Celakalah Hati-Hati Itu

Jannatul-firdaus.net

Menyebar Ilmu Syar’i



Jannatul-firdaus.net

Menyebar Ilmu Syar’i



Bagikan…

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram



Celakalah Hati-Hati Itu

  • Oleh : Ustadz Dzulqarnain Muhammad Sunusi hafizhahullah
  • (Pembina Peduli Dakwah)

Allah Subhânahu wa Ta’âlâ berfirman,

فَوَيْلٌ لِلْقَاسِيَةِ قُلُوبُهُمْ مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ أُولَئِكَ فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ

“Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang telah membatu hatinya untuk berdzikir (mengingat) Allah.Mereka itu dalam kesesatan yang nyata.” [Az-Zumar: 22]

Dzikir kepada Allah adalah ibadah yang teragung sebagaimana firman Allah, “Dan sesungguhnya dzikir mengingat Allah adalah lebih besar.” [Al-‘Ankabût: 45]

Dalam Al-Qur’an, dzikir ditafsirkan dan digunakan dengan makna Al-Qur`an, Sunnah Rasulullah, dzikir dengan lisan, dzikir dengan hati, penghafalan, ketaatan dan balasan, shalat lima waktu, shalat Jum’at, shalat ‘Ashar, penjelasan, taurat, khabar, kemulian, Lauh Mahfuzh, pujian, dan Rasul. [Diringkas dari Al-Itqân karya As-Suyuthy]

Sungguh kesesatan yang sangat nyata bagi siapa yang meninggalkan dzikir kepada Allah.

Bahaya dan pengaruh jelek meninggalkan dzikir pada diri, keluarga, masyarakat dan negeri sangatlah banyak dalam uraian ayat-ayat dan hadits Rasulullahshallallâhu ‘alaihi wa sallam.

Allah juga mengingatkan, “Barangsiapa yang berpaling dari dzikir kepada Ar-Rahman (Allah Yang Maha Pemurah), kami adakan baginya syaitan (yang menyesatkan) maka syaitan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya.” [Az-Zukhruf: 36]

Hiduplah dengan dzikir, berhiaslah dengan menyebut nama Allah, dan raihlah berbagai keindahan dalam mengingat Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

www.dzulqarnain.net

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Tulisan lainnya

Menata Surga dengan Tasbih dan Tahmid

Jannatul-firdaus.net

Menyebar Ilmu Syar’i



Jannatul-firdaus.net

Menyebar Ilmu Syar’i



Bagikan…

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram



Menata Surga dengan Tasbih dan Tahmid

  • Oleh: Al-Ustadz Abdul Qodir Abu Fa’izah –hafizhahullah

Setiap manusia di dunia menginginkan rumahnya adalah rumah yang bersih, indah, aman dan menyenangkan. Mereka pun banyak menghabiskan harta, tenaga, pikiran, dan lainnya dalam menata rumah dan istananya agar ia betah dan berbahagia.

Nah, surga yang kita miliki -insya Allah-, sama keadaannya dengan rumah kita di dunia, juga memerlukan perngorbanan berupa harta, waktu dan pikiran, bahkan nyawa dalam menghiasi dan menatanya.

Surga yang Allah siapkan bagi para hamba-Nya adalah tempat yang amat luas lagi datar. Kitalah yang menata dan menghiasinya dengan amal-amal sholih kita.

Salah satu diantara amalan yang akan menghiasi dan menata surga kita dengan indah adalah BER-TASBIH dan berdzikir kepada Allah –Tabaroka wa Ta’ala-.

Bertasbih kepada Allah merupakan amalan yang memiliki fadhilah (keutamaan) yang amat besar.

Seorang yang melazimi tasbih akan ditanamkan baginya pohon kurma di dalam surga.

Rasulullah –Shallallahu alaihi wa sallam– menjelaskan keutamaan tasbih dalam sabdanya,

مَنْ قَالَ : سُبْحَانَ اللهِ العَظِيمِ وَبِحَمْدِهِ ، غُرِسَتْ لَهُ نَخْلَةٌ فِي الجَنَّةِ

“Barangsiapa yang berkata, “Subhanallahil azhim wa bihamdih”, niscaya akan ditanamkan baginya sebuah pohon kurma dalam surga”. [HR. At-Tirmidziy dalam As-Sunan (3464 & 3465). Hadits ini dinilai shohih oleh Al-Albaniy dalam Shohih At-Targhib (1564)]

Al-Imam Abu Bakr As-Suyuthiy –rahimahullah– berkata,

معنى التسبيح تنزيه الله عما لا يليق به من كل نقص، قال الكرماني: فالتسبيح إشارة إلى الجلال والتحميد إشارة إلى صفات الإكرام

“Makna tasbih adalah menyucikan Allah dari segala perkara yang tidak layak bagi-Nya berupa segala macam kekurangan”.

Al-Kirmaniy –rahimahullah– berkata“Jadi, tasbih merupakan isyarat kepada kemuliaan dan tahmid isyarat kepada sifat pemuliaan”. [Lihat Tanqih Al-Qoul Al-Hatsits (hal. 102)]

Para pembaca yang budiman, jadikanlah tasbih bagian dari kehidupanmu. Isilah hari-harimu dengan tasbih dan dzikir kepada Allah di saat-saat senggang.

Jauhkanlah dirimu dari hal-hal yang tiada guna bagi akhiratmu. Janganlah engkau menghabiskan waktumu untuk mengikuti siaran-siaran televisi yang akan menguras waktumu.

Tapi gunakanlah dalam memperbanyak tasbih yang akan menjadi pohon yang akan kau rasakan buahnya di akhirat.

Al-Imam Ibnul Jauziy Ad-Dimasyqiy rahimahullah– berkata,

((فانتبه يا بني لنفسك، واندم على ما مضى من تفريطك، واجتهد في لحاق الكاملين، ما دام في الوقت سعة، واسق غصنك ما دامت فيه رطوبة، واذكر ساعتك التي ضاعت فكفى بها عظة، ذهبت لذة الكسل فيها، وفاتت مراتب الفضائل… فانظر إلى مضيع الساعات كم يفوته من النخيل!)) صيد الخاطر – (1 / 504)

“Perhatikanlah dirimu –wahai anakku- dan sesali sesuatu yang berlalu berupa sikap teledor serta bersungguh-sungguhlah dalam mengejar orang-orang yang sempurna selama dalam waktumu ada kelonggaran dan siramilah dahanmu selama padanya terdapat kesegaran. Ingatlah waktumu yang telah hilang, lalu cukuplah ia sebagai nasihat. Lezatnya kemalasan telah pergi bersamanya dan telah luput derajat-derajat keutamaan…Perhatikanlah orang yang menyia-nyiakan waktunya, alangkah banyaknya pohon kurma yang ia sia-siakan (yakni, di dalam surga, -pen.)”. [Lihat Shoidul Khothir (hal. 504-505), oleh Ibnul Jauziy, cet. Dar Al-Qolam, 1425 H]

Hadits yang semisal ini amat baik direnungi oleh orang-orang yang menghabiskan waktunya dengan membaca koran, sibuk menghabiskan waktu dengan facebooktwitter, berita politik dan gossip, film dan selainnya diantara perkara yang tiada berguna di akhirat!!

Perbanyaklah tanaman surga di akhirat dengan memperbanyak dzikir ketika masih hidup di dunia. sebab, tanaman ini akan sangat bermanfaat bagi pemiliknya di akhirat.

Rasulullah –Shallallahu alaihi wa sallam– bersabda,

لَقِيتُ إِبْرَاهِيمَ لَيْلَةَ أُسْرِيَ بِي فَقَالَ : يَا مُحَمَّدُ ، أَقْرِئْ أُمَّتَكَ مِنِّي السَّلاَمَ وَأَخْبِرْهُمْ أَنَّ الجَنَّةَ طَيِّبَةُ التُّرْبَةِ عَذْبَةُ الْمَاءِ ، وَأَنَّهَا قِيعَانٌ ، وَأَنَّ غِرَاسَهَا سُبْحَانَ اللهِ وَالحَمْدُ لِلَّهِ وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ.

“Aku telah menjumpai Ibrahim di malam aku di-isra’-kan. Dia berkata, “Wahai Muhammad, sampaikanlah salam dariku kepada umatmu dan kabarilah bahwa surga, tanahnya baik dan airnya tawar dan bahwa surga itu tanah datar serta tanamannya adalah “subhanallah walhamdulillah wa laa ilaaha illallah wallahu akbar”. [HR. At-Tirmidziy dalam Sunan-nya (3462). Di-hasan-kan oleh Al-Albaniy dalam Ash-Shohihah (no. 105)]

Kalimat-kalimat yang agung ini sangat besar keutamaannya, karena ia adalah sebab Allah akan memberikan pohon yang rindang kepada pengucapnya. Pohon yang ia gunakan bersenang-senang di bawahnya.

Al-Imam Abul Ulaa Al-Mubarokfuriy –rahimahullah– berkata,

((والمعنى أعلمهم بأن هذه الكلمات ونحوها سبب لدخول قائلها الجنة ولكثرة أشجار منزلة فيها لأنه كلما كررها نبت له أشجار بعددها)) تحفة الأحوذي – (9 / 303)

“Maknanya, beritahulah mereka bahwa kalimat-kalimat ini dan sejenisnya merupakan sebab bagi masuknya orang yang mengucapkannya ke dalam surga dan sebab bagi banyaknya pepohonan di dalamnya. Karena, setiap kali ia mengulanginya, maka tumbuhlah baginya pepohonan sejumlah ucapannya”. [Syarah Sunan At-Tirmidziy (9/303)]

Namun tentunya pepohonan yang rindang lagi sejuk itu tak akan didapatkan, kecuali orang-orang yang senantiasa membasahi lisannya dengan dzikrullah.

