Cinta Sebatas Pengakuan

Jannatul-firdaus.net

Menyebar Ilmu Syar’i


default-logo

Jannatul-firdaus.net

Menyebar Ilmu Syar’i


default-logo

Bagikan…




Cinta Sebatas Pengakuan

  • Oleh : Al-Ustadz Abdul Qodir Abu Fa’izah hafizhahullah

Cinta adalah sebuah kata yang manis di mulut. Setiap orang pasti memilikinya dan pernah merasakannya, sebab ia adalah tabiat yang terpatri dalam sanubari setiap insan yang normal.

Jika anda berbicara tentang cinta, maka ia laksana lautan yang tak bertepi, ataukah padang pasir yang amat luas. Karenanya, manusia telah berbicara tentang “cinta” sejak zaman bapak kita yang pertama, Adam –alaihis salam-.

Cinta adalah penggerak bagi segala sesuatu yang dilakukan oleh seseorang. Cinta adalah sesuatu yang tak bisa dipandang secara kasatmata, namun pengaruhnya tak mungkin dipungkiri.

Banyak orang yang mengaku memiliki cinta dalam hati, tapi hakikatnya ia tak memilikinya. Hatinya kosong dari cinta yang hakiki.

Seorang yang beribadah kepada Allah karena dorongan cinta kepada-Nya. Sebuah cinta yang ada dalam hati hamba, cinta yang diiringi oleh harapan dan kekhawatiran, ketaatan dan usaha dalam menggapai segala yang diridhoi Sang Kekasih (Allah) serta jauh dari segala yang tidak dicintai olehnya.

Seorang yang mengesakan Allah dan mau beribadah hanya kepada-Nya, semua itu lantaran sesuatu yang bercokol dalam hatinya berupa kecintaan kepada Allah -Azza wa Jalla-.

Bila seseorang betul-betul mencintai Allah, maka ia harus mencintai sesuatu yang dicintai oleh-Nya.

Lantaran itulah, bila ia mencintai Allah, maka ia harus mencintai ketauhidan (pengesaan) Allah –Subhanahu wa Ta’ala– saat ia beribadah kepadanya.

Disinilah anda akan mengetahui titik dan inti hakikat kecintaan seorang hamba kepada Robb-nya (Allah), yaitu kecintaan yang di dalamnya terdapat ittiba’ (keteladan) terhadap perintah Allah dan ijtinaab (sikap menjauh) dari larangan-nya.

Bertolak dari hakikat keciantaan ini, anda akan mengetahui kepalsuan cinta orang-orang kafir atau fasiq yang senantiasa menyalahi perintah Allah dan melanggar larangan-Nya. Subhanallah, sungguh ini adalah cinta sebatas pengakuan!!!

Allah -Ta’ala- berfirman,

{وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ } [البقرة: 165]

“Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah”. (QS. Al-Baqoroh : 165)

 

Sebagian ahli tafsir (seperti, Az-Zajjaj dan Ibnul Jauziy) menjelaskan bahwa makna ayat ini, orang-orang musyrikin menyamakan antara berhala-berhala dengan Allah dalam perkara cinta. [Lihat Zaad Al-Masir (1/156)]

Inilah kebiasaan kaum musyrikin!! Mereka dahulu selain melakukan berbagai macam ritual dan penyembahan kepada Allah dengan dasar cinta kepada Allah, dalam waktu sama mereka juga melakukan berbagai macam ritual dan peribadatan kepada selain Allah.

Sebagai contoh, kaum musyrikin dahulu (dan tentunya terus sampai sekarang) senantiasa menyekutukan Allah dalam cinta.

Lihatlah, saat mereka menetapkan bahwa hewan atau tanaman tertentu, ini untuk Allah dan ini untuk berhala.

Bila mereka memanen tanaman yang mereka peruntukkan bagi Allah, lalu tanaman itu terjatuh dalam kelompok tanaman yang mereka peruntukkan bagi berhala-berhala mereka, maka mereka membiarkannya dan tidak memisahkannya seraya mereka berkata, “Berhala-berhala ini lebih butuh kepadanya”.

