Lahirnya Penjagaan dari Allah Berkat Kesholihan Seorang Hamba


| Menu

| MENU

Bagikan…

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram



Lahirnya Penjagaan dari Allah Berkat Kesholihan Seorang Hamba

  • Oleh: Ust. Abdul Qodir Abu Fa’izah, Lc. hafizhahullah

Disana ada sebuah ungkapan yang terkenal, “Siapa Menanam, dia yang menuai”Maksudnya, siapa yang mengusahakan sesuatu, maka ia yang merasakan hasilnya. Jika yang ditanam adalah sesuatu yang baik dan bermanfaat, maka ia akan merasakan kebaikan dan manfaatnya. Namun jika ia menanam sesuatu yang buruk, maka tiada sesuatu yang ia petik, melainkan keburukan pula.

Allah -Azza wa Jalla- berfirman,

إِنْ أَحْسَنْتُمْ أَحْسَنْتُمْ لأَنْفُسِكُمْ وَإِنْ أَسَأْتُمْ فَلَهَا [الإسراء : 7]

“Jika kalian berbuat baik, (berarti) kamu berbuat baik bagi diri kalian sendiri dan jika kamu berbuat buruk, maka (keburukan) itu bagi diri kalian sendiri.” (QS. Al-Israa’ : 7)

Di dalam ayat ini, Allah -Tabaroka wa Ta’ala- menetapkan bahwa setiap pelaku kebaikan akan dibalas dengan kebaikan yang ia lakukan. Adapun jika seorang manusia berbuat buruk dan kejahatan, maka semua itu akan menimpa dirinya sendiri, sadar atau tidak sadar!!

Al-Imam Muhammad Al-Amin bin Muhammad Al-Mukhtar Al-Janakiy Asy-Syinqithiy –rahimahullah– berkata,

بَيَّنَ جَلَّ وَعَلَا فِي هَذِهِ الْآيَةِ الْكَرِيمَةِ : أَنَّ مَنْ أَحْسَنَ – أَيْ بِالْإِيمَانِ وَالطَّاعَةِ – فَإِنَّهُ إِنَّمَا يُحْسِنُ إِلَى نَفْسِهِ ; لِأَنَّ نَفْعَ ذَلِكَ لِنَفْسِهِ خَاصَّةً . وَأَنَّ مَنْ أَسَاءَ – أَيْ بِالْكُفْرِ وَالْمَعَاصِي – فَإِنَّهُ إِنَّمَا يُسِيءُ عَلَى نَفْسِهِ . لِأَنَّ ضَرَرَ ذَلِكَ عَائِدٌ إِلَى نَفْسِهِ خَاصَّةً .

“Allah –Jalla wa Alaa- menerangkan di dalam ayat yang mulia ini bahwa barangsiapa yang berbuat baik dengan keimanan dan ketaatan, maka sesungguhnya ia hanyalah berbuat baik kepada dirinya sendiri. Karena, manfaat hal itu adalah untuk dirinya secara khusus, dan bahwasanya barangsiapa yang berbuat keburukan dengan (melakukan) kekafiran dan maksiat-maksiat, maka sesungguhnya ia hanyalah berbuat buruk bagi dirinya sendiri. Karena, madhorot (akibat negatif) dari hal itu akan kembali kepada dirinya sendiri.” [Lihat Adhwa’ Al-Bayan fi Idhoh Al-Qur’an bil Qur’an (3/14) oleh Asy-Syinqithiy, cet. Darul Fikr, 1415 H]

Disinilah pentingnya seorang hamba menghiasi dirinya dengan amal sholih yang akan menjadi bekal baginya menghadap Allah –Tabaroka wa Ta’ala-. Dengan amal sholih dan ketaatan, seorang hamba menjadi baik.

Allah -Subhanahu wa Ta’ala- berfirman,

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا فَلِنَفْسِهِ وَمَنْ أَسَاءَ فَعَلَيْهَا وَمَا رَبُّكَ بِظَلاَّمٍ لِلْعَبِيدِ  [فصلت : 46]

“Barangsiapa yang mengerjakan amal yang saleh Maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri dan barangsiapa mengerjakan perbuatan buruk, maka (dosanya) untuk dirinya sendiri; dan sekali-kali tidaklah Rabb-mu menganiaya hamba-hambaNya.” (QS. Fushshilat : 46)

Al-Imam Muhammad bin Jarir Ath-Thobariy –rahimahullah– berkata,

من عمل بطاعة الله في هذه الدنيا، فائتمر لأمره، وانتهى عما نهاه عنه( فَلِنَفْسِهِ ) يقول: فلنفسه عمل ذلك الصالح من العمل، لأنه يجازى عليه جزاءه، فيستوجب في المعاد من الله الجنة، والنجاة من النار.( وَمَنْ أَسَاءَ فَعَلَيْهَا ) يقول: ومن عمل بمعاصي الله فيها، فعلى نفسه جنى، لأنه أكسبها بذلك سخط الله، والعقاب الأليم

“Barangsiapa yang melakukan ketaatan kepada Allah di dunia ini, lalu ia pun merealisasikan perintah-Nya, dan berhenti dari sesuatu yang Allah larang darinya, maka hal itu untuk dirinya sendiri. Untuk dirinya, ia melakukan amal sholih. Karena, ia akan diberi balasan amal sholihnya.

Amal sholih ini menuntut adanya surga dari Allah di akhirat serta keselamatan dari neraka.

Barangsiapa mengerjakan perbuatan buruk, maka (dosanya) untuk dirinya sendiri. Barangsiapa yang melakukan maksiat-maksiat kepada Allah padanya, maka ia akan memetik (keburukan) untuk dirinya sendiri. Karena, ia telah mengusahakan kemurkaan Allah dan hukuman yang pedih untuk dirinya.” [Lihat Jami’ Al-Bayan fi Ta’wil Ayil Qur’an (21/487)]

Buah manis kesholihan seorang hamba, bukan hanya akan ia rasakan saat di akhirat. Bahkan jauh sebelumnya saat ia di dunia, maka kesholihan (kebaikan)nya akan ia nikmati manisnya saat di dunia.

Seorang ulama tabi’in yang bernama Muhammad bin Al-Munkadir Al-Qurosyiy At-Taimiy (wft 130 H) –rahimahullah– berkata,

إِنَّ اللهَ تَعَالَى يَحْفَظُ الْعَبْدَ الْمُؤْمِنَ فِيْ وَلَدِهِ وَوَلَدِ وَلَدِهِ، وَيْحْفَظُهُ فِيْ دُوَيْرَتِهِ وَفِيْ دُوَيْرَاتٍ حَوْلَهُ فَمَا يَزَالُوْنَ فِيْ حِفْظٍ وَعَافِيَةٍ مَا كَانَ بَيْنَ ظَهْرَانَيْهِمْ

“Sesungguhnya Allah -Ta’ala- akan menjaga seorang hamba mukmin dalam hal anaknya, dan cucunya; Allah akan menjaganya dalam hal kampungnya dan kampung-kampung yang ada di sekitarnya. Mereka senantiasa berada dalam penjagaan dan keselamatan selama ia (hamba yang mukmin) berada di tengah mereka”. [Atsar Riwayat Abu Nu’aim dalam Hilyah Al-Auliya’ (3/148)]

Perhatikanlah buah manis dari kesholihan seorang hamba, dimana Allah -Tabaroka wa Ta’ala- memberikan penjagaan diri, keluarga, dan harta bendanya, bahkan kampung tempat ia tinggal pun mendapatkan penjagaan dari sisi Allah. Semua itu lahir dari kesholihan seorang hamba.

