Meraih 1000 Keutamaan Berkat Mempelajari Bahasa Arab


| Menu

| MENU

Bagikan…

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram



Meraih 1000 Keutamaan Berkat Mempelajari Bahasa Arab

  • Oleh: Ustadz Abdul Qodir Abu Fa’izah, Lc. hafizhahullah
  • [Pembina Ponpes Al-Ihsan Gowa]

Bahasa Arab adalah bahasa termulia di sisi Allah. Dahulu bahasa ini menjadi bahasa kebanggaan dan kemuliaan bagi kaum muslimin di zaman kenabian dan akan terus menjadi bahasa kemuliaan sepanjang masa sampai tegaknya hari kiamat.

Namun satu hal yang membuat kita bersedih, bahasa Arab kini ditinggalkan oleh kebanyakan masyarakat Islam, lalu beralih dan berbangga dengan bahasa-bahasa ajam dan asing, semisal bahasa Inggris, Belanda, Prancis, Jepang, Cina dan lainnya.

Bahasa-bahasa asing ini kemudian menguasai dunia politik dan perekonomian, sehingga semakin digandrungi oleh banyak orang.

Sungguh ironi nasib kaum muslimin, kini mereka menyibukkan diri dengan bahasa asing, sehingga mereka melupakan dan meninggalkan bahasa Arab, bahasa bangsa Islam.

Mereka berbangga saat belajar bahasa Inggris -misalnya- karena dianggap sebagai bahasa internasional yang menjadi bahasa komunikasi yang menguntungkan dunia mereka.

Sebaliknya, mereka malu dan canggung belajar atau bercakap dengan bahasa Arab. Apalagi bahasa Arab -menurut mereka- kurang menguntungkan dari sisi dunia. Walaupun alasan ini masih bisa dibantah!!

Tapi begitulah sangkaan keliru mereka, yang membuat mereka semakin jauh dari bahasa Arab.

Ketika jauh dari bahasa Arab, maka otomatis mereka jauh dari memahami al-Qur’an dan Sunnah. Sebab, Bahasa Arab merupakan pintu dan kunci bagi ilmu-ilmu syar’i yang akan menjadi jalan bagi mereka mengetahui jalan kebenaran.

Disini bukan maksud kami mengharamkan belajar bahasa asing jika amat dibutuhkan.

Tapi ingat jangan sampai semua orang Islam lebih memilih dan mengutamakan bahasa asing dibanding bahasa Arab ataukah tak ada semangat untuk mempelajari Bahasa Arab demi memahami agama dengan baik, sehingga lebih cenderung ke bahasa asing, karena menjanjikan dunia!

Para pembaca yang budiman, Bahasa Arab adalah bahasa Al-Qur’an.

Ini merupakan sebuah keutamaan besar bagi Bahasa Arab, yang memang Allah pilih untuk menjelaskan syariat Islam yang universal dan mencakup seluruh bangsa manusia.

Andaikata tak ada keutamaan lain bagi bahasa Arab, selain kedudukannya sebagai Bahasa Al-Qur’an, maka cukuplah ini merupakan keutamaan besar bagi bahasa Arab.

Sebab ia adalah bahasa pilihan di sisi Allah. Padahal sekian banyak bahasa di dunia, tapi toh ternyata Allah memilih bahasa Arab dan meninggalkan bahasa-bahasa yang lainnya.

Tentu saja ia dipilih karena ia adalah bahasa yang paling baik untuk menjelaskan syariat terbaik yang akan diturunkan kepada Rasul terbaik.

Maka kenapakah kita canggung mempelajari dan menggunakannya?!

Perhatikan ayat-ayat berikut yang menjelaskan keutamaan bahasa Arab.

Allah –Azza wa Jalla– berfirman,

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ قُرْآنًا عَرَبِيًّا لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ  [يوسف : 2]

“Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Al Quran dengan berbahasa Arab, agar kalian memahaminya”. (QS. Yusuf : 2)

Al-Imam Al-Hafizh Ibnu Katsir Ad-Dimasyqiy –rahimahullah– berkata,

وذلك لأن لغة العرب أفصح اللغات وأبينها وأوسعها، وأكثرها تأدية للمعاني التي تقوم بالنفوس؛ فلهذا أنزلَ أشرف الكتب بأشرف اللغات، على أشرف الرسل، بسفارة (8) أشرف الملائكة، وكان ذلك في أشرف بقاع الأرض، وابتدئ إنزاله في أشرف___شهور السنة وهو رمضان، فكمل من كل الوجوه.” اهـ من تفسير ابن كثير / دار طيبة – (4 / 365_366)

