Ulasan Ringkas tentang Hukum Mengadu Hewan

Bagikan…

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Ulasan Ringkas tentang Hukum Mengadu Hewan

  • Oleh : Al-Ustadz Abdul Qodir Abu Fa’izah hafizhahullah
  • [Pembina Ponpes Al-Ihsan Gowa]

Menyabung dan mengadu ayam adalah salah satu kebiasaan sebagian orang. Mereka mengadu antara ayam jantan dengan ayam jantan lainnya.

Terkadang ada juga orang yang mengadu ayam betina dengan ayam betina.

Di sebagian tempat, ada yang senang mengadu jangkrik. Masih banyak lagi macam dan jenis penyabungan dan pengaduan binatang. Parahnya lagi, ada yang menjadikannya ajang perjudian!!

Mungkin ada orang yang bertanya“Apa hukumnya mengadu binatang, semisal ayam dan lainnya?”

Bila ada yang bertanya demikian, maka jawabannya bahwa mengadu binatang adalah perbuatan terlarang di dalam syariat kita.

Karena, di dalamnya terdapat kezhaliman terhadap binatang. Mereka tersakiti, bahkan terbunuh dengan perbuatan tersebut.

Di dalam sebuah atsarMujahid bin Jabr Al-Makkiy –rahimahullah– berkata,

أنه كره أن يحرش بين البهائم

“Beliau (sahabat Abdullah bin Umar -radhiyallahu anhu-) benci bila diantara binatang-binatang diadu”. [HR. Al-Bukhoriy dalam Al-Adab Al-Mufrod (no. 1232). Atsar ini di-hasan-kan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Shohih Al-Adab Al-Mufrod (hal. 453), cet. Dar Ash-Shiddiq, tahun 1419 H]

Al-Imam Al-Husain bin Al-Hasan Al-Halimiy Al-Jurjaniy –rahimahullah– berkata,

“وَيَحْرُمُ التَّحْرِيشُ بَيْنَ الْكِلَابِ وَالدُّيُوكِ لِمَا فِيهِ مِنْ إيلَامِ الْحَيَوَانِ بِلَا فَائِدَةٍ.” اهـ من أسنى المطالب في شرح روض الطالب (4/ 344)

“Haram mengadu antara anjing-anjing, dan ayam-ayam, karena di dalamnya terdapat penyakitan hewan, tanpa faedah”. [Lihat Asnaa Al-Matholib (4/344) oleh Zakariyya bin Muhammad Al-Anshoriy, cet. Dar Al-Kitab Al-Islamiy]

Al-Imam Sulaiman bin Muhammad Al-Bujairomiy –rahimahullah- berkata,

“وَيَحْرُمُ تَرْقِيصُ الْقُرُودِ وَالتَّفَرُّجُ عَلَيْهِمْ أَيْضًا وَيَلْحَقُ بِذَلِكَ مَا فِي مَعْنَاهُ مِنْ مُنَاطَحَةِ الْكِبَاشِ وَمُهَارَشَةِ الدِّيَكَة.” اهـ من حاشية البجيرمي على الخطيب = تحفة الحبيب على شرح الخطيب (4/ 434)

“Haram memerintahkan monyet-monyet untuk berjoget memberi hiburan bagi mereka (manusia). Digolongkan dalam hal itu, sesuatu yang semakna dengannya berupa upaya saling menandukkan kambing-kambing, dan mengadu ayam.” [Lihat Tuhfah Al-Habib ala Syarh Al-Khothib (4/434), cet. Dar Al-Fikr, 1415 H]

Menyakiti binatang saat diadu dengan binatang lainnya adalah perkara yang diharamkan di dalam agama kita, selama binatang itu tidak mengganggu dan tidak membahayakan kita, semisal kambing, sapi, ayam, kucing atau anjing.

Adapun bila membahayakan kita atau syariat memerintahkan untuk membunuhnya, maka boleh kita bunuh, semisal ular, kalajengking, anjing gila, tikus dan lainnya.

Jangankan menyakiti dan membunuh hewan, membuat saja mereka lapar dan capek adalah perkara terlarang!!

Lihatlah, ketika ada seekor onta yang mengadu kepada Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam-, maka bersabda kepada pemiliknya

أَفَلَا تَتَّقِى اللهَ فِيْ هَذِهِ الْبَهِيْمَةِ الَّتِى مَلَكَ اللهُ إِيَّاهَا

“Tidakkah engkau bertakwa kepada Allah dalam binatang ini, yang telah dijadikan sebagai milikmu oleh Allah, sebab ia (binatang ini) telah mengadu kepadaku bahwa engkau telah membuatnya letih dan lapar”. [HR. Abu Dawud dalam As-Sunan (1/400), Al-Hakim dalam Al-Mustadrak (2/99-100), Ahmad dalam Al-Musnad (1/204-205), Abu Ya’la dalam Al-Musnad (3/8/1), Al-Baihaqiy dalam Ad-Dala’il (6/26), dan Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimasyqa (9/28/1). Lihat Ash-Shahihah (20)]

Menyakiti perasaan binatang adalah terlarang sebagaimana halnya menyakiti jasad binatang. Inilah bukti keindahan dan kasih sayang Islam.

Abdullah bin Mas’ud -radhiyallahu ‘anhu- berkata, “Dulu kami bersama Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wasallam- di dalam suatu safar. Kemudian beliau pergi untuk suatu hajat. Kami pun melihat dua ekor burung bersama dua ekor anaknya. Kemudian kami ambil dua ekor anaknya tersebut. Setelah itu datanglah Nabi seraya bersabda,

مَنْ فَجَعَ هَذِهِ بِوَلَدِهَا ؟ رُدُّوْا وَلَدَهَا إِلَيْهَا

“Siapakah yang mengagetkan burung ini dengan (mengambil) anaknya? Kembalikan anaknya kepadanya”. [HR. Al-Bukhary dalam Al-Adab Al- Mufrad (382) dan Abu Dawud dalam As-Sunan (2/146). Lihat Ash-Shahihah (25)]

Sebagian manusia tidak menyayangi binatang, sehingga hewan, mereka tendang bagaikan bola, disiram  air panas seperti tembok, dikencingi seperti toilet, dibuang layaknya sampah.

Padahal perbuatan ini tercela, karena menyelisihi adab-adab dalam Islam yang mulia, dimana Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- memerintahkan umatnya untuk menyayangi hewan-hewan.

Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda,

وَالشَّاةُ إنْ رَحِمْتَهَا رَحِمَكَ اللهُ

“Sesungguhnya kambing, apabila engkau sayangi, maka Allah Akan menyayangimu.’ [HR. Al-Bukhary dalam Al-Adab Al-Mufrad (373), Ath-Thabraniy dalam Al-Mu’jam Ash-Shagier (hal. 6) dan selainnya. Lihat Shahih Al-Adab (hal. 132)]

Al-Imam Abdur Ra’uf Al-Munawiy –rahimahullah– berkata,

“ولهذا ورد النهي عن ذبح حيوان بحضرة آخر.” اهـ من فيض القدير (6/ 360)

“Oleh karena ini, telah datang larangan dari menyembelih hewan di depan hewan lainnya”. [Lihat Faidhul Qodir (6/466)]

Bahkan seekor binatang yang lebih rendah dan kecil dibandingkan dengan kambing, seperti burung pipit pun harus disayangi demi meraih rahmat Allah.

Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda,

مَنْ رَحِمَ وَلَوْ ذَبِيْحَةَ عُصْفُوْرٍ رَحِمَهُ اللهًُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Barang siapa yang menyayangi, walaupun berupa sembelihan burung pipit, maka Allah akan menyayangi orang itu di hari kiamat”. [HR. Al-Bukhariy dalam Al-Adab Al-Mufrad (371), Tamam Ar-Raziy dalam Al-Fawaid (2/194/1), dan Al-Baihaqiy dalam Asy-Syu’ab (3/3/145/1). Lihat Ash-Shahihah (27)]

Semua hadits-hadits dan atsar yang kami bawakan menunjukkan bahwa menyayangi binatang adalah perkara yang diperintahkan dalam Islam dan bahwa menzhalimi binatang (seperti, mengadunya atau membunuh dan lainnya) adalah perkara yang terlarang.

Bahkan terkadang menzhalimi binatang menjadi sebab seseorang masuk neraka.

Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda,

عُذِّبَتْ امْرَأَةٌ فِي هِرَّةٍ سَجَنَتْهَا حَتَّى مَاتَتْ فَدَخَلَتْ فِيهَا النَّارَ لَا هِيَ أَطْعَمَتْهَا وَلَا سَقَتْهَا إِذْ حَبَسَتْهَا وَلَا هِيَ تَرَكَتْهَا تَأْكُلُ مِنْ خَشَاشِ الْأَرْضِ

“Ada seorang wanita yang akan disiksa (di neraka) gara-gara kucing yang ia kurung sampai mati. Karenanya, ia masuk neraka gara-gara kucing itu. Wanita itu tidak memberinya makan dan minum saat ia mengurungnya, serta tidak pula ia lepaskan untuk memakan serangga-serangga bumi”. [HR. Al-Bukhoriy dalam Kitab Ahaadits Al-Anbiyaa’ (no. 3482) dan Muslim dalam Kitab As-Salam (no. 151)]

Al-Imam Abu Zakariyya Yahya bin Syarof An-Nawawiy berkata saat mengomentari hadits ini,

“وَفِي الْحَدِيثِ دَلِيلٌ لِتَحْرِيمِ قَتْلِ الْهِرَّةِ وَتَحْرِيمِ حَبْسِهَا بِغَيْرِ طَعَامٍ أَوْ شَرَابٍ…وَهَذِهِ الْمَعْصِيَةُ لَيْسَتْ صَغِيرَةً بَلْ صَارَتْ بِإِصْرَارِهَا كَبِيرَةً.” اهـ من شرح النووي على مسلم (14/ 459_460)

“Di dalam hadits ini terdapat dalil tentang pengharaman membunuh kucing dan pengharaman mengurungnya, tanpa diberi makan dan minum…Maksiat ini bukanlah kecil, bahkan ia berubah menjadi besar dengan sebab dilakukan terus-menerus”. [Lihat Al-Minhaj (14/459-460), cet. Darul Ma’rifah, 1420 H]

Para pembaca yang budiman, bila mengadu hewan saja itu terlarang, maka tentunya mengadu manusia lebih terlarang lagi. Apalagi mengadu antara muslim dengan muslim yang lainnya!!

Inilah yang menyebabkan datangnya adzab (siksa) bagi seorang muslim di alam kubur.

Ibnu Abbas -radhiyallahu ‘anhu- berkata,

أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَرَّ بِقَبْرَيْنِ فَقَالَ: إِنَّهُمَا يُعّذَّبَانِ وَمَا يَعَذَّبَانِ فِيْ كَبِيْرٍ, بَلَى إِنَّهُ كَبِيْرٌ أَمَّا أَحَدُهُمَا فَكَانَ يَمْشِيْ بِالنَّمِيْمَةِ, وَأَمَّا الآخَرُ فَكَانَ لَا يَسْتَتِرُ مِنْ بَوْلِهِ

“Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- pernah melewati dua kubur seraya bersabda, “Sesungguhnya kedua (penghuni)nya disiksa, sedang ia tak disiksa karena perkara besar (menurut sangkaanya, pen). Bahkan itu (sebenarnya) adalah perkara besar. Adapun salah satu diantaranya, ia melakukan adu domba. Adapun yang kedua, ia tidak berlindung dari (percikan) kencingnya”.”.[HR. Al-Bukhoriy dalam Shohih-nya (216), dan Muslim dalam Shohih-nya (111)]

Perhatikan bagaimana Allah menyiksa dua orang dalam kuburnya, akibat “perkara yang dianggap sepele” oleh sebagian orang pada hari ini, yaitu kencing sembarangan, dan adu domba (gosip yang merusak hubungan dua pihak).

Dia telah mengadu saudaranya ketika di dunia, bagaikan ia mengadu dua ekor domba.

Padahal domba sendiri bila diadu dengan saudaranya, maka si pengadu akan mendapatkan siksa. Bagaimana lagi bila mengadu antara dua orang muslim.

Perkara ini kami singgung, sebab di zaman kita ini banyak musang berbulu domba yang suka membawa gosip-gosip yang menanam benih perselisihan dan permusuhan di kalangan kaum muslimin sampai akhirnya terjadilah kerusakan diantara kaum muslimin.

Orang-orang seperti ini sering menyamar dan mengaku sebagai teman dan penasihat di saat terjadinya perselisihan di antara dua kubu.

Tapi sebenarnya ia adalah musuh dalam selimut yang berwajah dua, bahkan berwajah seribu!!!

Hari ini lain, besok lagi lain. Bila bertemu dengan si Zaid, maka ia adalah temannya. Namun bila bertemu dengan lawan Zaid, maka ia adalah lawan bagi si Zaid dan teman bagi lawan si Zaid.

Alangkah sialnya orang-orang yang bermuka dua seperti ini; dia telah menjalankan misi setan dalam memecah belah kaum muslimin.

Dia telah memecah belah diantara dua muslim yang bersaudara!!

Perhatikanlah, saat iman para sahabat sudah kokoh, setan sudah berputus asa dalam menggoda dan menggelincirkan mereka.

Hanya saja setan tinggal memiliki sebuah senjata ampuh dalam merusak mereka, yaitu senjata adu domba.

Karenanya. Nabi –Shallallahu alaihi wa sallam– bersabda dalam mengingatkan hal itu,

إِنَّ الشَّيْطَانَ قَدْ أَيِسَ أَنْ يَعْبُدَهُ الْمُصَلُّونَ فِي جَزِيرَةِ الْعَرَبِ وَلَكِنْ فِي التَّحْرِيشِ بَيْنَهُمْ

“Sesungguhnya setan telah berputus asa dari penyembahan orang-orang sholat (kaum muslimin) kepadanya (yakni, kepada setan) di Jazirah Arab. Akan tetapi (setan tetap berusaha) dalam mengadu domba diantara mereka”. [HR. Muslim dalam Kitab Sifah Al-Munafiqin (no. 7034-65/1)]

Ulama Negeri India, Al-Imam Al-Mubarokfuriy –rahimahullah– berkata,

قَالَ النَّوَوِيُّ هَذَا الْحَدِيثُ مِنَ الْمُعْجِزَاتِ النَّبَوِيَّةِ وَمَعْنَاهُ آيِسَ أَنْ يَعْبُدَهُ أَهْلُ جَزِيرَةِ الْعَرَبِ، وَلَكِنَّهُ يَسْعَى فِي التَّحْرِيشِ بَيْنَهُمْ بِالْخُصُومَاتِ وَالشَّحْنَاءِ وَالْحُرُوبِ وَالْفِتَنِ وَنَحْوِهَا انْتَهَى.” تحفة الأحوذي (6/ 165)

“An-Nawawiy berkata, “Hadits ini termasuk mukjizat kenabian. Makna hadits ini, setan putus asa dari penyembahan mereka kepadanya (yakni, kepada setan) di Jazirah Arab. Akan tetapi (setan tetap berusaha) dalam mengadu domba diantara mereka dengan permusuhan, kebencian, perang, fitnah (masalah) dan sejenisnya”. [Lihat Tuhfah Al-Ahwadziy (5/165)]

Ini semua menjelaskan kepada kita bahwa orang-orang yang bermuka dua alias musang berbulu domba.

Mereka adalah pengemban misi setan dalam merusak kaum muslimin.

Dia adalah setan manusia yang bertugas seperti setan jin yang berusaha merusak kehidupan dan kondisi kaum muslimin.

Manusia sial seperti ini banyak bertebaran di permukaan bumi. Mereka merusak hubungan antara rakyat dengan pemerintahnya, antara suami dengan istrinya, antara punggawa dan anak buahnya, antara guru dengan muridnya, antara guru dengan guru, antara anak dengan orang tuanya.

Parahnya lagi, bila hal ini dilakoni oleh orang-orang yang merasa dirinya sebagai juru nasihat dan pejuang Islam.

Tak ada permusuhan, perselisihan dan fitnah yang terjadi, kecuali akan muncul orang-orang yang suka mengadu saudaranya sebagaimana ia mengadu ayam dengan ayam.

Padahal ayam pun sebenarnya tak boleh kita adu antara satu dengan yang lainnya, sebagaimana yang telah kami utarakan sebelumnya.

