Penawar Musibah

Jannatul-firdaus.net

Menyebar Ilmu Syar’i



Jannatul-firdaus.net

Menyebar Ilmu Syar’i



Bagikan…

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram



Penawar Musibah

  • Oleh: Al-Ustadz Abdul Qodir Abu Fa’izah –hafizhahullah
Setiap manusia pasti mengalami musibah, baik ia muda, maupun tua. Musibah dan ujian terkadang menimpa hati, jasad dan harta benda.

Seorang pedagang mengalami kerugian. Seorang ibu kematian anak atau suami. Seorang bapak kehilangan anak atau istri. Seorang pejabat dan pegawai atau pekerja kehilangan kedudukan dan pekerjaan. Seorang yang mengalami kecelakaan. Seorang petani gagal panen.

Semua ini adalah musibah yang muncul dari ketentuan (takdir) Allah -Subhanahu wa Ta’ala- sebagian ujian bagi keimanan bagi para hamba.

Mungkin diantara kita bertanya, “Lantas apa penawar musibah-musibah itu?”

Jawabnya, seorang hamba ridho dan rela terhadap takdir (ketentuan) Allah berupa musibah yang menimpa dirinya.

Itulah kesabaran. Lalu kesabaran itu diiringi oleh ihtisab (mencari pahala) di sisi Allah -Azza wa Jalla-.

Orang yang melakukan langkah seperti ini akan selalu mendapat petunjuk dan bimbingan Allah -Ta’ala-.

Allah Robbul Izzah berfirman,

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ  [التغابن : 11]

“Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang, kecuali dengan ijin Allah; dan barangsiapa yang beriman kepada Allah, niscaya dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha mengetahui segala sesuatu”. (QS. At-Taghabun : 11)

 

Siapa yang dimaksud dengan “orang yang beriman” dalam ayat ini?

Ulama tabi’in, Alqomah bin Qois Al-Kufiy –rahimahullah– berkata saat menjawab pertanyaan seperti ini,

هُوَ الرَّجُلُ تُصِيْبُهُ الْمُصِيْبَةُ، فَيَعْلَمُ أَنَّهَا مِنْ عِنْدِ اللهِ، فَيُسَلِّمُ ذَلِكَ وَيَرْضَى

“Dia adalah seorang yang ditimpa musibah. Lalu menyadari bahwa musibah itu dari sisi Allah sehingga ia pun menerimanya (dengan lapang dada) dan ridho”. [HR. Ath-Thobariy dalam Jami’ Al-Bayan (23/421), Al-Baihaqiy dalam Syu’abul Iman (no. 9976), dan Al-Qodhi Abu Ishaq Al-Malikiy dalam Ahkam Al-Qur’an (hal. 223) dengan sanad yang shohih]

Ketika tertimpa musibah kematian –misalnya-, maka seorang mukmin tidaklah menampakkan keluh kesah dan sikap protesnya di hadapan Allah, akibat musibah yang menimpa orang yang ia cintai.

Sikap protes dan keluh kesah semacam ini seakan ia adalah bentuk pengingkaran atas Allah -Azza wa Jalla-.

 

Rasulullah –Shallallahu alaihi wa sallam– bersabda,

اثْنَتَانِ فِى النَّاسِ هُمَا بِهِمْ كُفْرٌ : الطَّعْنُ فِى النَّسَبِ، وَالنِّيَاحَةُ عَلَى الْمَيِّتِ

“Dua perkara yang ada di kalangan manusia; keduanya merupakan pengingkaran: yaitu mencerca nasab dan meratapi mayat”. [HR. Muslim dalam Kitabul Iman (no. 67)]

Meratapi mayat di hari berkabung, bukanlah kebiasaan kaum beriman, bahkan merupakan kebiasaan kaum jahiliah.

Kaum beriman hanyalah bersedih di hari seperti itu, dengan linangan air mata dan iringan doa serta harapan semoga si mayat mendapatkan tempat yang baik di sisi Allah dan ada pengganti yang baik baginya di dunia, berupa keluarga dan keturunan yang sholih senantiasa mendoakan kebaikan dan ampunan baginya.

Adapun sikap meronta-ronta, merobek baju, memukul anggota badan serta meraung-raung, sambil mengenang jasa baik si mayat, maka semua ini kebiasaan buruk kaum jahiliah.

Itulah sebabnya Nabi –Shallallahu alaihi wa sallam– mengingkari hal itu dalam sabdanya,

لَيْسَ مِنَّا مَنْ ضَرَبَ الْخُدُودَ وَشَقَّ الْجُيُوبَ وَدَعَا بِدَعْوَى الْجَاهِلِيَّةِ

“Bukan dari golongan kami, orang yang memukul wajahnya, merobek kerah bajunya dan menyeru dengan seruan jahiliah”. [HR. Al-Bukhoriy dalam Shohih-nya (1297), dan Muslim dalam Shohih-nya (103)]

Al-Imam Al-Mubarokfuriy –rahimahullah– menerangkan makna “seruan jahiliah” seraya berkata,

“يعني قال عند البكاء ما لا يجوز شرعا مما يقول به أهل الجاهلية.” اهـ من تحفة الأحوذي – (4 / 69)

“Maksudnya, ia mengucapkan –di saat menangis- sesuatu yang tak boleh dalam syariat berupa perkara yang biasa diucapkan oleh kaum jahiliah”. [Lihat Tuhfah Al-Ahwadziy *(4/69), cet. Dar Al-Kutub Al-Ilmiyyah]

Itulah musibah kematian, seorang harus bersabar menghadapinya.

Demikian pula musibah kehilangan harta benda atau Allah menurunkan musibah atas dirinya berupa penyakit, kecelakaan, kebakaran rumah, bagkrutnya usaha dan lainnya.

Sebagian orang saat mendapat musibah-musibah seperti ini, ia berburuk sangka kepada Allah –Azza wa Jalla-.

Ia mengira bahwa dengan musibah itu berarti Allah tak menyayanginya.

Sebaliknya, ia menyangka bila ia bersenang-senang dengan berbagai macam kenikmatan duniawi yang ia gunakan bermaksiat. Dia dibiarkan sehat dan bebas dalam kehidupan ini, tanpa ada bencana dan musibah yang menimpa dirinya. Akhirnya, ia pun menyangka bahwa dirinya dicintai oleh Allah.

Padahal ia adalah munusia yang buruk, ditunda balasan buruknya di akhirat, bukan di dunia.

Rasulullah –Shallallahu alaihi wa sallam– bersabda,

إِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِعَبْدِهِ الخَيْرَ عَجَّلَ لَهُ العُقُوبَةَ فِي الدُّنْيَا ، وَإِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِعَبْدِهِ الشَّرَّ أَمْسَكَ عَنْهُ بِذَنْبِهِ حَتَّى يُوَافِيَ بِهِ يَوْمَ القِيَامَةِ

“Bila Allah menginginkan kebaikan pada diri hamba-Nya, maka Allah menyegerakan musibah baginya di dunia. Jika Allah menginginkan keburukan pada diri hamba-Nya, maka Allah menangguhkannya, karena dosanya, sampai ia membawa dosanya pada hari kiamat”. [HR. At-Tirmidziy dalam Sunan-nya (no. 2396). Hadits ini di-hasan-kan oleh Al-Albaniy dalam Ash-Shohihah (1220)]

Bila seseorang mukmin yang berusaha taat kepada Allah, lalu ia diberi ujian berupa bala’, maka semua itu adalah tanda bahwa ia adalah orang yang dicintai oleh Tuhan-nya, bukan dibenci!! Sebab seorang mukmin bila ia bersabar dan ridho terhadap takdir Allah berupa bala’ yang menimpa dirinya, maka ia akan mendapatkan balasan yang besar, insya Allah.

 

Rasulullah –Shallallahu alaihi wa sallam– bersabda,

إِنَّ عِظَمَ الجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ البَلاَءِ ، وَإِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلاَهُمْ ، فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا ، وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السَّخَطُ

“Sesungguhnya besarnya balasan seiring dengan besarnya bala’. Sesungguhnya Allah bila mencintai suatu kaum, maka Allah akan memberinya bala’. Karenanya, barangsiapa yang ridho, maka ia akan mendapatkan keridhoan dan barangsiapa yang murka, maka ia akan mendapatkan kemurkaan”. [HR. At-Tirmidziy (2396) dan Ibnu Majah (4031). Hadits ini di-hasan-kan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Ash-Shohihah (no. 146)]

Syaikh Muhammad Nashir Al-Arna’uth –rahimahullah– berkata,

و هذا الحديث يدل على أمر زائد على ما سبق و هو أن البلاء إنما يكون خيرا ، و أن صاحبه يكون محبوبا عند الله تعالى ، إذا صبر على بلاء الله تعالى ، و رضي بقضاء الله عز و جل .” اهـ من سلسلة الأحاديث الصحيحة – (1 / 145)

“Hadits ini menunjukkan tentang suatu perkara tambahan atas penjelasan telah lewat, yaitu bahwa bala’ akan menjadi kebaikan dan bahwa pelakunya dicintai di sisi Allah -Ta’ala-, bila ia bersabar atas bala’ yang Allah turunkan serta ridho terhadap ketentuan Allah -Azza wa Jalla-“. [Lihat Silsilah Al-Ahadits Ash-Shohihah (1/145)]

Semua musibah akan terasa ringan bagi seorang mukmin, bila ia menyadari bahwa semua itu adalah takdir dan ketentuan Allah, Sang Maha Pencipta alam semesta.

Dari situ, ia bersabar dan ridho terhadap segala bala’ dan musibah yang ia rasakan. Inilah penawar musibah.

Syaikh Abdur Rahman bin Nashir As-Sa’diy rahimahullah– berkata,

فإن العبد متى علم أن المصيبة بإذن الله ، وأن الله أتم الحكمة في تقديرها ، وله النعمة السابغة في تقديرها على العبد رضي بقضاء الله وسلم لأمره وصبر على المكاره ، تقربا إلى الله ، ورجاء لثوابه ، وخوفا من عقابه ، واغتناما لأفضل الأخلاق ، فاطمأن قلبه وقوي إيمانه وتوحيده .” اهـ من القول السديد شرح كتاب التوحيد – (ص / 128)

“Sesungguhnya seorang hamba kapan saja ia tahu bahwa musibah berdasarkan izin Allah dan bahwa Allah telah menyempurnakan hikmah-Nya dalam menakdirkan musibah, -sedang Dia memiliki nikmat yang sempurna saat menakdirkannya atas hamba-Nya-, maka seorang hamba akan ridho terhadap ketentuan Allah dan menerima ketetapan-Nya serta bersabar atas hal-hal yang dibenci demi mendekatkan diri kepada Allah, mengharapkan pahala-Nya, takut terhadap hukuman-Nya dan menggunakan akhlak terbaik (yakni, bersabar). Akhirnya, hatinya akan tenang, iman dan tauhidnya semakin kuat”. [Lihat Al-Qoul As-Sadid (hal. 128)]

Itulah penawar musibah yang mampu menjadikan musibah sebagai kebaikan yang membentuk diri kaum beriman sebagai manusia terbaik di sisi Allah.

Itulah sebabnya para nabi menjadi manusia terbaik, sebab mereka banyak mendapatkan musibah dan tantangan saat mereka berdakwah di jalan Allah. Tapi beratnya rintangan, ditepis dengan kesabaran.

