Al-Qur’an dan Sunnah, Perahu Penyelamat dari Gelombang Kesesatan dan Kejahilan
Oleh : Al-Ustadz Abdul Qodir Abu Fa’izah hafizhahullah
[Pembina Ponpes Al-Ihsan Gowa]
Al-Kitab dan Sunnah adalah wahyu yang Allah turunkan kepada Nabi-Nya, Muhammad sebagai pedoman dan petunjuk serta bimbingan bagi umat Islam dalam mengarungi kehidupan dunia sampai mereka berjumpa dengan Allah -Azza wa Jalla-.
Al-Kitab dan Sunnah kini mulai ditinggalkan dan ditelantarkan oleh kaum muslimin, dimana mereka mengambil pedoman-pedoman lain, berupa ucapan manusia yang tak ma’shum.
Mereka lebih senang mengambil dan mengadopsi ucapan para syaikh dan guru mereka, tanpa memperhatikan benar-tidaknya!! Bahkan seringkali kebatilannya telah jelas dan nyata di depan mata, namun mereka tetap mengikutinya. Seakan-akan ucapan para guru dan syaikh setara dengan Al-Qur’an dan Sunnah Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-!!!
Lebih para dari semua itu, sebagian kalangan yang menganggap dirinya sebagai golongan intelektual, dipermainkan oleh kaum kafir yang meniupkan dan menyebarkan asumsi bahwa undang-undang buatan Belanda, Perancis, Amerika, dan sekutunya adalah lebih baik dibandingkan undang-undang dan syariat Allah yang terdapat dalam Al-Qur’an dan Sunnah.
Subhanallah, adakah manusia lebih baik dibandingkan Penciptanya, yaitu Allah –Azza wa Jalla-? Jelas tidak mungkin semua hal lebih baik daripada wahyu yang turun dari Allah!!
Ini kenyataan sebagian manusia-manusia muslim yang meninggalkan Al-Kitab (Al-Qur’an).
Itulah yang dikeluhkan oleh Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- sebagaimana yang diabadikan di dalam Al-Qur’an,
قد أعرضوا عنه وهجروه وتركوه مع أن الواجب عليهم الانقياد لحكمه والإقبال على أحكامه، والمشي خلفه،
“Sungguh mereka berpaling dari Al-Qur’an, dan meninggalkannya, walaupun kewajiban mereka adalah tunduk kepada hukumnya, fokus kepada hukum-hukumnya dan berjalan di belakangnya”. [Lihat Taisir Al-Karim Ar-Rahman (hal. 582)]
Inilah nasib Al-Qur’an di zaman itu, nah bagaimana lagi dengan zaman sekarang. Jelas keadaan manusia lebih parah dalam menolak dan meninggalkan Al-Qur’an dan Sunnah.
Tidak heran jika jauh hari Rasulullah –Shallallahu alaihi wa sallam- mewasiatkan kepada para sahabatnya agar berpegang teguh dengannya.
Al-Qur’an dan Sunnah adalah tali penyelamat di tengah derasnya arus kesesatan dan penyimpangan.
Dari Abu Syuraih Al-Khuza’iy –radhiyallahu anhu– berkata,
“Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- keluar kepada kami seraya bersabda,
“Bergembiralah. Bukankah kalian mempersaksikan bahwa tiada ilah (sembahan) yang haq, melainkan Allah dan bahwa aku adalah rasul Allah?”
Mereka berkata, “Betul (kami telah bersaksi)”.
Beliau bersabda, “Sesungguhnya Al-Qur’an ini adalah tali yang ujungnya ada di Tangan Allah dan ujungnya (yang lain) ada di tangan kalian. Karena itu, berpeganglah dengannya.
Sebab kalian tak akan sesat dan tak akan binasa setelahnya selama-lamanya”. [HR. Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushonnaf (30006), Abd bin Humaid dalam Al-Muntakhob (no. 483), Ibnu Hibban dalam Shohih-nya (no. 122), Ath-Thobroniy dalam Al-Kabir (no. 491) dan lainnya. Hadits ini dinilai shohih oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Ash-Shohihah (no. 713)]
Al-Qur’an yang berisi petunjuk ke jalan kebenaran, ibarat tali yang mengikat manusia agar tidak hanyut oleh arus kesesatan dan tidak terombang-ambing oleh perselisihan yang sering kali menyeret manusia ke dalam kesalahan dalam bersikap.
Sunnah sebagai penjelas dan perinci Al-Qur’an telah menjelaskan jalan-jalan kebenaran dan jalan-jalan kesesatan. Apapun yang diperselisihkan oleh manusia, jika semuanya dikembalikan kepada Sunnah, maka seseorang akan selamat dari penyimpangan dan kesesatan.
Dari Sahabat Abu Najih Al-Irbadh bin Sariyah–radhiyallahu ‘anhu- berkata,
“Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- telah menasihati kami dengan suatu nasihat yang membuat mata bercucuran, dan hati bergetar.
Maka kami berkata, “Wahai Rasulullah, seakan-akan ini adalah nasihat orang yang mau berpisah. Maka berikanlah wasiat kepada kami”.
Beliau bersabda,”Aku wasiatkan kepada kalian agar bertaqwa kepada Allah -Azza wa Jalla-, mendengar dan taat (kepada penguasa muslim, -pent.), walaupun seorang budak berkuasa atas kalian. Karena barang siapa yang hidup diantara kalian, maka ia akan melihat perselisihan yang banyak.
Karena itu, pegangilah sunnahku, dan sunnahnya para khalifah yang lurus lagi terbimbing. Gigitlah sunnahku dengan gigi geraham kalian.
Waspadalah kalian terhadap perkara-perkara baru (dalam agama, -pent), karena setiap perkara baru adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah sesat”. [HR. Abu Dawud dalam Sunan-nya (4607), At-Tirmidziy dalam Sunan-nya (2676), dan Ibnu Majah dalam Sunan-nya (42 & 44). Hadits ini di-shohih-kan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Al-Irwa’ (2455), dan Takhrij Al-Misykah (165)]
Sunnah Rasul –Shallallahu alaihi wa sallam- ibarat perahu yang akan menyelamatkan manusia jika mereka mengendarainya di tengah arus banjir yang melanda manusia.
Kesesatan dan kejahilan ibarat banjir yang siap membinasakan manusia, seorang tak akan selamat darinya, kecuali ia mengambil “perahu sunnah” yang siap mengantarkannya ke surga Allah dengan aman dan bahagia.
Ibnu Wahb –rahimahullah– berkata, “Kami pernah di sisi Malik seraya aku sebutkan “sunnah”. Imam Malik berkata,
السنة سفينة نوح من ركبها نجا ومن تخلف عنها غرق
“Sunnah adalah (ibarat) perahu Nabi Nuh; barangsiapa yang menumpanginya, maka ia selamat dan barangsiapa yang tertinggal darinya, maka ia akan tenggelam”. [HR. Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimasyqo (14/9) dan Abu Isma’il Al-Harowiy dalam Dzammul Kalam (no. 872)]
Wahai kaum muslimin, bila anda ingin selamat, maka peganglah Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah –Shallallahu alaihi wa sallam-, niscaya kalian akan beruntung dan masuk surga, insya Allah. Akan tetapi jika kalian mengambil ucapan orang-orang kafir, undang-undang mereka, aturan-aturan kepala suku dan pemimpin adat, maka kalian pasti akan sesat!!
Oleh : Al-Ustadz Abdul Qodir Abu Fa’izahhafizhahullah
Jika manusia jauh dari tuntunan Al-Kitab dan Sunnah, maka ia akan terjerumus dalam kubang-kubang kesesatan yang gelap, walaupun ia menyangka dirinya mendapatkan petunjuk.
Ambil sebagai contoh, Jahmiyyah (sekte sesat binaan Jahm bin Shofwan) telah terjatuh dalam kesesatan, saat mereka menyangka bahwa kalamullah (ucapan dan firman Allah) –diantaranya, Al-Qur’an- adalah makhluk diantara makhluk-makhluk ciptaan Allah.
Padahal jika mereka mau kembali kepada Al-Qur’an, dan Sunnah menurut pemahaman salaf (yakni, para sahabat, tabi’in, dan ulama’-ulama’ yang mengikuti mereka), niscaya mereka tak akan menyatakan bahwa Al-Qur’an adalah makhluk, bahkan Al-Qur’an adalah firman dan ucapan Allah. Sedangkan firman dan ucapan-Nya adalah sifat Allah, bukan makhluk !!
Banyak sekali dalil yang menguatkan bahwa Al-Qur’an adalah kalamullah (ucapan dan firman Allah), bukan makhluk.
Dalil-dalil tersebut, ada baiknya kita bawakan agar menguatkan aqidah, dan iman kita.
Dalil dari Al-Qur’an Al-Karim
Allah -Ta’ala- telah mencela suatu kaum di dalam Al-Qur’an, karena mereka meyakini bahwa Al-Qur’an itu adalah ucapan manusia alias makhluk,
“Lalu dia berkata: “(Al Quran) Ini tidak lain hanyalah sihir yang dipelajari (dari orang-orang dahulu), ini tidak lain hanyalah perkataan manusia”. Aku akan memasukkannya ke dalam (neraka) Saqar”. (QS. Al-Muddatstsir: 24-26).
Ahli Tafsir Negeri Syam, Al-Hafizh Ibnu Katsir Ad-Dimasyqiy-rahimahullah- berkata menafsiri ayat ini,
“يَقُولُ تَعَالَى مُتَوَعِّدًا لِهَذَا الْخَبِيثِ الَّذِي أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِ بِنِعَمِ الدُّنْيَا، فَكَفَرَ بِأَنْعُمِ اللَّهِ، وَبَدَّلَهَا كُفْرًا، وَقَابَلَهَا بِالْجُحُودِ بِآيَاتِ اللَّهِ وَالِافْتِرَاءِ عَلَيْهَا، وَجَعَلَهَا مِنْ قَوْلِ الْبَشَرِ.” اهـ من تفسير القرآن العظيم لابن كثير، ت : سلامة (8/ 265)
“Allah -Ta’ala- berfirman dalam memberikan ancaman kepada orang keji ini, yang telah Allah berikan nikmat kepadanya, yaitu nikmat-nikmat duniawi. Lalu ia mengingkari nikmat-nikmat Allah, dan menggantinya dengan kekafiran; membalasnya dengan pengingkaran terhadap ayat-ayat Allah, dan mengada-ada atasnya; ia menganggapnya termasuk ucapan manusia”. [Lihat Tafsir Al-Qur’an Al-Azhim (4/568)]
Jadi, Al-Qur’an adalah firman Allah, bukan makhluk, dan bukan pula ucapan manusia. Segala sesuatu dari Al-Qur’an adalah firman Allah, baik yang tertulis dalam mushaf, diucapkan oleh manusia, direkam dalam kaset, dan lainnya; semua itu adalah firman Allah, bukan makhluk. Walaupun suara manusia, kertas dan tinta yang dipakai menulis, dan kaset yang dipakai merekam; semua itu adalah makhluk. Adapun yang disuarakan, ditulis, direkam, maka itu adalah firman Allah, bukan makhluk.
