Tathoyyur ‘Berprasangka Sial’, Ajaran buruk yang merebak di Tengah Masyarakat

Bagikan…

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

TATHOYYUR

(Berprasangka Sial)

Ajaran Jahiliah yang Merebak di Tengah Masyarakat

  • Oleh : Al-Ustadz Abdul Qodir Abu Fa’izah hafizhahullah
  • [Pembina Ponpes Al-Ihsan Gowa]

Tathoyyur adalah sebuah kebiasaan dan keyakinan jahiliah yang tersebar dari dahulu sampai sekarang. Penyebarannya bukan hanya di kalangan kaum kafir-musyrik, bahkan juga tersebar pada kaum muslimin yang minim ilmu agama.

Tathoyyur adalah bahasa Arab dari kata طَائِرٌ (burung). Namun yang dimaksudkan disini adalah merasa sial atau berprasangka sial dengan sesuatu (seperti hari, tempat, binatang, manusia dan lainnya)

Awal sejarah tathoyyur itu ada dan disebut demikian, orang Arab dahulu di masa jahiliah bila mau bersafar, atau melakukan urusan apa saja, maka mereka melepaskan burung. Jika burung itu terbang ke arah kanan, maka mereka memandang itu adalah tanda kebaikan sehingga mereka pun bersafar atau melakukan suatu hal. Sebaliknya, bila burung ke kiri, maka itu adalah tanda keburukan dan kesialan menurut mereka.

Al-Imam Ibnul Atsir Al-Jazariy rahimahullah berkata saat menjelaskan arti tathoyyur,

التَّطَيُّر بالسَّوَانِح والبَوارِح مِنَ الطَّيْر وَالظِّبَاءِ وغَيرهما. وَكَانَ ذَلِكَ يَصُدّهم عَنْ مَقَاصِدِهِمْ، فَنَفَاهُ الشَّرْعُ، وأبطله ونهى عنه، وأخبره أنَّه لَيْسَ لَهُ تأثِيرٌ فِي جَلْب نفْعٍ أَوْ دَفعٍ ضَرٍّ. وَقَدْ تَكَرَّرَ ذِكْرُهَا فِي الْحَدِيثِ اسْماً وفِعْلاً.” اهــ من النهاية في غريب الحديث والأثر (3/ 152)

“Dia adalah merasa sial dengan sesuatu. Konon kabarnya, asal kata ini adalah merasa sial dengan hewan yang ke arah kanan dan kiri dari kalangan burung dan kijang serta selain keduanya. Perkara seperti itu biasanya menghalangi mereka dari maksud-maksud mereka. Karena itu, syariat meniadakan dan membatalkannya. Syariat melarangnya dan mengabarkan bahwa semua itu tak memiliki pengaruh dalam mendatangkan manfaat dan menghindarkan madhorot”. [Lihat An-Nihayah fi Ghoribil Hadits (3/152)]

Namun keyakinan batil ini meluas dan berkembang sehingga di antara orang Arab jahiliah melakukan tathoyyur dengan azlam (anak panah), dengan cara mengambil 3 buah anak panah. Dua diantaranya bertuliskan, “terus (jalan)” atau “jangan terus”. Satunya lagi, kosong tanpa tulisan. Bila mereka mengundi dengan anak panah dan mereka dapatkan yang bertuliskan “terus”, maka mereka bersafar atau melakukan urusan lain.

Jika mendapatkan anak panah bertuliskan “jangan terus”, maka mereka urungkan niat dan yakin mereka akan sial bila lanjut. Bila mendapatkan anak panah yang kosong dari tulisan, maka mereka ulangi sampai mereka mendapatkan anak panah yang memiliki tulisan. Semua ini adalah batil!! Sebab kesialan dan kebahagiaan bukanlah kembali kepada makhluk, tapi semuanya berdasarkan ketetapan Allah.

Allah Ta’ala berfirman dalam membatalkan kebiasaan mengundi ala tathoyyur ini,

{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْأَنْصَابُ وَالْأَزْلَامُ رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ} [المائدة: 90]

“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan”. (QS. Al-Maa’idah : 90)

Kebiasaan tathoyyur ini, sebenarnya telah ada sebelum Arab Quraisy, yaitu di zaman Nabi Musa Shallallahu alaihi wa sallam. Allah Ta’ala berfirman,

{فَإِذَا جَاءَتْهُمُ الْحَسَنَةُ قَالُوا لَنَا هَذِهِ وَإِنْ تُصِبْهُمْ سَيِّئَةٌ يَطَّيَّرُوا بِمُوسَى وَمَنْ مَعَهُ أَلَا إِنَّمَا طَائِرُهُمْ عِنْدَ اللَّهِ وَلَكِنَّ أَكْثَرَهُمْ لَا يَعْلَمُونَ} [الأعراف: 131]

“Kemudian apabila datang kepada mereka kemakmuran, mereka berkata: “Itu adalah Karena (usaha) kami”. Dan jika mereka ditimpa kesusahan, mereka lemparkan sebab kesialan itu kepada Musa dan orang-orang yang besertanya. Ketahuilah, sesungguhnya kesialan mereka itu adalah ketetapan dari Allah. Akan tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui”. (QS. Al-A’raaf : 131)

Syaikh Muhammad bin Sholih Al-Utsaimin rahimahullah berkata,

“والمعنى: أنما يصيبهم من الجدب والقحط ليس من موسى وقومه، ولكنه من الله; فهو الذي قدره ولا علاقة لموسى وقومه به، بل إن الأمر يقتضي أن موسى وقومه سبب للبركة والخير، ولكن هؤلاء – والعياذ بالله – يلبسون على العوام ويوهمون الناس خلاف الواقع.” اهـ من القول المفيد على كتاب التوحيد (1/ 561)

“Maknanya bahwa mereka tertimpa oleh kemarau dan paceklik bukanlah karena Musa dan kaumnya. Akan tetapi berasal dari Allah. Dialah yang menakdirkannya. Tak ada hubungannya sama sekali dengan Musa dan kaumnya dengan perkara tersebut. Bahkan permasalahannya mengharuskan Musa dan kaumnya sebagai sebab keberkahan dan kebaikan. Namun mereka (kaum Fir’aun) itu na’udzu billah selalu mengaburkan permasalahan atas kaum awam dan mengesankan kepada manusia sesuatu yang menyalahi realita”. [Lihat Al-Qoul Al-Mufid (1/561) oleh Al-Utsaimin, cet. Dar Ibni Al-Jauziy, 1421 H]

Tathoyyur ini, juga pernah terjadi pada negeri lain, selain penduduk Makkah dan Mesir sebagaimana yang jelaskan dalam firman-Nya,

{قَالُوا إِنَّا تَطَيَّرْنَا بِكُمْ لَئِنْ لَمْ تَنْتَهُوا لَنَرْجُمَنَّكُمْ وَلَيَمَسَّنَّكُمْ مِنَّا عَذَابٌ أَلِيمٌ (18) قَالُوا طَائِرُكُمْ مَعَكُمْ أَئِنْ ذُكِّرْتُمْ بَلْ أَنْتُمْ قَوْمٌ مُسْرِفُونَ (19) } [يس: 18 – 20]

“Mereka menjawab: “Sesungguhnya kami bernasib malang Karena kamu, Sesungguhnya jika kamu tidak berhenti (menyeru kami), niscaya kami akan merajam kamu dan kamu pasti akan mendapat siksa yang pedih dari kami”. Mereka (para rasul itu) berkata: “Kesialan kamu adalah karena kamu sendiri. Apakah jika kamu diberi peringatan (kamu bernasib sial)? Sebenarnya kamu adalah kaum yang melampui batas”. (QS. Yaasin : 18-19)

Ayat ini menunjukkan bahwa sebab kesialan itu adalah mereka (penduduk negeri yang didatangi oleh para rasul tersebut). Jadi, pada hakikatnya kesialan mereka ada pada mereka dan senantiasa melazimi mereka, karena amal perbuatan mereka yang buruk mengharuskan hal itu, bukan karena sebab dakwah para rasul.

Syaikh Sholih bin Abdil Aziz Alusy Syaikh An-Najdiy –hafizhohullah– berkata,

“أن هذا التطير من صفات أعداء الرسل، ومن خصال المشركين، وإذا كان كذلك فهو مذموم، ومن خصال المشركين الشركية، وليست من خصال أتباع الرسل، وأما أتباع الرسل فإنهم يعلقون ذلك بما عند الله من القضاء والقدر، أو بما جعله الله -جل وعلا- لهم من__ثواب أعمالهم أو العقاب على أعمالهم.” اهـ من التمهيد لشرح كتاب التوحيد (ص: 337_338)

“Sesungguhnya tathoyyur (merasa sial dengan sesuatu) termasuk sifat musuh para rasul dan termasuk kebiasaan kaum musyrikin. Jika demikian halnya, maka dia pasti tercela dan kebiasaan kaum musyrikin yang mengandung kesyirikan, bukan kebiasaan para pengikut para rasul. Adapun pengikut para rasul, maka sesungguhnya mereka menggantungkan (mengembalikan) hal itu kepada sesuatu yang ada di sisi Allah berupa keputusan dan takdir atau kepada sesuatu yang Allah -Azza wa Jalla- siapkan bagi mereka berupa ganjaran amal perbuatan mereka atau hukuman atas amal perbuatan mereka”. [Lihat At-Tamhid (hal. 337-338) oleh Syaikh Sholih An-Najdiy, cet. Dar At-Tauhid, 1423 H]

Para pembaca yang budiman, tathoyyur (merasa sial dengan sesuatu) amat banyak kita temukan, khususnya di kalangan awam yang jauh dari bimbingan agama. Sebagian orang diantara mereka ada yang merasa sial dengan burung hantu, bila lewat di atas rumahnya sambil bersuara. Menurutnya, akan ada kesialan berupa kematian di kalangan mereka.

Ada juga yang merasa sial bila mobil pribadinya dipakai mengangkut jenazah, sehingga ia tak mau lagi menggunakannya mencari rejeki, tak mau lagi menjadikannya mobil angkot. Di lain tempat, ada yang merasa sial bila keluar dari rumahnya di pagi hari, lalu tiba-tiba ia bertemu dan melihat orang yang picok (buta sebelah matanya).

Akibatnya, kadang kala ia tak mau lagi keluar rumah untuk berdagang atau melakukan urusan lain dengan alasan bahwa melihat orang buta adalah kesialan. Ada yang lebih lucu lagi. Bila ada keluarganya di rumah yang meninggal pada hari tertentu, maka mereka merasa sial bila bersafar pada hari kematian tersebut pada hari-hari berikutnya. Misalnya, anaknya mati di hari Rabu, maka mereka tak mau safar pada setiap hari Rabu.

Jelas ini adalah batil, baik secara akal, apalagi menurut syariat. Secara akal, bagaimana kira-kira bila penduduk rumah terdiri dari 10 orang dan telah meninggal 7 orang pada hari yang berbeda sehingga semua hari terisi dengan peristiwa kematian.

Apakah mereka tak akan bersafar dalam seumur hidupnya. Ini akan menyusahkan diri sendiri. Lantaran itulah, Rasulullah –Shallallahu alaihi wa sallam- melarang tathoyyur dalam sebuah sabdanya,

لَا عَدْوَى وَلَا طِيَرَةَ وَلَا هَامَةَ وَلَا صَفَرَ وَفِرَّ مِنَ الْمَجْذُومِ كَمَا تَفِرُّ مِنَ الْأَسَدِ خ 

“Tak ada penularan, tak ada thiyaroh (tathoyyur), tak ada burung hantu, tak ada shofar. Larilah dari orang yang kusta sebagaimana engkau lari dari singa”.[HR. Al-Bukhoriy dalam Kitab Ath-Thibb (5707)]

“Tak ada penularan”, maksudnya adalah tak ada penularan penyakit menurut sangkaan kaum jahiliah bahwa penularannya terjadi dengan sendirinya, tanpa ada penyebabnya. Inilah yang diingkari oleh Islam. Adapun penularan penyakit, maka Islam tak mengingkarinya.

Karenanya, Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- di akhir hadits ini memerintahkan untuk menjauhi orang yang kusta. [Lihat Taisir Al-Aziz Al-Hamid (hal. 352), dengan tahqiq Muhammad Aiman As-Salafiy, cet. Dar Alam Al-Kutub, 1419 H]

“Tak ada thiyaroh”, maksudnya tak ada tathoyyur (merasa sial karena sesuatu). Inilah yang sedang kita bahas duduk permasalahannya. “Tak ada burung hantu”, bukan maksudnya bahwa burung hantu tak ada.

Tapi ini adalah pengingkaran terhadap keyakinan kaum jahiliah bahwa tulang belulang mayat berubah menjadi burung hantu, sehingga bila ada burung hantu yang hinggap di atas rumah mereka, maka mereka merasa takut dan merasa sial.

Ini yang diistilahkan oleh kaum kafir dengan “reinkarnasi”!! Nah, Islam datang untuk membatalkannya!!! [Lihat Latho’if Al-Ma’arif (hal. 74) karya Ibnu Rajab Al-Hambaliy, cet. Dar Ibni Hazm, 1424 H]

“Tak ada shofar”, sebagian ulama menyatakan bahwa maksud dari kata shofar adalah ular yang ada dalam perut manusia dan hewan yang dapat membinasakan mereka menurut keyakinan kaum jahiliah.

Sebagian ulama ada yang menafsirkan bahwa maksudnya Nabi –Shallallahu alaihi wa sallam– mengingkari kebiasaan kaum jahiliah yang suka memindahkan posisi bulan Muharrom ke bulan Shofar agar mereka bisa berperang di bulan Muharrom.

Sebab, bulan Muharrom adalah bulan yang terlarang perang padanya.

Jadi sabda Nabi –Shallallahu alaihi wa sallam– ini merupakan peniadaan dan pelarangan terhadap kebiasaan buruk tersebut. [Lihat Ghorib Al-Hadits (1/25) dan (2/158) karya Abu Ubaid Al-Qosim bin Sallam, tahqiq Dr. Muhammad Abdul Mu’id Khan, cet. Dar Al-Kitab Al-Arobiy, 1396 H]

Ringkasnya, tathoyyur adalah perkara yang diharamkan dalam Islam dan termasuk kesyirikan.

Sebab, pelakunya meyakini bahwa di samping Allah, ada makhluk yang mampu mendatangkan madhorot dan manfaat.

—————————————————————————–

Sumber artikel: https://abufaizah75.blogspot.com/

Sumber gambar: https://unsplash.com/

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Tulisan lainnya

Tulis komentar

Logged in as admin. Log out »




jannatul-firdaus.net @2018

Mewaspadai Kesyirikan dan Kekafiran

Bagikan…

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Mewaspadai Kesyirikan dan Kekafiran

oleh : Al-Ustadz Abdul Qodir Abu Fa’izah hafizhahullah [Pembina Ponpes Al-Ihsan Gowa]

Banyak orang yang masuk ke dalam agama Islam dan menganutnya secara serampangan dan semata taklid kepada lingkungan sekitarnya dan mengikuti adat istiadat orang tuanya.

Ketika kita menyaksikan sebagian diantara mereka melakukan ritual kesyirikan (misalnya, menyembelih untuk mayat atau kubur), maka serta-merta ia menyangkal bahwa ia hanya mengikuti orang tuanya yang sudah lama menganut Islam.

Apalagi menurutnya bahwa kalau seseorang “terdaftar” sebagai orang Islam, maka ia tak mungkin keluar lagi dari Islam; apapun yang ia lakukan, walapun itu kesyirikan dan kekafiran.

Para pembaca yang budiman, kesyirikan pasti terjadi pada umat ini. Karenanya, seseorang harus merasa khawatir jangan sampai dirinya terjerumus ke dalam suatu ritual kesyirikan dan kekafiran yang akan membinasakan dirinya, bahkan akan memurtadkan dirinya. Sementara dirinya masih tetap menyangka bahwa ia masih dalam area Islam. Tapi ternyata Islam telah menolak dirinya dan berlepas diri darinya.

Kebiasaan buruk berupa merasa amannya seseorang dari keterjerumusan dalam kesesatan dan penyimpangan adalah keyakinan dan kebiasaan kaum Ahli Kitab (Yahudi dan Nashoro ‘Kristen’).

Allah –ta’ala– berfirman,

{لَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ أُوتُوا نَصِيبًا مِنَ الْكِتَابِ يُؤْمِنُونَ بِالْجِبْتِ وَالطَّاغُوتِ وَيَقُولُونَ لِلَّذِينَ كَفَرُوا هَؤُلَاءِ أَهْدَى مِنَ الَّذِينَ آمَنُوا سَبِيلًا} [النساء : 51]

“Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang diberi bahagian dari Al kitab? Mereka percaya kepada jibt (sihir) dan thaghut (sembahan batil), dan mengatakan kepada orang-orang kafir (musyrik Makkah), bahwa mereka itu lebih benar jalannya daripada orang-orang yang beriman”. (QS. An-Nisaa’ : 51)

Allah -Ta’ala- berfirman,

{قُلْ هَلْ أُنَبِّئُكُمْ بِشَرٍّ مِنْ ذَلِكَ مَثُوبَةً عِنْدَ اللَّهِ مَنْ لَعَنَهُ اللَّهُ وَغَضِبَ عَلَيْهِ وَجَعَلَ مِنْهُمُ الْقِرَدَةَ وَالْخَنَازِيرَ وَعَبَدَ الطَّاغُوتَ أُولَئِكَ شَرٌّ مَكَانًا وَأَضَلُّ عَنْ سَوَاءِ السَّبِيلِ (60) [المائدة : 60]

“Katakanlah: “Apakah akan Aku beritakan kepadamu tentang orang-orang yang lebih buruk pembalasannya dari (orang-orang fasik) itu disisi Allah, yaitu orang-orang yang dikutuki dan dimurkai Allah, di antara mereka (ada) yang dijadikan kera dan babi (yaitu, kaum Yahudi) dan (orang yang) menyembah thaghut?”. mereka itu lebih buruk tempatnya dan lebih tersesat dari jalan yang lurus”. (QS. Al-Maa’idah : 60)

Dua ayat ini -dengan gamblang- menunjukkan bahwa kesyirikan dan kekafiran telah terjaadi pada umat sebelum kita dari kalangan Yahudi dan Nasrani. Ahlul Kitab (Yahudi dan Nasrani ‘Kristen’), dulunya mengikuti agama Islam yang dibawa oleh para nabi dan rasul mereka.