Rasulullah –Shallallahu alaihi wa sallam– bersabda,

إِنَّ مِنْ أَشَدِّ النَّاسِ بَلَاءً الْأَنْبِيَاءَ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ

“Sesungguhnya diantara manusia yang paling keras bala’-nya adalah para nabi, lalu orang-orang setelahnya, lalu orang-orang setelahnya, lalu orang-orang setelahnya”. [HR. Ahmad dalam Al-Musnad (6/369). Syu’aib Al-Arna’uth menyatakan hadits ini shohih dalam Takhrijul Musnad (no. 27079)]

Semoga Allah –Azza wa Jalla– menjadikan kita orang-orang yang berbalut kesabaran dan keridhoan atas segala ketentuan-Nya.

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Tulisan lainnya

Ketika Hidayah Datang Menyapa Seorang Pemuda Awam

Jannatul-firdaus.net

Menyebar Ilmu Syar’i



Jannatul-firdaus.net

Menyebar Ilmu Syar’i



Bagikan…

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram



Ketika Hidayah Datang Menyapa Seorang Pemuda Awam

  • Oleh: Al-Ustadz Abdul Qodir Abu Fa’izah –hafizhahullah

[Berdasarkan Kisah Nyata]

 

Hidayah laksana emas yang turun dari langit; sebuah anugerah yang tiada tandingannya, sekalipun dinilai dg dunia.

Di sebuah sudut kota, terpilihlah seorang pemuda untuk menyambut hidayah itu, tanpa sedetik pun pernah terbetik dalam benaknya bahwa ia akan mengecap manisnya hidayah dalam mengenal Sunnah dan jalannya yang lurus nan indah.

Pemuda itu disapa dengan Abu Maryam

Awal kehidupannya –seperti umumnya- kaum muslimin yang awam, hanya mengenal Islam  turun-temurun dari leluhurnya, tanpa ada perhatian untuk mengenal Islam lebih dalam.

Abu Maryam adalah seorang pemuda yang giat dalam mencari nafkah dan dikenal akan keuletannya. Ia mahir dalam berbagai keterampilan dan keahlian dalam beberapa perkara yang menjadikannya orang yang tangguh dan mandiri dalam hidupnya. Pekerjaan tidak pernah jauh darinya.

Sebagai seorang pemuda, tentu saja orang tua masih terus memikirkannya, memikirkan masa depan anaknya kelak di masa tua. Orang tua pun tentunya terus berupaya mencari jalan untuk mencari jodoh untuk pemuda yang disapa Abu Maryam ini.

Orang tua pada umumnya –sekalipun awam akan agama-, senang dan simpati kepada wanita yang agamawan, wanita yang menjaga kesucian dan kehormatan dirinya. Serusak apapun, pasti ia akan mencari wanita sholihah yang akan siap menjadi pendamping dan teman hidup yang abadi bagi buah hatinya.

Usut punya usut, setelah bermusyawarah dan bertukar pikiran, pilihan jodoh untuk si Abu Maryam, jatuh pada seorang wanita yang berhijab, lengkap dengan cadarnya. Jrengggg!!

Orang tua pun menyampaikan kepada si pemuda awam ini bahwa jodohnya adalah seorang wanita sholihah yang bercadar agar menjadi teman hidup kekasihnya sepanjang hayat masih dikandung badan.

Tentunya sebagai seorang yang awam, ia rada kaget, karena ia selama ini berada di alam lain yang kental dengan kebiasaan para pemuda awam yang jauh dari bimbingan Al-Qur’an dan Sunnah.

Sementara calon istri di alam lain yang kental dengan kehidupan beragama dan penuh akhlak.

Banyak pertanyaan dan kebingungan yang menggelayut dalam pikirannya, usai menyimak penjelasan dari orang tua.

“Akankah aku bisa hidup dengannya”

“Siapakah wanita itu”

“Aku belum pernah melihat wajahnya yang bercadar”.

“Mampukah aku sejalan dengan seorang wanita yang agamis, sementara aku adalah pemuda yang dangkal akan agama?”

“Mampukah ia hidup bersamaku sebagai suami yang awam?”

“Dari manakah aku harus memulai pembicaraan dengannya?”

“Apakah yang ia sukai dan apa yang ia benci.”

Di lain sisi, si wanita calon pendamping hidupnya (Ummu Maryam), juga kaget dengan keputusan orang tua yang mereka ambil dengan menjodohkannya dengan seorang pemuda awam. Ia pun memikirkan dalam-dalam akan perkara itu, karena ia berada diantara dua pilihan yang sulit baginya untuk menimbang secara tepat; antara menerima calon pasangannya yang notabene berlatar belakang awam, dan antara ia menolak dan menyakiti hati orang tuanya.

Dengan penuh tawakkal dan berbaik sangka kepada Allah, yakin bahwa keteguhan hatinya dan agama yang selama ini ia dalami akan mampu mengayuh rumah tangga bersama dengan pemuda awam itu di atas bahtera rumah tangga di atas bimbingan Al-Qur’an & Sunnah. Sekalipun ia sendiri tidak menyarankan seorang wanita yang agamis bercadar untuk berani melalui aral dan tantangan yang super berat ini. Sebab, telah banyak korban dari wanita bercadar yang menikah dengan pria awam, dan pada akhirnya ia jauh dari agama dan terwarnai oleh pola kehidupan awam dari suaminya.

Berselang beberapa waktu kemudian, berlangsunglah acara walimahan ‘pernikahan’ antara Abu Maryam dengan seorang wanita yang dijodohkan untuknya. Itulah Ummu Maryam.

Hari itu adalah hari bahagia baginya dan sekaligus hari yang membuatnya rikuh dan salah tingkah. Entah apa yang ia harus lakukan. Tapi ia jalani saja sesuai dengan rencana keluarga.

Seusai pernikahan, ia harus meninggalkan kampung halaman menuju sebuah pulai di barat Nusantara ini demi mengais rezki penyambung hidup bersama sang istri yang tercinta.

Hari itu, ia berangkat bersama istri dan melangkahkah kaki menuju kehidupan yang baru di negeri orang. Ia pun berpamitan dengan orang tua dan keluarga.

Di balik keberangkatan itu, ada sebuah hal yang aneh baginya, sejak ia menikah sampai hari keberangkatan itu, sang istri yang menghijab dirinya dengan cadar, belum pernah bercengkerama dengannya. Sang istri hanya mengikuti langkahnya kemana ia pergi.

Hari itu, ia berangkat dengan sebuah kapal besar milik PELNI dalam menembus keganasan lautan untuk sampai ke negeri perantauan di ujung barat dari Nusantara ini.

Sikap dingin sang istri, ia gunakan untuk mengatur dan mengangkat barang-barang dengan gesitnya ke atas perahu raksasa itu. Sesekali, ia hanya memerintahkan istrinya untuk bergerak dan berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya. Selebihnya, suasana hanya diselimuti oleh sikap diam dan dingin dari sang istri.

Abu Maryam –sekalipun- awam- adalah seorang yang penyayang dan pengertian. Sikap dingin itu, ia tidak hadapi dengan amarah dan buruk sangka. Pikirannya, mungkin sang istri amat pemalu sehingga ia terdiam seribu bahasa, dan ia pun bingung memulai dari mana!

Di atas kapal, ia hanya duduk termangu bagaikan batu yang tidak dapat berbicara. Ia hanya memandangi orang-orang berlalu lalang di hadapannya dan sibuk dengan urusan dan hajat mereka.

Sesekali ia menoleh kepada sang istri yang bercadar, dan memandangi hijab yang membalut dirinya. Ia salut dengan istrinya yang begitu sabar selama ini untuk memakai cadar dan hijab, di tengah gemerlapnya dunia dan jauhnya wanita-wanita muslimah pada umumnya dari agama dan pakaian syar’i seperti yang digunakan oleh istrinya.

Selama di atas kapal, kebisuan itu hanya terpecahkan oleh ombak lautan yang kejar-mengejar dan gelak ria dari sebagian penumpang yang ada di sekitarnya.

Kesunyian benar-benar terasa di tengah hiruk pikuk penumpang yang lewat di hadapan mereka berdua. Kala itu, dunia belum mengenal aplikasi medsos secara meluas (seperti facebook, WhatsApp, LINE, atau yang lainnya) sebagai bahan pemecah kesunyian. Ah, tapi ia jalani saja dan barangkali ini adalah ujian berat berbuah manis di esok hari.

Kala itu, datanglah waktu makan –sebagaimana yang terjadwal-. Abu Maryam pun beranjak dari tempat duduknya untuk mencari pengisi perut yang sudah rada keroncongan. Ia pun menunggu antrian sebagaimana halnya penumpang kapal yang lainnya.

Tidak lama kemudian –setelah dapat antrian makanan-, ia pun datang membawa dua porsi makanan untuknya dan untuk istri yang tercinta, dengan penuh harap sang istri sudi bersantap makanan dan bercengkerama bersamanya.

Sambil menyodorkan makanan itu kepada kekasih hatinya, ia pun menyapanya, “Makanlah, mungkin anda sudah amat lapar.”

Jrenngggg…ternyata sang istri tidak bergerak sedikitpun, sambil terisak sedih. Ia tidak menyentuh makanan itu.

Abu Maryam sebagai seorang pemuda yang penyayang amat iba dengan istrinya. Tapi ia bingung harus berbuat apa dan berkata apa? Ia bingung, sebab sang istri hanya terdiam.

Ia pun mengerti perasaan seorang wanita, mugkin ia bersedih karena berpisah dengan keluarga yang selama ini hidup bersamanya, dan kini harus melangkah nun jauh di seberang.

Ia letakkan makanan itu di sisi istrinya, barangkali ia memakannya jika rasa sedihnya telah pudar.

Selesai santap siang, ia rebahkan badannya untuk beristirahat dan tidak lupa ia menitipkan pesan, sembari berkata, “Dik, makanannya abang letak disini ya, entar kamu makan.”

Makanan yang terdiam bisu itu, sesekali hanya disentuh oleh sang istri dalam beberapa suap saja. Yang tersisa lebih banyak daripada yang tersentuh.

Bangkit dari istirahatnya, Abu Maryam pun memberi sapaan-sapaan ringan kepada sang istri yang terus termenung dan memandangi laut lepas yang mengelilingi mereka.

Untuk memecahkan keheningan, Abu Maryam sesekali beranjak dari peraduannya menuju dek kapal yang teratas untuk menikmati keindahan lautan, dan hangatnya terpaan angin yang bertiup semilir. Ia bercengkerama bersama penumpang lain yang juga ikut berada di tempat itu.

Tidak lama ia melepas keheningan, ia kembali mendekat kepada sang istri, barangkali saja ia mau bercakap dengannya. Namun sang istri terus dalam bisunya.

Demikianlah hari-hari mereka lalui di atas bahtera besar itu, sampai berlabuh di sebuah pantai dari pulau yang mereka tuju.

Dari atas kapal sampai turun ke daratan, ia terus mengawal istrinya dengan penuh perhatian. Ia pun dengan gesit kembali memindahkan dan menurunkan barang-barang dan perbekalannya.

Abu Maryam ternyata di perantauan adalah seorang pekerja di sebuah perusahaan, dimana setiap pekerja yang berkeluarga diberi hunian yang layak.

Sesampainya ditujuan, dengan mengendarai angkutan umum, semua barang-barang bawaan dimasukkannya ke dalam rumah. Beliau mempersilakan sang istri untuk masuk ke dalam rumah tujuan itu.

Hari dan waktu mereka lalui, namun sang istri masih membisu seperti semula. Sang istri hanya makan seadanya. Hal itu membuat Abu Maryam khawatir istrinya akan jatuh sakit dan kurus.

Sampai di suatu hari, istrinya menyampaikan sebuah pernyataan, “Aku tidak ingin hidup bersama denganmu sampai abang mau belajar agama!”

“Dimanakah aku harus belajar?” sambutnya.

“Abang belajarlah agama dengan baik.”

“Terus dimanakah aku belajar?”

