Sumber Akhlak yang Mulia


| Menu

| MENU

Bagikan…

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram



Sumber Akhlak yang Mulia

  • Oleh: Ustadz Dzulqarnain M. Sunusi hafizhahullah
  • [Pembina Peduli Dakwah]

Dasar pijakan untuk akhlak mulia adalah firman Allah ‘Azza wa Jalla,

خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ

“Ambillah rasa maaf, perintahlah dengan yang ma’ruf, dan berpalinglah dari orang-orang jahil.” [Al-A’râf: 199]

Sejumlah ulama mengatakan bahwa tidak ayat dalam Al-Qur`an yang lebih kompleks menunjukkan akhlah yang mulia melebihi ayat ini.

Terdapat tiga kaidah dalam ayat ini, sebagaimana yang Ibnul ‘Araby sebutkan dari ucapan ulama bahwa, “Ayat ini dengan tiga kalimatnya, telah mencakup kaidah-kaidah syari’at dalam hal-hal yang diperintah dan hal-hal yang dilarang. Tidak ada suatu kebaikan pun kecuali telah diterangkan dalam ayat, tiada suatu keutamaan kecuali dijelaskan, dan tidak ada suatu kemuliaan kecuali telah dibukanya…” [Ahkam Al-Qur`an]

Pertama, firman-Nya, “Ambillah rasa maaf” mencakup pemberian maaf, menyambung orang yang memutuskan hubungan, memberi orang yang tidak pernah memberi kepada kita, berlemah lembut, mengambil akhlak yang termudah dan mencocoki jiwa, merelakan harta yang lebih untuk orang lain, dan memaklumi kekurangan orang lain.

Kedua, firman-Nya, “Perintahlah dengan yang ma’ruf” mencakup segala kebaikan dan ketaatan dalam bentuk ucapan maupun perbuatan, berupa perintah bertauhid, menyampaikan ilmu agama, menyambung silaturahmi, berbakti kepada orang tua, saling nasihat menasihati, dan segala hal yang membawa kemashlahatan dunia dan akhirat.

Ketiga, firman-Nya, “Berpalinglah dari orang-orang jahil” mencakup akhlak bersabar, membalas kejelekan dengan kebaikan, menghindari orang-orang jahil, dan selainnya.

Menurut Ibnul ‘Araby, apabila kandungan ayat ini diuraikan akan memuat berjilid-jilid buku.

Perhatikanlah segala hal yang merupakan akhlak yang mulia, dan jangan haramkan diri kita dari kebaikan dunia dan akhirat.

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Tulis komentar

Logged in as admin. Log out »





Tulisan lainnya

jannatul-firdaus.net @2022

Air Mata Iman


| Menu

| MENU

Bagikan…

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram



Air Mata Iman

  • Oleh: Ust. Abdul Qodir Abu Fa’izah, Lc. hafizhahullah
  • [Pembina Ponpes Al-Ihsan Gowa]

Allah melengkapi manusia dengan mata sebagai alat untuk melihat. Ia laksana pelita, pengawas dan penerang bagi tubuh.

Allah melukiskan rahasia yang maha menakjubkan  pada anggota tubuh yang kecil ini, yang dapat merekam jagad raya yang amat luas.

Jika kita merenungi ciptaan Allah yang satu ini, maka kita akan malu untuk tidak bersyukur kepada Penciptanya.

Perhatikanlah bentuk kedua mata kita, niscaya kita akan mendapati bentuknya yang sangat indah, lekuk dan ukurannya sangat serasi.

Kemudian Allah menghiasinya dengan pelupuk mata sebagai tutupnya, tirai dan pelindungnya sekaligus  sebagai hiasan.

Kedua pelupuk mata itu melindungi bola mata dari gangguan, kotoran dan debu, serta melindunginya dari udara dingin dan panas yang menyengat.

Lalu Allah menanam bulu mata di sisi-sisi pelupuk mata sebagai hiasan dan keindahan serta  manfaat yang lainnya. Maha Suci  Allah Sebaik-baik pencipta.

Sayang kebanyakan manusia tidak memperhatikan nikmat yang besar ini. Seharusnya ia manfaatkan untuk mencari keridhaan Allah sebagai bentuk kesyukurannya. Justru  ia gunakan untuk bermaksiat dan durhaka kepada-Nya.

Jika kita mau jujur,  kita akan mengakui bahwa dosa mata kita sangat jauh lebih banyak daripada ketaatannya kepada Allah.

Marilah kita bertanya kepada hati kita masing-masing, “Apakah mata kita pernah menangis ketika mengingat Allah?  Apakah mata kita pernah menangis ketika membaca Al-Qur’an? Apakah kita pernah menangis ketika mengingat dosa-dosa kita? Ataukah malah kita tersenyum bangga dan tertawa ketika mengingatnya? Apakah kita pernah menangis ketika mengingat pemutus kenikmatan(kematian)? Apakah kita pernah menangis mengingat prahara di hari kiamat serta surga dan neraka?

 

Sulit untuk mendapat jawaban “Ya” dari pertanyaan-pertanyaan di atas pada diri kaum  muslimin pada hari ini.

Mereka jauh lebih mudah menangis ketika nonton film India dan sinetron daripada mengingat Allah.

Hatinya lebih mudah terharu dan air matanya tak terbendung lagi ketika membaca novel dibanding membaca Al-Qur’an. Bahkan sering kita melihat orang yang menertawakan Al-Qur’an dan menjadikannya sebagai bahan lelucon.

Padahal Allah –Azza Wa Jalla- telah mengingatkan,

{أَفَمِنْ هَذَا الْحَدِيثِ تَعْجَبُونَ (59) وَتَضْحَكُونَ وَلَا تَبْكُونَ (60) } [النجم: 59 – 61]

“Maka Apakah kamu merasa heran terhadap pemberitaan (Al Qur’an) ini? dan kamu menertawakan dan tidak menangis?” (QS. An-Najm: 59-60)

Sungguh dosa-dosa telah membuat hati kita terlalu keras membatu, bahkan lebih keras lagi sehingga mata kita sulit untuk meneteskan airnya tatkala mengingat Allah.

 

Andaikan kita memahami dan mengetahui apa yang Allah sembunyikan dari mata kita, maka kita akan lebih banyak menangis daripada tertawa.

Rasulullah –Shallallahu ‘alaihi wa sallam– pernah berkhutbah yang membuat hati para sahabat bergetar dan takut sehingga air mata mereka bercucuran.

Nabi – Shallallahu ‘alaihi wa sallam-  bersabda,

لَوْ تَعْلَمُونَ مَا أَعْلَمُ لَضَحِكْتُمْ قَلِيلا وَلَبَكَيْتُمْ كَثِيرًا قَالَ فَغَطَّى أَصْحَابُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وُجُوهَهُمْ لَهُمْ خَنِينٌ

“Andaikata kalian mengetahui apa yang saya ketahui, niscaya kalian akan tertawa sedikit dan menangis yang banyak”. Anas berkata, “Kemudian para sahabat Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- pun menutupi wajah mereka dan menangis terisak-isak.” (Muttafaq ‘alaih)

Al-Imam Al-Munawiy –rahimahullah– berkata,

“Ini merupakan anjuran dan dorongan untuk menangis dan meninggalkan banyak tertawa. Karena, menangis adalah buah kehidupan hati”. [Lihat Faidhul Qodir (5/403)]

Pembaca yang budiman, menangis karena Allah merupakan amalan yang sangat besar balasannya di sisi Allah –Azza Wa Jalla-.

Dia akan menjadi jaminan perlindungan dari api neraka yang sangat panas sebagaimana sabda Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-,

لَا يَلِجُ النَّارَ رَجُلٌ بَكَى مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ حَتَّى يَعُودَ اللَّبَنُ فِي الضَّرْعِ وَلَا يَجْتَمِعُ غُبَارٌ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَدُخَانُ جَهَنَّمَ

“Tidak akan masuk neraka seseorang yang menangis karena takut kepada Allah sehingga air susu itu dapat kembali ke teteknya – menunjukkan suatu kemustahilan-. Tidak akan berkumpul debu fisabilillah itu dengan asap neraka Jahanam.”[HR At-Tirmidziy (no. 1633 & 2311) dan An-Nasa’iy (no. 3108). Hadits ini di-shohih-kan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Shohih Al-Jami’ (no. 7778)]

Selain itu, menangis karena takut kepada Allah akan menyebabkan seseorang mendapatkan naungan Allah, di saat tidak ada naungan selain naungan-Nya, ketika di padang Mahsyar.

Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda,

سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمْ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ (فذكر منهم) وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللَّهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ

“Ada tujuh golongan yang akan dinaungi oleh Allah dalam naungan-Nya, pada hari tak ada naungan, kecuali naungan-Nya (lalu beliau menyebutkan diantaranya):…Seseorang yang mengingat Allah dalam keadaan sendiri, lalu air matanya pun bercucuran”. [HR. Al-Bukhoriy dalam Kitab Al-Adzan (660) dan Muslim dalam Kitab Az-Zakaah (2377)]

Al-Hafizh Ibnu Rajab Ad-Dimasyqiy –rahimahullah– berkata, “Ini adalah orang orang yang takut kepada Allah dalam hatinya dan merasa dipantau oleh Allah saat ia sendiri. Amalan yang paling afdhol adalah takut kepada Allah dalam keadaan tersembunyi dan tampak. Takut kepada Allah dalam keadaan tersembunyi hanyalah muncul dari kekuatan iman dan usaha mengekang hawa nafsu. Karena hawa nafsu selalu mengajak kepada maksiat di saat sendiri”. [Lihat Fathul Bari (5/32)]

Bahkan menangis karena Allah merupakan salah satu amalan yang di cintai Allah, sebagaimana sabda Nabi –Shallallahu alaihi wa sallam-,

لَيْسَ شَيْءٌ أَحَبَّ إِلَى اللَّهِ مِنْ قَطْرَتَيْنِ وَأَثَرَيْنِ قَطْرَةٌ مِنْ دُمُوعٍ فِي خَشْيَةِ اللَّهِ وَقَطْرَةُ دَمٍ تُهَرَاقُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَأَمَّا الْأَثَرَانِ فَأَثَرٌ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَأَثَرٌ فِي فَرِيضَةٍ مِنْ فَرَائِضِ اللَّهِ

“Tiada sesuatupun yang lebih dicintai oleh Allah Ta’ala daripada dua tetesan dan dua bekas. Dua tetesan itu ialah tetesan airmata karena takut kepada Allah dan tetesan darah yang dialirkan di jalan Allah. Adapun dua bekas yaitu bekas luka fi-sabilillah dan bekas dalam mengerjakan kefardhuan diantara beberapa kefardhuan Allah Ta’ala (semacam bekas sujud dan lain-lain)”. [HR. At-Tirmidziy dalam Sunan-nya (no. 1669). Hadits ini di-hasan-kan oleh Al-Albaniy dalam Takhrij Al-Misykah (3837)]

Kelembutan hati orang beriman dan takutnya kepada Allah membuat mata mereka mudah meneteskan air mata ketika mendengarkan ancaman-ancaman Allah.

Allah -Azza wa Jalla-  berfirman,

{وَيَقُولُونَ سُبْحَانَ رَبِّنَا إِنْ كَانَ وَعْدُ رَبِّنَا لَمَفْعُولًا (108) وَيَخِرُّونَ لِلْأَذْقَانِ يَبْكُونَ وَيَزِيدُهُمْ خُشُوعًا (109)} [الإسراء: 108، 109]

“Dan mereka berkata: “Maha suci Tuhan kami, Sesungguhnya janji Tuhan kami pasti dipenuhi”. dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyu’”.(QS. Al-Israa’: 208-209)

 

Air mata mereka bercucuran ketika membaca dan menghayati isi Al-Qur’an.

Rasulullah –Shallallahu alaihi wa sallam– bersabda kepada sahabat Ibnu Mas’ud –radhiyallahu ‘anhu-,

اقْرَأْ عَلَيَّ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ آقْرَأُ عَلَيْكَ وَعَلَيْكَ أُنْزِلَ قَالَ نَعَمْ فَقَرَأْتُ سُورَةَ النِّسَاءِ حَتَّى أَتَيْتُ إِلَى هَذِهِ الْآيَةِ { فَكَيْفَ إِذَا جِئْنَا مِنْ كُلِّ أُمَّةٍ بِشَهِيدٍ وَجِئْنَا بِكَ عَلَى هَؤُلَاءِ شَهِيدًا } قَالَ حَسْبُكَ الْآنَ فَالْتَفَتُّ إِلَيْهِ فَإِذَا عَيْنَاهُ تَذْرِفَانِ

“Bacakanlah al-Quran untukku.” Saya berkata: “Ya Rasulullah, apakah saya akan membacakan al-Quran itu, sedangkan ia diturunkan kepadamu?” Beliau bersabda: “Saya senang kalau mendengarnya dari orang lain.” Saya lalu membacakan untuknya surah an-Nisa’, sehingga sampailah saya pada ayat- (yang artinya): “Bagaimanakah ketika Kami datangkan kepada setiap ummat seorang saksi dan engkau Kami jadikan saksi atas ummat ini?” – ((QS. An-Nisa’:41). Setelah itu Rasulullah lalu bersabda: “Sudah cukuplah bacaanmu sekarang.” Saya menoleh kepada beliau, tiba-tiba kedua mata beliau itu meleleh airmatanya.” [HR. Al-Bukhoriy dalam Kitab Fadho’il Al-Qur’an (no. 5050) dan Muslim dalam Kitab Sholah Al-Musaafirin (no. 1864]

Bahkan di dalam shalat Rasulullah, beliau terkadang tidak mampu untuk menahan deraian air matanya.

Abdullah bin Asy-Syikhkhir –radhiyallahu anhu– berkata,

أَتَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ يُصَلِّي وَفِي صَدْرِهِ أَزِيزٌ كَأَزِيزِ الرَّحَى مِنْ الْبُكَاءِ

“Saya mendatangi Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- dan beliau sedang shalat dan dari dadanya itu terdengar suara bagaikan mendidihnya kuali karena beliau sedang menangis.”[HR. Abu Dawud dalam Sunan-nya (no. 904) dan An-Nasa’iy dalam Sunan-nya (no. 1358). Hadits ini di-shohih-kan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Takhrij Al-Misykah (no. 1000)]

Tangisan Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- lahir dari pengenalan terhadap Tuhannya dengan baik dan pemahaman yang mendalam terhadap Al-Qur’an. Oleh karenanya, jika seseorang menghayati isi kandungan Al-Qur’an dengan baik dan mengetahui pentingnya kedudukan Al-Qur’an dalam hidup ini, niscaya hatinya akan menjadi lembut, jiwanya menjadi lapang dan matanya akan mudah meneteskan airnya karena takutnya ia kepada Allah dan hari akhirat.

Kebiasaan ini juga terdapat pada diri para sahabatnya. Sahabat Abu Musa Al-Asy’ariy –radhiyallahu anhu– berkata,

مَرِضَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَاشْتَدَّ مَرَضُهُ فَقَالَ مُرُوا أَبَا بَكْرٍ فَلْيُصَلِّ بِالنَّاسِ قَالَتْ عَائِشَةُ إِنَّهُ رَجُلٌ رَقِيقٌ إِذَا قَامَ مَقَامَكَ لَمْ يَسْتَطِعْ أَنْ يُصَلِّيَ بِالنَّاسِ قَالَ مُرُوا أَبَا بَكْرٍ فَلْيُصَلِّ بِالنَّاسِ فَعَادَتْ فَقَالَ مُرِي أَبَا بَكْرٍ فَلْيُصَلِّ بِالنَّاسِ فَإِنَّكُنَّ صَوَاحِبُ يُوسُفَ فَأَتَاهُ الرَّسُولُ فَصَلَّى بِالنَّاسِ فِي حَيَاةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- pernah sakit dan sakitnya parah. Beliau bersabda, “Perintahkan Abu Bakr agar ia mengimami manusia”. A’isyah berkata, “Dia (Abu Bakar) itu orang yang lembut hatinya (yakni, mudah menangis). Bila ia berdiri pada posisimu (sebagai imam), maka ia tak akan mampu mengimami manusia”. Beliau bersabda, “Perintahkan Abu Bakr agar ia mengimami manusia”. Lalu A’isyah mengulangi (ucapannya). Beliau bersabda lagi, “Perintahkan Abu Bakr (wahai A’isyah) agar ia mengimami manusia. Sesungguhnya kalian itu adalah wanita-wanita (yang ada di zaman) Nabi Yusuf”. Rasul akhirnya mendatangi Abu Bakr, lalu Abu Bakr pun memimpin manusia sholat di saat Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- masih hidup”. [HR. Al-Bukhoriy dalam Kitab Al-Adzan (no. 674) dan Muslim dalam Kitab Ash-Sholah (947)]

Al-Imam Ibnu Rajab Al-Hanbaliy –rahimahullah– berkata, “Hadits ini menunjukkan bahwa menangis karena takut kepada Allah dalam sholat tidaklah membahayakan sholat, bahkan menghiasinya. Karena, khusyu’ adalah perhiasan sholat”. [Lihat Fathul Bari (5/134) karya Ibnu Rajab]

Tak heran bila para sahabat (semisal, Abu Bakr, Umar, Utsman, Ali dan lainnya) mudah menangis dalam sholat, sebab mereka mentadabburi ayat-ayat yang mereka baca sehingga meraih khusyu’.

