Segenggam Sedekah Untuk Segudang Pahala

Jannatul-firdaus.net

Menyebar Ilmu Syar’i


default-logo

Jannatul-firdaus.net

Menyebar Ilmu Syar’i


default-logo

Bagikan…




Segenggam Sedekah Untuk Segudang Pahala

  • Oleh: Ustadz Abdul Qodir Abu Fa’izah, Lc. hafizhohulloh
Shadaqah (sedekah) adalah perkara yang amat dianjurkan di dalam agama yang suci ini.

Dengannya, tercipta suasana ta’aawun (kerjasama) dan ta’aadhud (saling menopang) antara kaum muslimin sebagai bentuk mahabbah (cinta) dan mawaddah diantara mereka.

Sedekah memiliki banyak bentuk dan nama. Sedekah ada yang wajib (seperti, zakat, bayar kaffaroh, nafkah bagi keluarga), dan ada yang mustahab ‘tidak wajib’ (seperti, bersedekah kepada fakir-miskin, membangun masjid, mendanai majelis ilmu dan pesantren serta lainnya).

Walaupun sedekah itu pada asalnya untuk fakir-miskin, namun juga mencakup semua jalan-jalan kebaikan yang membutuhkan uluran sedekah sebagaimana yang dinyatakan oleh Murtadho Az-Zabidiy dalam Taaj Al-Aruus min Jawaahir al-Qomus (1/6421-Syamilah) dan Al-Imam Ar-Roghib Al-Ashfahaniy dalam Al-Mufrodaat fi Ghorib Al-Qur’an (hal. 281), cet. Dar Al-Ma’rifah, 1422 H.

Para pembaca yang budiman, sedekah bisa berbentuk harta dan bisa juga selainnya, seperti: senyum, amar ma’ruf dan nahi munkar, bertasbih, bertahmid dan lainnya.

Semua itu adalah sedekah. Namun kali ini kami ingin mengajak para pembaca untuk menikmati beberapa buah kalamullah dan kalam Rasulullah –Shallallahu alaihi wa sallam– yang akan mengungkapkan kepada kita tentang besarnya keutamaan sedekah dalam bentuk harta, karena semata mengharapkan pahala di sisi Robb-nya.

Diantara keutamaan sedekah:

 

Shadaqah Bekal Menuju Akhirat

Akan tiba masa yang tidak ada lagi jual beli, dan tidak bermanfaat persahabatan.

Oleh karena itu, sebelum tiba masa itu hendaknya seseorang mempersiapkan perbekalan yang bisa membantunya, dengan banyak-banyak bershadaqah. Allah Ta’ala berfirman :

 يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا أَنْفِقُوا مِمَّا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ يَوْمٌ لَا بَيْعٌ فِيهِ وَلَا خُلَّةٌ وَلَا شَفَاعَةٌ وَالْكَافِرُونَ هُمُ الظَّالِمُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, belanjakanlah (di jalan Allah) sebagian dari rezki yang telah kami berikan kepadamu sebelum datang hari yang pada hari itu tidak ada lagi jual beli dan tidak ada lagi syafa’at. dan orang-orang kafir Itulah orang-orang yang zalim”. (QS. Al Baqarah : 254)

Al-Allamah Abdur Rahman bin Nashir As-Sa’diy -rahimahullah- berkata,

:وهذا من لطف الله بعباده أن أمرهم بتقديم شيء مما رزقهم الله، من صدقة واجبة ومستحبة، ليكون لهم ذخرا وأجرا موفرا في يوم يحتاج فيه العاملون إلى مثقال ذرة من الخير، فلا بيع فيه ولو افتدى الإنسان نفسه بملء الأرض ذهبا ليفتدي به من عذاب يوم القيامة ما تقبل منه، ولم ينفعه خليل ولا صديق لا بوجاهة ولا بشفاعة، وهو اليوم الذي فيه يخسر المبطلون ويحصل الخزي على الظالمين، وهم الذين وضعوا الشيء في غير موضعه، فتركوا الواجب من حق الله وحق عباده وتعدوا الحلال إلى الحرام.” اهـ من تيسير الكريم الرحمن (ص: 110)

“Ini merupakan kelembutan Allah terhadap para hamba-Nya, karena Allah memerintahkan mereka untuk mempersembahkan sesuatu yang Allah berikan kepada mereka, berupa shadaqah wajib (zakat), dan shadaqah mustahab (tidak wajib) agar hal itu menjadi tabungan, dan pahala yang banyak bagi mereka pada hari orang-orang yang beramal butuh kepada setitik kebaikan; tak ada lagi perniagaan di hari itu. Andai seorang menebus dirinya dengan emas sepenuh bumi dari siksaan pada hari kiamat, maka tak akan diterima darinya; tak akan bermamfaat baginya seorang kekasih, dan sahabat, baik itu karena kedudukannya atau safa’atnya. Itulah hari yang merugi para pelaku kebatilan di dalamnya, dan akan terjadi kehinaan bagi orang-orang yang zhalim, yaitu orang-orang yang meletakkan sesuatu bukan pada tempatnya, sehingga mereka meninggalkan sesuatu yang wajib berupa hak Allah dan hak para hamba-Nya, serta melampaui (meninggalkan) sesuatu yang halal menuju sesuatu yang haram”. [Lihat Taisir Al-Karim Ar-Rahman (hal. 110)]

Di hari itulah seorang mukmin amat membutuhkan kebaikan dan pahala sedekahnya, sebab sedekah merupakan lambang qurbah (kedekatan) dan ta’abbbud (penghambaan diri) seorang manusia kepada Tuhannya.

Shadaqah adalah Perisai dari Neraka

Banyak orang diantara kita yang meremehkan sedekah yang ia keluarkan di jalan Allah -Azza wa Jalla-. Terkadang semangkok bakso yang kita sedekahkan, ternyata dapat menyelamatkan kita dari panasnya neraka.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

لِيَتَّقِ أَحَدُكُمْ وَجْهَهُ النَّارَ وَلَو بِشِقِّ تَمْرَةٍ

“Handaknya salah seorang diantara kalian melindungi wajahnya dari neraka, sekalipun dengan sebelah biji korma”. [HR. Ahmad dalam Al-Musnad (no. 3679 & 4265). Hadits ini di-shohih-kan oleh Al-Albaniy dalam Shohih At-Targhib (864)]     

 

Seember air yang kita sedekahkan kepada tetangga, sejengkal tanah yang kita sedekahkan untuk membangun masjid, perasan keringat dalam membantu kaum muslimin; semua itu jangan dianggap remeh, sebab balasannya akan berlipat ganda dengan syarat si pelaku harus ikhlas, bukan karena mau dipuji dan diperhatikan orang!!

Intinya sekecil apapun yang kita sedekahkan, maka sama sekali jangan diremehkan.

Shadaqah Penghapus Kesalahan

Setiap anak cucu adam, tidaklah lepas dari kesalahan, namun Allah yang Maha pemurah telah memberikan suatu sebab.

Ia dapat menghapuskan kesalahan-kesalahan yang akan menghancurkan dirinya dan akan menjerumuskannya ke dalam neraka.

Diantara sebab-sebab penghapus kesalahan adalah sedekah pada jalan-jalan kebaikan.

Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam– bersabda,

وَالصَّدَقَةُ تُطْفِئُ الخَطِيْئَةَ كَمَا يُطْفِئُ المَاءُ النَّارَ

“Shadaqah itu memadamkan (menghapuskan) kesalahan sebagaimana air memadamkan api” [HR. Ahmad dalam Al-Musnad (3/321) dan Abu Ya’laa (1999). Lihat Shohih At-Targhib (1/519)]

Al-Imam Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah –rahimahullah– berkata dalam membawakan sebagian ucapan para ulama yang menjelaskan keutamaan sedekah,

عدة الصابرين وذخيرة الشاكرين (ص: 254)

وفى الصدقة فوائد ومنافع لا يحصيها الا الله فمنها انها تقى مصارع السوء وتدفع البلاء حتى انها لتدفع عن الظالم.”

“Di dalam sedekah terdapat beberapa faedah dan manfaat; tak ada yang mampu menghitungnya, selain Allah. Diantaranya, sedekah akan melindungi (seseorang) dari berbagai macam keburukan dan menghalau bala’ sampai sedekah pun mampu melindungi (pelakunya) dari orang yang zhalim!!”. [Lihat Idah Ash-Shobirin wa Dzakhiroh Asy-Syakirin (hal. 393), tahqiq Salim Al-Hilaliy, cet. Dar Ibn Al-Jauziy]

Shadaqah Pelindung di Padang Mahsyar

Ketika manusia menanti keputusan di padang mahsyar dan sibuk dengan urusan masing-masing.

Manusia pada saat itu tidak peduli lagi dengan orang-orang yang ada di sekitar mereka.

Matahari didekatkan dengan jarak satu mil. Pada saat itulah seseorang sangat membutuhkan pahala shadaqah yang bisa menaungi mereka.

Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda,

كُلُّ امْرِئٍ فِي ظِلِّ صَدَقَتِهِ حَتَّى يُفْصَلَ بَيْنَ النَّاسِ

“Setiap orang berada dalam naungan shadaqahnya hingga diputuskan perkara di antara manusia”. [HR. Ahmad dalam Al-Musnad (no. 17333), Ibnu Hibban dalam Shohih-nya (no. 3310) dan lainnya. Hadits ini shohih sebagaimana yang dinyatakan oleh Al-Albaniy dalam Shohih At-Targhib wa At-Tarhib (872)]

Ketahuilah bahwa matahari akan Allah dekatkan dengan sedekat-dekatnya di padang mahsyar kelak.

Semua orang akan mandi keringat, kecuali orang-orang yang dilindungi oleh Allah dari sengatan matahari, karena suatu amalan istimewa yang pernah ia lakukan ketika di dunia. Amalan apakah itu?

Diantara amalan istimewa adalah sedekah kepada orang-orang yang kekurangan dan butuh uluran tangan.

Padang Mahsyar merupakan tempat pengadilan. Allah akan mengadili dan memutuskan segala urusan dan perkara setiap hamba-hamba-Nya, baik itu berkaitan dengan hak Rabb-nya, orang lain, ataupun dirinya sendiri.

Hari itu merupakan hari yang amat mengerikan dan menakutkan sehingga semua makhluk tunduk dan pasrah kepada Sang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

Allah Rabb alam semesta berfirman,

{يَوْمَ يَقُومُ الرُّوحُ وَالْمَلَائِكَةُ صَفًّا لَا يَتَكَلَّمُونَ إِلَّا مَنْ أَذِنَ لَهُ الرَّحْمَنُ وَقَالَ صَوَابًا } [النبأ: 38]

 “Pada hari, ketika ruh dan para malaikat berdiri bershaf-shaf, mereka tidak berkata-kata kecuali siapa yang telah diberi izin kepadanya oleh Tuhan Yang Maha Pemurah; dan ia mengucapkan kata yang benar”.(QS.An-Naba’: 38)

Semua orang hari itu akan menerima catatan kebaikan dan keburukannya dalam keadaan semuanya berlutut menghinakan diri di hadapan Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

Dia –Azza wa Jalla– menceritakan keadaan saat itu dalam firman-Nya,

وَتَرَى كُلَّ أُمَّةٍ جَاثِيَةً كُلُّ أُمَّةٍ تُدْعَى إِلَى كِتَابِهَا الْيَوْمَ تُجْزَوْنَ مَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

“Dan (pada hari itu) kamu lihat tiap-tiap umat berlutut. Tiap-tiap umat dipanggil untuk (melihat) buku catatan amalnya. Pada hari itu kamu diberi balasan terhadap apa yang telah kamu kerjakan”. (QS. Al-Jatsiyah: 28)

Ketika itulah para hamba menunggu dan mengharapkan perlindungan dan naungan dari Rabb-nya.

Diantara golongan yang mendapatkan naungan saat itu, orang yang ikhlas bershodaqoh.

Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- bersabda,

سَبْعَةٌ  يُظِلُّهُمُ اللهُ فِيْ ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ: الإِمَامُ العَادِلُ وَشَابٌّ نَشَأَ بِعِبَادَةِ اللهِ وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِيْ المَسَاجِدِ وَرَجُلَانِ تَحَابَّا فِيْ اللهِ اِجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ وَرَجُلٌ دَعَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ فَقَالَ إِنِّيْ أَخَافُ اللهَ وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا حَتَّى لَا تَعْلَمُ يَمِيْنُهُ مَا تُنْفِقُ شِمَالُهُ وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ

“Tujuh golongan yang akan dinaungi oleh Allah pada hari kiamat yang mana tidak ada naungan selain naungan Allah….seseorang yang bershadaqoh dengan suatu shadaqoh yang ia rahasiakan sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa-apa yang telah dishadaqohkan oleh tangan kanannya”. [HR. Al-Bukhariy dalam Shohih-nya (629), Muslim dalam Shohih-nya (1032)]

Al-Amir Ash-Shon’aniy –rahimahullah– berkata,

“فِيهِ حَثٌّ عَلَى الصَّدَقَةِ وَأَمَّا كَوْنُهُ فِي ظِلِّهَا فَيُحْتَمَلُ الْحَقِيقَةَ وَأَنَّهَا تَأْتِي أَعْيَانُ الصَّدَقَةِ فَتَدْفَعُ عَنْهُ حَرَّ الشَّمْسِ أَوْ الْمُرَادُ فِي كَنَفِهَا وَحِمَايَتِهَا.” اهـ من سبل السلام (4/ 60)

“Di dalam hadits ini terdapat anjuran untuk bersedekah. Adapun seseorang berada dalam naungan sedekahnya, maka mungkin maknanya berdasarkan hakikatnya dan bahwa harta sedekah itu akan datang, lalu harta itu menghalangi darinya terik matahari, atau yang dimaksudkan bahwa ia berada dalam penjagaan sedekahnya”. [Lihat Subul As-Salaam (4/60), dengan tahqiq Shubhi Hasan Hallaq, Dar Ibn Al-Jauziy, 1421 H]

Shadaqah Pemadam Panas di Alam Kubur

Tentunya seorang mukmin apabila dia mati, maka dia mendambakan kuburnya agar menjadi taman di antara taman-taman surga dan jauh dari panasnya api neraka.

Rasulullah yang sangat sayang kepada umatnya telah memberikan tuntunan yang bisa menyelamatkan umatnya dari panasnya api neraka yaitu bershadaqah.

Beliau –shollallohu alaihi wa sallam- bersabda,

إِنَّ الصَّدَقَةَ لَتُطْفِئُ عَنْ أَهْلِهَا حَرَّ القُبُوْرِ

“Sesungguhnya shadaqah akan memadamkan panasnya kubur bagi pemilik shadaqah”. [HR. Ath-Thobroniy dalam Al-Kabir (17/286/788) dan Al-Baihaqiy dalam Syu’abul Iman (no. 3078).

Syaikh Al-Albaniy meng-hasan-kan hadits ini dalam Ash-Shohihah (3484)]

Sedekah amat berharga bagi seseorang kelak di alam kuburnya. Karena, terkadang seseorang memiliki dosa di sisi Allah, dosa yang menyebabkan dirinya harus menerima siksaan berupa panasnya api neraka sebelum ia memasukinya.

Lantaran itu, seorang yang cerdik akan mempersiapkan pelindung dirinya dari sengatan panas yang ada di alam kubur dengan memperbanyak sedekah.

Kuburlah sifat kikir dan angan-angan panjang pada dirimu sebelum engkau dikuburkan dengan membawa penyesalan atas keteledoranmu dalam mengulurkan sedekah.

Shadaqah adalah Sebab Malaikat Mendoakan Seseorang

Sungguh suatu kemuliaan tersendiri bila seseorang dido’akan oleh makhluk yang dekat dengan Allah, yaitu para malaikat dan tentu do’a tersebut adalah do’a yang mustajab.

Dengan bershadaqahlah bisa menjadi sebab seseorang dido’akan oleh para malaikat.

Rasululullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda,

مَا مِنْ يَوْمٍ يُصْبِحُ العَبْدُ فِيْهِ إِلَّا مَلَكَانِ يَنْزِلَانِ فَيَقُوْلُ أَحَدُهُمَا: اللَّهُمَّ أَعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا وَ يَقُوْلُ الآخَرُ: اللَّهُمَّ أَعْطِ مُمْسِكًا تَلَفًا

“Tak ada suatu hari pun seorang hamba berada di dalamnya, kecuali ada dua orang malaikat akan turun; seorang diantaranya berdo’a, “Ya Allah berikanlah ganti bagi orang yang berinfaq”. Yang lainnya berdo’a, “Ya Allah, berikanlah kehancuran bagi orang yang menahan infaq”.”. [HR. Al-Bukhoriy dan Muslim ]

Al-Imam Abu Bakr Utsman bin Muhammad Ad-Dimyathiy Al-Bakriy –rahimahullah– berkata,

“ودعاء الملائكة مستجاب، ومن أمسك فلم يتلف ماله التلف الظاهر فهو تالف بالحقيقة، لقلة انتفاعه به في آخرته ودنياه، وذلك أعظم من التلف الذي هو ذهاب المال.” اهـ من إعانة الطالبين على حل ألفاظ فتح المعين (2/ 241)

“Doa para malaikat adalah terkabul. Barangsiapa yang menahan hartanya, lalu ia tidak menghabiskannya secara lahiriah, maka harta itu sebenarnya hancur, karena kurangnya ia mengambil manfaat dari harta itu dalam urusan akhirat dan dunianya. Perkara seperti itu lebih besar kehancurannya dibandingkan hancurnya harta yang berupa kehilangan harta” . [Lihat I’aanah Ath-Tholibin (2/241), Dar Al-Fikr, 1418 H]

Inilah beberapa buah petikan ayat dan hadits yang menjelaskan besarnya kedudukan sedekah di sisi Allah dan Rasulullah –Shallallahu alaihi wa sallam-.

Namun sayangnya kebiasaan bersedekah ini, sering dilalaikan oleh kebanyakan manusia di zaman ini, karena merebaknya penyakit bakhil dan kikir.

Semoga Allah menghilangkan penyakit berbahaya ini dari hati kita dan menggolongkan kita termasuk dalam barisan mutashoddiqiin (orang-orang yang gemar bersedekah) di jalan Allah.

Selesai diedit ulang, 27 Dzulhijjah 1439 H = 08 Agustus 2018 M, Studio Radio An-Nashihah 88.20 FM, jalan Baji Rupa, Makassar.

  • Sumber artikel: https://abufaizah75.blogspot.com

Tulisan lainnya

Meraih Pahala di Balik Rutinitas Harian

Jannatul-firdaus.net

Menyebar Ilmu Syar’i


default-logo

Jannatul-firdaus.net

Menyebar Ilmu Syar’i


default-logo

Bagikan…




Meraih Pahala di Balik Rutinitas Harian

  • Oleh: Ustadz Syafaat Al-Munawiy hafizhahullah
Pernahkah anda membayangkan bahwa sebagian orang diganjar dengan pahala karena rutinitas dunia yang ia tunaikan? Mungkin hal itu tidak terlintas di benak kebanyakan orang di antara kita. Padahal perkara seperti itu bisa saja terjadi dengan sebab kehadiran niat yang suci.

Niat memiliki kedudukan yang agung dan tempat yang mulia di dalam syariat Islam. Bagaimana tidak? Niat merupakan syarat setiap amalan yang syar’i (amalan ibadah). Niat menjadi sebab diterimanya suatu amalan ketaatan disertai dengan mencocoki Sunnah Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam-.

Ini telah ditegaskan oleh Nabi kita Muhammad -shallallahu ‘alaihi wasallam- di dalam sebuah hadits yang masyhur :

«إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى» متفق عليه

Setiap amalan itu tergantung pada niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan balasan sesuai yang dia niatkan. [HR. Al-Bukhoriy (no. 1) dan Muslim (no. 1907)]

Syaikh Abdul Karim bin Abdillah Al-Khudhoir -hafizhahullah- berkata,

“Niat itu adalah syarat untuk benarnya (sahnya) setiap amalan yang syar’iy.  Dia adalah sumber diterimanya amalan disertai dengan mengikuti Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- dan mencocoki Sunnah. [Lihat Irsyadul Akhyar ‘Ilaa Syarhi Jawami’il Akhbar (hlm. 19)]

Tahukah anda bahwa ternyata niat juga memiliki pengaruh yang amat besar dan dapat membuahkan kesudahan yang baik pada aktivitas duniawi dan rutinitas harian kita (seperti makan, minum tidur, dan lain sebagainya)?

