Aku Bangga dengan Agamaku

Jannatul-firdaus.net

Menyebar Ilmu Syar’i



Jannatul-firdaus.net

Menyebar Ilmu Syar’i



Bagikan…

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram



Aku Bangga dengan Agamaku

  • Oleh : Ustadz Dzulqarnain Muhammad Sunusi hafizhahullah
  • (Pembina Peduli Dakwah)

Allah Subhânahû Wa Ta’âlâ berfirman,

وَيَصْنَعُ الْفُلْكَ وَكُلَّمَا مَرَّ عَلَيْهِ مَلَأٌ مِنْ قَوْمِهِ سَخِرُوا مِنْهُ قَالَ إِنْ تَسْخَرُوا مِنَّا فَإِنَّا نَسْخَرُ مِنْكُمْ كَمَا تَسْخَرُونَ ، فَسَوْفَ تَعْلَمُونَ مَنْ يَأْتِيهِ عَذَابٌ يُخْزِيهِ وَيَحِلُّ عَلَيْهِ عَذَابٌ مُقِيمٌ

 

Dan setiap kali pemimpin kaumnya berjalan meliwati Nuh, mereka mengejeknya. Berkatalah Nuh, ‘Jika kalian mengejek kami, maka sesungguhnya kami (pun) mengejek kalian sebagaimana kalian mengejek (kami). Kelak kalian akan mengetahui siapa yang akan ditimpa oleh azab yang menghinakannya dan yang akan ditimpa azab yang kekal.’.” [Hûd: 38-39]

Malu menampilkan diri dengan ciri keislaman adalah musibah terhadap seorang muslim maupun muslimah. Bahkan tidak jarang, kita menemukan sebagian manusia jatuh dalam berbagai dosa lantaran tidak ingin diketahui identitas keislamannya.

Pokok kerusakan akhlak ini karena dua hal,

Pertama, kurangnya pengagungan kepada Allah, sebagaimana firman Allah, “Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya. Maha Suci (Allah) dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan.” [Az-Zumar: 67]

 

Kedua, kurang meyakini bahwa segala kemuliaan dan kehormatan berasal dari Allah. Padahal Allah telah mengingatkan, “(yaitu) orang-orang yang mengambil orang-orang kafir menjadi teman-teman penolong dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Apakah mereka mencari kemuliaan di sisi mereka itu? Maka sesungguhnya semua kemuliaan adalah kepunyaan Allah.” [Al-Nisâ`: 139], Barangsiapa yang menghendaki kemuliaan, maka bagi Allah-lah kemuliaan itu semuanya.” [Fâthir: 10]

Pengagungan Nabi Nuh ‘alaihissalam terhadap agama Allah, menjadikan Allah memuliakan beliau dan menjadikan beliau berbangga dengan hidayah Allah di atas agama yang lurus, serta menyelamatkan beliau dan pengikutnya dari adzab.

Merasa mulialah dengan agamamu, raihlah kemuliaan, dan jauhkan diri dari kehinaan.

www.dzulqarnain.net

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Tulisan lainnya

Islam Adalah Penegak Keamanan

Jannatul-firdaus.net

Menyebar Ilmu Syar’i



Jannatul-firdaus.net

Menyebar Ilmu Syar’i



Bagikan…

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram



Islam Adalah Penegak Keamanan

  • Oleh: Ustadz Dzulqarnain Muhammad Sunusi hafizhahullah
Keamanan adalah suatu hal yang dituntut dalam kehidupan, dimana seluruh makhluk sangat membutuhkannya dalam memenuhi hal-hal yang berkaitan dengan mashlahat kepentingan mereka, baik yang sifatnya keduniaan maupun keagamaan.

Dan tiadalah seorang insan yang hidup di muka bumi ini kecuali ia pasti mencari sebab-sebab keamanan untuk dirinya dan mencurahkan segenap kemampuannya guna menjauhi sebab-sebab ketakutan yang boleh jadi akan mendatangkan ancaman bahaya dalam perjalanan hidupnya.

Bagaimanapun seorang manusia meraih keselamatan badan dan keluasan rizki, maka hal tersebut tidaklah bernilai dan tiada terasa manfaatnya kecuali dengan keamanan dan ketentraman.

Betapapun manusia diberikan sebab-sebab kemajuan dan segala unsur keberhasilan, maka ia tidak akan mencapai kebahagiaannya dan tidak pula dapat menuai kehidupan yang indah kecuali dengan tuntunan dan syari’at yang Allah ‘Azza wa Jalla, Sang Pencipta manusia ridhoi untuk mereka.

Dan kita bersyukur dan memuji Allah Jalla Jalâluhu yang telah menerangkan segala sebab keamanan dalam agama kita. Dan kita senantiasa menyanjung-Nya atas segala kemurahan yang diantaranya adalah dijadikannya syari’at Islam ini sebagai syari’at yang bertujuan menegakkan keamanan di tengah manusia.

Nabi ‘Ibrâhim ‘alaihissâlam pada awal mula beliau menginjakkan kakinya di kota Makkah, beliau berdoa kepada Rabb-Nya,

“Ya Rabb-ku, jadikanlah negeri ini negeri yang aman sentosa, dan berikanlah rezki berupa buah-buahan kepada penduduknya yang beriman di antara mereka kepada Allah dan hari kemudian.” (QS. Al-Baqarah : 126)

Setelah beliau merintis kota Makkah, maka beliau dengan perintah Allah meninggalkan keluarganya di negeri baru tersebut untuk sementara waktu. Kemudian beliau kembali lagi ke negeri tersebut dan beliau berdoa kepada-Nya,

“Ya Rabb-ku, jadikanlah negeri ini (Mekah), negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku daripada menyembah berhala-berhala. Ya Rabb-ku, sesungguhnya berhala-berhala itu telah menyesatkan kebanyakan daripada manusia, maka barangsiapa yang mengikutiku, maka sesungguhnya orang itu termasuk golonganku, dan barangsiapa yang mendurhakai aku, maka sesungguhnya Engkau, Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Ibrâhim : 35-36)

Dalam dua teks ayat di atas, Nabi Ibrâhîm ‘alaihissalâm memulai doanya dengan memohon keamanan untuk kota Makkah. Hal tersebut karena Nabi Ibrâhîm ‘alaihissalâmsangat mengetahui bahwa keamanan adalah lambang kebahagiaan masyarakat, bangsa dan negara, dan dengan keamanan akan tercapai segala kemashlahatan dan kebaikan yang dibutuhkan oleh manusia.