Demikianlah kondisi para sahabat yang mulia. Jangankan dalam sholat, di luar sholat saja mereka biasa menangis bila memikirkan nasib mereka di akhirat.

Hati mereka bergetar dan takut ketika diingatkan tentang Allah. Merekalah orang-orang yang Allah telah pilihkan untuk menemani rasul-Nya. Allah –Azza Wa Jalla- berfirman,

{أُولَئِكَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ مِنْ ذُرِّيَّةِ آدَمَ وَمِمَّنْ حَمَلْنَا مَعَ نُوحٍ وَمِنْ ذُرِّيَّةِ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْرَائِيلَ وَمِمَّنْ هَدَيْنَا وَاجْتَبَيْنَا إِذَا تُتْلَى عَلَيْهِمْ آيَاتُ الرَّحْمَنِ خَرُّوا سُجَّدًا وَبُكِيًّا (58)} [مريم: 58]

“Mereka itu adalah orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi dari keturunan Adam, dan dari orang-orang yang Kami angkat bersama Nuh, dan dari keturunan Ibrahim dan Israil, dan dari orang-orang yang telah Kami beri petunjuk dan telah Kami pilih. Apabila dibacakan ayat-ayat Allah yang Maha Pemurah kepada mereka, maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis”.(QS. Maryam: 58)

Merekalah orang-orang yang beruntung, sebab mereka telah takut sebelum berjumpa dengan hari yang penuh kesusahan dan ketakutan terhadap adzab Allah.

Hari-hari di dunia mereka manfaatkan dalam memperbanyak tangisan sebelum datangnya hari yang dipenuhi tangisan darah dalam neraka.

Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda,

إِنَّ أَهْلَ النَّارِ لَيَبْكُوْنَ حَتَّى لَوْ أُجْرِيَتِ السُّفُنُ فِيْ دُمُوْعِهِمْ لَجَرَتْ ، وَإِنَّهُمْ لَيَبْكُوْنَ الدَّمَ يَعْنِيْ مَكَانَ الدَّمْعِ

“Sesungguhnya penduduk neraka benar-benar akan menangis sampai andaikan perahu-perahu dijalankan pada air mata mereka, niscaya akan berjalan. Sesungguhnya mereka akan menangis darah, yakni sebagai ganti air mata”. [HR. Al-Hakim dalam Al-Mustadrok ala Ash-Shohihain (4/245). Hadits ini di-hasan-kan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Ash-Shohihah (no. 1679)]

Semoga Allah menjadikan kita tergolong orang-orang yang senantiasa melelehkan air mata iman karena takut kepada-Nya, bukan orang-orang yang lalai dengan segala hiruk pikuk dunia dan berlumuran dengan segala maksiat sehingga tak ada lagi yang dituai, selain penyesalan dan tangisan yang tiada guna di akhirat.


Download Pdf

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Tulisan lainnya

jannatul-firdaus.net @2022

Berlindung dari Lima Tipe Manusia Berbahaya


| Menu

| MENU

Bagikan…

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram



Berlindung dari Lima Tipe Manusia Berbahaya

  • Oleh: Ustadz Abdul Qodir Abu Fa’izah, Lc. hafizhahullah
  • [Pembina Ponpes Al-Ihsan Gowa]

Manusia dalam pergaulan dunia ini memiliki banyak tipe. Ada yang menyenangkan dan membawa berkah atau kebaikan, dan ada yang menyusahkan dan memberikan keburukan kepada yang lain. Lantaran itu, selayaknya seorang mukmin berhati-hati dalam bersahabat, memilih tetangga, mendidik anak, mencari pasangan hidup dan mengusahakan harta benda duniawi.

Jika seseorang salah langkah dalam memilih dan mencari hal-hal tersebut, maka ia akan mendapatkan kesusahan hidup dan kesengsaraan di dunia dan boleh jadi di akhirat. Tetangga yang buruk akan banyak menimbulkan masalah dan keburukan bagi saudaranya yang lain. Tetangga buruk merupakan beban berat yang melebihi beratnya batu besar dan besi berat!!

Konon kabarnya, Luqman Al-Hakim –rahimahullah– pernah berpesan kepada anaknya,

يَا بُنَيَّ حَمَلْتُ الْجَنْدَلَ وَالْحَدِيدَ وَكُلَّ شَيْءٍ ثَقِيلٍ، فَلَمْ أَجِدْ شَيْئًا هُوَ أَثْقَلَ مِنْ جَارِ السَّوْءِ

“Wahai anakku, aku telah memikul  batu besar dan besi serta segala sesuatu yang berat. Namun aku tak pernah memikul sesuatu yang lebih berat dibandingkan tetangga yang buruk.” [Atsar Riwayat Ibnu Mubarok dalam Az-Zuhd (no. 991), Ahmad dalam Az-Zuhd (hlm. 105), Al-Marwaziy dalam Al-Birr wa Ash-Shilah (no. 225 & 261), Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushonnaf (no. 34296), Ibnu Abid-Dun-ya dalam Makarim Al-Aklahq (no. 351), dan Abu Bakr Al-Baihaqiy dalam Syu’abul Iman (no. 4891)]

Istri yang buruk perangai akan sering menimbulkan kesusahan bagi suaminya akibat kedurhakaan dan pembangkangannya, sehingga membuat pikiran suaminya jadi berat dan ia berubah jadi beruban sebelum waktunya, lantaran memikirkan segala hal yang muncul dari sikap buruk istrinya.

Anak durhaka tak kalah masalahnya. Ia akan membebani dan memperlakukan kedua orang tuanya layaknya budak sahaya yang hina. Padahal orang tua, apalagi di masa tuanya, seorang anak harus memuliakannya. Tapi dasar anak durhaka, ia menghinakan orang tuanya!!

Harta yang tidak berkah, akibat tak dihasilkan dari sesuatu yang halal atau dibelanjakan dalam sesuatu yang haram dan tak berguna.

Kadang juga harta benda itu disimpan oleh pemiliknya, tanpa dikeluarkan zakatnya. Harta yang seperti ini akan menjadi adzab (siksaan) bagi pemiliknya kelak di dunia, dan boleh jadi di akhirat.

Berapa banyak orang yang hidup dengan harta benda yang melimpah, justru harta itu malah menjadi siksaan baginya. Siang-malam ia pikirkan sampai ia tak bisa tidur. Harta benda menjadikan sebagian orang hancur.

Rumah tangganya rusak akibat anak-anak hidup mewah, tanpa ia didik agar ia gunakan di jalan kebaikan dan ketaatan.

Fakta lain menunjukkan bahwa banyak orang yang punya harta yang berlebihan, namun mereka tak dapat menikmatinya, karena ia hidup boros. Punya income (pendapatan) yang banyak namun tak terasa habis, tanpa dinyana. Ini merupakan tanda tercabutnya berkah dari harta itu dan pemiliknya.

Itulah rahasianya Rasulullah –Shallallahu alaihi wa sallam– pernah berlindung kepada Allah agar dilindungi dari lima golongan makhluk yang harus diwaspadai, ditakuti dan dijauhi!!!

Abu Hurairah Ad-Dausiy  –radhiyallahu anhu– berkata,

كَانَ مِنْ دُعَاءِ رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ جَارِ السُّوءِ وَمِنْ زَوْجٍ تُشَيِّبُنِي قَبْلَ الْمَشِيبِ وَمِنْ وَلَدٍ يَكُونُ عَلَيَّ رِبًا وَمِنْ مَالٍ يَكُونُ عَلَيَّ عَذَابًا وَمِنْ خَلِيلٍ مَاكِرٍ عَيْنَهُ تَرَانِي وَقَلْبُهُ تَرْعَانِي إِنْ رَأَى حَسَنَةً دَفَنَهَا وَإِذَا رَأَى سَيِّئَةً أَذَاعَهَا

“Diantara doa Rasulullah –Shallallahu alaihi wa sallam-,

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ جَارِ السُّوءِ وَمِنْ زَوْجٍ تُشَيِّبُنِي قَبْلَ الْمَشِيبِ وَمِنْ وَلَدٍ يَكُونُ عَلَيَّ رِبًا وَمِنْ مَالٍ يَكُونُ عَلَيَّ عَذَابًا وَمِنْ خَلِيلٍ مَاكِرٍ عَيْنَهُ تَرَانِي وَقَلْبُهُ تَرْعَانِي إِنْ رَأَى حَسَنَةً دَفَنَهَا وَإِذَا رَأَى سَيِّئَةً أَذَاعَهَا

“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari tetangga yang buruk, dari istri yang membuatku beruban sebelum masa beruban, dari anak yang menjadi tuan bagiku, dari harta yang menjadi siksaan atasku dan dari kawan yang berbuat makar; matanya memandangiku, sedang hatinya mengawasiku. Jika ia melihat kebaikan, maka ia tanam (sembunyikan) dan jika melihat keburukan, maka ia menyebarkannya”. [HR. Hannad dalam Az-Zuhd (no. 1038) dan Ath-Thobroniy dalam Al-Mu’jam Al-Awsath (no. 1339). Hadits ini dinilai shohih oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Ash-Shohihah (no. 3137)]

Hadits ini merupakan lautan faedah yang memendam banyak mutiara hikmah yang dapat kita gali. Itulah lentera wahyu yang memancarkan cahaya melalui lisan Rasul dan manusia terbaik, Nabi Muhammad –Shallallahu alaihi wa sallam-.

Di dalam hadits ini Rasulullah –Shallallahu alaihi wa sallam– mengingatkan kita tentang lima golongan makhluk yang harus diwaspadai, jangan sampai menjerumuskan kita ke dalam lembah kebinasaan.

Ini merupakan bukti bahwa Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- adalah nabi yang amat sayang kepada manusia.

Allah -Azza wa Jalla- berfirman,

لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ  [التوبة/128]

“Sungguh telah datang kepada kalian seorang Rasul dari kaum kalian sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin”. (QS. At-Taubah : 128)

Al-Imam Al-Mufassir Muhammad Al-Amin Al-Janakiy Asy-Syinqithiy –rahimahullah– berkata,

هَذِهِ الْآيَةُ الْكَرِيمَةُ تَدُلُّ عَلَى أَنَّ بَعْثَ هَذَا الرَّسُولِ الَّذِي هُوَ مِنْ أَنْفُسِنَا الَّذِي هُوَ مُتَّصِفٌ بِهَذِهِ الصِّفَاتِ الْمُشْعِرَةِ بِغَايَةِ الْكَمَالِ ، وَغَايَةِ شَفَقَتِهِ عَلَيْنَا – هُوَ أَعْظَمُ مِنَنِ اللَّهِ تَعَالَى ، وَأَجْزَلُ نِعَمِهِ عَلَيْنَا ، وَقَدْ بَيَّنَ ذَلِكَ فِي مَوَاضِعَ أُخَرَ (أضواء البيان في إيضاح القرآن بالقرآن – (2 / 149))

“Ayat yang mulia ini menunjukkan bahwa pengutusan Rasul (yakni, Nabi Muhammad -Shallallahu alaihi wa sallam-) yang berasal dari bangsa kita sendiri (yakni, bangsa manusia). Beliau adalah orang yang tersifati dengan sifat-sifat yang menggambarkan puncak kesempurnaan dan puncak kasih sayang kepada kita. Semua ini merupakan karunia terbesar dari Allah -Ta’ala- dan nikmat yang teragung bagi kita. Sungguh Allah telah menjelaskan hal itu dalam beberapa tempat yang lain”. [Lihat Adhwa’ Al-Bayan (2/149), karya Asy-Syinqithiy, cet. Dar Al-Fikr, Lebanon, 1415 H]

Diantara puncak kasih beliau atas manusia, beliau mengingatkan kita dari berbagai bahaya dan keburukan yang akan menyusahkan kita dalam kehidupan dunia atau mungkin juga di akhirat sebagaimana yang ada dalam hadits di atas. Nas’alullahal afiyah was salamah min syarri dzalik.

Faedah dan Ibrah dari Hadits di Atas

Diantara faedah dan ibrah yang dapat dipetik dari hadits yang mulia ini,

1) Hendaknya seorang muslim senantiasa berdoa dan berlindung kepada Allah, bukan kepada makhluk. Sebab, permohonan dan doa seperti ini adalah ibadah yang harus dipersembahkan kepada Allah saja!!

2) Hadits ini merupakan isyarat tentang semangat para sahabat yang kuat dalam menyampaikan ilmu dengan meriwayatkan hadits-hadits yang berisi perilaku dan sabda-sabda Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-. Andaikan bukan jasa mereka dalam meriwayatkan sunnah dari Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-, maka generasi setelahnya tak akan mengenal Islam.

3) Selayaknya seseorang memilih tetangga yang baik dan berdoa agar dihindarkan dari keburukannya. Tetangga yang buruk seringkali menyeret kepada keburukan, sedang tetangga yang baik akan mengajak dan membimbing kita kepada jalan-jalan kebaikan.

4) Seseorang yang ingin mencari pasangan hidup hendaknya berlindung kepada Allah agar ia dihindarkan dari istri yang buruk perangainya. Saking buruknya, ia telah membuat suaminya beruban dan tua, akibat ulah sang istri yang amat memberatkan pikiran dan jasmani suaminya.

5) Diantara bentuk kedurhakaan seorang anak, ia memperlakukan orang tuanya laksana budak yang hina.

6) Harta yang tidak digunakan di jalan kebaikan akan menjadi senjata dan siksaan yang akan menyengsarakan pemiliknya.

7) Waspadailah dan jauhilah sahabat buruk yang suka memata-matai temannya, lalu menyebarkan aibnya dan mengubur segala kebaikan temannya.

8) Diantara bentuk baiknya persahabatan, seseorang menyebutkan kebaikan sahabatnya dan menyembunyikan aibnya.

Para pembaca yang budiman, inilah sebagian faedah yang dapat kami petik dari hadits ini. Semoga bermanfaat. Washollallahu ala nabiyyina wa alihi wa shohbihi ajma’in.

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Tulis komentar

Logged in as admin. Log out »




Tulisan lainnya

jannatul-firdaus.net @2022

Pesona Kemuliaan di Balik Dua Sifat yang Indah


| Menu

| MENU

Bagikan…

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram



Pesona Kemuliaan
di Balik Dua Sifat yang Indah

  • Oleh: Ustadz Abdul Qodir Abu Fa’izah, Lc. hafizhahullah
  • [Pembina Ponpes Al-Ihsan Gowa]

Seorang hamba yang mau meraih kemuliaan selayaknya memiliki dua sifat mulia: Pertama, tidak berharap-harap dan berkhayal mendapatkan sesuatu dari harta benda yang dimiliki oleh manusia. Tapi ia merasa cukup dengan karunia dan pemberian Allah. Kedua, ia menjadi seorang yang pemaaf bagi manusia jika muncul dari mereka sesuatu yang tidak menyenangkan hatinya berupa kekeliruan, kekurangan dan khilaf yang muncul dari manusia biasa selama tidak sengaja melanggar batasan syariat.

Al-Imam Ayyub As-Sikhtiyaniy rahimahullah– berkata,

لاَ يَسْتَوِي الْعَبْدُ أَوْ لاَ يَسُوْدُ الْعَبْدُ حَتَّى يَكُوْنَ فِيْهِ خَصْلَتَانِ الْيَأْسُ مِمَّا فِيْ أَيْدِي النَّاسِ وَالتَّغَافُلُ عَمَّا يَكُوْنُ مِنْهُمْ

“Seorang hamba tak akan sempurna atau mulia sampai ada dua perkara pada dirinya: Berputus asa dari sesuatu yang ada di tangan manusia dan lalai dari sesuatu yang muncul dari mereka”. [Lihat Hilyah Al-Awliya’ (3/5) oleh Abu Nu’aim Al-Ashbahaniy]

Inilah dua sifat dan perangai yang harus dijaga oleh seorang hamba agar ia dimuliakan oleh Allah serta dicintai oleh manusia yang hidup di sekitarnya. Sebaliknya ia akan dibenci dan dijauhi oleh manusia jika memiliki sifat serakah dan sifat marah atau tidak sabar.

Seorang di saat yakin terhadap taqdir Allah -Tabaroka wa Ta’ala-, maka hatinya tak akan tergantung dengan sesuatu yang dimiliki oleh orang lain. Ia tak akan mengemis, meminta-minta dan tidak pula hasad dan cemburu dengan harta benda dan perhiasan yang dimiliki oleh orang lain.

Allah -Azza wa Jalla- menerangkan hal itu di dalam Al-Qur’an,

وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا كُلٌّ فِي كِتَابٍ مُبِينٍ  [هود : 6]

“Dan tidak ada suatu binatang melata (yakni, makhluk) pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezkinya, dan dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh mahfuzh)”. (QS. Huud : 6)

Di dalam ayat ini, Allah -Azza wa Jalla- menjelaskan bahwa rezqi semua makhluk telah ditanggung oleh Allah -Azza wa Jalla-. Setiap makhluk telah ditetapkan rezqinya masing-masing. Tak ada makhluk yang mendapatkan rezqi, kecuali memang itu telah menjadi bagian dan nasibnya. Demikianlah rezqi makhluk telah disempurnakan bagi setiap diantara mereka sampai mereka mati. Artinya, tak ada makhluk yang mati, selain ia telah mendapatkan semua bagiannya berupa rezqi.