Aktivitas duniawi dan rutinitas harian ini pada asalnya bukan amalan ibadah. Namun, ia bisa bernilai ibadah dan berbuah pahala bagi pelakunya.

Lihat saja -misalnya- beberapa perbuatan dan aktivitas, seperti makan, minum,  tidur,  mandi, mencari rezeki dan yang semisalnya di antara amalan-amalan dan rutinitas duniawi. Semuanya bisa menjadi sumber pahala dan keutamaan bagi seseorang pengaruh niat yang mengiringinya.

Lalu bagaimana hal itu bisa terjadi? Sebuah pertanyaan penting yang harus kita terangkan bahwa seorang hamba ketika melakukan amalan dan rutinitas harian tersebut, ia meniatkan untuk mendekatkan dirinya kepada Allah -azza wa jalla-.

Ketika dia makan dan minum,  dia niatkan untuk mendapatkan kekuatan dalam beribadah,  dan dia tidur dengan niat agar bisa bangun shalat malam atau mengerjakan shalat subuh pada waktunya. Dia berolah raga dengan niat agar kuat dalam berjihad dan berdakwah. Dia mencari uang untuk menghidupi dan menafkahi keluarganya, dan agar dapat bersedekah dan berinfak dengan uang hasil kerjanya.

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’diy rahimahullahu- berkata,

“وكذلك تجري النية في المباحات والأمور الدنيوية. فإن من قصد بكسبه وأعماله الدنيوية والعادية الاستعانة بذلك على القيام بحق الله وقيامه بالواجبات والمستحبات، واستصحب هذه النية الصالحة في أكله وشربه ونومه وراحاته ومكاسبه: انقلبت عاداته عبادات، وبارك الله للعبد في أعماله، وفتح له من أبواب الخير والرزق أموراً لا يحتسبها ولا تخطر له على بال.

ومن فاتته هذه النية الصالحة لجهله أو تهاونه فلا يلومن إلا نفسه.” اهـ من بهجة قلوب الأبرار وقرة عيون الأخيار (ص: 12)

“Demikian pula niat itu berlaku pada amalan-amalan yang mubah dan perkara-perkara duniawiKarena, barang siapa yang meniatkan di dalam mencari harta serta amalan-amalan dunia dan kebiasaannya untuk menolong dirinya menunaikan hak Allah ta’ala dan menegakkan amalan-amalan yang wajib dan yang sunnah, lalu dia menyertakan niat yang baik ini pada makan, minum, tidur, istrahatnya, dan usaha-usahanya (dalam mencari rezeki), maka rutinitas-rutinitas ini akan berubah menjadi ibadah, dan Allah -azza wa jalla- akan memberi berkah kepada si hamba ini dalam amalannya, serta akan membukakan untuknya pintu-pintu kebaikan dan pintu-pintu rezeki (yang merupakan) perkara-perkara yang tidak pernah dia sangka dan tidak pernah terbetik dalam ingatannya.

 

Siapa saja yang luput darinya niat yang baik ini, karena kebodohannya atau peremehannya, maka janganlah dia mencela, kecuali dirinya sendiri.” [Lihat Bahjatu Qulubil Abrar  (hlm.12)]

Di dalam hadits di atas, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Setiap orang akan mendapatkan balasan sesuai yang dia niatkan.”

 

Syaikh Muhammad bin Abdillah bin Abdil Lathif Al-Jardaniy Ad-Dimyatiy Asy-Syafi’iy –rahimahullahu– berkata saat menerangkan potongan hadits tersebut,

“Sesungguhnya sabda Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- ini memberikan faedah bahwasanya amalan-amalan kebiasaan (rutinitas harian) akan menjadi amalan ketaatan, yang pelakunya akan diberi pahala apabila dia meniatkannya untuk mendekatkan dirinya kepada Allah -ta’ala-, seperti makan dan minum jika dia meniatkan untuk menguatkan dirinya dalam beribadah; tidur dia memaksudkan untuk istrahat agar terbangun menunaikan shalat subuh;  mendatangi istri (karena) dia inginkan menjaga kehormatan dari perbuatan zina dan untuk memperoleh keturunan; membersihkan diri untuk menolak bau yang akan mengganggu orang lain;  memberi infaq kepada istri, budak,  dan hewan ternak, sedang dia maksudkan untuk mengerjakan perintah syariat.” [Lihat AlJawahir Al-Lu’luiyyah fi Syarh AlArba’in AnNawawiyyah (hlm. 103-104)]

Dari sini, tampak jelas bahwa sepantasnyalah seseorang untuk selalu menghadirkan niat yang baik di dalam mengerjakan amalan-amalan dunia dan rutinitas harian agar berbuah pahala dan keutamaan baginya.

Wallahu a’lam

 

✍Ditulis di Ma’had Al-Ihsan Gowa,  tanggal 6 Robi’ul Akhir 1443 H, bertepatan dengan 9 Januari 2022 M.

————————-

Selesai diedit oleh Ustadz Abdul Qodir Abu Fa’izah Al-Bugisiy –hafizhahullah- pada hari Kamis, 9 Jumadal Akhiroh 1443 H.

[1] Ma’had Subulus Salam adalah sebuah pondok pesantren yang dirintis oleh Ustadz Fadhly Abu Harun Al-Makassariy –hafizhahullah-. Ma’had ini pada awal perintisannya bernama “Ma’had As-Sunnah Samaya”. Namun, karena sesuatu dan lain hal, namanya berubah menjadi Ma’had Subulus Salam yang berada di Dusun Samaya, Desa, Romangloe, Kecamatan Bontomarannu, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan 92171.

Alamatnya dapat anda kunjungi via link Google Maps berikut ini : https://goo.gl/maps/EenBACcq14PshTRHA

Tulisan lainnya

Nikmat yang Teragung

Jannatul-firdaus.net

Menyebar Ilmu Syar’i



Jannatul-firdaus.net

Menyebar Ilmu Syar’i



Bagikan…

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram



Nikmat yang Teragung

  • Oleh : Ustadz Dzulqarnain Muhammad Sunusi hafizhahullah
  • (Pembina Peduli Dakwah)

Allah Subhânahu wa Ta’âlâ berfirman,

يُنَزِّلُ الْمَلَائِكَةَ بِالرُّوحِ مِنْ أَمْرِهِ عَلَى مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ أَنْ أَنْذِرُوا أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاتَّقُونِ

 

“Dia menurunkan para malaikat dengan (membawa) wahyu dengan perintah-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya, yaitu, ‘Hendaknya kalian memperingatkan, bahwasanya tidak ada Ilâh (sembahan) yang berhak diibadahi kecuali Aku, maka hendaklah kalian bertakwa kepada-Ku.’.” [An-Nahl: 2]

Ayat di atas berada dalam Surah An-Nahl yang dikenal juga dengan nama surah An-Ni’am (penyebutan nikmak-nikmat Allah). Siapa yang ingin merenungi dan mensyukuri nikmat-nikmat Allah, cermatilah surah yang agung ini. Nikmat yang paling pertama disebut dalam Surah An-Nahl adalah ayat di atas yang menjelaskan nikmat diutusnya para rasul dengan membawa tauhid. Namun, banyak manusia tidak mengetahui bahwa mentauhidkan Allah dalam ibadah adalah nikmat Allah yang paling besar untuk seorang hamba.

Sungguh dalam memurnikan ibadah kepada Allah terdapat kebebasan bagi hamba dari perbudakan kepada dirinya sendiri dan kepada syaithan. Dengan tauhid, seorang hamba terbebas dari ketergantungan dan mengharap kepada makhluk, terhindar dari rasa takut dan beramal karena manusia. Seorang yang bertauhid hanya bergantung kepada Allah, takut dan mengharap hanya kepada-Nya. Inilah hakikat kebahagian yang abadi dan kemuliaan yang sejati.

Sebagian dari Ulama Salaf bertutur, “Siapa yang menghendaki kebahagian hakiki, hendaknya dia menetapi tiang peribadatan.”

Kebahagian hidup dengan tauhid ini adalah suatu nikmat Allah yang banyak dilalaikan oleh manusia. Nabi Yusuf ‘alaihissalam mengingatkan,

“Dan aku mengikuti agama bapak-bapakku, yaitu Ibrahim, Ishaq, dan Ya’qub.Tiadalah kami (para Nabi) patut mempersekutukan sesuatu apapun dengan Allah. Yang demikian itu adalah dari karunia Allah kepada kami dan kepada manusia (seluruhnya); tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur (kepada-Nya).” [Yûsuf: 38]

www.dzulqarnain.net

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Tulisan lainnya

Makan dan Minumlah dengan Penuh Kesejukan Lantaran Puasamu di Dunia

Jannatul-firdaus.net

Menyebar Ilmu Syar’i



Jannatul-firdaus.net

Menyebar Ilmu Syar’i



Bagikan…

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram



Makan dan Minumlah dengan Penuh Kesejukan Lantaran Puasamu di Dunia

  • Oleh : Ustadz Dzulqarnain Muhammad Sunusi hafizhahullah
  • (Pembina Peduli Dakwah)

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

كُلُوا وَاشْرَبُوا هَنِيئًا بِمَا أَسْلَفْتُمْ فِي الْأَيَّامِ الْخَالِيَةِ.

“(Dikatakan kepada penduduk surga), ‘Makan dan minumlah dengan penuh kesejukan disebabkan oleh amalan yang telah kalian kerjakan pada hari-hari yang telah berlalu.’.” [Al-Haqqah: 24]

Kebanyakan ahli tafsir menyebutkan bahwa “amalan yang telah kalian kerjakan pada hari yang telah berlalu” mencakup seluruh amalan shalih. Akan tetapi, datang dalam penafsiran Mujâhid bahwa “hari-hari yang telah berlalu” adalah hari-hari puasa. [Fathul Qadir 5/340]

Tidaklah diragukan bahwa puasa tergolong ke dalam amalan-amalan yang membuat seorang hamba dimuliakan kelak di surga dengan kesejukan dan kepuasan dalam makan dan minum.

Wajarlah seseorang, yang menahan lapar dan dahaganya di dunia karena Allah, mendapat balasan yang semisal di akhirat karena kaidah al-jazâ` min jinsil ‘amal ‘balasan itu adalah dari jenis amalannya’.

Warna-warna ibadah di kehidupan dunia itulah yang menghiasi harapan para Salaf untuk kehidupan akhirat mereka.

Abu Dardâ` radhiyallâhu ‘anhu berkata, “Berpuasalah pada hari yang sangat panas guna (menghadapi) hari kebangkitan, kerjakanlah shalat dua rakaat di kegelapan malam untuk (menghadapi) kegelapan kubur.”

Berpuasalah untuk suatu hari yang berdiri di bawah terik matahari pada suatu hari yang semisal dengan lima puluh tahun.

Lakukanlah shalat malam untuk lama penantian dan hisab pada hari Kiamat.

Bersedekahlah untuk kemudahan pada hari yang penuh prahara.

Setiap amalan shalih adalah untuk kebaikan hamba itu sendiri pada hari kiamat.

Wallâhu A’lam.

www.dzulqarnain.net

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Tulisan lainnya

Imam Menambah Satu Rakaat, Apa Sikap Makmum?

Jannatul-firdaus.net

Menyebar Ilmu Syar’i



Jannatul-firdaus.net

Menyebar Ilmu Syar’i



Bagikan…

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram



Imam Menambah Satu Rakaat, Apa Sikap Makmum?

  • Oleh: Al-Ustadz Abdul Qodir Abu Fa’izah –hafizhahullah

Jika di suatu masjid imam –misalnya- sholat Ashar, mestinya 4 rakaat. Tapi karena lupa. Akhirnya, sholat Ashar-nya berubah jadi 5 rakaat.

Nah apa sikap makmum yang benar, setelah imam masuk  ke rakaat berikutnya dan ia yakin dengan sikapnya. Padahal ia sudah diingatkan dengan ucapan “subhanalloh“?

Pertanyaan ini pernah ditanyakan kepada lembaga Al-Lajnah Ad-Da’imah yang di dalamnya berkumpul para ulama besar :

س5: إذا سهى الإمام فنبهه أحد المأمومين أو اثنان أو أكثر، ولم يستجب لهم؛ معتقدا أنه لم يسهو، فكيف يصنع المأموم والحالة هذه؟ وهل يجب على الإمام أن يسجد للسهو مع تيقنه بتمام صلاته.

“Jika imam lupa, lalu ia diingatkan oleh seorang makmum, 2 atau lebih makmum. Namun imam tidak menyambut peringatan mereka dengan meyakini bahwa ia (imam) tidak lupa. Nah, apa yang dilakukan oleh makmum, sedang kondisinya seperti ini? Apakah imam wajib sujud sahwi, seiiring ia yakin akan kesempurnaan sholatnya?”

 

Para ulama yang tergabung dalam Al-Lajnah Ad-Da’imah memberikan fatwa bersama :

ج5: إذا تيقن الإمام صواب نفسه فليس عليه سجود سهو ولا يجوز له الرجوع إلى قول من سبح به لاعتقاده خطأهم.

وأما المأموم الذي تيقن أن الإمام زاد ركعة – مثلا- فلا يجوز له أن يتابعه عليها، وإذا تابعه عالما بالزيادة، وعالما بأنه لا تجوز المتابعة بطلت صلاته.

أما من لم يعلم أنها زائدة فإنه يتابعه، وكذلك من لا يعلم الحكم.

“Jika imam yakin kebenaran dirinya, maka tidak kewajiban sujud sahwi bagi dirinya, dan tidak boleh baginya untuk merujuk kepada pendapat orang yang men-tasbih-nya, karena si imam ini yakin mereka salah.

 

Adapun makmum yang merasa yakin bahwa imam menambah satu rakaat –misalnya-, maka tidak boleh baginya untuk mengikuti imam dalam hal itu. Jika ia (makmum) mengikutinya dalam kondisi ia (makmum) tahu adanya tambahan rakaat itu, dan ia juga tahu bahwa tidak boleh mengikutinya (dalam kesalahan tersebut), maka sholat makmum itu batal.

Adapun jika ia (makmum tidak mengetahui bahwa satu rakaat tersebut adalah tambahan (kelebihan), maka ia mengikuti imam. Demikian pula halnya orang yang tidak tahu hukumnya.”

 

Sumber Fatwa : Fatawa Al-Lajnah Ad-Da’imah li Al-Buhuts Al-Ilmiyyah wa Al-Ifta’ (7/128)

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Tulisan lainnya

Memperbanyak Dzikir dan Takbir di Hari Raya Idul Adh-ha dan Tiga Hari Tasyriq (Diiringi dengan Penjelasan tentang Hukum Takbir setelah Sholat)

Jannatul-firdaus.net

Menyebar Ilmu Syar’i



Jannatul-firdaus.net

Menyebar Ilmu Syar’i



Bagikan…

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram



Memperbanyak Dzikir dan Takbir di Hari Raya Idul Adh-ha dan Tiga Hari Tasyriq (Diiringi dengan Penjelasan tentang Hukum Takbir setelah Sholat)

  • Oleh: Al-Ustadz Abdul Qodir Abu Fa’izah –hafizhahullah

Dzikir dan Takbir amat dianjurkan pada hari-hari utama dari 10 hari pertama Bulan Dzulhijjah, terlebih lagi pada Hari Raya Idul Adh-ha dan tiga hari setelahnya yang kita kenal dengan “Hari-hari Tasyriq”, sebab kita diperintahkan memperbanyak takbir padanya.

Dzikir yang dianjurkan pada 10 hari pertama Bulan Dzulhijjah ada dua macamnya:

Pertama : Dzikir Muthlaq

Dzikir muthlaq adalah dzikir yang tidak terikat dengan dzikir tertentu dan waktu tertentu. Dzikir ini mencakup semua jenis dzikir, seperti bertasbih, ber-tahlil, bertakbir, bertahmid, dan lainnya.

Jenis dzikir inilah yang diperintahkan oleh Allah -Tabaroka wa Ta’ala- dan Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- di dalam Kitabullah dan Sunnah yang shohihah.

Allah –Azza wa Jalla– berfirman,

وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ عَلَى مَا رَزَقَهُمْ مِنْ بَهِيمَةِ الْأَنْعَامِ فَكُلُوا مِنْهَا وَأَطْعِمُوا الْبَائِسَ الْفَقِيرَ  [الحج/28]

“Supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah (berdzikir) pada hari yang telah diketahui atas rezki yang Allah telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak. Maka makanlah sebahagian daripadanya dan (sebahagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara dan fakir.”

Hari-hari yang diketahui –dalam ayat ini- adalah 10 hari pertama Bulan Dzulhijjah sebagaimana yang dijelaskan oleh sahabat Ibnu Umar, Ibnu Abbas, Al-Hasan Al-Bashriy, Atho’ bin Abi Robah, Ikrimah, Mujahid bin Jabr, Qotadah bin Di’amah As-Sadusiy, Al-Imam Asy-Syafi’iy –rahimahumullah ajma’in-. [Lihat Zadul Masir (5/425) oleh Ibnul Jauziy, cet. Al-Maktab Al-Islamiy, 1405 H]

Nabi –Shallallahu alaihi wa sallam– dalam sebuah sabdanya,

مَا مِنْ أَيَّامٍ أَعْظَمُ عِنْدَ اللهِ، وَلَا أَحَبُّ إِلَيْهِ مِنَ الْعَمَلِ فِيهِنَّ مِنْ هَذِهِ الْأَيَّامِ الْعَشْرِ، فَأَكْثِرُوا فِيهِنَّ مِنَ التَّهْلِيلِ ، وَالتَّكْبِيرِ، وَالتَّحْمِيدِ

“Tidak ada hari- hari yang lebih agung di sisi Allah dan tidak pula lebih dicintai oleh Allah untuk beramal di dalamnya dibandingkan 10 hari ini (yakni, 10 hari pertama Dzulhijjah). Karenanya, perbanyaklah di dalamnya bertahlil, bertakbir, dan bertahmid.” [HR. Ahmad dalam Al-Musnad (2/75), Al-Baihaqiy dalam Syu’abul Iman (3750), Abd bin Humaid dalam Al-Muntakhob (no. 807), dan lainnya. Hadits ini dinilai shohih oleh Syu’aib Al-Arna’uth dalam Takhrij Al-Musnad (no. 5446)]

Pada 10 hari pertama inilah kita dianjurkan memperbanyak dzikir kepada Allah dengan berbagai macam jenisnya, baik itu bertasbih, bertahmid, bertakbir, bertahlil, atau yang lainnya.

Dzikir muthlaq ini dianjurkan dilakukan kapan saja, baik di 10 hari pertama Bulan Dzulhijjah ataukah pada waktu-waktu lainnya.

Pertama : Dzikir Muqoyyad

Dzikir Muqoyyad adalah dzikir yang terikat dengan jenis, bilangan, atau tempat.

Dzikir Muqoyyad (terbatas) dalam pembahasan ini adalah dzikir berupa ucapan takbir yang terbatas waktunya dari Hari Arofah (9 Dzulhijjah) sampai hari terakhir dari hari-hari Tasyriq (tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijjah).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah –rahimahullah– berkata,

الحمدُ للهِ، أصحُّ الأقوال في التًكْبيرِ، الذي عليه جمهورُ السّلَف والفُقَهاء من الصحابة والأئمة: أن يُكَبِّر من فجر يوم عرفة، إلى آخر أيام التشريق، عَقِبَ كل صلاة، وُيشْرَعُ لكل أحد أن يجهر بالتكبير عند الخروج إلى العيد، وهذا باتفاقِ الأئمةِ الأربعةِ (مجموع الفتاوي” (24/ 220))

“Segala puji bagi Allah. Pendapat yang paling benar dalam hal takbir (pada Hari Raya Idul Adh-ha, pen.), pendapat yang dipijaki oleh mayoritas salaf dan para fuqoha’ (ahli fiqih) dari kalangan para sahabat dan para imam adalah seseorang bertakbir sejak subuh Hari Arofah sampai hari terakhir dari hari-hari Tasyriq pada setiap kali sholat, dan disyariatkan bagi setiap orang untuk mengeraskan takbirnya saat ke luar menuju sholat id (baik pada Idul Fithri atau pun Idul Adh-ha, pen.). Ini berdasarkan kesepakatan para imam yang empat (Imam Abu Hanifah, Malik, Asy-Syafi’iy, dan Ahmad bin Hambal).” [Lihat Majmu’ Al-Fatawa (24/220)]

Kalimat bergaris dari ucapan Syaikhul Islam -rahimahullah- jangan dipahami takbir pada hari-hari tersebut hanya terbatas seusai melaksanakan sholat, bahkan mencakup semua waktu, baik seusai sholat, di rumah, di kantor, di atas kendaraan, di atas pesawat, di atas pohon, atau dimana saja, sebagaimana akan datang atsar dalam hal itu, insya Allah.

