Berlindung dari Lima Tipe Manusia Berbahaya


| Menu

| MENU

Bagikan…

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram



Berlindung dari Lima Tipe Manusia Berbahaya

  • Oleh: Ustadz Abdul Qodir Abu Fa’izah, Lc. hafizhahullah
  • [Pembina Ponpes Al-Ihsan Gowa]

Manusia dalam pergaulan dunia ini memiliki banyak tipe. Ada yang menyenangkan dan membawa berkah atau kebaikan, dan ada yang menyusahkan dan memberikan keburukan kepada yang lain. Lantaran itu, selayaknya seorang mukmin berhati-hati dalam bersahabat, memilih tetangga, mendidik anak, mencari pasangan hidup dan mengusahakan harta benda duniawi.

Jika seseorang salah langkah dalam memilih dan mencari hal-hal tersebut, maka ia akan mendapatkan kesusahan hidup dan kesengsaraan di dunia dan boleh jadi di akhirat. Tetangga yang buruk akan banyak menimbulkan masalah dan keburukan bagi saudaranya yang lain. Tetangga buruk merupakan beban berat yang melebihi beratnya batu besar dan besi berat!!

Konon kabarnya, Luqman Al-Hakim –rahimahullah– pernah berpesan kepada anaknya,

يَا بُنَيَّ حَمَلْتُ الْجَنْدَلَ وَالْحَدِيدَ وَكُلَّ شَيْءٍ ثَقِيلٍ، فَلَمْ أَجِدْ شَيْئًا هُوَ أَثْقَلَ مِنْ جَارِ السَّوْءِ

“Wahai anakku, aku telah memikul  batu besar dan besi serta segala sesuatu yang berat. Namun aku tak pernah memikul sesuatu yang lebih berat dibandingkan tetangga yang buruk.” [Atsar Riwayat Ibnu Mubarok dalam Az-Zuhd (no. 991), Ahmad dalam Az-Zuhd (hlm. 105), Al-Marwaziy dalam Al-Birr wa Ash-Shilah (no. 225 & 261), Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushonnaf (no. 34296), Ibnu Abid-Dun-ya dalam Makarim Al-Aklahq (no. 351), dan Abu Bakr Al-Baihaqiy dalam Syu’abul Iman (no. 4891)]

Istri yang buruk perangai akan sering menimbulkan kesusahan bagi suaminya akibat kedurhakaan dan pembangkangannya, sehingga membuat pikiran suaminya jadi berat dan ia berubah jadi beruban sebelum waktunya, lantaran memikirkan segala hal yang muncul dari sikap buruk istrinya.

Anak durhaka tak kalah masalahnya. Ia akan membebani dan memperlakukan kedua orang tuanya layaknya budak sahaya yang hina. Padahal orang tua, apalagi di masa tuanya, seorang anak harus memuliakannya. Tapi dasar anak durhaka, ia menghinakan orang tuanya!!

Harta yang tidak berkah, akibat tak dihasilkan dari sesuatu yang halal atau dibelanjakan dalam sesuatu yang haram dan tak berguna.

Kadang juga harta benda itu disimpan oleh pemiliknya, tanpa dikeluarkan zakatnya. Harta yang seperti ini akan menjadi adzab (siksaan) bagi pemiliknya kelak di dunia, dan boleh jadi di akhirat.

Berapa banyak orang yang hidup dengan harta benda yang melimpah, justru harta itu malah menjadi siksaan baginya. Siang-malam ia pikirkan sampai ia tak bisa tidur. Harta benda menjadikan sebagian orang hancur.

Rumah tangganya rusak akibat anak-anak hidup mewah, tanpa ia didik agar ia gunakan di jalan kebaikan dan ketaatan.

Fakta lain menunjukkan bahwa banyak orang yang punya harta yang berlebihan, namun mereka tak dapat menikmatinya, karena ia hidup boros. Punya income (pendapatan) yang banyak namun tak terasa habis, tanpa dinyana. Ini merupakan tanda tercabutnya berkah dari harta itu dan pemiliknya.

Itulah rahasianya Rasulullah –Shallallahu alaihi wa sallam– pernah berlindung kepada Allah agar dilindungi dari lima golongan makhluk yang harus diwaspadai, ditakuti dan dijauhi!!!

Abu Hurairah Ad-Dausiy  –radhiyallahu anhu– berkata,

كَانَ مِنْ دُعَاءِ رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ جَارِ السُّوءِ وَمِنْ زَوْجٍ تُشَيِّبُنِي قَبْلَ الْمَشِيبِ وَمِنْ وَلَدٍ يَكُونُ عَلَيَّ رِبًا وَمِنْ مَالٍ يَكُونُ عَلَيَّ عَذَابًا وَمِنْ خَلِيلٍ مَاكِرٍ عَيْنَهُ تَرَانِي وَقَلْبُهُ تَرْعَانِي إِنْ رَأَى حَسَنَةً دَفَنَهَا وَإِذَا رَأَى سَيِّئَةً أَذَاعَهَا

“Diantara doa Rasulullah –Shallallahu alaihi wa sallam-,

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ جَارِ السُّوءِ وَمِنْ زَوْجٍ تُشَيِّبُنِي قَبْلَ الْمَشِيبِ وَمِنْ وَلَدٍ يَكُونُ عَلَيَّ رِبًا وَمِنْ مَالٍ يَكُونُ عَلَيَّ عَذَابًا وَمِنْ خَلِيلٍ مَاكِرٍ عَيْنَهُ تَرَانِي وَقَلْبُهُ تَرْعَانِي إِنْ رَأَى حَسَنَةً دَفَنَهَا وَإِذَا رَأَى سَيِّئَةً أَذَاعَهَا

“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari tetangga yang buruk, dari istri yang membuatku beruban sebelum masa beruban, dari anak yang menjadi tuan bagiku, dari harta yang menjadi siksaan atasku dan dari kawan yang berbuat makar; matanya memandangiku, sedang hatinya mengawasiku. Jika ia melihat kebaikan, maka ia tanam (sembunyikan) dan jika melihat keburukan, maka ia menyebarkannya”. [HR. Hannad dalam Az-Zuhd (no. 1038) dan Ath-Thobroniy dalam Al-Mu’jam Al-Awsath (no. 1339). Hadits ini dinilai shohih oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Ash-Shohihah (no. 3137)]

Hadits ini merupakan lautan faedah yang memendam banyak mutiara hikmah yang dapat kita gali. Itulah lentera wahyu yang memancarkan cahaya melalui lisan Rasul dan manusia terbaik, Nabi Muhammad –Shallallahu alaihi wa sallam-.

Di dalam hadits ini Rasulullah –Shallallahu alaihi wa sallam– mengingatkan kita tentang lima golongan makhluk yang harus diwaspadai, jangan sampai menjerumuskan kita ke dalam lembah kebinasaan.

Ini merupakan bukti bahwa Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- adalah nabi yang amat sayang kepada manusia.

