“Dan dirikanlah shalat itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bagian permulaan malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang berdzikir.” [Hûd: 114]
“Apabila orang-orang, yang beriman kepada ayat-ayat Kami, datang kepadamu, katakanlah, ‘Salâmun ‘alaikum ‘keselamatan atas kalian’.’ Rabb kalian telah menetapkan kasih sayang atas diri-Nya, (yaitu) bahwa barangsiapa di antara kalian yang berbuat kejahatan lantaran kejahilan, kemudian bertaubat setelah mengerjakan hal itu dan mengadakan perbaikan, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” [Al-An’âm: 54]
“Orang-orang yang beriman kepada Allah dan para rasul-Nya serta tidak membeda-bedakan seorang pun di antara mereka (para rasul), kelak Allah akan memberi pahala kepada mereka. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” [An-Nisâ`: 152]
Allah juga menjelaskan ucapan sekelompok jin, yang telah beriman kepada Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana dalam firman-Nya,
“Wahai kaum kami, terimalah (seruan) orang yang menyeru kepada Allah, dan berimanlah kepada-Nya. Niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosa kalian dan melepaskan kalian dari adzab yang pedih.” [Al-Ahqâf: 31]
Makna keimanan dalam dua ayat di atas adalah pemurnian ibadah hanya kepada Allah tanpa menodai ibadah itu dengan kesyirikan.
Kelima Belas: Mengikuti dan Mencontoh Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam
“Katakanlah, ‘Jika kalian (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah saya. Niscaya Allah mengasihi kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian.’ Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” [Âli ‘Imrân: 31]
Keenam Belas: Beradab kepada Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam dan Sunnah Beliau
“Sesungguhnya orang-orang yang merendahkan suara mereka di sisi Rasulullah, mereka itulah orang-orang yang hati mereka telah Allah uji untuk bertakwa. Bagi mereka, ampunan dan pahala yang besar.”[Al-Hujurât: 3]
Ketujuh Belas: Bertakwa kepada Allah dengan Cara Menjalankan Segala Perintah dan Meninggalkan Segala Larangan-Nya
“Wahai orang-orang yang beriman, jika kalian bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberi furqan kepada kalian, menjauhkan kalian dari kesalahan-kesalahan kalian, dan mengampuni (dosa-dosa) kalian. Dan Allah Maha mempunyai karunia yang besar.” [Al-Anfâl: 29]
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kalian kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang lurus nan baik. Niscaya Allah memperbaiki amalan-amalan kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian, dan barangsiapa yang menaati Allah dan Rasul-Nya, sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar.” [Al-Ahzâb: 70-71]
Kesembilan Belas: Takut kepada Allah ‘Azza Wa Jalla
“Sesungguhnya kamu hanya memberi peringatan kepada orang-orang yang mau mengikuti peringatan dan yang takut kepada Yang Maha Pemurah, walaupun dia tidak melihat-Nya. Maka, berilah kabar gembira kepada mereka dengan ampunan dan pahala yang mulia.” [Yâsîn: 11]
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang, bila disebut nama Allah, gemetarlah hati-hati mereka, dan apabila ayat-ayat-Nya dibacakan, bertambahlah iman mereka (karena hal itu), dan hanya kepada Rabb mereka, mereka bertawakkal. (Yaitu), orang-orang yang mendirikan shalat dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka. Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. Mereka akan memperoleh ketinggian beberapa derajat, di sisi Rabb mereka, serta ampunan dan rezeki (nikmat) yang mulia.” [Al-Anfâl: 2-4]
Ayat-ayat di atas menyebut bahwa berdzikir, rasa takut, bertawakkal, mendirikan shalat, dan berinfak adalah sebab pengampunan dosa.
Kedua Puluh Satu: Bersyukur atas Segala Nikmat Allah Subhânahû Wa Ta’âlâ
“Dan jika kalian menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kalian tak dapat membilangnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” [An-Nahl: 18]
Demikian beberapa sebab pokok dari berbagai sebab pengampunan. Selain itu, banyak amalan yang merupakan sebab pengampunan yang belum sempat dijelaskan di sini, yakni menyempurnakan wudhu, mengerjakan shalat fardhu, shalat Rawatib, dan shalat Lail, berpuasa sunnah, berjihad, berakhlak mulia, berdzikir saat mendengar adzan, mengamini bacaan Al-Fatihah, menunaikan dzikir setelah shalat, berzakat, mengerjakan haji mabrur, membangun masjid, mengajarkan kebaikan kepada manusia, dan sebagainya.[1]
[1] Silakan membaca Al-Bihâr Az-Zakhirah fî Asbâb Al-Maghfirah. Penulis kitab itu menyebut 287 sebab pengampunan dosa beserta dalil-dalilnya.
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Sebab-Sebab Pengampunan #1
Oleh: Ustadz Dzulqarnain Muhammad Sunusi hafizhahullah
Di antara hal terpenting bagi seorang hamba guna menggapai pengampunan Allah Subhânahû Wa Ta’âlâ adalah mengetahui berbagai amalan dan tuntunan yang menjadi sebab gugurnya dosa dan datangnya pengampunan.
“Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang jujur, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu’, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang menjaga kehormatannya, serta laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan ampunan dan pahala yang besar untuk mereka.” [Al-Ahzâb: 35]
“Dan sesungguhnya Aku Maha Pengampun bagi orang yang bertaubat, beriman, beramal shalih, kemudian tetap di atas jalan petunjuk.” [Thâhâ: 82]
Dua ayat di atas menjelaskan tiga belas amalan yang, siapa saja yang mengerjakan dan bersifat dengan amalan tersebut, dijanjikan pengampunan untuknya.
Pertama: Keislaman
Berislam adalah berserah diri kepada Allah dengan cara menunaikan ibadah hanya untuk-Nya, mengikatkan diri melalui ketaatan kepada-Nya, serta berlepas diri terhadap segala jenis kesyirikan dan pelakunya.
Barangsiapa yang menegakkan makna keislaman ini, dalam bentuk melaksanakan rukun-rukun Islam dan berbagai hal yang menyempurnakan rukun-rukun tersebut, sungguh pengampunan dan pahala yang besar telah terjamin untuknya sebagaimana firman Allah ‘Azza Wa Jalla dalam surah Al-Ahzâb tadi.
“Siapakah yang perkataannya lebih baik daripada orang yang menyeru kepada Allah, beramal shalih, dan berkata, ‘Sesungguhnya saya termasuk ke dalam golongan orang-orang yang berserah diri.’?” [Fushshilat: 33]
Pedihnya siksaan pada hari kiamat menjadikan orang-orang kafir berangan-angan untuk menjadi seorang muslim yang aman terhadap siksaan.
“(Apakah kamu, wahai orang musyrik, yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadah pada waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (adzab) akhirat dan mengharap rahmat Rabb-nya? Katakanlah, ‘Adakah sama antara orang-orang yang mengetahui dan orang-orang yang tidak mengetahui?’ Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.” [Az-Zumar: 9]
Istri-istri Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam yang memiliki sifat ini telah diberi jaminan oleh Allah ‘Azza Wa Jalla berupa pahala berdasarkan firman-Nya,
“Dan barangsiapa di antara kalian (istri-istri nabi) yang qunut kepada Allah dan Rasul-Nya dan beramal shalih, niscaya Kami memberi pahala dua kali lipat kepadanya dan Kami menyediakan rezeki yang mulia baginya.” [Al-Ahzâb: 31]
Kelima: Kejujuran
Kejujuran adalah benar dalam ucapan dan perbuatan, bersungguh-sungguh dalam hal menjalankan perintah dan menjauhi larangan.
Dalam kisah tentang tiga orang shahabat yang tidak menghadiri perang Tabuk, Allah Subhânahû Wa Ta’âlâ menerima taubat mereka lantaran kejujuran mereka. Kemudian, kejujuran mereka ini menjadi pelajaran bagi orang-orang yang beriman, yang hidup pada masa setelah mereka, sebagaimana firman-Nya,
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kalian bersama orang-orang yang jujur.” [At-Taubah: 119]
Keenam: Kesabaran
Kesabaran, dengan berbagai jenisnya –sabar dalam hal menjalankan ketaatan, sabar dalam hal meninggalkan larangan, dan sabar dalam hal menerima ujian-, adalah salah satu sebab penggugur dosa.
“Kecuali orang-orang yang bersabar dan mengerjakan amal-amal shalih, mereka itu memperoleh ampunan dan pahala yang besar.” [Hûd: 11]
Ketujuh: Khusyu’
Khusyu’ adalah ketenangan, tuma’ninah, dan hal merendahkan diri yang muncul karena adanya rasa takut kepada Allah Subhânahû Wa Ta’âlâ dan karena merasa diawasi oleh Allah Subhânahû Wa Ta’âlâ.
Ini adalah sifat para nabi, yang senantiasa mendapat pengampunan.
“Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan baik, dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu’ kepada Kami.” [Al-Anbiyâ`: 90]
Kedelapan: Bersedekah
Allah menyatakan bahwa diri-Nya Maha Pengampun kepada orang-orang yang bersedekah melalui firman-Nya,
“Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah, mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka secara diam-diam dan terang-terangan, mereka mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugikan. (Hal ini) agar (Allah) menyempurnakan pahala mereka kepada mereka dan menambah karunia-Nya kepada mereka. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.” [Fâthir: 29-30]
“Jika kamu meminjamkan pinjaman yang baik kepada Allah, niscaya Allah melipatgandakan balasan hal itu kepada kalian dan mengampuni kalian. Dan Allah Maha Pembalas Jasa lagi Maha Penyantun.”[At-Taghâbûn: 17]
Kesembilan: Berpuasa
Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Barangsiapa yang memberi jaminan bagiku untuk menjaga sesuatu yang berada di antara kedua jenggotnya dan di antara kedua pahanya, saya memberi jaminan surga untuknya.”[2]
Bersambung…
[1] Diriwayatkan oleh Al-Bukhâry dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallâhu ‘anhu.
[2] Diriwayatkan oleh Al-Bukhâry dan selainnya dari Sahl bin Sa’d radhiyallâhu ‘anhu.
Telah datang sejumlah nash yang memerintahkan untuk menyimak dan mendengarkan khutbah Jumat, serta melarang untuk berbicara di saat khutbah Jumat berlangsung.
Terlepas dari perbedaan pendapat dan pandangan dari kalangan para ulama yang memahami larangan tersebut. Sebagian di antara mereka memandang bahwa larangan berbicara, hukumnya haram, dan sebagain lagi memandang larangan itu bermakna makruh.
Adapun sebagian jamaah memberikan isyarat di saat khutbah Jumat berlangsung, baik untuk menegur dan mendiamkan orang atau yang semisalnya, maka HUKUMNYA adalah BOLEH. Maksudnya, TIDAK DILARANG seseorang memberikan isyarat di saat khutbah Jumat berlangsung.
Telah datang sejumlah atsar dari sahabat Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- tentang BOLEHNYA memberikan isyarat di saat khutbah Jumat.
Di antaranya, atsar dari Ibnu Umar -radhiyallohu ‘anhuma-, dari Nafi’, beliau berkata,
“Bahwa dia melihat Ibnu Umar -radhiyallohu ‘anhuma- memberikan isyarat kepada seseorang di hari Jumat (agar orang itu diam), sedangkan imam berkhotbah.” [Atsar Riwayat Abdur Rozzaq Ash-Shon’aniy di dalam Al-Mushonnaf (no. 5429)]
Dari Nafi’, dari Ibnu Umar –radhiyallahu anhuma-, ia berkata,
“BahwaIbnu Umar melihat seseorang sedang berbicara sedangkan sedang imam berkhotbah dihari Jumat. Lantaran itu, beliau melemparnya dengan batu kerikil. Tatkala orang itu memandang kepadanya, maka beliau meletakkan tangannya di mulutnya (yakni, isyarat agar orang itu diam).” [Atsar Riwayat Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushonnaf (no. 5218)][2]
Berdasarkan atsar-atsar ini dan yang semakna dengannya, sebagian ulama menyatakan bolehnya memberikan isyarat di saat khutbah Jumat berlangsung, bahkan ada di antara mereka menukilkan ijma’ (kesepakatan para ulama) tentang bolehnya hal itu.
