasa mereka tidak berhukum dengan kitab Allah dan tidak memilih (hukum) yang Allah turunkan, kecuali bahwa Allah menjadikan kehancuran mereka antara sesama mereka sendiri.” [Diriwayatkan oleh Ibnu Mâjah dan selainnya.Dihasankan oleh Al-Albâny dengan beberapa pendukungnya. Bacalah Ash-Shahîhah no. 106]

Wahai Kaum Muslimin dan Muslimat,

Pada hari-hari Tasyrîq yang agung, Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam pernah berkhutbah,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ، أَلَا إِنَّ رَبَّكُمْ وَاحِدٌ، وَإِنَّ أَبَاكُمْ وَاحِدٌ، أَلَا لَا فَضْلَ لِعَرَبِيٍّ عَلَى عَجَمِيٍّ، وَلَا لِعَجَمِيٍّ عَلَى عَرَبِيٍّ، وَلَا أَحْمَرَ عَلَى أَسْوَدَ، وَلَا أَسْوَدَ عَلَى أَحْمَرَ، إِلَّا بِالتَّقْوَى

“Wahai sekalian manusia, ketahuilah bahwa Rabb kalian adalah satu, dan ayah kalian semua adalah satu. Ketahuilah, tidak ada keutamaan orang Arab di atas orang Ajam, juga tidak ada (keutamaan) orang Ajam di atas orang Arab, serta tidak ada (keutamaan) orang berkulit merah di atas orang yang berkulit hitam, dan tidak ada (keutamaan) orang berkulit hitam di atas orang berkulit merah, kecuali dengan ketakwaan.” [Diriwayatkan oleh Ahmad dan selainnya. Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albâny dalam Ash-Shahîhah no. 2700]

Wahai Umat Islam, Rabb yang kita sembah hanyalah Allah Yang Maha Satu!

Nabi yang menjadi panutan kita hanyalah Nabi Muhammad shallallâhu ‘alaihi wa sallam!

Kita semua melaksanakan shalat hanya menghadap kepada kiblat yang satu!

Kita semua adalah keturunan Nabi Adam, ayah seluruh manusia.

Tanggalkanlah segala perpecahan dan perselisihan.

Hindarilah segala bentuk fanatisme suku dan golongan.

Janganlah menjadi pendukung syaithan ke jalan kehancuran.

Allah mengingatkan,

وَلَا تَكُونُوا مِنَ الْمُشْرِكِينَ. مِنَ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ

“Dan janganlah kalian tergolong sebagai orang-orang yang mempersekutukan Allah, yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan.Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa-apa yang ada pada golongan mereka.” [Ar-Rûm: 31-32]

Kaum muslimini dan Muslimat,

Di antara pengagungan kepada Allah adalah mengagungkan dua golongan yang kedudukan mereka telah dijelaskan di tengah manusia.

Imam Sahl bin Abdillah At-Tastury berkata,

لَا يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا عَظَّمُوا السُّلْطَانَ وَالْعُلَمَاءَ، فَإِذَا عَظَّمُوا هَذَيْنَ أَصْلَحَ اللَّهُ دُنْيَاهُمْ وَأُخْرَاهُمْ، وَإِذَا اسْتَخَفُّوا بهذين أَفْسَدُوْا دَنْيَاهُمْوَأُخْرَاهُمْ

“Manusia akan terus menerus berada di atas kebaikan selama mereka masih mengagungkan sulthan dan ulama. Tatkala mereka mengagungkan keduanya, Allah akan memperbaiki dunia dan akhirat mereka. Apabila mereka menghinakan keduanya, mereka telah merusak dunia dan akhirat mereka sendiri.” [Tafsîr Al-Qurthuby 5/260-261]

Adanya pemimpin di tengah manusia adalah sebuah hikmah dan anugerah dari Allah. Allah Subhânahu mengingatkan,

وَلَوْلَا دَفْعُ اللَّهِ النَّاسَ بَعْضَهُمْ بِبَعْضٍ لَفَسَدَتِ الْأَرْضُ وَلَكِنَّ اللَّهَ ذُو فَضْلٍ عَلَى الْعَالَمِينَ

“Seandainya Allah tidak menolak (keganasan) sebagian umat manusia terhadap sebagian yang lain, pasti rusaklah bumi ini, tetapi Allah mempunyai karunia (yang dicurahkan) atas alam semesta.” [Al-Baqarah: 251]

Oleh karena itu, hargailah pemimpin dan pemerintah kalian sebagaimana wejangan Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam,

مَنْ أَكْرَمَ سُلْطَانَ اللهِ فِي الدُّنْيَا، أَكْرَمَهُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، وَمَنْ أَهَانَ سُلْطَانَ اللهِ فِي الدُّنْيَا، أَهَانَهُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Barangsiapa yang memuliakan sulthan Allah di dunia, Allah akan memuliakannya pada hari kiamat. (Namun), barangsiapa yang menghinakan sulthan Allah di dunia, Allah akan menghinakannya pada hari kiamat.” [Diriwayatkan oleh Ahmad dan selainnya. Dihasankan oleh Syaikh Al-Albâny dalam Ash-Shahîhah]

Terhadap pemimpin, hendaklah dia berlaku lembut kepada rakyatnya dan menjaga segala kebaikan dan kemashlahatan mereka. Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam mengingatkan,

اللهُمَّ، مَنْ وَلِيَ مِنْ أَمْرِ أُمَّتِي شَيْئًا فَشَقَّ عَلَيْهِمْ، فَاشْقُقْ عَلَيْهِ، وَمَنْ وَلِيَ مِنْ أَمْرِ أُمَّتِي شَيْئًا فَرَفَقَ بِهِمْ، فَارْفُقْ بِهِ

“Ya Allah, siapa saja yang memimpin suatu perkara dari umatku, tetapi kemudian dia memberatkan mereka, beratkanlah terhadapnya. Namun, siapa saja yang memimpin suatu perkara dari umatku, lalu dia berlemah lembut kepada mereka, berlemah-lembutlah kepadanya.” [Diriwayatkan oleh Muslim dari Aisyah radhiyallâhu ‘anhâ]

Kaum muslimin dan muslimat,

Juga ketahuilah kedudukan para ulama yang merupakan pewaris para nabi dan penegak kebaikan di tengah umat. Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَيْسَ مِنْ أُمَّتِي مَنْ لَمْ يُجِلَّ كَبِيرَنَا، وَيَرْحَمْ صَغِيرَنَا، وَيَعْرِفْ لِعَالِمِنَا

“Bukanlah dari umatku, orang yang tidak menghormati orang tuanya, (tidak) merahmati orang mudanya, dan (tidak) mengenal hak orang berilmu di kalangan kami.” [Diriwayatkan oleh Ahmad dan Al-Hâkim]

Juga beliau bersabda,

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ القُرْآنَ وَعَلَّمَهُ

“Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur`an dan mengajarkan (Al-Qur`an).” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhâry dari Utsman bin Affan]

Jamaah Shalat Id yang berbahagia,

Agungkanlah Al-Qur`an dan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Pelajarilah kandungan ilmu dan kebaikan yang terdapat padanya.Amalkan segala tuntunan dan syari’atnya.Itulah jalan kebahagian dan kesejahteraan umat Islam. Allah berfirman,

فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُمْ مِنِّي هُدًى فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلَا يَضِلُّ وَلَا يَشْقَى. وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى

“Maka jika datang kepada kalian petunjuk daripada-Ku, barangsiapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan sengsara.Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.” [Thâhâ: 123-124]

Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَاتَبَايَعْتُمْبِالْعِيْنَةِوَأَخَذْتُمْأَذْنَابَالْبَقَرِوَرَضِيْتُمْبِالزَّرْعِوَتَرَكْتُمُالْجِهَادَسَلَّطَاللَّهُعَلَيْكُمْذُلاًّلاَيَنْزِعُهُحَتَّىتَرْجِعُواإِلَىدِيْنِكُمْ

“Apabila kalian telah berjual-beli dengan cara‘înah (salah satu bentuk riba), telah mengambil ekor-ekor (baca: sibuk beternak) sapi, telah ridha dengan pertanian, dan meninggalkan jihad, niscaya Allah akan menimpakan suatu kehinaan kepada kalian. Tidaklah Dia mencabut (kehinaan) itu, kecuali setelah kalian kembali kepada agama kalian.”[Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan selainnya dari Ibnu Umar radhiyallâhu ‘anhumâ. Dishahihkan oleh Al-Albâny dengan beberapa jalurnya dalam Ash-Shahîhah no. 11]

Wahai Hamba-hamba Allah!

Allahu Akbar, Dialah Allah Yang Maha Besar dalam penciptaan dan kekuasaannya.

Allahu Akbar, Dialah Allah Yang Maha Besar dalam kemurnian ibada kepada-Nya.

Allahu Akbar, Dialah Allah Yang Maha Besar dalam seluruh nama dan sifat-Nya.

