AL-QUR’AN KALAMULLAH, BUKAN MAKHLUK

Jannatul-firdaus.net

Menyebar Ilmu Syar’i


default-logo

Jannatul-firdaus.net

Menyebar Ilmu Syar’i


default-logo

Bagikan…




AL-QUR’AN KALAMULLAH, BUKAN MAKHLUK

  • Oleh : Al-Ustadz Abdul Qodir Abu Fa’izah hafizhahullah
Jika manusia jauh dari tuntunan Al-Kitab dan Sunnah, maka ia akan terjerumus dalam kubang-kubang kesesatan yang gelap, walaupun ia menyangka dirinya mendapatkan petunjuk.

Ambil sebagai contoh, Jahmiyyah (sekte sesat binaan Jahm bin Shofwan) telah terjatuh dalam kesesatan, saat mereka menyangka bahwa kalamullah (ucapan dan firman Allah) –diantaranya, Al-Qur’an- adalah makhluk diantara makhluk-makhluk ciptaan Allah.

Padahal jika mereka mau kembali kepada Al-Qur’an, dan Sunnah menurut pemahaman salaf (yakni, para sahabat, tabi’in, dan ulama’-ulama’ yang mengikuti mereka), niscaya mereka tak akan menyatakan bahwa Al-Qur’an adalah makhluk, bahkan Al-Qur’an adalah firman dan ucapan Allah. Sedangkan firman dan ucapan-Nya adalah sifat Allah, bukan makhluk !!

Banyak sekali dalil yang menguatkan bahwa Al-Qur’an adalah kalamullah (ucapan dan firman Allah), bukan makhluk.

Dalil-dalil tersebut, ada baiknya kita bawakan agar menguatkan aqidah, dan iman kita.

Dalil dari Al-Qur’an Al-Karim

Allah -Ta’ala- telah mencela suatu kaum di dalam Al-Qur’an, karena mereka meyakini bahwa Al-Qur’an itu adalah ucapan manusia alias makhluk,

{فَقَالَ إِنْ هَذَا إِلَّا سِحْرٌ يُؤْثَرُ (24) إِنْ هَذَا إِلَّا قَوْلُ الْبَشَرِ (25) سَأُصْلِيهِ سَقَرَ (26)} [المدثر: 24 – 26]

“Lalu dia berkata: “(Al Quran) Ini tidak lain hanyalah sihir yang dipelajari (dari orang-orang dahulu), ini tidak lain hanyalah perkataan manusia”. Aku akan memasukkannya ke dalam (neraka) Saqar”. (QS. Al-Muddatstsir: 24-26).

Ahli Tafsir Negeri Syam, Al-Hafizh Ibnu Katsir Ad-Dimasyqiy -rahimahullah- berkata menafsiri ayat ini,

“يَقُولُ تَعَالَى مُتَوَعِّدًا لِهَذَا الْخَبِيثِ الَّذِي أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِ بِنِعَمِ الدُّنْيَا، فَكَفَرَ بِأَنْعُمِ اللَّهِ، وَبَدَّلَهَا كُفْرًا، وَقَابَلَهَا بِالْجُحُودِ بِآيَاتِ اللَّهِ وَالِافْتِرَاءِ عَلَيْهَا، وَجَعَلَهَا مِنْ قَوْلِ الْبَشَرِ.” اهـ من تفسير القرآن العظيم لابن كثير، ت : سلامة (8/ 265)

“Allah -Ta’ala- berfirman dalam memberikan ancaman kepada orang keji ini, yang telah Allah berikan nikmat kepadanya, yaitu nikmat-nikmat duniawi. Lalu ia mengingkari nikmat-nikmat Allah, dan menggantinya dengan kekafiran; membalasnya dengan pengingkaran terhadap ayat-ayat Allah, dan mengada-ada atasnya; ia menganggapnya termasuk ucapan manusia”. [Lihat Tafsir Al-Qur’an Al-Azhim (4/568)]

Jadi, Al-Qur’an adalah firman Allah, bukan makhluk, dan bukan pula ucapan manusia. Segala sesuatu dari Al-Qur’an adalah firman Allah, baik yang tertulis dalam mushaf, diucapkan oleh manusia, direkam dalam kaset, dan lainnya; semua itu adalah firman Allah, bukan makhluk. Walaupun suara manusia, kertas dan tinta yang dipakai menulis, dan kaset yang dipakai merekam; semua itu adalah makhluk. Adapun yang disuarakan, ditulis, direkam, maka itu adalah firman Allah, bukan makhluk.

Allah -Ta’ala- berfirman,

{بَدِيعُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَإِذَا قَضَى أَمْرًا فَإِنَّمَا يَقُولُ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ (117)} [البقرة: 117]

“Allah Pencipta langit dan bumi, dan bila dia berkehendak (untuk menciptakan) sesuatu, Maka (cukuplah) dia hanya mengatakan kepadanya, “Jadilah!”, lalu jadilah ia”. (QS. Al-Baqoroh: 117).

Allah menjelaskan bahwa jika Dia menghendaki sesuatu, dan telah memutuskan (penciptaan)nya, maka Dia hanya berfirman, “Jadilah”, lalu jadilah hal itu.

Jadi, Allah menciptakannya dengan firman-Nya. Ayat ini membedakan antara firman-Nya yang merupakan sifat-Nya dan antara makhluk-Nya yang tercipta dengan perintah, dan ucapan-Nya. [Lihat Al-Ushul allati Banaa alaiha Ahlul Hadits Manhajahum fid Da’wah ilallah (hal. 214), cet. Dar Adh-Dhiya’]

Allah -Ta’ala- berfirman,

{وَلَئِنْ أَتَيْتَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ بِكُلِّ آيَةٍ مَا تَبِعُوا قِبْلَتَكَ وَمَا أَنْتَ بِتَابِعٍ قِبْلَتَهُمْ وَمَا بَعْضُهُمْ بِتَابِعٍ قِبْلَةَ بَعْضٍ وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُمْ مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ إِنَّكَ إِذًا لَمِنَ الظَّالِمِينَ (145)} [البقرة: 145]

“Dan sesungguhnya jika kamu mendatangkan kepada orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Al Kitab (Taurat dan Injil), semua ayat (keterangan), maka mereka tidak akan mengikuti kiblatmu, dan kamu pun tidak akan mengikuti kiblat mereka, dan sebahagian merekapun tidak akan mengikuti kiblat sebahagian yang lain. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti keinginan mereka setelah datang ilmu kepadamu, Sesungguhnya kamu -kalau begitu- termasuk golongan orang-orang yang zhalim”. (QS. Al-Baqoroh: 145).