“ولا خلاف في جواز الإشارة إليه بين العلماء، إلا ما حكي عن طاوس وحده، ولا يصح، لأن الإشارة في الصلاة جائزة، ففي حال الخطبة أولى.”
“Tidak ada perselisihan dikalangan para ulama tentang bolehnya memberikan isyarat ( disaat khutbah Jumat), kecuali pendapat yang dihikayatkan dari Thowus, dan pendapat itu tidak benar.Karena,isyarat didalam shalat adalah boleh.[3] Nah, tentunyahal itu didalam khutbah lebih diperbolehkan lagi.” [Lihat Fathul Bari Syarh Shohih Al–Bukhariy (8/275), karya Ibnu Rajab]
“Jadi, tidak dilarang untuk memdiamkan orang yang berbicara dengan isyarat. Karena, Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- tidak mengingkari para sahabat ketika mereka memberikan isyarat kepada yang bertanya (di saat khutbah Jumat), “Kapankah hari kiamat?”
Bahkan boleh bagi seseorang untuk meletakkan tangannya di mulutnya sebagai isyarat untuk diam. Karena, isyarat di dalam shalat diperbolehkan. Nah, di saat khutbah tentunya hal itu lebih diperbolehkan lagi.”[4]
Wallahu a’lam.
✍️ Ditulis di Ponpes Al-Ihsan Gowa, pada tanggal 3 Jumadal Akhiroh 1443 H, bertepatan 7 Januari 2022 M.
————————-
Selesai diedit oleh Ustadz Abdul Qodir Abu Fa’izah Al-Bugisiy –hafizhahullah- pada hari Sabtu, 5 Jumadal Akhiroh 1443 H.
[1] Ma’had Subulus Salam adalah sebuah pondok pesantren yang dirintis oleh Ustadz Fadhly Abu Harun Al-Makassariy –hafizhahullah-. Ma’had ini pada awal perintisannya bernama “Ma’had As-Sunnah Samaya”. Namun, karena sesuatu dan lain hal, namanya berubah menjadi Ma’had Subulus Salam yang berada di Dusun Samaya, Desa, Romangloe, Kecamatan Bontomarannu, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan 92171.
Kaum Muslimin dan Muslimat, Jamaah shalat Id yang berbahagia!
Pada pagi hari yang berbahagia ini, kita semua berkumpul dengan suatu kegembiraan akan karunia dan rahmat Allah, menyaksikan suatu hari yang sangat agung, salah satu simbol Islam yang besar: Hari Idul Fitri.
“Bagi tiap-tiap umat, Kami telah menetapkan syariat tertentu yang mereka lakukan.” [Al-Hajj: 67]
Ibnu ‘Abbâs menafsirkan bahwa setiap umat dijadikan suatu Id untuknya. Demikianlah yang diriwayatkan oleh Ibnu Jarîr Ath-Thabary.
Ketika Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam mendatangi kota Madinah, penduduk Madinah memiliki dua hari yang mereka bergembira pada dua hari tersebut pada masa Jahiliyah. Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam pun bersabda,
“Sesungguhnya Allah telah mengganti kedua hari itu untuk kalian dengan dua hari yang lebih baik daripada keduanya: hari Idul Fitri dan hari An-Nahr (Idul Adha).” [Diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Dawud, dan An-Nasâ`iy]
Oleh karena itu, berbahagialah dengan nikmat hari Idul Fitri ini. Bersyukurlah kepada Allah atas segala karunia yang tidak mungkin kita jumlah dan atas berbagai nikmat yang tiada terhingga dan terbilang.
وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَتَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا
“Dan jika kalian menghitung nikmat Allah, niscaya kalian tidak akan mampu membilangnya.” [Ibrâhîm: 34]
Wahai Umat Islam,
Bersyukur akan nikmat Allah adalah suatu kewajiban yang merupakan lambang penghambaan dan mahligai ‘ubûdiyyah kepada Allah. Allah Ta’âlâ memerintah,
“Dan (ingatlah juga) tatkala Rabb kalian memaklumkan, ‘Sesungguhnya jika kalian bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepada kalian. Namun, jika kalian mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya adzab-Ku sangat pedih.’.” [Ibrâhîm: 7]
Siapa saja yang bersyukur akan nikmat Allah tidak perlu khawatir terhadap musibah dan siksaan karena Allah telah menjamin sebagaimana dalam firman-Nya,
“Mengapa Allah akan menyiksa kalian jika kalian bersyukur dan beriman? Dan Allah adalah Maha Mensyukuri lagi Maha Mengetahui.” [An-Nisâ`: 147]
Kaum muslimin dan muslimat,
Pada hari Idul Fitri yang bergelimang nikmat ini, marilah kita merenungi dan mengingat-ingat berbagai nikmat agung, yang dengannya Allah memuliakan kita, sebelum datang suatu hari saat segala nikmat Allah akan dipertanyakan. Allah Ta’âlâ mengingatkan,
ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ
“Kemudian, kalian pasti akan ditanyai pada hari (kiamat) tentang segala kenikmatan (di dunia).” [At-Takâtsur: 8]
Salah satu nikmat-nikmat itu adalah nikmat keislaman dan keimanan. Janganlah sekali-kali mencari pedoman dan tuntunan hidup dari selain Islam karena Allah telah menyempurnakan segala nikmat dalam syariat Islam ini,
“Pada hari ini, telah Kusempurnakan agama kalian untuk kalian, dan telah Ku-cukupkan nikmat-Ku kepada kalian, serta telah Ku-ridhai Islam sebagai agama kalian.” [Al-Mâ`idah: 3]
Pelajari dan renungilah keindahan Islam yang merupakan satu-satunya agama penyelamat di dunia dan di akhirat, serta janganlah sekali-kali mengharap pedoman dan solusi, kecuali dari syariat Islam,
“Barangsiapa yang mencari agama selain agama Islam, sekali-kali tidaklah (agama itu) akan diterima darinya, dan di akhirat dia tergolong sebagai orang-orang yang rugi.” [Âli ‘Imrân: 85]
Di antara nikmat Allah yang banyak dilalaikan oleh manusia adalah memurnikan ibadah hanya kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Nabi Yusuf ‘alaihis salâm mengingatkan,
“Dan aku mengikuti agama bapak-bapakku, yaitu Ibrahim, Ishaq, dan Ya’qub. Tiadalah kami (para Nabi) patut mempersekutukan sesuatu apapun dengan Allah. Yang demikian itu adalah dari karunia Allah kepada kami dan kepada manusia (seluruhnya); tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur (kepada-Nya).” [Yûsuf: 38]
Oleh karena itu, bersyukurlah kepada Allah dengan memurnikan segala ibadah hanya untuk-Nya,
بَلِ اللَّهَ فَاعْبُدْ وَكُنْ مِنَ الشَّاكِرِينَ
“Oleh karena itu, hendaklah hanya kepada Allah semata engkau menyembah, dan hendaklah engkau tergolong sebagai orang-orang yang bersyukur.”“ [Az-Zumar: 66]
Ketahuilah, bahwa dalam memurnikan ibadah kepada Allah, terdapat cahaya dalam kehidupan dan jaminan kebahagian di dunia dan akhirat sebagaimana yang Allah jelaskan dalam firman-Nya,
“Barangsiapa yang mengerjakan amal shalih, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, sesungguhnya Kami akan memberi kehidupan yang baik kepadanya dan sesungguhnya Kami akan membalas mereka dengan pahala yang lebih baik daripada apa-apa yang telah mereka kerjakan.” [An-Nahl: 97]
Ingatlah, hanya dalam pemurnian ibadah kepada Allah-lah, tercipta keamanan dan ketenangan hidup bagi orang-orang yang ingin terlepas dari belenggu makhluk dan syaithan. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,
“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezhaliman (syirik), mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” [Al-An’âm: 82]
Berdoalah hanya kepada Allah!
Mohonlah perlindungan kepada Allah saja!
Tuluskan nadzar dan penyembelihan hanya untuk Allah!
Berharaplah hanya kepada-Nya semata!
Gantungkanlah segala masalah dan gundah gulana kehidupan hanya kepada Allah Yang Mencukupi hamba-Nya,
“Katakanlah, ‘Sesungguhnya shalatku, ibadahku, serta hidup dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb alam semesta, tiada sekutu bagi-Nya. Demikian itulah yang diperintahkan kepadaku, dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah).”“ [Al-An’âm: 162-163]
Berhati-hatilah terhadap perbuatan kesyirikan. Kesyirikan adalah penghancur kenikmatan dan dosa terbesar yang akan mengakibatkan pelakunya kekal di dalam neraka. Allah Subhânahu mengingatkan,
“Sesungguhnya, barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, pasti Allah mengharamkan surga kepadanya, sedang tempatnya ialah neraka. Tidaklah ada seorang penolong pun bagi orang-orang zhalim itu.” [Al-Mâ`idah: 72]
Memalingkan ibadah kepada selain Allah adalah kehancuran terhadap seorang hamba. Allah menegaskan,
“Barangsiapa yang mempersekutukan sesuatu dengan Allah, ia seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan oleh angin ke tempat yang jauh.” [Al-Hajj: 31]
Bahkan, keberadaan kesyirikan di tengah manusia adalah ancaman terhadap sebuah negeri dan penduduknya menuju malapetaka dan kebinasaan. Allah mengingatkan,
“Dan mereka berkata, ‘Ar-Rahmân (Allah Yang Maha Pemurah) mengambil (mempunyai) anak.’ Sesungguhnya kalian telah mendatangkan suatu perkara yang sangat mungkar. Hampir-hampir langit pecah, karena ucapan itu, serta bumi terbelah dan gunung-gunung runtuh, sebab mereka menyerukan bahwa Ar-Rahmân mempunyai anak. Padahal, Ar-Rahmân tidaklah layak mengambil (mempunyai) anak.” [Maryam: 88-92]
Kaum Muslimin dan Muslimat, rahimani wa rahimakumullah!
Di antara nikmat Allah yang patut kita syukuri adalah sesuatu yang Allah jelaskan dalam firman-Nya,
“Dan ingatlah (wahai para Muhajirin) ketika kalian masih berjumlah sedikit lagi tertindas di muka bumi (Makkah). Kalian takut bila orang-orang (Makkah) akan menculik kalian maka Allah memberi kalian tempat menetap (Madinah), dan Dia menjadikan kalian kuat dengan pertolongan-Nya, serta Dia melimpahkan rezeki kepada kalian berupa yang baik-baik agar kalian bersyukur.” [Al-Anfâl: 26]
Oleh karena itu, Allah memerintah dengan mengingatkan nikmat-Nya itu dalam firman-Nya,
“Dan berpeganglah kalian semua kepada tali (agama) Allah, janganlah kalian bercerai-berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepada kalian ketika dahulu (pada masa Jahiliyah) kalian bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hati kalian, lalu menjadilah kalian orang-orang yang bersaudara karena nikmat Allah; juga kalian telah berada di tepi jurang neraka, tetapi Allah menyelamatkan kalian dari (neraka) itu. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada kalian agar kalian mendapat petunjuk.” [Âli ‘Imrân: 103]
Agama kita satu, Rabb yang kita sembah hanyalah satu , dan kiblat kita juga satu. Hindarilah segala bentuk perpecahan dan perselisihan, baik berupa kesukuan, kelompok, maupun persekutuan.