 

Sebaliknya, jika kaum musyrikin telah memanen tanaman yang mereka peruntukkan bagi berhala-berhala, lalu tanaman itu jatuh ke dalam bagian harta dan tanaman yang diperuntukkan bagi Allah, maka mereka mengembalikan ke tempatnya, yaitu kepada kelompok tanaman yang diperuntukkan bagi berhala-berhala mereka.

Allah -Ta’ala- berfirman menceritakan perihal perkara ini,

{وَجَعَلُوا لِلَّهِ مِمَّا ذَرَأَ مِنَ الْحَرْثِ وَالْأَنْعَامِ نَصِيبًا فَقَالُوا هَذَا لِلَّهِ بِزَعْمِهِمْ وَهَذَا لِشُرَكَائِنَا فَمَا كَانَ لِشُرَكَائِهِمْ فَلَا يَصِلُ إِلَى اللَّهِ وَمَا كَانَ لِلَّهِ فَهُوَ يَصِلُ إِلَى شُرَكَائِهِمْ سَاءَ مَا يَحْكُمُونَ } [الأنعام: 136]

“Dan mereka memperuntukkan bagi Allah satu bagian dari tanaman dan ternak yang telah diciptakan Allah, lalu mereka berkata sesuai dengan persangkaan mereka, “Ini untuk Allah dan ini untuk berhala-berhala kami”. Maka sesuatu yang diperuntukkan bagi berhala-berhala mereka tidak sampai kepada Allah; sedang sesuatu yang diperuntukkan bagi Allah, maka sesuatu itu sampai kepada berhala-berhala mereka. Amat buruklah ketetapan mereka itu”. (QS. Al-An’aam: 136)

 

Kebiasaan buruk yang terkutuk seperti itu, juga telah dilakukan oleh sebagian masyarakat muslim yang jahil tentang agamanya yang memerintahkan untuk men-tauhid-kan (mengesakan) Allah dalam ibadah.

Liriklah sebagian orang di zaman ini yang senang datang ke kuburan orang-orang yang mereka anggap sebagai “wali” (seperti, Wali Songo, Syaikh Yusuf, Imam Lapeo dan lainnya)!!

Mereka datang kesana untuk membawa persembahan dan sesajen berupa makanan, hewan ternak, uang, telur dan berbagai macam benda lainnya.

Mereka persembahkan sebuah ibadah (yaitu, berupa nadzar, berkurban, sedekah ke kuburan berupa makanan, sembelihan, uang dan lainnya) untuk selain Allah.

Mereka amat takut kepada manusia-manusia yang mereka angkat sendiri sebagai “wali” atau “orang sholih”.

Padahal mereka belum tentu wali Allah, sebab wali Allah adalah semua orang yang beriman dan bertaqwa kepada Allah.

Nah, siapakah yang menjamin bahwa orang-orang yang mereka kultuskan adalah orang-orang beriman dan bertaqwa?!

Anggaplah mereka adalah wali Allah alias orang-orang beriman dan bertaqwa!!! Tapi apakah semua itu melegalkan kita mengangkatkan mereka sekedudukan dengan Allah, yang kita berikan berbagai macam persembahan kepadanya?!!

Jelas hal demikian tidak boleh dalam agama, wahai saudaraku!

Sebab wajib bagi kita mengesakan Allah dalam segala macam ibadah, dan haram menyekutukannya dengan siapapun dalam hal itu. [Lihat At-Tamhid li Syarh Kitab At-Tauhid (hal. 360) karya Sholih bin Abdil Aziz Alusy Syaikh]

Jika kita mencintai Allah, maka seharusnya kita mengikuti perintah-Nya (utamanya, perintah men-tauhid-kan Allah), dan menjauhi larangan-Nya (terutama, menjauhi kemusyrikan dengan berbagai warnanya), bukan hanya menyatakan cinta, lalu tidak dibarengi dengan ketaatan kepada-Nya. Tapi malah kita menyekutukan Allah dengan para “wali-wali” yang lemah seperti kita, yang tidak bersih dari segala macam dosa dan kesalahan!!!