—————————————————————————–

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Tulisan lainnya

Tulis komentar

Logged in as admin. Log out »




jannatul-firdaus.net @2018

Petaka Dusta dan Kesengsaraan Pelakunya

Bagikan…

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Petaka Dusta dan Kesengsaraan Pelakunya

  • Oleh : Al-Ustadz Abdul Qodir Abu Fa’izah hafizhahullah
  • [Pembina Ponpes Al-Ihsan Gowa]

Kejujuran pangkal dari segala kebaikan. Karena kejujuran akan mengantarkan seseorang kepada kehidupan yang bahagia di dunia dan di akhirat.

Dengan sikap jujur yang tulus dalam mengabdi kepada Allah –Azza Wa Jalla– dan setia menaati aturan Rasul-Nya, maka seorang muslim akan hidup dengan hati yang tenang, pemberani, rela berkorban dengan jiwa raga, serta tidak takut dengan cercaan dan hinaan yang menerpanya.

Adapun seorang yang pendusta, suatu ketika pasti menuai badai petaka dan sengsara serta memetik buah pahit sebagai balasan dari  kedustaan yang ia perbuat.

Di dunia ia akan dibenci dan dijauhi oleh teman atau lawan dan di akhirat kelak  akan mendapat adzab yang pedih.

Buah yang paling menyakitkan bagi para pendusta adalah tatkala seluruh ucapan serta perbuatannya akan ditolak dan manusia tidak percaya lagi kepadanya, karena ia dianggap sebagi sumber kedustaan, meskipun ia telah berusaha untuk jujur dalam setiap keadaan.

Oleh karenanya, kita dituntut untuk bersikap jujur, terutama kepada Allah dan  Rasul-Nya serta kepada seluruh manusia, bahkan kepada diri sendiri. 

Allah –Subhana Wa Ta’ala– berfirman,

{يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ } [التوبة: 119]

“Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang jujur”. (QS. At-Taubah: 119)

Para ahli tafsir memiliki lima pendapat tentang orang-orang yang benar (jujur) :

Pendapat pertama, mereka adalah Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- dan para sahabatnya. Ini dinyatakan oleh Ibnu Umar -radhiyallahu anhu-.

Kedua, mereka adalah Abu Bakr dan Umar. Ini pendapat Sa’id bin Jubair dan Adh-Dhohhak bin Muzahim.

Ketiga, mereka adalah tiga orang yang tertinggal perang Tabuk (Ka’ab bin Malik Al-Anshoriy As-Salamiy, Muroroh bin Ar-Robi’ Al-Anshoriy Al-Ausiy dan Hilal bin Umayyah Al-Anshoriy Al-Waqifiy.). Mereka semua jujur kepada Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- tentang ketertinggalan mereka (dari Perang Tabuk). Ini adalah pendapat As-Suddiy.

Keempat, mereka adalah para sahabat muhajirin. Pendapat ini ditegaskan oleh Ibnu Juraij.

Kelima, bahwa firman Allah ini umum mencakup semua orang yang benar (jujur) dalam ucapan, perbuatan dan keimanannya. Ini yang dinyatakan oleh Qotadah bin Di’amah As-Sadusiy. Intinya, orang-orang yang jujur dalam ayat ini adalah para sahabat Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-.

[Lihat Zaadul Masiir (2/308) oleh Abul Faroj Abdur Rahman Ibnul Jauziy Ad-Dimasqiy]

Di dalam ayat ini, Allah –Azza wa Jalla– telah memuji orang-orang yang jujur keimanan, ucapan dan perbuatannya, dan sebaliknya mencela orang-orang yang dusta keimanan, ucapan dan perbuatannya.

Orang yang jujur dan jauh dari kedustaan akan mendapatkan pertolongan dari Allah –Azza wa Jalla– dari segala macam kesusahan dan makar para musuh.

Lantaran itu, para sahabat Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- mendapatkan pertolongan dari Allah -Azza wa Jalla-.

Mereka senantiasa mendapatkan kemenangan dan pertolongan dalam perang-perang yang mereka hadapi. Mereka senantiasa mendapatkan kelapangan dalam kehidupannya.

Jadi, para sahabat adalah manusia yang jujur dan amanah sehingga mereka mendapatkan keutamaan menemani Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- dalam perjuangannya.

Sudah menjadi ketentuan di sisi Allah bahwa orang-orang-orang yang menemani beliau adalah orang-orang jujur.

Sementara para pendusta tak mungkin akan menemani beliau. Itulah sebabnya para ulama menyatakan kesepakatan mereka dalam memuji para sahabat Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- bahwa mereka adalah manusia jujur dalam keimanan, ucapan dan perbuatannya.

Al-Imam Abul Abbas Ibnu Taimiyyah Al-Harroniy –rahimahullah– berkata, “Para sahabat Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- –alhamdulillah—termasuk orang-orang yang paling benar (jujur) ucapannya. Tak dikenal ada seorang diantara mereka yang sengaja berdusta atas nama Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-”. [Lihat Minhaj As-Sunnah An-Nabawiyyah fi Naqd Kalam Asy-Syi’ah wa al-Qodariyyah (1/307)]

Pernyataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah –rahimahullah– juga dikuatkan oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqolaniy –rahimahullah-, saat beliau berkata, “Ahlus Sunnah telah sepakat bahwa seluruh sahabat adalah orang-orang ‘uduul (terpercaya dan diridhoi). Tak ada yang menyelisihi dalam perkara itu, kecuali orang-orang yang menyeleneh dari kalangan ahli bid’ah” .[Lihat Al-Ishobah fi Tamyiiz Ash-Shohabah (1/10)]

Para pembaca yang budiman, setelah kita mengetahui bahwa para sahabat adalah manusia terpercaya dalam ucapan, perbuatan dan keimanannya, maka dengan itu tentunya kita wajib mengikuti jejak dan jalan hidup mereka agar kita bersama orang-orang yang benar dan terpercaya dalam ucapan, perbuatan dan keimanannya.

Hidup bersama dan akrab dengan orang yang jujur merupakan kenikmatan yang besar. Sebab, sifat jujur memberikan rasa tentram dan ketenangan yang tidak dapat diraih oleh semua orang, kecuali orang yang mendapat taufik dan kemuliaan.

Diantara tanda-tanda orang jujur, ia memiliki ketenangan hati. Sedangkan orang yang pendusta, senantiasa dalam kegalauan dan  keguncangan jiwa sebagaimana sabda Nabi –Shallallahu ‘alaihi Wa Sallam-,

فَإِنَّ الصِّدْقَ طُمَأْنِينَةٌ وَإِنَّ الْكَذِبَ رِيبَةٌ

“Sesungguhnya kejujuran itu adalah ketenangan dan kedustaan adalah kebimbangan” [HR. At-Tirmidzi (2518) di-shohih-kan oleh Syaikh Albany dalam Al-Irwa’ (17 & 2074)]

Al-Imam Abdur Ra’uf  Al-Munawiy -rahimahullah- berkata, “Walhasil, kejujuran bila merasuki hati orang yang sempurna (yakni, orang beriman), maka cahaya kejujurannya akan bercampur dengan cahaya imannya. Karenanya, padamlah pelita kedustaan. Sebab, kedustaan adalah kegelapan, sedang kegelapan tak akan bercampur dengan cahaya”. [Lihat Faidhul Qodir Syarh Al-Jami’ Ash-Shoghier (3/706)]

Pembaca yang budiman, di hari ini kejujuran adalah  sesuatu yang sangat langka dan mahal. Sangat susah untuk mencari orang-orang yang jujur dan bisa dipercaya.

Di sebagian negeri, mereka rela berdusta demi mendapatkan dana dan bantuan, asal tujuan tercapai. Berapa banyak uang negara yang diambil atas nama rakyat ternyata masuk di kantong pribadi.

Dana-dana pembangunan sekolah, jembatan, jalanan dan lain-lain untuk kemaslahatan kaum  muslimin, semuanya tidak selamat dari penyunatan (pemotongan) orang-orang yang tidak bertanggung jawab.

Para pedagang tidak segan-segan lagi menipu para pembeli dan berbuat curang dalam timbangan-timbangan mereka. Sehingga menjadikan keberkahan perdagangan mereka menjadi hilang.

