Intisari Tauhid #18: Bahaya Riya (Syirik Kecil)

Jannatul-firdaus.net

Menyebar Ilmu Syar’i



Jannatul-firdaus.net

Menyebar Ilmu Syar’i



Bagikan…

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram



Intisari Tauhid: Bahaya Riya (Syirik Kecil)

  • Oleh: Ustadz Dzulqarnain Muhammad Sunusi hafizhahullah
Bahaya Riya (Syirik Kecil)

Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَخْوَفُ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمُ الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ, فَسُئِلَ عَنْهُ فَقَالَ: الرِّيَاءُ.

“Sesuatu yang paling aku khawatirkan terhadap kalian adalah syirik kecil.”
Ketika ditanya tentang (syirik kecil) itu, beliau menjawab, “Riya.” (HR. Ahmad, Ath-Thabrany dan Al-Baihaqy)

Karena kesempurnaan belas kasih dan sayang beliau shallallâhu ‘alaihi wa sallam kepada umatnya serta kesempurnaan tulusnya kebaikan kepada mereka, tidaklah ada suatu kebaikan, kecuali pastilah beliau telah tunjukkan hal itu kepada umatnya, dan tidaklah ada suatu kejelekan, kecuali pastilah beliau telah peringatkan umat darinya. Di antara kejelekan yang Rasulullah peringatkan adalah penampilan yang menampakkan ibadah kepada Allah dengan maksud untuk mendapatkan pujian dari manusia karena hal itu termasuk ke dalam syirik dalam ibadah -yang meskipun syirik kecil, bahayanya sangat besar- sebab hal itu bisa membatalkan amalan yang disertainya juga tatkala jiwa memiliki tabiat senang akan kepemimpinan dan mendapatkan kedudukan di hati-hati manusia, kecuali orang-orang yang Allah selamatkan. Oleh karena itu, jadilah riya sebagai perkara yang sangat dikhawatirkan terjadi pada orang-orang shalih -karena kuatnya dorongan ke arah hal tersebut-. Berbeda dengan dorongan untuk berbuat syirik besar, yang boleh jadi (dorongan tersebut) tidak ada di dalam hati orang-orang mukmin yang sempurna, atau (dorongan tersebut) lemah kalaupun ada.

Faedah Hadits

1. Kekuatan rasa takut untuk terjatuh ke dalam syirik kecil. Hal itu ditinjau dari dua sisi:

a. Rasul shallallâhu ‘alaihi wa sallam mengkhawatirkan terjadinya syirik tersebut dengan kekhawatiran yang sangat.

b. Rasul shallallâhu ‘alaihi wa sallam mengkhawatirkan hal tersebut terhadap orang-orang shalih yang sempurna maka orang-orang yang (derajatnya) berada di bawah mereka tentu lebih dikhawatirkan untuk terjatuh ke dalam kesyirikan tersebut.

2. Besarnya kasih sayang beliau shallallâhu ‘alaihi wa sallam kepada umatnya serta semangat beliau untuk memberi petunjuk dan nasihat kepada umatnya.

3. Bahwa kesyirikan terbagi menjadi syirik besar dan syirik kecil, -syirik besar berarti menyamakan sesuatu selain Allah dengan Allah dalam perkara-perkara yang menjadi kekhususan Allah, sedang syirik kecil adalah hal yang disebut dalam nash sebagai kesyirikan, tetapi tidak sampai pada derajat syirik besar-.

Perbedaan antara keduanya adalah:

a. Syirik besar membatalkan seluruh amalan, sedangkan syirik kecil hanya membatalkan amalan yang sedang dikerjakan.

b. Syirik besar menjadikan pelakunya kekal di neraka, sedangkan syirik kecil tidak menjadikan pelakunya kekal di neraka.

c. Syirik besar menjadikan pelakunya keluar dari Islam, sedangkan syirik kecil tidak menjadikan pelakunya keluar dari Islam.

