Segenggam Sedekah Untuk Segudang Pahala

Jannatul-firdaus.net

Menyebar Ilmu Syar’i


default-logo

Jannatul-firdaus.net

Menyebar Ilmu Syar’i


default-logo

Bagikan…




Segenggam Sedekah Untuk Segudang Pahala

  • Oleh: Ustadz Abdul Qodir Abu Fa’izah, Lc. hafizhohulloh
Shadaqah (sedekah) adalah perkara yang amat dianjurkan di dalam agama yang suci ini.

Dengannya, tercipta suasana ta’aawun (kerjasama) dan ta’aadhud (saling menopang) antara kaum muslimin sebagai bentuk mahabbah (cinta) dan mawaddah diantara mereka.

Sedekah memiliki banyak bentuk dan nama. Sedekah ada yang wajib (seperti, zakat, bayar kaffaroh, nafkah bagi keluarga), dan ada yang mustahab ‘tidak wajib’ (seperti, bersedekah kepada fakir-miskin, membangun masjid, mendanai majelis ilmu dan pesantren serta lainnya).

Walaupun sedekah itu pada asalnya untuk fakir-miskin, namun juga mencakup semua jalan-jalan kebaikan yang membutuhkan uluran sedekah sebagaimana yang dinyatakan oleh Murtadho Az-Zabidiy dalam Taaj Al-Aruus min Jawaahir al-Qomus (1/6421-Syamilah) dan Al-Imam Ar-Roghib Al-Ashfahaniy dalam Al-Mufrodaat fi Ghorib Al-Qur’an (hal. 281), cet. Dar Al-Ma’rifah, 1422 H.

Para pembaca yang budiman, sedekah bisa berbentuk harta dan bisa juga selainnya, seperti: senyum, amar ma’ruf dan nahi munkar, bertasbih, bertahmid dan lainnya.

Semua itu adalah sedekah. Namun kali ini kami ingin mengajak para pembaca untuk menikmati beberapa buah kalamullah dan kalam Rasulullah –Shallallahu alaihi wa sallam– yang akan mengungkapkan kepada kita tentang besarnya keutamaan sedekah dalam bentuk harta, karena semata mengharapkan pahala di sisi Robb-nya.

Diantara keutamaan sedekah:

 

Shadaqah Bekal Menuju Akhirat

Akan tiba masa yang tidak ada lagi jual beli, dan tidak bermanfaat persahabatan.

Oleh karena itu, sebelum tiba masa itu hendaknya seseorang mempersiapkan perbekalan yang bisa membantunya, dengan banyak-banyak bershadaqah. Allah Ta’ala berfirman :

 يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا أَنْفِقُوا مِمَّا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ يَوْمٌ لَا بَيْعٌ فِيهِ وَلَا خُلَّةٌ وَلَا شَفَاعَةٌ وَالْكَافِرُونَ هُمُ الظَّالِمُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, belanjakanlah (di jalan Allah) sebagian dari rezki yang telah kami berikan kepadamu sebelum datang hari yang pada hari itu tidak ada lagi jual beli dan tidak ada lagi syafa’at. dan orang-orang kafir Itulah orang-orang yang zalim”. (QS. Al Baqarah : 254)

Al-Allamah Abdur Rahman bin Nashir As-Sa’diy -rahimahullah- berkata,

:وهذا من لطف الله بعباده أن أمرهم بتقديم شيء مما رزقهم الله، من صدقة واجبة ومستحبة، ليكون لهم ذخرا وأجرا موفرا في يوم يحتاج فيه العاملون إلى مثقال ذرة من الخير، فلا بيع فيه ولو افتدى الإنسان نفسه بملء الأرض ذهبا ليفتدي به من عذاب يوم القيامة ما تقبل منه، ولم ينفعه خليل ولا صديق لا بوجاهة ولا بشفاعة، وهو اليوم الذي فيه يخسر المبطلون ويحصل الخزي على الظالمين، وهم الذين وضعوا الشيء في غير موضعه، فتركوا الواجب من حق الله وحق عباده وتعدوا الحلال إلى الحرام.” اهـ من تيسير الكريم الرحمن (ص: 110)