Sesungguhnya Al-Qur’an yang merupakan kalamullah adalah ilmu Allah -Ta’ala-. Barangsiapa yang menyangka bahwa Al-Qur’an adalah makhluk, maka sungguh ia telah menyangka bahwa ilmu Allah adalah makhluk. Na’udzu billah min dzalik. [Lihat Al-Ushul allati Banaa alaiha Ahlul Hadits Manhajahum fid Da’wah ilallah (hal. 214), cet. Dar Adh-Dhiya’]

Dalil dari Sunnah Nabawiyyah

Abdullah bin Umar -radhiyallahu ‘anhu– berkata, “Aku pernah mendengar Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda,

أَوَّلُ مَا خَلَقَ اللهٌ تَعَالَى الْقَلَمُ, فَأَخَذَهُ بِيَمِيْنِهِ وَكِلْتَا يَدَيْهِ يَمِيْنٌ, قَالَ: فَكَتَبَ الدُّنْيَا وَمَا يَكُوْنُ فِيْهَا مِنْ عَمَلٍ مَعْمُوْلٍ: بِرٍ أَوْ فُجُوْرِ, رَطْبٍ أَوْ يَابِسٍ

“Makhluk yang paling pertama Allah -Ta’ala- ciptakan adalah Al-Qolam (Pena). Kemudian Allah mengambilnya dengan tangan kanan-Nya. Sedang kedua tangan-Nya adalah yamin. Lalu Allah menetapkan adanya dunia, dan segala sesuatu yang terdapat di dalamnya berupa amalan baik yang dikerjakan, maupun amalan jelek; yang basah, maupun kering”. [HR. Ibnu Abi Ashim dalam As-Sunnah (106), dan Al-Ajurriy dalam Asy-Syari’ah (hal. 180). Hadits ini di-hasan-kan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Zhilal Al-Jannah (1/42)

Hadits ini menunjukkan bahwa Al-Qolam (pena) adalah makhluk pertama yang Allah ciptakan, sedang kalamullah (ucapan Allah) telah ada sebelum Al-Qolam. Bahkan Al-Qolam tercipta dengan kalamullah.

Ini semua menunjukkan bahwa kalamullah adalah sifat Allah, bukan makhluk ciptaan-Nya.

Al-Imam Ahmad -rahimahullah- berkata,

“Syaikh ini (Yakni, Abbas An-Narsiy) telah menunjuki kita kepada sesuatu yang belum kita pahami, yaitu sabdanya, “Sesungguhnya sesuatu yang paling pertama Allah ciptakan adalah Al-Qolam”, sedang Al-Kalam (firman Allah) ada sebelum Al-Qolam”. [HR. Al-Ajurriy dalam Asy-Syari’ah (no. 178)]

AlKalam (berbicara) adalah sifat yang telah ada pada diri Allah sebelum Allah menciptakan seluruh makhluk-Nya. Dengan ini, nyatalah bagi kita perbedaan antara kalamullah yang merupakan sifat Allah dengan makhluk-makhluk ciptaan-Nya.

Dalil berupa Ijma’ Para Salaf

Keyakinan seperti ini telah diyakini oleh seluruh manusia di zaman para sahabat, apalagi para ulama. Sebab, perkara yang jelas dan gamblang seperti ini telah  dikuatkan dan dijelaskan oleh dalil-dalil dalam Al-Kitab dan As-Sunnah An-Nabawiyyah.

Al-Imam Abu Muhammad Ibnu Qutaibah Ad-Dainuriy -rahimahullah- (wft 276 H) berkata,

“وَلَوْ أَمْعَنَ هَؤُلَاءِ النَّظَرَ، وَأُوتُوا طَرَفًا مِنَ التَّوْفِيقِ، لَعَلِمُوا أَنَّهُ لَا يَجُوزُ أَنْ يَكُونَ الْقُرْآنُ مَخْلُوقًا؛ لِأَنَّهُ كَلَامُ اللَّهِ تَعَالَى، وَكَلَامُ اللَّهِ مِنَ اللَّهِ، وَلَيْسَ مِنَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ شَيْءٌ مَخْلُوقٌ.” اهـ من تأويل مختلف الحديث (ص: 377)

“Andai mereka (yang berpendapat Al-Qur’an adalah makhluk) mau menajamkan pandangannya, dan diberikan sekeping taufiq, niscaya mereka akan mengetahui bahwa tidak mungkin Al-Qur’an itu adalah makhluk. Karena Al-Qur’an adalah kalamullah (firman Allah). Sedang kalamullah dari Allah. Tak ada sesuatu yang berasal dari diri Allah yang merupakan makhluk”. [Lihat Ta’wil Mukhtalaf Al-Hadits (hal. 259)]

Inilah aqidah (keyakinan) yang bercokol di hati kaum muslimin dari zaman kenabian sampai hari ini; Ahlus Sunnah terus meyakini bahwa Al-Qur’an adalah kalamullah (ucapan Allah), bukan makhluk ciptaan Allah.

Abu Bakr bin Ayyasy -rahimahullah- berkata,

مَنْ زَعَمَ أَنَّ الْقُرْآنَ مَخْلُوقٌ فَهُوَ عِنْدَنَا كَافِرٌ زِنْدِيقٌ عَدُوُّ لِلَّهِ تَعَالَى، لَا تُجَالِسْهُ وَلَا تُكَلِّمْهُ

“Barangsiapa yang menyangka bahwa Al-Qur’an adalah makhluk, maka ia menurut kami adalah kafir lagi zindiq, dan musuh Allah; Jangan kamu menemaninya duduk, dan jangan kamu mengajaknya berbicara”. [HR. Al-Ajurriy dalam Asy-Syari’ah (no. 163), Abu Dawud dalam Al-Masa’il (hal. 267), dan Al-Bukhoriy dalam Kholq Af’al Al-Ibad (hal. 119)]

Ulama’ tabi’in, Amr bin Dinar -rahimahullah- (wft 126 H) berkata menghikayatkan ijma’ para salaf dalam perkara ini,