Nabi – Shallallahu ‘alaihi Wa Sallam – bersabda,

الْبَيِّعَانِ بِالْخِيَارِ مَا لَمْ يَتَفَرَّقَا قَالَ هَمَّامٌ وَجَدْتُ فِي كِتَابِي يَخْتَارُ ثَلَاثَ مِرَارٍ فَإِنْ صَدَقَا وَبَيَّنَا بُورِكَ لَهُمَا فِي بَيْعِهِمَا وَإِنْ كَذَبَا وَكَتَمَا فَعَسَى أَنْ يَرْبَحَا رِبْحًا وَيُمْحَقَا بَرَكَةَ بَيْعِهِمَا

“Penjual dan pembeli punya hak khiyar (pilihan untuk meneruskan atau membatalkan jual beli), selagi keduanya belum berpisah. Bila keduanya jujur dan menjelaskan (aib barang dagangannya), maka akan diberkahi dalam jual belinya. Bila berdusta dan menyembunyikan aibnya -meskipun ia memperoleh laba-, maka akan dihapus keberkahan jual belinya”.[HR. AlBukhary (2079)]

Al-Imam Abu Bakr Ibnul Mundzir An-Naisaburiy –rahimahullah– berkata, “Jadi, menyembunyikan aib barang dagangan adalah haram. Barangsiapa yang melakukan hal itu, maka ia terancam dengan tercabutnya keberkahan dalam jual-belinya di dunia dan juga terancam dengan siksaan yang pedih di akhirat”. [Lihat Syarh Al-Bukhoriy li Ibni Baththol (11/216)]

Kenapa berkah itu tercabut? Jawabnya, karena kejujuran tak ada diantara kedua belah pihak, lalu digantikan dengan kedustaan yang membawa kepada kesialan.

Seorang yang berakal akan selalu menghiasi dirinya dengan kejujuran. Dengannya, ia memperoleh kemulian di dunia dan akhirat. Dia akan disegani, dihormati dan dicintai oleh semua orang.

Sebaliknya, orang yang suka dusta, walaupun ia berusaha mencari hati dan perhatian manusia, tapi ia tetap dibenci, dijauhi dan dicurigai oleh semua pihak.

Ketahuilah bahwa kejujuran adalah perkara terpuji yang menuai kebaikan di dunia dan di akhirat.

Rasulullah- Shallallahu ‘alaihi Wa Sallam – juga menjamin orang yang jujur dan mau meninggalkan dusta dengan jaminan surga sebagaimana sabdanya,

أَنَا زَعِيمٌ بِبَيْتٍ فِي رَبَضِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَإِنْ كَانَ مُحِقًّا وَبِبَيْتٍ فِي وَسَطِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْكَذِبَ وَإِنْ كَانَ مَازِحًا وَبِبَيْتٍ فِي أَعْلَى الْجَنَّةِ لِمَنْ حَسَّنَ خُلُقَهُ

saya orang yang menjamin rumah dipinggir surga bagi orang yang meninggalkan debat meskipun benar, dan rumah di tengah surga bagi orang yang meninggalkan dusta meskipun dalam keadaan bergurau, serta rumah di tengah surga bagi orang yang memperbaiki akhlaknya.”[HR. Abu Dawud (4800), At-Tirmidzi (1993) dan Ibnu Majah (51). Di-shohih-kan oleh Al-Albaniy dalam Ash-Shohihah (no. 494)]

Pembaca yang budiman, sesungguhnya dusta merupakan biang kejelekan. Sebab satu kedustaan akan memancing kedustaan yang lainnya sehingga ia terbiasa dengan kebohongannya dalam segala perkara.

Akhirnya, manusia pun menjauhinya dan membencinya serta mengenalnya  sebagai orang yang pendusta.

Oleh sebab itu, tatkala seseorang mulai berdusta dan menggampangkan perbuatan dusta, maka sama saja ia telah melemparkan dirinya ke dalam jurang kebinasaan, sebagaimana yang diterangkan dalam sabda Nabi –Shallallahu ‘alaihi Wa Sallam-,

إِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَصْدُقُ حَتَّى يَكُونَ صِدِّيقًا وَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِي إِلَى الْفُجُورِ وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِي إِلَى النَّارِ وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَكْذِبُ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ كَذَّابًا

“Sesungguhnya kejujuran akan mengantarkan kepada kebaikan, dan sesungguhnya kebaikan akan mengantarkan ke surga. Senantiasa seseorang berlaku jujur dan berusaha untuk selalu jujur hingga ia dicatat oleh Allah sebagai shiddiq (orang amat jujur). Sesungguhnya kedustaan akan mengantarkan kepada kedurhakaan (dosa), dan sesungguhnya kedurhakaan akan mengantarkan ke neraka. Senantiasalah seorang hamba berdusta dan berusaha untuk selalu berdusta hingga ia dicatat oleh Allah sebagai pendusta”. [HR. Al-Bukhoriy dalam Shohih-nya (no. 6094), dan Muslim dalam Shohih-nya (no. 2607)]

Al-Imam Abu Zakariyya Yahya Ibn Syarof An-Nawawiy rahimahullah– berkata, “Para ulama berkata, “Di dalam hadits ini terdapat anjuran untuk berusaha jujur, yakni menginginkan kejujuran, dan memperhatikannya, dan (di dalamnya juga) terdapat peringatan dari bahaya dusta, dan bergampangan di dalamnya. Karena, jika ia bergampangan dalam dusta, maka dusta itu akan semakin banyak darinya, lalu ia pun dikenal dengannya. Allah akan mencatatnya sebagai shiddiq (yang amat jujur), karena kesungguhannya, jika ia terbiasa dengan kejujuran; atau ia dicatat sebagai pendusta, jika ia terbiasa dengan dusta”. [Lihat Al-Minhaj Syarh Shohih Muslim (16/375)]

Lantaran itu, hendaklah seorang muslim menjauhi sifat dusta. Karena, dusta merupakan akhlak yang rendah dan hina.

Tidak pantas bagi seorang muslim untuk menghiasi dirinya dengan sifat dusta sebab hal itu merupakan tanda kemunafikan.

Rasulullah –Shallallahu ‘alaihi Wa Sallam– bersabda,

أَرْبَعٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ كَانَ مُنَافِقًا خَالِصًا وَمَنْ كَانَتْ فِيهِ خَصْلَةٌ مِنْهُنَّ كَانَتْ فِيهِ خَصْلَةٌ مِنْ النِّفَاقِ حَتَّى يَدَعَهَا إِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ وَإِذَا حَدَّثَ كَذَبَ وَإِذَا عَاهَدَ غَدَرَ وَإِذَا خَاصَمَ فَجَرَ

Ada empat perangai tatkala ada pada seseorang, maka dia seorang munafik tulen. Barangsiapa yang memiliki salah satu perangai darinya, maka padanya ada satu perangai kemunafikan hingga ia meninggalkannya. Yaitu: jika diberi amanah dia berkhianat, jika berbicara dia berdusta, jika berjanji dia melanggarnya; dan jika berdebat, maka dia curang.”[HR. Al-Bukhoriy (no. 34) dan Muslim (no. 207-106/1)]

Sifat dusta adalah ciri kaum munafik. Adapun muslim yang taat dan jujur dalam beragama, maka ia sejatinya jauh dari sifat dusta, lalu menghias diri dengan kejujuran.

Sifat yang akan menyeret diri seorang muslim kepada kemurkaan Allah; sifat yang membawa kesengsaraan dan keburukan bagi pelakunya.

—————————————————————————–

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Tulisan lainnya

Tulis komentar

Logged in as admin. Log out »




jannatul-firdaus.net @2018

Meraih Manisnya Akhlak

Bagikan…

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Meraih Manisnya Akhlak

  • Oleh : Al-Ustadz Abdul Qodir Abu Fa’izah hafizhahullah
  • [Pembina Ponpes Al-Ihsan Gowa]

Akhlaq merupakan salah satu perkara yang dibawa dan didakwahkan oleh Rasulullah –Shallallahu alaihi wa sallam– di tengah umatnya.

Akhlak banyak memberikan pengaruh kepada kaum musyrikin sampai banyak diantara mereka yang masuk Islam karena melihat akhlaq Sang Nabi Pembawa Rahmat, Muhammad –Shallallahu alaihi wa sallam-.

Masyarakat Quraisy jahiliah adalah masyarakat yang menyembah makhluk, namun masih memiliki akhlaq yang karimah (mulia) yang mereka warisi dari orang-orang sholih sebelumnya.