“Allah Pencipta langit dan bumi, dan bila dia berkehendak (untuk menciptakan) sesuatu, Maka (cukuplah) dia hanya mengatakan kepadanya, “Jadilah!”, lalu jadilah ia”. (QS. Al-Baqoroh: 117).
Allah menjelaskan bahwa jika Dia menghendaki sesuatu, dan telah memutuskan (penciptaan)nya, maka Dia hanya berfirman, “Jadilah”, lalu jadilah hal itu.
Jadi, Allah menciptakannya dengan firman-Nya. Ayat ini membedakan antara firman-Nya yang merupakan sifat-Nya dan antara makhluk-Nya yang tercipta dengan perintah, dan ucapan-Nya. [Lihat Al-Ushul allati Banaa alaiha Ahlul Hadits Manhajahum fid Da’wah ilallah (hal. 214), cet. Dar Adh-Dhiya’]
“Dan sesungguhnya jika kamu mendatangkan kepada orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Al Kitab (Taurat dan Injil), semua ayat (keterangan), maka mereka tidak akan mengikuti kiblatmu, dan kamu pun tidak akan mengikuti kiblat mereka, dan sebahagian merekapun tidak akan mengikuti kiblat sebahagian yang lain. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti keinginan mereka setelah datang ilmu kepadamu, Sesungguhnya kamu -kalau begitu- termasuk golongan orang-orang yang zhalim”. (QS. Al-Baqoroh: 145).
Sesungguhnya Al-Qur’an yang merupakan kalamullah adalah ilmu Allah -Ta’ala-. Barangsiapa yang menyangka bahwa Al-Qur’an adalah makhluk, maka sungguh ia telah menyangka bahwa ilmu Allah adalah makhluk. Na’udzu billah min dzalik. [Lihat Al-Ushul allati Banaa alaiha Ahlul Hadits Manhajahum fid Da’wah ilallah (hal. 214), cet. Dar Adh-Dhiya’]
Dalil dari Sunnah Nabawiyyah
Abdullah bin Umar -radhiyallahu ‘anhu– berkata, “Aku pernah mendengar Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda,
“Makhluk yang paling pertama Allah -Ta’ala- ciptakan adalah Al-Qolam (Pena). Kemudian Allah mengambilnya dengan tangan kanan-Nya. Sedang kedua tangan-Nya adalah yamin. Lalu Allah menetapkan adanya dunia, dan segala sesuatu yang terdapat di dalamnya berupa amalan baik yang dikerjakan, maupun amalan jelek; yang basah, maupun kering”. [HR. Ibnu Abi Ashim dalam As-Sunnah (106), dan Al-Ajurriy dalam Asy-Syari’ah (hal. 180). Hadits ini di-hasan-kan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Zhilal Al-Jannah (1/42)
Hadits ini menunjukkan bahwa Al-Qolam (pena) adalah makhluk pertama yang Allah ciptakan, sedang kalamullah (ucapan Allah) telah ada sebelum Al-Qolam. Bahkan Al-Qolam tercipta dengan kalamullah.
Ini semua menunjukkan bahwa kalamullah adalah sifat Allah, bukan makhluk ciptaan-Nya.
Al-Imam Ahmad-rahimahullah- berkata,
“Syaikh ini (Yakni, Abbas An-Narsiy) telah menunjuki kita kepada sesuatu yang belum kita pahami, yaitu sabdanya, “Sesungguhnya sesuatu yang paling pertama Allah ciptakan adalah Al-Qolam”, sedang Al-Kalam (firman Allah) ada sebelum Al-Qolam”. [HR. Al-Ajurriy dalam Asy-Syari’ah (no. 178)]
Al–Kalam (berbicara) adalah sifat yang telah ada pada diri Allah sebelum Allah menciptakan seluruh makhluk-Nya. Dengan ini, nyatalah bagi kita perbedaan antara kalamullah yang merupakan sifat Allah dengan makhluk-makhluk ciptaan-Nya.
Dalil berupa Ijma’ Para Salaf
Keyakinan seperti ini telah diyakini oleh seluruh manusia di zaman para sahabat, apalagi para ulama. Sebab, perkara yang jelas dan gamblang seperti ini telah dikuatkan dan dijelaskan oleh dalil-dalil dalam Al-Kitab dan As-Sunnah An-Nabawiyyah.
Al-Imam Abu Muhammad Ibnu Qutaibah Ad-Dainuriy-rahimahullah- (wft 276 H) berkata,
“Andai mereka (yang berpendapat Al-Qur’an adalah makhluk) mau menajamkan pandangannya, dan diberikan sekeping taufiq, niscaya mereka akan mengetahui bahwa tidak mungkin Al-Qur’an itu adalah makhluk. Karena Al-Qur’an adalah kalamullah (firman Allah). Sedang kalamullah dari Allah. Tak ada sesuatu yang berasal dari diri Allah yang merupakan makhluk”. [Lihat Ta’wil Mukhtalaf Al-Hadits (hal. 259)]
Inilah aqidah (keyakinan) yang bercokol di hati kaum muslimin dari zaman kenabian sampai hari ini; Ahlus Sunnah terus meyakini bahwa Al-Qur’an adalah kalamullah (ucapan Allah), bukan makhluk ciptaan Allah.
“Barangsiapa yang menyangka bahwa Al-Qur’an adalah makhluk, maka ia menurut kami adalah kafir lagi zindiq, dan musuh Allah; Jangan kamu menemaninya duduk, dan jangan kamu mengajaknya berbicara”. [HR. Al-Ajurriy dalam Asy-Syari’ah (no. 163), Abu Dawud dalam Al-Masa’il (hal. 267), dan Al-Bukhoriy dalam Kholq Af’al Al-Ibad (hal. 119)]
Ulama’ tabi’in, Amr bin Dinar-rahimahullah- (wft 126 H) berkata menghikayatkan ijma’ para salaf dalam perkara ini,
“Aku telah mendengarkan para guru-guru kami berkata sejak 70 tahun, “Al-Qur’an adalah kalamullah, bukan makhluk”. [HR. Al-Baihaqiy dalam Syu’abul Iman (1/190)]
Seorang ulama’ Syafi’iyyah, Al-Imam Abu Bakr Al-Baihaqiy-rahimahullah- berkata,
“Guru-gurunya Amr bin Dinar adalah sekelompok sahabat, dianataranya Abdullah bin Abbas, Abdullah bin Umar, Jabir bin Abdillah, Abdullah bin Az-Zubair, dan para pembesar tabi’in”. [Lihat Syu’abul Iman (1/190), cet. Dar Al-Jiil]
Inilah aqidah para sahabat yang menetapkan bahwa Al-Qur’an adalah ucapan Allah, bukan makhluk. Keyakinan ini terus diyakini oleh generasi setelahnya.
Sekarang ada baiknya kita dengarkan Al-Imam Ash-Shobuniy-rahimahullah- (wft 449 H) berkata,
“ويشهد أصحاب الحديث ويعتقدون أن القرآن كلام الله وكتابه، ووحيه وتنزيله غير مخلوق، ومن قال بخلقه واعتقده فهو كافر عندهم.” اهـ من عقيدة السلف أصحاب الحديث (ص: 3)
“Ashabul Hadits (yakni, Ahlus Sunnah wal Jama’ah) mempersaksikan, dan meyakini bahwa Al-Qur’an adalah kalamullah (ucapan Allah), Kitab-Nya, wahyu-Nya, dan sesuatu yang Allah turunkan, bukan makhluk! Barangsiapa yang meyakini bahwa Al-Qur’an adalah makhluk, maka ia kafir di sisi Ahlus Sunnah”. [Lihat Aqidah As-Salaf Ash-habil Hadits (hal. 40)]
Keyakinan bahwa Al-Qur’an adalah kalamullah, bukan makhluk, tidak hanya diyakini oleh para tabi’in, bahkan para imam ahli fiqih pun yang datang setelahnya juga meyakininya dan telah aqidah mereka.
Al-Imam Al-Barbahariy-rahimahullah- berkata,
“والقرآن كلام الله وتنزيله ونوره، ليس بمخلوق؛ لأن القرآن من الله، وما كان من الله فليس بمخلوق، وهكذا قال مالك بن أنس وأحمد بن حنبل والفقهاء قبلهما وبعدهما، والمراء فيه كفر.” اهـ من شرح السنة للبربهاري (ص: 71)
“Al-Qur’an adalah kalamullah (firman Allah), sesuatu yang turunkan, dan cahaya-Nya, bukan makhluk, karena Al-Qur’an dari diri Allah. Apa saja yang berasal dari diri Allah, maka bukan makhluk. Demikianlah yang dinyatakan oleh Malik bin Anas, Ahmad bin Hambal, para ahli fiqih, sebelum dan setelah keduanya; berdebat tentangnya adalah kekafiran”. [Lihat Syarhus Sunnah (hal. 71), karya Al-Barbahariy]
Silakan simak Imam Ahlus Sunnah, Ahmad bin Hambal Asy-Syaibaniy-rahimahullah- saat beliau berkata,
“Al-Qur’an adalah kalamullah (firman Allah), bukan makhluk. Jangan kau canggung untuk berkata, “Dia bukan makhluk”, karena firman Allah dari Allah. Sedang tak ada dari diri-Nya sesuatu berupa makhluk”. [Lihat Syarh Ushul I’tiqod Ahlis Sunnah wal Jama’ah (1/157)]
Seorang ulama’ Malikiyyah, Al-Imam Ibnu Abi Zaid Al-Qoirowaniy-rahimahullah- berkata,
“كلَّم موسى بكلامِه الَّذي هو صفةُ ذاتِه، لا خَلْقٌ مِن خَلقِه.” اهـ من قطف الجني الداني شرح مقدمة رسالة ابن أبي زيد القيرواني (ص: 45)
“Allah telah berbicara dengan Musa dengan kalam-Nya (firman-Nya) yang merupakan sifat dzatiyyah-Nya, bukan makhluk diantara makhluk-makhluk-Nya”. [Lihat Qothful Janaa Ad-Dani (hal. 45) karya Syaikh Abdul Muhsin Al-Abbad]
Inilah keyakinan dan aqidah yang harus dipegangi oleh setiap mukmin, karena itu adalah kebenaran yang dilandasi oleh dalil-dalil dari Al-Qur’an dan Sunnah Nabawiyyah, bahkan ijma’ para As-Salafush Sholeh, dan ulama-ulama setelah.
