Cinta Sebatas Pengakuan

Jannatul-firdaus.net

Menyebar Ilmu Syar’i


default-logo

Jannatul-firdaus.net

Menyebar Ilmu Syar’i


default-logo

Bagikan…




Cinta Sebatas Pengakuan

  • Oleh : Al-Ustadz Abdul Qodir Abu Fa’izah hafizhahullah

Cinta adalah sebuah kata yang manis di mulut. Setiap orang pasti memilikinya dan pernah merasakannya, sebab ia adalah tabiat yang terpatri dalam sanubari setiap insan yang normal.

Jika anda berbicara tentang cinta, maka ia laksana lautan yang tak bertepi, ataukah padang pasir yang amat luas. Karenanya, manusia telah berbicara tentang “cinta” sejak zaman bapak kita yang pertama, Adam –alaihis salam-.

Cinta adalah penggerak bagi segala sesuatu yang dilakukan oleh seseorang. Cinta adalah sesuatu yang tak bisa dipandang secara kasatmata, namun pengaruhnya tak mungkin dipungkiri.

Banyak orang yang mengaku memiliki cinta dalam hati, tapi hakikatnya ia tak memilikinya. Hatinya kosong dari cinta yang hakiki.

Seorang yang beribadah kepada Allah karena dorongan cinta kepada-Nya. Sebuah cinta yang ada dalam hati hamba, cinta yang diiringi oleh harapan dan kekhawatiran, ketaatan dan usaha dalam menggapai segala yang diridhoi Sang Kekasih (Allah) serta jauh dari segala yang tidak dicintai olehnya.

Seorang yang mengesakan Allah dan mau beribadah hanya kepada-Nya, semua itu lantaran sesuatu yang bercokol dalam hatinya berupa kecintaan kepada Allah -Azza wa Jalla-.

Bila seseorang betul-betul mencintai Allah, maka ia harus mencintai sesuatu yang dicintai oleh-Nya.

Lantaran itulah, bila ia mencintai Allah, maka ia harus mencintai ketauhidan (pengesaan) Allah –Subhanahu wa Ta’ala– saat ia beribadah kepadanya.

Disinilah anda akan mengetahui titik dan inti hakikat kecintaan seorang hamba kepada Robb-nya (Allah), yaitu kecintaan yang di dalamnya terdapat ittiba’ (keteladan) terhadap perintah Allah dan ijtinaab (sikap menjauh) dari larangan-nya.

Bertolak dari hakikat keciantaan ini, anda akan mengetahui kepalsuan cinta orang-orang kafir atau fasiq yang senantiasa menyalahi perintah Allah dan melanggar larangan-Nya. Subhanallah, sungguh ini adalah cinta sebatas pengakuan!!!

Allah -Ta’ala- berfirman,

{وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ } [البقرة: 165]

“Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah”. (QS. Al-Baqoroh : 165)

 

Sebagian ahli tafsir (seperti, Az-Zajjaj dan Ibnul Jauziy) menjelaskan bahwa makna ayat ini, orang-orang musyrikin menyamakan antara berhala-berhala dengan Allah dalam perkara cinta. [Lihat Zaad Al-Masir (1/156)]

Inilah kebiasaan kaum musyrikin!! Mereka dahulu selain melakukan berbagai macam ritual dan penyembahan kepada Allah dengan dasar cinta kepada Allah, dalam waktu sama mereka juga melakukan berbagai macam ritual dan peribadatan kepada selain Allah.

Sebagai contoh, kaum musyrikin dahulu (dan tentunya terus sampai sekarang) senantiasa menyekutukan Allah dalam cinta.

Lihatlah, saat mereka menetapkan bahwa hewan atau tanaman tertentu, ini untuk Allah dan ini untuk berhala.

Bila mereka memanen tanaman yang mereka peruntukkan bagi Allah, lalu tanaman itu terjatuh dalam kelompok tanaman yang mereka peruntukkan bagi berhala-berhala mereka, maka mereka membiarkannya dan tidak memisahkannya seraya mereka berkata, “Berhala-berhala ini lebih butuh kepadanya”.

 

Sebaliknya, jika kaum musyrikin telah memanen tanaman yang mereka peruntukkan bagi berhala-berhala, lalu tanaman itu jatuh ke dalam bagian harta dan tanaman yang diperuntukkan bagi Allah, maka mereka mengembalikan ke tempatnya, yaitu kepada kelompok tanaman yang diperuntukkan bagi berhala-berhala mereka.

Allah -Ta’ala- berfirman menceritakan perihal perkara ini,

{وَجَعَلُوا لِلَّهِ مِمَّا ذَرَأَ مِنَ الْحَرْثِ وَالْأَنْعَامِ نَصِيبًا فَقَالُوا هَذَا لِلَّهِ بِزَعْمِهِمْ وَهَذَا لِشُرَكَائِنَا فَمَا كَانَ لِشُرَكَائِهِمْ فَلَا يَصِلُ إِلَى اللَّهِ وَمَا كَانَ لِلَّهِ فَهُوَ يَصِلُ إِلَى شُرَكَائِهِمْ سَاءَ مَا يَحْكُمُونَ } [الأنعام: 136]

“Dan mereka memperuntukkan bagi Allah satu bagian dari tanaman dan ternak yang telah diciptakan Allah, lalu mereka berkata sesuai dengan persangkaan mereka, “Ini untuk Allah dan ini untuk berhala-berhala kami”. Maka sesuatu yang diperuntukkan bagi berhala-berhala mereka tidak sampai kepada Allah; sedang sesuatu yang diperuntukkan bagi Allah, maka sesuatu itu sampai kepada berhala-berhala mereka. Amat buruklah ketetapan mereka itu”. (QS. Al-An’aam: 136)

 

Kebiasaan buruk yang terkutuk seperti itu, juga telah dilakukan oleh sebagian masyarakat muslim yang jahil tentang agamanya yang memerintahkan untuk men-tauhid-kan (mengesakan) Allah dalam ibadah.

Liriklah sebagian orang di zaman ini yang senang datang ke kuburan orang-orang yang mereka anggap sebagai “wali” (seperti, Wali Songo, Syaikh Yusuf, Imam Lapeo dan lainnya)!!

Mereka datang kesana untuk membawa persembahan dan sesajen berupa makanan, hewan ternak, uang, telur dan berbagai macam benda lainnya.

Mereka persembahkan sebuah ibadah (yaitu, berupa nadzar, berkurban, sedekah ke kuburan berupa makanan, sembelihan, uang dan lainnya) untuk selain Allah.

Mereka amat takut kepada manusia-manusia yang mereka angkat sendiri sebagai “wali” atau “orang sholih”.

Padahal mereka belum tentu wali Allah, sebab wali Allah adalah semua orang yang beriman dan bertaqwa kepada Allah.

Nah, siapakah yang menjamin bahwa orang-orang yang mereka kultuskan adalah orang-orang beriman dan bertaqwa?!

Anggaplah mereka adalah wali Allah alias orang-orang beriman dan bertaqwa!!! Tapi apakah semua itu melegalkan kita mengangkatkan mereka sekedudukan dengan Allah, yang kita berikan berbagai macam persembahan kepadanya?!!

Jelas hal demikian tidak boleh dalam agama, wahai saudaraku!

Sebab wajib bagi kita mengesakan Allah dalam segala macam ibadah, dan haram menyekutukannya dengan siapapun dalam hal itu. [Lihat At-Tamhid li Syarh Kitab At-Tauhid (hal. 360) karya Sholih bin Abdil Aziz Alusy Syaikh]

Jika kita mencintai Allah, maka seharusnya kita mengikuti perintah-Nya (utamanya, perintah men-tauhid-kan Allah), dan menjauhi larangan-Nya (terutama, menjauhi kemusyrikan dengan berbagai warnanya), bukan hanya menyatakan cinta, lalu tidak dibarengi dengan ketaatan kepada-Nya. Tapi malah kita menyekutukan Allah dengan para “wali-wali” yang lemah seperti kita, yang tidak bersih dari segala macam dosa dan kesalahan!!!

Para nabi dan rasul saja yang bersih dari segala macam dosa, tak boleh kita persekutukan dengan Allah –Azza wa Jalla– dalam hal ibadah.

Allah berfirman kepada Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-,

وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu. “Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan terhapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi”. (QS. Az-Zumar: 65)

Orang-orang musyrikin dahulu selain mencintai Allah, mereka juga mencintai sesembahan mereka.

Jika mereka berqurban di hari-hari haji untuk Allah -Azza wa Jalla-, maka hati mereka tak tenang dan puas sampai mereka mempersembahkan qurban untuk sesembahan mereka sebagai wujud cinta mereka kepadanya.

Padahal Allah -Azza wa Jalla- memerintahkan kita menyerahkan qurban hanya kepada-Nya,

{قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ} [الأنعام: 162]

“Katakanlah: Sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam”. (QS. Al-An’aam : 162)

Al-Hafizh Abul Fida’ Ibnu Katsir Ad-Dimasyqiy –rahimahullah– berkata saat menafsirkan ayat ini,

“يَأْمُرُهُ تَعَالَى أَنْ يُخْبِرَ الْمُشْرِكِينَ الَّذِينَ يَعْبُدُونَ غَيْرَ اللَّهِ وَيَذْبَحُونَ لِغَيْرِ اسْمِهِ، أَنَّهُ مُخَالِفٌ لَهُمْ فِي ذَلِكَ، فَإِنَّ صَلَاتَهُ لِلَّهِ وَنُسُكَهُ عَلَى اسْمِهِ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ…

فَإِنَّ الْمُشْرِكِينَ كَانُوا يَعْبُدُونَ الْأَصْنَامَ وَيَذْبَحُونَ لَهَا، فَأَمَرَهُ اللَّهُ تعالى بِمُخَالَفَتِهِمْ وَالِانْحِرَافِ عَمَّا هُمْ فِيهِ، وَالْإِقْبَالِ بِالْقَصْدِ وَالنِّيَّةِ وَالْعَزْمِ عَلَى الْإِخْلَاصِ لِلَّهِ تَعَالَى.” اهـ من تفسير ابن كثير ت سلامة (3/ 381_382)

“Allah -Ta’ala- memerintahkan beliau (Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-) agar beliau mengabarkan kepada kaum musyrikin (yang telah mengibadahi selain Allah, dan menyembelih untuk selain Allah) bahwa beliau menyelisihi mereka dalam perkara itu (perkara penyembelihan), karena shalat beliau hanya untuk Allah, dan sembelihan beliau hanya untuk Allah saja semata, tak ada sekutu bagi-Nya… Sesungguhnya kaum musyrikin dahulu menyembah berhala-berhala, dan menyembelih untuk berhala-berhala itu. Lantaran itu, Allah memerintahkan beliau untuk menyelisihi mereka, serta berpaling dari mereka, dan menghadapkan segala niat dan maksud untuk memurnikan (semua ibadah) untuk Allah -Ta’ala- saja”. [Lihat Tafsir Ibnu Katsir (3/381-382)]

Demikianlah cinta sebatas pengakuan. Banyak diantara manusia mengaku cinta kepada Allah, namun mereka tidak memurnikan ibadahnya hanya untuk Allah. Padahal memurnikan ibadah hanya untuk Allah merupakan tanda ketulusan cinta seorang hamba kepada Allah.

—————————————————————————–

Tulisan lainnya

Meraih Manisnya Akhlak

Jannatul-firdaus.net

Menyebar Ilmu Syar’i


default-logo

Jannatul-firdaus.net

Menyebar Ilmu Syar’i


default-logo

Bagikan…




Meraih Manisnya Akhlak

  • Oleh : Al-Ustadz Abdul Qodir Abu Fa’izah hafizhahullah
Akhlaq merupakan salah satu perkara yang dibawa dan didakwahkan oleh Rasulullah –Shallallahu alaihi wa sallam– di tengah umatnya.

Akhlak banyak memberikan pengaruh kepada kaum musyrikin sampai banyak diantara mereka yang masuk Islam karena melihat akhlaq Sang Nabi Pembawa Rahmat, Muhammad –Shallallahu alaihi wa sallam-.

Masyarakat Quraisy jahiliah adalah masyarakat yang menyembah makhluk, namun masih memiliki akhlaq yang karimah (mulia) yang mereka warisi dari orang-orang sholih sebelumnya.

Akhlaq yang mereka pelihara dahulu, seperti: menjaga malu, amanah, melayani para tamu, menjamu para jama’ah haji, menyambung silaturahmi, bersedekah, dan lainnya.

Ketika Nabi –Shallallahu alaihi wa sallam– datang menyelamatkan mereka dari kubang kesyirikan, dan dari sebagian penyimpangan akhlak, maka Nabi –Shallallahu alaihi wa sallam– membawa risalah Islam berupa Al-Qur’an dan Sunnah yang berisi akhlak yang amat sempurna lagi terpuji.

Dahulu akhlak hanya dalam batasan sempit, Rasulullah –Shallallahu alaihi wa sallam– memperluas cakupannya, sehingga mencakup akhlaq kepada Allah -Azza wa Jalla- dan akhlak kepada makhluk.

Inilah yang disinyalir oleh Nabi –Shallallahu ‘alaihi wa sallam–  dalam sabdanya,

إِنَّمَا بُعِثْتُ لأُتَمِّمَ مَكَارِمَ اْلأَخْلاَقِ

“Aku hanyalah diutus untuk menyempurnakan makarimul akhlaq (akhlaq-akhlaq yang mulia)”. [HR. Al-Bukhoriy dalam Al-Adab Al-Mufrod (273), Ahmad dalam Al-Musnad (2/381/no. 8939), Al-Baihaqiy dalam As-Sunan Al-Kubro (10/191/no. 20571), Al-Hakim dalam Al-Mustadrok alaa Ash Shohihain (4221). Hadits ini di-shohih-kan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Shohih Al-Jami’ (2349)]

Penampilan seorang manusia ada dua macam :

(1)  penampilan lahiriah dan

(2)  penampilan batin.

Penampilan lahiriah, seperti : ganteng, jelek, hitam, putih, buta, melihat, dan lainnya.

Penampilan batin, misalnya : malu, berani, pemurah, dermawan, suka membantu, suka melayani hajat orang lain tanpa pamrih, menyambung silaturahim.

Penampilan batin inilah yang biasa disebut “AKHLAQ”.

Jadi, akhlaq adalah penampilan batin yang dimiliki oleh seorang hamba dalam bermuamalah dengan yang lain. Akhlaq biasa disebut dengan istilah “adab”, atau “suluk”.

Al-Imam Jamaluddin Al-Qosimiy –rahimahullah– menjelaskan bahwa jika dari penampilan batin itu muncul perbuatan-perbuatan yang baik menurut akal dan syari’at, maka penampilan itu disebut dengan “akhlaq hasanah” (akhlaq yang baik) atau “akhlaq karimah” (akhlaq yang mulia). [Lihat Jawami’ Al-Adab fi Akhlaq Al-Anjaab (hal. 138) yang dicetak dalam sebuah album kitab yang berjudul “Rosa’il fil Akhlaq”, cet. Dar Al-Bashiroh, Mesir]

Allah -Ta’ala- dan Nabi –Shallallahu ‘alaihi wa sallam– ketika memuji akhlaq di dalam Al-Qur’an dan hadits, maka yang dimaksud ialah AKHLAQ KARIMAH.