Akhlaq yang mereka pelihara dahulu, seperti: menjaga malu, amanah, melayani para tamu, menjamu para jama’ah haji, menyambung silaturahmi, bersedekah, dan lainnya.

Ketika Nabi –Shallallahu alaihi wa sallam– datang menyelamatkan mereka dari kubang kesyirikan, dan dari sebagian penyimpangan akhlak, maka Nabi –Shallallahu alaihi wa sallam– membawa risalah Islam berupa Al-Qur’an dan Sunnah yang berisi akhlak yang amat sempurna lagi terpuji.

Dahulu akhlak hanya dalam batasan sempit, Rasulullah –Shallallahu alaihi wa sallam– memperluas cakupannya, sehingga mencakup akhlaq kepada Allah -Azza wa Jalla- dan akhlak kepada makhluk.

Inilah yang disinyalir oleh Nabi –Shallallahu ‘alaihi wa sallam–  dalam sabdanya,

إِنَّمَا بُعِثْتُ لأُتَمِّمَ مَكَارِمَ اْلأَخْلاَقِ

“Aku hanyalah diutus untuk menyempurnakan makarimul akhlaq (akhlaq-akhlaq yang mulia)”. [HR. Al-Bukhoriy dalam Al-Adab Al-Mufrod (273), Ahmad dalam Al-Musnad (2/381/no. 8939), Al-Baihaqiy dalam As-Sunan Al-Kubro (10/191/no. 20571), Al-Hakim dalam Al-Mustadrok alaa Ash Shohihain (4221). Hadits ini di-shohih-kan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Shohih Al-Jami’ (2349)]

Penampilan seorang manusia ada dua macam :

(1)  penampilan lahiriah dan

(2)  penampilan batin.

Penampilan lahiriah, seperti : ganteng, jelek, hitam, putih, buta, melihat, dan lainnya.

Penampilan batin, misalnya : malu, berani, pemurah, dermawan, suka membantu, suka melayani hajat orang lain tanpa pamrih, menyambung silaturahim.

Penampilan batin inilah yang biasa disebut “AKHLAQ”.

Jadi, akhlaq adalah penampilan batin yang dimiliki oleh seorang hamba dalam bermuamalah dengan yang lain. Akhlaq biasa disebut dengan istilah “adab”, atau “suluk”.

Al-Imam Jamaluddin Al-Qosimiy –rahimahullah– menjelaskan bahwa jika dari penampilan batin itu muncul perbuatan-perbuatan yang baik menurut akal dan syari’at, maka penampilan itu disebut dengan “akhlaq hasanah” (akhlaq yang baik) atau “akhlaq karimah” (akhlaq yang mulia). [Lihat Jawami’ Al-Adab fi Akhlaq Al-Anjaab (hal. 138) yang dicetak dalam sebuah album kitab yang berjudul “Rosa’il fil Akhlaq”, cet. Dar Al-Bashiroh, Mesir]

Allah -Ta’ala- dan Nabi –Shallallahu ‘alaihi wa sallam– ketika memuji akhlaq di dalam Al-Qur’an dan hadits, maka yang dimaksud ialah AKHLAQ KARIMAH.

Diantara keutamaan akhlaq yang disebutkan oleh Rasulullah –Shallallahu alaihi wa sallam– :

  1. Akhlaq Karimah adalah Amalan Penduduk Surga

Kebaikan akhlaq seseorang merupakan sebab ia dimasukkan ke dalam surga yang penuh dengan kenikmatan. Abu Hurairah –radhiyallahu anhu– berkata,

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ -رَضِيَ اللهُ عَنْهُ- قَالَ: سُئِلَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ أَكْثَرِ مَا يُدْخِلُ النَّاسَ الْجَنَّةَ ؟ فَقَالَ: تَقْوَى اللهِ وَحُسْنُ الْخُلُقِ

“Telah ditanya Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- tentang kebanyakan sesuatu yang memasukkan manusia ke dalam surga? Maka beliau bersabda, “Ketaqwaan kepada Allah -Ta’ala-, dan kebaikan akhlaq”. [HR. At-Tirmidziy dalam Sunan-nya (2004), dan Ibnu Majah dalam Sunan-nya (4246). Hadits ini di-hasan-kan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Shohih At-Targhib (no. 1723)]

Al-Imam Ath-Thibiy –rahimahullah– berkata,

“Kebaikan akhlaq merupakan isyarat kepada baiknya muamalah (pergaulan) dengan makhluk. Kedua perkara ini (taqwa dan kebaikan akhlaq) merupakan dua sebab masuk surga”. [Lihat Tuhfah Al-Ahwadziy (6/132)]

  1. Akhlaq yang Baik adalah Sebab yang Mendatangkan Cinta Allah Kepada Seorang Hamba.

Seorang yang ingin dicintai oleh Allah, harus berusaha memperbaiki akhlaqnya.

Sebab semakin seorang berakhlaq, maka berarti hati seorang hamba semakin baik, dan dekat kepada Allah -Ta’ala-.

Oleh karena itu, Nabi –shallallahu alaihi wa sallam– bersabda,

أَحَبُّ عِبَادِاللهِ إِلَى اللهِ أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا

“Hamba yang paling dicintai oleh Allah adalah orang yang paling baik akhlaqnya diantara mereka”. [HR. Ath-Thobroniy dalam Al-Ausath (471). Di-shohih-kan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Ash-Shohihah (no. 432)]

  1. Akhlaq yang Karimah adalah sebab Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam– Mencintai Seseorang

Jika akhlaq seseorang baik, maka ia bukan hanya dicintai Allah, bahkan juga akan dicintai oleh Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam-, dan menjadi orang yang terdekat kepada beliau.

Nabi –shallallahu alaihi wa sallam– bersabda,

إِنَّ مِنْ أَحَبِّكُمْ إِلَيَّ وَأَقْرِبِكُمْ مِنِّيْ مَجْلِسًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَحَاسِنُكُمْ أَخْلاَقًا

“Sesungguhnya orang yang paling aku cintai diantara kalian dan paling dekat tempatnya kepadaku di hari kiamat adalah orang yang bagus akhlaqnya”. [HR. At-Tirmidziy dalam Sunan-nya (2018). Hadits ini di-shohih-kan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Ash-Shohihah (no. 791)]

Jadi, seorang yang ingin dekat kepada Nabi Muhammad –shallallahu alaihi wa sallam-, maka harus berusaha memperbaiki akhlaqnya.

  1. Akhlaq yang Karimah adalah Sesuatu yang Paling Berat Timbangannya pada Hari Kiamat

Akhlak karimah adalah bagian dari amal sholeh yang dikerjakan oleh seorang hamba.

Akhlaq yang karimah akan diberikan balasan yang banyak oleh Allah -Ta’ala-, karena ia terpancar dari keimanan yang kuat.

Nabi Muhammad –shallallahu alaihi wa sallam– mengabarkan hal itu dalam sabdanya,

مَا مِنْ شيْءٍ فِي الْمِيْزَانِ أَثْقَلُ مِنْ حُسْنِ الْخُلُقِ

“Tidak ada sesuatu dalam mizan (timbangan) yang lebih berat daripada akhlaq yang baik”. [HR. Abu Dawud dalam Sunan-nya (no. 4799). Hadits ini di-shohih-kan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Ash-Shohihah (no. 876)]

Jadi, akhlaq yang baik akan mendapatkan balasan yang banyak bagi orang yang berhias diri dengan akhlaq karimah.

Faedah :

Di dalam hadits ini terdapat dalil yang menetapkan aqidah ahlus Sunnah bahwa mizan (timbangan) adalah sesuatu yang memiliki hakikat dan bentuk.

Al-Allamah Syaikh Mar’iy Al-Karmiy –rahimahullah– berkata, “Aqidah yang benar di sisi Ahlus Sunnah wal Jama’ah bahwa yang dimaksud dengan “mizan” (timbangan) adalah mizan yang hakiki sebagaimana akan datang (penjelasannya)”. [Lihat Tahqiq Al-Burhan fi Itsbat Haqiqoh Al-Mizan (hal. 24)]

Pengingkaran terhadap keberadaan mizan merupakan aqidah sekte sesat Jahmiyyah, Qodariyyah, suatu kaum dari kalangan pendahulu sekte sesat Mu’tazilah yang biasa digelari dengan sekte “Al-Wazniyyah”.

