Sekeping Nasihat yang Mengubah Haluan Hidup Seorang Pemuda

Bagikan…

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Sekeping Nasihat yang Mengubah Haluan Hidup Seorang Pemuda

  • Oleh : Ustadz Abdul Qodir Abu Fa’izah, Lc. hafizhahullah
  • [Pembina Ponpes Al-Ihsan Gowa]

Hati manusia selalu membutuhkan nasihat. Karena hati itu ibarat tanah yang tandus; ia akan kering tanpa nasihat. Nah, untuk menghidupkannya, maka ia memerlukan siraman nasihat yang berisi arahan dan peringatan yang membuahkan kebaikan bagi pemiliknya.

Lantaran itu, setiap muslim –siapapun orangnya- hendaknya selalu memberi nasihat kepada orang lain yang membutuhkannya. Boleh jadi sekeping dan sepotong nasihat, menjadi sebab perubahan bagi orang lain dari keburukan dan kelalaian menuju kepada kebaikan dan ketaatan kepada Allah –azza wa jalla-.

Berapa banyak orang-orang yang dahulunya dikenal sebagai orang fasik dan buruk, tapi ia berubah setelah mendapatkan nasihat dari seseorang yang prihatin kepadanya.

Disana, ada sebuah kisah indah nan menarik tentang seorang pemuda yang malas belajar ilmu agama dan kerjanya hanya menghabiskan waktunya untuk bermain bola. Namun setelah ia mendapatkan nasihat dari seorang alim, haluan hidupnya berubah total dari keadaan sebelumnya.

Anak muda itu di kemudian hari menjadi seorang ulama di negerinya pada masa hidupnya. Beliau adalah Al-Imam Al-Hafizh Abu Ja’far Muhammad bin ‘Auf bin Sufyan Ath-Tho’iy Al-Himshiy, seorang perawi hadits yang tsiqoh.

Al-Khollal –rahimahullah- berkata,

“هو إمام حافظ في زمانه معروف بالتقدم في العلم والمعرفة.” اهـ من تهذيب التهذيب (9/ 384)

“Dia (Muhammad bin ‘Auf Ath-Tho’iy) adalah seorang imam hafizh (penghafal hadits) di zamannya; dikenal tentang keterdepanannya dalam ilmu dan pengetahuan.” [Lihat Tahdzib At-Tahdzib (9/384), karya Ibnu Hajar]

Sekarang ada baiknya kita kisahkan cerita hidup beliau dan awal perubahan haluan hidup beliau, sehingga menjadi seorang ulama besar dan hafizh (penghafal hadits) yang dikenal ke-tsiqoh-annya, sekaligus ahli tajwid.

Al-Imam Al-Hafizh Abu Abdillah Adz-Dzhabiy –rahimahullah- membawakan kisah beliau di dalam Siyar A’lam An-Nubala’ (12/614-615) :

Muhammad bin ‘Auf -rahimahullah- berkata,

كُنْتُ أَلعب فِي الكَنِيْسَة بِالكرَة وَأَنَا حَدَّث، فَدَخَلتِ الكرَة، فَوَقَعت قرب المُعَافَى بن عِمْرَانَ الحِمْصِيّ، فَدَخَلت لأَخذهَا، فَقَالَ: ابْنُ مَنْ أَنْتَ؟

قُلْتُ: ابْن عَوْف بن سُفْيَان.

قَالَ: أَمَا إِنَّ أَبَاك كَانَ مِنْ إِخْوَاننَا، فَكَانَ___مِمَّنْ يَكْتُب مَعَنَا الحَدِيْث وَالعِلْم، وَالَّذِي كَانَ يُشْبِهُك أَنْ تتبع مَا كَانَ عَلَيْهِ وَالِدك.

فَصِرْتُ إِلَى أُمِّي، فَأَخبرتهَا، فَقَالَتْ: صدق، هُوَ صَدِيْق لأَبيك.