Di dalam Al-Qur’an Al-Karim, tentang kisah pertemuan Nabi Musa dan Nabi Khodhir –alaihimash sholatu was salam-, Allah mengabarkan kepada kita bahwa disana ada seorang hamba yang sholih telah wafat dengan meninggalkan anak-anak dan harta benda yang terpendam di bawah sebuah dinding yang hampir roboh. Sepeninggalnya, anak-anak dan harta bendanya dijaga oleh Allah dari tangan-tangan jahil.

Allah –Tabaroka wa Ta’ala– berfirman dalam menceritakan kisah itu dalam jawaban Nabi Khodhir kepada Nabi Musa –alaihimash sholatu was salam-,

وَأَمَّا الْجِدَارُ فَكَانَ لِغُلَامَيْنِ يَتِيمَيْنِ فِي الْمَدِينَةِ وَكَانَ تَحْتَهُ كَنْزٌ لَهُمَا وَكَانَ أَبُوهُمَا صَالِحًا فَأَرَادَ رَبُّكَ أَنْ يَبْلُغَا أَشُدَّهُمَا وَيَسْتَخْرِجَا كَنْزَهُمَا رَحْمَةً مِنْ رَبِّك [الكهف : 82]

“Adapun dinding rumah adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang ayahnya adalah seorang yang shalih. Maka Tuhanmu menghendaki agar mereka sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanannya itu, sebagai rahmat dari Tuhanmu”. (QS. Al-Kahfi : 82)

وهذا يدل على أنَّ صلاح الإنسان يفيد العناية بأحوال أبنائه

Abu Hafsh Umar Ibnu Adil Al-Hambaliy –rahimahullah– berkata dalam menerangkan ayat ini,

“Ini menunjukkan bahwa kesholihan seorang manusia memberikan faedah (lahirnya) perhatian (penjagaan) bagi kondisi anak keturunannya.” [Lihat Al-Lubab fi ‘Ulum Al-Kitab (1/3455)]

Kesholihan seorang manusia tentunya kembali kepada kesholihan (kebaikan) amal dan imannya yang dibangun di atas ilmu yang bersumber dari wahyu (Al-Qur’an dan Sunnah). Sedang suatu amal ketaatan dan ibadah tidak akan sholih, kecuali terpenuhi padanya dua hal : KEIKHLASAN dan ITTIBA’ (mengikuti sunnah Nabi –Shallallahu alaihi wa sallam-). Inilah amal ibadah dan ketaatan yang menumbuhkan keberkahan pada diri seorang hamba.

Al-Imam Al-Hafizh Ibnu Katsir Ad-Dimasyqiy –rahimahullah– berkata mengomentari ayat ini,

فيه دليل على أن الرجل الصالح يحفظ في ذريته، وتشمل بركة_عبادته لهم في الدنيا والآخرة، بشفاعته فيهم ورفع درجتهم إلى أعلى درجة في الجنة لتقر عينه بهم، كما جاء في القرآن ووردت السنة به

“Di dalamnya terdapat terdapat dalil bahwa orang yang sholih diberi penjagaan pada anak keturunannya; berkah ibadahnya akan meliputi mereka di dunia, dan di akhirat berkat syafatnya bagi mereka, terangkatnya derajat mereka kepada derajat tertinggi di dalam surga, agar matanya sejuk dengan (melihat) mereka, sebagaimana yang datang di dalam Al-Qur’an dan sunnah.” [Lihat Tafsir Ibni Katsir (5-186-187), cet. Dar Thoibah]

Kesholihan dan ketaqwaan dan sang ayah menyebabkan kedua anaknya diberi penjagaan dari Allah –Tabaroka wa Ta’ala-. Disebutkan oleh sebagian ahli tafsir bahwa sang ayah dikenal dengan sifat amanahnya. Abu Ja’far Ath-Thobariy menjelaskan si ayah yang sholih adalah seorang penenun kain. [Lihat Al-Kasyf wa Al-Bayan (6/188) oleh Ats-Tsa’labiy, Jami’ Al-Bayan (18/89), dan Zadul Masir (5/182) oleh Ibnul Jauziy]

Di dalam ayat ini dan sebelumnya, diceritakan bahwa Nabi Khodhir menguatkan dan menegakkan dinding itu agar harta warisan dua anak yatim yang ada di bawahnya tidak diambil oleh manusia, sebagai bentuk penjagaan bagi harta warisan milik anak orang sholih itu.

Jika harta dan anak orang sholih itu saja dijaga, maka pasti orang sholih itu juga mendapatkan penjagaan.

Rasulullah –Shallallahu alaihi wa sallam– bersabda,

احْفَظِ اللَّهَ يَحْفَظْكَ ، احْفَظِ اللَّهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ

“Jagalah Allah, niscaya Dia akan menjagamu. Jagalah Allah, niscaya kamu akan mendapati-Nya di depanmu.” [HR. At-Tirmidziy dalam Sunan-nya (2516). Hadits ini dinilai shohih oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Zhilal Al-Jannah (316-318)]

Orang yang menjaga Allah adalah orang yang melaksanakan perintah-perintah Allah, dan menjauhi larangan-larangan Allah. Dia tidak melampaui batasan-batasan dalam agama Allah, sehingga ia tidak melanggar perintah Allah, dan tidak pula melakukan hal-hal yang dilarang oleh Allah.

Siapa yang melakukan hal-hal ini, maka ia termasuk orang-orang yang menjaga batasan-batasan Allah yang dipuji oleh-Nya di dalam Kitab-Nya.

Al-Imam Al-Hafizh Ibnu Rajab Al-Hambaliy –rahimahullah– berkata,

وحفظ الله لعبده يدخل فيه نوعان :

أحدهما : حفظه له في مصالح دنياه ، كحفظه في بدنه وولده وأهله وماله ،

وقد يحفظُ الله العبدَ بصلاحه بعدَ موته في ذريَّته

النوع الثاني من الحفظ ، وهو أشرف النوعين : حفظُ الله للعبد في دينه وإيمانه ، فيحفظه في حياته من الشبهات المُضِلَّة ، ومن الشهوات المحرَّمة ، ويحفظ عليه دينَه عندَ موته ، فيتوفَّاه على الإيمان

“Penjagaan Allah terhadap hamba-Nya, masuk di dalamnya dua jenis. Pertama, Allah menjaganya dalam hal kemaslahatan dan kepentingan dunianya, seperti menjaga badannya, anaknya, keluarganya dan harta bendanya. Terkadang Allah menjaga seorang hamba berkat kesholihannya sepeninggalnya dalam hal anak keturunannya.