Allahu Akbar, Dialah Allah Yang Maha Besardalam agama dan syari’at-Nya.

Allahu Akbar, Dialah Allah Yang Maha Besar dalam ketentuan dan takdir-Nya.

Tataplah kehidupan ini dengan tatapan seorang hamba yang memahami keagungan Rabb-Nya, pandangan seorang yang hatinya makmur dengan rasa takut kepada-Nya, dan penghayatan seorang yang sangat menyadari bahwa dirinya akan kembali kepada Allah.

وَاتَّقُوا يَوْمًا تُرْجَعُونَ فِيهِ إِلَى اللَّهِ ثُمَّ تُوَفَّى كُلُّ نَفْسٍ مَا كَسَبَتْ وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ

“Dan peliharalah diri kalian dari (adzab yang terjadi pada) hari yang, pada waktu itu, kalian semua dikembalikan kepada Allah.Kemudian masing-masing diri diberi balasan sempurna terhadap segala sesuatu yang telah mereka kerjakan, sedang sedikitpun mereka tidak dianiaya (dirugikan).” [Al-Baqarah: 281]

Agungkan Allah yang telah memberi nikmat kehidupan agar engkau menggunakannya sebagai jalan keselamatan yang mengantar kepada sorga.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ. وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللَّهَ فَأَنْسَاهُمْ أَنْفُسَهُمْ أُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada mereka sendiri.Mereka itulah orang-orang yang fasik.Tidaklah sama penghuni-penghuni neraka dengan penghuni-penghuni jannah; penghuni-penghuni jannah itulah orang-orang yang beruntung.” [Al-Hasyr: 18-19]

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَا تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ أَرْبَعٍ: عَنْ عُمْرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ، وَعَنْ عِلْمِهِ مَاذَا عَمِلَ بِهِ، وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَا أُنْفَقَهُ، وَعَنْ جِسْمِهِ فَيَا أَبْلَاهُ

“Tidak akan bergeser kedua kaki seorang hamba pada hari kiamat hingga dia ditanya tentang empat perkara: (1) tentang umurnya, pada hal apa dia habiskan, (2) tentang ilmunya, bagimana dia beramal dengannya, (3) tentang hartanya, dari mana dia dapatkan dan pada hal apa dia belanjakan (4) dan tentang jasadnya pada hal apa dia usangkan.”[Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi, Ad-Darimy, Abu Ya’lâ, Al-Baihaqy dalam Al-Madkhal dan selainnya dari Abu Barzah Al-Aslamy radhiyallahu ‘anhu.Lafazh hadits milik Al-Baihaqy. Baca penshahihannya dalam Ash-Shahîhah no. 946 karya Syaikh Al-Albâny]

Kaum muslimin dan muslimat!

Dari pengagungan kepada Allah pada hari ini dan hari-hari Tasyrîq dan simbol Islam yang sangat agung adalah menyembelih hewan qurban sebagaimana dalam perintah Allah,

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ

“Maka dirikanlah shalat karena Rabb-mu, dan berqurbanlah.” [Al-Kautsar: 2]

Agungkan dan besarkanlah Allah dengan menyembelih hewan ternak yang baik dan layak.Ingat bahwa ada beberapa cacat yang tidak diperbolehkan pada hewan qurban. Standar cacat yang tidak diperbolehkan itu adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa salllam,

الْعَرْجَاءُالْبَيِّنُظَلَعُهَاوَالْعَوْرَاءُالْبَيِّنُعَوَرُهَاوَالْمَرِيضَةُالْبَيِّنُمَرَضُهَاوَالْعَجْفَاءُالَّتِيْلاَتُنْقِيْ

“Sembelihan pincang yang kepincangannya sangat tampak, sembelihan yang sebelah matanya buta yang kebutaannya sangat tampak, sembelihan sakit yang sakitnya sangat tampak, dan sembelihan kurus yang tidak berlemak (bersumsum).”[Diriwayatkan oleh Malik, Ahmad, Imam Empat, dan selainnya. Dishahihkan oleh Al-Albâny dalam Irwâ’ul Ghalîl no. 1148]

Waktu penyembelihan bermula setelah pelaksanaan shalat ‘Id hingga matahari terbenam pada hari ke-13 Dzulhijjah.

Perlu diketahui bahwa umur hewan udh-hiyyah sebagai berikut.

–          Untuk unta, yang telah mencukupi umur lima tahun dan mulai memasuki tahun keenam.

–          Untuk sapi, yang telah mencukupi umur dua tahun dan mulai memasuki tahun ketiga.

–          Untuk kambing yang bukan domba, yang telah mencukupi umur setahun dan mulai memasuki tahun kedua.

–          Untuk domba jadza’, yang telah mencukupi umur enam bulan dan mulai memasuki bulan ketujuh.

Berbuat baiklah kepada sesama kaum muslimin pada hari yang agung ini, karena seorang mukmin adalah raga mukmin yang lainnya,

مَثَلُ الْـمُؤْمِنِينَ فِيْ تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى

“Perumpamaan kaum mukminin dalam hubungan kasih sayang, rahmat, dan sikap berlemah lembut di antara mereka bagaikan satu jasad.Apabila salah satu anggota tubuhnya mengeluh (karena sakit), seluruh jasad akan turut merasakan keluhan itu dengan tidak bisa tidur dan merasakan demam.” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhary dan Muslim dari An-Nu’mân bin Basyir radhiyallahu ‘anhumâ]

Kita bersyukur kepada Allah ‘Azza wa Jalla karena hari Idul Adha atau hari An-Nahr pada tahun ini (10 Dzulhijjah 1433H) jatuh pada hari jum’at.Hal tersebut karena pada hari tersebut berkumpul dua keutamaan yang tidak terdapat pada hari-hari yang lainnya dalam setahun, keutamaan hari An-Nahr dan keutamaan hari Jum’at.

Siapa yang telah menyaksikan shalat Id, gugur terhadapnya menghadiri shalat Jum’at.Namun terhadap Imam Mesjid kewajiban untuk tetap menegakkan shalat Jum’at agar dihadiri oleh siapa yang ingin menghadirinya.

Bagi mereka yang tidak menghadiri shalat Jum’at, boleh untuk shalat Zhuhur di rumahnya.Kalau dia menghadiri Jum’at tentu lebih afdhal dan lebih selamat dari silang pendapat ulama dalam masalah ini.

Semoga Allah selalu mencurahkan rahmat dan kebaikan-Nya kepada kita semua dan mengukuhkan kita di atas keislaman dan Sunnah Rasulullah di kehidupan dunia, di alam kubur dan saat kita berdiri di depan-Nya mempertanggungjawabkan seluruh amalan.

تَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ صَالِحَ الْأَعْمَالِ، وَصَلَّى اللهُ وَبَارَكَ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيمًا مَزِيدًا

—————————————————————————–

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Tulisan lainnya

Tulis komentar

Logged in as admin. Log out »




jannatul-firdaus.net @2018

Agar Hidup Lebih Berarti

Bagikan…

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Agar Hidup Lebih Berarti

  • Oleh : Al-Ustadz Abdul Qodir Abu Fa’izah hafizhahullah
  • [Pembina Ponpes Al-Ihsan Gowa]

Booklet Khutbah Idul Fithri 1435 H

Mungkin setiap orang diantara kita sudah pernah mendengar istilah “virus”. Virus berasal dari bahasa latin yang berarti racun.

Virus secara istilah adalah mikro organisme yang tidak dapat dilihat dengan menggunakan mikroskop biasa, hanya dapat dilihat dengan mikroskop elektron.

  • إِنَّ الْحَمْدَ للهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ .

    يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.

    يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا.

    يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا.

    أَمَّا بَعْـدُ ..

    فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كَلَامُ اللهِ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرَّ الْأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ، وَكُلَّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ.

  •  

Kaum muslimin dan muslimat, jamaah shalat Id yang berbahagia!

Maha Besar Allah yang menerangi pagi ini setelah kegelapan malam,

هُوَ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ اللَّيْلَ لِتَسْكُنُوا فِيهِ وَالنَّهَارَ مُبْصِرًا إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَسْمَعُونَ.

Dialah yang menjadikan malam bagi kalian supaya kalian beristirahat padanya dan (menjadikan) siang terang benderang (supaya kalian mencari karunia Allah). Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang mendengar. [Yûnus: 67]

Maha Agung Allah yang telah menunjuki jalan keislaman, mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju kepada cahaya,

هُوَ الَّذِي يُنَزِّلُ عَلَى عَبْدِهِ آيَاتٍ بَيِّنَاتٍ لِيُخْرِجَكُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ.

Dialah yang menurunkan kepada hamba-Nya ayat-ayat yang terang (Al-Qur`an) supaya Dia mengeluarkan kalian dari kegelapan kepada cahaya. [Al-Hadîd: 9]

Maha Besar Allah yang menghiasi lembaran kehidupan umat Islam dengan dua hari Id dan berbagai waktu ibadah,

قُلْ بِفَضْلِ اللهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ.