Para pembaca yang budiman, apa yang dijelaskan oleh Syaikhul Islam -rahimahullah- bahwa dzikir takbir dimulai dari Arofah sampai selesai hari-hari Tasyriq merupakan pernyataan yang benar dan sesuai dengan atsar dari para sahabat.

Abu Abdir Rahman As-Sulamiy –rahimahullah– berkata,

كان يكبر بعد صلاة الفجر يوم عرفة إلى صلاة العصر من آخر أيام التشريق ويكبر بعد العصر

“Dahulu beliau (Ali bin Abi Tholib -radhiyallahu anhu-) bertakbir setelah Sholat Fajar pada Hari Arofah sampai Sholat Ashar pada hari terakhir dari hari-hari Tasyriq, dan beliau bertakbir setelah Ashar.” [HR. Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushonnaf (no. 5631). Hadits ini dinyatakan sanadnya jayyid oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Al-Irwa’ (3/125)]

Takbir pada hari-hari Tasyriq bukan hanya dilakukan oleh orang yang tidak berhaji, bahkan jamaah haji pun dianjurkan bertakbir pada hari-hari itu.

Al-Imam Abu Yahya Zakariyya bin Muhammad Al-Anshoriy Al-Mihsriy -rahimahullah- berkata,

والصحيح عند الشافعية: أن الحاج يكبر من ظهر يوم النحر، وغيره، ومن صبح عرفة إلى عقب عصر أيام التشريق، وعليه العمل كما قاله النووي، قال في “الروضة”: وهو الأظهر عند المحققين

“Pendapat yang benar di sisi Madzhab Syafi’iyyah bahwa orang yang berhaji melakukan takbir pada waktu Zhuhur di Hari Qurban dan selainnya, sejak subuh hari Arofah sampai setelah Ashar dari hari-hari Tsayriq. Inilah yang diamalkan, sebagaimana yang dikatakan oleh An-Nawawiy. Beliau berkata dalam kitab Ar-Roudhoh, ‘Itulah pendapat yang terkuat.” [Lihat Minhah Al-Bari (3/44) oleh Zakariyya Al-Anshoriy]

Bertakbir pada Hari Raya Idul Adh-ha dan di hari-hari Tasyriq merupakan perkara yang diperintahkan, sebagaimana halnya bertakbir di Hari Idul Fithri sampai imam datang ke lapangan pada hari itu untuk memimpin sholat Idul Fitri.

Allah –Azza wa Jalla– berfirman,

وَاذْكُرُوا اللَّهَ فِي أَيَّامٍ مَعْدُودَاتٍ فَمَنْ تَعَجَّلَ فِي يَوْمَيْنِ فَلَا إِثْمَ عَلَيْهِ وَمَنْ تَأَخَّرَ فَلَا إِثْمَ عَلَيْهِ لِمَنِ اتَّقَى وَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْلَمُوا أَنَّكُمْ إِلَيْهِ تُحْشَرُونَ (203) [سورة البقرة (2) : آية 203]

“Dan berdzikirlah (dengan menyebut) Allah dalam beberapa hari yang berbilang. barangsiapa yang ingin cepat berangkat (dari Mina) sesudah dua hari, Maka tiada dosa baginya. dan barangsiapa yang ingin menangguhkan (keberangkatannya dari dua hari itu), Maka tidak ada dosa pula baginya[129], bagi orang yang bertakwa. dan bertakwalah kepada Allah, dan Ketahuilah, bahwa kamu akan dikumpulkan kepada-Nya.” (QS. Al-Baqoroh : 203)

 

Al-Imam Abu Ja’far Muhammad bin Jarir Ath-Thobariy –rahimahullah– berkata saat membawakan menafsirkan ayat ini dan membawakan sejumlah atsar yang menguatkan pernyataan beliau,

أمر عباده يومئذ بالتكبير أدبارَ الصلوات، وعند الرمي مع كل حصاة من حَصى الجمار يرمي بها جَمرةً من الجمار…وإنما قلنا: إنّ”الأيام المعدودات”، هي أيام منى وأيام رمي الجمار لتظاهر الأخبار عن رسول الله صلى الله عليه وسلم أنه كان يقول فيها: إنها أيام ذكر الله عز وجل.

“Dia (Allah -Azza wa Jalla-) memerintahkan para hamba-Nya pada hari itu untuk bertakbir di belakang sholat-sholat, dan saat melempar bersama setiap lemparan orang yang melempar jumroh (yakni, jamaah haji), yang ia gunakan melempar jumroh dari jumroh-jumroh yang ada…

Hanyalah kami katakan bahwa “hari-hari yang berbilang”  bahwa ia adalah hari-hari Mina dan hari-hari melempar jumroh (yakni, hari-hari Tasyriq) karena tersebarnya hadits-hadits dari Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- bahwa beliau bersabda tentang hari-hari itu adalah hari-hari berdzikir kepada Allah -Azza wa Jalla-.” [Lihat Jami’ Al-Bayan (4/208 & 211)]

Hari Idul Adh-ha dan tiga hari Tasyriq merupakan hari-hari bergembira di dalamnya kaum muslimin menikmatan hewan qurban dan minuman yang halal, serta  memperbanyak mengingat Allah (berdzikir) di dalamnya.

Rasulullah –Shallallahu alaihi wa sallam– bersabda,

« أَيَّامُ التَّشْرِيقِ أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ وَذِكْرٍ لِلَّهِ ».

“Hari-hari Tasyriq adalah hari-hari makan, minum, dan berdzikir kepada Allah.” [HR. Muslim dalam Shohih-nya (no. 1141) dan Ahmad dalam Al-Musnad (5/75) dari Nubaisyah –radhiyallahu anhu-]

Dalam rangka mengingatkan manusia agar jangan lalai di hari-hari Tasyriq, sahabat yang mulia Umar –radhiyallahu anhu– mengeraskan suaranya dalam bertakbir saat beliau berhaji di Mina. Saking kerasnya suara beliau, sampai orang-orang yang ada di masjid Mina mendengarkan suara takbir beliau, bahkan orang-orang yang ada di pasar musiman di Mina juga mendengarkan suara beliau. Akhirnya, mereka semua bertakbir sebagaimana Umar –radhiyallahu anhu– bertakbir.

Ubaid bin Umair Al-Laitsiy Al-Junda’iy –rahimahullah– berkata,

وَكَانَ عُمَرُ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ يُكَبِّرُ فِي قُبَّتِهِ بِمِنًى فَيَسْمَعُهُ أَهْلُ الْمَسْجِدِ فَيُكَبِّرُونَ وَيُكَبِّرُ أَهْلُ الْأَسْوَاقِ حَتَّى تَرْتَجَّ مِنًى تَكْبِيرًا

“Dahulu Umar -radhiyallahu anhu- bertakbir di kemahnya di Mina. Orang-orang di masjid mendengar beliau, lalu mereka pun bertakbir dan bertakbir pula orang-orang di pasar sampai Mina bergetar (bergemuruh) dengan suara takbir.” [HR. Al-Bukhoriy dalam Shohih-nya (1/441) secara mu’allaq, Al-Baihaqiy dalam As-Sunan Al-Kubro (3/321)]

Sirojuddin Abu Hafsh Ibnul Mulaqqin Al-Mishriy –rahimahullah– berkata,

وهذا منه على وجه التذكير للناس على ذكره لما روي أنه – صلى الله عليه وسلم – قَالَ: “أيام مني أيام أكل وشرب وذكر الله” وخاف الغفلة على الناس عن ذكر الله تعالى، وقد قَالَ ابن حبيب: ينبغي لأهل منى أن يكبروا أوَّل النهار، وإذا ارتفع، ثم إذا زالت الشمس، ثم بالعشي. وكذا فعل عمر رضي الله عنه

“Ini adalah (perbuatan) dari beliau (Umar) dalam rangka mengingatkan manusia dalam berdzikir kepada Allah berdasarkan hadits yang diriwayatkan bahwa Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda,

“Hari-hari Mina adalah hari-hari makan, minum, dan berdzikir kepada Allah.”

Beliau mengkhawatirkan kelalaian pada manusia dari berdzikir kepada Allah -Ta’ala-.

 

Sungguh Ibnu Habib pernah berkata, ‘Sepantasnya bagi orang-orang yang ada di Mina (yakni, para jamaah haji) untuk bertakbir di awal siang, saat matahari meninggi, lalu saat matahari tergelincir, lalu di sore hari hari. Demikianlah yang dilakukan oleh Umar -radhiyallahu anhu-‘.” [Lihat At-Taudhih li Syarh Al-Jami’ Ash-Shohih (8/117)]

Al-Imam Al-Bukhoriy –rahimahullah– meriwayatkan secara mu’allaq dengan shighoh jazm dalam Shohih-nya (1/441) dari Ibnu Umar dan Maimunah (Ummaul Mukminin) –radhiyallahu anhuma- :

وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ يُكَبِّرُ بِمِنًى تِلْكَ الْأَيَّامَ وَخَلْفَ الصَّلَوَاتِ وَعَلَى فِرَاشِهِ وَفِي فُسْطَاطِهِ وَمَجْلِسِهِ وَمَمْشَاهُ تِلْكَ الْأَيَّامَ جَمِيعًا

وَكَانَتْ مَيْمُونَةُ تُكَبِّرُ يَوْمَ النَّحْرِ وَكُنَّ (وَكَانَ) النِّسَاءُ يُكَبِّرْنَ خَلْفَ أَبَانَ بْنِ عُثْمَانَ وَعُمَرَ بْنِ عَبْدِ الْعَزِيزِ لَيَالِيَ التَّشْرِيقِ مَعَ الرِّجَالِ فِي الْمَسْجِدِ

“Dahulu Ibnu Umar bertakbir di Mina pada hari-hari itu (yakni, hari-hari Tasyriq), di belakang sholat-sholat, di atas tempat tidur beliau, di dalam kemahnya, di tempat duduknya dan pada saat berjalannya beliau pada hari-hari itu seluruhnya.

Dahulu Maimunah bertakbir pada hari Qurban dan para wanita bertakbir di belakang Aban bin Utsman dan Umar bin Abdil Aziz pada hari-hari Tasyriq bersama kaum laki-laki di masjid.”

 

Takbir yang dilakukan oleh para salaf tersebut dilakukan oleh setiap orang tanpa berjamaah dan dilakukan pada semua keadaan, termasuk seusai sholat.

Al-Imam Ahmad bin Muhammad Al-Qosthilaniy –rahimahullah– berkata saat mengomentari atsar-atsar ini,

فهذه الآثار قد اشتملت على وجود التّكبير في تلك الأيام عقب الصلوات وغيرها من الأحوال،

“Sungguh atsar-atsar ini  mengandung adanya takbir pada hari-hari itu di akhir sholat-sholat, dan kondisi-kondisi lainnya.” [Lihat Irsyad As-Sariy (2/218)]

Para pembaca yang budiman, jenis-jenis dzikir yang kami jelaskan di atas, pernah disebutkan oleh Al-Imam Ibnu Rajab Al-Hambaliy Al-Baghdadiy –rahimahullah– saat beliau berkata,

وذكر الله في هذه الأيام نوعان :

أحدهما : مقيد عقيب الصلوات_والثاني : مطلق في سائر الأوقات . فأما النوع الأول :

فاتفق العلماء على أنه يشرع التكبير عقيب الصلوات في هذه الأيام في الجملة ، وليس فيهِ حديث مرفوع صحيح ، بل إنما فيهِ آثار عن الصحابة ومن بعدهم ، وعمل المسلمين عليهِ .

“Dzikir kepada Allah di hari-hari ini (yakni, 10 hari pertama Dzulhijjah dan 3 Hari Tasyriq, pen.) ada dua jenisnya :

Pertama : Dzikir Muqoyyad setelah sholat-sholat. Kedua : Dzikir Muthlaq dalam semua waktu. Adapun jenis pertama, maka para ulama sepakat  bahwa disyariatkan takbir setelah sholat di hari-hari ini secara global. Di dalamnya tidak terdapat hadits marfu’ yang shohih. Bahkan di dalamnya ada atsar-atsar dari para sahabat dan orang-orang (ulama) setelahnya serta amaliah kaum muslimin di atasnya.” [Lihat Fath Al-Bari (6/123-124) karya Ibnu Rajab, dengan tahqiq Abu Mu’adz Thoriq bin Awadhillah, cet. Dar Ibnil Jauzi, 1422 H] 

 

Para pembaca yang budiman, apa yang kami paparkan dalam tulisan ini, bukanlah pendapat kami semata, bahkan ia merupakan keterangan yang disampaikan oleh para ulama.

Agar hati kita tenang dalam mengamalkannya, maka ada baiknya kami iringi dengan sejumlah fatwa dari para ulama ternama di zaman ini. Berikut fatwa-fatwa mereka :

 

Fatwa Resmi Al-Lajnah Ad-Da’imah li Al-Buhuts Al-Ilmiyyah wa Al-Ifta’

Seorang penanya pernah mengajukan sebuah pertanyaan kepada kumpulan ulama dalam Al-Lajnah Ad-Da’imah :

أسمع بعض الناس في أيام التشريق يكبرون بعد كل صلاة حتى عصر اليوم الثالث، هل هم على صواب أم لا؟

“Saya mendengar masyarakat pada hari tasyriq bertakbir setiap selesai shalat hingga shalat ashar pada hari ketiga, apakah mereka benar atau tidak?”

Al-Lajnah Ad-Da’imah yang saat itu diketuai oleh Syaikh Abdul Aziz bin Baaz rahimahullah– dengan beranggotakan Syaikh Abdur Rozzaq Afifi dan Syaikh Abdullah bin Ghudayyan, memberikan jawaban bersama kepada si penanya tersebut :

ج: يشرع في عيد الأضحى التكبير المطلق، والمقيد، فالتكبير المطلق في جميع الأوقات من أول دخول شهر ذي الحجة إلى آخر أيام التشريق. وأما التكبير المقيد فيكون في أدبار الصلوات المفروضة من صلاة الصبح يوم عرفة إلى صلاة العصر من آخر أيام التشريق، وقد دل على مشروعية ذلك الإجماع، وفعل الصحابة رضي الله عنهم.

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم.

“Disyariatkan bertakbir secara muthlak dan muqayyad pada Idul Adha. Takbir muthlaq dilaksanakan setiap saat dari mulai masuknya bulan Dzulhijjah hingga berakhirnya hari Tasyriq.

Adapun takbir muqayyad itu dilaksanakan setiap selesai shalat fardhu, dimulai pada shalat shubuh hari Arafah hingga shalat Ashar pada hari terakhir tasyriq. Pensyariatan ini didasari oleh Ijma’ (kesepakatan) dan perbuatan sahabat -radhiyallahu anhum-.” [Lihat Fatawa al-Lajnah ad-Daimah li Al-Buhuts Al-Ilmiyyah wa Al-Iftaa’ (8/312 no. 10777)]

Seorang penanya juga mengirim pertanyaan berikut kepada Al-Lajnah Ad-Da’imah :

هل يشرع لنا التكبير بعد صلاة الفريضة مباشرة وقبل الأذكار التي تقال بعد الصلاة أثناء أيام عشر ذو الحجة ، أم هذا خاص بأيام التشريق بما فيها يوم عيد الأضحى ، أفيدونا بارك الله فيكم؟

“Apakah disyariatkan bagi kami bertakbir langsung setelah sholat fardhu dan sebelum dzikir-dzikir yang diucapkan setelah sholat, pada 10 pertama Dzulhijjah, ataukah ini hanya khusus pada hari-hari tasyriq beserta hari Idul Adh-ha? Berilah faedah kepada kami. Semoga Allah memberi berkah kepada kalian.”

Al-Lajnah Ad-Da’imah pada saat itu diketuai Syaikh Abdul Aziz Alusy Syaikh dengan beranggotakan Syaikh Abdullah bin Ghudayyan, Sholih Al-Fauzan, dan Bakr Abu Zaid –rahimahumullah–  memberikan jawaban resmi :

ج 2 : التكبير المقيد بأدبار الصلوات الفرائض خاص بأيام التشريق ، ويؤتى به بعد السلام مباشرة قبل الشروع في الأذكار .

وبالله التوفيق ، وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم .

“Takbir Muqoyyad pada akhir sholat-sholat fardhu adalah khusus pada hari-hari Tasyriq, dan dilakukan setelah salam secara langsung sebelum memulai dzikir-dzikir itu.” [Lihat Fatawa Al-Lajnah Ad-Da’imah li Al-Buhuts Al-Ilmiyyah (31/421-422/ no. 21550 )]

Jadi, di Hari Raya Idul Adh-ha dan hari-hari Tasyriq kaum muslimin dianjurkan untuk memperbanyak takbir dalam semua waktu, baik setelah sholat, ataukah selainnya; baik di masjid, di rumah, di kantor, di jalan-jalan, dan dimanapun seseorang berada, maka hendaknya memperbanyak takbir.

Kemudian sebagai penutup, maka perlu ingatkan bahwa takbir yang kita lakukan hendaknya jangan dilakukan secara BERJAMAAH dan kor. Tapi hendaknya takbir kita kumandangkan masing-masing, tanpa harus dikomando oleh imam sholat atau yang lainnya.

Di dalam perkara ini ada beberapa fatwa yang perlu kami turunkan dalam kesempatan ini agar kita tahu bahwa BERTAKBIR SECARA BERJAMAAH adalah perkara yang tidak dianjurkan, sebagaimana halnya berdzikir secara berjamaah juga tidak disyariatkan!!

Fatwa Resmi Al-Lajnah Ad-Da’imah li Al-Buhuts Al-Ilmiyyah wa Al-Ifta’

Al-Lajnah Ad-Da’imah pernah ditanya :

س2: ثبت لدينا أن التكبير في أيام التشريق سنة، فهل يصح أن يكبر الإمام ثم يكبر خلفه المصلون؟ أم يكبر كل مصل وحده بصوت منخفض أو مرتفع؟

“Telah tsabit (nyata) di sisi kami bahwa takbir pada hari-hari Tasyriq adalah sunnah. Nah, apakah benar kalau imam bertakbir, kemudian bertakbir pula orang-orang yang ikut sholat? ataukah setiap orang yang ikut sholat bertakbir sendiri-sendiri dengan suara lirih ataukah tinggi?”

Al-Lajnah Ad-Da’imah yang kala itu diketuai oleh Syaikh Abdul Aziz bin Baaz dengan beranggotakan Syaikh Abdur Rozzaq Afifi, Abdullah bin Ghudayyan, dan Abdullah bin Qu’ud –rahimahumullah ajma’in– memberikan jawaban resmi :

ج2: يكبر كل وحده جهرا، فإنه لم يثبت عن النبي صلى الله عليه وسلم التكبير الجماعي، وقد قال: « من عمل عملا ليس عليه أمرنا فهو رد » (1)

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم.

“Setiap orang bertakbir dengan suara keras secara sendiri-sendiri. Sebab, tidak tsabit (tidak sah) dari Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- perkara TAKBIR BERJAMAAH.

 

Beliau bersabda, “Siapa saja yang mengamalkan suatu amalan yang tidak ada pada contoh dalam urusan agama kami, maka ia (amalannya) itu adalah tertolak.

Wabillahit taufiq wa shollallahu ala Nabiyyina Muhammad wa alihi wa shohbihi wa sallam.” [Lihat Fatawa Al-Lajnah Ad-Da’imah li Al-Buhuts Al-Ilmiyyah wa Al-Iftaa’ (8/310)]

Fatwa Syaikh Abdul Aziz bin Baaz –rahimahullah

Syaikh Abdul Aziz bin Baaz -rahimahullah- pernah ditanya oleh seseorang tentang bertakbir setelah sholat 5 waktu pada hari-hari Tasyriq. Apakah hal itu wajib ataukah sunnah. Apakah hal itu dilakukan oleh Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- atau para sahabatnya –radhiyallahu anhum– ?