“Demikian itu karena bahasa Arab adalah bahasa yang paling fasih, jelas dan luas serta amat cocok dalam menyampaikan makna yang terhunjam dalam jiwa. Sebab inilah, Allah menurunkan Kitab termulia (Al-Qur’an) dengan bahasa termulia kepada Rasul termulia (Muhammad -Shallallahu alaihi wa sallam-) dengan perantaraan malaikat termulia (Jibril). Hal itu terjadi di negeri terbaik, di bumi (Makkah). Turunnya Al-Qur’an dimulai pada bulan termulia diantara bulan-bulan yang ada dalam setahun, yaitu pada bulan Romadhon. Jadi, sempurnalah Al-Qur’an dari seluruh sisi”. [Lihat Tafsir Ibn Katsir (4/365-366), cet. Dar Thoybah]  

Allah memilih Bahasa Arab sebagai bahasa Al-Qur’an, karena kesempurnaannya dalam segala sisi, sehingga tidak ada pelaku kebatilan yang berusaha menegakkan kebatilannya, melainkan syubhat-syubhat dan argumen kebatilannya akan tersingkap.

Allah –Azza wa Jalla– berfirman dalam Surah Asy-Syu’araa’ : 193-195,

نَزَلَ بِهِ الرُّوحُ الْأَمِينُ (193) عَلَى قَلْبِكَ لِتَكُونَ مِنَ الْمُنْذِرِينَ (194) بِلِسَانٍ عَرَبِيٍّ مُبِينٍ (195) [الشعراء : 193 – 195]

“Dia (yakni, Al-Qur’an) dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril) ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan dengan bahasa Arab yang jelas”.

Mufassir Negeri Syam, Abul Fidaa’ Imaduddin Ad-Dimasyqiy –rahimahullah– berkata,  

أي: هذا القرآن الذي أنزلناه إليك أنزلناه بلسانك العربي الفصيح الكامل الشامل، ليكون بَيِّنًا واضحًا ظاهرًا، قاطعًا للعذر، مقيمًا للحجة، دليلا إلى المحجة.” اهـ من تفسير القرآن العظيم / دار طيبة – (6 / 162)

“Maksudnya, Al-Qur’an ini yang Kami turunkan kepadamu, Kami menurunkannya dengan bahasamu, bahasa Arab yang fasih, sempurna lagi universal agar Al-Qur’an lebih jelas, gamblang dan nyata serta memutuskan (menghapus) segala alasan, menegakkan hujjah dan petunjuk menuju jalan kebenaran”. [Lihat Tafsir Al-Qur’an Al-Azhim (6/162), dengan tahqiq Sami Salamah]

Siapa yang mendalami Al-Qur’an yang berbahasa Arab ini, maka ia akan berdecak kagum, terlebih lagi jika men-tadabburinya dengan kaedah-kaedah Bahasa Arab.

Disinilah letak rahasia bangsa Arab sendiri mengakui kehebatan dan kesempurnaan Al-Qur’an yang berbahasa Arab ini. Semakin merenunginya, mereka semakin terpukau dan takjub dengan isi dan kandungannya.

Demikian pula jika mereka berusaha mencari-cari kekurangannya, maka mereka tak mampu mendapatkan satu celah pun dari Al-Qur’an!

Allah –Azza wa Jalla– berfirman,

وَلَقَدْ ضَرَبْنَا لِلنَّاسِ فِي هَذَا الْقُرْآنِ مِنْ كُلِّ مَثَلٍ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ (27) قُرْآنًا عَرَبِيًّا غَيْرَ ذِي عِوَجٍ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ (28) [الزمر : 27 ، 28]

“Sesungguhnya telah Kami buatkan bagi manusia dalam Al Quran ini setiap macam perumpamaan supaya mereka dapat pelajaran.  (ialah) Al Quran dalam bahasa Arab yang tidak ada kebengkokan (di dalamnya) supaya mereka bertakwa“. (QS. Az-Zumar : 28). 