فَأَلبستَنِي ثوبَا وَإِزَاراً، ثُمَّ جِئْت إِلَى المعَافَى، وَمَعِي محبرَة وَورق، فَقَالَ لِي: اكْتُبْ: حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيْلُ بنُ عَيَّاشٍ، عَنْ عبد رَبّهُ بنُ سُلَيْمَانَ، قَالَ: كتبت لِي أُمّ الدَّرْدَاء فِي لَوْحِي: اطلبُوا العِلْم صِغَاراً، تَعْمَلُوا بِهِ كِبَاراً، فَإِنَّ لِكُلِّ حَاصد مَا زرع.” اهـ من سير أعلام النبلاء ط الرسالة (12/ 614_615)

“Dahulu aku pernah bermain bola di sebuah gereja, sedangkan (waktu itu) aku masih muda. Kemudian bola itu pun masuk (ke sebuah majelis ilmu), lalu terjatuh di dekat Al-Mu’afa bin ‘Imron Al-Himshiy (seorang ulama hadits dari Himsh) .

Kemudian aku pun masuk mengambilnya. Beliau (Al-Mu’afa bin ‘Imron) bertanya, “Anak siapakah engkau?”

Aku (Muhammad bin ‘Auf) katakan, “Anaknya ‘Auf bin Sufyan.”

Beliau (Al-Mu’afa bin ‘Imron) berkata, “Ingatlah, sungguh ayahmu dahulu termasuk kawan-kawan kami dari kalangan orang-orang yang menulis hadits dan ilmu bersama kami. Nah, perkara yang pantas bagimu adalah engkau mengikuti jejak ayahmu.”

Akhirnya, aku pun segera menuju ibuku, seraya mengabari beliau (tentang nasihat Al-Mu’afa).

Ibuku berkata, “Beliau (Al-Mu’afa) telah benar. Beliau memang sahabat ayahmu.”

Kemudian ibuku mengenakan pakaian dan sarung kepadaku, lalu aku datang kepada Al-Mu’afa, sedang bersamaku pena dan kertas.

Beliau (Al-Mu’afa) berkata kepadaku, “Tulislah : ‘Telah menceritakan kepadaku Isma’il bin ‘Ayyasy dari Abdu Robbih bin Sulaiman, ia berkata, ‘Ummud Darda’ pernah menuliskan untukku di sebuah papan : “ 

“اطلبُوا العِلْم صِغَاراً، تَعْمَلُوا بِهِ كِبَاراً، فَإِنَّ لِكُلِّ حَاصد مَا زرع

“Carilah ilmu agama semasa kecil, niscaya engkau akan mampu beramal dengan ilmu semasa tua. Karena, setiap orang yang memanen akan memperoleh apa yang ia dahulu tanam.”

Subhanallah, sebuah nasihat ringkas yang tertanam kuat di hati dan pikiran Muhammad bin ‘Auf Ath-Tho’iy –rahimahullah- semasa muda; nasihat yang mengubah haluan hidup yang hanya gemar bermain bola, selanjutnya menjadi pemacu semangat beliau untuk belajar ilmu agama kepada ulama-ulama di masa beliau, sampai beliau menjadi salah satu di antara deretan perawi hadits yang akan abadi nama dan sejarahnya sepanjang masa sampai kiamat tegak, insya Allah.

Di antara murid-murid beliau yang terkenal adalah Al-Imam Abu Dawud As-Sijistaniy (Penulis Sunan Abi Dawud), Abu Zur’ah Ar-Roziy, Abu Hatim Ar-Roziy, An-Nasa’iy (dalam Musnad Ali), Abu Zur’ah Ad-Dimasyqiy, Ibnu Abi Dawud, dan Ibnush Sho’id, Ibnu Abi ‘Ashim Asy-Syaibaniy, Abdullah bin Ahmad bin Hanbal, Muhammad bin Ishaq Ash-Shoghoniy, dan lain-lainnya.  

Pelajaran & Ibroh dari Kisah ini :

1). Nasihat adalah perkara penting dalam kehidupan bermasyarakat.

2). Dengan nasihat, terbangun sebuah bangsa yang bermartabat.

3). Kehidupan setiap orang bisa berubah dari keburukan kepada kebaikan. Karena itu, jangan pernah kita berputus asa dalam mengusahakan kebaikan bagi saudara dan kawan kita.

4). Sekeping nasihat amat berharga bagi seorang hamba dalam membentuk karakter dan haluan hidupnya pada masa depan.