Dan Allah Ta’âlâ mengingatkan nikmat keamanan kepada penduduk tanah haram dan kepada seluruh makhluk agar mereka senantiasa mengingat nikmat tersebut dan bersyukur kepada Allah karenanya dan beribadah kepada-Nya di bawah teduhannya,

“Dan apakah mereka tidak memperhatikan, bahwa sesungguhnya Kami telah menjadikan (negeri mereka) tanah suci yang aman, sedang manusia di sekitarnya saling rampok-merampok.” (QS. Al-‘Ankabût : 67)

“Dan apakah Kami tidak meneguhkan kedudukan mereka dalam daerah haram (tanah suci) yang aman, yang didatangkan ke tempat itu buah-buahan dari segala macam (tumbuh-tumbuhan) untuk menjadi rezki (bagimu) dari sisi Kami?. Tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.” (QS. Al-Qashash : 57)

“Maka hendaklah mereka menyembah Rabb Pemilik rumah ini (Ka’bah). Yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari ketakutan.” (QS. Quraisy : 3-4)

Dan Allah ‘Azza Dzikruhu telah memberikan nikmat keamanan kepada Tsamud, kaumnya Nabi Shôleh ‘alahissalâm dengan kemampuan mereka memahat gunung sebagai rumah-rumah mereka tanpa ada ketakutan dan kecemasan, dan Allah Ta’âlâmelimpahkan kepada mereka nikmat yang sangat banyak yang datang silih berganti dan memberikan mereka tempat tinggal yang aman, dimana Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

“Dan Kami jadikan antara mereka dengan negeri-negeri yang Kami limpahkan berkat kepadanya, beberapa negeri yang berdekatan dan Kami tetapkan antara negeri-negeri itu (jarak-jarak) perjalanan. Berjalanlah kalian di kota-kota itu pada malam dan siang hari dengan aman.” (QS. Saba` : 18)

Dan Yusuf ‘alaihissalâm ketika menyambut kedua orang tua dan keluarganya, beliau mengingatkan nikmat keamanan yang dilimpahkan terhadap mereka dengan masuknya mereka ke negeri yang aman dan tentram dengan penuh kesejukan jiwa,

“Masuklah kalian ke negeri Mesir, insya Allah dalam keadaan aman.” (QS. Yûsuf : 99)

Bahkan diantara kenikmatan penduduk sorga di dalam sorga adalah tempat yang aman tanpa ada rasa takut sedikit pun dan tanpa kecemasan,

“(Dikatakan kepada penduduk sorga): “Masuklah ke dalamnya dengan sejahtera lagi aman”.” (QS. Al-Hijr : 46)

“Dan mereka aman sentosa di tempat-tempat yang tinggi (dalam surga).” (QS. Saba` : 37)

“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada dalam tempat yang aman,(yaitu) di dalam taman-taman dan berbagai mata air; mereka memakai sutera yang halus dan sutera yang tebal, (duduk) berhadap-hadapan, demikianlah. Dan Kami berikan kepada mereka bidadari. Di dalamnya mereka meminta segala macam buah-buahan dengan aman (dari segala kekhawatiran).” (QS. Ad-Dukhân : 51-55)

Sungguh syari’at Islam telah mengumpulkan seluruh jenis kebaikan; Islam menjaga syari’at dan tuntunan, melindungi dan memelihara akal-akal manusia, mensucikan harta benda, memberi keamanan kepada jiwa-jiwa manusia, dan menebarkan segala bentuk keselamatan, ketenangan, rahmat dan kesejahteraan. Rasulullâh shollallâhu ‘alaihi wa ‘alâ âlihi wa sallam bersabda,

مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ آمِنًا فِيْ سِرْبِهِ مُعَافًى فِيْ جَسَدِهِ عِنْدَهُ قُوتُ يَوْمِهِ فَكَأَنَّمَا حِيْزَتْ لَهُ الدُّنْيَا

“Barang siapa aman pada tubuhnya, sehat dalam jasadnya, mempunyai makanan pada hari itu, maka seakan-akan telah dikumpulkan baginya dunia dengan segala isinya.” [1]

Dan Islam menjaga keamanan jiwa manusia hingga pada tempat yang paling aman sekalipun, seperti mesjid-mesjid. Rasulullâh shollallâhu ‘alaihi wa ‘alâ âlihi wa sallambersabda,

إِذَا مَرَّ أَحَدُكُمْ فِيْ مَسْجِدِنَا أَوْ فِيْ سُوْقِنَا وَمَعَهُ نَبْلٌ فَلْيُمْسِكْ عَلَى نِصَالِهَا أَوْ قَالَ فَلْيَقْبِضْ بِكَفِّهِ أَنْ يُصِيْبَ أَحَدًا مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْهَا شَيْءٌ

“Apabila salah seorang dari kalian berlalu di mesjid kami atau di pasar kami dangan membawa tombak, maka hendaknya ia memegang ujungnya, –atau beliau berkata-hendaknya ia menggenggam dengan tangannya, agar tidak ada sesuatupun dari senjata-senjata tersebut yang menimpa salah seorang dari kaum muslimin.” [2]

Dan sekedar memunculkan sebab-sebab ketakutan di tengah kaum muslimin adalah hal yang terlarang dalam syari’at Islam. Rasulullâh shollallâhu ‘alaihi wa ‘alâ âlihi wa sallam bersabda,

لَا يُشِيْرُ أَحَدُكُمْ عَلَى أَخِيْهِ بِالسِّلَاحِ فَإِنَّهُ لَا يَدْرِيْ لَعَلَّ الشَّيْطَانَ يَنْزِعُ فِيْ يَدِهِ فَيَقَعُ فِيْ حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ

“Janganlah salah seorang dari kalian mengisyaratkan kepada saudaranya dengan senjata karena ia tidak mengetahui jangan-jangan Syaithon mencelakakannya dengansebab tangannya sehingga ia terjerumus ke dalam jurang neraka.” [3]

Dan syari’at ini telah mengharamkan atas setiap muslim untuk berisyarat dengan suatu jenis senjata kepada saudaranya seislam, walaupun hanya bercanda. Rasulullâhshollallâhu ‘alaihi wa ‘alâ âlihi wa sallam bersabda,