Abul Fida Ibnu Katsir Ad-Dimasyqiy –rahimahullah– berkata,

أخبر تعالى أنه متكفل بأرزاق المخلوقات، من سائر دواب الأرض، صغيرها وكبيرها، بحريها، وبريها، وأنه { يَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا } أي: يعلم أين مُنتهى سيرها في الأرض، وأين تأوي إليه من وكرها، وهو مستودعها.

“Allah -Ta’ala- mengabarkan bahwa Dia-lah yang menanggung semua rezqi makhluk-makhluk dari kalangan seluruh makhluk di bumi, yang kecil, maupun yang besar, yang di laut, maupun di darat; dan bahwa Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya, yakni mengetahui dimana akhir perjalanan makhluk-makhluk di bumi dan dimana ia kembali berupa sarang, yaitu tempat peraduannya”. [Lihat Tafsir Ibni Katsir (4/305)]

Jika seorang hamba meyakini perkara yang ada dalam ayat ini, maka ia akan meraih sifat zuhud, tak akan mengemis dari para makhluk, tak akan tertimpa sifat hasad yang tercela dan hatinya selalu lapang, sebab ia yakin bahwa semua itu telah ditakdirkan oleh Allah -Azza wa Jalla-.

Al-Imam Al-Hafizh Ibnu Rajab Al-Hambaliy –rahimahullah– berkata,

فمن حقق اليقين وثق بالله في أموره كلها ورضي بتدبيره له وانقطع عن التعلق بالمخلوقين رجاء وخوفا ومنعه ذلك من طلب الدنيا بالأسباب المكروهة ومن كان كذلك كان زاهدا في الدنيا حقيقة وكان من أغني الناس وإن لم يكن له شيء من الدنيا

“Barangsiapa yang merealisasikan keyakinan, maka ia akan percaya kepada Allah dalam setiap urusannya, ridho terhadap pengaturan-Nya, putus dari sikap ketergantungan kepada para makhluk, baik dalam hal mengharap atau takut, dan hal itu mencegahnya dari mencari dengan sebab-sebab (sarana) yang dibenci. Barangsiapa yang demikian, maka ia adalah orang yang zuhud terhadap dunia pada hakikatnya dan ia adalah manusia yang paling kaya, walaupun ia tak memiliki sesuatu apapun dari dunia ini”. [Lihat Jami’ Al-Ulum wal Hikam (hal. 290)]

Orang-orang yang seperti ini akan senantiasa terjaga kehormatannya di hadapan manusia. Ia akan dihargai oleh mereka, sebab ia tak pernah menampakkan kehinaannya dengan meminta-minta dan mengemis kepada manusia. Jika ia selalu menjaga wibawa dan kehormatannya, maka ia akan dicintai oleh sesama manusia

Demikian pula ia akan semakin dicintai oleh manusia jika ia memiliki sifat pemaaf terhadap kesalahan yang muncul dari sebagian manusia, yakni kesalahan yang masih bisa ditolerir, kesalahan yang muncul dari kelalaian, dan kejahilan. Kesalahan seperti ini tak akan luput dari manusia biasa.

Jika ada orang yang bersalah dan zhalim kepada dirinya, maka ia maafkan mereka di saat mereka meminta maaf kepadanya. Inilah ciri ketaqwaan yang diisyaratkan oleh Allah dalam firman-Nya,

وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ (133) الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ  [آل عمران : 133 ، 134]

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa,  (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan”. (QS. Ali Imraan : 133-134)

Disini anda perhatikan, Allah sebutkan bahwa orang yang pemaaf tergolong orang yang berbuat baik. Dengan perbuatan baiknya ia dicintai oleh Allah –Azza wa Jalla– dan tentunya ia juga akan dicintai oleh makhluk!!

Jika Allah mencintai seseorang, maka para malaikat dan semua makhluk  akan mencintainya.

Nabi –Shallallahu alaihi wa sallam– bersabda,

إِذَا أَحَبَّ اللَّهُ عَبْدًا نَادَى جِبْرِيلَ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ فُلَانًا فَأَحِبَّهُ فَيُحِبُّهُ جِبْرِيلُ فَيُنَادِي جِبْرِيلُ فِي أَهْلِ السَّمَاءِ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ فُلَانًا فَأَحِبُّوهُ فَيُحِبُّهُ أَهْلُ السَّمَاءِ ثُمَّ يُوضَعُ لَهُ الْقَبُولُ فِي أَهْلِ الْأَرْض

“Apabila Allah mencintai seorang hamba, maka Dia akan memanggil Jibril, “Sesungguhnya Allah telah mencintai fulan, maka cintailah dia”, lalu Jibril pun mencintainya. Kemudian Jibril berkumandang di kalangan penduduk langit, “Sesungguhnya Allah telah mencintai fulan, maka cintailah dia”, lalu penduduk langit pun mencintainya, lalu ditetapkanlah bagi orang itu penerimaan di kalangan penduduk bumi”. [HR. Al-Bukhoriy dalam Shohih-nya (no. 6040) dan Muslim dalam Shohih-nya (2637)]

Ini merupakan mutiara ilmu yang amat berharga bahwa seorang hamba bila ia dicintai oleh Allah, maka ia pun akan dicintai oleh makhluk. Allah akan gerakkan hati para makhluk untuk mencintainya. Nah, disini ada isyarat bahwa kecintaan makhluk kepada seorang hamba merupakan tanda cintanya Allah -Azza wa Jalla- kepada hamba itu. Apalagi yang mencintai hamba itu dari kalangan orang-orang sholih lagi mukmin.

Al-Imam Badruddin Al-Ainiy Al-Hanafiy -rahimahullah- berkata,

ويفهم منه أن محبة قلوب الناس علامة محبة الله عز وجل

“Dipahami darinya bahwa kecintaan hati para manusia merupakan tanda kecintaan Allah -Azza wa Jalla- (kepada seorang hamba)”. [Lihat Umdah Al-Qori (32/223)]

Para pembaca yang budiman, inilah dua sifat mulia jika ada pada diri seorang hamba, maka akan dicintai oleh sesama manusia, bahkan ia akan dicintai oleh Allah dan seluruh makhluk!!

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Tulis komentar

Logged in as admin. Log out »




Tulisan lainnya

jannatul-firdaus.net @2022

Menyombongkan Diri telah Membinasakanmu


| Menu

| MENU

Bagikan…

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram



Menyombongkan Diri telah Membinasakanmu

  • Oleh: Ustadz Abdul Qodir Abu Fa’izah, Lc. hafizhahullah
  • [Pembina Ponpes Al-Ihsan Gowa]

Suatu perkara yang membuat sebagian orang jauh dari kebenaran dan tak mau rujuk kepadanya, adanya sifat sombong pada dirinya. Kesombongan itu telah bercokol dalam dirinya karena dilatari oleh beberapa sebab, seperti ia melihat dirinya lebih tinggi dan mulia, sedang orang lain lebih hina dan rendah di matanya!!

Lebih miris lagi, bila kesombongan menjadi pendorong bagi kita dalam membela kebatilan dan para pelakunya, seperti yang dilakukan oleh sebagian orang munafikin Indonesia; rela menolak kebenaran demi membela kekafiran dan pemeluknya. Di lain sisi, ketika Islam dan Al-Qur’an dilecehkan, malah ia tenang dan hatinya yang membatu tidak bergeming sedikitpun, bahkan memberikan pembelaan kepada kaum penghina Al-Qur’an, lalu selanjutnya berusaha dengan gigihnya menjatuhkan kredibilitas dan kedudukan tinggi para ulama umat.

Wahai si sombong sayangilah dirimu!! Sikapmu yang arogan tidak akan menolongmu di sisi Allah -Tabaroka wa Ta’ala-, sebagaimana Iblis dan Fir’aun justru hina akibat kesombongannya.

Kesombongan sebagaimana yang dijelaskan oleh Nabi –Shallallahu alaihi wa sallam– dalam sabdanya,

الْكِبْرُ: بَطْرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ

“Kesombongan itu adalah menolak kebenaran dan memandang remeh orang lain”. [HR.Muslim dalam Shohih-nya (91)]

Menolak kebenaran dan memandang remeh orang lain lahir dari kesombongan, bahkan ia adalah kesombongan itu sendiri.

Kesombongan membuat orang jauh dari petunjuk Allah -Azza wa Jalla-. Itulah sebabnya Iblis membangkang perintah Allah untuk bersujud kepada Adam –alaihissalam-, sebab ia memandang remeh dan hina Nabi Adam dari sisi asal penciptaan.

Allah –Ta’ala– berfirman dalam mengisahkan kesombongan Iblis,

قَالَ يَا إِبْلِيسُ مَا مَنَعَكَ أَنْ تَسْجُدَ لِمَا خَلَقْتُ بِيَدَيَّ أَسْتَكْبَرْتَ أَمْ كُنْتَ مِنَ الْعَالِينَ (75) قَالَ أَنَا خَيْرٌ مِنْهُ خَلَقْتَنِي مِنْ نَارٍ وَخَلَقْتَهُ مِنْ طِينٍ (76) قَالَ فَاخْرُجْ مِنْهَا فَإِنَّكَ رَجِيمٌ (77) وَإِنَّ عَلَيْكَ لَعْنَتِي إِلَى يَوْمِ الدِّينِ (78) قَالَ رَبِّ فَأَنْظِرْنِي إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ (79) قَالَ فَإِنَّكَ مِنَ الْمُنْظَرِينَ (80) إِلَى يَوْمِ الْوَقْتِ الْمَعْلُومِ (81) قَالَ فَبِعِزَّتِكَ لَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ (82) إِلَّا عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِينَ (83)  [ص/75-83]

“Allah berfirman: “Hai Iblis, apakah yang menghalangi kamu bersujud kepada yang telah Ku-ciptakan dengan kedua tangan-Ku. Apakah kamu menyombongkan diri ataukah kamu (merasa) termasuk orang-orang yang (lebih) tinggi?”.  Iblis berkata, “Aku lebih baik daripadanya. Karena Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah”.  Allah berfirman, “Maka keluarlah kamu dari surga; Sesungguhnya kamu adalah orang yang terkutuk.  Sesungguhnya kutukan-Ku tetap atasmu sampai hari pembalasan”. Iblis berkata, “Ya Tuhanku, beri tangguhlah aku sampai hari mereka dibangkitkan”. Allah berfirman, “Sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang diberi tangguh, sampai kepada hari yang telah ditentukan waktunya (hari kiamat)”.  Iblis menjawab, “Demi kekuasaan-Mu, aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlis (diberi keikhlasan) di antara mereka”. (QS. Shood : 75-83)

Lihatlah Iblis yang memandang remeh Nabi Adam dengan dalih aqli yang masih bisa dipatahkan dengan mudah. Tapi karena kesombongan di hatinya, maka ia lebih memilih tak bersujud sehingga ia pun diusir.

Ketika Iblis diusir, ia tak bertobat, bahkan ia menjadi-jadi dalam pembangkangan dan kesombongannya dalam menentang perintah dan petunjuk Allah –Azza wa Jalla-.

Subhanallah, demikianlah sifat orang-orang sombong, ia enggan menerima nasihat dan arahan, walapun ia jelas-jelas salah dan menentang kebenaran.

Sebaliknya, Adam saat bersalah, ia bertobat di hadapan Tuhan-nya sebagaimana yang Allah abadikan dalam Al-Qur’an,

قَالا رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ  [الأعراف/23]

“Keduanya berkata, “Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi”. (QS. Al-A’raaf : 23)

Demikianlah sifat orang yang diberi hidayah, ia bertobat dan meminta ampunan dosanya selama ini serta bersegera rujuk kepada kebenaran.

Para pembaca yang budiman, kesombongan adalah penyakit berbahaya yang dapat menjangkiti semua kalangan, kecuali orang-orang yang dirahmati oleh Allah.

Hendaknya setiap orang berusaha dan membiasakan diri menerima kebenaran dari siapa saja, baik dari orang yang lebih mulia, maupun dari orang yang lebih rendah darinya.

Semua kalangan, mungkin untuk dijangkiti penyakit sombong, baik itu pemerintah, maupun rakyat atau ustadz yang berilmu, maupun santri.

Ketahuilah kesombongan jangan dianggap remeh!! Seorang jangan tertipu bahwa dirinya adalah seorang ustadz atau ulama, lalu ia tak akan terjangkiti penyakit berbahaya ini. Tidaklah demikian, bahkan yang sering terjangkiti penyakit ini adalah orang-orang yang diberi kelebihan ilmu, atau harta benda, atau kedudukan, atau kekuasaan!!

Alangkah banyaknya orang-orang yang berilmu dari kalangan ulama dan ustadz yang menyangka dirinya memiliki segudang ilmu, namun di saat ia diuji dengan kebenaran yang datang dari orang yang lebih rendah daripada dirinya dari sisi ilmu, maka ia serta-merta menolak kebenaran, walapun nyata-nyata ia salah. Sikap meremehkan orang lain, membuatnya gengsi menerima dan rujuk kepada al-haqq (kebenaran).

Al-Imam Sufyan bin Uyainah Al-Kufiy rahimahullah– berkata, 

ليس العاقل الذي يعرف الخير والشر، وإنما العاقل الذي إذا رأى الخير اتبعه وإذا رأى الشر اجتنبه” (الحلية) (8 / 339)

“Bukanlah orang yang berakal itu adalah orang yang sekedar mengetahui kebaikan dan keburukan. Hanyalah orang yang berakal itu adalah orang yang bila melihat kebenaran, maka ia mengikutinya; jika ia melihat keburukan, maka ia jauhi”. [Lihat Hilyah Al-Auwliya’ (8/339)]

Orang-orang yang berilmu seperti ini kadang tidak menyadari dirinya telah terjerumus dalam kubang kesombongan, sehingga ia pun berusaha mendatangkan berbagai argumen dan dalih yang amat lemah demi menguatkan pendapatnya.

Selayaknya orang yang berilmu, semakin tawadhu di saat ilmu bertambah, bukan semakin sombong. Inilah tanda kebahagiaan seorang hamba.

Hanya saja sebagian orang-orang yang binasa dengan kesombongannya, bila ia diberi ilmu tentang Al-Kitab dan Sunnah, maka iapun semakin tinggi hati, sombong dan congkak, sehingga ia tak mau menerima nasihat dan kebenaran dari orang lain.

Ini adalah tanda kesengsaraan seorang hamba. Orang sombong seperti ini biasanya berlagak layaknya seorang nabi yang tak pernah salah.

Orang yang sombong dengan ilmunya,  jika ia keliru, maka ia akan berusaha mencari-cari dalil bagi pendapat batilnya, bukan malah rujuk kepada pendapat yang haqq (benar).

Prinsipnya, semua pendapat orang salah, kecuali yang bersesuaian dengan pendapatnya. Subhanallah, orang yang lebih baik saja daripada dirinya tak pernah berkata demikian.

Ya, demikianlah kesombongan menguasai hatinya dan merusaknya sehingga yang haqq, ia anggap batil, lalu yang batil ia anggap haqq.

Al-Imam Abu Abdillah Ibnu Qoyyim Al-Jawziyyah -rahimahullah- berkata dalam kitabnya Al-Fawa’id,

من علامات السعادة والفلاح: أنَّ العبد كُلَّما زيدَ في عِلْمِه زِيْدَ في تواضعهِ ورَحْمَتِهِ، وكُلَّما زِيدَ في عملهِ زِيدَ في خَوْفِهِ وحذَرِهِ، وكُلَّما زِيدَ في عمرهِ نَقَصَ مِنْ حِرْصِهِ، وكُلَّما زِيدَ في مالهِ زِيْدَ في سَخَائِهِ وبذلهِ، وكُلَّما زيدَ في قَدْرِهِ وَجَاهِهِ زيدَ في قُرْبِهِ مِنَ النَّاسِ وقضاءِ حوائجهم والتَّواضع لهم.

“Diantara tanda-tanda kebahagian dan keberuntungan bahwa seorang hamba, setiap kali diberi tambahan ilmu, maka ia pun diberi tambahan tawadhu’ dan kasih sayangnya. Setiap kali diberi tambahan ilmu, maka ia pun diberi tambahan sifat takut dan waspada. Setiap kali diberi tambahan umur, maka sikap rakusnya berkurang. Setiap kali ia diberi tambahan harta, maka diberi tambahan sifat pemurah dan berkorban. Setiap kali ia diberi tambahan kemuliaan dan kedudukan, maka ia diberi tambahan kedekatan kepada manusia dan ia semakin memenuhi hajat-hajat manusia serta tawadhu’ (rendah diri) kepada mereka.