“Dan janganlah kalian tergolong sebagai orang-orang yang mempersekutukan Allah, yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa-apa yang ada pada golongan mereka.” [Ar-Rûm: 31-32]
Di antara nikmat Allah kepada manusia adalah adanya sebagian dari mereka yang menjaga sebagian yang lain. Allah Subhanahu mengingatkan,
“Seandainya Allah tidak menolak (keganasan) sebagian umat manusia terhadap sebagian yang lain, pasti rusaklah bumi ini, tetapi Allah mempunyai karunia (yang dicurahkan) atas alam semesta.” [Al-Baqarah: 251]
Ada dua tonggak pengaman di tengah manusia: pemerintah dan ulama.
Imam Sahl bin Abdillah At-Tastury berkata, “Manusia akan terus menerus berada di atas kebaikan selama mereka masih mengagungkan Sulthan dan Ulama. Tatkala mereka mengagungkan keduanya, Allah akan memperbaiki dunia dan akhirat mereka. Apabila mereka menghinakan keduanya, mereka telah merusak dunia dan akhirat mereka sendiri.” [Tafsîr Al-Qurthuby 5/260-261]
Oleh karena itu, hargailah pemimpin dan pemerintah kalian sebagaimana wejangan Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam,
“Barangsiapa yang memuliakan sulthan Allah di dunia, Allah akan memuliakannya pada hari kiamat. (Namun) barangsiapa yang menghinakan sulthan Allah di dunia, Allah akan menghinakannya pada hari kiamat.” [Diriwayatkan oleh Ahmad dan selainnya. Dihasankan oleh Syaikh Al-Albâny dalam Ash-Shahîhah]
Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,
“Barangsiapa yang membenci sesuatu (yang ada) pada pemimpinnya, hendaknya dia bersabar, karena siapa yang keluar terhadap sulthan sejengkal kemudian dia mati, matinya adalah mati jahiliyah.” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhâry dan Muslim dari Abdullah bin ‘Abbâs]
Bukanlah hal terlarang bila memberi nasihat kepada penguasa, tetapi bukan dengan cara ribut-ribut dan keonaran, bukan pula dengan cara berteriak-teriak di jalan dan menzhalimi manusia.
Kewajiban untuk memberi nasihat adalah terhadap orang yang berakal sesuai dengan etika dan ketentuannya. Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Barangsiapa yang menasihati penguasa, janganlah dia menampakkan (nasihat itu) secara terang-terangan, tetapi hendaknya dia mengambil tangan (penguasa tersebut) dan berduaan dengannya. Kalau (sang penguasa) menerima, itulah (yang diinginkan). Akan tetapi, jika (sang penguasa) menolak, dia telah menunaikan kewajibannya.” [Diriwayatkan oleh Ibnu Abi ‘Âshim, Al-Hâkim, dan Al-Baihaqy]
Terhadap pemimpin untuk berlaku lembut terhadap rakyatnya dan menjaga segala kebaikan dan kemashlahatan mereka. Rasulullah mengingatkan,
“Tidaklah seorang hamba diberi tanggung jawab oleh Allah dengan suatu tanggung jawab, kemudian dia tidak menjaganya secara tulus dan maksimal kecuali dia tidak akan mencium baunya sorga.” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhâry dan Muslim dari Ma’qil bin Yasar. Lafazh hadits adalah milik Al-Bukhâry]
Kaum muslimin dan muslimat,
Juga ketahuilah kedudukan para ulama sebagai lentera umat dan pembimbing mereka menuju kepada jalan yang lurus. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,
“Bertanyakanlah kalian kepada orang-orang yang berilmu, jika kalian tiada mengetahui.” [Al-Anbiyâ`: 7]
Rasulullah bersabda,
خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ القُرْآنَ وَعَلَّمَهُ
“Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur`an dan mengajarkan (Al-Qur`an).” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhâry dari Utsman bin Affan]
Keberadaan rumah tangga yang memberikan kesejukan antara satu dengan lainnya adalah suatu nikmat yang hendaknya dijaga. Hendaknya kepala rumah tangga tidak menelantarkan nikmat Allah dengan membiarkan ada kemungkaran di tengah rumah tangganya. Allah Subhânahu wa Ta’âlâ berfirman,
“Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” [At-Tahrîm: 6]
Kaum Muslimin dan Muslimat,
Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam mengingatkan kepada kita akan lima nikmat yang banyak dilalaikan. Beliau berpesan dalam sabdanya yang mulia,
“Manfaatkanlah segera lima perkara sebelum (datang) lima perkara: waktu mudamu sebelum (datang) waktu tuamu, kesehatanmu sebelum (datang) sakitmu, kekayaanmu sebelum (datang) kefakiranmu, waktu luangmu sebelum (datang) waktu sibukmu, dan kehidupanmu sebelum (datang) kematianmu.” [Diriwayatkan oleh Al-Hâkim dan selainnya dari Ibnu ‘Abbâs radhiyallâhu ‘anhumâ. Dishahihkan oleh Al-Albany rahimahullâh]
Wahai Para Pemuda dan Pemudi harapan umat,
Tataplah kehidupan untuk masa depan, jadilah orang yang paling bermanfaat bagi manusia, dan jadilah orang-orang yang berbekah di manapun kalian berada sebagaimana keberadaan yang Nabi Isa ‘alaihis salâm yang berkata,
وَجَعَلَنِي مُبَارَكًا أَيْنَ مَا كُنْتُ.
“Dan Dia menjadikanku sebagai orang yang diberkahi di mana saja aku berada.” [Maryam: 31]
Wahai Kaum Muslimat!
Penghormatan dan penjagaan Islam kepada kaum perempuan adalah suatu nikmat yang sangat agung. Tidak pernah tercatat, dalam sejarah umat manapun, bahwa ada yang melebihi syariat Islam dalam hal pengagungan kepada kaum perempuan. Oleh karena itu, suatu hal yang sangat mengherankan bahwa banyak kaum muslimat yang berkiblat kepada perempuan-perempuan kafir yang tidak pernah mengenal makna kehormatan. Allah telah memerintah,
“Wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang mukmin, ‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.’ Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah dikenal maka mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” [Al-Ahzâb: 59]
Kaum Muslimin dan Muslimat,
Pada hari kemarin kita dimuliakan dengan bulan Ramadhan. Tiada terasa waktu terus bergulir, dan hari ini kita telah meninggalkan Ramadhan. Itulah hari-hari kehidupan yang terus berjalan tanpa henti menuju suatu yang pasti: kehidupan akhirat, yang di hadapan Allah kita akan berdiri,
“Dan peliharalah diri kalian dari (adzab yang terjadi pada) hari yang, pada waktu itu, kalian semua dikembalikan kepada Allah. Kemudian masing-masing diri diberi balasan sempurna terhadap segala sesuatu yang telah mereka kerjakan, sedang sedikitpun mereka tidak dianiaya (dirugikan).” [Al-Baqarah: 281]
Perbaharuilah lembaran-lembaran kehidupan yang segala hasilnya akan kembali kepada kita juga,
“Barangsiapa yang mengerjakan amalan shalih, (pahalanya) untuk dirinya sendiri, sedangkan barangsiapa mengerjakan perbuatan jahat, (dosanya) untuk dirinya sendiri; dan sekali-kali tidaklah Rabb-mu menganiaya hamba-hamba-Nya.” [Fushshilat: 46]
Wahai Umat Islam,
Bulan Ramadhan telah meninggalkan kita. Siapa saja yang beribadah kepada Allah, menegakkan shalat, puasa, dan zakat, membaca Al-Qur’an, serta amalan kebaikan hanya di bulan Ramadhan, sesungguhnya Ramadhan telah berlalu. Namun, siapa saja yang menegakkan ibadah-ibadah tersebut karena Allah, sesungguhnya Allah Maha Hidup dan Maha Kekal, serta Allah mencintai hamba yang telah menyelesaikan suatu ibadah kemudian menyambung ibadah tersebut dengan ibadah yang lain. Allah memerintah kepada Nabi-Nya,
“Maka apabila engkau telah selesai (dari suatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) lain, dan hanya kepada Rabb-mulah hendaknya engkau berharap.” [Asy-Syarh: 7-8]
Hiasilah kehidupan dengan ibadah kepada Allah pada segala keadaan dan pada setiap waktu sebagaimana sabda Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam,
“Bertakwalah kepada Allah di manapun engkau berada, dan ikutilah kejelekan dengan kebaikan niscaya (kebaikan itu) menghapus (kejelekan), serta berinteraksilah dengan manusia dengan akhlak yang baik.” [Diriwayatkan oleh At-Tirmidzy dari Abu Dzarr]
Kaum muslimin dan muslimat!
Bersyukurlah kepada Allah akan nikmat ketenangan, keamanan, dan kecukupan.
Pada hari yang berbahagia ini, sejumlah kaum muslimin menghadiri hari Id ini dengan linangan air mata serta berbagai duka dan nestapa. Oleh karena itu, ulurkanlah tangan kebaikan dan tuangkanlah dari ketulusan hati kepada saudara-saudara seagama. Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Tidaklah kalian mendapat pertolongan dan kelapangan rezeki, kecuali dengan sebab (memperhatikan) orang-orang lemah di antara kalian.” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhary dari Sa’d bin Abi Waqqâsh radhiyallahu ‘anhu]
Juga janganlah lupa kepada kaum muslimin di berbagai belahan dunia: di Suriah, Myanmar, dan selainnya yang diliputi oleh berbagai kesedihan. Curahkanlah doa dan bantuan untuk mereka. Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam mengingatkan,
“Seorang mukmin bagi mukmin yang lain seperti bangunan, yang sebagiannya menguatkan sebagian yang lain.” (Dikeluarkan oleh Al-Bukhâry dan Muslim dari Abu Musa Al-Asy’ary radhiyallahu ‘anhu)
Pada hari ini, marilah kita senantiasa menghargai nikmat Allah dengan menggunakan nikmat tersebut dalam hal yang dicintai dan diridhai oleh Allah. Janganlah menggunakan nikmat Allah dalam dosa, maksiat, permusuhan, dan memutus silaturahim.
Semoga Allah ‘Azza wa Jalla senantiasa menjaga kita semua di atas segala nikmat dan melindungi kita dari segala musibah dan malapetaka.
Sebagaimana, kita bermohon kepada-Nya agar Dia menerima amalan puasa, shalat, zakat, sedekah, bacaan Al-Qur`an, dan segala amalan shalih, serta menjadikan amalan tersebut sebagai pembebas leher-leher kita dari api neraka.
Semoga, pada setiap tahunnya, kaum muslimin dan muslimat selalu berada di atas kebaikan dan ketakwaan, tergolong ke dalam Al-Fâ`izin ‘orang-orang yang beruntung’ dan Al-Â’idin ‘orang-orang yang terlahir kembali, bersih dari dosa’.
“Hari yang paling agung di sisi Allah adalah hari An-Nahr kemudian hari Al-Qarr.”[Diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Dâwud, An-Nasâ`iy dan selainnya dari Abdullah bin Qurâth radhiyallahu ‘anhu. Dishahihkan oleh Al-Albâny dalam Irwâ’ul Ghalîl no. 1958.]
Suatu hal yang dimaklumi bahwa, pada hari yang agung ini, Allah telah mengumpulkan berbagai ibadah yang agung berupa shalat Id, ibadah qurban, dzikir dan takbir, pelemparan jamratul aqba bagi jamaah haji, thawaf ifadhah, dan selainnya.
Marilah, pada hari yang agung ini, kita merenungi keagungan dan kebesaran Allah ‘Azza wa Jalla yang telah mensyariatkan sejumlah ibadah agung pada hari yang berbahagia ini.