“Ini merupakan kelembutan Allah terhadap para hamba-Nya, karena Allah memerintahkan mereka untuk mempersembahkan sesuatu yang Allah berikan kepada mereka, berupa shadaqah wajib (zakat), dan shadaqah mustahab (tidak wajib) agar hal itu menjadi tabungan, dan pahala yang banyak bagi mereka pada hari orang-orang yang beramal butuh kepada setitik kebaikan; tak ada lagi perniagaan di hari itu. Andai seorang menebus dirinya dengan emas sepenuh bumi dari siksaan pada hari kiamat, maka tak akan diterima darinya; tak akan bermamfaat baginya seorang kekasih, dan sahabat, baik itu karena kedudukannya atau safa’atnya. Itulah hari yang merugi para pelaku kebatilan di dalamnya, dan akan terjadi kehinaan bagi orang-orang yang zhalim, yaitu orang-orang yang meletakkan sesuatu bukan pada tempatnya, sehingga mereka meninggalkan sesuatu yang wajib berupa hak Allah dan hak para hamba-Nya, serta melampaui (meninggalkan) sesuatu yang halal menuju sesuatu yang haram”. [Lihat Taisir Al-Karim Ar-Rahman (hal. 110)]

Di hari itulah seorang mukmin amat membutuhkan kebaikan dan pahala sedekahnya, sebab sedekah merupakan lambang qurbah (kedekatan) dan ta’abbbud (penghambaan diri) seorang manusia kepada Tuhannya.

Shadaqah adalah Perisai dari Neraka

Banyak orang diantara kita yang meremehkan sedekah yang ia keluarkan di jalan Allah -Azza wa Jalla-. Terkadang semangkok bakso yang kita sedekahkan, ternyata dapat menyelamatkan kita dari panasnya neraka.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

لِيَتَّقِ أَحَدُكُمْ وَجْهَهُ النَّارَ وَلَو بِشِقِّ تَمْرَةٍ

“Handaknya salah seorang diantara kalian melindungi wajahnya dari neraka, sekalipun dengan sebelah biji korma”. [HR. Ahmad dalam Al-Musnad (no. 3679 & 4265). Hadits ini di-shohih-kan oleh Al-Albaniy dalam Shohih At-Targhib (864)]     

 

Seember air yang kita sedekahkan kepada tetangga, sejengkal tanah yang kita sedekahkan untuk membangun masjid, perasan keringat dalam membantu kaum muslimin; semua itu jangan dianggap remeh, sebab balasannya akan berlipat ganda dengan syarat si pelaku harus ikhlas, bukan karena mau dipuji dan diperhatikan orang!!

Intinya sekecil apapun yang kita sedekahkan, maka sama sekali jangan diremehkan.

Shadaqah Penghapus Kesalahan

Setiap anak cucu adam, tidaklah lepas dari kesalahan, namun Allah yang Maha pemurah telah memberikan suatu sebab.

Ia dapat menghapuskan kesalahan-kesalahan yang akan menghancurkan dirinya dan akan menjerumuskannya ke dalam neraka.

Diantara sebab-sebab penghapus kesalahan adalah sedekah pada jalan-jalan kebaikan.

Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam– bersabda,

وَالصَّدَقَةُ تُطْفِئُ الخَطِيْئَةَ كَمَا يُطْفِئُ المَاءُ النَّارَ

“Shadaqah itu memadamkan (menghapuskan) kesalahan sebagaimana air memadamkan api” [HR. Ahmad dalam Al-Musnad (3/321) dan Abu Ya’laa (1999). Lihat Shohih At-Targhib (1/519)]

Al-Imam Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah –rahimahullah– berkata dalam membawakan sebagian ucapan para ulama yang menjelaskan keutamaan sedekah,

عدة الصابرين وذخيرة الشاكرين (ص: 254)

وفى الصدقة فوائد ومنافع لا يحصيها الا الله فمنها انها تقى مصارع السوء وتدفع البلاء حتى انها لتدفع عن الظالم.”

“Di dalam sedekah terdapat beberapa faedah dan manfaat; tak ada yang mampu menghitungnya, selain Allah. Diantaranya, sedekah akan melindungi (seseorang) dari berbagai macam keburukan dan menghalau bala’ sampai sedekah pun mampu melindungi (pelakunya) dari orang yang zhalim!!”. [Lihat Idah Ash-Shobirin wa Dzakhiroh Asy-Syakirin (hal. 393), tahqiq Salim Al-Hilaliy, cet. Dar Ibn Al-Jauziy]

Shadaqah Pelindung di Padang Mahsyar

Ketika manusia menanti keputusan di padang mahsyar dan sibuk dengan urusan masing-masing.

Manusia pada saat itu tidak peduli lagi dengan orang-orang yang ada di sekitar mereka.