Al-Imam Abdur Rahman Ibn Nashir As-Sa’diy An-Najdiy (Ahli Tafsir Jazirah Arab) –rahimahullah– berkata,

أي: جعلناه قرآنا عربيا، واضح الألفاظ،_ سهل المعاني، خصوصا على العرب. {غَيْرَ ذِي عِوَجٍ  أي: ليس فيه خلل ولا نقص بوجه من الوجوه، لا في ألفاظه ولا في معانيه، وهذا يستلزم كمال اعتداله واستقامته.” اهـ من تيسير الكريم الرحمن – (ص / 723_724)

“Maksudnya, Kami jadikan Al-Qur’an sebagai bacaan yang berbahasa Arab, jelas lafazh-lafazhnya, maknanya mudah –Apalagi bagi orang Arab-. “yang tidak ada kebengkokan (di dalamnya)”, maksudnya, tak ada padanya kekacauan, kekurangan dari segala sisi, baik pada lafazhnya, maupun pada maknanya. Ini mengharuskan kesempurnaan bagi kelurusan dan keistiqomahan Al-Qur’an”. [Lihat Taisir Al-Karim Ar-Rahman (hal. 723-724)]

Saking mudahnya bahasa Arab ini untuk dipelajari, Nabi Isma’il -Shallallahu alaihi wa sallam- mampu bercakap dengan bahasa Arab di usia dini. Padahal orang tuanya (Nabi Ibrahim) adalah bangsa ajam yang berbahasa ajam.

Nabi –Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda,

أَوَّلُ مَنْ فَتَقَ لِسَانَهُ بِالْعَرَبِيَّةِ الْمُبِيْنَةِ : إِسْمَاعِيْلُ، وَهُوَ ابْنُ أَرْبَعَ عَشْرَةَ سَنَةً

“Orang yang pertama kali membetulkan lidahnya dengan bahasa Arab yang jelas adalah Nabi Isma’il, sedang beliau anak berumur 14 tahun”. [HR. Asy-Syairoziy dalam Al-Alqoob, Ath-Thobroniy dalam Al-Awaa’il dari Ali dan Ad-Dailamiy dalam Al-Firdaus (no. 48) dari Ibnu Abbas. Hadits Ali di-shohih-kan oleh Al-Albaniy dalam Shohih Al-Jami’ (no. 2581)]

Para pembaca yang budiman, mempelajari Bahasa Arab merupakan salah satu sarana terbaik untuk memahami agama kita yang terdapat di dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah An-Nabawiyyah.

Sebab dengan mempelajari bahasa Arab dengan bagus, baik yang berkaitan dengan ilmu nahwu (tata bahasa Arab), maupun ilmu shorof alias ilmu tashrif (ilmu pembentukan kata), maka seseorang dengan mudah akan memahami alur makna yang diinginkan oleh Allah di dalam Kitab-Nya dan Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- dalam sabda-sabdanya, sambil merujuk kepada pemahaman para salaf (pendahulu) kita yang sholih dari kalangan sahabat, tabi’in, dan tabi’ut tabi’in serta para ulama yang mengikuti jalan hidup mereka.

Seorang ulama bahasa, AbuI Qosim Abdur Rohman Ibnu Ishaq Az-Zajjajiy –rahimahullah– berkata,

فإنْ قال قائلٌ: فما الفائدة في تعلُّم النحو، وأكثرُ الناس يتكلمون على سَجِيَّتهم بغير إعراب، ولا معرفة منهم به، فيَفْهمون ويُفهِمون غيرَهم مِثلَ ذلك؟

فالجواب في ذلك أن يقال له:

الفائدة فيه: الوصولُ إلى التكلِّم بكلام العرب على الحقيقة؛ صوابًا غير مُبدَّلٍ ولا مُغَيَّر، وتقويمُ كتاب الله – عز وجل – الذي هو أصلُ الدِّين والدنيا والمُعْتَمَد، ومعرفةُ أخبار النبي – صلى الله عليه وسلم -، وإقامةُ معانيها على الحقيقة؛ لأنه لا تُفْهَمُ معانيها على الصحة إلا بتَوْفِيَتها حُقوقَها من الإعراب، وهذا ما لا يدفعه أحدٌ ممن نَظَر في أحاديثه – صلى الله عليه وسلم – وكلامِه. اهـ من الإيضاح في عِلَلِ النَّحو (ص 95) لأبي القاسم الزجاج, بتحقيق الدكتور مازن المبارك، ط. دار النفائس، الطبعة الثالثة، سنة 1399 هـ