“Abang carilah seorang ustadz bernama fulan bin fulan yang ada di rantau ini. Aku dengar ada majelis Ahlus Sunnah di tempat ini. Abang harus cari sampai dapat dan belajarlah kepada beliau. Semoga abang mengerti agama sebagaimana halnya aku.”

Dengan hati yang berbunga-bunga, Abu Maryam pun sejak saat itu dengan penuh semangat bertanya dan mencari alamat yang diisyaratkan oleh sang istri.

Akhirnya, ia menemukan alamat itu sesuai informasi yang ia dapatkan. Hatinya amat bahagia. Ia baru menyadari bahwa untuk bersama dengan wanita sholihah, ia harus ikut jadi suami yang sholih dan mengerti agama.

Sejak itu, ia rajin mendatangi majelis-majelis yang diadakan oleh ustadz Ahlus Sunnah di tempat itu, sampai ia mengerti aqidah, akhlak dan tata cara ibadah yang benar.

Demikianlah hidayah itu menyapa seorang pemuda awam yang –insya Allah- dirahmati oleh Allah –azza wa jalla-.

 

Kini, mereka dikaruniai anak-anak yang sholih dan paham agama. Semoga Allah menjadikan mereka pasangan yang diberkahi oleh Allah dan setia di atas Sunnah sampai ajal menjemput. Amiin…

Semoga kisah ini membuahkan pelajaran penting bagi kita bahwa :

  1. Hidayah ada di tangan Allah –azza wa jalla-.
  2. Pentingnya ada nasihat diantara suami-istri.
  3. Pentingnya membangun rumah tangga di atas satu aqidah dan pemahaman agar bahtera rumah tangga tidak oleng.
  4. Indahnya hidup saling memahami dan saling pengertian, dimana hal ini akan membuahkan husnuzh zhonn (baik sangka).
  5. Ilmu agama adalah pembangun kehidupan rumah tangga di atas sakinah dan mawaddah.
  6. Besarnya pengaruh ilmu agama dalam membentuk karakter pribadi sholih dan sholihah.
    7. Teman yang baik dan istri yang sholihah akan memberikan pengaruh positif dalam kehidupan seseorang dan menjadi sebab untuk meraih hidayah dan terus istiqomah di atas kebaikan.

====================================

Diceritakan kembali dan dituangkan dalam bentuk tulisan oleh Ustadz Abdul Qodir Abu Fa’izah, Lc., dimana sebelumnya pelaku kisah bertutur kepada beliau.

Setelah tulisan ini rampung, kembali disodorkan kepada pelaku kisah agar tidak terjadi kesalahan dalam pengisahan perjalanan hidup mereka yang indah serta penuh hikmah dan pelajaran-pelajaran yang berharga.

Rabu, 26 Romadhon 1438 H

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Tulisan lainnya

Kesatria Hebat dari Madinah

Jannatul-firdaus.net

Menyebar Ilmu Syar’i



Jannatul-firdaus.net

Menyebar Ilmu Syar’i



Bagikan…

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram



Kesatria Hebat dari Madinah, Mu’adz bin ‘Amr Al-Jamuh -radhiyallahu anhu-

Ketika Mu’adz bin ‘Amr Al-Jamuh bersama dengan beberapa anak-anak usia sebayanya sedang keluar masuk di antara sumber air, rerimbunan dan tetumbuhan hijau, tiba-tiba ia menyaksikan seseorang dai muda dari kota Makkah, Mush’ab bin umair.

Dengan begitu lembut lagi ramah, pemuda dari Makkah itu memberi salam penghormatan kepada mereka. Dengan penuh rasa cinta dan kasih ia mengajak mereka berbicara.

“Tidakkah kalian mau untuk duduk bersamaku barang sesaat ini saja? Aku akan menyampaikan beberapa hal yang kuketahui kepada kalian jika kalian senang dengan apa yang kalian dengar, maka aku akan melanjutkannya.

Namun, jika malah menggelisahkan kalian, maka aku akan berhenti,” kata Mush’ab.

Para pemuda yang baru memasuki usia mudanya itu saling memandang satu sama lain. Mereka saling memandang dengan pandangan-pandangan penuh dengan keridhaan,penerimaan dan ketenangan. Kata mereka, “Tentu, kami mau.”

Kemudian para pemuda itu berkumpul di sekitar Mush’ab bin ‘Umair seperti terkumpulnya biji manik-manik dalam sebuah kalung dengan begitu rapinya di sekitar leher yang bersinar. Dengan wajah berseri juga disertai wajah yang begitu ramah dan akrab, Mush’ab memandangi mereka.

Ia segera mengajak mereka berbicara dengan penjelasannya yang begitu segar dan bercahaya.

Berbagai keistimewaan ISLAM  disampaikan kepada mereka. Mush’ab menghiasi manisnya keimanan ke dalam hati-hati mereka.

Lalu menambahkan kebencian terhadap kekufuran  dan pemyembahan serta peribadatan kepada berhala-berhala.

Begitu penjelasan Mush’ab selesai, wajah Mu’adz bin ‘Amr bin Al-Jamuh langsung penuh dengan cahaya keimanan. Kemudian ia memandang ke arah Mush’ab sambil berkata,

“Apa yang harus aku lakukan bila aku ingin masuk ke dalam agama ini?”

Mush’ab  menjawab,

“Engkau mendatangi sumur ini dan bersuci dengan airnya.

Kemudian engkau bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak selain Allah saja, tidak ada sekutu bagi-NYA serta penutup para nabi-NYA.

Setelah itu engkau hadapkan wajahmu kepada dzat yang menciptakan langit dan bumi. Engkau engkau menunaikan sholat dua rakaat.”          

“Seakan-akan awal mula agama ini adalah kesucian badan dengan berwudhu kemudian berakhir dengan kesucian ruh dan jiwa dengan menunaikan sholat,” Komentar Mu’adz.

Sengurat senyum tersipul  pada diri Mush’ab bin ‘umair.Senyum kagum lagi takjub atasnya.

“Betapa cepat sekali engkau dapat memahami ,wahai Mu’adz!’ Puji Mush’ab.

Datanglah Mu’adz ke sumur itu lalu bersuci. Dua kalimat syahadat terucap darinya.kemudian ia mengerjakan sholat dua rakaat.

Begitu melihat keislaman Mu’adz, maka kedua saudaranya Mu’awwadz dan Khallad langsung masuk ke dalam ISLAM. Keduanya melakukan apa yang dilakukan Mu’adz . Akhirnya, dua orang itu bersama saudaranya masuk ke dalam agama Allah.

Saat itu, ayah Mu’adz yang bernama ‘Amr bin Al-Jamuh adalah seorang yang begitu tua, sudah berumur.

Ia memiliki sebuah berhala yang bernama Manat. Berhala itu dibuat dari sebatang kayu yang mahal harganya. Kemudian ia menyempurnakan berhala itu dengan begitu indah dan bagusnya.

Ia sangat berlebihan dengan berhala itu layaknya orang-orang terhormat lainnya.

Ia telah berikrar dan bernazar untuk senantiasa berkhidmat terhadap berhala tersebut.

Sang ayah selalu mendatangi sang berhala pada setiap pagi dan sore hari.

Tidak bosan-bosannya ia melumurinya dengan minyak wangi terbaik.

Dia senantiasa menghaturkan berbagai persembahan dan korban terbaik kepadanya.

Mu’adz berpikir bahwa tidak ada acara lain agar sang ayah bisa masuk ke dalam Islam selain dengan menghilangkan berhala itu dari kehidupannya.

Mu’adz mengetahui bahwa ayahnya yang sudah tua itu tidak akan kuat mendengar cercaan dan makian yang ditujukan kepada sang behala, sehingga menjadi suatu hal yang mustahil bila ia meninggalkan  berhala itu setelah sekian lama ia bersama sang berhala hanya celaan orang yang mencela atau bantahan orang yang membantah.

Akhirnya, ia berazam dan bertekad untuk menempuh cara lain selain cara yang mematikan. Tidak lain dengan meminta bantuan dari saudara-saudaranya dan teman sebayanya.

Pada suatu malam, Mu’adz beserta saudaranya dengan ditemani teman-temannya pemuda sebayanya dari Bani Salimah mendatangi berhala tersebut. Dengan mengendap, mereka mengambil berhala tersebut dari tempatnya.

Mereka lalu membawa berhala tersebut ke sebuah parit di belakang perumahan. Setelah itu dilemparkan kotoran-kotoran kepadanya.

Mereka mencampakkannya ke dalam lubang tanah yang paling dalam. Kemudian mereka kembali pulang dengan jalan yang sama.

Setelah itu, mereka semua tidur terlelap bersama orang-orang lain seolah-olah tidak terjadi apa-apa.

Keesokan harinya, orang tua itu (yaitu, ‘Amr bin Al-Jamuh) seperti biasanya pergi menghadap berhala tersebut. Namun, ternyata ia tidak dapat menemukannya.

Seketika itu, ‘Amr bin Al-Jamuh naik pitam. Kemarahannya menyala-nyala. Ia mulai mencari berhala itu di setiap sudut tempat hingga akhirnya ia menemukannya telah tersungkur dan tertelungkup ke dalam selokan.

Ia segera mengambil berhala tersebut dan memandikannya dengan air yang bersih dan melumurkan minyak wangi termahal ke berhala tersebut. Kemudian ia mengembalikannya ke tempat semula.

Mu’adz dan kawan-kawannya melancarkan aksinya kembali terhadap berhala itu hingga dua atau tiga kali. Demikian pula dengan ‘Amr bin Al-Jamuh dengan tekunnya ia kembali mengambil berhala itu dari parit, lalu memandikannya dan melumurinya dengan minyak wangi.

Ketika malam keempat, rasa bosan dan jemu menghinggapi diri ‘Amr bin Al-Jamuh. Sebelum tidur, ia mendatangi berhala tersebut. Ia mengambil pedang yang sudah terhunus dan mengalungkannya pada leher berhala. Ia berkata kepada berhalanya,

“Wahai Manat, jika engkau benar-benar tuhan, maka belahlah dirimu dari orang-orang yang bebuat melampaui batas kepadamu dan berbuat jelek kepadamu. Pedang ini bersamamu, maka lakukanlah apa yang engkau sukai.”

Akan tetapi, keesokan harinya berhala itu sudah tertelungkup dan tersungkur  di selokan yang sama, bahkan sekarang ia terikat dengan bangkai anjing.

Kali ini, sang ayah (yaitu, ‘Amr) tidak sudi lagi mengeluarkan berhala itu dari selokan.

Ia meninggalkan dan membiarkannya begitu saja. Justru kemudian ia bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah.

Tidak lama setelah keislaman Mu’adz bin ‘Amr, datanglah Rasulullah –shallallahu ke kota Madinah untuk berhijrah.

Mu’adz dan saudara-saudaranya segera menyambut beliau seperti seorang yang kehausan menemukan air yang begitu segar.

Mereka sangat mencintai beliau seperti kecintaan seorang ibu kepada anak semata wayangnya.

Kemudian mereka selalu menemani beliau seperti seseorang kepada kekasihnya. Mereka pergi bersama ketika beliau pergi.

Mereka kembali datang ketika beliau datang. Mereka juga sholat di belakang beliau ketika waktu sudah datang.

Mereka menghadiri majelis nasihat dan petunjuk ketika beliau duduk bersama para sahabatnya untuk memberi nasihat dan mengajarkan agama Allah kepada mereka.

Sampai akhirnya, jadilah Mu’adz dan saudara-saudanya sebagai pemuda kesayangan Yatsrib, dan sebagai kebahagiaan bagi islam  dan pemeluknya.

Tak terasa hari-hari para pemuda belia lagi patuh itu bergulir begitu cepat hingga akhirnya meletuslah perang Badar yang begitu besar.