 

  1. Akhlaq Karimah melipatgandakan pahala, dan balasan kebaikan.

Seseorang yang memiliki akhlaq karimah akan mendapatkan keutamaan yang banyak di sisi Allah -Ta’ala- .

Diantara keutamaan itu, Allah akan melipatgandakan pahalanya, sehingga ia bisa mengejar derajat orang yang suka mengerjakan sholat malam, dan suka berpuasa di siang hari.

Nabi –shallallahu alaihi wa sallam– bersabda,

إِنَّ الرَّجُلَ لَيُدْرِكُ بِحُسْنِ خُلُقِهِ دَرَجَاتِ قَائِمِ اللَّيْلِ صَّائِمِ النَّهَارِ

“Sesungguhnya seseorang -dengan kebaikan akhlaqnya- dapat mengejar derajat orang yang mengerjakan sholat malam, dan puasa di siang hari”. [HR. Abu Dawud dalam Sunan-nya (4798). Di-shohih-kan oleh Al-Albaniy dalam Ash-Shohihah (795)]

Ulama Negeri India, Al-Imam Syamsul Haqq Al-Azhim Abadi –rahimahullah– berkata,

“Pemilik akhlak yang baik hanyalah diberi keutamaan agung seperti ini, karena orang yang berpuasa dan yang sholat malam, keduanya menghadapi jiwanya dalam menyelisihi hawa nafsunya. Adapun orang yang baik akhlaknya kepada manusia –di samping adanya perbedaan tabiat dan akhlak mereka-, maka ia seakan-akan menghadapi jiwa yang banyak. Lantaran itu, ia meraih sesuatu yang diraih oleh orang yang berpuasa lagi melaksanakan sholat malam. Jadi, keduanya sama derajatnya, bahkan boleh jadi orang yang baik akhlaqnya melebihinya”.[Lihat Aunul Ma’bud (10/320)]

  1. Akhlak Karimah adalah sebaik-sebaik Amalan Para Hamba

Akhlak Karimah merupakan bekal yang terbaik, dan amalan yang tidak ada tandingannya di hadapan Allah –Azza wa Jalla-.

Nabi –shallallahu alaihi wa sallam– bersabda,

“Wahai Abu Dzarr, tidakkah engkau mau aku tunjukkan kepadamu tentang dua sifat, keduanya lebih ringan di punggung, dan lebih berat di Mizan (timbangan)”.

Abu Dzarr berkata, “Aku mau, wahai Rasulullah”.

Beliau bersabda,

عَلَيْكَ بِحُسْنِ الْخُلُقِ وَطُوْلِ الصَّمْتِ, فَوَالَّذِيْ نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ, مَا عَمَلُ الْخَلاَئِقِ بِمِثْلِهِمَا

“Lazimilah akhlak yang baik, dan diam yang panjang. Demi Allah Yang jiwa Muhammad ada di Tangan-Nya, tidaklah ada amalan para makhluk yang menandingi keduanya”. [HR. Ibnu Abid Dunya dalam Kitab Ash-Shomti (112 & 554). Di-hasan-kan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Ash-Shohihah (1938)]

Jadi, seorang yang ingin mendapatkan kebaikan yang tiada tandingannya, maka hendaknya ia melazimi kedua hal itu :

* akhlak yang baik, dan

* diam yang panjang (banyak diam).

Semua ini tak mungkin akan terjadi, kecuali karena kuatnya pengaruh iman yang bercokol dalam jiwa.

  1. Akhlak Karimah Menambah Umur, dan Memperbaiki Negeri

Jika seorang ingin dipanjangkan umurnya, dan diperbaiki negerinya oleh Allah -Ta’ala- , maka hendaknya seorang memperbaiki akhlaknya.

Nabi –shallallahu alaihi wa sallam– bersabda,

وَصِلَةُ الرَّحِمِ وَحُسْنُ الْخُلُقِ وَحُسْنُ الْجِوَارِ يَعْمُرَانِ الدِّيَارَ وَيَزِيدَانِ فِي الْأَعْمَارِ

“Silaturahim, akhlak yang baik dan pertetanggaan yang baik akan memperbaiki negeri, dan menambah umur”. [HR. Ahmad dalam Al-Musnad (6/159). Hadits ini di-shohih-kan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Ash-Shohihah (no. 519)]

Seorang yang baik akhlaknya, negerinya akan diperbaiki, dan umurnya akan ditambah oleh Allah -Ta’ala-.

Karena dengan kebaikan akhlak, orang akan mencintai kita, membantu kita, dan mendo’akan kebaikan bagi kita.

Semoga Allah –Azza wa Jalla– menjadikan kita sebagai orang-orang yang berakhlaq baik kepada Allah dan makhluk-Nya sehingga kita tercatat di sisi-Nya sebagai hamba-hamba yang bertaqwa dan berakhlaq karimah; hamba yang mendapatkan derajat yang tinggi di sisi-Nya, dan dikumpulkan bersama Nabi –Shollallahu alaihi wa sallam– dan orang-orang sholih.

—————————————————————————–

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram


Download Pdf

Tulisan lainnya

jannatul-firdaus.net @2018

Bersolek ala Jahiliah

Bagikan…

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Bersolek ala Jahiliah

  • Oleh : Al-Ustadz Abdul Qodir Abu Fa’izah hafizhahullah
  • [Pembina Ponpes Al-Ihsan Gowa]

Roda kehidupan terus berjalan bagaikan air yang mengalir, tanpa penghalang. Perjalanan kehidupan ini dari zaman ke zaman terus mengalami perubahan. Era tahun 70-an berbeda dengan era tahun 80-an dan seterusnya.

Jika kita meneropong sebuah sudut kehidupan anak cucu Adam, khususnya kehidupan wanita dari zaman ke zaman, maka kita akan menemukan perubahan drastis sehingga muncullah istilah baru “Lain dulu, lain sekarang”.

Dahulu wanita malu berkeliaran di luar rumah, dan berusaha menjaga kesucian dan kehormatan dirinya, karena mengikuti firman Allah,

{وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى} [الأحزاب: 33]

“Dan hendaklah kalian (kaum wanita) tetap di rumahmu dan janganlah kalian ber-tabarruj (berhias) dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu” (QS. Al-Ahdzab: 33)

Kini, banyak wanita muslimah berkeliaran di jalan-jalan, kantor-kantor, pompa-pompa bensin, mall-mall dengan berbagai macam tabarruj (solekan dan gaya) ala jahiliah, mulai dari pakaian sempit, transparan, pendek lagi seksi, lalu dipoles dengan berbagai merek make up buatan dalam negeri ataupun buatan mancanegara.

Ada lagi di antara mereka yang berjalan dengan selop tinggi, dan bau Parfum yang merangsang birahi hewani kaum lelaki.

Mereka bangga dengan penampilan tak senonoh itu, tanpa merasa bersalah. Padahal ia telah keluar dengan solekan ala jahiliah yang telah mengubur rasa malunya.

Problema wanita semacam ini merupakan ujian terberat bagi kaum lelaki, apalagi di zaman sekarang yang jauh dari ilmu syar’i. Banyak kaum lelaki yang tergelincir karena tergoda oleh kaum wanita yang berseliweran dan berkeliaran di hadapannya, dengan tampilan dan solekan ala jahiliah.

Inilah yang pernah disinyalir oleh Nabi –Shallallahu alaihi wa sallam– dalam sabdanya,

مَا تَرَكْتُ بَعْدِي فِتْنَةً أَضَرَّ عَلَى الرِّجَالِ مِنْ النِّسَاءِ

“Aku tidak meninggalkan fitnah (masalah) yang lebih besar atas kaum lelaki setelahku dibandingkan wanita”.

[HR. Al-Bukhoriy dalam An-Nikah (no. 5096), dan Muslim dalam Adz-Dzikr wa Ad-Du’a’ (no. 7880 & 6881)]

Godaan dan ujian wanita bukanlah perkara remeh. Umat-umat terdahulu banyak yang menyimpang dan durhaka karena masalah wanita.

Bagaimana tidak, sebab sebagian manusia ada yang harus melakukan kezhaliman, perang, sogok-menyogok, korupsi, mencuri, mencari uang dengan cara batil, membunuh, dan berbagai macam cara.