Al-Imam Syarofuddin Ath-Thibiy –rahimahullah– berkata,

((إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى أَوْجَدَ بِفَضْلِهِ فِيهَا أَشْجَارًا وَقُصُورًا، بِحَسَبِ أَعْمَالِ الْعَامِلِينَ لِكُلِّ عَامِلٍ مَا يَخْتَصُّ بِهِ بِسَبَبِ عَمَلِهِ، ثُمَّ إِنَّهُ تَعَالَى لَمَّا يَسَّرَهُ لِمَا خُلِقَ لَهُ مِنَ الْعَمَلِ لِيَنَالَ بِذَلِكَ الثَّوَابَ جَعَلَهُ كَالْغَارِسِ لِتِلْكَ الْأَشْجَارِ)) مرقاة المفاتيح شرح مشكاة المصابيح – (4 / 1604)

“Sesungguhnya Allah -Ta’ala- menciptakan pepohonan dan istana di dalamnya berkat karunia-Nya, menurut amalan para pelakunya. Setiap pelaku mendapatkan sesuatu yang khusus baginya berkat amalnya. Kemudian Allah -Ta’ala- memberinya kemudahan kepada sesuatu yang ia diciptakan untuknya berupa amalan agar ia kelak meraih pahala dengannya. Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- menganggap si pengucap kalimat-kalimat itu laksana penanam bagi pepohonan surga itu…”. [Lihat Mirqoh Al-Mafatih (4/1604)]

Para pembaca yang budiman, “Tatkala sebab bagi Allah dalam menciptakan pepohonan itu adalah amal pelaku, maka disandarkanlah penanaman itu kepadanya. Sedang maksudnya adalah menjelaskan enaknya surga, memberikan rasa rindu kepadanya dan anjuran untuk terus mengucapkan kalimat-kalimat itu yang merupakan al-baqiyat ash-sholihat (amal-amal saleh yang kekal)”. [Lihat Faidhul Qodir (4/7) karya Al-Munawiy]

Allah –Azza wa Jalla– berfirman,

وَيَزِيدُ اللَّهُ الَّذِينَ اهْتَدَوْا هُدًى وَالْبَاقِيَاتُ الصَّالِحَاتُ خَيْرٌ عِنْدَ رَبِّكَ ثَوَابًا وَخَيْرٌ مَرَدًّا [مريم : 76]

“Dan Allah akan menambah petunjuk kepada mereka yang telah mendapat petunjuk. Dan amal-amal saleh yang kekal itu lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu dan lebih baik kesudahannya”. (QS.  Maryam : 76)

 

Nabi –Shallallahu alaihi wa sallam– bersabda,

أَلَا وَإِنَّ سُبْحَانَ اللهِ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ، وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَاللهُ أَكْبَرُ هُنَّ الْبَاقِيَاتُ الصَّالِحَاتُ

“Ingatlah, sesungguhnya kalimat Subhanallah, walhamdulillah wa laa ilaaha illallah wallahu akbar adalah “al-baqiyat ash-sholihat” (amal-amal saleh yang kekal)”. [HR. Ahmad dalam Al-Musnad (4/267). Syaikh Syu’aib Al-Arna’uth menilai hadits ini shohih dalam Takhrij Al-Musnad (no. 18353)]

Isilah hari-hari kita dengan tasbihtahmid, dan amalan-amalan sholih lainnya, yang akan kita rasakan manfaatnya yang luar biasa.

Semoga Allah –Tabaroka wa Ta’ala– menjadikan kita termasuk golongan yang mendapatkan istana surga yang berhias dengan berbagai keindahan, dan kenikmatan.

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Tulisan lainnya

Doa dan Dzikir

Jannatul-firdaus.net

Menyebar Ilmu Syar’i



Jannatul-firdaus.net

Menyebar Ilmu Syar’i



Bagikan…

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram



Doa dan Dzikir

  • Oleh: Ustadz Dzulqarnain Muhammad Sunusi hafizhahullah
Penghulu IstighfarDari Syaddâd bin Aus radhiyallâhu ‘anhu, Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam mengajarkan doa yang merupakan penghulu istighfar, yang disyariatkan untuk dibaca pada pagi dan petang,

اللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّيْ ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ ، خَلَقْتَنِيْ وَأَنَا عَبْدُكَ ، وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ ، أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ ، أَبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ وَأَبُوءُ بِذَنْبِيْ ، اغْفِرْ لِيْ ، فَإِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلاَّ أَنْتَ

“Ya Allah, Engkaulah Rabb-ku, tiada sembahan (yang hak) kecuali Engkau, Engkau menciptakanku dan saya adalah hamba-Mu, dan saya berada di atas tanggung jawab-Mu dan perjanjian kepada-Mu sesuai dengan kemampuanku, dan saya berlindung kepada-Mu terhadap kejelekan perbuatanku, saya mengakui limpahan nikmat-Mu kepadaku dan saya mengakui segala dosaku. Ampunilah saya karena sesungguhnya tiada yang mampu mengampuni segala dosa, kecuali Engkau.” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhâry dan An-Nasâ`iy]

Penyejuk Hati

Dari Al-Agharr Al-Muzany radhiyallâhu ‘anhu, Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّهُ لَيُغَانُ عَلَى قَلْبِيْ وَإِنِّيْ لأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ فِي الْيَوْمِ مِائَةَ مَرَّةٍ

“Sesungguhnya, kadang terdapat sesuatu yang melekat pada hatiku maka saya pun beristighfar kepada Allah sebanyak seratus kali dalam sehari.” [Diriwayatkan oleh Muslim dan Abu Dâwud]

Istighfar Nabi

Dari Abu Hurairah radhiyallâhu ‘anhu, Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

وَاللَّهِ إِنِّيْ لأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ فِي الْيَوْمِ أَكْثَرَ مِنْ سَبْعِينَ مَرَّةً

“Demi Allah, sesungguhnya saya beristighfar dan bertaubat kepada Allah sebanyak lebih dari tujuh puluh kali dalam sehari.” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhâry]

Tiga Doa Mustajabah

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ثَلَاثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٍ لاَ شَكَّ فِيْهِنَّ: دَعْوَةُ الْوَالِدِ، وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ، وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ

“Ada tiga doa yang mustajab, dan tidak ada keraguan di dalamnya; doa orang tua, doa seorang musafir, dan doa orang yang terzhalimi.” [Diriwayatkan oleh Ahmad, Al-Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad, Abu Dawud, At-Tirmidzi, Ibnu Majah, Ibnu Hibban, dan selainnya. Hadits Hasan karena beberapa pendukungnya. Baca Ash-Shahihah no. 596 dan Tahqiq Musnad Ahmad no. 7510]

Di antara Sumber Kekuatan

Dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, tatkala Fatimah radhiyallahu ‘anha meminta pembantu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau mengajarkan kepada Ali dan Fatimah seraya bersabda,

أَلَا أُعَلِّمُكُمَا خَيْرًا مِمَّا سَأَلْتُمَا؟ إِذَا أَخَذْتُمَا مَضَاجِعَكُمَا أَنْ تُكَبِّرَا اللهَ أَرْبَعًا وَثَلَاثِيْنَ وَتُسَبِّحَاهُ ثَلَاثَةً وَثَلَاثِيْنَ وَتَحْمَدَاهُ ثَلَاثًا وَثَلَاثِيْنَ، فَهُوَ خَيْرٌ لَكُمَا مِنْ خَادِمٍ

“Inginkah kalian berdua aku ajari tentang sesuatu yang lebih baik dari (pembantu) yang kalian berdua minta? Apabila kalian berdua telah mengambil tempat pembaringan, hendaknya kalian berdua bertakbir (membaca Allahu Akbar) 34 kali, bertasbih (membaca Subhanallahu) 33 kali, dan bertahmid (membaca Alhamdulillah) 33 kali. Maka, itu (semua) lebih baik daripada seorang pembantu.” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim]

Doa Terhindar dari Pokok-pokok Pengganggu Jiwa

Dari Anas bin Malik radhiyallâhu ‘anhu, Beliau berkata, “Saya banyak mendengar Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam berdoa,

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الهَمِّ وَالحَزَنِ، وَالعَجْزِ وَالكَسَلِ، وَالبُخْلِ وَالجُبْنِ، وَضَلَعِ الدَّيْنِ، وَغَلَبَةِ الرِّجَالِ

‘Ya Allah sesungguhnya saya berlindung kepada-Mu dari kegelisan dan kesedihan, dari kelemahan dan kemalasan, dari kebakhilan dan sifat pengecut, dan dari penumpukan hutang dan penaklukan kaum lelaki (yang zhalim).’.” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhary]

Dari Perbendaharaan Surga

Dari Abu Musa Abdullah bin Qais Al-Asy’ary radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam berpesan kepadanya,

يَا عَبْدَ اللَّهِ بْنَ قَيْسٍ، أَلاَ أُعَلِّمُكَ كَلِمَةً هِيَ مِنْ كُنُوزِ الجَنَّةِ، لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ

“Wahai Abdullah bin Qais, inginkah engkau kuajari sebuah kalimat yang merupakan salah satu perbendaharaan surga? (Yaitu), (kalimat) Lâ Haula wa Lâ Quwwata Illâ Billâh ‘Tiada daya dan kekuatan kecuali hanya kepada Allah’.” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhary dan Muslim. Lafazh hadits bagi Al-Bukhary]

Doa Ketika Akan Tidur dan Bangun Tidur

Dari Hudzaifah Ibnul Yamân radhiyallâhu ‘anhumâ, beliau berkata, “Adalah Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam bila hendak tidur, beliau membaca

بِاسْمِكَ اللَّهُمَّ أَمُوتُ وَأَحْيَا

Bismikallâhumma amûtu wa ahyâ (Dengan nama-Mu, Ya Allah saya mati dan saya hidup).’