Al-Imam Abu Ja’far Ath-Thohawiy-rahimahullah- (wft 321 H) berkata saat menyebutkan aqidah Ahlus Sunnah,
“وأن القرآن كلام الله، منه بدا بلا كيفية قولاً، وأنزله على رسوله وحياً، وصدقه المؤمنون على ذلك حقاً، وأيقنوا أنه كلام الله تعالى بالحقيقة، ليس بمخلوق ككلام البرية، فمن سمعه فزعم أنه كلام البشر فقد كفر.” اهـ من العقيدة الطحاوية (ص: 41)
“Al-Qur’an adalah kalamullah (firman Allah). Dari-Nya Al-Qur’an muncul -tanpa kaifiyyah-, dalam bentuk ucapan; Allah menurunkannya kepada Rasul-Nya dalam bentuk wahyu. Al-Qur’an telah dibenarkan oleh orang-orang beriman dengan benar; mereka meyakini bahwa Al-Qur’an adalah kalamullah secara hakiki, bukan makhluk sebagaimana halnya ucapan manusia. Barangsiapa yang mendengarnya, dan menyangkanya sebagai ucapan manusia , maka ia kafir”. [Lihat Al-Aqidah Ath-Thohawiyyah (hal. 41)]
Al-ImamIbnu Abil Izz Al-Hanafiy-rahimahullah- berkata,
“Ini adalah kaidah yang mulia dan prinsip yang besar di antara prinsip-prinsip agama. Apa yang dihikayatkan oleh Ath-Thohawiy -rahimahullah-, itulah yang benar, telah ditunjukkan oleh dalil-dalil dari Al-Kitab dan Sunnah bagi yang mentadabburinya. Itu juga dikuatkan oleh fithrah selamat yang belum berubah dengan (pengaruh) syubhat, keraguan, dan pemikiran-pemikiran batil”. [Lihat Syarh Al-Aqidah Ath-Thohawiyyah (1/172), dengan tahqiq Syu’aib Al-Arna’uth, cet. Mu’assasah Ar-Risalah, 1417 H]
Inilah beberapa nukilan dan pernyataan Ahlus Sunnah wal Jama’ah dari zaman ke zaman bahwa Al-Qur’an adalah kalamullah (ucapan, dan firman Allah), bukan makhluk.
Barangsiapa yang menyangka –seperti halnya sekte Jahmiyyah- bahwa Al-Qur’an adalah makhluk, maka ia kafir.
Al-Imam Asy-Syafi’iy-rahimahullah- berkata,
“الْقُرْآنُ كَلَامُ اللَّهِ غَيْرَ مَخْلُوقٍ، وَمَنْ قَالَ : “مَخْلُوقٌ” فَهُوَ كَافِرٌ!” اهـ من الشريعة للآجري (1/ 508/ رقم : 176)
“Al-Qur’an adalah ucapan Allah -Azza wa Jalla-, bukan makhluk. Barangsiapa yang berkata, “Al-Qur’an adalah makhluk”, maka ia kafir”. [Atsar Riwayat Al-Ajurriy dalam Asy-Syari’ah (1/508/176)]
Aku mengenal kejelekan bukan untuk melakukannya tapi untuk berhati-hati darinya …. Siapa yang tidak mampu membedakan kejelekan dari kebaikan maka dia akan terjerumus di dalamnya.
Seorang mengenal kebaikan untuk mengikuti kebaikan tersebut, namun sebaliknya seorang mengenal keburukan untuk berhati-hati darinya dan menjauhinya.
Dalam kesempatan ini, kami akan menyebutkan beberapa penyakit hati yang banyak menimpa manusia, di antaranya:
Riya’
Pengertian Riya
Riya adalah:
إِظهارُ العبادةِ لقصدِ رؤيةِ النّاسِ لها فيحمدُنَه عليها.
“Menampakkan ibdah dengan maksud agar dilihat oleh manusia sehingga mereka memujinya dengan ibadah tersebut.” (Dr. Shalih bin Fauzan hafizhahullah, al-Mulakhkhash fii Syarh Kitab Tauhid, hal. 45).
Sifat riya’ merupakan salah satu sifat yang paling dikhawatirkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kepada para sahabat. Sebagaiamana dalam hadits:
“Yang paling aku khawatirkan terhadap kalian adalah syirik kecil. Maka beliau ditanya (tentang apa itu syirik kecil), beliau menjawab: “Riya’.” (Diriwayatkan oleh Ahmad dan ath-Thabraaniy).
Apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengkhawatirkan penyakit ini menimpa orang-orang shaleh, generasi terbaik dari umat ini, yang mendaptkan pendidikan langsung dari Nabi shallaallahu ‘alaihi wasallam. Maka orang-orang selain mereka yang berada jauh di bawah mereka tentunya lebih dikhawatirkan lagi.
“Ya Allah, jadikanlah seluruh amalku sebagai amal shalih/baik dan jadikanlah amalanku hanya murni untuk wajah-Mu dan janganlah jadikan dalam amalku sedikitpun untuk seorang makhluk).
Menyembunyikan amalan-amalan kebaikan.
Menyamakan antara pujian dan celaan.
Mengetahui bahwa yang memberi balasan bukanlah makhluk, akan tetapi Allah Subhanahu Wata’ala.
Mengetahui bahaya riya.
Hasad
Di antara penyakit hati yang sangat berbahaya adalah hasad.
Makna Hasad
Imam Ibnu Qudamah al-Maqdisiy rahimahullah menyebutkan bahwa apabila Allah memberikan nikmat kepada saudaramu lalu engkau bersikap:
أن تكره تلك النّعمة وتحبُّ زوالها, فهذا هو الحسد.
“Engkau membenci nikmat tersebut dan mengharapkan ia lenyap, maka itulah hasad.” (Mukhtashar Mihajul Qashidiin, hal. 233).
Syeikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’diy rahimahullah menyebutkan:
الحاسد: هو الذي يُحبُّ زوال النِّعمةِ عن المحسود فيسعی في زوالِها بما يقدرُ عليه من الأسباب.
“Orang yang hasad adalah orang yang suka apabila nikmat yang didapatkan oleh orang lain hilang darinya, maka dia berusaha semampu mungkin untuk menghilangkan nikmat tersebut dengan segala cara.” (Taisiir al-Kariim ar-Rahman, hal. 937).
Syeikh Utsaimin rahimahullah berkata:
الحاسد هو الذي يكره نعمة الله علی غيره.
“Orang yang hasad adalah orang yang benci apabila orang lain medapatkan nikmat Allah.” (Tafsir Juz Amma, hal 357).
Bahaya Hasad
Hasad merupakan dosa pertama yang terjadi di kalangan umat manusia, yaitu ketika salah satu anak Adam alaihissalam membunuh saudaranya.
“Sesungguhnya hasad itu akan memakan kebaikan-kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar.” (Diriwayatkan oleh Abu Daud, no. 4904, dan hadits ini ada kelemahan).
Yang menyebabkan Iblis mengalami apa yang dia alami (tersesat dan kekal di Neraka) adalah sifat hasad.
Disebutkan bahwa Iblis laknatullah pernah berkata kepada Nabi Nuh alaihissalam:
إياك والحسد! إنَّه صَيَّرني إلی هذه الحال.
“Jauhilah sifat hasad! Karena yang membuatku seperti ini adalah sifat hasad.” (Mukhtashar Mihajul Qashidiin, hal. 233).
Kiat Untuk Menghindari Hasad
Banyak bersyukur kepada Allah dan selalu memiliki sifat qana’ah.
Bersyukur kepada Allah dengan lisan, dengan hati, dan dengan anggota tubuh.
Demikian juga selalu merasa cukup dengan nikmat Allah, dan ini merupakan lambang keberuntungan. Dari sahabat Abdullah bin Amr bin Ash radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Sungguh beruntung seorangyang masuk Islam, dan diberi rezeki yang cukup, dan Allah memberi sifat qana’ah dengan rezeki yang diberikan kepadanya.” (Diriwayatkan oleh Muslim, no. 1054).
Sifat qana’ah merupakan sifat yang sangat mulia, karena sifat ini menunjukkan keridhaan terhadap segala ketentuan dan takdir Allah Subhanahu Wata’ala.
Memperkuat keimanan kepada takdir.
Karena segala sesuatu sudah ditakdirkan oleh Allah Subhanahu Wata’ala, dan tidak ada yang mampu menolak takdir-Nya.
Ibnu Sirin rahimahullah berkata:
ما حسدتُ أحدا علی شيء من أمر الدنيا، لأنّه إن كان من أهل الجنّة، فكيف أحسدُه علی شيء من أمر الدنيا وهو يصير إلی الجنة، وإن كان من أهل النّار فكيف أحسده من أمر الدّنيا وهو يصير إلی النّار.
Saya tidak hasad pernah hasad kepada seseorang dalam urusan dunia, karena apabila dia termasuk penduduk surga maka, bagaimana aku hasad terhadapnya dalam urusan-urusan dunia, sementara dia masuk surga. Dan apabila dia termasuk penghuni neraka, maka bagaimana aku hasad kepadanya dalam urusan dunia, sementara dia masuk neraka.” (Mukhtashar Mihaajul Qashidiin, hal. 233)
Al-Kibr (Kesombongan)
Makna Sombong
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mendefinisikan sombong dalam hadits beliau:
اَلْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ.
Artinya:
“Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.” (Diriwayatkan oleh Muslim, no. 91).
Maka dari hadits di atas dapat dipahami bahwa ukuran kesombongan ada dua:
1) Menolak kebenaran.
2) Merendahkan atau mermehkan orang lain.
Bahaya Kesombongan
Allah membenci orang yang menyombongkan diri.
Allah Subhanahu Wat’ala berfirman:
إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْتَكْبِرِيْنَ.
Artinya:
“Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang menyombongkan diri.” (Surah an-Nahl, ayat 23).
Rasulullah shallalahu ‘alaihi wasallam mengancam bahwa orang yang menyombongkan diri tidak akan masuk Surga.
“Tidak akan masuk Surga orang yang ada dalam hatinya kesombongan walaupun sebesar zarrah (semut kecil).” (Diriwayatkan oleh Muslim, no. 91).
Kesombongan merupakan dosa pertama yang dilakukan oleh makhluk Allah yaitu Iblis.
Sufyan bin Uyainah rahimahullah berkata:
من كانت معصيتُهُ في شهوتِه، فارجُ له التّوبة، فإنَّ آدَمَ عليه السلام عصیٰ مُشتَهِيًا فغفر له، فإذا كانت معصيتُه من كِبْر، فاخشَ عليه اللعنة، فإنَّ إبليس عصیٰ مستكبرًا فلُعِنَ.
“Apabila seorang bermaksiat karena kesombongannya, maka dikhawatirkan sulit bertaubat sebagaiaman Iblis yang bermaksiat kepada Allah karena kesombongannya.”