Syaikh Abdul Aziz bin Baaz menjawab :

كلٌ يكبر على حسب حاله ما في تكبير جماعي، هذا يكبر، وهذا يكبر، ولا يشرع التكبير الجماعي، الجماعي غير مشروع، ولكن كلٌ يكبر على حسب حاله، وإذا صادف صوته صوت أخيه ما يضره ذلك، أما الترديد، والتكبير من أوله إلى آخره يشرعون جميعاً، وينتهون جميعاً، فهذا لا أصل له.

“Setiap orang bertakbir sesuai keadaannya, bukan dalam bentuk takbir berjamaah. Si ini bertakbir, si ini bertakbir. TAKBIR BERJAMAAH tidak disyariatkan. Secara berjamaah tidak disyariatkan. Tapi setiap orang bertakbir sesuai dengan keadaannya. Jika kebetulan saja bertepatan dengan suara saudaranya, tidak membahayakan. Adapun mengulang-ulangnya (secara berjamaah dan kor), bertakbir dari awal hingga akhir mereka mulai secara berjamaah (bersama) dan berhenti secara berjamaah (bersama) pula, maka hal ini tidak dasarnya.” [Lihat pada link : http://www.binbaz.org.sa/noor/7626 ]

 

Fatwa Syaikh Muhammad bin Sholih Al-Utsaimin –rahimahullah

Syaikh Muhammad bin Sholih Al-Utsaimin –rahimahullah– pernah ditanya tentang hukum TAKBIR BERJAMAAH (bersama) setelah melaksanakan shalat melalui pengeras suara dan menara-menara masjid?

وكذلك المشروع ألا يكبر الناس جميعاً , بل كل يُكبِّر وحده، هذا هو المشروع كما في حديث أنس أنهم كانوا مع النبي صلى الله عليه وسلم فمنهم المهلُّ ,ومنهم المكبر ولم يكونوا على حال واحد

Begitu pula disyariatkan supaya orang-orang tidak bertakbir bersama, akan tetapi setiap orang bertakbir sendiri-sendiri. Inilah yang disyariatkan sebagaimana di hadits Anas bin Malik –radhiyallahu anhu– bahwa mereka bersama Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- saat haji , diatara mereka ada yang mengeraskan bacaan talbiah, sebagian lagi bertakbir, mereka tidak dalam satu bentuk. [Lihat Majmu’ Fatawa wa Rasail Fadhilah Asy-Syaikh Muhammad Ibni Sholih Al-Utsaimin (16/260-261)]

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Tulisan lainnya

SHALAT DUA HARI RAYA (‘IEDUL FITRI DAN ‘IEDUL ADHA)

Jannatul-firdaus.net

Menyebar Ilmu Syar’i



Jannatul-firdaus.net

Menyebar Ilmu Syar’i



Bagikan…

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram



SHALAT DUA HARI RAYA (‘IEDUL FITRI DAN ‘IEDUL ADHA)

  • Oleh: Anshari, S.T.h.I, MA.
Kata ‘ied berasal dari kata ُعَادَ – يَعُوْد (kembali). Ada juga yang berpendapat bahwa kata ‘ied berasal dari kata ُالْعَادَة (kebiasaan). Bentuk jamak dari ‘ied adalah ٌأعْيَاد.

Dalam kamus Lisanul ‘Arab disebutkan bahwa: “Hari raya disebut ‘ied karena hari itu datang kembali setiap tahun dengan membawa kegembiraan.

Dalil-dalil tentang shalat ‘Ied

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ.
“Maka laksanakanlah shalat karena Tuhanmu, dan berkurbanlah (sebagai ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah).” (Surah Al-Ashr, ayat 2).

Allah subhanahu wa ta’ala juga berfirman:
قَدْ افْلَحَ مَنْ تَزَكَّی. وَذَكَرَ اسَمَ رَبِّهِ فَصَلّٰی.
“Sungguh beruntung orang yang menyucikan diri (dengan beriman), dan mengingat nama Rabb-nya lalu dia salat.” (Surah Al-A’la, ayat 14-15).

Adapun dari hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di antaranya:
Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma dia berkata:
كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَأبُو بَكْرٍ، وَعُمَرُ رَضِيَ اللهُ عَنْهمْ، يُصلُّونَ العِيدَينِ قَبلَ الخُطبةِ.
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam, Abu Bakar dan Umar radhiyallahu ‘anhum, mereka shalat dua hari raya sebelum khutbah.” (Diriwayatkan oleh Al-Bukhariy dan Muslim).

Dalam hadits yang lain disebutkan:
قَدِمَ النَّبيُّ صَلَّى اللَّهُ عَليْهِ وسلَّمَ الْمَدِيْنَةَ وَلَهُمْ يَوْمَانِ يَلعبونَ فِيْهِمَا فَقَالَ: مَا هٰذَانِ الْيَوْمَانِ؟ قَالُوا: كُنَّا نَلْعَبُ فِيْهِمَا فِي الْجَاهِليَّةِ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: قَدْ أبْدَلَكُمُ اللَّهُ بِهِمَا خَيْرًا مِنْهُمَا: يَوْمَ الْأضْحَى وَيَوْمَ الْفِطْرِ.
“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam datang ke Madinah dan mereka memiliki dua hari di mana mereka bermain-main di dalamnya. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, ‘Apa dua hari ini?’ Mereka berkata: ‘Dahulu kami bermain-main di dalamnya pada masa jahiliyah.’ Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Sesungguhnya Allah telah mengganti keduanya dengan yang lebih baik yaitu hari raya ‘Iedul Adha dan ‘Iedul Fithri.” (Diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Dawud dan An-Nasa’i).

HUKUM SHALAT ‘IED

Para ulama berbeda pendapat tentang hukum shalat ‘Ied. Dalam hal ini ada tiga pendapat:

Pendapat pertama: Shalat ‘Ied hukumnya fardhu ‘ain.
Ini merupakan pendapat abu Hanifah, salah satu pendapat dari Asy-Syafi’i, dan salah satu riwayat dari Imam Ahmad. Dan ini juga pendapat yang dipilih oleh Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah, Ibnul Qayyim, Asy-Syaukaniy, Shddiq Hasan Khaan, Syeikh Al-Albaniy, Syeikh Utsaimin, Syeikh Dr. Muhammad Umar Bazmul.

Dalil-dalil mereka adalah sebagai berikut:

1. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ.
Artinya:
“Maka kerjakanlah shalat karena Tuhanmu, dan berkurbanlah.” (Surah Al-Kautsar, ayat 2).

2. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terus-menerus mengerjakannya, dan beliau tidak pernah meninggalkannya. Demikian juga para Khulafa’ Ar-Rasyidiin radhiyallahu ‘anhum. Serta pemimpin-pemimpin kaum muslimin setelahnya.

3. Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kaum muslimin untuk keluar melaksanakannya, dan memerintahkan para gadis yang dipingit, wanita haid, serta wanita yang tidak memiliki jilbab agar temannya meminjamkan jilbab kepadanya.

Dari Ummu ‘Athiyyah radhiyallahu ‘anha, dia berkata:
كُنَّا نُؤمَرُ بِالْخُرُوْجِ فِيْ الْعِيدَيْنِ وَالْمُخَبَّأَةُ، وَالْبِكْرُ. قَالَتْ: الْحُيَّضُ يَخْرُجْنَ فَيَكُنَّ خَلْفَ النَّاسِ، يُكَبِّرْنَ مَعَ النَّاسِ.
Artinya:
“Kami diperintahkan untuk keluar ke tempat shalat Id, demikian juga para wanita yang dipingit dan para gadis.” Dia juga berkata: “Wanita-wanita haid juga keluar, mereka mengambil posisi di belakang, sambil bertakbir bersama dengan manusia.” (Diriwayatkan oleh Al-Bukhariy dan Muslim).

4. Shalat ‘Ied merupakan syiar Islam yang paling agung.

 

5. Shalat ‘Ied akan menggugurkan kewajian shalat Jum’at apabila bertepatan pada hari yang sama.
وما ليس بواجب لا يسقط ما كان واجبا.
Apa yang bukan wajib tidak dapat menggugurkan yang wajib.
Wallahu a’lam.

(Diringkas dari Kitab Miskul Khitaam Syarah Umdatul Ahkam, Shahih Fiqhussunnah, dan Bugyatul Mutathawwi’ fii Shalatit Tathawwu’ Syarhul Mumti, Tamamul Minnah).

Pendapat kedua: Shalat ‘Ied hukumnya fardhu kifayah. Artinya apabila sebagian dari kaum muslimin telah menegakkannya, maka gugurlah kewajiban yang lain.
Ini yang nampak dari mazhab Ahmad, dan ucapan sekelompok dari Hanafiah dan Syafi’iah.

Mereka berdalil dengan dalil-dalil yang telah disebutkan sebelumnya. Namun, mereka mengatakan fardhu kifayah karena dua alasan:
Pertama: Karena tidak disyariatkan padanya adzan maka ini bukanlah fardhu ‘ain sebagaimana halnya shalat jenazah.
Kedua: Seandainya diwajibkan secara fardhu ‘ain maka akan diwajibkan khutbah dan diwajibkan untuk mendengarkannya, sebagaimana halnya shalat Jum’at.

Pendapat ketiga: Shalat ‘Ied adalah sunnah muakkadah, dan ini merupakan pendapat jumhur (mayoritas ulama).

Mereka berdalil dengan hadits Thalhah bin Ubaidillah radhiyallahu ‘anhu, bahwa seorang laki-laki datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata:
يا رَسولَ اللَّهِ أخْبِرْنِي مَاذَا فَرَضَ اللَّهُ عَلَيَّ مِنَ الصَّلَاةِ؟ فَقالَ: الصَّلَوَاتِ الخَمْسَ إلَّا أنْ تَطَّوَّعَ
Artinya:
“Wahai Rasulullah, kabarkan kepadaku apa saja yang Allah wajibkan kepadaku dari shalat? Beliau bersabda: ‘Shalat lima waktu dalam sehari semalam’.
Maka orang tersebut bertanya:
هَلْ عَلَيَّ غَيْرُهَا؟
“Apakah ada selain dari itu?”

Beliau menjawab:
لَا. إلَّا أنْ تطَوُّعَ.
“Tidak, kecuali yang sunnah”. (Diriwayatkan oleh Al-Bukhariy dan Muslim).

Dan pendapat yang paling kuat dari tiga pendapat di atas adalah pendapat yang pertama yang mengatakan bahwa shalat ‘Ied hukumnya fardhu ‘ain. Dan inilah yang dikuatkan oleh Syeikh Al-Utsaimin rahimahullah dalam Syarhul Mumti’.

Wallahu a’lam.

(Lihat, Kitab Miskul Khitaam Syarah Umdatul Ahkam, Syarhul Mumti’ dan Bugyatul Mutathawwi’ fii Shalatit Tathawwu’).

SUNNAH-SUNNAH ‘IED

1. Shalat ‘Ied disunnahkan untuk dilakukan di Mushalla (tanah lapang).
Hal ini berdasarkan hadits Abu Sa’id Al-Khudriy radhiyallahu ‘anhu dia berkata:
كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّی اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْرُجُ يَوْمَ الْفِطْرِ وَالْأَضْحَی إِلَی الْمُصَلَّی…
Artinya:
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada hari raya ‘Iedul Fitri dan ‘Iedul Adha keluar ke tanah lapang…” (Diriwayatkan oleh Al-Bukhariy dan Muslim).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan tentang keutamaan shalat di Masjid beliau (Masjid Nabawiy) bahwa:
صَلَاةٌ فِي مَسْجِدِي هَذَا أَفْضَلُ مِنْ أَلْفِ صَلَاةٍ فِيْمَا سِوَاهُ إِلَّا الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ.
Artinya:
“Shalat di masjidku ini (Masjid Nabawiy) lebih baik daripada seribu kali shalat di masjid selainnya, kecuali Masjidil Haram.” (Diriwayatkan oleh Al-Bukhariy dan Muslim).

Bersamaan dengan keutamaan yang besar ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggalkan masjid beliau dan keluar ke tanah lapang. Hal ini menunjukkan keutamaan shalat di tanah lapang.
Syeikh Al-Baniy rahimahullah memiliki kitab tersendiri dengan judul “Shalatul ‘Iedain fiil Mushalla hiyas sunnah”.
Ibnu Qudamah rahimahullah berkata: “Sunnahnya adalah melaksanakan shalat ‘Ied di tanah lapang.” (Al-Mughniy, Juz II, hal. 229-230).

Namun, apabila ada udzur seperti hujan atau tanah lapangnya yang basah atau udzur syar’i yang lain, maka boleh melaksanakan shalat ‘Ied di masjid.

2. Berangkat dan pulang dari Mushalla melalui jalan yang berbeda.

Di antara sunnah yang pada hari raya ‘Ied adalah berangkat dan pulang dari Mushalla (tempat shalat) melalui jalan yang berbeda.

Hal ini berdasarkan perkataan Jabir radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata:
كَانَ النَّبِيُّ صَلَّی اللهُ علَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا كَانَ يَوْمُ الْعِيْدِ خَالَفَ الطّرِيْقِ.
Artinya:
“Adalah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila hari raya ‘Ied, beliau menempuh jalan yang berbeda.” (Diriwayatkan oleh Al-Bukhariy).
Maksudnya bahwa beliau berangkat melalui jalan yang satu dan pulang melalui jalan yang lain.

Banyak hikmah yang disebutkan oleh para ulama tentang masalah ini, di antaranya adalah apa yang disebutkan oleh Al-Imama Ibnul Qayyim rahimahullah yaitu: ” Untuk menebarkan salam kepada manusia di dua jalan tersebut. Ada juga yang mengatakan untuk mendapatkan keberkahan jalan yang dilaluinya. Ada juga yang mengatakan untuk menuanikan keperluan orang yang memiliki keperluan pada dua jalan tersebut. Dan ada yang berpendapat bahwa untuk menampakkan Syi’ar Islam di jalan-jalan.” (Zaadul Ma’ad, Juz I, hal. 202).

Dan mencontoh apa yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam itulah yang terbaik.

3. Memperbanyak Takbir

Di antara sunnah yang dianjurkan pada hari raya ‘Ied adalah memperbanyak takbir, baik pada hari raya ‘Iedul Adha maupun hari raya ‘Iedul Fitri.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَلِتُكْمِلُ الْعِدَّةَ ولِتُكَبِّرُوا اللهَ عَلَی مَاهَدَكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ.
Artinya:
“Hendaklah kamu menggenapkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, agar kamu bersyukur.” (Surah Al-Baqarah, ayat 185).

Dan juga disebutkan dalam riwayat Ibnu Abi Syaibah bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam apabila keluar untuk melaksanakan shalat ‘Ied, maka beliau bertakbir hingga sampai ke Mushalla (tempat shalat), dan apabila shalat selesai dilaksanakan maka beliau juga menghentikan takbir.

Ini pada hari raya ‘Iedul Fitri.

Adapun untuk takbir pada hari raya ‘Iedul Fitri
Dalam Kitab Majmu’ Al-Fatawa, Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata bahwa: “Pendapat yang benar tentang takbir, dan yang merupakan pendapat jumhur fuqaha dari kalangan Sahabat dan imam-imam, bahwa waktu bertakbir dimulai dari waktu fajar hari Arafah hingga akhir hari-hari Tasyriq, di setiap selesai shalat. Dan disyariatkan bagi setiap individu untuk mengeraskan takbir ketika keluar ke tempat shalat. Dan ini merupakan kesepakatan imam empat.”
Ini terkait dengan takbir muqyyad.

Tata cara takbir
Disebutkan beberapa riwayat dari sahabat terkait dengan tata cara takbir pada hari raya ‘Ied. Di antaranya:
Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu:
اللهُ أكبر الله أكبر٬ لا إله الله والله أكبر٬ الله أكبر ولله الحمد.
“Allah Mahabesar, Allah Mahabesar, tidak ada Ilah yang berhak disembah selain Allah. Allah Mahabesar, Allah Mahabesar, dan segala puji bagi Allah.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah).

Adapun takbir Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma:
ألله أكبر الله أكبر ألله أكبر ولله الحمد, الله أكبر وأجل ألله أكبر على ماهدانا.
“Allah Mahabesar, Allah Mahabesar, Allah Mahabesar, segala puji hanyalah milik Allah, Allah Mahabesar lagi Mahaagung, Allah Mahabesar atas petunjuknya kepada kita.” (Diriwayatka oleh Al-Bahaqiy).

Salman radhiyallahu ‘anhu berkata: “Bertakbirlah kalian dan ucapkanlah:”
ألله أكبر, ألله أكبر, ألله أكبر كبيرا.
“Allah Mahabesar, Allah Mahabesar, Allah Mahabesar dengan sebasar-besarnya.” (Diriwayatkan oleh Al-Baihaqiy).

4. Makan Sebelum Shalat ‘Iedul Fitri dan Sesudah Shalat ‘Iedul Adha
Di antara sunnah shalat ‘Ied adalah makan sebelum berangkat shalat ‘Iedul Fitri dan makan setelah pulang dari shalat ‘Iedul Adha.
Hal ini berdasarkan hadits Anas radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata:
كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّی اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَغْدُو يَوْمَ الْفِطْرِ حَتَّی يَأْكُلُ تَمَرَاتٍ.
Artinya:
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak berangkat pada hari raya ‘Iedul Fitri hingga beliau makan beberapa buah kurma.” (Diriwayatkan oleh Ahmad, al-Bukhariy, at-Tirmidziy).

Dan juga dalam hadits Buraidah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata:
كَانَ النَّبِيُ صَلَّی اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَخْرُجُ يَوْمَ الْفِطْرِ حَتَّی يَطْعَمَ وَيَوْمَ النَّهْرِ لَايَأْكُلُ حَتَْی يَرْجِعَ فَيَأْكُلُ مِنْ نَسِيْكِتِهِ.
Artinya:
“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak berangkat pada hari raya ‘Iedul Fitri hingga beliau makan, dan pada hari raya ‘Iedul Adha, beliau tidak makan hingga pulang dari tempat shalat lalu beliau makan daging kurbannya.”(Diriwayatkan oleh Ahmad, at-Tirmidziy dan Ibnu Majah).

Dari dua keterangan di atas, maka jelaslah bahwa pada hari raya ‘Iedul Fitri dianjurkan untuk makan sebelum berangkat ke tempat shalat (Mushalla). Adapun pada hari raya ‘Iedul Adha, maka dianjurkan untuk mengakhirkan makan hingga pulang dari tempat shalat (Mushalla).

Adapun hikmahnya disebutkan oleh para ulama bahwa dianjurkan untuk makan sebelum berangkat ke tempat shalat pada hari raya ‘Iedul Firtri agar tidak ada lagi sangkaan bahwa hari itu masih hari puasa. Sementara pada hari raya ‘Iedul Adha, pada hari tersebut disyariatkan penyembelihan hewan kurban, sehingga seseorang kembali dari tempat shalat (Mushalla) dan bisa menikmati hewan kurbannya. Wallahu a’lam.
(Silahkan dibaca keterangan selengkapnya dalam Kitab Nailul Authar oleh Imam Asy-Syaukaniy, Zadul Ma’ad oleh Imam Ibnul Qayyim, Fathul Baariy oleh Imam Ibnu Hajar).

5. Mandi
Di antara sunnah ‘Ied adalah mandi sebelum berangkat ke Mushalla (tempat shalat).
Dari Nafi’ maula Ibnu Umar rahimahullah berkata:
أن ابن عمر كان يغتسل يوم الفطر قبل أن يغدو إلى المصلى.
“Sesungguhnya Ibnu Umar biasa mandi pada hari raya ‘Iedul Fitri sebelum berangkat ke tempat shalat.”(Diriwayatkan oleh al-Baghawiy dalam Syarhus Sunnah, Malik dalam al-Muwaththa).

Imam al-Baghawiy rahimahullah berkata: “Dan sunnah mandi pada hari raya ‘Ied, diriwayatkan dari Ali radhiyallahu ‘anhu:
أنه كان يغتسل يوم العيد.
“Bahwasanya beliau (Ali) mandi pada hari raya ‘Ied.” (Syarhus Sunnah, Juz III, hal. 79).