Kedua, diantara bentuk penjagaan –sedang ia adalah jenis penjagaan termulia-, yaitu penjagaan Allah terhadap hamba dalam urusan agama dan keimanannya. Lantaran itu, Allah menjaganya di masa hidupnya dari syubhat-syubhat yang menyesatkan dan syahwat-syahwat yang diharamkan. Allah menjaga agamanya saat ia mati, sehingga Allah pun mewafatkannya di atas iman.” [Lihat Jami’ Al-Ulum wa Al-Hikam (186-187), karya Ibnu Rajab, cet. Darul Ma’rifah, 1408 H]

Seorang yang sholih akan dijaga oleh Allah dari segala bahaya, termasuk gangguan binatang buas. Disana ada sebuah kisah ajaib yang dialami oleh sahabat Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- yang bernama “Safinah” -radhiyallahu anhu-.

Dari Ibnul Munkadir, ia berkata,

أَنَّ سَفِيْنَةَ مَوْلَى رَسُوْلِ اللهِ ( صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ) أَخْطَأَ الْجَيْشَ بِأَرْضِ الرُّوْمِ ، أَوْ أُسِرَ فِيْ أَرْضِ الرُّوْمِ ، فَانْطَلَقَ هَارِباً يَلْتَمِسُ الْجَيْشَ ، فَإِذَا هُوَ بِاْلأَسَدِ ، فَقَالَ لَهُ : أَبَا الْحَارِثِ، إِنِّيْ مَوْلَى رَسُوْلِ اللهِ ( صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ )، كَانَ مِِنْ أَمْرِيْ كَيْتَ وَكَيْتَ ، فَأَقْبَلَ اْلأَسَدُ لَهُ بَصْبَصَةٌ حَتَّى قَامَ إِلَى جَنْبِهِ، كُلَّمَا سَمِعَ صَوْتاً ، أَهْوَى إِلَيْهِ ،ثُمَّ أَقْبَلَ يَمْشِيْ إِلَى جَنْبِهِ ، فَلَمْ يَزَلْ كَذَلِكَ حَتَّى بَلَغَ الْجَيْشَ ، ثُمَّ رَجَعَ اْلأَسَدُ.

 “Safinah, mantan budaknya Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- pernah terluput (tertinggal) dari pasukan di negeri Romawi atau ditawan di negeri Romawi. Ia pergi melarikan diri untuk mencari pasukan (kaum muslimin, pent.). Tiba-tiba ada seekor singa. Safinah berkata kepadanya, ‘Wahai bapaknya singa, sesungguhnya aku ini adalah mantan budaknya Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam-. Sesungguhnya urusanku begini dan begitu.’

Singa itu pun menghadap kepadanya sambil menggerak-gerakkan ekornya sampai singa itu berdiri di sisi Safinah. Setiap kali singa itu mendengarkan suara, maka ia pun datang kepada Safinah. Kemudian ia pun datang sambil berjalan di sisi Safinah. Senantiasa singa itu demikian sampai Safinah mencapai pasukan, lalu singa itu kembali.” [HR. Abdur Rozzaq dalam Al-Mushonnaf (20544), Al-Baghowiy dalam Syarh As-Sunnah (3732), dan lainnya. Hadits ini dinyatakan shohih oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Takhrij Misykah Al-Mashobih (no. 5949)]

Dalam sebagian riwayat, Safinah -radhiyallahu anhu- berkata,

فَطَأْطَأَ رَأْسَهُ وَأَقْبَلَ إِلَيَّ فَدَفَعَنِيْ بِمَنْكِبِهِ حَتَّى أَخْرَجَنِيْ مِنَ اْلأَجَمَةِ وَوَضَعَنِيْ عَلَى الطَّرِيْقِ وَهَمْهَمَ، فَظَنَنْتُ أَنَّهُ يُوَدِّعُنِيْ فَكَانَ ذَلِكَ آخِرَعَهْدِيْ بِهِ

“Singa itu menundukkan kepalanya dan menghadap kepadaku. Ia mendorongku dengan menggunakan pundaknya sampai ia mengeluarkan aku dari semak belukar dan menuntunku ke jalan. Singa itu mengaum. Aku perkirakan ia mengucapkan selamat tinggal kepadaku. Itulah momen akhirku bersama singa itu.” [HR. Al-Hakim dalam Al-Mustadrok (6550), Ath-Thobroniy dalam Al-Mu’jam Al-Kabir (6432), Ar-Ruyaniy dalam Musnad-nya (662), Al-Bazzar dalam Al-Bahr Az-Zakhkhor (3838), dan Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimasyqo (4/270)]

Lahirnya penjagaan seperti ini bagi diri seorang hamba, anak keturunan, dan harta bendanya, tidaklah terjadi begitu saja, tanpa sebab. Karenanya, para salaf dahulu selalu memperbanyak ibadahnya demi meraih keutamaan tersebut. Mereka sangat menghayati bahwa mereka amat butuh kepada penjagaan dari Allah -Tabaroka wa Ta’ala- dalam segala urusannya di dunia, sehingga mereka menjadi orang-orang yang berbahagia, dan meninggalkan anak keturunan dan harta bendanya dalam keadaan aman dan penuh berkah.

Lantaran itu, seorang tabi’in yang mulia, Sa’id Ibnul Musayyib –rahimahullah– berkata,

إِنِّيْ لَأَصَلِّيْ، فَأَذْكُرُ وَلَدِيْ، فَأَزِيْدُ فِيْ صَلاَتِيْ

“Sesungguhnya aku biasa mengerjakan sholat, lalu aku teringat dengan anakku. Kemudian aku pun menambahi sholatku.” [Lihat Ma’alim At-Tanzil (3/211), cet. Dar Ihya’ At-Turots, dan Lubab At-Ta’wil (4/227) oleh Ala’uddin Al-Khozin Al-Baghdadiy]

Inilah berkah kesholihan hamba yang senantiasa taat kepada Allah dan menjauhi dosa-dosa dan maksiat, ia diberi penjagaan oleh Allah –Tabaroka wa Ta’ala– dari segala keburukan, marabahaya, gangguan dan hal-hal yang menyakitkan dirinya.

……………………………………………………………

Tulisan ini rampung tanggal 28 Muharram 1437 H, Markaz Dakwah, Ma’had As-Sunnah, Jalan Baji Rupa -Semoga Allah memberkahinya para pengurusnya-.

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Tulisan lainnya

jannatul-firdaus.net @2022

Empat Buah Lezat dari Ketaqwaan Seorang Hamba


| Menu

| MENU

Bagikan…

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram



Empat Buah Lezat dari Ketaqwaan Seorang Hamba

  • Oleh: Ust. Abdul Qodir Abu Fa’izah, Lc. hafizhahullah

Taqwa adalah sebuah kemuliaan. Dengannya, seorang mendapatkan fadhilah dan keutamaan di sisi Allah –Tabaroka wa Ta’ala-. Setiap hamba yang beriman diperintahkan oleh Allah –Azza wa Jalla- untuk selalu menjaga dan memelihara ketaqwaannya.

Ketaqwaan merupakan cerminan taatnya seorang hamba kepada Allah dan jauhnya ia dari segala warna maksiat. Kalaupun ia jatuh dalam maksiat, maka ia segera terdorong untuk bertobat dan menutupi keburukan maksiatnya dengan kebaikan dan amal sholih. Dosa di sisinya, bagaikan gunung tinggi yang siap menimpa dirinya.