Matahari didekatkan dengan jarak satu mil. Pada saat itulah seseorang sangat membutuhkan pahala shadaqah yang bisa menaungi mereka.

Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda,

كُلُّ امْرِئٍ فِي ظِلِّ صَدَقَتِهِ حَتَّى يُفْصَلَ بَيْنَ النَّاسِ

“Setiap orang berada dalam naungan shadaqahnya hingga diputuskan perkara di antara manusia”. [HR. Ahmad dalam Al-Musnad (no. 17333), Ibnu Hibban dalam Shohih-nya (no. 3310) dan lainnya. Hadits ini shohih sebagaimana yang dinyatakan oleh Al-Albaniy dalam Shohih At-Targhib wa At-Tarhib (872)]

Ketahuilah bahwa matahari akan Allah dekatkan dengan sedekat-dekatnya di padang mahsyar kelak.

Semua orang akan mandi keringat, kecuali orang-orang yang dilindungi oleh Allah dari sengatan matahari, karena suatu amalan istimewa yang pernah ia lakukan ketika di dunia. Amalan apakah itu?

Diantara amalan istimewa adalah sedekah kepada orang-orang yang kekurangan dan butuh uluran tangan.

Padang Mahsyar merupakan tempat pengadilan. Allah akan mengadili dan memutuskan segala urusan dan perkara setiap hamba-hamba-Nya, baik itu berkaitan dengan hak Rabb-nya, orang lain, ataupun dirinya sendiri.

Hari itu merupakan hari yang amat mengerikan dan menakutkan sehingga semua makhluk tunduk dan pasrah kepada Sang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

Allah Rabb alam semesta berfirman,

{يَوْمَ يَقُومُ الرُّوحُ وَالْمَلَائِكَةُ صَفًّا لَا يَتَكَلَّمُونَ إِلَّا مَنْ أَذِنَ لَهُ الرَّحْمَنُ وَقَالَ صَوَابًا } [النبأ: 38]

 “Pada hari, ketika ruh dan para malaikat berdiri bershaf-shaf, mereka tidak berkata-kata kecuali siapa yang telah diberi izin kepadanya oleh Tuhan Yang Maha Pemurah; dan ia mengucapkan kata yang benar”.(QS.An-Naba’: 38)

Semua orang hari itu akan menerima catatan kebaikan dan keburukannya dalam keadaan semuanya berlutut menghinakan diri di hadapan Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

Dia –Azza wa Jalla– menceritakan keadaan saat itu dalam firman-Nya,

وَتَرَى كُلَّ أُمَّةٍ جَاثِيَةً كُلُّ أُمَّةٍ تُدْعَى إِلَى كِتَابِهَا الْيَوْمَ تُجْزَوْنَ مَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

“Dan (pada hari itu) kamu lihat tiap-tiap umat berlutut. Tiap-tiap umat dipanggil untuk (melihat) buku catatan amalnya. Pada hari itu kamu diberi balasan terhadap apa yang telah kamu kerjakan”. (QS. Al-Jatsiyah: 28)

Ketika itulah para hamba menunggu dan mengharapkan perlindungan dan naungan dari Rabb-nya.

Diantara golongan yang mendapatkan naungan saat itu, orang yang ikhlas bershodaqoh.

Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- bersabda,

سَبْعَةٌ  يُظِلُّهُمُ اللهُ فِيْ ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ: الإِمَامُ العَادِلُ وَشَابٌّ نَشَأَ بِعِبَادَةِ اللهِ وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِيْ المَسَاجِدِ وَرَجُلَانِ تَحَابَّا فِيْ اللهِ اِجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ وَرَجُلٌ دَعَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ فَقَالَ إِنِّيْ أَخَافُ اللهَ وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا حَتَّى لَا تَعْلَمُ يَمِيْنُهُ مَا تُنْفِقُ شِمَالُهُ وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ

“Tujuh golongan yang akan dinaungi oleh Allah pada hari kiamat yang mana tidak ada naungan selain naungan Allah….seseorang yang bershadaqoh dengan suatu shadaqoh yang ia rahasiakan sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa-apa yang telah dishadaqohkan oleh tangan kanannya”. [HR. Al-Bukhariy dalam Shohih-nya (629), Muslim dalam Shohih-nya (1032)]