Tanda-tanda kesengsaraan (bagi seorang hamba) adalah setiap kali diberi tambahan ilmu, maka ia diberi tambahan kesombongan dan kesesatan. Setiap kali ia diberi tambahan amalan, maka ia diberi tambahan kebanggaan dan perendahan terhadap manusia serta berbaik sangka pada diri sendiri. Setiap kali diberi tambahan umur, maka ia diberi tambahan kerakusan. Setiap kali ia diberi tambahan harta benda, maka ia diberi tambahan kebakhilan dan penahanan harta. Setiap kali ia diberi tambahan kemuliaan dan kedudukan, maka ia diberi tambahan kesombongan dan kesesatan.

Perkara-perkara ini adalah ujian dan cobaan dari Allah yang Allah menguji dengannya para hamba-Nya. Lantaran itu, berbahagialah karenanya beberapa kaum dan sengsara karenanya beberapa kaum”. [Lihat Al-Fawa’id (hal. 155), oleh Ibnul Qoyyim, cet. Darul Kutub Al-Ilmiyyah, 1393 H]

Berbangga dengan ilmu yang diperoleh merupakan tanda kesombongan pada diri seorang penuntut ilmu. Penyakit ini banyak menimpa para penuntut ilmu syar’i.

Semua itu menunjukkan tanda kejahilannya. Walaupun banyak ilmu yang ia tulis, dengar dan hafal, namun hakikatnya ia adalah orang yang jahil. Apalah gunanya seorang bergelar “Al-Ustadz” atau “Al-Faqih” dan “Al-Muhaddits”, sementara ia direndahkan oleh sifat hina pada dirinya berupa sifat sombong, takjub dan bangga diri dengan ilmunya?!

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Tulis komentar

Logged in as admin. Log out »




Tulisan lainnya

jannatul-firdaus.net @2022

Cinta Kekuasaan dan Ketenaran telah Menjangkiti Jiwamu


| Menu

| MENU

Bagikan…

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram



Cinta Kekuasaan dan Ketenaran telah Menjangkiti Jiwamu

  • Oleh: Ustadz Abdul Qodir Abu Fa’izah, Lc. hafizhahullah
  • [Pembina Ponpes Al-Ihsan Gowa]

Kekuasaan dan ketenaran adalah dua perkara yang banyak mencelakakan manusia. Kekuasaan akan mendorong manusia untuk memperbanyak dan memperkuat pengikut. Sedangkan ketenaran akan menyeret seseorang untuk menjilat dan mencari-cari perhatian manusia dalam beramal.

Akibatnya, dua penyakit ini membuat para pencintanya akan melakukan segala hal dalam meraih keduanya. Orang-orang yang haus kekuasaan dan ketenaran akan memuaskan hawa nafsu dan tendensi hinanya dengan melakukan segala cara demi meraih hal itu!! Hanya saja caranya kadang halus sekali sehingga tak ada yang tahu, kecuali dia dan Allah –Azza wa Jalla-.

Penyakit cinta kekuasaan dan ketenaran ini, bukan hanya menyerang orang-orang jahil diantara manusia, bahkan ia juga menyerang orang-orang berilmu.

Lantaran itu, setiap orang berilmu dari kalangan ulama, ustadz, dan penuntut ilmu agama, harus waspada dan selalu memeriksa segala perbuatan hatinya. Sebab, penyakit cinta kekuasaan dan ketenaran ini adalah golongan penyakit yang merasuki hati.

Ketahuilah bahwa penyakit cinta kekuasaan dan ketenaran ini merupakan penyakit yang sangat sulit disembuhkan dan diusir dari hati orang yang berilmu, apalagi orang jahil tentang agama!!

Al-Imam Abu Ishaq Asy-Syathibiy –rahimahullah– berkata,

آخر الأشياء نزولاً من قلوب الصَّالحين: حبُّ السُّلطة والتَّصدر

“Perkara yang paling terakhir turun (yakni, keluar) dari hati orang-orang sholih adalah cinta kekuasaan dan ketenaran”. [Lihat Ma’alim fi Thoriq Tholab Al-Ilm (hal. 20), karya Syaikh Abdul Aziz As-Sadhan –hafizhahullah-, cet. Dar Ibnil Haitsam]

Di dalam ucapan Asy-Syathibiy –rahimahullah– ini terdapat isyarat bahwa penyakit cinta kekuasaan dan ketenaran adalah dua penyakit yang amat susah hilang dan keluar dari hati orang-orang sholih, apalagi orang-orang yang bejat dan buruk.

Ishaq bin Kholaf Az-Zahid –rahimahullah– berkata,

والله الذي لا إله إلا هو لإزالة الجبال الرواسي أيسر من إزالة الرياسة.

“Demi Allah Yang tak ada ilah (sembahan) yang haqq, kecuali Dia, sungguh menghilangkan gunung-gunung yang kokoh lebih mudah dibandingkan menghilangkan (cinta kepada) kekuasaan”. [Atsar Riwayat Ibnu Abdil Barr dalam Jami’ Al-Ilm wa Fadhlih (no. 976), dengan tahqiq Abul Asybal Az-Zuhairiy, cet. Dar Ibnil Jauzi]

Bayangkan saja gambaran Az-Zahid di atas, bagaimana susahnya mengatasi dan mengobati penyakit cinta kekuasaan.

Saking susahnya hilang sampai sebagian ulama salaf menganggap bahwa penyakit cinta kekuasaan bagaikan penyakit yang tak ada obatnya.

Seorang diantara mereka berkata,

حبُّ الرِيَاسَةِ داءٌ لاَ دَوَاءَ لَهُ وَقَلَّ مَا تَجِدُ الرَّاضِيْنَ بِالقَسْمِ

“Cinta kekuasaan adalah penyakit yang tak ada obatnya. Jarang anda menemukan orang-orang yang ridho (rela) dengan pembagian (dari Allah)”.

[Lihat kedua atsar ini dalam Jami’ Bayan Al-Ilm wa Fadhlih (1/286-287) karya Ibnu Abdil Barr Al-Qurthubiy, cet. Mu’assasah Ar-Royyan dan Dar Ibni Hazm, 1424 H]

Para penuntut ilmu –secara khusus- harus menyadari bahwa cinta kepada kekuasaan akan membuat pelakunya rakus terhadap keinginan-keinginan dunia yang rendah. Kadang seorang penuntut ilmu hasad kepada temannya, karena dunia. Kadang karena cinta kekuasaan, seorang penuntut ilmu rela memutuskan persahabatannya dengan sahabat karibnya. Nas’alullahal afiyah was salamah.

Ini disebabkan karena ia tidaklah mencari ilmu demi mengamalkannya, tapi ia cari agar dijadikan hiasan dan kebanggaan di depan manusia.

Seorang ulama tabi’in di zamannya, Abu Yahya Malik bin Dinar Al-Bashriy -rahimahullah- berkata,

مَنْ تَعَلَّمَ الْعِلْمَ لِلْعَمَلِ كَسَرَهُ، مَنْ تَعَلَّمَهُ لِغَيْرِ الْعَمَلِ زَادَهُ فَخْرًا

“Barangsiapa yang mempelajari ilmu agama untuk diamalkan, maka ilmu itu akan meredakannya. Barangsiapa yang mempelajarinya bukan untuk diamalkan, maka ilmu akan memberinya tambahan keangkuhan”. [HR. Ibnu Abdil Barr dalam Jami’ Bayan Al-Ilm wa Fadhlih (1/288)]

Disinilah sisi keterkaitan antara cinta kekuasaan dan cinta ketenaran. Keduanya menyeret seseorang untuk beramal demi selain Allah.

Cinta ketenaran akan membuat pelakunya susah menghadirkan keikhlasan dalam hatinya. Dalam beramal, ia tak jujur kepada Allah. Sebab, ia mau beramal jika ada sesuatu yang dapat mengangkat namanya demi mencapai ketenaran.

Jika suatu amalan tak bisa membuat dirinya masyhur dan dikenal oleh orang, maka ia malas melangkah dalam melakukan amalan itu.

Sebuah contoh, seorang ulama atau dai –misalnya-, ia tak mau bersabar tinggal di rumah atau pesantrennya untuk mengajari para santrinya tentang ilmu agama.

Sementara itu, ia lebih senang berkeliling kampung, kota dan propinsi dalam “berdakwah” menurutnya, dibandingkan berdakwah di kampungnya. Semua ini ia gemar lakukan demi mencapai popularitas.

Sebagian penuntut ilmu ada yang terkena cinta ketenaran ini dari arah dunia tulis-menulis. Ia rajin menulis di majalah, koran, buletin, situs, dan berbagai media lainnya demi mencapai popularitas. Rajin sih rajin. Hanya saja ia tak menjauhkan hatinya dari penyakit ini.

Kelompok dai lain, ada yang lebih lihai dalam mencari popularitas dan ketenaran dengan mengumpulkan manusia sebanyak-banyaknya dalam majelis, lalu ia pun tampakkan dirinya sebagai manusia yang paling berilmu.

Dia pun mengondisikan masyarakat agar mereka mengakui bahwa dirinyalah yang paling berilmu. Adapun dai-dai selainnya, maka mereka lebih rendah dibandingkan dirinya.

Ia tak ingin ada orang yang berbicara tentang ilmu, kecuali dirinya. Orang-orang pun berdecak kagum dalam hati sambil bergumam, “Inilah dai dan ustadz yang paling top dan hebat!!”

Orang seperti ini tak sadar bahwa dirinya telah terjangkiti oleh penyakit cinta ketenaran. Sungguh ia tak jujur kepada Allah dalam beramal; bukan pahala yang ia inginkan, bahkan pujian dan sanjungan manusia.

Abu Ishaq Ibrahim bin Adham Al-Ijliy -rahimahullah- berkata,

مَا صَدق َاللهَ عَبدٌ أَحَبَّ الشُّهْرَةَ

“Seorang hamba yang mencintai ketenaran tak akan berlaku jujur kepada Allah”. [HR. Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah (9/35), Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimasyqo (6/317-318) dan Ibnu Abid Dun-ya dalam Al-Uzlah wa Al-Infirod (no. 132 & 137)]

Para pembaca yang budiman, jika seseorang sudah demikian halnya, yakni ia amat mencintai ketenaran, maka ia akan susah menerima nasihat dari orang lain yang ada di bawahnya.

Apalagi jika ia pandai bersilat lidah sehingga semua hujjah yang ditujukan kepada dirinya, maka ia mentahkan dengan silat lidahnya dan ia tampakkan dirinya tak salah. Padahal ia sudah tahu bahwa dirinya bersalah dan hujjah telah tegak baginya.

Sekali lagi, penyakit cinta kekuasaan dan ketenaran bukan hanya mengenai orang jahil. Bahkan biasanya juga mengenai kaum berilmu.

Walaupun seorang yang berilmu merasa dirinya ikhlash dalam berdakwah, ia harus tetap mewaspadai hal ini!!!

Al-Imam Al-Hafizh Abu Abdillah Adz-Dzahabiy –rahimahullah– berkata,

((عَلاَمَة ُالمُخلِصِ الذي قد يُحِبُّ شُهرَةً، ولا يشعرُ بها، أنّه إذا عُوتب في ذلك لا يَحْرَدُ ولا يُبَرِّئُ نفسَهُ، بل يعترف ويقول: رحمَ الله من أهدى إليَّ عُيوبي، ولا يَكُنْ مُعْجباً بنفسِه؛ لا يشعرُ بعيوبها، بل لا يشعر أنّه لا يشعر، فإنّ هذا داءٌ مزمنٌ))

“Tanda orang ikhlash yang terkadang mencintai ketenaran –sedang ia tak merasakannya- bahwa jika ia dicela dalam hal itu, maka ia tak marah dan tidak pula membersihkan dirinya. Bahkan ia mengakui (hal itu) seraya berkata, “Semoga Allah merahmati orang menunjukkan kepadaku aib-aibku”.

Orang ini tak bangga diri. Cuma dia tak menyadari aib (kekurangan) dirinya, bahkan ia tak merasa bahwa dirinya tak merasa (bersalah). Sesungguh hal ini adalah penyakit yang kronis”. [Lihat Siyar A’lam An-Nubalaa’ (7/393)]

Orang seperti ini jika ada yang menasihati dan mengeritiknya, maka lisannya berterima kasih, namun hatinya tak menerima, bahkan kadang kesal. Wallahul musta’an.

Ini penyakit cinta ketenaran!! Adapun penyakit cinta kekuasaan, maka penyakit ini pun tak kalah bahayanya. Ia juga menyerang berbagai kalangan, tanpa terkecuali ulama dan ustadz.

Realita nyata telah membuktikan hal itu di lapangan, sehingga mudah saja bila kita ingin membawakan sebagian bukti dan fakta nyata di lapangan!!

Di sebagian daerah, ada sebagian dai yang merasa dirinya paling senior, sehingga menganggap dirinya yang patut didengar dan mengatur semua urusan dakwah. Semua dai yang baru datang dalam medan dakwah, maka ia anggap junior dan tak ada nilainya.

Si dai senior ini yang ingin menentukan semua urusan dakwah. Karena itu, tak boleh ada yang berceramah di “daerah kekuasaannya”, tanpa ada izin darinya. Jika tidak, maka dai pendatang dari luar, ia anggap dai sempalan, atau minimal kurang ajar dan kurang beradab.

Subhanallah, padahal si “dai senior” ini bukanlah seorang pemerintah yang berhak mengatur dakwah disana-sini.

Lebih para lagi, jika si dai senior ini memiliki jaringan berupa dai-dai baru (junior) yang siap menjilat dan tunduk di depannya demi menjaga harga diri dan kedudukannya dari cercaan si dai senior. Sungguh ini adalah penyakit cinta kekuasaan.

Warna lain dari dunia dai, ada diantara mereka memperjuangkan Islam dan mendakwahkannya melalui ajang politik dan demokrasi, sehingga ia pun menghinakan diri masuk dalam parlemen dengan dalih “dakwah”.

Begini hinakah Islam sampai anda harus memperjuangkannya melalui cara yang tak dibenarkan agama?! Sungguh semua ini adalah kehancuran.

Jika mereka berdalih bahwa mereka terpaksa dan darurat ikut dalam hal itu. Kita katakan bahwa bukankah telah ada yang mewakili anda dalam urusan itu dari kalangan kaum muslimin?!

Al-Imam Abu Nu’aim Ashbahaniy –rahimahullah– berkata,

“والله ما هلك مَنْ هلكَ إلاَّ بحبِّ الرِّئاسة” (جامع بيان العلم) (1 / ص 286)

“Demi Allah, tidaklah binasa orang yang binasa, kecuali karena sebab kekuasaan”. [Baca Jami’ Bayan Al-Ilm (1/286)]

Banyak orang yang mengetahui hakikat kebenaran. Namun ia enggan meninggalkan kesesatan dan kebatilan yang selama ini ia lakukan dan perjuangkan.

Ia susah rujuk kepada kebenaran, akibat cinta dan haus kekuasaan. Ia rela hancur dalam kebatilan dan kesesatan bersama dengan pengikut atau kelompoknya, karena takut kehilangan kekuasaan dan kedudukan di mata pengikut atau kelompoknya.

Inilah yang dialami oleh seorang Kaisar Romawi dan Raja Kostantinopel yang bernama Heraklius. Ia rela di atas kekafiran setelah nyatanya kebenaran baginya, sebagaimana yang disebutkan oleh Al-Bukhoriy dalam Shohih-nya (no. 7) dan Muslim dalam Shohih-nya (1773)]

Terakhir kita memohon kepada Allah –Tabaroka wa Ta’ala– agar kita dibersihkan dan dijauhkan dari sebab-sebab yang menumbuhkan cinta dunia dan ketenaran dalam jiwa kita. Amiin.

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Tulis komentar

Logged in as admin. Log out »




Tulisan lainnya

jannatul-firdaus.net @2022

Qona’ah, Perbendaharaan Seluas Samudra


| Menu

| MENU

Bagikan…

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram



Qona’ah, Perbendaharaan Seluas Samudra

  • Oleh: Ustadz Abdul Qodir Abu Fa’izah, Lc. hafizhahullah
  • [Pembina Ponpes Al-Ihsan Gowa]

Hidup di zaman modern ini, kebanyakan manusia cenderung membutuhkan banyak fasilitas dan sarana yang dapat membahagiakan dirinya, sehingga sebagian orang merasa sempit hatinya saat melihat orang-orang yang diberi karunia oleh Allah berupa berbagai macam harta benda dan fasilitas.

Dia pun menyangka bahwa itulah kekayaan yang hakiki. Sebaliknya, ia menyangka dirinya yang tidak memiliki semua itu adalah miskin dan fakir.