Dalam peperangan Mu’adz dan saudaranya, Mu’awwadz memiliki sebuah peristiwa yang pantas untuk dikenang dan begitu terkenal. Sebuah peristiwa yang tertulis dan terabadikan dalam lembaran sejarah Islam yang diakui dengan huruf-huruf yang terbuat dari cahaya.

Lantaran itu, marilah kita dengarkan bersama penuturan sahabat mulia ‘Abdurrahman bin auf dalam membawkan kisah tersebut.

Kita dengarkan bersama penggalan kisah tentang dua bersaudara itu.

Sesungguhnya ‘Abdur Rahman bin Auf telah menyaksikan dari dua orang tersebut sebuah pristiwa yang membuatnya begitu tercengang dan terkagum-kagum.

Kata ‘Abdurrahman bin auf menuturkan hal itu,

“Ketika aku sedang berdiri dalam barisan pasukan pada perang Badar, aku segera mengawasi sekelilingku. Ternyata aku mendapati di sebelah kanan dan kiriku, ada dua orang pemuda belia dari kalangan pemuda Anshar.

Salah seorang dari keduanya memberi isyarat kepadaku dengan matanya.

Aku pun mendekatinya sembari bertanya, “Apakah engkau memberi isyarat kepadaku dengan matamu, wahai anakku?”

“Ya,” jawab singkat.

“Apa yang kamu inginkan?”

“Apakah anda mengenal dan mengetahui Abu Jahl, wahai paman.”

“Ya, aku mengenalnya.”

“Tunjukkan kepadaku mana orangnya.”

“Apa yang engkau inginkan darinya, wahai keponakanku?!”

“Aku diberitahu bahwa ia telah memaki dan mencela Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam-, serta memerintahkan untuk membunuh beliau.

Demi Dzat Yang jiwaku berada di tangan-NYA. Jika aku melihatnya maka aku benar-benar akan menyerangnya. Kemudian aku terus menyerangnya hingga siapakah yang lebih duluan ajalnya diantara kami.”

Aku pun memandang pemuda itu dengan sesimpul senyum penuh kekagumman berpadu keheran-heranan. “Memangnya siapa kamu?” tanyaku

“Aku adalah Mu’adz bim ‘Amr Al-Jamuh,” jawabnya.

Aku kembali meluruskan diri ke dalam barisan. Pemuda lain segera mendekat kepadaku. Ia juga memberi isyarat mata kepadaku.

Lalu kudekatkan mataku ke arahnya. Ia juga mengatakan hal yang sama kepadaku.

“Siapa kamu?” tanyaku kepadanya.

“Aku adalah Mu’awwadz bin ‘Amr.”

“Lalu siapa yang berdiri di sebalah kananku itu?”

“Dia itu saudaraku, Mu’adz.”

Tidak ada yang menggembirakan diriku ketika aku berdiri di antara dua pemuda siapapun ia, selain Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- dibandingkan dua pemuda bersauda itu.

Tidak lama kemudian aku melihat Abu Jahl berjalan-jalan di antara pasukan Quraisy. Aku segera menoleh kepada kedua pemuda itu seraya berkata, “Wahai keponakanku tidaklah kalian melihat orang yang berjalan-jalan  di antara pasukan Quraisy itu?”

“Tentu.”

“Itulah orang yang kalian cari-cari.”

Mu’adz menuturkan:

Begitu aku melihat Abu Jahl, dengan perlahan-lahan dan tidak tergesa-gesa segera menuju ke arahnya.

Sementara itu pasukan musyrikin mengelilinginya seolah-olah dia sedang berada di tengah-tengah hutan belantara pasukan.

Salah seorang pasukan muslimin yang saat itu sedang menatapku,

“Hati-hatilah terhadap Abu Jahl wahai anak muda untuk sampai kepadanya merupakan hal sulit bagimu.”

Demi Allah, tidaklah ucapan orang itu mempengaruhiku, melainkan menembah keberanian dan tekadku.

Aku segera bergerak cepat ke arahnya. Ketika posisiku sudah mapan, aku segera menyerangnya dan menyabetnya dengan pedang. Sebetanku mengenai betisnya hingga menjadikannya terjatuh ke tanah. Sementara itu, saudaraku Mu’awwadz mengikutiku.

Ketika sudah berada di atas Abu Jahl, ia segera membantingkan pedangnya ke arahnya. Pedang segera ia pergunakan.

Namun, tombak-tombak pasukan musyrikin mampu melindungi Abu Jahl. Tombak-tombak itu mengarah kepadanya dari segala arah hingga akhirnya, banyaknya luka menjadikan dirinya begitu lemah dan payah. Akhirnya, Mu’awwadz terjatuh pada sisi badannya sebagai syahid.

Sedangkan aku, maka anaknya Abu Jahl (‘Ikrimah bin Abu Jahl) segera menyerang dua pundak dan bahuku dengan pedangnya. Pedang itu berhasil melukai tangan kiriku dan bahu.

Akan tetapi, tanganku tanganku tersambung dengan kulit di sisi perutku.

Aku terus melanjutkan peperangan sepanjang siang, sementara tanganku yang sudah terluka parah itu, kuseret di belakangku.

Ketika tangan itu terasa sakit kurasakan, bahkan menghalangiku untuk melanjutkan peperangan, aku meletakkan telapak tangan kiriku di atas tanah, lalu aku meletakkan kakiku di atas tangan itu. Aku terus berusaha menariknya  sampai akhirnya tangan itu terlepas dari badanku. Aku segera melempar tangan itu ke tanah.

Setelah kecamuk peperangan berhenti, datanglah seseorang kepada Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- memberitahukan kabar gembira kematian Abu Jahl. Beliau bertanya kepada orang tersebut,

“Allah Yang tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain-NYA. Apakah benar berita tersebut?”

Kemudian, Rasulullah segera bertakbir, “Allahu akbar… Allahu akbar…

Segala puji bagi Allah yang janji-Nya telah benar dam telah menolong hamba-Nya.”

Setelah itu, Mu’adz bin ‘Amr Al-Jamuh senantiasa membela dan mempertahankan Islam dengan satu tangannya sepanjang masa hidup Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam-. Demikian pula pada dua masa sahabat beliau: Abu Bakar dan Umar bin Al-Khaththab.

Kemudian pada masa Khalifah Dzun Nurain ‘Utsman bin ‘Affan, Mu’adz bin ‘Amr Al-Jamuh menyambut panggilan Rabb-NYA dalam keadaan tangan kanannya  ikut bersamanya.

Sementara tangannya yang lain ia berharap tangannya itu mendahuluinya ke dalam surga yang penuh kenikmatan.

___________

Ditulis ulang oleh Santri Kelas VI Pesantren Al-Ihsan Gowa (Fadhilah bintu Abdil Qodir Abu Fa’izah –hafizhahumallah-) dari terjemahan kitab “Shuwar min Hayatish Shohabah”, karya Dr. Abdur Rahman Ra’fat Basya –rahimahullah-, dengan sedikit pengeditan.

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Tulisan lainnya

Kisah Heroik Para Sahabat ‘Singa-singa Padang Pasir’


| Menu

| MENU

Bagikan…

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram



Kisah Heroik Para Sahabat ‘Singa-singa Padang Pasir’

  • Oleh: Ust. Abdul Qodir Abu Fa’izah, Lc. hafizhahullah
  • [Pembina Ponpes Al-Ihsan Gowa]

Kisah heroik para sahabat Rasulullah –Shallallahu alaihi wa sallam- telah mengisi lembaran-lembaran sejarah indah Islam. Para sahabat memiliki keberanian luar biasa dalam menghadapi musuh, laksana singa-singa padang pasir yang tidak gentar kepada musuh apapun. Mereka adalah kaum yang mencari syahadah (kedudukan mati syahid) di jalan Allah demi mengangkat martabat agama Allah.

Tak ada dalam kamus hidup mereka, melainkan Mati Syahid, atau Hidup Mulia di atas Islam, yang kemudian disederhanakan oleh kaum muslimin Indonesia dengan semboyan “Merdeka atau Mati”, yakni merdeka di atas Islam atau mati syahid di tangan musuh kafir Belanda dengan ganjaran surga di sisi Allah -Tabaroka wa Ta’ala-.

Para sahabat –radhiyallahu anhum– berjihad tanpa kenal capek dan gentar, mereka senantiasa siap menghadapi kaum kafir yang tak mau tunduk kepada agama Allah (Islam).

Cerita indah dari kehidupan para pahlawan dan pembawa panji Islam telah menghiasi lukisan sejarah manusia.

Mereka telah melakukan perubahan dalam segala sisi, mulai dari akhlaq manusia, ilmu, ibadah dan lainnya. Semua berkat perjuangan para sahabat –radhiyallahu anhum-.

Para pembaca yang budiman, kali ini kami akan mengajak anda meneguk manisnya sejarah mereka dengan menukil kisah kepahlawanan mereka sebagaimana yang dinukil oleh sejarawan Islam,

Al-Imam al-Hafizh Ibnu Katsir Ad-Dimasyqiy –rahimahullah– dalam kitabnya yang berjudul “Al-Bidayah wa an-Nihayah” (9/621-623) seputar Perang Qodasiyyah:

Di zaman itu, kaum muslimin melakukan penyerangan terhadap kerajaan Majusi (Persia) yang kala itu dipimpim oleh Raja Yazdajir.

Sang Raja mengirim seorang panglima perang mereka yang bernama Rustum.

Adapun kaum muslimin saat itu dipimpin oleh Amirul Mukminin Umar bin Al-Khoththob –radhiyallahu anhu-. Beliau saat itu mengirim bala tentara yang dipimpin oleh Sa’ad bin Abi Waqqosh, salah seorang calon penghuni surga –radhiyallahu anhu-.

Sekarang mari kita dengarkan kisah selengkapnya:

Tatkala dua pasukan akan berhadapan, maka Rustum mengirim pesan kepada Sa’ad –radhiyallahu anhu-,

“Tolong kirim seorang yang cerdik kepadaku karena ada suatu hal yang aku akan tanyakan kepadanya”. Akhirnya, Sa’ad mengutus Al-Mughiroh bin Syu’bah –radhiyallahu anhu-.

Ketika Al-Mughiroh datang kepadanya, mulailah Rustum berkata kepadanya, “Sesungguhnya kalian adalah tetangga kami. Kami telah berbuat baik kepada kalian dan menahan gangguan dari kalian. Karenanya, kembalilah ke negeri kalian. Kami tak akan menghalangi para pedagang kalian dari memasuki negeri kami”.

Sahabat Al-Mughiroh bin Syu’bah Ats-Tasqofiy –radhiyallahu anhu– menjawab,

إِنَّا لَيْسَ طَلَبُنَا الدُّنْيَا، وَإِنَّمَا هَمُّنَا وَطَلَبُنَا الْآخِرَةُ، وَقَدْ بَعَثَ اللَّهُ إِلَيْنَا رَسُولًا قَالَ لَهُ: إِنِّي قَدْ سَلَّطْتُ هَذِهِ الطَّائِفَةَ عَلَى مَنْ لَمْ يَدِنْ بِدِينِي، فَأَنَا مُنْتَقِمٌ بِهِمْ مِنْهُمْ، وَأَجْعَلُ لَهُمُ الْغَلَبَةَ مَا دَامُوا مُقِرِّينَ بِهِ، وَهُوَ دِينُ الْحَقِّ لَا يَرْغَبُ عَنْهُ أَحَدٌ إِلَّا ذَلَّ، وَلَا يَعْتَصِمُ بِهِ إِلَّا عَزَّ.