Sebab-Sebab Munculnya Kesombongan:
Merasa lebih dari yang lainnya. Entah itu merasa lebih dari sisi ilmunya, atau dari sisi nasabnya, atau dari sisi pangkat dan jabatannya, atau dari sisi hartanya, dan lain sebagainya.
” (Allah) berfirman, ‘apakah yang menghalangimu (sehingga) kamu tidak bersujud kepada adam ketika aku menyuruhmau?’ (Iblis) menjawab, ‘Aku lebih baik daripada dia. Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia engkau ciptakan dari tanah.” (Surah al-A’raaf, ayat 12).
Ujub
Bahaya Ujub Terhadap Diri
Syeikh Nashir as-Sa’diy rahimahullah berkata:
فالعجبُ بالنّفسِ يحملُ على التّكبّرِ على الخلقِ, واحتقارِهم والاستهزاءِ بهم, وتنقيصهم بقولِه وفعلِه.
“Ujub pada diri sendiri akan menyebabkan takabbur pada sesama manusia, menghinakan dan mengolok-olok mereka, serta melecehkan mereka, baik dengan ucapan maupun perbuata.” (Bahjatu Quluubil Abraar, hal. 193).
Dampak Negatif Sifat Ujub
Dampak Negatif Ujub Kepada Makhluk.
Sifat ujub akan menyeret kepada sifat kesombongan, dan kesombongan melahirkan banyak keburukan.
Ujub kepada Allah, yaitu merasa bahwa ibadahnya sudah banyak dan besar, maka dia merasa berjasa kepada Allah Subhanahu Wata’ala atas apa yang dilakukannya, dan dia lupa akan nikmat Allah, dia tidak melihat sisi-sisi negatif ujub yang akan merusak amalannya sendiri.
Orang yang cerdas
Orang yang cerdas adalah orang yang senantiasa memeriksa dan khawatir akan amalannya tidak diterima, bukan orang yang merasa puas dan kagum terhadap amalannya.
Terapi Penyakit Ujub
Sebagaimana telah disebutkan bahwa penyakit ujub merupakan penyakit hati yang sangat berbahaya. Oleh karena itu, seorang muslimah hendaknya berusaha untuk menjauhinya dan menerapinya, dan di antara terapi penyakit ujub adalah:
Selalu mengingat Allah Subhanahu Wata’ala dengan menyadari bahwa apa saja yang diberikan oleh Allah Wata’ala, baik berupa ilmu, harta kekayaan, kekuatan, keperkasaan, atau kemuliaan hari ini bisa saja dicabut oleh Allah Subhanahu Wata’ala keesokan harinya jika Allah Subhanahu Wata’ala menghendaki-Nya.
Menyadari bahwa ketaatan seorang hamba kepada Rabb-nya sebanyak apapun tidak akan mampu menyamai sebagian kecil dari nikmat Allah Subhanahu Wata’ala kepadanya.
Menyadari bahwa karunia Allah Subhanhu Wata’ala tidak dapat diimbangi degan apapun.
(Dirngkas dari Kitab Mihajul Muslim, hal. 157).
Demikianlah beberapa penyakit hati yang dapat kami uraikan semoga ada manfaatnya dan semoa Allah Subhanahu Wata’ala menyelamatkan kita darinya.
وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله واصحابه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين. والحمد لله رب العالمين.
—————-
Tobadak, Mamuju Tengah, 26 Syawwal 1443H/27 Mei 2022M.
Dalam kehidupan ini, sangat banyak nikmat yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala berikan kepada hamba-hamba-Nya bahkan nikmat tersebut tidak ada ya mampu untuk menghitungnya. Di antara nikmat yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala berikan adalah adalah masa muda, kesehatan, harta, waktu luang, dan kesempatan untuk hidup.
Dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallah ‘alaihi wa sallam pernah memberi nasehat kepada seseorang dengan nasehat yang sangat berharga.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
اِغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ: شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ، وَصِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ، وَغِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ، وَفَرَاغَكَ قَبْلَ شَغْلِكَ، وَحَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ.
Artinya:
“Manfaatkanlah lima perkara sebelum lima perkara: Masa mudamu sebelum datang masa tuamu, masa sehatmu sebelum datang masa sakitmu, masa kayamu sebelum datang masa miskinmu, masa luangmu sebelum datang masa sibukmu, dan masa hidupmu sebelum datang kematianmu.” (Diriwayatkan oleh al-Hakim dalam al-Mustadrak, dan beliau berkata hadits ini shahih sesuai dengan syarat al-Bukhariy dan Muslim namun keduanya tidak mengeluarkannya. Dan hadits ini juga dishahihkan oleh Syeikh al-Albaniy dalam Shahih at-Targhiib wa at-Tarhiib).
Lima nasehat yang begitu mulia dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang hendaknya menjadi renungan bagi setiap muslim dan muslimah.
1. Waktu mudamu sebelum datang waktu tuamu.
Yang pertama kali yang hendaknya dimanfaatkan oleh seseorang adalah masa muda, yang mana ini merupakan fase yang sangat berharga dari umur seseorang. Oleh karena itu, dalam hadits Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
لَا تَزُولُ قَدَمُ ابْنِ آدمَ يَوْمَ الْقِيَامةِ مِنْ عِنْدِ رَبِّهِ حَتَّی يُسْأَلَ عَنْ خَمْسٍ: عَنْ عُمُرِهِ فِيْمَ أَفْنَاهُ، وَعَنْ شَبَابِهِ فِيْمَ أَبْلَاهُ، وَمَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيْمَ أَنْفَقَهُ، وَمَاذَا عَمِلَ فِيْمَا عَلِمَ.
Artinya:
“Telapak kaki anak Adam tidak akan bergerak pada hari kiamat dari sisi Tuhannya sehingga dia ditanya tentang lima perkara: Tentang umurnya; untuk apa dia habiskan, tentang masa mudanya: dimana dia usangkan; tentang hartanya dari mana dia dapatkan dan kemana dia belanjakan, dan tentang ilmunya; apa yang dia lakukan dengannya.” (Diriwayatkan oleh at-Tirmidziy, no.2416, dan dishahihkan oleh Syeikh al-Albaniy rahimahullah dalam ash-Shahihah, no. 946).
Syeikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Badr hafizhahullah berkata:
فأخبر النّبيّ صلی اللهُ عليه وسلم أنّ المرء يُسألُ يوم القيامة عن حياته بسؤلين:
الأول: عن حياته عُمُومًا، مِن أوّلِها إلی آخرها.
الثاني: عن مرحلة الشّباب خصوصًا، مع أنّه إذَا سُئل عن حياته فإنّ مَرحلة الشباب داخلةٌ فيها، لكنّه يُسئل يوم القيامة عنها سؤالا خاصًّا.
“Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengabarkan bahwa seseorang akan ditanya pada hari kiamat tentang kehidupannya dengan dua pertanyaan:
Pertama: Tentang kehidupannya secara umum dari awal hingga akhirnya. Kedua: Tentang masa mudanya secara khusus, padahal apabila dia ditanya tentang kehidupannya secara umum maka itu sudah termasuk masa mudanya, akan tetapi dia ditanya tentang masa mudanya pada hari kiamat dengan pertanyaan yang khusus. (Min Washaya as-Salaf Lisy Syabaab).
2. Waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu.
Waktu sehat merupakan nikmat yang sangat besar yang banyak dilalaikan oleh manusia:
Ummu Abdillah (Putri Syeikh Muqbil rahimahullah) berkata:
والمغبون في الدنيا مَن رزقه الله صحة وفراغًا، ولم يستغلهما فيما ينفعه.
Orang yang tertipu di dunia adalah orang yang diberikan rezeki oleh Allah berupa kesehatan dan waktu luang, tetapi dia tidak menggunakannya untuk melakukan perkara yang bermanfaat baginya. (Nashihatiy Lin Nisa’, hal. 20).
Banyak hal yang dapat dilakukan oleh orang sehat dan tidak mampu dilakukan oleh orang sakit. Berpuasa misalnya, orang sakit tidak mampu berpuasa. Demikian juga shalat, orang yang sehat mampu shalat dalam keadaan berdiri, semntara orang yang sakit hanya shalat dalam keadaan duduk bahkan ada yang shalat sambil berbaring. Demikian seterusnya.
Nikmat sehat kadang tidak disadari kecuali sudah datang lawannya.
3. Masa kayamu sebelum datang masa kefakiranmu.
Harta kekayaan merupakan nikmat yang sangat besar yang Allah Subhanahu Wata’ala karuniakan kepada siapa yang dikehendaki dari hamba-hamba-Nya. Disebutkan dalam hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu tentang kisah orang-orang fakir yang datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dimana mereka merasa diungguli oleh orang-orang kaya dalam hal kebaikan. Sebagaimana dalam hadits berikut ini:
جَاءَ الْفُقَرَاءُ إِلَى النَّبِىِّ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ, فَقَالُوا: ذَهَبَ أَهْلُ الدُّثُورِ مِنَ الأَمْوَالِ بِالدَّرَجَاتِ الْعُلاَ وَالنَّعِيمِ الْمُقِيمِ، يُصَلُّونَ كَمَا نُصَلِّى، وَيَصُومُونَ كَمَا نَصُومُ، وَلَهُمْ فَضْلٌ مِنْ أَمْوَالٍ يَحُجُّونَ بِهَا، وَيَعْتَمِرُونَ، وَيُجَاهِدُونَ، وَيَتَصَدَّقُونَ قَالَ: أَلاَ أُحَدِّثُكُمْ بِأَمْرٍ إِنْ أَخَذْتُمْ بِهِ أَدْرَكْتُمْ مَنْ سَبَقَكُمْ وَلَمْ يُدْرِكْكُمْ أَحَدٌ بَعْدَكُمْ، وَكُنْتُمْ خَيْرَ مَنْ أَنْتُمْ بَيْنَ ظَهْرَانَيْهِ، إِلاَّ مَنْ عَمِلَ مِثْلَهُ تُسَبِّحُونَ وَتَحْمَدُونَ، وَتُكَبِّرُونَ خَلْفَ كُلِّ صَلاَةٍ ثَلاَثًا وَثَلاَثِينَ. فَاخْتَلَفْنَا بَيْنَنَا فَقَالَ بَعْضُنَا نُسَبِّحُ ثَلاَثًا وَثَلاَثِينَ ، وَنَحْمَدُ ثَلاَثًا وَثَلاَثِينَ، وَنُكَبِّرُ أَرْبَعًا وَثَلاَثِينَ. فَرَجَعْتُ إِلَيْهِ فَقَالَ: تَقُولُ سُبْحَانَ اللَّهِ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ، وَاللَّهُ أَكْبَرُ، حَتَّى يَكُونَ مِنْهُنَّ كُلِّهِنَّ ثَلاَثًا وَثَلاَثِينَ.