5). Terkadang hidayah itu datang dari arah yang tak disangka. Karena itu, jadilah penyebab terbukanya hidayah bagi orang lain melalui arahan-arahan dan bimbinganmu.

6). Pentingnya orang tua membantu dan mengarahkan anaknya kepada kebaikan saat muncul pada diri anak kecenderungan kepada kebaikan serta selalu mendoakannya.

7). Keutamaan dan pentingnya seorang anak diingatkan tentang jejak pendahulu dan orang tuanya dalam kebaikan.

—————————————————————————–

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Tulisan lainnya

jannatul-firdaus.net @2018

Pintu Tobat masih Terbuka untukmu (Tazkiyatun Nufus)

Bagikan…

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Pintu Tobat masih Terbuka untukmu

  • Oleh : Ustadz Abdul Qodir Abu Fa’izah, Lc. hafizhahullah
  • [Pembina Ponpes Al-Ihsan Gowa]

Romadhon telah lewat membawa kenangan yang banyak bagi kaum muslimin. Secercah harapan terpatri dalam sanubari setiap insan yang mencoba menggapai ridho ilahi.

Dari balik penghambaan dan penghinaan diri di hadapan Allah Robb semesta alam, lahir sebuah cita dan rasa untuk menapaki jalan-jalan yang disinari oleh lentera-lentera keimanan, ilmu, dan amal sholeh.

Gema takbirtahmid, dan tahlil menembus relung hati yang paling dalam; gembira, dan bangga dengan kebersaman kaum muslimin di Hari Raya Ied itu.

Sang Khothib mulai menabur ilmu, dan menebar hikmah. Kata demi kata menyeruak dalam kalbu setiap manusia. Tampak sebuah sosok nun jauh terdiam seribu bahasa, menyesali, dan menangisi noda dan bercak hitam dari dosa yang ia lakukan dahulu.

Dia hanya bisa terdiam menangis sambil mendengar nasihat dari seorang khothib. Segala kenangan pahit dari kehidupan yang ternodai dengan kedurhakaan kepada Allah Sang Maha Pencipta tiba-tiba muncul satu demi satu. Khotib itu seakan-akan berbicara kepadanya, “Kenapa engkau dahulu lalai di masa lalumu…engkau lancang kepada Allah, tak mau menundukkan wajah bersujud kepada-Nya…engkau merasa aman dari dosa sehingga berani menenggak khomer…kenapa engkau mendurhakai orang tuamu, padahal dialah merawatmu dengan penuh kasih. Lalu engkau balas dengan kedurhakaan. Segala penderitaan, dan musibah, mereka lalui demi merawat dirimu. Kebaikan itu engkau balas dengan kekejaman, kekasaran, ketidaksopanan, dan seterusnya. Usai sholat ied ini engkau pulanglah kepada orang tuamu;  peluklah dan cium kedua tangannya dengan penuh sayang sambil meminta maafnya”.

Sosok manusia ini semakin membludak kesedihannya. Butiran-butiran air mata penyesalan dan tobat menetes bak embun suci di pagi hari membasahi bumi.

Dia melirik karena malu dilihat orang, ternyata sekumpulan manusia pun menangis saat mendengar khotib. Sosok ini bertanya, “Adakah pintu tobat bagiku?”

Sang Khothib ketika itu mengakhiri khutbahnya, “Pintu tobat bagi orang-orang yang berdosa masih terbuka…”.

Setelah itu, sang khotib pun mulai membawakan ayat-ayat suci, dan kalam nabawi.

{يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا عَسَى رَبُّكُمْ أَنْ يُكَفِّرَ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيُدْخِلَكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ يَوْمَ لَا يُخْزِي اللَّهُ النَّبِيَّ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ نُورُهُمْ يَسْعَى بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَبِأَيْمَانِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا أَتْمِمْ لَنَا نُورَنَا وَاغْفِرْ لَنَا إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ} [التحريم: 8]

“Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya). Mudah-mudahan Rabbmu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan nabi dan orang-orang mukmin yang bersamanya; sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan: “Ya Rabb kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.”. (QS. At-Tahrim : 8).

“Masihkah Ada Pintu Tobat Bagiku?”