“Sesungguh bukanlah tujuan kami adalah dunia!! Hanyalah tujuan dan cita-cita kami adalah akhirat!!! Sungguh Allah telah mengutus kepada kami seorang Rasul; Allah berpesan kepadanya, “Sungguh Aku telah kuasakan (tolong) kelompok ini (yakni, kaum muslimin) atas orang-orang yang tak mau menganut agama-Ku. Akulah yang akan menghukum mereka dengan perantaraan kaum muslimin dan akan Aku berikan kemenangan bagi mereka selama mereka mengakui agama ini, yaitu agama kebenaran; tak ada yang benci kepadanya kecuali ia akan terhina dan tak ada yang berlindung dengannya, kecuali ia akan mulia”.

Rustum bertanya, “Agama apa itu?”

Al-Mughiroh bin Syu’bah –radhiyallahu anhu– menjawab,

 أَمَّا عَمُودُهُ الَّذِي لَا يَصْلُحُ شَيْءٌ مِنْهُ إِلَّا بِهِ، فَشَهَادَةُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ، وَالْإِقْرَارُ بِمَا جَاءَ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ

“Adapun pilar-pilarnya yang tak akan baik sesuatu dari agama ini, kecuali dengannya, maka ia adalah persaksian bahwa tak ada sembahan yang haq, melainkan Allah dan bahwa Muhammad adalah Rasul (utusan) Allah serta mengakui semua yang datang dari sisi Allah!!”

“Oh, alangkah indahnya agama ini! Apalagi selain itu?”, tanya Rustum

Al-Mughiroh –radhiyallahu anhu– menjawab,

وَإِخْرَاجُ الْعِبَادِ مِنْ عِبَادَةِ الْعِبَادِ إِلَى عِبَادَةِ اللَّهِ

“Mengeluarkan para hamba dari penyembahan terhadap hamba menuju penyembahan kepada Allah”.

“Ini juga bagus”, tutur Rustum seraya berkata, “Bagaimana menurut kalian jika kami masuk ke dalam agama kalian, apakah kalian akan pulang (pergi) dari negeri kami?”

Al-Mughiroh menjawab, “Demi Allah, ya kami tak akan mendekati negeri kalian, kecuali untuk dagang dan suatu hajat”.

“Ini juga bagus”, tegas Rustum.

Tatkala Al-Mughiroh –radhiyallahu anhu– keluar dari sisinya, maka Rustum mengajak para pemimpin kaumnya untuk berunding tentang Islam.

Mereka amat benci hal itu dan enggan masuk Islam. Akhirnya, Allah memberikan keburukan dan kehinaan kepada mereka dan sungguh Allah telah melakukan hal itu.

Beberapa saat kemudian, Sa’ad –radhiyallahu anhu– mengutus lagi utusan lain karena permintaan Rustum, yaitu sahabat Rib’iy bin Amir.

Utusan ini pun masuk menemui Rustum. Sementara itu mereka telah menghiasi majelis Rustum dengan bantal-bantal berhias emas dan permadani sutra.

Dia juga menampakkan permata yaquth, mutiara-mutiara berharga dan perhiasan yang hebat. Rustum mengenakan mahkota dan perlengkapan yang berharga. Waktu itu, ia duduk di tahta emas.

Kemudian masuklah sahabat Rib’iy –radhiyallahu anhu– dengan mengenakan pakaian yang kasar bersamanya pedang, perisai dengan menunggangi seekor kuda yang pendek.

Dia terus mengendarai kudanya sampai ia menginjakkan kudanya pada ujung permadani. Lalu ia turun dari kendaraannya dan menambatnya pada sebagian bantal-bantal tersebut.

Rib’iy menghadap sambil menyandang pedang, baju besi dan topi baja pada kepalanya.

Mereka (pasukan Persia) berkata, “Ayo letakkan senjatamu!!”.

“Sebenarnya aku tak mau datang kepada kalian. Hanya saja aku datang saat kalian mengundangku. Jika kalian membiarkan aku demikian, maka aku akan masuk. Tapi jika tidak, maka aku akan kembali!!”

Rustum berkata, “Mendekatlah kepadanya”.

Lalu menghadaplah Rib’iy –radhiyallahu anhu– sambil bertelekan pada tombaknya di atas permadani sehingga robeklah permadani itu.

Mereka bertanya, “Apa yang menyebabkanmu datang?”

Rib’iy bin Amir menjawab,

اللَّهُ ابْتَعَثْنَا لِنُخْرِجَ مَنْ شَاءَ مِنْ عِبَادَةِ الْعِبَادِ إِلَى عِبَادَةِ اللَّهِ، وَمِنْ ضِيقِ الدُّنْيَا إِلَى سِعَتِهَا، وَمِنْ جَوْرِ الْأَدْيَانِ إِلَى عَدْلِ الْإِسْلَامِ،

فَأَرْسَلَنَا بِدِينِهِ إِلَى خَلْقِهِ لِنَدْعُوَهُمْ إِلَيْهِ، فَمَنْ قَبِلَ ذَلِكَ قَبِلْنَا مِنْهُ وَرَجَعْنَا عَنْهُ، وَمَنْ أَبَى قَاتَلْنَاهُ أَبَدًا حَتَّى نُفْضِيَ إِلَى مَوْعُودِ اللَّهِ

“Allah telah mengutus kami untuk mengeluarkan orang-orang Allah kehendaki dari penyembahan kepada hamba, menuju penyembahan kepada Allah, dan dari kesempitan dunia menuju kelapangannya, dari kelaliman agama-agama menuju keadilan Islam.

Jadi, Allah mengirim kami dengan membawa agama-Nya kepada seluruh makhluk agar kami mengajak mereka kepadanya.

Barangsiapa yang menerimanya, maka kamipun menerima hal itu darinya dan kami akan pulang (pergi) darinya.

Barangsiapa yang enggan (tak mau menerimanya), maka maka kami akan memeranginya selama-lamanya sampai kami tiba pada sesuatu yang  Allah janjikan!!”

“Apa yang Allah janjikan?” tanya mereka.

Rib’iy menjawab, “yaitu surga bagi orang yang mati dalam memerangi orang-orang yang enggan dan kemenangan bagi orang-orang yang masih tetap hidup”.

Rustum berkata, “Aku telah mendengarkan komentar kalian. Apakah kalian bisa menangguhkan perang ini sampai kami memikirkannya dan kalian pun berpikir?”

Rib’iy berkata, “Ya, boleh. Berapa waktu yang kalian inginkan? Sehari atau dua hari?!”

“Bukan, bahkan biarkan kami menyurati dulu para pemikir dan pemimpin kaum kami”, kata Rustum.

“Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- tak pernah mencontohkan bagi kami untuk memberi penangguhan kepada musuh ketika sudah bertemu dalam waktu lebih dari tiga hari.

Ayo, pikirkan urusanmu dan urusan mereka dan pilihlah salah satu dari tiga perkara setelah penangguhan itu”, tegas Rib’iy –radhiyallahu anhu-.

Rustum bertanya, “Apakah engkau adalah pimpinan mereka?”

Rib’iy menjawab, “Bukan, tapi kaum muslimin ibarat sebuah jasad, orang rendah diantara mereka memberikan perlindungan bagi orang-orang yang tinggi diantara mereka”.

Kemudian Rustum rapat bersama dengan para pemimpin kaumnya seraya berkata, “Apakah kalian pernah melihat yang lebih hebat dan lebih kuat dibanding ucapan lelaki ini?”

Mereka menjawab, “Na’udzu billah, kalau sampai engkau condong kepadanya dan engkau pun mau meninggalkan agamamu lantaran si anjing ini!! Tidakkah engkau lihat bajunya?!”

“Celaka kalian, jangan perhatikan pakaian mereka, tapi perhatikanlah pikiran, ucapan dan jalan hidupnya!! Sesungguhnya orang-orang Arab tidak terlalu memperhatikan soal pakaian dan makanan, namun mereka amat menjaga harkat dan martabat!!”, tegas Rustum

Inilah percapakan dari para pahlawan Islam yang menunjukkan tentang kehebatan dan keperkasaan mereka.

Jumlah mereka kala itu hanya berkisar tujuh sampai delapan ribu orang, sementara pasukan Persia 30 ribu orang.

Namun karena pertolongan Allah dan semangat mereka yang pantang menyerah. Akhirnya, berhasil menumbangkan pasukan Persia di Perang Qodisiyyah dan setelah itu berhasil merebut Persia. Alhamdulillah ala ni’matil Islam.

Ibrah dan Renungan dari Balik Kisah ini:

📖 Di dalamnya terdapat keterangan tentang keberanian para sahabat, khususnya utusan yang datang dengan seorang diri.

📖 Para sahabat adalah orang-orang yang tidak terlalu memandang penampilan lahiriah. Karenanya, Rib’iy –radhiyallahu anhu– datang dengan pakaian paling seerhana.

📖 Seorang muslim tak boleh menampakkan kerendahan dan kehinaan di hadapan kaum kafir.

📖 Kemewahan duniawi tidaklah memukau para sahabat, sehingga mereka harus mengalah dengan bayaran. Bahkan mereka menolaknya!!

📖 Di saat perang disunnahkan mendakwahi kaum kafir agar masuk Islam sebelum mereka diperangi. Tapi ini bagi mereka yang belum mengenal Islam dan belum sampai dakwah kepadanya.

Al-Imam Asy-Syafi’iy –rahimahullah– berkata, “Tidak boleh memerangi orang kafir yang belum sampai kepadanya dakwah sampai mereka didakwahi. Adapun mereka yang sudah sampai dakwah kepadanya, maka boleh menyerangnya, tanpa didakwahi. Inilah kosekuensi hadits-hadits yang ada”. [Lihat Fathul Bari (7/596-597) karya Ibnu Hajar]

📖 Kuatnya para sahabat memegang teguh sunnah Nabi –Shallallahu alaihi wa sallam– sampai pun di saat perang dan beliau telah wafat.

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Tulisan lainnya

jannatul-firdaus.net @2022

Kisah Kayu Ajaib


| Menu

| MENU

Bagikan…

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram



Kisah Kayu Ajaib

  • HR.Bukhari

Abu Hurairah meriwayatkan dari Rasulullah bahwa Seorang laki- laki dari kalangan Bani Israil meminta kepada seseorang Bani Israil lainnya agar memberikan pinjaman kepadanya seribu dinar. 

Lalu si pemberi pinjaman berkata, “Datangkanlah para saksi. Saya meminta mereka untuk bersaksi.” 

Lantas orang yang meminta pinjaman berkata, “Cukuplah Allah yang menjadi saksi.” 

Pemberi pinjaman menambahkan, “Datangkanlah seorang penjamin.” Dia menjawab, “Cukuplah Allah sebagai penjamin.” 

Pemberi pinjaman berkata, “Engkau benar.” 

Kemudian dia menyerahkan piutang tersebut kepadanya sampai waktu yang ditentukan. Selanjutnya si peminjam pergi mengarungi lautan untuk memenuhi kebutuhannya. 

Setelah itu, dia mencari perahu yang akan digunakan untuk mendatangi pemberi pinjaman sesuai waktu yang telah ditetapkan. Ternyata dia tidak menemukan perahu. 

Lantas dia mengambil kayu dan melubanginya, lalu dia memasukkan seribu dinar di dalamnya dan selembar kertas untuk temannya (si pemberi pinjaman). Kemudian dia menutupnya kembali. 

Selanjutnya dia membawa kayu tersebut ke laut. Dia berkata, “Ya Allah! Sungguh, Engkau mengetahui bahwa saya meminjam seribu dinar kepada si fulan, lalu dia meminta penjamin kepadaku dan saya berkata, ‘Cukuplah Allah sebagai penjamin. Dia pun ridha karena Engkau. Dia juga meminta saksi, lalu saya berkata, “Cukuplah Allah menjadi saksi: Dia pun ridha karena Engkau. Sesungguhnya saya telah bersusah payah untuk menemukan kendaraan untuk mengantarkan utangku kepada pemiliknya, ternyata saya tidak menemukan. Sungguh, saya menitipkan kayu ini kepada-Mu.” 

