Tips Jitu Meraih Khusyu’ dalam Sholat


| Menu

| MENU

Bagikan…

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram



Tips Jitu Meraih Khusyu’ dalam Sholat

  • Oleh: Ustadz Abdul Qodir Abu Fa’izah, Lc. hafizhahullah
  • [Pembina Ponpes Al-Ihsan Gowa]

Khusyu’ dalam sholat adalah inti sebuah sholat yang ditunaikan oleh seorang hamba.

Dia merupakan sebab utama yang memasukkan seseorang ke dalam jannah (surga) yang dipenuhi kenikmatan.

Allah –Azza wa Jalla– berfirman,

قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ (1) الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ (2) [المؤمنون : 1 ، 2]

“Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam sholatnya”. (QS. Al-Mukminun : 1-2)

Khusyu’ dalam sholat, artinya seseorang merasa tenang dalam mengerjakan sholatnya, karena ia merasa takut kepada Allah dan men-tadabburi (memahami) ayat-ayat dan dzikir yang ia baca dalam sholatnya.

Karena itu, orang yang khusyu’ akan memusatkan perhatian terhadap bacaan sholatnya dan menenangkan seluruh anggota badannya saat sholat, karena semata-mata mengharapkan pahala.

Dia tak akan tergesa-gesa mendatangi sholat, tak akan memalingkan pandangannya ke kiri dan ke kanan ketika sholat serta mengurangi gerakan dalam sholat. [Lihat Jami’ Al-Bayan (19/694-696)]

Para pembaca yang budiman, lantas apa yang perlu kita lakukan dan pahami agar dapat meraih khusyu’ dalam sholat? Nah, tentunya bila anda ingin khusyu, maka anda dianjurkan melakukan beberapa tips berikut ini:

—  Mengingat Kematian

Seseorang yang ingin meraih khusyu’ yang sempurna dalam sholat, ia harus menghadirkan perasaan takut kepada Allah saat melewati ayat-ayat ancaman atau takut jangan sampai menjadi orang yang celaka karena kelalaiannya dalam menjaga ke-khusyu’-an sholatnya.

Satu diantara perkara yang mampu menghadirkan rasa takut kepada Allah, seseorang mengingat mati saat ia sholat. Dia harus takut jangan sampai sholat yang ia sedang kerjakan adalah amalannya yang paling akhir.

Jika itu adalah amalan yang paling akhir, maka selayaknya ia persembahkan sholat yang baik dan paling khusyu’.

Rasulullah –Shallallahu alaihi wa sallam– bersabda,

اذْكُر المَوْتَ في صَلاَتِكَ فإِنَّ الرَّجُلَ إذا ذَكَرَ المَوْتَ في صَلاَتِهِ لَحَرِيٌّ أنْ يُحْسِنَ صلاتَهُ وَصَلِّ صلاةَ رَجُلٍ لا يَظُنُّ أنَّهُ يُصَلِّي صلاةً غَيْرَها وإِيَّاكَ وكُلَّ أمْرٍ يُعْتَذَرُ مِنْه

“Ingatlah kematian dalam sholatmu. Karena, bila seseorang mengingat kematian dalam sholatnya, maka ia akan lebih memperbaiki sholatnya. Sholatlah laksana sholatnya seorang yang menyangka bahwa ia tak akan lagi melakukan sholat selainnya. Waspadalah terhadap segala perkara yang (dibutuhkan di dalamnya) pengajuan alasan”. [HR. Ad-Dailamiy dalam Musnad Al-Firdaus (1755). Hadits ini di-hasan-kan oleh Al-Albaniy dalam Shohih Al-Jami’ (no. 489)]

Seorang yang takut dalam sholatnya akan mudah mendalami dan konsentrasi terhadap segala bacaan dan gerakannya sehingga ia seakan-akan bercakap-cakap dengan Allah atau seakan ia di alam akhirat.

Inilah sebabnya Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- amat mudah menangis sholatnya, sebab beliau hadirkan dalam hatinya perasaan takut dan dekatnya perjumpaan dengan Allah yang siap menghisab dirinya.

—   Mentadabburi Bacaan-bacaan Sholat

Sholat adalah munajat (bisik-bisik) antara seorang seorang hamba dengan Robb-nya. Di dalamnya ia menyampaikan hajatnya dengan penuh rasa harap dan takut.

Semua ini tak akan sempurna sampai ia memahami arti percakapan yang ia lakukan. Percakapan ini ibarat dialog seseorang dengan kekasihnya. Bahkan lebih dari itu!!

Karenanya, dialog ini butuh keseriusan dan kesadaran sehingga lahirlah saling memahami antara kedua pihak.

Begitulah seorang yang sholat, harus penuh tadabbur terhadap bacaannya yang merupakan dialognya dengan Allah.

Mentadabburi Al-Qur’an adalah perkara yang diperintahkan. Lantaran itu, Dia mencela orang yang tak mentadabburinya. Allah –Ta’ala– berfirman,

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَى قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا  [محمد : 24]

“Maka apakah mereka tidak mentadabburi (memperhatikan) Al Quran ataukah hati mereka terkunci?” (QS. Muhammad : 24)

Al-Imam Muhammad Al-Amin Asy-Syinqithiy –rahimahullah– berkata,

وَمَا تَضَمَّنَتْهُ هَذِهِ الْآيَةُ الْكَرِيمَةُ مِنَ التَّوْبِيخِ وَالْإِنْكَارِ عَلَى مَنْ أَعْرَضَ عَنْ تَدَبُّرِ كِتَابِ اللَّهِ ، جَاءَ مُوَضَّحًا فِي آيَاتٍ كَثِيرَةٍ،…وَمَعْلُومٌ أَنَّ كُلَّ مَنْ لَمْ يَشْتَغِلْ بِتَدَبُّرِ آيَاتِ هَذَا الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ أَيْ تَصَفُّحِهَا وَتَفَهُّمِهَا ، وَإِدْرَاكِ مَعَانِيهَا وَالْعَمَلِ بِهَا، فَإِنَّهُ مُعْرِضٌ عَنْهَا، غَيْرُ مُتَدَبِّرٍ لَهَا فَيَسْتَحِقُّ الْإِنْكَارَ وَالتَّوْبِيخَ الْمَذْكُورَ فِي الْآيَاتِ إِنْ كَانَ اللَّهُ أَعْطَاهُ فَهْمًا يَقْدِرُ بِهِ عَلَى التَّدَبُّرِ.” اهـ من أضواء البيان في إيضاح القرآن بالقرآن – (7 / 256_257)

“Apa yang dikandung oleh ayat yang mulia ini berupa kecaman dan pengingkaran bagi orang yang berpaling dari mentadabburi Kitabullah, telah datang secara jelas dalam banyak ayat…Sudah dimaklumi bahwa barangsiapa yang tidak menyibukkan diri dalam mentadabburi ayat-ayat Al-Qur’an yang agung ini, yakni membukanya, berusaha memahaminya dan menjangkau maknanya serta mengamalkannya, maka sungguh ia telah berpaling darinya lagi tidak mentadabburinya. Jadi, ia berhak mendapatkan pengingkaran dan kecaman yang tersebut dalam ayat-ayat itu, jika ia diberi pemahaman oleh Allah. Dengannya, ia mampu melakukan tadabbur”. [Lihat Adhwaa’ Al-Bayan (7/256-257), cet. Dar Al-Fikr, 1415 H]

Seorang yang sholat dengan membaca doa dan dzikir tanpa tadabbur –malah lalai-, ibarat orang yang membaca surat dari seseorang tanpa mengerti isinya. Disinilah urgensi tadabbur yang melahirkan khusyu’ bagi orang yang tegak di hadapan Allah -Azza wa Jalla-.

—   Membersihkan Diri dari Maksiat

Maksiat yang dilakukan oleh para hamba merupakan noda yang akan mengotori, bahkan menutupi hati.

Sementara hati adalah alat yang digunakan berpikir dan mentadabburi sesuatu.

Nabi –Shallallahu ‘alaihi wasallam– bersabda,

إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً نُكِتَتْ فِي قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ فَإِذَا هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ سُقِلَ قَلْبُهُ وَإِنْ عَادَ زِيدَ فِيهَا حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبَهُ

“Sesungguhnya orang yang beriman jika melakukan suatu dosa, maka akan dibuat titik hitam di dalam hatinya. Jika dia menahan diri (dari maksiat), memohon ampunan dan bertobat, maka hatinya akan mengilap (bercahaya). Jika ia kembali (melakukan dosa), maka titik hitam itupun bertambah pada hatinya hingga memenuhi hatinya”. [HR. At-Tirmidzi dalam Sunan-nya (3334), dan Ibnu Majah Sunan-nya (4244). Di-hasan-kan oleh Al-Albaniy dalam Shohih At-Targhib (1620)]

Jika ia menghitam akibat noda maksiat, maka hati tak mampu bertadabbur. Sebab hati ibarat cermin, bila ia penuh noda, maka ia tak mampu memantulkan cahaya dan tak bisa dipakai berkaca. Begitulah hati yang kita pakai mentadabburi Kitabullah.

Seorang yang membiarkan dirinya bermaksiat akan memberikan pengaruh bagi hatinya, sehingga doanya pun tak akan dikabulkan oleh Allah.

Nabi –Shallallahu alaihi wa sallam– bersabda,

ثلاثةٌ يَدْعُوْنَ اللهَ فَلاَ يُسْتَجَابُ لَهُمْ:رَجُلٌ كَانَتْ تَحْتَهُ امْرَأَةٌ سَيِّئةُ الْخُلُقِ فَلَمْ يُطَلِّقْهَا، وَرَجُلٌ كَانَ لَهُ مَالٌ فَلَمْ يُشْهِدْ عَلَيْهِ، وَرَجُلٌ آتَى سَفِيْهًا مَالَهُ

“Ada tiga orang yang berdoa, tapi doanya tak dikabulkan: (1) seorang suami yang memiliki istri yang buruk akhlaknya, namun ia tak menceraikannya,  (2) seorang yang memiliki harta, namun ia tak mempersaksikannya, (3) dan seorang yang memberikan hartanya kepada seorang safih (yang bodoh)”. [HR. Al-Hakim dalam Al-Mustadrok (no. 3181) dan Al-Baihaqiy dalam Al-Kubro (no. 21022). Hadits ini di-shohih-kan oleh Al-Albaniy dalam Ash-Shohihah (no. 1805)]

Hadits ini menjelaskan bahwa orang yang memiliki istri yang buruk perangainya, tak akan dikabulkan doanya, termasuk sholatnya yang berisi doa-doa.

Sebab, dengan memelihara dan mempertahankan istri yang durhaka merupakan penyiksaan batin bagi si suami. Orang yang memiliki istri yang durhaka amat sulit meraih khusyu’.

Sebab banyak kendala dan problema bila hidup bersamanya. Semua ini tentunya akan mengganggu hati.

Demikian pula orang yang mengutangkan uang yang banyak kepada orang lain tanpa saksi, lalu orang yang berutang mengingkarinya.

Si pengutang telah berbuat teledor dalam memenuhi perintah Allah dalam menghadirkan saksi dalam akad utang tersebut.

Ini tentunya kezholiman terhadap diri sendiri. Adapun orang yang memberikan hartanya kepada orang yang bodoh dan tak pandai mengurusi harta, seperti anak kecil atau orang yang tak berpengalaman, sedang ia tahu keadaannya, maka orang ini telah menyia-nyiakan hartanya. Padahal Allah dan Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- telah melarang hal tersebut. [Lihat At-Taisir bi Syarh Al-Jami’ Ash-Shoghir (1/979)]

Di saat tersia-siakannya harta karena menyerahkannya kepada selain ahlinya, jelas akan menjadi beban pikiran yang akan mencabut kekhusu’an dalam hati.

Seorang wanita durhaka pun akan terkena akibat dan imbas dosa kedurhakaannya sehingga ke-khusyu’-an dicabut dari dirinya.

Rasulullah –Shallallahu alaihi wa sallam– bersabda,

اثْنَانِ لا تُجَاوِزُ صَلاتُهُمَا رُءُوسَهُمَا : عَبْدٌ آبِقٌ مِنْ مَوَالِيهِ حَتَّى يَرْجِعَ إِلَيْهِمْ ، وَامْرَأَةٌ عَصَتْ زَوْجَهَا حَتَّى تَرْجِعَ

“Ada dua orang yang sholatnya tidak melewati kepalanya: budak yang lari dari majikannya sampai kembali kepada mereka dan istri yang durhaka kepada suaminya sampai ia (istri) mau rujuk kepada suaminya”. [HR. Ath-Thobroniy dalam Ash-Shoghir (no. 478) dan Al-Awsath (3628) serta Al-Hakim dalam Al-Mustadrok (no.7330). Hadits ini di-shohih-kan oleh Al-Albaniy dalam Shohih At-Targhib (no. 1888)]

Diantara maksiat yang menghalangi doa dan khusyu’-nya sholat kita, memakan makanan dan minuman yang haram serta memakai pakaian yang haram.

Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda,

“Sesungguhnya Allah -Ta’ala- itu Maha Baik, tidak mau menerima, kecuali yang baik; Allah telah memerintahkan kepada kaum mu’minun sesuatu yang telah Dia perintahkan kepada para rasul, seraya berfirman, “Hai rasul-rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal yang saleh” (QS. Al-Mukminun : 51). Dia berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezki yang baik-baik yang kami berikan kepadamu”. (QS. Al-Baqoroh : 172)

Kemudian beliau (Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam-) menyebutkan seorang yang melakukan safar yang jauh dalam keadaan kusut, lagi berdebu; dia mengulurkan tangannya ke langit (seraya berdo’a), “Wahai Robb-ku, wahai Robb-ku”, sedang makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan dikenyangkan dengan sesuatu yang haram. Maka bagaimana mungkin dikabulkan (doa) bagi orang itu”. [HR. Muslim dalam Shohih-nya (1015)]

—  Menjauhi Kebiasaan Banyak Tertawa

Banyak tertawa akan mematikan hati. Hati yang mati tak akan bergeming dengan ancaman dan berita gembira yang dibacakan kepadanya.