Benarkah semua itu? Tentu saja ini tak benar, sebab kekayaan hakiki bukanlah dengan banyaknya harta benda, tapi kelapangan hati yang dimiliki oleh seorang hamba. Itulah yang kita kenal dalam agama dengan sifat QONA’AH (merasa puas dan cukup dengan pemberian Allah)

Rasulullah –Shallallahu alaihi wa sallam– bersabda kepada Abu Dzarr –radhiyallahu anhu-,

يا أبا ذر ، أترى كثرة المال هو الغنى ؟ قلت : نعم يا رسول الله . قال : فترى قلة المال هو الفقر ؟ قلت : نعم يا رسول الله . قال : إنما الغنى غنى القلب ، و الفقر فقر القلب

“Wahai Abu Dzarr, apakah engkau mengira bahwa banyaknya harta adalah kekayaan?” Aku (Abu Dzarr) katakan, “Ya, wahai Rasulullah”. Beliau bersabda lagi, “Apakah engkau mengira bahwa sedikitnya harta benda adalah kefakiran?”. Aku (Abu Dzarr) katakan, “Ya wahai Rasulullah”. Beliau bersabda, “Hanyalah kekayaan itu (hakikatnya) adalah kekayaan hati dan kefakiran itu (hakikatnya) adalah kefakiran hati”. [HR. Ibnu Hibban dalam Shohih-nya (685), Al-Hakim dalam Al-Mustadrok (4/327/no. 7929) dan Ath-Thobroniy dalam Al-Mu’jam Al-Kabir (1643) serta yang lainnya. Hadits ini di-shohih-kan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Shohih At-Targhib (827)]

Kemiskinan hati dan kefakirannya, itulah hakikat kefakiran. karena orang yang berhati fakir selalu merasakan dirinya kurang dunianya, sehingga iapun selalu merasa untuk selalu butuh kepada harta benda dunia dan bersandar padanya.

Para pembaca yang budiman, kefakiran hati hakikatnya adalah kosongnya hati dari rasa selalu butuh kepada Allah dalam segala kondisinya dan jauhnya hati dari melihat kebutuhannya yang sempurna kepada Allah –Ta’ala– dari segala sisi. [Lihat Madarij As-Salikin (2/36)]

Orang-orang seperti ini akan diperbudak oleh dunia. Jika dunia pergi dan hilang, maka ia pun pusing, sakit dan lemah. Seakan dunia itulah segalanya. Padahal dunia bukanlah segalanya. Dunia berada dalam kekuasaan Allah –Azza wa Jalla-.

Jika seorang hamba menyadari hal ini, maka kesempitan hatinya akan sirna. Sebab, ia tahu bahwa segala sesuatu ada dalam ketentuan dan pengaturan Pencipta. Segala kebutuhan hamba telah diatur oleh Allah. Dia-lah yang memberi dan Dia pula yang menahan sesuatu dari hamba-Nya.

Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqolaniy rahimahullah– berkata, “Kekayaan jiwa dengan kayanya hati, dengan cara butuhnya hati kepada Robb-nya dalam segala urusannya, sehingga ia pun meyakini bahwa Dia-lah Yang Maha Memberi dan Menahan. Karenanya, ia pun ridho dengan ketentuan-Nya dan bersyukur atas segala nikmat-Nya serta kembali kepada-Nya dalam menyingkap segala kesusahannya. Akhirnya, dari kefakiran (kebutuhan) hatinya kepada Robb-nya, timbullah ketidakbutuhan kepada selain Robb-nya -Ta’ala-“. [Lihat Fathul Bari (11/273)]

Disinilah rahasianya orang-orang sholih dahulu, mereka selalu meminta dan mengharap kepada Allah.

Kita semua butuh kepada Allah. Apa saja yang kita inginkan, maka mintalah kepada Allah, jangan merengek kepada makhluk.

Allah -Azza wa Jalla- berfirman,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللَّهِ وَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ  [فاطر : 15]

“Hai manusia, kalianlah yang fakir (butuh) kepada Allah; dan Allah, Dia-lah Yang Maha Kaya (Tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji”. (QS. Fathir : 15)

Jika hakikat ini diketahui oleh seorang hamba, maka ia akan merasakan kelapangan hati dan berbahagia. Sebab, ia telah memiliki qona’ah (perasaan kecukupan) dengan pemberian yang ia peroleh dari Allah. Sifat qona’ah (puas dengan pemberian Allah) laksana samudra luas tak bertepi. Siapa yang memilikinya, maka hatinya akan lapang seluas samudra, dan semurah samudra yang banyak mengandung ikan dan permata berharga bagi manusia.

Seorang yang berhias qona’ah tak akan iri, benci dan marah kepada orang-orang yang lebih dari dirinya. Bahkan ia akan selalu bersyukur atas apa yang ada di sisinya.

Rasulullah –Shallallahu alaihi wa sallam– bersabda,

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ وَرُزِقَ كَفَافًا وَقَنَّعَهُ اللَّهُ بِمَا آتَاه

“Sungguh telah beruntung orang yang masuk Islam, diberi rezki yang pas-pasan dan Allah berikan kepadanya rasa cukup (qona’ah) pada (nikmat) yang Allah berikan kepadanya”. [HR. Muslim dalam Shohih-nya (1054)]

Al-Imam Abul Abbas Al-Qurthubiy –rahimahullah– berkata, “Maknanya hadits ini bahwa barangsiapa yang tercapai baginya hal-hal itu, maka sungguh ia telah meraih cita-citanya dan mendapatkan sesuatu yang ia harapkan di dunia dan akhirat”. [Lihat Ad-Dibaj Syarh Shohih Muslim Ibnil Hajjaj (3/137) karya As-Suyuthiy]

Inilah kekayaan hati dan kelapangannya. Hati tidaklah memerintahkan pemiliknya untuk rakus dan loba terhadap harta benda dunia, sehingga ia pun akhirnya tidak puas dengan pemberian Allah –Ta’ala-.

Seorang yang tak pernah puas dan bersyukur atas karunia Allah yang ia dapatkan, maka ia akan merasakan kemiskinan hati dan kesempitan. Barangsiapa yang puas dengan karunia dan nikmat yang diberikan kepadanya –walaupun itu sedikit-, maka ia adalah manusia yang paling kaya hatinya!!

Rasulullah –Shallallahu alaihi wa sallam– bersabda,

مَنْ يَأْخُذُ عَنِّي هَؤُلاَءِ الكَلِمَاتِ فَيَعْمَلُ بِهِنَّ أَوْ يُعَلِّمُ مَنْ يَعْمَلُ بِهِنَّ ؟ فَقَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ : فَقُلْتُ : أَنَا يَا رَسُولَ اللهِ ، فَأَخَذَ بِيَدِي فَعَدَّ خَمْسًا وَقَالَ : اتَّقِ الْمَحَارِمَ تَكُنْ أَعْبَدَ النَّاسِ ، وَارْضَ بِمَا قَسَمَ اللَّهُ لَكَ تَكُنْ أَغْنَى النَّاسِ ، وَأَحْسِنْ إِلَى جَارِكَ تَكُنْ مُؤْمِنًا ، وَأَحِبَّ لِلنَّاسِ مَا تُحِبُّ لِنَفْسِكَ تَكُنْ مُسْلِمًا ، وَلاَ تُكْثِرِ الضَّحِكَ ، فَإِنَّ كَثْرَةَ الضَّحِكِ تُمِيتُ القَلْبَ

“Siapakah yang mau mengambil kalimat-kalimat itu lalu ia amalkan ataukah ia ajarkan kepada orang yang mau mengamalkannya?” Abu Hurairah berkata, “Aku pun katakan, “Saya, wahai Rasulullah!!” Beliau memegang tanganku seraya menyebutkan lima perkara dan bersabda,

“Jauhilah perkara-perkara yang diharamkan, niscaya kamu akan menjadi manusia yang paling taat; ridhoilah sesuatu yang Allah bagikan kepadamu, niscaya kamu akan menjadi manusia yang paling kaya; berbuat baiklah kepada tetanggamu, niscaya kamu akan menjadi mukmin; cintailah bagi manusia sesuatu yang engkau cintai untuk dirimu, niscaya kamu akan menjadi muslim; dan janganlah engkau memperbanyak tertawa. Karena, banyak tertawa akan mematikan hati”. [HR. At-Tirmidziy dalam Sunan-nya (no. 2305). Hadits ini dinilai hasan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Shohih Al-Jami’ Ash-Shoghier (no. 100)]

“Sesungguhnya barangsiapa yang merasa puas (dengan pemberian Allah), maka pasti ia kaya (tak butuh kepada harta benda orang lain). Kekayaan itu (hakikatnya) bukanlah karena banyaknya harta benda. Akan tetapi kekayaan itu adalah kekayaan hati.

Qona’ah (puasnya) hati (dengan pemberian Allah) adalah kekayaan dan kemuliaan karena Allah. Lawannya adalah kefakiran dan kehinaan di hadapan orang lain.

Barangsiapa yang tidak qona’ah (merasa cukup dan puas dengan pemberian Allah), maka ia tak akan pernah merasa kenyang selamanya.

Jadi, di dalam qona’ah terdapat kemuliaan, kekayaan dan kebebasan. Di saat hilangnya qona’ah, akan timbul kehinaan dan perbudakan kepada selain Allah.

Celakalah hamba dunia dan hamba dinar. Jadi, haruslah bagi setiap orang yang berakal untuk mengetahui bahwa rezki itu berdasarkan pembagian, bukan berdasarkan ilmu dan pikiran manusia”. [Lihat Faidhul Qodir (1/124)]

Disinilah seorang hamba tak boleh berputus asa dari mencari rezki yang halal dan tidak boleh merasa sombong bahwa segala jerih payahnya adalah hasil pikiran dan ilmu yang miliki.

Apa yang yang kita dapatkan, maka itulah rezki yang kita harus ridhoi dan syukuri. Apa saja yang tidak bisa kita jangkau setelah berusaha, maka kita berbaik sangka kepada Allah bahwa itulah bagian yang telah Dia tetapkan.

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Tulis komentar

Logged in as admin. Log out »




Tulisan lainnya

jannatul-firdaus.net @2022

Jangan Lupa Adab ini, Saat Bermajelis


| Menu

| MENU

Bagikan…

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram



Jangan Lupa Adab ini, Saat Bermajelis

  • Oleh: Ustadz Abdul Qodir Abu Fa’izah, Lc. hafizhahullah
  • [Pembina Ponpes Al-Ihsan Gowa]

Setiap orang pasti biasa melakukan kumpul-kumpul dan duduk bersama dengan beberapa orang untuk mendengarkan ceramah, atau rapat dan lainnya. Ini yang kita kenal dengan majelis.

Sebagian orang melakukan perkumpulan dan majelis bersama dengan kelompok, teman kerja, atau bersama kaum muslimin. Namun disana ada sebuah hal yang sering dilalaikan oleh banyak orang diantara mereka bahwa bermajelis dan berkumpul memiliki adab-adab yang perlu dijaga saat berada di majelis.

Salah satu diantara adab yang sering dilalaikan oleh mereka di majelis-majelis, “adab berdzikir dan bersholawat” kepada Nabi –Shallallahu alaihi wa sallam-.

Inilah yang pernah diingatkan oleh Nabi –Shallallahu alaihi wa sallam– dalam sebuah sabdanya,

مَا جَلَسَ قَوْمٌ مَجْلِسًا لَمْ يَذْكُرُوا اللَّهَ فِيهِ ، وَلَمْ يُصَلُّوا عَلَى نَبِيِّهِمْ ، إِلاَّ كَانَ عَلَيْهِمْ تِرَةً ، فَإِنْ شَاءَ عَذَّبَهُمْ وَإِنْ شَاءَ غَفَرَ لَهُمْ

“Tidaklah suatu kaum duduk pada suatu majelis sedang mereka tidak berdzikir kepada Allah di dalamnya dan tidak pula bersholawat kepada Nabi mereka, kecuali kekurangan akan menimpa mereka. Jika Allah hendak menyiksa mereka, maka Dia akan menyiksanya; jika Dia hendak mengampuninya, maka Dia akan mengampuninya”. [HR. At-Tirmidziy dalam Sunan-nya (3380). Hadits ini di-shohih-kan oleh Syu’aib Al-Arna’uth dalam Takhrij Al-Musnad (no. 9764)]

Di dalam riwayat yang lain, Rasulullah –Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda,

وَمَنْ قَعَدَ مَقْعَدًا لَمْ يَذْكُرْ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ فِيهِ إِلَّا كَانَ عَلَيْهِ تِرَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Tidaklah suatu kaum duduk pada suatu majelis, sedang mereka tidak berdzikir kepada Allah -Azza wa Jalla-, kecuali kekurangan akan menimpa mereka pada hari kiamat”. [Abu Dawud dalam Sunan-nya (4856 & 5059) dan An-Nasa’iy dalam Sunan-nya (403-404). Hadits ini dinilai hasan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam AshShohihah (78)]

Disebutkan di dalam hadits ini bahwa orang yang tidak berdzikir dalam majelis, ia akan mendapatkan (تِرَةً).

Dijelaskan oleh para ulama hadits dan bahasa bahwa makna kata (تِرَةً) ada dua: (1) kekurangan (نَقْصٌ) dan (2) pertanggungjawaban (تَبِعَةٌ). (3) Ada juga yang menafsirkannya dengan “neraka” atau “siksaan”. [Lihat Taajul Arus min Jawahir Al-Qomus (14/238) oleh Murtadho Az-Zubaidiy, cet. Dar Al-Hidayah]

Ini mengisyaratkan kepada kita bahwa berdzikir dan bersholawat kepada Rasulullah –Shallallahu alaihi wa sallam- di dalam suatu majelis yang kita hadiri adalah hukumnya wajib!!

Kemudian sebaik-baik majelis adalah majelis ilmu, karena di dalamnya seorang penceramah dan hadirin akan selalu memuji dan berdzikir Allah –Azza wa Jalla– saat menyebut nama-nama Allah -Azza wa Jalla- dan senantiasa bersholawat kepada Rasulullah –Shallallahu alaihi wa sallam– ketika mendengarkan nama atau gelar beliau -Shallallahu alaihi wa sallam-.

Al-Imam Abu Ibrahim Al-Amir Ash-Shon’aniy –rahimahullah– berkata,

وَالْحَدِيثُ دَلِيلٌ عَلَى وُجُوبِ الذِّكْرِ وَالصَّلَاةِ عَلَى النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – فِي الْمَجْلِسِ سِيَّمَا مَعَ تَفْسِيرِ التِّرَةِ بِالنَّارِ أَوْ الْعَذَابِ فَقَدْ فُسِّرَتْ بِهِمَا فَإِنَّ التَّعْذِيبَ لَا يَكُونُ إلَّا لِتَرْكِ وَاجِبٍ أَوْ فِعْلِ مَحْظُورٍ، وَظَاهِرُهُ أَنَّ الْوَاجِبَ هُوَ الذِّكْرُ وَالصَّلَاةُ عَلَيْهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – مَعًا

“Hadits ini adalah dalil tentang wajibnya berdzikir dan bersholawat kepada Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- di dalam majelis. Apalagi kata (تِرَةً) ditafsirkan dengan neraka atau siksaan. Sungguh kata tersebut telah ditafsirkan dengan keduanya. Karena, penyiksaan tidak terjadi, kecuali karena meninggalkan perkara wajib atau mengerjakan perkara yang terlarang. Lahiriah hadits ini bahwa yang wajib adalah berdzikir dan bersholawat kepada beliau -Shallallahu alaihi wa sallam- sekaligus”. [Lihat Subul As-Salam (8/297) karya Ash-Shon’aniy, cet. Dar Ibnil Jawziy, 1421 H]

Inilah akibat yang akan diterima oleh orang-orang yang lalai berdzikir dan bersholawat di majelis-majelis. Jadi, seorang muslim harus selalu mengingat hal ini. Walaupun orang-orang yang hadir lalai darinya, namun jangan sampai ia lalai darinya. Bayangkan saja bila hari kiamat kita menemui kekurangan yang banyak akibat lalainya kita dari kewajiban itu. Ini persis sama dengan orang-orang yang luput dari sholat Ashar.

Rasulullah –Shallallahu alaihi wa sallam– bersabda,

الَّذِي تَفُوتُهُ صَلَاةُ الْعَصْرِ كَأَنَّمَا وُتِرَ أَهْلَهُ وَمَالَهُ

“Orang yang luput dari sholat Ashar ibarat orang yang berkurang keluarga dan harta bendanya”. [HR. Al-Bukhoriy dalam Shohih-nya (552) dan Muslim dalam Shohih-nya (626)]

Al-Imam Abu Sulaiman Al-Khoththobiy rahimahullah– berkata,

نقص أو سلب فبقي وتراً فرداً بلا أهل ولا مال يريد فليكن حذره من فوتها كحذره من ذهاب أهله وماله . (معالم السنن للخطابي 288 – (1 / 131))

“Dia telah mengurangi keluarga dan harta bendanya dan diambil darinya sehingga ia tinggal (hidup) sendiri, tanpa keluarga dan harta benda. Karena itulah, hendaknya seorang yang luput dari sholat Ashar takut, seperti halnya ia takut kehilangan keluarga dan harta benda”. [Lihat Ma’alim As-Sunan (1/131) oleh karya Al-Khoththobiy, cet. Al-Mathba’ah Al-Ilmiyyah, Halab, 1351 H]

Seorang yang meninggalkan dzikir di dalam majelis-majelis akan luput dari banyak kebaikan dan pahala yang mestinya ia raih berupa ampunan, sholawat dari Allah -Azza wa Jalla-, pengangkatan derajat dan lainnya.

Wajarlah bila nanti di hari kiamat, orang-orang yang lalai di majelisnya (sehingga tidak berdzikir kepada Allah dan tidak pula bersholawat) akan tertimpa penyesalan.

Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda,

مَا قَعَدَ قَوْمٌ مَقْعَدًا لَا يَذْكُرُونَ فِيهِ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ، وَيُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، إِلَّا كَانَ عَلَيْهِمْ حَسْرَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ، وَإِنْ دَخَلُوا الْجَنَّةَ لِلثَّوَابِ

“Tidaklah suatu kaum duduk pada suatu majelis sedang mereka tidak berdzikir kepada Allah -Azza wa Jalla- dan tidak pula bersholawat kepada Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-, kecuali penyesalan akan menimpa mereka pada hari kiamat, walaupun mereka akan memasuki surga, karena pahala”. [Ahmad dalam Al-Musnad (2/463), Ibnu Hibban dalam Shohih-nya (591) dan Al-Hakim dalam Al-Mustadrok (1/492). Hadits ini di-shohih-kan oleh Al-Arna’uth dalam Takhrij Al-Musnad (9965)]

Di saat menafsirkan sabda Nabi –Shallallahu alaihi wa sallam, yang berbunyi, “…kecuali penyesalan akan menimpa mereka pada hari kiamat…”Syaikh Ubaidullah Al-Mubarokfuriy –rahimahullah– berkata,

أي : ندامة يوم القيامة بسبب تفريطهم في ذكر الله في ذلك المجلس وذلك لما يظهر لهم في موقف الحساب من أجور العامرين لمجالسهم بذكر الله تعالى، فيتحسرون على كل لحظة من أعمارهم لم يذكروا الله فيها. ((مرعاة المفاتيح شرح مشكاة المصابيح – (7 / 407))

“Maksudnya, penyesalan pada hari kimat, akibat keteledoran mereka dalam berdzikir kepada Allah di majelis itu. Penyesalan itu akan terjadi saat tampaknya bagi mereka pahala orang-orang yang meramaikan majelis mereka dengan dzikir kepada Allah -Ta’ala-. Akhirnya, mereka menyesali setiap kesempatan dari umur mereka, yang mereka tidak berdzikir di dalamnya”. [Lihat Mir’aah Al-Mafaatih (7/816)]

Al-Imam Muhammad bin Abi Bakr Ibnu Qoyyim Al-Jawziyyah rahimahullah– berkata,

فأي لحظة خلا فيها العبد عن ذكر الله عز و جل كانت عليه لا له وكان خسرانه فيها أعظم مما ربح في غفلته عن الله. ((الوابل الصيب – (ص/ 56))

“Kesempatan apapun di dalamnya seorang hamba kosong dari dzikrullah -Azza wa Jalla-, maka hal itu akan menjadi petaka baginya, bukan kebahagiaan baginya. Penyesalannya akan lebih besar dibandingkan sesuatu yang ia dapatkan di saat ia lalai dari Allah”. [Lihat Al-Wabil Ash-Shoyyib min Al-Kalim Ath-Thoyyib (hal. 56), karya Ibnul Qoyyim, cet. Dar Al-Kitab Al-Arobiy, 1405 H]

Para pembaca yang budiman, hadits yang mulia ini menerangkan kepada kita bahwa Rasulullah –Shallallahu alaihi wa sallam– amat benci dengan majelis yang kosong dari dzikrullah!!!

Al-Imam Ibnu Qoyyim Al-Jawziyyah –rahimahullah– berkata,

وَكَرِهَ صَلّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ لِأَهْلِ الْمَجْلِسِ أَنْ يُخْلُوا مَجْلِسَهُمْ مِنْ ذِكْرِ اللّهِ عَزّ وَجَلّ. ((زاد المعاد في هدي خير العباد ـ (2 / 426))

“Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- membenci bagi orang-orang di majelis bila mereka mengosongkan majelisnya dari dzikir kepada Allah -Azza wa Jalla-“. [Lihat Zaadul Ma’ad fi Hadyi Khoiril Ibaad (2/426), karya Ibnul Qoyyim, cet. Mu’assasah Ar-Risalah, dengan tahqiq Abdul Qodir Al-Arna’uth dan Syu’aib Al-Arna’uth, 1421 H]

Kenapa Nabi –Shallallahu alaihi wa sallam– membenci suatu majelis yang kosong dzikrullah?! Sebab, majelis yang demikian halnya menunjukkan bahwa orang-orang yang hadir di majelis adalah golongan orang-orang yang lalai. Disinilah rahasianya beliau -Shallallahu alaihi wa sallam- amat menganjurkan umatnya memperbanyak dzikir, apalagi di majelis. Beliau -Shallallahu alaihi wa sallam- juga mengajari para sahabatnya agar menutup majelis dengan dzikrullah.

Syaikh Faishol bin Abdil Aziz Alu Mubarok –rahimahullah– berkata saat membawakan hadits yang semakna dengan hadits di atas,

في هذا الحديث: كراهة الغفلة واستحباب الذكر في كل حالة. ((تطريز رياض الصالحين – (ص/ 503))

“Di dalam hadits ini terdapat celaan lalai dari dzikir dan dianjurkannya berdzikir di dalam semua keadaan”. [Lihat Tathriz Riyadh Ash-Sholihin (2/2)]

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Tulis komentar

Logged in as admin. Log out »




Tulisan lainnya

jannatul-firdaus.net @2022

Renungan Jiwa tentang Besarnya Dosa Mengganggu & Menyakiti Tetangga


| Menu

| MENU

Bagikan…

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram



Renungan Jiwa tentang Besarnya Dosa Mengganggu & Menyakiti Tetangga

  • Oleh: Ustadz Abdul Qodir Abu Fa’izah, Lc. hafizhahullah
  • [Pembina Ponpes Al-Ihsan Gowa]

Tetangga yang hidup berdampingan rumah dengan kita termasuk orang-orang yang dekat dengan kita. Bahkan terkadang mereka lebih dekat lagi dibandingkan kerabat kita sendiri!!

Mereka memiliki perhatian yang lebih besar daripada kerabat kita sampai kadang mereka bagaikan saudara kandung atau orang tua sendiri.

Mereka mengetahui keadaan dan seluk-beluk rumah kita, baik yang masuk ke rumah, maupun yang keluar. 

Intinya, mereka tahu persis tentang segala yang terjadi pada rumah kita. Itulah tetangga!!

Tetangga juga merupakan orang kepercayaan kita, tumpuan harapan kita dalam mengerjakan sebagian perkara yang kita hadapi.

Selain itu, mereka punya kehormatan dan kedudukan yang lebih tinggi dibandingkan orang-orang yang tinggal jauh dari kita.

Itulah sebabnya Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- amat berang bila mendengarkan seseorang mengganggu tetangganya.

Dari Abu Syuraih –radhiyallahu anhu– berkata bahwa Nabi –Shallallahu alaihi wa sallam– bersabda,

واللهِ لا يؤمنُ، واللهِ لا يؤمنُ، واللهِ لا يؤمِنُ، قِيْلَ: ومن يا رسولَ اللهِ ؟ قال: الذي لاَ يَأْمَنُ جَارُه بوائقَه

“Demi Allah, tak akan beriman. Demi Allah, tak akan beriman. Demi Allah, tak akan beriman”. Beliau ditanyai, “Siapakah dia wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, “Orang yang tetangganya tak merasa aman dari keburukan-keburukannya”. [HR. Al-Bukhoriy dalam Shohih-nya (no. 5670)]

Ini adalah kecaman yang amat keras bagi orang yang mengganggu tetangga. Orangnya dicap sebagai “orang yang tak sempurna imannya”, yakni ia tak akan mampu mencapai derajat iman yang sempurna sepanjang ia masih suka mengganggu tetangga dan tak mau bertobat dari kesalahan itu!!

Al-Imam Ibnu Baththol Al-Qurthubiy rahimahullah– berkata,

وهذا الحديث شديد فى الحض على ترك أذى الجار ، الا ترى أنه عليه السلام أكد ذلك بقسمه ثلاث مرات أنه لاؤمن من لايؤمن جاره بوائقه ، ومعناه أنه لايؤمن الإيمان الكامل ، ولا يبلغ أعلى درجاته من كان بهذه الصفة ، فينبغى لكل مؤمن أن يحذر أذى جاره ويرغب أن يكون فى أعلى درجات الإيمان ، وينتهى عما نهاه الله ورسوله عنه ، ويرغب فيما رضياه وحضا العباد عليه . وقال أبو حازم المنزى : كان اهل الجاهلية أبر بالجار منكم ((شرح صحيح البخارى ـ لابن بطال – (9 / 222))

“Hadits ini amat menganjurkan untuk tidak mengganggu tetangga. Tidakkah anda melihat bahwa Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- menekankan hal itu dengan bersumpah sebanyak tiga kali bahwa tidaklah beriman orang yang tetangganya tidak merasa aman dari keburukan-keburukannya. Maknanya, ia tidak beriman dengan keimanan yang sempurna.

Orang yang demikian ini sifatnya tak akan mencapai derajat yang paling tinggi. Karena itu, sepantasnya bagi setiap mukmin waspada dari mengganggu tetangganya, dan (hendaknya) ia berkeinginan untuk berada pada tingkatan iman yang paling tinggi serta berhenti dari sesuatu yang Allah dan Rasul-Nya larang, dan (sebaliknya) mencintai sesuatu yang Allah dan Rasul-Nya ridhoi dan menganjurkan para hamba untuk melakukannya.

Abu Hazim Al-Madaniy berkata, “Dahulu orang-orang jahiliah adalah orang-orang yang amat berbuat kebajikan kepada tetangganya dibandingkan kalian…”. Selesai ucapan Ibnu Baththol –rahimahullah-. [Lihat Syarh Shohih Al-Bukhoriy (9/222) karya Al-Imam Ali bin Kholaf Ibnu Baththol Al-Andalusiy, cet. Maktabah Ar-Rusyd, Riyadh, 1423 H]

Bayangkan saja beratnya ancaman ini!! Nabi –Shallallahu alaihi wa sallam– menyatakan bahwa pelakunya tak akan mencapai puncak keimanan.

Syaikh Faishol bin Abdil Aziz Alu Mubarok –rahimahullah– berkata,

“Di dalam hadits ini terdapat ancaman yang amat keras bagi orang membuat tetangganya merasa takut ataukah ia mengkianatinya dengan merusak keluarga dan harta bendanya”. [Lihat Tathriz Ar-Riyadh (1/221)]

Itulah sebabnya Nabi –Shallallahu alaihi wa sallam– menjelaskan bahwa mengganggu dan menyakiti tetangga amatlah besar dosanya.

Sebab hal itu akan merusak hubungan dan menyakiti hati para tetangga, bahkan boleh jadi menghancurkan kehidupan mereka!! Belum lagi, dosa menyakiti hati tetangga merupakan maksiat dan kedurhakaan kepada Allah -Tabaroka wa Ta’ala-.

Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda,

لَأَنْ يَزْنِيَ الرَّجُلُ بِعَشْرَةِ نِسْوَةٍ، أَيْسَرُ عَلَيْهِ مِنْ أَنْ يَزْنِيَ بِامْرَأَةِ جَارِهِ ولَأَنْ يَسْرِقَ الرَّجُلُ مِنْ عَشْرَةِ أَبْيَاتٍ، أَيْسَرُ عَلَيْهِ مِنْ أَنْ يَسْرِقَ مِنْ جَارِهِ

“Seseorang berzina dengan 10 orang perempuan adalah lebih ringan baginya dibandingkan ia berzina dengan istri tetangganya. Seseorang mencuri dari 10 rumah adalah lebih ringan baginya dibandingkan ia mencuri dari seorang tetangganya”. [HR. Ahmad dalam Al-Musnad (6/8), Al-Bukhoriy dalam Al-Adab Al-Mufrod (no. 103), Ath-Thobroniy dalam Al-Kabir (no. 605). Di-shohih-kan oleh Al-Albaniy dalam Ash-Shohihah (no. 65)]

Al-Imam Abdur Rahman Ibnul Jawziy Ad-Dimasyqiy -rahimahullah- berkata menjelaskan alasan dosa mengganggu tetangga lebih besar dibandingkan selainnya,

وإنما كان هذا؛ لأنه يضم إلى معصية الله عز وجل انتهاك حق الجار ((صيد الخاطر – (1 / 293))

“Hanyalah demikian ini halnya. Karena, melanggar hak tetangga bergabung bersamanya kedurhakaan kepada Allah -Azza wa Jalla-“. [Lihat Shoidul Khothir (hal. 293), cet. Darul Qolam, 1425 H]

Para pembaca yang budiman, kehidupan seseorang dalam dunia ini ibarat safar yang dilakukan oleh para musafir. Dalam safarnya, manusia membutuhkan bekal dan teman safar.

Bekal dan teman safar akan membantu kita dalam mencapai tujuan yang kita inginkan.

Seseorang dalam safarnya haruslah menjaga perasaan dan hajat teman safarnya serta tidak menyakitinya agar perjalanan nyaman dan selamat sampai ke tujuan. Ia bahagia dan kita pun bahagia!

Jika tidak, maka ia akan sampai dalam keadaan capek sekali, bahkan boleh jadi akan celaka dan tidak sampai ke tujuan atau tersesat!! Betapa banyak tetangga sial nan buruk membuat tetangga yang dulunya baik dan sholih. Namun akibat keburukan si tetangga sial ini, akhirnya saudara seperjalanannya dalam kehidupan dunia ini semakin jauh darinya dan pada gilirannya mmebenci si tetangga sial ini.

Tetangga baik yang mestinya menjadi teman seiring dan sejalan dalam ber-ta’awun (tolong-menolong) dalam kebaikan, justru ia musuhi dan sakiti.

Salah satu TEMAN SAFAR dalam menuju akhirat adalah tetangga. Mereka inilah yang harus kita pergauli dengan baik dalam hari-hari perjalanan kita di dunia menuju akhirat. Jangan justru menyakiti dan mengganggu mereka, sehingga hal itu akan menjauhkan kita dari kebaikan dan jalan-jalan surga.

Al-Imam As-Saffariniy Al-Hanbaliy –rahimahullah– berkata,

وَمِنْ أَرْكَانِ السَّفَرِ حُسْنُ الصُّحْبَةِ فِي مَنَازِلِ السَّفَرِ مَعَ الْمُسَافِرِينَ . وَالْخَلْقُ كُلُّهُمْ مُسَافِرُونَ يَسِيرُ بِهِمْ الْعُمْرُ سَيْرَ السَّفِينَةِ بِرَاكِبِهَا فِي الْبَحْرِ . وَأَقَلُّ دَرَجَاتِ حُسْنِ الصُّحْبَةِ كَفُّ الْأَذَى عَنْهُمْ ، وَهَذَا وَاجِبٌ ((غذاء الألباب في شرح منظومة الآداب – (1 / 361))

“Diantara rukun-rukun safar (menuju akhirat), baiknya perkawanan di dalam tempat-tempat persinggahan saat safar bersama para musafir. Seluruh manusia adalah musafir; umur membawa mereka seperti halnya perahu membawa penumpangnya di lautan. Serendah-rendahnya tingkatan baiknya perkawanan (dalam safar menuju akhirat) adalah menghindarkan gangguan dari mereka (yakni, dari para musafir). Ini adalah wajib!!”. [Lihat Ghidzaa’ Al-Albab Syarh Manzhumah Al-Adaab (1/278) karya Muhammad bin Ahmad As-Saffariniy, dengan tahqiq Muhammad Abdul Aziz al-Kholidiy, cet. Dar Al-Kutub Al-Ilmiyyah, 1423 H]

Jika tetangga ibarat teman safar, maka tentunya mereka harus saling percaya, peduli, memperhatikan dan mencintai tetangganya, bukan malah mengkhianatinya, membencinya, berburuk sangka kepadanya atau merusak hati, jasad, atau kehidupannya!!

Suatu realita yang tak terbayangkan bila –misalnya- tetangga kita mengkhianati kita dalam urusan rumah tangga kita. Si tetangga buruk ini pun membawa lari istri kita!! Na’udzu billahi min dzalik!!!

Coba bayangkan bagaimana remuknya hati kita, galaunya pikiran kita, hancurnya perasaan kita, kelamnya masa depan kita, bingungnya sikap kita, dan hilangnya kehormatan kita!!!!

Oh, hancur segalanya!! Semua harapan hancur, karena kekasih (yakni, istri) yang selama ini menjadi orang yang paling kita sayangi dan cintai, guru bagi anak-anak dan keluarga kita, tambatan hati kita yang menjadi penyejuk hati di kala galau. Kini ia dihancurkan martabatnya oleh manusia setan dari kalangan tetangga kita yang selama ini menjadi saudara, sahabat, dan kepercayaan kita. Kini, tetangga ini berubah menjadi musuh dalam selimut, perusak dan pengkhianat!!!

Alangkah besarnya dosa si perusak rumah tangga ini. Lebih para lagi, bila si perusak ini adalah saudara kita, saudara yang memutuskan tali kekeluargaan kita.