Artinya:
“Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, “Ada orang-orang miskin datang menghadap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka berkata, orang-orang kaya itu pergi membawa derajat yang tinggi dan kenikmatan yang kekal. Mereka shalat sebagaimana kami shalat. Mereka puasa sebagaimana kami berpuasa. Namun mereka memiliki kelebihan harta sehingga bisa berhaji, berumrah, berjihad serta bersedekah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas bersabda, “Maukah kalian aku ajarkan suatu amalan yang dengan amalan tersebut kalian akan mengejar orang yang mendahului kalian dan dengannya dapat terdepan dari orang yang setelah kalian. Dan tidak ada seorang pun yang lebih utama daripada kalian, kecuali orang yang melakukan hal yang sama seperti yang kalian lakukan. Kalian bertasbih, bertahmid, dan bertakbir di setiap akhir shalat sebanyak tiga puluh tiga kali.” Kami pun berselisih. Sebagian kami bertasbih tiga puluh tiga kali, bertahmid tiga puluh tiga kali, bertakbir tiga puluh empat kali. Aku pun kembali padanya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ucapkanlah subhanallah wal hamdulillah wallahu akbar, sampai tiga puluh tiga kali.” (Diriwayatkan oleh al-Bukhariy no. 843, Muslim, no. 595).
Dalam riwayat Muslim disebutkan bahwa Abu Shalih yang meriwayatkan hadits tersebut dari Abu Hurairah berkata:
فَرَجَعَ فُقَرَاءُ الْمُهَاجِرِينَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالُوا: سَمِعَ إِخْوَانُنَا أَهْلُ الأَمْوَالِ بِمَا فَعَلْنَا فَفَعَلُوا مِثْلَهُ. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ذَلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ.
Artinya:
“Orang-orang fakir dari kalangan Muhajirin kembali menghadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka berkata, “Saudara-saudara kami yang punya harta (orang kaya) akhirnya mendengar apa yang kami lakukan. Lantas mereka pun melakukan semisal itu.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian mengatakan, “Inilah karunia yang Allah berikan kepada siapa saja yang ia kehendaki.” (Diriwayatkan oleh Muslim no. 595).
Inilah keutamaan orang yang memiliki harta kekayaan, mereka mampu melakukan sesuatu yang tidak dapat dilakukan oleh orang-orang yang tidak memiliki harta.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengingatkan umatnya tentang hakikat harta, dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim:
يَقُولُ الْعبدُ: مالي، مالي، وإنَّما له من مَالِهِ ثَلاثٌ: ما أكَل فأفْنَي، أوْ لبِسَ فأبْلَی، أو تصدَّقَ فأمْضَيْتَ، وما سِوی ذلك فذاهبٌ وتاركُهُ للنَّاس.
Artinya:
“Hamba akan berkata: hartaku, hartaku. Dan tidak ada baginya dari hartanya kecuali tiga: yaitu apa yang dia makan lalu hilang, dan apa yang dia pakai lalu usang, dan apa yang dia sedekahkan maka itulah yang berjalan (pahalanya). Adapun Selain itu maka akan ditinggalkan untuk manusia.”
Dalam hadits yang lain disebutkan:
يتْبَعُ الْميِّتُ ثلاثةٌ، فيرجعُ اثنانِ ويبقی معهُ واحِدٌ، يتبعُه أهلُه، ومالُهُ، وعملُه، فيرجعُ أهلُه، ومالُه، ويبقی عملُه.
Artinya:
“Yang mengikuti mayat ada tiga: Dua yang kembali dan satu tinggal bersamanya. Yang mengikutinya adalah keluarganya, hartanya, dan amalannya, maka keluarga dan hartanya akan kembali, dan tinggallah amalannya yang akan menemaninya.”
4. Masa luangmu sebelum datang masa sibukmu.
Waktu luang juga merupakan nikmat sangat besar yang banyak dilalaikan oleh manusia. Mereka menyia-nyiakan waktu luang mereka, bahkan tidak sedikit dari mereka yang memanfaatkannya dalam rangka bermaksiat kepada Allah. Padahal menyia-nyiakan waktu luang merupakan perkara yang sangat berbahaya. Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:
إضاعة الوقت أشد من الموت, لأن إضاعة الوقت تقطعك عن الله والدار الآخرة، والموت يقطعك عن الدنيا وأهلها. [الفوائد].
Menyia-nyiakan waktu lebih berbahaya daripada kematian, karena menyia-nyiakan waktu itu memuts engkan dari Allah dan negeri akhirat, sementara kematian memutus engkau dari dunia dan penghuninya.
Ibnul Juziy rahimahullah dalam Shaidul Khathir berkata:
ينبغي للإنسان أن يعرف شرَف زمانه، وقدْر وقته، فلا يضيِّعُ منه لحظةً في غير قربة، ويقدِّمَ فيه الأفضلَ فالأفضلَ من القول والعمل.
Seyogyanya bagi seorang untuk mengetahui begitu berharga waktunya, sehingga dia tidak menyia-nyiakannya sedikitpun untuk selain mendekatkan diri kepada Allah, dan memiliki prioritas dalam ucapan dan perbuatan.
Muhammad bin Abdul Baqi al-Bazzaz rahimahullah berkata:
ما ضيّعْتُ ساعةً من عمْري في لهوٍ أو لعْبٍ.
Aku tidak pernah menyia-nyiakan umurku untuk hal yang sia-sia dan bermain-main.
Ibnu Hubairah (seorang menteri) pernah berkata:
الوقتُ أنفسُ ما عُنِيْتَ # وأراه أسْهَلَ مَا عليْكَ يَضِيْعُ
Waktu merupakan hal yang paling berharga untuk dijaga….. Namun aku lihat paling mudah untuk engkau sia-siakan.
5. Hidupmu sebelum datang matimu.
Ini merupakan wasiat yang paling agung dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, karena setiap manusia akan menjalani hidup di dunia hanya sekali. Sementara kematian akan memutus semua kelezatan dan kesempatan untuk beramal. Selain itu, kematian juga akan menyebabkan semua amalan terputus kecuali yang diperkecualikan oleh dalil. Sebagaimana dalam hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallahllahu ‘alaihi wasallam bersabda:
إِذَا مَاتَ الْإنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلهُ إلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ: إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ.
Artinya:
” Apabila seorang manusia meninggal maka terputuslah seluruh amalannya kecuali tiga: kecuali sedekah jariyah atau ilmu yang bermanfaat atau anak yang shaleh yang mendoakannya.” (Diriwayatkan oleh Muslim).
Demikianlah bebrapa untaian nasehat yang sangat mulia dari seorang Nabi yang tidak berbicara kecuali wahyu dari Allah Subhanahu Wata’ala.
Semoga bermanfaat, wasallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala aalihi washahbihi wasallam.
—————–
Samata: 22 Syawwal 1443H/23 Mei 2022M.
“Dan bacakanlah apa-apa yang diwahyukan kepadamu, yaitu kitab Rabb-mu (Al-Qur`an). Tiada (seorang pun) yang dapat mengubah kalimat-kalimat-Nya. Dan engkau tidak akan dapat menemukan tempat berlindung selain Dia.”[Al-Kahf: 27]
“Aku hanya diperintah untuk menyembah Rabb negeri (Makkah) ini Yang telah menjadikan (negeri) itu suci, dan kepunyaan-Nya-lah segala sesuatu. Serta, aku diperintah agar aku tergolong sebagai orang-orang yang berserah diri, dan supaya aku membacakan Al-Qur`an (kepada manusia).” [An-Naml: 91-92]
Kepada kaum mukminin, Allah ‘Azza wa Jalla menganjurkan,
“Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca (tilawah) kitab Allah, mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka secara diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi. (Yakni) agar Dia menyempurnakan pahala untuk mereka dan menambah kepada mereka dari karunia-Nya. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.” [Fathir: 29-30]
Tidak diragukan bahwa membaca Al-Qur`an adalah salah satu tugas pokok seorang muslim dan muslimah serta sumber kebaikan dan kebahagiaan yang dia tidak bisa terlepas dari kehidupannya.
Membaca Al-Qur`an sesuai dengan perintah Allah ‘Azza wa Jalla akan mewariskan keimanan yang sangat agung di dalam Allah dan akan menambah keyakinan, ketenangan, dan kelembutan[1].
“Dan dari Al-Qur`an, Kami menurunkan sesuatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman, sedang Al-Qur`an itu tidaklah menambah (sesuatu) kepada orang-orang zhalim, kecuali kerugian.” [Al-Isra`: 82]
Keutamaan dan manfaat membaca Al-Qur`an tentunya sangatlah banyak. Namun, yang menjadi masalah pada sebagian kaum muslimin pembaca Al-Qur`an adalah kurangnya pengaruh pada jiwa dalam membaca Al-Qur`an Al-Karim.
Oleh karena itu, pada tulisan ini, kami akan menjelaskan beberapa kiat yang bisa membantu seorang muslim dan muslimah agar hati dan jiwanya lebih tersentuh serta lebih membuat dia bisa cinta dan mengagungkan Al-Qur`an.
Berikut penjelasan beberapa kiat tersebut dengan memohon pertolongan kepada Allah.
Pertama, mengetahui keutamaan, keagungan derajat, dan ketinggian kedudukan Al-Qur`an sehingga seseorang membaca Al-Qur`an dengan penuh kegembiraan dan rasa harap, serta penuh penghormatan, pengagungan, dan rasa takut kepada Allah, Yang menurunkan Al-Qur`an tersebut. Allah Subhânahu wa Ta’âlâ berfirman,
“Wahai manusia, sesungguhnya telah datang pelajaran dari Rabb kalian kepada kalian, penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada, serta petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman. Katakanlah, ‘Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah mereka bergembira dengan itu. (Karunia Allah dan rahmat-Nya) itu adalah lebih baik daripada apa-apa yang mereka kumpulkan. ” [Yunus: 57-58]
Kedua, pengetahuan seorang hamba bahwa Al-Qur`an adalah kalamullah (firman Allah) yang merupakan sebaik-baik pembicaraan dan ucapan jujur yang teragung dan terbenar.