Semua itu mereka lakukan demi memuaskan wanita yang ia cintai.

Al-Husain bin Mahmud Al-Muzhhiriy Az-Zaidaniy –rahimahullah- berkata saat mengomentari hadits di atas,

فتتن بها الرجال، لأن تلذذهم بهن أكثر من سائر التلذذات، لميل الطباع إليهن أكثر مما تميل إلى غيرهن من التلذذات، فربما يقع الرجل في الحرام، وربما يقع بين الرجال مقاتلةٌ وعداوةٌ بسبب النساء، بأن يقول رجل: أنا أتزوج هذه المرأة، ويقول الآخر: بل أنا أتزوجها.” المفاتيح في شرح المصابيح (4/ 10)

“Karena wanita, kaum lelaki tergoda. Sebab, kesenangan mereka pada wanita lebih besar daripada seluruh kesenangan, akibat kecondongan tabiat kaum pria kepada kaum wanita yang lebih besar dibandingkan kecondongan mereka kepada selain wanita. Kadang kala kaum pria jatuh dalam perkara haram (gara-gara wanita), dan kadang pula terjadi di antara kaum pria peperangan dan permusuhan, gara-gara wanita, misalnya, seorang laki-laki berkata, “Aku akan menikahi wanita ini.” Sedang yang lainnya berkata, “Bahkan aku yang akan menikahinya”. [Lihat Al-Mafatih (4/10)]

Syarofuddin Ath-Thibiy –rahimahullah- berkata,

“وذلك أن المرأة إذا لم تكن يمنعها الصلاح الذي من جبلتها، كانت عين المفسدة، فلا تأمر زوجها إلا بشر ولا تحثه إلا علي فساد، وأقل ذلك أن ترغبه في الدنيا كي يتهالك فيها، وأي فساد أضر من هذا!” اهـ من شرح المشكاة للطيبي الكاشف عن حقائق السنن (7/ 2260)

“Yang demikian itu, karena wanita bila tidak dicegah oleh kesholihan dirinya yang menjadi tabiatnya, maka ia akan menjadi kerusakan, sehingga ia tidak akan memerintahkan suaminya, kecuali kepada keburukan, serta tidak akan mendorong suaminya, kecuali kepada kerusakan. Minimalnya, ia membuat suaminya cinta dunia agar si suami binasa karenanya. Nah, kerusakan apakah yang lebih membahayakan daripada semua ini?!” [Lihat Al-Kasyif ‘an Haqo’iq As-Sunan (7/2260)]

Rasulullah –Sholllallahu alaihi wa sallam– bersabda,

 فَاتَّقُوا الدُّنْيَا وَاتَّقُوا النِّسَاءَ، فَإِنَّ أَوَّلَ فِتْنَةِ بَنِي إِسْرَائِيلَ كَانَتْ فِي النِّسَاءِ

“Waspadailah dunia, dan waspadailah wanita. Sebab, awal fitnah (masalah) di kalangan Bani Isra’il adalah pada wanita”. [HR. Muslim dalam Adz-Dzikr wa Ad-Du’a’ (no.6883)]

Jika kita melayangkan pandangan kepada realita para di zaman sekarang, sungguh membuat hati teriris pilu saat melihatnya.

Perzinaan merebak, kejahatan seksual yang kian menemukan kebebasannya. Dimana-mana terdengar rintihan wanita muda, nenek-nenek malang, bahkan anak-anak ingusan karena diperkosa.

Semua itu terjadi karena fitnah (godaan) yang timbul dari penampilan dan solekan wanita itu sendiri.

Mereka pamer aurat di televisi dan di media cetak. Mereka berpose di depan kamera dengan menggunakan pakaian yang sangat tipis lagi ketat, bahkan nyaris telanjang. Kemana-mana, mereka memamerkan kemolekan dada dan paha serta memperlihatkan sesuatu yang seharusnya disembunyikan.

Kini, rasa malu itu telah terkubur! Laa haula walaa quwwata illa billah!!

Permasalahannya tak berhenti hanya disitu saja. Kini, para wanita-wanita muslimah yang tipis iman, mengikuti gaya dan solekan para artis yang tampil di layar kaca.

Akibatnya, kerusakan bukan hanya terbatas pada layar kaca saja, bahkan menular di alam nyata, dari kota sampai ke pelosok desa dan hutan. Tidak heran bila solekan jahiliah yang biasa dilakukan oleh para artis di layar kaca, pun terlihat pada wanita-wanita lugu yang ada di pelosok dan pedalaman sebagai imbas dari tontonan mereka lewat televisi.

Dengan perbuatan kaum wanita itu, mereka telah mengobarkan nyala api fitnah (godaan) dan menggelorakan syahwat dalam hati para lelaki yang melihatnya, sehingga laki-laki yang terangsang melampiaskan hawa nafsunya kepada orang-orang yang berada di sekitarnya.

Para wanita pesolek inilah yang pernah diancam oleh Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– dalam sabdanya,

صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُونَ بِهَا النَّاسَ وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيلَاتٌ مَائِلَاتٌ رُءُوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ لَا يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلَا يَجِدْنَ رِيحَهَا وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ كَذَا وَكَذَا

“Ada dua golongan penghuni neraka yang belum pernah saya lihat: (1) kaum yang membawa cemeti bagai ekor sapi yang digunakan memukul manusia, dan (2) wanita-wanita yang berpakaian tapi telanjang, berlenggak-lenggok. Kepala mereka (wanita-wanita tersebut) laksana punuk onta yang miring. Para wanita ini tak akan masuk surga, dan tak akan mendapatkan bau surga, sedang baunya bisa didapatkan dari perjalanan demikian dan demikian”. [HR. Muslim dalam Shohih-nya (no. 5547 & 7123)]

Rasulullah –Shalallahu ‘alaihi wassalam– bersabda

سَيَكُونُ فِي آخِرِ أُمَّتِي نِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ ، عَلَى رُؤُوسِهِنَّ كَأَسْنِمَةِ البَخْتِ ، اِلْعَنُوهُنَّ فَإنَّهُنَّ مَلْعُونَاتٌ

“Akan ada pada akhir umatku nanti wanita-wanita yang berpakaian tapi telanjang, kepala mereka bagaikan punuk unta, laknatlah mereka karena mereka adalah wanita-wanita yang pantas dilaknat”. [HR. Ath-Thobroniy dalam Al-Mu’jam Ash-Shoghier (hal. 232). Hadits ini di-shohih-kan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Ats-Tsamr Al-Mustathob (1/317)]

Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albaniy –rahimahullah– berkata,

“فهي كاسية وهى في الحقيقة عارية مثل من تكتسي الثوب الرقيق الذي يصف بشرتها أو الثوب الضيق الذي يبدي تقاطيع خلقها مثل: عجيزتها وساعدها ونحو ذلك، وإنما كسوة المرأة ما تسترها، فلا تبدي جسمها ولا حجم أعضائها؛ لكونه كثيفًا واسعًا.” اهـ من جلباب المرأة المسلمة في الكتاب والسنة (ص: 151)

Wanita ini berpakaian, sedang hakikatnya ia telanjang, misalnya, ia mengenakan pakaian yang transparan yang menggambarkan warna kulitnya, atau mengenakan pakaian ketat melukiskan lekuk-lekuk badannya (seperti, pinggulnya, lengannya, dan sejenis itu). Pakaian wanita (yang benar) adalah pakaian yang menutupi dirinya. Lantaran itu, ia (wanita) tidak menampakkan tubuh, dan bentuk (lekuk) anggota badannya, karena pakaiannya tebal lagi luas”. [Lihat Jilbab Al-Mar’ah Al-Muslimah (hal. 151), cet. Al-Maktabah Al-Islamiyyah, 1413 H]

Sebagian wanita tak mengerti bahwa seluruh tubuhnya adalah aurat yang harus ditutupi dengan pakaian dan jilbab yang besar lagi luas dan tebal.

Mereka menyangka bahwa aurat wanita hanya sebatas dari bahu sampai kepada kemaluan, sehingga mereka -tanpa malu-, ada yang menampakkan rambutnya, kaki, betis, atau pahanya.

Jelas ini sebuah kesalahpahaman yang harus diluruskan bahwa aurat wanita adalah semua jasad wanita!!!