مَنْ أَشَارَ إِلَى أَخِيْهِ بِحَدِيْدَةٍ فَإِنَّ الْمَلَائِكَةَ تَلْعَنُهُ حَتَّى يَدَعَهُ وَإِنْ كَانَ أَخَاهُ لِأَبِيْهِ وَأُمِّهِ

“Barang siapa yang berisyarat kepada saudaranya dengan sebuah besi, maka sesungguhnya Malaikat melaknatnya hingga ia meninggalkannya, walaupun ia adalah saudaranya sebapak dan seibu.” [4]

Dan membuat takut seorang muslim adalah perkara yang diharamkan dengan segala bentuknya. Nabi shollallâhu ‘alaihi wa ‘alâ âlihi wa sallam bersabda,

لَا يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ أَنْ يُرَوِّعَ مُسْلِمًا

“Tidak halal bagi seorang muslim membuat takut muslim yang lain.” [5]

Dan Nabi shollallâhu ‘alaihi wa ‘alâ âlihi wa sallam bersabda,

مَنْ حَمَلَ عَلَيْنَا السِّلَاحَ فَلَيْسَ مِنَّا

“Barang siapa yang mengangkat senjata terhadap kami, maka ia bukan dari golongan kami.” [6]

Dan beliau juga menegaskan,

سِبَابُ الْمُسْلِمِ فُسُوْقٌ وَقِتَالُهُ كُفْرٌ

“Mencela seorang muslim adalah kefasikan dan membunuhnya adalah kekufuran.”[7]

Dan Nabi shollallâhu ‘alaihi wa ‘alâ âlihi wa sallam bersabda,

الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُوْنَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ

“Seorang muslim adalah orang yang kaum muslimin (lainnya) selamat dari gangguan lisan dan tangannya.” [8]

Dan sebagai penjagaan terhadap keamanan dan ketentraman, Nabi shollallâhu ‘alaihi wa ‘alâ âlihi wa sallam marah kepada siapa saja yang memberikan syafa’at dalam pelaksanaan had (hukuman) dari had-had Allah ‘Azza wa Jalla setelah perkara itu sampai kepada penguasa, dimana beliau shollallâhu ‘alaihi wa ‘alâ âlihi wa sallammenegaskan hal tersebut dalam sabdanya,

لَوْ أَنَّ فَاطِمَةَ بَنْتَ مُحَمَّدٍ سَرَقَتْ لَقَطَعْتُ يَدَهَا

“Andaikata Fathimah putri Muhammad mencuri, maka sungguh saya akan memotong tangannya.” [9]


[1] Hadits ‘Ubaidullah bin Mihshon Al-Ansôry riwayat Al-Humaidi dalam musnad-nya 1/208, Al-Bukhâry dalam Al-Adab Al-Mufrad no. 300, dalam Ath-Târikh Al-Kabîr5/372, At-Tirmidzy no. 2346, Ibnu Mâjah no. 4141, Ibnu Abi Âshim dalam Al-Âhâd wal Matsânî 4/146 no. 2126-2127, Ibnu Qani’ dalam Mu’jam Ash-Shohâbah 2/178, Al-‘Uqaily dalam Adh-Dhu’afâ` 2/146, Al-Qadho`i dalam Musnad Asy-Syihâb 1/320 no. 540, Al-Baihaqy dalam Syu’abul Îmân 7/294 dan dalam Az-Zuhd no. 105, dan Al-Khatîb dalam Târîkh-nya 3/346. Dihasankan oleh Al-Albâny rahimahullâh dengan seluruh jalan-jalannya. Baca Silsilah Al-Ahâdîts Ash-Shohîhah karya no. 2318.

[2] Hadits Abu Musâ Al-Asy’ary radhiyallâhu ‘anhu riwayat Al-Bukhâry no. 452, 7075 dan Muslim no. 2615.

[3] Hadits Abu Hurairah radhiyallâhu ‘anhu riwayat Al-Bukhâry no. 7072 dan Muslim no. 2617.

[4] Hadits Abu Hurairah radhiyallâhu ‘anhu riwayat Muslim no 2616 dan At-Tirmidzy no. 2167.

[5] Hadits riwayat Ahmad 5/362, Hannâd bin Sariy dalam Az-Zuhd no. 1345, Abu Dâud no. 5004, Al-Baihaqy 10/249 dan Al-Qodhâ`i dalam Musnad Asy-Syihâb 2/58-59 no. 878 dari sebahagian shahabat radhiyallâhu ‘anhu. Dishohihkan oleh Syaikh Al-Albâni dalam Ghâyatul Marâm no. 448 dan guru kami, Syaikh Muqbil Al-Wadi’iy dalam Ash-Shohîh Al-Musnad Mimmâ Laisa fi Ash-Shohîhain 1/418-419 terbitan Maktabah Darul Quds, Yaman, cet. Pertama, tahun 1991M/1411H.

[6] Hadits riwayat Al-Bukhâry no. 7071, Muslim no. 100, At-Tirmidzy no. 1463 dan Ibnu Mâjah no. 2576-2577 dari Abu Musâ radhiyallâhu ‘anhu dan riwayat Al-Bukhâry no. 7873, 7070, Muslim no. 98, An-Nasâ`i 7/117, dan Ibnu Mâjah no. 2577 dari Ibnu ‘Umarradhiyallâhu ‘anhumâ.

[7] Hadits riwayat Al-Bukhâry no. 48, 6044, 7076, Muslim no. 64, At-Tirmidzy no. 1988, 2639-2640, An-Nasâ`i 7/122, dan Ibnu Majah no. 69, 3939 dari Ibnu Mas’ûdradhiyallâhu ‘anhu.

[8] Hadits riwayat Al-Bukhâry no. 10, 6484, Muslim no. 40, Abu Daud no. 2481 dan An-Nasâ`i 8/105 dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin ‘Âsh radhiyallâhu ‘anhumâ, dan riwayat Muslim no. 41 dari hadits Jâbir radhiyallâhu ‘anhumâ, serta riwayat Al-Bukhâry no. 11 dan Muslim no. 42, At-Tirmidzy no. 2633 dari Abu Musa radhiyallâhu ‘anhu. Dan hadits ini termasuk hadits mutawâtir. Baca Nazhmul Mutanâtsir Min Al-Ahâdîts Al-Mutawâtirhal. 52

[9] Hadits riwayat Al-Bukhary no. 3475, 3733, 4304, 6787, 6788, Muslim no. 1688, Abu Daud no. 4373-4374, At-Tirmidzy no. 1434 dan An-Nasâ`i 8/72-73 dari ‘Âisyahradhiyallâhu ‘anha. Dan dikeluarkan oleh Muslim no. 1689 dan An-Nasâ`i 8/71dari hadits Jabir radhiyallâhu ‘anhumâ.