[Diringkas dari Kitab Penjelasan Ringkas Kitab Tauhid karya Syaikh Shalih Al-Fauzan]

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Tulisan lainnya

Intisari Tauhid #17: Ancaman Bagi Pelaku Kesyirikan

Jannatul-firdaus.net

Menyebar Ilmu Syar’i



Jannatul-firdaus.net

Menyebar Ilmu Syar’i



Bagikan…

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram



Intisari Tauhid: Ancaman Bagi Pelaku Kesyirikan

  • Oleh: Ustadz Dzulqarnain Muhammad Sunusi hafizhahullah
Ancaman Bagi Pelaku Kesyirikan

Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ مَاتَ وَهُوَ يَدْعُو مِنْ دُونِ اللهِ نِدًّا دَخَلَ النَّارَ

“Barangsiapa yang meninggal dalam keadaan berdoa (menyembah) selain Allah sebagai tandingan (bagi Allah), ia akan masuk ke dalam neraka.” (Diriwayatkan oleh Al-Bukhâry)

Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam mengabarkan bahwa, barangsiapa yang mengadakan tandingan yang disamakan dan diserupakan dengan Allah dalam peribadahan, yang ia berdoa, meminta, dan memohon keselamatan kepada (tandingan) itu, baik tandingan tersebut berupa nabi maupun selainnya, dan ia terus menerus berada dalam keadaan seperti itu sampai meninggal dan tidak bertaubat sebelum meninggal, tempat kembali dia adalah neraka karena ia telah musyrik.

Membuat tandingan (bagi Allah) ada dua macam:

Pertama: mengadakan sekutu bagi Allah dalam jenis-jenis ibadah atau pada sebagian (jenis) maka ini adalah syirik besar yang pelakunya kekal di neraka.

Kedua: hal-hal yang termasuk ke dalam syirik kecil, seperti ucapan seseorang, “Apa-apa yang Allah dan engkau kehendaki,” “Kalau bukan karena Allah dan kamu,” serta ucapan lain yang semisal yang mengandung kata sambung dan pada lafazh Jalâlah (Allah). Juga seperti riya yang ringan, ini tidak menjadikan pelakunya kekal di neraka meskipun masuk ke dalamnya.

Faedah Hadits:

1. Memberi pertakutan terhadap perbuatan syirik, dan anjuran untuk bertaubat dari kesyirikan sebelum seseorang meninggal.

2. Bahwa setiap orang yang, bersamaan dengan doanya kepada Allah, berdoa pula kepada seorang nabi atau wali, baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal, atau kepada batu atau pohon, berarti ia telah mengadakan tandingan bagi Allah.

3. Bahwa dosa syirik tidak akan diampuni, kecuali bila (pelakunya) bertaubat.

[Diringkas dari Kitab Penjelasan Ringkas Kitab Tauhid karya Syaikh Shalih Al-Fauzan]

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Tulisan lainnya

Intisari Tauhid #8: Kelemahan Berhala Adalah Bukti Kebatilan Kesyirikan

Jannatul-firdaus.net

Menyebar Ilmu Syar’i



Jannatul-firdaus.net

Menyebar Ilmu Syar’i



Bagikan…

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram



Intisari Tauhid : Kelemahan Berhala Adalah Bukti Kebatilan Kesyirikan

  • Oleh: Ustadz Dzulqarnain Muhammad Sunusi hafizhahullah
Kelemahan Berhala Adalah Bukti Kebatilan Kesyirikan

Allah Ta’ala berfirman:

قُلْ أَفَرَأَيْتُمْ مَا تَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنْ أَرَادَنِيَ اللَّهُ بِضُرٍّ هَلْ هُنَّ كَاشِفَاتُ ضُرِّهِ أَوْ أَرَادَنِي بِرَحْمَةٍ هَلْ هُنَّ مُمْسِكَاتُ رَحْمَتِهِ قُلْ حَسْبِيَ اللَّهُ عَلَيْهِ يَتَوَكَّلُ الْمُتَوَكِّلُونَ.

“Katakanlah (Muhammad kepada kaum musyrikin), ‘Terangkanlah kepadaku tentang (sembahan-sembahan) selain Allah yang kalian seru. Jika Allah menghendaki untuk menimpakan suatu bahaya kepadaku, apakah mereka mampu menghilangkan bahaya itu? Atau jika Allah menghendaki untuk melimpahkan suatu rahmat kepadaku, apakah mereka mampu menahan rahmat-Nya?’ Katakanlah, ‘Cukuplah Allah bagiku. Hanya kepada-Nyalah, orang-orang yang berserah diri bertawakkal.’.” [Az-Zumar: 38]

Allah memerintah Nabi-Nya Muhammad shallallâhu ‘alaihi wa sallam untuk bertanya kepada kaum musyrikin -dengan pertanyaan pengingkaran- tentang patung-patung yang mereka sembah bersama Allah, apakah (patung-patung) itu mampu memberi manfaat atau menolak bahaya? Maka mereka pasti akan mengakui kelemahan patung-patung mereka terhadap hal itu. Kalau keadaan mereka demikian, telah batallah peribadahan kepada patung-patung tersebut.