Dan apabila bangun tidur, beliau mengucapkan,

الحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَحْيَانَا بَعْدَ مَا أَمَاتَنَا وَإِلَيْهِ النُّشُورُ

Alhamdulillâhilladzî ahyânâ ba’da mâ amâtanâ wa ilaihin nusyûr (Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kami setelah mematikan kami, dan kepada-Nya lah tempat kembali).’.” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhary]

Doa Saat Angin Berhembus Kencang

Dari Aisyah radhiyallâhu ‘anhâ, beliau bertutur, “Adalah Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam apabila angin berhembus kencang, beliau berdoa,

اللهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ خَيْرَهَا، وَخَيْرَ مَا فِيهَا، وَخَيْرَ مَا أُرْسِلَتْ بِهِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا، وَشَرِّ مَا فِيهَا، وَشَرِّ مَا أُرْسِلَتْ بِهِ

‘Ya Allah, saya memohon kepada-Mu kebaikan (angin ini), dan kebaikan yang terdapat padanya, serta kebaikan yang ia diutus dengannya. Dan saya berlindung kepada-Mu dari kejelekan (angin ini), dan kejelekan yang terdapat padanya, serta kejelekan yang dia diutus dengannya.’.” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhâry dan Muslim. Lafazh hadits milik Imam Muslim]

Doa Ketika Turun Hujan

Dari Aisyah radhiyallâhu ‘anhâ, beliau bertutur, “Sesungguhnya Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam apabila melihat hujan, beliau berdoa,

اللَّهُمَّ صَيِّبًا نَافِعًا

“Ya Allah, (jadikanlah hujan ini) sebagai hujan yang bermanfaat.” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhary]

Doa Indah Saat Sujud

Dari Abu Hurairah radhiyallâhu ‘anhu, Adalah Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam membaca dalam sujudnya,

اللهُمَّ اغْفِرْ لِي ذَنْبِي كُلَّهُ دِقَّهُ، وَجِلَّهُ، وَأَوَّلَهُ وَآخِرَهُ وَعَلَانِيَتَهُ وَسِرَّهُ

“Ya Allah, ampunilah semua dosaku, yang kecil dan yang besar, yang pertama maupun yang terakhir dan yang tampak maupun yang rahasia.” [Diriwayatkan oleh Muslim]

Dzikir Pagi dan Sore

Dari Anas bin Malik radhiyallâhu ‘anhu, Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Fatimah radhiyallâhu ‘anhâ, “Apa yang menahanmu untuk mendengarkan wasiatku kepadamu, (yaitu) engkau membaca saat memasuki waktu pagi dan waktu sore,

يَا حَيُّ يَا قَيُّومُ بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيثُ، أَصْلِحْ لِي شَأْنِي كُلَّهُ، وَلَا تَكِلْنِي إِلَى نَفْسِي طَرْفَةَ عَيْنٍ

‘Wahai Yang Maha Hidup dan Maha Berdiri Sendiri, dengan rahmat-Mu saya mohon pertolongan, perbaikilah segala urusanku dan janganlah engkau wakilkan aku pada diriku sendiri walau sekejap mata.’.” [Diriwayatkan oleh An-Nasâ`iy dalam Al-Kubrâ dan Al-Hakim. Dihasankan oleh Syaikh Al-Albany dalam Ash-Shahîhah no. 227]

Doa Pagi dan Petang, serta Sebelum Tidur

Dari Abu Hurairah radhiyallâhu ‘anhu, beliau berkata, Abu Bakr berkata, “Wahai Rasulullah, ajarkanlah kepadaku suatu yang dibaca bila saya memasuki waktu pagi dan waktu sore, serta bila saya akan tidur.” Beliau bersabda, “Ucapkanlah,

اللَّهُمَّ فَاطِرَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ، عَالِمَ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ، رَبَّ كُلِّ شَيْءٍ وَمَلِيكَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ، أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ نَفْسِي، وَشَرِّ الشَّيْطَانِ وَشِرْكِهِ

‘Ya Allah, Yang Maha Mengetahui yang ghaib dan yang nyata, wahai Rabb Pencipta langit dan bumi, Rabb segala sesuatu dan yang mengusainya. Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang haq kecuali Engkau. Aku berlindung kepada-Mu dari kejelekan diriku, dan dari kejelekan syaitan dan perbuatan kesyirikannya.’.” [Diriwayatkan Ahmad, Abu Dawud, At-Tirmidzy, dan selainnya. Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albany dalam Ash-Shahîhah no. 2753 dan Syaikh Muqbil dalam Al-Jâmi’ Ash-Shahîh 2/532-533]

Dari ‘Utsmân bin  Affân radhiyallâhu ‘anhu, Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah seorang hamba berucap pada pagi setiap hari dan sore setiap malam,

بِسْمِ اللَّهِ الَّذِي لَا يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَيْءٌ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي السَّمَاءِ، وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

‘Dengan nama Allah yang tiada sesuatu apapun yang di bumi maupun ada di langit yang dapat memberi bahaya bersama nama-Nya itu, sedang Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui’, sebanyak tiga kali, pasti tidak akan ada suatu apapun yang membahayakannya.” [Dikeluarkan Al-Bukhary dalam Al-Adab Al-Mufrad, Ahmad, Abu Dawud, At-Tirmidzy, Ibnu Majah, dan Ibnu Hibban. Dikuatkan oleh Syaikh Al-Albany dalam Shahih Al-Adab Al-Mufrad dan Syaikh Muqbil dalam Al-Jâmi’ Ash-Shahîh.]

Dzikir Pagi dan Sore

Dari Abdullah bin Mas’ûd radhiyallâhu ‘anhu, Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam membaca di waktu sore,

أَمْسَيْنَا وَأَمْسَى الْمُلْكُ لِلَّهِ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ، رَبِّ أَسْأَلُكَ خَيْرَ مَا فِي هَذِهِ اللَّيْلَةِ وَخَيْرَ مَا بَعْدَهَا، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا فِي هَذِهِ اللَّيْلَةِ وَشَرِّ مَا بَعْدَهَا، رَبِّ أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْكَسَلِ وَسُوءِ الْكِبَرِ، رَبِّ أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابٍ فِي النَّارِ وَعَذَابٍ فِي الْقَبْرِ

“Kami masuk di waktu sore, sedang segala kekuasaan hanya menjadi milik Allah, segala puji milik Allah. Tiada sesembahan yang haq kecuali Allah semata, tiada serikat bagi-Nya. Milik-Nya segala kekuasaan dan segala pujian, dan Dia-lah Yang Maha Mampu atas segala sesuatu. Rabbku, aku memohon kepada-Mu kebaikan yang ada pada malam ini dan kebaikan yang ada pada sesudahnya. Aku berlindung kepada-Mu dari kejelekan yang pada pada malam ini dan kejelekan sesudahnya. Rabbku, aku berlindung kepada-Mu dari sifat malas dan buruknya umur tua. Rabbku, aku berlindung kepada-Mu dari adzab di Neraka dan dari adzab di dalam kubur.”

Di waktu pagi, beliau membaca,

أَصْبَحْنَا وَأَصْبَحَ الْمُلْكُ لِلَّهِ، … رَبِّ أَسْأَلُكَ خَيْرَ مَا فِي هَذِا الْيَوْمِ وَخَيْرَ مَا بَعْدَهَا، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا فِي هَذِا الْيَوْمِ وَشَرِّ مَا بَعْدَهَا، …

“Kami masuk di waktu pagi, sedang segala kekuasaan hanya menjadi milik Allah… Rabbku, aku memohon kepada-Mu kebaikan yang ada pada hari ini dan kebaikan yang ada pada sesudahnya. Aku berlindung kepada-Mu dari kejelekan yang pada pada hari ini dan kejelekan sesudahnya. ….” [Diriwayatkan Muslim]

Doa Masuk WC

Dari Anas bin Malik radhiyallâhu ‘anhu, beliau bertutur, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila masuk ke tempat membuang hajat, beliau berdoa,

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الخُبُثِ وَالخَبَائِثِ

‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari syaitan laki-laki dan syaitan perempuan.’.” [Diriwayatkan Al-Bukhary  dan Muslim]

Bacaan Sebelum Masuk WC

بِسْمِ اللهِ.

“Dengan menyebut semua nama Allah.”

Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tirai antara pandangan jin dengan aurat manusia di saat seseorang masuk ke dalam WC adalah dengan dia mengatakan ‘Bismillah’.” [Dirwayatkan oleh At-Tirmidzy, Ibnu Majah  dan lainnya. Lihat Irwâ` Al-Ghalîl 1/89-90]

Doa Ketika Setelah Makan

Dari Mu’adz bin Anas radhiyallâhu ‘anhu, Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa yang memakan suatu makanan, lalu berkata,

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَطْعَمَنِي هَذَا الطَّعَامَ، وَرَزَقَنِيهِ مِنْ غَيْرِ حَوْلٍ مِنِّي وَلَا قُوَّةٍ

‘Segala puji bagi Allah yang telah memberiku makan dengan makanan ini dan yang telah merezekikannya untukku tanpa daya dan kekuatan dariku’, pasti akan diampuni dosanya yang telah berlalu.” [Diriwayatkan Ahmad, Abu Dawud, At-Tirmidzy, Ibnu Majah, dan selainnya dengan sanad yang hasan. Dihasankan oleh Syaikh Al-Albany dalam Al-Irwâ` no. 1989]

Doa Setelah Mengenakan Pakaian

Dari Mu’adz bin Anas radhiyallâhu ‘anhu, Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa yang memakai suatu pakaian, lalu berkata,

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي كَسَانِي هَذَا الثَّوْبَ وَرَزَقَنِيهِ مِنْ غَيْرِ حَوْلٍ مِنِّي

‘Segala puji bagi Allah yang memakaikan untukku pakaian ini dan yang telah merezekikannya untukku tanpa daya dan kekuatan dariku’, pasti akan diampuni dosanya yang telah berlalu.” [Diriwayatkan Abu Dawud, Ad-Dârimy, Abu Ya’lâ, Al-Hakim dan selainnya dengan sanad yang hasan.]