Lantas dia melemparkannya ke laut sempai masuk ke dalam laut kemudian bergerak. 

Di samping itu dia masih saja mencari kendaraan untuk menuju ke daerahnya. Di lain pihak, si pemberi pinjaman menanti-nanti barangkali kendaraan yang membawa piutangnya telah datang. 

Ternyata ada kayu yang mengapung di dekatnya. Lalu dia mengambil kayu tersebut untuk dijadikan sebagai kayu bakar buat keluarganya.

Ketika dia membelah kayu tersebut, dia menemukan uang dan selembar kertas. 

Kemudian orang yang meminjam tadi datang dengan membawa uang seribu dinar, lalu dia berkata, ‘Demi Allah, sebelum ini aku tidak mendapatkan kapal yang dapat mengantarkan aku untuk membayar hutangmu.” 

Lalu si pemberi hutang berkata, “Apakah engkau telah mengirim sesuatu untukku?” 

Dia berkata, “Aku sudah kabarkan bahwa aku tidak mendapatkan kapal untuk mengantarkan aku kepadamu.” 

Maka orang itu berkata, “Sesungguhnya Allah telah mengirimkan uang tersebut yang terdapat di dalam kayu yang engkau kirim. Bawalah kembali uangmu yang seribu dinar tersebut.”

Artboard 2
Artboard 3
Artboard 4
Artboard 5
Artboard 6
Artboard 7
Artboard 8
Artboard 9

Sebelumnya
Selanjutnya

  • gambar: #anakJF

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Tulis komentar

Logged in as admin. Log out »




Tulisan lainnya

jannatul-firdaus.net @2021

Sekeping Nasihat yang Mengubah Haluan Hidup Seorang Pemuda

Bagikan…

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Sekeping Nasihat yang Mengubah Haluan Hidup Seorang Pemuda

  • Oleh : Ustadz Abdul Qodir Abu Fa’izah, Lc. hafizhahullah
  • [Pembina Ponpes Al-Ihsan Gowa]

Hati manusia selalu membutuhkan nasihat. Karena hati itu ibarat tanah yang tandus; ia akan kering tanpa nasihat. Nah, untuk menghidupkannya, maka ia memerlukan siraman nasihat yang berisi arahan dan peringatan yang membuahkan kebaikan bagi pemiliknya.

Lantaran itu, setiap muslim –siapapun orangnya- hendaknya selalu memberi nasihat kepada orang lain yang membutuhkannya. Boleh jadi sekeping dan sepotong nasihat, menjadi sebab perubahan bagi orang lain dari keburukan dan kelalaian menuju kepada kebaikan dan ketaatan kepada Allah –azza wa jalla-.

Berapa banyak orang-orang yang dahulunya dikenal sebagai orang fasik dan buruk, tapi ia berubah setelah mendapatkan nasihat dari seseorang yang prihatin kepadanya.

Disana, ada sebuah kisah indah nan menarik tentang seorang pemuda yang malas belajar ilmu agama dan kerjanya hanya menghabiskan waktunya untuk bermain bola. Namun setelah ia mendapatkan nasihat dari seorang alim, haluan hidupnya berubah total dari keadaan sebelumnya.

Anak muda itu di kemudian hari menjadi seorang ulama di negerinya pada masa hidupnya. Beliau adalah Al-Imam Al-Hafizh Abu Ja’far Muhammad bin ‘Auf bin Sufyan Ath-Tho’iy Al-Himshiy, seorang perawi hadits yang tsiqoh.

Al-Khollal –rahimahullah- berkata,

“هو إمام حافظ في زمانه معروف بالتقدم في العلم والمعرفة.” اهـ من تهذيب التهذيب (9/ 384)

“Dia (Muhammad bin ‘Auf Ath-Tho’iy) adalah seorang imam hafizh (penghafal hadits) di zamannya; dikenal tentang keterdepanannya dalam ilmu dan pengetahuan.” [Lihat Tahdzib At-Tahdzib (9/384), karya Ibnu Hajar]

Sekarang ada baiknya kita kisahkan cerita hidup beliau dan awal perubahan haluan hidup beliau, sehingga menjadi seorang ulama besar dan hafizh (penghafal hadits) yang dikenal ke-tsiqoh-annya, sekaligus ahli tajwid.

Al-Imam Al-Hafizh Abu Abdillah Adz-Dzhabiy –rahimahullah- membawakan kisah beliau di dalam Siyar A’lam An-Nubala’ (12/614-615) :

Muhammad bin ‘Auf -rahimahullah- berkata,

كُنْتُ أَلعب فِي الكَنِيْسَة بِالكرَة وَأَنَا حَدَّث، فَدَخَلتِ الكرَة، فَوَقَعت قرب المُعَافَى بن عِمْرَانَ الحِمْصِيّ، فَدَخَلت لأَخذهَا، فَقَالَ: ابْنُ مَنْ أَنْتَ؟

قُلْتُ: ابْن عَوْف بن سُفْيَان.

قَالَ: أَمَا إِنَّ أَبَاك كَانَ مِنْ إِخْوَاننَا، فَكَانَ___مِمَّنْ يَكْتُب مَعَنَا الحَدِيْث وَالعِلْم، وَالَّذِي كَانَ يُشْبِهُك أَنْ تتبع مَا كَانَ عَلَيْهِ وَالِدك.

فَصِرْتُ إِلَى أُمِّي، فَأَخبرتهَا، فَقَالَتْ: صدق، هُوَ صَدِيْق لأَبيك.

فَأَلبستَنِي ثوبَا وَإِزَاراً، ثُمَّ جِئْت إِلَى المعَافَى، وَمَعِي محبرَة وَورق، فَقَالَ لِي: اكْتُبْ: حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيْلُ بنُ عَيَّاشٍ، عَنْ عبد رَبّهُ بنُ سُلَيْمَانَ، قَالَ: كتبت لِي أُمّ الدَّرْدَاء فِي لَوْحِي: اطلبُوا العِلْم صِغَاراً، تَعْمَلُوا بِهِ كِبَاراً، فَإِنَّ لِكُلِّ حَاصد مَا زرع.” اهـ من سير أعلام النبلاء ط الرسالة (12/ 614_615)

“Dahulu aku pernah bermain bola di sebuah gereja, sedangkan (waktu itu) aku masih muda. Kemudian bola itu pun masuk (ke sebuah majelis ilmu), lalu terjatuh di dekat Al-Mu’afa bin ‘Imron Al-Himshiy (seorang ulama hadits dari Himsh) .

Kemudian aku pun masuk mengambilnya. Beliau (Al-Mu’afa bin ‘Imron) bertanya, “Anak siapakah engkau?”

Aku (Muhammad bin ‘Auf) katakan, “Anaknya ‘Auf bin Sufyan.”

Beliau (Al-Mu’afa bin ‘Imron) berkata, “Ingatlah, sungguh ayahmu dahulu termasuk kawan-kawan kami dari kalangan orang-orang yang menulis hadits dan ilmu bersama kami. Nah, perkara yang pantas bagimu adalah engkau mengikuti jejak ayahmu.”

Akhirnya, aku pun segera menuju ibuku, seraya mengabari beliau (tentang nasihat Al-Mu’afa).

Ibuku berkata, “Beliau (Al-Mu’afa) telah benar. Beliau memang sahabat ayahmu.”

Kemudian ibuku mengenakan pakaian dan sarung kepadaku, lalu aku datang kepada Al-Mu’afa, sedang bersamaku pena dan kertas.

Beliau (Al-Mu’afa) berkata kepadaku, “Tulislah : ‘Telah menceritakan kepadaku Isma’il bin ‘Ayyasy dari Abdu Robbih bin Sulaiman, ia berkata, ‘Ummud Darda’ pernah menuliskan untukku di sebuah papan : “ 

“اطلبُوا العِلْم صِغَاراً، تَعْمَلُوا بِهِ كِبَاراً، فَإِنَّ لِكُلِّ حَاصد مَا زرع

“Carilah ilmu agama semasa kecil, niscaya engkau akan mampu beramal dengan ilmu semasa tua. Karena, setiap orang yang memanen akan memperoleh apa yang ia dahulu tanam.”

Subhanallah, sebuah nasihat ringkas yang tertanam kuat di hati dan pikiran Muhammad bin ‘Auf Ath-Tho’iy –rahimahullah- semasa muda; nasihat yang mengubah haluan hidup yang hanya gemar bermain bola, selanjutnya menjadi pemacu semangat beliau untuk belajar ilmu agama kepada ulama-ulama di masa beliau, sampai beliau menjadi salah satu di antara deretan perawi hadits yang akan abadi nama dan sejarahnya sepanjang masa sampai kiamat tegak, insya Allah.

Di antara murid-murid beliau yang terkenal adalah Al-Imam Abu Dawud As-Sijistaniy (Penulis Sunan Abi Dawud), Abu Zur’ah Ar-Roziy, Abu Hatim Ar-Roziy, An-Nasa’iy (dalam Musnad Ali), Abu Zur’ah Ad-Dimasyqiy, Ibnu Abi Dawud, dan Ibnush Sho’id, Ibnu Abi ‘Ashim Asy-Syaibaniy, Abdullah bin Ahmad bin Hanbal, Muhammad bin Ishaq Ash-Shoghoniy, dan lain-lainnya.  

Pelajaran & Ibroh dari Kisah ini :

1). Nasihat adalah perkara penting dalam kehidupan bermasyarakat.

2). Dengan nasihat, terbangun sebuah bangsa yang bermartabat.

3). Kehidupan setiap orang bisa berubah dari keburukan kepada kebaikan. Karena itu, jangan pernah kita berputus asa dalam mengusahakan kebaikan bagi saudara dan kawan kita.

4). Sekeping nasihat amat berharga bagi seorang hamba dalam membentuk karakter dan haluan hidupnya pada masa depan.

5). Terkadang hidayah itu datang dari arah yang tak disangka. Karena itu, jadilah penyebab terbukanya hidayah bagi orang lain melalui arahan-arahan dan bimbinganmu.

6). Pentingnya orang tua membantu dan mengarahkan anaknya kepada kebaikan saat muncul pada diri anak kecenderungan kepada kebaikan serta selalu mendoakannya.

7). Keutamaan dan pentingnya seorang anak diingatkan tentang jejak pendahulu dan orang tuanya dalam kebaikan.

—————————————————————————–

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Tulisan lainnya

jannatul-firdaus.net @2018

Abu Dawud Membeli Surga dengan Satu Dirham

Bagikan…

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Abu Dawud Membeli Surga dengan Satu Dirham

  • Oleh : Ustadz Abdul Qodir Abu Fa’izah, Lc.  hafizhahullah
  • (Pengasuh Ponpes Al-Ihsan Gowa)

Di dalam sebuah status FB, seorang kawan mengunggah sebuah video ringkas ceramah Ustadz Dzulqarnain Muhammad Sunusi _hafizhahullah_ berisi kisah Imam Abu Dawud As-Sijistaniy yang mengamalkan sebuah sunnah berupa doa-mendoakan antara orang yang bersin dengan orang yang mendengarnya bersin seraya ia ucapkan tahmid ‘Alhamdulillah’ usai bersih. Setelah itu orang yang mendengarnya menjawab doanya, lalu yang bersih mendoakan juga suadaranya yang telah mendoakannya.

Kisah ini amat menarik bagi kami karena di dalamnya tergambar semangat Abu Dawud dalam menghidupkan sebuah sunnah Nabi –shollallohu alaihi wa sallam– yang terkadang dilalaikan dan diremehkan oleh sebagian kaum muslimin.