Para nabi dan rasul saja yang bersih dari segala macam dosa, tak boleh kita persekutukan dengan Allah –Azza wa Jalla– dalam hal ibadah.

Allah berfirman kepada Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-,

وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu. “Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan terhapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi”. (QS. Az-Zumar: 65)

Orang-orang musyrikin dahulu selain mencintai Allah, mereka juga mencintai sesembahan mereka.

Jika mereka berqurban di hari-hari haji untuk Allah -Azza wa Jalla-, maka hati mereka tak tenang dan puas sampai mereka mempersembahkan qurban untuk sesembahan mereka sebagai wujud cinta mereka kepadanya.

Padahal Allah -Azza wa Jalla- memerintahkan kita menyerahkan qurban hanya kepada-Nya,

{قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ} [الأنعام: 162]

“Katakanlah: Sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam”. (QS. Al-An’aam : 162)

Al-Hafizh Abul Fida’ Ibnu Katsir Ad-Dimasyqiy –rahimahullah– berkata saat menafsirkan ayat ini,

“يَأْمُرُهُ تَعَالَى أَنْ يُخْبِرَ الْمُشْرِكِينَ الَّذِينَ يَعْبُدُونَ غَيْرَ اللَّهِ وَيَذْبَحُونَ لِغَيْرِ اسْمِهِ، أَنَّهُ مُخَالِفٌ لَهُمْ فِي ذَلِكَ، فَإِنَّ صَلَاتَهُ لِلَّهِ وَنُسُكَهُ عَلَى اسْمِهِ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ…

فَإِنَّ الْمُشْرِكِينَ كَانُوا يَعْبُدُونَ الْأَصْنَامَ وَيَذْبَحُونَ لَهَا، فَأَمَرَهُ اللَّهُ تعالى بِمُخَالَفَتِهِمْ وَالِانْحِرَافِ عَمَّا هُمْ فِيهِ، وَالْإِقْبَالِ بِالْقَصْدِ وَالنِّيَّةِ وَالْعَزْمِ عَلَى الْإِخْلَاصِ لِلَّهِ تَعَالَى.” اهـ من تفسير ابن كثير ت سلامة (3/ 381_382)

“Allah -Ta’ala- memerintahkan beliau (Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-) agar beliau mengabarkan kepada kaum musyrikin (yang telah mengibadahi selain Allah, dan menyembelih untuk selain Allah) bahwa beliau menyelisihi mereka dalam perkara itu (perkara penyembelihan), karena shalat beliau hanya untuk Allah, dan sembelihan beliau hanya untuk Allah saja semata, tak ada sekutu bagi-Nya… Sesungguhnya kaum musyrikin dahulu menyembah berhala-berhala, dan menyembelih untuk berhala-berhala itu. Lantaran itu, Allah memerintahkan beliau untuk menyelisihi mereka, serta berpaling dari mereka, dan menghadapkan segala niat dan maksud untuk memurnikan (semua ibadah) untuk Allah -Ta’ala- saja”. [Lihat Tafsir Ibnu Katsir (3/381-382)]

Demikianlah cinta sebatas pengakuan. Banyak diantara manusia mengaku cinta kepada Allah, namun mereka tidak memurnikan ibadahnya hanya untuk Allah. Padahal memurnikan ibadah hanya untuk Allah merupakan tanda ketulusan cinta seorang hamba kepada Allah.

—————————————————————————–

Tulisan lainnya

Kabar Gembira dan solusi di Tengah Keterpurukan Umat

Jannatul-firdaus.net

Menyebar Ilmu Syar’i



Jannatul-firdaus.net

Menyebar Ilmu Syar’i



Bagikan…

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram



Kabar Gembira dan solusi di Tengah Keterpurukan Umat

  • Oleh: Al-Ustadz Abdul Qodir Abu Fa’izah –hafizhahullah

Dimana-mana kita telah menyaksikan, mendengar dan mendapatkan berita tertekan atau tertindasnya Islam dan kaum muslimin.

