Menata Surga dengan Tasbih dan Tahmid

Jannatul-firdaus.net

Menyebar Ilmu Syar’i



Jannatul-firdaus.net

Menyebar Ilmu Syar’i



Bagikan…

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram



Menata Surga dengan Tasbih dan Tahmid

  • Oleh: Al-Ustadz Abdul Qodir Abu Fa’izah –hafizhahullah

Setiap manusia di dunia menginginkan rumahnya adalah rumah yang bersih, indah, aman dan menyenangkan. Mereka pun banyak menghabiskan harta, tenaga, pikiran, dan lainnya dalam menata rumah dan istananya agar ia betah dan berbahagia.

Nah, surga yang kita miliki -insya Allah-, sama keadaannya dengan rumah kita di dunia, juga memerlukan perngorbanan berupa harta, waktu dan pikiran, bahkan nyawa dalam menghiasi dan menatanya.

Surga yang Allah siapkan bagi para hamba-Nya adalah tempat yang amat luas lagi datar. Kitalah yang menata dan menghiasinya dengan amal-amal sholih kita.

Salah satu diantara amalan yang akan menghiasi dan menata surga kita dengan indah adalah BER-TASBIH dan berdzikir kepada Allah –Tabaroka wa Ta’ala-.

Bertasbih kepada Allah merupakan amalan yang memiliki fadhilah (keutamaan) yang amat besar.

Seorang yang melazimi tasbih akan ditanamkan baginya pohon kurma di dalam surga.

Rasulullah –Shallallahu alaihi wa sallam– menjelaskan keutamaan tasbih dalam sabdanya,

مَنْ قَالَ : سُبْحَانَ اللهِ العَظِيمِ وَبِحَمْدِهِ ، غُرِسَتْ لَهُ نَخْلَةٌ فِي الجَنَّةِ

“Barangsiapa yang berkata, “Subhanallahil azhim wa bihamdih”, niscaya akan ditanamkan baginya sebuah pohon kurma dalam surga”. [HR. At-Tirmidziy dalam As-Sunan (3464 & 3465). Hadits ini dinilai shohih oleh Al-Albaniy dalam Shohih At-Targhib (1564)]

Al-Imam Abu Bakr As-Suyuthiy –rahimahullah– berkata,

معنى التسبيح تنزيه الله عما لا يليق به من كل نقص، قال الكرماني: فالتسبيح إشارة إلى الجلال والتحميد إشارة إلى صفات الإكرام

“Makna tasbih adalah menyucikan Allah dari segala perkara yang tidak layak bagi-Nya berupa segala macam kekurangan”.

Al-Kirmaniy –rahimahullah– berkata“Jadi, tasbih merupakan isyarat kepada kemuliaan dan tahmid isyarat kepada sifat pemuliaan”. [Lihat Tanqih Al-Qoul Al-Hatsits (hal. 102)]

Para pembaca yang budiman, jadikanlah tasbih bagian dari kehidupanmu. Isilah hari-harimu dengan tasbih dan dzikir kepada Allah di saat-saat senggang.

Jauhkanlah dirimu dari hal-hal yang tiada guna bagi akhiratmu. Janganlah engkau menghabiskan waktumu untuk mengikuti siaran-siaran televisi yang akan menguras waktumu.

Tapi gunakanlah dalam memperbanyak tasbih yang akan menjadi pohon yang akan kau rasakan buahnya di akhirat.

Al-Imam Ibnul Jauziy Ad-Dimasyqiy rahimahullah– berkata,

((فانتبه يا بني لنفسك، واندم على ما مضى من تفريطك، واجتهد في لحاق الكاملين، ما دام في الوقت سعة، واسق غصنك ما دامت فيه رطوبة، واذكر ساعتك التي ضاعت فكفى بها عظة، ذهبت لذة الكسل فيها، وفاتت مراتب الفضائل… فانظر إلى مضيع الساعات كم يفوته من النخيل!)) صيد الخاطر – (1 / 504)