Karena kisah ini amat berharga menurut kami, dan pembaca juga penting untuk menelusuri kisah yang penuh ibroh ‘pelajaran’ ini, maka kami berusaha mencarinya di dalam kitab-kitab karya Al-Hafizh Ibnu Abdil Barr Al-Andalusiy. Namun, hasilnya nihil. Yah, mungkin kitab-kitab beliau di sisi kami belum semuanya kami miliki.

Namun, pembaca jangan bersedih dulu. Karena, kisah ini –alhamdulillah-, telah dinukilkan oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqolaniy dalam “Fath Al-Bari”.

Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqolaniy _rahimahullah_ berkata,

وَقد أخرج بن عَبْدِ الْبَرِّ بِسَنَدٍ جَيِّدٍ عَنْ أَبِي دَاوُدَ صَاحب “السّنَن” :

أَنه كَانَ فِي سَفِينَةٍ فَسَمِعَ عَاطِسًا عَلَى الشَّطِّ حَمِدَ فَاكْتَرَى قَارِبًا بِدِرْهَمٍ حَتَّى جَاءَ إِلَى الْعَاطِسِ فَشَمَّتَهُ ثُمَّ رَجَعَ فَسُئِلَ عَنْ ذَلِكَ فَقَالَ لَعَلَّهُ يَكُونُ مُجَابَ الدَّعْوَةِ فَلَمَّا رَقَدُوا سَمِعُوا قَائِلًا يَقُولُ يَا أَهْلَ____السَّفِينَةِ إِنَّ أَبَا دَاوُدَ اشْتَرَى الْجَنَّةَ مِنَ اللَّهِ بِدِرْهَمٍ.” اهـ lk فتح الباري لابن حجر (10/ 610_611)

“Sungguh Ibnu Abdul telah meriwayatkan dengan sanad-nya dari Abu Dawud, Penulis Kitab Sunan (yakni, Sunan Abi Dawud) :

“Dahulu Abu Dawud berada di atas sebuah perahu, lalu beliau mendengarkan orang yang bersin di pantai, sedang orang yang bersin itu memuji Allah (mengucapkan, “Alhamdulillah”). Kemudian Abu Dawud pun menyewa sebuah sampan dengan satu dirham sehingga beliau datang kepada orang yang bersin tersebut seraya men-tasymit-nya (yakni, mengucapkan doa, “Yarhamukallah”).

Kemudian Abu Dawud kembali (ke perahu besar yang beliau tumpangi sebelumnya). Lalu beliau ditanya tentang hal itu. Beliau katakan, “Bisa jadi orang itu dikabulkan doanya.”

Tatkala mereka (semua penumpang perahu) tertidur, maka mereka semuanya mendengarkan seseorang yang berkata, “Wahai para penumpang perahu, sesungguhnya Abu Dawud telah membeli surga dari Allah dengan satu dirham.” [Fath Al-Bari Syarh Shohih Al-Bukhoriy (10/610-611)]

Di dalam kisah ini, diceritakan bahwa Imam Abu Dawud As-Sijistaniy ‘Penulis Kitab Sunan Abi Dawud’ pernah melakukan sebuah perjalanan melintasi lautan dengan sebuah perahu besar.

Ketika perahu yang beliau tumpangi mulai berangkat dan meninggalkan pantai, maka tiba-tiba saja terdengar oleh beliau seorang yang bersin seraya mengucapkan, “Alhamdulillah” di pantai.

Saat itu, beliau ingin mendoakan orang itu dengan kalimat,

(يَرْحَمُكَ اللَّهُ)

Namun, beliau berpikir bahwa jika beliau doakan dari kejauhan di atas perahu, maka orang bersin itu tidak akan mendoakannya dengan doa yang disyariatkan untuk diucapkan oleh orang bersin kepada saudaranya berupa doa, “Yarhamukallah”.

Demi mendapatkan doa balasan dari saudaranya yang bersin tersebut, maka Abu Dawud meminta izin kepada nakhoda untuk turun sejenak dari perahu yang ditumpanginya, lalu menyewa sebuah perahu kecil yang kita kenal dengan istilah sampan dengan harga sewa satu dirham.

 

Akhirnya, Abu Dawud menumpangi sampan itu menuju pantai sekadar untuk mendoakan saudaranya (dengan doa, “Yarhamukallah”), dengan harapan saudaranya yang bersin balik mendoakannya (dengan doa, “Tahdikumullohu wa yuslihu baalakum.”

Lalu kenapa beliau begitu semangat ke pantai hanya untuk mendoakan orang yang bersin itu?

Abu Dawud jelaskan hal itu kepada semua penumpang perahu besar yang bersamanya bahwa ia lakukan itu semuanya karena besar harapannya doa orang itu akan Allah kabulkan sehingga Allah akan selalu memberinya petunjuk dan memperbaiki keadaan Imam Abu Dawud _rahimahullah_ sebagai makna yang terkandung dalam doa balasan (“Yahdikumullohu wa yushlihu baalakum”) yang diucapkan oleh orang bersin.

Akhirnya, para penumpang mengerti tujuan Imam Abu Dawud dalam melakukan semua itu dengan susah payah.

Kemudian perahu besar mulai mengarungi lautan yang luas. Di tengah perjalanan, para penumpang mulai beristirahat, termasuk Abu Dawud. Ketika mereka terbangun, tiba-tiba mereka mendengarkan suara keras entah dari mana datangnya.

Abu Dawud dan para penumpang lainnya mendengar suara itu berkata, “Wahai para penumpang kapal, sesungguhnya Abu Dawud telah membeli surga dari Allah dengan satu dirham.”

Para pembaca yang budiman, telah datang dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhoriy dalam Shohih-nya dari Abu Huroiroh _radhiyallahu anhu_, dari Nabi _shollallohu alaihi wa sallam_, beliau bersabda,

“إِذَا عَطَسَ أَحَدُكُمْ فَلْيَقُلْ : (الحَمْدُ لِلَّهِ)، وَلْيَقُلْ لَهُ أَخُوهُ أَوْ صَاحِبُهُ : (يَرْحَمُكَ اللَّهُ)،

فَإِذَا قَالَ لَهُ : (يَرْحَمُكَ اللَّهُ)، فَلْيَقُلْ : (يَهْدِيكُمُ اللَّهُ وَيُصْلِحُ بَالَكُمْ).” أخرجه البخاري في صحيحه (8/ 49) (رقم : 6224)

“Jika seorang di antara kalian bersin, maka hendaknya ia ucapkan (doa),

(الحَمْدُ لِلَّهِ)

“Alhamdulillah (artinya, “Segala puji bagi Allah.”)”.

Hendaknya saudara atau kawannya mengucapkan (doa),

(يَرْحَمُكَ اللَّهُ)،

“Yarhamukalloh (artinya : “Semoga Allah merahmatimu.”)”.

Kemudian hendaknya yang bersin mengucapkan (doa balasan),

(يَهْدِيكُمُ اللَّهُ وَيُصْلِحُ بَالَكُمْ)

“Yadikumullohu wa yushlihu baalakum.(artinya : “Semoga Allah memberimu petunjuk dan memperbaiki keadaanmu.”)”. [HR. Al-Bukhoriy dalam Shohih-nya (8/49) (no. 6224)]

Inilah amalan syar’iy yang diamalkan oleh Abu Dawud dan saudaranya yang bersin di pantai berupa syariat saling mendoakan saat ada yang bersin sambil mengucapkan tahmid (“Alhamdulillah”).

 

Pelajaran yang Terpeting dari Kisah Ini :

[1] Di dalam kisah ini, tergambar semangat para ulama salaf dalam menghidupkan sunnah, sekecil apapun sunnah itu di mata manusia.

[2] Para salaf adalah generasi terbaik dalam mengamalkan dan menerapkan sunnah Nabi _shollallohu alaihi wa sallam_.

[3] Demi meraih surga, perlu adanya pengorbanan dan keikhlasan dalam meraihnya.

[4] Jalan-jalan kebaikan dalam agama yang mengantarkan ke surga amat banyak jalannya.

[5] Sekecil apapun kebaikan yang akan kita lakukan, maka jangan pernah meremehkannya karena terkadang amalan yang kecil dan remeh menurut kita, tapi ternyata penentu bagi nasig kita di akhirat.

[6] Di dalam kisah ini, terdapat metode pendidikan yang jitu bagi umat, pendidikan melalui perbuatan dan pemberian contoh agar manusia berteladan kepadanya dalam kebaikan.

[7] Kasih sayang antara seorang muslim dengan muslim yang lainnya dapat terwujud melalui kebiasaan saling mendoakan antara satu dengan yang lainnya.

[8] Doa seorang muslim terkadang Allah kabulkan secara langsung. Karena itu, hendaknya seorang jangan meremehkan urusan doa ini. Biasakanlah lisan kita mendoakan orang lain agar diberi hidayah, rahmat keberkahan, dan kebaikan.

[9] Ilmu agama adalah pembukan segala kebaikan. Karena, tidak mungkin dua orang dalam kisah di atas akan saling mendoakan dalam momen bersin itu, melainkan pasti keduanya telah mengenal sunnah Nabi _shollallohu alaihi wa sallam_ dalam perkara tersebut berupa dzikir dan doa saat bersin atau mendengar orang lain bersin.

وصلى الله على نبينا وآله وصحبه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين

__________

Gowa, 15 Jumadal Akhiroh 1442 H.

—————————————————————————–

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Tulisan lainnya

jannatul-firdaus.net @2018

Banyak Dosa Tapi Masuk Surga. Bagaimana bisa?

Bagikan…

Banyak dosa tapi masuk surga.
Bagaimana bisa ya?

Artboard 0
Artboard 1
Artboard 2
Artboard 3
Artboard 4
Artboard 5
Artboard 6
Artboard 8
Artboard 9
Artboard 10

Sebelumnya
Selanjutnya

Kisah wanita pezina yang masuk surga.

Ada seorang wanita dari Bani Israil. Ia tidak punya kebaikan sama sekali, ia malah dikenal sebagai pezinah/pelacur. Ia tidak pernah punya kebaikan. 

Kisah ini bermula ketika wanita tersebut selesai minum, lalu kemudian ia turun dari sumber air. Pada saat yang bersamaan ia bertemu dengan seekor anjing. Wanita tersebut melihat anjing itu menjulurkan lidahnya, menandakan bahwa ia sedang sangat kehausan. Tumbuh rasa kasihan dan iba dalam hatinya.

Tanpa berpikir panjang, ia melepas sepatunya dan kembali lagi ke sumber air, tempat di mana ia tadi menghilangkan dahaganya.  Ia membawakan air untuk anjing yang kehausan tersebut. Karena hal sederhana inilah, wanita yang bahkan tidak memiliki amal ibadah dan pernah berzina sekalipun bisa masuk surga dan Allah telah mengampuni dosanya.

“Allah lihat perbuatannya kata Rasulullah, Allah ampuni segala dosanya dan masuk surga”

Nasehat: Oleh karena itu marilah kita berusaha menjaga amal sholih kita secara rutin. Bermacam amal sholih tapi rutin biarpun sederhana, karena kita tidak tahu di mana Allah sembunyikan ridho di dalam amal sholih tersebut. Yang menjadi acuan untuk masuk surga bukanlah banyak atau sedikit amal ibadah yang telah dikerjakan.

Akan tetapi lebih kepada apakah dalam melakukan ibadah tersebut ada rasa tulus dan ikhlas sehingga ridho Allah SWT bisa didapatkan.