Soerang hamba yang bertaqwa selalu diiringi oleh dzikrullah (mengingat Allah). Lisannya senantiasa basah dengan dzikrullah dalam memuji dan memohon kepada Robb-nya. Batinnya selalu menuju ke atas Arsy dalam mengingat Allah –Subhanahu wa Ta’ala

Anggota badannya pun bergerak dan berbuat sesuai konsekuensi dzikrullah (mengingat Allah). Kakinya melangkah kepada suatu tempat yang mengingatkannya akan kebesaran Tuhannya. Tangannya senantiasa terulur kepada kau fuqoro’ dan miskin, atas tuntutan dzikrullah (ingatannya kepada Allah). Ia melihat dirinya di dunia seakan berdiri di hadapan Allah, membutuhkan uluran bantuan dari Allah Al-Aziz Al-Ghoffar, di Hari Pembalasan yang amat mengerikan.

Seorang yang bertaqwa di kala mendapatkan nikmat apa saja, maka nikmat ia syukuri dengan jiwa dan raganya, Lisannya memuji Allah -Azza wa Jalla- atas nikmat ia terima. Hatinya mengikrarkan akan kemurahan Allah yang telah menganugerahkan semua nikmat itu kepadanya. Kemudian semua nikmat itu ia gunakan dalam pengabdian dan ketaatannya kepada Allah –Jalla Dzikruh-.

Jika seorang hamba berada di atas kondisi demikian, maka itulah sebenar-benarnya taqwa. Inilah yang pernah difirmankan oleh Allah -Ta’ala- dalam sebuah ayat yang agung tentang taqwa,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ  [آل عمران/102]

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (QS. Ali Imran : 102)

Di saat menjelaskan makna sebenar-benar takwa kepada-Nya“, Sahabat yang mulia, Abdullah bin Mas’ud Al-Hudzaliy –radhiyallahu anhu– berkata,

أَنْ يُطَاعَ فَلاَ يُعْصَى، وَيُذْكَرَ فَلاَ يُنْسَى، وَيُشْكَرَ فَلاَ يُكْفَرُ.

“Allah ditaati, tidak dimaksiati; Allah diingat, tidak dilupakan; Allah disyukuri, tidak di-kufur-i (tidak diingkari nikmat-Nya).”

[HR. Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushonnaf (34553) secara ringkas, Al-Hakim dalam Al-Mustadrok (no. 3159), Ath-Thobariy dalam Jami’ Al-Bayan (7/65/no. 7536), Ad-Dailamiy dalam Musnad Al-Firdaus (no. 2679), dan lainnya. Adz-Dzahabiy menyatakan atsar ini shohih][1]

Ketaqwaan yang melahirkan ketaatan, dzikrullah (mengingat allah) dan kesyukuran merupakan kedudukan tinggi yang akan mendapatkan balasan dan keutamaan yang agung.

Allah –Tabaroka wa Ta’ala– berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَتَّقُوا اللَّهَ يَجْعَلْ لَكُمْ فُرْقَانًا وَيُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ

“Hai orang-orang beriman, jika kalian bertaqwa kepada Allah, Kami akan memberikan kepada kalian “Furqaan” (pembeda), Kami akan tutupi (menebus) kesalahan-kesalahan kalian, dan mengampuni (dosa-dosa) kalian. Dan Allah mempunyai karunia yang besar.” (QS. Al-Anfaal : 29)

Allah –Ta’ala– menghimbau kepada orang-orang yang membenarkan Allah Rasul-Nya bahwa jika mereka bertaqwa kepada Allah dengan menaati-Nya, menunaikan kewajiban-kewajibannya kepada Allah, menjauhi maksiat, serta tidak mengkhianati Allah, Rasul-Nya, dan amanah yang dipercayakan kepadanya, maka Allah akan berikan kepadanya “furqon”, pembeda antara kebenaran yang dipijaki oleh kaum beriman dengan kebatilan orang-orang yang menginginkan keburukan bagi kaum mukminin dari kalangan kaum musyrikin dengan datangnya pertolongan Allah kepada kaum beriman atas kaum kafir serta diberikannya kemenangan bagi orang-orang beriman.

Allah juga akan menebus dan menghapuskan dosa-dosa orang-orang beriman yang pernah mereka kerjakan dahulu, serta Allah akan mengampuni dan menutupi dosa-dosa kalian, sehingga Allah tidak menghukum mereka karenanya. [Lihat Tafsir Ath-Thobariy (13/487)]

Dari sini, anda lihat bahwa orang-orang bertaqwa dari kalangan kaum mukminin mendapatkan 4 buah dari ketaqwaan mereka kepada Allah :

  • Diberi furqon ‘pembeda’ antara kebenaran dan kebatilan. Ia mampu melihat jalan-jalan kebenaran, sehingga ia pun mengikutinya dan ia mengetahui jalan-jalan kebatilan atau kesesatan, sehingga ia pun menjauh darinya dan selamat di dunia dan akhiratnya.
  • Allah hapuskan dosa-dosa yang pernah mereka kerjakan dahulu. Mestinya mereka mendapatkan hukuman atas dosa-dosa itu, tapi atas karunia Allah, semua terhapuskan di sisi Allah, berkat ketaqwaan mereka saat di dunia.[2]
  • Mereka meraih pengampunan dari Allah Sang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dosa-dosa mereka diubah menjadi balasan kebaikan-kebaikan saat berjumpa dengan Allah -Azza wa Jalla-.
  • Disediakan pahala dan ganjaran kebaikan bagi kaum bertaqwa.

Sungguh ini merupakan sebuah keberuntungan yang tiada taranya, di saat Allah memberikan hidayah kepada seorang hamba, pengampunan dan ganjaran pahala yang besar.

Ahli Tafsir Jazirah Arab, Al-Imam Abdur Rahman bin Nashir As-Sa’diy –rahimahullah– berkata saat mengomentari ayat dari Suroh Al-Anfaal tersebut,

اِمْتِثَالُ الْعَبْدِ لِتَقْوَى رَبِّهِ عُنْوَانُ السعادةِ، وَعَلاَمَةُ الْفَلاَحِ، وَقَدْ رَتَّبَ اللّهُ عَلَى التَّقْوَى مِنْ خَيْرِ الدُّنْيَا وَاْلآخِرَةِ شَيْئًا كَثِيْرًا،فَذَكَرَ هُنَا أَنَّ مَنِ اتَّقَى اللّهَ حَصَلَ لَهُ أَرْبَعَةُ أَشْيَاءٍ، كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهَا خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيْهَا:

اْلأَوَّلُ: الْفُرْقَانُ: وَهُوَ الْعِلْمُ وَالْهُدَى الَّذِيْ يُفَرِّقُ بِهِ صَاحِبُهُ بَيْنَ الْهُدَى وَالضَّلاَلِ، وَالْحَقِّ وَالْبَاطِلِ، وَالْحَلاَلِ وَالْحَرَامِ، وَأْهْلِ السَّعَادَةِ مِنْ أَهْلِ الشَّقَاوَةِ.