Diantara keutamaan akhlaq yang disebutkan oleh Rasulullah –Shallallahu alaihi wa sallam– :

  1. Akhlaq Karimah adalah Amalan Penduduk Surga

Kebaikan akhlaq seseorang merupakan sebab ia dimasukkan ke dalam surga yang penuh dengan kenikmatan. Abu Hurairah –radhiyallahu anhu– berkata,

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ -رَضِيَ اللهُ عَنْهُ- قَالَ: سُئِلَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ أَكْثَرِ مَا يُدْخِلُ النَّاسَ الْجَنَّةَ ؟ فَقَالَ: تَقْوَى اللهِ وَحُسْنُ الْخُلُقِ

“Telah ditanya Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- tentang kebanyakan sesuatu yang memasukkan manusia ke dalam surga? Maka beliau bersabda, “Ketaqwaan kepada Allah -Ta’ala-, dan kebaikan akhlaq”. [HR. At-Tirmidziy dalam Sunan-nya (2004), dan Ibnu Majah dalam Sunan-nya (4246). Hadits ini di-hasan-kan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Shohih At-Targhib (no. 1723)]

Al-Imam Ath-Thibiy –rahimahullah– berkata,

“Kebaikan akhlaq merupakan isyarat kepada baiknya muamalah (pergaulan) dengan makhluk. Kedua perkara ini (taqwa dan kebaikan akhlaq) merupakan dua sebab masuk surga”. [Lihat Tuhfah Al-Ahwadziy (6/132)]

  1. Akhlaq yang Baik adalah Sebab yang Mendatangkan Cinta Allah Kepada Seorang Hamba.

Seorang yang ingin dicintai oleh Allah, harus berusaha memperbaiki akhlaqnya.

Sebab semakin seorang berakhlaq, maka berarti hati seorang hamba semakin baik, dan dekat kepada Allah -Ta’ala-.

Oleh karena itu, Nabi –shallallahu alaihi wa sallam– bersabda,

أَحَبُّ عِبَادِاللهِ إِلَى اللهِ أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا

“Hamba yang paling dicintai oleh Allah adalah orang yang paling baik akhlaqnya diantara mereka”. [HR. Ath-Thobroniy dalam Al-Ausath (471). Di-shohih-kan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Ash-Shohihah (no. 432)]

  1. Akhlaq yang Karimah adalah sebab Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam– Mencintai Seseorang

Jika akhlaq seseorang baik, maka ia bukan hanya dicintai Allah, bahkan juga akan dicintai oleh Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam-, dan menjadi orang yang terdekat kepada beliau.

Nabi –shallallahu alaihi wa sallam– bersabda,

إِنَّ مِنْ أَحَبِّكُمْ إِلَيَّ وَأَقْرِبِكُمْ مِنِّيْ مَجْلِسًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَحَاسِنُكُمْ أَخْلاَقًا

“Sesungguhnya orang yang paling aku cintai diantara kalian dan paling dekat tempatnya kepadaku di hari kiamat adalah orang yang bagus akhlaqnya”. [HR. At-Tirmidziy dalam Sunan-nya (2018). Hadits ini di-shohih-kan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Ash-Shohihah (no. 791)]

Jadi, seorang yang ingin dekat kepada Nabi Muhammad –shallallahu alaihi wa sallam-, maka harus berusaha memperbaiki akhlaqnya.

  1. Akhlaq yang Karimah adalah Sesuatu yang Paling Berat Timbangannya pada Hari Kiamat

Akhlak karimah adalah bagian dari amal sholeh yang dikerjakan oleh seorang hamba.

Akhlaq yang karimah akan diberikan balasan yang banyak oleh Allah -Ta’ala-, karena ia terpancar dari keimanan yang kuat.

Nabi Muhammad –shallallahu alaihi wa sallam– mengabarkan hal itu dalam sabdanya,

مَا مِنْ شيْءٍ فِي الْمِيْزَانِ أَثْقَلُ مِنْ حُسْنِ الْخُلُقِ

“Tidak ada sesuatu dalam mizan (timbangan) yang lebih berat daripada akhlaq yang baik”. [HR. Abu Dawud dalam Sunan-nya (no. 4799). Hadits ini di-shohih-kan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Ash-Shohihah (no. 876)]

Jadi, akhlaq yang baik akan mendapatkan balasan yang banyak bagi orang yang berhias diri dengan akhlaq karimah.

Faedah :

Di dalam hadits ini terdapat dalil yang menetapkan aqidah ahlus Sunnah bahwa mizan (timbangan) adalah sesuatu yang memiliki hakikat dan bentuk.

Al-Allamah Syaikh Mar’iy Al-Karmiy –rahimahullah– berkata, “Aqidah yang benar di sisi Ahlus Sunnah wal Jama’ah bahwa yang dimaksud dengan “mizan” (timbangan) adalah mizan yang hakiki sebagaimana akan datang (penjelasannya)”. [Lihat Tahqiq Al-Burhan fi Itsbat Haqiqoh Al-Mizan (hal. 24)]

Pengingkaran terhadap keberadaan mizan merupakan aqidah sekte sesat Jahmiyyah, Qodariyyah, suatu kaum dari kalangan pendahulu sekte sesat Mu’tazilah yang biasa digelari dengan sekte “Al-Wazniyyah”.

 

  1. Akhlaq Karimah melipatgandakan pahala, dan balasan kebaikan.

Seseorang yang memiliki akhlaq karimah akan mendapatkan keutamaan yang banyak di sisi Allah -Ta’ala- .

Diantara keutamaan itu, Allah akan melipatgandakan pahalanya, sehingga ia bisa mengejar derajat orang yang suka mengerjakan sholat malam, dan suka berpuasa di siang hari.

Nabi –shallallahu alaihi wa sallam– bersabda,

إِنَّ الرَّجُلَ لَيُدْرِكُ بِحُسْنِ خُلُقِهِ دَرَجَاتِ قَائِمِ اللَّيْلِ صَّائِمِ النَّهَارِ

“Sesungguhnya seseorang -dengan kebaikan akhlaqnya- dapat mengejar derajat orang yang mengerjakan sholat malam, dan puasa di siang hari”. [HR. Abu Dawud dalam Sunan-nya (4798). Di-shohih-kan oleh Al-Albaniy dalam Ash-Shohihah (795)]

Ulama Negeri India, Al-Imam Syamsul Haqq Al-Azhim Abadi –rahimahullah– berkata,

“Pemilik akhlak yang baik hanyalah diberi keutamaan agung seperti ini, karena orang yang berpuasa dan yang sholat malam, keduanya menghadapi jiwanya dalam menyelisihi hawa nafsunya. Adapun orang yang baik akhlaknya kepada manusia –di samping adanya perbedaan tabiat dan akhlak mereka-, maka ia seakan-akan menghadapi jiwa yang banyak. Lantaran itu, ia meraih sesuatu yang diraih oleh orang yang berpuasa lagi melaksanakan sholat malam. Jadi, keduanya sama derajatnya, bahkan boleh jadi orang yang baik akhlaqnya melebihinya”.[Lihat Aunul Ma’bud (10/320)]

  1. Akhlak Karimah adalah sebaik-sebaik Amalan Para Hamba

Akhlak Karimah merupakan bekal yang terbaik, dan amalan yang tidak ada tandingannya di hadapan Allah –Azza wa Jalla-.

Nabi –shallallahu alaihi wa sallam– bersabda,

“Wahai Abu Dzarr, tidakkah engkau mau aku tunjukkan kepadamu tentang dua sifat, keduanya lebih ringan di punggung, dan lebih berat di Mizan (timbangan)”.

Abu Dzarr berkata, “Aku mau, wahai Rasulullah”.

Beliau bersabda,

عَلَيْكَ بِحُسْنِ الْخُلُقِ وَطُوْلِ الصَّمْتِ, فَوَالَّذِيْ نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ, مَا عَمَلُ الْخَلاَئِقِ بِمِثْلِهِمَا

“Lazimilah akhlak yang baik, dan diam yang panjang. Demi Allah Yang jiwa Muhammad ada di Tangan-Nya, tidaklah ada amalan para makhluk yang menandingi keduanya”. [HR. Ibnu Abid Dunya dalam Kitab Ash-Shomti (112 & 554). Di-hasan-kan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Ash-Shohihah (1938)]

Jadi, seorang yang ingin mendapatkan kebaikan yang tiada tandingannya, maka hendaknya ia melazimi kedua hal itu :

* akhlak yang baik, dan

* diam yang panjang (banyak diam).

Semua ini tak mungkin akan terjadi, kecuali karena kuatnya pengaruh iman yang bercokol dalam jiwa.

  1. Akhlak Karimah Menambah Umur, dan Memperbaiki Negeri

Jika seorang ingin dipanjangkan umurnya, dan diperbaiki negerinya oleh Allah -Ta’ala- , maka hendaknya seorang memperbaiki akhlaknya.

Nabi –shallallahu alaihi wa sallam– bersabda,

وَصِلَةُ الرَّحِمِ وَحُسْنُ الْخُلُقِ وَحُسْنُ الْجِوَارِ يَعْمُرَانِ الدِّيَارَ وَيَزِيدَانِ فِي الْأَعْمَارِ

“Silaturahim, akhlak yang baik dan pertetanggaan yang baik akan memperbaiki negeri, dan menambah umur”. [HR. Ahmad dalam Al-Musnad (6/159). Hadits ini di-shohih-kan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Ash-Shohihah (no. 519)]

Seorang yang baik akhlaknya, negerinya akan diperbaiki, dan umurnya akan ditambah oleh Allah -Ta’ala-.

Karena dengan kebaikan akhlak, orang akan mencintai kita, membantu kita, dan mendo’akan kebaikan bagi kita.

Semoga Allah –Azza wa Jalla– menjadikan kita sebagai orang-orang yang berakhlaq baik kepada Allah dan makhluk-Nya sehingga kita tercatat di sisi-Nya sebagai hamba-hamba yang bertaqwa dan berakhlaq karimah; hamba yang mendapatkan derajat yang tinggi di sisi-Nya, dan dikumpulkan bersama Nabi –Shollallahu alaihi wa sallam– dan orang-orang sholih.

—————————————————————————–

Tulisan lainnya

Sumber Akhlak yang Mulia

Jannatul-firdaus.net

Menyebar Ilmu Syar’i



Jannatul-firdaus.net

Menyebar Ilmu Syar’i



Bagikan…

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram



Sumber Akhlak yang Mulia

  • Oleh : Ustadz Dzulqarnain Muhammad Sunusi hafizhahullah
  • (Pembina Peduli Dakwah)

Dasar pijakan untuk akhlak mulia adalah firman Allah ‘Azza wa Jalla,

خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ

 

“Ambillah rasa maaf, perintahlah dengan yang ma’ruf, dan berpalinglah dari orang-orang jahil.” [Al-A’râf: 199]

Sejumlah ulama mengatakan bahwa tidak ayat dalam Al-Qur`an yang lebih kompleks menunjukkan akhlah yang mulia melebihi ayat ini.

Terdapat tiga kaidah dalam ayat ini, sebagaimana yang Ibnul ‘Araby sebutkan dari ucapan ulama bahwa, “Ayat ini dengan tiga kalimatnya, telah mencakup kaidah-kaidah syari’at dalam hal-hal yang diperintah dan hal-hal yang dilarang. Tidak ada suatu kebaikan pun kecuali telah diterangkan dalam ayat, tiada suatu keutamaan kecuali dijelaskan, dan tidak ada suatu kemuliaan kecuali telah dibukanya…” [Ahkam Al-Qur`an]

 

Pertama, firman-Nya, “Ambillah rasa maaf” mencakup pemberian maaf, menyambung orang yang memutuskan hubungan, memberi orang yang tidak pernah memberi kepada kita, berlemah lembut, mengambil akhlak yang termudah dan mencocoki jiwa, merelakan harta yang lebih untuk orang lain, dan memaklumi kekurangan orang lain.

Kedua, firman-Nya, “Perintahlah dengan yang ma’ruf” mencakup segala kebaikan dan ketaatan dalam bentuk ucapan maupun perbuatan, berupa perintah bertauhid, menyampaikan ilmu agama, menyambung silaturahmi, berbakti kepada orang tua, saling nasihat menasihati, dan segala hal yang membawa kemashlahatan dunia dan akhirat.

Ketiga, firman-Nya, “Berpalinglah dari orang-orang jahil” mencakup akhlak bersabar, membalas kejelekan dengan kebaikan, menghindari orang-orang jahil, dan selainnya.

Menurut Ibnul ‘Araby, apabila kandungan ayat ini diuraikan akan memuat berjilid-jilid buku.

Perhatikanlah segala hal yang merupakan akhlak yang mulia, dan jangan haramkan diri kita dari kebaikan dunia dan akhirat.

www.dzulqarnain.net

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Tulisan lainnya

Intisari Tauhid #2: Empat Sifat Terlaknat

Jannatul-firdaus.net

Menyebar Ilmu Syar’i



Jannatul-firdaus.net

Menyebar Ilmu Syar’i



Bagikan…

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram



Intisari Tauhid : Empat Sifat Terlaknat

  • Oleh: Ustadz Dzulqarnain Muhammad Sunusi hafizhahullah
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَعَنَ اللهُ مَنْ ذَبَحَ لِغَيْرِ اللهِ، لَعَنَ اللهُ مَنْ لَعَنَ وَالِدَيْهِ لَعَنَ اللهُ مَنْ آوَى مُحْدِثًا، لَعَنَ اللهُ مَنْ غَيَّرَ مَنَارَ الْأَرْضِ

Allah melaknat orang yang menyembelih untuk selain Allah. Allah melaknat orang yang melaknat kedua orang tuanya. Allah melaknat orang yang melindungi pelaku bid’ah/kejahatan. Allah melaknat orang yang mengubah tanda batas tanah.’.”(HR. Muslim)

Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam memperingatkan umatnya terhadap empat kejahatan. Beliau mengabarkan bahwa Allah Ta’âlâ mengusir dan menjauhkan pelaku salah satu di antara perkara tadi dari rahmat-Nya.

Empat perkara itu adalah:

 

Pertama: bertaqarrub dengan menyembelih untuk selain Allah karena hal itu berarti memalingkan ibadah kepada selain Allah, sesuatu yang tidak berhak mendapat peribadahan.

Kedua: orang yang mendoakan kejelekan terhadap kedua orang tuanya, baik dengan melaknat atau mencaci maki keduanya maupun menjadi sebab terjadinya hal tersebut. (Menjadi sebab terjadinya hal tersebut) yaitu dengan munculnya perbuatan tersebut dari dirinya terhadap kedua orang tua seseorang sehingga orang tersebut membalas dengan perbuatan yang sama terhadapnya.

Ketiga: orang yang melindungi pelaku kejahatan yang pantas mendapatkan hukuman syar’i, lalu menghalangi pelaksanaan hukuman tersebut kepada orang itu, atau ia ridha kepada kebid’ahan dalam agama dan mengakui (mendukung) kebid’ahan itu.

Keempat: pengubah tanda-tanda batas tanah, yang (tanda-tanda) itu memisahkan hak-hak pemiliknya masing-masing, dengan cara memajukan atau memundurkan (tanda-tanda) itu dari tempat sesungguhnya. Sehingga, oleh sebab itu, terjadilah pengambilan (penyerobotan) sebagian tanah orang lain secara zhalim.

Faedah Hadits

  1. Bahwa menyembelih untuk selain Allah adalah diharamkan dengan pengharaman yang sangat, dan merupakan suatu kesyirikan yang berada pada garis terdepan di antara dosa-dosa besar.
  2. Bahwa penyembelihan adalah suatu ibadah sehingga wajib diserahkan hanya kepada Allah semata.
  3. Pengharaman melaknat dan mencaci maki kedua orang tua, baik secara langsung maupun menjadi sebab terjadinya hal itu.
  4. Pengharaman membantu dan melindungi para pelaku kejahatan dari penerapan hukum syar’i terhadap mereka, dan pengharaman ridha terhadap kebid’ahan.
  5. Keharaman mengubah batas-batas tanah dengan cara memajukan atau memundurkan (batas-batas) itu.
  6. Pembolehan melaknat berbagai jenis orang fasiq dalam rangka mencegah manusia dari kemaksiatan.