Allah -Azza wa Jalla- berfirman,

لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ  [التوبة/128]

“Sungguh telah datang kepada kalian seorang Rasul dari kaum kalian sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin”. (QS. At-Taubah : 128)

Al-Imam Al-Mufassir Muhammad Al-Amin Al-Janakiy Asy-Syinqithiy –rahimahullah– berkata,

هَذِهِ الْآيَةُ الْكَرِيمَةُ تَدُلُّ عَلَى أَنَّ بَعْثَ هَذَا الرَّسُولِ الَّذِي هُوَ مِنْ أَنْفُسِنَا الَّذِي هُوَ مُتَّصِفٌ بِهَذِهِ الصِّفَاتِ الْمُشْعِرَةِ بِغَايَةِ الْكَمَالِ ، وَغَايَةِ شَفَقَتِهِ عَلَيْنَا – هُوَ أَعْظَمُ مِنَنِ اللَّهِ تَعَالَى ، وَأَجْزَلُ نِعَمِهِ عَلَيْنَا ، وَقَدْ بَيَّنَ ذَلِكَ فِي مَوَاضِعَ أُخَرَ (أضواء البيان في إيضاح القرآن بالقرآن – (2 / 149))

“Ayat yang mulia ini menunjukkan bahwa pengutusan Rasul (yakni, Nabi Muhammad -Shallallahu alaihi wa sallam-) yang berasal dari bangsa kita sendiri (yakni, bangsa manusia). Beliau adalah orang yang tersifati dengan sifat-sifat yang menggambarkan puncak kesempurnaan dan puncak kasih sayang kepada kita. Semua ini merupakan karunia terbesar dari Allah -Ta’ala- dan nikmat yang teragung bagi kita. Sungguh Allah telah menjelaskan hal itu dalam beberapa tempat yang lain”. [Lihat Adhwa’ Al-Bayan (2/149), karya Asy-Syinqithiy, cet. Dar Al-Fikr, Lebanon, 1415 H]

Diantara puncak kasih beliau atas manusia, beliau mengingatkan kita dari berbagai bahaya dan keburukan yang akan menyusahkan kita dalam kehidupan dunia atau mungkin juga di akhirat sebagaimana yang ada dalam hadits di atas. Nas’alullahal afiyah was salamah min syarri dzalik.

Faedah dan Ibrah dari Hadits di Atas

Diantara faedah dan ibrah yang dapat dipetik dari hadits yang mulia ini,

1) Hendaknya seorang muslim senantiasa berdoa dan berlindung kepada Allah, bukan kepada makhluk. Sebab, permohonan dan doa seperti ini adalah ibadah yang harus dipersembahkan kepada Allah saja!!

2) Hadits ini merupakan isyarat tentang semangat para sahabat yang kuat dalam menyampaikan ilmu dengan meriwayatkan hadits-hadits yang berisi perilaku dan sabda-sabda Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-. Andaikan bukan jasa mereka dalam meriwayatkan sunnah dari Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-, maka generasi setelahnya tak akan mengenal Islam.

3) Selayaknya seseorang memilih tetangga yang baik dan berdoa agar dihindarkan dari keburukannya. Tetangga yang buruk seringkali menyeret kepada keburukan, sedang tetangga yang baik akan mengajak dan membimbing kita kepada jalan-jalan kebaikan.

4) Seseorang yang ingin mencari pasangan hidup hendaknya berlindung kepada Allah agar ia dihindarkan dari istri yang buruk perangainya. Saking buruknya, ia telah membuat suaminya beruban dan tua, akibat ulah sang istri yang amat memberatkan pikiran dan jasmani suaminya.

5) Diantara bentuk kedurhakaan seorang anak, ia memperlakukan orang tuanya laksana budak yang hina.

6) Harta yang tidak digunakan di jalan kebaikan akan menjadi senjata dan siksaan yang akan menyengsarakan pemiliknya.

7) Waspadailah dan jauhilah sahabat buruk yang suka memata-matai temannya, lalu menyebarkan aibnya dan mengubur segala kebaikan temannya.

8) Diantara bentuk baiknya persahabatan, seseorang menyebutkan kebaikan sahabatnya dan menyembunyikan aibnya.

Para pembaca yang budiman, inilah sebagian faedah yang dapat kami petik dari hadits ini. Semoga bermanfaat. Washollallahu ala nabiyyina wa alihi wa shohbihi ajma’in.

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Tulis komentar

Logged in as admin. Log out »




Tulisan lainnya

jannatul-firdaus.net @2022

Pesona Kemuliaan di Balik Dua Sifat yang Indah


| Menu

| MENU

Bagikan…

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram



Pesona Kemuliaan
di Balik Dua Sifat yang Indah

  • Oleh: Ustadz Abdul Qodir Abu Fa’izah, Lc. hafizhahullah
  • [Pembina Ponpes Al-Ihsan Gowa]

Seorang hamba yang mau meraih kemuliaan selayaknya memiliki dua sifat mulia: Pertama, tidak berharap-harap dan berkhayal mendapatkan sesuatu dari harta benda yang dimiliki oleh manusia. Tapi ia merasa cukup dengan karunia dan pemberian Allah. Kedua, ia menjadi seorang yang pemaaf bagi manusia jika muncul dari mereka sesuatu yang tidak menyenangkan hatinya berupa kekeliruan, kekurangan dan khilaf yang muncul dari manusia biasa selama tidak sengaja melanggar batasan syariat.

Al-Imam Ayyub As-Sikhtiyaniy rahimahullah– berkata,

لاَ يَسْتَوِي الْعَبْدُ أَوْ لاَ يَسُوْدُ الْعَبْدُ حَتَّى يَكُوْنَ فِيْهِ خَصْلَتَانِ الْيَأْسُ مِمَّا فِيْ أَيْدِي النَّاسِ وَالتَّغَافُلُ عَمَّا يَكُوْنُ مِنْهُمْ

“Seorang hamba tak akan sempurna atau mulia sampai ada dua perkara pada dirinya: Berputus asa dari sesuatu yang ada di tangan manusia dan lalai dari sesuatu yang muncul dari mereka”. [Lihat Hilyah Al-Awliya’ (3/5) oleh Abu Nu’aim Al-Ashbahaniy]

Inilah dua sifat dan perangai yang harus dijaga oleh seorang hamba agar ia dimuliakan oleh Allah serta dicintai oleh manusia yang hidup di sekitarnya. Sebaliknya ia akan dibenci dan dijauhi oleh manusia jika memiliki sifat serakah dan sifat marah atau tidak sabar.

Seorang di saat yakin terhadap taqdir Allah -Tabaroka wa Ta’ala-, maka hatinya tak akan tergantung dengan sesuatu yang dimiliki oleh orang lain. Ia tak akan mengemis, meminta-minta dan tidak pula hasad dan cemburu dengan harta benda dan perhiasan yang dimiliki oleh orang lain.

Allah -Azza wa Jalla- menerangkan hal itu di dalam Al-Qur’an,

وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا كُلٌّ فِي كِتَابٍ مُبِينٍ  [هود : 6]

“Dan tidak ada suatu binatang melata (yakni, makhluk) pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezkinya, dan dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh mahfuzh)”. (QS. Huud : 6)

Di dalam ayat ini, Allah -Azza wa Jalla- menjelaskan bahwa rezqi semua makhluk telah ditanggung oleh Allah -Azza wa Jalla-. Setiap makhluk telah ditetapkan rezqinya masing-masing. Tak ada makhluk yang mendapatkan rezqi, kecuali memang itu telah menjadi bagian dan nasibnya. Demikianlah rezqi makhluk telah disempurnakan bagi setiap diantara mereka sampai mereka mati. Artinya, tak ada makhluk yang mati, selain ia telah mendapatkan semua bagiannya berupa rezqi.