Pertanyaan ini juga pernah terlontar dari mulut seorang bajingan durjana yang pernah melumuri kehidupannya dengan berbagai macam maksiat.

Dia adalah pribadi yang biadab sampai ia telah menumpahkan darah, dan membunuh 100 nyawa sebagaimana yang dikabarkan oleh Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam-  dalam sebuah hadits yang shohih.

Pembaca yang budiman, cerita dan kisah pembunuh 100 nyawa tersebut, ada baiknya kami sajikan agar para pembaca bisa meneguk ibroh dari lautan ilmu yang terdapat dalam kalam nabawi (sabda Nabi –Shallallahu ‘alaihi wa sallam-).

Kisahnya, Nabi –Shallallahu ‘alaihi wa sallam– bersabda,

كَانَ فِيْمَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ رَجُلٌ قَتَلَ تِسْعَةً وَتِسْعِيْنَ نَفْسًا, فَسَأَلَ عَنْ أَعْلَمِ أَهْلِ اْلأَرْضِ, فَدُلَّ عَلَى رَاهِبٍ , فَأَتَاهُ فَقَالَ: إِنَّهُ قَتَلَ تِسْعَةً وَتِسْعِيْنَ نَفْسًا فَهَلْ لَهْ مِنْ تَوْبَةٍ ؟ فَقَالَ: لاَ, فَقَتَلَهُ فَكَمَّلَ بِهِ مِائَةً, ثُمَّ سَأَلَ عَنْ أَعْلَمِ أَهْلِ اْلأَرْضِ, فَدُلَّ عَلَى رَجُلٍ عَالِمٍ, فَقَالَ: إِنَّهُ قَتَلَ مِائَةَ نَفْسٍ , فَهَلْ لَهُ مِنْ تَوْبَةٍ ؟ فَقَالَ: نَعَمْ, وَمَنْ يَحُوْلُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ التَّوْبَةِ ؟ اِنْطَلِقْ إِلَى أَرْضِ كَذَا وَكَذَا , فَإِنَّ بِهَا أُنَاسًا يَعْبُدُوْنَ اللهَ, فَاعْبُدِ اللهَ مَعَهُمْ وَلاَ تَرْجِعْ إِلَى أَرْضِكَ, فَإِنَّهَا أَرْضُ سُوْءٍ, فَانْطَلَقَ حَتَّى إِذَا نَصَفَ الطَّرِيْقَ أَتَاهُ الْمَوْتُ, فَاخْتَصَمَتْ فِيْهِ مَلاَئِكَةُ الرَّحْمَةِ وَمَلاَئِكَةُ الْعَذَابِ, فَقَالَتْ مَلاَئِكَةُ الرَّحْمَةِ : جَاءَ تَائِبًا مُقْبِلاً بِقَلْبِهِ إِلَى اللهِ, وَقَالَتْ مَلاَئِكَةُ الْعَذَابِ: إِنَّهُ لَمْ يَعْمَلْ خَيْرًا قَطُّ, فَأَتَاهُ مَلَكٌ فِيْ صُوْرَةِ آدَمِيٍّ, فَجَعَلُوْهُ حَكَمًا بَيْنَهُمْ, فَقَالَ: قِيْسُوْا مَا بَيْنَ اْلأَرْضَيْنِ , فَإِلَى أَيَّتِهِمَا كَانَ أَدْنَى فَهُوَ لَهُ, فَقَاسُوْهُ فَوَجَدُوْهُ أَدْنَى إِلَى اْلأَرْضِ الَّتِيْ أَرَادَ, فَقَبَضَتْهُ مَلاَئِكَةُ الرَّحْمَةِ

“Dahulu ada seorang laki-laki sebelum kalian yang telah membunuh 99 nyawa. Dia bertanya tentang orang yang paling berilmu di atas permukaan bumi.

Lalu ditunjukkanlah seorang rahib (ahli ibadah). Kemudian ia pun datang kepada sang rahib seraya mengatakan bahwa dirinya telah membunuh 99 nyawa. Apakah masih ada taubat baginya?

“Tidak ada!!”, tukas si rahib.

Akhirnya, orang itu membunuh si rahib dan menyempurnakan (bilangan 99) dengan membunuh si rahib menjadi 100 nyawa.