Sebaliknya kaum kafir semakin menunjukkan taring kebuasannya di hadapan kaum muslimin bagaikan singa yang siap menerkam mangsanya.

Islam dan pengikutnya selalu disempitkan geraknya oleh orang-orang kafir sehingga kebenaran yang akan disuarakan oleh penegak dan pembawa panji kebenaran terpinggirkan, bahkan hampir tenggelam oleh kekuatan kaum kafir dan segala makarnya dalam memadamkan cahaya kebenaran Islam.

Allah –ta’ala– berfirman,

يُرِيدُونَ أَنْ يُطْفِئُوا نُورَ اللَّهِ بِأَفْوَاهِهِمْ وَيَأْبَى اللَّهُ إِلَّا أَنْ يُتِمَّ نُورَهُ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ (32) هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ (33) [التوبة/32، 33]

“Mereka (kaum kafir) berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan- ucapan) mereka, dan Allah tidak menghendaki, selain menyempurnakan cahayanya, walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukai. Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya (dengan membawa) petunjuk (Al-Quran) dan agama yang benar untuk dimenangkan-Nya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrikin tidak menyukai”. (QS. At-Taubah : 32-33)

Ahli Tafsir Jazirah Arab, Syaikh Abdur Rahman bin Nashir As-Sa’diy rahimahullah– berkata,

ونور اللّه: دينه الذي أرسل به الرسل، وأنزل به الكتب، وسماه اللّه نورا، لأنه يستنار به في ظلمات الجهل والأديان الباطلة، فإنه علم بالحق، وعمل بالحق، وما عداه فإنه بضده، فهؤلاء اليهود والنصارى ومن ضاهوه من المشركين، يريدون أن يطفئوا نور اللّه بمجرد أقوالهم، التي ليس عليها دليل أصلا. (انظر : تيسير الكريم الرحمن – ص 335)

“Cahaya Allah adalah agama-Nya yang Dia mengutus para rasul untuk membawanya dan menurunkan kitab-kitab dengannya. Allah menamainya sebagai “cahaya”, karena ia (agama Islam) dijadikan pelita di dalam gelapnya kejahilan dan agama-agama batil. Sebab Islam itu adalah ilmu tentang kebenaran dan pengamalan terhadap kebenaran. Adapun selainnya, maka justru sebaliknya!! Orang-orang Yahudi dan Nasrani (Kristen) serta orang-orang serupa dengan mereka dari kalangan kaum musyrikin, menginginkan untuk memadamkan cahaya (agama) Allah dengan sekedar ucapan-ucapan mereka yang pada asalnya tidak didasari oleh suatu dalil”. [Lihat Taisir Al-Karim Ar-Rahman (hal. 335)]

Orang-orang kafir dengan berbagai macam tipe dan jenisnya, semuanya bersepakat ingin memadamkan cahaya Islam yang dibawa oleh Nabi –Shallallahu alaihi wa sallam– kepada umat manusia.

Upaya memadamkan cahaya Islam, mereka lakukan dengan berbagai macam propaganda busuk yang mengkambinghitamkan Islam, menyudutkan, merendahkan dan menekannya.

Namun semua upaya itu tidaklah berarti di sisi Allah, sebab Dia ingin menyempurnakan cahaya Islam dan memenangkannya di atas segala agama batil!!!

Di dalam ayat ini terdapat busyro (berita gembira) bagi kaum beriman bahwa Islam akan dimenangkan atas semua agama batil. Inilah yang diisyaratkan oleh Nabi –Shallallahu alaihi wa sallam– dalam beberapa hadits yang shohih dari beliau.