“Perhatikanlah dirimu –wahai anakku- dan sesali sesuatu yang berlalu berupa sikap teledor serta bersungguh-sungguhlah dalam mengejar orang-orang yang sempurna selama dalam waktumu ada kelonggaran dan siramilah dahanmu selama padanya terdapat kesegaran. Ingatlah waktumu yang telah hilang, lalu cukuplah ia sebagai nasihat. Lezatnya kemalasan telah pergi bersamanya dan telah luput derajat-derajat keutamaan…Perhatikanlah orang yang menyia-nyiakan waktunya, alangkah banyaknya pohon kurma yang ia sia-siakan (yakni, di dalam surga, -pen.)”. [Lihat Shoidul Khothir (hal. 504-505), oleh Ibnul Jauziy, cet. Dar Al-Qolam, 1425 H]

Hadits yang semisal ini amat baik direnungi oleh orang-orang yang menghabiskan waktunya dengan membaca koran, sibuk menghabiskan waktu dengan facebooktwitter, berita politik dan gossip, film dan selainnya diantara perkara yang tiada berguna di akhirat!!

Perbanyaklah tanaman surga di akhirat dengan memperbanyak dzikir ketika masih hidup di dunia. sebab, tanaman ini akan sangat bermanfaat bagi pemiliknya di akhirat.

Rasulullah –Shallallahu alaihi wa sallam– bersabda,

لَقِيتُ إِبْرَاهِيمَ لَيْلَةَ أُسْرِيَ بِي فَقَالَ : يَا مُحَمَّدُ ، أَقْرِئْ أُمَّتَكَ مِنِّي السَّلاَمَ وَأَخْبِرْهُمْ أَنَّ الجَنَّةَ طَيِّبَةُ التُّرْبَةِ عَذْبَةُ الْمَاءِ ، وَأَنَّهَا قِيعَانٌ ، وَأَنَّ غِرَاسَهَا سُبْحَانَ اللهِ وَالحَمْدُ لِلَّهِ وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ.

“Aku telah menjumpai Ibrahim di malam aku di-isra’-kan. Dia berkata, “Wahai Muhammad, sampaikanlah salam dariku kepada umatmu dan kabarilah bahwa surga, tanahnya baik dan airnya tawar dan bahwa surga itu tanah datar serta tanamannya adalah “subhanallah walhamdulillah wa laa ilaaha illallah wallahu akbar”. [HR. At-Tirmidziy dalam Sunan-nya (3462). Di-hasan-kan oleh Al-Albaniy dalam Ash-Shohihah (no. 105)]

Kalimat-kalimat yang agung ini sangat besar keutamaannya, karena ia adalah sebab Allah akan memberikan pohon yang rindang kepada pengucapnya. Pohon yang ia gunakan bersenang-senang di bawahnya.

Al-Imam Abul Ulaa Al-Mubarokfuriy –rahimahullah– berkata,

((والمعنى أعلمهم بأن هذه الكلمات ونحوها سبب لدخول قائلها الجنة ولكثرة أشجار منزلة فيها لأنه كلما كررها نبت له أشجار بعددها)) تحفة الأحوذي – (9 / 303)

“Maknanya, beritahulah mereka bahwa kalimat-kalimat ini dan sejenisnya merupakan sebab bagi masuknya orang yang mengucapkannya ke dalam surga dan sebab bagi banyaknya pepohonan di dalamnya. Karena, setiap kali ia mengulanginya, maka tumbuhlah baginya pepohonan sejumlah ucapannya”. [Syarah Sunan At-Tirmidziy (9/303)]

Namun tentunya pepohonan yang rindang lagi sejuk itu tak akan didapatkan, kecuali orang-orang yang senantiasa membasahi lisannya dengan dzikrullah.

Al-Imam Syarofuddin Ath-Thibiy –rahimahullah– berkata,

((إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى أَوْجَدَ بِفَضْلِهِ فِيهَا أَشْجَارًا وَقُصُورًا، بِحَسَبِ أَعْمَالِ الْعَامِلِينَ لِكُلِّ عَامِلٍ مَا يَخْتَصُّ بِهِ بِسَبَبِ عَمَلِهِ، ثُمَّ إِنَّهُ تَعَالَى لَمَّا يَسَّرَهُ لِمَا خُلِقَ لَهُ مِنَ الْعَمَلِ لِيَنَالَ بِذَلِكَ الثَّوَابَ جَعَلَهُ كَالْغَارِسِ لِتِلْكَ الْأَشْجَارِ)) مرقاة المفاتيح شرح مشكاة المصابيح – (4 / 1604)