[Diringkas dari Kitab Penjelasan Ringkas Kitab Tauhid karya Syaikh Shalih Al-Fauzan]

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Tulisan lainnya

Menata Adab dan Akhlak sebelum Jauh Melangkah

Jannatul-firdaus.net

Menyebar Ilmu Syar’i



Jannatul-firdaus.net

Menyebar Ilmu Syar’i



Bagikan…

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram



Menata Adab dan Akhlak sebelum Jauh Melangkah

  • Oleh: Al-Ustadz Abdul Qodir Abu Fa’izah –hafizhahullah

Sebuah kesalahan para penuntut ilmu, ia hanya mengumpulkan ilmu sebanyak-banyaknya. Namun ia lupa menghiasi dirinya dengan adab-adab islami kepada yang lain : kepada ustadz, ilmu, kitab, kawan-kawan, tetangga, masyarakat, orang tua dan lainnya.

Tak heran bila di zaman ini, kita akan menjumpai manusia-manusia durhaka kepada guru dan ustadznya yang telah mengajarinya sekian banyak jenis ilmu yang bermanfaat bagi dunia dan akhiratnya.

Semua itu dibalas dengan adab dan akhlak buruk kepada gurunya, sampai ada diantara mereka yang meng-ghibahi gurunya, menghukuminya sebagai orang sesat, sementara itu ia tak menasihatinya.

Gelar-gelar buruk tak luput dari lisannya sehingga manusia yang berjasa dalam hidupnya ia gelari dengan “kadzdzab” (tukang dusta), dajjal, pencuri dan sederet gelar-gelar hina ia sematkan kepada sang guru.

Di sudut sana, ada segelintir manusia rendah yang punya kebiasaan CURIGA dan buruk sangka kepada gurunya dan punya hobi menguntit aib dan kesalahan-kesalahan gurunya. Padahal gurunya adalah seorang yang berjalan di atas sunnah.

Kadang pun diantara mereka, ada yang menasihati gurunya, layaknya menasihati anak kecil dengan menggunakan bahasa-bahasa yang tidak sopan dan rada merendahkan dan menggurui.

Lebih parah lagi, bila golongan manusia durhaka seperti ini membuat asumsi-asumsi negatif dan kabar miring tentang diri gurunya yang telah membinanya selama ini, disebabkan ia hanya mendengar berita qila wa qola (kabar burung) tentang gurunya. Padahal berita-berita itu belum jelas ujung pangkal dan asal-muasalnya. Susu dibalas tuba.

Tak heran bila para salaf dan orang tua mereka senantiasa mewanti-wanti anak-anak mereka jika mereka mengutusnya kepada seorang guru agar si anak betul-betul menjaga watak dan perangainya di depan guru (syaikhnya).

Imam Darul Hijroh, Imam Malik bin Anas Al-Ashbahiy -rahimahullah-  bercerita tentang kisah awalnya menuntut ilmu:

كانت أمي تلبسني الثياب وتعممني وأنا صبي وتوجهني إلى ربيعة بن أبي عبد الرحمن وتقول لي تأتي أنت مجلس ربيعة فتعلم من سمته وأدبه قبل أن تتعلم من حديثه وفهمه ” مسند الموطأ – (1 / 95)

“Dahulu ibuku mengenakan pakaianku dan memasangkan surbanku, sedang aku masih kecil serta mengarahkanku kepada Robi’ah bin Abi Abdir Rahman, seraya ibuku berkata kepadaku, “Engkau akan mendatangi majelisnya Robi’ah. Karenanya, pelajarilah perangai dan adabnya sebelum engkau mempelajari hadits dan pemahamannya”. [AR. Musnad Al-Muwaththo’ (1/95) oleh Abul Qosim Al-Jawhariy]

Perhatikanlah ibu dari Imam Malik. Yang pertama beliau pesankan pada anaknya agar mengambil dan mempelajari adab gurunya.

Pesan mulia ini terus teringat dalam benak beliau sampai saat beliau menjadi guru.

Suatu hari, saat Imam Malik telah menjadi guru dan rujukan umat, jika menemukan penuntut ilmu pemula, maka beliau nasihatkan agar mempelajari dan memperhatikan adab dulu sebelum jauh terjun dalam mengkaji dan mempelajari ilmu-ilmu lain.

Al-Imam Malik bin Anas Al-Ashbahiy –rahimahullah– berkata kepada seorang pemuda Quraisy,

((يا ابن أخي تعلم الأدب قبل أن تتعلم العلم))

“Wahai anakku, pelajari adab sebelum engkau mempelajari ilmu”. [HR. Abu Nu’aim dalam Hilyah Al-Awliya’ (6/330)]

Pesan beliau ini kepada si pemuda Quraisy merupakan hasil didikan seorang ibu yang cerdik.

Hal itu terus terukir dalam relung hatinya, sampai pun beliau sudah menjadi imam dan ulama tersohor di zamannya, beliau tetap mengingat pesan dan petuah emas yang diberikan oleh sang ibu kepada beliau.

Inilah kebiasaan turun-temurun di tengah para penuntut dari kalangan salaf.

Mereka amat memperhatikan adab, akhlak dan perangai gurunya (syaikh atau ustadznya), bukan seperti di zaman ini, kebanyakan orang hanya memperhatikan kemampuan retorikanya dan candaan dari para ustadznya.

Ada juga yang cuma mencari-cari kekurangan sang sang (guru) dan berdusta atas namanya. Na’udzu billahi min dzalik.

 

Sementara akhlak dan adab sang guru tidak mereka perhatikan, dan tidak pula mereka contoh untuk kemudian ia mengejawantahkannya dalam akhlak dan kepribadiannya.

Para pembaca yang budiman, sekarang ada baiknya kita menyimak kisah ajaib dari para salaf yang menggambarkan hebatnya perhatian mereka terhadap akhlak gurunya.

Dari Al-Husain bin Ismail dari bapaknya, ia (bapaknya) berkata,

كَانَ يَجتَمِعُ فِي مَجْلِسِ أَحْمَدَ زُهَاءُ خَمْسَةِ آلاَفٍ أَوْ يَزِيدُوْنَ، نَحْوُ خَمْسِ مائَةٍ يَكْتُبُوْنَ، وَالبَاقُوْنَ يَتَعلَّمُوْنَ مِنْهُ حُسْنَ الأَدَبِ وَالسَّمْتِ.

“Dahulu orang-orang berkumpul di majelis Ahmad sekitar 5000 orang atau lebih. Sekitar 500 orang menulis, sedang sisanya mempelajari dari beliau adab dan perangai yang baik”. [Lihat Siyar A’lam An-Nubala’ (11/316)]

Mereka mengambil akhlaq dan adab dari gurunya melalui lisan atau perbuatan gurunya.

 

Bukan main, para penuntut ilmu dahulu bertahun-tahun “menghinakan diri” di depan gurunya untuk mengambil ilmu dan adab dalam tenggang waktu puluhan tahun. Subhanallah, tekad yang hebat.

Abu Bakr Ya’qub bin Yusuf Al-Muthowwi’iy –rahimahullah– berkata,

اخْتَلَفتُ إِلَى أَبِي عَبْدِ اللهِ ثِنْتَي عَشْرَةَ سَنَةً، وَهُوَ يَقْرَأُ (المُسْنَدَ) عَلَى أَوْلاَدِهِ، فَمَا كَتَبْتُ عَنْهُ حَدِيْثاً وَاحِداً، إِنَّمَا كُنْتُ أَنْظُرُ إِلَى هَدْيِهِ وَأَخلاَقِهِ.

“Aku berbolak-balik kepada Abu Abdillah (yakni, Imam Ahmad) selama 12 tahun, sedang beliau membaca Al-Musnad di depan anak-anaknya. Aku tak pernah menulis dari beliau sebuah hadits. Aku hanyalah memandang kepada petunjuk dan akhlaknya”.[Lihat Siyar A’lam An-Nubala’ (11/316)]

Luar biasa! Keikhlasan dalam mencari ilmu dan kebaikan membentuk sosok dan pribadi para salaf. Tak ada diantara mereka yang hadir di majelis, melainkan mereka ingin mencari kebaikan! Mereka tidak ingin mencari popularitas, apalagi mencari aib gurunya.

Adapun di zaman kita ini, maka keikhlasan itu telah hilang dari lubuk hati kita, sehingga disana-sini kita menemukan berbagai keganjilan dan keganjalan dalam bermuamalah dengan ustadz selaku gurunya. Akibatnya, sang guru ia perlakukan bagaikan orang yang tak bernilai.

Di hari ini, sungguh kita butuh kepada akhlak. Syaithon menipu dirimu bahwa engkau adalah seorang ihkwah yang multazim (berpegang) dengan sunnah, namun akhlakmu masih morat-marit.

Jika engkau benar adalah seorang yang multazim dengan sunnah, maka ketahuilah bahwa sunnah itu akan memberikan pengaruh baik pada dirimu. Lalu kenapa pengaruh sunnah tidak tampak pada dirimu?!

Disinilah anda perlu bertanya, “Apakah ilmu yang selama ini aku pelajari, bermanfaat bagiku?”

Di saat kejujuran dan keikhlasan itu tercabut dari dirimu, maka keberkahan sunnah akan tercabut dari diri dan kehidupanmu.

Disinilah tampak bagi kita rahasia kesabaran para salaf dalam menempa akhlak mereka selama puluhan tahun.

Sebab, watak manusia laksana besi keras yang bengkok. Ia memerlukan waktu yang lama dalam menempa, meluruskan dan membentuknya agar menjadi indah dan berguna.

Al-Imam Abdullah bin Al-Mubarok Al-Marwaziy –rahimahullah– berkata,

طَلَبْتُ الأَدَبَ ثَلاَثِيْنَ سَنَةً، وَطَلَبْتُ الْعِلْمَ عِشْرِيْنَ سَنَةً، كَانُوْا يَطْلُبُوْنَ اْلأَدَبَ ثُمَّ الْعِلْمَ

“Aku telah mencari (mempelajari) adab selama 30 tahun dan aku mencari (mempelajari) ilmu selama 20 tahun. Dahulu mereka (para salaf) mencari (mempelajari) adab, lalu (setelah itu) ilmu”. [Lihat Tartib Al-Madarik (3/39) oleh Al-Qodhi Iyadh, cet. Mathba’ah Fadholah, dan Ghoyah An-Nihayah fi Thobaqot Al-Qurro’ (1/446/no. 1885) oleh Abul Khoir Ibnul Jazariy, cet. Maktabah Ibnu Taimiyyah, 1351 H]

Demikian secuil nukilan dari kehidupan para salaf, generasi terbaik dalam menegakkan agama.

Mereka adalah kaum yang dikenal memelihara adab dan menghiasi diri mereka dengannya. Semakin banyak ilmunya, maka semakin baik pula adabnya. Semakin ilmunya berisi, maka semakin tampak pula sifat merendah dan tawadhu’-nya.

Adapun generasi sekarang, sebagian orang diantara mereka, semakin banyak ilmunya, maka semakin congkak dan kurang ajar.

Sebagian diantara mereka ada yang berlagak bagaikan orang awam yang jahil!! Tidak segan-segan ia membeberkan aib gurunya, menyebarkannya, dan membentuk opini buruk tentang diri gurunya.

Wahai saudaraku yang masih memerlukan akhlak, sadarkah engkau bahwa ilmu yang engkau pelajari belumlah bermanfaat bagi dirimu. Cobalah engkau koreksi dirimu yang juga masih banyak kekurangan dan aibnya. Andaikan engkau adalah seorang berilmu dengan ilmu yang nafi’ (bermanfaat), maka pasti ilmu itu akan menempa dan mengubah pribadimu yang buruk.

Tapi mengapa akhlakmu masih demikian buruk?! Itu artinya, anda masih perlu memeriksa keikhlasan, dan kejujuranmu dalam belajar, atau engkau masih membutuhkan waktu panjang dalam menempa akhlak burukmu.

Adab merupakan hiasan yang amat berharga pada diri seorang penuntut ilmu, bahkan adab lebih berharga dibandingkan seorang istri dan anak yang hilang.

Disebutkan oleh Al-Imam Ibnu Jama’ah Al-Kinaniy –rahimahullah– bahwa Imam Asy-Syafi’iy –rahimahullah– pernah ditanya, “Bagaimana engkau mencari (mempelajari) adab?”

Imam Syafi’iy –rahimahullah– menjawab,

طلب المرأة المضلة ولدها، وليس لها غيره

“(Aku akan mencari adab) seperti halnya seorang wanita yang kehilangan dalam mencari anaknya, sedang ia tidak memiliki anak selainnya”. [Lihat Tadzkiroh as-Sami’ wal Mutakallim (hal. 41), cet. Maktabah Al-Imam Adz-Dzahabiy, 1424 H]

Nilai seorang penuntut ilmu bukanlah dilihat dari banyak ilmu yang ia kumpulkan, namun dilihat dari adab yang menghiasi dirinya. Apalah arti banyak ilmu, namun diri masih berlumuran dengan akhlak buruk kepada ustadz (selaku guru), kerabat, tetangga, dan lainnya.

Seorang tabi’ut tabi’in, Makhlad bin Al-Husain –rahimahullah– berkata,

نحن إلى كثيرٍ من الأدبِ أَحْوَجُ منا إلى كثيرٍ من الحديثِ

“Kita ini lebih butuh kepada adab yang banyak dibandingkan banyak hadits”. [HR. Al-Khothib dalam Al-Jami’ li Akhlaq Ar-Rowi (no. 11)]

Subhanallah, pertanyaan yang luar biasa. Alangkah benarnya ucapan beliau. Ini adalah ucapan dan pernyataan yang lahir dari sebuah ilmu dan pengalaman.

Jika di masa itu saja, seorang salaf berkata demikian, maka pasti di zaman kita jauh lebih pantas kita katakan demikian. Sebab, terlalu banyak realita dan fenomena miris yang mewarnai kehidupan ini, dimana banyaknya bermunculan ulah dan tindakan amoral dan di luar etika dari seorang murid kepada ustadz gurunya, hanya karena persoalan-persoalan remeh dan kesalahpahaman.

Ketahuilah bahwa menempa akhlak adalah urusan yang teramat susah! Ia lebih susah dibanding memindahkan sebuah gunung. Ini terlihat dari banyaknya manusia yang diberi ilmu oleh Allah –Tabaroka wa Ta’ala-, namun ia belum mampu mengentaskan dirinya dari kubang akhlak buruknya!

Itulah sebabnya Rasulullah –Shallallahu alaihi wa sallam– selalu berdoa meminta pertolongan kepada Allah -Subhanahu wa Ta’ala- agar diberi akhlak yang baik dan dijauhkan dari akhlak yang buruk, serta mengajarkan doa-doa itu kepada umatnya

Insya Allah -Ta’ala-, doa-doa tersebut akan kami bahas dalam artikel berikutnya.

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Tulisan lainnya

Anjuran Membersihkan Halaman Rumah dan Masjid


| Menu

| MENU

Bagikan…

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram



Anjuran Membersihkan Halaman Rumah dan Masjid

dari Kotoran dan Sampah-sampah yang Menodainya

  • Oleh: Ust. Abdul Qodir Abu Fa’izah, Lc. hafizhahullah

Membersihkan rumah, baik pada bagian dalam rumah, ataukah luarnya, merupakan adab islami yang kini banyak disepelekan oleh sebagian besar kaum muslimin, sehingga tidak heran apabila kita akan menemukan sampah-sampah, dedaunan bertebaran dan rerumputan yang menjalar dan berkeliaran di halaman rumahnya. Bahkan ada diantara mereka yang membiarkan rerumputan itu memasuki rumah mereka dan jadilah pekarangan rumah mereka laksana hutan belantara, dan rumah mereka ibarat kandang hewan yang berantakan.