Nah, bagaimana mungkin orang yang berhati demikian akan khusyu’.

Itulah sebabnya Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- melarang banyak tertawa dalam sabdanya,

وَلَا تُكْثِرْ الضَّحِكَ فَإِنَّ كَثْرَةَ الضَّحِكِ تُمِيتُ الْقَلْبَ

“Janganlah engkau memperbanyak tawa, karena banyak tawa akan mematikan hati”. [HR. At-Tirmidziy dalam As-Sunan (2305). Hadits ini di-hasan-kan oleh Al-Albaniy dalam Ash-Shohihah (no. 930)]

Para pembaca yang budiman, inilah beberapa terapi dan tips dalam meraih khusyu’.

Sebenarnya masih ada lagi hal lain yang dapat menjadi sebab lahirnya khusyu’ dalam sholat, seperti jangan terlalu sibuk dan tenggelam dengan dunia sehingga dunia lebih menguasai hati. Akhirnya, ia tak hadir ke masjid, selain hatinya dipenuhi berbagai macam pikiran dan urusan dunia.

Semoga di lain waktu kami akan ulas lagi materi ini, insya Allah…

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Tulis komentar

Logged in as admin. Log out »




Tulisan lainnya

jannatul-firdaus.net @2022

Kisah Kayu Ajaib


| Menu

| MENU

Bagikan…

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram



Kisah Kayu Ajaib

  • HR.Bukhari

Abu Hurairah meriwayatkan dari Rasulullah bahwa Seorang laki- laki dari kalangan Bani Israil meminta kepada seseorang Bani Israil lainnya agar memberikan pinjaman kepadanya seribu dinar. 

Lalu si pemberi pinjaman berkata, “Datangkanlah para saksi. Saya meminta mereka untuk bersaksi.” 

Lantas orang yang meminta pinjaman berkata, “Cukuplah Allah yang menjadi saksi.” 

Pemberi pinjaman menambahkan, “Datangkanlah seorang penjamin.” Dia menjawab, “Cukuplah Allah sebagai penjamin.” 

Pemberi pinjaman berkata, “Engkau benar.” 

Kemudian dia menyerahkan piutang tersebut kepadanya sampai waktu yang ditentukan. Selanjutnya si peminjam pergi mengarungi lautan untuk memenuhi kebutuhannya. 

Setelah itu, dia mencari perahu yang akan digunakan untuk mendatangi pemberi pinjaman sesuai waktu yang telah ditetapkan. Ternyata dia tidak menemukan perahu. 

Lantas dia mengambil kayu dan melubanginya, lalu dia memasukkan seribu dinar di dalamnya dan selembar kertas untuk temannya (si pemberi pinjaman). Kemudian dia menutupnya kembali. 

Selanjutnya dia membawa kayu tersebut ke laut. Dia berkata, “Ya Allah! Sungguh, Engkau mengetahui bahwa saya meminjam seribu dinar kepada si fulan, lalu dia meminta penjamin kepadaku dan saya berkata, ‘Cukuplah Allah sebagai penjamin. Dia pun ridha karena Engkau. Dia juga meminta saksi, lalu saya berkata, “Cukuplah Allah menjadi saksi: Dia pun ridha karena Engkau. Sesungguhnya saya telah bersusah payah untuk menemukan kendaraan untuk mengantarkan utangku kepada pemiliknya, ternyata saya tidak menemukan. Sungguh, saya menitipkan kayu ini kepada-Mu.” 

Lantas dia melemparkannya ke laut sempai masuk ke dalam laut kemudian bergerak. 

Di samping itu dia masih saja mencari kendaraan untuk menuju ke daerahnya. Di lain pihak, si pemberi pinjaman menanti-nanti barangkali kendaraan yang membawa piutangnya telah datang. 

Ternyata ada kayu yang mengapung di dekatnya. Lalu dia mengambil kayu tersebut untuk dijadikan sebagai kayu bakar buat keluarganya.

Ketika dia membelah kayu tersebut, dia menemukan uang dan selembar kertas. 

Kemudian orang yang meminjam tadi datang dengan membawa uang seribu dinar, lalu dia berkata, ‘Demi Allah, sebelum ini aku tidak mendapatkan kapal yang dapat mengantarkan aku untuk membayar hutangmu.” 

Lalu si pemberi hutang berkata, “Apakah engkau telah mengirim sesuatu untukku?” 

Dia berkata, “Aku sudah kabarkan bahwa aku tidak mendapatkan kapal untuk mengantarkan aku kepadamu.” 

Maka orang itu berkata, “Sesungguhnya Allah telah mengirimkan uang tersebut yang terdapat di dalam kayu yang engkau kirim. Bawalah kembali uangmu yang seribu dinar tersebut.”

Artboard 2
Artboard 3
Artboard 4
Artboard 5
Artboard 6
Artboard 7
Artboard 8
Artboard 9

Sebelumnya
Selanjutnya

  • gambar: #anakJF

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Tulis komentar

Logged in as admin. Log out »




Tulisan lainnya

jannatul-firdaus.net @2021

Hidup Bahagia dengan Bertauhid


| Menu

| MENU

Bagikan…

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram



Hidup Bahagia dengan Bertauhid

  • Oleh : Ustadz Dzulqarnain Muhammad Sunusi hafizhahullah
  • (Pembina Peduli Dakwah)

Kebahagian hidup adalah dambaan setiap insan yang hidup di atas muka bumi ini, merupakan tuntutan dalam sebuah masyarakat, serta sebuah pondasi dasar untuk sebuah negeri.

Upaya manusia dalam mencapai kebahagiaan sangatlah beraneka ragam, juga berbagai pandangan manusia dalam makna kebahagian adalah sulit dijumlah.

Namun, banyak kaum muslimin yang lalai bahwa sumber kebahagian dan keamanan itu semuanya berakar dan bercabang dari keimanan kepada Allah dan menauhidkan-Nya.

Allah telah mengingatkan dalam Muhkâm Kitab-Nya,

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Barangsiapa yang beramal shalih, baik laki-laki maupun perempuan yang beriman (bertauhid), sesungguhnya Kami akan memberi kehidupan yang baik (indah, bahagia) kepadanya dan sesungguhnya Kami akan membalas mereka dengan pahala yang lebih baik daripada apa-apa yang telah mereka kerjakan.” [An-Nahl: 97]

Kebahagian hidup dengan tauhid ini adalah suatu nikmat Allah yang banyak dilalaikan oleh manusia. Nabi Yusuf ‘alaihis salâm mengingatkan sebagaimana dalam firman Allah,

وَاتَّبَعْتُ مِلَّةَ آبَائِي إِبْرَاهِيمَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ مَا كَانَ لَنَا أَنْ نُشْرِكَ بِاللَّهِ مِنْ شَيْءٍ ذَلِكَ مِنْ فَضْلِ اللَّهِ عَلَيْنَا وَعَلَى النَّاسِ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَشْكُرُونَ

“Dan aku mengikuti agama bapak-bapakku, yaitu Ibrahim, Ishaq, dan Ya’qub. Tiadalah kami (para Nabi) patut mempersekutukan sesuatu apapun dengan Allah. Yang demikian itu adalah dari karunia Allah kepada kami dan kepada manusia (seluruhnya), tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur (kepada-Nya).” [Yûsuf: 38]

Bahkan, banyak manusia tidak mengetahui bahwa menauhidkan Allah dalam ibadah adalah nikmat Allah yang paling besar untuk seorang hamba. Oleh karena itu, dalam surah An-Nahl -dikenal juga dengan nama surah An-Ni’âm ‘penyebutan nikmat-nikmat Allah’- nikmat yang paling pertama disebut adalah nikmat diutusnya para rasul dengan membawa tauhid. Allah berfirman,

يُنَزِّلُ الْمَلَائِكَةَ بِالرُّوحِ مِنْ أَمْرِهِ عَلَى مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ أَنْ أَنْذِرُوا أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاتَّقُونِ

Dia menurunkan para malaikat dengan (membawa) wahyu dengan perintah-Nya kepada siapa saja yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya, yaitu: ‘Hendaknya kalian memperingatkan bahwasanya tiada ilah (sembahan) yang berhak diibadahi, kecuali Aku, maka hendaklah kalian bertakwa kepada-Ku.’.” [An-Nahl: 2]

Sungguh, dalam memurnikan ibadah kepada Allah, terdapat kebebasan bagi hamba akan perbudakan terhadap dirinya sendiri dan kepada syaithan. Dengan tauhid, seorang hamba terbebas dari ketergantungan dan mengharap kepada makhluk, dari takut terhadap mereka, serta dari beramal untuk mereka. Orang yang bertauhid hanya bergantung kepada Allah serta takut dan mengharap hanya kepada-Nya. Inilah hakikat kebahagian abadi dan kemuliaan sejati.

Tauhid -sebagaimana yang ulama sebutkan- adalah seseorang mengucapkan syahadat La Ilâha Illallâh ‘tiada ilah (sembahan) yang berhak diibadahi, kecuali Allah’ dan Nabi Muhammad adalah rasul Allah, dengan meyakini makna dan menjalankan konsekuensinya. Tauhid bukanlah sekadar mengakui bahwa Allah Yang Mencipta, Memberi Rezeki, Menghidupkan dan Mematikan, … dan seterusnya di antara berbagai makna penetapan keesaan Allah dalam perciptaan, perbuatan, dan pengaturan serta kekuasaan-Nya. Melainkan, yang dimaksud dengan tauhid adalah penetapan bahwa ibadah hanyalah untuk Allah. Sehingga, seorang hamba tidaklah berdoa, bernadzar, menyembelih, mendirikan shalat, berzakat, menunaikan puasa dan haji, kecuali kepada Allah, serta tidak mengharap dan tidak takut, kecuali hanya kepada-Nya. Tiada suatu ibadah pun yang dilakukan oleh orang yang bertauhid, kecuali murni hanya untuk Allah saja, tiada sekutu dan serikat bagi-Nya.

Tauhid adalah keimanan, sedang tidak akan ada suatu keimanan tanpa tauhid.

Berikut kami akan menjelaskan beberapa keutamaan orang yang bertauhid dan memurnikan ibadahnya hanya untuk Allah agar seorang hamba merenungi keindahan dan kebahagian hidup dengan bertauhid.

Pertama: tauhid adalah fitrah manusia yang mencocoki dasar dan tujuan penciptaan makhluk. Allah berfirman,

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia, kecuali agar mereka beribadah kepada-Ku.” [Adz-Dzâriyât: 56]

Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam meriwayatkan bahwa Allah ‘Azza wa Jalla berfirman dalam hadits Qudsi,

وَإِنِّي خَلَقْتُ عِبَادِي حُنَفَاءَ كُلَّهُمْ، وَإِنَّهُمْ أَتَتْهُمُ الشَّيَاطِينُ فَاجْتَالَتْهُمْ عَنْ دِينِهِمْ، وَحَرَّمَتْ عَلَيْهِمْ مَا أَحْلَلْتُ لَهُمْ، وَأَمَرَتْهُمْ أَنْ يُشْرِكُوا بِي مَا لَمْ أُنْزِلْ بِهِ سُلْطَانًا

“… dan sesungguhnya Aku menciptakan hamba-hamba-Ku sebagai orang-orang hanif ‘cenderung kepada tauhid, meninggalkan kesyirikan’. Sesungguhnya para syaithan mendatangi mereka lalu menyesatkan mereka dari agama mereka, mengharamkan hal-hal yang dihalalkan untuk mereka dan memerintah mereka untuk berbuat kesyirikan terhadap-Ku, suatu hal yang Aku tidak menurunkan keterangan tentangnya ….” [Diriwayatkan oleh Muslim dari ‘Iyâdh bin Himâr Al-Mujâsya’iy radhiyallâhu ‘anhu]

Kedua: tauhid adalah sumber keamanan dan jaminan hidayah bagi seorang hamba. Allah ‘Azza wa Jalla mengingatkan,

الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولَئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُونَ

Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan keimanan mereka dengan kezhaliman (syirik), mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itulah orang-orang yang mendapat hidayah.” [Al-An’âm: 82]

Ketiga: karena tauhid merupakan pokok kebaikan dan kesejahteraan dalam kehidupan manusia, Allah mengutus para nabi dan rasul dengan misi tauhid ini. Allah Ta’âlâ berfirman,

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ

Dan sesungguhnya, Kami telah mengutus rasul pada setiap umat (untuk menyerukan),‘Beribadahlah kepada Allah (semata) dan jauhilah thaghut (segala sesuatu yang diibadahi selain Allah).’. [An-Nahl: 36]

Keempat: tauhid adalah hal yang mengukuhkan seorang hamba dalam kehidupannya di dunia, di alam kubur, dan di akhirat. Allah Jalla Jalâluhu berfirman,

يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ

“Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu (kalimat tauhid) dalam kehidupan di dunia dan di akhirat.” [Ibrahîm: 27]

Kelima: tauhid adalah perintah pertama dalam Al-Qur`an. Demikianlah disebutkan dalam firman Allah Subhânahu wa Ta’âla,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Wahai manusia, beribadahlah kepada Rabb kalian yang telah menciptakan kalian dan orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa.” [Al-Baqarah: 21]

Keenam: tauhid adalah syarat untuk keamanan suatu negeri. Bahkan, tidak akan tercipta keamanan dalam suatu negeri tanpa membersihkan segala jenis kesyirikan dan memurnikan ibadah hanya kepada Allah. Inilah yang tertanam dalam diri Nabi Ibrahim ‘alaihis salâm sehingga, pada awal merintis Makkah, beliau berdoa kepada Allah untuk keamanan Makkah sebagaimana yang Allah ‘Azza wa Jalla terangkan dalam firman-Nya,

وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ اجْعَلْ هَذَا الْبَلَدَ آمِنًا وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَنْ نَعْبُدَ الْأَصْنَامَ. رَبِّ إِنَّهُنَّ أَضْلَلْنَ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ

“Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata, ‘Wahai Rabb-ku, jadikanlah negeri (Makkah) ini sebagai negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku dari menyembah berhala-berhala. Wahai Rabb-ku, sesungguhnya berhala-berhala itu telah menyesatkan kebanyakan manusia.’.” [Ibrahîm: 35-36]

Ketujuh: tauhid adalah syarat kejayaan umat Islam. Allah mengingatkan dalam firman-Nya,

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kalian dan beramal shalih bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi sebagaimana Dia telah menjadikan berkuasa orang-orang sebelum mereka, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah Dia ridhai untuk mereka, serta Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan, menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan-Ku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, mereka itulah orang-orang fasik.” [An-Nûr: 55]

Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam juga menjelaskan bahwa syarat kejayaan dan kekukuhan umat ini adalah dengan memurnikan ibadah hanya untuk Allah sebagaimana dalam sabda beliau,

بَشِّرْ هَذِهِ الْأُمَّةَ بِالسَّنَاءِ، وَالتَّمْكِينِ فِي الْبِلَادِ، وَالنَّصْرِ، وَالرِّفْعَةِ فِي الدِّينِ، وَمَنْ عَمِلَ مِنْهُمْ بِعَمَلِ الْآخِرَةِ لِلدُّنْيَا، فَلَيْسَ لَهُ فِي الْآخِرَةِ نَصِيبٌ

“Berilah kabar gembira kepada umat ini dengan kejayaan, kekukuhan di negeri-negeri, pertolongan, dan ketinggian dalam agama. Barangsiapa di antara mereka yang beramal akhirat untuk dunia, tidaklah ada bagian untuknya di akhirat.” [Diriwayatkan oleh Ahmad, Abdullah bin Ahmad dalam Zawâ`id Al-Musnad, Ibnu Hibbân, Al-Hâkim, dan Al-Baihaqy dari Ubay bin Ka’ b radhiyallâhu ‘anhu. Dishahihkan oleh Al-Albâny dalam Ahkâmul Janâ`iz]

Kedelapan: karena pentingnya tauhid dalam kehidupan dan jaminan kesejahteraan untuk keturunan, Nabi Ya’qub ‘alaihis salâm, pada akhir hayatnya, menekankan masalah ini kepada keturunannya sebagaimana yang diterangkan dalam firman Allah Rabbul ‘Âlamîn,

أَمْ كُنْتُمْ شُهَدَاءَ إِذْ حَضَرَ يَعْقُوبَ الْمَوْتُ إِذْ قَالَ لِبَنِيهِ مَا تَعْبُدُونَ مِنْ بَعْدِي قَالُوا نَعْبُدُ إِلَهَكَ وَإِلَهَ آبَائِكَ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ إِلَهًا وَاحِدًا وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ

“Adakah kamu hadir ketika Ya’qub kedatangan (tanda-tanda) maut, tatkala ia berkata kepada anak-anaknya, ‘Apa yang kalian sembah sepeninggalku?’ Mereka menjawab, ‘Kami akan menyembah Rabb-mu dan Rabb nenek moyangmu, yakni Ibrahim, Ismail dan Ishaq: Sembahan Yang Maha Satu dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya.’.” [Al-Baqarah: 133]

Kesembilan: hidup dengan menauhidkan Allah adalah penunaian hak Allah terhadap diri seorang hamba. Dari Mu’âdz bin Jabal radhiyallâhu ‘anhu, beliau berkata, “Saya pernah membonceng pada Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam di atas seekor keledai, lalu beliau bersabda kepadaku, ‘Wahai Mu’âdz, tahukah engkau apa hak Allah terhadap para hamba dan apa hak para hamba atas Allah?’ Saya menjawab, ‘Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui.’

Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam pun menjelaskan,

حَقُّ اللَّهِ عَلَى الْعِبَادِ أَنْ يَعْبُدُوْهُ وَلَا يُشْرِكُوا بِهِ شَيْئاً، وَحَقُّ الْعِبَادِ عَلَى اللَّهِ أَنْ لَا يُعَذِّبَ مَنْ لَا يُشْرِكُ بِهِ شَيْئاً

‘Hak Allah terhadap para hamba ialah mereka beribadah kepada-Nya semata dan tidak berbuat syirik sedikit pun terhadap-Nya, sedang hak para hamba atas Allah adalah bahwa Allah tidak akan mengadzab orang yang tidak berbuat syirik sedikit pun terhadap-Nya.’.” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhâry dan Muslim]

Kesepuluh: tauhid adalah jaminan bagi seorang hamba untuk dimasukkan ke dalam surga Allah. Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ شَهِدَ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، وَأَنَّ عِيْسَى عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُوْلُهُ وَكَلِمَتُهُ أَلْقَاهَا إِلَى مَرْيَمَ وَرُوْحٌ مِنْهُ، وَالْجَنَّةَ حَقٌّ وَالنَّارَ حَقٌّ، أَدْخَلَهُ اللَّهُ الْجَنَّةَ عَلَى مَا كَانَ مِنَ الْعَمَلِ

“Barangsiapa yang bersaksi bahwa tiada sembahan yang benar, kecuali Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, dan bahwa Muhammad adalah hamba Allah dan rasul-Nya, serta (bersaksi) bahwa Isa adalah hamba Allah dan rasul-Nya dan kalimat-Nya yang Dia sampaikan kepada Maryam serta ruh dari-Nya, dan bahwa surga adalah benar adanya juga neraka adalah benar adanya, Allah pasti memasukkan dia ke dalam surga betapapun amal yang telah dia perbuat.” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhâry dan Muslim dari ‘Ubâdah bin Ash-Shâmit radhiyallâhu ‘anhu]

Juga Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ اللَّهَ حَرَّمَ عَلَى النَّارِ مَنْ قَالَ: لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، يَبْتَغِي بِذَلِكَ وَجْهَ اللَّهِ

“Sesungguhnya Allah mengharamkan neraka bagi orang yang mengucapkan Lâ Ilâha Illallâh dalam keadaan mengharapkan wajah Allah dengan hal tersebut.” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhâry dan Muslim dari hadits ‘Itbân bin Malik radhiyallâhu ‘anhu]

Kesebelas: tauhid adalah sebab pengampunan dosa yang terkuat. Allah Jallat ‘Azhamatuhu memerintah kepada Nabi-Nya untuk memohon ampunan setelah tugas tentang mengetahui tauhid,

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ

“Maka ketahuilah bahwa sesungguhnya tidak ada ilah ‘sembahan’ (yang berhak diibadahi), kecuali Allah, dan mohonlah ampunan bagi dosamu serta bagi (dosa) orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan.”[Muhammad: 19]

Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bahwa Allah Ta’âlâ telah berfirman dalam hadits Qudsi,

يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ لَوْ أَتَيْتَنِي بِقُرَابِ الأَرْضِ خَطَايَا ثُمَّ لَقِيتَنِي لَا تُشْرِكُ بِي شَيْئًا لَأَتَيْتُكَ بِقُرَابِهَا مَغْفِرَةً

‘‘Wahai anak Adam, seandainya engkau datang kepada-Ku dengan dosa sepenuh bumi, tetapi engkau mati dalam keadaan tidak berbuat syirik sedikitpun terhadap-Ku, niscaya Aku memberikan ampunan sepenuh bumi pula kepadamu.” [Diriwayatkan oleh At-Tirmidzy dan selainnya dari Anas bin Malik radhiyallâhu ‘anhu. Dihasankan karena jalur lain pendukungnya oleh Al-Albâny dalam Ash-Shahîhah no. 123]

Kedua belas: orang-orang yang bertauhid, bila dimasukkan ke dalam neraka karena dosa, tidak akan kekal di dalam neraka dan pasti akan dimasukkan ke dalam surga. Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يَخْرُجُ مِنَ النَّارِ مَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَفِي قَلْبِهِ وَزْنُ شَعِيرَةٍ مِنْ خَيْرٍ، وَيَخْرُجُ مِنَ النَّارِ مَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَفِي قَلْبِهِ وَزْنُ بُرَّةٍ مِنْ خَيْرٍ، وَيَخْرُجُ مِنَ النَّارِ مَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَفِي قَلْبِهِ وَزْنُ ذَرَّةٍ مِنْ خَيْرٍ

“Akan keluar dari api neraka, orang yang berucap ‘Lâ Ilâha Illallâh’, sedang dalam hatinya terdapat kebaikan seberat jelai. Akan keluar dari api neraka, orang yang berucap ‘Lâ Ilâha Illallâh’, sedang dalam hatinya terdapat kebaikan seberat gandum. Akan keluar dari api neraka, orang yang berucap ‘Lâ Ilâha Illallâh’, sedang dalam hatinya terdapat kebaikan seberat dzarrah.” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhâry dan Muslim dari Anas bin Malik radhiyallâhu ‘anhu]

Ketiga belas: syafa’at, yang merupakan kemuliaan dari Allah untuk hamba pada hari kiamat, hanya diberikan kepada orang-orang yang bertauhid. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

لَا يَمْلِكُونَ الشَّفَاعَةَ إِلَّا مَنِ اتَّخَذَ عِنْدَ الرَّحْمَنِ عَهْدًا

“Mereka tidak berhak mendapat syafa’at, kecuali orang yang telah mengadakan perjanjian di sisi (Allah) Yang Maha Pemurah.” [Maryam: 87]

Kata perjanjian dalam ayat di atas ditafsirkan oleh sejumlah ahli tafsir dengan kalimat Lâ Ilâha Illallâh. [Bacalah: Tafsir Ibnu JarîrTafsir Ibnu Kâtsir, dan Zâdul Masîr karya Ibnul Jauzy]

Ketika Abu Hurairah bertanya tentang manusia yang paling bergembira mendapatkan syafa’at Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam, beliau shallallâhu ‘alaihi wa sallam menjawab,

أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِي يَوْمَ القِيَامَةِ مَنْ قَالَ: لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، خَالِصًا مِنْ قِبَلِ نَفْسِهِ

“Manusia yang berbahagia mendapatkan syafa’atku pada hari kiamat adalah orang yang berucap ‘Lâ Ilâha Illallâh’ dengan keikhlasan dari dirinya.” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhâry]

Keempat belas: tauhid adalah puncak segala kebenaran. Demikianlah yang disebutkan oleh Abu Shalih, ‘Ikrimah, dan selainnya dari kalangan ulama tafsir salaf yang menafsirkan kata yang benar pada firman Allah Ta’âlâ,

يَوْمَ يَقُومُ الرُّوحُ وَالْمَلَائِكَةُ صَفًّا لَا يَتَكَلَّمُونَ إِلَّا مَنْ أَذِنَ لَهُ الرَّحْمَنُ وَقَالَ صَوَابًا

“Pada hari ketika ruh (Jibril, manusia) dan para malaikat berdiri bershaf-shaf. Mereka tidak berkata-kata, kecuali orang yang telah diberi izin oleh (Allah) Yang Maha Pemurah kepadanya, dan ia mengucapkan kata yang benar.” [An-Naba`: 38]

Kelima belas: tauhid adalah penyelamat hamba dari bahaya dan kesulitan, serta memberi jalan keluar bagi seorang hamba menuju kebaikannya. Perhatikanlah Nabi Yunus ‘alaihis salâm yang diselamatkan dari perut ikan lantaran kalimat tauhid dalam doanya sebagaimana yang Allah sebutkan dalam firman-Nya,

وَذَا النُّونِ إِذْ ذَهَبَ مُغَاضِبًا فَظَنَّ أَنْ لَنْ نَقْدِرَ عَلَيْهِ فَنَادَى فِي الظُّلُمَاتِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ

“Dan (ingatlah kisah) Dzun Nun (Nabi Yunus) ketika ia pergi dalam keadaan marah, lalu menyangka bahwa Kami tidak akan mempersempitnya (menyulitkannya) maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap (dalam perut ikan), ‘Bahwa tidak ada ilah ‘(sembahan’ selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku tergolong sebagai orang-orang zhalim.’.” [Al-Anbiyâ`: 87]

Keenam belas: amalan shalih apapun yang dilakukan tidak akan diterima tanpa dasar tauhid. Allah telah menjelaskan,

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ

“Padahal mereka tidak diperintah, kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya sebagai orang-orang yang hanif (cenderung kepada tauhid, meninggalkan kesyirikan), serta agar mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat. Dan yang demikian itulah agama yang lurus.” [Al-Bayyinah: 5]

Juga dalam firman-Nya, Allah ‘Azza wa Jalla menjelaskan amalan pelaku syirik akbar,

وَقَدِمْنَا إِلَى مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاءً مَنْثُورًا

“Dan kami menghadapi segala amalan yang mereka kerjakan, lalu kami menjadikan amalan itu (bagaikan) debu yang berterbangan.” [Al-Furqân: 23]

Ketujuh belas: karena tauhid, kitab-kitab suci diturunkan oleh Allah. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

الر كِتَابٌ أُحْكِمَتْ آيَاتُهُ ثُمَّ فُصِّلَتْ مِنْ لَدُنْ حَكِيمٍ خَبِيرٍ. أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا اللَّهَ إِنَّنِي لَكُمْ مِنْهُ نَذِيرٌ وَبَشِيرٌ

Alif lâm râ. (Inilah) suatu kitab yang ayat-ayatnya disusun dengan rapi serta dijelaskan secara terperinci, yang diturunkan dari sisi (Allah), Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui, agar kalian tidak menyembah, kecuali kepada Allah. Sesungguhnya aku (Muhammad) adalah pemberi peringatan dan pembawa kabar gembira dari-Nya kepada kalian.”[Hûd: 1-2]

Banyak lagi keutamaan tauhid yang belum bisa disebutkan di sini. Semoga Allah menjadikan kita semua sebagai orang-orang yang bertauhid, selalu membela tauhid, serta selalu berada di atas tauhid di kehidupan dunia dan akhirat. Amin Yâ Mujîbas Sâ`ilîn.

[1] Adalah tergolong sebagai syirik akbar dan kekufuran nyata, menduakan Allah Yang Maha Satu dalam dzat-Nya bahwa Dia memiliki anak.