Dzikir Bangun Tidur

الحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي عَافَانِي فِي جَسَدِي، وَرَدَّ عَلَيَّ رُوحِي وَأَذِنَ لِي بِذِكْرِهِ

“Segala puji bagi Allah yang telah memberikan kesehatan pada jasadku dan mengembalikan ruhku kepadaku serta mengizinkanku untuk mengingat-Nya.”

[Diriwayatkan oleh At-Tirmidzy dan An-Nasa`iy dalam Al-Kubrâ dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Sanadnya dianggap Jayyid oleh Syaikh Albany dalam Takhrij Al-Kalim Al-Thayyib]

Doa Agar Terlindung dari Kesesatan

Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallâhu ‘anhumâ, Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam pernah berdoa,

اللهُمَّ لَكَ أَسْلَمْتُ، وَبِكَ آمَنْتُ، وَعَلَيْكَ تَوَكَّلْتُ، وَإِلَيْكَ أَنَبْتُ، وَبِكَ خَاصَمْتُ، اللهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِعِزَّتِكَ، لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ، أَنْ تُضِلَّنِي، أَنْتَ الْحَيُّ الَّذِي لَا يَمُوتُ، وَالْجِنُّ وَالْإِنْسُ يَمُوتُونَ

“Ya Allah, kepada-Mulah saya berserah diri, karena-Mu saya beriman, terhadap-Mu saya bertawakkal, kepada-Mu saya kembali (bertaubat), karena-Mu saya berdebat. Ya Allah, Aku berlindung dengan keperkasaan-Mu agar Engkau (tidak) menyesatkanku, tidak ada yang berhak diibadahi kecuali Engkau, Engkau adalah Yang Maha Hidup yang tidak akan mati, sedangkan jin dan manusia akan meninggal.” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhâry dan Muslim. Lafazh hadits milik Imam Muslim]

Berlindung dari Hal-hal yang Mungkar

Dari Quthbah bin Malik radhiyallâhu ‘anhu, Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam selalu membaca doa,

اللَّهُمَّ جَنِّبْنِي مُنْكَرَاتِ الْأَخْلَاقِ، وَالْأَهْوَاءِ، وَالْأَعْمَالِ وَالْأَدْوَاءِ

“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari hal-hal mungkar yang berupa akhlak-akhlak (jelek), hawa-hawa nafsu, amalan-amalan (jelek), dan penyakit-penyakit.” [Dikeluarkan oleh At-Tirmidzy, Ibnu Hibban, Al-Hakim, dan selainnya. Dishahihkan oleh Al-Albany dan Al-Wâdi’iy]

Doa agar Lepas dari Utang

Dari Ali bin Abi Thalib radhiyallâhu ‘anhu, beliau berkata kepada seorang lelaki, “Aku akan mengajarimu beberapa kalimat yang diajarkan oleh Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam kepadaku. Andaikata engkau memiliki hutang sebesar gunung Shîr, Allah akan melunusinya untukmu. Ucapkanlah,

اللَّهُمَّ اكْفِنِي بِحَلَالِكَ عَنْ حَرَامِكَ، وَأَغْنِنِي بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ

“Ya Allah, cukupilah aku dengan (rezeki) yang halal, (sehingga aku tidak memerlukan) yang haram, dan perkayalah aku dengan karunia-Mu, (sehingga aku tidak memerlukan) siapa pun, selain diri-Mu.” [Diriwayatkan oleh Ahmad, At-Tirmidzy, dan Al-Hakim. Dihasankan oleh Al-Albany dalam Ash-Shahîhah no. 266]

Doa Agung di Akhir Setiap Shalat

Dari Mu’adz bin Jabal radhiyalllahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berpesan kepadanya, “Wahai Mu’adz, demi Allah sungguh aku mencintaimu, demi Allah sungguh aku mencintaimu. Janganlah sekali-kali engkau meninggalkan untuk mengucapkan di belakang setiap shalat,

اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ، وَشُكْرِكَ، وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ

‘Ya Allah, bantulah aku dalam berdzikir kepada-Mu, bersyukur dan keindahan ibadah kepada-Mu.’.” [Diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Dawud (lafazh hadits milik beliau), An-Nasâ`iy dalam Al-Kubra, Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban. Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albany dan Syaikh Muqbil]

Dzikir saat Bangun dari Tidur

الحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَحْيَانَا بَعْدَ مَا أَمَاتَنَا وَإِلَيْهِ النُّشُورُ

“Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kami (dengan bangun tidur) setelah mematikan kami (dengan tidur) dan hanya kepadanyalah kami akan dibangkitkan.” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhary dari Hudzaifah Ibnul Yaman dan Abu Dzar Al-Ghifary radhiyallahu ‘anhum, dan Muslim dari Al-Barâ` bin ‘Âzib radhiyallahu ‘anhumâ]

Doa di Akhir Shalat

Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam mengajarkan doa kepada Abu Bakr Ash-Shiddîq radhiyallâhu ‘anhu agar doa tersebut dibaca pada akhir shalat dan ketika berada di rumah,

اللَّهُمَّ إِنِّيْ ظَلَمْتُ نَفْسِيْ ظُلْمًا كَثِيرًا ، وَلاَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلاَّ أَنْتَ ، فَاغْفِرْ لِيْ مَغْفِرَةً مِنْ عِنْدِكَ ، وَارْحَمْنِيْ ، إِنَّكَ أَنْتَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

“Ya Allah, sesungguhnya saya telah menzhalimi diriku dengan kezhaliman yang banyak, sedang tiada yang dapat mengampuni segala dosa, kecuali Engkau. Ampunilah saya dengan pengampunan dari sisi-Mu, dan rahmatilah saya. Sesungguhnya Engkau Maha mengampuni lagi Maha Merahmati.” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhâry dan Muslim dari Abu Bakr Ash-Shiddîq radhiyallâhu ‘anhu]

Doa Ketika Melihat Suatu Cobaan

Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam mengajarkan,

مَنْ رَأَى مُبْتَلًى، فَقَالَ: الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ عَافَانِيْ مِمَّا ابْتَلاَكَ بِهِ، وَفَضَّلَنِيْ عَلَى كَثِيْرٍ مِمَّنْ خَلَقَ تَفْضِيْلاً لَمْ يُصِبْهُ ذَلِكَ الْبَلاَءُ

“Barangsiapa yang menyaksikan orang yang tertimpa ujian, hendaknya dia membaca, ‘Alhamdulillâhil ladzî ‘âfânî mimmâb talâka bihi wa fadhdhalanî ‘alâ katsîrin mimman khalaqa tafdhîlan ‘segala puji bagi Allah yang memberi afiat kepadaku terhadap sesuatu yang menimpamu, dan (Allah) telah memberi keutamaan kepadaku di atas banyak makhluk-Nya’.’ Pasti ujian itu tidak akan menimpanya.” [Diriwayatkan oleh At-Tirmidzy dan selainnya. Dihasankan oleh Al-Albâny dalam Ash-Shahîhah no. 602]

Bacaan Ketika Mendengar Gemuruh Awan

Dari Abdullah bin Zubair radhiyallâhu ‘anhumâ, apabila mendengar gemuruh awan, beliau menghentikan pembicaraan dan berdoa

سُبْحَانَ الَّذِي يُسَبِّحُ الرَّعْدُ بِحَمْدِهِ، وَالْمَلاَئِكَةُ مِنْ خِيفَتِهِ

“Maha Suci (Allah) yang guruh itu bertasbih dengan memuji-Nya, dan para malaikat karena takut kepada-Nya.” [Diriwayatkan oleh Malik, Al-Bukhary dalam Al-Adab Al-Mufrad dan selainnya. Dishahihkan oleh Al-Albany]

Berlindung dari Empat Perkara

اللهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لَا يَنْفَعُ، وَمِنْ قَلْبٍ لَا يَخْشَعُ، وَمِنْ نَفْسٍ لَا تَشْبَعُ، وَمِنْ دَعْوَةٍ لَا يُسْتَجَابُ لَهَا

“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat, hati yang tidak khusyu’, jiwa yang tidak pernah puas, dan dari doa yang tidak dikabulkan.” [Diriwayatkan oleh Muslim dari Zaid bin Arqam radhiyallâhu ‘anhu dari Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam]

Doa Setelah Mendengar Adzan

Dari Jabir bin Abdillah radhiyallâhu ‘anhumâ, Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa yang berdoa ketika mendengar adzan,

اللَّهُمَّ رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ، وَالصَّلاَةِ القَائِمَةِ آتِ مُحَمَّدًا الوَسِيلَةَ وَالفَضِيلَةَ، وَابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُودًا الَّذِي وَعَدْتَهُ

‘Ya Allah! Wahai Rabb seruan yang sempurna ini dan shalat yang akan ditegakkan ini, berikanlah kepada Muhammad al-wasilah dan keutamaan, dan bangkitkanlah beliau pada tempat yang dipuji (maqam mahmud) yang telah Engkau janjikan kepadanya’, niscaya ia pasti akan beroleh syafaatku pada hari kiamat.” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhary]

Doa untuk Seorang yang Menikah

Dari Abu Hurairah radhiyallâhu ‘anhu, beliau berkata, “Adalah Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam bila memberi ucapan kegembiraan terhadap seorang yang menikah, beliau mendoakan,

بَارَكَ اللَّهُ لَكَ، وَبَارَكَ عَلَيْكَ، وَجَمَعَ بَيْنَكُمَا فِي خَيْرٍ

‘Semoga Allah melimpahkan keberkahan kepadamu dan melimpahkan keberkahan terhadapmu, serta mengumpulkan kalian berdua dalam kebaikan.’.” [Diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Dawud, At-Tirmidzy, An-Nasâ`iy, dan Ibnu Mâjah]

Doa Ketika Singgah di Suatu Tempat

Dari Khaulah bintu Hakîm radhiyallâhu ‘anhâ, beliau berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallâhu

‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang singgah di suatu tempat, lalu berdoa,

أَعُوْذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ

‘Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari kejahatan segala makhluk-Nya’,

tiada sesuatupun yang akan membahayakan dirinya sampai dia meninggalkan tempat tersebut.’.”