Al-Imam Al-Hafizh Abu Abdillah Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah –rahimahullah– berkata,

ولا بائقه أعظم من الزناء بامرأته فالزناء بمائة امرأة لا زوج لها أيسر عند الله من الزناء بامرأة الجار فان كان الجار أخا له أو قريبا من أقاربه إنضم الى ذلك قطيعة الرحم فيتضاعف الاثم فان كان الجار غائبا في طاعة الله كالصلاة وطلب العلم والجهاد وتضاعف الاثم  ((الجواب الكافي – (1 / 78))

“Tidak ada kerusakan yang lebih besar dibandingkan berzina dengan istri tetangga. Berzina dengan 100 orang wanita yang tidak memiliki suami, lebih ringan di sisi Allah dibandingkan berzina dengan istri tetangga.

Jika tetangga itu adalah saudara seseorang atau seorang diantara kerabatnya, maka bergabung kepada dosa itu pemutusan tali silatur rahim. Karenanya, berlipat gandalah dosanya.

Jika tetangga itu pergi dalam rangka ketaatan kepada Allah, seperti sholat, mencari ilmu, dan berjihad, maka dosa si perusak itu dilipatgandakan.

Jika si istri adalah kerabat sang suami, maka bertambah lagi pemutusan tali silaturahimnya si wanita itu (dari suaminya)”. [Lihat Al-Jawab Al-Kafi  (5/217)]

Seorang tetangga memiliki kehormatan dan kemuliaan di dalam Islam. Tak boleh seorang muslim mengganggunya dengan ucapan, maupun perbuatan. Dilipatgandakannnya dosa bagi orang yang menyakiti dan mengganggu tetangga, demi menjaga kehormatan mereka dan kemuliaan mereka sehingga tidak hilang atau berkurang disebabkan ulah dan perbuatan buruk si tetangga sial.

Syaikh Athiyyah Salim Al-Mishriy –rahimahullah– berkata saat mengomentari hadits di atas,

فلماذا كانت السرقة من الجار أشد إثماً من السرقة من عشرة بيوت؟ وما الذي ضاعف الجرم في تلك الجريمة؟ إنها حرمة الجار. ((دروس للشيخ عطية سالم – (27 / 13))

“Nah, kenapa pencurian dari tetangga lebih besar dosanya dibandingkan mencuri dari 10 rumah lain. Apa yang menyebabkan berlipatgandanya dosa pada pelanggaran ini. Semua itu karena kehormatan tetangga”. [Lihat Duruus li Asy-Syaikh ‘Athiyyah Salim (27/13)-Syamilah]

“Menyakiti tetangga dengan pergaulan yang buruk atau mengorek-orek aib mereka, mencari-cari keburukan mereka, atau menyebarkan rahasia mereka, mengolok-olok mereka, atau mengganggu mereka dengan suara tinggi lagi mengagetkan, membuang sampah di depan mereka, atau berzina dengan istri mereka ataukah mencuri dari rumah mereka. Semua ini lebih besar dosanya dibandingkan dosa yang kita lakukan pada selain tetangga sebagaimana yang disabdakan oleh Nabi –Shallallahu alaihi wa sallam-“. [Lihat Darokaat An-Naar min Al-Kitab wa Shohih Al-Akhbaar (hal. 52), karya Abu Abdil Malik Hatim bin Asy-Syarbiniy Al-Atsariy]

Hendaknya seorang muslim dalam bertetangga dengan muslim lainnya, menjadikan tetangganya sebagai sebab imannya meningkat.

Ia tumbuhkan di dalam hatinya semangat dalam mencintai kebaikan bagi saudaranya. Ia senang melihat saudaranya berada dalam kebaikan, dan hatinya bergembira di saat ia melihat mereka berbahagia.

Jika ia melihat sebuah keburukan dan kekeliruan pada tetangganya, maka ia mencari jalan terbaik dalam memperbaikinya, bukan malah menjadikan keburukannya menjadi bahan gunjingan dan ghibah yang sedap di lidah, namun berbuah pahit di akhirat.

Seseorang ketika hidup bertetangga, harus mengingat bahwa tetanggaku bukanlah seorang nabi dan bukan pula malaikat yang tidak memiliki dosa dan kekurangan.

Sebagian orang terkadang menyangka dan berasumsi bahwa tetangganya harus selamanya baik. Kapan pun ia melihatnya buruk, maka ia kumpulkan keburukan-keburukannya, lalu ia jadikan hal itu sebagai alasan dalam berbuat buruk kepada tetangganya.

Orang seperti ini kadang tidak menyadari bahwa dirinya penuh dengan kekurangan. Ia mengira dirinya adalah manusia sempurna yang tidak memiliki aib dan kekurangan. Na’udzu billahi min dzalik.

Seorang yang berakal akan selalu berpikir positif kepada para tetangganya, dan selalu mengoreksi diri saat ia hidup bersama mereka, apalagi saat munculnya gesekan-gesekan hidup. Ia koreksi dirinya,

“Sudah baikkah pergaulan dan akhlakku kepada mereka?

Mereka benci kepadaku, bukankah aku sebab ia benci?

Saat aku membenci mereka, apakah tidak dosa?

Aku berbuat buruk kepadanya, kemanakah suatu saat aku meminta pertolongan?

Jadi, seorang tetangga yang berakal akan selalu mencari aib dirinya sendiri dan senantiasa berbaik sangka kepada tetangganya dan mencari udzur tetangga dan saudaranya.

Lain halnya, apabila tetangga kita terang-terangan melakukan kemaksiatan dan dosa-dosa serta berbangga dengannya, maka kita berulang kali berikan nasihat yang terbaik kepadanya. Jika nasihat itu tidak berguna, dan kemaksiatannya dapat mempengaruhi diri kita dan keluarga kita, maka kita batasi pergaulan dengannya, sambil tetap memikirkan jalan terbaik baginya agar ia bisa berubah baik seperti diri kita.

Para pembaca yang budiman, pertetanggaan, ibarat anugerah dan rezki dari Allah -Tabaroka wa Ta’ala-.

Karenanya, seorang muslim hendaknya meminta kepada Allah agar diberi tetangga yang baik dan dijauhkan dari tetangga yang buruk.

Abu Hurairah Ad-Dausiy  –radhiyallahu anhu– berkata,

كَانَ مِنْ دُعَاءِ رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ جَارِ السُّوءِ وَمِنْ زَوْجٍ تُشَيِّبُنِي قَبْلَ الْمَشِيبِ وَمِنْ وَلَدٍ يَكُونُ عَلَيَّ رِبًا وَمِنْ مَالٍ يَكُونُ عَلَيَّ عَذَابًا وَمِنْ خَلِيلٍ مَاكِرٍ عَيْنَهُ تَرَانِي وَقَلْبُهُ تَرْعَانِي إِنْ رَأَى حَسَنَةً دَفَنَهَا وَإِذَا رَأَى سَيِّئَةً أَذَاعَهَا

“Diantara doa Rasulullah –Shallallahu alaihi wa sallam-,

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ جَارِ السُّوءِ وَمِنْ زَوْجٍ تُشَيِّبُنِي قَبْلَ الْمَشِيبِ وَمِنْ وَلَدٍ يَكُونُ عَلَيَّ رِبًا وَمِنْ مَالٍ يَكُونُ عَلَيَّ عَذَابًا وَمِنْ خَلِيلٍ مَاكِرٍ عَيْنَهُ تَرَانِي وَقَلْبُهُ تَرْعَانِي إِنْ رَأَى حَسَنَةً دَفَنَهَا وَإِذَا رَأَى سَيِّئَةً أَذَاعَهَا

“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari tetangga yang buruk, dari istri yang membuatku beruban sebelum masa beruban, dari anak yang menjadi tuan bagiku, dari harta yang menjadi siksaan atasku dan dari kawan yang berbuat makar; matanya memandangiku, sedang hatinya mengawasiku. Jika ia melihat kebaikan, maka ia tanam (sembunyikan) dan jika melihat keburukan, maka ia menyebarkannya”. [HR. Hannad dalam Az-Zuhd (no. 1038) dan Ath-Thobroniy dalam Al-Mu’jam Al-Awsath (no. 1339). Hadits ini dinilai shohih oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Ash-Shohihah (no. 3137)]

Hadits ini merupakan lautan faedah yang memendam banyak mutiara hikmah yang dapat kita gali. Itulah lentera wahyu yang memancarkan cahaya melalui lisan Rasul dan manusia terbaik, Nabi Muhammad -Shallallahu alaihi wa sallam-.

Di dalam hadits ini Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- mengingatkan kita tentang lima golonganmakhluk yang harus diwaspadai, jangan sampai menjerumuskan kita ke dalam lembah kebinasaan.

Jika seseorang salah langkah dalam memilih dan mencari hal-hal tetangga –misalnya-, maka ia akan mendapatkan kesusahan hidup dan kesengsaraan di dunia dan boleh jadi di akhirat.

Tetangga yang buruk akan banyak menimbulkan masalah dan keburukan bagi saudaranya yang lain.

Tetangga buruk merupakan beban berat yang melebihi beratnya batu besar dan besi berat!!

Konon kabarnya, Luqman Al-Hakim –rahimahullah– pernah berpesan kepada anaknya,

يَا بُنَيَّ حَمَلْتُ الْجَنْدَلَ وَالْحَدِيدَ وَكُلَّ شَيْءٍ ثَقِيلٍ، فَلَمْ أَجِدْ شَيْئًا هُوَ أَثْقَلَ مِنْ جَارِ السَّوْءِ

“Wahai anakku, aku telah memikul  batu besar dan besi serta segala sesuatu yang berat. Namun aku tak pernah memikul sesuatu yang lebih berat dibandingkan tetangga yang buruk.”[Atsar Riwayat Ibnu Mubarok dalam Az-Zuhd (no. 991), Ahmad dalam Az-Zuhd (hlm. 105), Al-Marwaziy dalam Al-Birr wa Ash-Shilah (no. 225 & 261), Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushonnaf (no. 34296), Ibnu Abid-Dun-ya dalam Makarim Al-Aklahq (no. 351), dan Abu Bakr Al-Baihaqiy dalam Syu’abul Iman (no. 4891)]

Tetangga yang buruk merupakan musibah dunia, bahkan boleh jadi juga merupakan sebab kesengsaraan akhirat kita selaku tetangganya, sebagaimana halnya tetangga baik yang tidak pernah menyakiti dan mengganggu tetangganya merupakan sebab seorang hamba mendapatkan kebahagian dunia dan akhirat. Sebab, ia akan selalu menolong dan membimbing kita kepada kemaslahatan dunia dan akhirat kita.

Dari sahabat Sa’ad bin Abi Waqqosh –radhiyallahu anhu-, Rasulullah –Shallallahu alaihi wa sallam– bersabda,
أربعٌ مِنَ السعادةِ : المرأةُ الصالحةُ والمسكنُ الواسعُ والجارُ الصالِحُ والمركبُ الهِنِيْءُ، وأربعٌ من الشقاوةِ : الجارُ السوءُ والمرأةُ السوْءُ وَالْمَسْكَنُ الضَّيِّقُ وَالْمَرْكَبُ السُّوْء

“Ada empat diantara kebahagiaan : istri yang sholihah (baik), tempat tinggal yang luas, tetangga yang sholih (baik), dan kendaraan yang nyaman.

Ada empat kesengsaraantetangga yang buruk, istri yang buruk, rumah yang sempit, dan kendaraan yang buruk”.
[HR. Ibnu Hibban dalam Shohih-nya (no. 4032) dan Al-Khothib dalam Tarikh Baghdad (12/99). Sanad hadits ini dinyatakan shohih oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Ash-Shohihah (no. 282)]

أصل المادة من منشورات التوحيد التي قام بنشرها سابقا الأستاذ عبد القادر أبو فائزة –حفظه الله المولى-، إصدار : 5 مارس 2013 م

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Tulis komentar

Logged in as admin. Log out »




Tulisan lainnya

jannatul-firdaus.net @2022

Kisah Kayu Ajaib


| Menu

| MENU

Bagikan…

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram



Kisah Kayu Ajaib

  • HR.Bukhari

Abu Hurairah meriwayatkan dari Rasulullah bahwa Seorang laki- laki dari kalangan Bani Israil meminta kepada seseorang Bani Israil lainnya agar memberikan pinjaman kepadanya seribu dinar. 

Lalu si pemberi pinjaman berkata, “Datangkanlah para saksi. Saya meminta mereka untuk bersaksi.” 

Lantas orang yang meminta pinjaman berkata, “Cukuplah Allah yang menjadi saksi.” 

Pemberi pinjaman menambahkan, “Datangkanlah seorang penjamin.” Dia menjawab, “Cukuplah Allah sebagai penjamin.” 

Pemberi pinjaman berkata, “Engkau benar.” 

Kemudian dia menyerahkan piutang tersebut kepadanya sampai waktu yang ditentukan. Selanjutnya si peminjam pergi mengarungi lautan untuk memenuhi kebutuhannya. 

Setelah itu, dia mencari perahu yang akan digunakan untuk mendatangi pemberi pinjaman sesuai waktu yang telah ditetapkan. Ternyata dia tidak menemukan perahu. 

Lantas dia mengambil kayu dan melubanginya, lalu dia memasukkan seribu dinar di dalamnya dan selembar kertas untuk temannya (si pemberi pinjaman). Kemudian dia menutupnya kembali. 

Selanjutnya dia membawa kayu tersebut ke laut. Dia berkata, “Ya Allah! Sungguh, Engkau mengetahui bahwa saya meminjam seribu dinar kepada si fulan, lalu dia meminta penjamin kepadaku dan saya berkata, ‘Cukuplah Allah sebagai penjamin. Dia pun ridha karena Engkau. Dia juga meminta saksi, lalu saya berkata, “Cukuplah Allah menjadi saksi: Dia pun ridha karena Engkau. Sesungguhnya saya telah bersusah payah untuk menemukan kendaraan untuk mengantarkan utangku kepada pemiliknya, ternyata saya tidak menemukan. Sungguh, saya menitipkan kayu ini kepada-Mu.” 

Lantas dia melemparkannya ke laut sempai masuk ke dalam laut kemudian bergerak. 

Di samping itu dia masih saja mencari kendaraan untuk menuju ke daerahnya. Di lain pihak, si pemberi pinjaman menanti-nanti barangkali kendaraan yang membawa piutangnya telah datang. 

Ternyata ada kayu yang mengapung di dekatnya. Lalu dia mengambil kayu tersebut untuk dijadikan sebagai kayu bakar buat keluarganya.

Ketika dia membelah kayu tersebut, dia menemukan uang dan selembar kertas. 

Kemudian orang yang meminjam tadi datang dengan membawa uang seribu dinar, lalu dia berkata, ‘Demi Allah, sebelum ini aku tidak mendapatkan kapal yang dapat mengantarkan aku untuk membayar hutangmu.” 

Lalu si pemberi hutang berkata, “Apakah engkau telah mengirim sesuatu untukku?” 

Dia berkata, “Aku sudah kabarkan bahwa aku tidak mendapatkan kapal untuk mengantarkan aku kepadamu.” 

Maka orang itu berkata, “Sesungguhnya Allah telah mengirimkan uang tersebut yang terdapat di dalam kayu yang engkau kirim. Bawalah kembali uangmu yang seribu dinar tersebut.”

Artboard 2
Artboard 3
Artboard 4
Artboard 5
Artboard 6
Artboard 7
Artboard 8
Artboard 9

Sebelumnya
Selanjutnya

  • gambar: #anakJF

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Tulis komentar

Logged in as admin. Log out »




Tulisan lainnya

jannatul-firdaus.net @2021

Ulasan Ringkas tentang Hukum Mengadu Hewan


| Menu

| MENU

Bagikan…

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram



Ulasan Ringkas tentang Hukum Mengadu Hewan

  • Oleh: Ust. Abdul Qodir Abu Fa’izah, Lc.
  • [Pembina Ponpes Al-Ihsan Gowa]

Menyabung dan mengadu ayam adalah salah satu kebiasaan sebagian orang. Mereka mengadu antara ayam jantan dengan ayam jantan lainnya.

Terkadang ada juga orang yang mengadu ayam betina dengan ayam betina.

Di sebagian tempat, ada yang senang mengadu jangkrik. Masih banyak lagi macam dan jenis penyabungan dan pengaduan binatang. Parahnya lagi, ada yang menjadikannya ajang perjudian!!

Mungkin ada orang yang bertanya“Apa hukumnya mengadu binatang, semisal ayam dan lainnya?”

Bila ada yang bertanya demikian, maka jawabannya bahwa mengadu binatang adalah perbuatan terlarang di dalam syariat kita.

Karena, di dalamnya terdapat kezhaliman terhadap binatang. Mereka tersakiti, bahkan terbunuh dengan perbuatan tersebut.