Sebuah pemandangan yang amat menjijikkan, sebagian muslim mengumpulkan dan membiarkan berbagai macam barang-barang rongsokan menumpuk di dalam atau di luar rumahnya, sehingga menciptakan pemandangan yang jorok. Belum lagi, anak-anak mereka sembarang membuang sampah di halaman rumah, tanpa menyiapkan tempat khusus pembuangan sampah, seperti tong sampah dan lainnya yang dapat mencegah sampah berserakan kemana-mana.

Ajaran membuang sampah ini telah dicanangkan oleh Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- kepada umatnya sejak 14 abad yang lalu, sebelum orang-orang barat mengenal peradaban.

Rasulullah –Shallallahu alaihi wa sallam– bersabda,

طَهِّرُوْا أَفْنِيَتَكُمْ، فَإِنَّ الْيَهُوْدَ لاَ تُطَهِّرُ أَفْنِيَتَهَا

“Bersihkanlah halaman-halaman kalian. Karena, kaum Yahudi tidak membersihkan halaman-halaman mereka.” [HR. Ath-Thobroniy dalam Al-Mu’jam Al-Ausath (4/231). Hadits ini hasan sebagaimana yang dijelaskan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Ash-Shohihah (no. 236)]

Seorang yang memiliki keimanan yang bersih, maka keimanannya akan memberikan pengaruh kepada anggota-anggota tubuhnya, sehingga anggota-anggota tubuh itu akan selalu bersih dan mencintai kebersihan.

Akan tetapi apabila raga seseorang kotor, maka itu adalah cerminan akan kotornya kalbu dan jiwa orang itu.

Al-Imam Abdur Rouf Al-Munawiy -rahimahullah- berkata dalam menjelaskan hadits di atas,

ونبه بالأمر بطهارة الأفنية الظاهرة على طهارة الأفنية الباطنة وهي القلوب والأرواح

“Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- memberi peringatan melalui perintah membersihkan halaman-halaman rumah yang tampak tentang halaman-halaman yang bathin (tersembunyi), yakni hati dan ruh.” [Lihat Faidhul Qodir (4/271)]

Perintah membersihkan pekarangan rumah ini semakin kuat, dengan adanya perintah menyelisihi Ahli Kitab dari kalangan Yahudi. Sebab, hidup jorok adalah kebiasaan dan jalan hidup mereka yang sudah dikenal pada zaman kenabian. Sementara kebiasaan hidup kaum muslimin (yakni, Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- dan para sahabatnya) saat itu adalah HIDUP BERSIH di atas bimbingan wahyu.

Al-Imam Al-Amir Muhammad bin Isma’il Al-Kahlaniy Al-Hasani Ash-Shon’aniy –rahimahullah– berkata saat memetik ibrah dari hadits ini,

ومخالفتهم مراده في مثل هذا أو ليكون تفرقة بين دوركم ودورهم للناظر.

“Menyelisihi mereka (kaum Yahudi), itulah maksud beliau dalam perkara seperti ini, atau agar hal itu menjadi pembeda antara rumah-rumah kalian dengan rumah-rumah mereka bagi orang yang melihatnya. [Lihat At-Tanwir Syarhul Jami’ Ash-Shoghir (7/139)]

Syariat kita adalah syariat yang membangun kehidupan nazhofah (bersih). Lantaran itu, di dalam syariat kita, diterangkan tata cara membersihkan kotoran, najis berupa darah, tahi, kencing, jilatan anjing, atau tata cara mandi junub, membuang najis dari air dan makanan, membersihkan gigi dengan siwak, berwudhu’, dan masih banyak lagi syiar-syiar nazhofah (kebersihan) dalam agama Islam yang tidak ada pada umat-umat kafir.

Oleh karena itu, suatu aib dan celaan besar apabila seorang muslim “BERGAYA HIDUP JOROK” (Makassar : rantasa’).

Seorang muslim hendaknya selalu menjaga dan memperhatikan

kebersihan diri dan lingkungannya, mulai dari anggota-anggota badannya, pakaian, kendaraan, rumah (baik dalam, maupun luarnya), kantor, dan lainnya.

Kebersihan adalah sesuatu yang indah, sedang sesuatu yang indah adalah perkara yang dicintai oleh Allah -Azza wa Jalla-.

Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda,

إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ

“Sesungguhnya Allah adalah Maha Indah, mencintai keindahan.” [HR. Muslim dalam Shohih-nya (no. 91)]

“Allah memiliki keindahn muthlaq : keindahan pada dzat-Nya, sifat-sifatnya, dan perbuatan-perbuatannya.” [Lihat At-Taisir bi Syarh Al-Jami’ Ash-Shoghir (1/504)

Ketika Allah menyifati dirinya dengan keindahan, maka Dia juga mengabarkan bahwa dirinya mencintai keindahan lahiriah dan batin pada diri hamba-hamba-Nya.

Al-Allamah Abdur Rohman Ibnu Nashir As-Sa’diy –rahimahullah– berkata,

فإنه تعالى جميل في ذاته وأسمائه وصفاته وأفعاله ،

يحب الجمال الظاهري والجمال الباطني .

فالجمال الظاهر : كالنظافة في الجسد ، والملبس ، والمسكن ، وتوابع ذلك .

والجمال الباطن : التجمل بمعاني الأخلاق ومحاسنها .

“Sesungguhnya Dia (Allah) -Ta’ala- adalah Maha Indah pada dzat (diri)-Nya, nama-nama, sifat-sifat dan perbuatan-perbuatan-Nya.

Dia mencintai keindahan lahiriah dan keindahan batin.

Keindahan lahiriah : seperti, kebersihan pada jasad, pakaian, tempat tinggal, dan pelengkap-pelengkapnya.

Sedang keindahan batin : memperindah diri dengan makna-makna akhlak serta akhlak-akhlak yang indah.” [Lihat Bahjah Qulub Al-Abror wa Qurroh Uyun Al-Akhyar fi Syarh Jawami’ Al-Akhbar (1/233) karya As-Sa’diy]

Jadikanlah keindahan lahiriah dan batin kita sebagai prinsip yang selalu mewarnai kehidupan kita, dimanapun kita berada.

Prinsip itu harus berada di tangan kaum muslimin, jangan sampai direbut oleh kaum kafir, sehingga merekalah yang dikenal sebagai pelopor kebersihan dan sebagai “manusia bersih”, walaupun hakikatnya mereka tetap saja kotor!![1].

Para pembaca yang budiman, diantara rumah-rumah yang harus lebih kita jaga kebersihannya adalah rumah-rumah Allah (baca : masjid-masjid) dan pesantren-pesantren yang menjadi tempat kita beribadah, sholat, berdzikir, bermajelis ilmu, berkumpul, membaca Al-Qur’an, dan lainnya.

Tugas menjaga kebersihan masjid, bukanlah kerendahan dan kehinaan. Tugas menjaga kebersihan masjid merupakan tugas para nabi dan rasul yang mulia.

Inilah yang Allah -Tabaroka wa Ta’ala- sinyalir dalam sebuah firman-Nya,

وَعَهِدْنَا إِلَى إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ أَنْ طَهِّرَا بَيْتِيَ لِلطَّائِفِينَ وَالْعَاكِفِينَ وَالرُّكَّعِ السُّجُودِ  [البقرة : 125]

“Dan Telah kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail: “Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang thawaf, yang i’tikaf, yang ruku’ dan yang sujud”. (QS. Al-Baqoroh : 125)

Al-Allamah Ibnu Asyur Al-Malikiy -rahimahullah- berkata,

وَالْمُرَادُ مِنْ تَطْهِيرِ الْبَيْتِ مَا يَدُلُّ عَلَيْهِ لَفْظُ التَّطْهِيرِ

– مِنْ مَحْسُوسٍ : بِأَنْ يُحْفَظَ مِنَ الْقَاذُورَاتِ وَالْأَوْسَاخِ لِيَكُونَ الْمُتَعَبِّدُ فِيهِ مُقْبِلًا عَلَى الْعِبَادَةِ دُونَ تَكْدِيرٍ،

– وَمِنْ تَطْهِيرٍ مَعْنَوِيٍّ : وَهُوَ أَنْ يُبْعَدَ عَنْهُ مَا لَا يَلِيقُ بِالْقَصْدِ مِنْ بِنَائِهِ مِنَ الْأَصْنَامِ وَالْأَفْعَالِ الْمُنَافِيَةِ لِلْحَقِّ كَالْعُدْوَانِ وَالْفُسُوقِ، وَالْمُنَافِيَةِ لِلْمُرُوءَةِ كَالطَّوَافِ عُرْيًا دُونَ ثِيَابِ الرِّجَالِ وَالنِّسَاءِ.

وَفِي هَذَا تَعْرِيضٌ بِأَنَّ الْمُشْرِكِينَ لَيْسُوا أَهْلًا لِعِمَارَةِ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ لِأَنَّهُمْ لَمْ يُطَهِّرُوهُ مِمَّا يَجِبُ تَطْهِيرُهُ مِنْهُ

“Yang dimaksud dengan ‘MEMBERSIHKAN BAITULLAH’    adalah perkara yang ditunjukkan oleh lafazh “that-hir” (membersihkan), yakni (membersihkannya) dari:

– sesuatu yang bersifat kongkrit, misalnya : menjaganya dari tahi dan kotoran, agar orang beribadah di dalamnya dapat fokus di atas ibadahnya, tanpa ternodai.

– Juga berupa pembersihan yang bersifat abstrak, yaitu dijauhkan dari Baitullah sesuatu yang tidak sejalan dengan tujuan pembangunannya berupa berhala-berhala, dan perbuatan-perbuatan yang yang menyalahi kebenaran (seperti : permusuhan, dan kefasikan), perbuatan-perbuatan yang yang menyalahi harga diri (seperti : telanjang tanpa pakaian pria dan wanita).

Di dalam hal ini, terdapat sindirian bahwa kaum musyrikin bukanlah orang yang berhak memakmurkan Masjidil Haram, karena mereka tidaklah membersihkan Baitullah dari perkara-perkara yang wajib dibersihkan darinya.” [Lihat At-Tahrir wa At-Tanwir (1/712)]

Ayat ini menunjukkan bahwa kaum muslimin (sebagai pelanjut ajaran Islam yang sejak dahulu telah diajarkan oleh para nabi dan rasul) dianjurkan untuk senantiasa mengemban dan melanjutkan tugas mulia ini. Kaum muslimin harus lebih memperhatikan kebersihan masjid-masjid dan pesantren-pesantren mereka, melebihi perhatian para petugas kebersihan pada toilet-toilet di pusat perbelanjaan, dan pompa-pompa bensin.

Hendaknya kita malu kepada Allah -Azza wa Jalla- sebelum kita malu kepada manusia saat kita membiarkan WC dan toilet masjid atau pekarangan masjid diwarnai dengan kotoran dan sampah-sampah!!

Di dalam agama kita ada syariat KEBERSIHAN pada tempat-tempat ibadah dan ilmu. Jangan sia-siakan syariat mulia itu. Jika kalian menjaga kebersihan dimanapun dan kapan pun, baik di rumah, di jalan, apalagi di masjid, maka yakin –insya Allah- Allah membalas niat baik dan perbuatan mulia kalian itu.

Al-Imam Shiddiq Hasan Khan Al-Qinnaujiy –rahimahullah– berkata,

وفي الآية مشروعية طهارة المكان للطواف والصلاة

“Di dalam ayat ini terdapat pengsyariatan membersihkan tempat tawaf dan sholat.” [Lihat Fathul Bayan fi Maqoshidil Qur’an (1/278)]

Kebersihan adalah cerminan kepribadian seorang hamba. Kapan lahiriahnya bersih, maka itu adalah tanda bahwa hatinya bersih. Sebab, kebersihan batin adalah tugas utama sebelum kebersihan lahiriah. Disinilah perlunya mempelajari ilmu wahyu (Al-Qur’an dan Sunnah) agar kita berbuat di atas ilmu dan niat yang lurus. Nah, orang yang menjaga kebersihannya karena tahu ilmu dan keutamaannya, maka ia akan mendapat pahala dari kebersihannya. Dengannya, ia terpuji di sisi manusia, bahkan di sisi Allah.[2]

Sebaliknya, Kapan saja lahiriah seseorang kotor dan jorok, maka ini adalah isyarat bahwa batin orang itu adalah kotor. Sebab, tidak mungkin batinnya yang bersih dan terbimbing dengan ilmu wahyu, akan membiarkan jasad dan lahiriah serta lingkungan sekitarnya akan kotor dan jorok.

……………………………………………………………..

Selesai, Kamis 1 Dzul Qo’dah 1437 H

…………………………………………….

……………………………

[1] Perlu diketahui bahwa orang kafir bagaimana pun bersihnya, maka mereka tetap kotor (lahir dan batin). Secara batin, tentunya batin mereka terkotori dengan kekafiran, kesyirikan, dosa-dosa. Lahiriah dan jasad mereka juga kotor dan jorok. Bukankah kalian melihat mereka tidak menjaga diri dari najis berupa tahi, kencing, liur anjing dan hewan lainnya?!

[2] Adapun orang yang bersih karena kebiasaan dan tabiat pembawaannya yang suka bersih, tanpa didasari dengan bimbingan ilmu wahyu, maka ia hanya terpuji di sisi manusia, dan tidak mendapatkan pahala, wallahu a’lam.

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Tulisan lainnya

jannatul-firdaus.net @2022

SEDIA PAYUNG SEBELUM HUJAN


| Menu

| MENU

Bagikan…

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram




SEDIA PAYUNG SEBELUM HUJAN

  • Oleh: Anshari, S.Th.I, MA.

بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله رب العالمين والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين.

أما بعد.

Agama Islam merupakan agama yang sangat sempurna dan komprehensif. Segala sesuatu yang dibutuhkan oleh manusia baik yang terkait dengan agama maupun dunia mereka telah dijelaskan dalam agama Islam. Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِيْنَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِيْ وَرَضِيْتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِيْنًا۝

Artinya:
“Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Aku cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agamamu.” (Surah al-Maidah, ayat 3).

Dan dalam hadits, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

قَدْ تَرَكْتُكُمْ عَلَی الْبَيْضَاءِ، لَيْلُهَا كَنَهَارِهَا لَا يَزِيْغُ عَنْهَا بَعْدِي إِلَّا هَالِك۞

Artinya:
“Sungguh aku telah meninggalkan kalian dalam keadaan yang sangat jelas, malamnya seperti siangnya, tidak ada yang menyimpang setelahku kecuali dia akan binasa.” (Diriwayatkan oleh Ahmad, no. 16519).