Kemudian ia bertanya lagi tentang orang yang paling berilmu di atas pemukaan bumi. Lalu ditunjukkan seorang yang berilmu (ulama’), seraya menyatakan bahwa dirinya telah membunuh 100 nyawa, apakah masih ada tobat baginya?

Orang yang berilmu itu menyatakan bahwa siapakah yang menghalangi antara dirinya dengan tobat?

“Berangkatlah engkau ke negeri demikian dan demikian, karena disana ada sekelompok manusia yang menyembah Allah -Ta’ala- . Sembahlah Allah bersama mereka, dan janganlah engkau kembali lagi ke kampung halamanmu, karena ia adalah kampung yang jelek”, kata orang yang beilmu itu.

Orang itu pun berangkat sampai di tengah perjalanan, ia didatangi oleh kematian. Kemudian para malaikat rahmat, dan malaikat adzab (siksa) pun bertengkar tentang orang itu.

Malaikat rahmat berkata, “Dia (bekas pembunuh) ini telah datang dalam keadaan bertaubat lagi menghadapkan hatinya kepada Allah -Ta’ala-“.

Malaikat adzab berkata, “Orang ini sama sekali belum mengamalkan suatu kebaikan”.

Lalu mereka (para malaikat itu) pun didatangi oleh seorang malaikat dalam bentuk seorang manusia. Mereka (para malaikat) pun menjadikannya sebagai hakim.

Malaikat (yang menjadi hakim) berkata, “Ukurlah antara dua tempat itu; kemana saja laki-laki lebih itu dekat, maka berarti ia kesitu”. Mereka mengukurnya; ternyata laki-laki itu lebih dekat ke negeri yang ia inginkan. Akhirnya malaikat rahmat menggenggam (ruh)nya”. [HR. Al-Bukhoriy dalam Kitab Al-Anbiyaa’, bab: Am Hasibta anna Ashhaba Kahfi war Roqim (3283), Muslim dalam Kitab At-Taubah, bab: Qobul Taubah Al-Qotil Wa in Katsuro qotluh (2766), Ibnu Majah dalam Kitab Ad-Diyat, bab: Hal li Qotil Al-Mu’min Taubah (2622)]

Hadits ini adalah hadits yang shohih dari Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam– ketika beliau menceritakan sebagian diantara berita-berita gaib orang-orang Bani Isra’il.

Berita ini beliau terima melalui wahyu dari Allah –azza wa jalla, bukan dari kitab Taurat, atau Injil.

Hadits ini banyak mengandung mutiara hikmah yang terpancar dari wahyu Allah -Ta’ala- . Para ulama’ telah mengeluarkan hikmah, dan faedah-faedahnya dalam kitab-kitab hadits.

Di dalam hadits ini terdapat bimbingan bagi kita agar seorang ketika ingin bertobat, maka hendaknya ia segera bertobat dan meninggalkan kampung halamannya yang penuh dengan maksiat atau kekafiran, karena dikhawatirkan ia akan kembali kepada kebiasaannya berupa maksiat atau kekafiran yang pernah ia lakukan dahulu sebelum tobat.

Selain itu, teman juga punya pengaruh besar dalam mengembalikan seseorang ke lembah maksiat. Berapa banyak manusia yang dahulu mau bertaubat, bahkan sudah bertaubat dari kebiasaannya, seperti zina, khomer, dan lainnya. Namun beberapa saat kemudian ia kembali lagi kepada kebiasaannya yang buruk tersebut.

Oleh karena itu Nabi –Shallallahu ‘alaihi wa sallam–  bersabda,

الرَّجُلُ عَلَى دِيْنِ خَلِيْلِهِ, فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلْ

“Seorang itu berada di atas jalan hidup (kebiasaan) temannya. Lantaran itu, hendaknya seseorang diantara kalian memeperhatikan orang yang ia temani”. [HR. Abu Dawud dalam Sunan-nya (4833), dan At-Tirmidziy dalam Sunan-nya (2378). Hadits ini di-hasan-kan oleh Syaikh Al-Albaniy -rahimahullah- dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shohihah (927)]