Al-Amir Ash-Shon’aniy –rahimahullah– berkata,

“فِيهِ حَثٌّ عَلَى الصَّدَقَةِ وَأَمَّا كَوْنُهُ فِي ظِلِّهَا فَيُحْتَمَلُ الْحَقِيقَةَ وَأَنَّهَا تَأْتِي أَعْيَانُ الصَّدَقَةِ فَتَدْفَعُ عَنْهُ حَرَّ الشَّمْسِ أَوْ الْمُرَادُ فِي كَنَفِهَا وَحِمَايَتِهَا.” اهـ من سبل السلام (4/ 60)

“Di dalam hadits ini terdapat anjuran untuk bersedekah. Adapun seseorang berada dalam naungan sedekahnya, maka mungkin maknanya berdasarkan hakikatnya dan bahwa harta sedekah itu akan datang, lalu harta itu menghalangi darinya terik matahari, atau yang dimaksudkan bahwa ia berada dalam penjagaan sedekahnya”. [Lihat Subul As-Salaam (4/60), dengan tahqiq Shubhi Hasan Hallaq, Dar Ibn Al-Jauziy, 1421 H]

Shadaqah Pemadam Panas di Alam Kubur

Tentunya seorang mukmin apabila dia mati, maka dia mendambakan kuburnya agar menjadi taman di antara taman-taman surga dan jauh dari panasnya api neraka.

Rasulullah yang sangat sayang kepada umatnya telah memberikan tuntunan yang bisa menyelamatkan umatnya dari panasnya api neraka yaitu bershadaqah.

Beliau –shollallohu alaihi wa sallam- bersabda,

إِنَّ الصَّدَقَةَ لَتُطْفِئُ عَنْ أَهْلِهَا حَرَّ القُبُوْرِ

“Sesungguhnya shadaqah akan memadamkan panasnya kubur bagi pemilik shadaqah”. [HR. Ath-Thobroniy dalam Al-Kabir (17/286/788) dan Al-Baihaqiy dalam Syu’abul Iman (no. 3078).

Syaikh Al-Albaniy meng-hasan-kan hadits ini dalam Ash-Shohihah (3484)]

Sedekah amat berharga bagi seseorang kelak di alam kuburnya. Karena, terkadang seseorang memiliki dosa di sisi Allah, dosa yang menyebabkan dirinya harus menerima siksaan berupa panasnya api neraka sebelum ia memasukinya.

Lantaran itu, seorang yang cerdik akan mempersiapkan pelindung dirinya dari sengatan panas yang ada di alam kubur dengan memperbanyak sedekah.

Kuburlah sifat kikir dan angan-angan panjang pada dirimu sebelum engkau dikuburkan dengan membawa penyesalan atas keteledoranmu dalam mengulurkan sedekah.

Shadaqah adalah Sebab Malaikat Mendoakan Seseorang

Sungguh suatu kemuliaan tersendiri bila seseorang dido’akan oleh makhluk yang dekat dengan Allah, yaitu para malaikat dan tentu do’a tersebut adalah do’a yang mustajab.

Dengan bershadaqahlah bisa menjadi sebab seseorang dido’akan oleh para malaikat.

Rasululullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda,

مَا مِنْ يَوْمٍ يُصْبِحُ العَبْدُ فِيْهِ إِلَّا مَلَكَانِ يَنْزِلَانِ فَيَقُوْلُ أَحَدُهُمَا: اللَّهُمَّ أَعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا وَ يَقُوْلُ الآخَرُ: اللَّهُمَّ أَعْطِ مُمْسِكًا تَلَفًا

“Tak ada suatu hari pun seorang hamba berada di dalamnya, kecuali ada dua orang malaikat akan turun; seorang diantaranya berdo’a, “Ya Allah berikanlah ganti bagi orang yang berinfaq”. Yang lainnya berdo’a, “Ya Allah, berikanlah kehancuran bagi orang yang menahan infaq”.”. [HR. Al-Bukhoriy dan Muslim ]

Al-Imam Abu Bakr Utsman bin Muhammad Ad-Dimyathiy Al-Bakriy –rahimahullah– berkata,

“ودعاء الملائكة مستجاب، ومن أمسك فلم يتلف ماله التلف الظاهر فهو تالف بالحقيقة، لقلة انتفاعه به في آخرته ودنياه، وذلك أعظم من التلف الذي هو ذهاب المال.” اهـ من إعانة الطالبين على حل ألفاظ فتح المعين (2/ 241)

“Doa para malaikat adalah terkabul. Barangsiapa yang menahan hartanya, lalu ia tidak menghabiskannya secara lahiriah, maka harta itu sebenarnya hancur, karena kurangnya ia mengambil manfaat dari harta itu dalam urusan akhirat dan dunianya. Perkara seperti itu lebih besar kehancurannya dibandingkan hancurnya harta yang berupa kehilangan harta” . [Lihat I’aanah Ath-Tholibin (2/241), Dar Al-Fikr, 1418 H]

Inilah beberapa buah petikan ayat dan hadits yang menjelaskan besarnya kedudukan sedekah di sisi Allah dan Rasulullah –Shallallahu alaihi wa sallam-.