“Sesungguhnya Allah -Ta’ala- menciptakan pepohonan dan istana di dalamnya berkat karunia-Nya, menurut amalan para pelakunya. Setiap pelaku mendapatkan sesuatu yang khusus baginya berkat amalnya. Kemudian Allah -Ta’ala- memberinya kemudahan kepada sesuatu yang ia diciptakan untuknya berupa amalan agar ia kelak meraih pahala dengannya. Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- menganggap si pengucap kalimat-kalimat itu laksana penanam bagi pepohonan surga itu…”. [Lihat Mirqoh Al-Mafatih (4/1604)]

Para pembaca yang budiman, “Tatkala sebab bagi Allah dalam menciptakan pepohonan itu adalah amal pelaku, maka disandarkanlah penanaman itu kepadanya. Sedang maksudnya adalah menjelaskan enaknya surga, memberikan rasa rindu kepadanya dan anjuran untuk terus mengucapkan kalimat-kalimat itu yang merupakan al-baqiyat ash-sholihat (amal-amal saleh yang kekal)”. [Lihat Faidhul Qodir (4/7) karya Al-Munawiy]

Allah –Azza wa Jalla– berfirman,

وَيَزِيدُ اللَّهُ الَّذِينَ اهْتَدَوْا هُدًى وَالْبَاقِيَاتُ الصَّالِحَاتُ خَيْرٌ عِنْدَ رَبِّكَ ثَوَابًا وَخَيْرٌ مَرَدًّا [مريم : 76]

“Dan Allah akan menambah petunjuk kepada mereka yang telah mendapat petunjuk. Dan amal-amal saleh yang kekal itu lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu dan lebih baik kesudahannya”. (QS.  Maryam : 76)

 

Nabi –Shallallahu alaihi wa sallam– bersabda,

أَلَا وَإِنَّ سُبْحَانَ اللهِ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ، وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَاللهُ أَكْبَرُ هُنَّ الْبَاقِيَاتُ الصَّالِحَاتُ

“Ingatlah, sesungguhnya kalimat Subhanallah, walhamdulillah wa laa ilaaha illallah wallahu akbar adalah “al-baqiyat ash-sholihat” (amal-amal saleh yang kekal)”. [HR. Ahmad dalam Al-Musnad (4/267). Syaikh Syu’aib Al-Arna’uth menilai hadits ini shohih dalam Takhrij Al-Musnad (no. 18353)]

Isilah hari-hari kita dengan tasbihtahmid, dan amalan-amalan sholih lainnya, yang akan kita rasakan manfaatnya yang luar biasa.

Semoga Allah –Tabaroka wa Ta’ala– menjadikan kita termasuk golongan yang mendapatkan istana surga yang berhias dengan berbagai keindahan, dan kenikmatan.

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Tulisan lainnya

Intisari Tauhid #16: Surga Untuk Muwahhid dan Neraka Untuk Musyrik

Jannatul-firdaus.net

Menyebar Ilmu Syar’i



Jannatul-firdaus.net

Menyebar Ilmu Syar’i



Bagikan…

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram



Intisari Tauhid: Surga Untuk Muwahhid dan Neraka Untuk Musyrik

  • Oleh: Ustadz Dzulqarnain Muhammad Sunusi hafizhahullah
Surga Untuk Muwahhid dan Neraka Untuk Musyrik

Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ لَقِيَ اللهَ وَهُوَ لَا يُشْرِكُ به شَيْئًا دَخَلَ الْجَنَّةَ وَمَنْ لَقِيَهُ يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا دَخَلَ النَّارَ

“Barangsiapa yang menemui Allah (meninggal) dalam keadaan tidak berbuat syirik terhadap-Nya sedikit pun, pasti masuk surga, (tetapi) barangsiapa yang menemui-Nya (meninggal) dalam keadaan berbuat syirik terhadap-Nya sedikit sekalipun, dia pasti masuk neraka.” (HR. Muslim)

Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam mengabarkan bahwa barang siapa yang meninggal di atas tauhid, perihal masuknya ia ke dalam surga adalah sudah pasti, meskipun ia adalah seorang pelaku dosa besar dan meninggal dalam keadaan terus menerus berbuat dosa maka ia berada di bawah kehendak Allah. Kalau menghendaki, Allah akan memaafkan dan langsung memasukkan dia ke surga. Akan tetapi, kalau menghendaki (lain), Allah akan mengadzab dia di neraka, kemudian dia
dikeluarkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga.