Namun mereka meninggalkan Islam dan membuat agama baru yang mengikuti keberagamaan kaum paganisme ‘penyembah berhala’, sampai mereka (Ahlul Kitab) menjadikan Nabi Uzair dan Nabi Isa –alaihimas salam- sebagai dua orang anak Tuhan. Bahkan kini mereka mengangkat Nabi Isa sederajat dengan Allah, dan meyakininya sebagai Tuhan yang disembah! Laa haula walaa quwwata illa billah!  

Keyakinan kaum Nasrani ‘Kristen’ inilah membuat Allah marah kepada orang-orang Kristen yang menyatakan bahwa Allah menjadikan Isa (Yesus) sebagai anak-Nya!!

Allah –Ta’ala– berfirman,

وَقَالُوا اتَّخَذَ الرَّحْمَنُ وَلَدًا (88) لَقَدْ جِئْتُمْ شَيْئًا إِدًّا (89) تَكَادُ السَّمَاوَاتُ يَتَفَطَّرْنَ مِنْهُ وَتَنْشَقُّ الْأَرْضُ وَتَخِرُّ الْجِبَالُ هَدًّا (90) أَنْ دَعَوْا لِلرَّحْمَنِ وَلَدًا (91) وَمَا يَنْبَغِي لِلرَّحْمَنِ أَنْ يَتَّخِذَ وَلَدًا (92) إِنْ كُلُّ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ إِلَّا آتِي الرَّحْمَنِ عَبْدًا (93) [مريم : 88 – 93]

“Dan mereka berkata: “Tuhan yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak”. Sesungguhnya kalian telah mendatangkan suatu perkara yang sangat mungkar.  Hampir-hampir langit pecah karena ucapan itu, dan bumi belah, dan gunung-gunung runtuh.  Karena mereka menda’wakan Allah yang Maha Pemurah mempunyai anak.  Dan tidak layak bagi Tuhan yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak.  Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi, kecuali akan datang kepada Tuhan yang Maha Pemurah selaku seorang hamba”. (QS. Maryam : 88-93)

Ulama Negeri Syam, Al-Imam Al-Hafizh Ibnu Katsir –rahimahullah– berkata,

“لما قرر تعالى في هذه السورة الشريفة عبودية عيسى، عليه السلام، وذكر خلقه من مريم بلا أب، شرع في مقام الإنكار على من زعم أن له ولدا -تعالى وتقدّس وتنزه عن ذلك علوًّا كبيرًا-” اهـ من تفسير ابن كثير / دار طيبة – (5 / 265)

“Tatkala Allah sudah menetapkan status Isa –alaihis salam- sebagai hamba, dan menyebutkan penciptaan Isa dari Maryam tanpa bapak, maka Allah mulai pengingkaran-Nya atas orang-orang yang mengklaim bahwa Allah memiliki anak. Maha Tinggi Allah lagi Maha Suci dari semua itu dengan ketinggian yang besar”. [Lihat Tafsir Ibnu Katsir (5/265), cet. Dar Thoybah, 1420 H]

Jika kekafiran itu terjadi pada Ahli Kitab, maka ini merupakan “lampu peringatan” bagi kaum muslimin agar jangan menyerupai mereka, dan jangan mengikuti jalan-jalan yang mereka tempuh, dengan menjauhi petunjuk wahyu.

Tapi ikutilah petunjuk Al-Qur’an dan Sunnah, niscaya engkau akan selamat. Di dalam keduanya, Allah dan Rasul-Nya membimbing manusia kepada tauhid, Sunnah, dan jalan-jalan kebaikan dan sebaliknya memerangi kesyirikan (kebiasaan menduakan Allah), maksiat, bid’ah, dan semua jalan-jalan yang mengantarkan kepada neraka! Na’udzu billahi minan naar.

Namun demikianlah yang Allah kehendaki, pasti ada diantara manusia sial dari kalangan umat Islam yang akan mengikuti langkah kaum kafir sebelum kita.

Fadhilah Asy-Syaikh Sholih bin Abdil Aziz Alusy Syaikh An-Najdiy –hafizhahullah– berkata,

“الإيمان بالجبت والطاغوت، حصل ووقع من الذين أوتوا نصيبا من الكتاب، من اليهود والنصارى، وإذا كان قد وقع منهم، فسيقع في هذه الأمة؛ لأن النبي -عليه الصلاة والسلام- أخبر أن ما وقع في الأمم قبلنا سيقع في هذه الأمة.” اهـ من التمهيد لشرح كتاب التوحيد (ص: 287)

“Keimanan kepada jibti (sihir) dan thoghut (sembahan batil) telah terjadi pada orang-orang yang diberi bagian berupa Al-Kitab dari kalangan kaum Yahudi dan Nasrani (Kristen). Bila hal itu terjadi pada mereka, maka hal itu pun akan terjadi pada umat ini. Karena, Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- telah mengabarkan bahwa sesuatu yang terjadi pada umat-umat sebelum kita akan terjadi juga pada umat ini”. [Lihat At-Tamhid li Syarh Kitab At-Tauhid (hlm. 404)]

Diantara kebiasaan buruk kaum Yahudi dan Nasrani, mereka mengagungkan kubur para nabi dan orang-orang sholih diantara mereka sampai mereka membuat masjid di sekitar kubur para nabi dan orang sholih mereka.

Allah –Ta’ala– berfirman tentang mereka saat menceritakan sebagian kisah Ash-habul Kahfi,

{قَالَ الَّذِينَ غَلَبُوا عَلَى أَمْرِهِمْ لَنَتَّخِذَنَّ عَلَيْهِمْ مَسْجِدًا } [الكهف: 21]

“Orang-orang yang berkuasa atas urusan mereka berkata : “Sesungguhnya kami akan mendirikan sebuah rumah peribadatan di atasnya”. (QS. Al-Kahfi : 21)

Al-Imam Abul Faroj Abdur Rahman Ibnul Jauziy –rahimahullah– berkata saat menjelaskan maksud ayat ini, “Ibnu Qutaibah berkata, “Maksudnya, orang-orang yang ditaati dan para pemimpin”. [Lihat Zaadul Masir (4/213)]

Perbuatan mereka dalam membangun masjid di sekitar kubur adalah perkara tercela. Mereka adalah Ahli Kitab pengikut Nabi Musa –Shallallahu alaihi wa sallam-.

Mereka inilah yang dicela oleh Allah, bahkan dilaknat oleh Allah, karena telah menyalahi ajaran para nabi mereka yang melarang membangun masjid di sekitar kubur. Sebab, hal itu akan mengantarkan kepada pengkultusan dan penyembahan kepada makhluk.

Karenanya, Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda,

لَعَنَ اللهُ الْيَهُوْدَ وَالنَّصَارَى اِتَّخَذُوْا قُبُوْرَ أَنْبَيَائِهِمْ مَسَاجِدَ

“Laknat Allah atas orang-orang Yahudi dan Nashara yang menjadikan kubur-kubur nabi mereka sebagai masjid (tempat ibadah)”.[HR. Al-Bukhari dalam Shohih-nya (no. 435) dan Muslim dalam Shohih-nya (no. 531)]

Al-Hafizh Abul Fadhl Ibnu Hajar Al-Asqolaniy –rahimahullah– berkata,

“وَالْغَرَضُ مِنْهُ ذَمُّ الْيَهُودِ وَالنَّصَارَى فِي اتِّخَاذِهِمْ قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ.” اهـ من فتح الباري لابن حجر (6/ 497)

“Tujuan Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- adalah mencela kaum Yahudi dan Nashoro, karena mereka menjadikan kubur nabi-nabi mereka sebagai tempat-tempat ibadah”. [Lihat Fathul Bari Syarh Shohih Al-Bukhoriy (6/607) karya Ibnu Hajar Al-Asqolaniy, dengan tahqiq Asy-Syibl, cet. Dar As-Salam]

Hadits ini berisi ancaman keras bagi orang yang menjadikan kubur sebagai tempat ibadah, apakah kubur itu dalam masjid, ataukah masjid dalam kuburan.

Karenanya, kami mengingatkan kepada seluruh kaum muslimin (khususnya kepada seluruh pengurus atau panitia masjid) agar mereka takut kepada Allah dan jangan sampai membangun masjid di kuburan atau memasukkan kubur dalam lokasi masjid, sehingga kalian pun terkena laknat Allah sebagaimana yang menimpa ahli Kitab.

Jika ada yang berwasiat (baik itu imam masjid, pemilik masjid atau yang lainnya) agar ia dikuburkan di lokasi masjid, maka wajib hukumnya menolak wasiat itu dan haram menaati atau melaksanakan isi wasiat itu.

Sebab, tak ada ketaatan kepada makhluk dalam mendurhakai Allah Sang Pencipta dan Pemilik alam semesta.

Jadi, tidak semua wasiat wajib ditunaikan, bahkan sebagiannya haram ditunaikan bila ia adalah perkara yang menyelisihi syariat.

Para pembaca yang budiman, Ahli Kitab telah dicela oleh Allah, karena mereka telah menjadikan kubur nabi mereka sebagai tempat ibadah (masjid).

Inilah yang diisyaratkan oleh Rasulullah –alaihish sholatu was salam- di dalam hadits di bawah ini.

A’isyah –radhiyallahu ‘anha– berkata, “Pada suatu hari Ummu Salamah menceritakan pengalamannya kepada Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- tentang sebuah gereja bernama Gereja Mariyah yang pernah ia saksikan di Habasyah (Ethiopia) yang penuh dengan gambar makhluk (manusia). Lalu Rasulullah –Shollallahu ‘alaihi wasallam– bersabda,

أُوْلَئِكَ إِذَا مَاتَ مِنْهُمُ الرَّجُلُ الصَّالِحُ بَنَوْا عَلَى قَبْرِهِ مَسْجِدًا ثُمَّ صَوَّرُوْا فِيْهِ تِلْكَ الصُّوْرَةَ أُوْلَئِكَ شِرَارُ الْخَلْقِ عِنْدَ اللهِ

“Mereka adalah kaum yang apabila ada seorang yang shalih atau yang baik diantara mereka meninggal dunia, mereka membangungkan masjid di atas kuburannya dan membuat patung-patung di dalamnya. patung-patung itu. Mereka adalah seburuk-buruk makhluk di sisi Allah”. [HR. Al-Bukhariy dalam Shohih-nya (434 & 1341), Muslim dalam Shohih-nya (568)]

Ketika mengomentar hadits ini, Al-Hafizh Ibnu Hajar Asy-Syafi’iy –rahimahullah– berkata,

“وَقَدْ يَقُولُ بِالْمَنْعِ مُطْلَقًا مَنْ يَرَى سد الذريعة وَهُوَ هُنَا مُتَّجه قوي.” اهـ من فتح الباري لابن حجر (3/ 208)

“Sungguh orang yang memandang harusnya menutup jalan (menuju kesyirikan), pasti akan menyatakan larangan (dari melaksanakan sholat di kubur). Pendapat ini, disini tepat lagi kuat”. [Lihat Fathul Bari (3/208)]

Terlarangnya pembangunan masjid di atas kubur atau melakukan penguburan dalam lokasi masjid adalah perkara yang jelas keharamannya, karena ia adalah dzari’ah (jalan) dan wasilah (sarana) yang mengantarkan kepada kesyirikan (menduakan Allah) dan penyembahan makhluk.

Walaupun yang dikubur disitu bukan orang sholih, maka itu juga tetap dilarang, demi menutup pintu kesyirikan dan penyembahan kepada makhluk.

Sebab, boleh jadi manusia bila melihat mayat dikuburkan dalam masjid, maka suatu saat (cepat atau lambat) akan ada orang diantara mereka yang menyatakan bahwa mayat itu dikubur di masjid karena punya keistimewaan, berupa kesholihan, ketaqwaan, kebaikan, atau ia dianggap wali.

Akhirnya, lambat laun manusia pun melakukan ziarah dan ritual ibadah di sisinya, sebagaimana yang terjadi pada kaum Nabi Nuh –alaihis salam- yang menyembah kubur orang-orang sholih diantara mereka.

Karenanya, sholat di masjid yang ada kuburnya sama dengan sholat di kuburan. Sebab, keduanya merupakan perkara yang akan mengantarkan kepada pengkultusan kepada penghuni kubur, cepat atau lamban!!

Al-Imam Asy-Syafi’iy –rahimahullah– berkata,

وَأَكْرَهُ هَذَا لِلسُّنَّةِ، وَالْآثَارِ، وَأَنَّهُ كُرِهَ وَاَللَّهُ تَعَالَى أَعْلَمُ أَنْ يُعَظَّمَ أَحَدٌ مِنْ الْمُسْلِمِينَ يَعْنِي يُتَّخَذُ قَبْرُهُ مَسْجِدًا، وَلَمْ تُؤْمَنْ فِي ذَلِكَ الْفِتْنَةُ، وَالضَّلَالُ عَلَى مَنْ يَأْتِي بَعْدُ.” اهـ من الأم للشافعي (1/ 317)

“Aku benci hal ini (menjadikan kubur sebagai masjid) berdasarkan Sunnah dan atsar-atsar. Dibenci ada salah seorang diantara kaum muslimin yang dikultuskan, yakni kuburnya dijadikan sebagai masjid (tempat ibadah). “Fitnah” (ujian keimanan) dalam perkara itu tidaklah aman, dan juga kesesatan bagi orang-orang yang datang setelahnya”. [Lihat Al-Umm (1/317), karya Imam Asy-Syafi’iy, cet. Darul Ma’rifah, 1410 H]

Inilah jalan Ahli Kitab yang tercela!! Kita dilarang mengikuti jalan dan kebiasaan beribadah dan membangun masjid di sekitar kuburan atau memasukkan kubur dalam lokasi masjid.

Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda dalam melarang kita untuk mengikuti ahli Kitab dan kaum kafir lainnya.

Nabi –Shallallahu ‘alaihi wa sallam– bersabda,

لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ دَخَلُوْا جُحْرَ ضَبٍّ تَبِعْتُمُوْهُمْ. قُلْنَا: يَا رَسُوْلَ اللهِ الْيَهُوْدُ وَالنَّصَارَى ؟ قَالَ: فَمَنْ؟

“Kalian benar-benar akan mengikuti orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal, dan sehasta demi sehasta sampai andai mereka masuk ke lubang biawak, maka kalian pun mengikuti mereka”. Kami (Abu Sa’id Al-Khudriy, pent.) bertanya, “Apakah mereka adalah orang-orang Yahudi dan Nasrani?” Beliau bersabda, “Siapa lagi lagi kalau bukan mereka?”. [HR. Al-Bukhoriy dalam Kitab Al-I’tishom (6889), dan Muslim dalam Kitab Al-Ilmi (2669)]

Kenyataan ini harus selalu dalam ingatan kita bahwa mengikuti jalan hidup dan kebiasaan kaum kafir dari kalangan Ahli Kitab dan yang lainnya adalah perkara yang tercela dan terlarang!

Lantaran itu, hendaknya setiap orang diantara kita selalu meminta hidayah dan penjagaan dari Allah agar jangan mengikuti jalan mereka, jalan yang menyelisihi Al-Qur’an dan Sunnah Nabawiyyah.

Sumber: https://abufaizah75.blogspot.com/

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Tulisan lainnya

Tulis komentar

Logged in as admin. Log out »




jannatul-firdaus.net @2018

Sejarah Penting yang Tercecer dari Catatan Para Sejarawan Dunia

Bagikan…

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Sejarah Penting yang Tercecer dari Catatan Para Sejarawan Dunia

oleh : Al-Ustadz Abdul Qodir Abu Fa’izah hafizhahullah [Pembina Ponpes Al-Ihsan Gowa]

Sejarah memiliki peran dalam kehidupan manusia. Ia mencatat segala kejadian yang pernah mereka saksikan atau mereka dengarkan. Seluruh bangsa memiliki catatan sejarah dari zaman ke zaman. Para ahli sejarah memiliki semangat tinggi dalam merekam dan mencatat sejarah kehidupan dunia.

Hanya saja banyak diantara sejarah penting di dunia yang mereka tinggalkan.

Sejarah itu tercecer dan termakan oleh panjangnya abad  dan zaman sampai kebanyakan manusia sudah melupakannya.

sumber gambar: unsplash.com

1. Sejarah Banjir Terbesar

Diantara sejarah yang pernah terjadi di dunia, namun para sejarawan dunia tidak membukukannya, sejarah banjir terbesar yang terjadi di zaman Nabi Nuh –Shallallahu alaihi wa sallam-.

Nabi Nuh –Shallallahu alaihi wa sallam– yang diutus sebagai rasul di kalangan kaumnya.

Banjir itu datang sebagai hukuman atas pembangkangan kaumnya terhadap dakwah tauhid dan pemberantasan syirik yang dilancarkan oleh Nabi Nuh –alaihis salam-.