Download Pdf

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Tulisan lainnya

jannatul-firdaus.net @2018

Bahaya dan Petaka Kesyirikan


| Menu

| MENU

Bagikan…

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram



Bahaya dan Petaka Kesyirikan

  • Oleh : Ustadz Dzulqarnain Muhammad Sunusi hafizhahullah
  • (Pembina Peduli Dakwah)

Pada suatu hari, Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam ditanya, “Dosa apakah yang paling besar?” Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam menjawab,

أَنْ تَجْعَلَ للهِ نِدًّا وَهُوَ خَلَقَكَ

 

“Engkau mengadakan tandingan untuk Allah, padahal Allah yang telah menciptakanmu.” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhâry dan Muslim dari hadits Abdullah bin Mas’ûd radhiyallâhu ‘anhu]

Itulah kesyirikan yang merupakan dosa terbesar. Namun, yang menjadi musibah pada masa ini adalah bahwa banyak kaum muslimin meremehkan dosa itu, bahkan terjatuh ke dalam dosa tersebut.

Bila seseorang mendapatkan kepastian akan datangnya gelombang tsunami, letusan gunung berapi, gempa bumi, banjir bandang, longsor, dan selainnya, padanya akan terlihat ketakutan yang luar biasa dan berbagai persiapan untuk menyelamatkan diri, keluarga, dan harta benda. Namun, tiada yang menyangka bahwa, ternyata, di antara mereka, banyak yang mengundang datangnya petaka dan kehancuran dengan berbagai praktik kesyirikan yang mereka lakukan. Perhatikanlah ancaman kehancuran alam semesta dengan adanya kesyirikan dalam uraian firman Allah ‘Azza wa Jalla,

وَقَالُوا اتَّخَذَ الرَّحْمَنُ وَلَدًا. لَقَدْ جِئْتُمْ شَيْئًا إِدًّا. تَكَادُ السَّمَاوَاتُ يَتَفَطَّرْنَ مِنْهُ وَتَنْشَقُّ الْأَرْضُ وَتَخِرُّ الْجِبَالُ هَدًّا. أَنْ دَعَوْا لِلرَّحْمَنِ وَلَدًا. وَمَا يَنْبَغِي لِلرَّحْمَنِ أَنْ يَتَّخِذَ وَلَدًا

 

Dan mereka berkata, ‘Ar-Rahmân (Allah Yang Maha Pemurah) mengambil (mempunyai) anak.’[1] Sesungguhnya kalian telah mendatangkan suatu perkara yang sangat mungkar. Hampir-hampir langit pecah, karena ucapan itu, serta bumi terbelah dan gunung-gunung runtuh, sebab mereka menyerukan bahwa Ar-Rahmân mempunyai anak. Padahal, Ar-Rahmân tidaklah layak mengambil (mempunyai) anak.” [Maryam: 88-92]

Juga perhatikanlah bagaimana kehancuran pelaku kesyirikan dalam firman Allah,

وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَكَأَنَّمَا خَرَّ مِنَ السَّمَاءِ فَتَخْطَفُهُ الطَّيْرُ أَوْ تَهْوِي بِهِ الرِّيحُ فِي مَكَانٍ سَحِيقٍ

 

“Barangsiapa yang berbuat kesyirikan terhadap Allah, ia seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan oleh angin ke tempat yang jauh.” [Al-Hajj: 31]

Kalau Nabi Ibrahim ‘alaihis salâm, yang merupakan panutan orang-orang yang bertauhid, mengkhawatirkan kesyirikan terhadap diri dan keturunannya, sebagaimana dalam untaian doa beliau yang disebut dalam firman-Nya,

وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَنْ نَعْبُدَ الْأَصْنَامَ. رَبِّ إِنَّهُنَّ أَضْلَلْنَ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ

 

“… Dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku terhadap menyembah berhala-berhala. Wahai Rabb-ku, sesungguhnya berhala-berhala itu telah menyesatkan kebanyakan manusia.” [Ibrahîm: 35-36]

Bila Nabi Muhammad shallallâhu ‘alaihi wa sallam sangat mengkhawatirkan kesyirikan tersebut terhadap para shahabat beliau yang mulia, sebagaimana dalam sabdanya yang agung,

إِنَّ أَخوْفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمُ الشِّرْكُ الَأَصْغَرُ قَالُوْا وَمَا الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ يَا رَسُوْلَ اللهِ قَالَ الرِّيَاءُ

 

“Sungguh hal yang paling aku khawatirkan terhadap kalian adalah syirik ashghar. (Para shahabat) bertanya, ‘Apa syirik ashghar itu, wahai Rasulullah?’ Beliau menjawab, ‘Riyâ`.’.” [Diriwayatkan oleh Ahmad dan selainnya. Sanadnya jayyid sebagaimana perkataan Al-Mundziry]

Ternyata, pada masa ini, kita melihat bahwa sejumlah kaum muslimin sangat tenang dengan melempar sesajian ke gunung Merapi, merasa nikmat dengan sembelihan untuk kuburan dan tempat-tempat yang dikeramatkan, serta terbuai nyaman dengan berbagai ritual di tepi lautan, bahkan sebagian kaum muslimin rela mengambil kotoran dari seekor kerbau, yang bergelar ‘Kyai Slamet’, sebagai berkah dan kebaikan. Tentunya, kamus kesyirikan seperti ini akan terbit dalam jilid tebal bila dikumpulkan dari Sabang hingga Merauke.

Kalau Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam, pada akhir hayatnya, memperingatkan umatnya agar tidak berlebihan terhadap dirinya sebagaimana dalam sabda beliau yang mulia,

لَعَنَ اللهُ الْيَهُوْدَ وَالنَّصَارَى اتَّخَذُوْا قُبُوْرَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ

 

Allah melaknat orang-orang Yahudi dan Nashara. Mereka menjadikan kubur para nabi mereka sebagai masjid.” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhâry dan Muslim dari Aisyah radhiyallâhu ‘anhâ]

Sangatlah menyedihkan: kita menyaksikan orang-orang yang mengajak manusia untuk mengultuskan diri-diri mereka dan mengambil berkah dari mereka lantaran keistimewaan yang dia sangka atau garis keturunan yang dia sandang.

Kesyirikan adalah menyetarakan antara selain Allah dan Allah pada hal-hal yang merupakan kekhususan Allah, baik dalam rubûbiyyah Allah (penciptaan, kekuasaan, dan pengaturan-Nya), ulûhiyyah (peribadahan kepada-Nya) maupun nama-nama dan sifat-sifat-Nya. Allah Ta’âlâ menyebut ucapan penduduk neraka dalam firman-Nya,

تَاللَّهِ إِنْ كُنَّا لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ. إِذْ نُسَوِّيكُمْ بِرَبِّ الْعَالَمِينَ

 

“Demi Allah, sungguh dahulu (di dunia) kami berada dalam kesesatan yang nyata karena kami menyamakan kalian dengan Rabb alam semesta.” [Asy-Syu’arâ`: 97-98]

Ibnul Qayyim rahimahullâh menyebutkan, “(Kaum musyrikin) mengakui bahwa Allah adalah satu-satunya yang menciptakan segala sesuatu, Rabb dan Penguasa sesuatu itu, serta (mengakui) bahwa sembahan-sembahan mereka tidaklah mencipta, tidak dapat memberi rezeki, tidak pula dapat menghidupkan dan mematikan. Jadi, penyetaraan tersebut hanyalah pada kecintaan, pengagungan dan ibadah sebagaimana keadaan kebanyakan kaum musyrikin di seluruh alam. Bahkan, mereka semua mencintai dan mengagungkan sembahan-sembahan mereka serta memberi loyalitas mereka kepada (sembahan) tersebut selain Allah. Banyak di antara mereka, bahkan kebanyakan di antara mereka, mencintai sembahan-sembahan mereka melebihi kecintaannya kepada Allah.” [Madârijus Sâlikîn 1/373]

Juga, Allah menerangkan,

ثُمَّ الَّذِينَ كَفَرُوا بِرَبِّهِمْ يَعْدِلُونَ

 

“Namun, orang-orang yang kafir membuat tandingan untuk Rabb mereka.” [Al-An’âm: 1]

Syaikhul Islam rahimahullâh berkata, “Pokok kesyirikan adalah engkau menyetarakan/menyamakan Allah dengan makhluk-makhluk-Nya pada sebagian hal yang hanya Allah semata yang berhak akan hal itu.” [Al-Istiqâmah 1/344]

Untuk lebih memperjelas tentang petaka kesyirikan terhadap individu, masyarakat, dan negeri, berikut beberapa bahaya kesyirikan selain dari hal-hal yang telah disebutkan di atas.

Pertama: kesyirikan adalah perusak dan penghancur amalan.

Allah Jalla Jalâluhu berfirman kepada Nabi-Nya,

وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ. بَلِ اللَّهَ فَاعْبُدْ وَكُنْ مِنَ الشَّاكِرِينَ

“Dan sesungguhnya, telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) sebelummu, ‘Jika engkau berbuat kesyirikan, niscaya akan terhapuslah seluruh amalanmu dan tentulah engkau termasuk orang-orang yang merugi.’ Oleh karena itu, hendaklah kepada Allah saja engkau menyembah dan hendaklah engkau termasuk orang-orang yang bersyukur.” [Az-Zumar: 65-66]

Kedua: pelaku syirik akbar adalah kekal di dalam neraka.

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ

“Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, pasti Allah mengharamkan surga kepadanya, dan tempatnya ialah neraka. Tidaklah ada seorang penolong pun bagi orang-orang zhalim itu.” [Al-Mâ`idah: 72]

Ketiga: kesyirikan adalah dosa yang tidak diampuni. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, tetapi Dia mengampuni segala dosa yang selain (syirik) itu bagi siapa saja yang Dia kehendaki.” [An-Nisâ`: 48, 116]

Keempat: amalan pelaku kesyirikan, walaupun sangat banyak dan menggunung, pada hari kiamat tidaklah dianggap sama sekali bila bercampur dengan noda kesyirikan. Allah Jallah Sya`nuhu menegaskan,

وَقَدِمْنَا إِلَى مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاءً مَنْثُورًا

“Dan Kami menghadapi segala amalan yang mereka kerjakan, lalu Kami menjadikan amalan itu (bagaikan) debu yang berterbangan.” [Al-Furqân: 23]

Kelima: syirik adalah dosa yang paling besar, kekejian yang paling keji, kemungkaran yang paling mungkar, dan kezhaliman yang paling zhalim. Allah ‘Azzat ‘Azhamatuhu berfirman,

وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

“Dan (ingatlah) ketika Luqmân berkata kepada anaknya sewaktu memberi pelajaran kepada (anak)nya, ‘Wahai anakku, janganlah engkau mempersekutukan (Allah). Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezhaliman yang besar.’.” [Luqmân: 13]

Keenam: kesyirikan adalah sebab munculnya rasa takut dan hilangnya keamanan pada manusia, masyarakat, bangsa, dan negara. Allah Subhânahu wa Ta’âlâ berfirman,

الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولَئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُونَ

“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan keimanan mereka dengan kezhaliman (kesyirikan), mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itulah orang-orang yang mendapat hidayah.” [Al-An’âm: 82]

Ketujuh: kesyirikan adalah sebab kebinasaan terbesar. Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda,

اجْتَنِبُوْا السَّبْعَ الْمُوْبِقَاتِ قِيْلَ يَا رَسُوْلَ اللهِ وَمَا هُنَّ ؟ قَالَ الشِّرْكُ بِاللهِ وَالسِّحْرُ وَقَتْلُ النَّفْسِ الَّتِيْ حَرَّمَ اللهُ إِلَّا بِالْحَقِّ وَأَكْلُ مَالِ الْيَتِيْمِ وَأَكْلُ الرِّبَا وَالتَوَلِّيْ يَوْمَ الزَّحْفِ وَقَذْفُ الْمُحْصَنَاتِ الْغَافِلَاتِ الْمُؤْمِنَاتِ

“Hindarilah tujuh yang membinasakan.” Ditanyakan kepada beliau, “Wahai Rasululläh, apa (tujuh hal) itu?” Beliau menjawab, “(1) Berbuat kesyirikan terhadap Allah, (2) melakukan sihir, (3) membunuh jiwa yang Allah haramkan, kecuali dengan haq, (4) memakan harta anak yatim, (5) memakan riba, (6) lari pada hari perjumpaan dengan musuh, dan (7) menuduh perempuan mukminah, yang menjaga diri lagi tidak kenal maksiat, dengan perbuatan zina.”.” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhâry dan Muslim dari hadits Abu Hurairah radhiyallâhu ‘anhu]

Kedelapan: kesyirikan adalah najis maknawi yang paling najis. Allah Jalla wa ‘Alâ berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّمَا الْمُشْرِكُونَ نَجَسٌ فَلَا يَقْرَبُوا الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ بَعْدَ عَامِهِمْ هَذَا

“Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya orang-orang musyrik itu najis maka janganlah mereka mendekati Masjidil Haram sesudah tahun ini.” [At-Taubah: 28]

Kesembilan: kesyirikan adalah sebab terangkatnya kemuliaan, kejayaan, dan pertolongan Allah dari umat Islam. Allah Al-‘Azîz Al-Hakîm berfirman,

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman, di antara kalian, dan beramal shalih bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan berkuasa orang-orang yang sebelum mereka, sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah Dia ridhai untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan, menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada berbuat kesyirikan sesuatu apapun terhadap-Ku. Namun, barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, mereka itulah orang-orang fasik.” [An-Nûr: 55]

Kesepuluh: darah dan harta pelaku kesyirikan adalah halal bila terjadi peperangan yang dipimpin oleh seorang pemerintah muslim. Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَشْهَدُوْا أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهَ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ وَيُقِيْمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ فَإِذَا فَعَلُوْا عَصَمُوْا مِنِّيْ دِمَاءَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ إِلَّا بِحَقِّهَا وَحِسَابُهُمْ عَلَى اللهِ