Abu Hamid -rahimahullah- berkata, “Menemani orang yang bersemangat akan membangkitkan semangat. Menemani orang yang zuhud akan membuat kita zuhud terhadap dunia, karena tabiat manusia tercipta untuk selalu menyerupai dan meneladani orang”. [Lihat Tuhfah Al-Ahwadziy bi Syarh Jami’ At-Tirmidziy (7/42), cet. Dar Al-Kutub Al-Ilmiyyah]

Jadi, seorang yang mau bertobat, atau sudah bertobat, namun ia masih tetap bergaul dan bersahabat dengan teman-teman lamanya dari kalangan ahli maksiat, maka yakin bahwa orang itu tak bisa bertobat dengan benar. Kalaupun ia bisa bertobat, maka tobatnya tak akan nashuha (murni).

Al-Hafizh Abul Fadhl Ibnu Hajar Al-Asqolaniy -rahimahullah- berkata ketika mengomentari hadits pembunuh 100 nyawa di atas, “Di dalam hadits ini terdapat keutamaan berpindah dari kampung yang ia bermaksiat di dalamnya, karena sesuai dengan pengalaman, orang seperti ini akan terkalahkan (terpengaruh), entah karena ia teringat dengan perbuatan-perbuatannya yang lalu sebelum ia taubat, dan terpengaruh dengannya, atau entah karena ada orang yang menolongnya kepada maksiat, dan mendorongnya kepada hal itu. Oleh karena ini, pada akhir hadits beliau bersabda, “…dan janganlah engkau kembali ke kampungmu, karena ia adalah kampung yang jelek”. Jadi, di dalamnya terdapat isyarat bahwa seorang yang mau bertaubat seyogyanya meninggalkan kebiasaan-kebiasaan lamanya yang telah biasa ia lakukan dahulu di masa ia bermaksiat, dan berpindah darinya seluruhnya”. [Lihat Fathul Bari Syarh Shohih Al-Bukhoriy (6/517), cet. Darul Ma’rifah]

Inilah jalan bagi orang yang mau bertobat. Seorang yang mau taubat nasuha, ia harus meninggalkan maksiat, menyesali maksiatnya, dan bertekad kuat untuk tidak kembali lagi kepadanya. Jika ia ada kaitan dengan hak manusia, maka ia kembalikan, dan meminta maaf kepadanya. [Lihat Riyadhus Sholihin min Kalam Sayyid Al-Mursalin (hal. 17), karya An-Nawawiy -rahimahullah-]

Taubat nashuha (tobat yang murni dan sungguh-sungguh) tak mungkin akan tercapai dan berkelanjutan, kecuali jika seseorang mau meninggalkan lingkungannya yang rusak, lalu mencari lingkungan yang jauh dari perkara-perkara yang mendorong dirinya terjatuh dalam maksiat.

Oleh karena itu, seorang dianjurkan untuk berangkat mencari lingkungan orang-orang beriman, dan beramal sholeh yang terhiasi oleh cahaya ilmu. Disana, ia bisa mendapatkan teman dari kalangan orang sholeh, dan berilmu yang membantu dirinya untuk selalu taat, dan tegar dalam meninggalkan maksiat.

“(Di dalam hadits ini terkandung beberapa faedah, di antaranya,) disyari’atkan berpindah dari kampung yang ia bermaksiat kepada Allah di dalamnya menuju kepada negeri yang Allah tidak dimaksiati di dalamnya, atau penduduknya lebih sedikit kejelekannya dibandingkan yang pertama. Seyogyanya bagi orang yang bertaubat agar ia meninggalkan kebiasaan-kebiasaan yang ia biasa kerjakan di masa ia senang bermaksiat, dan berubah, serta menyibukkan diri dengan selainnya. Menemani orang yang berilmu agama, bertaqwa, dan sholeh akan sangat membantu untuk taat kepada Allah, dan mengekang setan. Bersabarnya seseorang dalam usaha mencari orang-orang yang sholeh merupakan dalil (tanda) yang menunjukkan tentang benarnya kemauan seseorang dalam bertaubat kepada Allah”. [Lihat Bahjah An-Nazhirin (1/62), cet. Dar Ibnul Jauziy, 1422 H]

Jadi, seseorang yang tulus tobatnya akan tampak pada dirinya tanda-tanda perubahan, dan usaha untuk berubah.