Allah –Ta’ala– mengisahkan sejarah itu di dalam Al-Qur’an,

{وَاصْنَعِ الْفُلْكَ بِأَعْيُنِنَا وَوَحْيِنَا وَلَا تُخَاطِبْنِي فِي الَّذِينَ ظَلَمُوا إِنَّهُمْ مُغْرَقُونَ (37) وَيَصْنَعُ الْفُلْكَ وَكُلَّمَا مَرَّ عَلَيْهِ مَلَأٌ مِنْ قَوْمِهِ سَخِرُوا مِنْهُ قَالَ إِنْ تَسْخَرُوا مِنَّا فَإِنَّا نَسْخَرُ مِنْكُمْ كَمَا تَسْخَرُونَ (38) فَسَوْفَ تَعْلَمُونَ مَنْ يَأْتِيهِ عَذَابٌ يُخْزِيهِ وَيَحِلُّ عَلَيْهِ عَذَابٌ مُقِيمٌ (39) حَتَّى إِذَا جَاءَ أَمْرُنَا وَفَارَ التَّنُّورُ قُلْنَا احْمِلْ فِيهَا مِنْ كُلٍّ زَوْجَيْنِ اثْنَيْنِ وَأَهْلَكَ إِلَّا مَنْ سَبَقَ عَلَيْهِ الْقَوْلُ وَمَنْ آمَنَ وَمَا آمَنَ مَعَهُ إِلَّا قَلِيلٌ (40) وَقَالَ ارْكَبُوا فِيهَا بِسْمِ اللَّهِ مَجْرَاهَا وَمُرْسَاهَا إِنَّ رَبِّي لَغَفُورٌ رَحِيمٌ (41) وَهِيَ تَجْرِي بِهِمْ فِي مَوْجٍ كَالْجِبَالِ وَنَادَى نُوحٌ ابْنَهُ وَكَانَ فِي مَعْزِلٍ يَا بُنَيَّ ارْكَبْ مَعَنَا وَلَا تَكُنْ مَعَ الْكَافِرِينَ (42) قَالَ سَآوِي إِلَى جَبَلٍ يَعْصِمُنِي مِنَ الْمَاءِ قَالَ لَا عَاصِمَ الْيَوْمَ مِنْ أَمْرِ اللَّهِ إِلَّا مَنْ رَحِمَ وَحَالَ بَيْنَهُمَا الْمَوْجُ فَكَانَ مِنَ الْمُغْرَقِينَ (43) وَقِيلَ يَا أَرْضُ ابْلَعِي مَاءَكِ وَيَا سَمَاءُ أَقْلِعِي وَغِيضَ الْمَاءُ وَقُضِيَ الْأَمْرُ وَاسْتَوَتْ عَلَى الْجُودِيِّ وَقِيلَ بُعْدًا لِلْقَوْمِ الظَّالِمِينَ (44) وَنَادَى نُوحٌ رَبَّهُ فَقَالَ رَبِّ إِنَّ ابْنِي مِنْ أَهْلِي وَإِنَّ وَعْدَكَ الْحَقُّ وَأَنْتَ أَحْكَمُ الْحَاكِمِينَ (45) قَالَ يَا نُوحُ إِنَّهُ لَيْسَ مِنْ أَهْلِكَ إِنَّهُ عَمَلٌ غَيْرُ صَالِحٍ فَلَا تَسْأَلْنِ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنِّي أَعِظُكَ أَنْ تَكُونَ مِنَ الْجَاهِلِينَ (46) قَالَ رَبِّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أَسْأَلَكَ مَا لَيْسَ لِي بِهِ عِلْمٌ وَإِلَّا تَغْفِرْ لِي وَتَرْحَمْنِي أَكُنْ مِنَ الْخَاسِرِينَ (47)} [هود : 37_47]

“Dan buatlah bahtera itu dengan pengawasan dan petunjuk wahyu Kami, dan janganlah kamu (yakni, Nuh) bicarakan dengan-Ku tentang orang-orang yang zhalim itu. Sesungguhnya mereka itu akan ditenggelamkan. Dan mulailah Nuh membuat bahtera. Dan setiap kali pemimpin kaumnya berjalan melewati Nuh, mereka mengejeknya. Berkatalah Nuh, “Jika kamu mengejek kami, maka sesungguhnya kami (pun) mengejekmu sebagaimana kamu sekalian mengejek (kami).  Kelak kamu akan mengetahui siapa yang akan ditimpa oleh siksaan yang menghinakannya dan yang akan ditimpa siksaan yang kekal”.  Hingga apabila perintah Kami datang dan dapur telah memancarkan air, Kami berfirman, “Muatkanlah ke dalam bahtera itu dari masing-masing binatang sepasang (jantan dan betina), dan keluargamu, kecuali orang yang telah terdahulu ketetapan terhadapnya dan (muatkan pula) orang-orang yang beriman”. Dan tidak beriman bersama dengan Nuh itu, kecuali sedikit. Dan Nuh berkata: “Naiklah kamu sekalian ke dalamnya dengan menyebut nama Allah di waktu berlayar dan berlabuhnya.” Sesungguhnya Tuhanku benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan bahtera itu berlayar membawa mereka dalam gelombang laksana gunung. Dan Nuh memanggil anaknya, sedang anak itu berada di tempat yang jauh terpencil: “Hai anakku, naiklah (ke kapal) bersama kami dan janganlah kamu berada bersama orang-orang yang kafir”.  Anaknya menjawab, “Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat memeliharaku dari air bah“. Nuh berkata, “Tidak ada yang melindungi hari ini dari azab (siksaan) Allah, selain Allah (saja) yang Maha penyayang”. Dan gelombang menjadi penghalang antara keduanya; maka jadilah anak itu termasuk orang-orang yang ditenggelamkan.  Dan difirmankan: “Hai bumi telanlah airmu, dan hai langit (hujan) berhentilah”. Dan airpun disurutkan, perintahpun diselesaikan dan bahtera itupun berlabuh di atas bukit Judiy, dan dikatakan, “Binasalah orang-orang yang zhalim”. (QS. Huud : 37-47)

 

Demikianlah kisah tenggelamnya bumi sebagai hukuman bagi kaum pembangkang.

Tak ada yang selamat dari siksaan Allah di hari itu, kecuali orang-orang yang setia mengikuti Nabi Nuh –Shallallahu alaihi wa sallam-. Banjir itu telah menutupi seluruh permukaan bumi sampai semua gunung tenggelam.

Al-Imam Al-Hafizh Ibnu Katsir –rahimahullah– berkata,

“السَّفِينَةُ سَائِرَةٌ بِهِمْ عَلَى وَجْهِ الْمَاءِ، الَّذِي قَدْ طَبَّق جَمِيعَ الْأَرْضِ، حَتَّى طَفَتْ عَلَى رُءُوسِ الْجِبَالِ، وَارْتَفَعَ عَلَيْهَا بِخَمْسَةَ عَشَرَ ذِرَاعًا، وَقِيلَ: بِثَمَانِينَ مِيلًا وَهَذِهِ السَّفِينَةُ عَلَى وَجْهِ الْمَاءِ سَائِرَةٌ بِإِذْنِ اللَّهِ وَتَحْتَ كَنَفه وَعِنَايَتِهِ وَحِرَاسَتِهِ وَامْتِنَانِهِ.” اهـ من تفسير ابن كثير ت سلامة (4/ 323)

“Perahu Nabi Nuh berjalan membawa mereka (yakni, orang-orang beriman) di atas permukaan air yang telah menutupi seluruh bumi sampai perahu itu pun terapung di atas gunung-gunung dan berada di atas setinggi 15 depa. Ada yang menyatakan, 80 mil. Perahu ini berlayar di atas permukaan air berdasarkan izin Allah dan di bawah pengawasan, perhatian, penjagaan serta karunia dari Allah”. [Lihat Tafsir Ibnu Katsir (4/323), dengan tahqiq Sami Salamah, cet. Dar Thoibah, 1420 H]

Kisah banjir ini telah terjadi di zaman Nabi Nuh –Shallallahu alaihi wa sallam– dan dikisahkan oleh Kitabullah, namun dilupakan dan ditinggalkan oleh para sejarawan dunia.

Akibatnya, kisah pasti dan benar ini seakan-akan dongeng palsu yang tidak memiliki asal!! Padahal telah diceritakan dalam Al-Qur’an. Karenannya, sejarah dunia perlu ditinjau dan ditata ulang.

Para sejarawan lebih perhatian dan fokus pada sejarah hidup kaum Yunani kuno dibandingkan sejarah orang-orang sholih dari kalangan para nabi dan rasul serta pengikut mereka.

Akhirnya, sejarah hidup yang tercatat, tidak begitu banyak memberikan ibrah bagi manusia.

Padahal sejarah orang-orang sholih bersama kaumnya perlu dicatat agar dijadikan ibrah.

Allah -Ta’ala- berfirman,

{لَقَدْ كَانَ فِي قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لِأُولِي الْأَلْبَابِ مَا كَانَ حَدِيثًا يُفْتَرَى وَلَكِنْ تَصْدِيقَ الَّذِي بَيْنَ يَدَيْهِ وَتَفْصِيلَ كُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ } [يوسف: 111]

“Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al Quran itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman”. (QS. Yusuf : 111)

Al-Imam Asy-Syaukaniy –rahimahullah– berkata,

“قَصَصِ الرُّسُلِ ومن بعثوا إليه مِنَ الْأُمَمِ، أَوْ فِي قَصَصِ يُوسُفَ وَإِخْوَتِهِ وَأَبِيهِ عِبْرَةٌ لِأُولِي الْأَلْبابِ وَالْعِبْرَةُ: الْفِكْرَةُ وَالْبَصِيرَةُ الْمُخَلِّصَةُ مِنَ الْجَهْلِ وَالْحَيْرَة.” اهـ من فتح القدير للشوكاني (3/ 73)

“Di dalam kisah-kisah para rasul atau dalam kisah-kisah Nabi Yusuf, saudara-saudara dan bapaknya terdapat ibrah (pelajaran). Sedang ibrah adalah gambaran dan ilmu yang yang menyelamatkan dari kejahilan dan keraguan”. [Lihat Fathul Qodir (4/81)]

2. Matahari Berhenti

Para pembaca yang budiman, diantara sejarah yang sudah dilupakan oleh kalangan sejarawan dunia, kisah seorang nabi yang sholih, yaitu Nabi Yusya’ bin Nun –Shallallahu alaihi wa sallam-.

Disebutkan sejarahnya oleh Nabi Muhammad –Shallallahu alaihi wa sallam– sebagaimana dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhoriy dalam kitab Shohih-nya dan Imam Muslim juga dalam kitab Shohih-nya.

Disebutkan dalam riwayat itu bahwa ketika Nabi Yusya’ hendak melakukan jihad melawan kaum kafir yang menguasai Baitul Maqdis, maka ia memberikan nasihat kepada semua pasukannya.

Kemudian beliau pun melakukan perjalanan dalam memerangi kaum kafir.

Ketika beliau melihat perang belum usai, sedang matahari hampir tenggelam, maka ia pun memohon kepada Allah agar matahari ditahan.

Akhirnya, Allah –Azza wa Jalla– menahan matahari sampai Nabi Yusya’ menyelasaikan perang dan mengalahkan kaum kafir.

Rasulullah –Shallallahu alaihi wa sallam– bersabda,

إِنَّ الشَّمْسَ لَمْ تُحْبَسْ لِبَشَرٍ إِلَّا لِيُوشَعَ لَيَالِيَ سَارَ إِلَى بَيْتِ الْمَقْدِسِ

“Sesungguhnya matahari tak pernah ditahan untuk seorang manusia pun, selain untuk Nabi Yusya’ di hari beliau melakukan perjalanan menuju Baitul Maqdis”. [HR. Ahmad dalam Al-Musnad (2/325) dari Abu Hurairah. Hadits ini di-shohih-kan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Ash-Shohihah (no. 202)]

Ahli Hadits Negeri Yordania, Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albaniy –rahimahullah– berkata,

“وفيه أن الشمس لم تحبس لأحد إلا ليوشع عليه السلام، ففيه إشارة إلى ضعف

ما يروى أنه وقع ذلك لغيره.” اهـ من سلسلة الأحاديث الصحيحة وشيء من فقهها وفوائدها (1/ 399)

“Di dalam hadits ini terdapat keterangan bahwa matahari tak pernah ditahan (oleh Allah), selain untuk Yusya’ –alaihis salam-. Di dalam hadits ini terdapat isyarat tentang lemahnya sesuatu yang diriwayatkan bahwa hal itu juga bagi selain beliau”. [Lihat As-Silsilah Ash-Shohihah (no. 202)]

Kisah Nabi Yusya’ bin Nun ini merupakan bukti kuat bahwa banyak di antara sejarah dunia yang berserakan dan sudah dilupakan oleh manusia.

Kisah-kisah yang menjelaskan kekuasaan Allah sebagai satu-satunya sembahan manusia yang haq.

Akan tetapi karena kebanyakan sejarawan dunia dari kalangan orang jahil dan atheis, maka merekapun tidak mau atau enggan menyebutkan kisah-kisah seperti ini.

3. Bulan terbelah

Satu lagi kisah ajaib yang dilupakan oleh para pencatat sejarah kehidupan manusia, kisah terbelahnya bulan yang menunjukkan kekuasaan Allah dan kebenaran Nabi Muhammad –Shallallahu alaihi wa sallam– sebagai rasul Allah.

Allah –Ta’ala– berfirman,

{اقْتَرَبَتِ السَّاعَةُ وَانْشَقَّ الْقَمَرُ } [القمر: 1]

“Telah dekat datangnya kiamat itu dan telah terbelah bulan”. (QS.Al-Qomar: 1)

Kaum musyrikin meminta kepada Nabi –Shallallahu alaihi wa sallam– agar diperlihatkan sebuah mukjizat, maka tiba-tiba bulan terbelah. Ketika terbelah, maka mereka tetap kafir.

Jubair bin Muth’im –radhiyallahu anhu– berkata,

انْشَقَّ الْقَمَرُ عَلَى عَهْدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَتَّى صَارَ فِرْقَتَيْنِ عَلَى هَذَا الْجَبَلِ وَعَلَى هَذَا الْجَبَلِ،

فَقَالُوا سَحَرَنَا مُحَمَّدٌ، فَقَالَ بَعْضُهُمْ : لَئِنْ كَانَ سَحَرَنَا فَمَا يَسْتَطِيعُ أَنْ يَسْحَرَ النَّاسَ كُلَّهُمْ

“Bulan pernah terbelah di zaman Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- sampai menjadi dua belah: (Satu belahan) di atas gunung dan (belahan lain) di atas gunung ini. Mereka (orang-orang kafir) berkata, “Muhammad telah menyihir kita”. Sebagian orang di antara mereka berkata, “Kalau ia menyihir kita, maka pasti ia tak mampu menyihir seluruh manusia”. [HR. At-Tirmidziy dalam Sunan-nya (no. 3289). Hadits ini di-shohih-kan sanadnya oleh Al-Albaniy dalam Shohih As-Sunan]

Kejadian ini disaksikan oleh kaum musyrikin yang berada di Makkah dan di daerah lain.

Mereka telah melihatnya dalam waktu yang sama dan  mengakuinya hal itu.

Al-Imam Al-Qodhi Iyadh rahimahullah– berkata,

“آية انشقاق القمر من أمهات آيات نبينا صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ومعجزاته، وقد رواها عدة من الصحابة، وظاهر الآية أيضاً وسياقها.” اهـ من إكمال المعلم بفوائد مسلم (8/ 333)

“Terbelahnya bulan termasuk pokok-pokok mukjizat Nabi kita -Shallallahu alaihi wa sallam-. Mukjizah itu telah diriwayatkan oleh sejumlah sahabat -radhiyallahu anhum- di samping berdasarkan lahiriah ayat yang mulia itu dan konteksnya”. [Lihat Ikmal Al-Mu’lim bi Fawa’id Muslim (8/333)]

Para pembaca yang budiman, inilah beberapa buah kisah dan sejarah yang terlupakan di sisi sebagian sejarawan Islam, dan mayoritas sejarawan kafir. Tapi semua itu ada hikmahnya di sisi Allah.

Sumber: https://abufaizah75.blogspot.com/

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Tulisan lainnya

Tulis komentar

Logged in as admin. Log out »




jannatul-firdaus.net @2018

Menjaga Tauhid Memberantas Syirik

Bagikan…

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Menjaga Tauhid, Memberantas Syirik

oleh : Al-Ustadz Abdul Qodir Abu Fa’izah hafizhahullah [Pembina Ponpes Al-Ihsan Gowa]

Tauhid” adalah mengesakan Allah dan mengkhususkan-Nya dalam ibadah.

Seorang yang men-tauhid-kan Allah bila ia hanya mempersembahkan semua bentuk ibadahnya kepada Allah, baik itu berupa ibadah qolbiyyah (yang berkaitan dengan amalan hati), maupun fi’liyyah (yang berhubungan dengan amalan anggota badan).

Diantara bentuk kesempurnaan tauhid, seorang hamba mencegah semua jalan (perbuatan atau ucapan) yang mengarah kepada lawan tauhid, yaitu syirik.

Lantas apa itu “syirik”?!

Syirik adalah menyekutukan Allah dalam beribadah, yakni seorang hamba, selain ia beribadah kepada Allah, ia juga beribadah kepada makhluk, sehingga ia telah dianggap mengangkat sekutu bagi Allah dalam ibadahnya.

Para pembaca yang budiman, Allah –azza wa jalla- telah menganugerahkan kepada kita seorang rasul yang bernama Muhammad bin Abdillah bin Abdil Muththolib bin Hasyim Al-Qurosyi.

Ia datang untuk membacakan ayat-ayat Allah, membersihkan hati kita dari segala macam penyakit hati (seperti, syirik, riya’, sum’ah, hasad dan lainnya), serta mengentaskan kita menuju cahaya ilmu.

Allah -Azza wa Jalla- berfirman,

{لَقَدْ مَنَّ اللَّهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولًا مِنْ أَنْفُسِهِمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ } [آل عمران: 164]

“Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus diantara mereka seorang Rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab dan Al hikmah. dan Sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata”(QS. Ali Imraan : 164)

Sang Rasul ketika ia datang, maka ia datang dengan sifat-sifat terpuji. Beliau adalah manusia yang memiliki martabat yang tinggi dan nasab yang jelas lagi mulia.

Rasul ini amat peduli kepada umatnya. Karenanya, beliau membawa syariat yang mudah dan gampang diamalkan.