“Faedah dalam mempelajari bahasa Arab, untuk bisa bercakap dengan menggunakan bahasa Arab berdasarkan hakikatnya, benar tanpa berganti dan berubah, untuk meluruskan (pemahaman) terhadap Kitabullah -Azza wa Jalla- yang merupakan prinsip agama dan dunia serta barometer, untuk mengenal (memahami) hadits-hadits Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- serta untuk menegakkan makna-maknanya berdasarkan hakikatnya. Karena makna-maknanya tak akan dipahami dengan benar, kecuali dengan memberikan hak bagi kata-kata berupa i’rob (penetapan kedudukannya menurut tata bahasa Arab). Perkara seperti ini tak akan dibantah oleh seorangpun dari kalangan orang-orang yang meneliti hadits-hadits dan sabda beliau -Shallallahu alaihi wa sallam-“. [Lihat Al-Iidhoh fii Ilal An-Nahwi (hlm. 95) karya Abul Qosim Az-Zajjaj, tahqiq DR. Mazin Al-Mubarok, cet. Dar An-Nafa’is, 1399 H]

Mempelajari bahasa Arab adalah kewajiban, sebab tak ada jalan untuk memahami agama dengan baik, kecuali dengan jalan memahami bahasa Arab, bahasa Al-Qur’an dan Sunnah!!

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah –rahimahullah– berkata,

اعْلَمْ أنَّ اعْتِيَادَ اللُّغَةِ يُؤَثِّرُ في العقلِ والخلقِ والدِّينِ تأثيرًا قويًّا بينًا، ويؤثر أيضًا في مشابهةِ صدرِ هذه الأمَّةِ من الصَّحابةِ والتابعين، ومشابهتهم تزيد العقلَ والدينَ والخلقَ،

وَأَيْضاً – فَإِنَّ نفْسَ اللُّغَةِ العربِيَّةِ مِنَ الدِّيْنِ، ومعرفتها فرض واجب، فإن فهم الكتاب والسنة فرض، ولا يفهم إلا بفهم اللغة العربية، وما لا يتم الواجب إلا به فهو واجب.

Ketahuilah bahwa membiasakan diri dengan bahasa Arab akan memberikan pengaruh pada akal, akhlak dan agama dengan pengaruh yang amat kuat lagi nyata dan memberi pengaruh untuk menyerupai pendahulu umat ini dari kalangan sahabat, dan tabi’in. Menyerupai mereka akan menambah (menguatkan) akal, agama dan akhlak; dan juga bahasa Arab itu sendiri termasuk bagian dari agama. Mengenal (mengerti) bahasa Arab adalah kewajiban, karena memahami Al-Kitab dan As-Sunnah adalah kewajiban. Sementara hal itu tak akan bisa dipahami, kecuali dengan memahami bahasa Arab. Nah, sesuatu apapun yang tak akan sempurna sebuah kewajiban, kecuali dengannya, maka sesuatu itu adalah wajib”. [Lihat Iqtidho’ As-Siroth Al-Mustaqim (hal. 527)]

Alangkah benarnya perkataan Syaikhul Islam!! Banyak diantara manusia yang mengikuti kebiasaan kaum kafir, karena bermula dari bahasa.

Awalnya bangga dengan bahasa mereka, lalu bangga kepada perilaku mereka. Apalagi jika banyak bergaul dengan mereka.

Di dalam sebuah atsar, Umar bin Khoththob –radhiyallahu anhu– berkata,

لاَ تَعَلَّمُوا رَطَانَةَ الأَعَاجِمِ وَلاَ تَدْخُلُوا عَلَيْهِمْ فِى كَنَائِسِهِمْ يَوْمَ عِيدِهِمْ فَإِنَّ السُّخْطَةَ تَنْزِلُ عَلَيْهِمْ.

“Janganlah kalian mempelajari bahasa ajam (bahasa asing), dan jangan pula kalian masuk menemui mereka dalam gereja-gereja mereka pada raya mereka. Karena, kemurkaan Allah akan turun pada mereka.” [AR. Abdur Rozzaq Ash-Shon’aniy dalam Al-Mushonnaf (no. 1609), Al-Baihaqiy dalam As-Sunan Al-Kubro (9/234)]

Demikian sahabat Umar melarang rakyatnya untuk mempelajari bahasa asing, karena beliau khawatir bahasa asing itu akan memberikan pengaruh buruk kepada yang mempelajarinya dan akan meniru jalan hidup dan agama si pemilik bahasa tersebut dari kalangan kaum kafir dan musyrikin.

Seorang yang lebih cenderung kepada bahasa Arab, akan lebih kuat semangatnya untuk mengikuti orang-orang sholih dari kalangan sahabat dan pengikutnya yang baik.

Sebab bahasa Arab akan mengingatkan kita tentang Al-Qur’an, Sunnah, kehidupan para sahabat, sehingga akhlak dan agama kita akan terjaga.

Mempelajari Bahasa Arab adalah langkah awal dan pintu untuk memahami agama. Tidak heran bila sebagian salaf menyatakan bahwa Bahasa Arab adalah bagian dari Islam.