Allah menyebutkan dua kaidah agung dalam dua ayatAl-Qur`an yang patut kita renungi dan menjadi pijakan kehidupan kita.
“Demikianlah (perintah Allah).Dan barangsiapa yang mengagungkan apa-apa yang terhormat di sisi Allah, hal itu adalah lebih baik baginya di sisi Rabb-nya.” [Al-Hajj: 30]
“Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa yang mengagungkan syiar-syiar Allah, sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati.” [Al-Hajj: 32]
Dua ayat di atas berisi kaidah pengagungan terhadap segala hal yang diharamkan dan dibesarkan di sisi Allah dan kaidah pengagungan terhadap simbol-simbol pokok agama Islam.
Kenalilah kebesaran dan keagungan Allah Al-‘Azhîm (Yang Maha Agung). Allah telah mengingatkan dalam sebuah hadits qudsy,
“Kebesaran adalah rida`-Ku dan keagungan adalah sarung-Ku. Barangsiapa yang mengganggu-Ku pada salah satu di antara keduanya, Aku akan melemparkannya kedalam neraka.” [Diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Dawud, dan Ibnu Mâjah. Dishahihkan oleh Al-Albâny dalam Ash-Shahîhah no. 541]
Mereka yang lalai dari mengagungkan dan membesarkan Allah bukanlah tergolong sebagai orang-orang yang beriman kepada-Nya,
“Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya, padahal bumi seluruhnya berada dalam genggaman-Nya pada hari kiamat, sedang langit digulung dengan tangan kanan-Nya. Maha Suci (Allah) dan Maha Tinggi Dia dari kesyirikan yang mereka lakukan.” [Az-Zumar: 67]
Marilah, pada hari yang agung ini, kita membesarkan Allah ‘Azza wa Jalla dan mengagungkan segala tuntunan dan syariat-Nya.
Pada hari raya Idul Qurban ini, Allah telah menyebutkan kewajiban pengagungan yang paling besar. Allah berfirman,
“Dan bagi tiap-tiap umat, telah Kami syariatkan penyembelihan (qurban) supaya mereka menyebut nama Allah pada binatang ternak yang telah Allah direzekikan kepada mereka maka sembahan kalian ialah Sembahan Yang Maha Satu. Oleh karena itu, berserah-dirilah kalian kepada-Nya. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (kepada Allah).” [Al-Hajj: 34]
Memurnikan ibadah kepada Allah adalah kewajiban terbesar yang merupakan misi dakwah setiap nabi dan rasul. Allah mengingatkan,
“Dan sesungguhnya, Kami telah mengutus rasul pada setiap umat (untuk menyerukan), ‘Beribadahlah kepada Allah (semata) dan jauhilah thaghut (segala sesuatu yang diibadahi selain Allah).’.” [An-Nahl: 36]
Oleh karena itu, agungkanlah Allah dengan mengikhlaskan ibadah hanya kepada-Nya.
“Katakanlah, ‘Sesungguhnya shalatku, ibadahku, serta hidup dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb alam semesta, tiada sekutu bagi-Nya.Demikian itulah yang diperintahkan kepadaku, dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah).”“ [Al-An’âm: 162-163]
Agungkanlah peribadahan hanya kepada Allah agar kita semua meraih kebahagian hidup yang hakiki,
“Barangsiapa yang beramal shalih, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman (bertauhid), sesungguhnya Kami akan memberi kehidupan yang baik (indah, bahagia) kepadanya dan sesungguhnya Kami akan membalas mereka dengan pahala yang lebih baik daripada apa-apa yang telah mereka kerjakan.” [An-Nahl: 97]
Agungkanlah Allah dalam segala ibadah jika kalian menghendaki kesejahteraan dan kebaikan di negeri ini,
“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu maka Kami menyiksa mereka disebabkan oleh perbuatan mereka.”[Al-A’râf: 96]
Kaum Muslimin dan Muslimat,
Di antara pengagungan kepada Allah Subhânahu wa Ta’âlâ adalah menyucikan Allah terhadap segala bentuk kesyirikan. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,
“Maka hendaknya kalian menjauhi berhala-berhala yang najis itu dan jauhilah perkataan-perkataan dusta dengan ikhlas kepada Allah, tidak mempersekutukan sesuatu apapun dengan Dia. Barangsiapa yang mempersekutukan sesuatu dengan Allah, ia seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan oleh angin ke tempat yang jauh.” [Al-Hajj: 30-31]
Perhatikanlah kehancuran orang-orang yang berbuat kesyirikan kepada Allah.
Suatu hal yang sangat mengherankan bahwa kita melihat pada seorang, apabila mendapatkan kepastian akan datangnya gelombang tsunami, letusan gunung berapi, gempa bumi, banjir bandang, lonsor, dan selainnya, akan terlihat padanya ketakutan yang luar biasa dan berbagai persiapan untuk menyelamatkan diri, keluarga dan harta benda. Merupakan pengagungan yang sangat besar kepada harta dan jiwa mereka. Namun, dia tidak pernah berpikir untuk mengagungkan Allah, bahkan mereka mengundang datangnya petaka dan kehancuran dengan berbagai praktik kesyirikan yang mereka lakukan. Adakah yang mengetahui bahwa sebab kebinasaan dan kehancuran alam semesta adalah dengan adanya kesyirikan? Bukankah Allah ‘Azza wa Jalla telah mengingatkan,
“Dan mereka berkata, ‘Ar-Rahmân (Allah Yang Maha Pemurah) mengambil (mempunyai) anak.’Sesungguhnya kalian telah mendatangkan suatu perkara yang sangat mungkar. Hampir-hampir langit pecah, karena ucapan itu, serta bumi terbelah dan gunung-gunung runtuh, sebab mereka menyerukan bahwa Ar-Rahmân mempunyai anak. Padahal, Ar-Rahmân tidaklah layak mengambil (mempunyai) anak.” [Maryam: 88-92]
Wahai Umat Islam,
Agungkanlah Allah dengan meninggalkan segala dosa dan kemaksiatan,
“Jika kalian menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang kalian dilarang kerjakan, niscaya Kami menghapus kesalahan-kesalahan kalian dan memasukkan kalian ke tempat yang mulia (surga).” [An-Nisâ`: 31]
Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam mengingatkan,
“Hindarilah tujuh hal yang membinasakan.” Ditanyakan kepada beliau, “Wahai Rasulullah, apa (ketujuh) hal itu?” Beliau menjawab, “(1) Berbuat kesyirikan kepada Allah, (2) (berbuat) sihir, (3) membunuh jiwa yang Allah haramkan, kecuali dengan haq, (4) memakan harta anak yatim, (5) memakan riba, (6) lari pada hari perjumpaan dengan musuh, dan (7) menuduh perempuan mukminah, yang menjaga diri lagi tidak kenal maksiat, dengan perbuatan zina.”.” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhâry dan Muslim dari hadits Abu Hurairah radhiyallâhu ‘anhu]
Di mana pengagungan sejumlah kaum muslimin yang masih saja mendatangi dukun-dukun dan memercayai paranormal? Bukankah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda,
“Barangsiapa yang mendatangi dukun atau paranormal, lalu membenarkan ucapan (dukun atau paranormal) itu, sungguh dia telah kafir terhadap (risalah) yang diturunkan kepada Muhammad.” [Dikeluarkan oleh Ahmad dan Al-Hâkim. Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albâny dalam Irwâ`ul Ghalîl 7/69-70]
Di mana pengagungan sejumalah kaum muslimat yang masih saja menanggalkan jilbab dan mengikuti pakaian perempuan-perempuan kafir? Bukankah Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam telah mengingatkan,
“Dua golongan dari penduduk neraka, yang aku belum pernah melihat keduanya: suatu kaum yang membawa cambuk-cambuk seperti ekor-ekor sapi, dia memukul manusia dengan (cambuk-cambuk) itu, dan para perempuan yang berpakaian tetapi telanjang, menyesatkan orang lain, bersisir seperti pezina, kepala mereka seperti punuk-punuk unta yang miring. Mereka tidak akan dimasukkan ke dalam surga dan tidak akan mencium bau (surga), padahal bau (surga) bisa dicium dari jarak begini dan begini.” [Diriwayatkan oleh Muslim dari Abu Hurairah radhiyallâhu ‘anhu]
Janganlah mengundang musibah dan petaka dengan dosa dan kemaksiatan. Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam mengingatkan,
“Wahai kaum Muhajirin, ada lima perkara, apabila kalian tertimpa dengannya -dan saya berlindung kepada Allah agar kalian tidak mendapatinya-. (Pertama,) tidaklah kekejian tampak pada suatu kaum, kemudian mereka melakukan (kekejian) itu secara terang-terangan, kecuali bahwa akan tersebar kepada mereka penyakit thâ’ûn dan penyakit-penyakit yang belum pernah melanda pendahulu-pendahulu mereka yang telah berlalu. (Kedua,) tidaklah mereka mengurangi takaran dan timbangan, kecuali bahwa mereka akan ditimpa oleh kemarau yang panjang, krisis pangan, dan keseweng-wenangan penguasa. (Ketiga,) tidaklah mereka menunda untuk mengeluarkan zakat harta mereka, kecuali bahwa hujan dari langit akan ditahan untuk mereka. Andaikata bukan karena hewan-hewan ternak, niscaya mereka tidak mendapatkan hujan (sama sekali). (Keempat,) tidaklah mereka melanggar perjanjian dengan Allah dan perjanjian dengan Rasul-Nya, kecuali bahwa Allah akan menjadikan musuh, yang bukan dari kalangan mereka, berkuasa terhadap mereka kemudian (para musuh itu) mengambil sebagian (harta) yang berada di tangan mereka. (Kelima,) tidaklah para penguasa mereka tidak berhukum dengan kitab Allah dan tidak memilih (hukum) yang Allah turunkan, kecuali bahwa Allah menjadikan kehancuran mereka antara sesama mereka sendiri.” [Diriwayatkan oleh Ibnu Mâjah dan selainnya.Dihasankan oleh Al-Albâny dengan beberapa pendukungnya. Bacalah Ash-Shahîhah no. 106]
Wahai Kaum Muslimin dan Muslimat,
Pada hari-hari Tasyrîq yang agung, Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam pernah berkhutbah,
“Wahai sekalian manusia, ketahuilah bahwa Rabb kalian adalah satu, dan ayah kalian semua adalah satu. Ketahuilah, tidak ada keutamaan orang Arab di atas orang Ajam, juga tidak ada (keutamaan) orang Ajam di atas orang Arab, serta tidak ada (keutamaan) orang berkulit merah di atas orang yang berkulit hitam, dan tidak ada (keutamaan) orang berkulit hitam di atas orang berkulit merah, kecuali dengan ketakwaan.” [Diriwayatkan oleh Ahmad dan selainnya. Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albâny dalam Ash-Shahîhah no. 2700]
Wahai Umat Islam, Rabb yang kita sembah hanyalah Allah Yang Maha Satu!
Nabi yang menjadi panutan kita hanyalah Nabi Muhammad shallallâhu ‘alaihi wa sallam!
Kita semua melaksanakan shalat hanya menghadap kepada kiblat yang satu!
Kita semua adalah keturunan Nabi Adam, ayah seluruh manusia.
Tanggalkanlah segala perpecahan dan perselisihan.
Hindarilah segala bentuk fanatisme suku dan golongan.
Janganlah menjadi pendukung syaithan ke jalan kehancuran.
“Dan janganlah kalian tergolong sebagai orang-orang yang mempersekutukan Allah, yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan.Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa-apa yang ada pada golongan mereka.” [Ar-Rûm: 31-32]
Kaum muslimini dan Muslimat,
Di antara pengagungan kepada Allah adalah mengagungkan dua golongan yang kedudukan mereka telah dijelaskan di tengah manusia.