Abul Fida Ibnu Katsir Ad-Dimasyqiy –rahimahullah– berkata,

أخبر تعالى أنه متكفل بأرزاق المخلوقات، من سائر دواب الأرض، صغيرها وكبيرها، بحريها، وبريها، وأنه { يَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا } أي: يعلم أين مُنتهى سيرها في الأرض، وأين تأوي إليه من وكرها، وهو مستودعها.

“Allah -Ta’ala- mengabarkan bahwa Dia-lah yang menanggung semua rezqi makhluk-makhluk dari kalangan seluruh makhluk di bumi, yang kecil, maupun yang besar, yang di laut, maupun di darat; dan bahwa Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya, yakni mengetahui dimana akhir perjalanan makhluk-makhluk di bumi dan dimana ia kembali berupa sarang, yaitu tempat peraduannya”. [Lihat Tafsir Ibni Katsir (4/305)]

Jika seorang hamba meyakini perkara yang ada dalam ayat ini, maka ia akan meraih sifat zuhud, tak akan mengemis dari para makhluk, tak akan tertimpa sifat hasad yang tercela dan hatinya selalu lapang, sebab ia yakin bahwa semua itu telah ditakdirkan oleh Allah -Azza wa Jalla-.

Al-Imam Al-Hafizh Ibnu Rajab Al-Hambaliy –rahimahullah– berkata,

فمن حقق اليقين وثق بالله في أموره كلها ورضي بتدبيره له وانقطع عن التعلق بالمخلوقين رجاء وخوفا ومنعه ذلك من طلب الدنيا بالأسباب المكروهة ومن كان كذلك كان زاهدا في الدنيا حقيقة وكان من أغني الناس وإن لم يكن له شيء من الدنيا

“Barangsiapa yang merealisasikan keyakinan, maka ia akan percaya kepada Allah dalam setiap urusannya, ridho terhadap pengaturan-Nya, putus dari sikap ketergantungan kepada para makhluk, baik dalam hal mengharap atau takut, dan hal itu mencegahnya dari mencari dengan sebab-sebab (sarana) yang dibenci. Barangsiapa yang demikian, maka ia adalah orang yang zuhud terhadap dunia pada hakikatnya dan ia adalah manusia yang paling kaya, walaupun ia tak memiliki sesuatu apapun dari dunia ini”. [Lihat Jami’ Al-Ulum wal Hikam (hal. 290)]

Orang-orang yang seperti ini akan senantiasa terjaga kehormatannya di hadapan manusia. Ia akan dihargai oleh mereka, sebab ia tak pernah menampakkan kehinaannya dengan meminta-minta dan mengemis kepada manusia. Jika ia selalu menjaga wibawa dan kehormatannya, maka ia akan dicintai oleh sesama manusia

Demikian pula ia akan semakin dicintai oleh manusia jika ia memiliki sifat pemaaf terhadap kesalahan yang muncul dari sebagian manusia, yakni kesalahan yang masih bisa ditolerir, kesalahan yang muncul dari kelalaian, dan kejahilan. Kesalahan seperti ini tak akan luput dari manusia biasa.

Jika ada orang yang bersalah dan zhalim kepada dirinya, maka ia maafkan mereka di saat mereka meminta maaf kepadanya. Inilah ciri ketaqwaan yang diisyaratkan oleh Allah dalam firman-Nya,

وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ (133) الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ  [آل عمران : 133 ، 134]

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa,  (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan”. (QS. Ali Imraan : 133-134)

Disini anda perhatikan, Allah sebutkan bahwa orang yang pemaaf tergolong orang yang berbuat baik. Dengan perbuatan baiknya ia dicintai oleh Allah –Azza wa Jalla– dan tentunya ia juga akan dicintai oleh makhluk!!

Jika Allah mencintai seseorang, maka para malaikat dan semua makhluk  akan mencintainya.

Nabi –Shallallahu alaihi wa sallam– bersabda,

إِذَا أَحَبَّ اللَّهُ عَبْدًا نَادَى جِبْرِيلَ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ فُلَانًا فَأَحِبَّهُ فَيُحِبُّهُ جِبْرِيلُ فَيُنَادِي جِبْرِيلُ فِي أَهْلِ السَّمَاءِ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ فُلَانًا فَأَحِبُّوهُ فَيُحِبُّهُ أَهْلُ السَّمَاءِ ثُمَّ يُوضَعُ لَهُ الْقَبُولُ فِي أَهْلِ الْأَرْض

“Apabila Allah mencintai seorang hamba, maka Dia akan memanggil Jibril, “Sesungguhnya Allah telah mencintai fulan, maka cintailah dia”, lalu Jibril pun mencintainya. Kemudian Jibril berkumandang di kalangan penduduk langit, “Sesungguhnya Allah telah mencintai fulan, maka cintailah dia”, lalu penduduk langit pun mencintainya, lalu ditetapkanlah bagi orang itu penerimaan di kalangan penduduk bumi”. [HR. Al-Bukhoriy dalam Shohih-nya (no. 6040) dan Muslim dalam Shohih-nya (2637)]

Ini merupakan mutiara ilmu yang amat berharga bahwa seorang hamba bila ia dicintai oleh Allah, maka ia pun akan dicintai oleh makhluk. Allah akan gerakkan hati para makhluk untuk mencintainya. Nah, disini ada isyarat bahwa kecintaan makhluk kepada seorang hamba merupakan tanda cintanya Allah -Azza wa Jalla- kepada hamba itu. Apalagi yang mencintai hamba itu dari kalangan orang-orang sholih lagi mukmin.

Al-Imam Badruddin Al-Ainiy Al-Hanafiy -rahimahullah- berkata,

ويفهم منه أن محبة قلوب الناس علامة محبة الله عز وجل

“Dipahami darinya bahwa kecintaan hati para manusia merupakan tanda kecintaan Allah -Azza wa Jalla- (kepada seorang hamba)”. [Lihat Umdah Al-Qori (32/223)]

Para pembaca yang budiman, inilah dua sifat mulia jika ada pada diri seorang hamba, maka akan dicintai oleh sesama manusia, bahkan ia akan dicintai oleh Allah dan seluruh makhluk!!

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Tulis komentar

Logged in as admin. Log out »




Tulisan lainnya

jannatul-firdaus.net @2022

Menyombongkan Diri telah Membinasakanmu


| Menu

| MENU

Bagikan…

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram



Menyombongkan Diri telah Membinasakanmu

  • Oleh: Ustadz Abdul Qodir Abu Fa’izah, Lc. hafizhahullah
  • [Pembina Ponpes Al-Ihsan Gowa]

Suatu perkara yang membuat sebagian orang jauh dari kebenaran dan tak mau rujuk kepadanya, adanya sifat sombong pada dirinya. Kesombongan itu telah bercokol dalam dirinya karena dilatari oleh beberapa sebab, seperti ia melihat dirinya lebih tinggi dan mulia, sedang orang lain lebih hina dan rendah di matanya!!

Lebih miris lagi, bila kesombongan menjadi pendorong bagi kita dalam membela kebatilan dan para pelakunya, seperti yang dilakukan oleh sebagian orang munafikin Indonesia; rela menolak kebenaran demi membela kekafiran dan pemeluknya. Di lain sisi, ketika Islam dan Al-Qur’an dilecehkan, malah ia tenang dan hatinya yang membatu tidak bergeming sedikitpun, bahkan memberikan pembelaan kepada kaum penghina Al-Qur’an, lalu selanjutnya berusaha dengan gigihnya menjatuhkan kredibilitas dan kedudukan tinggi para ulama umat.