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Tulisan lainnya

Islam tidak Mengajarkan Terorisme kepada Pemeluknya

Bagikan…

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Islam tidak Mengajarkan Terorisme kepada Pemeluknya

oleh : Al-Ustadz Abdul Qodir Abu Fa’izah hafizhahullah [Pembina Ponpes Al-Ihsan Gowa]

Kaum muslimin harus lebih cerdik menilai sebagian berita-berita yang disebarkan oleh para propagandis dari kalangan musuh-musuh Islam yang amat tertata halus dan rapi.

Berita-berita yang mereka sebarkan dengan memanfaatkan media sosial yang bekerja hanya sekedar mencari duit, tanpa memperhatikan kerugian dan bahaya yang ditimbulkan bagi Islam dan kaum muslimin.

Berita-berita berbahaya yang dihembuskan oleh mereka mengandung berbagai macam kebatilan, dan igauan dusta, dan terkadang berita itu dipotong, atau dibolak-balik, sehingga memberikan kesan buruk bagi Islam dan menyudutkan kaum muslimin.

Diantara usaha buruk para propagandis dari kalangan kaum kafir dalam menjatuhkan dan mendiskreditkan Islam, menyandarkan “TERORISME” kepada Islam.

Ini merupakan tuduhan terkeji bagi Islam sepanjang sejarah, khususnya belakangan ini. Sebuah tuduhan keji untuk menebar kebencian, fobia Islam, dan memusuhi Islam serta menyandarkan keburukan kepada Islam. Padahal Islam bersih dari semua tuduhan dan keburukan itu!!

Tuduhan busuk ini dihembuskan melalui media-media sosial merupakan usaha terencana dan halus dalam menjauhkan manusia dari Islam, dimana manusia pada hari-hari ini banyak yang masuk Islam dan simpati kepadanya.

Sebenarnya kalau kita mau jujur dan mau mengerti sedikit saja, maka sesungguhnya “terorisme” itu ada pada setiap tempat dan kaum, karena terorisme merupakan fenomena global yang mungkin ada pada setiap tempat dan kaum. 

Tidak ada suatu agama pun yang rela dituduh mengajarkan terorisme kepada umatnya, apalagi Islam.

Kalau kita ingin menilik arti dari kata “terorisme”, maka ia terambil dari kata dalam Bahasa Inggris”terror” : kegentaran, kengerian, kerusuhan, keributan, kekacauan, dan huru-hara, dan ketakutan. [Lihat : http://uuu.sederet.com/translate.php]

Dalam KBBI, disebutkan bahwa “terorisme” adalah penggunaan kekerasan untuk menimbulkan ketakutan dalam usaha mencapai tujuan (terutama tujuan politik).” [Lihat : http://kbbi.web.id/terorisme ]

“Terorisme” merupakan perilaku dan tindakan yang muncul dari sikap tathorruf (berlebihan dan melampaui batas), yang tidak akan kosong suatu masyarakat darinya.

Pemikiran terorisme memiliki banyak warna dan ragamnya. Bisa dalam skala personal, kelompok, sekte, organisasi atau negara.

Keragaman terorisme ini juga bisa dipengaruhi oleh sikap berlebihan dalam pemikiran, atau melampaui batas dalam beragama, melampaui batas dalam membela dan mencintai suku, organisasi, partai, atau pimpinan.

Jadi, tampak dari penjelasan ini bahwa “terorisme”, bukan hanya muncul karena akibat sikap ghuluw (melampaui batas) dalam beragama yang dilakukan oleh pemeluk agama tertentu, bahkan juga dalam ranah perpolitikan, kesukuan, kepemimpinan, dan lainnya.

Belakangan ini, terorisme hanya dikaitkan dengan ranah agama. Jelas ini keliru besar, sebab terorisme bukan hanya terbatas pada ranah agama, seperti yang telah kami jelaskan.

Para pembaca yang budiman, Kalau kita menoleh ke belakang untuk melihat dan mengenang kembali sejarah terorisme, kaum Yahudi dan Kristen telah lama terlibat di dalamnya!!

Belum lagi kalau kita tarik garis sejarah sampai hari ini, maka terlalu banyak buktinya, sebagaimana yang telah diketahui semua pihak.

Di dalam Al-Qur’an Al-Karim, Allah -Tabaroka wa Ta’ala- pernah menegur orang-orang Yahudi dan Nasrani (Kristen) dari sikap ghuluw yang merupakan cikal bakal lahirnya “terorisme”,

قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لَا تَغْلُوا فِي دِينِكُمْ غَيْرَ الْحَقِّ وَلَا تَتَّبِعُوا أَهْوَاءَ قَوْمٍ قَدْ ضَلُّوا مِنْ قَبْلُ وَأَضَلُّوا كَثِيرًا وَضَلُّوا عَنْ سَوَاءِ السَّبِيلِ  [المائدة : 77]

“Katakanlah: “Hai ahli kitab, janganlah kalian ghuluw (berlebih-lebihan dan melampaui batas) dengan cara tidak benar dalam agamamu. Dan janganlah kalian mengikuti hawa nafsu orang-orang yang telah sesat dahulunya (sebelum kedatangan Muhammad) dan mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia), dan mereka tersesat dari jalan yang lurus. (QS. Al-Maa’idah : 77)

Perhatikan akhir ayat ini, Allah terangkan bahwa hasil dari sikap ghuluw (melampaui batas) dalam beragama adalah menyimpangnya seseorang dari rel kebenaran.

Orang-orang Yahudi dan Kristen telah melakukan sikap ghuluw (ekstrim) dalam mengikuti agama Islam yang dianut oleh Nabi Isa, sampai membuat agama dan aturan baru serta melenceng dari ajaran nabi mereka. Akibatnya, lahirlah dua agama yang menyimpang : Yahudi dan Nashoro (Nasrani alias Kristen).

Pada gilirannya, muncul sikap kasar dan keras dari mereka kepada siapa saja yang tidak mau mengikuti ajaran mereka yang sesat lagi menyimpang.

Ahli Tafsir Negeri Syam, Al-Hafizh Abul Fida’ Ibnu Katsir Ad-Dimasyqiy rahimahullah– berkata saat mengomentari kalimat bergaris di atas,

أي: وخرجوا عن طريق الاستقامة والاعتدال، إلى طريق الغواية والضلال.