Dan salah satu yang telah dijelaskan oleh agama ini adalah tuntunan-tuntunan di musim hujan.
Di antara tuntunan di musim hujan yang patut diperhatikan oleh seorang muslim adalah sebagai berikut:

1. Banyak Bersyukur Kepada Allah.
Dalam Al-Qur’an disebutkan banyak dari manfaat dari hujan. Di antaranya:
1). Dapat Menyuburkan Tanah.
Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:

وَالَّذِيْ نَزَّلَ مِنَ السَّمَآءِ مَآءًۢبِقَدَرٍ ۚ فَاَنْشَرْنَا بِهٖ بَلْدَةً مَّيْتًا ۚ كَذٰلِكَ تُخْرَجُوْنَ۝

Artinya:
“Dan yang menurunkan air dari langit menurut ukuran (yang diperlukan) lalu dengan air itu Kami hidupkan negeri yang mati (tandus). Seperti itulah kamu akan dikeluarkan dari kubur.” (Surah az-Zukhruf, ayat 11).
Maksudnya bahwa Dia-lah Yang menurunkan hujan dari langit dengan ukuran, tidak melebihi batasan sehingga dapat menenggelamkan dan tidak pula sedikit sehingga tidak mencukupi kebutuhan. Sehingga hujan itu menjadi kehidupan kalian dan hewan-hewan kalian, dengan hujan itu pula Kami menumbuhkan tanah yang luas dari bumi yang kosong dari tanaman, sehingga Kami keluarkan pohon-pohon dan tanaman-tanaman dengan hujan yang Kami turunkan dari langit. Demikianlah kalian akan dikeluarkan dari kubur kalian wahai manusia setelah kematian kalian. (Tafsir al-Muyassar, hal. 490).

2). Dengan turunnya hujan maka akan terwujud kelangsungan hidup manusia, hewan, dan tumbuh-tumbuhan.

Karena air sangat dibutuhkan oleh makhluk hidup yang ada di muka bumi. Seperti halnya manusia dan hewan yang minum dengan air tawar. Selain itu air tawar juga digunakan untuk mengairi tanaman yang menjadi sumber makanan hewan dan manusia. Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:

وَأَنْزَلْنَا مِنَ السّمَاءِ مَاءً طَهُوْرًا. لِّنُحْيِيَ بِهٖ بَلْدَةً مَّيْتًا وَّنُسْقِيَهٗ مِمَّا خَلَقْنَآ اَنْعَامًاوَّاَنَاسِيَّ كَثِيْرًا۝

Artinya:
“Dan Kami turunkan air hujan yang bersih dari langit. Agar (dengan air itu) Kami menghidupkan negeri yang mati (tandus), dan Kami memberi minum sebagian apa yang telah Kami ciptakan, (berupa) hewan-hewan ternak dan manusia yang banyak.” (Surah al-Furqaan, ayat 48-49).

3) Air hujan dapat digunakan untuk bersuci, baik dari hadats maupun najis.
Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:

وَيُنَزِّلُ مِنَ السَّمَآءِ مَآءً لِيُطَهِّرَكُمْ بِهِ۝

Artinya:
“Dia-lah Yang menurunkan kepadamu hujan dari langit untuk mensucikan kamu dengan hujan itu.” (Surah al-Anfaal, ayat 11).
Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan makna “liyuthahhirakum bih” Yaitu mensucikamu dari hadats kecil maupun hadtas besar, yaitu thaharah zhahirah. (Tafsir Ibnu Katsir, Juz II, hal. 366).

2. Memperbanyak berdoa kepada Allah.
Baik doa-doa yang bersifat umum maupun doa-doa yang terkait dengan turunnya hujan.
Dari Ummul Mukminin, ’Aisyah radhiyallahu ’anha:

إِنَّ النَّبِىَّ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا رَأَى الْمَطَرَ قَالَ: اللَّهُمَّ صَيِّباً نَافِعاً۞

Artinya:
“Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam ketika melihat turunnya hujan, beliau mengucapkan, “Ya Allah turunkanlah pada kami hujan yang bermanfaat.” (Diriwayatkan oleh al-Bukhariy, no. 1032)
”Doa ini dianjurkan ketika turun hujan agar kebaikan dan keberkahan semakin bertambah, dan agar terhindar dari bahaya.” (Ibnu Hajar rahimahullah, Fathul Bariy, Juz II, hal. 737)

Dalam riwayat yang lain disebutkan lafaz:

اللهُمَّ صَيِّبًا هَنِيْئًا۞

Artinya:
“Ya Allah, jadikanlah hujan ini membawa berkah.” (Diriwayatkan oleh Abu Daud, no. 5099, An-Nasa’iy dalam Al-Kubra, no. 1828, Ibnu Majah, 3889).

Dan apabila hujan semakin lebat dan lama tidak berhenti, maka kita dianjurkan untuk berdoa dengan doa berikut ini:

اللَّهُمّ حَوَالَيْنَا وَلَا عَلَيْنَا,اللَّهُمَّ عَلَى الْآكَامِ وَالظِّرَابِ وَبُطُونِ الْأَوْدِيَةِ وَمَنَابِتِ الشَّجَرِ۞

Artinya:
“Ya Allah, turunkanlah hujan di sekitar kami, bukan di atas kami (untuk merusak kami). Ya Allah, arahkanlah hujan dataran tinggi, bukit-bukit, perut lembah dan tempat tumbuhnya pepohonan.” (Diriwayatkan oleh Bukhariy no. 1014)

Doa-doa di atas terkait dengan turunnya hujan.

Dan terdapat keterangan bahwa turunnya hujan merupakan waktu yang mustajab untuk berdoa. Sebagaimana dalam hadits dari Sahl bin Sa’d radhiyallahu ‘anhu, dia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda:

ثِنْتَانِ مَا تُرَدَّانِ الدُّعَاءُ عِنْدَ النِّدَاءِوَ تَحْتَ المَطَرِ۞

Artinya:
“Dua doa yang tidak akan ditolak, doa ketika adzan dan doa ketika ketika turunnya hujan.” (Diriwayatkan oleh al-Hakim dan al-Baihaqiy. Dan dihasankan oleh syeikh al-Albaniy rahimahullah).

3. Hendaknya seorang menjauhi perkara-perkara yang dapat merusak aqidahnya.
Di antaranya adalah meyakini bahwa di sana ada orang yang mampu menahan hujan selain Allah, demikian juga menyandarkan turunnya hujan kepada bintang-bintang.
Dari Zaid bin Khalid al-Juhaniy, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melakukan shalat subuh bersama kami di Hudaibiyah setelah hujan turun pada malam harinya. Tatkala hendak pergi, beliau menghadap jama’ah, kemudian mengatakan: “Apakah kalian mengetahui apa yang dikatakan Rabb kalian?” Kemudian mereka mengatakan,” Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui.” Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

أَصْبَحَ مِنْ عِبَادِى مُؤْمِنٌ بِى وَكَافِرٌ. فَأَمَّا مَنْ قَالَ مُطِرْنَا بِفَضْلِ اللَّهِ وَرَحْمَتِهِ. فَذَلِكَ مُؤْمِنٌ بِى وَكَافِرٌ بِالْكَوْكَبِ وَأَمَّا مَنْ قَالَ مُطِرْنَا بِنَوْءِ كَذَا وَكَذَا. فَذَلِكَ كَافِرٌ بِى مُؤْمِنٌ بِالْكَوْكَبِ۞

Artinya:
“Pada pagi hari, di antara hamba-Ku ada yang beriman kepada-Ku dan ada yang kafir. Siapa yang mengatakan ’Muthirna bi fadhlillahi wa rahmatih’ (Kita diberi hujan karena karunia dan rahmat Allah), makadialah yang beriman kepadaku dan kufur terhadap bintang-bintang. Sedangkan yang mengatakan ‘Muthirna binnau kadza wa kadza’ (Kami diberi hujan karena sebab bintang ini dan ini), maka dialah yang kufur kepadaku dan beriman pada bintang-bintang.” (Diriwayatkan oleh al-Bukhariy, no. 846 dan Muslim, no. 71).

4. Doa lain yang berkaitan dengan hujan
1). Doa ketika ada petir:

سُبْحَانَ الَّذِي يُسَبِّحُ الرّعْدُ وَالْمَلاَئِكَةُ مِنْ خِيْفَتِهِ۞

Artinya:
“Mahasuci Allah yang petir bertasbis dan memuji-Nya, demikian juga para Malaikat, karena takut kepada-Nya.” (Diriwayatkan oleh Imam Malik).

2). Doa ketika angin bertiup.
Dari Ubai bin Ka’ab radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jangalah kalian mencela angin, apabila kalian melihat angin maka ucapkanlah:

اللهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُ مِنْ خَيْرِ هَذِهِ الرِّيْحِ وَخَيْرِ مَا فِيْهَا وَخَيْرِ مَا أُمِرَتْ بِهِ، وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ هَذِهِ الرِّيْحِ وَشَرِّ مَا فِيْهَا وَشَرِّ مَا أُمِرَتْ بِهِ۞

Artinya:
“Ya Allah, kami memohon kepada-Mu kebaikan angin ini, kebaikan di dalamnya, dan kebaikan yang datang bersamanya. Dan aku berlindung kepada-Mu dari keburukan angin ini, keburukan yang ada di dalamnya, dan keburukan yang datang bersamanya.” (Diriwayatkan oleh at-Tirmidziy, no. 2252 dan Ahmad, no. 21176).

3) Doa apabila angin bertiup kencang:
Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha dia berkata, ketika angin bertiup kencang, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berdoa:

أَللهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ خَيْرَهَا وَخَيْرَ مَا فِيْهَا، وَخَيْرَ مَا أُرْسِلَتْ بِهِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا وَشَرِّ مَا فِيْهَا وَشَرِّ مَا أُرْسِلَتْ بِهِ۞

Artinya:
“Ya Allah, aku memohon kepadamu kebaikan (angin ini), kebaikan di dalamnya, dan kebaikan yang datang sebagai akibatnya. Aku berlindung kepadamu dari keburukannya, keburukan di dalamnya, dan keburukan yang datang sebagai akibatnya.” (Diriwayatkan oleh Muslim, no. 899).

4). Doa ketika melihat awan.
Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha dia berkata: bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam apabila melihat awan bertebaran di langit beliau menghentikan aktifitasnya, walaupun dalam keadaan shalat, kemudian beliau membaca:

اللهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا۞

Artinya:
“Ya Allah, aku memohon perlindungan dari keburukannya.” (Diriwayatkan oleh Abu Daud, no. 5099, An-Nasa’iy dalam Al-Kubra, no. 1828, Ibu Majah, no. 3889).

5. Doa setelah hujan.

مُطِرْنَا بِفَضْلِ اللَّهِ وَرَحْمَتِهِ۞

Artinya:
“Kita diberi hujan karena karunia dan rahmat Allah.”
Wallahu a’lam.

Washallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘alaa alihi washahbihi ajma’iin.

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Tulisan lainnya

jannatul-firdaus.net @2022

Sumber Akhlak yang Mulia


| Menu

| MENU

Bagikan…

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram



Sumber Akhlak yang Mulia

  • Oleh: Ustadz Dzulqarnain M. Sunusi hafizhahullah
  • [Pembina Peduli Dakwah]

Dasar pijakan untuk akhlak mulia adalah firman Allah ‘Azza wa Jalla,

خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ

“Ambillah rasa maaf, perintahlah dengan yang ma’ruf, dan berpalinglah dari orang-orang jahil.” [Al-A’râf: 199]

Sejumlah ulama mengatakan bahwa tidak ayat dalam Al-Qur`an yang lebih kompleks menunjukkan akhlah yang mulia melebihi ayat ini.

Terdapat tiga kaidah dalam ayat ini, sebagaimana yang Ibnul ‘Araby sebutkan dari ucapan ulama bahwa, “Ayat ini dengan tiga kalimatnya, telah mencakup kaidah-kaidah syari’at dalam hal-hal yang diperintah dan hal-hal yang dilarang. Tidak ada suatu kebaikan pun kecuali telah diterangkan dalam ayat, tiada suatu keutamaan kecuali dijelaskan, dan tidak ada suatu kemuliaan kecuali telah dibukanya…” [Ahkam Al-Qur`an]

Pertama, firman-Nya, “Ambillah rasa maaf” mencakup pemberian maaf, menyambung orang yang memutuskan hubungan, memberi orang yang tidak pernah memberi kepada kita, berlemah lembut, mengambil akhlak yang termudah dan mencocoki jiwa, merelakan harta yang lebih untuk orang lain, dan memaklumi kekurangan orang lain.

Kedua, firman-Nya, “Perintahlah dengan yang ma’ruf” mencakup segala kebaikan dan ketaatan dalam bentuk ucapan maupun perbuatan, berupa perintah bertauhid, menyampaikan ilmu agama, menyambung silaturahmi, berbakti kepada orang tua, saling nasihat menasihati, dan segala hal yang membawa kemashlahatan dunia dan akhirat.

Ketiga, firman-Nya, “Berpalinglah dari orang-orang jahil” mencakup akhlak bersabar, membalas kejelekan dengan kebaikan, menghindari orang-orang jahil, dan selainnya.

Menurut Ibnul ‘Araby, apabila kandungan ayat ini diuraikan akan memuat berjilid-jilid buku.

Perhatikanlah segala hal yang merupakan akhlak yang mulia, dan jangan haramkan diri kita dari kebaikan dunia dan akhirat.

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Tulis komentar

Logged in as admin. Log out »





Tulisan lainnya

jannatul-firdaus.net @2022

Tips Jitu Meraih Khusyu’ dalam Sholat


| Menu

| MENU

Bagikan…

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram



Tips Jitu Meraih Khusyu’ dalam Sholat

  • Oleh: Ustadz Abdul Qodir Abu Fa’izah, Lc. hafizhahullah
  • [Pembina Ponpes Al-Ihsan Gowa]

Khusyu’ dalam sholat adalah inti sebuah sholat yang ditunaikan oleh seorang hamba.

Dia merupakan sebab utama yang memasukkan seseorang ke dalam jannah (surga) yang dipenuhi kenikmatan.

Allah –Azza wa Jalla– berfirman,

قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ (1) الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ (2) [المؤمنون : 1 ، 2]

“Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam sholatnya”. (QS. Al-Mukminun : 1-2)

Khusyu’ dalam sholat, artinya seseorang merasa tenang dalam mengerjakan sholatnya, karena ia merasa takut kepada Allah dan men-tadabburi (memahami) ayat-ayat dan dzikir yang ia baca dalam sholatnya.

Karena itu, orang yang khusyu’ akan memusatkan perhatian terhadap bacaan sholatnya dan menenangkan seluruh anggota badannya saat sholat, karena semata-mata mengharapkan pahala.

Dia tak akan tergesa-gesa mendatangi sholat, tak akan memalingkan pandangannya ke kiri dan ke kanan ketika sholat serta mengurangi gerakan dalam sholat. [Lihat Jami’ Al-Bayan (19/694-696)]

Para pembaca yang budiman, lantas apa yang perlu kita lakukan dan pahami agar dapat meraih khusyu’ dalam sholat? Nah, tentunya bila anda ingin khusyu, maka anda dianjurkan melakukan beberapa tips berikut ini:

—  Mengingat Kematian

Seseorang yang ingin meraih khusyu’ yang sempurna dalam sholat, ia harus menghadirkan perasaan takut kepada Allah saat melewati ayat-ayat ancaman atau takut jangan sampai menjadi orang yang celaka karena kelalaiannya dalam menjaga ke-khusyu’-an sholatnya.

Satu diantara perkara yang mampu menghadirkan rasa takut kepada Allah, seseorang mengingat mati saat ia sholat. Dia harus takut jangan sampai sholat yang ia sedang kerjakan adalah amalannya yang paling akhir.

Jika itu adalah amalan yang paling akhir, maka selayaknya ia persembahkan sholat yang baik dan paling khusyu’.