سَمِعْتُ مَشِيْخَنَا مُنْذُ سَبْعِيْنَ يَقُوْلُوْنَ :الْقُرْآنُ كَلاَمُ اللهِ, لَيْسَ بِمَخْلُوْقٍ

“Aku telah mendengarkan para guru-guru kami berkata sejak 70 tahun, “Al-Qur’an adalah kalamullah, bukan makhluk”. [HR. Al-Baihaqiy dalam Syu’abul Iman (1/190)]

Seorang ulama’ Syafi’iyyah, Al-Imam Abu Bakr Al-Baihaqiy -rahimahullah- berkata,

“مَشْيَخَةُ عَمْرِو بْنِ دِينَارٍ جَمَاعَةٌ مِنَ الصَّحَابَةِ مِنْهُمْ: عَبْدُ اللهِ بْنُ عَبَّاسٍ، وَعَبْدُ اللهِ بْنُ عُمَرَ، وَجَابِرُ بْنُ عَبْدِ اللهِ، وَعَبْدُ اللهِ بْنُ الزُّبَيْرِ وَأَكَابِرُ التَّابِعِينَ.” اهـ من شعب الإيمان (1/ 190)

“Guru-gurunya Amr bin Dinar adalah sekelompok sahabat, dianataranya Abdullah bin Abbas, Abdullah bin Umar, Jabir bin Abdillah, Abdullah bin Az-Zubair, dan para pembesar tabi’in”. [Lihat Syu’abul Iman (1/190), cet. Dar Al-Jiil]

Inilah aqidah para sahabat yang menetapkan bahwa Al-Qur’an adalah ucapan Allah, bukan makhluk. Keyakinan ini terus diyakini oleh generasi setelahnya.

Sekarang ada baiknya kita dengarkan Al-Imam Ash-Shobuniy -rahimahullah- (wft 449 H) berkata,

“ويشهد أصحاب الحديث ويعتقدون أن القرآن كلام الله وكتابه، ووحيه وتنزيله غير مخلوق، ومن قال بخلقه واعتقده فهو كافر عندهم.” اهـ من عقيدة السلف أصحاب الحديث (ص: 3)

“Ashabul Hadits (yakni, Ahlus Sunnah wal Jama’ah) mempersaksikan, dan meyakini bahwa Al-Qur’an adalah kalamullah (ucapan Allah), Kitab-Nya, wahyu-Nya, dan sesuatu yang Allah turunkan, bukan makhluk! Barangsiapa yang meyakini bahwa Al-Qur’an adalah makhluk, maka ia kafir di sisi Ahlus Sunnah”. [Lihat Aqidah As-Salaf Ash-habil Hadits (hal. 40)]

Keyakinan bahwa Al-Qur’an adalah kalamullah, bukan makhluk, tidak hanya diyakini oleh para tabi’in, bahkan para imam ahli fiqih pun yang datang setelahnya juga meyakininya dan telah aqidah mereka.

Al-Imam Al-Barbahariy -rahimahullah- berkata,

“والقرآن كلام الله وتنزيله ونوره، ليس بمخلوق؛ لأن القرآن من الله، وما كان من الله فليس بمخلوق، وهكذا قال مالك بن أنس وأحمد بن حنبل والفقهاء قبلهما وبعدهما، والمراء فيه كفر.” اهـ من شرح السنة للبربهاري (ص: 71)

“Al-Qur’an adalah kalamullah (firman Allah), sesuatu yang turunkan, dan cahaya-Nya, bukan makhluk, karena Al-Qur’an dari diri Allah. Apa saja yang berasal dari diri Allah, maka bukan makhluk. Demikianlah yang dinyatakan oleh Malik bin Anas, Ahmad bin Hambal, para ahli fiqih, sebelum dan setelah keduanya; berdebat tentangnya adalah kekafiran”. [Lihat Syarhus Sunnah (hal. 71), karya Al-Barbahariy]

Silakan simak Imam Ahlus Sunnah, Ahmad bin Hambal Asy-Syaibaniy -rahimahullah- saat beliau berkata,

وَالْقُرْآنُ كَلاَمُ اللهِ, وَلَيْسَ بِمَخْلُوْقٍ, وَلاَ تَضْعُفْ أَنْ تَقُوْلَ: لَيْسَ بِمَخْلُوْقٍ, فَإِنَّ كَلاَمَ اللهِ مِنْهُ, وَلَيْسَ مِنْهُ شَيْءٌ مَخْلُوْقٌ

“Al-Qur’an adalah kalamullah (firman Allah), bukan makhluk. Jangan kau canggung untuk berkata, “Dia bukan makhluk”, karena firman Allah dari Allah. Sedang tak ada dari diri-Nya sesuatu berupa makhluk”. [Lihat Syarh Ushul I’tiqod Ahlis Sunnah wal Jama’ah (1/157)]

Seorang ulama’ Malikiyyah, Al-Imam Ibnu Abi Zaid Al-Qoirowaniy -rahimahullah- berkata,

“كلَّم موسى بكلامِه الَّذي هو صفةُ ذاتِه، لا خَلْقٌ مِن خَلقِه.” اهـ من قطف الجني الداني شرح مقدمة رسالة ابن أبي زيد القيرواني (ص: 45)

“Allah telah berbicara dengan Musa dengan kalam-Nya (firman-Nya) yang merupakan sifat dzatiyyah-Nya, bukan makhluk diantara makhluk-makhluk-Nya”. [Lihat Qothful Janaa Ad-Dani (hal. 45) karya Syaikh Abdul Muhsin Al-Abbad]

Inilah keyakinan dan aqidah yang harus dipegangi oleh setiap mukmin, karena itu adalah kebenaran yang dilandasi oleh dalil-dalil dari Al-Qur’an dan Sunnah Nabawiyyah, bahkan ijma’ para As-Salafush Sholeh, dan ulama-ulama setelah.