Nabi –Shallallahu alaihi wa sallam– bersabda,

إِنَّ اللَّهَ زَوَى لِىَ الأَرْضَ فَرَأَيْتُ مَشَارِقَهَا وَمَغَارِبَهَا وَإِنَّ أُمَّتِى سَيَبْلُغُ مُلْكُهَا مَا زُوِىَ لِى مِنْهَا

“Sesungguhnya Allah telah menghimpun bumi bagiku. Karenanya, aku melihat bagian-bagian timur dan baratnya. Sesungguhnya umatku, kerajaannya (kekuasaannya) akan mencapai sesuatu yang telah dihimpunkan bagiku dari bumi itu”. [HR. Muslim dalam Kitab Al-Fitan wa Asyrooh As-Sa’ah (no. 2889)]

Mungkin ada diantara kita yang bertanya dalam hati, “Siapa tahu kejayaan itu telah berlalu?”

Jawabnya“Tidaklah demikian, kejayaan Islam tidaklah berakhir, bahkan akan ada saatnya kejayaan itu kembali di akhir zaman sebagaimana yang akan anda lihat dalam hadits-hadits lainnya di bawah ini”.

 

Dari A’isyah –radhiyallahu anha– berkata, “Aku pernah mendengarkan Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda,

لاَ يَذْهَبُ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ حَتَّى تُعْبَدَ اللاَّتُ وَالْعُزَّى . فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنْ كُنْتُ لأَظُنُّ حِينَ أَنْزَلَ اللَّهُ (هُوَ الَّذِى أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ) أَنَّ ذَلِكَ تَامًّا قَالَ: إِنَّهُ سَيَكُونُ مِنْ ذَلِكَ مَا شَاءَ اللَّهُ ثُمَّ يَبْعَثُ اللَّهُ رِيحًا طَيِّبَةً فَتَوَفَّى كُلَّ مَنْ فِى قَلْبِهِ مِثْقَالُ حَبَّةِ خَرْدَلٍ مِنْ إِيمَانٍ فَيَبْقَى مَنْ لاَ خَيْرَ فِيهِ فَيَرْجِعُونَ إِلَى دِينِ آبَائِهِمْ

“Siang dan malam tak akan hilang sampai Laata dan Uzza disembah lagi”. Aku (A’isyah) katakan, “Wahai Rasulullah, sunguh aku kira -saat Allah turunkan ayat (lalu beliau bacakan ayat 32 dari Surah At-Taubah di atas)- bahwa hal itu (yakni, kemenangan Islam) telah sempurna”.

 

Beliau bersabda, “Sesungguhnya kemenangan itu kelak akan terjadi sebagaimana yang Allah kehendaki. Kemudian Allah akan mengutus angin yang harum. Allah pun mewafatkan semua orang yang di dalam hatinya ada keimanan seberat biji sawi. Akhirnya, tersisalah orang-orang yang tak ada kebaikan sama sekali pada dirinya. Lalu mereka kembali kepada kepada agama nenek moyang mereka”. [HR. Muslim dalam Shohih-nya (2907)]

Ulama Negeri Syam, Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albaniy rahimahullah– usai membawakan ayat di atas dan sebelum membawakan hadits ini berkata,

تبشرنا هذه الآية الكريمة بأن المستقبل للإسلام بسيطرته و ظهوره و حكمه على الأديان كلها , و قد يظن بعض الناس أن ذلك قد تحقق في عهده صلى الله عليه وسلم و عهد الخلفاء الراشدين و الملوك الصالحين , و ليس كذلك , فالذي تحقق إنما هو جزء من هذا الوعد الصادق (انظر : سلسلة الأحاديث الصحيحة، 1/ 31)

“Ayat yang mulia ini memberikan kabar gembira kepada kita bahwa masa depan Islam dengan berkuasanya Islam, menang dan berhukumnya Islam atas seluruh agama. Terkadang sebagian orang menyangka bahwa hal itu telah terealisasi di zaman beliau -Shallallahu alaihi wa sallam-, zaman Khulafa’ Rosyidin dan raja-raja sholih. Padahal bukanlah demikian halnya!! Kemenangan yang terealisasi hanyalah sebagian dari janji ini”. [Lihat Silsilah Al-Ahadits Ash-Shohihah (1/31)]

Kejayaan Islam tidaklah terbatas pada zaman Nabi –Shallallahu alaihi wa sallam-, bahkan akan meluas dan merata sampai tak ada tempat dan negeri, kecuali akan dikuasai oleh Islam.