Oleh karena itu, seorang tak mungkin akan dikatakan jujur dan tulus dalam bertobat, jika ia masih dalam kebiasaannya bermaksiat, dan tidak ada usaha pada dirinya untuk meninggalkan teman-temannya lamanya yang menjerumuskan dirinya dalam lembah maksiat.

Seorang tak cukup hanya mengucapkan, “Astaghfirullah” (Aku memohon ampunan dosa kepada), lalu tak ada perubahan pada dirinya untuk baik, dan tak mau meninggalkan teman-teman lamanya.

Terakhir, kami nasihatkan dengan firman Allah -Ta’ala- ,

{وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ} [النور: 31]

“Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung”. (QS. An-Nuur: 31).

—————————————————————————–

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Tulisan lainnya

jannatul-firdaus.net @2018

Urgensi Penyucian Jiwa (Tazkiyatun Nufus)

Bagikan…

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Urgensi Penyucian Jiwa (Tazkiyatun Nufus)

  • Oleh : Abu Amatillah Anshari

Membersihkan jiwa merupakan perkara yang sangat penting karena beberapa sebab di antaranya:

1). Baiknya hati akan menyebabkan baiknya seluruh anggota badan

Hal ini sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:

…أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ٬ أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ.

Artinya:
“…Ketahuilah sesungguhnya di dalam tubuh manusia ada segumpal daging. Apabila ia baik maka baik pula seluruh tubuhnya. Dan apabila ia buruk, maka buruk pula seluruh tubuhnya. Ketahuilah segumpal daging itu adalah hati.” (Diriwayatkan oleh Al-Bukhariy (no. 52, 1946), Muslim (no. 1599), dari sahabat An-Nu’man bin Basyiir radhiyallahu ‘anhu).

Dan Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata:

الْقَلْبُ مَلِكٌ وَالْأَعْضَاءُ جُنُودُهُ٬ فَإِذَا طَابَ الْمَلِكُ طَابَتْ جُنُودُهُ٬ وَإِذَا خَبُثَ الْمَلِكُ خَبُثَتْ جُنُودُهُ.

Artinya:
“Hati ibarat raja sedangkan anggota badan ibarat pasukannya apabila rajanya baik maka pasukannya akan baik pula, dan apabila rajanya buruk maka pasukannya akan buruk pula.” (Diriwayatkan oleh Al-Baihaqiy dalam Syu’abul Iman dan Abdurrazzaq dalam Al-Mushannaf).

2). Hati bisa sakit, kotor bahkan mati

Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:

القلبُ يمرضُ كما يمرضُ البدنُ وشفاؤهُ في التوبة والحمية٬ ويصدأ كما تصدأ المرآةُ٬ وجلاؤه بالذَّكر٬ ويعری كما يعری الجسمُ وزينتُه التقوی٬ ويجوع ويظمأ كما يجوع البدنُ٬ وطعامه وشرابه: المعرفةُ٬ والمحبّةُ٬ والتوكُّلُ٬ والإنابة٬ والخدمةُ.

Artinya:
” Hati dapat mengalami sakit sebagaimana halnya badan dan obatnya adalah dengan bertaubat dan menjaganya dari perbuatan buruk. Hati juga dapat berkarat sebagaimana cermin, dan untuk membersihkannya adalah dengan berdzikir. Hati juga bisa telanjang sebagaimana halnya badan dan pakaian untuk menghiasinya adalah takwa. Hati juga bisa lapar sebagaimana halnya tubuh, makanan dan minumannya adalah mengenal dan mencintai Allah, bertawakal dan kembali kepada-Nya serta berkhidmat kepada-Nya.”(Fawaaidul Fawaaid, hal. 226).