Diriwayatkan dari Sa’id bin Musayyab rahimahullah berkata: “Sunah dalam ‘Iedul Fitri ada tiga: 1). Berjalan kaki ke tempat shalat, 2). Makan sebelum berangkat, 3). Mandi.

Sebagaimana halnya pada hari Jum’at, kita disunnahkan untuk mandi, maka pada hari raya ‘Ied pun disunnahkan karena perkumpulan manusia lebih banyak dan untuk menghindari bau tidak sedap yang dapat mengganggu orang lain.

SIFAT (TATA CARA) SHALAT ‘IED

Shalat ‘Ied dua rakaat yang sempurna tanpa diqashar. Hal ini berdasarkan keterangan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Adapun tata caranya adalah sebagai berikut:
1. Dimulai dengan takbiratul ihram, sebagaimana shalat-shalat yang lain.

2. Kemudian bertakbir dengan tujuh kali takbir. Berdasarkan hadits Aisyah radhiyallahu ‘anha:
التَّكْبِيْرُ فِي الْفِطْرِ وَالْأضْحَى فِي الأوْلَى سَبْعُ تَكْبِرَاتٍ, وَفِي الثَّانِيَةِ خَمْسُ تَكْبِيْرَاتٍ سِوَى تَكْبِيْرَتَيْ الرُّكُوْعِ.
Artinya:
“Takbir pada shalat ‘Idul Fitri dan ‘Idul Adha pada rakaat pertama tujuh kali takbir, dan pada rakaat kedua lima kali takbir selain takbir rukuk.” (Diriwayatkan oleh Abu Daud).
Tidak ada riwayat yang shahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau mengangkat tangan di setiap takbir. Namun telah shahih dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma bahwa belaiu mengangkat kedua tangannya di setiap takbir. (Zaadul Ma’ad, Juz I, hal. 199).

Demikian juga bacaan yang dibaca di antara takbir-takbir tersebut, telah shahih dari Ibnu Mas’ud radiyallahu ‘anhu bahwa, yang dibaca di antara takbir tersebut adalah pujian dan sanjungan kepada Allah serta shalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. (Zaadul Ma’ad, Juz I, hal. 199).

3. Kemudian disunnahkan membaca istiadzah pada rakaat pertama.

4. Kemudian membaca surah Al-Fatihah dan surah Qaf pada rakaat pertama, dan surah Al-Fathihah dan surah Al-Qamar pada rakaat kedua. Atau surah Al-Fatihah dan surah Al-A’la pada rakaat pertama dan surah Al-Ghasyiyah pada rakaat kedua.

Sebagaimana dalam hadits
أنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ [فِي الْأضْحَى وَالْفِطْرِ], كَانَ يَقْرَأُ فِي الْأُولَى بِ: قٓ. وَالْقُرْآنِ الْمَجِيْدِ. وَفِي الثَّانِيَةِ: اقْتَرَبَتِ السَّاعَةُ وَانْشَقَّ الْقَمَرُ.
Artinya:
“Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (pada Idul Adha dan Idul Fitri) membaca pada rakaat pertama Surah Qaf dan pada rakaat kedua Surah Al-Qama.” (Diriwayatkan oleh Muslim).
Dan dalam hadits yang lain:
كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمِ يَقْرَأُ فِي الْعِيْدَيْنِ (سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْأعْلَى) وَ (هَلْ أَتَٰكَ حَدِيْثُ الْغَاشِيَةِ)
Artinya:
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca Surah Al-A’la dan Al-Ghasyiah pada dua hari Raya.” (Diriwayatkan oleh Ahmad dan Ibnu Majah).

5. Kemudian melakukan gerakan dan bacaan seperti shalat-shalat yang lain.

6. Kemudian pada rakaat kedua, melakukan takbir lima kali.

7. Kemudian membaca surah Al-Fatihan dan surah Al-Qamar (lihat poin 4).

8. Kemudian melakukan gerakan dan bacaan sebagaimana shalat yang lain.

9. Kemudian ditutup dengan salam.

Wallahu a’lam


Unduh

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Tulisan lainnya

Adab-adab Indah nan Agung dalam Berhari Raya

Jannatul-firdaus.net

Menyebar Ilmu Syar’i



Jannatul-firdaus.net

Menyebar Ilmu Syar’i



Bagikan…

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram



Adab-adab Indah nan Agung dalam Berhari Raya

  • Oleh: Al-Ustadz Abdul Qodir Abu Fa’izah –hafizhahullah
Hari Ied “lebaran” merupakan hari berbahagia dan bersuka cita bagi kaum muslimin di seluruh penjuru dunia. Kegembiraan ini nampak di wajah,tindak-tanduk dan kesibukan mereka.

Orang yang dulunya berselisih dan saling benci, pada hari itu saling mema’afkan. Ibu-ibu rumah tangga sibuk membuat berbagai macam kue, ketupat, makanan yang akan dihidangkan kepada para tamu yang akan berdatangan pada hari ied. Bapak-bapak sibuk belanja baju baru buat anak dan keluarganya.

Para pekerja dan penuntut ilmu yang ada diperantauan nun jauh di negeri orang sibuk menghubungi keluarga mereka, entah lewat surat atau telepon.

Di balik kesibukan dan kegembiraan ini, terkadang mengantarkan sebagian manusia  lalai untuk mempersiapkan apa yang mereka harus kerjakan di hari Ied.

Diantaranya, seperti berikut ini :

– Dianjurkan Mandi sebelum Berangkat ke Musholla (Lapangan)

Seorang di hari ied disunnahkan untuk bersuci dan membersihkan diri agar bau tak sedap tidak mengganggu saudara kita yang lain ketika sholat dan bertemu.
Ini berdasarkan atsar dari Ali bin Abi Tholib -radhilallahu anhu- pernah ditanya tentang mandi, maka beliau menjawab,

يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَيَوْمَ عَرَفَةَ وَيَوْمَ النَّحْرِ وَيَوْمَ الْفِطْرِ

“(Mandi seyogyanya dilakukan) di hari Jum’at, hari Arafah (wuquf), hari Iedul Adh-ha, dan hari Iedul Fitri”. [HR.Asy-Syafi’i dalam Al-Musnad (114), dan Al-Baihaqy (5919)]

q  Memakai Pakaian yang Bagus dan Berhias dengannya

Diantara bentuk kegembiraan seorang muslim, dia mempersiapkan dan memakai pakaian baru di hari raya iedul Fitri dan iedul Adhha.

Ketahuilah, Sunnah ini diambil dari hadits Ibnu Umar , ia berkata:

أَخَذَ عُمَرُ جُبَّةً مِنْ إِسْتَبْرَقٍ تُبَاعُ فِيْ السُّوْقِ فَأَخَذَهَا  فَأَتَى رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَارَسُولَ اللهِ اِبْتَعْ هَذِهِ تَجَمَّلْ بِهَا لِلْعِيْدِ وَالْوُفُوْدِ 

” Umar mengambil jubah dari sutera yang dijual di pasar. Diapun mengambilnya lalu dibawa kepada Rasulullah r seraya berkata: [” Ya Rasulullah, Belilah ini agar engkau bisa berhias dengannya untuk hari ied dan para utusan …”] “[HR.Al-Bukhory dalam Shohih-nya (906), Muslim dalam Shohih-nya (2068)]

Al-Allamah Asy-Syaukani -rahimahullah– berkata dalam Nail Al-Author (3/349),” Segi pengambilan dalil dari hadits ini tentang disyari’atkannya berhias di hari ied adalah adanya taqrir Nabi r bagi Umar atas dasar bolehnya berhias di hari ied, dan terpokusnya pengingkaran beliau atas orang yang memakai sejenis pakaian tersebut, karena ia dari sutera”.

 

– Di hari Iedul Fithri, Disunnahkan Makan Sebelum ke Musholla (Lapangan)

Sebelum berangkat ke musholla (lapangan), maka dianjurkan makan –utamanya kurma- sebagaimana ini dilakukan oleh Nabi kita Muhammad r pada hari iedul fitri. Adapun iedul Adhha, maka sebaliknya seseorang dianjurkan makan setelah sholat ied agar nantinya bisa mencicipi hewan kurbannya.

Buraidah –radhiyallahu anhu– berkata:

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ الْفِطْرِ لَا يَخْرُجُ حَتَّى يَطْعَمَ وَيَوْمَ النَّحْرِ لَا يَطْعَمُ حَتَّى يَرْجِعَ

“Nabi r tidaklah keluar di hari iedul Fithri sampai beliau makan, dan pada hari iedul Adh-ha beliau tak makan sampai beliau kembali”. HR. Ibnu Majah dalam As-Sunan (1756). Di-hasan-kan oleh Syu’aib Al-Arna’uth dalam Takhrij Al-Musnad  (5/352/no.23033)

Al-Muhallab bin Abi Shofroh –Rahimahullah– berkata,”Hikmahnya makan sebelum sholat ied adalah agar orang tidak menyangka wajibnya puasa sampai usai sholat ied. Seakan Nabi r hendak menepis persangkaan itu”. [Lihat Fath Al-Bari (2/447)]

Diantara hikmahnya agar masih ada waktu mengeluarkan shodaqoh di waktu-waktu yang cocok dan sangat dibutuhkannya oleh para faqir-miskin.

Ibnul Munayyir –Rahimahullah– berkata: “Nabi r makan di dua hari ied pada waktu yang masyru’ (disyari’atkan) agar bisa mengeluarkan shodaqoh khusus bagi ied tersebut. Maka waktu mengeluarkan shodaqoh ied fithri sebelum berangkat (ke musholla), dan waktu mengeluarkan shodaqoh kurban setelah disembelih. Jadi, keduanya bersatu pada satu sisi, dan berbeda pada sisi yang lain.”. [Lihat Fath Al-Bari (2/448)]

– Bertakbir Menuju Lapangan

Mengumandangkan takbiran saat menuju musholla merupakan sunnah yang dilakukan pada dua hari raya kaum muslimin. Sunnah ini dilakukan bukan Cuma saat keluar dari rumah, bahkan terus dilakukan dengan suara keras sampai tiba di lapangan. Setelah tiba di lapangan, tetap bertakbir sampai imam datang memimpin sholat ied. Inilah sunnahnya!

Ada suatu riwayat dari Nabi r : “Bahwa beliau keluar di hari iedul Fithri seraya bertakbir sampai tiba di musholla dan sampai usai sholat. Jika usai sholat, beliau hentikan takbir”. [HR.Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushonnaf (2/165) dan Al-Firyabi dalam Ahkam Al-Iedain (95).Lihat juga Silsilah Ahadits Ash-Shohihah (171)]

Dalam riwayat lain, Ibnu Umar -radhiyallahu anhu- berkata,

أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَخْرُجُ فِيْ الْعِيْدَيْنِ مَعَ الْفَضْلِ بْنِ عَبَّاسٍ وَعَبْدِاللهِ وَالْعَبَّاسِ وَعَلِيٍ وَجَعْفَرٍ وَأُسَامَةَ بْنِ زَيْدٍ وَزَيْدٍ بْنِ حَارِثَةَ وَأَيْمَنَ بْنِ أُمِّ أَيْمَنَ رَافِعًا صَوْتَهُ بِالتَّهْلِيْلِ وَالتَّكْبِيْرِ

“Nabi r keluar di dua hari raya bersama Al-Fadhl bin Abbas, Abdullah, Al-Abbas, Ali, Ja’far, Al-Hasan,Al- Husain , Usamah bin Zaid, Zaid bin Haritsah, dan Aiman bin Ummi Aiman sambil mengangkat suaranya bertahlil dan bertakbir”.[HR.Al-Baihaqy dalam As-Sunan Al-Kubro (3/279) dan dihasankan oleh Al-Albany dalam Al-Irwa’ (3/123)

Jadi, disyari’atkan di hari ied saat hendak keluar ke lapangan untuk mengumandangkan takbir dengan suara keras berdasarkan kesepakatan empat Imam madzhab. Tapi tidak dilakukan secara berjama’ah.[Lihat Majmu’ Al-Fatawa 24/220]

Muhaddits Negeri Syam, Muhammad Nashiruddin Al-Albany rahimahullah– berkata dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shohihah (1/281) ketika mengomentari hadits pertama di atas,”

 

وفي الحديث دليلٌ على مشروعيّةِ ما جرى عليه عملُ المسلمين من التكبير جهراً في الطريق إلى المصلى، وإنْ كان كثير منهم بدؤوا يتساهلون بهذه السنَّة حتى كادت تصبح في خبر كان..

Dalam hadits ini terdapat dalil disyari’atkannya sesuatu yang telah dilakukan oleh kaum muslimin berupa adanya takbir dengan suara keras di jalan-jalan menuju musholla. Sekalipun kebanyakan di antara mereka sudah mulai meremehkan sunnah ini sehingga hampir menjadi tinggal cerita belaka. Itu disebabkan lemahnya dasar agama mereka serta canggungnya mereka menampakkan sunnah”.

 

Faidah :

Tentang lafazh takbir, tak ada yang shohih datangnya dari Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-. Akan tetapi disana ada beberapa atsar yang shohih datangnya dari para sahabat Radhiyallahu anhum ajma’in.

  • Dari sahabat Ibnu Mas’ud, beliau mengucapkan:

اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ لَاإِلَهَ إِلَّااللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

[HR.Ibnu Abi Syaibah  dalam Al-Mushonnaf (2/168) dengan sanad yang shohih

  • Ibnu Abbas -radhiyallahu ‘anhu-, beliau mengucapkan:

اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ اَللهُ أَكْبَرُ وَأَجَلُّ اَللهُ أَكْبَرُ عَلَى مَا هَدَانَا

[HR.Al-Baihaqy dalam As-Sunan Al-Kubro (3/315) dengan sanad yang shohih.]

  • Salman Al-Farisy, beliau mengucapkan :“Bertakbirlah :

اَللهُ أَكْبَرُاَللهُ أَكْبَرُاَللهُ أَكْبَرُكَبِيْرًا

[HR.Al-Baihaqy dalam As-Sunan Al-Kubro (3/316) dengan sanad yang shohih.]

Adapun tambahan yang diberikan oleh orang-orang di zaman kita pada lafazh takbir, maka semua itu merupakan buatan orang-orang belakangan, tak ada dasarnya.

Al-Hafizh Ibnu Hajar Asy-Syafi’i –rahimahullahberkata dalam Al-Fath (2/536), “Di zaman ini telah diciptakan semacam tambahan pada masalah (lafazh takbir) itu yang tak ada dasarnya”.

 

Faedah :

Waktu takbiran di hari raya iedul Adhha mulai waktu fajar hari Arafah (tanggal 9 Dzulhijjah) sampai akhir hari Tasyriq (13 Dzulhijjah). Inilah madzhab Jumhur salaf dan ahli fiqh dari kalangan sahabat dan lainnya. [Lihat Majmu’ Al-Fatawa (24/220)]

Sebagian orang mengkhususkannya takbiran sehabis sholat. Tapi ini tak ada dalilnya. Yang benar, seseorang disunnahkan bertakbir dalam semua waktu dari hari-hari tersebut (mulai Hari Arofah sampai hari terakhir dari hari-hari Tasyriq).

Ini dikuatkan dengan sebuah atsar :“Ibnu Umar bertakbir di Mina pada hari-hari itu –tasyriq,pen-, seusai sholat, di atas tempat tidur, dalam tenda, majlis, dan waktu berjalan pada semua hari-hari tersebut “. [HR.Al-Bukhory dalam Ash-Shohih (1/330)]

Adapun di hari raya Idul Fithri, maka disunnahkan bertakbir pada hari raya sampai imam selesai sholat.

– Disyari’atkan Wanita dan Anak Kecil Ikut ke Lapangan

Di hari ied wanita -walaupun ia haid- dan anak-anak kecil disyari’atkan untuk keluar menyaksikan sholat dan doanya kaum muslimin.

Ummu Athiyyah –radhiyallahu anha– berkata,

أَمَرَنَا رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ نُخْرِجَهُنَّ فِيْ الْفِطْرِ وَالْأَضْحَى الْعَوَاتِقَ وَالْحُيَّضَ وَ ذَوَاتِ الْخُدُوْرِ . فَأَمَّا الْحُيَّضُ فَيَعْتَزِلْنَ الصَّلَاةَ  وَيَشْهَدْنَ الْخَيْرَ وَدَعْوَةَ الْمُسْلِمِيْنَ  قُلْتُ يَارَسُوْلَ اللهِ إِحْدَانَا لَا يَكُوْنُ لَهَا جِلْبَابٌ؟ قَالَ: لِتُلْبِسْهَا أُخْتُهَا مِنْ جِلْبَابِهَا

“Rasulullah r memerintahkan kami mengeluarkan para wanita gadis, haidh, dan pingitan. Adapun yang haidh , maka mereka menjauhi sholat, dan menyaksikan kebaikan dan dakwah/doanya kaum muslimin.Aku berkata: ” Ya Rasulullah, seorang di antara kami ada yang tak punya jilbab”. Beliau menjawab: “Hendaknya saudaranya memakaikan (meminjamkan) jilbabnya kepada saudaranya”. [Al-Bukhory dalam Ash-Shohih (971) dan Muslim dalam Ash-Shohih (890)]

Al-Hafizh Ibnu Hajar Asy-Syafi’i -rahimahullah-  berkata dalam Fath Al-Bari (2/470), “Di dalamnya terdapat anjuran keluarnya para wanita untuk menyaksikan dua hari raya, baik dia itu gadis, ataupun bukan; baik dia itu wanita pingitan ataupun bukan”.

Bahkan sebagian ulama mewajibkan membawa serta para wanita dan anak-anak kecil ke lapangan ied.

– Mencari Jalan lain Ketika Pulang ke Rumah

Disunnahkan mencari jalan lain ketika selesai melaksanakan sholat ied. Artinya ketika ia pergi ke musholla mengambil suatu jalan, dan ketika pulang ke rumah di mencari jalan lain dalam rangka mencontoh Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- .

Abu Hurairah -radhiyallahu anhu- berkata,

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا خَرَجَ إِلىَ الْعِيْدِ رَجَعَ فِيْ غَيْرِ الطَّرِيْقِ الَّذِيْ خَرَجَ فِيْهِ

“Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- jika keluar ied, beliau kembali pada selain jalan yang beliau tempati keluar”.[HR.Ibnu Majah dalam As-Sunan (1301). Lihat Shohih Ibnu Majah (1076) karya Al-Albaniy]

– Berjalan Menuju dan Kembali dari Musholla

Pada hari ied di sunnahkan berjalan menuju musholla untuk melaksanakan sholat ied. Demikian pula ketika kembali ke rumah. Tapi ini jika mushollanya dekat sehingga orang tak berat jalan menuju musholla. Adapun jika jauh atau perlu sekali, maka tak masalah.

Ali bin Abi Tholib -radhiyallahu anhu- berkata,

مِنَ السُّنَّةِ أَنْ تَخْرُجَ إِلَى الْعِيْدِ مَاشِيًا

“Diantara sunnah, kamu keluar menuju ied sambil jalan“. [HR.At-Tirmidzy dalam As-Sunan (2/410) ; di-hasan-kan Al-Albany dalam Shohih Sunan At-Tirmidzy  (530)]

Abu ‘Isa At-Tirmidzy –rahimahullah berkata dalam Sunan At-Tirmidzy  (2/410),

“Hadits ini di amalkan di sisi para ahli ilmu. Mereka menganjurkan seseorang keluar menuju ied sambil jalan“.

 

– Bersegera & Cepat Berangkat Melaksanakan Sholat Ied

Demikian pula bersegera berangkat menuju musholla untuk menunaikan sholat ied. Perkara ini dianjurkan agar setiap orang mengambil tempat dan banyak mengumandangkan takbir sampai keluarnya memimpin sholat ied.

 

Faedah:

Setelah tiba di musholla (lapangan), seseorang tidak dianjurkan sholat sebelum dan setelah sholat ied; juga tidak  disunnahkan melakukan adzan dan iqomat, karena Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- kita tak pernah melakukan hal itu, kecuali jika sholat  iednya di masjid (karena hujan atau udzur lain), maka ia harus sholat dua raka’at tahiyyatul masjid.