Dari Tamim Ad-Dariy –radhiyallahu anhu– berkata,

“Aku telah mendengar Rasulullah –Shallallahu alaihi wa sallam– bersabda,

لَيَبْلُغَنَّ هَذَا الأَمْرُ مَا بَلَغَ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ ، وَلاَ يَتْرُكُ اللَّهُ بَيْتَ مَدَرٍ وَلاَ وَبَرٍ إِلاَّ أَدْخَلَهُ اللَّهُ هَذَا الدِّينَ ، بِعِزِّ عَزِيزٍ أَوْ بِذُلِّ ذَلِيلٍ ، عِزًّا يُعِزُّ اللَّهُ بِهِ الإِِسْلاَمَ ، وَذُلاًّ يُذِلُّ اللَّهُ بِهِ الْكُفْرَ.

“Urusan (agama) ini akan mencapai sesuatu yang dicapai oleh malam dan siang. Allah tak akan menyisakan rumah kota dan pedalaman, kecuali Allah akan memasukkan agama ini ke dalamnya dengan kemuliaan orang yang mulia dan dengan kehinaan orang yang hina; kemuliaan yang Allah akan memuliakan dengan Islam dan kehinaan yang akan menghinakan dengannya kekafiran”. [HR. Ahmad dalam Al-Musnad (4/103). Dinilai shohih oleh Al-Albaniy dalam Ash-Shohihah (no. 3)]

Hanya saja kejayaan dan kemenangan tentunya akan diraih oleh kaum muslimin dengan kesabaran, dan usaha keras dari mereka, bukan berpangku tangan dan sekedar berangan-angan. Kaum muslimin harus menguatkan fisik, materi dan iman mereka. Ini yang harus diusahakankan, jangan tergesa-gesa!! Kemenangan bukan hanya sekedar emosi dan semangat belaka!!!

Khobbab bin Al-Arott –radhiyallahu anhu– berkata,

أَتَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ مُتَوَسِّدٌ بُرْدَةً (بُرْدَهُ) وَهُوَ فِي ظِلِّ الْكَعْبَةِ وَقَدْ لَقِينَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ شِدَّةً فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللهِ أَلَا تَدْعُو اللهَ فَقَعَدَ وَهُوَ مُحْمَرٌّ وَجْهُهُ فَقَالَ لَقَدْ كَانَ مَنْ قَبْلَكُمْ لَيُمْشَطُ بِمِشَاطِ (بِأَمْشَاطِ) الْحَدِيدِ مَا دُونَ عِظَامِهِ مِنْ لَحْمٍ أَوْ عَصَبٍ مَا يَصْرِفُهُ (يَصْرِفُ) ذَلِكَ عَنْ دِينِهِ وَيُوضَعُ الْمِنْشَارُ عَلَى مَفْرِقِ رَأْسِهِ فَيُشَقُّ بِاثْنَيْنِ مَا يَصْرِفُهُ ذَلِكَ عَنْ دِينِهِ وَلَيُتِمَّنَّ اللهُ هَذَا الْأَمْرَ حَتَّى يَسِيرَ الرَّاكِبُ مِنْ صَنْعَاءَ إِلَى حَضْرَمَوْتَ مَا يَخَافُ إِلَّا اللهَ * زَادَ بَيَانٌ: وَالذِّئْبَ عَلَى غَنَمِهِ