Wahai si sombong sayangilah dirimu!! Sikapmu yang arogan tidak akan menolongmu di sisi Allah -Tabaroka wa Ta’ala-, sebagaimana Iblis dan Fir’aun justru hina akibat kesombongannya.

Kesombongan sebagaimana yang dijelaskan oleh Nabi –Shallallahu alaihi wa sallam– dalam sabdanya,

الْكِبْرُ: بَطْرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ

“Kesombongan itu adalah menolak kebenaran dan memandang remeh orang lain”. [HR.Muslim dalam Shohih-nya (91)]

Menolak kebenaran dan memandang remeh orang lain lahir dari kesombongan, bahkan ia adalah kesombongan itu sendiri.

Kesombongan membuat orang jauh dari petunjuk Allah -Azza wa Jalla-. Itulah sebabnya Iblis membangkang perintah Allah untuk bersujud kepada Adam –alaihissalam-, sebab ia memandang remeh dan hina Nabi Adam dari sisi asal penciptaan.

Allah –Ta’ala– berfirman dalam mengisahkan kesombongan Iblis,

قَالَ يَا إِبْلِيسُ مَا مَنَعَكَ أَنْ تَسْجُدَ لِمَا خَلَقْتُ بِيَدَيَّ أَسْتَكْبَرْتَ أَمْ كُنْتَ مِنَ الْعَالِينَ (75) قَالَ أَنَا خَيْرٌ مِنْهُ خَلَقْتَنِي مِنْ نَارٍ وَخَلَقْتَهُ مِنْ طِينٍ (76) قَالَ فَاخْرُجْ مِنْهَا فَإِنَّكَ رَجِيمٌ (77) وَإِنَّ عَلَيْكَ لَعْنَتِي إِلَى يَوْمِ الدِّينِ (78) قَالَ رَبِّ فَأَنْظِرْنِي إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ (79) قَالَ فَإِنَّكَ مِنَ الْمُنْظَرِينَ (80) إِلَى يَوْمِ الْوَقْتِ الْمَعْلُومِ (81) قَالَ فَبِعِزَّتِكَ لَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ (82) إِلَّا عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِينَ (83)  [ص/75-83]

“Allah berfirman: “Hai Iblis, apakah yang menghalangi kamu bersujud kepada yang telah Ku-ciptakan dengan kedua tangan-Ku. Apakah kamu menyombongkan diri ataukah kamu (merasa) termasuk orang-orang yang (lebih) tinggi?”.  Iblis berkata, “Aku lebih baik daripadanya. Karena Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah”.  Allah berfirman, “Maka keluarlah kamu dari surga; Sesungguhnya kamu adalah orang yang terkutuk.  Sesungguhnya kutukan-Ku tetap atasmu sampai hari pembalasan”. Iblis berkata, “Ya Tuhanku, beri tangguhlah aku sampai hari mereka dibangkitkan”. Allah berfirman, “Sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang diberi tangguh, sampai kepada hari yang telah ditentukan waktunya (hari kiamat)”.  Iblis menjawab, “Demi kekuasaan-Mu, aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlis (diberi keikhlasan) di antara mereka”. (QS. Shood : 75-83)

Lihatlah Iblis yang memandang remeh Nabi Adam dengan dalih aqli yang masih bisa dipatahkan dengan mudah. Tapi karena kesombongan di hatinya, maka ia lebih memilih tak bersujud sehingga ia pun diusir.

Ketika Iblis diusir, ia tak bertobat, bahkan ia menjadi-jadi dalam pembangkangan dan kesombongannya dalam menentang perintah dan petunjuk Allah –Azza wa Jalla-.

Subhanallah, demikianlah sifat orang-orang sombong, ia enggan menerima nasihat dan arahan, walapun ia jelas-jelas salah dan menentang kebenaran.

Sebaliknya, Adam saat bersalah, ia bertobat di hadapan Tuhan-nya sebagaimana yang Allah abadikan dalam Al-Qur’an,

قَالا رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ  [الأعراف/23]

“Keduanya berkata, “Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi”. (QS. Al-A’raaf : 23)

Demikianlah sifat orang yang diberi hidayah, ia bertobat dan meminta ampunan dosanya selama ini serta bersegera rujuk kepada kebenaran.

Para pembaca yang budiman, kesombongan adalah penyakit berbahaya yang dapat menjangkiti semua kalangan, kecuali orang-orang yang dirahmati oleh Allah.

Hendaknya setiap orang berusaha dan membiasakan diri menerima kebenaran dari siapa saja, baik dari orang yang lebih mulia, maupun dari orang yang lebih rendah darinya.

Semua kalangan, mungkin untuk dijangkiti penyakit sombong, baik itu pemerintah, maupun rakyat atau ustadz yang berilmu, maupun santri.

Ketahuilah kesombongan jangan dianggap remeh!! Seorang jangan tertipu bahwa dirinya adalah seorang ustadz atau ulama, lalu ia tak akan terjangkiti penyakit berbahaya ini. Tidaklah demikian, bahkan yang sering terjangkiti penyakit ini adalah orang-orang yang diberi kelebihan ilmu, atau harta benda, atau kedudukan, atau kekuasaan!!

Alangkah banyaknya orang-orang yang berilmu dari kalangan ulama dan ustadz yang menyangka dirinya memiliki segudang ilmu, namun di saat ia diuji dengan kebenaran yang datang dari orang yang lebih rendah daripada dirinya dari sisi ilmu, maka ia serta-merta menolak kebenaran, walapun nyata-nyata ia salah. Sikap meremehkan orang lain, membuatnya gengsi menerima dan rujuk kepada al-haqq (kebenaran).

Al-Imam Sufyan bin Uyainah Al-Kufiy rahimahullah– berkata, 

ليس العاقل الذي يعرف الخير والشر، وإنما العاقل الذي إذا رأى الخير اتبعه وإذا رأى الشر اجتنبه” (الحلية) (8 / 339)

“Bukanlah orang yang berakal itu adalah orang yang sekedar mengetahui kebaikan dan keburukan. Hanyalah orang yang berakal itu adalah orang yang bila melihat kebenaran, maka ia mengikutinya; jika ia melihat keburukan, maka ia jauhi”. [Lihat Hilyah Al-Auwliya’ (8/339)]

Orang-orang yang berilmu seperti ini kadang tidak menyadari dirinya telah terjerumus dalam kubang kesombongan, sehingga ia pun berusaha mendatangkan berbagai argumen dan dalih yang amat lemah demi menguatkan pendapatnya.

Selayaknya orang yang berilmu, semakin tawadhu di saat ilmu bertambah, bukan semakin sombong. Inilah tanda kebahagiaan seorang hamba.

Hanya saja sebagian orang-orang yang binasa dengan kesombongannya, bila ia diberi ilmu tentang Al-Kitab dan Sunnah, maka iapun semakin tinggi hati, sombong dan congkak, sehingga ia tak mau menerima nasihat dan kebenaran dari orang lain.

Ini adalah tanda kesengsaraan seorang hamba. Orang sombong seperti ini biasanya berlagak layaknya seorang nabi yang tak pernah salah.