Al-Imam Abu Ja’far Ath-Thohawiy -rahimahullah- (wft 321 H) berkata saat menyebutkan aqidah Ahlus Sunnah,

“وأن القرآن كلام الله، منه بدا بلا كيفية قولاً، وأنزله على رسوله وحياً، وصدقه المؤمنون على ذلك حقاً، وأيقنوا أنه كلام الله تعالى بالحقيقة، ليس بمخلوق ككلام البرية، فمن سمعه فزعم أنه كلام البشر فقد كفر.” اهـ من العقيدة الطحاوية (ص: 41)

“Al-Qur’an adalah kalamullah (firman Allah). Dari-Nya Al-Qur’an muncul -tanpa kaifiyyah-, dalam bentuk ucapan; Allah menurunkannya kepada Rasul-Nya dalam bentuk wahyu. Al-Qur’an telah dibenarkan oleh orang-orang beriman dengan benar; mereka meyakini bahwa Al-Qur’an adalah kalamullah secara hakiki, bukan makhluk sebagaimana halnya ucapan manusia. Barangsiapa yang mendengarnya, dan menyangkanya sebagai ucapan manusia , maka ia kafir”. [Lihat Al-Aqidah Ath-Thohawiyyah (hal. 41)]

Al-Imam Ibnu Abil Izz Al-Hanafiy -rahimahullah- berkata,

“هَذِهِ قَاعِدَةٌ شَرِيفَةٌ، وَأَصْلٌ كَبِيرٌ مِنْ أُصُولِ الدِّينِ، ضَلَّ فِيهِ طَوَائِفُ كَثِيرَةٌ مِنَ النَّاسِ. وَهَذَا الَّذِي حَكَاهُ الطَّحَاوِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ هُوَ الْحَقُّ الَّذِي دَلَّتْ عَلَيْهِ الْأَدِلَّةُ مِنَ الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ لِمَنْ تَدَبَّرَهُمَا، وَشَهِدَتْ بِهِ الْفِطْرَةُ السَّلِيمَةُ الَّتِي لَمْ تُغَيَّرْ بِالشُّبُهَاتِ وَالشُّكُوكِ وَالْآرَاءِ الْبَاطِلَةِ.” اهـ من شرح الطحاوية ت الأرناؤوط (1/ 172)

“Ini adalah kaidah yang mulia dan prinsip yang besar di antara prinsip-prinsip agama. Apa yang dihikayatkan oleh Ath-Thohawiy -rahimahullah-, itulah yang benar, telah ditunjukkan oleh dalil-dalil dari Al-Kitab dan Sunnah bagi yang mentadabburinya. Itu juga dikuatkan oleh fithrah selamat yang belum berubah dengan (pengaruh) syubhat, keraguan, dan pemikiran-pemikiran batil”. [Lihat Syarh Al-Aqidah Ath-Thohawiyyah (1/172), dengan tahqiq Syu’aib Al-Arna’uth, cet. Mu’assasah Ar-Risalah, 1417 H]

Inilah beberapa nukilan dan pernyataan Ahlus Sunnah wal Jama’ah dari zaman ke zaman bahwa Al-Qur’an adalah kalamullah (ucapan, dan firman Allah), bukan makhluk.

Barangsiapa yang menyangka –seperti halnya sekte Jahmiyyah- bahwa Al-Qur’an adalah makhluk, maka ia kafir.

Al-Imam Asy-Syafi’iy -rahimahullah- berkata,

“الْقُرْآنُ كَلَامُ اللَّهِ غَيْرَ مَخْلُوقٍ، وَمَنْ قَالَ : “مَخْلُوقٌ” فَهُوَ كَافِرٌ!” اهـ من الشريعة للآجري (1/ 508/ رقم : 176)

“Al-Qur’an adalah ucapan Allah -Azza wa Jalla-, bukan makhluk. Barangsiapa yang berkata, “Al-Qur’an adalah makhluk”, maka ia kafir”. [Atsar Riwayat Al-Ajurriy dalam Asy-Syari’ah (1/508/176)]

Sumber: https://abufaizah75.blogspot.com/

Tulisan lainnya

HAMBA DUNIA

Jannatul-firdaus.net

Menyebar Ilmu Syar’i


default-logo

Jannatul-firdaus.net

Menyebar Ilmu Syar’i


default-logo

Bagikan…




HAMBA DUNIA

  • Oleh : Al-Ustadz Abdul Qodir Abu Fa’izah hafizhahullah
Dunia adalah sesuatu yang manis lagi hijau melalaikan manusia dari hakikat dan tujuan kehidupannya di dunia.

Banyak manusia yang banting tulang dan menguras keringat demi mencapai lezatnya kehidupan dunia yang fana ini.

Siang dan malam, ia harus mengernyitkan dahi demi meraihnya.

Sebagian orang terkadang sudah lupa waktu dan terbawa segala macam aktifitas beserta problemanya, sehingga ia sangat susah tidur dan tidak merasakan enaknya istirahat.

Tak ada di kepalanya, selain jumlah dinar dan rupiah yang menerawang dalam ufuk pemikirannya.

Disana-sini banyak usaha dan bisnis yang ia jalankan sampai terkadang membuatnya lupa anak dan istri.

Seonggok permasalahan dunia yang ia geluti sering membuat dirinya tak khusyu’ dalam mengerjakan sholat atau mungkin akan terlambat sholat, bahkan melalaikan sholat dengan dalih bahwa sholat hanyalah rutinitas yang menghabiskan waktu.

Menurutnya, waktu masih panjang dan kesempatan masih luas untuk meminta ampunan atas kelalaiannya dalam mengerjakan sholat atau atas ampunan semua dosa dan kesalahan.

Ketahuilah bahwa semua ini adalah bentuk istidroj (pembiaran dan pemanjaan) dari Allah -Azza wa Jalla- agar ia binasa di atas dosa dan pelanggarannya.

Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda,

إِذَا رَأَيْتَ اللَّهَ يُعْطِي الْعَبْدَ مِنْ الدُّنْيَا عَلَى مَعَاصِيهِ مَا يُحِبُّ فَإِنَّمَا هُوَ اسْتِدْرَاج

“Bila engkau melihat Allah memberikan kepada seorang hamba sesuatu yang ia cintai berupa dunia atas kemaksiatan-kemaksiatannya, maka semua itu hanyalah istidroj (pembiaran dan pemanjaan)”. [HR. Ahmad dalam Al-Musnad (4/145) dan Ath-Thobariy dalam Jami’ Al-Bayan (7/115). Hadits ini di-shohih-kan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Shohih Al-Jami’ (no. 561)]

Para hamba dinar yang amat rakus dengan dunia akan terus terlena dengan keindahan dan semerbak dunia yang menipu dirinya, sehingga ia pun melakukan segala macam cara dalam meraih dunia, tanpa peduli tentang halal dan haramnya sesuatu yang mereka peroleh.