Namun sayangnya kebiasaan bersedekah ini, sering dilalaikan oleh kebanyakan manusia di zaman ini, karena merebaknya penyakit bakhil dan kikir.

Semoga Allah menghilangkan penyakit berbahaya ini dari hati kita dan menggolongkan kita termasuk dalam barisan mutashoddiqiin (orang-orang yang gemar bersedekah) di jalan Allah.

Selesai diedit ulang, 27 Dzulhijjah 1439 H = 08 Agustus 2018 M, Studio Radio An-Nashihah 88.20 FM, jalan Baji Rupa, Makassar.

  • Sumber artikel: https://abufaizah75.blogspot.com

Tulisan lainnya

Meraih Pahala di Balik Rutinitas Harian

Jannatul-firdaus.net

Menyebar Ilmu Syar’i


default-logo

Jannatul-firdaus.net

Menyebar Ilmu Syar’i


default-logo

Bagikan…




Meraih Pahala di Balik Rutinitas Harian

  • Oleh: Ustadz Syafaat Al-Munawiy hafizhahullah
Pernahkah anda membayangkan bahwa sebagian orang diganjar dengan pahala karena rutinitas dunia yang ia tunaikan? Mungkin hal itu tidak terlintas di benak kebanyakan orang di antara kita. Padahal perkara seperti itu bisa saja terjadi dengan sebab kehadiran niat yang suci.

Niat memiliki kedudukan yang agung dan tempat yang mulia di dalam syariat Islam. Bagaimana tidak? Niat merupakan syarat setiap amalan yang syar’i (amalan ibadah). Niat menjadi sebab diterimanya suatu amalan ketaatan disertai dengan mencocoki Sunnah Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam-.

Ini telah ditegaskan oleh Nabi kita Muhammad -shallallahu ‘alaihi wasallam- di dalam sebuah hadits yang masyhur :

«إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى» متفق عليه

Setiap amalan itu tergantung pada niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan balasan sesuai yang dia niatkan. [HR. Al-Bukhoriy (no. 1) dan Muslim (no. 1907)]

Syaikh Abdul Karim bin Abdillah Al-Khudhoir -hafizhahullah- berkata,

“Niat itu adalah syarat untuk benarnya (sahnya) setiap amalan yang syar’iy.  Dia adalah sumber diterimanya amalan disertai dengan mengikuti Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- dan mencocoki Sunnah. [Lihat Irsyadul Akhyar ‘Ilaa Syarhi Jawami’il Akhbar (hlm. 19)]

Tahukah anda bahwa ternyata niat juga memiliki pengaruh yang amat besar dan dapat membuahkan kesudahan yang baik pada aktivitas duniawi dan rutinitas harian kita (seperti makan, minum tidur, dan lain sebagainya)?

Aktivitas duniawi dan rutinitas harian ini pada asalnya bukan amalan ibadah. Namun, ia bisa bernilai ibadah dan berbuah pahala bagi pelakunya.

Lihat saja -misalnya- beberapa perbuatan dan aktivitas, seperti makan, minum,  tidur,  mandi, mencari rezeki dan yang semisalnya di antara amalan-amalan dan rutinitas duniawi. Semuanya bisa menjadi sumber pahala dan keutamaan bagi seseorang pengaruh niat yang mengiringinya.

Lalu bagaimana hal itu bisa terjadi? Sebuah pertanyaan penting yang harus kita terangkan bahwa seorang hamba ketika melakukan amalan dan rutinitas harian tersebut, ia meniatkan untuk mendekatkan dirinya kepada Allah -azza wa jalla-.

Ketika dia makan dan minum,  dia niatkan untuk mendapatkan kekuatan dalam beribadah,  dan dia tidur dengan niat agar bisa bangun shalat malam atau mengerjakan shalat subuh pada waktunya. Dia berolah raga dengan niat agar kuat dalam berjihad dan berdakwah. Dia mencari uang untuk menghidupi dan menafkahi keluarganya, dan agar dapat bersedekah dan berinfak dengan uang hasil kerjanya.