Rasulullah –Shallallahu alaihi wa sallam– bersabda,

اذْكُر المَوْتَ في صَلاَتِكَ فإِنَّ الرَّجُلَ إذا ذَكَرَ المَوْتَ في صَلاَتِهِ لَحَرِيٌّ أنْ يُحْسِنَ صلاتَهُ وَصَلِّ صلاةَ رَجُلٍ لا يَظُنُّ أنَّهُ يُصَلِّي صلاةً غَيْرَها وإِيَّاكَ وكُلَّ أمْرٍ يُعْتَذَرُ مِنْه

“Ingatlah kematian dalam sholatmu. Karena, bila seseorang mengingat kematian dalam sholatnya, maka ia akan lebih memperbaiki sholatnya. Sholatlah laksana sholatnya seorang yang menyangka bahwa ia tak akan lagi melakukan sholat selainnya. Waspadalah terhadap segala perkara yang (dibutuhkan di dalamnya) pengajuan alasan”. [HR. Ad-Dailamiy dalam Musnad Al-Firdaus (1755). Hadits ini di-hasan-kan oleh Al-Albaniy dalam Shohih Al-Jami’ (no. 489)]

Seorang yang takut dalam sholatnya akan mudah mendalami dan konsentrasi terhadap segala bacaan dan gerakannya sehingga ia seakan-akan bercakap-cakap dengan Allah atau seakan ia di alam akhirat.

Inilah sebabnya Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- amat mudah menangis sholatnya, sebab beliau hadirkan dalam hatinya perasaan takut dan dekatnya perjumpaan dengan Allah yang siap menghisab dirinya.

—   Mentadabburi Bacaan-bacaan Sholat

Sholat adalah munajat (bisik-bisik) antara seorang seorang hamba dengan Robb-nya. Di dalamnya ia menyampaikan hajatnya dengan penuh rasa harap dan takut.

Semua ini tak akan sempurna sampai ia memahami arti percakapan yang ia lakukan. Percakapan ini ibarat dialog seseorang dengan kekasihnya. Bahkan lebih dari itu!!

Karenanya, dialog ini butuh keseriusan dan kesadaran sehingga lahirlah saling memahami antara kedua pihak.

Begitulah seorang yang sholat, harus penuh tadabbur terhadap bacaannya yang merupakan dialognya dengan Allah.

Mentadabburi Al-Qur’an adalah perkara yang diperintahkan. Lantaran itu, Dia mencela orang yang tak mentadabburinya. Allah –Ta’ala– berfirman,

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَى قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا  [محمد : 24]

“Maka apakah mereka tidak mentadabburi (memperhatikan) Al Quran ataukah hati mereka terkunci?” (QS. Muhammad : 24)

Al-Imam Muhammad Al-Amin Asy-Syinqithiy –rahimahullah– berkata,

وَمَا تَضَمَّنَتْهُ هَذِهِ الْآيَةُ الْكَرِيمَةُ مِنَ التَّوْبِيخِ وَالْإِنْكَارِ عَلَى مَنْ أَعْرَضَ عَنْ تَدَبُّرِ كِتَابِ اللَّهِ ، جَاءَ مُوَضَّحًا فِي آيَاتٍ كَثِيرَةٍ،…وَمَعْلُومٌ أَنَّ كُلَّ مَنْ لَمْ يَشْتَغِلْ بِتَدَبُّرِ آيَاتِ هَذَا الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ أَيْ تَصَفُّحِهَا وَتَفَهُّمِهَا ، وَإِدْرَاكِ مَعَانِيهَا وَالْعَمَلِ بِهَا، فَإِنَّهُ مُعْرِضٌ عَنْهَا، غَيْرُ مُتَدَبِّرٍ لَهَا فَيَسْتَحِقُّ الْإِنْكَارَ وَالتَّوْبِيخَ الْمَذْكُورَ فِي الْآيَاتِ إِنْ كَانَ اللَّهُ أَعْطَاهُ فَهْمًا يَقْدِرُ بِهِ عَلَى التَّدَبُّرِ.” اهـ من أضواء البيان في إيضاح القرآن بالقرآن – (7 / 256_257)

“Apa yang dikandung oleh ayat yang mulia ini berupa kecaman dan pengingkaran bagi orang yang berpaling dari mentadabburi Kitabullah, telah datang secara jelas dalam banyak ayat…Sudah dimaklumi bahwa barangsiapa yang tidak menyibukkan diri dalam mentadabburi ayat-ayat Al-Qur’an yang agung ini, yakni membukanya, berusaha memahaminya dan menjangkau maknanya serta mengamalkannya, maka sungguh ia telah berpaling darinya lagi tidak mentadabburinya. Jadi, ia berhak mendapatkan pengingkaran dan kecaman yang tersebut dalam ayat-ayat itu, jika ia diberi pemahaman oleh Allah. Dengannya, ia mampu melakukan tadabbur”. [Lihat Adhwaa’ Al-Bayan (7/256-257), cet. Dar Al-Fikr, 1415 H]

Seorang yang sholat dengan membaca doa dan dzikir tanpa tadabbur –malah lalai-, ibarat orang yang membaca surat dari seseorang tanpa mengerti isinya. Disinilah urgensi tadabbur yang melahirkan khusyu’ bagi orang yang tegak di hadapan Allah -Azza wa Jalla-.

—   Membersihkan Diri dari Maksiat

Maksiat yang dilakukan oleh para hamba merupakan noda yang akan mengotori, bahkan menutupi hati.

Sementara hati adalah alat yang digunakan berpikir dan mentadabburi sesuatu.

Nabi –Shallallahu ‘alaihi wasallam– bersabda,

إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً نُكِتَتْ فِي قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ فَإِذَا هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ سُقِلَ قَلْبُهُ وَإِنْ عَادَ زِيدَ فِيهَا حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبَهُ

“Sesungguhnya orang yang beriman jika melakukan suatu dosa, maka akan dibuat titik hitam di dalam hatinya. Jika dia menahan diri (dari maksiat), memohon ampunan dan bertobat, maka hatinya akan mengilap (bercahaya). Jika ia kembali (melakukan dosa), maka titik hitam itupun bertambah pada hatinya hingga memenuhi hatinya”. [HR. At-Tirmidzi dalam Sunan-nya (3334), dan Ibnu Majah Sunan-nya (4244). Di-hasan-kan oleh Al-Albaniy dalam Shohih At-Targhib (1620)]

Jika ia menghitam akibat noda maksiat, maka hati tak mampu bertadabbur. Sebab hati ibarat cermin, bila ia penuh noda, maka ia tak mampu memantulkan cahaya dan tak bisa dipakai berkaca. Begitulah hati yang kita pakai mentadabburi Kitabullah.

Seorang yang membiarkan dirinya bermaksiat akan memberikan pengaruh bagi hatinya, sehingga doanya pun tak akan dikabulkan oleh Allah.

Nabi –Shallallahu alaihi wa sallam– bersabda,

ثلاثةٌ يَدْعُوْنَ اللهَ فَلاَ يُسْتَجَابُ لَهُمْ:رَجُلٌ كَانَتْ تَحْتَهُ امْرَأَةٌ سَيِّئةُ الْخُلُقِ فَلَمْ يُطَلِّقْهَا، وَرَجُلٌ كَانَ لَهُ مَالٌ فَلَمْ يُشْهِدْ عَلَيْهِ، وَرَجُلٌ آتَى سَفِيْهًا مَالَهُ

“Ada tiga orang yang berdoa, tapi doanya tak dikabulkan: (1) seorang suami yang memiliki istri yang buruk akhlaknya, namun ia tak menceraikannya,  (2) seorang yang memiliki harta, namun ia tak mempersaksikannya, (3) dan seorang yang memberikan hartanya kepada seorang safih (yang bodoh)”. [HR. Al-Hakim dalam Al-Mustadrok (no. 3181) dan Al-Baihaqiy dalam Al-Kubro (no. 21022). Hadits ini di-shohih-kan oleh Al-Albaniy dalam Ash-Shohihah (no. 1805)]

Hadits ini menjelaskan bahwa orang yang memiliki istri yang buruk perangainya, tak akan dikabulkan doanya, termasuk sholatnya yang berisi doa-doa.

Sebab, dengan memelihara dan mempertahankan istri yang durhaka merupakan penyiksaan batin bagi si suami. Orang yang memiliki istri yang durhaka amat sulit meraih khusyu’.

Sebab banyak kendala dan problema bila hidup bersamanya. Semua ini tentunya akan mengganggu hati.

Demikian pula orang yang mengutangkan uang yang banyak kepada orang lain tanpa saksi, lalu orang yang berutang mengingkarinya.

Si pengutang telah berbuat teledor dalam memenuhi perintah Allah dalam menghadirkan saksi dalam akad utang tersebut.

Ini tentunya kezholiman terhadap diri sendiri. Adapun orang yang memberikan hartanya kepada orang yang bodoh dan tak pandai mengurusi harta, seperti anak kecil atau orang yang tak berpengalaman, sedang ia tahu keadaannya, maka orang ini telah menyia-nyiakan hartanya. Padahal Allah dan Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- telah melarang hal tersebut. [Lihat At-Taisir bi Syarh Al-Jami’ Ash-Shoghir (1/979)]

Di saat tersia-siakannya harta karena menyerahkannya kepada selain ahlinya, jelas akan menjadi beban pikiran yang akan mencabut kekhusu’an dalam hati.

Seorang wanita durhaka pun akan terkena akibat dan imbas dosa kedurhakaannya sehingga ke-khusyu’-an dicabut dari dirinya.

Rasulullah –Shallallahu alaihi wa sallam– bersabda,

اثْنَانِ لا تُجَاوِزُ صَلاتُهُمَا رُءُوسَهُمَا : عَبْدٌ آبِقٌ مِنْ مَوَالِيهِ حَتَّى يَرْجِعَ إِلَيْهِمْ ، وَامْرَأَةٌ عَصَتْ زَوْجَهَا حَتَّى تَرْجِعَ

“Ada dua orang yang sholatnya tidak melewati kepalanya: budak yang lari dari majikannya sampai kembali kepada mereka dan istri yang durhaka kepada suaminya sampai ia (istri) mau rujuk kepada suaminya”. [HR. Ath-Thobroniy dalam Ash-Shoghir (no. 478) dan Al-Awsath (3628) serta Al-Hakim dalam Al-Mustadrok (no.7330). Hadits ini di-shohih-kan oleh Al-Albaniy dalam Shohih At-Targhib (no. 1888)]

Diantara maksiat yang menghalangi doa dan khusyu’-nya sholat kita, memakan makanan dan minuman yang haram serta memakai pakaian yang haram.

Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda,

“Sesungguhnya Allah -Ta’ala- itu Maha Baik, tidak mau menerima, kecuali yang baik; Allah telah memerintahkan kepada kaum mu’minun sesuatu yang telah Dia perintahkan kepada para rasul, seraya berfirman, “Hai rasul-rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal yang saleh” (QS. Al-Mukminun : 51). Dia berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezki yang baik-baik yang kami berikan kepadamu”. (QS. Al-Baqoroh : 172)

Kemudian beliau (Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam-) menyebutkan seorang yang melakukan safar yang jauh dalam keadaan kusut, lagi berdebu; dia mengulurkan tangannya ke langit (seraya berdo’a), “Wahai Robb-ku, wahai Robb-ku”, sedang makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan dikenyangkan dengan sesuatu yang haram. Maka bagaimana mungkin dikabulkan (doa) bagi orang itu”. [HR. Muslim dalam Shohih-nya (1015)]

—  Menjauhi Kebiasaan Banyak Tertawa

Banyak tertawa akan mematikan hati. Hati yang mati tak akan bergeming dengan ancaman dan berita gembira yang dibacakan kepadanya.

Nah, bagaimana mungkin orang yang berhati demikian akan khusyu’.

Itulah sebabnya Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- melarang banyak tertawa dalam sabdanya,

وَلَا تُكْثِرْ الضَّحِكَ فَإِنَّ كَثْرَةَ الضَّحِكِ تُمِيتُ الْقَلْبَ

“Janganlah engkau memperbanyak tawa, karena banyak tawa akan mematikan hati”. [HR. At-Tirmidziy dalam As-Sunan (2305). Hadits ini di-hasan-kan oleh Al-Albaniy dalam Ash-Shohihah (no. 930)]

Para pembaca yang budiman, inilah beberapa terapi dan tips dalam meraih khusyu’.

Sebenarnya masih ada lagi hal lain yang dapat menjadi sebab lahirnya khusyu’ dalam sholat, seperti jangan terlalu sibuk dan tenggelam dengan dunia sehingga dunia lebih menguasai hati. Akhirnya, ia tak hadir ke masjid, selain hatinya dipenuhi berbagai macam pikiran dan urusan dunia.

Semoga di lain waktu kami akan ulas lagi materi ini, insya Allah…

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Tulis komentar

Logged in as admin. Log out »




Tulisan lainnya

jannatul-firdaus.net @2022

Kisah Kayu Ajaib


| Menu

| MENU

Bagikan…

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram



Kisah Kayu Ajaib

  • HR.Bukhari

Abu Hurairah meriwayatkan dari Rasulullah bahwa Seorang laki- laki dari kalangan Bani Israil meminta kepada seseorang Bani Israil lainnya agar memberikan pinjaman kepadanya seribu dinar. 

Lalu si pemberi pinjaman berkata, “Datangkanlah para saksi. Saya meminta mereka untuk bersaksi.” 

Lantas orang yang meminta pinjaman berkata, “Cukuplah Allah yang menjadi saksi.” 

Pemberi pinjaman menambahkan, “Datangkanlah seorang penjamin.” Dia menjawab, “Cukuplah Allah sebagai penjamin.” 

Pemberi pinjaman berkata, “Engkau benar.” 

Kemudian dia menyerahkan piutang tersebut kepadanya sampai waktu yang ditentukan. Selanjutnya si peminjam pergi mengarungi lautan untuk memenuhi kebutuhannya. 

Setelah itu, dia mencari perahu yang akan digunakan untuk mendatangi pemberi pinjaman sesuai waktu yang telah ditetapkan. Ternyata dia tidak menemukan perahu. 

Lantas dia mengambil kayu dan melubanginya, lalu dia memasukkan seribu dinar di dalamnya dan selembar kertas untuk temannya (si pemberi pinjaman). Kemudian dia menutupnya kembali. 

Selanjutnya dia membawa kayu tersebut ke laut. Dia berkata, “Ya Allah! Sungguh, Engkau mengetahui bahwa saya meminjam seribu dinar kepada si fulan, lalu dia meminta penjamin kepadaku dan saya berkata, ‘Cukuplah Allah sebagai penjamin. Dia pun ridha karena Engkau. Dia juga meminta saksi, lalu saya berkata, “Cukuplah Allah menjadi saksi: Dia pun ridha karena Engkau. Sesungguhnya saya telah bersusah payah untuk menemukan kendaraan untuk mengantarkan utangku kepada pemiliknya, ternyata saya tidak menemukan. Sungguh, saya menitipkan kayu ini kepada-Mu.” 

Lantas dia melemparkannya ke laut sempai masuk ke dalam laut kemudian bergerak. 

Di samping itu dia masih saja mencari kendaraan untuk menuju ke daerahnya. Di lain pihak, si pemberi pinjaman menanti-nanti barangkali kendaraan yang membawa piutangnya telah datang. 

Ternyata ada kayu yang mengapung di dekatnya. Lalu dia mengambil kayu tersebut untuk dijadikan sebagai kayu bakar buat keluarganya.

Ketika dia membelah kayu tersebut, dia menemukan uang dan selembar kertas. 

Kemudian orang yang meminjam tadi datang dengan membawa uang seribu dinar, lalu dia berkata, ‘Demi Allah, sebelum ini aku tidak mendapatkan kapal yang dapat mengantarkan aku untuk membayar hutangmu.” 

Lalu si pemberi hutang berkata, “Apakah engkau telah mengirim sesuatu untukku?” 