Mencermati bahwa Al-Qur`an adalah kalamullah akan membuat pembaca Al-Qur`an merasakan bahwa seakan-akan Allah berbicara kepadanya. Tentunya, pengagungan seperti ini akan berpengaruh kepada hati seorang hamba. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,
“Ini adalah sebuah kitab penuh berkah yang Kami turunkan kepadamu supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan agar orang-orang yang mempunyai pikiran mendapat pelajaran.” [Shad: 29]
Meninggalkan tadabbur terhadap Al-Qur`an akan menimbulkan kekerasan dalam hati. Allah Subhânahu wa Ta’âlâ menegaskan,
“Maka apakah mereka tidak menadabburi Al-Qur`an, ataukah hati mereka terkunci?” [Muhammad: 24]
Hendaknya diketahui bahwa menadabburi dan mencermati Al-Qur`an adalah lebih baik daripada sekadar membaca Al-Qur`an. Oleh karena itu, Ibnu Hajar Al-Asqalâny rahimahullâh berkata, “Siapa saja yang membaca (Al-Qur`an) dengan tartil dan mencermati (Al-Qur`an), dia bagaikan orang yang bersedekah dengan suatu permata yang sangat mahal.”[2]
Ibnul Qayyim rahimahullâh berkata, “Barangsiapa yang membaca Al-Qur`an dengan tafakkur (memikirkan dan merenunginya) hingga, jika melalui sebuah ayat yang dia perlukan dalam mengobati hatinya, dia mengulangi walaupun seratus kali, bahkan semalam penuh, karena membaca satu ayat dengan tafakkur dan memahami (ayat) itu adalah lebih baik daripada bacaan khatam tanpa tadabbur dan memahami. (Hal tersebut) juga lebih bermanfaat bagi hati dan lebih mengajak untuk memperoleh keimanan dan merasakan kemanisan Al-Qur`an.”[3]
Keempat, membaca Al-Qur`an dengan memohon perlindungan kepada Allah Ta’âlâ dari gangguan syaithan yang terkutuk. Allah ‘Azza wa Jalla memerintahkan,
“Apabila membaca Al-Qur`an, hendaklah engkau meminta perlindungan kepada Allah dari syaithan yang terkutuk.” [An-Nahl: 98]
Hendaknya dia membaca, “A’ûdzu billâhi minasy syaithânir rajîm,” dengan menyadari bahwa syaithan sungguh berusaha memalingkannya dari mengambil manfaat dan mengamalkan Al-Qur`an.
Kelima, membaca Al-Qur`an dengan rasa khusyu’. Allah telah memerintah, disertai dengan peringatan, kepada orang-orang yang beriman dalam firman-Nya,
“Belumkah datang waktunya, bagi orang-orang yang beriman, untuk hati mereka khusyu’ dalam mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka). Janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al-Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka, (tetapi) kemudian hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang fasik.” [Al-Hadîd: 16]
Keenam, membaca Al-Qur`an secara tartil.
Allah telah memerintahkan dalam firman-Nya,
وَرَتِّلِ الْقُرْآنَ تَرْتِيلًا.
“Dan bacalah Al-Qur`an itu secara tartil (perlahan-lahan).” [Al-Muzzammil: 4]
Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam telah memberi contoh dengan membaca secara tartil dalam shalat malamnya. Jika melewati bacaan ayat yang mengandung tasbih, beliau bertasbih. Jika melewati bacaan ayat tentang rahmat, beliau berhenti dan memohon rahmat Allah. Bila melalui bacaan ayat tentang ayat adzab, beliau berlindung kepada Allah[4].
Dalam sebuah hadits[5], Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam mengerjakan shalat malam hanya dengan mengulangi membaca sebuah ayat, yaitu firman Allah Ta’âlâ,
“Jika Engkau menyiksa mereka, sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba Engkau, tetapi jika Engkau mengampuni mereka, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” [Al-Maidah: 118]
Ketujuh, mempelajari kandungan dan tafsir Al-Qur`an dari para ulama.
Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam mengingatkan,
“Tidaklah suatu kaum berkumpul di sebuah rumah (baca: masjid) di antara rumah-rumah Allah, yang mereka membaca kitab Allah dan saling mempelajari (kitab) tersebut di antara mereka, kecuali bahwa pasti turun ketenangan di tengah mereka, mereka akan diliputi rahmat, dinaungi oleh para malaikat, dan Allah akan menyebut mereka (di depan para malaikat) di sisi-Nya.”
Kedelapan, memahami makna tilawah Al-Qur`an yang sebenarnya.
“Orang-orang yang telah Kami beri Al-Kitab, mereka menilawah (Al-Qur`an) dengan bacaan yang sebenarnya. Mereka itu beriman kepada (Al-Qur`an). Dan barangsiapa yang ingkar terhadap (Al-Qur`an), mereka itulah orang-orang yang merugi.” [Al-Baqarah: 121]
Tilawah terhadap Al-Qur`an adalah dengan tiga hal:
Membacanya sesuai dengan ketentuan-ketentuan pembacaan Al-Qur`an yang ada di kalangan ahli qirâ`ah dan tajwid.
Memahami kandungan dan penafsirannya.
Mengimani dan mengamalkan kandungan dan hukum-hukumnya[6].
Kesembilan, mencontoh keadaan para nabi dan orang-orang shalih dalam membaca Al-Qur`an.
Salah satu sifat para malaikat, yang selalu taat dan takut kepada Allah ‘Azza wa Jalla, adalah membaca kalamullah sebagaimana dalam firman-Nya,
فَالتَّالِيَاتِ ذِكْرًا.
“Dan demi (rombongan malaikat) yang membacakan Kalamullah.” [Ash-Shaffat: 3]
Tentang para nabi, Allah Subhânahu wa Ta’âlâ berfirman,
“Mereka itu adalah orang-orang yang telah Allah beri nikmat, yaitu para nabi dari keturunan Adam, dari orang-orang yang Kami angkat bersama Nuh, dari keturunan Ibrahim dan Israil, serta dari orang-orang yang telah Kami beri petunjuk dan telah Kami pilih. Apabila ayat-ayat Allah Yang Maha Pemurah dibacakan kepada mereka, mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis.” [Maryam: 58]
Juga, Allah menjelaskan sifat orang-orang yang berilmu saat mendengar ayat-ayat Allah sebagaimana dalam firman-Nya,
“Sesungguhnya orang-orang yang diberi pengetahuan sebelumnya, apabila dibacakan Al-Qur`an kepada mereka, bersungkur di atas muka mereka sambil bersujud seraya berkata, ‘Maha Suci Rabb kami, sesungguhnya janji Rabb kami pasti dipenuhi.’ Dan mereka bersungkur di atas muka mereka sambil menangis, dan mereka pun bertambah khusyu’.” [Al-Isra`: 107-109]
Nabi kita, Muhammad shallallâhu ‘alaihi wa sallam, menangis pada banyak keadaan dalam membaca Al-Qur`an atau ketika mendengar bacaan Al-Qur`an para shahabat sebagaimana telah sah dalam sejumlah hadits.
Kesepuluh, kekhawatiran terhadap diri bila tergolong sebagai orang-orang yang meninggalkan dan mengacuhkan Al-Qur`an.
“Berkatalah Rasul, ‘Wahai Rabb-ku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al-Qur`an itu sebagai sesuatu yang tidak diacuhkan.’.” [Al-Furqan: 30]
Ibnul Qayyim rahimahullâh menyebut lima bentuk tentang meninggalkan Al-Qur`an:
Meninggalkan mendengar, mengimani, dan memperhatikan Al-Qur`an.
Meninggalkan beramal dengan Al-Qur`an serta berhenti pada setiap halal dan haramnya.
Meninggalkan berhukum dan tahâkum kepada Al-Qur`an.
Meninggalkan tadabbur dan memahami (Al-Qur`an).
Meninggalkan berobat dan mencari kesembuhan dengan (Al-Qur`an)[7].
Demikianlah sepuluh kiat agar hati lebih tersentuh ketika membaca Al-Qur`an. Semoga Allah membersihkan hati dan jiwa kita dari segala dosa dan maksiat, dari segala penyakit dan bahaya, serta semoga Allah senantiasa memerangi dan menyejukkan hati-hati kita dengan Al-Qur`an Al-Karim. Innahu waliyyu dzalika wal qadiru ‘alaihi wa huwa jawwadun karîm.
[Disarikan dari Makalah Tsamaniyyah Khathawât Min Ajl Qirâ’ah Mu`tsirah Li Al-Qur`ân Al-Karîm dengan banyak tambahan]
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Al-Qur’an dan Sunnah, Perahu Penyelamat dari Gelombang Kesesatan dan Kejahilan
Oleh : Al-Ustadz Abdul Qodir Abu Fa’izah hafizhahullah
[Pembina Ponpes Al-Ihsan Gowa]
Al-Kitab dan Sunnah adalah wahyu yang Allah turunkan kepada Nabi-Nya, Muhammad sebagai pedoman dan petunjuk serta bimbingan bagi umat Islam dalam mengarungi kehidupan dunia sampai mereka berjumpa dengan Allah -Azza wa Jalla-.
Al-Kitab dan Sunnah kini mulai ditinggalkan dan ditelantarkan oleh kaum muslimin, dimana mereka mengambil pedoman-pedoman lain, berupa ucapan manusia yang tak ma’shum.
Mereka lebih senang mengambil dan mengadopsi ucapan para syaikh dan guru mereka, tanpa memperhatikan benar-tidaknya!! Bahkan seringkali kebatilannya telah jelas dan nyata di depan mata, namun mereka tetap mengikutinya. Seakan-akan ucapan para guru dan syaikh setara dengan Al-Qur’an dan Sunnah Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-!!!
Lebih para dari semua itu, sebagian kalangan yang menganggap dirinya sebagai golongan intelektual, dipermainkan oleh kaum kafir yang meniupkan dan menyebarkan asumsi bahwa undang-undang buatan Belanda, Perancis, Amerika, dan sekutunya adalah lebih baik dibandingkan undang-undang dan syariat Allah yang terdapat dalam Al-Qur’an dan Sunnah.
Subhanallah, adakah manusia lebih baik dibandingkan Penciptanya, yaitu Allah –Azza wa Jalla-? Jelas tidak mungkin semua hal lebih baik daripada wahyu yang turun dari Allah!!
Ini kenyataan sebagian manusia-manusia muslim yang meninggalkan Al-Kitab (Al-Qur’an).
Itulah yang dikeluhkan oleh Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- sebagaimana yang diabadikan di dalam Al-Qur’an,
قد أعرضوا عنه وهجروه وتركوه مع أن الواجب عليهم الانقياد لحكمه والإقبال على أحكامه، والمشي خلفه،
“Sungguh mereka berpaling dari Al-Qur’an, dan meninggalkannya, walaupun kewajiban mereka adalah tunduk kepada hukumnya, fokus kepada hukum-hukumnya dan berjalan di belakangnya”. [Lihat Taisir Al-Karim Ar-Rahman (hal. 582)]
Inilah nasib Al-Qur’an di zaman itu, nah bagaimana lagi dengan zaman sekarang. Jelas keadaan manusia lebih parah dalam menolak dan meninggalkan Al-Qur’an dan Sunnah.
Tidak heran jika jauh hari Rasulullah –Shallallahu alaihi wa sallam- mewasiatkan kepada para sahabatnya agar berpegang teguh dengannya.
Al-Qur’an dan Sunnah adalah tali penyelamat di tengah derasnya arus kesesatan dan penyimpangan.