“Aku diperintah untuk memerangi manusia hingga mereka bersaksi bahwa tiada yang berhak diibadahi, kecuali Allah, dan bahwa Muhammad adalah rasul Allah, serta menegakkan shalat dan mengeluarkan zakat. Apabila mereka telah melaksanakan hal itu, terjagalah darah dan harta mereka, kecuali dengan haqnya, dan perhitungan mereka adalah terhadap Allah.” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhâry dan Muslim dari beberapa orang shahabat, tergolong sebagai hadits mutawâtir]

Kesebelas: syaithan berkuasa terhadap pelaku kesyirikan. Allah Jalla Sya`nuhu berfirman,

إِنَّمَا سُلْطَانُهُ عَلَى الَّذِينَ يَتَوَلَّوْنَهُ وَالَّذِينَ هُمْ بِهِ مُشْرِكُونَ

“Sesungguhnya kekuasaan (syaithan) itu hanyalah atas orang-orang yang menjadikan dia sebagai pemimpin dan atas orang-orang yang mempersekutukan dia dengan Allah.” [An-Nahl: 100]

Kedua belas: syirik adalah sebab kehinaan dan kemurkaan Allah. Rabbul ‘Izzah menyatakan dalam Tanzîl-Nya,

إِنَّ الَّذِينَ اتَّخَذُوا الْعِجْلَ سَيَنَالُهُمْ غَضَبٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَذِلَّةٌ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَكَذَلِكَ نَجْزِي الْمُفْتَرِينَ

“Sesungguhnya orang-orang yang menjadikan anak lembu (sebagai sembahannya) kelak akan tertimpa kemurkaan dari Rabb mereka dan kehinaan dalam kehidupan di dunia. Demikianlah Kami membalas orang-orang yang membuat-buat kebohongan.” [Al-A’râf: 152]

Ketiga belas: kesyirikan adalah sebab celaan dan hilangnya taufiq dari Allah. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

لَا تَجْعَلْ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آخَرَ فَتَقْعُدَ مَذْمُومًا مَخْذُولًا

“Janganlah engkau mengadakan sembahan lain di sisi Allah agar engkau tidak menjadi tercela dan tidak ditinggalkan (oleh Allah).” [Al-Isrâ`: 22]

وَلَا تَجْعَلْ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آخَرَ فَتُلْقَى فِي جَهَنَّمَ مَلُومًا مَدْحُورًا

“Dan janganlah engkau mengadakan sembahan lain di sisi Allah yang mengakibatkan engkau dilemparkan ke dalam neraka dalam keadaan tercela lagi dijauhkan (dari rahmat Allah).” [Al-Isrâ`: 39]

Demikianlah beberapa bahaya kesyirikan. Walaupun banyak bahaya lain yang luput disebutkan di sini, kami berharap bahwa uraian ringkas di atas cukup sebagai pelajaran bagi seluruh kaum muslimin dan muslimat akan bahaya dan dosa kesyirikan di dunia dan di akhirat. Wallâhul Musta’ân.

[1] Adalah tergolong sebagai syirik akbar dan kekufuran nyata, menduakan Allah Yang Maha Satu dalam dzat-Nya bahwa Dia memiliki anak.


Download Pdf

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Tulisan lainnya

jannatul-firdaus.net @2021

Mengenal Perkara-perkara yang Menggugurkan Dosa


| Menu

| MENU

Bagikan…

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram



Mengenal Perkara-perkara yang Menggugurkan Dosa

  • Oleh : Ustadz Syafaat Al-Munawiy hafizhahullah
  • (Pengajar Ma’had Subulus Salam Samaya, Gowa)[1]

Tidak ada yang ma’shum (terjaga dari dosa dan kesalahan). Tidak ada yang tidak terjatuh di dalam dosa dan kemaksiatan.

Demikian ungkapan yang sering kita dengar, bahkan bisa jadi kita sendiri pernah mengucapkannya.

Kalimat ini adalah kalimat yang benar. Yang namanya manusia selama dalam kehidupan dunia, sangat berpotensi untuk untuk terjatuh dalam pelanggaran terhadap hukum-hukum Allah –azza wa jalla-. Karena, banyaknya pendorong dan sebab untuk kesana.

Godaan Iblis dan bala tentaranya, teman duduk yang jelek, jiwa yang buruk yang selalu menyuruh kepada kejelekan, tabiat yang suka bermaksiat, dan selainnya bisa menjadikan seseorang melakukan dosa dan kesalahan.

Dari sinilah Nabi –shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda,

«كُلُّ بَنِي آدَمَ خَطَّاءٌ، وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ»

“Setiap Anak cucu Adam banyak melakukan kesalahan, dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah yang selalu bertaubat.” [HR. At-Tirmidzi (no. 2499) dan Ibnu Majah (no.4251) dan selainnya dari sahabat Anas bin Malik –radhiyallahu ‘anhu-].[2]

Muhammad bin Ismail Al-Amir Ash-Shon’aniy –rahimahullah- berkata,

Hadits ini menunjukkan bahwa tidak ada seorangpun yang luput dari kesalahan, dikarenakan manusia dicipta diatasnya (selalu melakukan kesalahan) karena kelemahan, dan dia tidak tunduk kepada Allah -ta’ala- untuk mengerjakan apa yang diperintahkan dan meninggalkan apa yang dilarang-Nya”.[LihatSubulus Salam (8/205)].

Syaikh Sholih bin Abdillah Al-Fauzan –hafizhahullah- berkata,

كَأَنَ هَذَا الْحَدِيْثَ فِيْهِ الْخَبْرُ أَن الْوُقُوْعَ فِيْ الْأَخْطَاءِ مِنْ طَبِيْعَةِ الْبَشَرِ

“Sepertinya hadits ini, di dalamnya terdapat berita bahwa terjatuh dalam kesalahan termasuk tabiat manusia “[LihatTashilul Ilmam bi fiqhi Al-Ahaditsi Min Bulughil Maram(6/22)].

Syaikh Sulaiman bin Salimillah Ar-Ruhailiy –hafidzahullah- berkata,

اَلْعَبْدُ مَا دَامَ فِيْ الدُنْيَا فَهُوَ خَطاءٌ وَعُرْضَةٌ لِلْوُقُوْعِ فِيْ الذُنُوْبِ

“Namanya seorang hamba selama dia berada dalam kehidupan dunia, maka dia akan selalu melakukan kesalahan dan memungkinkan untuk terjatuh dalam dosa-dosa”. [Lihat Syarh AlWashiyyah Ash-Shughro (hlm.119)].

Demikianlah keadaan manusia dalam kehidupan dunia, sudah menjadi tabiat mereka untuk terjatuh dalam dosa dan kekhilafan.[3] Namun, Allah –azza wa jalla- berkat kemurahan-Nya telah menyampaikan kepada hamba-hamba-Nya bahwa Dia selalu membuka pintu tobat bagi mereka yang mau kembali memperbaiki diri, meninggalkan dosa dan kesalahannya; sekaligus mengingatkan mereka untuk tidak berputus asa dari Rahmat Allah azza wa jalla, dan tidak berburuk sangka kepada-Nya. Karena, seorang hamba tidak sepantasnya menyangka bahwa Allah –azza wa jalla- tidak mengampuni dosanya apabila dia bertobat, menyangka bahwa dia tidak akan selamat dari azab-Nya apabila dia memperbaiki diri, menyangka bahwa dia tidak akan dimasukan kedalam surga-Nya, dan sangkaan jelek yang lainnya.

Allah –azza wa jalla- telah mengingatkan di dalam Al-Qur’an,

{قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ } [الزمر: 53]

“Katakanlah, ‘Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri-diri mereka sendiri, janganlah kalian berputus asa dari Rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa seluruhnya.’ Sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyaayang”[Az-Zumar:53].

Jalaluddin Abu Bakr As-Suyuthiy –rahimahullah- berkata,

“Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi di dalam Asy-Syu’ab, dan Abu ‘Ubaid di dalam Al-Fadho’il dari Ibnu Mas’ud –radhiyallahu ‘anhu-, beliau berkata,

مَا فِي الْقُرْآنِ آيَةٌ أَعْظَمُ فَرَحًا مِنْ آيَةٍ فِيْ سُوْرَةِ الْغُرَفِ : قُلْ يَعِبَادِيَ الذين أسرفوا على أنفسهم… الآية

“Tidak ada satu ayat pun di dalam Al-Qur’an yang sangat membahagiakan daripada ayat di dalam surat Al-Ghurof[4] (yang artinya) Katakanlah, Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas atas diri-diri mereka sendiri”. [Lihat Syarah Kitab At-Tahbir fi “Ilmit Tafsir (2/309)]

Dalil di dalam ayat ini yang menunjukkan bahwa pintu tobat dan ampunan dari Allah amat luas adalah potongan firman Allah –azza wa jalla- (yang artinya), “Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa seluruhnya”.

Di dalam ayat ini terdapat bisyaroh (kabar gembira) bahwasanya Allah -azza wa jalla- mengampuni dosa-dosa seluruhnya, maka dengan kabar gembira ini hendaknya manusia itu berbahagia, dan dia lebih baik dari pada dunia dan seisinya

Syaikh Abdur Razzaq bin Abdil Muhsin Al-Badr –hafizhahullah- berkata,

وَلَا يَنْبَغِيْ لِلْعَبْدِ أَنْ يَقْنَطَ مِنْ رَحْمَةِ اللهِ، وَإِنْ عَظُمَتْ ذُنُوْبُهُ، وكَثُرَتْ وَتَنَوعَتْ، فَإِن بَابَ التَوْبَةِ وَالْمَغْفِرَةِ وَالرَحْمَةِ وَاسِعٌ

“Tidak sepantasnya seorang hamba untuk berputus asa dari rahmat Allah -azza wa jalla-, sekalipun dosanya itu besar dan banyak lagi bermacam-macam. Karena, pintu tobat, ampunan, dan rahmat Allah itu adalah luas”. [Lihat Fiqh Al-Ad’iyah wa Al-Azkar  (1/505)].

 Di antara bentuk kasih sayang Allah –azza wa jalla- atas hamba-hamba-Nya, dijadikanya sebagian perkara yang menimpa mereka menjadi penghapus bagi dosa-dosa dan kesalahan-kesalahan mereka.

Syaikh Sulaiman bin Salimillah Ar-Ruhailiy –hafizhahullah- berkata,

“Penghapus dosa-dosa itu ada sepuluh :

1. Bertobat

2. Istighfar tanpa taubat

3. Amalan-amalan yang shalih yang menggugurkan dosa-dosa

4. Musibah dan bala di dunia yang menimpa seorang mukmin

5. Syafaatnya para pemberi syafa’at

6. Rahmat Allah -azza wa jalla- dan ampunan-Nya

7. Doa orang-orang yang beriman.

8. Sesuatu yang dilakukan untuk si mayyit berupa amalan-amalan kebaikan.

9. Sesuatu yang dialami oleh seorang mukmin di dalam kuburan berupa kesempitan kubur, fitnah, dan ketakutan.

10. Kengerian, kesulitan, dan kesusahan pada hari kiamat.

[Disebutkan secara ringkas dari kitab Syarh Al-Washiyyah Ash-Shughro (hlm.120-134)].

Mengenal perkara-perkara yang menggugurkan dosa, bukanlah untuk membuka pintu kemaksiatan dan dosa, tetapi yang diinginkan adalah menjelaskan keutamaan Allah –azza wa jalla- dan keluasan kasih sayang-Nya, agar tidak ada yang berputus asa dari Rahmat-Nya. Wallahu a’lam

 ✍ Ditulis di Ma’had Al-Ihsan Gowa, Kamis, 16 Jumadal Akhiroh 1443 H, bertepatan 20 Januari 2022 M.

_____________

Selesai diedit oleh Ustadz Abdul Qodir Abu Fa’izah Al-Bugisiy –hafizhahullah- pada hari Sabtu, 17 Jumadal Akhiroh 1443 H.

[1] Ma’had Subulus Salam adalah sebuah pondok pesantren yang dirintis oleh Ustadz Fadhly Abu Harun Al-Makassariy –hafizhahullah-. Ma’had ini pada awal perintisannya bernama “Ma’had As-Sunnah Samaya”. Namun, karena sesuatu dan lain hal, namanya berubah menjadi Ma’had Subulus Salam yang berada di Dusun Samaya, Desa, Romangloe, Kecamatan Bontomarannu, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan 92171.

Alamatnya dapat anda kunjungi via link Google Maps berikut ini : https://goo.gl/maps/EenBACcq14PshTRHA

[2] Hadits ini diperselisihkan keshohihannya oleh para Ulama, Adapun Al-Hafidz Ibnu Hajar di dalam kitab Bulughul Maram mengatakan : sanadnya kuat. [Lihat Bulughul Maram dan Subulus Salam(8/205)]. 

Syaikh Al-Albaniy –rahimahullah- menyatakan bahwa hadits ini adalah hadits yang hasan di dalam kitabnya Takhrij Misykah Al-Mashobih (no. 2341)

[3] Ini bukan pembenaran bagi dirinya untuk berbuat dosa dan kemaksiatan

[4] Yaitu Surat Az-Zumar , disebut Surat Al-Ghurof karena ada penyebutan kata Al-Ghurof (kamar-kamar) di dalamnya. 

 

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Tulis komentar

Logged in as admin. Log out »




Tulisan lainnya

jannatul-firdaus.net @2021

Fadhilah dan Keagungan Surat Al-Fatihah


| Menu

| MENU

Bagikan…

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram



Fadhilah dan Keagungan Surat Al-Fatihah

  • Oleh : Ustadz Abdul Qodir Abu Fa’izah, Lc. hafizhahullah
  • [Pembina Ponpes Al-Ihsan Gowa]

“Surah Al-Fatihah” adalah surat yang amat masyhur, telah dikenal oleh seluruh kaum muslimin. Saking terkenalnya, terkadang sebagian kaum muslimin menyalahgunakannya, seperti membacanya untuk orang mati saat ziarah kubur, atau mengirimkan pahalanya kepada Nabi –Shallallahu ‘alaihi wa sallam-, Syaikh Abdul Qodir Al-Jailaniy, dan orang-orang yang telah mati.