Orang yang sombong dengan ilmunya,  jika ia keliru, maka ia akan berusaha mencari-cari dalil bagi pendapat batilnya, bukan malah rujuk kepada pendapat yang haqq (benar).

Prinsipnya, semua pendapat orang salah, kecuali yang bersesuaian dengan pendapatnya. Subhanallah, orang yang lebih baik saja daripada dirinya tak pernah berkata demikian.

Ya, demikianlah kesombongan menguasai hatinya dan merusaknya sehingga yang haqq, ia anggap batil, lalu yang batil ia anggap haqq.

Al-Imam Abu Abdillah Ibnu Qoyyim Al-Jawziyyah -rahimahullah- berkata dalam kitabnya Al-Fawa’id,

من علامات السعادة والفلاح: أنَّ العبد كُلَّما زيدَ في عِلْمِه زِيْدَ في تواضعهِ ورَحْمَتِهِ، وكُلَّما زِيدَ في عملهِ زِيدَ في خَوْفِهِ وحذَرِهِ، وكُلَّما زِيدَ في عمرهِ نَقَصَ مِنْ حِرْصِهِ، وكُلَّما زِيدَ في مالهِ زِيْدَ في سَخَائِهِ وبذلهِ، وكُلَّما زيدَ في قَدْرِهِ وَجَاهِهِ زيدَ في قُرْبِهِ مِنَ النَّاسِ وقضاءِ حوائجهم والتَّواضع لهم.

“Diantara tanda-tanda kebahagian dan keberuntungan bahwa seorang hamba, setiap kali diberi tambahan ilmu, maka ia pun diberi tambahan tawadhu’ dan kasih sayangnya. Setiap kali diberi tambahan ilmu, maka ia pun diberi tambahan sifat takut dan waspada. Setiap kali diberi tambahan umur, maka sikap rakusnya berkurang. Setiap kali ia diberi tambahan harta, maka diberi tambahan sifat pemurah dan berkorban. Setiap kali ia diberi tambahan kemuliaan dan kedudukan, maka ia diberi tambahan kedekatan kepada manusia dan ia semakin memenuhi hajat-hajat manusia serta tawadhu’ (rendah diri) kepada mereka.

Tanda-tanda kesengsaraan (bagi seorang hamba) adalah setiap kali diberi tambahan ilmu, maka ia diberi tambahan kesombongan dan kesesatan. Setiap kali ia diberi tambahan amalan, maka ia diberi tambahan kebanggaan dan perendahan terhadap manusia serta berbaik sangka pada diri sendiri. Setiap kali diberi tambahan umur, maka ia diberi tambahan kerakusan. Setiap kali ia diberi tambahan harta benda, maka ia diberi tambahan kebakhilan dan penahanan harta. Setiap kali ia diberi tambahan kemuliaan dan kedudukan, maka ia diberi tambahan kesombongan dan kesesatan.

Perkara-perkara ini adalah ujian dan cobaan dari Allah yang Allah menguji dengannya para hamba-Nya. Lantaran itu, berbahagialah karenanya beberapa kaum dan sengsara karenanya beberapa kaum”. [Lihat Al-Fawa’id (hal. 155), oleh Ibnul Qoyyim, cet. Darul Kutub Al-Ilmiyyah, 1393 H]

Berbangga dengan ilmu yang diperoleh merupakan tanda kesombongan pada diri seorang penuntut ilmu. Penyakit ini banyak menimpa para penuntut ilmu syar’i.

Semua itu menunjukkan tanda kejahilannya. Walaupun banyak ilmu yang ia tulis, dengar dan hafal, namun hakikatnya ia adalah orang yang jahil. Apalah gunanya seorang bergelar “Al-Ustadz” atau “Al-Faqih” dan “Al-Muhaddits”, sementara ia direndahkan oleh sifat hina pada dirinya berupa sifat sombong, takjub dan bangga diri dengan ilmunya?!

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Tulis komentar

Logged in as admin. Log out »




Tulisan lainnya

jannatul-firdaus.net @2022

Cinta Kekuasaan dan Ketenaran telah Menjangkiti Jiwamu


| Menu

| MENU

Bagikan…

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram



Cinta Kekuasaan dan Ketenaran telah Menjangkiti Jiwamu

  • Oleh: Ustadz Abdul Qodir Abu Fa’izah, Lc. hafizhahullah
  • [Pembina Ponpes Al-Ihsan Gowa]

Kekuasaan dan ketenaran adalah dua perkara yang banyak mencelakakan manusia. Kekuasaan akan mendorong manusia untuk memperbanyak dan memperkuat pengikut. Sedangkan ketenaran akan menyeret seseorang untuk menjilat dan mencari-cari perhatian manusia dalam beramal.

Akibatnya, dua penyakit ini membuat para pencintanya akan melakukan segala hal dalam meraih keduanya. Orang-orang yang haus kekuasaan dan ketenaran akan memuaskan hawa nafsu dan tendensi hinanya dengan melakukan segala cara demi meraih hal itu!! Hanya saja caranya kadang halus sekali sehingga tak ada yang tahu, kecuali dia dan Allah –Azza wa Jalla-.

Penyakit cinta kekuasaan dan ketenaran ini, bukan hanya menyerang orang-orang jahil diantara manusia, bahkan ia juga menyerang orang-orang berilmu.

Lantaran itu, setiap orang berilmu dari kalangan ulama, ustadz, dan penuntut ilmu agama, harus waspada dan selalu memeriksa segala perbuatan hatinya. Sebab, penyakit cinta kekuasaan dan ketenaran ini adalah golongan penyakit yang merasuki hati.

Ketahuilah bahwa penyakit cinta kekuasaan dan ketenaran ini merupakan penyakit yang sangat sulit disembuhkan dan diusir dari hati orang yang berilmu, apalagi orang jahil tentang agama!!

Al-Imam Abu Ishaq Asy-Syathibiy –rahimahullah– berkata,

آخر الأشياء نزولاً من قلوب الصَّالحين: حبُّ السُّلطة والتَّصدر

“Perkara yang paling terakhir turun (yakni, keluar) dari hati orang-orang sholih adalah cinta kekuasaan dan ketenaran”. [Lihat Ma’alim fi Thoriq Tholab Al-Ilm (hal. 20), karya Syaikh Abdul Aziz As-Sadhan –hafizhahullah-, cet. Dar Ibnil Haitsam]

Di dalam ucapan Asy-Syathibiy –rahimahullah– ini terdapat isyarat bahwa penyakit cinta kekuasaan dan ketenaran adalah dua penyakit yang amat susah hilang dan keluar dari hati orang-orang sholih, apalagi orang-orang yang bejat dan buruk.

Ishaq bin Kholaf Az-Zahid –rahimahullah– berkata,

والله الذي لا إله إلا هو لإزالة الجبال الرواسي أيسر من إزالة الرياسة.

“Demi Allah Yang tak ada ilah (sembahan) yang haqq, kecuali Dia, sungguh menghilangkan gunung-gunung yang kokoh lebih mudah dibandingkan menghilangkan (cinta kepada) kekuasaan”. [Atsar Riwayat Ibnu Abdil Barr dalam Jami’ Al-Ilm wa Fadhlih (no. 976), dengan tahqiq Abul Asybal Az-Zuhairiy, cet. Dar Ibnil Jauzi]

Bayangkan saja gambaran Az-Zahid di atas, bagaimana susahnya mengatasi dan mengobati penyakit cinta kekuasaan.