[Diriwayatkan oleh Muslim]

Doa Agar Mendapat Kepahaman

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mendoakan Ibnu ‘Abbas,

اللَّهُمَّ فَقِّهْهُ فِي الدِّينِ

“Ya Allah, berilah kefaqihan untuknya terhadap agama.” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhary dan Muslim]

Doa Nabi untuk Musafir

أَسْتَوْدِعُ اللهَ دِينَكَ، وَأَمَانَتَكَ، وَخَوَاتِمَ عَمَلِكَ

“Aku titipkan kepada Allah agamamu, amanahmu, dan penutup amalmu.” [Diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Dawud, dan selainnya dari beberapa orang shahabat. Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albany dan Syaikh Muqbil.]

Doa Perjalanan

Dari Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata, Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila tersempurna di atas untanya, keluar melakukan safar, beliau membaca Allahu Akbar 3 kali, kemudian berdoa,

سُبْحَانَ الَّذِي سَخَّرَ لَنَا هَذَا، وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِينَ، وَإِنَّا إِلَى رَبِّنَا لَمُنْقَلِبُونَ، اللهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ فِي سَفَرِنَا هَذَا الْبِرَّ وَالتَّقْوَى، وَمِنَ الْعَمَلِ مَا تَرْضَى، اللهُمَّ هَوِّنْ عَلَيْنَا سَفَرَنَا هَذَا، وَاطْوِ عَنَّا بُعْدَهُ، اللهُمَّ أَنْتَ الصَّاحِبُ فِي السَّفَرِ، وَالْخَلِيفَةُ فِي الْأَهْلِ، اللهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ وَعْثَاءِ السَّفَرِ، وَكَآبَةِ الْمَنْظَرِ، وَسُوءِ الْمُنْقَلَبِ فِي الْمَالِ وَالْأَهْلِ

“Maha Suci (Allah) Yang telah menundukkan semua ini bagi kami padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya, dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Rabb kami. Ya Allah, dalam perjalanan ini, kami memohon kepada-Mu kebaikan dan ketakwaan serta amalan yang engkau ridhai. Ya Allah, ringankanlah safar kami ini terhadap kami dan pendekkanlah kejauhannya. Ya Allah, Engkau adalah Kawan dalam perjalanan dan Pengganti di tengah keluarga. Ya Allah, sesungguhnya Aku berlindung kepadamu dari keletihan safar, pemandangan yang menyedihkan, dan perubahan yang jelek pada harta dan keluarga.” [Diriwayatkan oleh Muslim]

Doa Keteguhan Hati

Dari Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhumâ, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdoa,

اللهُمَّ مُصَرِّفَ الْقُلُوبِ صَرِّفْ قُلُوبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ

“Ya Allah Yang membolak-balik hati, arahkanlah hati-hati kami di atas ketaatan kepada-Mu.” [Diriwayatkan oleh Muslim]

Dzikir Pagi yang Penuh Manfaat

Dari Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha, adalah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan selepas shalat Subuh,

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَرِزْقًا طَيِّبًا، وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً

“Ya Allah, sungguh aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rezeki yang baik dan amal yang diterima.” [Diriwayatkan oleh Ahmad, An-Nasâ`iy dalam ‘Amalul Yaum wal Lailah, Ibnu Majah, dan selainnya. Dihasankan oleh Ibnu Hajar karena pendukungnya dalam Takhrij Al-Adzkâr.]

Doa Minta Petunjuk

Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau berdoa,

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالْعَفَافَ وَالْغِنَى

“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu Petunjuk, Ketakwaan, ‘Iffah (penjaggaan diri dari hal yang tidak diperbolehkan), dan Kecukupan.” [Diriwayatkan oleh Muslim]

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Tulisan lainnya

Anjuran dan Keutamaan Berdzikir


| Menu

| MENU

Bagikan…

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram



Anjuran dan Keutamaan Berdzikir

  • Oleh: Ustadz Dzulqarnain M. Sunusi hafizhahullah
  • [Pembina Peduli Dakwah]

Di antara bekal penting bagi seorang muslim dan muslimah dalam mengarungi samudra kehidupan adalah dzikir kepada Allah. Bukanlah hal samar akan keagungan dan kemuliaan kedudukan dzikir dalam tuntunan Al-Qur`an dan Sunnah, yang keduanya telah menjelaskan tentang keutamaan, tata cara, dan bentuk-bentuknya dengan uraian yang sangat meluas dan mengesankan.

Adapun anjuran dan keutamaan dzikir dan berdzikir, itu merupakan suatu hal yang sangat menerangi jiwa seorang hamba tatkala dicermati dan direnungi olehnya.

Dalam Al-Qur`an Al-Karim, terdapat beberapa sisi penjelasan tentang keutamaan dzikir dan berdzikir, di antaranya:

Pertama: Allah memerintahkan untuk berdzikir. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

وَاذْكُرِ اسْمَ رَبِّكَ وَتَبَتَّلْ إِلَيْهِ تَبْتِيلًا.

“Berdzikirlah (dengan menyebut) nama Rabb-mu dan beribadahlah kepada-Nya dengan penuh ketekunan.” [Al-Muzzammil: 8]

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا. وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلًا. هُوَ الَّذِي يُصَلِّي عَلَيْكُمْ وَمَلَائِكَتُهُ لِيُخْرِجَكُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ وَكَانَ بِالْمُؤْمِنِينَ رَحِيمًا.

“Wahai orang-orang yang beriman, berdzikirlah kepada Allah dengan dzikir yang sebanyak-banyaknya, dan bertasbihlah kepada-Nya pada pagi dan petang. Dialah yang memberi rahmat kepada kalian, sedang malaikat-Nya (memohonkan ampunan untuk kalian), supaya Dia mengeluarkan kalian dari kegelapan kepada cahaya (yang terang). Dan adalah Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman.” [Al-Ahzâb: 41-43]

وَاذْكُرْ رَبَّكَ كَثِيرًا وَسَبِّحْ بِالْعَشِيِّ وَالْإِبْكَارِ.

“Dan berdzikirlah kepada Rabb-mu sebanyak-banyaknya serta bertasbihlah pada petang dan pagi hari.” [Ali Imrân: 41]

وَاذْكُرِ اسْمَ رَبِّكَ بُكْرَةً وَأَصِيلًا.

“Dan berdzikirlah (dengan menyebut) nama Rabb-mu pada pagi dan petang.” [Al-Insân: 25]

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا لَقِيتُمْ فِئَةً فَاثْبُتُوا وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ.

“Wahai orang-orang yang beriman, apabila kalian memerangi pasukan (musuh), berteguhhatilah kalian dan berdzikirlah kepada Allah sebanyak-banyaknya agar kalian beruntung.” [Al-Anfâl: 45]

Kedua: Allah Subhânahu wa Ta’âlâ melarang untuk melalaikan atau melupakan dzikir,

وَاذْكُرْ رَبَّكَ فِي نَفْسِكَ تَضَرُّعًا وَخِيفَةً وَدُونَ الْجَهْرِ مِنَ الْقَوْلِ بِالْغُدُوِّ وَالْآصَالِ وَلَا تَكُنْ مِنَ الْغَافِلِينَ.

“Dan berdzikirlah kepada Rabb-mu pada dirimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dengan tidak mengeraskan suara, pada pagi dan petang, serta janganlah engkau termasuk sebagai orang-orang yang lalai.” [Al-A’râf: 205]

Ibnul Qayyim rahimahullâh menyebutkan dua penafsiran frasa “pada dirimu”:

  1. Bermakna dalam hatimu.
  2. Bermakna dengan lisanmu sebatas memperdengarkan diri sendiri.

Allah Subhânahu berfirman pula,

وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللَّهَ فَأَنْسَاهُمْ أَنْفُسَهُمْ أُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ.

“Dan janganlah kalian seperti orang-orang yang lupa terhadap Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa terhadap diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang fasik.” [Al-Hasyr: 19]

Sifat orang-orang yang beriman adalah tidak terlalaikan dari dzikirnya oleh suatu apapun. Allah ‘Azza wa Jalla menjelaskan,

فِي بُيُوتٍ أَذِنَ اللَّهُ أَنْ تُرْفَعَ وَيُذْكَرَ فِيهَا اسْمُهُ يُسَبِّحُ لَهُ فِيهَا بِالْغُدُوِّ وَالْآصَالِ. رِجَالٌ لَا تُلْهِيهِمْ تِجَارَةٌ وَلَا بَيْعٌ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ يَخَافُونَ يَوْمًا تَتَقَلَّبُ فِيهِ الْقُلُوبُ وَالْأَبْصَارُ.