“Manusia akan terus menerus berada di atas kebaikan selama mereka masih mengagungkan sulthan dan ulama. Tatkala mereka mengagungkan keduanya, Allah akan memperbaiki dunia dan akhirat mereka. Apabila mereka menghinakan keduanya, mereka telah merusak dunia dan akhirat mereka sendiri.” [Tafsîr Al-Qurthuby 5/260-261]
Adanya pemimpin di tengah manusia adalah sebuah hikmah dan anugerah dari Allah. Allah Subhânahu mengingatkan,
“Seandainya Allah tidak menolak (keganasan) sebagian umat manusia terhadap sebagian yang lain, pasti rusaklah bumi ini, tetapi Allah mempunyai karunia (yang dicurahkan) atas alam semesta.” [Al-Baqarah: 251]
Oleh karena itu, hargailah pemimpin dan pemerintah kalian sebagaimana wejangan Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam,
“Barangsiapa yang memuliakan sulthan Allah di dunia, Allah akan memuliakannya pada hari kiamat. (Namun), barangsiapa yang menghinakan sulthan Allah di dunia, Allah akan menghinakannya pada hari kiamat.” [Diriwayatkan oleh Ahmad dan selainnya. Dihasankan oleh Syaikh Al-Albâny dalam Ash-Shahîhah]
Terhadap pemimpin, hendaklah dia berlaku lembut kepada rakyatnya dan menjaga segala kebaikan dan kemashlahatan mereka. Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam mengingatkan,
“Ya Allah, siapa saja yang memimpin suatu perkara dari umatku, tetapi kemudian dia memberatkan mereka, beratkanlah terhadapnya. Namun, siapa saja yang memimpin suatu perkara dari umatku, lalu dia berlemah lembut kepada mereka, berlemah-lembutlah kepadanya.” [Diriwayatkan oleh Muslim dari Aisyah radhiyallâhu ‘anhâ]
Kaum muslimin dan muslimat,
Juga ketahuilah kedudukan para ulama yang merupakan pewaris para nabi dan penegak kebaikan di tengah umat. Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Bukanlah dari umatku, orang yang tidak menghormati orang tuanya, (tidak) merahmati orang mudanya, dan (tidak) mengenal hak orang berilmu di kalangan kami.” [Diriwayatkan oleh Ahmad dan Al-Hâkim]
Juga beliau bersabda,
خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ القُرْآنَ وَعَلَّمَهُ
“Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur`an dan mengajarkan (Al-Qur`an).” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhâry dari Utsman bin Affan]
Jamaah Shalat Id yang berbahagia,
Agungkanlah Al-Qur`an dan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Pelajarilah kandungan ilmu dan kebaikan yang terdapat padanya.Amalkan segala tuntunan dan syari’atnya.Itulah jalan kebahagian dan kesejahteraan umat Islam. Allah berfirman,
“Maka jika datang kepada kalian petunjuk daripada-Ku, barangsiapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan sengsara.Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.” [Thâhâ: 123-124]
Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Apabila kalian telah berjual-beli dengan cara‘înah (salah satu bentuk riba), telah mengambil ekor-ekor (baca: sibuk beternak) sapi, telah ridha dengan pertanian, dan meninggalkan jihad, niscaya Allah akan menimpakan suatu kehinaan kepada kalian. Tidaklah Dia mencabut (kehinaan) itu, kecuali setelah kalian kembali kepada agama kalian.”[Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan selainnya dari Ibnu Umar radhiyallâhu ‘anhumâ. Dishahihkan oleh Al-Albâny dengan beberapa jalurnya dalam Ash-Shahîhah no. 11]
Wahai Hamba-hamba Allah!
Allahu Akbar, Dialah Allah Yang Maha Besar dalam penciptaan dan kekuasaannya.
Allahu Akbar, Dialah Allah Yang Maha Besar dalam kemurnian ibada kepada-Nya.
Allahu Akbar, Dialah Allah Yang Maha Besar dalam seluruh nama dan sifat-Nya.
Allahu Akbar, Dialah Allah Yang Maha Besardalam agama dan syari’at-Nya.
Allahu Akbar, Dialah Allah Yang Maha Besar dalam ketentuan dan takdir-Nya.
Tataplah kehidupan ini dengan tatapan seorang hamba yang memahami keagungan Rabb-Nya, pandangan seorang yang hatinya makmur dengan rasa takut kepada-Nya, dan penghayatan seorang yang sangat menyadari bahwa dirinya akan kembali kepada Allah.
“Dan peliharalah diri kalian dari (adzab yang terjadi pada) hari yang, pada waktu itu, kalian semua dikembalikan kepada Allah.Kemudian masing-masing diri diberi balasan sempurna terhadap segala sesuatu yang telah mereka kerjakan, sedang sedikitpun mereka tidak dianiaya (dirugikan).” [Al-Baqarah: 281]
Agungkan Allah yang telah memberi nikmat kehidupan agar engkau menggunakannya sebagai jalan keselamatan yang mengantar kepada sorga.
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada mereka sendiri.Mereka itulah orang-orang yang fasik.Tidaklah sama penghuni-penghuni neraka dengan penghuni-penghuni jannah; penghuni-penghuni jannah itulah orang-orang yang beruntung.” [Al-Hasyr: 18-19]
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Tidak akan bergeser kedua kaki seorang hamba pada hari kiamat hingga dia ditanya tentang empat perkara: (1) tentang umurnya, pada hal apa dia habiskan, (2) tentang ilmunya, bagimana dia beramal dengannya, (3) tentang hartanya, dari mana dia dapatkan dan pada hal apa dia belanjakan (4) dan tentang jasadnya pada hal apa dia usangkan.”[Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi, Ad-Darimy, Abu Ya’lâ, Al-Baihaqy dalam Al-Madkhal dan selainnya dari Abu Barzah Al-Aslamy radhiyallahu ‘anhu.Lafazh hadits milik Al-Baihaqy. Baca penshahihannya dalam Ash-Shahîhah no. 946 karya Syaikh Al-Albâny]
Kaum muslimin dan muslimat!
Dari pengagungan kepada Allah pada hari ini dan hari-hari Tasyrîq dan simbol Islam yang sangat agung adalah menyembelih hewan qurban sebagaimana dalam perintah Allah,
فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ
“Maka dirikanlah shalat karena Rabb-mu, dan berqurbanlah.” [Al-Kautsar: 2]
Agungkan dan besarkanlah Allah dengan menyembelih hewan ternak yang baik dan layak.Ingat bahwa ada beberapa cacat yang tidak diperbolehkan pada hewan qurban. Standar cacat yang tidak diperbolehkan itu adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa salllam,
“Sembelihan pincang yang kepincangannya sangat tampak, sembelihan yang sebelah matanya buta yang kebutaannya sangat tampak, sembelihan sakit yang sakitnya sangat tampak, dan sembelihan kurus yang tidak berlemak (bersumsum).”[Diriwayatkan oleh Malik, Ahmad, Imam Empat, dan selainnya. Dishahihkan oleh Al-Albâny dalam Irwâ’ul Ghalîl no. 1148]
Waktu penyembelihan bermula setelah pelaksanaan shalat ‘Id hingga matahari terbenam pada hari ke-13 Dzulhijjah.
Perlu diketahui bahwa umur hewan udh-hiyyah sebagai berikut.
– Untuk unta, yang telah mencukupi umur lima tahun dan mulai memasuki tahun keenam.
– Untuk sapi, yang telah mencukupi umur dua tahun dan mulai memasuki tahun ketiga.
– Untuk kambing yang bukan domba, yang telah mencukupi umur setahun dan mulai memasuki tahun kedua.
– Untuk domba jadza’, yang telah mencukupi umur enam bulan dan mulai memasuki bulan ketujuh.
Berbuat baiklah kepada sesama kaum muslimin pada hari yang agung ini, karena seorang mukmin adalah raga mukmin yang lainnya,
“Perumpamaan kaum mukminin dalam hubungan kasih sayang, rahmat, dan sikap berlemah lembut di antara mereka bagaikan satu jasad.Apabila salah satu anggota tubuhnya mengeluh (karena sakit), seluruh jasad akan turut merasakan keluhan itu dengan tidak bisa tidur dan merasakan demam.” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhary dan Muslim dari An-Nu’mân bin Basyir radhiyallahu ‘anhumâ]
Kita bersyukur kepada Allah ‘Azza wa Jalla karena hari Idul Adha atau hari An-Nahr pada tahun ini (10 Dzulhijjah 1433H) jatuh pada hari jum’at.Hal tersebut karena pada hari tersebut berkumpul dua keutamaan yang tidak terdapat pada hari-hari yang lainnya dalam setahun, keutamaan hari An-Nahr dan keutamaan hari Jum’at.
Siapa yang telah menyaksikan shalat Id, gugur terhadapnya menghadiri shalat Jum’at.Namun terhadap Imam Mesjid kewajiban untuk tetap menegakkan shalat Jum’at agar dihadiri oleh siapa yang ingin menghadirinya.
Bagi mereka yang tidak menghadiri shalat Jum’at, boleh untuk shalat Zhuhur di rumahnya.Kalau dia menghadiri Jum’at tentu lebih afdhal dan lebih selamat dari silang pendapat ulama dalam masalah ini.
Semoga Allah selalu mencurahkan rahmat dan kebaikan-Nya kepada kita semua dan mengukuhkan kita di atas keislaman dan Sunnah Rasulullah di kehidupan dunia, di alam kubur dan saat kita berdiri di depan-Nya mempertanggungjawabkan seluruh amalan.
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Agar Hidup Lebih Berarti
Oleh : Al-Ustadz Abdul Qodir Abu Fa’izah hafizhahullah
[Pembina Ponpes Al-Ihsan Gowa]
Booklet Khutbah Idul Fithri 1435 H
Mungkin setiap orang diantara kita sudah pernah mendengar istilah “virus”. Virus berasal dari bahasa latin yang berarti racun.
Virus secara istilah adalah mikro organisme yang tidak dapat dilihat dengan menggunakan mikroskop biasa, hanya dapat dilihat dengan mikroskop elektron.
“Dialah yang menjadikan malam bagi kalian supaya kalian beristirahat padanya dan (menjadikan) siang terang benderang (supaya kalian mencari karunia Allah). Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang mendengar.” [Yûnus: 67]
Maha Agung Allah yang telah menunjuki jalan keislaman, mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju kepada cahaya,
“Katakanlah, ‘Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Karunia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik daripada sesuatu yang mereka kumpulkan.’.” [Yûnus: 58]
Maha Suci Allah yang memberi rahmat, membuka pintu harapan, dan mencurahkan berbagai nikmat yang tak terhingga,
وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَتَ اللهِ لَا تُحْصُوهَا.
“Dan jika kalian menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kalian membilangnya.” [Ibrâhîm: 34]
Maha Suci Allah yang menerima taubat, memaafkan kesalahan, dan mengetahui segala hal yang hamba lakukan,
“Dan Dialah yang menerima taubat dari hamba-hamba-Nya dan memaafkan kesalahan-kesalahan serta mengetahui segala sesuatu yang kalian lakukan.” [Asy-Syûrâ: 25]
Maha Besar Allah yang semua makhluk fakir kepada-Nya, sedang Dia adalah Yang Maha Kaya lagi Maha Terpuji,
“Mengapa kalian kafir kepada Allah, padahal sebelumnya kalian mati, lalu Allah menghidupkan kalian, kemudian kalian dimatikan dan dihidupkan oleh-Nya kembali, kemudian kepada-Nyalah kalian dikembalikan?” [Al-Baqarah: 28]
Maha Besar Allah yang tidak seorang pun di langit dan di bumi, kecuali akan menghadap kepada-Nya sebagai hamba,
“Demikianlah Kami mewahyukan Al-Qur`an kepadamu dalam bahasa Arab supaya kamu memberi peringatan kepada ummul Qura (penduduk Makkah) dan penduduk (negeri-negeri) sekelilingnya serta memberi peringatan (pula) tentang hari berkumpul (kiamat) yang tiada keraguan padanya. Segolongan masuk surga, tetapi segolongan pula masuk neraka.” [Asy-Syûrâ: 7]
Kaum muslimin dan muslimat yang berbahagia,
Bersama lembaran baru hari Idul Fitri yang berbahagia ini, ada sebuah keistimewaan dalam Islam yang harus selalu kita renungi, suatu pijakan dalam memandang kehidupan yang terbaik.