الثَّانِيْ وَالثَّالِثُ: تَكْفِيْرُ السَّيِّئَاتِ، وَمَغْفِرَةُ الذُّنُوْبِ، وَكُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا دَاخِلٌُ فِي اْلآخَرِ عِنْدَ اْلإِطُلاَقِ، وَعِنْدَ اْلاِجْتِمَاعِ يُفَسَّرُ تَكْفِيْرُ السَّيِّئَاتِ بِالذُّنُوْبِ الصَّغَائِرِ، وَمَغْفِرَةُ الذُّنُوْبِ بِتَكْفِيْرِ الْكَبَائِرِ.

الرَّابِعُ: اْلأَجْرُ الْعَظِيْمُ وَالثَّوَابُ الْجَزِيْلُ لِمَنِ اتَّقَاهُ وَآثَرَ رِضَاهُ عَلَى هَوَى نَفْسِهِ.

“Perealisasian seorang hamba terhadap ketaqwaan kepada Robb-nya merupakan tanda kebahagiaan, dan alamat keberuntungan. Sungguh Allah telah menyiapkan sesuatu yang banyak bagi ketaqwaan itu berupa kebaikan dunia dan akhirat. Allah sebutkan disini bahwa siapa yang bertaqwa kepada Allah, maka akan tercapai baginya empat perkara (buah). Setiap dari keempat perkara itu adalah lebih baik dibandingkan dunia beserta isinya :

Yang pertama : Al-Furqon ‘Pembeda’. Itulah ilmu dan hidayah, yang dengannya pemiliknya dapat membedakan antara petunjuk dan kesesatan, antara kebenaran dan kebatilan, antara yang halal dan haram, serta antara pemilik kebahagiaan (orang beriman) dan pemiliki kesengsaraan (kaum kafir).

Yang kedua dan ketiga : Penebusan dosa dan pengampunannya. Setiap dari kedua hal ini masuk dalam (kategori) yang lain saat digunakan. Ketika (keduanya) bergabung (dalam satu kalimat), maka ditafsirkan penebusan dosa-dosa dengan “dosa-dosa kecil”, sedang pengampunan dosa-dosa dengan “pengahpusan dosa-dosa besar”.

Yang keempat : pahala yang besar dan balasan yang banyak bagi orang yang bertaqwa kepada-Nya dan mengutamakan ridho-Nya atas hawa nafsunya.” –Selesai Nukilan-

[Lihat Taisir Al-Karim Ar-Rahman (hal. 319) oleh As-Sa’diy, cet. Mu’assasah Ar-Risalah]

Perhatikanlah khasiat dari ketaqwaan. Ia mampu melahirkan ilmu dan hidayah, yakni ilmu wahyu dari Al-Qur’an dan Sunnah. Ia mampu menghapuskan dosa kecil dan dosa besar. Ia adalah sebab seorang hamba mendapatkan kenikmatan besar di akhirat berupa surga yang amat indah dan penuh kenikmatan. Belum lagi kenikmatan terbesar dalam surga, insya Allah akan ia petik berupa melihat keindahan wajah Allah -Subhanahu wa Ta’ala-.

Itulah buah ketaqwaan yang dipetik oleh seorang hamba yang telah bersabar dan bersusah payah dalam membimbing jiwa dan raganya di atas ketaatan serta mengekang hawa nafsunya dari segala maksiat yang dibenci oleh Allah -Tabaroka wa Ta’ala-.

[1] Hadits ini diriwayatkan secara marfu’, hanya saja ia dho’if (lemah). Yang shohih adalah riwayat mauquf.

[2] Disini ada isyarat bahwa orang yang bertaqwa terkadang jatuh dalam dosa, kecuali para nabi dan rasul.

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Tulisan lainnya

jannatul-firdaus.net @2022

Anjuran Membersihkan Halaman Rumah dan Masjid


| Menu

| MENU

Bagikan…

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram



Anjuran Membersihkan Halaman Rumah dan Masjid

dari Kotoran dan Sampah-sampah yang Menodainya

  • Oleh: Ust. Abdul Qodir Abu Fa’izah, Lc. hafizhahullah

Membersihkan rumah, baik pada bagian dalam rumah, ataukah luarnya, merupakan adab islami yang kini banyak disepelekan oleh sebagian besar kaum muslimin, sehingga tidak heran apabila kita akan menemukan sampah-sampah, dedaunan bertebaran dan rerumputan yang menjalar dan berkeliaran di halaman rumahnya. Bahkan ada diantara mereka yang membiarkan rerumputan itu memasuki rumah mereka dan jadilah pekarangan rumah mereka laksana hutan belantara, dan rumah mereka ibarat kandang hewan yang berantakan.

Sebuah pemandangan yang amat menjijikkan, sebagian muslim mengumpulkan dan membiarkan berbagai macam barang-barang rongsokan menumpuk di dalam atau di luar rumahnya, sehingga menciptakan pemandangan yang jorok. Belum lagi, anak-anak mereka sembarang membuang sampah di halaman rumah, tanpa menyiapkan tempat khusus pembuangan sampah, seperti tong sampah dan lainnya yang dapat mencegah sampah berserakan kemana-mana.

Ajaran membuang sampah ini telah dicanangkan oleh Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- kepada umatnya sejak 14 abad yang lalu, sebelum orang-orang barat mengenal peradaban.

Rasulullah –Shallallahu alaihi wa sallam– bersabda,

طَهِّرُوْا أَفْنِيَتَكُمْ، فَإِنَّ الْيَهُوْدَ لاَ تُطَهِّرُ أَفْنِيَتَهَا

“Bersihkanlah halaman-halaman kalian. Karena, kaum Yahudi tidak membersihkan halaman-halaman mereka.” [HR. Ath-Thobroniy dalam Al-Mu’jam Al-Ausath (4/231). Hadits ini hasan sebagaimana yang dijelaskan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Ash-Shohihah (no. 236)]

Seorang yang memiliki keimanan yang bersih, maka keimanannya akan memberikan pengaruh kepada anggota-anggota tubuhnya, sehingga anggota-anggota tubuh itu akan selalu bersih dan mencintai kebersihan.

Akan tetapi apabila raga seseorang kotor, maka itu adalah cerminan akan kotornya kalbu dan jiwa orang itu.

Al-Imam Abdur Rouf Al-Munawiy -rahimahullah- berkata dalam menjelaskan hadits di atas,

ونبه بالأمر بطهارة الأفنية الظاهرة على طهارة الأفنية الباطنة وهي القلوب والأرواح

“Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- memberi peringatan melalui perintah membersihkan halaman-halaman rumah yang tampak tentang halaman-halaman yang bathin (tersembunyi), yakni hati dan ruh.” [Lihat Faidhul Qodir (4/271)]

Perintah membersihkan pekarangan rumah ini semakin kuat, dengan adanya perintah menyelisihi Ahli Kitab dari kalangan Yahudi. Sebab, hidup jorok adalah kebiasaan dan jalan hidup mereka yang sudah dikenal pada zaman kenabian. Sementara kebiasaan hidup kaum muslimin (yakni, Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- dan para sahabatnya) saat itu adalah HIDUP BERSIH di atas bimbingan wahyu.