Sahabat Umar bin Al-Khoththob Al-Adawiy -radhiyallahu anhu- berkata,

تعلموَا العربيةَ فإنها مِنَ دينِكُمْ،

“Pelajarilah Bahasa Arab, karena ia termasuk agama kalian.” [Lihat Iqtidho’ As-Siroth Al-Mustaqim (hlm. 207) dan Masbuk Adz-Dzahab fi Fadhl Al-Arab wa Syarof Al-Ilm ala Syarof An-Nasab (hlm. 63)]

Dalam suatu riwayat, Ubay bin Ka’ab –radhiyallahu anhu– berkata,

-radhiyallahu anhu- berkata,

“تَعَلَّمُوْا الْعَرَبِيَّةَ كَمَا تَعَلَّمُوْنَ حِفْظَ الْقُرْآنِ” أخرجه ابن أبي شيبة في المصنف (رقم: 29915)

“Belajarlah bahasa Arab sebagaimana kalian mempelajari hafalan Al-Qur’an”. [HR. Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushonnaf (no. 29915) dengan sanad hasan]

Sahabat Ubay bin Ka’ab -radhiyallahu anhu- menganjurkan kepada kita untuk mempelajari Bahasa Arab, sebagaimana halnya kita mempelajari tata cara membaca dan menghafal Al-Qur’an, karena memang Bahasa Arab ini adalah bagian dari Islam!

Para pembaca yang budiman, dengan mempelajari Bahasa Arab, akal  dan pikiran kita akan lebih kuat dan tajam, karena dengan memahami bahasa Arab, maka terbukalah keinginan kuat untuk lebih mendalami Al-Qur’an dan Sunnah serta menghafalnya. Tentunya semua itu membutuhkan pikiran.

Inilah beberapa sisi keutamaan dari mempelajari Bahasa Arab, dan sesuatu yang kami tulis dalam artikel ini, hanyalah secuil dari lautan keutamaan bagi Bahasa Arab. Semoga suatu saat kami akan kami rangkai kembali kalimat-kalimat indah seputar fadhilah Bahasa Arab.

Semua keutamaan itu tak bisa kita raih, kecuali dengan mempelajari dan mendalami Bahasa Arab.

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Tulis komentar

Logged in as admin. Log out »




Tulisan lainnya

jannatul-firdaus.net @2022

Tips Jitu Meraih Khusyu’ dalam Sholat


| Menu

| MENU

Bagikan…

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram



Tips Jitu Meraih Khusyu’ dalam Sholat

  • Oleh: Ustadz Abdul Qodir Abu Fa’izah, Lc. hafizhahullah
  • [Pembina Ponpes Al-Ihsan Gowa]

Khusyu’ dalam sholat adalah inti sebuah sholat yang ditunaikan oleh seorang hamba.

Dia merupakan sebab utama yang memasukkan seseorang ke dalam jannah (surga) yang dipenuhi kenikmatan.

Allah –Azza wa Jalla– berfirman,

قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ (1) الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ (2) [المؤمنون : 1 ، 2]

“Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam sholatnya”. (QS. Al-Mukminun : 1-2)

Khusyu’ dalam sholat, artinya seseorang merasa tenang dalam mengerjakan sholatnya, karena ia merasa takut kepada Allah dan men-tadabburi (memahami) ayat-ayat dan dzikir yang ia baca dalam sholatnya.

Karena itu, orang yang khusyu’ akan memusatkan perhatian terhadap bacaan sholatnya dan menenangkan seluruh anggota badannya saat sholat, karena semata-mata mengharapkan pahala.

Dia tak akan tergesa-gesa mendatangi sholat, tak akan memalingkan pandangannya ke kiri dan ke kanan ketika sholat serta mengurangi gerakan dalam sholat. [Lihat Jami’ Al-Bayan (19/694-696)]

Para pembaca yang budiman, lantas apa yang perlu kita lakukan dan pahami agar dapat meraih khusyu’ dalam sholat? Nah, tentunya bila anda ingin khusyu, maka anda dianjurkan melakukan beberapa tips berikut ini:

—  Mengingat Kematian

Seseorang yang ingin meraih khusyu’ yang sempurna dalam sholat, ia harus menghadirkan perasaan takut kepada Allah saat melewati ayat-ayat ancaman atau takut jangan sampai menjadi orang yang celaka karena kelalaiannya dalam menjaga ke-khusyu’-an sholatnya.