Dari Abu Syuraih Al-Khuza’iy –radhiyallahu anhu– berkata,
“Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- keluar kepada kami seraya bersabda,
“Bergembiralah. Bukankah kalian mempersaksikan bahwa tiada ilah (sembahan) yang haq, melainkan Allah dan bahwa aku adalah rasul Allah?”
Mereka berkata, “Betul (kami telah bersaksi)”.
Beliau bersabda, “Sesungguhnya Al-Qur’an ini adalah tali yang ujungnya ada di Tangan Allah dan ujungnya (yang lain) ada di tangan kalian. Karena itu, berpeganglah dengannya.
Sebab kalian tak akan sesat dan tak akan binasa setelahnya selama-lamanya”. [HR. Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushonnaf (30006), Abd bin Humaid dalam Al-Muntakhob (no. 483), Ibnu Hibban dalam Shohih-nya (no. 122), Ath-Thobroniy dalam Al-Kabir (no. 491) dan lainnya. Hadits ini dinilai shohih oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Ash-Shohihah (no. 713)]
Al-Qur’an yang berisi petunjuk ke jalan kebenaran, ibarat tali yang mengikat manusia agar tidak hanyut oleh arus kesesatan dan tidak terombang-ambing oleh perselisihan yang sering kali menyeret manusia ke dalam kesalahan dalam bersikap.
Sunnah sebagai penjelas dan perinci Al-Qur’an telah menjelaskan jalan-jalan kebenaran dan jalan-jalan kesesatan. Apapun yang diperselisihkan oleh manusia, jika semuanya dikembalikan kepada Sunnah, maka seseorang akan selamat dari penyimpangan dan kesesatan.
Dari Sahabat Abu Najih Al-Irbadh bin Sariyah–radhiyallahu ‘anhu- berkata,
“Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- telah menasihati kami dengan suatu nasihat yang membuat mata bercucuran, dan hati bergetar.
Maka kami berkata, “Wahai Rasulullah, seakan-akan ini adalah nasihat orang yang mau berpisah. Maka berikanlah wasiat kepada kami”.
Beliau bersabda,”Aku wasiatkan kepada kalian agar bertaqwa kepada Allah -Azza wa Jalla-, mendengar dan taat (kepada penguasa muslim, -pent.), walaupun seorang budak berkuasa atas kalian. Karena barang siapa yang hidup diantara kalian, maka ia akan melihat perselisihan yang banyak.
Karena itu, pegangilah sunnahku, dan sunnahnya para khalifah yang lurus lagi terbimbing. Gigitlah sunnahku dengan gigi geraham kalian.
Waspadalah kalian terhadap perkara-perkara baru (dalam agama, -pent), karena setiap perkara baru adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah sesat”. [HR. Abu Dawud dalam Sunan-nya (4607), At-Tirmidziy dalam Sunan-nya (2676), dan Ibnu Majah dalam Sunan-nya (42 & 44). Hadits ini di-shohih-kan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Al-Irwa’ (2455), dan Takhrij Al-Misykah (165)]
Sunnah Rasul –Shallallahu alaihi wa sallam- ibarat perahu yang akan menyelamatkan manusia jika mereka mengendarainya di tengah arus banjir yang melanda manusia.
Kesesatan dan kejahilan ibarat banjir yang siap membinasakan manusia, seorang tak akan selamat darinya, kecuali ia mengambil “perahu sunnah” yang siap mengantarkannya ke surga Allah dengan aman dan bahagia.
Ibnu Wahb –rahimahullah– berkata, “Kami pernah di sisi Malik seraya aku sebutkan “sunnah”. Imam Malik berkata,
السنة سفينة نوح من ركبها نجا ومن تخلف عنها غرق
“Sunnah adalah (ibarat) perahu Nabi Nuh; barangsiapa yang menumpanginya, maka ia selamat dan barangsiapa yang tertinggal darinya, maka ia akan tenggelam”. [HR. Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimasyqo (14/9) dan Abu Isma’il Al-Harowiy dalam Dzammul Kalam (no. 872)]
Wahai kaum muslimin, bila anda ingin selamat, maka peganglah Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah –Shallallahu alaihi wa sallam-, niscaya kalian akan beruntung dan masuk surga, insya Allah. Akan tetapi jika kalian mengambil ucapan orang-orang kafir, undang-undang mereka, aturan-aturan kepala suku dan pemimpin adat, maka kalian pasti akan sesat!!
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Al-Qur’an Kalamullah, bukan Makhluk
oleh : Al-Ustadz Abdul Qodir Abu Fa’izah hafizhahullah [Pembina Ponpes Al-Ihsan Gowa]
Jika manusia jauh dari tuntunan Al-Kitab dan Sunnah, maka ia akan terjerumus dalam kubang-kubang kesesatan yang gelap, walaupun ia menyangka dirinya mendapatkan petunjuk.
Ambil sebagai contoh, Jahmiyyah (sekte sesat binaan Jahm bin Shofwan) telah terjatuh dalam kesesatan, saat mereka menyangka bahwa kalamullah (ucapan dan firman Allah) –diantaranya, Al-Qur’an- adalah makhluk diantara makhluk-makhluk ciptaan Allah.
Padahal jika mereka mau kembali kepada Al-Qur’an, dan Sunnah menurut pemahaman salaf (yakni, para sahabat, tabi’in, dan ulama’-ulama’ yang mengikuti mereka), niscaya mereka tak akan menyatakan bahwa Al-Qur’an adalah makhluk, bahkan Al-Qur’an adalah firman dan ucapan Allah. Sedangkan firman dan ucapan-Nya adalah sifat Allah, bukan makhluk !!
Banyak sekali dalil yang menguatkan bahwa Al-Qur’an adalah kalamullah (ucapan dan firman Allah), bukan makhluk.
Dalil-dalil tersebut, ada baiknya kita bawakan agar menguatkan aqidah, dan iman kita.
Dalil dari Al-Qur’an Al-Karim
Allah -Ta’ala- telah mencela suatu kaum di dalam Al-Qur’an, karena mereka meyakini bahwa Al-Qur’an itu adalah ucapan manusia alias makhluk,
“Lalu dia berkata: “(Al Quran) Ini tidak lain hanyalah sihir yang dipelajari (dari orang-orang dahulu), ini tidak lain hanyalah perkataan manusia”. Aku akan memasukkannya ke dalam (neraka) Saqar”. (QS. Al-Muddatstsir: 24-26).
Ahli Tafsir Negeri Syam, Al-Hafizh Ibnu Katsir Ad-Dimasyqiy-rahimahullah- berkata menafsiri ayat ini,
“يَقُولُ تَعَالَى مُتَوَعِّدًا لِهَذَا الْخَبِيثِ الَّذِي أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِ بِنِعَمِ الدُّنْيَا، فَكَفَرَ بِأَنْعُمِ اللَّهِ، وَبَدَّلَهَا كُفْرًا، وَقَابَلَهَا بِالْجُحُودِ بِآيَاتِ اللَّهِ وَالِافْتِرَاءِ عَلَيْهَا، وَجَعَلَهَا مِنْ قَوْلِ الْبَشَرِ.” اهـ من تفسير القرآن العظيم لابن كثير، ت : سلامة (8/ 265)
“Allah -Ta’ala- berfirman dalam memberikan ancaman kepada orang keji ini, yang telah Allah berikan nikmat kepadanya, yaitu nikmat-nikmat duniawi. Lalu ia mengingkari nikmat-nikmat Allah, dan menggantinya dengan kekafiran; membalasnya dengan pengingkaran terhadap ayat-ayat Allah, dan mengada-ada atasnya; ia menganggapnya termasuk ucapan manusia”. [Lihat Tafsir Al-Qur’an Al-Azhim (4/568)]
Jadi, Al-Qur’an adalah firman Allah, bukan makhluk, dan bukan pula ucapan manusia. Segala sesuatu dari Al-Qur’an adalah firman Allah, baik yang tertulis dalam mushaf, diucapkan oleh manusia, direkam dalam kaset, dan lainnya; semua itu adalah firman Allah, bukan makhluk. Walaupun suara manusia, kertas dan tinta yang dipakai menulis, dan kaset yang dipakai merekam; semua itu adalah makhluk. Adapun yang disuarakan, ditulis, direkam, maka itu adalah firman Allah, bukan makhluk.
“Allah Pencipta langit dan bumi, dan bila dia berkehendak (untuk menciptakan) sesuatu, Maka (cukuplah) dia hanya mengatakan kepadanya, “Jadilah!”, lalu jadilah ia”. (QS. Al-Baqoroh: 117).
Allah menjelaskan bahwa jika Dia menghendaki sesuatu, dan telah memutuskan (penciptaan)nya, maka Dia hanya berfirman, “Jadilah”, lalu jadilah hal itu.
Jadi, Allah menciptakannya dengan firman-Nya. Ayat ini membedakan antara firman-Nya yang merupakan sifat-Nya dan antara makhluk-Nya yang tercipta dengan perintah, dan ucapan-Nya. [Lihat Al-Ushul allati Banaa alaiha Ahlul Hadits Manhajahum fid Da’wah ilallah (hal. 214), cet. Dar Adh-Dhiya’]
“Dan sesungguhnya jika kamu mendatangkan kepada orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Al Kitab (Taurat dan Injil), semua ayat (keterangan), maka mereka tidak akan mengikuti kiblatmu, dan kamu pun tidak akan mengikuti kiblat mereka, dan sebahagian merekapun tidak akan mengikuti kiblat sebahagian yang lain. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti keinginan mereka setelah datang ilmu kepadamu, Sesungguhnya kamu -kalau begitu- termasuk golongan orang-orang yang zhalim”. (QS. Al-Baqoroh: 145).
Sesungguhnya Al-Qur’an yang merupakan kalamullah adalah ilmu Allah -Ta’ala-. Barangsiapa yang menyangka bahwa Al-Qur’an adalah makhluk, maka sungguh ia telah menyangka bahwa ilmu Allah adalah makhluk. Na’udzu billah min dzalik. [Lihat Al-Ushul allati Banaa alaiha Ahlul Hadits Manhajahum fid Da’wah ilallah (hal. 214), cet. Dar Adh-Dhiya’]
Dalil dari Sunnah Nabawiyyah
Abdullah bin Umar -radhiyallahu ‘anhu– berkata, “Aku pernah mendengar Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda,
“Makhluk yang paling pertama Allah -Ta’ala- ciptakan adalah Al-Qolam (Pena). Kemudian Allah mengambilnya dengan tangan kanan-Nya. Sedang kedua tangan-Nya adalah yamin. Lalu Allah menetapkan adanya dunia, dan segala sesuatu yang terdapat di dalamnya berupa amalan baik yang dikerjakan, maupun amalan jelek; yang basah, maupun kering”. [HR. Ibnu Abi Ashim dalam As-Sunnah (106), dan Al-Ajurriy dalam Asy-Syari’ah (hal. 180). Hadits ini di-hasan-kan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Zhilal Al-Jannah (1/42)
Hadits ini menunjukkan bahwa Al-Qolam (pena) adalah makhluk pertama yang Allah ciptakan, sedang kalamullah (ucapan Allah) telah ada sebelum Al-Qolam. Bahkan Al-Qolam tercipta dengan kalamullah.