Faedah Ayat

  1. Kebatilan perbuatan syirik, karena semua yang disembah selain Allah tidak berkuasa atas bahaya tidak pula manfaat bagi para penyembahnya.
  2. Pensyariatan untuk mendebat kaum musyrikin guna membatilkan kesyirikan mereka.
  3. Kewajiban untuk bersandar kepada Allah semata dan menyerahkan semua urusan kepada-Nya.

[Diringkas dari Kitab Penjelasan Ringkas Kitab Tauhid karya Syaikh Shalih Al-Fauzan]

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Tulisan lainnya

Intisari Tauhid #7: Kesyirikan Adalah Sebab Kelemahan

Jannatul-firdaus.net

Menyebar Ilmu Syar’i



Jannatul-firdaus.net

Menyebar Ilmu Syar’i



Bagikan…

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram



Intisari Tauhid : Kesyirikan Adalah Sebab Kelemahan

  • Oleh: Ustadz Dzulqarnain Muhammad Sunusi hafizhahullah
Kesyirikan Adalah Sebab Kelemahan

Shahabat yang mulia, Imron bin Hushain radhiallahu ‘anhu berkata:

أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَأَى رَجُلًا فِي يَدِهِ حَلْقَةٌ مِنْ صُفْرٍ، فَقَالَ: ( مَا هَذِهِ؟)، قَالَ: مِنَ الْوَاهِنَةِ. فَقَالَ: (انْزِعْهَا فَإِنَّهَا لَا تَزيدُكَ إِلَّا وَهْنًا، فَإِنَّكَ لَوْ مِتَّ وَهِيَ عَلَيْكَ، مَا أَفْلَحْتَ أَبَدًا ). رَوَاهُ أَحْمَدُ بِسَنَدٍ لَا بَأْسَ بِهِ.

“Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam melihat seorang lelaki yang di tangannya terdapat gelang kuningan maka beliau bertanya, ‘(Gelang) apa ini?’ Lelaki itu menjawab, ‘(penangkal) al-wâhinah.’ Beliau pun bersabda, ‘Lepaskanlah (gelang) itu karena (gelang) itu tidak akan menambah sesuatu pada dirimu, kecuali kelemahan. Sebab, jika meninggal dalam keadaan (gelang) itu (masih melekat) pada (tubuh)mu, engkau tidak akan beruntung selamanya.’.”(HR. Ahmad dengan sanad yang tidak mengapa)

Kepada kita, ‘Imran bin Hushain radhiyallâhu ‘anhu menyebutkan salah satu sikap Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam dalam memerangi kesyirikan dan membebaskan manusia dari kesyirikan. Sikap itu adalah:

Ketika melihat seseorang memakai gelang yang terbuat dari kuningan, beliau bertanya tentang sebab ia memakai gelang tersebut. Orang itu menjawab bahwa ia memakai gelang untuk melindungi diri dari penyakit maka beliau segera memerintah orang itu untuk melepas (gelang) tersebut dan mengabarkan bahwa hal itu tidak mendatangkan manfaat, bahkan akan membahayakan dan akan menambah penyakit, yang dengan alasan itu ia memakai gelang tersebut. Bahkan, lebih dari itu, seandainya terus memakai gelang itu sampai meninggal, ia akan diharamkan untuk mendapatkan keberuntungan di akhirat.

Faedah Hadits

  1. Memakai gelang atau selainnya untuk melindungi diri dari penyakit termasuk sebagai kesyirikan.
  2. Larangan untuk berobat dengan sesuatu yang haram.
  3. Mengingkari kemungkaran dan mengajari orang yang belum tahu.
  4. Bahaya kesyirikan di dunia dan di akhirat.
  5. Seorang mufti, secara lebih detail, menanyakan suatu masalah dan menghukumi sesuatu berdasarkan tujuan sesuatu tersebut.
  6. Bahwa syirik kecil termasuk ke dalam dosa besar.
  7. Bahwa kesyirikan tidak menerima udzur berdasarkan ketidaktahuan.
  8. Teguran keras dalam mengingkari pelaku kesyirikan dengan tujuan agar orang tersebut lari (menjauh) dari kesyirikan itu.