Satu diantara perkara yang mampu menghadirkan rasa takut kepada Allah, seseorang mengingat mati saat ia sholat. Dia harus takut jangan sampai sholat yang ia sedang kerjakan adalah amalannya yang paling akhir.

Jika itu adalah amalan yang paling akhir, maka selayaknya ia persembahkan sholat yang baik dan paling khusyu’.

Rasulullah –Shallallahu alaihi wa sallam– bersabda,

اذْكُر المَوْتَ في صَلاَتِكَ فإِنَّ الرَّجُلَ إذا ذَكَرَ المَوْتَ في صَلاَتِهِ لَحَرِيٌّ أنْ يُحْسِنَ صلاتَهُ وَصَلِّ صلاةَ رَجُلٍ لا يَظُنُّ أنَّهُ يُصَلِّي صلاةً غَيْرَها وإِيَّاكَ وكُلَّ أمْرٍ يُعْتَذَرُ مِنْه

“Ingatlah kematian dalam sholatmu. Karena, bila seseorang mengingat kematian dalam sholatnya, maka ia akan lebih memperbaiki sholatnya. Sholatlah laksana sholatnya seorang yang menyangka bahwa ia tak akan lagi melakukan sholat selainnya. Waspadalah terhadap segala perkara yang (dibutuhkan di dalamnya) pengajuan alasan”. [HR. Ad-Dailamiy dalam Musnad Al-Firdaus (1755). Hadits ini di-hasan-kan oleh Al-Albaniy dalam Shohih Al-Jami’ (no. 489)]

Seorang yang takut dalam sholatnya akan mudah mendalami dan konsentrasi terhadap segala bacaan dan gerakannya sehingga ia seakan-akan bercakap-cakap dengan Allah atau seakan ia di alam akhirat.

Inilah sebabnya Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- amat mudah menangis sholatnya, sebab beliau hadirkan dalam hatinya perasaan takut dan dekatnya perjumpaan dengan Allah yang siap menghisab dirinya.

—   Mentadabburi Bacaan-bacaan Sholat

Sholat adalah munajat (bisik-bisik) antara seorang seorang hamba dengan Robb-nya. Di dalamnya ia menyampaikan hajatnya dengan penuh rasa harap dan takut.

Semua ini tak akan sempurna sampai ia memahami arti percakapan yang ia lakukan. Percakapan ini ibarat dialog seseorang dengan kekasihnya. Bahkan lebih dari itu!!

Karenanya, dialog ini butuh keseriusan dan kesadaran sehingga lahirlah saling memahami antara kedua pihak.

Begitulah seorang yang sholat, harus penuh tadabbur terhadap bacaannya yang merupakan dialognya dengan Allah.

Mentadabburi Al-Qur’an adalah perkara yang diperintahkan. Lantaran itu, Dia mencela orang yang tak mentadabburinya. Allah –Ta’ala– berfirman,

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَى قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا  [محمد : 24]

“Maka apakah mereka tidak mentadabburi (memperhatikan) Al Quran ataukah hati mereka terkunci?” (QS. Muhammad : 24)

Al-Imam Muhammad Al-Amin Asy-Syinqithiy –rahimahullah– berkata,

وَمَا تَضَمَّنَتْهُ هَذِهِ الْآيَةُ الْكَرِيمَةُ مِنَ التَّوْبِيخِ وَالْإِنْكَارِ عَلَى مَنْ أَعْرَضَ عَنْ تَدَبُّرِ كِتَابِ اللَّهِ ، جَاءَ مُوَضَّحًا فِي آيَاتٍ كَثِيرَةٍ،…وَمَعْلُومٌ أَنَّ كُلَّ مَنْ لَمْ يَشْتَغِلْ بِتَدَبُّرِ آيَاتِ هَذَا الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ أَيْ تَصَفُّحِهَا وَتَفَهُّمِهَا ، وَإِدْرَاكِ مَعَانِيهَا وَالْعَمَلِ بِهَا، فَإِنَّهُ مُعْرِضٌ عَنْهَا، غَيْرُ مُتَدَبِّرٍ لَهَا فَيَسْتَحِقُّ الْإِنْكَارَ وَالتَّوْبِيخَ الْمَذْكُورَ فِي الْآيَاتِ إِنْ كَانَ اللَّهُ أَعْطَاهُ فَهْمًا يَقْدِرُ بِهِ عَلَى التَّدَبُّرِ.” اهـ من أضواء البيان في إيضاح القرآن بالقرآن – (7 / 256_257)