Dia berkata, “Aku sudah kabarkan bahwa aku tidak mendapatkan kapal untuk mengantarkan aku kepadamu.” 

Maka orang itu berkata, “Sesungguhnya Allah telah mengirimkan uang tersebut yang terdapat di dalam kayu yang engkau kirim. Bawalah kembali uangmu yang seribu dinar tersebut.”

Artboard 2
Artboard 3
Artboard 4
Artboard 5
Artboard 6
Artboard 7
Artboard 8
Artboard 9

Sebelumnya
Selanjutnya

  • gambar: #anakJF

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Tulis komentar

Logged in as admin. Log out »




Tulisan lainnya

jannatul-firdaus.net @2021

Agar Bacaan Al-Qur`an Lebih Menyentuh Hati


| Menu

| MENU

Bagikan…

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram



Agar Bacaan Al-Qur`an Lebih Menyentuh Hati

  • Oleh : Ustadz Dzulqarnain Muhammad Sunusi hafizhahullah
  • (Pembina Peduli Dakwah)

Allah Subhânahu wa Ta’âlâ memerintahkan Nabi Muhammad shallallâhu ‘alaihi wa sallam sebagaimana dalam firman-Nya,

وَاتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنْ كِتَابِ رَبِّكَ لَا مُبَدِّلَ لِكَلِمَاتِهِ وَلَنْ تَجِدَ مِنْ دُونِهِ مُلْتَحَدًا

“Dan bacakanlah apa-apa yang diwahyukan kepadamu, yaitu kitab Rabb-mu (Al-Qur`an). Tiada (seorang pun) yang dapat mengubah kalimat-kalimat-Nya. Dan engkau tidak akan dapat menemukan tempat berlindung selain Dia.” [Al-Kahf: 27]

Juga dalam firman-Nya,

إِنَّمَا أُمِرْتُ أَنْ أَعْبُدَ رَبَّ هَذِهِ الْبَلْدَةِ الَّذِي حَرَّمَهَا وَلَهُ كُلُّ شَيْءٍ وَأُمِرْتُ أَنْ أَكُونَ مِنَ الْمُسْلِمِينَ. وَأَنْ أَتْلُوَ الْقُرْآنَ

“Aku hanya diperintah untuk menyembah Rabb negeri (Makkah) ini Yang telah menjadikan (negeri) itu suci, dan kepunyaan-Nya-lah segala sesuatu. Serta, aku diperintah agar aku tergolong sebagai orang-orang yang berserah diri, dan supaya aku membacakan Al-Qur`an (kepada manusia).” [An-Naml: 91-92]

Kepada kaum mukminin, Allah ‘Azza wa Jalla menganjurkan,

إِنَّ الَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَنْفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلَانِيَةً يَرْجُونَ تِجَارَةً لَنْ تَبُورَ. لِيُوَفِّيَهُمْ أُجُورَهُمْ وَيَزِيدَهُمْ مِنْ فَضْلِهِ إِنَّهُ غَفُورٌ شَكُورٌ.

“Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca (tilawah) kitab Allah, mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka secara diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi. (Yakni) agar Dia menyempurnakan pahala untuk mereka dan menambah kepada mereka dari karunia-Nya. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.” [Fathir: 29-30]

Tidak diragukan bahwa membaca Al-Qur`an adalah salah satu tugas pokok seorang muslim dan muslimah serta sumber kebaikan dan kebahagiaan yang dia tidak bisa terlepas dari kehidupannya.

Membaca Al-Qur`an sesuai dengan perintah Allah ‘Azza wa Jalla akan mewariskan keimanan yang sangat agung di dalam Allah dan akan menambah keyakinan, ketenangan, dan kelembutan[1].

Allah Subhânahu wa Ta’âlâ berfirman,

وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ وَلَا يَزِيدُ الظَّالِمِينَ إِلَّا خَسَارًا.

“Dan dari Al-Qur`an, Kami menurunkan sesuatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman, sedang Al-Qur`an itu tidaklah menambah (sesuatu) kepada orang-orang zhalim, kecuali kerugian.” [Al-Isra`: 82]

Keutamaan dan manfaat membaca Al-Qur`an tentunya sangatlah banyak. Namun, yang menjadi masalah pada sebagian kaum muslimin pembaca Al-Qur`an adalah kurangnya pengaruh pada jiwa dalam membaca Al-Qur`an Al-Karim.

Oleh karena itu, pada tulisan ini, kami akan menjelaskan beberapa kiat yang bisa membantu seorang muslim dan muslimah agar hati dan jiwanya lebih tersentuh serta lebih membuat dia bisa cinta dan mengagungkan Al-Qur`an.

Berikut penjelasan beberapa kiat tersebut dengan memohon pertolongan kepada Allah.

Pertama, mengetahui keutamaan, keagungan derajat, dan ketinggian kedudukan Al-Qur`an sehingga seseorang membaca Al-Qur`an dengan penuh kegembiraan dan rasa harap, serta penuh penghormatan, pengagungan, dan rasa takut kepada Allah, Yang menurunkan Al-Qur`an tersebut. Allah Subhânahu wa Ta’âlâ berfirman,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُمْ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ. قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ.

“Wahai manusia, sesungguhnya telah datang pelajaran dari Rabb kalian kepada kalian, penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada, serta petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman. Katakanlah, ‘Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah mereka bergembira dengan itu. (Karunia Allah dan rahmat-Nya) itu adalah lebih baik daripada apa-apa yang mereka kumpulkan. ” [Yunus: 57-58]

Kedua, pengetahuan seorang hamba bahwa Al-Qur`an adalah kalamullah (firman Allah) yang merupakan sebaik-baik pembicaraan dan ucapan jujur yang teragung dan terbenar.

Mencermati bahwa Al-Qur`an adalah kalamullah akan membuat pembaca Al-Qur`an merasakan bahwa seakan-akan Allah berbicara kepadanya. Tentunya, pengagungan seperti ini akan berpengaruh kepada hati seorang hamba. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

ذَلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوبِ.

“Demikianlah (perintah Allah), dan barangsiapa yang mengagungkan syiar-syiar Allah, sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati.” [Al-Hajj: 32]

Ketiga, membaca Al-Qur`an dengan menadabburi dan mencermati kandungannya.

Karena, maksud utama penurunan Al-Qur`an adalah agar kita menadabburi ayat-ayat-Nya sebagaimana yang dijelaskan dalam firman-Nya,

كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ.

“Ini adalah sebuah kitab penuh berkah yang Kami turunkan kepadamu supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan agar orang-orang yang mempunyai pikiran mendapat pelajaran.” [Shad: 29]

Meninggalkan tadabbur terhadap Al-Qur`an akan menimbulkan kekerasan dalam hati. Allah Subhânahu wa Ta’âlâ menegaskan,

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَى قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا.

“Maka apakah mereka tidak menadabburi Al-Qur`an, ataukah hati mereka terkunci?” [Muhammad: 24]

Hendaknya diketahui bahwa menadabburi dan mencermati Al-Qur`an adalah lebih baik daripada sekadar membaca Al-Qur`an. Oleh karena itu, Ibnu Hajar Al-Asqalâny rahimahullâh berkata, “Siapa saja yang membaca (Al-Qur`an) dengan tartil dan mencermati (Al-Qur`an), dia bagaikan orang yang bersedekah dengan suatu permata yang sangat mahal.”[2]

Ibnul Qayyim rahimahullâh berkata, “Barangsiapa yang membaca Al-Qur`an dengan tafakkur (memikirkan dan merenunginya) hingga, jika melalui sebuah ayat yang dia perlukan dalam mengobati hatinya, dia mengulangi walaupun seratus kali, bahkan semalam penuh, karena membaca satu ayat dengan tafakkur dan memahami (ayat) itu adalah lebih baik daripada bacaan khatam tanpa tadabbur dan memahami. (Hal tersebut) juga lebih bermanfaat bagi hati dan lebih mengajak untuk memperoleh keimanan dan merasakan kemanisan Al-Qur`an.”[3]

Keempat, membaca Al-Qur`an dengan memohon perlindungan kepada Allah Ta’âlâ dari gangguan syaithan yang terkutuk. Allah ‘Azza wa Jalla memerintahkan,

فَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ.

“Apabila membaca Al-Qur`an, hendaklah engkau meminta perlindungan kepada Allah dari syaithan yang terkutuk.” [An-Nahl: 98]

Hendaknya dia membaca, “A’ûdzu billâhi minasy syaithânir rajîm,” dengan menyadari bahwa syaithan sungguh berusaha memalingkannya dari mengambil manfaat dan mengamalkan Al-Qur`an.

Kelima, membaca Al-Qur`an dengan rasa khusyu’. Allah telah memerintah, disertai dengan peringatan, kepada orang-orang yang beriman dalam firman-Nya,

أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ وَلَا يَكُونُوا كَالَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الْأَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ وَكَثِيرٌ مِنْهُمْ فَاسِقُونَ.

“Belumkah datang waktunya, bagi orang-orang yang beriman, untuk hati mereka khusyu’ dalam mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka). Janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al-Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka, (tetapi) kemudian hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang fasik.” [Al-Hadîd: 16]

Keenam, membaca Al-Qur`an secara tartil.

Allah telah memerintahkan dalam firman-Nya,

وَرَتِّلِ الْقُرْآنَ تَرْتِيلًا.

“Dan bacalah Al-Qur`an itu secara tartil (perlahan-lahan).” [Al-Muzzammil: 4]

Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam telah memberi contoh dengan membaca secara tartil dalam shalat malamnya. Jika melewati bacaan ayat yang mengandung tasbih, beliau bertasbih. Jika melewati bacaan ayat tentang rahmat, beliau berhenti dan memohon rahmat Allah. Bila melalui bacaan ayat tentang ayat adzab, beliau berlindung kepada Allah[4].

Dalam sebuah hadits[5], Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam mengerjakan shalat malam hanya dengan mengulangi membaca sebuah ayat, yaitu firman Allah Ta’âlâ,

إِنْ تُعَذِّبْهُمْ فَإِنَّهُمْ عِبَادُكَ وَإِنْ تَغْفِرْ لَهُمْ فَإِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ.

“Jika Engkau menyiksa mereka, sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba Engkau, tetapi jika Engkau mengampuni mereka, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” [Al-Maidah: 118]

 

Ketujuh, mempelajari kandungan dan tafsir Al-Qur`an dari para ulama.

Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam mengingatkan,

وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللهِ، يَتْلُونَ كِتَابَ اللهِ، وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ، إِلَّا نَزَلَتْ عَلَيْهِمِ السَّكِينَةُ، وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمُ الْمَلَائِكَةُ، وَذَكَرَهُمُ اللهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ.

“Tidaklah suatu kaum berkumpul di sebuah rumah (baca: masjid) di antara rumah-rumah Allah, yang mereka membaca kitab Allah dan saling mempelajari (kitab) tersebut di antara mereka, kecuali bahwa pasti turun ketenangan di tengah mereka, mereka akan diliputi rahmat, dinaungi oleh para malaikat, dan Allah akan menyebut mereka (di depan para malaikat) di sisi-Nya.”

Kedelapan, memahami makna tilawah Al-Qur`an yang sebenarnya.

Allah Subhânahu wa Ta’âlâ berfirman,

الَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَتْلُونَهُ حَقَّ تِلَاوَتِهِ أُولَئِكَ يُؤْمِنُونَ بِهِ وَمَنْ يَكْفُرْ بِهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ.

“Orang-orang yang telah Kami beri Al-Kitab, mereka menilawah (Al-Qur`an) dengan bacaan yang sebenarnya. Mereka itu beriman kepada (Al-Qur`an). Dan barangsiapa yang ingkar terhadap (Al-Qur`an), mereka itulah orang-orang yang merugi.” [Al-Baqarah: 121]

Tilawah terhadap Al-Qur`an adalah dengan tiga hal:

  1. Membacanya sesuai dengan ketentuan-ketentuan pembacaan Al-Qur`an yang ada di kalangan ahli qirâ`ah dan tajwid.
  2. Memahami kandungan dan penafsirannya.
  3. Mengimani dan mengamalkan kandungan dan hukum-hukumnya[6].

Kesembilan, mencontoh keadaan para nabi dan orang-orang shalih dalam membaca Al-Qur`an.

Salah satu sifat para malaikat, yang selalu taat dan takut kepada Allah ‘Azza wa Jalla, adalah membaca kalamullah sebagaimana dalam firman-Nya,

فَالتَّالِيَاتِ ذِكْرًا.

“Dan demi (rombongan malaikat) yang membacakan Kalamullah.” [Ash-Shaffat: 3]

Tentang para nabi, Allah Subhânahu wa Ta’âlâ berfirman,

أُولَئِكَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ مِنْ ذُرِّيَّةِ آدَمَ وَمِمَّنْ حَمَلْنَا مَعَ نُوحٍ وَمِنْ ذُرِّيَّةِ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْرَائِيلَ وَمِمَّنْ هَدَيْنَا وَاجْتَبَيْنَا إِذَا تُتْلَى عَلَيْهِمْ آيَاتُ الرَّحْمَنِ خَرُّوا سُجَّدًا وَبُكِيًّا.

“Mereka itu adalah orang-orang yang telah Allah beri nikmat, yaitu para nabi dari keturunan Adam, dari orang-orang yang Kami angkat bersama Nuh, dari keturunan Ibrahim dan Israil, serta dari orang-orang yang telah Kami beri petunjuk dan telah Kami pilih. Apabila ayat-ayat Allah Yang Maha Pemurah dibacakan kepada mereka, mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis.” [Maryam: 58]

Juga, Allah menjelaskan sifat orang-orang yang berilmu saat mendengar ayat-ayat Allah sebagaimana dalam firman-Nya,

إِنَّ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ مِنْ قَبْلِهِ إِذَا يُتْلَى عَلَيْهِمْ يَخِرُّونَ لِلْأَذْقَانِ سُجَّدًا. وَيَقُولُونَ سُبْحَانَ رَبِّنَا إِنْ كَانَ وَعْدُ رَبِّنَا لَمَفْعُولًا. وَيَخِرُّونَ لِلْأَذْقَانِ يَبْكُونَ وَيَزِيدُهُمْ خُشُوعًا.

“Sesungguhnya orang-orang yang diberi pengetahuan sebelumnya, apabila dibacakan Al-Qur`an kepada mereka, bersungkur di atas muka mereka sambil bersujud seraya berkata, ‘Maha Suci Rabb kami, sesungguhnya janji Rabb kami pasti dipenuhi.’ Dan mereka bersungkur di atas muka mereka sambil menangis, dan mereka pun bertambah khusyu’.” [Al-Isra`: 107-109]

Nabi kita, Muhammad shallallâhu ‘alaihi wa sallam, menangis pada banyak keadaan dalam membaca Al-Qur`an atau ketika mendengar bacaan Al-Qur`an para shahabat sebagaimana telah sah dalam sejumlah hadits.

Kesepuluh, kekhawatiran terhadap diri bila tergolong sebagai orang-orang yang meninggalkan dan mengacuhkan Al-Qur`an.

Allah Subhânahu wa Ta’âlâ telah mengingatkan,

وَقَالَ الرَّسُولُ يَا رَبِّ إِنَّ قَوْمِي اتَّخَذُوا هَذَا الْقُرْآنَ مَهْجُورًا.

“Berkatalah Rasul, ‘Wahai Rabb-ku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al-Qur`an itu sebagai sesuatu yang tidak diacuhkan.’.” [Al-Furqan: 30]

Ibnul Qayyim rahimahullâh menyebut lima bentuk tentang meninggalkan Al-Qur`an:

  1. Meninggalkan mendengar, mengimani, dan memperhatikan Al-Qur`an.
  2. Meninggalkan beramal dengan Al-Qur`an serta berhenti pada setiap halal dan haramnya.
  3. Meninggalkan berhukum dan tahâkum kepada Al-Qur`an.
  4. Meninggalkan tadabbur dan memahami (Al-Qur`an).
  5. Meninggalkan berobat dan mencari kesembuhan dengan (Al-Qur`an)[7].