“Maksudnya, mereka keluar dari jalan lurus dan tegak menuju jalan penyimpangan dan kesesatan.” [Lihat Tafsir Al-Qur’an Al-Azhim (3/159) karya Ibnu Katsir, cet. Dar Thoibah]

Demikianlah hasil dan akibat dari sikap ghuluw yang ada pada kaum Yahudi dan Kristen.

Diantara sikap ghuluw Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani), mereka berlebihan terhadap nabi mereka, sampai disamakan dengan Allah dalam peribadahan dan ketuhanan.

Mereka ghuluw (berlebihan) terhadap para pendeta dan orang sholih diantara mereka sampai menyamakannya dengan Tuhan dalam menghalalkan sesuatu atau mengharamkan perkara-perkara yang tidak pernah Allah syariatkan.

Sikap ghuluw (melampaui batas dan berlebihan) seperti ini mengantarkan mereka untuk meninggalkan Taurat dan Injil dengan melakukan berbagai revisi dan perubahan terhadap kedua kitab suci tersebut, sehingga lahirlah agama baru yang jauh dari inti ajaran agama Islam yang dibawa oleh Nabi Musa dan Isa.

Begitu lancangnya mereka membuat agama dan syariat baru, demi meninggalkan dan melenceng dari agama Allah (Islam) yang merupakan misi para nabi dan rasul.

Agama dan syariat baru buatan Ahli Kitab yang kita kenal dengan “Agama Yahudi”, dan “Agama Kristen.”

Kelancangan mereka dalam meninggalkan agama dan syariat Allah merupakan hasil dan buah dari sikap ghuluw mereka.

Tidak heran apabila Ahli Kitab berani melakukan tindakan “terorisme” yang telah diabadikan di dalam Al-Qur’an dan akan dibaca serta dikenang oleh sejarah manusia sampai akhir zaman sebagai sejarah kelam mereka.

ضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الذِّلَّةُ أَيْنَ مَا ثُقِفُوا إِلَّا بِحَبْلٍ مِنَ اللَّهِ وَحَبْلٍ مِنَ النَّاسِ وَبَاءُوا بِغَضَبٍ مِنَ اللَّهِ وَضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الْمَسْكَنَةُ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ كَانُوا يَكْفُرُونَ بِآيَاتِ اللَّهِ وَيَقْتُلُونَ الْأَنْبِيَاءَ بِغَيْرِ حَقٍّ ذَلِكَ بِمَا عَصَوْا وَكَانُوا يَعْتَدُونَ  [آل عمران : 112]

“Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia, dan mereka kembali mendapat kemurkaan dari Allah dan mereka diliputi kerendahan. Yang demikian itu, karena mereka kafir kepada ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi tanpa alasan yang benar. yang demikian itu[220] disebabkan mereka durhaka dan melampaui batas.” (QS. Ali Imraan : 112)

Allah perjelas aksi terorisme yang dilakukan oleh Ahli Kitab dalam firman-Nya,

لَقَدْ سَمِعَ اللَّهُ قَوْلَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ فَقِيرٌ وَنَحْنُ أَغْنِيَاءُ سَنَكْتُبُ مَا قَالُوا وَقَتْلَهُمُ الْأَنْبِيَاءَ بِغَيْرِ حَقٍّ وَنَقُولُ ذُوقُوا عَذَابَ الْحَرِيقِ (181) ذَلِكَ بِمَا قَدَّمَتْ أَيْدِيكُمْ وَأَنَّ اللَّهَ لَيْسَ بِظَلَّامٍ لِلْعَبِيدِ (182) الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ عَهِدَ إِلَيْنَا أَلَّا نُؤْمِنَ لِرَسُولٍ حَتَّى يَأْتِيَنَا بِقُرْبَانٍ تَأْكُلُهُ النَّارُ قُلْ قَدْ جَاءَكُمْ رُسُلٌ مِنْ قَبْلِي بِالْبَيِّنَاتِ وَبِالَّذِي قُلْتُمْ فَلِمَ قَتَلْتُمُوهُمْ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ (183) فَإِنْ كَذَّبُوكَ فَقَدْ كُذِّبَ رُسُلٌ مِنْ قَبْلِكَ جَاءُوا بِالْبَيِّنَاتِ وَالزُّبُرِ وَالْكِتَابِ الْمُنِيرِ (184)  [آل عمران : 181 – 185]

“Sesungguhnya Allah Telah mendengar perkatan orang-orang yang mengatakan: “Sesunguhnya Allah miskin dan kami kaya”. Kami akan mencatat perkataan mereka itu dan perbuatan mereka membunuh nabi-nabi tanpa alasan yang benar, dan kami akan mengatakan (kepada mereka): “Rasakanlah oleh kalian siksa yang membakar”.

(Siksaan) yang demikian itu adalah disebabkan perbuatan tanganmu sendiri, dan bahwasanya Allah sekali-kali tidak menganiaya hamba-hamba-Nya,

(yaitu) orang-orang (Yahudi) yang mengatakan: “Sesungguhnya Allah telah memerintahkan kepada kami, supaya kami jangan beriman kepada seseorang rasul, sebelum dia mendatangkan kepada kami korban yang dimakan api”.

Katakanlah: “Sesungguhnya telah datang kepada kalian beberapa orang Rasul sebelumku membawa keterangan-keterangan yang nyata dan membawa apa yang kamu sebutkan, maka mengapa kamu membunuh mereka jika kamu adalah orang-orang yang benar”.

Jika mereka mendustakan kalian, maka sesungguhnya rasul-rasul sebelum kamupun telah didustakan (pula), mereka membawa mukjizat-mukjizat yang nyata, Zabur dan Kitab yang memberi penjelasan yang sempurna.” (QS. Ali Imran : 181-185)

Adakah tindak terorisme yang lebih keji, lebih besar dosanya, dan lebih melanggar dibandingkan usaha mengejar, memusuhi dan membunuh para nabi dan pengikutnya?!

Itulah pekerjaan Ahli Kitab yang suka membunuh para nabi. Bahkan Yahudi dari kalangan Ahli Kitab menurut sejarah merupakan pelopor dalam usaha mengejar dan membunuh Nabi Isa –alaihi salam-, dengan bekerjasama bersama Pemerintah Romawi.