“Katakanlah, ‘Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Karunia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik daripada sesuatu yang mereka kumpulkan.’.” [Yûnus: 58]

Maha Suci Allah yang memberi rahmat, membuka pintu harapan, dan mencurahkan berbagai nikmat yang tak terhingga,

وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَتَ اللهِ لَا تُحْصُوهَا.

Dan jika kalian menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kalian membilangnya. [Ibrâhîm: 34]

Maha Suci Allah yang menerima taubat, memaafkan kesalahan, dan mengetahui segala hal yang hamba lakukan,

وَهُوَ الَّذِي يَقْبَلُ التَّوْبَةَ عَنْ عِبَادِهِ وَيَعْفُو عَنِ السَّيِّئَاتِ وَيَعْلَمُ مَا تَفْعَلُونَ.

Dan Dialah yang menerima taubat dari hamba-hamba-Nya dan memaafkan kesalahan-kesalahan serta mengetahui segala sesuatu yang kalian lakukan. [Asy-Syûrâ: 25]

Maha Besar Allah yang semua makhluk fakir kepada-Nya, sedang Dia adalah Yang Maha Kaya lagi Maha Terpuji,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللهِ وَاللهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ.

Wahai manusia, kalianlah yang fakir kepada Allah; dan Allah Dialah Yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji. [Fâthir: 15]

Maha Suci Allah yang menghidupkan manusia, kemudian mematikannya, kemudian membangkitkan mereka semua untuk hari hisab,

كَيْفَ تَكْفُرُونَ بِاللهِ وَكُنْتُمْ أَمْوَاتًا فَأَحْيَاكُمْ ثُمَّ يُمِيتُكُمْ ثُمَّ يُحْيِيكُمْ ثُمَّ إِلَيْهِ تُرْجَعُونَ.

Mengapa kalian kafir kepada Allah, padahal sebelumnya kalian mati, lalu Allah menghidupkan kalian, kemudian kalian dimatikan dan dihidupkan oleh-Nya kembali, kemudian kepada-Nyalah kalian dikembalikan? [Al-Baqarah: 28]

Maha Besar Allah yang tidak seorang pun di langit dan di bumi, kecuali akan menghadap kepada-Nya sebagai hamba,

إِنْ كُلُّ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ إِلَّا آتِي الرَّحْمَنِ عَبْدًا.

Tiada seorang pun di langit dan di bumi, kecuali akan datang kepada (Allah) Yang Maha Pemurah selaku seorang hamba. [Maryam: 93]

Maha Suci Allah, yang telah menetapkan kehidupan manusia berakhir kepada surga atau kepada neraka,

وَكَذَلِكَ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ قُرْآنًا عَرَبِيًّا لِتُنْذِرَ أُمَّ الْقُرَى وَمَنْ حَوْلَهَا وَتُنْذِرَ يَوْمَ الْجَمْعِ لَا رَيْبَ فِيهِ فَرِيقٌ فِي الْجَنَّةِ وَفَرِيقٌ فِي السَّعِيرِ.

Demikianlah Kami mewahyukan Al-Qur`an kepadamu dalam bahasa Arab supaya kamu memberi peringatan kepada ummul Qura (penduduk Makkah) dan penduduk (negeri-negeri) sekelilingnya serta memberi peringatan (pula) tentang hari berkumpul (kiamat) yang tiada keraguan padanya. Segolongan masuk surga, tetapi segolongan pula masuk neraka. [Asy-Syûrâ: 7]

Kaum muslimin dan muslimat yang berbahagia,

Bersama lembaran baru hari Idul Fitri yang berbahagia ini, ada sebuah keistimewaan dalam Islam yang harus selalu kita renungi, suatu pijakan dalam memandang kehidupan yang terbaik.

Ketahuilah -semoga Allah merahmati Kita semua- bahwa Allah ‘Azza wa Jalla telah memberi rahmat kepada umat ini dengan tuntunan yang jelas, suatu jalan kehidupan yang membedakan antara cahaya dan kegelapan. Allah Ta’âlâ berfirman,

اللهُ وَلِيُّ الَّذِينَ آمَنُوا يُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ.

“Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan kepada cahaya.” [Al-Baqarah: 257]

هَلْ يَسْتَوِي الْأَعْمَى وَالْبَصِيرُ أَمْ هَلْ تَسْتَوِي الظُّلُمَاتُ وَالنُّورُ.

“Adakah sama orang buta dan yang dapat melihat, atau samakah gelap gulita dan terang benderang?” [Ar-Ra’d: 16]

Dengan agama ini, teranggaplah manusia menjadi dua golongan: mereka yang hidup dengan cahaya agung dan mayat yang berpaling dari petunjuk. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

أَوَمَنْ كَانَ مَيْتًا فَأَحْيَيْنَاهُ وَجَعَلْنَا لَهُ نُورًا يَمْشِي بِهِ فِي النَّاسِ كَمَنْ مَثَلُهُ فِي الظُّلُمَاتِ لَيْسَ بِخَارِجٍ مِنْهَا.

“Dan apakah orang yang sudah mati kemudian Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang yang, dengan cahaya itu, dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap-gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar dari (gelap-gulita) itu?” [Al-An’âm: 122]

Dalam merasakan manfaat cahaya tersebut, manusia juga terbagi dua,

قَدْ جَاءَكُمْ بَصَائِرُ مِنْ رَبِّكُمْ فَمَنْ أَبْصَرَ فَلِنَفْسِهِ وَمَنْ عَمِيَ فَعَلَيْهَا.

“Sesungguhnya telah datang dari Rabb kalian bukti-bukti yang terang maka barangsiapa yang melihat (kebenaran itu), (manfaatnya adalah) bagi diri dia sendiri; sedangkan barangsiapa yang buta (terhadap kebenaran itu), (kemudharatannya) kembali kepada dia.” [Al-An’âm: 104]

Ciri pokok dari pengutusan Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam adalah mengajak manusia kepada hal yang merupakan hakikat kehidupannya sebagaimana dalam firman Allah Subhânahu wa Ta’âlâ,

لِيُنْذِرَ مَنْ كَانَ حَيًّا.

“Supaya dia (Muhammad) memberi peringatan kepada orang-orang yang (benar) hidup.” [Yâsîn: 70]

Dengan ketentuan cahaya agama ini, akan tampak jelas siapa saja yang hidup bahagia atau berada dalam kebinasaan,

لِيَهْلِكَ مَنْ هَلَكَ عَنْ بَيِّنَةٍ وَيَحْيَى مَنْ حَيَّ عَنْ بَيِّنَةٍ.

“Yaitu agar orang yang binasa itu kebinasaannya dengan keterangan yang nyata dan agar orang yang hidup itu kehidupannya dengan keterangan yang nyata (pula).” [Al-Anfâl: 42]

Marilah, pada hari Id yang berbahagia ini, Kita mengisi lembaran kehidupan baru dengan makna kehidupan yang lebih berarti.

Cermatilah sebab-sebab yang membuat amanah umur dan kesempatan lebih bernilai di sisi Allah Ta’âlâ.

Kaum muslimin dan muslimat yang dirahmati oleh Allah,

Pokok kehidupan seorang mukmin dan mukminah yang merupakan sumber kebahagiaannya adalah keimanan dan amalan shalih. Allah Subhânahu wa Ta’âlâ berfirman,

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ.

“Barangsiapa yang mengerjakan amalan shalih, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, sesungguhnya akan Kami hidupkan dia dengan kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik daripada apa-apa yang telah mereka kerjakan.” [An-Nahl: 97]

Keimanan adalah keyakinan hati yang diucapkan dengan lisan dan disertai amalan perbuatan mencakup berbagai cabang keimanan. Pokoknya adalah keimanan kepada Allah Ta’âlâ, kepada malaikat, kitab-kitab, para rasul, dan hari akhirat, serta keimanan kepada takdir yang baik dan yang buruk.

Juga Ketulusan dan kemurnian ibadah, bersih dari noda kesyirikan, sebagaimana firman Allah Jalla Jalâluhu,

الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولَئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُونَ.

“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan keimanan mereka dengan kezhaliman (kesyirikan), mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” [Al-An’âm: 82]

Keimanan inilah yang menjadi pembelaan untuk hamba pada segala keadaan,

إِنَّ اللهَ يُدَافِعُ عَنِ الَّذِينَ آمَنُوا.

“Sesungguhnya Allah membela orang-orang yang telah beriman.” [Al-Hajj: 38]

Sumber pertolongan di dunia dan di akhirat,

إِنَّا لَنَنْصُرُ رُسُلَنَا وَالَّذِينَ آمَنُوا فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيَوْمَ يَقُومُ الْأَشْهَادُ.

“Sesungguhnya Kami menolong rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia dan pada hari berdirinya saksi-saksi (hari kiamat).” [Ghâfir: 51]

Dan amalan shalih adalah segala perbuatan yang dibangun di atas tuntunan Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam yang disertai dengan keikhlasan.