Bila ada yang susah bagi mereka, maka beliau meminta kepada Robb-nya agar diberi keringanan.

Dia amat ingin semua orang mendapatkan hidayah dan ia juga menjelaskan  jalan-jalan keselamatan yang mendatangkan kemashlahatan umat dan menjauhkan mereka dari segala madhorot (bahaya dan kerugian), baik di dunia, maupun di akhirat. [Lihat Tafsir Al-Qur’an Al-Azhim (4/241-243) oleh Ibnu Katsir –rahimahullah-]

Ketika Allah mengutusnya, maka Allah berpesan bahwa berdakwah adalah pekerjaan berat yang membutuhkan kesabaran dan keuletan.

Karenanya, saat melihat ada diantara umat manusia yang tak mau beriman, maka hendaknya bersabar dan mengembalikan segala urusan kepada Pemiliknya, yakni Allah.

Allah -Ta’ala- berfirman,

{لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَاعَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ (128) فَإِنْ تَوَلَّوْا فَقُلْ حَسْبِيَ اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَهُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ (129)} [التوبة: 128، 129]

“Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.  Jika mereka berpaling (dari keimanan), Maka Katakanlah: “Cukuplah Allah bagi-Ku; tidak ada Tuhan selain Dia. Hanya kepada-Nya Aku bertawakkal dan dia adalah Tuhan yang memiliki ‘Arsy yang agung”. (QS. At-Taubah : 128-129)

Diantara belas kasih dan sayangnya Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- kepada umatnya, beliau melarang mereka dari segala jalan yang merusak tauhid dan iman mereka kepada Allah, sebagaimana yang akan kami utarakan di sela hadits-hadits berikut :

ÿ Dari Abu Hurairah –radhiyallahu anhu– berkata, “Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda,

لَا تَجْعَلُوا بُيُوتَكُمْ قُبُورًا وَلَا تَجْعَلُوا قَبْرِي عِيدًا وَصَلُّوا عَلَيَّ فَإِنَّ صَلَاتَكُمْ تَبْلُغُنِي حَيْثُ كُنْتُمْ

“Janganlah kalian menjadikan rumah kalian sebagai kuburan dan jangan menjadikan kuburku sebagai ied (tempat kumpul yang selalu dikunjungi untuk ibadah). Ber-sholawat-lah kalian, karena sholawat kalian akan sampai kepadaku dimana pun kalian berada”. [HR. Ahmad dalam Al-Musnad (2/367) dan Abu Dawud dalam Kitabul Manasik, bab: Ziyaroh Al-Qubur (2042)]

Di dalam hadits ini terdapat empat faedah yang harus kita cermati:

(1) Rumah kita hendaknya dihidupkan dengan ibadah (sholat sunnah, membaca Al-Qur’an dan dzikir) agar kita jangan termasuk orang lalai dan rumah kita tak mirip dengan kuburan yang kosong dari ibadah.

(2) Kubur Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- dan kubur lainnya bukanlah tempat untuk melakukan ritual ibadah, seperti, membaca Al-Qur’an (Surah Yasin atau lainnya), sholat, i’tikaf (tirakatan), berdzikir dan lainnya.

Sebab kubur tidaklah memiliki keistimewaan untuk ibadah yang dikerjakan di dalamnya, bahkan seorang lebih utama mengerjakan ibadahnya di masjid dan di rumah.

(3) Oleh karenanya, bila ada diantara kita yang hendak ber-sholawat kepada Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- dan mendoakan kebaikan bagi beliau, maka tak perlu mendatangi kubur beliau.

Sebab, sholawat dan salam kita bagi beliau akan sampai kepada beliau.

Kebiasaan mendatangi kubur beliau, bukanlah petunjuk beliau, bahkan beliau melarang hal itu dalam hadits ini.

Disinilah letak kesalahan sebagian jama’ah haji kita; saat mereka di Madinah, maka mereka berulang kali ke kubur Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- untuk berziarah, bahkan ada yang berdoa dan memohon kepada beliau!!

Subhanallah, ini adalah kesyirikan!!!

(4) Di dalam hadits di atas, juga terdapat isyarat tentang larangan melakukan safar untuk mengunjungi kubur Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- atau kubur wali dan lainnya.

Karenanya, Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda,

لاَ تُشَدُّ الرِّحَالُ إِلاَّ إِلىَ ثَلاَثَةِ مَسَاجِدَ: الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وِمَسْجِدِ الرَّسُوْلِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ ومَسْجِدِ اْلأَقْصَى

“Tidak boleh bersafar, kecuali menuju tiga masjid: Masjidil Haram, Masjid Rasul -Shollallahu ‘alaihi wasallam- (Masjid Nabawi), dan Masjidil Aqsho”. [HR. Al-Bukhoriy dalam Shohih-nya (1189), dan Muslim dalam Shohih-nya (1397)]

Jika seseorang ingin bersafar ke Madinah, maka ia niatkan untuk mengunjungi Masjid Nabawi demi memperbanyak mengerjakan sholat di dalamnya, bukan niatnya pergi ziarah kubur.

Walaupun sesampainya di Madinah, ia boleh berziarah ke kubur Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-Tapi tujuan utama safar kita kesana, bukan ziarah kubur!!

Jadi, bersafar dalam rangka beribadah, mencari pahala, dan keutamaan, tidak boleh dilakukan pada selain tiga tempat itu.

Dari sini, kita mengetahui kesalahan sebagian kaum muslimin yang melakukan safar untuk mengunjungi kubur orang yang dianggap wali atau orang sholeh, seperti yang dilakukan oleh orang-orang jahil di Jawa; mereka melakukan “Tour Keliling Wali Songo”.

Kekeliruan seperti ini juga mulai menjangkit ke Sulsel, dengan adanya sebagian orang-orang diantara mereka yang melakukan safar dari tempat lain menuju kubur Syaikh Yusuf, Gowa.

Ini jelas adalah kesalahan yang menyelisihi petunjuk Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- yang terdapat di dalam hadits di atas dan hadits berikut !!!

Dari Ali bin Husain -radhiyallahu anhu-, ia berkata,

أَنَّهُ رَأَى رَجُلاً يَجِيْءُ إِلَى فُرْجَةٍ كَانَتْ عِنْدَ قَبْرِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، فَيَدْخُلُ فِيْهَا فَيَدْعُوْ ، فَنَهَاهُ ، فَقَالَ : أَلاَ أُحَدِّثُكُمْ حَدِيْثًا سَمِعْتُهُ مِنْ أَبِيْ ، عَنْ جَدِّيْ ، عَنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، قَالَ : « لاَ تَتَّخِذُوْا قَبْرِيْ عِيْدًا ، وَلاَ بُيُوْتَكُمْ قُبُوْرًا ، فَإِنَّ تَسْلِيْمَكُمْ يَبْلُغُنِيْ أَيْنَمَا كُنْتُمْ »

“Ada seorang laki-laki yang pernah datang ke sebuah celah (lubang) yang terdapat di sisi kubur Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-. Lalu orang itu pun masuk di dalamnya sambil berdoa. Karenanya Ali bin Husain melarangnya seraya berkata, “Maukah engkau kukabarkan tentang suatu hadits yang aku dengarkan dari bapakku, dari kakekku, dari Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam-, beliau bersabda, “Janganlah engkau menjadikan kuburku sebagai ied (tempat kumpul yang selalu dikunjungi untuk ibadah), dan jangan pula menjadikan rumahmu sebagai kuburan. Karena salam kalian akan sampai kepadaku dimana pun kalian berada”. [HR. Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushonnaf (2/268), Abu Ya’laa dalam Al-Musnad (no. 48) dan Adh-Dhiyaa’ Al-Maqdisiy dalam Al-Mukhtaaroh (1/154). Hadits ini di-hasan-kan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Tahdzir As-Sajid (hal. 128), cet. Maktabah Al-Ma’arif, 1422 H]

Para pembaca yang budiman, diantara usaha Nabi –Shallallahu alaihi wa sallam- dalam menjaga kemurnian tauhid, larangan Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- kepada sebagian sahabat yang berlebihan memuji beliau sebagaimana dalam hadits berikut :

ÿ Dari Anas bin Malik radhiyallahu anhu– berkata,

أَنَّ رَجُلاً قَالَ :

“يَا مُحَمَّدُ، يَا سَيِّدَنَا، وَابْنَ سَيِّدِنَا، وَخَيْرَنَا، وَابْنَ خَيْرِنَا.”

فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ _صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ_ :

“يَا أَيُّهَا النَّاسُ، عَلَيْكُمْ بِتَقْوَاكُمْ، وَلاَ يَسْتَهْوِيَنَّكُمْ الشَّيْطَانُ،

أَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ،

وَاللَّهِ مَا أُحِبُّ أَنْ تَرْفَعُونِي فَوْقَ مَنْزِلَتِي الَّتِي أَنْزَلَنِي اللَّهُ _عَزَّ وَجَلَّ_”.

“Ada seorang laki-laki pernah berkata, “Wahai Muhammad, wahai pemimpin kami, anak pemimpin kami, orang terbaik di antara kami dan anak orang terbaik diantara kami”. Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- pun bersabda, “Wahai manusia, lazimilah ketaqwaan kalian dan jangan sekali-kali setan menggoda kalian. Aku adalah Muhammad bin Abdillah, hamba dan rasul-Nya. Demi Allah, aku tak menyenangi kalau kalian mengangkat aku melebihi kedudukanku yang Allah telah menempatkan aku padanya”. [HR. Ahmad dalam Al-Musnad (3/241), Abdur Rozzaq Ash-Shon’aniy dalam Al-Mushonnaf (11/272) dan Al-Bukhoriy dalam Al-Adab Al-Mufrod (no. 875). Syaikh Ahmad Syakir men-shohih-kan hadits ini dalam Syarh Al-Musnad (no. 3904)]

Syaikh Isma’il Ibn Abdil Ghoniy Ad-Dahlawiy –rahimahullah– berkata,

“وقد أمر النبي _صلى اللَّه عليه وسلم_ في هذا الحديث بالاقتصاد والتوسط، وتحري الدقة، في مدح من يعتقد فيهم الفضل، وأن لا يتخطى في ذلك حدود البشرية فيلحقه بالله، وأن لا يكون كفرس جموح لا يملكه فارس، ولا يضبطه زمام، فيسيء بذلك الأدب مع اللَّه ويتورط فيما لا يحمد عقباه.” اهـ من رسالة التوحيد المسمى بـ تقوية الإيمان (ص: 170)

“Sungguh Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- memerintahkan dalam hadits ini untuk bersikap lurus dan pertengahan serta berusaha jeli dalam memuji orang yang ia yakini padanya ada keutamaan agar di dalam hal itu ia tidak melangkahi batasan derajat kemanusiaan, lalu menyamakannya dengan Allah dan agar tidak seperti kuda liar yang tak mampu dikuasai oleh seorang penunggang kuda dan tidak pula dikendalikan oleh seutas tali. Akhirnya, dengan sebab itu, ia pun melakukan adab yang buruk kepada Allah dan ia terjun kepada perkara yang tak terpuji akibatnya”. [Lihat Taqwiyah At-Tauhid (hlm. 170), karya Isma’il bin Abdil Ghoni Al-Dahlawiy, cet. Dar Wahyil Qolam, 2003 M, Suriah]

Para pembaca yang budiman, ketahuilah bahwa kata as-sayyid (السَّيِّدُ) yang bermakna “pemimpin” memiliki dua makna. Pertama“as-sayyid” bermakna pemimpin yang menguasai semua urusan secara mutlak dan ia tak tunduk kepada seorang pun.

“As-sayyid” dengan makna seperti ini, tak boleh disandangkan kepada Nabi –Shallallahu alaihi wa sallam-. Lafazh seperti ini hanya digunakan bagi Allah.

Keduaas-sayyid, maksudnya adalah pemimpin kabilah, sesepuh kampung dan pemimpin terdepan.

Berdasarkan makna ini, maka semua nabi adalah sayyid (pemimpin) di kalangan kaumnya; semua imam adalah terdepan atas pengikutnya; semua mujtahid adalah contoh bagi orang yang berteladan kepadanya.

Sebab, mereka melaksanakan perintah-perintah Allah pada diri mereka, lalu mengajarkannya kepada orang-orang yang ada di bawah mereka.

Jadi, Nabi kita -Shallallahu alaihi wa sallam- berdasarkan makna ini adalah sayyid.

Namun beliau membenci gelar-gelar seperti ini disematkan kepadanya. Sebab, penyematan gelar seperti itu terkadang mengantarkan kepada sikap ghuluw (berlebihan), sehingga ada diantara manusia yang akan memuji beliau sebagai “sayyid” dengan makna yang salah bahwa beliau pemimpin yang mengatur alam semesta dan segala hajat makhluk secara mutlak.

Beliau tak senang dengan semua ini, sebab itu hanya layaknya disematkan kepada Allah!! 

Beliau lebih senang disebut dengan “nabi”“rasul” atau “abdullah” (hamba Allah).

Beliau tak senang bila disifati dengan sifat-sifat yang mengarah kepada pengkultusan.

Nah, dari sinilah kita mengetahui kekeliruan sebagian orang yang mengaku sebagai ahlul bait, lalu lebih senang menggelari dirinya dengan “sayyid”, sementara kakek mereka (yaitu, Nabi –Shallallahu alaihi wa sallam-) telah melarangnya.

Karena, hal itu akan mengantarkan kepada ghuluw (sikap berlebihan) dalam memuji dan menempatkan beliau!!!

Oleh karenanya, beliau pernah bersabda,

لاَ تُطْرُونِي كَمَا أَطْرَتِ النَّصَارَى ابْنَ مَرْيَمَ فَإِنَّمَا أَنَا عَبْدُهُ فَقُولُوا عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ

“Janganlah kalian memujiku secara berlebihan sebagaimana yang dilakukan oleh kaum Nasrani pada Isa bin Maryam. Aku ini hanyalah seorang hamba. Lantaran itu, katakalah, “(Nabi Muhammad -Shallallahu alaihi wa sallam-) hamba Allah dan rasul-Nya”. [HR. Al-Bukhoriy dalam Shohih-nya (3445), dan Muslim dalam Shohih-nya (1691)]

Diantara penyebab kehancuran agama, dunia dan akhirat umat-umat terdahulu, mereka bersikap ghuluw dalam beragama; sesuatu yang tak pernah digariskan oleh Allah dan Rasul-Nya, lalu mereka menetapkannya tanpa hujjah.

Allah menetapkan wajibnya men-tauhid-kan (mengesakan dan menunggalkan) Allah dalam ibadah.

Hanya saja banyak diantara manusia malah melakukan amalan-amalan yang mengantarkan kepada kesyirikan, bahkan melakukan kesyirikan itu sendiri!!

Sungguh ini adalah kehancuran agama!!!

…………………………………………..

Diedit ulang 8 Syawwal 1439 H, di rumah kami, Perumahan Tanwirus Sunnah.

Sumber: https://abufaizah75.blogspot.com/

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Tulisan lainnya

Tulis komentar

Logged in as admin. Log out »




jannatul-firdaus.net @2018

Islam tidak Mengajarkan Terorisme kepada Pemeluknya

Bagikan…

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Islam tidak Mengajarkan Terorisme kepada Pemeluknya

oleh : Al-Ustadz Abdul Qodir Abu Fa’izah hafizhahullah [Pembina Ponpes Al-Ihsan Gowa]

Kaum muslimin harus lebih cerdik menilai sebagian berita-berita yang disebarkan oleh para propagandis dari kalangan musuh-musuh Islam yang amat tertata halus dan rapi.

Berita-berita yang mereka sebarkan dengan memanfaatkan media sosial yang bekerja hanya sekedar mencari duit, tanpa memperhatikan kerugian dan bahaya yang ditimbulkan bagi Islam dan kaum muslimin.

Berita-berita berbahaya yang dihembuskan oleh mereka mengandung berbagai macam kebatilan, dan igauan dusta, dan terkadang berita itu dipotong, atau dibolak-balik, sehingga memberikan kesan buruk bagi Islam dan menyudutkan kaum muslimin.

Diantara usaha buruk para propagandis dari kalangan kaum kafir dalam menjatuhkan dan mendiskreditkan Islam, menyandarkan “TERORISME” kepada Islam.

Ini merupakan tuduhan terkeji bagi Islam sepanjang sejarah, khususnya belakangan ini. Sebuah tuduhan keji untuk menebar kebencian, fobia Islam, dan memusuhi Islam serta menyandarkan keburukan kepada Islam. Padahal Islam bersih dari semua tuduhan dan keburukan itu!!

Tuduhan busuk ini dihembuskan melalui media-media sosial merupakan usaha terencana dan halus dalam menjauhkan manusia dari Islam, dimana manusia pada hari-hari ini banyak yang masuk Islam dan simpati kepadanya.

Sebenarnya kalau kita mau jujur dan mau mengerti sedikit saja, maka sesungguhnya “terorisme” itu ada pada setiap tempat dan kaum, karena terorisme merupakan fenomena global yang mungkin ada pada setiap tempat dan kaum. 

Tidak ada suatu agama pun yang rela dituduh mengajarkan terorisme kepada umatnya, apalagi Islam.

Kalau kita ingin menilik arti dari kata “terorisme”, maka ia terambil dari kata dalam Bahasa Inggris”terror” : kegentaran, kengerian, kerusuhan, keributan, kekacauan, dan huru-hara, dan ketakutan. [Lihat : http://uuu.sederet.com/translate.php]

Dalam KBBI, disebutkan bahwa “terorisme” adalah penggunaan kekerasan untuk menimbulkan ketakutan dalam usaha mencapai tujuan (terutama tujuan politik).” [Lihat : http://kbbi.web.id/terorisme ]

“Terorisme” merupakan perilaku dan tindakan yang muncul dari sikap tathorruf (berlebihan dan melampaui batas), yang tidak akan kosong suatu masyarakat darinya.