Ibnu Abbas –radhiyallahu anhu- berkata,

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى يَوْمَ الْفِطْرِ رَكْعَتَيْنِ لَمْ يُصَلِّ قَبْلَهَا وَلَا بَعْدَهَا

“Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- melaksanakan sholat iedul fithri sebanyak dua raka’at, namun beliau tidak sholat sebelum dan sesudahnya”. [HR.Al-Bukhory dalam Ash-Shohih (989)]

Al-Hafizh Ibnu Hajar –rahimahullah– berkata,

“Walhasil, sholat ied tidak terbukti memiliki sholat sunnah sebelum dan setelahnya, berbeda dengan orang yang meng-qiyas-kannya dengan sholat jum’at”. [Lihat Fath Al-Bari (2/476)]

Jabir bin Samurah -radhiyallahu ‘anhu-  berkata,

صَلًَّيْتُ مَعَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْعِيْدَيْنِ غَيْرَ مَرَّةٍ وَلَا مَرَّتَيْنِ بِغَيْرِ أَذَانٍ وَلَا إِقَامَةٍ

“Aku telah melaksanakan sholat bersama Rasulullah r -bukan Cuma sekali dua kali saja- tanpa adzan dan iqomat”. 

 

Al-Allamah Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah rahimahullah- berkata, “Nabi  r jika tiba di musholla, beliau memulai sholat, tanpa ada adzan dan iqomah; tidak pula ucapan, “Ash-Sholatu jami’ah“. Sunnahnya, tidak dilakukan semua itu”. [Lihat Zaadul Ma’ad (1/441)]

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Tulisan lainnya

Menyembelih Hewan Qurban, Haruskah di Hari Idul Adh-ha saja?

Jannatul-firdaus.net

Menyebar Ilmu Syar’i



Jannatul-firdaus.net

Menyebar Ilmu Syar’i



Bagikan…

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram



Menyembelih Hewan Qurban, Haruskah di Hari Idul Adh-ha saja?

  • Oleh: Al-Ustadz Abdul Qodir Abu Fa’izah –hafizhahullah
Menyembelih hewan qurban adalah sebuah ibadah yang agung balasannya di sisi Allah –ta’ala-.

Setiap tahun ibadah ini dilestarikan oleh kaum muslimin secara turun-temurun.

Namun tentu saja ada sisi-sisi yang samar dari ibadah qurban ini, seperti sebagian orang bertanya bahwa haruskah menyembelih qurban di hari lebaran (Idul Adh-ha) saja?

Waktu menyembelih hewan qurban adalah setelah selesainya Sholat Idul Adh-ha pada tanggal 10 Dzulhijjah sampai matahari tenggelam pada tanggal 13 Dzulhijjah, yaitu di akhir hari-hari Tasyriq.

Jadi, Hari Raya Idul Qurban (10 Dzulhijjah) adalah hari disyariatkan untuk memulai penyembelihan, dan itu adalah waktu yang paling utama dalam penyembelihan, sebab hari itu adalah hari yang termulia di sisi Allah –azza wa jalla-.

Demikian pula, hari-hari Tasyriq (11-13 Dzulhijjah), juga merupakan 3 hari penyembelihan.

Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albaniy –rahimahullah- berkata,

مناسك الحج والعمرة (ص: 34)

ووقت الذبح أربعة أيام العيد يوم النحر وهو يوم الحج الأكبر وثلاثة أيام التشريق

“Waktu penyembelihan adalah 4 hari-hari id : Hari Penyembelihan (Hari Idul Adh-ha), dan itulah Hari Haji Akbar, dan 3 hari Tasyriq.”

 

“وأول وقتها بعد صلاة العيد،…فمن ذبح قبل الصلاة فشاته شاة لحم، وليست بأضحية ويجب عليه ذبح بدلها على صفتها بعد الصلاة…وينتهي وقت الأضحية بغروب الشمس من آخر يوم من أيام التشريق، وهو اليوم الثالث عشر من ذي الحجة، فيكون الذبح في أربعة أيام: يوم العيد، واليوم الحادي عشر، واليوم الثاني عشر، واليوم الثالث عشر. وثلاث ليال: ليلة الحادي عشر، وليلة الثاني عشر، وليلة الثالث عشر.” اهـ من أحكام الأضحية والذكاة (2/ 225_226)

“Awal penyembelihannya adalah setelah sholat id…

Siapa yang menyembelihnya sebelum sholat id, maka kambingnya (yakni, sembelihannya) hanyalah kambing daging (yakni, menjadi lauk-pauk saja), bukan sembelihan qurban. Wajib baginya untuk menyembelih gantinya sesuai sifatnya setelah sholat id…

 

Waktu penyembelihan berakhir dengan tenggelamnya matahari pada hari yang paling akhir dari hari-hari Tasyriq, yaitu : hari ke-13 dari Bulan Dzulhijjah.

Jadi, penyembelihan itu adalah empat hari : Hari Idul Adh-ha, hari ke11, hari ke-12, dan hari ke 13 (dari Bulan Dzulhijjah).”  [Lihat Ahkam Al-Udh-hiyah wa Adz-Dzakaah (2/225-226), cet. Dar Ats-Tsiqoh, Makkah, 1422 H]

Apa yang dijelaskan oleh dua orang ulama kita ini, tentunya di dasari oleh dalil yang shohih.

 

Nabi –shollallohu alaihi wa sallam- bersabda pada Hari Idul Adh-ha,

من كان ذبح قبل الصلاة فليعد ذبحته

“Barangsiapa yang menyembelih sebelum sholat, maka hendaknya ia mengulangi sembelihannya.” [HR. Al-Bazzar sebagaimana dalam Kasyf Al-Astar (1205), dan dinilai shohih oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Ash-Shohihah (2707)]

Di dalam lain, Nabi –shollallohu alaihi wa sallam- bersabda,

“كل أيام التشريق ذبح”

“Seluruh hari-hari Tasyriq adalah (hari-hari) penyembelihan.” [HR. Ahmad dalam Al-Musnad (4/82), dan lainnya. Hadits ini dinyatakan shohih oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Shohih Al-Mawarid Azh-Zhom’an (835)]

Dari dua hadits ini, para ulama menyimpulkan bahwa waktu pemyembelihan adalah pada Hari Lebaran Idul Adh-ha (10 Dzulhijjah) selepas pelaksaan sholat id, dan juga pada hari-hari Tasyriq (mulai 11 sampai 13 Dzulhijjah).

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Tulisan lainnya

Targhib wa Tarhib

Jannatul-firdaus.net

Menyebar Ilmu Syar’i



Jannatul-firdaus.net

Menyebar Ilmu Syar’i



Bagikan…

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram



Targhib wa Tarhib

  • Oleh: Ustadz Dzulqarnain Muhammad Sunusi hafizhahullah
Keutamaan Sepuluh Hari Awal Dzulhijjah

Ibnu ‘Abbâs radhiyallâhu ‘anhumâ bahwa Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهِنَّ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الأَيَّامِ الْعَشْرِ. فَقَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَلاَ الْجِهَادُ فِيْ سَبِيلِ اللَّهِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ وَلاَ الْجِهَادُ فِيْ سَبِيلِ اللَّهِ إِلاَّ رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَىْءٍ

“Tiada suatu hari pun yang amal shalih pada hari-hari itu lebih dicintai oleh Allah daripada sepuluh hari ini. (Para shahabat) bertanya, ‘Wahai Rasulullah, tidak pula (dilebihi oleh) jihad di jalan Allah?’ Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘(Ya), tidak (pula) jihad di jalan Allah, kecuali orang yang keluar (berjihad) dengan jiwa dan hartanya, kemudian tidak kembali dengan sesuatu apapun dari hal tersebut.’.” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhâry, Abu Dâwud, At-Tirmidzy (lafazh hadits adalah milik beliau), dan Ibnu Mâjah]

Puasa Awal Dzulhijjah

Dari sebagian istri Nabi radhiyallâhu ‘anhâ, beliau bertutur,

أَنَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَصُومُ يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَتِسْعًا مِنْ ذِى الْحِجَّةِ وَثَلاَثَةَ أَيَّامٍ مِنَ الشَّهْرِ أَوَّلَ اثْنَيْنِ مِنَ الشَّهْرِ وَخَمِيسَيْنِ

“Sesungguhnya Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam berpuasa pada hari ‘Asyurâ, pada sembilan hari Dzulhijjah, dan pada tiga hari dalam sebulan: senin awal dari bulan (berjalan) dan dua kamis.” [Diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Dâwud, An-Nasâ`iy, dan Al-Baihaqy. Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albâny]

Puasa di Bulan Muharram Bukan Satu Bulan Penuh

Dari ‘Aisyah radhiyallâhu ‘anhâ, beliau berkata,

فَمَا رَأَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ إِلَّا رَمَضَانَ وَمَا رَأَيْتُهُ أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِيْ شَعْبَانَ

Saya tidak pernah melihat Rasulullah shollallâhu ‘alaihi wa sallam menyempurnakan puasa sebulan selain bulan Ramadhan dan saya melihat kebanyakan puasanya di bulan Sya’ban.” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhâry dan Muslim]

Keutamaan Puasa hari ‘Âsyûrâ (10 Muharram)

Dari Abu Qatadah radhiyallâhu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam ditanya tentang puasa hari ‘Âsyûrâ. Beliau menjawab,

يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ

 “(Puasa tersebut) menghapuskan (dosa) tahun yang telah berlalu.” [Diriwayatkan oleh Muslim]

Bahaya Memutus Silaturahmi

Dari Jubair bin Muth’im radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ قَاطِعُ رَحِمٍ

“Tidak akan masuk surga orang yang memutuskan suatu silaturahim.” [Diriwayatkan Al-Bukhary dan Muslim. Lafazh hadits milik Al-Bukhary]

Keutamaan Membangun Masjid

Dari Abu Dzarr Al-Ghifary radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ بَنَى لِلَّهِ مَسْجِدًا وَلَوْ كَمَفْحَصِ قَطَاةٍ بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ

“Siapa yang membangun masjid untuk Allah walaupun seperti sarang burung, Allah bangunkan untuknya sebuah rumah di sorga.” [Diriwayatkan oleh Ath-Thahawy, Ibnu Hibban, Al-Baihaqy dalam Syu’abul Iman dan selainnya. Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albany]

Husnul Khatimah

Dari Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ كَانَ آخِرُ كَلَامِهِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ

“Barangsiapa yang akhir ucapannya  adalah Lâ Ilâha Illallâh, dia akan masuk surga.” [Diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Daud, Al-Hakim dan selainnya. Dihasankan oleh Syaikh Al-Albany dalam Irwâ`ul Ghalîl no. 687]

Etika Seputar Kuburan

Dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhumâ, Beliau bertutur,

نَهَى رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يُجَصَّصَ الْقَبْرُ، وَأَنْ يُقْعَدَ عَلَيْهِ، وَأَنْ يُبْنَى عَلَيْهِ

“Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam melarang untuk mengapuri kuburan, duduk di atasnya, dan membangun di atasnya.” [Diriwayatkan oleh Muslim]

Kerabat Laki-laki dari Suami, apakah mahram?

Dari ‘Uqbah bin ‘Amir Al-Juhany radhiyallâhu ‘anhu, Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِيَّاكُمْ وَالدُّخُولَ عَلَى النِّسَاءِ

“Hati-hati kalian dari masuk menjumpai para perempuan.”

Seorang lelaki dari Al-Anshar bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana pendapatmu dengan Al-Hamwu ‘Kerabat laki-laki suami selain ayah dan anak’? Beliau menjawab,

الْحَمْوُ الْمَوْتُ

“Al-Hamwu adalah maut ‘kematian’.” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhary dan Muslim]

Dosa Meninggalkan Shalat

Dari Jabir bin Abdillah radhiyallâhu ‘anhumâ, Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ بَيْنَ الرَّجُلِ وَبَيْنَ الشِّرْكِ وَالْكُفْرِ تَرْكَ الصَّلَاةِ

“Sesungguhnya (batas) antara seseorang dengan kesyirikan dan kekafiran adalah meninggalkan sholat.” [Diriwayatkan oleh Muslim]

Dari Buraidah bin Al-Hushaib radhiyallâhu ‘anhu, Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda,

العَهْدُ الَّذِي بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمُ الصَّلَاةُ، فَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ كَفَرَ

“Perjanjian antara kami dan mereka adalah shalat. Siapa yang meninggalkan (shalat), sungguh dia telah kafir.” [Diriwayatkan oleh Ahmad, At-Tirmidzy, An-Nasâ`iy, dan Ibnu Majah. Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albany dan Syaikh Muqbil]

Pahala Orang yang Menjawab Adzan

Dari Abu Hurairah radhiyallâhu ‘anhu, beliau berkata,

كُنَّا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَامَ بِلَالٌ يُنَادِي، فَلَمَّا سَكَتَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ قَالَ مِثْلَ هَذَا يَقِينًا دَخَلَ الْجَنَّةَ

“Kami pernah bersama Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam, kemudian Bilal bangkit untuk menyerukan adzan. Tatkala Bilal diam, Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Siapa yang mengucapkan seperti ucapannya muadzin disertai dengan keyakinan, dia akan masuk surga.’.” [Diriwayatkan oleh Ahmad, An-Nasa’iy dan Ibnu Hibban. Dihasankan oleh Albany dalam Ats-Tsamar Al-Mustathâb 1/174-175]

Ketika Bangun dari Tidur Malam

Dari Abu Hurairah radhiyallâhu ‘anhu, Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا اسْتَيْقَظَ أَحَدُكُمْ مِنْ نَوْمِهِ، فَلَا يَغْمِسْ يَدَهُ فِي الْإِنَاءِ حَتَّى يَغْسِلَهَا ثَلَاثًا، فَإِنَّهُ لَا يَدْرِي أَيْنَ بَاتَتْ يَدُهُ

“Apabila salah seorang dari kalian bangun dari tidurnya, janganlah dia mencelupkan tangannya ke dalam bejana hingga dia mencucinya tiga kali, karena dia tidak tahu dimana tangannya bermalam.” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhary dan Muslim]

Doa Setelah Mendengan Adzan

Dari Jabir bin Abdillah radhiyallâhu ‘anhumâ, Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa yang berdoa ketika mendengan adzan,

اللَّهُمَّ رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ، وَالصَّلاَةِ القَائِمَةِ آتِ مُحَمَّدًا الوَسِيلَةَ وَالفَضِيلَةَ، وَابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُودًا الَّذِي وَعَدْتَهُ

‘Ya Allah! Wahai Rabb seruan yang sempurna ini dan shalat yang akan ditegakkan ini, berikanlah kepada Muhammad al-wasilah dan keutamaan, dan bangkitkanlah beliau pada tempat yang dipuji (maqam mahmud) yang telah Engkau janjikan kepadanya’, niscaya ia pasti akan beroleh syafaatku pada hari kiamat.” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhary]

Keutamaan Membaca Al-Qur`an

Dari Abu Musa Al-‘Asy’ary radhiyallâhu ‘anhu, Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَثَلُ الْمُؤْمِنِ الَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ، مَثَلُ الْأُتْرُجَّةِ، رِيحُهَا طَيِّبٌ وَطَعْمُهَا طَيِّبٌ، وَمَثَلُ الْمُؤْمِنِ الَّذِي لَا يَقْرَأُ الْقُرْآنَ مَثَلُ التَّمْرَةِ، لَا رِيحَ لَهَا وَطَعْمُهَا حُلْوٌ، وَمَثَلُ الْمُنَافِقِ الَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ، مَثَلُ الرَّيْحَانَةِ، رِيحُهَا طَيِّبٌ وَطَعْمُهَا مُرٌّ، وَمَثَلُ الْمُنَافِقِ الَّذِي لَا يَقْرَأُ الْقُرْآنَ، كَمَثَلِ الْحَنْظَلَةِ، لَيْسَ لَهَا رِيحٌ وَطَعْمُهَا مُرٌّ

“Permisalan seorang mukmin yang membaca Al-Qur`an adalah seperti buah atrujjah, baunya harum dan rasanya enak. Permisalan seorang mukmin yang tidak membaca Al-Qur`an seperti buah kurma, tidak ada baunya namun rasanya manis. Permisalan orang munafik yang membaca Al-Qur’an permisalannya seperti buah raihanah, baunya wangi tapi rasanya pahit. Permisalan orang munafik yang tidak membaca Al-Qur’an seperti buah hanzhalah, tidak ada baunya, rasanya pun pahit.” [Dikeluarkan oleh Al-Bukhary dan Muslim]

Beberapa Hukum Seputar Ihdad

Dari Ummu ‘Athiyyah radhiyallâhu ‘anhâ, Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَا تُحِدَّ امْرَأَةٌ عَلَى مَيِّتٍ فَوْقَ ثَلَاثٍ إِلَّا عَلَى زَوْجٍ أَرْبَعَةَ أَشْهُرٍ وَ عَشْرًا وَ لَا تَلْبَسُ ثَوْبًا مَصْبُوْغًا إِلَّا ثَوْبَ عَصْبٍ وَلَا تَكْتَحِلُ وَلَا تَمَسُّ طِيْبًا إِلَّا إِذَا طَهُرَتْ نُبْذَةً مِنْ قُسْطٍ أَوْ أَظْفَارٍ.

“Seorang perempuan tidak boleh berihdad terhadap mayyit selama lebih dari tiga malam, kecuali terhadap suaminya selama empat bulan sepuluh malam. Janganlah dia menyentuh pakaian yang dicelup dengan warna, kecuali baju ‘ashb, janganlah bercelak, dan janganlah menyentuh wewangian, kecuali sedikit wewangian qisth atau azhfâr apabila dia telah suci dari (haidhnya).” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhary]

Puasa Hari ‘Arafah

Dari Abu Qatâdah Al-Anshâry radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya tentang puasa hari ‘Arafah, beliau menjawab,

 يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ وَالْبَاقِيَةَ

“(Puasa tersebut) menggugurkan dosa tahun yang lalu dan tahun yang tersisa.” [Diriwayatkan oleh Muslim]

Tidak Makan sebelum Shalat Idul Adha

Dari Buraidah bin Al-Hushaib radhiyallâhu ‘anhu, beliau berkata,

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَخْرُجُ يَوْمَ الفِطْرِ حَتَّى يَطْعَمَ، وَلَا يَطْعَمُ يَوْمَ الأَضْحَى حَتَّى يُصَلِّيَ

“Adalah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak keluar pada hari Idul Fithri sebelum beliau makan, dan belian tidak makan pada hari Idul Adha hingga beliau shalat.” [Diriwayatkan oleh Ahmad, At-Tirmidzy, Ibnu Majah, Ibnu Hibban dan selainnya. Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albany dalam Takhrîj Al-Misykâh]

Berduaan dengan Bukan Mahram

Dari Umar bin Al-Khaththâb radhiyalllahu ‘anhu, Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَلَا لَا يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ إِلَّا كَانَ ثَالِثَهُمَا الشَّيْطَانُ

“Ingatlah, jangan sekali-kali seorang lelaki berduaan dengan perempuan, kecuali syaithan yang ketiga pada mereka berdua.” [Diriwayatkan oleh At-Tirmidzy, An-Nasâ`iy dalam Al-Kubra, Al-Hakim dan Al-Baihaqy. Dishahihkan oleh Al-Albany dalam Al-Irwâ` 6/215]

Berhijab di Kalangan Muslimah Generasi Pertama

Dari Aisyah radhiyalllâhu ‘anhâ, beliau bertutur,

يَرْحَمُ اللَّهُ نِسَاءَ المُهَاجِرَاتِ الأُوَلَ، لَمَّا أَنْزَلَ اللَّهُ: {وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ} شَقَّقْنَ مُرُوطَهُنَّ فَاخْتَمَرْنَ بِهَا

“Semoga Allah merahmati para perempuan muhajirah yang terdahulu. Tatkala Allah menurunkan (firman-Nya), ‘Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya’ [An-Nûr: 31], mereka segera menyobek sarung-sarung selimut mereka dan berkerudung dengannya.” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhary]

Doa antara Adzan dan Iqamat

Dari Anas bin Malik radhiyallâhu ‘anhu, Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ الدُّعَاءَ لَا يُرَدُّ بَيْنَ الْأَذَانِ وَالْإِقَامَةِ، فَادْعُوا

“Sesungguhnya doa antara adzan dan iqamat tidak ditolak, maka berdoalah kalian.” [Diriwayatkan oleh Ahmad (Lafazh hadits milik beliau), Abu Dawud, At-Tirmidzy, dan An-Nasâ`iy dalam ‘Amalul Yaum wal Lailah. Dishahihkan oleh Al-Albany dalam Al-Irwâ` no. 244]

Tentang Kewajiban Jum’at dan Bahaya Meninggalkannya

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

“Wahai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum’at, maka bersegeralah kalian kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagi kalian jika kalian mengetahui.” [Al-Jumu’ah: 9]

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَيَنْتَهِيَنَّ أَقْوَامٌ عَنْ وَدْعِهِمُ الْجُمُعَاتِ، أَوْ لَيَخْتِمَنَّ اللهُ عَلَى قُلُوبِهِمْ، ثُمَّ لَيَكُونُنَّ مِنَ الْغَافِلِينَ

“Hendaknya sekelompok kaum berhenti dari meninggalkan shalat-shalat Jum’at, atau Allah akan menutup hati-hati mereka, kemudian mereka tergolong orang-orang yang lalai.” [Diriwayatkan oleh Muslim dari Abdullah bin ‘Umar dan Abu Hurairah radhiyallâhu ‘anhum]

Beberapa Hadits Tentang Keutamaan Surah Al-Mulk

Dari Abu Hurairah radhiyalllahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

سُورَةٌ مِنَ الْقُرْآنِ ثَلَاثُونَ آيَةً، تَشْفَعُ لِصَاحِبِهَا حَتَّى يُغْفَرَ لَهُ: تَبَارَكَ الَّذِي بِيَدِهِ الْمُلْكُ

“Sebuah surah dari Al-Qur`an berisi tiga puluh ayat, memberi syafa’at kepada pemiliknya hingga diberi ampunan untuknya, Yaitu ‘Tabârakalladzî biyadihil Mulk’ (Surah Al-Mulk).” [Diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Dawud, At-Tirmidzy, An-Nasâ`iy dalam Al-Kubrâ, Ibnu Majah dan selainnya. Dihasankan oleh Syaikh Al-Albany dalam Shahih Sunan Abu Dawud.]