Allah Jalla Jalâluhu berfirman,

وَلَوْ أَنَّهُمْ فَعَلُوا مَا يُوعَظُونَ بِهِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ وَأَشَدَّ تَثْبِيتًا. وَإِذًا لَآتَيْنَاهُمْ مِنْ لَدُنَّا أَجْرًا عَظِيمًا. وَلَهَدَيْنَاهُمْ صِرَاطًا مُسْتَقِيمًا.

“Dan sesungguhnya kalau mereka melaksanakan pelajaran yang diberikan kepada mereka, tentulah hal yang demikian itu lebih baik bagi mereka dan lebih menguatkan (keimanan mereka), dan kalau demikian, Kami pasti memberikan kepada mereka pahala yang besar dari sisi Kami, dan Kami pasti memberi petunjuk kepada mereka menuju jalan yang lurus.” [An-Nisâ`: 66-68]

Kaum muslimin dan muslimat, hamba-hamba Allah!

Di antara pokok perkara yang membuat kehidupan lebih berarti adalah tunduk kepada segala perintah Allah dan Rasul-Nya,

Allah Subhânahu wa Ta’âlâ berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللهَ يَحُولُ بَيْنَ الْمَرْءِ وَقَلْبِهِ وَأَنَّهُ إِلَيْهِ تُحْشَرُونَ.

“Wahai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan rasul apabila dia menyeru kalian kepada sesuatu yang memberi kehidupan kepada kalian. Ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya dan sesungguhnya kepada-Nyalah kalian akan dikumpulkan.” [Al-Anfâl: 24]

Perhatikanlah keagungan agama ini dari keterangan ayat ini, bahwa segala tuntunannya adalah hal yang memberi kehidupan yang sebenarnya kepada seorang hamba.

Oleh karena itu, keluar dari perintah Allah dan Rasul-Nya itulah kematian hidup,

إِنَّمَا يَسْتَجِيبُ الَّذِينَ يَسْمَعُونَ وَالْمَوْتَى يَبْعَثُهُمُ اللهُ ثُمَّ إِلَيْهِ يُرْجَعُونَ.

“Hanya mereka yang mendengar sajalah yang mematuhi (seruan Allah), dan orang-orang yang (teranggap) mati, akan dibangkitkan oleh Allah, kemudian kepada-Nyalah mereka dikembalikan.” [Al-An’âm: 36]

Jawablah seruan Allah dan Rasul-Nya sebelum tiba suatu hari yang penyesalan tiada bermanfaat lagi,

اسْتَجِيبُوا لِرَبِّكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ يَوْمٌ لَا مَرَدَّ لَهُ مِنَ اللهِ مَا لَكُمْ مِنْ مَلْجَإٍ يَوْمَئِذٍ وَمَا لَكُمْ مِنْ نَكِيرٍ.

“Patuhilah seruan Rabb kalian sebelum datang dari Allah suatu hari yang kedatangannya tidak dapat ditolak. Kalian tidak memperoleh tempat berlindung pada hari itu tidak pula dapat mengingkari (dosa-dosa kalian).” [Asy-Syûrâ: 47]

Jawablan seruan Allah dan Rasul-Nya dengan melaksanakan segala perintah dan meninggalkan larangan.

Allah Jalla Jalâluhu berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ارْكَعُوا وَاسْجُدُوا وَاعْبُدُوا رَبَّكُمْ وَافْعَلُوا الْخَيْرَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ.

“Wahai orang-orang yang beriman, rukuklah kalian, sujudlah kalian, beribadahlah kepada Rabb kalian, dan perbuatlah kebajikan supaya kalian mendapat kemenangan.” [Al-Hajj: 77]

Jauhilah segala dosa dan maksiat agar kehidupan lebih bercahaya dan lebih berberkah.

Allah Subhânahu wa Ta’âlâ berfirman,

إِنْ تَجْتَنِبُوا كَبَائِرَ مَا تُنْهَوْنَ عَنْهُ نُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَنُدْخِلْكُمْ مُدْخَلًا كَرِيمًا.

“Jika kalian menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang dilarang dikerjakan terhadap kalian, niscaya Kami menghapus kesalahan-kesalahan kalian dan memasukkan kalian ke tempat yang mulia (surga).” [An-Nisâ`: 31]

Namun, sangat disayangkan bahwa, pada hari-hari ini, kita melihat banyak dari kaum muslimin yang meremehkan dosa, seakan dosa itu bukanlah ancaman yang bisa menghancurkan kehidupan seorang hamba.

Anas bin Mâlik berkata radhiyallâhu ‘anhu,

إِنَّكُمْ لَتَعْمَلُوْنَ أَعْمَالاً هِيَ أَدَقُّ فِيْ أَعْيُنِكُمْ مِنَ الشَّعْرِ إِنْ كُنَّا لَنَعُدُّهَا عَلَى عَهْدِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَمِنَ الْمُوْبِقَاتِ

“Sungguh kalian mengerjakan amalan-amalan yang, di mata kalian, seperti rambut, padahal kami, pada masa Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam, menganggap (amalan) tersebut sebagai hal yang membinasakan.” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhâry]

Di antara dosa yang banyak diremehkan oleh manusia adalah perbuatan kesyirikan, seperti berdoa kepada selain Allah, meminta hajat kepada penghuni kubur, menyembelih untuk selain Allah, dan mendatangi tempat-tempat yang dikeramatkan.

Kesyirikan adalah penghancur kenikmatan dan dosa terbesar yang akan mengakibatkan pelakunya kekal di dalam neraka. Allah Subhânahu mengingatkan,

إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ

“Sesungguhnya, barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, pasti Allah mengharamkan surga kepadanya, sedang tempatnya ialah neraka. Tidaklah ada seorang penolong pun bagi orang-orang zhalim itu.” [Al-Mâ`idah: 72]

Allah ‘Azza wa Jalla juga menegaskan,

وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللهِ فَكَأَنَّمَا خَرَّ مِنَ السَّمَاءِ فَتَخْطَفُهُ الطَّيْرُ أَوْ تَهْوِي بِهِ الرِّيحُ فِي مَكَانٍ سَحِيقٍ

“Barangsiapa yang mempersekutukan sesuatu dengan Allah, ia seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan oleh angin ke tempat yang jauh.” [Al-Hajj: 31]

Termasuk dosa yang banyak diremehkan adalah mendatangi dukun-dukun dan memercayai paranormal, padahal Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam telah bersabda,

مَنْ أَتَى كَاهِنًا، أَوْ عَرَّافًا، فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُولُ، فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ

“Barangsiapa yang mendatangi dukun atau paranormal, lalu membenarkan ucapan (dukun atau paranormal) itu, sungguh dia telah kafir terhadap (risalah) yang diturunkan kepada Muhammad.” [Dikeluarkan oleh Ahmad dan Al-Hâkim. Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albâny dalam Irwâ`ul Ghalîl 7/69-70]

Juga, di antara deretan dosa yang disepelekan adalah sebagaimana keadaan sebagian kaum muslimat yang menanggalkan jilbab dan mengikuti pakaian perempuan-perempuan kafir. Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam telah mengingatkan,

صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا، قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُونَ بِهَا النَّاسَ، وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيلَاتٌ مَائِلَاتٌ، رُءُوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ، لَا يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ، وَلَا يَجِدْنَ رِيحَهَا، وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ كَذَا وَكَذَا

“Dua golongan dari penduduk neraka, yang aku belum pernah melihat keduanya: suatu kaum yang membawa cambuk-cambuk seperti ekor-ekor sapi, dia memukul manusia dengan (cambuk-cambuk) itu, dan para perempuan yang berpakaian tetapi telanjang, menyesatkan orang lain, bersisir seperti pezina, kepala mereka seperti punuk-punuk unta yang miring. Mereka tidak akan dimasukkan ke dalam surga dan tidak akan mencium bau (surga), padahal bau (surga) bisa dicium dari jarak begini dan begini.” [Diriwayatkan oleh Muslim dari Abu Hurairah radhiyallâhu ‘anhu]

Di antara dosa yang membawa kejelekan untuk suatu negeri adalah mencela dan menghujat pemerintah dan pemimpin muslim. Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ أَكْرَمَ سُلْطَانَ اللهِ فِي الدُّنْيَا، أَكْرَمَهُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، وَمَنْ أَهَانَ سُلْطَانَ اللهِ فِي الدُّنْيَا ، أَهَانَهُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Barangsiapa yang memuliakan sulthan Allah di dunia, Allah akan memuliakannya pada hari kiamat. (Namun) barangsiapa yang menghinakan sulthan Allah di dunia, Allah akan menghinakannya pada hari kiamat.” [Diriwayatkan oleh Ahmad dan selainnya. Dihasankan oleh Syaikh Al-Albâny dalam Ash-Shahîhah]

Bukanlah hal terlarang bila memberi nasihat kepada penguasa, tetapi memberi nasihat adalah dengan dengan cara yang jelas dan membawa manfaat dan perubahan, bukan dengan cara ribut-ribut, berteriak-teriak di jalan, dan menzhalimi manusia.

Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ أَرَادَ أَنْ يَنْصَحَ لِذِي سُلْطَانٍ فَلَا يُبْدِهِ عَلَانِيَةً، وَلَكِنْ يَأْخُذُ بِيَدِهِ فَيَخْلُو بِهِ، فَإِنْ قَبِلَ مِنْهُ فَذَاكَ، وَإِلَّا كَانَ قَدْ أَدَّى الَّذِي عَلَيْهِ

“Barangsiapa yang menasihati penguasa, janganlah dia menampakkan (nasihat itu) secara terang-terangan, tetapi hendaknya dia mengambil tangan (penguasa tersebut) dan berduaan dengannya. Kalau (sang penguasa) menerima, itulah (yang diinginkan). Akan tetapi, jika (sang penguasa) menolak, dia telah menunaikan kewajibannya.” [Diriwayatkan oleh Ibnu Abi ‘Âshim, Al-Hâkim, dan Al-Baihaqy]

Kaum muslimin dan muslimat yang berjalan ke negeri akhirat,

Di antara pokok perkara yang membuat kehidupan yang lebih berarti adalah mendidik diri dengan ilmu agama. Allah Ta’âlâ menyebut wahyu yang diturunkan kepada Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam sebagai ruh,

وَكَذَلِكَ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ رُوحًا مِنْ أَمْرِنَا مَا كُنْتَ تَدْرِي مَا الْكِتَابُ وَلَا الْإِيمَانُ وَلَكِنْ جَعَلْنَاهُ نُورًا نَهْدِي بِهِ مَنْ نَشَاءُ مِنْ عِبَادِنَا وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ.

“Dan demikianlah Kami mewahyukan kepadamu ruh (wahyu Al-Qur`an) dengan perintah Kami. Sebelumnya engkau tidaklah mengetahui apakah Kitab (Al-Qur`an) itu tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al-Qur`an itu sebagai cahaya, yang dengan (Al-Qur`an) itu Kami memberi petunjuk kepada siapa saja yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya engkau benar- benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.” [Asy-Syûrâ: 52]

Juga Allah Ta’âlâ menyebut Al-Qur`an yang merupakan sumber ilmu dan kehidupan dengan berbagai sifat agung,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُمْ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ.

“Wahai manusia, sesungguhnya telah datang kepada kalian pelajaran dari Rabb kalian dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada serta petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” [Yûnus: 57]

يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَكُمْ بُرْهَانٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكُمْ نُورًا مُبِينًا.

“Wahai manusia, sesungguhnya telah datang kepada kalian bukti kebenaran dari Rabb kalian dan Kami telah menurunkan kepada kalian cahaya yang terang benderang.” [An-Nisâ`: 174]

Dari Ibnu ‘Abbâs radhiyallâhu ‘anhu, Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَلَا وَإِنِّي قَدْ تَرَكْتُ فِيكُمْ مَا إِنِ اعْتَصَمْتُمْ بِهِ لَنْ تَضِلُّوا بَعْدَهُ أَبَدًا , كِتَابَ اللهِ وَسُنَّةَ نَبِيِّهِ

“Ketahuilah, bahwa Saya telah meninggalkan pada kalian suatu perkara yang kalian tidak akan tersesat selamanya sepanjang kalian berpegang teguh dengannya, yaitu kitab Allah dan sunnah Nabi-Nya.” [Diriwayatkan oleh Al-Ajurry, Al Hakim, Al-Baihaqy, dan selainnya. Dihasankan oleh Syaikh Al-Albâny dalam At-Tawassul dengan mengisyaratkan syahid baginya dalam Ash-Shahîhah no. 1761]

Beliau bersabda pula,

مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ

“Siapa saja yang Allah kehendaki kebaikan kepadanya, (Allah) akan memahamkannya dalam agama.” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhâry dan Muslim]

Tuntutlah ilmu dan obati penyakit kejahilan dengan berguru kepada orang-orang yang berilmu.

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ.

“Bertanyalah kalian kepada orang-orang yang berilmu jika kalian tiada mengetahui.” [Al-Anbiyâ`: 7]

Kaum muslimin dan muslimat yang takut dari api neraka,

Di antara pokok pijakan yang membuat hidup kehidupan lebih berarti adalah mengikat diri dengan ketakwaan dalam menjalankan segala perintah dan meninggalkan segala larangan disertai takut akan siksaan dan kemurkaan-Nya,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَآمِنُوا بِرَسُولِهِ يُؤْتِكُمْ كِفْلَيْنِ مِنْ رَحْمَتِهِ وَيَجْعَلْ لَكُمْ نُورًا تَمْشُونَ بِهِ وَيَغْفِرْ لَكُمْ وَاللهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ.

“Wahai orang-orang yang beriman (kepada para rasul), bertakwalah kepada Allah dan berimanlah kepada Rasul-Nya, niscaya Allah memberikan dua bagian rahmat-Nya kepada kalian, dan menjadikan untuk kalian cahaya yang, dengan cahaya itu, kalian dapat berjalan, dan Dia mengampuni kalian. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” [Al-Hadîd: 28]

Takwa adalah sebab kemudahan dan kelapangan,

وَمَنْ يَتَّقِ اللهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا. وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ.

“Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada dia sangka-sangka.” [Ath-Thalâq: 2-3]

وَمَنْ يَتَّقِ اللهَ يَجْعَلْ لَهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْرًا.

“Dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya.” [Ath-Thalâq: 4]

Takwa adalah sebab kesejahteraan suatu negeri,

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ.

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu maka Kami menyiksa mereka disebabkan oleh perbuatan mereka.” [Al-A’râf: 96]

Kaum muslimin dan muslimat, para pemimpin dan orang tua,

Hidup ini adalah kesempatan dan amanah. Terdapat kewajiban yang terpikul pada pundak seseorang yang diberi amanah kepemimpinan dan tanggung jawab.

Rasulullah mengingatkan,

مَا مِنْ عَبْدٍ اسْتَرْعَاهُ اللهُ رَعِيَّةً، فَلَمْ يَحُطْهَا بِنَصِيحَةٍ، إِلَّا لَمْ يَجِدْ رَائِحَةَ الجَنَّةِ

“Tidaklah seorang hamba diberi tanggung jawab oleh Allah dengan suatu tanggung jawab, kemudian dia tidak menjaga (tanggung jawab) itu secara tulus dan maksimal, kecuali bahwa dia tidak akan mencium bau surga.” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhâry dan Muslim dari Ma’qil bin Yasar. Lafazh hadits adalah milik Al-Bukhâry]

Juga Allah Subhânahu wa Ta’âlâ berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ.

“Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya adalah malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap segala sesuatu yang (Allah) perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan segala hal yang diperintahkan.” [At-Tahrîm: 6]

Wahai para pemuda dan pemudi harapan umat,

Kalian adalah buah hati dan harapan umat, jadilah orang yang paling bermanfaat bagi manusia, dan jadilah orang-orang yang berberkah di manapun kalian berada sebagaimana keberadaan Nabi Isa ‘alaihis salâm yang berkata,

وَجَعَلَنِي مُبَارَكًا أَيْنَ مَا كُنْتُ.

“Dan Dia menjadikanku sebagai orang yang diberkahi di mana saja aku berada.” [Maryam: 31]

Kaum muslimin dan muslimat yang seluruhnya akan menghadap kepada Allah,

Pada hari kemarin Kita dimuliakan dengan Ramadhan. Tiada terasa waktu terus bergulir, dan hari ini Kita telah meninggalkan Ramadhan. Itulah hari-hari kehidupan yang terus berjalan tanpa henti menuju suatu yang pasti: kehidupan akhirat, yang di hadapan Allah ‘Azza wa Jalla Kita akan berdiri,

وَاتَّقُوا يَوْمًا تُرْجَعُونَ فِيهِ إِلَى اللهِ ثُمَّ تُوَفَّى كُلُّ نَفْسٍ مَا كَسَبَتْ وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ.

“Dan peliharalah diri kalian dari (adzab yang terjadi pada) hari yang, pada waktu itu, kalian semua dikembalikan kepada Allah. Kemudian masing-masing diri diberi balasan sempurna terhadap segala sesuatu yang telah mereka kerjakan, sedang sedikitpun mereka tidak dianiaya (dirugikan).” [Al-Baqarah: 281]

Perbaharuilah lembaran-lembaran kehidupan yang segala hasilnya akan kembali kepada Kita jua,

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا فَلِنَفْسِهِ وَمَنْ أَسَاءَ فَعَلَيْهَا وَمَا رَبُّكَ بِظَلَّامٍ لِلْعَبِيدِ.