Pemikiran terorisme memiliki banyak warna dan ragamnya. Bisa dalam skala personal, kelompok, sekte, organisasi atau negara.

Keragaman terorisme ini juga bisa dipengaruhi oleh sikap berlebihan dalam pemikiran, atau melampaui batas dalam beragama, melampaui batas dalam membela dan mencintai suku, organisasi, partai, atau pimpinan.

Jadi, tampak dari penjelasan ini bahwa “terorisme”, bukan hanya muncul karena akibat sikap ghuluw (melampaui batas) dalam beragama yang dilakukan oleh pemeluk agama tertentu, bahkan juga dalam ranah perpolitikan, kesukuan, kepemimpinan, dan lainnya.

Belakangan ini, terorisme hanya dikaitkan dengan ranah agama. Jelas ini keliru besar, sebab terorisme bukan hanya terbatas pada ranah agama, seperti yang telah kami jelaskan.

Para pembaca yang budiman, Kalau kita menoleh ke belakang untuk melihat dan mengenang kembali sejarah terorisme, kaum Yahudi dan Kristen telah lama terlibat di dalamnya!!

Belum lagi kalau kita tarik garis sejarah sampai hari ini, maka terlalu banyak buktinya, sebagaimana yang telah diketahui semua pihak.

Di dalam Al-Qur’an Al-Karim, Allah -Tabaroka wa Ta’ala- pernah menegur orang-orang Yahudi dan Nasrani (Kristen) dari sikap ghuluw yang merupakan cikal bakal lahirnya “terorisme”,

قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لَا تَغْلُوا فِي دِينِكُمْ غَيْرَ الْحَقِّ وَلَا تَتَّبِعُوا أَهْوَاءَ قَوْمٍ قَدْ ضَلُّوا مِنْ قَبْلُ وَأَضَلُّوا كَثِيرًا وَضَلُّوا عَنْ سَوَاءِ السَّبِيلِ  [المائدة : 77]

“Katakanlah: “Hai ahli kitab, janganlah kalian ghuluw (berlebih-lebihan dan melampaui batas) dengan cara tidak benar dalam agamamu. Dan janganlah kalian mengikuti hawa nafsu orang-orang yang telah sesat dahulunya (sebelum kedatangan Muhammad) dan mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia), dan mereka tersesat dari jalan yang lurus. (QS. Al-Maa’idah : 77)

Perhatikan akhir ayat ini, Allah terangkan bahwa hasil dari sikap ghuluw (melampaui batas) dalam beragama adalah menyimpangnya seseorang dari rel kebenaran.

Orang-orang Yahudi dan Kristen telah melakukan sikap ghuluw (ekstrim) dalam mengikuti agama Islam yang dianut oleh Nabi Isa, sampai membuat agama dan aturan baru serta melenceng dari ajaran nabi mereka. Akibatnya, lahirlah dua agama yang menyimpang : Yahudi dan Nashoro (Nasrani alias Kristen).

Pada gilirannya, muncul sikap kasar dan keras dari mereka kepada siapa saja yang tidak mau mengikuti ajaran mereka yang sesat lagi menyimpang.

Ahli Tafsir Negeri Syam, Al-Hafizh Abul Fida’ Ibnu Katsir Ad-Dimasyqiy rahimahullah– berkata saat mengomentari kalimat bergaris di atas,

أي: وخرجوا عن طريق الاستقامة والاعتدال، إلى طريق الغواية والضلال.

“Maksudnya, mereka keluar dari jalan lurus dan tegak menuju jalan penyimpangan dan kesesatan.” [Lihat Tafsir Al-Qur’an Al-Azhim (3/159) karya Ibnu Katsir, cet. Dar Thoibah]

Demikianlah hasil dan akibat dari sikap ghuluw yang ada pada kaum Yahudi dan Kristen.

Diantara sikap ghuluw Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani), mereka berlebihan terhadap nabi mereka, sampai disamakan dengan Allah dalam peribadahan dan ketuhanan.

Mereka ghuluw (berlebihan) terhadap para pendeta dan orang sholih diantara mereka sampai menyamakannya dengan Tuhan dalam menghalalkan sesuatu atau mengharamkan perkara-perkara yang tidak pernah Allah syariatkan.

Sikap ghuluw (melampaui batas dan berlebihan) seperti ini mengantarkan mereka untuk meninggalkan Taurat dan Injil dengan melakukan berbagai revisi dan perubahan terhadap kedua kitab suci tersebut, sehingga lahirlah agama baru yang jauh dari inti ajaran agama Islam yang dibawa oleh Nabi Musa dan Isa.

Begitu lancangnya mereka membuat agama dan syariat baru, demi meninggalkan dan melenceng dari agama Allah (Islam) yang merupakan misi para nabi dan rasul.

Agama dan syariat baru buatan Ahli Kitab yang kita kenal dengan “Agama Yahudi”, dan “Agama Kristen.”

Kelancangan mereka dalam meninggalkan agama dan syariat Allah merupakan hasil dan buah dari sikap ghuluw mereka.

Tidak heran apabila Ahli Kitab berani melakukan tindakan “terorisme” yang telah diabadikan di dalam Al-Qur’an dan akan dibaca serta dikenang oleh sejarah manusia sampai akhir zaman sebagai sejarah kelam mereka.

ضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الذِّلَّةُ أَيْنَ مَا ثُقِفُوا إِلَّا بِحَبْلٍ مِنَ اللَّهِ وَحَبْلٍ مِنَ النَّاسِ وَبَاءُوا بِغَضَبٍ مِنَ اللَّهِ وَضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الْمَسْكَنَةُ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ كَانُوا يَكْفُرُونَ بِآيَاتِ اللَّهِ وَيَقْتُلُونَ الْأَنْبِيَاءَ بِغَيْرِ حَقٍّ ذَلِكَ بِمَا عَصَوْا وَكَانُوا يَعْتَدُونَ  [آل عمران : 112]

“Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia, dan mereka kembali mendapat kemurkaan dari Allah dan mereka diliputi kerendahan. Yang demikian itu, karena mereka kafir kepada ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi tanpa alasan yang benar. yang demikian itu[220] disebabkan mereka durhaka dan melampaui batas.” (QS. Ali Imraan : 112)

Allah perjelas aksi terorisme yang dilakukan oleh Ahli Kitab dalam firman-Nya,

لَقَدْ سَمِعَ اللَّهُ قَوْلَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ فَقِيرٌ وَنَحْنُ أَغْنِيَاءُ سَنَكْتُبُ مَا قَالُوا وَقَتْلَهُمُ الْأَنْبِيَاءَ بِغَيْرِ حَقٍّ وَنَقُولُ ذُوقُوا عَذَابَ الْحَرِيقِ (181) ذَلِكَ بِمَا قَدَّمَتْ أَيْدِيكُمْ وَأَنَّ اللَّهَ لَيْسَ بِظَلَّامٍ لِلْعَبِيدِ (182) الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ عَهِدَ إِلَيْنَا أَلَّا نُؤْمِنَ لِرَسُولٍ حَتَّى يَأْتِيَنَا بِقُرْبَانٍ تَأْكُلُهُ النَّارُ قُلْ قَدْ جَاءَكُمْ رُسُلٌ مِنْ قَبْلِي بِالْبَيِّنَاتِ وَبِالَّذِي قُلْتُمْ فَلِمَ قَتَلْتُمُوهُمْ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ (183) فَإِنْ كَذَّبُوكَ فَقَدْ كُذِّبَ رُسُلٌ مِنْ قَبْلِكَ جَاءُوا بِالْبَيِّنَاتِ وَالزُّبُرِ وَالْكِتَابِ الْمُنِيرِ (184)  [آل عمران : 181 – 185]

“Sesungguhnya Allah Telah mendengar perkatan orang-orang yang mengatakan: “Sesunguhnya Allah miskin dan kami kaya”. Kami akan mencatat perkataan mereka itu dan perbuatan mereka membunuh nabi-nabi tanpa alasan yang benar, dan kami akan mengatakan (kepada mereka): “Rasakanlah oleh kalian siksa yang membakar”.

(Siksaan) yang demikian itu adalah disebabkan perbuatan tanganmu sendiri, dan bahwasanya Allah sekali-kali tidak menganiaya hamba-hamba-Nya,

(yaitu) orang-orang (Yahudi) yang mengatakan: “Sesungguhnya Allah telah memerintahkan kepada kami, supaya kami jangan beriman kepada seseorang rasul, sebelum dia mendatangkan kepada kami korban yang dimakan api”.

Katakanlah: “Sesungguhnya telah datang kepada kalian beberapa orang Rasul sebelumku membawa keterangan-keterangan yang nyata dan membawa apa yang kamu sebutkan, maka mengapa kamu membunuh mereka jika kamu adalah orang-orang yang benar”.

Jika mereka mendustakan kalian, maka sesungguhnya rasul-rasul sebelum kamupun telah didustakan (pula), mereka membawa mukjizat-mukjizat yang nyata, Zabur dan Kitab yang memberi penjelasan yang sempurna.” (QS. Ali Imran : 181-185)

Adakah tindak terorisme yang lebih keji, lebih besar dosanya, dan lebih melanggar dibandingkan usaha mengejar, memusuhi dan membunuh para nabi dan pengikutnya?!

Itulah pekerjaan Ahli Kitab yang suka membunuh para nabi. Bahkan Yahudi dari kalangan Ahli Kitab menurut sejarah merupakan pelopor dalam usaha mengejar dan membunuh Nabi Isa –alaihi salam-, dengan bekerjasama bersama Pemerintah Romawi.

Walaupun kaum Yahudi tidak berhasil melakukan tindak terorisme dalam membunuh Nabi Isa –Shallallahu alaihi wa sallam-, hanya membunuh orang yang serupa dengan beliau, namun mereka (Yahudi) tetap mendapatkan dosa dalam hal itu, karena mereka punya niat membunuh Nabi Isa –alaihish sholatu was salam-. [Lihat : Al-Jawab Ash-Shohih (94/380), dan Hidayah Al-Hayaro (hal. 167), karya Ibnul Qoyyim]

Inilah yang Allah -Azza wa Jalla- terangkan dalam firman-Nya,

وَقَوْلِهِمْ إِنَّا قَتَلْنَا الْمَسِيحَ عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ رَسُولَ اللَّهِ وَمَا قَتَلُوهُ وَمَا صَلَبُوهُ وَلَكِنْ شُبِّهَ لَهُمْ وَإِنَّ الَّذِينَ اخْتَلَفُوا فِيهِ لَفِي شَكٍّ مِنْهُ مَا لَهُمْ بِهِ مِنْ عِلْمٍ إِلَّا اتِّبَاعَ الظَّنِّ وَمَا قَتَلُوهُ يَقِينًا (157) بَلْ رَفَعَهُ اللَّهُ إِلَيْهِ وَكَانَ اللَّهُ عَزِيزًا حَكِيمًا (158) [النساء : 157 ، 158]

Dan Karena ucapan mereka (kaum Yahudi) : “Sesungguhnya kami telah membunuh Al-Masih, Isa putra Maryam, Rasul Allah”. Padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka. Mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa.

Tetapi (yang sebenarnya), Allah telah mengangkat Isa kepada-Nya. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. An-Nisaa’ : 157-158)

Padahal kalau dari sisi nasab, Nabi Isa –alaihis salam- dan Yahudi adalah sama-sama dari kalangan Bani Isra’il. Tapi mereka dengan kesombongan dan hasadnya menggelar “aksi terorisme” yang dikecam oleh seluruh bangsa (utamanya Kaum Nasrani alias Kristen).

Tidak heran apabila ada kebencian diantara pengikut dua agama ini, terus membara sampai hari ini, walaupun kedua pihak berusaha menutupi hal itu di depan kaum muslimin dan masyarakat dunia.

Aksi terorisme yang dilakoni kaum Yahudi dalam usaha membunuh Nabi Isa –alaish sholatu was salam- telah diabadikan di dalam Al-Qur’an Al-Karim,

فَبِمَا نَقْضِهِمْ مِيثَاقَهُمْ وَكُفْرِهِمْ بِآيَاتِ اللَّهِ وَقَتْلِهِمُ الْأَنْبِيَاءَ بِغَيْرِ حَقٍّ وَقَوْلِهِمْ قُلُوبُنَا غُلْفٌ بَلْ طَبَعَ اللَّهُ عَلَيْهَا بِكُفْرِهِمْ فَلَا يُؤْمِنُونَ إِلَّا قَلِيلًا (155) وَبِكُفْرِهِمْ وَقَوْلِهِمْ عَلَى مَرْيَمَ بُهْتَانًا عَظِيمًا (156) وَقَوْلِهِمْ إِنَّا قَتَلْنَا الْمَسِيحَ عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ رَسُولَ اللَّهِ وَمَا قَتَلُوهُ وَمَا صَلَبُوهُ وَلَكِنْ شُبِّهَ لَهُمْ وَإِنَّ الَّذِينَ اخْتَلَفُوا فِيهِ لَفِي شَكٍّ مِنْهُ مَا لَهُمْ بِهِ مِنْ عِلْمٍ إِلَّا اتِّبَاعَ الظَّنِّ وَمَا قَتَلُوهُ يَقِينًا (157) بَلْ رَفَعَهُ اللَّهُ إِلَيْهِ وَكَانَ اللَّهُ عَزِيزًا حَكِيمًا (158) [النساء : 155 – 158]

“Maka (Kami lakukan terhadap mereka beberapa tindakan), disebabkan mereka melanggar perjanjian itu, dan karena kekafiran mereka terhadap keterangan-keterangan Allah dan mereka membunuh nabi-nabi tanpa (alasan) yang benar dan mengatakan: “Hati kami tertutup.” Bahkan, Sebenarnya Allah Telah mengunci mati hati mereka Karena kekafirannya, Karena itu mereka tidak beriman kecuali sebahagian kecil dari mereka.

Dan Karena kekafiran mereka (terhadap Isa) dan tuduhan mereka terhadap Maryam dengan kedustaan besar (zina),

Dan Karena Ucapan mereka: “Sesungguhnya kami telah membunuh Al Masih, Isa putra Maryam, Rasul Allah“. Padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa.

Tetapi (yang sebenarnya), Allah telah mengangkat Isa kepada-Nya. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. An-Nisaa’ : 155-158)

Akibat aksi terorisme yang dilakukan oleh orang-orang Yahudi bekerjasama dengan Kerajaan Romawi, maka kaum Yahudi pun dilaknat oleh Allah, mereka disambar petir, menjelmakan mereka menjadi kera, dan sebagainya.

Siapa saja yang ghuluw (melampaui batas dan berlebihan) dalam beragama dengan keluar dari bimbingan wahyu Allah, maka pasti ia akan jatuh dalam penyimpangan (salah satunya adalah terorisme).

Oleh karena itu, jauh hari Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- telah mengingatkan umatnya dari sikap ghuluw agar mereka jatuh dalam penyimpangan. Jauhnya seseorang menyimpang dari Islam merupakan kebinasaan.

Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda

إِيَّاكُمْ وَالْغُلُوَّ ؛ فَإِنَّمَا هَلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ بِالْغُلُوِّ فِي الدِّينِ.

“Waspadalah kalian sikap ghuluw (melampaui batas), karena orang-orang sebelum kalian hanyalah binasa karena ghuluw (melamapui batas) dalam beragama.” [HR. Ahmad dalam Al-Musnad (1/347), dan An-Nasa’iy dalam Sunan-nya (3057). Hadits dinilai shohih oleh Al-Arna’uth dalam Takhrijul Musnad (no. 3248)]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Al-Harroniy –rahimahullah– berkata,

وذلك يقتضي: أن مجانبة هديهم مطلقاً أبعد عن الوقوع فيما به هلكوا وأن المشارك لهم في بعض هديهم، يخاف أن يكون هالكاً.

“Hal ini mengharuskan bahwa menjauhi jalan hidup mereka (Yahudi) secara mutlak adalah tindakan yang lebih jauh dari terjerumus dalam (sebab) yang mereka binasa karenanya dan bahwa orang mengiringi (mengikuti) mereka dalam sebagian jalan hidup mereka, maka ditakutkan ia akan binasa.” [Lihat Iqtidho’ Ash-Shiroth Al-Mustaqim (hal. 106]

Sekalipun Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam-, para sahabat, dan ulama-ulama Ahlus Sunnah telah mengingatkan bahaya ghuluw (diantaranya adalah aksi terorisme).

Karena, aksi terorisme itu adalah kebiasaan Ahli Kitab. Namun disayangkan masih ada saja diantara kaum muslimin yang jahil tentang agamanya, yang jatuh dalam sikap ghuluw!!

Tidak heran jika anda melihat kaum Khawarij memerangi para sahabat. Sekte sesat Syi’ah memerangi para sahabat dan mengafirkan mereka, bahkan juga mengafirkan kaum muslimin secara umum dan menghalalkan darah mereka, seperti apa yang kalian lihat pada hari ini berupa aksi terorisme kaum Syi’ah dalam membantai Ahlussunnah di Iran, Iraq, Suriah, dan lainnya.

Juga terlibat di dalam aksi terorisme itu, negara-negara barat yang berideologi komunis atau beragama Kristen (seperti : Rusia, dan Perancis), sehingga semakin memperparah penderitaan kaum muslimim di Timur Tengah dan menelan ribuan korban jiwa belakangan ini.[1]

Belum hilang dari ingatan kalian, tindak terorisme dan kejahatan yang dilakukan kaum Hindu atas kaum muslimin di Ayodya.

Kaum Hindu menghancurkan Masjid Babri merupakan bangunan bersejarah di yang berdiri di Ayodya, India. Masjid ini dibangun oleh Kaisar Mughal pertama India, Babur, abad ke-16. [http://www.merdeka.com/ramadan/masjid-babri-saksi-bisu-konflik-muslim-hindu-di-india.html]

Penghancuran Masjid Babri ini telah memicu tewasnya ribuan kaum Muslim yang dengan gagah berani berusaha mempertahankan masjid Allah tersebut.