Jika ia dibukakan sebagian pintu dunia yang melimpah ruah di hadapannya, maka ia tidak menggunakannya dalam ketaatan kepada Allah -Subhanahu wa Ta’ala-, bahkan ia habiskan dalam maksiat dan dosa.

Dia menyangka bahwa ia akan hidup seribu tahun lamanya. Ia tak sadar bahwa ajal telah menunggu di depan matanya. Ajal sisa menunggu perintah Tuhan-nya yang Maha Perkasa lagi Bijaksana.

Orang-orang yang diperbudak oleh dunia akan jauh dari kebaikan dan para pengikutnya.

Karenanya, saat diingatkan dengan kebaikan, maka ia pun menolaknya dengan sinis dan menganggap orang yang menasihatinya dalam kebaikan sebagai orang yang kolot dan hanya mencari-cari kesalahan.

Ketika ia diingatkan agar ia menjauhi maksiat dan menggunakan hartanya di jalan kebaikan, maka ia pun menampakkan keangkuhannya di hadapan para penasihat kebaikan dan terus-menerus hartanya dihambur-hamburkan dalam lembah maksiat dan dosa.

Lantaran itu, tak ada hari-harinya, selain maksiat dan dosa yang mewarnainya, mulai dari menenggak khomer, bermain perempuan, berjudi, memakan uang riba, menzhalimi orang lain, menyogok atau disogok dan sederet pelanggaran lainnya.

Ketika diingatkan tentang semua itu, maka ia pun tidak mengindahkannya, dan semakin larut dalam dosa dan maksiat.

Orang seperti inilah yang Allah singgung dalam firman-Nya.

{فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّى إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً فَإِذَا هُمْ مُبْلِسُونَ } [الأنعام: 44]

“Maka tatkala mereka melupakan (meninggalkan) peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, maka Kami siksa mereka dengan tiba-tiba. Maka ketika itu mereka terdiam berputus asa (dari segala kebaikan)”. (QS. Al-An’aam : 44)

 

Orang yang memiliki visi dan misi duaniawi seperti ini, tidak segan melakukan segala macam pelanggaran dan penyelisihan syariat Allah, demi meraup keuntungan duniawi yang akan menjadi beban dan saksi sial bagi dirinya di hadapan Allah Sang Maha Pencipta.

Bila seseorang amat cinta kepada dunia, maka ia akan diperbudak oleh dunia sehingga ia bagaikan tawanan yang dibawa dan diseret oleh dunia, kemanapun dunia inginkan, sekalipun ke jurang terjal yang membinasakan berupa neraka Jahannam yang menyala-nyala.

Apa saja yang diinginkan oleh dunia berupa kedurhakaan dan kelalaian, maka si budak dunia ini akan melakukan apa saja yang dituntut oleh majikannya yang bernama “dunia”.

Nabi –Shallallahu alaihi wa sallam– bersabda,

تَعِسَ عَبْدُ الدِّينَارِ وَعَبْدُ الدِّرْهَمِ وَعَبْدُ الْخَمِيصَةِ إِنْ أُعْطِيَ رَضِيَ وَإِنْ لَمْ يُعْطَ سَخِطَ تَعِسَ وَانْتَكَسَ وَإِذَا شِيكَ فَلَا انْتَقَشَ

“Semoga binasa hamba dinar, dirham dan pakaian. Bila diberi, maka ia senang. Bila tak diberi, maka ia murka. Semoga ia binasa dan terpelanting. Bila ia (budak dunia) tertusuk duri, maka tak akan tercabut”. [HR. Al-Bukhoriy ]

Seorang yang diperbudak oleh dunia, bila ia meminta sesuatu yang ia cintai, lalu Allah berikan, maka ia pun ridho dan puas.

Sebaliknya, bila Allah tidak memberikannya, maka ia murka dan berkeluh kesah.

Orang ini telah diperbudak oleh dunia, sebab ia menjadikan dunia sebagai barometer cinta dan bencinya kepada sesuatu.

Padahal seorang hamba dikatakan “abdullah” (hamba Allah) saat ia menjadikan Allah sebagai penentu dalam kecintaan dan bencinya kepada sesuatu.

Syaikhul Islam Abul Abbas Al-Harroniy –rahimahullah– berkata, “Hal apa saja yang membuat manusia ridho bila ia tercapai, dan membuatnya marah bila hilang, maka manusia itu adalah budak perkara tersebut. Sebab hamba itu senang bila dua perkara (dinar dan dirham) berhubungan dengannya (yakni, ia raih) dan murka bila keduanya hilang”. [Lihat Majmu’ Al-Fatawa (2/419)- Syamilah]

“Seorang yang memperbudak dirinya kepada Allah akan senang dengan sesuatu yang membuat Allah ridho, dan akan murka dengan sesuatu yang membuat Allah murka. Dia akan mencintai sesuatu yang Allah dan Rasul-Nya cintai dan membenci sesuatu yang dibenci oleh Allah dan Rasul-Nya. Dia akan loyal kepada wali-wali Allah (yakni, orang beriman dan bertaqwa) dan memusuhi para musuh Allah -Ta’ala-. Inilah orang yang menyempurnakan imannya”. [Lihat Al-Fatawa Al-Kubro (7/293) oleh Ibnu Taqiyyuddi Ibn Abdil Halim Ad-Dimasyqiy, – Syamilah]

Seorang yang cinta dunia sampai ia diperbudak oleh dunia akan memikirkan semua cara dalam meraup sebanyak-banyaknya, karena kerakusan dan keserakahannya terhadap dunia dan harta. Tak ada yang berputar dalam pikirannya, selain dunia sampai kadang ia sakit hati dan stress bila tidak meraih sesuatu yang ia inginkan.

Para pembaca yang budiman, seorang yang haus dunia tak akan pernah puas dengan dunia, sebab dunia ibarat setetes air di padang sahara.

Lantaran itu, kita akan melihat para pengejar dunia dan budaknya tak pernah puas dengan sesuatu yang ia raih.

Dia terus berusaha mencarinya, walaupun ia harus mengorbankan kewajiban dan keutamaan akhirat, tanpa peduli halal-haramnya!!

Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda,

لَوْ كَانَ لِابْنِ آدَمَ وَادٍ مِنْ ذَهَبٍ أَحَبَّ أَنَّ لَهُ وَادِيًا آخَرَ وَلَنْ يَمْلَأَ فَاهُ إِلَّا التُّرَابُ وَاللَّهُ يَتُوبُ عَلَى مَنْ تَابَ

“Andai seorang anak cucu Adam memiliki sebuah lembah emas, maka ia akan menyukai bila ia memiliki lembah emas yang lainnya. Tak akan ada yang memenuhi mulutnya, selain tanah. Sedang Allah mengampuni orang yang mau bertobat”. [HR. Muslim dalam Kitab Az-Zakah (no. 117)]

Al-Imam Abu Zakariyya An-Nawawiy –rahimahullah– berkata,

“Di dalam hadits ini terdapat celaan terhadap sifat rakus terhadap dunia, senang menumpuk harta dunia dan cinta dunia”. [Lihat Syarh Shohih Muslims (7/140)]

Saking rakusnya para pencinta dunia ini, andai ia diberi dunia dan seisinya, maka semua itu tak membuatnya kenyang. Dia akan kenyang saat mulutnya tersumbat oleh tanah kuburnya.

Jadi, seorang memperbudak dirinya dengan dunia akan terus tergantung kepada dunia.

Dia akan bekerja keras dan berpikir tujuh keliling dalam mengambil langkah-langkah agar ia mencapainya.

Karenanya, sering kita mendengar bahwa ada orang yang susah tidur akibat dunianya. Bahkan ada yang bunuh diri akibat kegagalan dalam mencapai target dunianya.

Inilah perkara-perkara yang diisyaratkan oleh Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- dalam hadits-hadits di atas bahwa bila ada keburukan yang menimpa si hamba dinar dan rupiah, maka ia akan semakin susah dan tak mampu keluar dari problema yang ia hadapi, baik problema dagangnya, pekerjaaan, relasi, keluarga, pribadi dan lainnya.

Semua menumpuk dalam pikirannya sebagai siksaan bagi dirinya di dunia sebelum ia menghadap Allah -Azza wa Jalla-.

Mengapa ia terus berada dalam kesusahan dan problema? Karena, ia dibiarkan oleh Allah, tanpa pertolongan, petunjuk dan rahmat (kasih sayang)-Nya.

Mereka jauh dari ketaatan dan jalan-jalan kebaikan yang Allah perintahkan kepada para hamba-Nya agar berinfaq dan berkorban di dalamnya.

Malah para hamba dinar dan pemburu rupiah ini lebih senang meninggalkan perkara-perkara yang dicintai oleh Allah, lalu beralih kepada perkara-perkara dosa dan maksiat yang mendatangkan murka Allah.

 

Di saat mereka melupakan Allah, maka Allah pun melupakan (meninggalkan) mereka sebagai balasan atas sikap mereka.

Ketahuilah bahwa dunia ini hanyalah tempat persinggahan sementara dalam mengais dan mengumpulkan bekal menuju akhirat “alam pertanggungjawaban” dan tempat peristirahatan terakhir.

Karenanya, harta yang kita kumpulkan bukanlah bekal dalam bermaksiat, tapi jadikan bekal akhirat yang berguna disana.

 

Gunakanlah semuanya dalam perkara yang mendatangkan kecintaan Allah -Azza wa Jalla- dengan cara berinfaq di jalan Allah, baik itu berupa pembangunan masjid, membantu fakir-miskin, tetangga, pembangunan pesantren, meringankan kaum muslimin yang amat butuh, membantu kegiatan sosial yang mengangkat agama Allah, membuat sumur umum, menyekolahkan anak-anak Islam, mengadakan majelis-majelis ilmu dan lainnya.

Dunia tidaklah tercela bila digunakan dalam ketaatan. Yang tercela saat dunia digunakan dalam perkara-perkara yang tak mendatangkan ridho Allah, seperti menggunakannya bermaksiat, dan menghambur-hamburkannya atau berbangga dengannya atas para hamba Allah.

Al-Imam Muhammad bin Isma’il Al-Amir Ash-Shon’aniy rahimahullah– berkata,

“Ketahuilah bahwa yang tercela dari dunia adalah segala perkara yang menjauhkan seorang hamba dari Allah -Ta’ala- dan menyibukkannya dari kewajiban taat dan ibadah kepada Allah, bukan (yang tercela dari dunia) perkara yang menolong hamba di atas amal-amal sholih. Karena seperti ini tak tercela dan terkadang diharuskan pencariannya dan wajib untuk diraih”. [Lihat Subul As-Salam (8/190), karya Al-Amir Ash-Shon’aniy, cet. Dar Ibn Al-Jauziy, dengan tahqiq Subhi Hasan Hallaq, 1421 H]

———————-

Sumber: https://abufaizah75.blogspot.com/

Tulisan lainnya

Hamba Dunia

Bagikan…

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Hamba Dunia

oleh : Al-Ustadz Abdul Qodir Abu Fa’izah hafizhahullah [Pembina Ponpes Al-Ihsan Gowa]

Dunia adalah sesuatu yang manis lagi hijau melalaikan manusia dari hakikat dan tujuan kehidupannya di dunia.

Banyak manusia yang banting tulang dan menguras keringat demi mencapai lezatnya kehidupan dunia yang fana ini.

Siang dan malam, ia harus mengernyitkan dahi demi meraihnya.

Sebagian orang terkadang sudah lupa waktu dan terbawa segala macam aktifitas beserta problemanya, sehingga ia sangat susah tidur dan tidak merasakan enaknya istirahat.

Tak ada di kepalanya, selain jumlah dinar dan rupiah yang menerawang dalam ufuk pemikirannya.

Disana-sini banyak usaha dan bisnis yang ia jalankan sampai terkadang membuatnya lupa anak dan istri.

Seonggok permasalahan dunia yang ia geluti sering membuat dirinya tak khusyu’ dalam mengerjakan sholat atau mungkin akan terlambat sholat, bahkan melalaikan sholat dengan dalih bahwa sholat hanyalah rutinitas yang menghabiskan waktu.