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’diy rahimahullahu- berkata,

“وكذلك تجري النية في المباحات والأمور الدنيوية. فإن من قصد بكسبه وأعماله الدنيوية والعادية الاستعانة بذلك على القيام بحق الله وقيامه بالواجبات والمستحبات، واستصحب هذه النية الصالحة في أكله وشربه ونومه وراحاته ومكاسبه: انقلبت عاداته عبادات، وبارك الله للعبد في أعماله، وفتح له من أبواب الخير والرزق أموراً لا يحتسبها ولا تخطر له على بال.

ومن فاتته هذه النية الصالحة لجهله أو تهاونه فلا يلومن إلا نفسه.” اهـ من بهجة قلوب الأبرار وقرة عيون الأخيار (ص: 12)

“Demikian pula niat itu berlaku pada amalan-amalan yang mubah dan perkara-perkara duniawiKarena, barang siapa yang meniatkan di dalam mencari harta serta amalan-amalan dunia dan kebiasaannya untuk menolong dirinya menunaikan hak Allah ta’ala dan menegakkan amalan-amalan yang wajib dan yang sunnah, lalu dia menyertakan niat yang baik ini pada makan, minum, tidur, istrahatnya, dan usaha-usahanya (dalam mencari rezeki), maka rutinitas-rutinitas ini akan berubah menjadi ibadah, dan Allah -azza wa jalla- akan memberi berkah kepada si hamba ini dalam amalannya, serta akan membukakan untuknya pintu-pintu kebaikan dan pintu-pintu rezeki (yang merupakan) perkara-perkara yang tidak pernah dia sangka dan tidak pernah terbetik dalam ingatannya.

 

Siapa saja yang luput darinya niat yang baik ini, karena kebodohannya atau peremehannya, maka janganlah dia mencela, kecuali dirinya sendiri.” [Lihat Bahjatu Qulubil Abrar  (hlm.12)]

Di dalam hadits di atas, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Setiap orang akan mendapatkan balasan sesuai yang dia niatkan.”

 

Syaikh Muhammad bin Abdillah bin Abdil Lathif Al-Jardaniy Ad-Dimyatiy Asy-Syafi’iy –rahimahullahu– berkata saat menerangkan potongan hadits tersebut,

“Sesungguhnya sabda Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- ini memberikan faedah bahwasanya amalan-amalan kebiasaan (rutinitas harian) akan menjadi amalan ketaatan, yang pelakunya akan diberi pahala apabila dia meniatkannya untuk mendekatkan dirinya kepada Allah -ta’ala-, seperti makan dan minum jika dia meniatkan untuk menguatkan dirinya dalam beribadah; tidur dia memaksudkan untuk istrahat agar terbangun menunaikan shalat subuh;  mendatangi istri (karena) dia inginkan menjaga kehormatan dari perbuatan zina dan untuk memperoleh keturunan; membersihkan diri untuk menolak bau yang akan mengganggu orang lain;  memberi infaq kepada istri, budak,  dan hewan ternak, sedang dia maksudkan untuk mengerjakan perintah syariat.” [Lihat AlJawahir Al-Lu’luiyyah fi Syarh AlArba’in AnNawawiyyah (hlm. 103-104)]

Dari sini, tampak jelas bahwa sepantasnyalah seseorang untuk selalu menghadirkan niat yang baik di dalam mengerjakan amalan-amalan dunia dan rutinitas harian agar berbuah pahala dan keutamaan baginya.

Wallahu a’lam

 

✍Ditulis di Ma’had Al-Ihsan Gowa,  tanggal 6 Robi’ul Akhir 1443 H, bertepatan dengan 9 Januari 2022 M.

————————-

Selesai diedit oleh Ustadz Abdul Qodir Abu Fa’izah Al-Bugisiy –hafizhahullah- pada hari Kamis, 9 Jumadal Akhiroh 1443 H.

[1] Ma’had Subulus Salam adalah sebuah pondok pesantren yang dirintis oleh Ustadz Fadhly Abu Harun Al-Makassariy –hafizhahullah-. Ma’had ini pada awal perintisannya bernama “Ma’had As-Sunnah Samaya”. Namun, karena sesuatu dan lain hal, namanya berubah menjadi Ma’had Subulus Salam yang berada di Dusun Samaya, Desa, Romangloe, Kecamatan Bontomarannu, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan 92171.

Alamatnya dapat anda kunjungi via link Google Maps berikut ini : https://goo.gl/maps/EenBACcq14PshTRHA

Tulisan lainnya