“Bertasbih kepada Allah di masjid-masjid, yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya, pada pagi dan petang, laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan tidak pula oleh jual beli dari mengingat Allah, (dari) mendirikan shalat, dan (dari) membayarkan zakat. Mereka takut terhadap suatu hari yang (pada hari itu) hati dan penglihatan menjadi guncang.” [An-Nûr: 36-37]

Ketiga: Allah Ta’âlâ mengabarkan bahaya terhadap orang-orang yang berpaling dari dzikir,

وَمَنْ يَعْشُ عَنْ ذِكْرِ الرَّحْمَنِ نُقَيِّضْ لَهُ شَيْطَانًا فَهُوَ لَهُ قَرِينٌ.

“Barangsiapa yang berpaling dari dzikir kepada (Allah) Yang Maha Pemurah (Al-Qur`an), Kami mengadakan syaithan (yang menyesatkan) baginya maka syaithan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya.” [Az-Zukhruf: 36]

لِنَفْتِنَهُمْ فِيهِ وَمَنْ يُعْرِضْ عَنْ ذِكْرِ رَبِّهِ يَسْلُكْهُ عَذَابًا صَعَدًا.

“Agar Kami memberi cobaan kepada mereka padanya. Dan barangsiapa yang berpaling dari dzikir kepada Rabb-nya, niscaya dia akan dimasukkan oleh-Nya ke dalam azab yang amat berat.” [Al-Jin: 17]

وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى.

“Dan barangsiapa yang berpaling dari dzikir kepada-Ku, sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.” [Thâhâ: 124]

Keempat: perintah Allah untuk menghindari orang-orang yang lalai terhadap dzikir. Allah Subhânahu wa Ta’âlâ berfirman,

فَأَعْرِضْ عَنْ مَنْ تَوَلَّى عَنْ ذِكْرِنَا وَلَمْ يُرِدْ إِلَّا الْحَيَاةَ الدُّنْيَا.

“Maka berpalinglah engkau dari orang yang berpaling dari dzikir kepada Kami dan tidak menginginkan (apa-apa), kecuali kehidupan duniawi.” [An-Najm: 29]

وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطًا.

“Dan janganlah engkau mengikuti orang-orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari dzikir kepada Kami serta yang menuruti hawa nafsunya, dan adalah keadaannya itu melewati batas.” [Al-Kahf: 28]

Kelima: Allah Jalla Jalâluhu mengadakan keberuntungan bagi siapa saja yang memperbanyak atau terus menerus berdzikir kepada-Nya,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا لَقِيتُمْ فِئَةً فَاثْبُتُوا وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ.

“Wahai orang-orang yang beriman, apabila kalian memerangi pasukan (musuh), berteguhhatilah kalian dan berdzikirlah kepada Allah sebanyak-banyaknya agar kalian beruntung.” [Al-Anfâl: 45]

اذْهَبْ أَنْتَ وَأَخُوكَ بِآيَاتِي وَلَا تَنِيَا فِي ذِكْرِي.

“Pergilah engkau beserta saudaramu dengan membawa ayat-ayat-Ku, serta janganlah kalian berdua lalai dalam berdzikir kepada-Ku.” [Thâhâ: 42]

Keenam: pujian Allah Subhânahu wa Ta’âlâ kepada orang-orang yang berdzikir dan penyebutan pahala untuk mereka,

إِنَّ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ … وَالذَّاكِرِينَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ أَعَدَّ اللَّهُ لَهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا.

“Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim,… laki-laki dan perempuan yang banyak berdzikir kepada Allah, Allah telah menyediakan ampunan dan pahala yang besar untuk mereka.” [Al-Ahzâb: 35]

Ketujuh: Allah ‘Azza wa Jalla mengabarkan kerugian orang yang lalai terhadap dzikir,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ.

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah harta-harta dan anak-anak kalian melalaikan kalian dari berdzikir kepada Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian, mereka itulah orang-orang yang rugi.” [Al-Munâfiqîn: 9]

Kedelapan: Allah akan senantiasa mengingat dan menyebut orang-orang yang berdzikir sebagai balasan untuk amalan mereka. Allah Jallat ‘Azhamatuhu berfirman,

فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ.

“Oleh karena itu, berdzikirlah kalian kepada-Ku, niscaya Aku mengingat kalian (pula), bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kalian mengingkari (nikmat)-Ku.” [Al-Baqarah: 152]

Kesembilan: Allah Subhânahu wa Ta’âlâ mengabarkan bahwa dzikir lebih besar daripada segala sesuatu,

اتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ وَأَقِمِ الصَّلَاةَ إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.

“Bacalah apa-apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al-Kitab (Al-Qur`an), dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya dzikir kepada Allah adalah lebih besar. Dan Allah mengetahui segala sesuatu yang kalian kerjakan.” [Al-‘Ankabût: 45]

Tentang makna “Dan sesungguhnya dzikir kepada Allah adalah lebih besar”, ada beberapa penafsiran di kalangan ulama[1]:

  1. Bahwa dzikir kepada Allah lebih besar daripada segala sesuatu karena maksud segala ketaatan yang dilakukan untuk Allah adalah guna menegakkan dzikir kepada-Nya. Oleh karena itu, dzikir adalah sebaik-baik, inti, dan ruh ketaatan.
  2. Bahwa penyebutan kalian dengan dzikir kepada Allah akan menyebabkan Allah menyebut dan mengingat kalian, sedang penyebutan Allah kepada kalian adalah lebih besar daripada dzikir kalian kepada-Nya.
  3. Bermakna bahwa dzikir kepada Allah itu sangatlah besar dan agung sehingga tidaklah pantas ada kekejian dan kemungkaran yang melekat bersamanya. Bahkan, bila dzikir telah ditegakkan, sirnalah segala dosa dan maksiat.
  4. Bahwa kandungan ayat menjelaskan bahwa shalat mempunyai dua faedah: (1) shalat itu mencegah dari kekejian dan kemungkaran, serta (2) shalat menghimpun dan mencakup dzikir kepada Allah. Sementara itu, dzikir yang terkandung dalam shalat lebih agung dan lebih besar daripada pencegahan shalat terhadap perbuatan keji dan mungkar.

Kesepuluh: Allah menjadikan dzikir sebagai penutup amalan-amalan shalih, seperti perintah Allah Ta’âlâ untuk menutup shalat dengan dzikir dalam firman-Nya,

فَإِنْ خِفْتُمْ فَرِجَالًا أَوْ رُكْبَانًا فَإِذَا أَمِنْتُمْ فَاذْكُرُوا اللَّهَ كَمَا عَلَّمَكُمْ مَا لَمْ تَكُونُوا تَعْلَمُونَ.

“Jika kalian berada dalam keadaan takut (bahaya), kerjakanlah shalat sambil berjalan atau berkendaraan. Kemudian, apabila kalian telah aman, berdzikirlah kepada Allah sebagaimana Allah telah mengajarkan apa-apa yang belum kalian ketahui kepada kalian.” [Al-Baqarah: 239]

sebagai penutup haji dalam firman-Nya,

فَإِذَا قَضَيْتُمْ مَنَاسِكَكُمْ فَاذْكُرُوا اللَّهَ كَذِكْرِكُمْ آبَاءَكُمْ أَوْ أَشَدَّ ذِكْرًا.

“Apabila kalian telah menyelesaikan ibadah haji, berdzikirlah (dengan menyebut nama) Allah sebagaimana kalian menyebut-nyebut (membangga-banggakan) nenek moyang kalian, atau (bahkan) berdzikirlah lebih banyak daripada itu.” [Al-Baqarah: 200]

dan setelah shalat Jum’at,

فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانْتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللَّهِ وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ.

“Apabila shalat telah ditunaikan, bertebaranlah kalian di muka bumi; serta carilah karunia Allah dan berdzikirlah kepada Allah sebanyak-banyaknya supaya kalian beruntung.” [Al-Jumu’ah: 10]

Kesebelas: yang bisa memahami dan mengambil manfaat dari ayat-ayat Allah hanyalah orang-orang yang berdzikir,

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ. الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi serta silih bergantinya malam dan siang, terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang senantiasa berdzikir kepada Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), ‘Wahai Rabb kami, tiadalah Engkau menciptakan ini secara sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami terhadap siksa neraka.” [Ali ‘Imrân: 190-191]

Kedua belas: dzikir adalah penyejuk hati dan penenang jiwa bagi orang-orang yang beriman sebagaimana dalam firman-Nya,

الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ.

“Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan dzikir kepada Allah. Ingatlah, hanya dengan dzikir kepada Allah-lah, hati menjadi tenteram.” [Al-Ra’d: 28]

اللَّهُ نَزَّلَ أَحْسَنَ الْحَدِيثِ كِتَابًا مُتَشَابِهًا مَثَانِيَ تَقْشَعِرُّ مِنْهُ جُلُودُ الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ ثُمَّ تَلِينُ جُلُودُهُمْ وَقُلُوبُهُمْ إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ ذَلِكَ هُدَى اللَّهِ يَهْدِي بِهِ مَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُضْلِلِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ هَادٍ.

“Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik, (yaitu) Al-Qur`an yang (ayat-ayatnya) serupa lagi berulang-ulang. Gemetar karenanya, kulit orang-orang yang takut terhadap Rabb-nya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka menuju dzikir kepada Allah. Itulah hidayah Allah yang, dengan (kitab) itu, Dia memberi hidayah kepada siapa saja yang Dia kehendaki. Dan barangsiapa yang disesatkan oleh Allah, tiada seorang pun pemberi petunjuk baginya.” [Az-Zumar: 23]

Ketiga belas: Allah membedakan antara orang-orang beriman dan Ahlul Kitab dalam hal berdzikir kepada Allah. Allah Jalla Sya`nuhu berfirman,

أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ وَلَا يَكُونُوا كَالَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الْأَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ وَكَثِيرٌ مِنْهُمْ فَاسِقُونَ.

“Belumkah datang waktu bagi orang-orang yang beriman untuk hati mereka tunduk dalam berdzikir kepada Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka)? Janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al-Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka, tetapi hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang fasik.” [Al-Hadîd: 16]

Keempat belas: sedikit atau melupakan berdzikir adalah salah satu sifat orang-orang munafik sebagaimana yang diterangkan dalam firman-Nya,

إِنَّ الْمُنَافِقِينَ يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْ وَإِذَا قَامُوا إِلَى الصَّلَاةِ قَامُوا كُسَالَى يُرَاءُونَ النَّاسَ وَلَا يَذْكُرُونَ اللَّهَ إِلَّا قَلِيلًا.

“Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, tetapi (Allah) akan membalas tipuan mereka. Apabila berdiri untuk mengerjakan shalat, mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan mengerjakan shalat) di hadapan manusia, dan tidaklah mereka berdzikir kepada Allah, kecuali sedikit sekali.” [An-Nisâ`: 142]

اسْتَحْوَذَ عَلَيْهِمُ الشَّيْطَانُ فَأَنْسَاهُمْ ذِكْرَ اللَّهِ أُولَئِكَ حِزْبُ الشَّيْطَانِ أَلَا إِنَّ حِزْبَ الشَّيْطَانِ هُمُ الْخَاسِرُونَ.

“Syaithan telah menguasai mereka lalu menjadikan mereka melupakan dzikir kepada Allah; mereka itulah golongan syaithan. Ketahuilah bahwa sesungguhnya golongan syaithan itulah golongan yang merugi.” [Al-Mujâdilah: 19]

Kelima belas: Allah menjelaskan tentang upaya syaithan dalam hal memalingkan manusia dari dzikir. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

إِنَّمَا يُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَنْ يُوقِعَ بَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَاءَ فِي الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ وَيَصُدَّكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَعَنِ الصَّلَاةِ فَهَلْ أَنْتُمْ مُنْتَهُونَ.

“Sesungguhnya syaithan itu hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kalian lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, serta menghalangi kalian dari dzikir kepada Allah dan dari shalat; tidakkah kalian berhenti (dari mengerjakan perbuatan itu)?” [Al-Mâ`idah: 91]

Keenam belas: banyak berdzikir adalah salah satu karakter orang yang mengambil suri teladan dari Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam sebagaimana dalam firman-Nya,

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا.

“Sesungguhnya telah ada suri teladan yang baik bagimu pada (diri) Rasulullah itu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat serta banyak berdzikir kepada Allah.” [Al-Ahzâb: 21]

Ketujuh belas: celaan terhadap orang yang hatinya membatu terhadap dzikir kepada Allah sebagaimana dalam firman-Nya,

أَفَمَنْ شَرَحَ اللَّهُ صَدْرَهُ لِلْإِسْلَامِ فَهُوَ عَلَى نُورٍ مِنْ رَبِّهِ فَوَيْلٌ لِلْقَاسِيَةِ قُلُوبُهُمْ مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ أُولَئِكَ فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ.

“Maka apakah orang-orang, yang hatinya dibukakan oleh Allah untuk (menerima) agama Islam lalu mendapat cahaya (hidayah) dari Rabb-nya (sama dengan orang yang hatinya membatu)? Maka kecelakaan besarlah bagi mereka yang hatinya telah membatu terhadap dzikir kepada Allah. Mereka itu berada dalam kesesatan yang nyata.” [Az-Zumar: 22]

Demikian beberapa sisi keutamaan berdzikir kepada Allah dalam uraian Al-Qur`an. Tentunya masih banyak keterangan yang luput dijelaskan di sini. Sunnah Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam juga mengandung sejumlah keutamaan lain. Semoga Allah menjadikan kita semua sebagai orang yang senantiasa mengingat Allah, memuji, dan mengagungkan-Nya. Kita memohon pula kepada-Nya agar dijauhkan dari golongan orang-orang yang lalai terhadap dzikir dan mengingat Allah. Innahu Jawwâdun Karîm.

[1] Sebagaimana keterangan Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah rahimahullâh dalam kitabnya, Madârij As-Sâlikîn, sedang pendapat keempat, beliau nukil dari guru beliau, Ibnu Taimiyah rahimahullâh.


Download Pdf

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Tulisan lainnya

jannatul-firdaus.net @2022

Beberapa Adab dan Etika dalam Berdzikir


| Menu

| MENU

Bagikan…

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram



Beberapa Adab dan Etika dalam Berdzikir

  • Oleh: Ustadz Dzulqarnain M. Sunusi hafizhahullah
  • [Pembina Peduli Dakwah]

Dalam Al-Qur`an Al-Karim, Allah Subhânahu wa Ta’âlâ berfirman,

وَاذْكُرْ رَبَّكَ فِي نَفْسِكَ تَضَرُّعًا وَخِيفَةً وَدُونَ الْجَهْرِ مِنَ الْقَوْلِ بِالْغُدُوِّ وَالْآصَالِ وَلَا تَكُنْ مِنَ الْغَافِلِينَ.

“Dan berdzikirlah kepada Rabb-mu pada dirimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak menjaharkan suara, pada pagi dan petang, serta janganlah kamu termasuk sebagai orang-orang yang lalai.” [Al-A’râf: 205]

Dalam ayat yang mulia ini, terdapat sejumlah adab dan etika berkaitan dengan dzikir kepada Allah Ta’âlâ.

Berikut uraiannya.

Pertama: dalam ayat di atas, termaktub perintah untuk berdzikir kepada Allah. Telah berlalu, pada tulisan sebelumnya, berbagai perintah untuk berdzikir beserta keutamaan berdzikir kepada Allah dan besarnya anjuran dalam syariat untuk hal tersebut. Seluruh hal tersebut memberikan pengertian akan pentingnya arti berdzikir dalam kehidupan seorang hamba.

Kedua: firman-Nya, “Dan berdzikirlah kepada Rabb-mu pada dirimu,” mengukir sebuah etika yang patut dipelihara dalam berdzikir kepada llahi, yaitu dzikir hendaknya dalam diri dan tidak dijaharkan. Yang demikian itu lebih mendekati pintu ikhlas, lebih patut dikabulkan, dan lebih jauh dari kenistaan riya. Ibnul Qayyim rahimahullâh menyebut dua penafsiran frasa “pada dirimu”:

  1. Bermakna dalam hatimu.
  2. Bermakna dengan lisanmu sebatas memperdengarkan diri sendiri.

Namun, penafsiran kedualah yang lebih tepat berdasarkan dalil kelanjutan ayat “… dan dengan tidak menjaharkan suara,” sebagaimana yang akan diterangkan.

Ketiga: firman-Nya, “dengan merendahkan diri,” mengandung etika indah yang patut mewarnai seluruh ibadah, yaitu hendaknya dzikir dilakukan dengan merendahkan diri kepada Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung. Hal yang demikian lebih mendekati makna ibadah yang mengandung pengertian merendah dan menghinakan diri serta tunduk dan bersimpuh di hadapan-Nya. Dengan menjaga etika ini, seorang hamba akan lebih mewujudkan hakikat penghambaan dan lebih mendekati kesempurnaan rasa tunduk kepada Allah Jallat ‘Azhamatuhu. Kapan saja seorang hamba berpijak di atas kaidah ini dalam seluruh ibadahnya, niscaya ia akan semakin mengenal jati dirinya sebagai seorang hamba yang penuh dengan kelemahan dan kekurangan, sebagai seorang hamba yang harus bersikap tawadhu dan membuang segala kecongkakan.

Keempat: firman-Nya, “Dan berdzikirlah kepada Rabb-mu … dan rasa takut,” maksudnya adalah berdzikirlah kepada Rabb-mu dalam keadaan khawatir bila terdapat kekurangan pada amalanmu dan dalam keadaan takut bila amalanmu tertolak atau tidak diterima. Etika ini adalah ketentuan tetap yang mesti dipelihara oleh setiap muslim dan muslimah dalam melaksanakan setiap ibadah.

Sangatlah banyak keterangan dari Al-Qur`an dan hadits yang mengingatkan etika agung yang banyak dilalaikan oleh sejumlah manusia ini. Di antara keterangan tersebut adalah firman Allah Jalla Jalâluhu yang menjelaskan keadaan orang-orang beriman yang bersegera menuju kebaikan,

وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَى رَبِّهِمْ رَاجِعُونَ. أُولَئِكَ يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَهُمْ لَهَا سَابِقُونَ.