Di dalam sebuah atsarMujahid bin Jabr Al-Makkiy –rahimahullah– berkata,

أنه كره أن يحرش بين البهائم

“Beliau (sahabat Abdullah bin Umar -radhiyallahu anhu-) benci bila diantara binatang-binatang diadu”. [HR. Al-Bukhoriy dalam Al-Adab Al-Mufrod (no. 1232). Atsar ini di-hasan-kan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Shohih Al-Adab Al-Mufrod (hal. 453), cet. Dar Ash-Shiddiq, tahun 1419 H]

Al-Imam Al-Husain bin Al-Hasan Al-Halimiy Al-Jurjaniy –rahimahullah– berkata,

“وَيَحْرُمُ التَّحْرِيشُ بَيْنَ الْكِلَابِ وَالدُّيُوكِ لِمَا فِيهِ مِنْ إيلَامِ الْحَيَوَانِ بِلَا فَائِدَةٍ.” اهـ من أسنى المطالب في شرح روض الطالب (4/ 344)

“Haram mengadu antara anjing-anjing, dan ayam-ayam, karena di dalamnya terdapat penyakitan hewan, tanpa faedah”. [Lihat Asnaa Al-Matholib (4/344) oleh Zakariyya bin Muhammad Al-Anshoriy, cet. Dar Al-Kitab Al-Islamiy]

Al-Imam Sulaiman bin Muhammad Al-Bujairomiy –rahimahullah- berkata,

“وَيَحْرُمُ تَرْقِيصُ الْقُرُودِ وَالتَّفَرُّجُ عَلَيْهِمْ أَيْضًا وَيَلْحَقُ بِذَلِكَ مَا فِي مَعْنَاهُ مِنْ مُنَاطَحَةِ الْكِبَاشِ وَمُهَارَشَةِ الدِّيَكَة.” اهـ من حاشية البجيرمي على الخطيب = تحفة الحبيب على شرح الخطيب (4/ 434)

“Haram memerintahkan monyet-monyet untuk berjoget memberi hiburan bagi mereka (manusia). Digolongkan dalam hal itu, sesuatu yang semakna dengannya berupa upaya saling menandukkan kambing-kambing, dan mengadu ayam.” [Lihat Tuhfah Al-Habib ala Syarh Al-Khothib (4/434), cet. Dar Al-Fikr, 1415 H]

Menyakiti binatang saat diadu dengan binatang lainnya adalah perkara yang diharamkan di dalam agama kita, selama binatang itu tidak mengganggu dan tidak membahayakan kita, semisal kambing, sapi, ayam, kucing atau anjing.

Adapun bila membahayakan kita atau syariat memerintahkan untuk membunuhnya, maka boleh kita bunuh, semisal ular, kalajengking, anjing gila, tikus dan lainnya.

Jangankan menyakiti dan membunuh hewan, membuat saja mereka lapar dan capek adalah perkara terlarang!!

Lihatlah, ketika ada seekor onta yang mengadu kepada Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam-, maka bersabda kepada pemiliknya

أَفَلَا تَتَّقِى اللهَ فِيْ هَذِهِ الْبَهِيْمَةِ الَّتِى مَلَكَ اللهُ إِيَّاهَا

“Tidakkah engkau bertakwa kepada Allah dalam binatang ini, yang telah dijadikan sebagai milikmu oleh Allah, sebab ia (binatang ini) telah mengadu kepadaku bahwa engkau telah membuatnya letih dan lapar”. [HR. Abu Dawud dalam As-Sunan (1/400), Al-Hakim dalam Al-Mustadrak (2/99-100), Ahmad dalam Al-Musnad (1/204-205), Abu Ya’la dalam Al-Musnad (3/8/1), Al-Baihaqiy dalam Ad-Dala’il (6/26), dan Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimasyqa (9/28/1). Lihat Ash-Shahihah (20)]

Menyakiti perasaan binatang adalah terlarang sebagaimana halnya menyakiti jasad binatang. Inilah bukti keindahan dan kasih sayang Islam.

Abdullah bin Mas’ud -radhiyallahu ‘anhu- berkata, “Dulu kami bersama Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wasallam- di dalam suatu safar. Kemudian beliau pergi untuk suatu hajat. Kami pun melihat dua ekor burung bersama dua ekor anaknya. Kemudian kami ambil dua ekor anaknya tersebut. Setelah itu datanglah Nabi seraya bersabda,

مَنْ فَجَعَ هَذِهِ بِوَلَدِهَا ؟ رُدُّوْا وَلَدَهَا إِلَيْهَا

“Siapakah yang mengagetkan burung ini dengan (mengambil) anaknya? Kembalikan anaknya kepadanya”. [HR. Al-Bukhary dalam Al-Adab Al- Mufrad (382) dan Abu Dawud dalam As-Sunan (2/146). Lihat Ash-Shahihah (25)]

Sebagian manusia tidak menyayangi binatang, sehingga hewan, mereka tendang bagaikan bola, disiram  air panas seperti tembok, dikencingi seperti toilet, dibuang layaknya sampah.

Padahal perbuatan ini tercela, karena menyelisihi adab-adab dalam Islam yang mulia, dimana Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- memerintahkan umatnya untuk menyayangi hewan-hewan.

Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda,

وَالشَّاةُ إنْ رَحِمْتَهَا رَحِمَكَ اللهُ

“Sesungguhnya kambing, apabila engkau sayangi, maka Allah Akan menyayangimu.’ [HR. Al-Bukhary dalam Al-Adab Al-Mufrad (373), Ath-Thabraniy dalam Al-Mu’jam Ash-Shagier (hal. 6) dan selainnya. Lihat Shahih Al-Adab (hal. 132)]

Al-Imam Abdur Ra’uf Al-Munawiy –rahimahullah– berkata,

“ولهذا ورد النهي عن ذبح حيوان بحضرة آخر.” اهـ من فيض القدير (6/ 360)

“Oleh karena ini, telah datang larangan dari menyembelih hewan di depan hewan lainnya”. [Lihat Faidhul Qodir (6/466)]

Bahkan seekor binatang yang lebih rendah dan kecil dibandingkan dengan kambing, seperti burung pipit pun harus disayangi demi meraih rahmat Allah.

Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda,

مَنْ رَحِمَ وَلَوْ ذَبِيْحَةَ عُصْفُوْرٍ رَحِمَهُ اللهًُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Barang siapa yang menyayangi, walaupun berupa sembelihan burung pipit, maka Allah akan menyayangi orang itu di hari kiamat”. [HR. Al-Bukhariy dalam Al-Adab Al-Mufrad (371), Tamam Ar-Raziy dalam Al-Fawaid (2/194/1), dan Al-Baihaqiy dalam Asy-Syu’ab (3/3/145/1). Lihat Ash-Shahihah (27)]

Semua hadits-hadits dan atsar yang kami bawakan menunjukkan bahwa menyayangi binatang adalah perkara yang diperintahkan dalam Islam dan bahwa menzhalimi binatang (seperti, mengadunya atau membunuh dan lainnya) adalah perkara yang terlarang.

Bahkan terkadang menzhalimi binatang menjadi sebab seseorang masuk neraka.

Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda,

عُذِّبَتْ امْرَأَةٌ فِي هِرَّةٍ سَجَنَتْهَا حَتَّى مَاتَتْ فَدَخَلَتْ فِيهَا النَّارَ لَا هِيَ أَطْعَمَتْهَا وَلَا سَقَتْهَا إِذْ حَبَسَتْهَا وَلَا هِيَ تَرَكَتْهَا تَأْكُلُ مِنْ خَشَاشِ الْأَرْضِ

“Ada seorang wanita yang akan disiksa (di neraka) gara-gara kucing yang ia kurung sampai mati. Karenanya, ia masuk neraka gara-gara kucing itu. Wanita itu tidak memberinya makan dan minum saat ia mengurungnya, serta tidak pula ia lepaskan untuk memakan serangga-serangga bumi”. [HR. Al-Bukhoriy dalam Kitab Ahaadits Al-Anbiyaa’ (no. 3482) dan Muslim dalam Kitab As-Salam (no. 151)]

Al-Imam Abu Zakariyya Yahya bin Syarof An-Nawawiy berkata saat mengomentari hadits ini,

“وَفِي الْحَدِيثِ دَلِيلٌ لِتَحْرِيمِ قَتْلِ الْهِرَّةِ وَتَحْرِيمِ حَبْسِهَا بِغَيْرِ طَعَامٍ أَوْ شَرَابٍ…وَهَذِهِ الْمَعْصِيَةُ لَيْسَتْ صَغِيرَةً بَلْ صَارَتْ بِإِصْرَارِهَا كَبِيرَةً.” اهـ من شرح النووي على مسلم (14/ 459_460)

“Di dalam hadits ini terdapat dalil tentang pengharaman membunuh kucing dan pengharaman mengurungnya, tanpa diberi makan dan minum…Maksiat ini bukanlah kecil, bahkan ia berubah menjadi besar dengan sebab dilakukan terus-menerus”. [Lihat Al-Minhaj (14/459-460), cet. Darul Ma’rifah, 1420 H]

Para pembaca yang budiman, bila mengadu hewan saja itu terlarang, maka tentunya mengadu manusia lebih terlarang lagi. Apalagi mengadu antara muslim dengan muslim yang lainnya!!

Inilah yang menyebabkan datangnya adzab (siksa) bagi seorang muslim di alam kubur.

Ibnu Abbas -radhiyallahu ‘anhu- berkata,

أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَرَّ بِقَبْرَيْنِ فَقَالَ: إِنَّهُمَا يُعّذَّبَانِ وَمَا يَعَذَّبَانِ فِيْ كَبِيْرٍ, بَلَى إِنَّهُ كَبِيْرٌ أَمَّا أَحَدُهُمَا فَكَانَ يَمْشِيْ بِالنَّمِيْمَةِ, وَأَمَّا الآخَرُ فَكَانَ لَا يَسْتَتِرُ مِنْ بَوْلِهِ

“Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- pernah melewati dua kubur seraya bersabda, “Sesungguhnya kedua (penghuni)nya disiksa, sedang ia tak disiksa karena perkara besar (menurut sangkaanya, pen). Bahkan itu (sebenarnya) adalah perkara besar. Adapun salah satu diantaranya, ia melakukan adu domba. Adapun yang kedua, ia tidak berlindung dari (percikan) kencingnya”.”.[HR. Al-Bukhoriy dalam Shohih-nya (216), dan Muslim dalam Shohih-nya (111)]

Perhatikan bagaimana Allah menyiksa dua orang dalam kuburnya, akibat “perkara yang dianggap sepele” oleh sebagian orang pada hari ini, yaitu kencing sembarangan, dan adu domba (gosip yang merusak hubungan dua pihak).

Dia telah mengadu saudaranya ketika di dunia, bagaikan ia mengadu dua ekor domba.

Padahal domba sendiri bila diadu dengan saudaranya, maka si pengadu akan mendapatkan siksa. Bagaimana lagi bila mengadu antara dua orang muslim.

Perkara ini kami singgung, sebab di zaman kita ini banyak musang berbulu domba yang suka membawa gosip-gosip yang menanam benih perselisihan dan permusuhan di kalangan kaum muslimin sampai akhirnya terjadilah kerusakan diantara kaum muslimin.

Orang-orang seperti ini sering menyamar dan mengaku sebagai teman dan penasihat di saat terjadinya perselisihan di antara dua kubu.

Tapi sebenarnya ia adalah musuh dalam selimut yang berwajah dua, bahkan berwajah seribu!!!

Hari ini lain, besok lagi lain. Bila bertemu dengan si Zaid, maka ia adalah temannya. Namun bila bertemu dengan lawan Zaid, maka ia adalah lawan bagi si Zaid dan teman bagi lawan si Zaid.

Alangkah sialnya orang-orang yang bermuka dua seperti ini; dia telah menjalankan misi setan dalam memecah belah kaum muslimin.

Dia telah memecah belah diantara dua muslim yang bersaudara!!

Perhatikanlah, saat iman para sahabat sudah kokoh, setan sudah berputus asa dalam menggoda dan menggelincirkan mereka.

Hanya saja setan tinggal memiliki sebuah senjata ampuh dalam merusak mereka, yaitu senjata adu domba.

Karenanya. Nabi –Shallallahu alaihi wa sallam– bersabda dalam mengingatkan hal itu,

إِنَّ الشَّيْطَانَ قَدْ أَيِسَ أَنْ يَعْبُدَهُ الْمُصَلُّونَ فِي جَزِيرَةِ الْعَرَبِ وَلَكِنْ فِي التَّحْرِيشِ بَيْنَهُمْ

“Sesungguhnya setan telah berputus asa dari penyembahan orang-orang sholat (kaum muslimin) kepadanya (yakni, kepada setan) di Jazirah Arab. Akan tetapi (setan tetap berusaha) dalam mengadu domba diantara mereka”. [HR. Muslim dalam Kitab Sifah Al-Munafiqin (no. 7034-65/1)]

Ulama Negeri India, Al-Imam Al-Mubarokfuriy –rahimahullah– berkata,

قَالَ النَّوَوِيُّ هَذَا الْحَدِيثُ مِنَ الْمُعْجِزَاتِ النَّبَوِيَّةِ وَمَعْنَاهُ آيِسَ أَنْ يَعْبُدَهُ أَهْلُ جَزِيرَةِ الْعَرَبِ، وَلَكِنَّهُ يَسْعَى فِي التَّحْرِيشِ بَيْنَهُمْ بِالْخُصُومَاتِ وَالشَّحْنَاءِ وَالْحُرُوبِ وَالْفِتَنِ وَنَحْوِهَا انْتَهَى.” تحفة الأحوذي (6/ 165)

“An-Nawawiy berkata, “Hadits ini termasuk mukjizat kenabian. Makna hadits ini, setan putus asa dari penyembahan mereka kepadanya (yakni, kepada setan) di Jazirah Arab. Akan tetapi (setan tetap berusaha) dalam mengadu domba diantara mereka dengan permusuhan, kebencian, perang, fitnah (masalah) dan sejenisnya”. [Lihat Tuhfah Al-Ahwadziy (5/165)]

Ini semua menjelaskan kepada kita bahwa orang-orang yang bermuka dua alias musang berbulu domba.

Mereka adalah pengemban misi setan dalam merusak kaum muslimin.

Dia adalah setan manusia yang bertugas seperti setan jin yang berusaha merusak kehidupan dan kondisi kaum muslimin.

Manusia sial seperti ini banyak bertebaran di permukaan bumi. Mereka merusak hubungan antara rakyat dengan pemerintahnya, antara suami dengan istrinya, antara punggawa dan anak buahnya, antara guru dengan muridnya, antara guru dengan guru, antara anak dengan orang tuanya.

Parahnya lagi, bila hal ini dilakoni oleh orang-orang yang merasa dirinya sebagai juru nasihat dan pejuang Islam.

Tak ada permusuhan, perselisihan dan fitnah yang terjadi, kecuali akan muncul orang-orang yang suka mengadu saudaranya sebagaimana ia mengadu ayam dengan ayam.

Padahal ayam pun sebenarnya tak boleh kita adu antara satu dengan yang lainnya, sebagaimana yang telah kami utarakan sebelumnya.

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Tulis komentar

Logged in as admin. Log out »




Tulisan lainnya

jannatul-firdaus.net @2022

MENDAHULUKAN BERBAKTI KEPADA IBU


| Menu

| MENU

Bagikan…

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram



MENDAHULUKAN BERBAKTI KEPADA IBU

  • Oleh : Abu Amatillah Anshari

عَنْ بَهْزِ بْنِ حَكِيمٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ، قَالَ: قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، مَنْ أبَرُّ؟ قَالَ: أُمُّكَ. قُلْتُ: ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ: أُمُّكَ. قُلْتُ: ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ: أُمُّكَ. قُلْتُ: ثُمَّ مَن؟ قَالَ: أبَاكَ، ثُمَّ الْأقرَبُ فَالْأقْرَبَ.

Artinya:
“Dari Bahz bin Hakim, dari ayahnya, dari kakeknya: “Aku bertanya kepada Rasulullah, ‘Wahai Rasulullah, Kepada siapa aku berbakti?’ Beliau bersabda: ‘Ibumu.’ Aku bertanya lagi, ‘Kemudian siapa?’ Beliau menjawab: ‘Ibumu.’ Aku bertanya lagi, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau bersabda: ‘Ibumu.’ Aku bertanya lagi, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau bersabda: ‘Ayahmu.’ Kemudian orang yang terdekat, kemudian orang yang terdekat.” (Hadits hasan diriwyatkan oleh Al-Bukhariy dalam al-Adabul Mufrad).

Faedah Hadits:

1. Kewajiban berbakti kepada kedua orang tua dan haramnya durhaka kepada mereka.

2. Ridha ibu lebih didahulukan dari ridha ayah.

3. Alasan mendahulukan Ibu dalam berbakti karena ia telah menjalani berbagai kesulitan ketika hamil, melahirkan dan menyusui.

3. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengulangi penyebutan ibu sebanyak tiga kali, kemudian ayah, kemudian kerabat terdekat.

4. Wasiat (untuk menjaga) ibu, karena lemah dan butuhnya dia.

5. Perintah untuk berbakti kepada sanak saudara sesuai dengan urutan keberatan mereka.

Diringkas dari:
– Kitab Rasysyul Barad Syarah Al-Adabul Mufrad Oleh Syeikh Muhammad Luqman As-Salafi rahimahullah.
– Syarah Al-Adabul Mufrad Oleh Syeikh Muhammad bin Sa’id Ruslan hafizhahullah.

18 Dzulqa’dah 1442H/29Juni 2021M.

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Tulis komentar

Logged in as admin. Log out »




Tulisan lainnya

jannatul-firdaus.net @2018