Hadits: Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu, bahwa Rasullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda, “Seorang wanita pezina diampuni oleh Allah. Dia melewati seekor anjing yang menjulurkan lidahnya di sisi sebuah sumur. Anjing ini hampir saja mati kehausan. Si wanita pelacur tersebut lalu melepas sepatunya, dan dengan penutup kepalanya. Lalu dia mengambilkan air untuk anjing tersebut. Dengan sebab perbuatannya ini, dia mendapatkan ampunan dari Allah” (HR. Al Bukhari no.3321, Muslim no.2245).

Tulisan lainnya

jannatul-firdaus.net @2021

Kebijakan

Kontak

Maps

Kebun Orang Ini Selalu Subur. Ternyata Inilah Rahasianya…

Bagikan…

Kebun Orang Ini Selalu Subur. Ternyata inilah rahasianya…

Artboard 1
Artboard 2
Artboard 3
Artboard 4
Artboard 5
Artboard 6
Artboard 7
Artboard 8
Artboard 9

Sebelumnya
Selanjutnya

Kisah sedekah yang diterima

Suatu ketika ada seorang laki-laki sedang berjalan di padang pasir. Tiba-tiba dia mendengar suara di dalam gumpalan awan, “Siramilah kebun si fulan!” 

Lantas awan tersebut bergerak, dan menuangkan air di tanah yang berpasir, tiba-tiba ada salah satu saluran air terpenuhi air tersebut, lalu lelaki tersebut menyelediki air tersebut. 

Ternyata di situ ada seorang laki-laki berdiri di kebun sedang memindahkan air, lantas dia bertanya kepada lelaki tersebut, “Wahai hamba Allah! Siapa namamu?” Dia menjawab, “Fulan (sesuai nama yang terdengar dari suara di dalam gumpalan awan),” 

Lelaki tersebut balik bertanya, “Wahai hamba Allah! Mengapa engkau menanyakan namaku?” 

Dia menjawab, “Sungguh, tadi saya mendengar suara di dalam awan yang membawa air ini, …. ‘Siramilah kebun si fulan, namamu, sebenarnya apa yang telah Anda perbuat di dalam kebun itu?” 

Dia menjawab, “Baiklah kalau engkau menanyakan hal ini, sesungguhnya saya memandangi hasil panen dari kebun ini, …. lalu saya sedekahkan sepertiganya, sepertiga lagi untuk saya makan sendiri bersama keluarga, …. dan sepertiganya lagi saya kembalikan ke kebun ini.” 

(Bersumber dari hadits Rasulullah saw yang diriwayatkan Imam Muslim)

Faedah kisah: Dari kisah tersebut kita memperoleh pelajaran penting tentang sedekah. Sedekah menjadi salah satu sifat yang sangat disenangi oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ alamenjadi salah satu sebab datangnya ridha dan pertolongan Allah Subhanahu Wa Ta’.

“Perumpamaan orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada tiap-tiap tangkai: tumbuh seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al- Baqarah ayat 261).

Tulisan lainnya

jannatul-firdaus.net @2021

Kebijakan

Kontak

Maps

Pencuri, Pezina, dan Orang Kaya Dapat Sedekah Dari Orang ini

Bagikan…

Pencuri,
Pezina, dan
Orang Kaya Dapat Sedekah Dari Orang Ini.

Artboard 1
Artboard 2
Artboard 3
Artboard 4
Artboard 5
Artboard 6
Artboard 7
Artboard 8
Artboard 9

Sebelumnya
Selanjutnya

Kisah sedekah yang diterima

Ada seorang lelaki berkata, “Sungguh, saya akan bersedekah.” Lalu dia mengeluarkan sedekahnya, dan ternyata sedekah itu sampai ke tangan seorang pencuri. 

Maka, pagi harinya orang-orang memperbincangkannya, “Semalam ada seorang pencuri diberi sedekah.” Lalu lelaki tersebut berkata, “Ya Allah, segala puji bagi-Mu. Sungguh, saya akan bersedekah lagi.” 

Selanjutnya dia mengeluarkan sedekahnya lagi, dan ternyata sedekah itu sampai ke tangan seorang perempuan pezina. Maka, pagi harinya menjadi buah bibir di kalangan banyak orang, “Semalam ada seorang perempuan pezina diberi sedekah.” 

Lalu lelaki tersebut berkata, “Ya Allah, segala puji bagi-Mu. Sedekah itu ternyata jatuh ke tangan perempuan pezina. Sungguh, saya akan bersedekah lagi.” 

Kemudian dia mengeluarkan sedekahnya lagi, dan ternyata sedekah itu sampai ke tangan orang kaya. Kemudian di pagi harinya, hal itu menjadi pembicaraan orang banyak, “Semalam ada orang kaya diberi sedekah.” Lalu dia mengatakan, “Ya Allah, bagi-Mu segala puji. Sedekah itu ternyata jatuh ke tangan pencuri, perempuan pezina, dan orang kaya.” 

Kemudian dia didatangi (di dalam mimpi) dan dikatakan kepadanya, “Sedekahmu kepada pencuri barang kali menjadikannya menjaga diri dari mencuri. Sedekahmu kepada perempuan pezina barang kali menjadikannya menjaga diri dari perbuatan zina.

Sedangkan sedekahmu kepada orang kaya, barang kali membuatnya dapat mengambil pelajaran, sehingga dia mau menginfakkan sebagian dari apa yang telah dikaruniakan oleh Allah kepadanya.”

(Bersumber pada hadits Rasulullah saw yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim). 

*catatan: Dalam hal ini, kondisi seseorang tersebut tidak mengetahui ihwal (keadaan) penerima sedekah. Jika tidak demikian, semestinya selain mereka lebih berhak menerima sedekah, dan sedekah tidak halal bagi orang kaya.

*Faedah: Dari kisah tersebut, kita memperoleh pelajaran betapa luasnya rahmat Allah dalam menerima sedekah walaupun jatuh ke tangan orang yang tidak berhak menerima. Selanjutnya keutamaan menerima qadha’ dan takdir Allah. Manakala Allah mentakdirkan sedekah laki-laki ini salah alamat dan tidak sampai di tangan fakir miskin, tapi dia menerima keputusan Allah dengan rela, maka Allah memberinya balasan kebaikan.

“Dan setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan.” (HR Bukhari no. 1 dan Muslim no. 1907)

Bila seseorang menyerahkan zakat kepada orang yang awalnya ia nilai berhak menerima, namun ternyata ia adalah orang yang berkecukupan (kaya) dan tidak pantas menerima zakat, maka zakatnya tetap sah. Kewajiban baginya telah lepas. Karena awalnya ia berniat memberikan pada yang berhak, maka ia akan dibalas sesuai yang ia niatkan.

Tulisan lainnya

jannatul-firdaus.net @2021

Kebijakan

Kontak

Maps

Bebas Dari Musibah Sebab Bakti Pada Orang Tua

Bagikan…

Bebas dari musibah sebab bakti pada orang tua

Artboard 1
Artboard 2
Artboard 3
Artboard 4
Artboard 5
Artboard 6
Artboard 7
Artboard 8

Sebelumnya
Selanjutnya

Kisah Tiga Orang Terjebak di Gua

Diriwayatkan Imam Bukhari dan Imam Muslim. Rasulullah SAW bersabda, “Ada tiga orang yang sedang berjalan kaki. Mereka lantas kehujanan, sehingga berteduh di dalam sebuah gua. Tiba-tiba, sebuah batu besar meluncur dari atas dan jatuh tepat di mulut gua tersebut. Mereka pun terkurung di dalamnya. Lalu salah seorang berkata, “Ketahuilah amal-amal baik yang pernah kalian perbuat untuk Allah. Kemudian, berdoalah kepada Allah dengannya (menyebutkan amalan itu). Mudah-mudahan, Allah memberikan kelonggaran dari (musibah) kalian ini.” Maka salah seorang dari mereka berdoa, ‘Ya Allah, dahulu aku memiliki orang tua yang sudah sangat tua, seorang istri, dan anak-anak yang aku rawat. Ketika sore hari, aku memerah susu lalu pertama-tama memberikannya kepada orang tuaku, baru kemudian anak-anakku.

Suatu ketika, aku berpergian jauh dan baru pulang pada sore hari. Kemudian saya dapati kedua orang tua saya sedang tertidur pulas. Seperti biasa, saya segera memerah susu lalu membawanya ke kamar kedua orang tua saya.Saya berdiri di dekat keduanya serta tidak membangunkan mereka dari tidur. Akan tetapi, saya juga tidak ingin memberikan air susu tersebut kepada anak-anak saya sebelum diminum oleh kedua orang tua saya, meskipun anak-anak saya, telah berkerumun di telapak kaki saya untuk meminta minum karena rasa lapar yang sangat.

Demikianlah aku dan anak-anakku tetap dalam keadaan seperti itu hingga waktu subuh tiba.  Jika Engkau mengetahui aku telah melakukan amalan tersebut hanya demi menemukan wajah-Mu, maka bukalah (mulut gua itu) agar kami dapat keluar dan melihat langit (bebas).’ Allah Swt kemudian membuka (batu penghalang mulut gua itu) sedikit, sehingga para pria itu dapat melihat langit dari celah tersebut.

(Berikutnya), yang lain berdoa, ‘Ya Allah, dahulu aku mempunyai seorang sepupu perempuan yang aku sangat cintai, (rasa cinta) seperti halnya kaum laki-laki kepada perempuan. Aku ingin meminta (berhubungan) dengannya, tetapi dia menolak permintaanku sehingga aku dapat memberinya seratus dinar. Aku pun bekerja keras untuk mengumpulkan uang seratus dinar. Setelah itu, aku kembali kepadanya dengan membawa uang tersebut. Saat aku sudah di antara kedua kakinya, dia berkata, ‘Wahai hamba Allah, takutlah kepada Allah dan janganlah engkau membuka cincin (melakukan hubungan seksual) kecuali dengan haknya.’

Akhirnya, aku beranjak meninggalkannya. Jika Engkau mengetahui aku telah melakukan amalan tersebut hanya demi menemukan wajah-Mu, maka bukalah (mulut gua itu) untuk kami.’ Allah kemudian membukakan sedikit (batu penghalang mulut gua).

(Terakhir) yang lainnya berkata, ‘Ya Allah, dahulu aku pernah mempekerjakan seseorang dengan upah satu firaq beras. Setelah selesai, dia berkata, ‘Berikan hakku padaku.’ Aku lantas menawarkan upah firaq-nya, tetapi dia tidak menghendakinya. Aku kemudian menanamnya, sehingga (dari) hasilnya aku dapat membeli sapi beserta penggembalanya. Lalu, dia datang kepadaku dan berkata, ‘Takutlah kepada Allah dan jangan kamu berbuat zalim kepadaku.’ Aku berkata, ‘Pergilah kepada sapi-sapi itu bersama penggembalanya, silakan ambil seluruhnya.’ Dia berkata, ‘Takutlah kepada Allah, jangan kamu menjadikanku olok-olok.’

Aku katakan, ‘Aku tidak sedang memperolokmu, silakan kamu ambil sapi-sapi itu beserta dengan penggembalanya.’ Dia pun mau mengambil semuanya dan pergi. Jika Engkau mengetahui aku telah melakukan amalan tersebut hanya demi menemukan wajah-Mu, maka bukalah (mulut gua itu) untuk kami.’ Allah kemudian membukakan sisanya (batu penghalang mulut gua).”

Demikianlah kisah menarik tentang Tiga orang yang terjebak dalam gua. Ada begitu banyak faedah yang bisa diperoleh dari kisah tersebut. Nilai utama yakni Berbakti pada orang tua, Menjauhi zina, dan Menjaga Amanah.

Sumber artikel: risalahmuslim.id

Tulisan lainnya

jannatul-firdaus.net @2021

Kebijakan

Kontak

Maps