Dari Jabir bin Abdillah radhiyalllahu ‘anhuma, beliau berkata,

كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَنَامُ حَتَّى يَقْرَأَ الم تَنْزِيلُ السَّجْدَةَ، وَتَبَارَكَ الَّذِي بِيَدِهِ الْمُلْكُ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah tidur hingga membaca ‘Alif Lâm Mîm, Tanzîl As-Sajadah’ (Surah As-Sajadah) dan ‘Tabârakalladzî biyadihil Mulk’.” [Diriwayatkan oleh Ahmad, Al-Bukhary dalam Al-Adab Al-Mufrad, At-Tirmidzy, An-Nasâ`iy dalam ‘Amal Al-Yaum wa Al-Lailah, dan selainnya. Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albany dalam Ash-Shahîhah no. 585]

Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyalllahu ‘anhu, beliau berkata,

سُورَةُ تَبَارَكَ هِيَ الْمَانِعَةُ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ

“Surah Tabârak adalah penghalang dari adzab kubur.” [Diriwayatkan oleh Abdurrazzaq, Abu ‘Ubaid, Al-Hakim, Al-Baihaqy dalam Itsbât ‘Adzâb Al-Qabr, dan selainnya. Ucapan Ibnu Mas’ud di atas memiliki hukum hadits marfû’. Diriwayatkan pula oleh Abusy Syaikh dan Asy-Syajary dalam Al-Amâlî, serta dihasankan oleh Al-Albany dalam Ash-Shahîhah no. 1140]

Memulai Doa dengan Bershalawat

كُلُّ دُعَاءٍ مَحْجُوبٌ حَتَّى يُصَلَّى عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Setiap doa terhijab (terhalang) hingga dilakukan shalawat terhadap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” [Dihasankan oleh Syaikh Al-Albany dalam Ash-Shahîhah no. 2035 karena beberapa jalur riwayatnya yang saling menguatkan]

Keringanan dalam Shalat dan Puasa

Dari Anas bin Malik Al-Ka’by radhiyalllahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ وَضَعَ عَنِ الْمُسَافِرِ شَطْرَ الصَّلَاةِ وَالصِّيَامَ، وَعَنِ الْحَامِلِ وَالْمُرْضِعِ

“Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla menggugurkan separuh shalat dan puasa atas seorang musafir dan (menggugurkan puasa) dari perempuan yang hamil dan menyusui.” [Diriwayatkan oleh Abu Dawud, At-Tirmidzy, An-Nasâ’iy, Ibnu Majah dan Ibnu Khuzaimah. Dikuatkan oleh Syaikh Albani dalam Shahih Sunan Abu Dawud]

Keutamaan Membaca Surah Al-Kahfi Malam Jum’at

مَنْ قَرَأَ سُورَةَ الْكَهْفِ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ، أَضَاءَ لَهُ مِنَ النُّورِ فِيمَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْبَيْتِ الْعَتِيقِ

“Barangsiapa yang membaca surah Al-Kahfi pada malam Jum’at, Allah akan menerangi untuknya sebuah cahaya antara dirinya dan Al-Bait Al-‘Atîq (Ka’bah).” [Diriwayatkan oleh Ad-Darimy, Al-Baihaqy dalam Syu’abul Îmân, dan selainnya dari hadits Abu Sa’îd Al-Khudry secara mauqûf. Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albany dalam Al-Irwâ` no. 626]

Masuk Masjid Bagi Perempuan Haidh untuk Suatu Keperluan

Dari ‘Aisyah radhiyallâhu ‘anha, tentang seorang budak perempuan hitam yang datang kepada Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam kemudian masuk Islam. Aisyah radhiyallâhu ‘anha berkata,

فَكَانَ لَهَا خِبَاءٌ فِي المَسْجِدِ

“Dia memiliki kemah di masjid.” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhary]

Keutamaan Berbuat Baik Kepada Seluruh Makhluk

Dari Abu Hurairah radhiyallâhu ‘anhu, Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda,

بَيْنَمَا رَجُلٌ يَمْشِي بِطَرِيقٍ، اشْتَدَّ عَلَيْهِ العَطَشُ، فَوَجَدَ بِئْرًا فَنَزَلَ فِيهَا، فَشَرِبَ ثُمَّ خَرَجَ، فَإِذَا كَلْبٌ يَلْهَثُ، يَأْكُلُ الثَّرَى مِنَ العَطَشِ، فَقَالَ الرَّجُلُ: لَقَدْ بَلَغَ هَذَا الكَلْبَ مِنَ العَطَشِ مِثْلُ الَّذِي كَانَ بَلَغَ بِي، فَنَزَلَ البِئْرَ فَمَلَأَ خُفَّهُ ثُمَّ أَمْسَكَهُ بِفِيهِ، فَسَقَى الكَلْبَ فَشَكَرَ اللَّهُ لَهُ فَغَفَرَ لَهُ ” قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، وَإِنَّ لَنَا فِي البَهَائِمِ أَجْرًا؟ فَقَالَ: «نَعَمْ، فِي كُلِّ ذَاتِ كَبِدٍ رَطْبَةٍ أَجْرٌ»

“Ketika tengah berjalan di suatu jalan, seorang laki-laki mengalami kehausan yang sangat. Kemudian dia mendapati sebuah sumur lalu Dia turun ke (sumur itu) dan meminum lalu keluar (darinya). Ternyata ada seekor anjing yang menjulurkan lidahnya menjilat-jilat tanah lantaran kehausan. Orang itu berkata, ‘Sungguh anjing ini telah tertimpa dahaga seperti yang telah menimpaku.’ Ia turun (lagi) ke sumur untuk memenuhi sepatu kulitnya (dengan air) kemudian memegang sepatu itu dengan mulutnya lalu memberi minum untuk anjing tersebut. Maka Allah mensyukuri perbuatannya dan memberikan ampunan kepadanya.” (Para shahabat) bertanya, “Wahai Rasullulah, apakah kita mendapat pahala (bila berbuat baik) pada binatang?” Beliau bersabda, “(Berbuat baik) kepada setiap makhluk hidup yang memiliki hati terdapat pahala.” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhary dan Muslim]

Keutamaan Doa Ketika Turun Hujan

Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَنَّ الدُّعَاءَ كَانَ يُسْتَحَبُّ عِنْدَ نُزُوْلِ الْقَطْرِ وَإِقَامَةِ الصَّلَاةِ وَالْتِقَاءِ الصَّفَّيْنِ

“Sesungguhnya doa itu disunnahkan ketika turun hujan, shalat akan didirikan, dan perjumpaan dua pasukan.” [Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dan Asy-Syâfi’iy. Dihasankan oleh Syaikh Al-Albany dalam Ash-Shahîhâh no. 1469 lantara beberapa jalur pendukungnya.]

Puasa Ayyamul Bîdh (Hari-Hari Putih)

Dari Abu Dzarr Al-Ghifary radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,

أَمَرَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ نَصُومَ مِنَ الشَّهْرِ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ الْبِيضَ: ثَلَاثَ عَشْرَةَ، وَأَرْبَعَ عَشْرَةَ، وَخَمْسَ عَشْرَةَ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintah kami untuk berpuasa tiga hari putih pada setiap bulan, (tanggal) 13, 14, dan 15.” [Diriwayatkan oleh Ahmad, An-Nasâ`iy, Ibnu Hibban dan Al-Baihaqy. Dihasankan oleh Syaikh Al-Albany karena beberapa pendukungnya dalam Ash-Shahîhah no. 1567]

Keutamaan Doa Saat Sujud

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَقْرَبُ مَا يَكُونُ الْعَبْدُ مِنْ رَبِّهِ، وَهُوَ سَاجِدٌ، فَأَكْثِرُوا الدُّعَاءَ

“Sedekat-dekat keberadaan seorang hamba dari Rabbnya adalah dalam keadaan dia sujud, perbanyaklah doa (saat sujud).” [Diriwayatkan oleh Muslim]

Keutamaan Membangun Masjid

Dari Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ بَنَى مَسْجِدًا لِلَّهِ بَنَى اللهُ لَهُ فِي الْجَنَّةِ مِثْلَهُ

“Siapa yang membangun masjid karena Allah, Allah akan membangunkan untuknya di sorga yang semisal dengannya.” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhary dan Muslim. Lafazh hadits milik Muslim]

Keutamaan Berdoa Sembari Mengangkat Tangan

Dari Salman Al-Farisy radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ رَبَّكُمْ تَبَارَكَ وَتَعَالَى حَيِيٌّ كَرِيمٌ، يَسْتَحْيِي مِنْ عَبْدِهِ إِذَا رَفَعَ يَدَيْهِ إِلَيْهِ، أَنْ يَرُدَّهُمَا صِفْرًا

“Sesungguhnya Rabb kalian Tabâraka wa Ta’âlâ Maha Pemalu lagi Maha Pemurah, Dia malu terhadap hamba-Nya, bila (sang hamba) mengangkat kedua tangannya kepada-Nya, lalu Ia mengembalikan (kedua tangan hamba itu) dalam keadaan hampa.” [Hadits hasan. Diriwayatkan Ahmad, Abu Dawud, At-Tirmidzy dan Ibnu Majah. Baca Shahih Abi Dawud karya Al-Albany dan Tahqiq Musnad Ahmad karya Syu’aib Al-Arna`ûth.]

Di Antara Keutamaan Berdzikir

Dari Abud Dardâ` radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَلاَ أُنَبِّئُكُمْ بِخَيْرِ أَعْمَالِكُمْ، وَأَزْكَاهَا عِنْدَ مَلِيكِكُمْ، وَأَرْفَعِهَا فِي دَرَجَاتِكُمْ وَخَيْرٌ لَكُمْ مِنْ إِنْفَاقِ الذَّهَبِ وَالوَرِقِ، وَخَيْرٌ لَكُمْ مِنْ أَنْ تَلْقَوْا عَدُوَّكُمْ فَتَضْرِبُوا أَعْنَاقَهُمْ وَيَضْرِبُوا أَعْنَاقَكُمْ؟ قَالُوا: بَلَى. قَالَ: ذِكْرُ اللهِ تَعَالَى

“Inginkah kalian aku tunjukkan pada amalan kalian yang terbaik, paling suci di sisi Pengusa kalian (yakni Allah, pent.), paling tinggi dalam mengangkat derajat kalian dan lebih baik bagi kalian daripada menginfakkan emas dan perak, serta lebih baik bagi kalian daripada kalian bertemu dengan musuh kalian, lalu kalian memenggal leher-leher mereka dan mereka memenggal leher-leher kalian? Para sahabat menjawab, ‘Tentu, (wahai Rasulullah!)’ Beliau bersabda,“(Amalan itu adalah) dzikir kepada Allah Ta’âlâ.” [Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan selainnya. Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albany dan Syaikh Muqbil]

Tempat Shalat Terbaik bagi Perempuan

Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

صَلَاةُ الْمَرْأَةِ فِي بَيْتِهَا أَفْضَلُ مِنْ صَلَاتِهَا فِي حُجْرَتِهَا، وَصَلَاتُهَا فِي مَخْدَعِهَا أَفْضَلُ مِنْ صَلَاتِهَا فِي بَيْتِهَا

 “Shalat seorang perempuan di (tengah) rumahnya lebih utama baginya daripada shalatnya di ruangan (dekat tembok rumahnya), dan shalat seorang perempuan di ruang kecil khusus (di ujung rumah) lebih utama baginya daripada di (tengah) di rumahnya.” [Diriwayatkan oleh Abu Daud dengan sanad yang shahih di atas syarat Muslim, sebagaimana yang dikatakan oleh An-Nawawy, Al-Albany dan Al-Wadi’iy]

Kewajiban Shalat Berjama’ah di Masjid

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَقَدْ هَمَمْتُ أَنْ آمُرَ بِالصَّلاَةِ فَتُقَامَ، ثُمَّ أُخَالِفَ إِلَى مَنَازِلِ قَوْمٍ لاَ يَشْهَدُونَ الصَّلاَةَ، فَأُحَرِّقَ عَلَيْهِمْ

“Sungguh aku sangat berkeinginan untuk memerintah supaya shalat ditegakkan, lalu aku mendatangi rumah-rumah kaum yang tidak menghadiri shalat, kemudian aku bakar (rumah-rumah) mereka.” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhary dan Muslim. Lafazh hadits milik Al-Bukhary]

Sunnah-sunnah Fitrah

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الْفِطْرَةُ خَمْسٌ الِاخْتِتَانُ، وَالِاسْتِحْدَادُ، وَقَصُّ الشَّارِبِ، وَتَقْلِيمُ الْأَظْفَارِ، وَنَتْفُ الْإِبِطِ

“Fitrah adalah lima macam; khitan, mencukur bulu kemaluan, memendekkan kumis, menggunting kuku dan mencabut bulu ketiak.” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhary dan Muslim. Lafazh hadits milik Muslim]

Keutamaan Berjalan Ke Masjid

Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ مَشَى فِي ظُلْمَةِ اللَّيْلِ إِلَى الْمَسَاجِدِ آتَاهُ اللَّهُ نُورًا يوم القيامة

“Barangsiapa yang berjalan ke masjid pada kegelapan malam, Allah akan memberi cahaya kepadanya pada hari kiamat.”[Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah, Ibnu Hibban, dan selainnya. Baca Ats-Tsamrul Mustathâb karya Syaikh Al-Albany hal. 502-503]


Unduh

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Tulisan lainnya

Awas, Jangan Potong Kuku dan Rambut sebelum Selesai Berqurban!

Jannatul-firdaus.net

Menyebar Ilmu Syar’i



Jannatul-firdaus.net

Menyebar Ilmu Syar’i



Bagikan…

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram



Awas, jangan memotong kuku dan rambut sebelum selesai berqurban

  • Oleh: Al-Ustadz Abdul Qodir Abu Fa’izah –hafizhahullah

Disana, terdapat sebuah adab yang sering kali dilalaikan oleh mayoritas orang yang ingin berkurban. Adab ini memang asing, karena jarang diperkenalkan dan disebarkan oleh dai-dai kita. Adab itu berupa LARANGAN MEMOTONG KUKU, BULU, DAN RAMBUT sejak masuknya tanggal 1 Dzulhijjah.

Adab telah diterangkan oleh Rasulullah –Shallallahu alaihi wa sallam– dalam sebuah sabdanya,

 ((إِذَا دَخَلَتْ الْعَشْر وَأَرَادَ أَحَدكُمْ أَنْ يُضَحِّي فَلَا يَمَسّ مِنْ شَعْره وَبَشَره شَيْئًا)) م

“Apabila 10 hari pertama (dari Bulan Dzulhijjah) telah masuk, sedang seorang diantara kalian mau berqurban, maka jangalah ia menyentuh (mengambil atau memotong) sedikitpun dari rambut dan kukunya.” [HR. Muslim dalam Shohih-nya (no. 1977)]

Larangan ini hanya bagi mereka yang hendak berqurban. Adapun keluarganya yang tidak ikut berqurban, maka tidaklah masuk dalam larangan hadits ini.

Apabila 10 hari pertama telah masuk dengan masuknya tanggal satu dari bulan itu, maka orang yang hendak berqurban harus menghindar dari memotong kuku kaki atau tangan, sebagaimana halnya ia menahan diri dari memotong semua bulu pada tubuh (baik itu berupa bulu kumis, bulu betis, bulu kemaluan, rambut kepala, dan lainnya).

Adapun bulu janggut, maka memotongnya adalah haram dan terlarang dalam semua waktu. Karena memanjangkan janggut dan tidak memotongnya sedikitpun merupakan kewajiban dalam agama yang diperintahkan oleh Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- dalam sebuah hadits,

انْهَكُوا الشَّوَارِبَ وَأَعْفُوا اللِّحَى.

“Potonglah kumis-kumis kalian dan biarkanlah janggut-janggut kalian.” [HR. Al-Bukhoriy dalam Shohih-nya (no. 5893)]

Dalam riwayat lain, Rasulullah –Shallallahu alaihi wa sallam– bersabda,

وَفِّرُوا اللِّحَى وَأَحْفُوا الشَّوَارِبَ

Perbanyaklah janggut kalian dan potonglah kumis kalian.” [HR. Al-Bukhoriy dalam Shohih-nya (5892) dan Muslim dalam Shohih-nya (259)]

Jadi, memotong janggut, baik sedikit ataupun banyak, maka itu merupakan perkara yang haram dan terlarang dalam agama!!

Adapu memotong kumis, maka dianjurkan dalam semua waktu, selain di 10 hari pertama dari Bulan Dzulhijjah.

Para pembaca yang budiman, memotong kuku atau semua bulu dan rambut pada tubuh bagi mereka yang hendak berqurban adalah perkara hendaknya dihindari dan dijauhi. Bahkan sebagian ulama menganggap haram memotong hal-hal tersebut.

Al-Imam Abu Zakariyya Yahya bin Syarof An-Nawawiy rahimahullah– berkata,

فقال سعيد بن المسيب وربيعة وأحمد وإسحاق وداود وبعض أصحاب الشافعى أنه يحرم عليه أخذ شئ من شعره وأظفاره حتى يضحى فى وقت الأضحية

“Sa’id bin Al-Musayyib, Robi’ah, Ahmad, Ishaq, Dawud, dan sebagian pengikut Asy-Syafi’iy menyatakan bahwa haram baginya (yakni, bagi mereka yang mau berqurban) untuk mengambil (memotong) sesuatu dari rambut dan kukunya sampai ia (selesai) berqurban pada waktu (hari) qurban.” [Lihat Al-Minhaj (13/138)]

Apa yang disampaikan oleh para ulama salaf tersebut, juga pernah ditegaskan oleh Al-Imam Ibnu Abdil Barr Al-Andalusiy –rahimahullah– saat beliau berkata,

ففي هذا الحديث أنه لا يجوز لمن أراد أن يضحي أن يحلق شعرا ولا يقص ظفرا

“Di dalam hadits ini terdapat keterangan bahwa tidak boleh bagi orang yang mau berqurban untuk mencukur rambut dan menggunting kukunya.” [Lihat At-Tamhid (17/234)]

Adapun hikmah dari larangan itu, maka hal itu telah dijelaskan oleh para ulama kita di dalam kitab-kitab mereka.

Al-Imam At-Turobisytiy –rahimahullah– berkata,

كأن سر ذلك أن المضحي يجعل أضحيته فدية لنفسه من العذاب حيث رأى نفسه مستوجبة العقاب وهو القتل ولم يؤذن فيه ففداها وصار كل جزء منها فداء كل جزء منه فلذلك نهى عن إزالة الشعر والبشر لئلا يفقد من ذلك قسط ما عند تنزل الرحمة وفيضان النور الإلهي لتتم له الفضائل وينزه عن النقائص والرذائل .