Menurutnya, waktu masih panjang dan kesempatan masih luas untuk meminta ampunan atas kelalaiannya dalam mengerjakan sholat atau atas ampunan semua dosa dan kesalahan.

Ketahuilah bahwa semua ini adalah bentuk istidroj (pembiaran dan pemanjaan) dari Allah -Azza wa Jalla- agar ia binasa di atas dosa dan pelanggarannya.

Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda,

إِذَا رَأَيْتَ اللَّهَ يُعْطِي الْعَبْدَ مِنْ الدُّنْيَا عَلَى مَعَاصِيهِ مَا يُحِبُّ فَإِنَّمَا هُوَ اسْتِدْرَاج

“Bila engkau melihat Allah memberikan kepada seorang hamba sesuatu yang ia cintai berupa dunia atas kemaksiatan-kemaksiatannya, maka semua itu hanyalah istidroj (pembiaran dan pemanjaan)”. [HR. Ahmad dalam Al-Musnad (4/145) dan Ath-Thobariy dalam Jami’ Al-Bayan (7/115). Hadits ini di-shohih-kan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Shohih Al-Jami’ (no. 561)]

Para hamba dinar yang amat rakus dengan dunia akan terus terlena dengan keindahan dan semerbak dunia yang menipu dirinya, sehingga ia pun melakukan segala macam cara dalam meraih dunia, tanpa peduli tentang halal dan haramnya sesuatu yang mereka peroleh.

Jika ia dibukakan sebagian pintu dunia yang melimpah ruah di hadapannya, maka ia tidak menggunakannya dalam ketaatan kepada Allah -Subhanahu wa Ta’ala-, bahkan ia habiskan dalam maksiat dan dosa.

Dia menyangka bahwa ia akan hidup seribu tahun lamanya. Ia tak sadar bahwa ajal telah menunggu di depan matanya. Ajal sisa menunggu perintah Tuhan-nya yang Maha Perkasa lagi Bijaksana.

Orang-orang yang diperbudak oleh dunia akan jauh dari kebaikan dan para pengikutnya.

Karenanya, saat diingatkan dengan kebaikan, maka ia pun menolaknya dengan sinis dan menganggap orang yang menasihatinya dalam kebaikan sebagai orang yang kolot dan hanya mencari-cari kesalahan.

Ketika ia diingatkan agar ia menjauhi maksiat dan menggunakan hartanya di jalan kebaikan, maka ia pun menampakkan keangkuhannya di hadapan para penasihat kebaikan dan terus-menerus hartanya dihambur-hamburkan dalam lembah maksiat dan dosa.

Lantaran itu, tak ada hari-harinya, selain maksiat dan dosa yang mewarnainya, mulai dari menenggak khomer, bermain perempuan, berjudi, memakan uang riba, menzhalimi orang lain, menyogok atau disogok dan sederet pelanggaran lainnya.

Ketika diingatkan tentang semua itu, maka ia pun tidak mengindahkannya, dan semakin larut dalam dosa dan maksiat.

Orang seperti inilah yang Allah singgung dalam firman-Nya.

{فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّى إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً فَإِذَا هُمْ مُبْلِسُونَ } [الأنعام: 44]

“Maka tatkala mereka melupakan (meninggalkan) peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, maka Kami siksa mereka dengan tiba-tiba. Maka ketika itu mereka terdiam berputus asa (dari segala kebaikan)”. (QS. Al-An’aam : 44)

Orang yang memiliki visi dan misi duaniawi seperti ini, tidak segan melakukan segala macam pelanggaran dan penyelisihan syariat Allah, demi meraup keuntungan duniawi yang akan menjadi beban dan saksi sial bagi dirinya di hadapan Allah Sang Maha Pencipta.

Bila seseorang amat cinta kepada dunia, maka ia akan diperbudak oleh dunia sehingga ia bagaikan tawanan yang dibawa dan diseret oleh dunia, kemanapun dunia inginkan, sekalipun ke jurang terjal yang membinasakan berupa neraka Jahannam yang menyala-nyala.

Apa saja yang diinginkan oleh dunia berupa kedurhakaan dan kelalaian, maka si budak dunia ini akan melakukan apa saja yang dituntut oleh majikannya yang bernama “dunia”.

Nabi –Shallallahu alaihi wa sallam– bersabda,

تَعِسَ عَبْدُ الدِّينَارِ وَعَبْدُ الدِّرْهَمِ وَعَبْدُ الْخَمِيصَةِ إِنْ أُعْطِيَ رَضِيَ وَإِنْ لَمْ يُعْطَ سَخِطَ تَعِسَ وَانْتَكَسَ وَإِذَا شِيكَ فَلَا انْتَقَشَ

“Semoga binasa hamba dinar, dirham dan pakaian. Bila diberi, maka ia senang. Bila tak diberi, maka ia murka. Semoga ia binasa dan terpelanting. Bila ia (budak dunia) tertusuk duri, maka tak akan tercabut”. [HR. Al-Bukhoriy ]

Seorang yang diperbudak oleh dunia, bila ia meminta sesuatu yang ia cintai, lalu Allah berikan, maka ia pun ridho dan puas.

Sebaliknya, bila Allah tidak memberikannya, maka ia murka dan berkeluh kesah.

Orang ini telah diperbudak oleh dunia, sebab ia menjadikan dunia sebagai barometer cinta dan bencinya kepada sesuatu.

Padahal seorang hamba dikatakan “abdullah” (hamba Allah) saat ia menjadikan Allah sebagai penentu dalam kecintaan dan bencinya kepada sesuatu.

Syaikhul Islam Abul Abbas Al-Harroniy –rahimahullah– berkata, “Hal apa saja yang membuat manusia ridho bila ia tercapai, dan membuatnya marah bila hilang, maka manusia itu adalah budak perkara tersebut. Sebab hamba itu senang bila dua perkara (dinar dan dirham) berhubungan dengannya (yakni, ia raih) dan murka bila keduanya hilang”. [Lihat Majmu’ Al-Fatawa (2/419)- Syamilah]

“Seorang yang memperbudak dirinya kepada Allah akan senang dengan sesuatu yang membuat Allah ridho, dan akan murka dengan sesuatu yang membuat Allah murka. Dia akan mencintai sesuatu yang Allah dan Rasul-Nya cintai dan membenci sesuatu yang dibenci oleh Allah dan Rasul-Nya. Dia akan loyal kepada wali-wali Allah (yakni, orang beriman dan bertaqwa) dan memusuhi para musuh Allah -Ta’ala-. Inilah orang yang menyempurnakan imannya”. [Lihat Al-Fatawa Al-Kubro (7/293) oleh Ibnu Taqiyyuddi Ibn Abdil Halim Ad-Dimasyqiy, – Syamilah]

Seorang yang cinta dunia sampai ia diperbudak oleh dunia akan memikirkan semua cara dalam meraup sebanyak-banyaknya, karena kerakusan dan keserakahannya terhadap dunia dan harta. Tak ada yang berputar dalam pikirannya, selain dunia sampai kadang ia sakit hati dan stress bila tidak meraih sesuatu yang ia inginkan.