Al-Imam Al-Amir Muhammad bin Isma’il Al-Kahlaniy Al-Hasani Ash-Shon’aniy –rahimahullah– berkata saat memetik ibrah dari hadits ini,

ومخالفتهم مراده في مثل هذا أو ليكون تفرقة بين دوركم ودورهم للناظر.

“Menyelisihi mereka (kaum Yahudi), itulah maksud beliau dalam perkara seperti ini, atau agar hal itu menjadi pembeda antara rumah-rumah kalian dengan rumah-rumah mereka bagi orang yang melihatnya. [Lihat At-Tanwir Syarhul Jami’ Ash-Shoghir (7/139)]

Syariat kita adalah syariat yang membangun kehidupan nazhofah (bersih). Lantaran itu, di dalam syariat kita, diterangkan tata cara membersihkan kotoran, najis berupa darah, tahi, kencing, jilatan anjing, atau tata cara mandi junub, membuang najis dari air dan makanan, membersihkan gigi dengan siwak, berwudhu’, dan masih banyak lagi syiar-syiar nazhofah (kebersihan) dalam agama Islam yang tidak ada pada umat-umat kafir.

Oleh karena itu, suatu aib dan celaan besar apabila seorang muslim “BERGAYA HIDUP JOROK” (Makassar : rantasa’).

Seorang muslim hendaknya selalu menjaga dan memperhatikan

kebersihan diri dan lingkungannya, mulai dari anggota-anggota badannya, pakaian, kendaraan, rumah (baik dalam, maupun luarnya), kantor, dan lainnya.

Kebersihan adalah sesuatu yang indah, sedang sesuatu yang indah adalah perkara yang dicintai oleh Allah -Azza wa Jalla-.

Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda,

إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ

“Sesungguhnya Allah adalah Maha Indah, mencintai keindahan.” [HR. Muslim dalam Shohih-nya (no. 91)]

“Allah memiliki keindahn muthlaq : keindahan pada dzat-Nya, sifat-sifatnya, dan perbuatan-perbuatannya.” [Lihat At-Taisir bi Syarh Al-Jami’ Ash-Shoghir (1/504)

Ketika Allah menyifati dirinya dengan keindahan, maka Dia juga mengabarkan bahwa dirinya mencintai keindahan lahiriah dan batin pada diri hamba-hamba-Nya.

Al-Allamah Abdur Rohman Ibnu Nashir As-Sa’diy –rahimahullah– berkata,

فإنه تعالى جميل في ذاته وأسمائه وصفاته وأفعاله ،

يحب الجمال الظاهري والجمال الباطني .

فالجمال الظاهر : كالنظافة في الجسد ، والملبس ، والمسكن ، وتوابع ذلك .

والجمال الباطن : التجمل بمعاني الأخلاق ومحاسنها .

“Sesungguhnya Dia (Allah) -Ta’ala- adalah Maha Indah pada dzat (diri)-Nya, nama-nama, sifat-sifat dan perbuatan-perbuatan-Nya.

Dia mencintai keindahan lahiriah dan keindahan batin.

Keindahan lahiriah : seperti, kebersihan pada jasad, pakaian, tempat tinggal, dan pelengkap-pelengkapnya.

Sedang keindahan batin : memperindah diri dengan makna-makna akhlak serta akhlak-akhlak yang indah.” [Lihat Bahjah Qulub Al-Abror wa Qurroh Uyun Al-Akhyar fi Syarh Jawami’ Al-Akhbar (1/233) karya As-Sa’diy]

Jadikanlah keindahan lahiriah dan batin kita sebagai prinsip yang selalu mewarnai kehidupan kita, dimanapun kita berada.

Prinsip itu harus berada di tangan kaum muslimin, jangan sampai direbut oleh kaum kafir, sehingga merekalah yang dikenal sebagai pelopor kebersihan dan sebagai “manusia bersih”, walaupun hakikatnya mereka tetap saja kotor!![1].

Para pembaca yang budiman, diantara rumah-rumah yang harus lebih kita jaga kebersihannya adalah rumah-rumah Allah (baca : masjid-masjid) dan pesantren-pesantren yang menjadi tempat kita beribadah, sholat, berdzikir, bermajelis ilmu, berkumpul, membaca Al-Qur’an, dan lainnya.

Tugas menjaga kebersihan masjid, bukanlah kerendahan dan kehinaan. Tugas menjaga kebersihan masjid merupakan tugas para nabi dan rasul yang mulia.

Inilah yang Allah -Tabaroka wa Ta’ala- sinyalir dalam sebuah firman-Nya,

وَعَهِدْنَا إِلَى إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ أَنْ طَهِّرَا بَيْتِيَ لِلطَّائِفِينَ وَالْعَاكِفِينَ وَالرُّكَّعِ السُّجُودِ  [البقرة : 125]

“Dan Telah kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail: “Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang thawaf, yang i’tikaf, yang ruku’ dan yang sujud”. (QS. Al-Baqoroh : 125)

Al-Allamah Ibnu Asyur Al-Malikiy -rahimahullah- berkata,

وَالْمُرَادُ مِنْ تَطْهِيرِ الْبَيْتِ مَا يَدُلُّ عَلَيْهِ لَفْظُ التَّطْهِيرِ

– مِنْ مَحْسُوسٍ : بِأَنْ يُحْفَظَ مِنَ الْقَاذُورَاتِ وَالْأَوْسَاخِ لِيَكُونَ الْمُتَعَبِّدُ فِيهِ مُقْبِلًا عَلَى الْعِبَادَةِ دُونَ تَكْدِيرٍ،

– وَمِنْ تَطْهِيرٍ مَعْنَوِيٍّ : وَهُوَ أَنْ يُبْعَدَ عَنْهُ مَا لَا يَلِيقُ بِالْقَصْدِ مِنْ بِنَائِهِ مِنَ الْأَصْنَامِ وَالْأَفْعَالِ الْمُنَافِيَةِ لِلْحَقِّ كَالْعُدْوَانِ وَالْفُسُوقِ، وَالْمُنَافِيَةِ لِلْمُرُوءَةِ كَالطَّوَافِ عُرْيًا دُونَ ثِيَابِ الرِّجَالِ وَالنِّسَاءِ.

وَفِي هَذَا تَعْرِيضٌ بِأَنَّ الْمُشْرِكِينَ لَيْسُوا أَهْلًا لِعِمَارَةِ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ لِأَنَّهُمْ لَمْ يُطَهِّرُوهُ مِمَّا يَجِبُ تَطْهِيرُهُ مِنْهُ

“Yang dimaksud dengan ‘MEMBERSIHKAN BAITULLAH’    adalah perkara yang ditunjukkan oleh lafazh “that-hir” (membersihkan), yakni (membersihkannya) dari:

– sesuatu yang bersifat kongkrit, misalnya : menjaganya dari tahi dan kotoran, agar orang beribadah di dalamnya dapat fokus di atas ibadahnya, tanpa ternodai.

– Juga berupa pembersihan yang bersifat abstrak, yaitu dijauhkan dari Baitullah sesuatu yang tidak sejalan dengan tujuan pembangunannya berupa berhala-berhala, dan perbuatan-perbuatan yang yang menyalahi kebenaran (seperti : permusuhan, dan kefasikan), perbuatan-perbuatan yang yang menyalahi harga diri (seperti : telanjang tanpa pakaian pria dan wanita).