“Barangsiapa yang mengerjakan amalan shalih, (pahalanya) untuk dirinya sendiri, sedangkan barangsiapa mengerjakan perbuatan jahat, (dosanya) untuk dirinya sendiri; dan sekali-kali tidaklah Rabb-mu menganiaya hamba-hamba-Nya. [Fushshilat: 46]

Kaum muslimin dan muslimat yang memiliki kelembutan hati dan kasih sayang,

Pada hari yang berbahagia ini, ada sejumlah kaum muslimin menghadiri hari Id ini dengan linangan air mata dan berliput duka dan nestapa. Oleh karena itu, ulurkanlah tangan kebaikan dan tuangkanlah dari ketulusan hati kepada saudara-saudara seagama. Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda,

هَلْ تُنْصَرُونَ وَتُرْزَقُون إِلّا بِضُعَفَائِكُمْ

“Tidaklah kalian mendapat pertolongan dan kelapangan rezekikecuali dengan sebab (memperhatikan) orang-orang lemah di antara kalian.” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhâry dari Sa’d bin Abi Waqqâsh radhiyallâhu ‘anhu]

Juga janganlah lupa kepada kaum muslimin di berbagai belahan dunia: di Palestina, Suriah, Iraq, dan selainnya yang diliputi oleh berbagai kesedihan dan cobaan. Curahkanlah doa dan bantuan untuk mereka. Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam mengingatkan,

المُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا

“Seorang mukmin bagi mukmin yang lain seperti bangunan, yang sebagiannya menguatkan sebagian yang lain.” [Dikeluarkan oleh Al-Bukhâry dan Muslim dari Abu Musa Al-Asy’ary radhiyallâhu ‘anhu]

Semoga Allah ‘Azza wa Jalla senantiasa menjaga kita semua di atas segala nikmat dan melindungi kita dari segala musibah dan malapetaka.

Sebagaimana, Kita bermohon kepada-Nya agar Dia menerima amalan puasa, shalat, zakat, sedekah, bacaan Al-Qur`an, dan segala amalan shalih, serta menjadikan amalan tersebut sebagai pembebas leher-leher Kita dari api neraka.

Semoga, pada setiap tahunnya, kaum muslimin dan muslimat selalu berada di atas kebaikan dan ketakwaan, tergolong ke dalam Al-Fâ`izin ‘orang-orang yang beruntung’ dan Al-Â’idin ‘orang-orang yang terlahir kembali, bersih dari dosa’.

تَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ صَالِحَ الْأَعْمَالِ، وَصَلَّى اللهُ وَبَارَكَ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيمًا مَزِيدًا. 

Booklet Khutbah Idul Fithri 1435 H

—————————————————————————–

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Tulisan lainnya

Tulis komentar

Logged in as admin. Log out »




jannatul-firdaus.net @2018

Idul Fithri Sebagai Momen Menjaga Keutuhan Negeri

Bagikan…

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Idul Fithri Sebagai Momen Menjaga Keutuhan Negeri

  • Oleh : Ustadz Dzulqarnain M. Sunusi hafizhahullah
  • [Pengasuh Pondok Pesantren As-Sunnah Makassar]
  • إِنَّ الْحَمْدَ للهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ .

    يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.

    يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا.

    يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا.

    أَمَّا بَعْـدُ ..

    فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كَلَامُ اللهِ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرَّ الْأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ، وَكُلَّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ.

Kaum muslimin dan muslimat, jamaah shalat Id yang Saya muliakan!

Marilah kita selalu memuji Allah dan menyanjung-Nya, bersyukur dan membesarkan-Nya, atas segala karunia dan nikmat yang tidak akan mungkin dihitung dan dijumlah,

وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَتَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا

“Dan jika kalian menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kalian menghinggakannya.” [Ibrâhim: 34, An-Nahl: 18]

Hari Id yang berbahagia ini adalah termasuk nikmat Allah yang wajib kita syukuri. Sebagaimana, kita telah melalui Ramadhan yang penuh dengan keutamaan dan keistimewaan. Sempurnakanlah kesyukuran akan segala nikmat ibadah dengan bergembira dengan-Nya sebagaimana firman Allah Ta’âlâ,

قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ

“Katakanlah, ‘Dengan kurnia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Kurnia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.’.” [Yûnus: 58]

Kaum muslimin dan muslimat,

Hari-hari kehidupan umat Islam bukanlah kehidupan yang sia-sia, bayang-bayang, atau fatamorgana yang berlalu tanpa arti, tetapi kehidupan ini adalah renungan, pelajaran, dan tanggung jawab. Allah Subhânahu wa Ta’âlâ mengingatkan,

يُقَلِّبُ اللَّهُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَعِبْرَةً لِأُولِي الْأَبْصَارِ

“Allah mempergantikan malam dan siang. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran yang besar bagi orang-orang yang mempunyai penglihatan. [An-Nûr: 44]

Juga Alah Maha Pengasih mengingatkan,

وَهُوَ الَّذِي جَعَلَ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ خِلْفَةً لِمَنْ أَرَادَ أَنْ يَذَّكَّرَ أَوْ أَرَادَ شُكُورًا

“Dan Dia (pula) yang menjadikan malam dan siang silih berganti bagi orang yang ingin mengambil pelajaran atau orang yang ingin bersyukur. [Al-Furqân: 62]

Kaum muslimin dan muslimat yang Saya muliakan,

Bersama matahari yang terbit pada pagi hari Idul Fithri yang berberkah ini, Saya mengajak seluruh hadirin untuk merenungi beberapa pedoman hidup yang sangat kita perlukan sebagai warga negara Republik Indonesia yang sedang menghadapi berbagai ujian dan cobaan, suatu pijakan berharga dalam menata jiwa, meningkatkan kualitas hidup, serta menjaga keutuhan dan kebersamaan dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.

Umat Islam yang saya hormati dan saya muliakan,

Termasuk pokok pelajaran yang harus diingat pada hari Id ini adalah menjaga kebersamaan dan memelihara keutuhan dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Kaidah agung dan simbol agama ini telah diingatkan oleh Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wasallam dalam sebuah haditsnya,

الصَّوْمُ يَوْمَ تَصُومُونَ وَالْفِطْرُ يَوْمَ تُفْطِرُونَ وَالْأَضْحَى يَوْمَ تُضَحُّونَ

Puasa itu adalah hari kalian berpuasa. Berbuka itu adalah hari kalian berbuka. Adhhâ itu adalah hari kalian ber-udh-hiyah.” [Diriwayatkan oleh At-Tirmidzy dari Abu Hurairah radhiyallâhu ‘anhu]

Hukum agama yang disepakati oleh para ulama adalah bahwa penetapan hari Id adalah di tangan pemerintah karena pemerintah adalah lambang kebersamaan dan kesatuan. Sebagaimana, shalat berjama’ah diwajibkan terhadap laki-laki, shalat tarawih berjama’ah disyariatkan secara khusus di Ramadhan, serta syariat zakat fitri, zakat harta, dan ibadah haji, semua adalah pedoman dalam menjaga kebersamaan dan kesatuan.

Kaum muslimin dan muslimat,

Salah seorang pemimpin umat Islam sekaligus alim terpercaya yang pernah hidup pada masa dahulu: Imam Sahl bin Abdillah At-Tastury (wafat 283 H) pernah berucap kalimat yang layak ditulis dengan tinta emas. Beliau bertutur,

لَا يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا عَظَّمُوا السُّلْطَانَ وَالْعُلَمَاءَ ؛ فَإِذَا عَظَّمُوا هَذَيْنَ أَصْلَحَ اللَّهُ دُنْيَاهُمْ وَأُخْرَاهُمْ ، وَإِذَا اسْتَخَفُّوا بِهَذَيْنَ أُفْسِدَ دُنْيَاهُمْ وَأُخْرَاهُمْ .

“Manusia akan terus menerus berada di atas kebaikan selama mereka masih mengagungkan sulthan dan ulama. Tatkala mereka mengagungkan keduanya, Allah akan memperbaiki dunia dan akhirat mereka. Namun, apabila mereka menghinakan keduanya, mereka telah merusak dunia dan akhirat mereka sendiri.” [Tafsîr Al-Qurthuby]

Maka di tengah umat, ada dua komponen yang wajib dijaga di tengah umat agar terjaga pula kebersamaan dan kesatuan mereka:

Yang pertama, menghormati pemimpin.