Semua ini tak ada contohnya dari Allah dan Rasul-Nya.

Surat Al-Fatihah amat masyhur, namun banyak di antara kita tak mengetahui fadhilah, dan keutamaannya.

Padahal banyak sekali hadits-hadits yang menunjukkan keutamaannya, baik dari sisi kandungan atau kedudukannya di sisi Allah –Azza wa Jalla-.

Diantara fadhilah dan keutamaan Surat Al-Fatihah :

Al-Fatihah adalah Surat yang Paling Agung

Orang yang membaca Al-Fatihah akan mendapatkan balasan pahala yang besar di sisi Allah.

Terlebih lagi jika ia membacanya dengan ikhlash, dan mentadabburi maknanya.

Abu Sa’id bin Al-Mu’allaa -radhiyallahu ‘anhu– berkata,

كُنْتُ أُصَلِّيْ فَدَعَانِيَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمْ أُجِبْهُ, قُلْتُ: يَا رَسُوْلَ اللهِ إِنِّيْ كُنْتُ أُصَلِّيْ, قَالَ: أَلَمْ يَقُلِ اللهُ: (اسْتَجِيْبُوْا لِلّهِ وَلِلرَّسُوْلِ إِذَا دَعَاكُمْ), ثُمَّ قَالَ: أَلاَ أُعَلِّمُكَ أَعْظَمَ سُوْرَةٍ فِي الْقُرْآنِ قَبْلَ أَنْ تَخْرُجَ مِنَ الْمَسْجِدِ؟. فَأَخَذَ بِيَدِيْ, فَلَمَّا أَرَدْنَا أَنْ نَخْرُجَ, قُلْتُ: يَا رَسُوْلَ اللهِ, إِنَّكَ قُلْتَ: لأُعَلِّمَنَّكَ أَعْظَمَ سُوْرَةٍ مِنْ الْقُرْآنِ. قَالَ: (الْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ), هِيَ السَّبعُ الْمَثَانِيْ وَاْلقُرْآنُ الْعَظِيْمُ الَّذِيْ أُوْتِيْتَهُ

“Dulu aku pernah sholat. Lalu Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam-  memanggilku. Namun aku tak memenuhi panggilan beliau. Aku katakan, “Wahai Rasulullah, tadi aku sholat”. Beliau bersabda, “Bukankah Allah berfirman,

{اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ} [الأنفال: 24]

“Penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kalian”.(QS. Al-Anfaal: 24).

Kemudian beliau bersabda, “Maukah engkau kuajarkan surat yang paling agung dalam Al-Qur’an sebelum engkau keluar dari masjid”?. Beliau pun memegang tanganku. Tatkala kami hendak keluar, maka aku katakan, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya tadi Anda bersabda, “Aku akan ajarkan kepadamu Surat yang paling agung dalam Al-Qur’an”. Beliau bersabda, “Alhamdulillahi Robbil alamin. Dia (Surat Al-Fatihah) adalah tujuh ayat yang berulang-ulang, dan Al-Qur’an Al-Azhim yang diberikan kepadaku”.

[HR. Al-Bukhoriy dalam Shohih-nya (4720), Abu Dawud dalam Sunan-nya (1458), dan An-Nasa’iy dalam Sunan-nya (913)]

Al-Imam Ibnu At-Tiin -rahimahullah- berkata saat menjelaskan makna hadits di atas,

“Maknanya, bahwa pahalanya lebih agung (lebih besar) dibandingkan surat lainnya”.

[Lihat Fathul Bari (8/158) karya Ibnu Hajar Al-Asqolaniy]

Al-Fatihah adalah Surat Terbaik dalam Al-Qur'an

Surat Al-Fatihah merupakan surat terbaik, karena ia mengandung tauhid, ittiba’ (mengikuti) Sunnah, adab berdo’a, al-wala’ wal baro’, keimanan terhadap perkara gaib, dan lainnya.

Ibnu Jabir -radhiyallahu ‘anhu– berkata,

اِنْتَهَيْتُ إِلَى رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَدْ إِهْرَاقَ الْمَاءَ فَقُلْتُ السَّلاَمُ عَلَيْكَ يَا رَسُوْلَ اللهِ فَلَمْ يَرُدَّ عَلَيَّ فَقُلْتُ: السَّلاَمُ عَلَيْكَ يَا رَسُوْلَ اللهِ فَلَمْ يَرُدَّ عَلَيَّ فَقُلْتُ السَّلاَمُ عَلَيْكَ يَا رَسُوْلَ اللهِ فَلَمْ يَرُدَّ عَلَيَّ فَانْطَلَقَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَمْشِيْ وَأَنَا خَلْفَهُ حَتَّى دَخَلَ عَلَى رَحْلِهِ وَدَخَلْتُ أَنَا الْمَسْجِدَ فَجَلَسْتُ كَئِيْبًا حَزِيْنًا فَخَرَجَ عَلَيَّ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ تَطَهَّرَ فَقَالَ : عَلَيْكَ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَ عَلَيْكَ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ و عَلَيْكَ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ ثُمَّ قَالَ اَلاَ أُخْبِرُكَ يَا عَبْدَ اللهِ بْنَ جَابِرٍ بِخَيْرِ سُوْرَةٍ فِيْ الْقُرْآنِ قُلْتُ بَلَى يَا رَسُوْلَ اللهِ قَالَ: اِقْرَأْ الْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ حَتَّى تَخْتِمَهَا

“Aku tiba kepada Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- , sedang beliau mengalirkan air. Aku berkata, “Assalamu alaika, wahai Rasulullah”. Maka beliau tak menjawab salamku (sebanyak 3 kali).

Kemudian Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- berjalan, sedang aku berada di belakangnya sampai beliau masuk ke kemahnya, dan aku masuk ke masjid sambil duduk dalam keadaan bersedih.

Lalu keluarlah Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- menemuiku, sedang beliau telah bersuci seraya bersabda, “Alaikas salam wa rahmatullah (3 kali)”.

Kemudian beliau bersabda, “Wahai Abdullah bin Jabir, maukah kukabarkan kepadamu tentang sebaik-baik surat di dalam Al-Qur’an”. Aku katakan, “Mau wahai Rasulullah”.

Beliau bersabda, “Bacalah surat Alhamdulillahi Robbil alamin (yakni, Surat Al-Fatihah) sampai engkau menyelesaikannya”.

[HR. Ahmad dalam Al-Musnad (4/177). Hadits ini di-hasan-kan oleh Al-Arna’uth dalam Takhrij Al-Musnad (no. 17633)]

Al-Fatihah adalah Al-Qur'an Al-Azhim

Surat Al-Fatihah dinamai oleh Allah dengan “Al-Qur’an Al-Azhim”, padahal Al-Qur’an Al-Azhim bukan hanya Al-Fatihah, masih ada surat-surat lainnya yang berjumlah 113.

Namun Allah –Azza wa Jalla– menamainya demikian karena kandungan Al-Fatihah meliputi segala perkara yang dikandung oleh Al-Qur’an Al-Azhim secara global. Wallahu A’lam bish showab.

Rasulullah –Shallallahu ‘alaihi wa sallam– bersabda,

أُمُّ الْقُرْآنِ هِيَ السَّبْعُ الْمَثَانِيْ وَالْقُرْآنُ الْعَظِيْمُ

“Ummul Qur’an (yakni, Al-Fatihah) adalah tujuh ayat yang berulang-ulang, dan Al-Qur’an Al-Azhim”. [HR. Al-Bukhoriy dalam Shohih-nya (4427), Abu Dawud dalam Sunan-nya (1457), dan At-Tirmidziy dalam Sunan-nya (3124)]

Al-Fatihah adalah Surat Ruqyah

Al-Qur’an seluruhnya bisa digunakan dalam me-ruqyah. Namun secara khusus Al-Fatihah pernah dipergunakan oleh para sahabat dalam meruqyah sebagian orang yang tergigit kalajengking.

Dengan berkat pertolongan Allah, orang yang digigit kalajengking tersebut sembuh kala itu juga.

Sekarang kita dengarkan kisahnya dari sahabat Abu Sa’id Al-Khudriy –radhiyallahu ‘anhu– ketika beliau berkata,

انْطَلَقَ نَفَرٌ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيْ سَفْرَةٍ سَافَرُوْهَا حَتَّى نَزَلُوْا عَلَى حَيٍّ مِنْ أَحْيَاءِ الْعَرَبِ فَاسْتَضَافُوْهُمْ فَأَبَوْا أَنْ يُضَيِّفُوْهُمْ فَلُدِغَ سَيِّدُ ذَلِكَ الْحَيِّ فَسَعَوْا لَهُ بِكُلِّ شَيْءٍ لاَ يَنْفَعُهُ شَيْءٌ فَقَالَ بَعْضُهُمْ: لَوْ أَتَيْتُمْ هَؤُلاَءِ الرَّهْطَ الَّذِيْنَ نَزَلُوْا لَعَلَّهُ أَنْ يَكُوْنَ عِنْدَ بَعْضِهِمْ شَيْءٌ فَأَتَوْهُمْ فَقَالُوْا: يَا أَيُّهَا الرَّهْطُ إِنَّ سَيِّدَنَا لُدِغَ وَسَعْيُنَا لَهُ بِكُلِّ شَيْءٍ لاَ يَنْفَعُهُ فَهَلْ عَنْدَ أَحَدٍ مِنْكُمْ مِنْ شَيْءٍ ؟ فَقَالَ بَعْضُهُمْ: نَعَمْ وَاللهِ إِنِّيْ لأَُرْقِي وَلَكِنْ وَاللهِ لَقَدْ اسْتَضَفْنَاكُمْ فَلَمْ تُضَيِّفُوْنَا فَمَا أَنَا بِرَاقٍ لَكُمْ حَتَّى تَجْعَلُوْا لَنَا جُعْلاً فَصَالَحُوْهُمْ عَلَى قَطِيْعٍ مِنَ الْغَنَمِ فَانْطَلَقَ يَتْفُلُ عَلَيْهِ وَيَقْرَأُ { الْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ } . فَكَأَنَّمَا نُشِطَ مِنْ عِقَالٍ فَانْطَلَقَ يَمْشِي وَمَا بِهِ قَلَبَةٌ . قَالَ: فَأَوْفَوْهُمْ جُعْلَهُمُ الَّذِيْ صَالَحُوْهُمْ عَلَيْهِ فَقَالَ بَعْضُهُمْ: اقْسِمُوْا فَقَالَ الَّذِيْ رَقِيَ: لاَ تَفْعَلُوْا حَتَّى نَأْتِيّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَنَذْكُرَ لَهُ الَّذِيْ كَانَ فَنَنْظُرَ مَا يَأْمُرُنَا فَقَدِمُوْا عَلَى رَسُوْلِ اللهِ فَذَكَرُوْا لَهُ فَقَالَ:  وَمَا يُدْرِيْكَ أَنَّهَا رُقْيَةٌ . ثُمَّ قَالَ: قَدْ أَصَبْتُمْ اقْسِمُوْا وَاضْرِبُوْا لِيْ مَعَكُمْ سَهْمًا . فَضَحِكَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Ada beberapa orang dari kalangan sahabat Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam-  pernah berangkat dalam suatu perjalanan yang mereka lakukan sampai mereka singgah pada suatu perkampungan Arab.

Mereka pun meminta jamuan kepada mereka. Tapi mereka enggan untuk menjamu mereka (para sahabat). Akhirnya, pemimpin suku itu digigit kalajengking.

Mereka (orang-orang kampung itu) telah mengusahakan segala sesuatu untuknya. Namun semua itu tidak bermanfaat baginya.

Sebagian diantara mereka berkata, “Bagaimana kalau kalian mendatangi rombongan (para sahabat) yang telah singgah. Barangkali ada sesuatu (yakni, obat) diantara mereka”.

Orang-orang itu pun mendatangi para sahabat seraya berkata, “Wahai para rombongan,  sesungguhnya pemimpin kami tersengat, dan kami telah melakukan segala usaha, tapi tidak memberikan manfaat kepadanya. Apakah ada sesuatu (obat) pada seorang diantara kalian?”

Sebagian sahabat berkata, “Ya, ada. Demi Allah, sesungguhnya aku bisa me-ruqyah. Tapi demi Allah, kami telah meminta jamuan kepada kalian, namun kalian tak mau menjamu kami. Maka aku pun tak mau me-ruqyah kalian sampai kalian mau memberikan gaji kepada kami”.

Merekapun menyetujui para sahabat dengan gaji (bayaran atas ruqyah) berupa beberapa ekor kambing.

Lalu seorang sahabat pergi (untuk me-ruqyah mereka) sambil memercikkan ludahnya kepada pimpinan suku tersebut, dan membaca, “Alhamdulillah Robbil alamin (yakni, Al-Fatihah)”.

Seakan-akan orang itu terlepas dari ikatan. Lalu mulailah ia berjalan, dan sama sekali tak ada lagi penyakit padanya.

Dia (Abu Sa’id) berkata, “Mereka pun memberikan kepada para sahabat gaji yang telah mereka sepakati.”

Sebagian sahabat berkata, “Silakan bagi (kambingnya)”.

Yang me-ruqyah berkata, “Janganlah kalian lakukan hal itu sampai kita mendatangi Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam-, lalu kita sebutkan kepada beliau tentang sesuatu yang terjadi. Kemudian kita lihat, apa yang beliau perintahkan kepada kita”.

Mereka pun datang kepada Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- seraya menyebutkan hal itu kepada beliau.

Kemudian beliau bersabda, “Apa yang memberitahukanmu bahwa Al-Fatihah adalah ruqyah?”

Kemudian beliau bersabda lagi, “Kalian telah benar, silakan (kambingnya) dibagi. Berikan aku bagian bersama kalian”.