Saking susahnya hilang sampai sebagian ulama salaf menganggap bahwa penyakit cinta kekuasaan bagaikan penyakit yang tak ada obatnya.

Seorang diantara mereka berkata,

حبُّ الرِيَاسَةِ داءٌ لاَ دَوَاءَ لَهُ وَقَلَّ مَا تَجِدُ الرَّاضِيْنَ بِالقَسْمِ

“Cinta kekuasaan adalah penyakit yang tak ada obatnya. Jarang anda menemukan orang-orang yang ridho (rela) dengan pembagian (dari Allah)”.

[Lihat kedua atsar ini dalam Jami’ Bayan Al-Ilm wa Fadhlih (1/286-287) karya Ibnu Abdil Barr Al-Qurthubiy, cet. Mu’assasah Ar-Royyan dan Dar Ibni Hazm, 1424 H]

Para penuntut ilmu –secara khusus- harus menyadari bahwa cinta kepada kekuasaan akan membuat pelakunya rakus terhadap keinginan-keinginan dunia yang rendah. Kadang seorang penuntut ilmu hasad kepada temannya, karena dunia. Kadang karena cinta kekuasaan, seorang penuntut ilmu rela memutuskan persahabatannya dengan sahabat karibnya. Nas’alullahal afiyah was salamah.

Ini disebabkan karena ia tidaklah mencari ilmu demi mengamalkannya, tapi ia cari agar dijadikan hiasan dan kebanggaan di depan manusia.

Seorang ulama tabi’in di zamannya, Abu Yahya Malik bin Dinar Al-Bashriy -rahimahullah- berkata,

مَنْ تَعَلَّمَ الْعِلْمَ لِلْعَمَلِ كَسَرَهُ، مَنْ تَعَلَّمَهُ لِغَيْرِ الْعَمَلِ زَادَهُ فَخْرًا

“Barangsiapa yang mempelajari ilmu agama untuk diamalkan, maka ilmu itu akan meredakannya. Barangsiapa yang mempelajarinya bukan untuk diamalkan, maka ilmu akan memberinya tambahan keangkuhan”. [HR. Ibnu Abdil Barr dalam Jami’ Bayan Al-Ilm wa Fadhlih (1/288)]

Disinilah sisi keterkaitan antara cinta kekuasaan dan cinta ketenaran. Keduanya menyeret seseorang untuk beramal demi selain Allah.

Cinta ketenaran akan membuat pelakunya susah menghadirkan keikhlasan dalam hatinya. Dalam beramal, ia tak jujur kepada Allah. Sebab, ia mau beramal jika ada sesuatu yang dapat mengangkat namanya demi mencapai ketenaran.

Jika suatu amalan tak bisa membuat dirinya masyhur dan dikenal oleh orang, maka ia malas melangkah dalam melakukan amalan itu.

Sebuah contoh, seorang ulama atau dai –misalnya-, ia tak mau bersabar tinggal di rumah atau pesantrennya untuk mengajari para santrinya tentang ilmu agama.

Sementara itu, ia lebih senang berkeliling kampung, kota dan propinsi dalam “berdakwah” menurutnya, dibandingkan berdakwah di kampungnya. Semua ini ia gemar lakukan demi mencapai popularitas.

Sebagian penuntut ilmu ada yang terkena cinta ketenaran ini dari arah dunia tulis-menulis. Ia rajin menulis di majalah, koran, buletin, situs, dan berbagai media lainnya demi mencapai popularitas. Rajin sih rajin. Hanya saja ia tak menjauhkan hatinya dari penyakit ini.

Kelompok dai lain, ada yang lebih lihai dalam mencari popularitas dan ketenaran dengan mengumpulkan manusia sebanyak-banyaknya dalam majelis, lalu ia pun tampakkan dirinya sebagai manusia yang paling berilmu.

Dia pun mengondisikan masyarakat agar mereka mengakui bahwa dirinyalah yang paling berilmu. Adapun dai-dai selainnya, maka mereka lebih rendah dibandingkan dirinya.

Ia tak ingin ada orang yang berbicara tentang ilmu, kecuali dirinya. Orang-orang pun berdecak kagum dalam hati sambil bergumam, “Inilah dai dan ustadz yang paling top dan hebat!!”

Orang seperti ini tak sadar bahwa dirinya telah terjangkiti oleh penyakit cinta ketenaran. Sungguh ia tak jujur kepada Allah dalam beramal; bukan pahala yang ia inginkan, bahkan pujian dan sanjungan manusia.

Abu Ishaq Ibrahim bin Adham Al-Ijliy -rahimahullah- berkata,

مَا صَدق َاللهَ عَبدٌ أَحَبَّ الشُّهْرَةَ

“Seorang hamba yang mencintai ketenaran tak akan berlaku jujur kepada Allah”. [HR. Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah (9/35), Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimasyqo (6/317-318) dan Ibnu Abid Dun-ya dalam Al-Uzlah wa Al-Infirod (no. 132 & 137)]

Para pembaca yang budiman, jika seseorang sudah demikian halnya, yakni ia amat mencintai ketenaran, maka ia akan susah menerima nasihat dari orang lain yang ada di bawahnya.

Apalagi jika ia pandai bersilat lidah sehingga semua hujjah yang ditujukan kepada dirinya, maka ia mentahkan dengan silat lidahnya dan ia tampakkan dirinya tak salah. Padahal ia sudah tahu bahwa dirinya bersalah dan hujjah telah tegak baginya.

Sekali lagi, penyakit cinta kekuasaan dan ketenaran bukan hanya mengenai orang jahil. Bahkan biasanya juga mengenai kaum berilmu.

Walaupun seorang yang berilmu merasa dirinya ikhlash dalam berdakwah, ia harus tetap mewaspadai hal ini!!!

Al-Imam Al-Hafizh Abu Abdillah Adz-Dzahabiy –rahimahullah– berkata,

((عَلاَمَة ُالمُخلِصِ الذي قد يُحِبُّ شُهرَةً، ولا يشعرُ بها، أنّه إذا عُوتب في ذلك لا يَحْرَدُ ولا يُبَرِّئُ نفسَهُ، بل يعترف ويقول: رحمَ الله من أهدى إليَّ عُيوبي، ولا يَكُنْ مُعْجباً بنفسِه؛ لا يشعرُ بعيوبها، بل لا يشعر أنّه لا يشعر، فإنّ هذا داءٌ مزمنٌ))

“Tanda orang ikhlash yang terkadang mencintai ketenaran –sedang ia tak merasakannya- bahwa jika ia dicela dalam hal itu, maka ia tak marah dan tidak pula membersihkan dirinya. Bahkan ia mengakui (hal itu) seraya berkata, “Semoga Allah merahmati orang menunjukkan kepadaku aib-aibku”.

Orang ini tak bangga diri. Cuma dia tak menyadari aib (kekurangan) dirinya, bahkan ia tak merasa bahwa dirinya tak merasa (bersalah). Sesungguh hal ini adalah penyakit yang kronis”. [Lihat Siyar A’lam An-Nubalaa’ (7/393)]

Orang seperti ini jika ada yang menasihati dan mengeritiknya, maka lisannya berterima kasih, namun hatinya tak menerima, bahkan kadang kesal. Wallahul musta’an.