Allah –ta’ala– berfirman,

{يَاأَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا} [الأحزاب: 59]

“Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan wanita-wanita orang mukmin, “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, sehingga mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS. Al-Ahzaab : 59)

Para pembaca yang budiman, di zaman kini, kecantikan wanita sudah menjadi sebuah“bahan komoditi” yang laris.

Lomba betis indah, bibir seksi, cewek gaul dan keren atau lomba-lomba lainnya yang memamerkan tubuh mereka, justru semakin menjadi-jadi!

Para wanita yang menampakkan kemolekan dada dan paha-paha mereka, dijadikan sebagai alat pelaris dagangan oleh para hidung belang di dunia periklanan dan perniagaan!!

Para muslimah kini tak malu lagi memamerkan auratnya di jalan-jalan, tempat perbelanjaan, tepi pantai dan tempat-tempat umum lainnya, sehingga nyaris tak ada sebuah sudut di perkotaan dan pedesaan, kecuali mata akan tertuju kepada solekan wanita ala jahiliah.

Sungguh ini merupakan musibah besar berupa kemerosotan akhlak dan perilaku. Sebab, pamer aurat sudah dianggap lumrah! Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un.

Namun anehnya, kaum muslimin justru sengaja menutup mata dari akhlak yang keji ini dan tidak merasa risih dan terusik ketika melihat pemandangan yang rusak ini.

Mereka tenang-tenang saja bahkan merestuinya, tanpa mempedulikan bahaya dan kerusakan yang timbul karenanya.

Sikap seperti ini, akan menyeret mereka ke dalam lembah kebinasaan, karena tidak adanya kaum yang mengingkari kemungkaran yang ada di tengah-tengah mereka.

Allah –subhana wa ta’ala– berfirman,

{لُعِنَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ عَلَى لِسَانِ دَاوُودَ وَعِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ ذَلِكَ بِمَا عَصَوْا وَكَانُوا يَعْتَدُونَ (78) كَانُوا لَا يَتَنَاهَوْنَ عَنْ مُنْكَرٍ فَعَلُوهُ لَبِئْسَ مَا كَانُوا يَفْعَلُونَ (79)} [المائدة: 78، 79]

“Telah dila’nati orang-orang kafir dari Bani Israil melalui lisan Daud dan Isa putera Maryam. Yang demikian itu, disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas. Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan munkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu.” (QS. Al-Maidah: 78-79)

Rasulullah –Sholllallahu alaihi wa sallam– bersabda,

إنَّ النَّاسَ إذَا رَأَوْا المُنْكَرَ فَلَمْ يُغَيِّرُوهُ أوْشَكَ أنْ يَعُمَّهُمُ اللهُ بِعَذَابٍ

“Sesungguhnya manusia bila melihat kemungkaran dan tidak merubahnya, dikhawatirkan Allah akan menimpakan mereka adzab”. [HR. Ibnu Majah dalam Sunan-nya (no. 4076). Hadits ini di-shohih-kan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Takhrij Al-Misykah (no. 5142)]

Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam–  bersabda,

وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَتَأْمُرُنَّ بِالْمَعْرُوفِ وَلَتَنْهَوُنَّ عَنْ الْمُنْكَرِ أَوْ لَيُوشِكَنَّ اللَّهُ أَنْ يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ عِقَابًا مِنْهُ ثُمَّ تَدْعُونَهُ فَلَا يُسْتَجَابُ لَكُمْ

“Demi Zat yang jiwaku ada di Tangan-Nya, sungguh kalian semua memerintahkan kebaikan dan melarang dari kemungkaran atau kalau tidak, maka hampir-hampir saja Allah akan menurunkan siksa kepada kalian semua. Kemudian kalian semua berdoa kepada-Nya, tetapi tidak akan dikabulkan untukmu semua doa itu.” [HR. At-Tirmidziy dalam Sunan-nya (no. 2169). Di-hasan-kan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Takhrij Hidayah Ar-Ruwah (no. 5068)]

Apabila perbuatan para wanita itu disebut dengan “kemajuan zaman” yang semakin moderen ini, semakin untungkah wanita jika ia dikonteskan atau diperlombakan?!!

Semakin untungkah wanita jika kecantikannya dikomersilkan dan diperdagangkan?!!

Jawabannya, tentu tidak menguntungkan mereka, bahkan merugikan diri mereka sendiri yang telah menjadi sebab kerusakan kaum lelaki dan menjadi sebab ia mengumpulkan dosa, setiap kali ada kaum lelaki yang memandangi dirinya atau potret dirinya yang tersebar dimana-mana.

Mungkin saja mereka berpikiran bahwa mereka mendapatkan keuntungan berupa bayaran. Tapi ketahuilah bahwa keuntungan yang lahir dari dosa tidaklah membawa keberkahan bagi pelakunya, bahkan boleh jadi hal menjadi sebab ia semakin jauh dari Allah!

Apakah dengan memamerkan dan memperdagangkan kecantikannya akan mengangkat harkat dan martabatnya?!!

Jawabannya, tentu hal ini justru merendahkan martabatnya di sisi Allah dan kaum beriman.

Lalu siapakah sesungguhnya yang memperoleh keuntungan dari acara-acara tersebut?!!

Ketahuilah bahwa tak ada kemuliaan yang kembali kepada diri wanita tersebut, kecuali keuntungan duniawi yang semu. Sedang akhiratnya korban demi mengejar reputasi hina itu!!

Pembaca yang mulia, jika kita menganalisa keadaan sebagian wanita muslimah saat ini, maka kita akan mendapati kebanyakan diantara mereka, tenggelam dalam kegelapan nafsu dan kelalaian, berenang ke dalam samudera kesenangan yang haram ini.

Banyak diantara kaum muslimin tidak peduli dengan perintah dan larangan, bahkan menganggap lucu ayat-ayat Allah –Azza wa Jalla– ketika dibacakan kepada mereka.

Mereka membiarkan anak dan istrinya membuka auratnya di depan umum. Jika kemungkaran pamer aurat diingkari oleh seseorang, maka ia berusaha membela kemungkaran itu dengan berbagai macam dalih!!

Kondisi ini diperparah dengan lengkapnya segala fasilitas dan kenikmatan dunia yang menopang GERAKAN PAMER AURAT.

Olehnya, muncullah berbagai model pakaian bagi para wanita, mulai dari rok mini, pakaian transparan, celana ketat lagi pendek, baju sempit ala you can see, sampai kepada pakaian-pakaian yang menghilangkan sifat malu mereka.

Allah Yang Maha Perkasa telah mengingatkan kita tentang awal dan sebab kehancuran ini,

{وَإِذَا أَرَدْنَا أَنْ نُهْلِكَ قَرْيَةً أَمَرْنَا مُتْرَفِيهَا فَفَسَقُوا فِيهَا فَحَقَّ عَلَيْهَا الْقَوْلُ فَدَمَّرْنَاهَا تَدْمِيرًا } [الإسراء: 16]

“Dan jika kami hendak membinasakan suatu negeri, maka kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu, lalu mereka pun melakukan kedurhakaan dalam negeri itu. Maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami). Lantaran itu, Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.” (QS. Al-Isra’: 16)

Sebagian ulama tafsir menjelaskan bahwa mereka diperintahkan oleh Allah untuk berbuat taat, tapi malah mereka melakukan perbuatan keji (yakni, zina dan sarana-sarananya), dan dosa. Karena itu, mereka berhak mendapatkan siksaan dan hukuman di dunia. [Lihat Tafsir Ibnu Katsir (5/61)]

Terakhir, kami wasiatkan kepada seluruh orang tua, pengasuh, dan wali yang menjaga para wanita agar selalu memperhatikan anak-anak wanita kita dari pintu kehancuran, khususnya pelanggaran yang berkaitan dengan pakaian dan cara bersolek mereka.

Arahkanlah mereka kepada bimbingan Islam dan Petunjuk Nabi –Shallallahu alaihi wa sallam-. Janganlah membiarkan mereka bersolek dan berhias ala jahiliah, dan perintahkanlah mereka berjilbab di depan lelaki asing (bukan mahram) atau saat keluar rumah, karena suatu hajat yang penting.

—————————————————————————–

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Tulisan lainnya

Tulis komentar

Logged in as admin. Log out »




jannatul-firdaus.net @2018