Ketahuilah -semoga Allah merahmati Kita semua- bahwa Allah ‘Azza wa Jalla telah memberi rahmat kepada umat ini dengan tuntunan yang jelas, suatu jalan kehidupan yang membedakan antara cahaya dan kegelapan. Allah Ta’âlâ berfirman,
“Adakah sama orang buta dan yang dapat melihat, atau samakah gelap gulita dan terang benderang?” [Ar-Ra’d: 16]
Dengan agama ini, teranggaplah manusia menjadi dua golongan: mereka yang hidup dengan cahaya agung dan mayat yang berpaling dari petunjuk. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,
“Dan apakah orang yang sudah mati kemudian Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang yang, dengan cahaya itu, dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap-gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar dari (gelap-gulita) itu?” [Al-An’âm: 122]
Dalam merasakan manfaat cahaya tersebut, manusia juga terbagi dua,
“Sesungguhnya telah datang dari Rabb kalian bukti-bukti yang terang maka barangsiapa yang melihat (kebenaran itu), (manfaatnya adalah) bagi diri dia sendiri; sedangkan barangsiapa yang buta (terhadap kebenaran itu), (kemudharatannya) kembali kepada dia.” [Al-An’âm: 104]
Ciri pokok dari pengutusan Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam adalah mengajak manusia kepada hal yang merupakan hakikat kehidupannya sebagaimana dalam firman Allah Subhânahu wa Ta’âlâ,
لِيُنْذِرَ مَنْ كَانَ حَيًّا.
“Supaya dia (Muhammad) memberi peringatan kepada orang-orang yang (benar) hidup.” [Yâsîn: 70]
Dengan ketentuan cahaya agama ini, akan tampak jelas siapa saja yang hidup bahagia atau berada dalam kebinasaan,
“Yaitu agar orang yang binasa itu kebinasaannya dengan keterangan yang nyata dan agar orang yang hidup itu kehidupannya dengan keterangan yang nyata (pula).” [Al-Anfâl: 42]
Marilah, pada hari Id yang berbahagia ini, Kita mengisi lembaran kehidupan baru dengan makna kehidupan yang lebih berarti.
Cermatilah sebab-sebab yang membuat amanah umur dan kesempatan lebih bernilai di sisi Allah Ta’âlâ.
Kaum muslimin dan muslimat yang dirahmati oleh Allah,
Pokok kehidupan seorang mukmin dan mukminah yang merupakan sumber kebahagiaannya adalah keimanan dan amalan shalih. Allah Subhânahu wa Ta’âlâ berfirman,
“Barangsiapa yang mengerjakan amalan shalih, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, sesungguhnya akan Kami hidupkan dia dengan kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik daripada apa-apa yang telah mereka kerjakan.” [An-Nahl: 97]
Keimanan adalah keyakinan hati yang diucapkan dengan lisan dan disertai amalan perbuatan mencakup berbagai cabang keimanan. Pokoknya adalah keimanan kepada Allah Ta’âlâ, kepada malaikat, kitab-kitab, para rasul, dan hari akhirat, serta keimanan kepada takdir yang baik dan yang buruk.
Juga Ketulusan dan kemurnian ibadah, bersih dari noda kesyirikan, sebagaimana firman Allah Jalla Jalâluhu,
“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan keimanan mereka dengan kezhaliman (kesyirikan), mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” [Al-An’âm: 82]
Keimanan inilah yang menjadi pembelaan untuk hamba pada segala keadaan,
إِنَّ اللهَ يُدَافِعُ عَنِ الَّذِينَ آمَنُوا.
“Sesungguhnya Allah membela orang-orang yang telah beriman.” [Al-Hajj: 38]
“Sesungguhnya Kami menolong rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia dan pada hari berdirinya saksi-saksi (hari kiamat).” [Ghâfir: 51]
Dan amalan shalih adalah segala perbuatan yang dibangun di atas tuntunan Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam yang disertai dengan keikhlasan.
“Dan sesungguhnya kalau mereka melaksanakan pelajaran yang diberikan kepada mereka, tentulah hal yang demikian itu lebih baik bagi mereka dan lebih menguatkan (keimanan mereka), dan kalau demikian, Kami pasti memberikan kepada mereka pahala yang besar dari sisi Kami, dan Kami pasti memberi petunjuk kepada mereka menuju jalan yang lurus.” [An-Nisâ`: 66-68]
Kaum muslimin dan muslimat, hamba-hamba Allah!
Di antara pokok perkara yang membuat kehidupan lebih berarti adalah tunduk kepada segala perintah Allah dan Rasul-Nya,
“Wahai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan rasul apabila dia menyeru kalian kepada sesuatu yang memberi kehidupan kepada kalian. Ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya dan sesungguhnya kepada-Nyalah kalian akan dikumpulkan.” [Al-Anfâl: 24]
Perhatikanlah keagungan agama ini dari keterangan ayat ini, bahwa segala tuntunannya adalah hal yang memberi kehidupan yang sebenarnya kepada seorang hamba.
Oleh karena itu, keluar dari perintah Allah dan Rasul-Nya itulah kematian hidup,
“Hanya mereka yang mendengar sajalah yang mematuhi (seruan Allah), dan orang-orang yang (teranggap) mati, akan dibangkitkan oleh Allah, kemudian kepada-Nyalah mereka dikembalikan.” [Al-An’âm: 36]
Jawablah seruan Allah dan Rasul-Nya sebelum tiba suatu hari yang penyesalan tiada bermanfaat lagi,
“Patuhilah seruan Rabb kalian sebelum datang dari Allah suatu hari yang kedatangannya tidak dapat ditolak. Kalian tidak memperoleh tempat berlindung pada hari itu tidak pula dapat mengingkari (dosa-dosa kalian).” [Asy-Syûrâ: 47]
Jawablan seruan Allah dan Rasul-Nya dengan melaksanakan segala perintah dan meninggalkan larangan.
“Wahai orang-orang yang beriman, rukuklah kalian, sujudlah kalian, beribadahlah kepada Rabb kalian, dan perbuatlah kebajikan supaya kalian mendapat kemenangan.” [Al-Hajj: 77]
Jauhilah segala dosa dan maksiat agar kehidupan lebih bercahaya dan lebih berberkah.
“Jika kalian menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang dilarang dikerjakan terhadap kalian, niscaya Kami menghapus kesalahan-kesalahan kalian dan memasukkan kalian ke tempat yang mulia (surga).” [An-Nisâ`: 31]
Namun, sangat disayangkan bahwa, pada hari-hari ini, kita melihat banyak dari kaum muslimin yang meremehkan dosa, seakan dosa itu bukanlah ancaman yang bisa menghancurkan kehidupan seorang hamba.
“Sungguh kalian mengerjakan amalan-amalan yang, di mata kalian, seperti rambut, padahal kami, pada masa Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam, menganggap (amalan) tersebut sebagai hal yang membinasakan.” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhâry]
Di antara dosa yang banyak diremehkan oleh manusia adalah perbuatan kesyirikan, seperti berdoa kepada selain Allah, meminta hajat kepada penghuni kubur, menyembelih untuk selain Allah, dan mendatangi tempat-tempat yang dikeramatkan.
Kesyirikan adalah penghancur kenikmatan dan dosa terbesar yang akan mengakibatkan pelakunya kekal di dalam neraka. Allah Subhânahu mengingatkan,
“Sesungguhnya, barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, pasti Allah mengharamkan surga kepadanya, sedang tempatnya ialah neraka. Tidaklah ada seorang penolong pun bagi orang-orang zhalim itu.” [Al-Mâ`idah: 72]
“Barangsiapa yang mempersekutukan sesuatu dengan Allah, ia seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan oleh angin ke tempat yang jauh.” [Al-Hajj: 31]
Termasuk dosa yang banyak diremehkan adalah mendatangi dukun-dukun dan memercayai paranormal, padahal Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam telah bersabda,
“Barangsiapa yang mendatangi dukun atau paranormal, lalu membenarkan ucapan (dukun atau paranormal) itu, sungguh dia telah kafir terhadap (risalah) yang diturunkan kepada Muhammad.” [Dikeluarkan oleh Ahmad dan Al-Hâkim. Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albâny dalam Irwâ`ul Ghalîl 7/69-70]
Juga, di antara deretan dosa yang disepelekan adalah sebagaimana keadaan sebagian kaum muslimat yang menanggalkan jilbab dan mengikuti pakaian perempuan-perempuan kafir. Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam telah mengingatkan,
“Dua golongan dari penduduk neraka, yang aku belum pernah melihat keduanya: suatu kaum yang membawa cambuk-cambuk seperti ekor-ekor sapi, dia memukul manusia dengan (cambuk-cambuk) itu, dan para perempuan yang berpakaian tetapi telanjang, menyesatkan orang lain, bersisir seperti pezina, kepala mereka seperti punuk-punuk unta yang miring. Mereka tidak akan dimasukkan ke dalam surga dan tidak akan mencium bau (surga), padahal bau (surga) bisa dicium dari jarak begini dan begini.” [Diriwayatkan oleh Muslim dari Abu Hurairah radhiyallâhu ‘anhu]
Di antara dosa yang membawa kejelekan untuk suatu negeri adalah mencela dan menghujat pemerintah dan pemimpin muslim. Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Barangsiapa yang memuliakan sulthan Allah di dunia, Allah akan memuliakannya pada hari kiamat. (Namun) barangsiapa yang menghinakan sulthan Allah di dunia, Allah akan menghinakannya pada hari kiamat.” [Diriwayatkan oleh Ahmad dan selainnya. Dihasankan oleh Syaikh Al-Albâny dalam Ash-Shahîhah]
Bukanlah hal terlarang bila memberi nasihat kepada penguasa, tetapi memberi nasihat adalah dengan dengan cara yang jelas dan membawa manfaat dan perubahan, bukan dengan cara ribut-ribut, berteriak-teriak di jalan, dan menzhalimi manusia.