Di dalam hal ini, terdapat sindirian bahwa kaum musyrikin bukanlah orang yang berhak memakmurkan Masjidil Haram, karena mereka tidaklah membersihkan Baitullah dari perkara-perkara yang wajib dibersihkan darinya.” [Lihat At-Tahrir wa At-Tanwir (1/712)]

Ayat ini menunjukkan bahwa kaum muslimin (sebagai pelanjut ajaran Islam yang sejak dahulu telah diajarkan oleh para nabi dan rasul) dianjurkan untuk senantiasa mengemban dan melanjutkan tugas mulia ini. Kaum muslimin harus lebih memperhatikan kebersihan masjid-masjid dan pesantren-pesantren mereka, melebihi perhatian para petugas kebersihan pada toilet-toilet di pusat perbelanjaan, dan pompa-pompa bensin.

Hendaknya kita malu kepada Allah -Azza wa Jalla- sebelum kita malu kepada manusia saat kita membiarkan WC dan toilet masjid atau pekarangan masjid diwarnai dengan kotoran dan sampah-sampah!!

Di dalam agama kita ada syariat KEBERSIHAN pada tempat-tempat ibadah dan ilmu. Jangan sia-siakan syariat mulia itu. Jika kalian menjaga kebersihan dimanapun dan kapan pun, baik di rumah, di jalan, apalagi di masjid, maka yakin –insya Allah- Allah membalas niat baik dan perbuatan mulia kalian itu.

Al-Imam Shiddiq Hasan Khan Al-Qinnaujiy –rahimahullah– berkata,

وفي الآية مشروعية طهارة المكان للطواف والصلاة

“Di dalam ayat ini terdapat pengsyariatan membersihkan tempat tawaf dan sholat.” [Lihat Fathul Bayan fi Maqoshidil Qur’an (1/278)]

Kebersihan adalah cerminan kepribadian seorang hamba. Kapan lahiriahnya bersih, maka itu adalah tanda bahwa hatinya bersih. Sebab, kebersihan batin adalah tugas utama sebelum kebersihan lahiriah. Disinilah perlunya mempelajari ilmu wahyu (Al-Qur’an dan Sunnah) agar kita berbuat di atas ilmu dan niat yang lurus. Nah, orang yang menjaga kebersihannya karena tahu ilmu dan keutamaannya, maka ia akan mendapat pahala dari kebersihannya. Dengannya, ia terpuji di sisi manusia, bahkan di sisi Allah.[2]

Sebaliknya, Kapan saja lahiriah seseorang kotor dan jorok, maka ini adalah isyarat bahwa batin orang itu adalah kotor. Sebab, tidak mungkin batinnya yang bersih dan terbimbing dengan ilmu wahyu, akan membiarkan jasad dan lahiriah serta lingkungan sekitarnya akan kotor dan jorok.

……………………………………………………………..

Selesai, Kamis 1 Dzul Qo’dah 1437 H

…………………………………………….

……………………………

[1] Perlu diketahui bahwa orang kafir bagaimana pun bersihnya, maka mereka tetap kotor (lahir dan batin). Secara batin, tentunya batin mereka terkotori dengan kekafiran, kesyirikan, dosa-dosa. Lahiriah dan jasad mereka juga kotor dan jorok. Bukankah kalian melihat mereka tidak menjaga diri dari najis berupa tahi, kencing, liur anjing dan hewan lainnya?!

[2] Adapun orang yang bersih karena kebiasaan dan tabiat pembawaannya yang suka bersih, tanpa didasari dengan bimbingan ilmu wahyu, maka ia hanya terpuji di sisi manusia, dan tidak mendapatkan pahala, wallahu a’lam.

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Tulisan lainnya

jannatul-firdaus.net @2022

Golongan Manusia-manusia Tertipu


| Menu

| MENU

Bagikan…

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram




Golongan Manusia-manusia Tertipu

  • oleh : Al-Ustadz Abdul Qodir Abu Fa’izah –hafizhahullah

Seorang pemuda berjalan dengan santai dan tenang menuju sebuah diskotik. Di dalam diskotik, ia melakukan berbagai macam maksiat, mulai dari menenggak khomer (minuman keras), berdisko (padahal musik itu haram dan maksiat), bahkan terkadang ia berzina dengan seorang wanita pelacur yang dulu disebut WTS (Wanita Tuna Susila) dan kini disebut dengan “PSK”. Sesekali ia bergumam dalam hati, “Ah, nantilah bertobat kalo sudah tua”. Sungguh tertipu! Adakah jaminan baginya untuk menghirup udara di esok hari!! Tak ada jaminan sedikitpun!!!

Di sudut sana, ada seorang pejabat yang bertampan jujur dan amanah. Di kantor, ia kelihatan baik, disiplin, dan ulet bekerja. Tapi yang bernama dunia, hijau dipandang mata.

Sebagian orang yang punya kepentingan dalam suatu urusan, datang kepada si pejabat itu dengan membawa hijaunya dunia (baca :uang). Bukan hanya sekali-dua kali, hal seperti ini sudah menjadi kebiasaan yang ia anggap remeh.

Padahal hati kecilnya risih dan tak enak rasanya mengambil uang suap. Apalagi ia sudah diberi gaji oleh pemerintah. Namun setan membisikinya bahwa waktu masih panjang dan Tuhan itu Maha Pemurah lagi Maha Pengampun.

Kini kita beralih ke artis dan penyanyi tersohor. Tak ada waktu baginya, kecuali sibuk dengan urusan musik, tur, konser dan kontrak perusahaan musik.

Hari-harinya ia lalui dengan kehidupan yang glamour dan penuh hura-hura. Semua orang memberikan pujian dan sanjungan kepadanya yang hakikatnya adalah jurang kehancuran dan kehinaan baginya.

Musik yang ia geluti adalah perkara haram dalam Islam berdasarkan ayat dan hadits dari Nabi –Shallallahu alaihi wa sallam-. Jika ia dinasihati, ia hanya senyum dan berlalu.

Ia menganggap dirinya selama ini aman-aman saja. Ia mengira bahwa makar Allah dan hukumannya tak akan menimpa dirinya!!

Para pedagang di pasar, juga tak kalah parahnya. Mereka melakukan berbagai macam kecurangan dan kedustaan dalam banyak hal, mulai dari kuantitas dan kualitas barang sampai asalnya, semua bohong dan palsu!!

Menimbang dan menakar barang sudah menjadi “rahasia umum” di masyarakat, sehingga anda akan sukar mencari timbangan dan literan yang benar menurut standar, kecuali milik seorang mukmin yang jujur. Namun jumlah si jujur ini amat langka, selangka burung gagak yang kini hampir punah.

Padahal mereka tahu bahwa perdagangan model seperti ini, akan mendatangkan murka Allah sebagaimana yang dialami kaum Nabi Syu’aib –alaihis salam– di Negeri Madyan.

Tapi para pedagang ini terlena dan tertipu karena selama ini hidup mereka tenang dan tentram saja. Jasad mereka juga sehat wal afiat. Tak ada masalah menurut mereka.