Penghancuran masjid ini dimotori oleh Partai Bharatiya Janata (BJP), pimpinan Athal Bihari Fajpaye, yang saat itu  berkuasa di India.

Tidak berhenti sampai disitu, hingga saat ini, ekstremis Hindu tetap ‘ngotot’ untuk membangun kuil di atas reruntuhan Masjid Babri tersebut.

Para Hindu ekstremis tetap ingin membangun kuil meskipun pemerintah India telah melarang. [http://www.muslimdaily.net/berita/internasional/hari-ini-16-tahun-yang-lalu-masjid-babri-india-dihancurkan-kafir-hindu.html#

Ingatkah kalian dengan pembantaian dan pengusiran yang dilakukan oleh Umat Buddha di Myanmar (Burma) atas Muslim Rohingya.

Ribuan warga Muslim Etnik Rohingya terpaksa lari dari tempat tinggal mereka di Myanmar, melarikan diri ke negara lain (seperti, Indonesia, Bangladesh, Malaysia, dll).

Mereka memilih mati di negeri orang, ketimbang bertahan di negara mayoritas Buddha radikal itu.

Rupanya, ada seorang biksu Buddha menjadi dalang di balik musibah pembantaian atas kaum Rohingya.

Biksu bernama Ashin Wirathu itu menyebarkan teror dan kebencian ke tengah masyarakat Myanmar.

Dia menanamkan ketakutan suatu saat kelompok Muslim minoritas akan menguasai negara yang dulu dikenal dengan nama Burma itu. [http://www.suara-islam.com/read/index/14341]

Kilas balik ke tahun 1995, saat terjadi pembantaian yang dilakukan oleh Serbia (yang beragama Kristen Orthodoks) atas kaum muslimin Bosnia.

Pembantaian Srebrenica (disebut juga “Genosida Srebrenica”) adalah kejadian sekitar lebih dari 8000 pembantaian lelaki dan remaja etnis Muslim Bosniak, pada Juli 1995 di daerah SrebrenicaBosnia oleh pasukan Republik Srpska pimpinan Jenderal Ratko Mladi.

Ini merupakan pembantaian terbesar pasca Perang Dunia II dan gerakan terorisme paling parah atas muslimin Srebrenica, Bosnia. [https://id.wikipedia.org/wiki/Pembantaian_Srebrenica]

Anda jangan lupa pula pembantaian demi pembantaian di Palestina yang dilakukan oleh kaum Yahudi atas muslimin Palestina.

Sejarah kehidupan entitas Zionis-Yahudi hanyalah diisi dengan pembantaian demi pembantaian terhadap rakyat muslim Palestina yang tidak berdosa.

Rezim Yahudi dari waktu ke waktu, tanpa jeda sedikitkpun terus melakukan pembantaian terhadap rakyat muslim sipil, dan kemudian mengusir, menjajah, dan menguasai tanah kelahirannya. [http://global.liputan6.com/read/2075800/presiden-palestina-israel-sedang-lakukan-pembantaian-di-gaza dan https://id.wikipedia.org/wiki/Pembantaian_Qibya]

Bangsa Indonesia sulit melupakan aksi terorisme para kaum penjajah Kristen Portugis. Kemudian disusul dengan kedatangan aksi terorisme Kristen Belanda (VOC dan pemerintah Belanda) selama 350 tahun merampas, menindas dan menzolimi kaum muslimin dengan membawa tiga misi 3G (Gold, Glory, dan Gospel).

Gold sendiri berarti “emas”, tetapi maksud dari gold disini adalah untuk mencari kekayaan.

Setelah itu tujuan Glory berarti “kejayaan”.

Setelah merampas kekayaan Nusantara, mereka memperoleh kejayaan.

Kemudian Gospel (“Penyebaran agama”).

Selain mencari kekayaan dan kejayaan mereka melakukan penyebaran agama Nasrani (Kristen) ke daerah-daerah kekuasaannya di seluruh Nusantara.

Jangan sekali-kali melupakan sejarah para pelaku terorisme dari kalangan Komunis (PKI) yang telah menumpahkan darah kaum muslimin, membantai para pahlawan dan ulama. Puncak aksi terorisme PKI, terjadi 1965 M.

Banyak korban dari kalangan kaum muslimin yang dibantai oleh kaum komunis-PKI yang amat beringas dan benci kepada Islam kaum muslimin!

Peristiwa mengenaskan itu, tidak lepas dari pengaruh Republik Rakyat Cina (RRC), yang juga berideologi sosialis-komunis yang meyakini tidak adanya Tuhan (termasuk Allah). Na’udzu billahi min dzalik.

Para pembaca yang budiman, kalau kita ingin buka-bukaan berita dan kenyataan, maka kita akan dapati bahwa kaum muslimin sering kali menjadi korban terorisme (baik skala kecil atau skala besar).

Namun mengapa para pelaku terorisme non-muslim tidak dicap sebagai teroris?!!

Mengapa kaum muslimin tidak mendapat simpati dari dunia?!!!

Jawabnyakarena para pelaku bukanlah muslim. Kedua, karena yang menguasai media dan politik bukan kaum muslimin!!

Pembantaian dan tidak teror telah dialami oleh kaum beriman sejak dahulu kala, disebabkan oleh KEBENCIAN KAUM KAFIR terhadap KEIMANAN KAUM MUSLIMIN.

Realita ini tidak dapat dipungkiri, sebagaimana yang dijelaskan oleh Allah -Tabaroka wa Ta’ala- dalam firman-Nya,

وَمَا نَقَمُوا مِنْهُمْ إِلَّا أَنْ يُؤْمِنُوا بِاللَّهِ الْعَزِيزِ الْحَمِيدِ (8) الَّذِي لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ (9) إِنَّ الَّذِينَ فَتَنُوا الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ ثُمَّ لَمْ يَتُوبُوا فَلَهُمْ عَذَابُ جَهَنَّمَ وَلَهُمْ عَذَابُ الْحَرِيقِ (10) إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَهُمْ جَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ ذَلِكَ الْفَوْزُ الْكَبِيرُ (11) [البروج : 8 – 11]

“Dan mereka (orang-orang kafir) tidak menyiksa orang-orang mukmin itu, melainkan karena orang-orang mukmin itu beriman kepada Allah yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji, Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; dan Allah Maha menyaksikan segala sesuatu.

Sesungguhnya orang-orang yang mendatangkan cobaan[2] kepada orang-orang yang mukmin laki-laki dan perempuan, kemudian mereka tidak bertobat, maka bagi mereka siksa Jahannam dan bagi mereka siksa (neraka) yang membakar.

Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang saleh bagi mereka surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; Itulah keberuntungan yang besar.” (QS. Al-Buruuj : 8-11)

Para pembaca yang bijak, ketika ada gerakan “PEMBERANTASAN TERORISME”, kami minta agar yang dijadikan sasaran pemberantasan, jangan hanya teroris muslim, sedang teroris dari kalangan agama lain tidak dijadikan sasaran pemberantasan.

Ini jelas mencoreng nama ISLAM dan KAUM MUSLIMIN!! Sehingga kesannya Islam itu identik dengan teror dan kekerasan.

Padahal agama kita, Islam adalah agama kasih sayang dan kedamaian!!!

Islam tidak mengajarkan TERORISME kepada pengikutnya.

Kemudian jika ada oknum muslim yang melakukannya, maka itu bukanlah atas ajaran Islam, tapi hal itu muncul dari kesalahpahaman tentang Islam.

Karena itu, para ulama Islam dan dai-dainya mengingkari hal itu dan mengecamnya, karena bertentangan dengan Islam.

Nah, adakah ketika umat lain melakukan aksi TERORISME, maka ketika itu juga para pendeta, biara dan biksu mereka serentak melakukan pengingkaran dan kecaman atas para pelaku?!!

Pengingkaran gencar atas aksi terorisme, hanyalah datang dari kalangan ulama Islam untuk mencegah dan memberantas penyakit terorisme yang mengancam keamanan dan stabilitas dunia.

Adapun pengingkaran dari agama lain, silakan anda menilai sendiri.

Kalau ingin memberantas teroris, ya harus adil, jangan cuma kaum muslimin yang jadi sasaran dan sering kali diintai dan dituduh sebagai teroris, lalu para perusak dan teroris dari agama lain tidak disikapi sama!!

Tulisan ini kami buat sebagai tanggapan atas pernyataan Direktur Eksekutif Megawati Institut, Siti Musdah Mulia menuding sekolah Islam sebagai penyebab munculnya terorisme di Indonesia.

Pernyataan ini kemudian mendapatkan kritikan pedas dari berbagai kalangan. Pernyataan ini memberikan kesan negatif, seakan-akan Islam diajarkan di pesantren untuk menanamkan pemikiran radikal dan terorisme.

Padahal sebaliknya Islam kalau mau jujur, justru melalui pesantren-pesantren mengajarkan kasih sayang, akhlak yang baik, memberantas segala macam kezholiman (termasuk sikap radikal, teror, dan pembantaian).

Memang tidak dipungkiri bahwa memang ada sebagian oknum muslim mengajarkan hal-hal buruk seperti itu dari arah yang ia tidak sadari, sebagaimana hal itu juga dilakukan oleh oknum lain dari agama-agama lain.

Jadi, amat keliru jika sebuah kasus khusus dan oknum tertentu, lalu hal itu digeneralisasi dalam sebuah opini buruk yang menyudutkan Islam.

Karena itu, kami meminta kepada si penuduh agar berpikir jujur dan objektif. Jika ia muslim atau muslimah agar segera bertobat.

……………………..

Tulisan ini rampung, tanggal 24 Rajab 1437 H yang bertepatan 2 Mei 2016 M, di Makassar, Sulsel, Indonesia.

……………………..

Selesai kami edit ulang, 30 Sya’ban 1439 H, bertepatan dengan 16 Mei 2018 M, Kantor Markaz Dakwah untuk Bimbingan,  Taklim, dan Keamanan Berpikir, Makassar, Sulawesi Selatan, Indonesia.

[1] Adakah dunia tercengang di kala masyarakat sipil Suriah di bombardir oleh Rusia bersama Basyar Asad?! Aksi terorisme ini didiamkan oleh dunia, karena yang melakukannya orang kafir.

[2] seperti menyiksa, mendatangkan bencana, membunuh dan sebagainya.

Sumber: https://abufaizah75.blogspot.com/

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Tulisan lainnya

Tulis komentar

Logged in as admin. Log out »




jannatul-firdaus.net @2018

Hamba Dunia

Bagikan…

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Hamba Dunia

oleh : Al-Ustadz Abdul Qodir Abu Fa’izah hafizhahullah [Pembina Ponpes Al-Ihsan Gowa]

Dunia adalah sesuatu yang manis lagi hijau melalaikan manusia dari hakikat dan tujuan kehidupannya di dunia.

Banyak manusia yang banting tulang dan menguras keringat demi mencapai lezatnya kehidupan dunia yang fana ini.

Siang dan malam, ia harus mengernyitkan dahi demi meraihnya.

Sebagian orang terkadang sudah lupa waktu dan terbawa segala macam aktifitas beserta problemanya, sehingga ia sangat susah tidur dan tidak merasakan enaknya istirahat.

Tak ada di kepalanya, selain jumlah dinar dan rupiah yang menerawang dalam ufuk pemikirannya.

Disana-sini banyak usaha dan bisnis yang ia jalankan sampai terkadang membuatnya lupa anak dan istri.

Seonggok permasalahan dunia yang ia geluti sering membuat dirinya tak khusyu’ dalam mengerjakan sholat atau mungkin akan terlambat sholat, bahkan melalaikan sholat dengan dalih bahwa sholat hanyalah rutinitas yang menghabiskan waktu.

Menurutnya, waktu masih panjang dan kesempatan masih luas untuk meminta ampunan atas kelalaiannya dalam mengerjakan sholat atau atas ampunan semua dosa dan kesalahan.

Ketahuilah bahwa semua ini adalah bentuk istidroj (pembiaran dan pemanjaan) dari Allah -Azza wa Jalla- agar ia binasa di atas dosa dan pelanggarannya.

Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda,

إِذَا رَأَيْتَ اللَّهَ يُعْطِي الْعَبْدَ مِنْ الدُّنْيَا عَلَى مَعَاصِيهِ مَا يُحِبُّ فَإِنَّمَا هُوَ اسْتِدْرَاج

“Bila engkau melihat Allah memberikan kepada seorang hamba sesuatu yang ia cintai berupa dunia atas kemaksiatan-kemaksiatannya, maka semua itu hanyalah istidroj (pembiaran dan pemanjaan)”. [HR. Ahmad dalam Al-Musnad (4/145) dan Ath-Thobariy dalam Jami’ Al-Bayan (7/115). Hadits ini di-shohih-kan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Shohih Al-Jami’ (no. 561)]

Para hamba dinar yang amat rakus dengan dunia akan terus terlena dengan keindahan dan semerbak dunia yang menipu dirinya, sehingga ia pun melakukan segala macam cara dalam meraih dunia, tanpa peduli tentang halal dan haramnya sesuatu yang mereka peroleh.

Jika ia dibukakan sebagian pintu dunia yang melimpah ruah di hadapannya, maka ia tidak menggunakannya dalam ketaatan kepada Allah -Subhanahu wa Ta’ala-, bahkan ia habiskan dalam maksiat dan dosa.

Dia menyangka bahwa ia akan hidup seribu tahun lamanya. Ia tak sadar bahwa ajal telah menunggu di depan matanya. Ajal sisa menunggu perintah Tuhan-nya yang Maha Perkasa lagi Bijaksana.

Orang-orang yang diperbudak oleh dunia akan jauh dari kebaikan dan para pengikutnya.

Karenanya, saat diingatkan dengan kebaikan, maka ia pun menolaknya dengan sinis dan menganggap orang yang menasihatinya dalam kebaikan sebagai orang yang kolot dan hanya mencari-cari kesalahan.

Ketika ia diingatkan agar ia menjauhi maksiat dan menggunakan hartanya di jalan kebaikan, maka ia pun menampakkan keangkuhannya di hadapan para penasihat kebaikan dan terus-menerus hartanya dihambur-hamburkan dalam lembah maksiat dan dosa.

Lantaran itu, tak ada hari-harinya, selain maksiat dan dosa yang mewarnainya, mulai dari menenggak khomer, bermain perempuan, berjudi, memakan uang riba, menzhalimi orang lain, menyogok atau disogok dan sederet pelanggaran lainnya.

Ketika diingatkan tentang semua itu, maka ia pun tidak mengindahkannya, dan semakin larut dalam dosa dan maksiat.

Orang seperti inilah yang Allah singgung dalam firman-Nya.

{فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّى إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً فَإِذَا هُمْ مُبْلِسُونَ } [الأنعام: 44]

“Maka tatkala mereka melupakan (meninggalkan) peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, maka Kami siksa mereka dengan tiba-tiba. Maka ketika itu mereka terdiam berputus asa (dari segala kebaikan)”. (QS. Al-An’aam : 44)

Orang yang memiliki visi dan misi duaniawi seperti ini, tidak segan melakukan segala macam pelanggaran dan penyelisihan syariat Allah, demi meraup keuntungan duniawi yang akan menjadi beban dan saksi sial bagi dirinya di hadapan Allah Sang Maha Pencipta.

Bila seseorang amat cinta kepada dunia, maka ia akan diperbudak oleh dunia sehingga ia bagaikan tawanan yang dibawa dan diseret oleh dunia, kemanapun dunia inginkan, sekalipun ke jurang terjal yang membinasakan berupa neraka Jahannam yang menyala-nyala.

Apa saja yang diinginkan oleh dunia berupa kedurhakaan dan kelalaian, maka si budak dunia ini akan melakukan apa saja yang dituntut oleh majikannya yang bernama “dunia”.

Nabi –Shallallahu alaihi wa sallam– bersabda,

تَعِسَ عَبْدُ الدِّينَارِ وَعَبْدُ الدِّرْهَمِ وَعَبْدُ الْخَمِيصَةِ إِنْ أُعْطِيَ رَضِيَ وَإِنْ لَمْ يُعْطَ سَخِطَ تَعِسَ وَانْتَكَسَ وَإِذَا شِيكَ فَلَا انْتَقَشَ

“Semoga binasa hamba dinar, dirham dan pakaian. Bila diberi, maka ia senang. Bila tak diberi, maka ia murka. Semoga ia binasa dan terpelanting. Bila ia (budak dunia) tertusuk duri, maka tak akan tercabut”. [HR. Al-Bukhoriy ]

Seorang yang diperbudak oleh dunia, bila ia meminta sesuatu yang ia cintai, lalu Allah berikan, maka ia pun ridho dan puas.

Sebaliknya, bila Allah tidak memberikannya, maka ia murka dan berkeluh kesah.

Orang ini telah diperbudak oleh dunia, sebab ia menjadikan dunia sebagai barometer cinta dan bencinya kepada sesuatu.

Padahal seorang hamba dikatakan “abdullah” (hamba Allah) saat ia menjadikan Allah sebagai penentu dalam kecintaan dan bencinya kepada sesuatu.