“Barangsiapa yang menasihati penguasa, janganlah dia menampakkan (nasihat itu) secara terang-terangan, tetapi hendaknya dia mengambil tangan (penguasa tersebut) dan berduaan dengannya. Kalau (sang penguasa) menerima, itulah (yang diinginkan). Akan tetapi, jika (sang penguasa) menolak, dia telah menunaikan kewajibannya.” [Diriwayatkan oleh Ibnu Abi ‘Âshim, Al-Hâkim, dan Al-Baihaqy]
Kaum muslimin dan muslimat yang berjalan ke negeri akhirat,
Di antara pokok perkara yang membuat kehidupan yang lebih berarti adalah mendidik diri dengan ilmu agama. Allah Ta’âlâ menyebut wahyu yang diturunkan kepada Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam sebagai ruh,
“Dan demikianlah Kami mewahyukan kepadamu ruh (wahyu Al-Qur`an) dengan perintah Kami. Sebelumnya engkau tidaklah mengetahui apakah Kitab (Al-Qur`an) itu tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al-Qur`an itu sebagai cahaya, yang dengan (Al-Qur`an) itu Kami memberi petunjuk kepada siapa saja yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya engkau benar- benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.” [Asy-Syûrâ: 52]
Juga Allah Ta’âlâ menyebut Al-Qur`an yang merupakan sumber ilmu dan kehidupan dengan berbagai sifat agung,
“Wahai manusia, sesungguhnya telah datang kepada kalian pelajaran dari Rabb kalian dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada serta petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” [Yûnus: 57]
“Wahai manusia, sesungguhnya telah datang kepada kalian bukti kebenaran dari Rabb kalian dan Kami telah menurunkan kepada kalian cahaya yang terang benderang.” [An-Nisâ`: 174]
Dari Ibnu ‘Abbâs radhiyallâhu ‘anhu, Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Ketahuilah, bahwa Saya telah meninggalkan pada kalian suatu perkara yang kalian tidak akan tersesat selamanya sepanjang kalian berpegang teguh dengannya, yaitu kitab Allah dan sunnah Nabi-Nya.” [Diriwayatkan oleh Al-Ajurry, Al Hakim, Al-Baihaqy, dan selainnya. Dihasankan oleh Syaikh Al-Albâny dalam At-Tawassul dengan mengisyaratkan syahid baginya dalam Ash-Shahîhah no. 1761]
“Bertanyalah kalian kepada orang-orang yang berilmu jika kalian tiada mengetahui.” [Al-Anbiyâ`: 7]
Kaum muslimin dan muslimat yang takut dari api neraka,
Di antara pokok pijakan yang membuat hidup kehidupan lebih berarti adalah mengikat diri dengan ketakwaan dalam menjalankan segala perintah dan meninggalkan segala larangan disertai takut akan siksaan dan kemurkaan-Nya,
“Wahai orang-orang yang beriman (kepada para rasul), bertakwalah kepada Allah dan berimanlah kepada Rasul-Nya, niscaya Allah memberikan dua bagian rahmat-Nya kepada kalian, dan menjadikan untuk kalian cahaya yang, dengan cahaya itu, kalian dapat berjalan, dan Dia mengampuni kalian. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” [Al-Hadîd: 28]
“Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada dia sangka-sangka.” [Ath-Thalâq: 2-3]
“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu maka Kami menyiksa mereka disebabkan oleh perbuatan mereka.” [Al-A’râf: 96]
Kaum muslimin dan muslimat, para pemimpin dan orang tua,
Hidup ini adalah kesempatan dan amanah. Terdapat kewajiban yang terpikul pada pundak seseorang yang diberi amanah kepemimpinan dan tanggung jawab.
“Tidaklah seorang hamba diberi tanggung jawab oleh Allah dengan suatu tanggung jawab, kemudian dia tidak menjaga (tanggung jawab) itu secara tulus dan maksimal, kecuali bahwa dia tidak akan mencium bau surga.” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhâry dan Muslim dari Ma’qil bin Yasar. Lafazh hadits adalah milik Al-Bukhâry]
“Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya adalah malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap segala sesuatu yang (Allah) perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan segala hal yang diperintahkan.” [At-Tahrîm: 6]
Wahai para pemuda dan pemudi harapan umat,
Kalian adalah buah hati dan harapan umat, jadilah orang yang paling bermanfaat bagi manusia, dan jadilah orang-orang yang berberkah di manapun kalian berada sebagaimana keberadaan Nabi Isa ‘alaihis salâm yang berkata,
وَجَعَلَنِي مُبَارَكًا أَيْنَ مَا كُنْتُ.
“Dan Dia menjadikanku sebagai orang yang diberkahi di mana saja aku berada.” [Maryam: 31]
Kaum muslimin dan muslimat yang seluruhnya akan menghadap kepada Allah,
Pada hari kemarin Kita dimuliakan dengan Ramadhan. Tiada terasa waktu terus bergulir, dan hari ini Kita telah meninggalkan Ramadhan. Itulah hari-hari kehidupan yang terus berjalan tanpa henti menuju suatu yang pasti: kehidupan akhirat, yang di hadapan Allah ‘Azza wa Jalla Kita akan berdiri,
“Dan peliharalah diri kalian dari (adzab yang terjadi pada) hari yang, pada waktu itu, kalian semua dikembalikan kepada Allah. Kemudian masing-masing diri diberi balasan sempurna terhadap segala sesuatu yang telah mereka kerjakan, sedang sedikitpun mereka tidak dianiaya (dirugikan).” [Al-Baqarah: 281]
Perbaharuilah lembaran-lembaran kehidupan yang segala hasilnya akan kembali kepada Kita jua,
“Barangsiapa yang mengerjakan amalan shalih, (pahalanya) untuk dirinya sendiri, sedangkan barangsiapa mengerjakan perbuatan jahat, (dosanya) untuk dirinya sendiri; dan sekali-kali tidaklah Rabb-mu menganiaya hamba-hamba-Nya.” [Fushshilat: 46]
Kaum muslimin dan muslimat yang memiliki kelembutan hati dan kasih sayang,
Pada hari yang berbahagia ini, ada sejumlah kaum muslimin menghadiri hari Id ini dengan linangan air mata dan berliput duka dan nestapa. Oleh karena itu, ulurkanlah tangan kebaikan dan tuangkanlah dari ketulusan hati kepada saudara-saudara seagama. Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Tidaklah kalian mendapat pertolongan dan kelapangan rezeki, kecuali dengan sebab (memperhatikan) orang-orang lemah di antara kalian.” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhâry dari Sa’d bin Abi Waqqâsh radhiyallâhu ‘anhu]
Juga janganlah lupa kepada kaum muslimin di berbagai belahan dunia: di Palestina, Suriah, Iraq, dan selainnya yang diliputi oleh berbagai kesedihan dan cobaan. Curahkanlah doa dan bantuan untuk mereka. Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam mengingatkan,
“Seorang mukmin bagi mukmin yang lain seperti bangunan, yang sebagiannya menguatkan sebagian yang lain.” [Dikeluarkan oleh Al-Bukhâry dan Muslim dari Abu Musa Al-Asy’ary radhiyallâhu ‘anhu]
Semoga Allah ‘Azza wa Jalla senantiasa menjaga kita semua di atas segala nikmat dan melindungi kita dari segala musibah dan malapetaka.
Sebagaimana, Kita bermohon kepada-Nya agar Dia menerima amalan puasa, shalat, zakat, sedekah, bacaan Al-Qur`an, dan segala amalan shalih, serta menjadikan amalan tersebut sebagai pembebas leher-leher Kita dari api neraka.
Semoga, pada setiap tahunnya, kaum muslimin dan muslimat selalu berada di atas kebaikan dan ketakwaan, tergolong ke dalam Al-Fâ`izin ‘orang-orang yang beruntung’ dan Al-Â’idin ‘orang-orang yang terlahir kembali, bersih dari dosa’.
Kaum muslimin dan muslimat, jamaah shalat Id yang Saya muliakan!
Marilah kita selalu memuji Allah dan menyanjung-Nya, bersyukur dan membesarkan-Nya, atas segala karunia dan nikmat yang tidak akan mungkin dihitung dan dijumlah,
وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَتَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا
“Dan jika kalian menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kalian menghinggakannya.” [Ibrâhim: 34, An-Nahl: 18]
Hari Id yang berbahagia ini adalah termasuk nikmat Allah yang wajib kita syukuri. Sebagaimana, kita telah melalui Ramadhan yang penuh dengan keutamaan dan keistimewaan. Sempurnakanlah kesyukuran akan segala nikmat ibadah dengan bergembira dengan-Nya sebagaimana firman Allah Ta’âlâ,
“Katakanlah, ‘Dengan kurnia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Kurnia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.’.” [Yûnus: 58]
Kaum muslimin dan muslimat,
Hari-hari kehidupan umat Islam bukanlah kehidupan yang sia-sia, bayang-bayang, atau fatamorgana yang berlalu tanpa arti, tetapi kehidupan ini adalah renungan, pelajaran, dan tanggung jawab. Allah Subhânahu wa Ta’âlâ mengingatkan,
“Allah mempergantikan malam dan siang. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran yang besar bagi orang-orang yang mempunyai penglihatan.” [An-Nûr: 44]
“Dan Dia (pula) yang menjadikan malam dan siang silih berganti bagi orang yang ingin mengambil pelajaran atau orang yang ingin bersyukur.” [Al-Furqân: 62]
Kaum muslimin dan muslimat yang Saya muliakan,
Bersama matahari yang terbit pada pagi hari Idul Fithri yang berberkah ini, Saya mengajak seluruh hadirin untuk merenungi beberapa pedoman hidup yang sangat kita perlukan sebagai warga negara Republik Indonesia yang sedang menghadapi berbagai ujian dan cobaan, suatu pijakan berharga dalam menata jiwa, meningkatkan kualitas hidup, serta menjaga keutuhan dan kebersamaan dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.
Umat Islam yang saya hormati dan saya muliakan,
Termasuk pokok pelajaran yang harus diingat pada hari Id ini adalah menjaga kebersamaan dan memelihara keutuhan dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Kaidah agung dan simbol agama ini telah diingatkan oleh Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wasallam dalam sebuah haditsnya,
“Puasa itu adalah hari kalian berpuasa. Berbuka itu adalah hari kalian berbuka. Adhhâ itu adalah hari kalian ber-udh-hiyah.” [Diriwayatkan oleh At-Tirmidzy dari Abu Hurairah radhiyallâhu ‘anhu]
Hukum agama yang disepakati oleh para ulama adalah bahwa penetapan hari Id adalah di tangan pemerintah karena pemerintah adalah lambang kebersamaan dan kesatuan. Sebagaimana, shalat berjama’ah diwajibkan terhadap laki-laki, shalat tarawih berjama’ah disyariatkan secara khusus di Ramadhan, serta syariat zakat fitri, zakat harta, dan ibadah haji, semua adalah pedoman dalam menjaga kebersamaan dan kesatuan.
Kaum muslimin dan muslimat,
Salah seorang pemimpin umat Islam sekaligus alim terpercaya yang pernah hidup pada masa dahulu: Imam Sahl bin Abdillah At-Tastury (wafat 283 H) pernah berucap kalimat yang layak ditulis dengan tinta emas. Beliau bertutur,
“Manusia akan terus menerus berada di atas kebaikan selama mereka masih mengagungkan sulthan dan ulama. Tatkala mereka mengagungkan keduanya, Allah akan memperbaiki dunia dan akhirat mereka. Namun, apabila mereka menghinakan keduanya, mereka telah merusak dunia dan akhirat mereka sendiri.” [Tafsîr Al-Qurthuby]
Maka di tengah umat, ada dua komponen yang wajib dijaga di tengah umat agar terjaga pula kebersamaan dan kesatuan mereka:
Yang pertama, menghormati pemimpin.