Adanya pemimpin di tengah manusia adalah anugerah dari Allah dan terdapat hikmah besar di belakang hal tersebut. Allah Subhânahu wa Ta’âlâ mengingatkan,

وَلَوْلَا دَفْعُ اللَّهِ النَّاسَ بَعْضَهُمْ بِبَعْضٍ لَفَسَدَتِ الْأَرْضُ وَلَكِنَّ اللَّهَ ذُو فَضْلٍ عَلَى الْعَالَمِينَ

“Seandainya Allah tidak menolak (keganasan) sebahagian umat manusia dengan sebagian yang lain, pasti rusaklah bumi ini. Tetapi Allah mempunyai karunia (yang dicurahkan) atas semesta alam. [Al-Baqarah: 251]

Oleh karena itu hargailah dan muliakan pemimpin kalian sebagaimana perintah Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wasallam akan hal tersebut,

مَنْ أَكْرَمَ سُلْطَانَ اللهِ فِي الدُّنْيَا، أَكْرَمَهُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، وَمَنْ أَهَانَ سُلْطَانَ اللهِ فِي الدُّنْيَا ، أَهَانَهُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Barangsiapa yang memuliakan sulthan Allah di dunia, Allah akan memuliakannya pada hari kiamat. (Namun) barangsiapa yang menghinakan sulthan Allah di dunia, Allah akan menghinakannya pada hari kiamat.” [Diriwayatkan oleh Ahmad dan selainnya]

Juga Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wasallam bersabda,

تَسْمَعُ وَتُطِيْعُ لِلْأَمِيْرِ وَإِنْ ضَرَبَ ظَهْرَكَ وَأَخَذَ مَالَكَ فَاسْمَعْ وَأَطِعْ

“Kamu mendengar dan menaati penguasa, walaupun dia memukul punggungmu dan mengambil hartamu, maka dengar dan taatlah.” [Diriwayatkan oleh Muslim dari Hudzaifah radhiyallâhu ‘anhu]

Bukan hal terlarang memberi nasihat kepada penguasa, tetapi sampaikan nasihat dengan jelas dan baik langsung kepada yang bersangkutan secara pribadi, sebagaimana sabda Nabi shallallâhu ‘alaihi wasallam,

مَنْ أَرَادَ أَنْ يَنْصَحَ لِذِي سُلْطَانٍ فَلَا يُبْدِهِ عَلَانِيَةً، وَلَكِنْ يَأْخُذُ بِيَدِهِ فَيَخْلُو بِهِ، فَإِنْ قَبِلَ مِنْهُ فَذَاكَ، وَإِلَّا كَانَ قَدْ أَدَّى الَّذِي عَلَيْهِ

“Barangsiapa yang menasihati penguasa, janganlah dia menampakkan (nasihat itu) secara terang-terangan, tetapi hendaknya dia mengambil tangan (penguasa tersebut) dan berduaan dengannya. Kalau (sang penguasa) menerima, itulah (yang diinginkan). Akan tetapi, jika (sang penguasa) menolak, dia telah menunaikan kewajibannya.” [Diriwayatkan oleh Ibnu Abi ‘Âshim, Al-Hâkim, dan Al-Baihaqy]

Nasihat itu bukanlah dengan cara ribut-ribut dan berteriak-teriak di jalan dan menzhalimi manusia. Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wasallam mengingatkan,

مَنْ ضَيَّقَ مَنْزِلاً أَوْ قَطَعَ طَرِيْقًا أَوْ آذَى مُؤْمِنًا فَلَا جِهَادَ لَهُ

“Siapa saja yang mempersempit tempat singgah (seseorang), memutus jalan, atau mengganggu seorang mukmin, maka tidak ada jihad baginya.” [Diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Dawud, dan selainnya dari Mu’âdz bin Anas radhiyallâhu ‘anhu]

Yang kedua, menghormati ulama.

Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wasallam bersabda,

لَيْسَ مِنْ أُمَّتِي مَنْ لَمْ يُجِلَّ كَبِيرَنَا، وَيَرْحَمْ صَغِيرَنَا، وَيَعْرِفْ لِعَالِمِنَا

“Bukanlah dari umatku, orang yang tidak menghormati orang tuanya, (tidak) merahmati orang mudanya, dan (tidak) mengenal hak orang berilmu di kalangan kami.” [Diriwayatkan oleh Ahmad dan Al-Hâkim]

Pada lisan ulama, terdapat hujjah dan argumen dari Al-Qur`an dan As-Sunnah yang bisa menundukkan hati dan jiwa, sesuatu yang kaddang tidak bisa ditundukkan oleh pedang dan senjata. Oleh karena itu, seluruh kata “Sulthan” di dalam Al-Qur`an ditafsirkan oleh para ulama berkaitan dengan ilmu agama.

Namun, ketahuilah bahwa bukanlah dari ulama, siapa saja yang menjual ilmu untuk dunia yang hina atau menjilat kepada siapapun di antara manusia. Juga, tidak ada di dalam sejarah, dari kalangan shahabat, tabi’in, Imam Empat, dan selainnya, ada ulama yang mencela dan menghina penguasa, apalagi melakukan demonstrasi, perlawanan, dan kudeta.

Bahkan, para ulama membimbing umat untuk menjadi manusia terbaik dengan bimbingan ilmu mereka. Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wasallam bersabda,

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ

“Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur`an dan mengajarkan (Al-Qur`an).” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhâry dari Utsman bin Affan]

Kaum muslimin dan muslimat,

Al-Hasan Al-Bashriy rahimahullâh pernah mengungkap hakikat hari Id. Beliau berucap,

كُلُّ يَوْمٍ لَا يُعْصَى اللهُ فِيْهِ فَهُوَ عِيْدٌ

“Setiap hari yang tidak dikerjakan maksiat terhadap Allah pada (hari) itu maka itu adalah hari Id.” [Lathâ`iful Ma’ârif hal. 229]

Ketahuilah bahwa dosa adalah sebab yang merusak kebersamaan dan kesatuan. Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wasallam mengingatkan,

مَا تَوَادَّ اثْنَانِ في اللهِ أَوْ فِي الْإِسْلَامِ فَيُفَرَّقُ بَيْنَهُمَا إِلاَّ بِذَنْبٍ يُحْدِثُهُ أَحَدُهُمَا

“Tidaklah dua orang saling mencintai karena Allah atau karena keislaman, kemudian dipisahkan, kecuali karena dosa yang dilakukan oleh salah seorang di antara keduanya.” [Diriwayatkan dari beberapa orang shahabat]

Kewajiban kita semua adalah meninggalkan segala dosa dan maksiat. Allah Ta’âlâ berfirman,

إِنْ تَجْتَنِبُوا كَبَائِرَ مَا تُنْهَوْنَ عَنْهُ نُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَنُدْخِلْكُمْ مُدْخَلًا كَرِيمًا

“Jika kalian menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang dilarang kalian mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahan kalian (dosa-dosa kalian yang kecil) dan Kami masukkan kalian ke tempat yang mulia (surga).” [An-Nisâ`: 31]

Dosa terbesar yang mengakibatkan permusuhan dan kebencian di dunia dan di akhirat adalah adalah kesyirikan. Oleh karena itulah Allah Ta’âlâ telah memperingatkan agar menjauhi jalan kaum musyrikin,

وَلَا تَكُونُوا مِنَ الْمُشْرِكِينَ. مِنَ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ.

“Dan janganlah kalian termasuk orang-orang yang berbuat kesyirikan kepada Allah, yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka. [Ar-Rûm: 31-32]

Ketahuilah, segala kesyirikan dalam bentuk berdoa kepada selain Allah, menyembelih untuk penghuni kubur, mendatangi tempat-tempat yang dikeramatkan, dan sejenisnya adalah pembatal keislaman dan penghancur segala amalan,

وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu (wahai Nabi Muhammad) dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu, ‘Jika kamu berbuat kesyirikan (kepada Allah), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.’. [Az-Zumar: 65]

Telah diharamkan surga bagi pelaku kesyirikan,

إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ

“Sesungguhnya orang yang berbuat kesyirikan kepada Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zhalim itu seorang penolong pun. [Al-Mâ`idah: 72]

Selalulah mengingat dengan baik bahwa kesyirikan adalah kebinasaan di atas kebinasaan,

حُنَفَاءَ لِلَّهِ غَيْرَ مُشْرِكِينَ بِهِ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَكَأَنَّمَا خَرَّ مِنَ السَّمَاءِ فَتَخْطَفُهُ الطَّيْرُ أَوْ تَهْوِي بِهِ الرِّيحُ فِي مَكَانٍ سَحِيقٍ

“Dengan ikhlas kepada Allah, tidak mempersekutukan sesuatu dengan Dia. Barangsiapa mempersekutukan sesuatu dengan Allah, maka adalah ia seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh. [Al-Hajj: 31]

Termasuk sebab permusuhan dan kebencian: mendatangi dukun dan paranormal. Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ أَتَى كَاهِنًا، أَوْ عَرَّافًا، فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُولُ، فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ

“Barangsiapa yang mendatangi dukun atau paranormal, lalu membenarkan ucapan (dukun atau paranormal) itu, sungguh dia telah kafir terhadap (risalah) yang diturunkan kepada Muhammad.” [Diriwayatkan oleh Ahmad dan Al-Hâkim]

Ingatlah juga bahwa minuman keras dan judi adalah sumber permusuhan dan kebencian,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْأَنْصَابُ وَالْأَزْلَامُ رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ. إِنَّمَا يُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَنْ يُوقِعَ بَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَاءَ فِي الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ وَيَصُدَّكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَعَنِ الصَّلَاةِ فَهَلْ أَنْتُمْ مُنْتَهُونَ.

“Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah kejelekan yang termasuk perbuatan syaithan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kalian mendapat keberuntungan. Sesungguhnya syaithan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kalian lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kalian dari mengingat Allah dan shalat; maka berhentilah kalian (dari mengerjakan pekerjaan itu).” [Al-Mâ`idah: 90-91]

Termasuk masalah besar yang menimpa manusia pada masa kini adalah kebiasaan mengadu domba, menebar kebencian, dan menyiarkan berita-berita dan hoax yang mengundang permusuhan, padahal Allah Subhânahu wa Ta’âlâ telah mengingatkan,

إِنَّ الَّذِينَ يُحِبُّونَ أَنْ تَشِيعَ الْفَاحِشَةُ فِي الَّذِينَ آمَنُوا لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ.

“Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat.” [An-Nûr: 19]

Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wasallam bersabda pula,

إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مَا يَتَبَيَّنُ مَا فِيهَا يَهْوِى بِهَا فِى النَّارِ أَبْعَدَ مَا بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ

“Sesungguhnya seorang hamba berbicara berupa suatu kalimat yang tidak dia perjelas, dia terhempas disebabkan oleh kalimat itu ke dalam neraka sejauh timur dan barat.” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhâriy dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallâhu ‘anhu]

Kaum muslimin dan muslimat,

Tanpa terasa waktu terus bergulir. Bulan kemarin kita bergembira dengan hadirnya Ramadhan, dan hari ini kita telah berpisah dan ditinggalkan oleh Ramadhan. Tiada yang mengetahui apakah kita masih diberi kesempatan untuk berjumpa kembali dengan Ramadhan pada tahun mendatang. Itulah hari-hari kehidupan ini: ada yang datang dan ada yang pergi, ada yang hadir ada pula yang hilang. Akan tetapi, yang pasti adalah umur terus berkurang, ajal pasti akan menjemput, dan kita semua akan menghadap kepada Allah Subhânahu wa Ta’âlâ,

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ثُمَّ إِلَيْنَا تُرْجَعُونَ

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kemudian hanyalah kepada Kami kalian dikembalikan. [Al-‘Ankabût: 57]

Perbaharuilah lembaran-lembaran kehidupan yang segala hasilnya kembali kepada kita juga,

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا فَلِنَفْسِهِ وَمَنْ أَسَاءَ فَعَلَيْهَا وَمَا رَبُّكَ بِظَلَّامٍ لِلْعَبِيدِ

“Barangsiapa yang mengerjakan amal yang saleh maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri dan barangsiapa mengerjakan perbuatan jahat, maka (dosanya) untuk dirinya sendiri; dan sekali-kali tidaklah Rabb-mu menganiaya hamba-hamba-Nya. [Fushshilat: 46]

Kaum muslimin dan muslimat, para pemimpin dan orang tua,

Hidup ini adalah kesempatan dan amanah. Terdapat kewajiban yang terpikul pada pundak seseorang yang diberi amanah kepemimpinan dan tanggung jawab.

Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wasallam mengingatkan,

مَا مِنْ عَبْدٍ اسْتَرْعَاهُ اللهُ رَعِيَّةً، فَلَمْ يَحُطْهَا بِنَصِيحَةٍ، إِلَّا لَمْ يَجِدْ رَائِحَةَ الجَنَّةِ

“Tidaklah seorang hamba diberi tanggung jawab oleh Allah dengan suatu tanggung jawab, kemudian dia tidak menjaga (tanggung jawab) itu secara tulus dan maksimal, kecuali bahwa dia tidak akan mencium bau surga.” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhâry dan Muslim dari Ma’qil bin Yasar. Lafazh hadits adalah milik Al-Bukhâry]

Juga Allah Jalla Jalâluhu berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ.

“Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya adalah malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap segala sesuatu yang (Allah) perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan segala hal yang diperintahkan.” [At-Tahrîm: 6]

Wahai para pemuda dan pemudi harapan umat,

Kalian adalah buah hati dan harapan umat, jadilah orang yang paling bermanfaat bagi manusia, dan jadilah orang-orang yang berberkah di manapun kalian berada sebagaimana keberadaan Nabi Isa ‘alaihis salâm yang berkata,

وَجَعَلَنِي مُبَارَكًا أَيْنَ مَا كُنْتُ.

“Dan Dia menjadikanku sebagai orang yang diberkahi di mana saja aku berada.” [Maryam: 31]

Kaum muslimat, para perempuan yang beriman,

Kecantikan hakiki bukanlah pada wajah, jasad, dan pakaian. Kecantikan sesungguhnya adalah ketakwaan hati dan akhlak yang dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya. Allah Ta’âlâ telah memuliakan para perempuan dengan hijab dan kehormatan. Oleh karena itu, janganlah mengikuti para perusak yang menyesatkan perempuan,

صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا، قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُونَ بِهَا النَّاسَ، وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيلَاتٌ مَائِلَاتٌ، رُءُوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ، لَا يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ، وَلَا يَجِدْنَ رِيحَهَا، وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ كَذَا وَكَذَا

“Dua golongan dari penduduk neraka, yang aku belum pernah melihat keduanya: suatu kaum yang membawa cambuk-cambuk seperti ekor-ekor sapi, dia memukul manusia dengan (cambuk-cambuk) itu, dan para perempuan yang berpakaian tetapi telanjang, menyesatkan orang lain, bersisir seperti pezina, kepala mereka seperti punuk-punuk unta yang miring. Mereka tidak akan dimasukkan ke dalam surga dan tidak akan mencium bau (surga), padahal bau (surga) bisa dicium dari jarak begini dan begini.” [Diriwayatkan oleh Muslim dari Abu Hurairah radhiyallâhu ‘anhu]

Kaum muslimin dan muslimat yang takut dari api neraka,

Takwa adalah sebab kesejahteraan suatu negeri,

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ.

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu maka Kami menyiksa mereka disebabkan oleh perbuatan mereka.” [Al-A’râf: 96]

Seluruh kebersamaan dan kecintaan hanyalah bermanfaat pada hari Kiamat dengan takwa,

الْأَخِلَّاءُ يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلَّا الْمُتَّقِينَ

“Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa. [Az-Zukhruf: 67]

Kaum muslimin dan muslimat yang memiliki kelembutan hati dan kasih sayang,

Pada hari yang berbahagia ini, ada sejumlah kaum muslimin menghadiri hari Id ini dengan linangan air mata dan berliput duka dan nestapa. Oleh karena itu, ulurkanlah tangan kebaikan dan tuangkanlah dari ketulusan hati kepada saudara-saudara seagama. Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda,

هَلْ تُنْصَرُونَ وَتُرْزَقُون إِلّا بِضُعَفَائِكُمْ

“Tidaklah kalian mendapat pertolongan dan kelapangan rezeki, kecuali dengan sebab (memperhatikan) orang-orang lemah di antara kalian.” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhâry dari Sa’d bin Abi Waqqâsh radhiyallâhu ‘anhu]

Juga janganlah lupa kepada kaum muslimin di berbagai belahan dunia yang diliputi oleh berbagai kesedihan dan cobaan. Curahkanlah doa dan bantuan untuk mereka. Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam mengingatkan,

المُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا

“Seorang mukmin bagi mukmin yang lain seperti bangunan, yang sebagiannya menguatkan sebagian yang lain.” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhâry dan Muslim dari Abu Musa Al-Asy’ary radhiyallâhu ‘anhu]

Mari kita berdoa kepada Allah, semoga Allah Subhânahu wa Ta’âlâ  selalu menjaga kita semua di atas kebaikan dan kebersamaan, dan menghindarkan kita dari segala musibah dan petaka.

Ya Allah, kami memohon kepada-Mu agar Engkau menerima amalan puasa, shalat, zakat, sedekah, bacaan Al-Qur`an, i’tikaf, dan segala amalan shalih, serta jadikanlah amalan-amalan tersebut sebagai pembebas leher-leher kami dari api neraka.

Ya Allah, jagalah seluruh pemimpin kami di atas ketaatan, berilah mereka kekuatan dan taufiq dalam mengadakan kebaikan di negeri kami, serta selalulah bimbing mereka kepada ridha-Mu.

Semoga, pada setiap tahunnya, kaum muslimin dan muslimat selalu berada di atas kebaikan dan ketakwaan, tergolong ke dalam Al-Fâ`izin ‘orang-orang yang beruntung’ dan Al-Â’idin ‘orang-orang yang terlahir kembali, bersih dari dosa’.

تَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ صَالِحَ الْأَعْمَالِ، وَصَلَّى اللهُ وَبَارَكَ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيمًا مَزِيدًا. 

Idul Fithri sebagai Momen Menjaga Keutuhan Negeri [Khutbah Idul Fithri 1438 H]

—————————————————————————–

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Tulisan lainnya

Tulis komentar

Logged in as admin. Log out »




jannatul-firdaus.net @2018