[Diringkas dari Kitab Penjelasan Ringkas Kitab Tauhid karya Syaikh Shalih Al-Fauzan]

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Tulisan lainnya

Intisari Tauhid #6: Menggantungkan/Memakai Jimat Adalah Kesyirikan

Jannatul-firdaus.net

Menyebar Ilmu Syar’i



Jannatul-firdaus.net

Menyebar Ilmu Syar’i



Bagikan…

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram



Intisari Tauhid : Menggantungkan/Memakai Jimat Adalah Kesyirikan

  • Oleh: Ustadz Dzulqarnain Muhammad Sunusi hafizhahullah
Menggantungkan/Memakai Jimat Adalah Kesyirikan

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ تَعَلَّقَ تَميمَةً فَلَا أَتَمَّ اللهُ لَهُ، وَمَنْ تَعَلَّقَ وَدْعَة فَلَا وَدَعَ اللهُ لَهُ، وَفِي رِوَايَةٍ: مَنْ تَعَلَّقَ تَميمَةً فَقَدْ أَشْرَكَ

“Barangsiapa yang menggantungkan tamimah, niscaya Allah tidak akan mengabulkan keinginannya, dan barangsiapa yang menggantungkan wad’ah, niscaya Allah tidak akan memberi ketenangan pada dirinya.” (HR. Ahmad)

Dalam riwayat lain (disebutkan), “Barangsiapa yang menggantungkan tamimah, sungguh dia telah berbuat syirik.”

Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam mendoakan kejelekan bagi para pemakai tamimah (jimat), yang meyakini bahwa hal itu bisa menangkal/melindungi dari bahaya, agar Allah membalikkan keadaan orang tersebut dari yang dimaksudkan dan tidak menyempurnakan urusannya, sebagaimana Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam juga mendoakan kejelekan bagi para pemakai wad’ah -dengan tujuan untuk menolak/melindungi diri terhadap bahaya-, agar Allah tidak membiarkan mereka merasa santai dan berada dalam ketenangan, tetapi menimpakan semua gangguan kepadanya. Doa tersebut bermaksud sebagai peringatan agar manusia tidak melakukan hal tersebut sebagaimana yang Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam kabarkan dalam hadits kedua bahwa hal itu termasuk sebagai kesyirikan terhadap Allah.

Faedah Kedua Hadits

  1. Bahwa menggantungkan tamimah dan wad’ah tergolong sebagai kesyirikan.
  2. Bahwa barangsiapa yang bersandar kepada selain Allah, Allah akan memperlakukan dia dengan memberikan sesuatu kepadanya yang berlawanan dengan maksudnya.
  3. Pensyariatan untuk mendoakan kejelekan terhadap orang-orang yang menggantungkan tamimah dan wad’ah agar mereka tidak mendapatkan hal yang dia maksudkan dan agar diberi sesuatu yang berlawanan dengan tujuan yang diinginkan.

[Diringkas dari Kitab Penjelasan Ringkas Kitab Tauhid karya Syaikh Shalih Al-Fauzan]

Larangan Rasulullah Shallallahu‘Alaihi Wa Sallam Untuk Memakai/Menggantungkan Jimat

Pada satu perjalanannya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus seseorang untuk mengumumkan:

أَنْ لَا يَبْقِيَنَّ فِي رَقَبَةِ بَعِيرٍ قِلَادَةً مِنْ وَتَرٍ أَوْ قِلَادَةً إِلَّا قُطِعَتْ.

“Tidaklah ada kalung dari tali busur atau kalung apapun pada leher unta, kecuali harus diputus.” (HR. Al-Bukhâry dan Muslim)

Pada satu kesempatan dalam perjalanan Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam, beliau mengutus seseorang untuk menyeru manusia agar melepaskan tali-tali yang ada di leher unta-unta mereka, yang (tali itu) ditujukan sebagai penolak ‘ain dan bala, karena hal tersebut tergolong sebagai kesyirikan yang wajib dihilangkan.

Faedah Hadits

  1. Bahwa menggantungkan bekas tali busur panah (untuk tolak bala) masuk ke dalam hukum tamimah (jimat) yang dilarang.
  2. Menghilangkan kemungkaran.
  3. Menyampaikan perkara kepada manusia yang bisa menjaga aqidah mereka.