  • Lalu Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- tertawa”.
  • [HR. Al-Bukhoriy (2156), Muslim (2201)]

Al-Imam Ibnu Abi Jamroh -rahimahullah- berkata,

“Tempat memercikkan ludah ketika me-ruqyah adalah usai membaca Al-Qur’an pada anggota badan yang dilalui oleh ludah”. [Lihat Tuhfah Al-Ahwadziy (9/206)]

Al-Fatihah adalah Cahaya Untuk Umat Islam

Satu lagi diantara fadhilah Al-Fatihah, ia disebut dengan cahaya, karena di dalamnya terdapat petunjuk bagi seorang muslim dalam semua urusannya.

Jika kita mengkaji Al-Fatihah secara mendalam, maka kita akan mendapatkan banyak faedah dan petunjuk.

Oleh karena itu, sebagian ulama’ telah menulis kitab khusus menafsirkan Al-Fatihah dan mengeluarkan mutiara hikmahnya yang berisi pelita yang menerangi kehidupan kita, seperti kitab “Madarijus Salikin”, karya Ibnul Qoyyim –rahimahullah-.

Ibnu Abbas –radhiyallahu ‘anhu– berkata,

بَيْنَمَا جِبْرِيْلُ قَاعِدٌ عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَمِعَ نَقِيْضًا مِنْ فَوْقِهِ فَرَفَعَ رَأْسَهُ فَقَالَ: هَذَا بَابٌ مِنَ السَّمَاءِ فُتِحَ الْيَوْمَ لَمْ يُفْتَحْ قَطُّ إِلاَّ الْيَوْمَ فَنَزَلَ مِنْهُ مَلَكٌ فَقَالَ: هَذَا مَلَكٌ نَزَلَ إِلَى اْلأَرْضِ لَمْ يَنْزِلُ قَطُّ إِلاَّ الْيَوْمَ فَسَلَّمَ وَقَالَ: أَبْشِرْ بِنُوْرَيْنِ أُوْتِيْتَهُمَا لَمْ يُؤْتَهُمَا نَبِيٌّ قَبْلَكَ: فَاتِحَةَ الْكِتَابِ وَخَوَاتِيْمَ سُوْرَةِ الْبَقَرَةِ لَنْ تَقْرَأَ بِحَرْفٍ مِنْهُمَا إِلاَّ أُعْطِيْتَهُ

“Tatkala Jibril duduk di sisi Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- , maka ia mendengarkan suara (seperti suara pintu saat terbuka) dari atasnya.

Karenanya, ia (Jibril) mengangkat kepalanya seraya berkata, “Ini adalah pintu di langit yang baru dibuka pada hari ini; belum pernah terbuka sama sekali, kecuali pada hari ini”.

Lalu turunlah dari pintu itu seorang malaikat seraya Jibril berkata,

“Ini adalah malaikat yang turun ke bumi; ia sama sekali belum pernah turun, kecuali pada hari ini”.

Malaikat itu pun memberi salam seraya berkata,

“Bergembiralah dengan dua cahaya yang diberikan kepadamu; belum pernah diberikan kepada seorang nabi sebelummu, yaitu Fatihatul Kitab, dan ayat-ayat penutup Surat Al-Baqoroh. Tidaklah engkau membaca sebuah huruf dari keduanya, kecuali engkau akan diberi”.

[HR. Muslim dalam Shahih-nya (806), dan An-Nasa’iy (912)]

Al-Fatihah adalah Penentu Sholat

Al-Fatihah adalah kewajiban bagi setiap orang yang mengerjakan sholat, baik ia imam, makmum, atau pun munfarid (sholat sendiri). Barangsiapa yang tak membacanya, maka sholatnya tak sah.

Nabi –Shallallahu ‘alaihi wa sallam– bersabda,

مَنْ صَلَّى صَلاَةً لَمْ يَقْرَأْ فِيْهَا بِأُمِّ الْقُرْآنِ فَهِيَ خِدَاجٌ ثَلاَثًا غَيْرُ تَمَامٍ فَقِيْلَ لِأَبِيْ هُرَيْرَةَ: إِنَّا نَكُوْنُ وَرَاءَ اْلإِمَامِ فَقَالَ: اِقْرَأْ بِهَا فِيْ نَفْسِكَ فَإِنِّيْ سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ: قَالَ اللهُ تَعَالَى: قَسَّمْتُ الصَّلاَةَ بَيْنِيْ وَبَيْنَ عَبْدِيْ نِصْفَيْنِ وَلِعَبْدِيْ مَا سَأَلَ

“Barangsiapa yang melakukan sholat, sedang ia tak membaca Ummul Qur’an (Al-Fatihah) di dalamnya, maka sholatnya kurang (3X), tidak sempurna”.

Abu Hurairah ditanya, “Bagaimana kalau kami di belakang imam”.

Beliau berkata, “Bacalah pada dirimu (yakni, secara sir ‘pelan’), karena sungguh aku telah mendengar Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda, “Allah -Ta’ala- berfirman, “Aku telah membagi Sholat (yakni, Al-Fatihah) antara Aku dengan hamba-Ku setengah, dan hamba-Ku akan mendapatkan sesuatu yang ia minta”.

[HR. Muslim (395), Abu Dawud (821), At-Tirmidziy (2953), An-Nasa’iy (909), dan Ibnu Majah (838)]

Abu Zakariya An-Nawawiy -rahimahullah- berkata,

“Al-Fatihah dinamai sholat, karena sholat tak sah, kecuali bersama Al-Fatihah”. [Lihat Syarh Shohih Muslim (2/127)]

Inilah beberapa diantara keutamaan Al-Fatihah, kami sajikan bagi para khotib, da’i, penuntut ilmu, dan seluruh kaum muslimin agar mereka tahu dan mengamalkan hadits-hadits shohih ini, dan menyebarkannya, tanpa berpegang lagi dengan hadits-hadits lemah dan palsu tentang fadhilah Al-Fatihah.

…………………………………..

NB : 

  1. Artikel ini telah kami edit ulang 1 Robi’ul Awwal 1441 H = 30 Okt 2019 M
  1. Artikel ini telah tampil dalam Buletin At-Tauhid (edisi 86), terbitan Pustaka Ibnu Abbas Gowa.

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Tulis komentar

Logged in as admin. Log out »




Tulisan lainnya

jannatul-firdaus.net @2018

Sekeping Nasihat yang Mengubah Haluan Hidup Seorang Pemuda

Bagikan…

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Sekeping Nasihat yang Mengubah Haluan Hidup Seorang Pemuda

  • Oleh : Ustadz Abdul Qodir Abu Fa’izah, Lc. hafizhahullah
  • [Pembina Ponpes Al-Ihsan Gowa]

Hati manusia selalu membutuhkan nasihat. Karena hati itu ibarat tanah yang tandus; ia akan kering tanpa nasihat. Nah, untuk menghidupkannya, maka ia memerlukan siraman nasihat yang berisi arahan dan peringatan yang membuahkan kebaikan bagi pemiliknya.

Lantaran itu, setiap muslim –siapapun orangnya- hendaknya selalu memberi nasihat kepada orang lain yang membutuhkannya. Boleh jadi sekeping dan sepotong nasihat, menjadi sebab perubahan bagi orang lain dari keburukan dan kelalaian menuju kepada kebaikan dan ketaatan kepada Allah –azza wa jalla-.

Berapa banyak orang-orang yang dahulunya dikenal sebagai orang fasik dan buruk, tapi ia berubah setelah mendapatkan nasihat dari seseorang yang prihatin kepadanya.

Disana, ada sebuah kisah indah nan menarik tentang seorang pemuda yang malas belajar ilmu agama dan kerjanya hanya menghabiskan waktunya untuk bermain bola. Namun setelah ia mendapatkan nasihat dari seorang alim, haluan hidupnya berubah total dari keadaan sebelumnya.

Anak muda itu di kemudian hari menjadi seorang ulama di negerinya pada masa hidupnya. Beliau adalah Al-Imam Al-Hafizh Abu Ja’far Muhammad bin ‘Auf bin Sufyan Ath-Tho’iy Al-Himshiy, seorang perawi hadits yang tsiqoh.

Al-Khollal –rahimahullah- berkata,

“هو إمام حافظ في زمانه معروف بالتقدم في العلم والمعرفة.” اهـ من تهذيب التهذيب (9/ 384)

“Dia (Muhammad bin ‘Auf Ath-Tho’iy) adalah seorang imam hafizh (penghafal hadits) di zamannya; dikenal tentang keterdepanannya dalam ilmu dan pengetahuan.” [Lihat Tahdzib At-Tahdzib (9/384), karya Ibnu Hajar]

Sekarang ada baiknya kita kisahkan cerita hidup beliau dan awal perubahan haluan hidup beliau, sehingga menjadi seorang ulama besar dan hafizh (penghafal hadits) yang dikenal ke-tsiqoh-annya, sekaligus ahli tajwid.

Al-Imam Al-Hafizh Abu Abdillah Adz-Dzhabiy –rahimahullah- membawakan kisah beliau di dalam Siyar A’lam An-Nubala’ (12/614-615) :

Muhammad bin ‘Auf -rahimahullah- berkata,

كُنْتُ أَلعب فِي الكَنِيْسَة بِالكرَة وَأَنَا حَدَّث، فَدَخَلتِ الكرَة، فَوَقَعت قرب المُعَافَى بن عِمْرَانَ الحِمْصِيّ، فَدَخَلت لأَخذهَا، فَقَالَ: ابْنُ مَنْ أَنْتَ؟

قُلْتُ: ابْن عَوْف بن سُفْيَان.

قَالَ: أَمَا إِنَّ أَبَاك كَانَ مِنْ إِخْوَاننَا، فَكَانَ___مِمَّنْ يَكْتُب مَعَنَا الحَدِيْث وَالعِلْم، وَالَّذِي كَانَ يُشْبِهُك أَنْ تتبع مَا كَانَ عَلَيْهِ وَالِدك.

فَصِرْتُ إِلَى أُمِّي، فَأَخبرتهَا، فَقَالَتْ: صدق، هُوَ صَدِيْق لأَبيك.

فَأَلبستَنِي ثوبَا وَإِزَاراً، ثُمَّ جِئْت إِلَى المعَافَى، وَمَعِي محبرَة وَورق، فَقَالَ لِي: اكْتُبْ: حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيْلُ بنُ عَيَّاشٍ، عَنْ عبد رَبّهُ بنُ سُلَيْمَانَ، قَالَ: كتبت لِي أُمّ الدَّرْدَاء فِي لَوْحِي: اطلبُوا العِلْم صِغَاراً، تَعْمَلُوا بِهِ كِبَاراً، فَإِنَّ لِكُلِّ حَاصد مَا زرع.” اهـ من سير أعلام النبلاء ط الرسالة (12/ 614_615)

“Dahulu aku pernah bermain bola di sebuah gereja, sedangkan (waktu itu) aku masih muda. Kemudian bola itu pun masuk (ke sebuah majelis ilmu), lalu terjatuh di dekat Al-Mu’afa bin ‘Imron Al-Himshiy (seorang ulama hadits dari Himsh) .

Kemudian aku pun masuk mengambilnya. Beliau (Al-Mu’afa bin ‘Imron) bertanya, “Anak siapakah engkau?”

Aku (Muhammad bin ‘Auf) katakan, “Anaknya ‘Auf bin Sufyan.”

Beliau (Al-Mu’afa bin ‘Imron) berkata, “Ingatlah, sungguh ayahmu dahulu termasuk kawan-kawan kami dari kalangan orang-orang yang menulis hadits dan ilmu bersama kami. Nah, perkara yang pantas bagimu adalah engkau mengikuti jejak ayahmu.”

Akhirnya, aku pun segera menuju ibuku, seraya mengabari beliau (tentang nasihat Al-Mu’afa).

Ibuku berkata, “Beliau (Al-Mu’afa) telah benar. Beliau memang sahabat ayahmu.”

Kemudian ibuku mengenakan pakaian dan sarung kepadaku, lalu aku datang kepada Al-Mu’afa, sedang bersamaku pena dan kertas.

Beliau (Al-Mu’afa) berkata kepadaku, “Tulislah : ‘Telah menceritakan kepadaku Isma’il bin ‘Ayyasy dari Abdu Robbih bin Sulaiman, ia berkata, ‘Ummud Darda’ pernah menuliskan untukku di sebuah papan : “ 

“اطلبُوا العِلْم صِغَاراً، تَعْمَلُوا بِهِ كِبَاراً، فَإِنَّ لِكُلِّ حَاصد مَا زرع

“Carilah ilmu agama semasa kecil, niscaya engkau akan mampu beramal dengan ilmu semasa tua. Karena, setiap orang yang memanen akan memperoleh apa yang ia dahulu tanam.”

Subhanallah, sebuah nasihat ringkas yang tertanam kuat di hati dan pikiran Muhammad bin ‘Auf Ath-Tho’iy –rahimahullah- semasa muda; nasihat yang mengubah haluan hidup yang hanya gemar bermain bola, selanjutnya menjadi pemacu semangat beliau untuk belajar ilmu agama kepada ulama-ulama di masa beliau, sampai beliau menjadi salah satu di antara deretan perawi hadits yang akan abadi nama dan sejarahnya sepanjang masa sampai kiamat tegak, insya Allah.

Di antara murid-murid beliau yang terkenal adalah Al-Imam Abu Dawud As-Sijistaniy (Penulis Sunan Abi Dawud), Abu Zur’ah Ar-Roziy, Abu Hatim Ar-Roziy, An-Nasa’iy (dalam Musnad Ali), Abu Zur’ah Ad-Dimasyqiy, Ibnu Abi Dawud, dan Ibnush Sho’id, Ibnu Abi ‘Ashim Asy-Syaibaniy, Abdullah bin Ahmad bin Hanbal, Muhammad bin Ishaq Ash-Shoghoniy, dan lain-lainnya.  

Pelajaran & Ibroh dari Kisah ini :

1). Nasihat adalah perkara penting dalam kehidupan bermasyarakat.

2). Dengan nasihat, terbangun sebuah bangsa yang bermartabat.

3). Kehidupan setiap orang bisa berubah dari keburukan kepada kebaikan. Karena itu, jangan pernah kita berputus asa dalam mengusahakan kebaikan bagi saudara dan kawan kita.