“Aku mendatangi Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-, sedangkan beliau berbantalkan kain selimut, di bawah bayangan Ka’bah. Sungguh kami telah mendapati sikap keras dari kaum musyrikin. Aku berkata, “Wahai Rasulullah, kenapa anda tak berdoa kepada Allah?” Tiba-tiba beliau duduk, sedang wajahnya memerah seraya bersabda, “Sungguh orang-orang sebelum kalian, dengan sisir besi, disisirilah sesuatu sebelum tulangnya berupa daging atau urat. Hal itu tidaklah memalingkan mereka dari agamanya. Gergaji diletakkan di atas sigaran (belahan) kepalanya, lalu dibelah menjadi dua. Hal itu tidaklah memalingkan mereka dari agamanya. Sungguh Allah akan menyempurnakan urusan (agama) ini sampai seorang pengendara akan berjalan dari kota Shon’a menuju Hadhromaut, ia tak takut, kecuali kepada Allah dan serigala atas kambingnya”. [HR. Al-Bukhoriy dalam Shohih-nya (3852)] 

 

“Masa depan adalah untuk Islam!! Allah akan menolong agama-Nya dengan kemuliaan orang yang mulia dan kehinaan orang yang hina; suatu kemuliaan yang Allah muliakan dengannya Islam dan kaum muslimin dan suatu kehinaan yang Allah hinakan dengannya kekafiran dan pengikutnya…Hadits-hadits dalam perkara ini adalah mutawatir”. [Lihat Bahjah An-Nazhirin (1/101)]

Para pembaca yang budiman, sambutlah datangnya kemenangan dan kejayaan Islam di akhir zaman dengan kesabaran dan usaha, baik materiil, maupun yang lainnya berupa usaha nyata yang baik menurut syariat.

Dengan kata lain, umat harus kembali kepada prinsip agama dan syariatnya yang suci.

Rasulullah –Shallallahu alaihi wa sallam– bersabda,

إِذَا تَبَايَعْتُمْ بِالْعِيْنَةِ وَأَخَذْتُمْ أَذْنَابَ الْبَقَرِ وَرَضِيْتُمْ بِالزَّرْعِ وَتَرَكْتُمُ الْجِهَادَ سَلَّطَ اللهُ عَلَيْكُمْ ذُلاًّ لاَ يَنْزِعُهُ حَتَّى تَرْجِعُوْا إِلَى دِيْنِكُمْ

“Apabila kalian melakukan transaksi “al-inah”(riba) dan kalian sibuk beternak sapi, serta kalian rela (puas) dengan bercocok tanam dan kalian meninggalkan jihad, pastilah Allah menimpakan kehinaan kepada kalian, dan Allah tidak akan melepaskan kehinaan itu dari kalian sebelum kalian kembali ke agama kalian”. [HR. Ahmad dalam Al-Musnad (4825), Ath-Thobraniy dalam Al-Mu’jam Al-Kabir (3/208/1), dan lainnya. Hadits ini di-shohih-kan oleh Al-Albaniy dalam Ash-Shohihah (no. 11)]

Di dalam hadits ini terdapat peringatan kaum muslimin bahwa apabila mereka meninggalkan jihad dan ajaran agama, lalu menyibukkan diri dengan dunia, maka kehinaan akan menimpa mereka.

Al-Imam Izzuddin Abu Ibrahim Al-Amir Ash-Shon’aniy –rahimahullah– berkata,

وَفِي هَذِهِ الْعِبَارَةُ زَجْرٌ بَالِغٌ وَتَقْرِيعٌ شَدِيدٌ حَتَّى جَعَلَ ذَلِكَ بِمَنْزِلَةِ الرِّدَّةِ وَفِيهِ الْحَثُّ عَلَى الْجِهَادِ. (انظر : سبل السلام – (2 / 58)

“Di dalam ungkapan ini terdapat celaan mendalam dan teguran keras sampai mendudukkan hal seperti kemurtadan. Di dalam hadits ini terdapat dorongan kepada jihad.” [Lihat Subul As-Salam (2/58)]

Jika teguran keras yang terdapat di dalam hadits ini, kita tidak indahkan dan perhatikan dengan baik, maka yakin dan pasti kehinaan, keterpurukan, kemunduran dan kelemahan akan mendera umat ini. Kita sibuk masing-masing memperhatikan kehidupan dunia kita, dan pada gilirannya kesenangan dunia yang indah membuat kita takut mati di jalan Allah demi mempertahankan dan mendakwahkan agama ini.