Syaikhul Islam Abul Abbas Al-Harroniy –rahimahullah– berkata, “Hal apa saja yang membuat manusia ridho bila ia tercapai, dan membuatnya marah bila hilang, maka manusia itu adalah budak perkara tersebut. Sebab hamba itu senang bila dua perkara (dinar dan dirham) berhubungan dengannya (yakni, ia raih) dan murka bila keduanya hilang”. [Lihat Majmu’ Al-Fatawa (2/419)- Syamilah]

“Seorang yang memperbudak dirinya kepada Allah akan senang dengan sesuatu yang membuat Allah ridho, dan akan murka dengan sesuatu yang membuat Allah murka. Dia akan mencintai sesuatu yang Allah dan Rasul-Nya cintai dan membenci sesuatu yang dibenci oleh Allah dan Rasul-Nya. Dia akan loyal kepada wali-wali Allah (yakni, orang beriman dan bertaqwa) dan memusuhi para musuh Allah -Ta’ala-. Inilah orang yang menyempurnakan imannya”. [Lihat Al-Fatawa Al-Kubro (7/293) oleh Ibnu Taqiyyuddi Ibn Abdil Halim Ad-Dimasyqiy, – Syamilah]

Seorang yang cinta dunia sampai ia diperbudak oleh dunia akan memikirkan semua cara dalam meraup sebanyak-banyaknya, karena kerakusan dan keserakahannya terhadap dunia dan harta. Tak ada yang berputar dalam pikirannya, selain dunia sampai kadang ia sakit hati dan stress bila tidak meraih sesuatu yang ia inginkan.

Para pembaca yang budiman, seorang yang haus dunia tak akan pernah puas dengan dunia, sebab dunia ibarat setetes air di padang sahara.

Lantaran itu, kita akan melihat para pengejar dunia dan budaknya tak pernah puas dengan sesuatu yang ia raih.

Dia terus berusaha mencarinya, walaupun ia harus mengorbankan kewajiban dan keutamaan akhirat, tanpa peduli halal-haramnya!!

Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda,

لَوْ كَانَ لِابْنِ آدَمَ وَادٍ مِنْ ذَهَبٍ أَحَبَّ أَنَّ لَهُ وَادِيًا آخَرَ وَلَنْ يَمْلَأَ فَاهُ إِلَّا التُّرَابُ وَاللَّهُ يَتُوبُ عَلَى مَنْ تَابَ

“Andai seorang anak cucu Adam memiliki sebuah lembah emas, maka ia akan menyukai bila ia memiliki lembah emas yang lainnya. Tak akan ada yang memenuhi mulutnya, selain tanah. Sedang Allah mengampuni orang yang mau bertobat”. [HR. Muslim dalam Kitab Az-Zakah (no. 117)]

Al-Imam Abu Zakariyya An-Nawawiy –rahimahullah– berkata,

“Di dalam hadits ini terdapat celaan terhadap sifat rakus terhadap dunia, senang menumpuk harta dunia dan cinta dunia”. [Lihat Syarh Shohih Muslims (7/140)]

Saking rakusnya para pencinta dunia ini, andai ia diberi dunia dan seisinya, maka semua itu tak membuatnya kenyang. Dia akan kenyang saat mulutnya tersumbat oleh tanah kuburnya.

Jadi, seorang memperbudak dirinya dengan dunia akan terus tergantung kepada dunia.

Dia akan bekerja keras dan berpikir tujuh keliling dalam mengambil langkah-langkah agar ia mencapainya.

Karenanya, sering kita mendengar bahwa ada orang yang susah tidur akibat dunianya. Bahkan ada yang bunuh diri akibat kegagalan dalam mencapai target dunianya.

Inilah perkara-perkara yang diisyaratkan oleh Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- dalam hadits-hadits di atas bahwa bila ada keburukan yang menimpa si hamba dinar dan rupiah, maka ia akan semakin susah dan tak mampu keluar dari problema yang ia hadapi, baik problema dagangnya, pekerjaaan, relasi, keluarga, pribadi dan lainnya.

Semua menumpuk dalam pikirannya sebagai siksaan bagi dirinya di dunia sebelum ia menghadap Allah -Azza wa Jalla-.

Mengapa ia terus berada dalam kesusahan dan problema? Karena, ia dibiarkan oleh Allah, tanpa pertolongan, petunjuk dan rahmat (kasih sayang)-Nya.

Mereka jauh dari ketaatan dan jalan-jalan kebaikan yang Allah perintahkan kepada para hamba-Nya agar berinfaq dan berkorban di dalamnya.

Malah para hamba dinar dan pemburu rupiah ini lebih senang meninggalkan perkara-perkara yang dicintai oleh Allah, lalu beralih kepada perkara-perkara dosa dan maksiat yang mendatangkan murka Allah.

Di saat mereka melupakan Allah, maka Allah pun melupakan (meninggalkan) mereka sebagai balasan atas sikap mereka.

Ketahuilah bahwa dunia ini hanyalah tempat persinggahan sementara dalam mengais dan mengumpulkan bekal menuju akhirat “alam pertanggungjawaban” dan tempat peristirahatan terakhir.

Karenanya, harta yang kita kumpulkan bukanlah bekal dalam bermaksiat, tapi jadikan bekal akhirat yang berguna disana.

Gunakanlah semuanya dalam perkara yang mendatangkan kecintaan Allah -Azza wa Jalla- dengan cara berinfaq di jalan Allah, baik itu berupa pembangunan masjid, membantu fakir-miskin, tetangga, pembangunan pesantren, meringankan kaum muslimin yang amat butuh, membantu kegiatan sosial yang mengangkat agama Allah, membuat sumur umum, menyekolahkan anak-anak Islam, mengadakan majelis-majelis ilmu dan lainnya.

Dunia tidaklah tercela bila digunakan dalam ketaatan. Yang tercela saat dunia digunakan dalam perkara-perkara yang tak mendatangkan ridho Allah, seperti menggunakannya bermaksiat, dan menghambur-hamburkannya atau berbangga dengannya atas para hamba Allah.

Al-Imam Muhammad bin Isma’il Al-Amir Ash-Shon’aniy rahimahullah– berkata,

“Ketahuilah bahwa yang tercela dari dunia adalah segala perkara yang menjauhkan seorang hamba dari Allah -Ta’ala- dan menyibukkannya dari kewajiban taat dan ibadah kepada Allah, bukan (yang tercela dari dunia) perkara yang menolong hamba di atas amal-amal sholih. Karena seperti ini tak tercela dan terkadang diharuskan pencariannya dan wajib untuk diraih”. [Lihat Subul As-Salam (8/190), karya Al-Amir Ash-Shon’aniy, cet. Dar Ibn Al-Jauziy, dengan tahqiq Subhi Hasan Hallaq, 1421 H]

———————-

Tulisan ini diedit ulang, 20 Romadhon 1438 H, Markaz Dakwah, Jalan Baji Rupa, Makassar, Sulawesi Selatan

Sumber: https://abufaizah75.blogspot.com/

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Tulisan lainnya

Tulis komentar

Logged in as admin. Log out »




jannatul-firdaus.net @2018

Adab-adab Menasihati Para Penguasa

Bagikan…

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Adab-adab Menasihati Para Penguasa

oleh : Al-Ustadz Abdul Qodir Abu Fa’izah hafizhahullah [Pembina Ponpes Al-Ihsan Gowa]

Di awal Desember 2010, kembali terjadi peristiwa pahit yang meninggalkan dampak buruk bagi masyarakat di negeri ini dan Makassar secara khusus, yakni adanya sejumlah mahasiswa dan masyarakat yang turun ke jalan-jalan melakukan aksi demo dalam rangka memperingati “Hari Anti Korupsi Sedunia” yang bertepatan dengan 9 Desember.

Setiap orang yang turun ke jalan memiliki tendensi dan niat tertentu. Ada yang menyangka bahwa demo yang ia lakukan adalah “jihad fi sabilillah”.

Ada yang menyangka bahwa demo mereka adalah nasihat dan amar ma’ruf-nahi munkar.

Ada yang turun dengan tendensi mencari reputasi dan nama baik agar selanjutnya ia mendapatkan pujian dan kedudukan politik.

Lahiriahnya, orang-orang seperti ini adalah pejuang rakyat. Tapi ternyata ia adalah pencari kursi ‘kekuasaan’, dunia, dan ketenaran.

Namun di balik semua itu, seorang yang cerdik nan pandai selayaknya bertanya,

“Apakah hal itu adalah nasihat yang dibenarkan dalam syariat?”

Untuk menjawab pertanyaan ini, maka perlu diketahui bahwa nasihat adalah ibadah.

Jika ia adalah ibadah, maka ia harus ikhlash dan cocok dengan sunnah (petunjuk) Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-.

Nah, demonstrasi yang mereka namai dengan “jihad” atau “nasihat”, tentunya tidak ikhlash.

Anggaplah mereka ikhlash niatnya, karena semata mencari ridho Allah. Namun demo yang mereka lakukan adalah sebuah pelanggaran dan penyelisihan terhadap syariat Islam sebagaimana yang anda akan lihat dalam rincian ulasan berikut:

Para pembaca yang budiman, nasihat memiliki adab-adab yang harus dijaga oleh seseorang saat ia mau menasihati para pemerintahnya yang muslim.

Adapun adab-adab menasihati pemerintah, maka kami akan sebutkan dalam poin-poin di bawah ini:

Nasihati harus Dilatari oleh Keikhlasan Niat

Menasihati seorang pemerintah merupakan ibadah dan tuntunan agama Islam yang agung ini.

Suatu masyarakat tak mungkin akan tegak di atas kebaikan bila nasihat tak ada diantara mereka, baik itu nasihat rakyat kepada pemerintahnya, ataukah nasihat pemerintah kepada rakyatnya. Ini merupakan dasar dan prinsip Islam yang menginginkan ketenangan dan kedamaian.

Dari Abu Ruqoyyah, Tamim bin Aus Ad-Dariy -radhiyallahu ‘anhu- (berkata), “Bahwa Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda,

الدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ. قُلْنَا لِمَنْ ؟ قَالَ: لِلَّهِ, وَلِكِتَابِهِ, وَلِرَسُوْلِهِ, وَلِأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِيْنَ, وَعَامَّتِهِمْ (رَوَاهُ مُسْلِمٌ)

“Agama itu adalah nasihat (pemurnian)”. Kami berkata, “Untuk siapa?” Beliau bersabda, “(Pemurnian itu) untuk Allah, Kitab-Nya, Rasul-Nya, pemimpin kaum muslimin, dan orang awam (rakyat)nya”.[HR. Muslim dalam Shohih-nya (no.55)]

Agama yang dibawa oleh Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam-  terbangun di atas “nasihat” bagi Allah, Kitab-Nya, Rasul-Nya, pemimpin kaum muslimin, dan rakyat.

Lantas apa yang dimaksud dengan “nasihat”?

Nasihat disini bermakna memurnikan. Seorang yang me-nasihat-i Allah, maksudnya memurnikan dan membersihkan Allah dari segala kekurangan, dan hal-hal yang merusak keimanan kita kepada-Nya berupa kesyirikan dan kekafiran.

Me-nasihat-i Al-Qur’an, maknanya seorang membersihkan, dan memurnikannya dari segala aib (kekurangan), dan perkara-perkara yang merusak Al-Qur’an dan kedudukannya.

Menasihati seorang pemimpin dengan membersihkan dan menjauhkannya dari segala kekurangan diri, baik itu berupa maksiat, kesyirikan, dan kekafiran.

Ibaratnya, nasihat itu adalah usaha untuk meluruskan segala penyimpangan, dan kesalahan.

Jika nasihat adalah agama dan ibadah, maka nasihat wajib di bangun di atas keikhlasan, karena mencari kebaikan dan pahala di dunia, bukan karena ingin dunia dan jabatan saja.

Memberi Nasihat dengan Cara Lembut dan Bersahabat

Nasihat yang kita arahkan kepada pemerintah hendaknya didasari dengan kelembutan dan sikap bersahabat, agar nasihat itu dapat diterima oleh mereka.

Sebab tabiat manusia (baik rakyat atau pemerintah), menyenangi kelembutan dan kedamaian.

Perhatikan firman Allah –azza wa jalla- saat memerintahkan Nabi Musa dan Nabi Harun –alaihimas salam- agar menasihati Fir’aun ‘si Manusia Zolim’ dengan nasihati kelembutan,

{اذْهَبْ أَنْتَ وَأَخُوكَ بِآيَاتِي وَلَا تَنِيَا فِي ذِكْرِي (42) اذْهَبَا إِلَى فِرْعَوْنَ إِنَّهُ طَغَى (43) فَقُولَا لَهُ قَوْلًا لَيِّنًا لَعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَى (44)} [طه: 42 – 44]

“Pergilah kamu beserta saudaramu dengan membawa ayat-ayat-Ku, dan janganlah kamu berdua lalai dalam mengingat-Ku.  Pergilah kamu berdua kepada Fir’aun, Sesungguhnya dia Telah melampaui batas; maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut”. (QS. Thoohaa : 42-43)

Menasihati pemerintah hendaknya dengan menyampaikah nasihat yang lembut dan terambil dari Kitabullah dan Sunnah, bukan hanya sekedar hamasah (semangat), emosi dan perasaan yang terkadang menyeret kepada penghinaan dan celaan kepada pemerintah!

Hendaknya nasihat kepada penguasa dengan memberikan pengertian dan penjelasan tentang akibat dosa atau pelanggaran yang ia lakukan.

Al-Imam Abul Faroj Abdur Rahman Ibnul Jauziy -rahimahullah- berkata,

“مِنْ الْأَمْر بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّهْي عَنْ الْمُنْكَر مَعَ السَّلَاطِينِ التَّعْرِيف وَالْوَعْظ، فَأَمَّا تَخْشِينُ الْقَوْلِ نَحْو يَا ظَالِم يَا مَنْ لَا يَخَاف اللَّهَ، فَإِنْ كَانَ ذَلِكَ يُحَرِّك فِتْنَة يَتَعَدَّى شَرُّهَا إلَى الْغَيْر لَمْ يَجُزْ، وَإِنْ لَمْ يَخَفْ إلَّا عَلَى نَفْسِهِ فَهُوَ جَائِز عِنْد جُمْهُور الْعُلَمَاء قَالَ: وَاَلَّذِي أَرَاه الْمَنْع مِنْ ذَلِك.” اهـ الآداب الشرعية والمنح المرعية (1/ 195_196) لابن مفلح

“perkara yang dibolehkan dalam amar ma’ruf dan nahi mungkar hubungannya dengan penguasa, yaitu memberikan pengertian dan nasihat.

Adapun berkata-kata kasar, seperti “Wahai orang zholim”, “wahai orang yang tidak takut kepada Allah!”, jika hal itu membangkitkan fitnah (masalah) yang menyebabkan kejelekannya tertular kepada orang lain, maka tidak boleh dilakukan. Jika ia tidak takutkan, kecuali atas dirinya, maka boleh menurut jumhur ulama. Namun menurut pendapatku, hal itu terlarang.” [ Lihat Al- Adab Asy-Syari’ah (1/195-197)]

Perhatikanlah petuah yang agung ini saat kita hendak menasihati penguasa agar tak keliru jalan sehingga nasihat itu berbuah manis.

Di dalam ayat ini juga terdapat isyarat bahwa nasihat kepada penguasa, bukan dilakukan oleh sembarang orang, tapi oleh kalangan terkemuka dan orang-orang berilmu.

Lain halnya di zaman ini, kebanyakan para pendemo dari kalangan orang-orang jahil atau berilmu tapi tak terkemuka.

Mengapa selayaknya demikian? Jawabnya, agar nasihat mudah diterima. Sebab, terkadang para pemerintah tidak akan menerima nasihat itu bila datangnya dari orang yang tidak dikenal keilmuannya atau ketajaman pandangannya.

Melakukan Nasihat dengan Cara Sirr (Rahasia & Tersembunyi)

Diantara perkara yang sering dilalaikan oleh orang-orang yang mau menasihati pemerintah, yakni menasihati pemerintah secara sirr (tersembunyi dan rahasia).

Hikmahnya agar pemerintah yang ternasihati mudah menerima nasihat dan saran-saran si pemberi nasihat.

Sebab, terkadang ia malu menerimanya jika nasihat kepadanya ditegakkan di depan orang banyak.

Apalagi sebagian orang menganggap bahwa nasihat yang disampaikan di depan orang banyak adalah penghinaan kepada yang ternasihati atau ia anggap hal itu sebagai sebuah sikap yang mempermalukan dirinya di depan rakyat.

Bagaimanapun keadaannya, hal ini (yakni, nasihat secara rahasia) tetap harus diperhatikan oleh orang yang ingin menasihati penguasa agar nasihatnya tak berbuah pahit.

Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda,

مَنْ َأَرَادَ أَنْ يَنْصَحَ لِسُلْطَانٍ بِأَمْرٍ فَلا َيُبْدِ لَهُ عَلاَنِيَةً وَلَكِنْ لِيَأْخُذْ بِيَدِهِ فَيَخْلُوْ بِهِ فَإِنْ قَبِلَ مِنْهُ فََذَاكَ وَإِلاَّ كَانَ قَدْ أَدَّى اَلَّذِيْ عَلَيْهِ لَهُ.

“Barangsiapa ingin menasihati penguasa dalam suatu perkara, maka janganlah ia menampakkan secara terang terangan. Akan tetapi hendaknya ia ia mengambil tangannya agar ia bisa berduaan. Jika ia terima ,aka itulah yamg diharap, jika tidak maka sungguh ia telah menunaikan tugas yan ada pada pundaknya”. [HR Ahmad dalam Al-Musnad (3/403-404) dan Ibnu Abi Ashim dalam As-Sunnah (1096, 1097, 1098). Hadits ini di-shohih-kan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Zhilal Al-Jannah (hal. 514)]

Perhatikanlah kandungan hadits ini; ia mengajarkan kepada kita bahwa nasihat kepada penguasa hendaknya dengan cara sir (rahasia dan tersembunyi), lembut dan bersahabat, bukan dengan cara kasar dan tak beradab!!

Alangkah anehnya pada hari ini, ada orang yang tidak terima jika dinasihati di depan publik, tapi ia sendiri malah menasihati pemerintah di depan publik!!!