Para pembaca yang budiman, seorang yang haus dunia tak akan pernah puas dengan dunia, sebab dunia ibarat setetes air di padang sahara.

Lantaran itu, kita akan melihat para pengejar dunia dan budaknya tak pernah puas dengan sesuatu yang ia raih.

Dia terus berusaha mencarinya, walaupun ia harus mengorbankan kewajiban dan keutamaan akhirat, tanpa peduli halal-haramnya!!

Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda,

لَوْ كَانَ لِابْنِ آدَمَ وَادٍ مِنْ ذَهَبٍ أَحَبَّ أَنَّ لَهُ وَادِيًا آخَرَ وَلَنْ يَمْلَأَ فَاهُ إِلَّا التُّرَابُ وَاللَّهُ يَتُوبُ عَلَى مَنْ تَابَ

“Andai seorang anak cucu Adam memiliki sebuah lembah emas, maka ia akan menyukai bila ia memiliki lembah emas yang lainnya. Tak akan ada yang memenuhi mulutnya, selain tanah. Sedang Allah mengampuni orang yang mau bertobat”. [HR. Muslim dalam Kitab Az-Zakah (no. 117)]

Al-Imam Abu Zakariyya An-Nawawiy –rahimahullah– berkata,

“Di dalam hadits ini terdapat celaan terhadap sifat rakus terhadap dunia, senang menumpuk harta dunia dan cinta dunia”. [Lihat Syarh Shohih Muslims (7/140)]

Saking rakusnya para pencinta dunia ini, andai ia diberi dunia dan seisinya, maka semua itu tak membuatnya kenyang. Dia akan kenyang saat mulutnya tersumbat oleh tanah kuburnya.

Jadi, seorang memperbudak dirinya dengan dunia akan terus tergantung kepada dunia.

Dia akan bekerja keras dan berpikir tujuh keliling dalam mengambil langkah-langkah agar ia mencapainya.

Karenanya, sering kita mendengar bahwa ada orang yang susah tidur akibat dunianya. Bahkan ada yang bunuh diri akibat kegagalan dalam mencapai target dunianya.

Inilah perkara-perkara yang diisyaratkan oleh Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- dalam hadits-hadits di atas bahwa bila ada keburukan yang menimpa si hamba dinar dan rupiah, maka ia akan semakin susah dan tak mampu keluar dari problema yang ia hadapi, baik problema dagangnya, pekerjaaan, relasi, keluarga, pribadi dan lainnya.

Semua menumpuk dalam pikirannya sebagai siksaan bagi dirinya di dunia sebelum ia menghadap Allah -Azza wa Jalla-.

Mengapa ia terus berada dalam kesusahan dan problema? Karena, ia dibiarkan oleh Allah, tanpa pertolongan, petunjuk dan rahmat (kasih sayang)-Nya.

Mereka jauh dari ketaatan dan jalan-jalan kebaikan yang Allah perintahkan kepada para hamba-Nya agar berinfaq dan berkorban di dalamnya.

Malah para hamba dinar dan pemburu rupiah ini lebih senang meninggalkan perkara-perkara yang dicintai oleh Allah, lalu beralih kepada perkara-perkara dosa dan maksiat yang mendatangkan murka Allah.

Di saat mereka melupakan Allah, maka Allah pun melupakan (meninggalkan) mereka sebagai balasan atas sikap mereka.

Ketahuilah bahwa dunia ini hanyalah tempat persinggahan sementara dalam mengais dan mengumpulkan bekal menuju akhirat “alam pertanggungjawaban” dan tempat peristirahatan terakhir.

Karenanya, harta yang kita kumpulkan bukanlah bekal dalam bermaksiat, tapi jadikan bekal akhirat yang berguna disana.

Gunakanlah semuanya dalam perkara yang mendatangkan kecintaan Allah -Azza wa Jalla- dengan cara berinfaq di jalan Allah, baik itu berupa pembangunan masjid, membantu fakir-miskin, tetangga, pembangunan pesantren, meringankan kaum muslimin yang amat butuh, membantu kegiatan sosial yang mengangkat agama Allah, membuat sumur umum, menyekolahkan anak-anak Islam, mengadakan majelis-majelis ilmu dan lainnya.

Dunia tidaklah tercela bila digunakan dalam ketaatan. Yang tercela saat dunia digunakan dalam perkara-perkara yang tak mendatangkan ridho Allah, seperti menggunakannya bermaksiat, dan menghambur-hamburkannya atau berbangga dengannya atas para hamba Allah.

Al-Imam Muhammad bin Isma’il Al-Amir Ash-Shon’aniy rahimahullah– berkata,

“Ketahuilah bahwa yang tercela dari dunia adalah segala perkara yang menjauhkan seorang hamba dari Allah -Ta’ala- dan menyibukkannya dari kewajiban taat dan ibadah kepada Allah, bukan (yang tercela dari dunia) perkara yang menolong hamba di atas amal-amal sholih. Karena seperti ini tak tercela dan terkadang diharuskan pencariannya dan wajib untuk diraih”. [Lihat Subul As-Salam (8/190), karya Al-Amir Ash-Shon’aniy, cet. Dar Ibn Al-Jauziy, dengan tahqiq Subhi Hasan Hallaq, 1421 H]

———————-

Tulisan ini diedit ulang, 20 Romadhon 1438 H, Markaz Dakwah, Jalan Baji Rupa, Makassar, Sulawesi Selatan

Sumber: https://abufaizah75.blogspot.com/

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Tulisan lainnya

Tulis komentar

Logged in as admin. Log out »




jannatul-firdaus.net @2018