4). Sekeping nasihat amat berharga bagi seorang hamba dalam membentuk karakter dan haluan hidupnya pada masa depan.

5). Terkadang hidayah itu datang dari arah yang tak disangka. Karena itu, jadilah penyebab terbukanya hidayah bagi orang lain melalui arahan-arahan dan bimbinganmu.

6). Pentingnya orang tua membantu dan mengarahkan anaknya kepada kebaikan saat muncul pada diri anak kecenderungan kepada kebaikan serta selalu mendoakannya.

7). Keutamaan dan pentingnya seorang anak diingatkan tentang jejak pendahulu dan orang tuanya dalam kebaikan.

—————————————————————————–

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Tulisan lainnya

jannatul-firdaus.net @2018

Abu Dawud Membeli Surga dengan Satu Dirham

Bagikan…

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Abu Dawud Membeli Surga dengan Satu Dirham

  • Oleh : Ustadz Abdul Qodir Abu Fa’izah, Lc.  hafizhahullah
  • (Pengasuh Ponpes Al-Ihsan Gowa)

Di dalam sebuah status FB, seorang kawan mengunggah sebuah video ringkas ceramah Ustadz Dzulqarnain Muhammad Sunusi _hafizhahullah_ berisi kisah Imam Abu Dawud As-Sijistaniy yang mengamalkan sebuah sunnah berupa doa-mendoakan antara orang yang bersin dengan orang yang mendengarnya bersin seraya ia ucapkan tahmid ‘Alhamdulillah’ usai bersih. Setelah itu orang yang mendengarnya menjawab doanya, lalu yang bersih mendoakan juga suadaranya yang telah mendoakannya.

Kisah ini amat menarik bagi kami karena di dalamnya tergambar semangat Abu Dawud dalam menghidupkan sebuah sunnah Nabi –shollallohu alaihi wa sallam– yang terkadang dilalaikan dan diremehkan oleh sebagian kaum muslimin.

Karena kisah ini amat berharga menurut kami, dan pembaca juga penting untuk menelusuri kisah yang penuh ibroh ‘pelajaran’ ini, maka kami berusaha mencarinya di dalam kitab-kitab karya Al-Hafizh Ibnu Abdil Barr Al-Andalusiy. Namun, hasilnya nihil. Yah, mungkin kitab-kitab beliau di sisi kami belum semuanya kami miliki.

Namun, pembaca jangan bersedih dulu. Karena, kisah ini –alhamdulillah-, telah dinukilkan oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqolaniy dalam “Fath Al-Bari”.

Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqolaniy _rahimahullah_ berkata,

وَقد أخرج بن عَبْدِ الْبَرِّ بِسَنَدٍ جَيِّدٍ عَنْ أَبِي دَاوُدَ صَاحب “السّنَن” :

أَنه كَانَ فِي سَفِينَةٍ فَسَمِعَ عَاطِسًا عَلَى الشَّطِّ حَمِدَ فَاكْتَرَى قَارِبًا بِدِرْهَمٍ حَتَّى جَاءَ إِلَى الْعَاطِسِ فَشَمَّتَهُ ثُمَّ رَجَعَ فَسُئِلَ عَنْ ذَلِكَ فَقَالَ لَعَلَّهُ يَكُونُ مُجَابَ الدَّعْوَةِ فَلَمَّا رَقَدُوا سَمِعُوا قَائِلًا يَقُولُ يَا أَهْلَ____السَّفِينَةِ إِنَّ أَبَا دَاوُدَ اشْتَرَى الْجَنَّةَ مِنَ اللَّهِ بِدِرْهَمٍ.” اهـ lk فتح الباري لابن حجر (10/ 610_611)

“Sungguh Ibnu Abdul telah meriwayatkan dengan sanad-nya dari Abu Dawud, Penulis Kitab Sunan (yakni, Sunan Abi Dawud) :

“Dahulu Abu Dawud berada di atas sebuah perahu, lalu beliau mendengarkan orang yang bersin di pantai, sedang orang yang bersin itu memuji Allah (mengucapkan, “Alhamdulillah”). Kemudian Abu Dawud pun menyewa sebuah sampan dengan satu dirham sehingga beliau datang kepada orang yang bersin tersebut seraya men-tasymit-nya (yakni, mengucapkan doa, “Yarhamukallah”).

Kemudian Abu Dawud kembali (ke perahu besar yang beliau tumpangi sebelumnya). Lalu beliau ditanya tentang hal itu. Beliau katakan, “Bisa jadi orang itu dikabulkan doanya.”

Tatkala mereka (semua penumpang perahu) tertidur, maka mereka semuanya mendengarkan seseorang yang berkata, “Wahai para penumpang perahu, sesungguhnya Abu Dawud telah membeli surga dari Allah dengan satu dirham.” [Fath Al-Bari Syarh Shohih Al-Bukhoriy (10/610-611)]

Di dalam kisah ini, diceritakan bahwa Imam Abu Dawud As-Sijistaniy ‘Penulis Kitab Sunan Abi Dawud’ pernah melakukan sebuah perjalanan melintasi lautan dengan sebuah perahu besar.

Ketika perahu yang beliau tumpangi mulai berangkat dan meninggalkan pantai, maka tiba-tiba saja terdengar oleh beliau seorang yang bersin seraya mengucapkan, “Alhamdulillah” di pantai.

Saat itu, beliau ingin mendoakan orang itu dengan kalimat,

(يَرْحَمُكَ اللَّهُ)

Namun, beliau berpikir bahwa jika beliau doakan dari kejauhan di atas perahu, maka orang bersin itu tidak akan mendoakannya dengan doa yang disyariatkan untuk diucapkan oleh orang bersin kepada saudaranya berupa doa, “Yarhamukallah”.

Demi mendapatkan doa balasan dari saudaranya yang bersin tersebut, maka Abu Dawud meminta izin kepada nakhoda untuk turun sejenak dari perahu yang ditumpanginya, lalu menyewa sebuah perahu kecil yang kita kenal dengan istilah sampan dengan harga sewa satu dirham.

 

Akhirnya, Abu Dawud menumpangi sampan itu menuju pantai sekadar untuk mendoakan saudaranya (dengan doa, “Yarhamukallah”), dengan harapan saudaranya yang bersin balik mendoakannya (dengan doa, “Tahdikumullohu wa yuslihu baalakum.”

Lalu kenapa beliau begitu semangat ke pantai hanya untuk mendoakan orang yang bersin itu?

Abu Dawud jelaskan hal itu kepada semua penumpang perahu besar yang bersamanya bahwa ia lakukan itu semuanya karena besar harapannya doa orang itu akan Allah kabulkan sehingga Allah akan selalu memberinya petunjuk dan memperbaiki keadaan Imam Abu Dawud _rahimahullah_ sebagai makna yang terkandung dalam doa balasan (“Yahdikumullohu wa yushlihu baalakum”) yang diucapkan oleh orang bersin.

Akhirnya, para penumpang mengerti tujuan Imam Abu Dawud dalam melakukan semua itu dengan susah payah.

Kemudian perahu besar mulai mengarungi lautan yang luas. Di tengah perjalanan, para penumpang mulai beristirahat, termasuk Abu Dawud. Ketika mereka terbangun, tiba-tiba mereka mendengarkan suara keras entah dari mana datangnya.

Abu Dawud dan para penumpang lainnya mendengar suara itu berkata, “Wahai para penumpang kapal, sesungguhnya Abu Dawud telah membeli surga dari Allah dengan satu dirham.”

Para pembaca yang budiman, telah datang dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhoriy dalam Shohih-nya dari Abu Huroiroh _radhiyallahu anhu_, dari Nabi _shollallohu alaihi wa sallam_, beliau bersabda,

“إِذَا عَطَسَ أَحَدُكُمْ فَلْيَقُلْ : (الحَمْدُ لِلَّهِ)، وَلْيَقُلْ لَهُ أَخُوهُ أَوْ صَاحِبُهُ : (يَرْحَمُكَ اللَّهُ)،

فَإِذَا قَالَ لَهُ : (يَرْحَمُكَ اللَّهُ)، فَلْيَقُلْ : (يَهْدِيكُمُ اللَّهُ وَيُصْلِحُ بَالَكُمْ).” أخرجه البخاري في صحيحه (8/ 49) (رقم : 6224)

“Jika seorang di antara kalian bersin, maka hendaknya ia ucapkan (doa),

(الحَمْدُ لِلَّهِ)

“Alhamdulillah (artinya, “Segala puji bagi Allah.”)”.

Hendaknya saudara atau kawannya mengucapkan (doa),

(يَرْحَمُكَ اللَّهُ)،

“Yarhamukalloh (artinya : “Semoga Allah merahmatimu.”)”.

Kemudian hendaknya yang bersin mengucapkan (doa balasan),

(يَهْدِيكُمُ اللَّهُ وَيُصْلِحُ بَالَكُمْ)

“Yadikumullohu wa yushlihu baalakum.(artinya : “Semoga Allah memberimu petunjuk dan memperbaiki keadaanmu.”)”. [HR. Al-Bukhoriy dalam Shohih-nya (8/49) (no. 6224)]

Inilah amalan syar’iy yang diamalkan oleh Abu Dawud dan saudaranya yang bersin di pantai berupa syariat saling mendoakan saat ada yang bersin sambil mengucapkan tahmid (“Alhamdulillah”).

 

Pelajaran yang Terpeting dari Kisah Ini :

[1] Di dalam kisah ini, tergambar semangat para ulama salaf dalam menghidupkan sunnah, sekecil apapun sunnah itu di mata manusia.

[2] Para salaf adalah generasi terbaik dalam mengamalkan dan menerapkan sunnah Nabi _shollallohu alaihi wa sallam_.

[3] Demi meraih surga, perlu adanya pengorbanan dan keikhlasan dalam meraihnya.

[4] Jalan-jalan kebaikan dalam agama yang mengantarkan ke surga amat banyak jalannya.

[5] Sekecil apapun kebaikan yang akan kita lakukan, maka jangan pernah meremehkannya karena terkadang amalan yang kecil dan remeh menurut kita, tapi ternyata penentu bagi nasig kita di akhirat.

[6] Di dalam kisah ini, terdapat metode pendidikan yang jitu bagi umat, pendidikan melalui perbuatan dan pemberian contoh agar manusia berteladan kepadanya dalam kebaikan.

[7] Kasih sayang antara seorang muslim dengan muslim yang lainnya dapat terwujud melalui kebiasaan saling mendoakan antara satu dengan yang lainnya.

[8] Doa seorang muslim terkadang Allah kabulkan secara langsung. Karena itu, hendaknya seorang jangan meremehkan urusan doa ini. Biasakanlah lisan kita mendoakan orang lain agar diberi hidayah, rahmat keberkahan, dan kebaikan.

[9] Ilmu agama adalah pembukan segala kebaikan. Karena, tidak mungkin dua orang dalam kisah di atas akan saling mendoakan dalam momen bersin itu, melainkan pasti keduanya telah mengenal sunnah Nabi _shollallohu alaihi wa sallam_ dalam perkara tersebut berupa dzikir dan doa saat bersin atau mendengar orang lain bersin.

وصلى الله على نبينا وآله وصحبه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين

__________

Gowa, 15 Jumadal Akhiroh 1442 H.

—————————————————————————–

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Tulisan lainnya

jannatul-firdaus.net @2018

Banyak Dosa Tapi Masuk Surga. Bagaimana bisa?

Bagikan…

Banyak dosa tapi masuk surga.
Bagaimana bisa ya?

Artboard 0
Artboard 1
Artboard 2
Artboard 3
Artboard 4
Artboard 5
Artboard 6
Artboard 8
Artboard 9
Artboard 10

Sebelumnya
Selanjutnya

Kisah wanita pezina yang masuk surga.

Ada seorang wanita dari Bani Israil. Ia tidak punya kebaikan sama sekali, ia malah dikenal sebagai pezinah/pelacur. Ia tidak pernah punya kebaikan. 

Kisah ini bermula ketika wanita tersebut selesai minum, lalu kemudian ia turun dari sumber air. Pada saat yang bersamaan ia bertemu dengan seekor anjing. Wanita tersebut melihat anjing itu menjulurkan lidahnya, menandakan bahwa ia sedang sangat kehausan. Tumbuh rasa kasihan dan iba dalam hatinya.

Tanpa berpikir panjang, ia melepas sepatunya dan kembali lagi ke sumber air, tempat di mana ia tadi menghilangkan dahaganya.  Ia membawakan air untuk anjing yang kehausan tersebut. Karena hal sederhana inilah, wanita yang bahkan tidak memiliki amal ibadah dan pernah berzina sekalipun bisa masuk surga dan Allah telah mengampuni dosanya.

“Allah lihat perbuatannya kata Rasulullah, Allah ampuni segala dosanya dan masuk surga”

Nasehat: Oleh karena itu marilah kita berusaha menjaga amal sholih kita secara rutin. Bermacam amal sholih tapi rutin biarpun sederhana, karena kita tidak tahu di mana Allah sembunyikan ridho di dalam amal sholih tersebut. Yang menjadi acuan untuk masuk surga bukanlah banyak atau sedikit amal ibadah yang telah dikerjakan.

Akan tetapi lebih kepada apakah dalam melakukan ibadah tersebut ada rasa tulus dan ikhlas sehingga ridho Allah SWT bisa didapatkan.

Hadits: Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu, bahwa Rasullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda, “Seorang wanita pezina diampuni oleh Allah. Dia melewati seekor anjing yang menjulurkan lidahnya di sisi sebuah sumur. Anjing ini hampir saja mati kehausan. Si wanita pelacur tersebut lalu melepas sepatunya, dan dengan penutup kepalanya. Lalu dia mengambilkan air untuk anjing tersebut. Dengan sebab perbuatannya ini, dia mendapatkan ampunan dari Allah” (HR. Al Bukhari no.3321, Muslim no.2245).

Tulisan lainnya

jannatul-firdaus.net @2021

Kebijakan

Kontak

Maps