“Dan orang-orang yang memberikan apa-apa yang telah mereka berikan dengan hati yang takut (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Rabb mereka, mereka itu bersegera untuk mendapat kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang yang segera memperolehnya.” [Al-Mu`minûn: 60-61]

Aisyah radhiyallâhu ‘anhâ bertanya kepada Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam tentang firman-Nya “Dan orang-orang yang memberikan apa-apa yang telah mereka berikan dengan hati yang takut …,” “Apakah yang dimaksud adalah orang yang berzina, mencuri, dan meminum khamar?” Maka Nabi n menjawab,

لاَ يَا بِنْتَ الصِّدِّيْقِ وَلَكِنَّهُ الرَّجُلُ يَصُوْمُ وَيُصَلِّي وَيَتَصَدَّقُ وَهُوَ يَخَافُ أَنْ لاَ يُقْبَلُ مِنْهُ

Bukan, wahai putri Ash-Shiddiq, melainkan yang dimaksud adalah orang yang berpuasa, menunaikan shalat, dan bersedekah, tetapi ia khawatir bila (amalan)nya tidak diterima.” [1]

Kelima: firman-Nya, “dan dengan tidak menjaharkan suara,” juga merupakan etika yang patut diperhatikan karena berdzikir dengan tidak mengeraskan suara akan lebih mendekati khusyu’ serta lebih indah dalam benak dan pikiran. Dalam sebuah riwayat, disebutkan bahwa, dalam sebuah perjalanan, terdapat sekelompok shahabat yang menjaharkan suaranya kala berdoa maka Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam berpesan kepada mereka,

أَيُّهَا النَّاسُ ارْبَعُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ، إِنَّكُمْ لَيْسَ تَدْعُونَ أَصَمَّ وَلَا غَائِبًا، إِنَّكُمْ تَدْعُونَ سَمِيعًا قَرِيبًا، وَهُوَ مَعَكُمْ

“Wahai sekalian manusia, kuasailah diri-diri kalian dan rendahkanlah suara kalian karena sesungguhnya kalian tidaklah berdoa kepada yang tuli tidak pula kepada yang tidak hadir. Sesungguhnya kalian berdoa kepada Yang Maha Mendengar lagi Maha Dekat, dan Dia bersama dengan kalian.” [2]

Ath-Thabary rahimahullâh berkata, “Hadits (di atas) menunjukkan makruhnya menjaharkan suara ketika berdoa dan berdzikir. Ini adalah pendapat mayoritas ulama salaf dari kalangan shahabat dan tabi’in.”[3]

Dalam hadits Abu Sa’îd Al-Khudry radhiyallâhu ‘anhu, Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَلَا إِنَّ كُلَّكُمْ مُنَاجٍ رَبَّهُ فَلَا يُؤْذِيَنَّ بَعْضُكُمْ بَعْضًا وَلَا يَرْفَعْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَعْضٍ فِي الْقِرَاءَةِ أَوْ قَالَ فِي الصَّلَاةِ

Ketahuilah bahwa setiap orang di antara kalian bermunajat kepada Rabb-nya maka janganlah sekali-sekali sebagian di antara kalian mengganggu sebagian yang lain, jangan pula sebagian di antara kalian mengangkat suaranya terhadap sebagian yang lain dalam membaca, -atau beliau berkata-, … dalam shalat. [4]

Keenam: hendaknya dzikir itu dilakukan dengan hati dan lisan, bukan dengan hati saja. Etika ini dipetik dari firman-Nya “… dan dengan tidak menjaharkan suara.” Menjaharkan sesuatu berarti mengangkat dan mengumumkan suara. Oleh karena itu, ayat ini adalah nash bahwa dzikir itu dilakukan dengan lisan, tetapi tidak dijaharkan. Demikian simpulan keterangan sejumlah ahli tafsir mengenai ayat ini.

Ketujuh: firman-Nya “… pada pagi dan petang,” menunjukkan keutamaan berdzikir pada dua waktu ini: pagi dan petang. Keistimewaan berdzikir pada dua waktu ini dikarenakan banyaknya ketenangan dan kesempatan pada waktu tersebut, serta kebanyakan urusan kehidupan manusia berada di antara keduanya, sedang para malaikat naik mengangkat amalan hamba pada dua waktu ini. Oleh karena itu, di antara rahmat Allah dan kemurahan-Nya, kita dianjurkan untuk memperbanyak dzikir pada pagi dan petang serta dijanjikan berbagai keutamaan dengan mengamalkan berbagai dzikir yang dituntunkan pada dua waktu itu. Insya Allah, pada tulisan yang akan datang, akan dijelaskan berbagai dzikir yang dituntunkan untuk dibaca pada pagi dan petang.

Kedelapan: pada akhir ayat diterangkan, “… serta janganlah kamu termasuk sebagai orang-orang yang lalai,” yaitu janganlah engkau termasuk sebagai orang-orang yang dilupakan dan dipalingkan dari berdzikir kepada Allah sebab Allah Ta’âlâ telah mengingatkan,

وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللَّهَ فَأَنْسَاهُمْ أَنْفُسَهُمْ أُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ.

“Dan janganlah kalian seperti orang-orang yang lupa terhadap Allah maka Allah menjadikan mereka lupa terhadap diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang fasik.” [Al-Hasyr: 19]

Allah ‘Azza wa Jalla menjelaskan sifat orang yang beriman,

فِي بُيُوتٍ أَذِنَ اللَّهُ أَنْ تُرْفَعَ وَيُذْكَرَ فِيهَا اسْمُهُ يُسَبِّحُ لَهُ فِيهَا بِالْغُدُوِّ وَالْآصَالِ. رِجَالٌ لَا تُلْهِيهِمْ تِجَارَةٌ وَلَا بَيْعٌ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ يَخَافُونَ يَوْمًا تَتَقَلَّبُ فِيهِ الْقُلُوبُ وَالْأَبْصَارُ.

“Bertasbih kepada Allah di masjid-masjid, yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya, pada pagi dan petang, laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan tidak pula oleh jual beli dari berdzikir kepada Allah, (dari) mendirikan shalat, dan (dari) membayarkan zakat. Mereka takut terhadap suatu hari yang (pada hari itu) hati dan penglihatan menjadi guncang.” [An-Nûr: 36-37]

Allah Subhânahu mengabarkan bahaya terhadap orang-orang yang berpaling dari dzikir,

وَمَنْ يَعْشُ عَنْ ذِكْرِ الرَّحْمَنِ نُقَيِّضْ لَهُ شَيْطَانًا فَهُوَ لَهُ قَرِينٌ.

“Barangsiapa yang berpaling dari dzikir (Allah) Yang Maha Pemurah (Al-Qur`an), Kami mengadakan syaithan (yang menyesatkan) baginya maka syaithan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya.” [Az-Zukhruf: 36]

لِنَفْتِنَهُمْ فِيهِ وَمَنْ يُعْرِضْ عَنْ ذِكْرِ رَبِّهِ يَسْلُكْهُ عَذَابًا صَعَدًا.

“Agar Kami memberi cobaan kepada mereka padanya. Dan barangsiapa yang berpaling dari dzikir kepada Rabb-nya, niscaya dia akan dimasukkan oleh-Nya ke dalam adzab yang amat berat.” [Al-Jinn: 17]

وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى.

“Dan barangsiapa yang berpaling dari dzikir kepada-Ku, sesungguhnya penghidupan yang sempit baginya dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.” [Thâhâ: 124]

Seluruh nash ayat di atas memberikan pesan dan pelajaran agar seorang hamba tidak pernah putus dari dzikir, walaupun dzikir yang dia lakukan hanya sedikit.

Kesembilan: dari keterangan-keterangan yang berkaitan dengan ayat yang tertera pada awal pembahasan, nampaklah kesalahan yang sering dilakukan oleh sejumlah kaum muslimin yang berdzikir secara berjamaah dan diiringi oleh suara keras. Sesungguhnya hal tersebut adalah sebuah kemungkaran dan bid’ah dalam agama yang tidak pernah dituntunkan oleh Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam dan para shahabatnya. Etika yang tercatat dalam agama kita adalah apa-apa yang telah kami terangkan. Tiada nukilan sah yang menunjukkan adanya syariat berdzikir secara berjamaah, bahkan yang tercatat dalam perjalanan umat ini adalah bahwa bid’ah pertama yang muncul dalam bab ibadah adalah bid’ah dzikir berjama’ah yang dilakukan oleh sekelompok manusia di Kûfah pada masa Abdullah bin Mas’ûd radhiyallâhu ‘anhu, sedang Abdullah bin Mas’ûd telah mengingkari hal tersebut dan menganggapnya sebagai bid’ah dalam agama yang tidak pernah diamalkan oleh Nabi dan para shahabatnya. Demikianlah keterangan para ulama dalam buku-buku yang menjeiaskan tentang firqah-firqah (sekte-sekte) yang menyimpang dari ajaran Islam yang lurus.

Semoga Allah Ta’âlâ memberi hidayah kepada kita semua menuju jalan yang lurus serta menjaga kita dari fitnah dunia dan kesesatan. Wallâhu A’lam.

[1] Dikeluarkan oleh Ahmad, At-Tirmidzy, Ibnu Jarîr, Al-Hâkim, dan Al-Baghawy sebagaimana dalam Silsilah Al-Ahâdits Ash-Shahîhah karya Al-Albâny.

[2] Dikeluarkan oleh Al-Bukhâry dan Muslim dari hadits Abu Musa Al-Asy’ary radhiyallâhu ‘anhu.

[3] Sebagaimana dinukil dalam Fath Al-Bâry 9/189.

[4] Dikeluarkan oleh Ahmad 3/94, Abu Dawud no. 1332, An-Nasâ`iy dalam Al-Kubrâ` 5/32, Ibnu Khuzaimah no. 1162, ‘Abd bin Humaid no. 883, Al-Hâkim 1/454, Al-Baihaqy 3/11 dan dalam Syu’ab Al-Imân 2/543, serta Ibnu Abdil Barr dalam At-Tamhîd 23/318. Dianggap shahih di atas syarat Asy-Syaikhain oleh Syaikh Muqbil sebagaimana dalam Ash-Shahîh Al-Musnad Mimmâ Laisa Fî Ash-Shahîhain.

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Tulis komentar

Logged in as admin. Log out »





Tulisan lainnya

jannatul-firdaus.net @2022