Al-Imam Syamsul Haqq Al-Azhim Abadiy –rahimahullah– berkata,

وسبب هذا الذل والله أعلم أنهم لما تركوا الجهاد في سبيل الله الذي فيه عز الإسلام وإظهاره على كل دين عاملهم الله بنقيضه وهو إنزال الذلة بهم فصاروا يمشون خلف أذناب البقر بعد أن كانوا يركبون على ظهور الخيل التي هي أعز مكان.” (انظر : عون المعبود – (9 / 242)

“Sebab kehinaan ini –Wallahu A’lam- bahwa mereka (kaum muslimin) tatkala meninggalkan jihad di Jalan Allah yang di dalam terdapat kewibawaan Islam dan kejayaannya di atas seluruh agama, maka Allah membalas mereka dengan sebaliknya yakni, dengan diturunkannya kehinaan pada mereka (kaum muslimin). Akhirnya, mereka pun berjalan di belakang ekor-ekor sapi, dimana sebelumnya menunggangi pungggung-punggung kuda yang merupakan tempat termulia.” [Lihat Aun Al-Ma’bud (9/242)]

Ketika kaum muslimin menyelesihi tuntunan agama yang terdapat di dalam Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya, maka mereka akan mendapatkan kehinaan. Sebaliknya, siapapun dari kalangan umat ini yang berusaha dengan sungguh-sungguh dan bersabar serta ikhlash dalam berpegang teguh dengan ajaran-ajaran agama, maka pertolongan itu akan turun dari langit.

Al-Imam Al-Hafizh Ibnu Rojab As-Salamiy Al-Dimasyqiy –rahimahullah– berkata,

“ومن أعظم ما حصل به الذل من مخالفة أمر الرسول صلى الله عليه وسلم ترك ما كان عليه من جهاد أعداء الله، فمن سلك سبيل الرسول صلى الله عليه وسلم عز، ومن ترك الجهاد مع قدرته عليه ذل…فمن ترك ما كان عليه النبي صلى الله عليه وسلم من الجهاد مع قدرته واشتغل عنه بتحصيل الدنيا من وجوهها المباحة حصل له من الذل فكيف إذا اشتغل عن الجهاد بجمع الدنيا من وجوهها المحرمة؟!” (الحكم الجديرة بالإذاعة – (ص / 40_41)

“Diantara sebab terbesar terjadi dengannya kehinaan, penyelisihan urusan (agama) Rasul -Shallallahu alaihi wa sallam-, yakni meninggalkan sesuatu yang dahulu dipijaki oleh beliau berupa berjihad melawan musuh-musuh Allah.

Jadi, barangsiapa yang menempuh jalan Rasul -Shallallahu alaihi wa sallam-, maka ia mendapatkan kewibawaan dan kejayaan. Siapapun yang meninggalkan jihad –padahal mampu berjihad-, maka ia akan menjadi hina.

Siapa saja yang meninggalkan sesuatu yang dahulu dipijaki oleh Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- berupa jihad –padahal ia mampu berjihad- dan malah menyibukkan diri (lalai) dari jihad gara-gara mengejar dunia dari arah-arah yang mubah, maka akan terjadi baginya kehinaan. Nah, bagaimana lagi bila seseorang menyibukkan diri (lalai) dari jihad gara-gara mengumpulkan dunia dari arah-arah yang diharamkan.” [Lihat Al-Hikam Al-Jadiroh bi Al-Idza’ah (hal. 40_41) karya Ibnu Rojab Al-Hambaliy, dengan tahqiq Syaikh Abdul Qodir Al-Arna’uth, cet. Dar Al-Ma’mun, 1990]

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Tulisan lainnya