Al-Imam Abu Zakariyya Ibnu An-Nuhhas Asy-Syafi’iy Ad-Dimasyqiy -rahimahullah- berkata,

“ويختار الكلام مع السلطان في الخلوة على الكلام معه على رؤوس الأشهاد، بل يود لو كلمه سراً ونصحه خفية من غير ثالث لهما.” اهـ من تنبيه الغافلين عن أعمال الجاهلين وتحذير السالكين من أفعال الجاهلين (ص: 76)

“Seseorang yang menasehati penguasa hendaknya memilih pembicaraan empat mata bersama penguasa dibandingkan berbicara bersamanya di depan publik, bahkan diharapkan (adanya kebaikan) andaikan ia berbicara dengan penguasa secara sirr ((rahasia), dan menasehatinya secara tersembunyi, tanpa pihak ketiga.” [Tanbih Al- Ghofilin ‘an A’malil Jahilin (hal. 64)]

As-Syaukaniy -rahimahullah- berkata,

ينبغي لمن ظهر له غلط الإمام في بعض المسائل أن يناصحه ولا يظهر الشناعة عليه على رؤوس الأشهاد.” اهـ من السيل الجرار المتدفق على حدائق الأزهار (ص: 965)

“Sepantasnya bagi orang yang tampak baginya kesalahan penguasa dalam sebagian masalah, agar ia menasihati penguasa, dan tidak menampakan celaan padanya didepan publik”. [Lihat As-Sail Al-Jarrar Al-Mutadaffiq (4/556)]

Dari sini, kita mengetahui kesalahan fatal sebagian orang, ketika melihat penguasa bersalah dan bermaksiat, atau membiarkan kemaksiatan, maka serta-merta mereka mengumpulkan manusia untuk demontrasi sehingga tersebarlah aib penguasa.

Demo sekalipun diniatkan sebagai “nasihat”, namun tetap salah karena ia merupakan sebuah sarana yang membeberkan aib penguasa.

Oleh karena itu, satu hal yang amat menyayat hati, dan membuat kita sedih, ketika kita menyaksikan ada sebagian mahasiswa dan masyarakat umum -bahkan terkadang ia adalah “aktivis dakwah Islam”- memompa, dan mengompori semangat pemuda-pemuda Islam untuk melakukan demonstrasi.

Al-Allamah Syaikh Abdul ‘Aziz bin Baz -rahimahullah- berkata, “Bukan termasuk manhaj salaf, membeberkan aib penguasa, dan menyebutkannya di atas mimbar-mimbar, karena hal itu akan mengantarkan kepada kudeta, tidak mau dengar dan taat dalam perkara ma’ruf, dan mengantarkan kepada pemberontakan yang merusak dan tidak membawa manfaat. Tapi metode yang  diikuti di sisi salaf: menasehati secara empat mata, menyurat, dan menghubungi para ulama yang berhubungan langsung dengannya sehingga penguasa bisa diarahkan kepada hal yang baik”. [ Lihat Huquq Ar-Ro’iy wa Ar- Ro’iyyah  (27)]

Jadi, seorang yang ingin menasihati pemerintah, maka ia lakukan dengan cara rahasia, dan empat mata, bukan menasihatinya secara terang-terangan di depan publik.

Oleh karena itu, termasuk di antara kesalahan sebagian orang, menasihati penguasa, lalu disebarkan nasihat dan hasil pertemuannya dengan pemerintah, baik lewat radio, televisi, koran, majalah, buletin, mimbar, majelis taklim, pertemuan umum, demonstrasi, dan lainnya.

Diantara metode yang paling buruk dalam menasihati penguasa, keluar ke jalan-jalan berkonvoi dalam rangka berdemo, apakah disertai kekacauan, ataukah, tidak!!

Dengarkan Al-Faqih Syaikh Muhammad bin Sholeh Al-‘Utsaimin -rahimahullah- berkata, 

“Demonstrasi merupakan perkara baru yang tidak pernah dikenal di zaman Nabi –shollallahu alaih wasallam- , dan tidak pula di zaman Al-Khulafa’ Ar-Rasyidin dan para sahabat-radhiyallah anhum-. Kemudian di dalamnya juga terdapat kerusuhan, dan huru-hara yang menjadikannya terlarang, dimana juga terjadi di dalamnya pemecahan kaca-kaca, pintu-pintu dan lainnya. Juga terjadi ikhtilath (campur baur) antara pria dan wanita, antara anak muda dengan orang tua , serta perkara-perkara yang semacamnya, berupa kerusakan dan kemungkaran.Adapun masalah menekan dan mendesak pemerintah, maka jika pemerintahnya muslim, cukuplah Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya –Shollallahu alaih wasallam- sebagai pengingat baginya. Ini merupakan sebaik-baik perkara (baca:nasihat) yang disodorkan kepada seorang muslim. Jika pemerintahnya kafir, maka jelas mereka (orang-orang kafir) itu tidak mau mempedulikan para demonstran. Boleh jadi Pemerintah kafir itu akan bersikap ramah dan baik di depan para demonstran, sekalipun di batinnya tersembunyi kejelekan. Karenanya, kami memandang bahwa demo merupakan perkaara munkar. Adapun ucapan (baca: alasan) mereka: “Inikan demo yang damai (tak ada kerusuhan,pent.)!!”, maka boleh jadi demonya damai di awalnya atau awal kalinya, kemudian berubah jadi demo perusakan. Aku nasihatkan kepada para pemuda agar mereka mengikuti jalan hidupnya para Salaf. Karena Allah telah memuji orang-orang Muhajirin  dan Anshor; Allah telah memuji orang-orang yang mengikuti mereka dalam kebaikan ”. [Lihat Buletin Silsilah Ad-Difa’ anis Sunnah (7): “Aqwaal ‘Ulama’ As-Sunnah fil Muzhaharat wa maa Yatarattab Alaih min Mafasid ‘Azhimah”, hal.2-3, cet. Maktabah Al-Furqon, UEA.]

Alangkah benarnya apa yang dikatakan beliau bahwa demo-walaupun tanpa kerusuhan- merupakan perkara baru dan bid’ah. Bid’ahnya orang-orang Khawarij.

Anggaplah demo itu damai, akan tetapi itu merupakan sarana dalam menyebarkan aib penguasa, karena dengan keluarnya seseorang ke jalan-jalan untuk demo, akan memberikan opini bahwa mereka akan pergi mengeritik, dan membongkar aib, dan kekurangan penguasa. Membeberkan aib penguasa muslim merupakan metode lama yang dipergunakan oleh kaum Khawarij yang suka memberontak.

Para Penasihat harus Berhias Kesabaran dan Adab Islami

Menasihati penguasa muslim atau masyarakat secara umum, hendaknya dengan penuh kesabaran; jangan tergesa-gesa ingin melihat hasil.

Sebab, tanggung jawab seorang penasihat hanyalah menyampaikan nasihat, tanpa peduli apakah penguasa yang ternasihati menerima nasihat atau tidak.

Kita bukanlah penguasa yang berhak memaksa dalam nasihat. Kita hanyalah rakyat dan bawahan yang datang selaku pemberi nasihati yang mengharapkan kebaikan dengan cara baik pula, bukan kita datang sebagai musuh dan diktator kejam yang semaunya menekan dan memaksa orang!

Inilah manhaj yang diajarkan oleh Allah -Azza wa Jalla- kepada para nabi dan rasul.

Allah -Subhanahu wa Ta’ala- berfirman,

{فَذَكِّرْ إِنَّمَا أَنْتَ مُذَكِّرٌ (21) لَسْتَ عَلَيْهِمْ بِمُصَيْطِرٍ (22) } [الغاشية: 21، 22]

“Maka berilah peringatan, Karena Sesungguhnya kamu hanyalah orang yang memberi peringatan. Kamu bukanlah orang yang berkuasa atas mereka”. (QS. Al-Ghosyiyah : 21-22)

Di dalam ayat yang lain, Allah –tabaroka wa ta’ala- berfirman,

{فَإِنْ حَاجُّوكَ فَقُلْ أَسْلَمْتُ وَجْهِيَ لِلَّهِ وَمَنِ اتَّبَعَنِ وَقُلْ لِلَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ وَالْأُمِّيِّينَ أَأَسْلَمْتُمْ فَإِنْ أَسْلَمُوا فَقَدِ اهْتَدَوْا وَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّمَا عَلَيْكَ الْبَلَاغُ وَاللَّهُ بَصِيرٌ بِالْعِبَادِ } [آل عمران: 20]

“Kemudian jika mereka mendebat kamu (tentang kebenaran Islam), Maka Katakanlah: “Aku menyerahkan diriku kepada Allah dan (demikian pula) orang-orang yang mengikutiku”. dan Katakanlah kepada orang-orang yang Telah diberi Al Kitab dan kepada orang-orang yang ummi: “Apakah kamu (mau) masuk Islam”. jika mereka masuk islam, Sesungguhnya mereka Telah mendapat petunjuk, dan jika mereka berpaling, maka kewajiban kamu hanyalah menyampaikan (ayat-ayat Allah). Dan Allah Maha melihat akan hamba-hamba-Nya”. (QS. Ali Imraan : 20)

Sumber: https://abufaizah75.blogspot.com/

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Tulisan lainnya

Tulis komentar

Logged in as admin. Log out »




jannatul-firdaus.net @2018

Begini Penjelasan “Peringatan Tahun Baru Masehi” dalam Islam

Bagikan…

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Begini Penjelasan “Peringatan Tahun Baru Masehi” dalam Islam

Judul asli: “Peringatan Tahun Baru Masehi”, Sebuah Kemungkaran Besar di Tengah Umat Islam

oleh : Al-Ustadz Abdul Qodir Abu Fa’izah hafizhahullah [Pembina Ponpes Al-Ihsan Gowa]

Malam ini kita menyaksikan sebuah kemungkaran yang bernama “Peringatan Tahun Baru”.

Rasulullah Shallallahu ‘Alayhi Wa Sallam bersabda :

من رأى منكم منكرا فليغيره بيده، فإن لم يستطع فبلسانه، فإن لم يستطع فبقلبه، وذلك أضعف الإيمان

“Barang siapa di antara kamu yang melihat kemungkaran, maka hendaklah ia mengubah (mengingkari) dengan tangannya. Jika tidak mampu, hendaklah ia mengubah (mengingkari) dengan lisannya. Jika tidak mampu, hendaklah ia mengubahnya dengan hatinya, sedang itulah keimanan yang paling lemah.” [HR. Muslim dalam Shohih-nya no. 49)]

Malam ini kita saksikan ada perayaan yang terus berulang, dinamakan dengan “Perayaan Tahun Baru”.

Padahal hakikatnya perayaan tersebut adalah “Perayaan Tahun Masehi”.

Perayaan ini asalnya adalah syiar dari orang-orang kafir. Seorang muslim tidak boleh ikut merayakan syiar seperti ini.

Di jelaskan oleh para ulama bahwa perayaan ini asalnya dari para penyembah berhala yang ingin menyucikan Dewa mereka yang bernama “Dewa Janus”, dewa orang-orang Romawi.

Ketika Kerajaan Romawi telah berubah menjadi “Kerajaan Kristen”, maka perayaan pada kerajaan tersebut diubah menjadi perayaan orang-orang Nashoro (Kristen).

Sejak saat itu, orang-orang yang merayakan “Perayaan Tahun Baru Masehi adalah orang-orang Kristen.

Sejarah seperti ini harus kita pahami agar kita mengetahui apa yang kita lakukan, sebab pada zaman ini sebagian manusia banyak yang ikut-ikutan dalam memperingati kaum Nashoro dalam melakukan “Perayaan Tahun Baru Masehi”.

Dalam hadits riwayat Al-Bukhari, Nabi _Shallallahu ‘Alayhi Wa Sallam_ menjelaskan,

لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ دَخَلُوا فِي جُحْرِ ضَبٍّ لَاتَّبَعْتُمُوهُمْ قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ آلْيَهُودَ وَالنَّصَارَى قَالَ فَمَنْ

“Sungguh, kalian benar-benar akan mengikuti kebiasaan orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta, sehingga sekiranya mereka masuk ke dalam lubang dhob (sejenis biawak) pun, kalian pasti kalian akan mengikuti mereka.

” Kami bertanya; “Wahai Rasulullah, apakah mereka itu Yahudi dan Nasrani?” Beliau menjawab: “Siapa lagi kalau bukan mereka!” (HR. Muslim no. 4822)

Ini sudah diingatkan oleh Nabi sejak 14 abad yang lalu, sebelum terjadinya perayaan-perayaan seperti ini di tengah kaum muslimin.

Hal ini telah di peringatkan oleh Nabi  _Shallallahu ‘Alayhi Wa Sallam_.

Nabi  _Shallallahu ‘Alayhi Wa Sallam_ telah menjelaskan kepada umatnya bahwa umat Islam hanya memiliki 2 hari raya!

Di masa Nabi  _Shallallahu ‘Alayhi Wa Sallam_, sebelum datangnya islam, di kalangan orang-orang Madinah, ada perayaan yang dikenal dengan “Perayaan Nairuz” dan “Perayaan Mahrojan”.

Kemudian ketika Nabi  _Shallallahu ‘Alayhi Wa Sallam_ datang, maka Nabi  _Shallallahu ‘Alayhi Wa Sallam_ pun menghapus 2 perayaan tersebut.

Disebutkan dalam sebuah riwayat :

عَنْ أَنَسٍ قَالَ

Rasulullah _Shallallahu ‘Alayhi Wa Sallam_ bersabda:

” قَدِمْتُ عَلَيْكُمْ وَلَكُمْ يَوْمَانِ تَلْعَبُونَ فِيهِمَا، فَإِنَّ اللهَ قَدْ أَبْدَلَكُمْ يَوْمَيْنِ خَيْرًا مِنْهُمَا، يَوْمَ الْفِطْرِ، وَيَوْمَ النَّحْرِ “

“Aku datang kepada kalian, sedang dahulu kalian memiliki dua hari yang kalian dahulu bermain-main (berpesta pora) di dalamnya. Sesungguhnya Allah telah menggantikan bagi kalian dengan dua hari yang lebih baik daripada keduanya (Nairuz dan Mahrojan) : yaitu Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adh-ha.” [HR. Abu Dawud (no. 1134) dan Ahmad (12827). Al-Albaniy menyatakannya shohih dalam Ash-Shohihah (no. 2021)]

Di dalam hadits ini, Nabi _Shallallahu ‘Alayhi Wa Sallam_ menghapuskan semua jenis hari raya, seperti Mahrojan dan Nairuz (yang selalu diperingati sebagai awal tahun di masa jahiliah di kalangan Bangsa Persia dan Arab), serta semua hari-hari peringatan dihapus oleh beliau sejak saat itu!

Kemudian, Nabi _Shallallahu ‘Alayhi Wa Sallam_ juga memperingatkan bahwa seorang muslim tidak boleh mengikuti syiar dan kekhususan orang-orang kafir, ritual-ritual mereka.

Kata Nabi Shallallahu ‘Alayhi Wa Sallam dalam suatu riwayat :

وَمَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum maka dia termasuk dari mereka.” [HR. Ahmad (no. 5409) dan Abu Dawud dalam Sunan-nya (4031). Di-hasan-kan oleh Syaikh Al-Albaniy]

Ini tegas dari Nabi Shallallahu ‘Alayhi Wa Sallam!

Jadi, seorang muslim itu punya syiar agama, punya simbol agama, serta punya jalan dalam beragama!

Jangan kita ikut dan membebek kepada orang-orang kafir.

Sejak kecil, kita telah diajarkan sebuah suroh dari Al-Qur’an oleh orang-orang tua kita, yaitu :

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,

لَـكُمْ دِيْنُكُمْ وَلِيَ دِيْنِ

“Untukmu agamamu, dan untukku agamaku.”

(QS. Al-Kafirun : 6)

Ini perlu saya ingatkan agar kaum muslimin itu jangan bersifat latah, mengikut, mengekor dalam beragama atau melakukan perayaan-perayaan yang tidak disyariatkan dalam agama kita.

Karena, simbol-simbol seperti ini (yakni, “Perayaan Tahun baru Masehi”, misalnya) haram hukumnya.

Siapa yang telah mengetahui hal ini, namun dia tetap merayakannya, maka dia sudah melakukan dosa besar! Bahkan lambat laun dia bisa terjatuh ke dalam kekafiran, akibat meniru-niru syiar-syiar dan symbol agama Kristen, semisal : “Perayaan Tahun Baru Masehi” ini, atau “Perayaan Valentine Day’s”, “Perayaan Haloween”, “Perayaan April Mop”, dan lain sebagainya diantara perayaan-perayaan kaum Kristen yang diadopsi oleh sebagian umat Islam yang memiliki dasar agama yang dangkal.

Semoga Allah _azza wa jalla_ memberi taufiq bagi seluruh kaum muslimin agar kembali berpegang dengan Islam secara total dan menjauhi syiar-syiar agama lain! Wallohul Musta’an.

Jadi kembali saya ingatkan bahwa malam hari ini bukan hari raya kita, malam ini kita berjalan, kita beraktivitas seperti pada malam-malam biasanya.

Terakhir, perlu kami jelaskan bahwa ketika kami tegaskan bahwa “Perayaan Tahun Baru Masehi” adalah sebuah kemungkaran, jangan dipahami bahwa “Perayaan Tahun Baru Hijriah” adalah perkara yang disyariatkan dan dianjurkan.

Kami tegaskan bahwa “Perayaan Tahun Baru Hijriah” juga adalah kemungkaran dan bid’ah yang tidak memiliki dasar dalam Islam! Ia adalah perkara yang diada-adakan dalam agama dan juga mengandung unsur “tasyabbuh” (meniru) “Perayaan Tahun Baru Masehi”, dan meniru mereka dalam hal itu adalah terlarang!

NB : Kami telah menelaah ulang tulisan di atas, disertai tambahan faedah dan penjelasan.

Tulisan di atas adalah Nasihat Singkat yang Kami Sampaikan di Masjid Darul Falah, Pampang, Makassar, 2018. Ditranskrip oleh : Abu Dzar Muhammad Rafli 

Sumber: https://abufaizah75.blogspot.com/

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Tulisan lainnya

Tulis komentar

Logged in as admin. Log out »




jannatul-firdaus.net @2018