Demikianlah sepuluh kiat agar hati lebih tersentuh ketika membaca Al-Qur`an. Semoga Allah membersihkan hati dan jiwa kita dari segala dosa dan maksiat, dari segala penyakit dan bahaya, serta semoga Allah senantiasa memerangi dan menyejukkan hati-hati kita dengan Al-Qur`an Al-Karim. Innahu waliyyu dzalika wal qadiru ‘alaihi wa huwa jawwadun karîm.

[Disarikan dari Makalah Tsamaniyyah Khathawât Min Ajl Qirâ’ah Mu`tsirah Li Al-Qur`ân Al-Karîm dengan banyak tambahan]

[1] Majmû’ Al-Fatâwâ 7/283 karya Ibnu Taimiyah.

[2] Fath AlBâry.

[3] Miftâh Dâr As-Sa’âdah.

[4] Diriwayatkan oleh Muslim.

[5] Diriwayatkan oleh Ahmad, An-Nasâ`iy, dan Ibnu Mâjah dengan sanad yang hasan. Bacalah Ashl Shifât Ash-Shalah 2/534-535 karya Al-Albâny.

[6] Ahkâm Min Al-Qur`ân Al-Karîm 1/322 karya Syaikh Shalih bin ‘Utsaimin.

[7] Al-Fawâ`id.

Silakan klik di sini untuk mengunduh

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Tulis komentar

Logged in as admin. Log out »




Tulisan lainnya

jannatul-firdaus.net @2018

Kiat-Kiat Agar Mudah Mengerjakan Shalat Malam


| Menu

| MENU

Bagikan…

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram



Kiat-Kiat Agar Mudah Mengerjakan Shalat Malam

  • Oleh : Ustadz Dzulqarnain Muhammad Sunusi hafizhahullah
  • (Pembina Peduli Dakwah)

Berikut beberapa kiat yang, insya Allah, sangat memudahkan seorang hamba untuk melaksanakan shalat malam.

(1). Mengikhlaskan amalan hanya untuk Allah sebagaimana Dia telah memerintahkan dalam firman-Nya,

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ

“Padahal mereka tidak disuruh, kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (hal menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat. Yang demikian itulah agama yang lurus.” [Al-Bayyinah: 5]

(2). Mengetahui keutamaan qiyamul lail dan kedudukan orang-orang yang mengerjakan ibadah tersebut di sisi Allah Ta’âlâ.

Hal tersebut karena siapa saja yang mengetahui keutamaan ibadah shalat malam, dia akan bersemangat untuk bermunajat kepada Rabb-nya dan bersimpuh dengan penuh penghambaan kepada-Nya. Hal ini tentunya dengan mengingat semua keutamaan yang telah diterangkan dalam banyak ayat dan hadits.

(3). Meninggalkan dosa dan maksiat karena dosa dan maksiat akan memalingkan hamba dari kebaikan.

Al-Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullâh berkata, “Apabila tidak mampu mengerjakan shalat malam dan puasa pada siang hari, engkau adalah orang yang terhalang dari (kebaikan) lagi terbelenggu. Dosa-dosamu telah membelenggumu.”[1]

(4). Menghadirkan di dalam diri bahwa Allah yang menyuruhya untuk menegakkan shalat malam itu.

Bila seorang hamba menyadari bahwa Rabb-nya, yang Maha Kaya lagi tidak memerlukan sesuatu apapun dari hamba, telah memerintahnya untuk mengerjakan shalat malam itu, hal itu tentu menunjukkan anjuran yang sangat penting bagi hamba guna mendapatkan kebaikan untuk dirinya sendiri. Bukankah Allah telah menyeru Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam dan umat beliau dalam firman-Nya,

يَا أَيُّهَا الْمُزَّمِّلُ. قُمِ اللَّيْلَ إِلَّا قَلِيلًا. نِصْفَهُ أَوِ انْقُصْ مِنْهُ قَلِيلًا. أَوْ زِدْ عَلَيْهِ وَرَتِّلِ الْقُرْآنَ تَرْتِيلًا

Wahai orang yang berselimut (Muhammad), bangunlah (untuk mengerjakan shalat) pada malam hari, kecuali sedikit (dari malam itu), (yaitu) seperduanya atau kurangilah sedikit dari seperdua itu, atau lebih dari seperdua itu. Dan bacalah Al-Qur`ân itu dengan perlahan-lahan.” [Al-Muzzammil: 1-4]

(5). Memperhatikan keadaan kaum salaf dan orang-orang shalih terdahulu, dari kalangan shahabat, tabi’in, dan setelahnya, tentang keseriusan mereka dalam hal mendulang pahala shalat malam ini.

Abu Dzar Al-Ghifary radhiyallâhu ‘anhu berkata, “Wahai sekalian manusia, sesungguhnya aku adalah penasihat untuk kalian lagi orang yang sangat mengasihi kalian, kerjakanlah shalat oleh kalian pada kegelapan malam guna kengerian (alam) kuburan, berpuasalah di dunia untuk terik panas hari kebangkitan, dan bersedekahlah sebagai rasa takut terhadap hari yang penuh dengan kesulitan. Wahai sekalian manusia, sesungguhnya aku adalah penasihat untuk kalian lagi orang yang sangat mengasihi kalian.”[2]

Tsabit bin Aslam Al-Bunany rahimahullâh berkata, “Tidak ada hal lezat yang saya temukan dalam hatiku melebihi qiyamul lail.” [3]

Sufyân Ats-Tsaury rahimahullâh berkata, “Apabila malam hari datang, saya pun bergembira. Bila siang hari datang, saya bersedih.” [4]

Hisyam bin Abi Abdillah Ad-Dastuwa`iy rahimahullâh berkata, “Sesungguhnya Allah mempunyai hamba-hamba yang menolak tidur pada malam hari karena mengkhawatirkan kematian saat mereka tidur.” [5]

Abu Sulaiman Ad-Dârâny rahimahullâh berkata, “Ahli ketaatan merasa lebih lezat dengan malam hari mereka daripada orang yang lalai dengan kelalaiannya. Andaikata bukan karena malam hari, niscaya saya tidak suka tetap hidup di dunia.” [6]

Ketika Yazîd Ar-Raqasiy rahimahullâh mendekati ajalnya, tampak tangisan dari beliau. Saat ditanya, “Apa yang membuatmu menangis?” Beliau menjawab, “Demi Allah, saya menangisi segala hal yang telah saya telantarkan berupa shalat lail dan puasa pada siang hari.” Beliau juga berkata, “… Wahai saudara-saudaraku, janganlah kalian tertipu dengan waktu muda kalian. Sungguh, bila sesuatu yang menimpaku, berupa kedahsyatan perkara (kematian) dan beratnya kepedihan maut, telah menimpa kalian, pastilah (kalian) hanya (akan berpikir) untuk keselamatan dan keselamatan, untuk kehati-hatian dan kehati-hatian. Bersegeralah, wahai saudara-saudaraku –semoga Allah merahmati kalian-.” [7]

Ishaq bin Suwaid Al-Bashry rahimahullâh berkata, “Mereka (para Salaf) memandang bahwa tamasya (itu) adalah dengan berpuasa pada siang hari dan mengerjakan shalat pada malam hari.” [8]

Adalah Malik bin Dînar rahimahullâh tidak tidur pada malam hari. Ketika ditanya, “Mengapa saya melihat manusia tidur pada malam hari, sedangkan engkau tidak?” Beliau menjawab, “Ingatan tentang neraka Jahannam tidak membiarkan aku untuk tidur.” [9]

Mu’âdzah bintu Abdillah rahimahullâh -yang menghidupkan malamnya dengan mengerjakan ibadah- berkata, “Saya takjub kepada mata (seseorang) yang tertidur, sedang dia mengetahui akan panjangnya tidur pada kegelapan kubur.” [10]

(6). Mengenal semangat syaithan untuk memalingkan manusia dari qiyamul lail.

Dalam hadits Abu Hurairah radhiyallâhu ‘anhu, Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يَعْقِدُ الشَّيْطَانُ عَلَى قَافِيَةِ رَأْسِ أَحَدِكُمْ ثَلاَثَ عُقَدٍ إِذَا نَامَ بِكُلِّ عُقْدَةٍ يَضْرِبُ عَلَيْكَ لَيْلاً طَوِيلاً فَإِذَا اسْتَيْقَظَ فَذَكَرَ اللَّهَ انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ وَإِذَا تَوَضَّأَ انْحَلَّتْ عُقْدَتَانِ فَإِذَا صَلَّى انْحَلَّتِ الْعُقَدُ فَأَصْبَحَ نَشِيطًا طَيِّبَ النَّفْسِ وَإِلاَّ أَصْبَحَ خَبِيثَ النَّفْسِ كَسْلاَنَ

“Syaithan mengikat tengkuk kepala salah seorang dari kalian sebanyak tiga ikatan ketika orang itu sedang tidur. Dia memukul setiap tempat ikatan (seraya berkata), ‘Malam yang panjang atas engkau, maka tidurlah.’ Apabila orang itu bangun kemudian menyebut nama Allah, terlepaslah satu ikatan. Apabila orang itu berwudhu, terlepaslah satu ikatan (yang lain). Apabila orang itu mengerjakan shalat, terlepaslah seluruh ikatannya. Orang itupun berada pada pagi hari dengan semangat dan jiwa yang baik. Kalau tidak (mengerjakan amalan-amalan tadi), orang itu akan berada pada pagi hari dalam keadaan jiwa yang jelek dan pemalas.” [11]

(7). Memendekkan angan-angan dan banyak mengingat kematian.

Ini adalah kaidah yang akan memacu semangat hamba dalam pelaksanaan ketaatan dan menghilangkan rasa malas. Dari Ibnu Umar, beliau berkata, “Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam memegang bahuku seraya berkata,

كُنْ فِى الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ ، أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ

‘Jadilah engkau di dunia seperti orang asing atau pengembara yang sekadar berlalu.’.”

Adalah Ibnu Umar berkata setelah itu, “Apabila berada pada waktu sore, janganlah engkau menunggu waktu pagi, dan, jika engkau berada pada waktu pagi, janganlah engkau menunggu waktu sore. Ambillah dari waktu sehatmu untuk waktu sakitmu, dan ambillah dari kehidupanmu untuk kematianmu.” [12]

(8). Mengingat nikmat kesehatan dan waktu luang.

Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda,

نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ ، الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ

Dua nikmat yang banyak manusia melalaikannya: kesehatan dan waktu luang.” [13]

Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallâhu ‘anhumâ, dari Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam, Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada seorang lelaki sembari menasihati lelaki tersebut,

اغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ : شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ ، وَصِحَتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ ، وَغِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ ، وَفَرَاغَكَ قَبْلَ شُغْلِكَ ، وَحَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ

“Manfaatkan lima perkara dengan segera sebelum (datang) lima perkara; waktu mudamu sebelum (datang) waktu tuamu, kesehatanmu sebelum (datang) sakitmu, kekayaanmu sebelum (datang) kefakiranmu, waktu luangmu sebelum (datang) waktu sibukmu, dan kehidupanmu sebelum (datang) kematianmu.” [14]

(9). Segera tidur pada awal malam.

Dalam hadits Abi Barzakh radhiyallâhu ‘anhu, beliau berkata,

وَكَانَ يَكْرَهُ النَّوْمَ قَبْلَهَا وَالْحَدِيثَ بَعْدَهَا

Adalah (Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam) membenci tidur sebelum (mengerjakan shalat) Isya dan berbincang-bincang setelah (mengerjakan shalat Isya) tersebut.” [15]

(10). Menjaga etika-etika tidur sesuai tuntunan

Sangat penting untuk menjaga etika-etika tidur yang dituntunkan oleh Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam, seperti tidur dalam keadaan berwudhu, membaca “tiga qul” (yakni surah Al-Ikhlash, Al-Falaq, dan An-Nâs), ayat kursi, dua ayat terakhir dari surah Al-Baqarah, dzikir-dzikir yang disyariatkan untuk dibaca ketika tidur, serta tidur dengan bertumpu di atas rusuk kanan. 

(11). Menghindari berbagai sebab yang mungkin melalaikan seorang hamba terhadap shalat malamnya.

Para ulama menyebutkan bahwa di antara sebab tersebut adalah terlalu banyak makan dan minum, terlalu meletihkan diri pada siang hari dengan berbagai amalan yang tidak bermanfaat, tidak melakukan qailûlah (tidur siang), dan selainnya.

Demikian beberapa kiat agar kita mudah mengerjakan shalat malam. Semoga risalah ini bermanfaat untuk seluruh kaum muslimin dan bisa menjadi pedoman dalam hal menghidupkan malam-malam penuh berkah pada bulan Ramadhan dan seluruh bulan lain. Âmîn, Yâ Rabbal ‘ÂlamînWallâhu Ta’âlâ A’lam.

[1] Al-Hilyah karya Abu Nu’aim 8/96.

[2] Az-Zuhd karya Al-Imam Ahmad hal. 148 -dengan perantaraan Ruhbânul Lail 1/328-.

[3] Lihatlah Sifât Ash-Shafwah 2/262 karya Ibnul Jauzy.

[4] Bacalah Al-Jahr wa At-Ta’dil 1/85 karya Ibnu Abi Hatim.

[5] Dikeluarkan oleh Ibnu Abid Dunyâ, dalam Kitâb At-Tahajjud wa Qiyâmil Lail no. 61, dan Muhammad bin Nashr Al-Marwazy, sebagaimana dalam Mukhtashar Qiyâmul Lail hal. 57.

[6] Disebutkan oleh Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah 9/275, Ibnul Jauzy dalam Sifât Ash-Shafwah 2/262, dan Al-Khathib dalam Tarikh Baghdad 10/248.

[7] Diriwayatkan oleh Ibnu ‘Asâkir dalam Tarikh-nya 65/92.

[8] Dikeluarkan oleh Ibnu Abid Dunyâ dalam Kitâb At-Tahajjud wa Qiyâmil Lail no. 35.

[9] Dikeluarkan oleh Ibnu Abid Dunyâ, dalam Kitâb At-Tahajjud wa Qiyâmil Lail no. 59, dan Muhammad bin Nashr Al-Marwazy, sebagaimana dalam Mukhtashar Qiyâmul Lail hlm. 76.

[10] Siyâr A’lam An-Nubalâ` 4/509.

[11] Diriwayatkan oleh Al-Bukhâry, Muslim, Abu Dâud, An-Nasâ`iy, dan Ibnu Majah.

[12] Diriwayatkan oleh Al-Bukhâry, At-Tirmidzy, dan Ibnu Majah, hanya saja Ibnu Majah tidak menyebutkan ucapan Ibnu ‘Umar. Selain itu, ada tambahan pada akhir riwayat hadits beliau, “… dan hitunglah dirimu dari penghuni kubur.”

[13] Diriwayatkan oleh Al-Bukhâry, At-Tirmidzy, dan Ibnu Majah.

[14] Diriwayatkan oleh Al-Hâkim dan selainnya. Dishahihkan oleh Al-Albâny.

[15] Diriwayatkan oleh Al-Bukhâry, Muslim, Abu Dâud, At-Tirmidzy, An-Nasâ`iy, dan Ibnu Majah.

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Tulis komentar

Logged in as admin. Log out »




Tulisan lainnya

jannatul-firdaus.net @2021