Walaupun kaum Yahudi tidak berhasil melakukan tindak terorisme dalam membunuh Nabi Isa –Shallallahu alaihi wa sallam-, hanya membunuh orang yang serupa dengan beliau, namun mereka (Yahudi) tetap mendapatkan dosa dalam hal itu, karena mereka punya niat membunuh Nabi Isa –alaihish sholatu was salam-. [Lihat : Al-Jawab Ash-Shohih (94/380), dan Hidayah Al-Hayaro (hal. 167), karya Ibnul Qoyyim]

Inilah yang Allah -Azza wa Jalla- terangkan dalam firman-Nya,

وَقَوْلِهِمْ إِنَّا قَتَلْنَا الْمَسِيحَ عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ رَسُولَ اللَّهِ وَمَا قَتَلُوهُ وَمَا صَلَبُوهُ وَلَكِنْ شُبِّهَ لَهُمْ وَإِنَّ الَّذِينَ اخْتَلَفُوا فِيهِ لَفِي شَكٍّ مِنْهُ مَا لَهُمْ بِهِ مِنْ عِلْمٍ إِلَّا اتِّبَاعَ الظَّنِّ وَمَا قَتَلُوهُ يَقِينًا (157) بَلْ رَفَعَهُ اللَّهُ إِلَيْهِ وَكَانَ اللَّهُ عَزِيزًا حَكِيمًا (158) [النساء : 157 ، 158]

Dan Karena ucapan mereka (kaum Yahudi) : “Sesungguhnya kami telah membunuh Al-Masih, Isa putra Maryam, Rasul Allah”. Padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka. Mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa.

Tetapi (yang sebenarnya), Allah telah mengangkat Isa kepada-Nya. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. An-Nisaa’ : 157-158)

Padahal kalau dari sisi nasab, Nabi Isa –alaihis salam- dan Yahudi adalah sama-sama dari kalangan Bani Isra’il. Tapi mereka dengan kesombongan dan hasadnya menggelar “aksi terorisme” yang dikecam oleh seluruh bangsa (utamanya Kaum Nasrani alias Kristen).

Tidak heran apabila ada kebencian diantara pengikut dua agama ini, terus membara sampai hari ini, walaupun kedua pihak berusaha menutupi hal itu di depan kaum muslimin dan masyarakat dunia.

Aksi terorisme yang dilakoni kaum Yahudi dalam usaha membunuh Nabi Isa –alaish sholatu was salam- telah diabadikan di dalam Al-Qur’an Al-Karim,

فَبِمَا نَقْضِهِمْ مِيثَاقَهُمْ وَكُفْرِهِمْ بِآيَاتِ اللَّهِ وَقَتْلِهِمُ الْأَنْبِيَاءَ بِغَيْرِ حَقٍّ وَقَوْلِهِمْ قُلُوبُنَا غُلْفٌ بَلْ طَبَعَ اللَّهُ عَلَيْهَا بِكُفْرِهِمْ فَلَا يُؤْمِنُونَ إِلَّا قَلِيلًا (155) وَبِكُفْرِهِمْ وَقَوْلِهِمْ عَلَى مَرْيَمَ بُهْتَانًا عَظِيمًا (156) وَقَوْلِهِمْ إِنَّا قَتَلْنَا الْمَسِيحَ عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ رَسُولَ اللَّهِ وَمَا قَتَلُوهُ وَمَا صَلَبُوهُ وَلَكِنْ شُبِّهَ لَهُمْ وَإِنَّ الَّذِينَ اخْتَلَفُوا فِيهِ لَفِي شَكٍّ مِنْهُ مَا لَهُمْ بِهِ مِنْ عِلْمٍ إِلَّا اتِّبَاعَ الظَّنِّ وَمَا قَتَلُوهُ يَقِينًا (157) بَلْ رَفَعَهُ اللَّهُ إِلَيْهِ وَكَانَ اللَّهُ عَزِيزًا حَكِيمًا (158) [النساء : 155 – 158]

“Maka (Kami lakukan terhadap mereka beberapa tindakan), disebabkan mereka melanggar perjanjian itu, dan karena kekafiran mereka terhadap keterangan-keterangan Allah dan mereka membunuh nabi-nabi tanpa (alasan) yang benar dan mengatakan: “Hati kami tertutup.” Bahkan, Sebenarnya Allah Telah mengunci mati hati mereka Karena kekafirannya, Karena itu mereka tidak beriman kecuali sebahagian kecil dari mereka.

Dan Karena kekafiran mereka (terhadap Isa) dan tuduhan mereka terhadap Maryam dengan kedustaan besar (zina),

Dan Karena Ucapan mereka: “Sesungguhnya kami telah membunuh Al Masih, Isa putra Maryam, Rasul Allah“. Padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa.

Tetapi (yang sebenarnya), Allah telah mengangkat Isa kepada-Nya. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. An-Nisaa’ : 155-158)

Akibat aksi terorisme yang dilakukan oleh orang-orang Yahudi bekerjasama dengan Kerajaan Romawi, maka kaum Yahudi pun dilaknat oleh Allah, mereka disambar petir, menjelmakan mereka menjadi kera, dan sebagainya.

Siapa saja yang ghuluw (melampaui batas dan berlebihan) dalam beragama dengan keluar dari bimbingan wahyu Allah, maka pasti ia akan jatuh dalam penyimpangan (salah satunya adalah terorisme).

Oleh karena itu, jauh hari Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- telah mengingatkan umatnya dari sikap ghuluw agar mereka jatuh dalam penyimpangan. Jauhnya seseorang menyimpang dari Islam merupakan kebinasaan.

Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda

إِيَّاكُمْ وَالْغُلُوَّ ؛ فَإِنَّمَا هَلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ بِالْغُلُوِّ فِي الدِّينِ.

“Waspadalah kalian sikap ghuluw (melampaui batas), karena orang-orang sebelum kalian hanyalah binasa karena ghuluw (melamapui batas) dalam beragama.” [HR. Ahmad dalam Al-Musnad (1/347), dan An-Nasa’iy dalam Sunan-nya (3057). Hadits dinilai shohih oleh Al-Arna’uth dalam Takhrijul Musnad (no. 3248)]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Al-Harroniy –rahimahullah– berkata,

وذلك يقتضي: أن مجانبة هديهم مطلقاً أبعد عن الوقوع فيما به هلكوا وأن المشارك لهم في بعض هديهم، يخاف أن يكون هالكاً.