Adanya pemimpin di tengah manusia adalah anugerah dari Allah dan terdapat hikmah besar di belakang hal tersebut. Allah Subhânahu wa Ta’âlâ mengingatkan,
“Seandainya Allah tidak menolak (keganasan) sebahagian umat manusia dengan sebagian yang lain, pasti rusaklah bumi ini. Tetapi Allah mempunyai karunia (yang dicurahkan) atas semesta alam.” [Al-Baqarah: 251]
Oleh karena itu hargailah dan muliakan pemimpin kalian sebagaimana perintah Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wasallam akan hal tersebut,
“Barangsiapa yang memuliakan sulthan Allah di dunia, Allah akan memuliakannya pada hari kiamat. (Namun) barangsiapa yang menghinakan sulthan Allah di dunia, Allah akan menghinakannya pada hari kiamat.” [Diriwayatkan oleh Ahmad dan selainnya]
Juga Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wasallam bersabda,
“Kamu mendengar dan menaati penguasa, walaupun dia memukul punggungmu dan mengambil hartamu, maka dengar dan taatlah.” [Diriwayatkan oleh Muslim dari Hudzaifah radhiyallâhu ‘anhu]
Bukan hal terlarang memberi nasihat kepada penguasa, tetapi sampaikan nasihat dengan jelas dan baik langsung kepada yang bersangkutan secara pribadi, sebagaimana sabda Nabi shallallâhu ‘alaihi wasallam,
“Barangsiapa yang menasihati penguasa, janganlah dia menampakkan (nasihat itu) secara terang-terangan, tetapi hendaknya dia mengambil tangan (penguasa tersebut) dan berduaan dengannya. Kalau (sang penguasa) menerima, itulah (yang diinginkan). Akan tetapi, jika (sang penguasa) menolak, dia telah menunaikan kewajibannya.” [Diriwayatkan oleh Ibnu Abi ‘Âshim, Al-Hâkim, dan Al-Baihaqy]
Nasihat itu bukanlah dengan cara ribut-ribut dan berteriak-teriak di jalan dan menzhalimi manusia. Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wasallam mengingatkan,
“Siapa saja yang mempersempit tempat singgah (seseorang), memutus jalan, atau mengganggu seorang mukmin, maka tidak ada jihad baginya.” [Diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Dawud, dan selainnya dari Mu’âdz bin Anas radhiyallâhu ‘anhu]
“Bukanlah dari umatku, orang yang tidak menghormati orang tuanya, (tidak) merahmati orang mudanya, dan (tidak) mengenal hak orang berilmu di kalangan kami.” [Diriwayatkan oleh Ahmad dan Al-Hâkim]
Pada lisan ulama, terdapat hujjah dan argumen dari Al-Qur`an dan As-Sunnah yang bisa menundukkan hati dan jiwa, sesuatu yang kaddang tidak bisa ditundukkan oleh pedang dan senjata. Oleh karena itu, seluruh kata “Sulthan” di dalam Al-Qur`an ditafsirkan oleh para ulama berkaitan dengan ilmu agama.
Namun, ketahuilah bahwa bukanlah dari ulama, siapa saja yang menjual ilmu untuk dunia yang hina atau menjilat kepada siapapun di antara manusia. Juga, tidak ada di dalam sejarah, dari kalangan shahabat, tabi’in, Imam Empat, dan selainnya, ada ulama yang mencela dan menghina penguasa, apalagi melakukan demonstrasi, perlawanan, dan kudeta.
Bahkan, para ulama membimbing umat untuk menjadi manusia terbaik dengan bimbingan ilmu mereka. Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wasallam bersabda,
خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ
“Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur`an dan mengajarkan (Al-Qur`an).” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhâry dari Utsman bin Affan]
Kaum muslimin dan muslimat,
Al-Hasan Al-Bashriy rahimahullâh pernah mengungkap hakikat hari Id. Beliau berucap,
“Tidaklah dua orang saling mencintai karena Allah atau karena keislaman, kemudian dipisahkan, kecuali karena dosa yang dilakukan oleh salah seorang di antara keduanya.” [Diriwayatkan dari beberapa orang shahabat]
Kewajiban kita semua adalah meninggalkan segala dosa dan maksiat. Allah Ta’âlâ berfirman,
“Jika kalian menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang dilarang kalian mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahan kalian (dosa-dosa kalian yang kecil) dan Kami masukkan kalian ke tempat yang mulia (surga).” [An-Nisâ`: 31]
Dosa terbesar yang mengakibatkan permusuhan dan kebencian di dunia dan di akhirat adalah adalah kesyirikan. Oleh karena itulah Allah Ta’âlâ telah memperingatkan agar menjauhi jalan kaum musyrikin,
“Dan janganlah kalian termasuk orang-orang yang berbuat kesyirikan kepada Allah, yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.” [Ar-Rûm: 31-32]
Ketahuilah, segala kesyirikan dalam bentuk berdoa kepada selain Allah, menyembelih untuk penghuni kubur, mendatangi tempat-tempat yang dikeramatkan, dan sejenisnya adalah pembatal keislaman dan penghancur segala amalan,
“Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu (wahai Nabi Muhammad) dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu, ‘Jika kamu berbuat kesyirikan (kepada Allah), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.’.” [Az-Zumar: 65]
“Sesungguhnya orang yang berbuat kesyirikan kepada Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zhalim itu seorang penolong pun.” [Al-Mâ`idah: 72]
Selalulah mengingat dengan baik bahwa kesyirikan adalah kebinasaan di atas kebinasaan,
“Dengan ikhlas kepada Allah, tidak mempersekutukan sesuatu dengan Dia. Barangsiapa mempersekutukan sesuatu dengan Allah, maka adalah ia seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh.” [Al-Hajj: 31]
Termasuk sebab permusuhan dan kebencian: mendatangi dukun dan paranormal. Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wasallam bersabda,
“Barangsiapa yang mendatangi dukun atau paranormal, lalu membenarkan ucapan (dukun atau paranormal) itu, sungguh dia telah kafir terhadap (risalah) yang diturunkan kepada Muhammad.” [Diriwayatkan oleh Ahmad dan Al-Hâkim]
Ingatlah juga bahwa minuman keras dan judi adalah sumber permusuhan dan kebencian,
“Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah kejelekan yang termasuk perbuatan syaithan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kalian mendapat keberuntungan. Sesungguhnya syaithan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kalian lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kalian dari mengingat Allah dan shalat; maka berhentilah kalian (dari mengerjakan pekerjaan itu).” [Al-Mâ`idah: 90-91]
Termasuk masalah besar yang menimpa manusia pada masa kini adalah kebiasaan mengadu domba, menebar kebencian, dan menyiarkan berita-berita dan hoax yang mengundang permusuhan, padahal Allah Subhânahu wa Ta’âlâ telah mengingatkan,
“Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat.” [An-Nûr: 19]
“Sesungguhnya seorang hamba berbicara berupa suatu kalimat yang tidak dia perjelas, dia terhempas disebabkan oleh kalimat itu ke dalam neraka sejauh timur dan barat.” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhâriy dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallâhu ‘anhu]
Kaum muslimin dan muslimat,
Tanpa terasa waktu terus bergulir. Bulan kemarin kita bergembira dengan hadirnya Ramadhan, dan hari ini kita telah berpisah dan ditinggalkan oleh Ramadhan. Tiada yang mengetahui apakah kita masih diberi kesempatan untuk berjumpa kembali dengan Ramadhan pada tahun mendatang. Itulah hari-hari kehidupan ini: ada yang datang dan ada yang pergi, ada yang hadir ada pula yang hilang. Akan tetapi, yang pasti adalah umur terus berkurang, ajal pasti akan menjemput, dan kita semua akan menghadap kepada Allah Subhânahu wa Ta’âlâ,
“Barangsiapa yang mengerjakan amal yang saleh maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri dan barangsiapa mengerjakan perbuatan jahat, maka (dosanya) untuk dirinya sendiri; dan sekali-kali tidaklah Rabb-mu menganiaya hamba-hamba-Nya.” [Fushshilat: 46]
Kaum muslimin dan muslimat, para pemimpin dan orang tua,
Hidup ini adalah kesempatan dan amanah. Terdapat kewajiban yang terpikul pada pundak seseorang yang diberi amanah kepemimpinan dan tanggung jawab.
“Tidaklah seorang hamba diberi tanggung jawab oleh Allah dengan suatu tanggung jawab, kemudian dia tidak menjaga (tanggung jawab) itu secara tulus dan maksimal, kecuali bahwa dia tidak akan mencium bau surga.” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhâry dan Muslim dari Ma’qil bin Yasar. Lafazh hadits adalah milik Al-Bukhâry]
“Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya adalah malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap segala sesuatu yang (Allah) perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan segala hal yang diperintahkan.” [At-Tahrîm: 6]
Wahai para pemuda dan pemudi harapan umat,
Kalian adalah buah hati dan harapan umat, jadilah orang yang paling bermanfaat bagi manusia, dan jadilah orang-orang yang berberkah di manapun kalian berada sebagaimana keberadaan Nabi Isa ‘alaihis salâm yang berkata,
وَجَعَلَنِي مُبَارَكًا أَيْنَ مَا كُنْتُ.
“Dan Dia menjadikanku sebagai orang yang diberkahi di mana saja aku berada.” [Maryam: 31]
Kaum muslimat, para perempuan yang beriman,
Kecantikan hakiki bukanlah pada wajah, jasad, dan pakaian. Kecantikan sesungguhnya adalah ketakwaan hati dan akhlak yang dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya. Allah Ta’âlâ telah memuliakan para perempuan dengan hijab dan kehormatan. Oleh karena itu, janganlah mengikuti para perusak yang menyesatkan perempuan,
“Dua golongan dari penduduk neraka, yang aku belum pernah melihat keduanya: suatu kaum yang membawa cambuk-cambuk seperti ekor-ekor sapi, dia memukul manusia dengan (cambuk-cambuk) itu, dan para perempuan yang berpakaian tetapi telanjang, menyesatkan orang lain, bersisir seperti pezina, kepala mereka seperti punuk-punuk unta yang miring. Mereka tidak akan dimasukkan ke dalam surga dan tidak akan mencium bau (surga), padahal bau (surga) bisa dicium dari jarak begini dan begini.” [Diriwayatkan oleh Muslim dari Abu Hurairah radhiyallâhu ‘anhu]
Kaum muslimin dan muslimat yang takut dari api neraka,
“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu maka Kami menyiksa mereka disebabkan oleh perbuatan mereka.” [Al-A’râf: 96]
Seluruh kebersamaan dan kecintaan hanyalah bermanfaat pada hari Kiamat dengan takwa,
“Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa.” [Az-Zukhruf: 67]
Kaum muslimin dan muslimat yang memiliki kelembutan hati dan kasih sayang,
Pada hari yang berbahagia ini, ada sejumlah kaum muslimin menghadiri hari Id ini dengan linangan air mata dan berliput duka dan nestapa. Oleh karena itu, ulurkanlah tangan kebaikan dan tuangkanlah dari ketulusan hati kepada saudara-saudara seagama. Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Tidaklah kalian mendapat pertolongan dan kelapangan rezeki, kecuali dengan sebab (memperhatikan) orang-orang lemah di antara kalian.” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhâry dari Sa’d bin Abi Waqqâsh radhiyallâhu ‘anhu]
Juga janganlah lupa kepada kaum muslimin di berbagai belahan dunia yang diliputi oleh berbagai kesedihan dan cobaan. Curahkanlah doa dan bantuan untuk mereka. Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam mengingatkan,
“Seorang mukmin bagi mukmin yang lain seperti bangunan, yang sebagiannya menguatkan sebagian yang lain.” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhâry dan Muslim dari Abu Musa Al-Asy’ary radhiyallâhu ‘anhu]
Mari kita berdoa kepada Allah, semoga Allah Subhânahu wa Ta’âlâ selalu menjaga kita semua di atas kebaikan dan kebersamaan, dan menghindarkan kita dari segala musibah dan petaka.
Ya Allah, kami memohon kepada-Mu agar Engkau menerima amalan puasa, shalat, zakat, sedekah, bacaan Al-Qur`an, i’tikaf, dan segala amalan shalih, serta jadikanlah amalan-amalan tersebut sebagai pembebas leher-leher kami dari api neraka.
Ya Allah, jagalah seluruh pemimpin kami di atas ketaatan, berilah mereka kekuatan dan taufiq dalam mengadakan kebaikan di negeri kami, serta selalulah bimbing mereka kepada ridha-Mu.
Semoga, pada setiap tahunnya, kaum muslimin dan muslimat selalu berada di atas kebaikan dan ketakwaan, tergolong ke dalam Al-Fâ`izin ‘orang-orang yang beruntung’ dan Al-Â’idin ‘orang-orang yang terlahir kembali, bersih dari dosa’.