Ini semua menunjukkan bahwa kalamullah adalah sifat Allah, bukan makhluk ciptaan-Nya.
Al-Imam Ahmad-rahimahullah- berkata,
“Syaikh ini (Yakni, Abbas An-Narsiy) telah menunjuki kita kepada sesuatu yang belum kita pahami, yaitu sabdanya, “Sesungguhnya sesuatu yang paling pertama Allah ciptakan adalah Al-Qolam”, sedang Al-Kalam (firman Allah) ada sebelum Al-Qolam”. [HR. Al-Ajurriy dalam Asy-Syari’ah (no. 178)]
Al–Kalam (berbicara) adalah sifat yang telah ada pada diri Allah sebelum Allah menciptakan seluruh makhluk-Nya. Dengan ini, nyatalah bagi kita perbedaan antara kalamullah yang merupakan sifat Allah dengan makhluk-makhluk ciptaan-Nya.
Dalil berupa Ijma’ Para Salaf
Keyakinan seperti ini telah diyakini oleh seluruh manusia di zaman para sahabat, apalagi para ulama. Sebab, perkara yang jelas dan gamblang seperti ini telah dikuatkan dan dijelaskan oleh dalil-dalil dalam Al-Kitab dan As-Sunnah An-Nabawiyyah.
Al-Imam Abu Muhammad Ibnu Qutaibah Ad-Dainuriy-rahimahullah- (wft 276 H) berkata,
“Andai mereka (yang berpendapat Al-Qur’an adalah makhluk) mau menajamkan pandangannya, dan diberikan sekeping taufiq, niscaya mereka akan mengetahui bahwa tidak mungkin Al-Qur’an itu adalah makhluk. Karena Al-Qur’an adalah kalamullah (firman Allah). Sedang kalamullah dari Allah. Tak ada sesuatu yang berasal dari diri Allah yang merupakan makhluk”. [Lihat Ta’wil Mukhtalaf Al-Hadits (hal. 259)]
Inilah aqidah (keyakinan) yang bercokol di hati kaum muslimin dari zaman kenabian sampai hari ini; Ahlus Sunnah terus meyakini bahwa Al-Qur’an adalah kalamullah (ucapan Allah), bukan makhluk ciptaan Allah.
“Barangsiapa yang menyangka bahwa Al-Qur’an adalah makhluk, maka ia menurut kami adalah kafir lagi zindiq, dan musuh Allah; Jangan kamu menemaninya duduk, dan jangan kamu mengajaknya berbicara”. [HR. Al-Ajurriy dalam Asy-Syari’ah (no. 163), Abu Dawud dalam Al-Masa’il (hal. 267), dan Al-Bukhoriy dalam Kholq Af’al Al-Ibad (hal. 119)]
Ulama’ tabi’in, Amr bin Dinar-rahimahullah- (wft 126 H) berkata menghikayatkan ijma’ para salaf dalam perkara ini,
“Aku telah mendengarkan para guru-guru kami berkata sejak 70 tahun, “Al-Qur’an adalah kalamullah, bukan makhluk”. [HR. Al-Baihaqiy dalam Syu’abul Iman (1/190)]
Seorang ulama’ Syafi’iyyah, Al-Imam Abu Bakr Al-Baihaqiy-rahimahullah- berkata,
“Guru-gurunya Amr bin Dinar adalah sekelompok sahabat, dianataranya Abdullah bin Abbas, Abdullah bin Umar, Jabir bin Abdillah, Abdullah bin Az-Zubair, dan para pembesar tabi’in”. [Lihat Syu’abul Iman (1/190), cet. Dar Al-Jiil]
Inilah aqidah para sahabat yang menetapkan bahwa Al-Qur’an adalah ucapan Allah, bukan makhluk. Keyakinan ini terus diyakini oleh generasi setelahnya.
Sekarang ada baiknya kita dengarkan Al-Imam Ash-Shobuniy-rahimahullah- (wft 449 H) berkata,
“ويشهد أصحاب الحديث ويعتقدون أن القرآن كلام الله وكتابه، ووحيه وتنزيله غير مخلوق، ومن قال بخلقه واعتقده فهو كافر عندهم.” اهـ من عقيدة السلف أصحاب الحديث (ص: 3)
“Ashabul Hadits (yakni, Ahlus Sunnah wal Jama’ah) mempersaksikan, dan meyakini bahwa Al-Qur’an adalah kalamullah (ucapan Allah), Kitab-Nya, wahyu-Nya, dan sesuatu yang Allah turunkan, bukan makhluk! Barangsiapa yang meyakini bahwa Al-Qur’an adalah makhluk, maka ia kafir di sisi Ahlus Sunnah”. [Lihat Aqidah As-Salaf Ash-habil Hadits (hal. 40)]
Keyakinan bahwa Al-Qur’an adalah kalamullah, bukan makhluk, tidak hanya diyakini oleh para tabi’in, bahkan para imam ahli fiqih pun yang datang setelahnya juga meyakininya dan telah aqidah mereka.
Al-Imam Al-Barbahariy-rahimahullah- berkata,
“والقرآن كلام الله وتنزيله ونوره، ليس بمخلوق؛ لأن القرآن من الله، وما كان من الله فليس بمخلوق، وهكذا قال مالك بن أنس وأحمد بن حنبل والفقهاء قبلهما وبعدهما، والمراء فيه كفر.” اهـ من شرح السنة للبربهاري (ص: 71)
“Al-Qur’an adalah kalamullah (firman Allah), sesuatu yang turunkan, dan cahaya-Nya, bukan makhluk, karena Al-Qur’an dari diri Allah. Apa saja yang berasal dari diri Allah, maka bukan makhluk. Demikianlah yang dinyatakan oleh Malik bin Anas, Ahmad bin Hambal, para ahli fiqih, sebelum dan setelah keduanya; berdebat tentangnya adalah kekafiran”. [Lihat Syarhus Sunnah (hal. 71), karya Al-Barbahariy]
Silakan simak Imam Ahlus Sunnah, Ahmad bin Hambal Asy-Syaibaniy-rahimahullah- saat beliau berkata,
“Al-Qur’an adalah kalamullah (firman Allah), bukan makhluk. Jangan kau canggung untuk berkata, “Dia bukan makhluk”, karena firman Allah dari Allah. Sedang tak ada dari diri-Nya sesuatu berupa makhluk”. [Lihat Syarh Ushul I’tiqod Ahlis Sunnah wal Jama’ah (1/157)]
Seorang ulama’ Malikiyyah, Al-Imam Ibnu Abi Zaid Al-Qoirowaniy-rahimahullah- berkata,
“كلَّم موسى بكلامِه الَّذي هو صفةُ ذاتِه، لا خَلْقٌ مِن خَلقِه.” اهـ من قطف الجني الداني شرح مقدمة رسالة ابن أبي زيد القيرواني (ص: 45)
“Allah telah berbicara dengan Musa dengan kalam-Nya (firman-Nya) yang merupakan sifat dzatiyyah-Nya, bukan makhluk diantara makhluk-makhluk-Nya”. [Lihat Qothful Janaa Ad-Dani (hal. 45) karya Syaikh Abdul Muhsin Al-Abbad]
Inilah keyakinan dan aqidah yang harus dipegangi oleh setiap mukmin, karena itu adalah kebenaran yang dilandasi oleh dalil-dalil dari Al-Qur’an dan Sunnah Nabawiyyah, bahkan ijma’ para As-Salafush Sholeh, dan ulama-ulama setelah.
Al-Imam Abu Ja’far Ath-Thohawiy-rahimahullah- (wft 321 H) berkata saat menyebutkan aqidah Ahlus Sunnah,
“وأن القرآن كلام الله، منه بدا بلا كيفية قولاً، وأنزله على رسوله وحياً، وصدقه المؤمنون على ذلك حقاً، وأيقنوا أنه كلام الله تعالى بالحقيقة، ليس بمخلوق ككلام البرية، فمن سمعه فزعم أنه كلام البشر فقد كفر.” اهـ من العقيدة الطحاوية (ص: 41)
“Al-Qur’an adalah kalamullah (firman Allah). Dari-Nya Al-Qur’an muncul -tanpa kaifiyyah-, dalam bentuk ucapan; Allah menurunkannya kepada Rasul-Nya dalam bentuk wahyu. Al-Qur’an telah dibenarkan oleh orang-orang beriman dengan benar; mereka meyakini bahwa Al-Qur’an adalah kalamullah secara hakiki, bukan makhluk sebagaimana halnya ucapan manusia. Barangsiapa yang mendengarnya, dan menyangkanya sebagai ucapan manusia , maka ia kafir”. [Lihat Al-Aqidah Ath-Thohawiyyah (hal. 41)]
Al-ImamIbnu Abil Izz Al-Hanafiy-rahimahullah- berkata,
“Ini adalah kaidah yang mulia dan prinsip yang besar di antara prinsip-prinsip agama. Apa yang dihikayatkan oleh Ath-Thohawiy -rahimahullah-, itulah yang benar, telah ditunjukkan oleh dalil-dalil dari Al-Kitab dan Sunnah bagi yang mentadabburinya. Itu juga dikuatkan oleh fithrah selamat yang belum berubah dengan (pengaruh) syubhat, keraguan, dan pemikiran-pemikiran batil”. [Lihat Syarh Al-Aqidah Ath-Thohawiyyah (1/172), dengan tahqiq Syu’aib Al-Arna’uth, cet. Mu’assasah Ar-Risalah, 1417 H]
Inilah beberapa nukilan dan pernyataan Ahlus Sunnah wal Jama’ah dari zaman ke zaman bahwa Al-Qur’an adalah kalamullah (ucapan, dan firman Allah), bukan makhluk.
Barangsiapa yang menyangka –seperti halnya sekte Jahmiyyah- bahwa Al-Qur’an adalah makhluk, maka ia kafir.
Al-Imam Asy-Syafi’iy-rahimahullah- berkata,
“الْقُرْآنُ كَلَامُ اللَّهِ غَيْرَ مَخْلُوقٍ، وَمَنْ قَالَ : “مَخْلُوقٌ” فَهُوَ كَافِرٌ!” اهـ من الشريعة للآجري (1/ 508/ رقم : 176)
“Al-Qur’an adalah ucapan Allah -Azza wa Jalla-, bukan makhluk. Barangsiapa yang berkata, “Al-Qur’an adalah makhluk”, maka ia kafir”. [Atsar Riwayat Al-Ajurriy dalam Asy-Syari’ah (1/508/176)]