“Hal ini mengharuskan bahwa menjauhi jalan hidup mereka (Yahudi) secara mutlak adalah tindakan yang lebih jauh dari terjerumus dalam (sebab) yang mereka binasa karenanya dan bahwa orang mengiringi (mengikuti) mereka dalam sebagian jalan hidup mereka, maka ditakutkan ia akan binasa.” [Lihat Iqtidho’ Ash-Shiroth Al-Mustaqim (hal. 106]

Sekalipun Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam-, para sahabat, dan ulama-ulama Ahlus Sunnah telah mengingatkan bahaya ghuluw (diantaranya adalah aksi terorisme).

Karena, aksi terorisme itu adalah kebiasaan Ahli Kitab. Namun disayangkan masih ada saja diantara kaum muslimin yang jahil tentang agamanya, yang jatuh dalam sikap ghuluw!!

Tidak heran jika anda melihat kaum Khawarij memerangi para sahabat. Sekte sesat Syi’ah memerangi para sahabat dan mengafirkan mereka, bahkan juga mengafirkan kaum muslimin secara umum dan menghalalkan darah mereka, seperti apa yang kalian lihat pada hari ini berupa aksi terorisme kaum Syi’ah dalam membantai Ahlussunnah di Iran, Iraq, Suriah, dan lainnya.

Juga terlibat di dalam aksi terorisme itu, negara-negara barat yang berideologi komunis atau beragama Kristen (seperti : Rusia, dan Perancis), sehingga semakin memperparah penderitaan kaum muslimim di Timur Tengah dan menelan ribuan korban jiwa belakangan ini.[1]

Belum hilang dari ingatan kalian, tindak terorisme dan kejahatan yang dilakukan kaum Hindu atas kaum muslimin di Ayodya.

Kaum Hindu menghancurkan Masjid Babri merupakan bangunan bersejarah di yang berdiri di Ayodya, India. Masjid ini dibangun oleh Kaisar Mughal pertama India, Babur, abad ke-16. [http://www.merdeka.com/ramadan/masjid-babri-saksi-bisu-konflik-muslim-hindu-di-india.html]

Penghancuran Masjid Babri ini telah memicu tewasnya ribuan kaum Muslim yang dengan gagah berani berusaha mempertahankan masjid Allah tersebut.

Penghancuran masjid ini dimotori oleh Partai Bharatiya Janata (BJP), pimpinan Athal Bihari Fajpaye, yang saat itu  berkuasa di India.

Tidak berhenti sampai disitu, hingga saat ini, ekstremis Hindu tetap ‘ngotot’ untuk membangun kuil di atas reruntuhan Masjid Babri tersebut.

Para Hindu ekstremis tetap ingin membangun kuil meskipun pemerintah India telah melarang. [http://www.muslimdaily.net/berita/internasional/hari-ini-16-tahun-yang-lalu-masjid-babri-india-dihancurkan-kafir-hindu.html#

Ingatkah kalian dengan pembantaian dan pengusiran yang dilakukan oleh Umat Buddha di Myanmar (Burma) atas Muslim Rohingya.

Ribuan warga Muslim Etnik Rohingya terpaksa lari dari tempat tinggal mereka di Myanmar, melarikan diri ke negara lain (seperti, Indonesia, Bangladesh, Malaysia, dll).

Mereka memilih mati di negeri orang, ketimbang bertahan di negara mayoritas Buddha radikal itu.

Rupanya, ada seorang biksu Buddha menjadi dalang di balik musibah pembantaian atas kaum Rohingya.

Biksu bernama Ashin Wirathu itu menyebarkan teror dan kebencian ke tengah masyarakat Myanmar.

Dia menanamkan ketakutan suatu saat kelompok Muslim minoritas akan menguasai negara yang dulu dikenal dengan nama Burma itu. [http://www.suara-islam.com/read/index/14341]

Kilas balik ke tahun 1995, saat terjadi pembantaian yang dilakukan oleh Serbia (yang beragama Kristen Orthodoks) atas kaum muslimin Bosnia.

Pembantaian Srebrenica (disebut juga “Genosida Srebrenica”) adalah kejadian sekitar lebih dari 8000 pembantaian lelaki dan remaja etnis Muslim Bosniak, pada Juli 1995 di daerah SrebrenicaBosnia oleh pasukan Republik Srpska pimpinan Jenderal Ratko Mladi.

Ini merupakan pembantaian terbesar pasca Perang Dunia II dan gerakan terorisme paling parah atas muslimin Srebrenica, Bosnia. [https://id.wikipedia.org/wiki/Pembantaian_Srebrenica]

Anda jangan lupa pula pembantaian demi pembantaian di Palestina yang dilakukan oleh kaum Yahudi atas muslimin Palestina.

Sejarah kehidupan entitas Zionis-Yahudi hanyalah diisi dengan pembantaian demi pembantaian terhadap rakyat muslim Palestina yang tidak berdosa.

Rezim Yahudi dari waktu ke waktu, tanpa jeda sedikitkpun terus melakukan pembantaian terhadap rakyat muslim sipil, dan kemudian mengusir, menjajah, dan menguasai tanah kelahirannya. [http://global.liputan6.com/read/2075800/presiden-palestina-israel-sedang-lakukan-pembantaian-di-gaza dan https://id.wikipedia.org/wiki/Pembantaian_Qibya]

Bangsa Indonesia sulit melupakan aksi terorisme para kaum penjajah Kristen Portugis. Kemudian disusul dengan kedatangan aksi terorisme Kristen Belanda (VOC dan pemerintah Belanda) selama 350 tahun merampas, menindas dan menzolimi kaum muslimin dengan membawa tiga misi 3G (Gold, Glory, dan Gospel).

Gold sendiri berarti “emas”, tetapi maksud dari gold disini adalah untuk mencari kekayaan.

Setelah itu tujuan Glory berarti “kejayaan”.

Setelah merampas kekayaan Nusantara, mereka memperoleh kejayaan.

Kemudian Gospel (“Penyebaran agama”).

Selain mencari kekayaan dan kejayaan mereka melakukan penyebaran agama Nasrani (Kristen) ke daerah-daerah kekuasaannya di seluruh Nusantara.

Jangan sekali-kali melupakan sejarah para pelaku terorisme dari kalangan Komunis (PKI) yang telah menumpahkan darah kaum muslimin, membantai para pahlawan dan ulama. Puncak aksi terorisme PKI, terjadi 1965 M.