“Apa yang dikandung oleh ayat yang mulia ini berupa kecaman dan pengingkaran bagi orang yang berpaling dari mentadabburi Kitabullah, telah datang secara jelas dalam banyak ayat…Sudah dimaklumi bahwa barangsiapa yang tidak menyibukkan diri dalam mentadabburi ayat-ayat Al-Qur’an yang agung ini, yakni membukanya, berusaha memahaminya dan menjangkau maknanya serta mengamalkannya, maka sungguh ia telah berpaling darinya lagi tidak mentadabburinya. Jadi, ia berhak mendapatkan pengingkaran dan kecaman yang tersebut dalam ayat-ayat itu, jika ia diberi pemahaman oleh Allah. Dengannya, ia mampu melakukan tadabbur”. [Lihat Adhwaa’ Al-Bayan (7/256-257), cet. Dar Al-Fikr, 1415 H]

Seorang yang sholat dengan membaca doa dan dzikir tanpa tadabbur –malah lalai-, ibarat orang yang membaca surat dari seseorang tanpa mengerti isinya. Disinilah urgensi tadabbur yang melahirkan khusyu’ bagi orang yang tegak di hadapan Allah -Azza wa Jalla-.

—   Membersihkan Diri dari Maksiat

Maksiat yang dilakukan oleh para hamba merupakan noda yang akan mengotori, bahkan menutupi hati.

Sementara hati adalah alat yang digunakan berpikir dan mentadabburi sesuatu.

Nabi –Shallallahu ‘alaihi wasallam– bersabda,

إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً نُكِتَتْ فِي قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ فَإِذَا هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ سُقِلَ قَلْبُهُ وَإِنْ عَادَ زِيدَ فِيهَا حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبَهُ

“Sesungguhnya orang yang beriman jika melakukan suatu dosa, maka akan dibuat titik hitam di dalam hatinya. Jika dia menahan diri (dari maksiat), memohon ampunan dan bertobat, maka hatinya akan mengilap (bercahaya). Jika ia kembali (melakukan dosa), maka titik hitam itupun bertambah pada hatinya hingga memenuhi hatinya”. [HR. At-Tirmidzi dalam Sunan-nya (3334), dan Ibnu Majah Sunan-nya (4244). Di-hasan-kan oleh Al-Albaniy dalam Shohih At-Targhib (1620)]

Jika ia menghitam akibat noda maksiat, maka hati tak mampu bertadabbur. Sebab hati ibarat cermin, bila ia penuh noda, maka ia tak mampu memantulkan cahaya dan tak bisa dipakai berkaca. Begitulah hati yang kita pakai mentadabburi Kitabullah.

Seorang yang membiarkan dirinya bermaksiat akan memberikan pengaruh bagi hatinya, sehingga doanya pun tak akan dikabulkan oleh Allah.

Nabi –Shallallahu alaihi wa sallam– bersabda,

ثلاثةٌ يَدْعُوْنَ اللهَ فَلاَ يُسْتَجَابُ لَهُمْ:رَجُلٌ كَانَتْ تَحْتَهُ امْرَأَةٌ سَيِّئةُ الْخُلُقِ فَلَمْ يُطَلِّقْهَا، وَرَجُلٌ كَانَ لَهُ مَالٌ فَلَمْ يُشْهِدْ عَلَيْهِ، وَرَجُلٌ آتَى سَفِيْهًا مَالَهُ

“Ada tiga orang yang berdoa, tapi doanya tak dikabulkan: (1) seorang suami yang memiliki istri yang buruk akhlaknya, namun ia tak menceraikannya,  (2) seorang yang memiliki harta, namun ia tak mempersaksikannya, (3) dan seorang yang memberikan hartanya kepada seorang safih (yang bodoh)”. [HR. Al-Hakim dalam Al-Mustadrok (no. 3181) dan Al-Baihaqiy dalam Al-Kubro (no. 21022). Hadits ini di-shohih-kan oleh Al-Albaniy dalam Ash-Shohihah (no. 1805)]

Hadits ini menjelaskan bahwa orang yang memiliki istri yang buruk perangainya, tak akan dikabulkan doanya, termasuk sholatnya yang berisi doa-doa.

Sebab, dengan memelihara dan mempertahankan istri yang durhaka merupakan penyiksaan batin bagi si suami. Orang yang memiliki istri yang durhaka amat sulit meraih khusyu’.

Sebab banyak kendala dan problema bila hidup bersamanya. Semua ini tentunya akan mengganggu hati.

Demikian pula orang yang mengutangkan uang yang banyak kepada orang lain tanpa saksi, lalu orang yang berutang mengingkarinya.