Adapun orang yang meninggal di atas kesyirikan besar, ia tidak akan masuk surga, tidak akan mendapat rahmat dari Allah, dan dikekalkan di neraka. Kalau meninggal di atas syirik kecil, ia dimasukkan ke dalam neraka (kalau tidak memiliki amal kebaikan yang mengalahkan kesyirikannya), tetapi ia tidak akan kekal di dalam (neraka) tersebut.

Faedah Hadits:
1. Kewajiban takut terhadap kesyirikan karena, agar selamat dari neraka, dipersyaratkan untuk selamat dari kesyirikan.
2. Bahwasanya yang dianggap (yang menjadi ukuran) itu bukanlah banyaknya amalan, tetapi yang dianggap (sebagai ukuran) adalah selamatnya amalan dari kesyirikan.
3. Penjelasan tentang makna Lâ Ilâha Illallâh, yaitu meninggalkan kesyirikan dan mengesakan Allah dalam ibadah.
4. Dekatnya surga dan neraka dari seorang hamba, bahwasanya tiada yang memisahkan seorang hamba dengan surga atau neraka, kecuali kematian.
5. Keutamaan orang yang selamat dari kesyirikan.

[Diringkas dari Kitab Penjelasan Ringkas Kitab Tauhid karya Syaikh Shalih Al-Fauzan]

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Tulisan lainnya

Banyak Dosa Tapi Masuk Surga. Bagaimana bisa?

Bagikan…

Banyak dosa tapi masuk surga.
Bagaimana bisa ya?

Artboard 0
Artboard 1
Artboard 2
Artboard 3
Artboard 4
Artboard 5
Artboard 6
Artboard 8
Artboard 9
Artboard 10

Sebelumnya
Selanjutnya

Kisah wanita pezina yang masuk surga.

Ada seorang wanita dari Bani Israil. Ia tidak punya kebaikan sama sekali, ia malah dikenal sebagai pezinah/pelacur. Ia tidak pernah punya kebaikan. 

Kisah ini bermula ketika wanita tersebut selesai minum, lalu kemudian ia turun dari sumber air. Pada saat yang bersamaan ia bertemu dengan seekor anjing. Wanita tersebut melihat anjing itu menjulurkan lidahnya, menandakan bahwa ia sedang sangat kehausan. Tumbuh rasa kasihan dan iba dalam hatinya.

Tanpa berpikir panjang, ia melepas sepatunya dan kembali lagi ke sumber air, tempat di mana ia tadi menghilangkan dahaganya.  Ia membawakan air untuk anjing yang kehausan tersebut. Karena hal sederhana inilah, wanita yang bahkan tidak memiliki amal ibadah dan pernah berzina sekalipun bisa masuk surga dan Allah telah mengampuni dosanya.

“Allah lihat perbuatannya kata Rasulullah, Allah ampuni segala dosanya dan masuk surga”

Nasehat: Oleh karena itu marilah kita berusaha menjaga amal sholih kita secara rutin. Bermacam amal sholih tapi rutin biarpun sederhana, karena kita tidak tahu di mana Allah sembunyikan ridho di dalam amal sholih tersebut. Yang menjadi acuan untuk masuk surga bukanlah banyak atau sedikit amal ibadah yang telah dikerjakan.

Akan tetapi lebih kepada apakah dalam melakukan ibadah tersebut ada rasa tulus dan ikhlas sehingga ridho Allah SWT bisa didapatkan.

Hadits: Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu, bahwa Rasullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda, “Seorang wanita pezina diampuni oleh Allah. Dia melewati seekor anjing yang menjulurkan lidahnya di sisi sebuah sumur. Anjing ini hampir saja mati kehausan. Si wanita pelacur tersebut lalu melepas sepatunya, dan dengan penutup kepalanya. Lalu dia mengambilkan air untuk anjing tersebut. Dengan sebab perbuatannya ini, dia mendapatkan ampunan dari Allah” (HR. Al Bukhari no.3321, Muslim no.2245).

Tulisan lainnya

jannatul-firdaus.net @2021

Kebijakan

Kontak

Maps