Ini penyakit cinta ketenaran!! Adapun penyakit cinta kekuasaan, maka penyakit ini pun tak kalah bahayanya. Ia juga menyerang berbagai kalangan, tanpa terkecuali ulama dan ustadz.

Realita nyata telah membuktikan hal itu di lapangan, sehingga mudah saja bila kita ingin membawakan sebagian bukti dan fakta nyata di lapangan!!

Di sebagian daerah, ada sebagian dai yang merasa dirinya paling senior, sehingga menganggap dirinya yang patut didengar dan mengatur semua urusan dakwah. Semua dai yang baru datang dalam medan dakwah, maka ia anggap junior dan tak ada nilainya.

Si dai senior ini yang ingin menentukan semua urusan dakwah. Karena itu, tak boleh ada yang berceramah di “daerah kekuasaannya”, tanpa ada izin darinya. Jika tidak, maka dai pendatang dari luar, ia anggap dai sempalan, atau minimal kurang ajar dan kurang beradab.

Subhanallah, padahal si “dai senior” ini bukanlah seorang pemerintah yang berhak mengatur dakwah disana-sini.

Lebih para lagi, jika si dai senior ini memiliki jaringan berupa dai-dai baru (junior) yang siap menjilat dan tunduk di depannya demi menjaga harga diri dan kedudukannya dari cercaan si dai senior. Sungguh ini adalah penyakit cinta kekuasaan.

Warna lain dari dunia dai, ada diantara mereka memperjuangkan Islam dan mendakwahkannya melalui ajang politik dan demokrasi, sehingga ia pun menghinakan diri masuk dalam parlemen dengan dalih “dakwah”.

Begini hinakah Islam sampai anda harus memperjuangkannya melalui cara yang tak dibenarkan agama?! Sungguh semua ini adalah kehancuran.

Jika mereka berdalih bahwa mereka terpaksa dan darurat ikut dalam hal itu. Kita katakan bahwa bukankah telah ada yang mewakili anda dalam urusan itu dari kalangan kaum muslimin?!

Al-Imam Abu Nu’aim Ashbahaniy –rahimahullah– berkata,

“والله ما هلك مَنْ هلكَ إلاَّ بحبِّ الرِّئاسة” (جامع بيان العلم) (1 / ص 286)

“Demi Allah, tidaklah binasa orang yang binasa, kecuali karena sebab kekuasaan”. [Baca Jami’ Bayan Al-Ilm (1/286)]

Banyak orang yang mengetahui hakikat kebenaran. Namun ia enggan meninggalkan kesesatan dan kebatilan yang selama ini ia lakukan dan perjuangkan.

Ia susah rujuk kepada kebenaran, akibat cinta dan haus kekuasaan. Ia rela hancur dalam kebatilan dan kesesatan bersama dengan pengikut atau kelompoknya, karena takut kehilangan kekuasaan dan kedudukan di mata pengikut atau kelompoknya.

Inilah yang dialami oleh seorang Kaisar Romawi dan Raja Kostantinopel yang bernama Heraklius. Ia rela di atas kekafiran setelah nyatanya kebenaran baginya, sebagaimana yang disebutkan oleh Al-Bukhoriy dalam Shohih-nya (no. 7) dan Muslim dalam Shohih-nya (1773)]

Terakhir kita memohon kepada Allah –Tabaroka wa Ta’ala– agar kita dibersihkan dan dijauhkan dari sebab-sebab yang menumbuhkan cinta dunia dan ketenaran dalam jiwa kita. Amiin.

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Tulis komentar

Logged in as admin. Log out »




Tulisan lainnya

jannatul-firdaus.net @2022

Qona’ah, Perbendaharaan Seluas Samudra


| Menu

| MENU

Bagikan…

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram



Qona’ah, Perbendaharaan Seluas Samudra

  • Oleh: Ustadz Abdul Qodir Abu Fa’izah, Lc. hafizhahullah
  • [Pembina Ponpes Al-Ihsan Gowa]

Hidup di zaman modern ini, kebanyakan manusia cenderung membutuhkan banyak fasilitas dan sarana yang dapat membahagiakan dirinya, sehingga sebagian orang merasa sempit hatinya saat melihat orang-orang yang diberi karunia oleh Allah berupa berbagai macam harta benda dan fasilitas.

Dia pun menyangka bahwa itulah kekayaan yang hakiki. Sebaliknya, ia menyangka dirinya yang tidak memiliki semua itu adalah miskin dan fakir.

Benarkah semua itu? Tentu saja ini tak benar, sebab kekayaan hakiki bukanlah dengan banyaknya harta benda, tapi kelapangan hati yang dimiliki oleh seorang hamba. Itulah yang kita kenal dalam agama dengan sifat QONA’AH (merasa puas dan cukup dengan pemberian Allah)

Rasulullah –Shallallahu alaihi wa sallam– bersabda kepada Abu Dzarr –radhiyallahu anhu-,

يا أبا ذر ، أترى كثرة المال هو الغنى ؟ قلت : نعم يا رسول الله . قال : فترى قلة المال هو الفقر ؟ قلت : نعم يا رسول الله . قال : إنما الغنى غنى القلب ، و الفقر فقر القلب

“Wahai Abu Dzarr, apakah engkau mengira bahwa banyaknya harta adalah kekayaan?” Aku (Abu Dzarr) katakan, “Ya, wahai Rasulullah”. Beliau bersabda lagi, “Apakah engkau mengira bahwa sedikitnya harta benda adalah kefakiran?”. Aku (Abu Dzarr) katakan, “Ya wahai Rasulullah”. Beliau bersabda, “Hanyalah kekayaan itu (hakikatnya) adalah kekayaan hati dan kefakiran itu (hakikatnya) adalah kefakiran hati”. [HR. Ibnu Hibban dalam Shohih-nya (685), Al-Hakim dalam Al-Mustadrok (4/327/no. 7929) dan Ath-Thobroniy dalam Al-Mu’jam Al-Kabir (1643) serta yang lainnya. Hadits ini di-shohih-kan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Shohih At-Targhib (827)]

Kemiskinan hati dan kefakirannya, itulah hakikat kefakiran. karena orang yang berhati fakir selalu merasakan dirinya kurang dunianya, sehingga iapun selalu merasa untuk selalu butuh kepada harta benda dunia dan bersandar padanya.

Para pembaca yang budiman, kefakiran hati hakikatnya adalah kosongnya hati dari rasa selalu butuh kepada Allah dalam segala kondisinya dan jauhnya hati dari melihat kebutuhannya yang sempurna kepada Allah –Ta’ala– dari segala sisi. [Lihat Madarij As-Salikin (2/36)]

Orang-orang seperti ini akan diperbudak oleh dunia. Jika dunia pergi dan hilang, maka ia pun pusing, sakit dan lemah. Seakan dunia itulah segalanya. Padahal dunia bukanlah segalanya. Dunia berada dalam kekuasaan Allah –Azza wa Jalla-.

Jika seorang hamba menyadari hal ini, maka kesempitan hatinya akan sirna. Sebab, ia tahu bahwa segala sesuatu ada dalam ketentuan dan pengaturan Pencipta. Segala kebutuhan hamba telah diatur oleh Allah. Dia-lah yang memberi dan Dia pula yang menahan sesuatu dari hamba-Nya.

Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqolaniy rahimahullah– berkata, “Kekayaan jiwa dengan kayanya hati, dengan cara butuhnya hati kepada Robb-nya dalam segala urusannya, sehingga ia pun meyakini bahwa Dia-lah Yang Maha Memberi dan Menahan. Karenanya, ia pun ridho dengan ketentuan-Nya dan bersyukur atas segala nikmat-Nya serta kembali kepada-Nya dalam menyingkap segala kesusahannya. Akhirnya, dari kefakiran (kebutuhan) hatinya kepada Robb-nya, timbullah ketidakbutuhan kepada selain Robb-nya -Ta’ala-“. [Lihat Fathul Bari (11/273)]

Disinilah rahasianya orang-orang sholih dahulu, mereka selalu meminta dan mengharap kepada Allah.

Kita semua butuh kepada Allah. Apa saja yang kita inginkan, maka mintalah kepada Allah, jangan merengek kepada makhluk.

Allah -Azza wa Jalla- berfirman,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللَّهِ وَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ  [فاطر : 15]

“Hai manusia, kalianlah yang fakir (butuh) kepada Allah; dan Allah, Dia-lah Yang Maha Kaya (Tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji”. (QS. Fathir : 15)

Jika hakikat ini diketahui oleh seorang hamba, maka ia akan merasakan kelapangan hati dan berbahagia. Sebab, ia telah memiliki qona’ah (perasaan kecukupan) dengan pemberian yang ia peroleh dari Allah. Sifat qona’ah (puas dengan pemberian Allah) laksana samudra luas tak bertepi. Siapa yang memilikinya, maka hatinya akan lapang seluas samudra, dan semurah samudra yang banyak mengandung ikan dan permata berharga bagi manusia.

Seorang yang berhias qona’ah tak akan iri, benci dan marah kepada orang-orang yang lebih dari dirinya. Bahkan ia akan selalu bersyukur atas apa yang ada di sisinya.

Rasulullah –Shallallahu alaihi wa sallam– bersabda,

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ وَرُزِقَ كَفَافًا وَقَنَّعَهُ اللَّهُ بِمَا آتَاه

“Sungguh telah beruntung orang yang masuk Islam, diberi rezki yang pas-pasan dan Allah berikan kepadanya rasa cukup (qona’ah) pada (nikmat) yang Allah berikan kepadanya”. [HR. Muslim dalam Shohih-nya (1054)]

Al-Imam Abul Abbas Al-Qurthubiy –rahimahullah– berkata, “Maknanya hadits ini bahwa barangsiapa yang tercapai baginya hal-hal itu, maka sungguh ia telah meraih cita-citanya dan mendapatkan sesuatu yang ia harapkan di dunia dan akhirat”. [Lihat Ad-Dibaj Syarh Shohih Muslim Ibnil Hajjaj (3/137) karya As-Suyuthiy]

Inilah kekayaan hati dan kelapangannya. Hati tidaklah memerintahkan pemiliknya untuk rakus dan loba terhadap harta benda dunia, sehingga ia pun akhirnya tidak puas dengan pemberian Allah –Ta’ala-.

Seorang yang tak pernah puas dan bersyukur atas karunia Allah yang ia dapatkan, maka ia akan merasakan kemiskinan hati dan kesempitan. Barangsiapa yang puas dengan karunia dan nikmat yang diberikan kepadanya –walaupun itu sedikit-, maka ia adalah manusia yang paling kaya hatinya!!

Rasulullah –Shallallahu alaihi wa sallam– bersabda,

مَنْ يَأْخُذُ عَنِّي هَؤُلاَءِ الكَلِمَاتِ فَيَعْمَلُ بِهِنَّ أَوْ يُعَلِّمُ مَنْ يَعْمَلُ بِهِنَّ ؟ فَقَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ : فَقُلْتُ : أَنَا يَا رَسُولَ اللهِ ، فَأَخَذَ بِيَدِي فَعَدَّ خَمْسًا وَقَالَ : اتَّقِ الْمَحَارِمَ تَكُنْ أَعْبَدَ النَّاسِ ، وَارْضَ بِمَا قَسَمَ اللَّهُ لَكَ تَكُنْ أَغْنَى النَّاسِ ، وَأَحْسِنْ إِلَى جَارِكَ تَكُنْ مُؤْمِنًا ، وَأَحِبَّ لِلنَّاسِ مَا تُحِبُّ لِنَفْسِكَ تَكُنْ مُسْلِمًا ، وَلاَ تُكْثِرِ الضَّحِكَ ، فَإِنَّ كَثْرَةَ الضَّحِكِ تُمِيتُ القَلْبَ

“Siapakah yang mau mengambil kalimat-kalimat itu lalu ia amalkan ataukah ia ajarkan kepada orang yang mau mengamalkannya?” Abu Hurairah berkata, “Aku pun katakan, “Saya, wahai Rasulullah!!” Beliau memegang tanganku seraya menyebutkan lima perkara dan bersabda,

“Jauhilah perkara-perkara yang diharamkan, niscaya kamu akan menjadi manusia yang paling taat; ridhoilah sesuatu yang Allah bagikan kepadamu, niscaya kamu akan menjadi manusia yang paling kaya; berbuat baiklah kepada tetanggamu, niscaya kamu akan menjadi mukmin; cintailah bagi manusia sesuatu yang engkau cintai untuk dirimu, niscaya kamu akan menjadi muslim; dan janganlah engkau memperbanyak tertawa. Karena, banyak tertawa akan mematikan hati”. [HR. At-Tirmidziy dalam Sunan-nya (no. 2305). Hadits ini dinilai hasan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Shohih Al-Jami’ Ash-Shoghier (no. 100)]

“Sesungguhnya barangsiapa yang merasa puas (dengan pemberian Allah), maka pasti ia kaya (tak butuh kepada harta benda orang lain). Kekayaan itu (hakikatnya) bukanlah karena banyaknya harta benda. Akan tetapi kekayaan itu adalah kekayaan hati.

Qona’ah (puasnya) hati (dengan pemberian Allah) adalah kekayaan dan kemuliaan karena Allah. Lawannya adalah kefakiran dan kehinaan di hadapan orang lain.

Barangsiapa yang tidak qona’ah (merasa cukup dan puas dengan pemberian Allah), maka ia tak akan pernah merasa kenyang selamanya.

Jadi, di dalam qona’ah terdapat kemuliaan, kekayaan dan kebebasan. Di saat hilangnya qona’ah, akan timbul kehinaan dan perbudakan kepada selain Allah.

Celakalah hamba dunia dan hamba dinar. Jadi, haruslah bagi setiap orang yang berakal untuk mengetahui bahwa rezki itu berdasarkan pembagian, bukan berdasarkan ilmu dan pikiran manusia”. [Lihat Faidhul Qodir (1/124)]

Disinilah seorang hamba tak boleh berputus asa dari mencari rezki yang halal dan tidak boleh merasa sombong bahwa segala jerih payahnya adalah hasil pikiran dan ilmu yang miliki.

Apa yang yang kita dapatkan, maka itulah rezki yang kita harus ridhoi dan syukuri. Apa saja yang tidak bisa kita jangkau setelah berusaha, maka kita berbaik sangka kepada Allah bahwa itulah bagian yang telah Dia tetapkan.

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Tulis komentar

Logged in as admin. Log out »




Tulisan lainnya

jannatul-firdaus.net @2022