Si pengutang telah berbuat teledor dalam memenuhi perintah Allah dalam menghadirkan saksi dalam akad utang tersebut.

Ini tentunya kezholiman terhadap diri sendiri. Adapun orang yang memberikan hartanya kepada orang yang bodoh dan tak pandai mengurusi harta, seperti anak kecil atau orang yang tak berpengalaman, sedang ia tahu keadaannya, maka orang ini telah menyia-nyiakan hartanya. Padahal Allah dan Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- telah melarang hal tersebut. [Lihat At-Taisir bi Syarh Al-Jami’ Ash-Shoghir (1/979)]

Di saat tersia-siakannya harta karena menyerahkannya kepada selain ahlinya, jelas akan menjadi beban pikiran yang akan mencabut kekhusu’an dalam hati.

Seorang wanita durhaka pun akan terkena akibat dan imbas dosa kedurhakaannya sehingga ke-khusyu’-an dicabut dari dirinya.

Rasulullah –Shallallahu alaihi wa sallam– bersabda,

اثْنَانِ لا تُجَاوِزُ صَلاتُهُمَا رُءُوسَهُمَا : عَبْدٌ آبِقٌ مِنْ مَوَالِيهِ حَتَّى يَرْجِعَ إِلَيْهِمْ ، وَامْرَأَةٌ عَصَتْ زَوْجَهَا حَتَّى تَرْجِعَ

“Ada dua orang yang sholatnya tidak melewati kepalanya: budak yang lari dari majikannya sampai kembali kepada mereka dan istri yang durhaka kepada suaminya sampai ia (istri) mau rujuk kepada suaminya”. [HR. Ath-Thobroniy dalam Ash-Shoghir (no. 478) dan Al-Awsath (3628) serta Al-Hakim dalam Al-Mustadrok (no.7330). Hadits ini di-shohih-kan oleh Al-Albaniy dalam Shohih At-Targhib (no. 1888)]

Diantara maksiat yang menghalangi doa dan khusyu’-nya sholat kita, memakan makanan dan minuman yang haram serta memakai pakaian yang haram.

Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda,

“Sesungguhnya Allah -Ta’ala- itu Maha Baik, tidak mau menerima, kecuali yang baik; Allah telah memerintahkan kepada kaum mu’minun sesuatu yang telah Dia perintahkan kepada para rasul, seraya berfirman, “Hai rasul-rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal yang saleh” (QS. Al-Mukminun : 51). Dia berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezki yang baik-baik yang kami berikan kepadamu”. (QS. Al-Baqoroh : 172)

Kemudian beliau (Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam-) menyebutkan seorang yang melakukan safar yang jauh dalam keadaan kusut, lagi berdebu; dia mengulurkan tangannya ke langit (seraya berdo’a), “Wahai Robb-ku, wahai Robb-ku”, sedang makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan dikenyangkan dengan sesuatu yang haram. Maka bagaimana mungkin dikabulkan (doa) bagi orang itu”. [HR. Muslim dalam Shohih-nya (1015)]

—  Menjauhi Kebiasaan Banyak Tertawa

Banyak tertawa akan mematikan hati. Hati yang mati tak akan bergeming dengan ancaman dan berita gembira yang dibacakan kepadanya.

Nah, bagaimana mungkin orang yang berhati demikian akan khusyu’.

Itulah sebabnya Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- melarang banyak tertawa dalam sabdanya,

وَلَا تُكْثِرْ الضَّحِكَ فَإِنَّ كَثْرَةَ الضَّحِكِ تُمِيتُ الْقَلْبَ

“Janganlah engkau memperbanyak tawa, karena banyak tawa akan mematikan hati”. [HR. At-Tirmidziy dalam As-Sunan (2305). Hadits ini di-hasan-kan oleh Al-Albaniy dalam Ash-Shohihah (no. 930)]

Para pembaca yang budiman, inilah beberapa terapi dan tips dalam meraih khusyu’.

Sebenarnya masih ada lagi hal lain yang dapat menjadi sebab lahirnya khusyu’ dalam sholat, seperti jangan terlalu sibuk dan tenggelam dengan dunia sehingga dunia lebih menguasai hati. Akhirnya, ia tak hadir ke masjid, selain hatinya dipenuhi berbagai macam pikiran dan urusan dunia.

Semoga di lain waktu kami akan ulas lagi materi ini, insya Allah…

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Tulis komentar

Logged in as admin. Log out »




Tulisan lainnya

jannatul-firdaus.net @2022