Banyak korban dari kalangan kaum muslimin yang dibantai oleh kaum komunis-PKI yang amat beringas dan benci kepada Islam kaum muslimin!

Peristiwa mengenaskan itu, tidak lepas dari pengaruh Republik Rakyat Cina (RRC), yang juga berideologi sosialis-komunis yang meyakini tidak adanya Tuhan (termasuk Allah). Na’udzu billahi min dzalik.

Para pembaca yang budiman, kalau kita ingin buka-bukaan berita dan kenyataan, maka kita akan dapati bahwa kaum muslimin sering kali menjadi korban terorisme (baik skala kecil atau skala besar).

Namun mengapa para pelaku terorisme non-muslim tidak dicap sebagai teroris?!!

Mengapa kaum muslimin tidak mendapat simpati dari dunia?!!!

Jawabnyakarena para pelaku bukanlah muslim. Kedua, karena yang menguasai media dan politik bukan kaum muslimin!!

Pembantaian dan tidak teror telah dialami oleh kaum beriman sejak dahulu kala, disebabkan oleh KEBENCIAN KAUM KAFIR terhadap KEIMANAN KAUM MUSLIMIN.

Realita ini tidak dapat dipungkiri, sebagaimana yang dijelaskan oleh Allah -Tabaroka wa Ta’ala- dalam firman-Nya,

وَمَا نَقَمُوا مِنْهُمْ إِلَّا أَنْ يُؤْمِنُوا بِاللَّهِ الْعَزِيزِ الْحَمِيدِ (8) الَّذِي لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ (9) إِنَّ الَّذِينَ فَتَنُوا الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ ثُمَّ لَمْ يَتُوبُوا فَلَهُمْ عَذَابُ جَهَنَّمَ وَلَهُمْ عَذَابُ الْحَرِيقِ (10) إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَهُمْ جَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ ذَلِكَ الْفَوْزُ الْكَبِيرُ (11) [البروج : 8 – 11]

“Dan mereka (orang-orang kafir) tidak menyiksa orang-orang mukmin itu, melainkan karena orang-orang mukmin itu beriman kepada Allah yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji, Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; dan Allah Maha menyaksikan segala sesuatu.

Sesungguhnya orang-orang yang mendatangkan cobaan[2] kepada orang-orang yang mukmin laki-laki dan perempuan, kemudian mereka tidak bertobat, maka bagi mereka siksa Jahannam dan bagi mereka siksa (neraka) yang membakar.

Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang saleh bagi mereka surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; Itulah keberuntungan yang besar.” (QS. Al-Buruuj : 8-11)

Para pembaca yang bijak, ketika ada gerakan “PEMBERANTASAN TERORISME”, kami minta agar yang dijadikan sasaran pemberantasan, jangan hanya teroris muslim, sedang teroris dari kalangan agama lain tidak dijadikan sasaran pemberantasan.

Ini jelas mencoreng nama ISLAM dan KAUM MUSLIMIN!! Sehingga kesannya Islam itu identik dengan teror dan kekerasan.

Padahal agama kita, Islam adalah agama kasih sayang dan kedamaian!!!

Islam tidak mengajarkan TERORISME kepada pengikutnya.

Kemudian jika ada oknum muslim yang melakukannya, maka itu bukanlah atas ajaran Islam, tapi hal itu muncul dari kesalahpahaman tentang Islam.

Karena itu, para ulama Islam dan dai-dainya mengingkari hal itu dan mengecamnya, karena bertentangan dengan Islam.

Nah, adakah ketika umat lain melakukan aksi TERORISME, maka ketika itu juga para pendeta, biara dan biksu mereka serentak melakukan pengingkaran dan kecaman atas para pelaku?!!

Pengingkaran gencar atas aksi terorisme, hanyalah datang dari kalangan ulama Islam untuk mencegah dan memberantas penyakit terorisme yang mengancam keamanan dan stabilitas dunia.

Adapun pengingkaran dari agama lain, silakan anda menilai sendiri.

Kalau ingin memberantas teroris, ya harus adil, jangan cuma kaum muslimin yang jadi sasaran dan sering kali diintai dan dituduh sebagai teroris, lalu para perusak dan teroris dari agama lain tidak disikapi sama!!

Tulisan ini kami buat sebagai tanggapan atas pernyataan Direktur Eksekutif Megawati Institut, Siti Musdah Mulia menuding sekolah Islam sebagai penyebab munculnya terorisme di Indonesia.

Pernyataan ini kemudian mendapatkan kritikan pedas dari berbagai kalangan. Pernyataan ini memberikan kesan negatif, seakan-akan Islam diajarkan di pesantren untuk menanamkan pemikiran radikal dan terorisme.

Padahal sebaliknya Islam kalau mau jujur, justru melalui pesantren-pesantren mengajarkan kasih sayang, akhlak yang baik, memberantas segala macam kezholiman (termasuk sikap radikal, teror, dan pembantaian).

Memang tidak dipungkiri bahwa memang ada sebagian oknum muslim mengajarkan hal-hal buruk seperti itu dari arah yang ia tidak sadari, sebagaimana hal itu juga dilakukan oleh oknum lain dari agama-agama lain.

Jadi, amat keliru jika sebuah kasus khusus dan oknum tertentu, lalu hal itu digeneralisasi dalam sebuah opini buruk yang menyudutkan Islam.

Karena itu, kami meminta kepada si penuduh agar berpikir jujur dan objektif. Jika ia muslim atau muslimah agar segera bertobat.

……………………..

Tulisan ini rampung, tanggal 24 Rajab 1437 H yang bertepatan 2 Mei 2016 M, di Makassar, Sulsel, Indonesia.

……………………..

Selesai kami edit ulang, 30 Sya’ban 1439 H, bertepatan dengan 16 Mei 2018 M, Kantor Markaz Dakwah untuk Bimbingan,  Taklim, dan Keamanan Berpikir, Makassar, Sulawesi Selatan, Indonesia.

[1] Adakah dunia tercengang di kala masyarakat sipil Suriah di bombardir oleh Rusia bersama Basyar Asad?! Aksi terorisme ini didiamkan oleh dunia, karena yang melakukannya orang kafir.

[2] seperti menyiksa, mendatangkan bencana, membunuh dan sebagainya.

Sumber: https://abufaizah75.blogspot.com/

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Tulisan lainnya

Tulis komentar

Logged in as admin. Log out »




jannatul-firdaus.net @2018