[Diringkas dari Kitab Penjelasan Ringkas Kitab Tauhid karya Syaikh Shalih Al-Fauzan]

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Tulisan lainnya

Intisari Tauhid #5: Tidak Ada Hujjah Bagi Kesyirikan, Kecuali Prasangka Dan Hawa Nafsu

Jannatul-firdaus.net

Menyebar Ilmu Syar’i



Jannatul-firdaus.net

Menyebar Ilmu Syar’i



Bagikan…

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram



Intisari Tauhid : Tidak Ada Hujjah Bagi Kesyirikan, Kecuali Prasangka Dan Hawa Nafsu

  • Oleh: Ustadz Dzulqarnain Muhammad Sunusi hafizhahullah
Tidak Ada Hujjah Bagi Kesyirikan, Kecuali Prasangka Dan Hawa Nafsu

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

أَفَرَأَيْتُمُ اللَّاتَ وَالْعُزَّى. وَمَنَاةَ الثَّالِثَةَ الْأُخْرَى. أَلَكُمُ الذَّكَرُ وَلَهُ الْأُنْثَى. تِلْكَ إِذًا قِسْمَةٌ ضِيزَى. إِنْ هِيَ إِلَّا أَسْمَاءٌ سَمَّيْتُمُوهَا أَنْتُمْ وَآبَاؤُكُمْ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ بِهَا مِنْ سُلْطَانٍ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَمَا تَهْوَى الْأَنْفُسُ وَلَقَدْ جَاءَهُمْ مِنْ رَبِّهِمُ الْهُدَى

 

“Terangkanlah kepadaku (wahai kaum musyrikin) tentang Al-Lâta, Al-‘Uzzâ, dan Manâh, yang ketiga dan terakhir? Apakah pantas: (anak) laki-laki untuk kalian, sedangkan (anak) perempuan untuk Allah? Yang demikian itu tentulah suatu pembagian yang tidak adil. Itu tiada lain hanyalah nama-nama yang diada-adakan oleh kalian dan bapak-bapak kalian. Allah tidaklah menurunkan suatu keterangan pun untuk (menyembah)nya. Mereka tiada lain hanyalah mengikuti sangkaan-sangkaan dan keinginan nafsu, padahal sesungguhnya telah datang hidayah dari Rabb mereka kepada mereka.” [An-Najm: 19-23]

Allah meminta hujjah kepada kaum musyrikin tentang peribadahan mereka kepada benda yang tidak berakal, berupa ketiga berhala tersebut, apa yang kalian dapatkan dari (berhala-berhala) tersebut?! Allah juga mencela mereka atas kecurangan yang mereka lakukan dalam pembagian, bahwa mereka menyucikan diri mereka terhadap kepemilikan anak perempuan dan menjadikan anak perempuan itu untuk Allah.

Kemudian, Allah meminta keterangan kepada mereka tentang kebenaran peribadahan kepada berhala-berhala tersebut, dan menjelaskan bahwa persangkaan dan keinginan jiwa tidak bisa dijadikan hujjah dalam permasalahan ini. Sesungguhnya hujjah dalam masalah itu hanyalah ada pada (risalah) yang para rasul bawa berupa keterangan-keterangan yang jelas dan hujjah-hujjah yang pasti tentang kewajiban beribadah kepada Allah semata dan meninggalkan peribadahan kepada patung.

Pada ayat ini, terdapat pengharaman mencari berkah kepada pepohonan dan batu-batuan serta penggolongan perbuatan tersebut sebagai kesyirikan. Sebab, sesungguhnya para penyembah patung-patung tersebut melakukan hal itu karena. meyakini akan mendapat berkah dari patung-patung tersebut dengan cara mengagungkan dan berdoa kepada (patung-patung) itu. Maka, mencari berkah kepada kuburan sama seperti mencari berkah kepada Lâta, sedang mencari berkah kepada pepohonan dan bebatuan sama seperti mencari berkah kepada ‘Uzzâ dan Manâh.

Faedah Ayat-Ayat

  1. Bahwasanya mencari berkah kepada pohon dan batu tergolong sebagai kesyirikan.
  2. Pensyariatan untuk membantah orang-orang musyrikin dalam membatalkan kesyirikan dan menetapkan tauhid.
  3. Bahwa hukum tidaklah ditetapkan, kecuali berdasarkan dalil dari (syariat) yang Allah turunkan, bukan semata-mata berdasarkan prasangka dan hawa nafsu.
  4. Bahwa Allah telah menegakkan hujjah dengan mengutus para rasul dan menurunkan kitab-kitab.

[Diringkas dari Kitab Penjelasan Ringkas Kitab Tauhid karya Syaikh Shalih Al-Fauzan]

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Tulisan lainnya