 

“Seakan-akan rahasia hal itu bahwa orang yang akan berqurban menjadikan qurbannya sebagai tebusan bagi dirinya dari siksaan, dimana ia memandang dirinya akan mendapatkan siksaan, yakni pembunuhan, namun belum diizinkan padanya. Kemudian ia pun menebus dirinya (dengan qurban itu), dan setiap bagian dari qurbannya akan menjadi tebusan bagi setiap bagian dari diri orang akan berqurban. Karena itu, beliau (Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-) melarang dari menghilangkan rambut/bulu dan kuku agar tidak terluput bagian tertentu dari hal itu saat turunnya rahmat dan datangnya caha ilahi, sehingga sempurnalah baginya keutamaan-keutamaan dan ia pun dibersihkan dari kekurangan- kekurangan dan kotoran-kotoran.” [Lihat Faidh Al-Qodir (1/363) oleh Al-Munawiy]

Al-Imam Asy-Syaukaniy Al-Yamaniy -rahimahullah- berkata dalam menjelaskan hikmah pelarangan memotong kuku dan semua bulu badan (termasuk rambut kepala),

( والحكمة ) في النهي أن يبقى كامل الأجزاء للعتق من النار . وقيل للتشبه بالمحرم، حكى هذين الوجهين النووي

“Hikmah pelarangan itu, agar seseorang tetap sempurna bagian-bagian tubuhnya untuk dimerdekakan dari api neraka. Dikatakan (oleh sebagian ulama bahwa hikmahnya) adalah untuk menyerupakan diri dengan orang yang berihram (yakni, dari kalangan jamaah haji yang sedang berihram hari itu).” [Lihat Nailul Author (5/172)]

Terlepas dari semua itu; apakah kita bisa mengetahui dan menjangkau hikmahnya ataukah tidak, maka seorang mukmin yang beriman akan tunduk pantuh dengan segala perintah Allah dan Rasul-Nya. Jika Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- memerintahkan kita untuk tidak memotong kuku dan semua bulu badan, maka dengan keimanan kita, secara tunduk dan patuh menunaikan perintah tersebut. Sebab, tidaklah Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- melarang kita dari hal itu, kecuali di dalamnya ada hikmah yang agung!!

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Tulisan lainnya

Mengisi 10 Hari Pertama dari Bulan Dzulhijjah dengan Berbagai Amalan Sholih

Jannatul-firdaus.net

Menyebar Ilmu Syar’i



Jannatul-firdaus.net

Menyebar Ilmu Syar’i



Bagikan…

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram



Mengisi 10 Hari Pertama dari Bulan Dzulhijjah dengan Berbagai Amalan Sholih

  • Oleh: Al-Ustadz Abdul Qodir Abu Fa’izah –hafizhahullah

Hari merupakan salah satu nikmat besar yang Allah –Tabaroka wa Ta’ala- siapkan bagi para hamba-Nya dalam mengejar fadhilah (keutamaan) besar di sisi-Nya.

Hari-hari dunia yang mencakup 360-an hari tidaklah memiliki martabat dan kedudukan yang sama di depan Allah -Azza wa Jalla-.

Diantara hari-hari itu, ada hari-hari utama yang tidak tertandingi keutamaannya dibandingkan hari-hari lain.

Allah -Azza wa Jalla- berfirman,

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِينَ كَافَّةً كَمَا يُقَاتِلُونَكُمْ كَافَّةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ مَعَ الْمُتَّقِينَ  [التوبة/36]

“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, Maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya, dan Ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa”. (QS. At-Taubah : 36)

 

Itulah syariat mulia yang telah diturunkan oleh Allah -Tabaroka wa Ta’ala- kepada seluruh nabi bahwa empat bulan tersebut adalah bulan haram (mulia), seseorang dilarang melanggar kemuliaan hari-hari dari bulan-bulan haram itu!! Kemuliaan hari-hari ini telah masyhur dan terwarisi dari zaman ke zaman, sampai pun kaum kafir Quraisy yang mengklaim dirinya sebagai pengikut Nabi Ibrahim –alaihissalam– juga tetap menjaga kemuliaan empat tersebut. Mereka tak berani berperang di dalamnya. Jika ada diantara kaum Arab jahiliah dahulu yang melanggar hari ini, maka mereka adalah kaum yang paling buruk diantara mereka. Mereka amat takut dengan siksa Allah jika melanggar kemuliaan dari bulan-bulan itu.

Seorang ulama yang bernama Zainuddin Muhammad bin Abi Bakr bin Abdil Qodir Ar-Roziy rahimahullah– berkata,

ومن الشهور أربعة حرم أيضا، وهي : ذو القعدة، وذو الحجة، والمحرم، ورجب، ثلاثة سرد وواحد فرد وكانت العرب لا تستحل فيها القتال إلا حيان خثعم وطيئ

“Diantara bulan-bulan itu, terdapat empat bulan haram (mulia), yaitu bulan Dzulqo’dah, Dzulhijjah, Muharram dan Rajab; tiga berturut-turut dan satunya terpisah (yakni, bulan Rajab). Dahulu orang-orang Arab tidak membolehkan berperang di dalamnya, kecuali dua kampung (suku), yaitu Khosy’am dan Thoyyi'”. [Lihat Mukhtar Ash-Shihhah (hal. 167), cet. Maktabah Lubnan, 1415 H]

Jadi, hari-hari utama di sisi Allah adalah empat bulan haram itu. Diantara empat bulan itu, ada yang paling mulia, yaitu Bulan Dzulhijjah. Di dalamnya terdapat berbagai macam jenis ibadah dan ketaatan yang dilakukan oleh kaum mukminin.

Rasulullah –Shallallahu alaihi wa sallam– bersabda saat Haji Wada’,

أَلاَ إِنَّ أَحْرَمَ الأَيَّامِ يَوْمُكُمْ هَذَا , ألا وَإِنَّ أَحْرَمَ الشُّهُورِ شَهْرُكُمْ هَذَا , ألا وَإِنَّ أَحْرَمَ الْبِلاَدِ بَلَدُكُمْ هَذَا , أَلاَ وَإِنّ َدِمَاءَكُمْ وأَمْوَالَكُمْ , عَلَيْكُمْ حَرَامٌ , كَحُرْمَةِ يَوْمِكُمْ هَذَا , فِى شَهْرِكُمْ هذا في بَلَدِكُمْ هَذَا , أَلاَ هَلْ بَلَّغْتُ ؟ قَالُوا نَعَمْ , قَالَ : اللَّهُمَّ اشْهَدْ

“Ingatlah, sesungguhnya hari yang paling mulia adalah hari kalian ini. Ingatlah, sesungguhnya bulan yang paling mulia adalah bulan kalian ini (yakni, Dzulhijjah). Ingatlah, sesungguhnya negeri yang paling mulia adalah negeri kalian ini (yakni, Makkah). Ingatlah, sesungguhnya darah dan harta benda kalian adalah haram (untuk dilanggar) atas kalian, seperti haramnya hari kalian ini, di bulan kalian ini, di negeri kalian ini. Ingatlah, apakah aku telah menyampaikan?” Mereka (para sahabat) menjawab, “Ya”. Beliau bersabda, “Ya Allah, persaksikanlah”. [HR. Ahmad dalam Al-Musnad (3/80) dan Ibnu Majah dalam Sunan-nya (no. 3931). Hadits ini di-shohih-kan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Shohih Ibnu Majah (3931) dan Syu’aib Al-Arna’uth dalam Takhrij Al-Musnad (no. 11762)]

Hadits ini amat gamblang menyatakan bahwa bulan yang paling afdhol (utama) adalah bulan Dzulhijjah. Seorang muslim amat dilarang keras melakukan perbuatan maksiat di dalamnya, karena saking mulianya hari-hari di sisi Allah.

Al-Imam Al-Hafizh Abul Faroj Ibnu Rajab Al-Hambaliy –rahimahullah– berkata,

وهذا كله يدل على أن شهر ذي الحجة أفضل الأشهر الحرم ؛ حيث كانَ أعظمها حرمة .

“Semua ini menunjukkan bahwa Bulan Dzulhijjah adalah seutama-utamanya bulan haram, sebab ia merupakan bulan yang paling besar kehormatannya”. [Lihat Fathul Bari (6/122) karya Ibnu Rajab]

Para pembaca yang budiman, setelah kita mengetahui keutamaan Bulan Dzulhijjah bahwa ia adalah Bulan yang paling mulia dan utama diantara bulan-bulan lainnya, maka disini perlu jelaskan lagi bahwa diantara hari-hari dari Bulan Dzulhijjah, ada hari-hari yang paling utama. Itulah 10 hari pertama dari Bulan Dzulhijjah!!

 

Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda,

أَفْضَلُ أَيَّامِ الدُّنْيَا أيَّامُ العَشْرِ

“Hari-hari dunia yang paling utama adalah 10 hari pertama (dari Bulan Dzulhijjah)”. [HR. Al-Bazzar sebagaimana dalam Kasyful Astar (no. 1128). Hadits ini dinilai shohih oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Shohih Al-Jami’ Ash-Shogier (1133)]

Al-Hafizh Zainuddin Abdur Rahman bin Syihabiddin Al-Baghdadiy -rahimahullah- berkata,

وَهَذَا يَدُلُّ عَلَى أَنَّ عَشْرَ ذِيْ الْحِجَّةِ أَفْضَلُ مِنْ عَشْرِ رَمَضَانَ ، لَيَالِيْهِ وَأَيَّامِهِ .

“Ini menunjukkan bahwa 10 hari pertama dari Bulan Dzulhijjah lebih afdhol dibandingkan 10 hari terakhir dari Bulan Ramadhan, baik malam maupun siangnya”. [Lihat Fathul Bari (6/121) karya Ibnu Rajab, dengan tahqiq Abu Mu’adz Thoriq bin  Awadhullah bin Muhammad, cet. Dar Ibnil Jawziy, 1422 H]

Keutamaan yang amat besar ini Allah berikan kepada 10 hari itu, karena di dalamnya terjadi berbagai macam warna ibadah dan ketaatan yang amat dicintai oleh Allah -Subhanahu wa Ta’ala-.

Al-Imam Abdur Rauf Al-Munawiy –rahimahullah– berkata saat menjelaskan sisi pengutamaan 10 hari pertama dari Bulan Dzulhijjah,

لإجتماع أمهات العبادة فيه وهي الأيام التي أقسم الله بها في التنزيل بقوله {وَالْفَجْرِ وَلَيَالٍ عَشْرٍ}، ولهذا سُنَّ الإكثارُ من التهليل والتكبير والتجميد فيه ونسبتها إلى الأيام كنسبة مواضع النسك إلى سائر البقاع، ولهذا ذهب جمع إلى أنه أفضل من العشر الأخير من رمضان

“Karena berkumpulnya pokok-pokok ibadah di dalamnya. Dia adalah hari-hari yang digunakan bersumpah oleh Allah dalam Al-Qur’an melalui firman-Nya (yang artinya: ) “Demi Fajar dan 10 hari).”

Lantaran ini, disunnahkan memperbanyak tahlil (ucapan laa ilaaha illallah), takbir, dan tahmid di dalamnya. Penyandarannya kepada hari-hari seperti penyandaran tempat-tempat ibadah hubungannya dengan seluruh tempat. Sebab inilah, sekelompok ulama berpendapat bahwa 10 hari pertama Bulan Dzulhijjah adalah lebih afdhol (utama) dibandingkan 10 hari terakhir dari Bulan Ramadhan”. [Lihat Faidhul Qodir (2/51), cet. Al-Maktabah At-Tijariyyah Al-Kubro, 1356 H]

Terakhir, kami juga perlu jelaskan bahwa diantara 10 hari pertama dari Bulan Dzulhijjah, ada satu hari yang paling utama dan mulia!! Hari apakah itu? Jawabnya, Hari Raya Idul Adh-ha yang kita kenal dengan “Hari Raya Idul Qurban” atau “Yaumun Nahr” (Hari Penyembelihan)

Nabi –Shallallahu alaihi wa sallam– bersabda,

إِنَّ أَعْظَمَ الأَيَّامِ عِنْدَ اللَّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى يَوْمُ النَّحْرِ ثُمَّ يَوْمُ الْقَرِّ . قَالَ عِيسَى قَالَ ثَوْرٌ وَهُوَ الْيَوْمُ الثَّانِى.

“Sesungguhnya hari yang paling agung di sisi Allah -Tabaroka wa Ta’ala- adalah Yaumun Nahr (Hari Penyembelihan), kemudian Hari Tinggal”.

Isa (rawi hadits) berkata, “Tsaur berkata, “Dia (Hari Tinggal) adalah hari kedua”. [HR. Abu Dawud dalam Sunan-nya (1765) dan Ahmad dalam Al-Musnad (4/350). Hadits ini dinilai shohih oleh Syaikh Al-Albaniy -rahimahullah- dalam Takhrij Al-Misykah (no. 2643)]

Bayangkan saja keutamaan hari-hari tersebut ternyata amal-amal sholih di dalamnya amat afdhol, bahkan lebih afdhol dibandingkan amalan-amalan yang dikerjakan pada hari-hari lainnya.

Nabi –Shallallahu alaihi wa sallam– bersabda,

مَا مِنَ الأَيَّامِ أَيَّامٌ الْعَمَلُ فِيهِ أَفْضَلُ مِنْ هَذِهِ الأَيَّامِ قِيلَ : وَلاَ الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللهِ ؟ قَالَ : وَلاَ الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللهِ ، إِلاَّ رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ ، فَلَمْ يَرْجِعْ بِشَيْءٍ مِنْهُ.

“Tidak ada hari-hari yang beramal padanya lebih utama dibandingkan hari-hari ini (yakni, 10 hari pertama Dzulhijjah). Ditanyakan, “Tidak pula jihad di jalan Allah (bisa mengalahkannya)?

Beliau (Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam-) menjawab,

“Tidak pula jihad di jalan Allah, kecuali seorang yang keluar membawa jiwa dan hartanya, lalu ia pun tidak lagi kembali dengan membawa sedikit pun dari hal itu.” [HR. Ahmad dalam Al-Musnad (1/346) dengan sanad yang shohih dari Ibnu Abbas -radhiyallahu anhu-]

Al-Imam Al-Hafizh Ibnu Rajab Al-Hambaliy –rahimahullah– berkata setelah membawakan sejumlah hadits-hadits tentang keutamaan 10 hari pertama Dzulhijjah, maka beliau berkata,

وهذه النصوص : تدل على أن كل عمل في العشر فإنه أفضل من العمل في غيره ،

“Nash-nash ini menunjukkan bahwa setiap amalan pada 10 hari pertama Dzulhijjah adalah lebih utama dibandingkan amalan pada selainnya.” [Lihat Fathul Bari (6/120) oleh Ibnu Rajab]

Inilah hari-hari utama yang ada di sisi Allah -Azza wa Jalla-. Karenanya, manfaatkanlah hari-hari itu dalam memperbanyak amal-amal sholih. Di hari-hari itu Allah lipat gandakan pahala dan keutamaannya. Apalagi Hari Idul Qurban, kita kejar keutamaannya dengan merayakannya dan menghiasinya dengan sholat ied, menyembelih hewan qurban. Bagi yang berhaji, melakukan berbagai macam manasik dan ibadah yang disyariatkan bagi mereka pada hari itu. Keutamaan ini harus kita hadirkan dalam hati, agar kita menghargai keutamaan beramal di dalamnya, sehingga kita bersemangat, tidak bermalas-malasan dalam meraih keutamaannya!!

Hendaknya kita perbanyak amal-amal sholih di 10 hari pertama dari Dzulhijjah, seperti berpuasa sunnah dari awal bulan sampai tanggal 9 Dzulhijjah yang kita kenal dengan “Puasa Arofah”.

Demikian pula kita perbanyak sedekah kepada fakir-miskin, anak-anak yatim, dan janda-janda yang mengalami kesusahan hidup akibat ditinggal suami, demi meringankan hidup mereka.

Di hari-hari itu sebaiknya kita memperbanyak doa, dzikir, membaca atau menghafal Al-Qur’an, bersholawat untuk Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-, membantu orang lain, menyebarkan ilmu dan kebaikan, serta menahan diri dari berbagai maksiat.

Jangan lupa memperbanyak sholat-sholat sunnah dan qiyamullail di 10 hari pertama dari Bulan Dzulhijjah

Para pembaca yang budiman, sebuah pertanyaan muncul ke permukaan, “Setelah kita tahu keutamaan 10 hari dari Bulan Dzulhijjah itu, nah manakah yang lebih utama antara hari-hari itu dengan 10 hari terakhir dari Bulan Romadhon?”

Pertanyaan ini dijawab tuntas oleh Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah –rahimahullah-,

فَالصّوَابُ فِيهِ أَنْ يُقَالُ لَيَالِي الْعَشْرِ الْأَخِيرِ مِنْ رَمَضَانَ أَفْضَلُ مِنْ لَيَالِي عَشْرِ ذِي الْحِجّةِ وَأَيّامُ عَشْرِ ذِي الْحِجّةِ أَفْضَلُ مِنْ أَيّامِ عَشْرِ رَمَضَانَ وَبِهَذَا التّفْصِيلِ يَزُولُ الِاشْتِبَاهُ وَيَدُلّ عَلَيْهِ أَنّ لَيَالِيَ الْعَشْرِ مِنْ رَمَضَانَ إنّمَا فُضّلَتْ بِاعْتِبَارِ لَيْلَةِ الْقَدْرِ وَهِيَ مِنْ اللّيَالِي وَعَشْرُ ذِي الْحِجّةِ إنّمَا فُضّلَ بِاعْتِبَارِ أَيّامِهِ إذْ فِيهِ يَوْمُ النّحْرِ وَيَوْمُ عَرَفَةَ وَيَوْمُ التّرْوِيَةِ .

“Yang benar tentang hal ini, dikatakan, “Sepuluh malam terakhir Romadhon lebih utama dibandingkan 10 malam pertama dari Bulan Dzulhijjah. Sedangkan 10 hari pertama (yakni, siang hari pertama) dari Bulan Dzulhijjah lebih utama dibandingkan 10 hari terakhir (yakni, siang hari) dari Bulan Romadhon. Dengan rincian ini, hilanglah kerancuan. Hal ini ditunjukkan atasnya bahwa 10 malam terakhir Romadhon hanyalah diutamakan dengan meninjau adanya Malam Lailatul Qodr, dan ia termasuk waktu malam, sedangkan 10 hari pertama Dzulhijjah hanyalah diutamakan karena meninjau siang harinya. Sebab di dalamnya terdapat Hari Nahr (Hari Raya Qurban), Hari Arafah dan Hari Tarwiyah (yakni, tanggal 8 Dzulhijjah)”. [Lihat Zaadul Ma’ad (1/57) karya Ibnu Qoyyim, dengan tahqiq Abdul Qodir Al-Arna’uth dan Syu’aib Al-Arna’uth, cet. Mu’assasah Ar-Risalah, 1421 H]

Kesimpulan dari Ibnul Qoyyim akan menempatkan semua dalil pada tempatnya, tanpa ada penolakan terhadap sebagian dalil[1]. Ini adalah metode pengombinasian yang amat tepat sekali.

Di dalam hadits lain dari Abu Hurairah –radhiyallahu anhu– bahwa Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda,

خَيْرُ يَوْمٍ طَلَعَتْ عَلَيْهِ الشَّمْسُ يَوْمُ الْجُمُعَةِ

“Sebaik-baik hari yang matahari terbit atasnya adalah Hari Jumat”. [HR. Muslim dalam Shohih-nya (no. 854) dan Ahmad dalam Al-Musnad (2/512)]

Adapun hadits ini, maka yang dimaksud bahwa Hari Jumat adalah hari yang paling afdhol dalam sepekan, sedang Hari Iedul Adh-ha adalah hari yang paling afdhol dalam setahun. [Lihat Tahdzib As-Sunan (5/143) oleh Ibnu Qoyyim Al-Jawziyyah]

[1] Kesimpulan yang beliau sampaikan sebenarnya adalah pernyataan guru yang mulia, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah -rahimahumallah- sebagaimana anda bisa lihat dalam Tahdzib As-Sunan (6/315).

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Tulisan lainnya