3. Sumpah yang paling panjang dalam Al-Qur’an berbicara tentang penyucian jiwa
Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:

وَالشَّمْسِ وَضُحَاهَا۝وَالْقَمَرِ إِذَا تَلَاهَا۝وَالنَّهَارِ إِذَا جَلَّاهَا۝وَاللَّيْلِ إِذَا يَغْشَاهَا۝وَالسَّمَاءِ وَمَا بَنَاهَا۝وَالْأَرْضِ وَمَا طَحَاهَا۝وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا۝فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا۝قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا۝وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا۝

Artinya:
Demi matahari dan cahayanya di pagi hari, dan bulan apabila mengiringinya, dan siang apabila menampakkannya, dan malam apabila menutupinya, dan langit serta pembinaannya, dan bumi serta penghamparannya, dan jiwa serta penyempurnaannya, maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu kefasikan dan ketakwaannya, sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya. (Surah Asy-Syams, ayat 1-10).

Sungguh beruntung orang yang membersihkan jiwanya, maksudnya: dengan ketaatan kepada Allah Subhanahu Wata’ala. Demikian juga dia membersihkan jiwanya dari akhlak yang rendah dan hina. Ini merupakan pendapat dari Qatadah, Mujahid Mujahid dan Sa’id bin Jubair.

Dan sungguh merugi orang yang mengotori jiwanya. Maksudnya menelantarkan dan menjerumuskan jiwanya dengan menjauhkannya dari petunjuk sehingga ia berbuat kemaksiatan dan meninggalkan ketaatan Allah Subhanahu Wata’ala.
(Tafsir Ibnu Katsiir, Juz IV, hal. 639-640).

4). Perhatian Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam terhadap jiwa sangatlah besar.
Hal ini bisa dilihat dari doa-doa beliau shallallahu ‘alaihi wasallam seperti doa-doa berikut ini:

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ، ثَبِّتْ قَلْبِيْ عَلَی دِيْنِكَ.

Artinya:
“Wahai Dzat Yang Maha membolak-balikan hati kokohkanlah hatiku di atas agama-Mu.” (Diriwayatkan oleh At-Tirmidziy, no. 3522).
Dan juga Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam senantiasa berdoa:

اللهُمَّ آتِ نَفْسِي تْقْوَاهَا وَزَكّهَا أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّهَا أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلَاهَا.

Artinya:
“Ya Allah berikanlah ketakwaan pada jiwaku dan sucikanlah ia, karena Engkaulah sebaik-baik yang menyucikannya, Engkaulah yang menguasai dan memilikinya.” (Diriwayatkan oleh Muslim, no. 2722).

5). Derajat yang tinggi akan diraih oleh orang yang senantiasa menyucikan jiwanya
Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:

وَمَن يَأْتِهِۦ مُؤْمِنًا قَدْ عَمِلَ ٱلصَّٰلِحَٰتِ فَأُو۟لَٰٓئِكَ لَهُمُ ٱلدَّرَجَٰتُ ٱلْعُلَىٰ۝جَنَّٰتُ عَدْنٍ تَجْرِى مِن تَحْتِهَا ٱلْأَنْهَٰرُ خَٰلِدِينَ فِيهَا ۚ وَذَٰلِكَ جَزَآءُ مَن تَزَكَّىٰ۝

Artinya:
“Barangsiapa datang kepada Rabbnya dalam keadaan beriman, telah beramal saleh, maka mereka itulah orang-orang yang memperoleh tempat-tempat yang tinggi (mulia), (yaitu) surga ‘Adn yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, mereka kekal di dalamnya. Dan itulah balasan bagi orang yang bersih (dari kekafiran dan kemaksiatan).” (Surah Thaha, ayat 75-76).
Dan firman Allah:

وَذَلِكَ جَزَاءُ مَنْ تَزَكَّیٰ.

dan itulah balasan bagi orang yang menyucikan diri. 

Ibnu Katsir rahimahullah berkata:

أي: طهّر نفسَه من الدَّنس والخُبْث والشّرك، وعبَد الله وحده لا شريك له، وصدّق المرسلين فيما جاءوا به من خبر وطلب.

Maksudnya: Orang yang menyucikan dirinya dari kotoran, keburukan, dan kesyirikan, beribadah hanya kepada Allah semata dan tidak menyekutukan-Nya serta membenarkan para Rasul pada apa yang mereka bawa berupa berita dan perintah. (Tafsiir Ibnu Katsiir, Juz III, hal. 203).

wallahu a’lam.

—————————————————————————–

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Tulisan lainnya

jannatul-firdaus.net @2018