Fenomena terakhir yang perlu kita angkat, yaitu adanya sejumlah wanita-wanita muslimah yang “berani” pamer dan “buka” aurat di depan kaum pria yang bukan mahramnya.

Mereka enggan berjilbab. Kalau pun berjilbab, yah jilbanya asal-asalan dan tidak memenuhi syarat: tebal, longgar, menutupi semua tubuh mereka, tidak menyerupai pakaian wanita kafir, bukan dijadikan perhiasan yang memancing hasrat lelaki, dan pakaian itu bukanlah pakaian ketenaran.

Perlu kita pahami juga bahwa aurat wanita adalah seluruh tubuhnya, mulai dari kepala sampai kaki. Ini yang tidak dipahami oleh sebagian wanita muslimah. Terkadang mereka menyangka bahwa rambut atau kaki –misalnya- bukan aurat!! Padahal itu aurat!!!

Gerakan pamer aurat dan buka-bukaan ini semakin parah di zaman ini, karena dipelopori oleh para wanita-wanita cantik dari kalangan selebriti, artis, foto model dan lainnya.

Di tambah parah lagi, mereka dibantu oleh teknologi informasi dan telekomunikasi yang canggih, berupa tv, koran, majalah, internet dengan berbagai paketnya (mulai dari FacebookTwitterYoutubeWhatsAppTelegramInstagramLINE dan lainnya).

Akhirnya, mereka mendapatkan jalan dan ladang mengais rezki melalui jalan pamer aurat. Laa haula walaa quwwata illa billah. Hanya kepada Allah kita mengadukan kerusakan mereka!!

Mereka pun terus di atas maksiat ini, karena setan membisiki mereka dengan berbagai janji dan iming-iming semu.

Pujian dan sanjungan datang membanjiri mereka bak ombak yang menerpa daratan; susah ia bendung, bahkan ia terbawa dan laraut bersama dengan ombak pujian itu. Padahal ia tak mengerti ombak itu akan mencampakkan dirinya dan menghempaskannya dalam lembah kehinaan di hadapan manusia dan Tuhan-nya.

Inilah beberapa gambaran dan fenomena manusia-manusia yang tertipu dengan makar Allah. Mereka tak sadar bahwa Allah akan merendahkan dan menghinakannya, walaupun ia memiliki kedudukan tinggi dan reputasi hebat di mata manusia.

Allah -Subhanahu wa Ta’ala- berfirman,

أَفَأَمِنُوا مَكْرَ اللَّهِ فَلَا يَأْمَنُ مَكْرَ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْخَاسِرُونَ [ الأعراف : 99 ]

“Maka apakah mereka merasa aman dari adzab (siksa) Allah (yang tidak terduga-duga)? Tiada yang merasa aman dan adzab (siksa) Allah, kecuali orang-orang yang merugi”. (QS. Al-A’raaf : 99)

Ahli Tafsir Negeri Syam, Al-Imam Jamaluddin Al-Qosimiy –rahimahullah– berkata,

((الأمن من مكر الله كبيرة عند الشافعية، وهو الاسترسال في المعاصي، اتكالا على عفو الله)) اهـ من تفسير القاسمي = محاسن التأويل – (5 / 159)

“Merasa aman dari makar Allah merupakan dosa besar di sisi ulama Syafi’iyyah. Dia (sikap aman) itu adalah keterlenaan dalam maksiat-maksiat karena bertumpu pada ampunan Allah”. [Lihat Mahasin At-Ta’wil (5/159) oleh Al-Qosimiy]

Merasa aman dari makar Allah tergolong dosa besar. Karena, seorang hamba yang merasa aman dari makar Allah, akan berpaling dari agama, lalai dari kebesaran Tuhan-nya dan tidak memenuhi hak-hak Tuhan-nya serta ia meremehkannya. Akhirnya, ia pun akan terus teledor menunaikan kewajiban-kewajiban dirinya dan bergumul dalam maksiat. [Lihat Al-Qoul As-Sadid (hal. 125-126) oleh As-Sa’diy]

Abdullah bin Mas’ud Al-Hudzaliy –radhiyallahu anhu– berkata,

أَكْبَرُ الْكَبَائِرِ: الإشْرَاكُ بِاللهِ، وَاْلأَمْنُ مِنْ مَكْرِ اللهِ، وَالْقُنُوْطُ مِنْ رَحْمَةِ اللهِ وَالْيَأْسُ مِنْ رَوْحِ اللهِ

“Dosa yang terbesar adalah syirik (menyekutukan) Allah (dalam ibadah), merasa aman dari makar Allah, berputus asa dari rahmat Allah dan pupus harapan dari nikmat Allah”. [HR. Abdur Rozzaq Ash-Shon’aniy dalam Al-Mushonnaf (10/459/ no. 19701) dan Ath-Thobroniy dalam Al-Mu’jam Al-Kabir (no. 8784) dan Al-Baihaqiy dalam Syu’abul Iman (no. 1050)]

Ini merupakan dalil yang berisi ancaman bagi orang-orang yang terlena dalam maksiat. Ia digolongkan sebagai pelaku dosa yang akan mendapatkan dosa dan siksaan yang setimpal.

Lebih tragis lagi, jika seorang hamba yang senang beribadah, namun ia jahil tentang agama. Ia tidak memiliki ilmu yang cukup untuk memahami urusan agama dan ibadahnya. Ia hanya memiliki semangat yang tinggi dalam beramal dan beribadah.

Seringkali anda menjumpai orang seperti ini; jahil, namun ia sok tahu. Jika ia dinasihati, maka ia congkak dan bangga diri dengan ibadah yang selama ini dilakukannya.

Jika dikritik ibadahnya yang salah, ia berkilah, “Ah, kalian itu hanya pandai bicara, kurang ibadah!! Kalian itu banyak ilmu, tapi kurang amal!!!”

Padahal belum tentu ia lebih banyak ibadahnya dibandingkan orang yang mengeritiknya. Kalaupun ibadahnya banyak, maka ibadahnya kosong pahala dan tak bernilai.

Penyakit ujub (takjub) dan bangga diri seperti ini, anda akan jumpai di kalangan kaum tashowwuf (sufi). Mereka amat sombong dan bangga diri dengan amal dan ibadah yang begitu banyak ia lakukan dalam kehidupannya. Apalagi jika ia dari kalangan habib alias syarif yang mengaku sebagai keturunan Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-.

Dengan ini, ia pun memandang dirinya sebagai “orang suci” dari dosa dan memiliki kedudukan tinggi di sisi Allah.

Akhirnya, ia merasa aman dari makar Allah –Azza wa Jalla– dan ia terlalu mengandalkan dirinya yang penuh kelemahan dan kehinaan. Dari arah inilah, ia dihinakan oleh Allah dan dihalangi dari hidayah. Sebab, ia sendirilah yang berbuat aniaya atas dirinya. [Lihat Al-Qoul As-Sadid (hal. 126)]

Orang-orang seperti ini akan berani menyuburkan bid’ah, kesyirikan dan kekafiran!! Merekalah yang menjadi juru kunci dan pemain utama pada kuburan orang yang dianggap “sholih” atau “wali”. Ia memimpin doa disana. Ia berdoa dan meminta dengan penuh harap dan cemas kepada penghuni kubur, bukan kepada Allah!!

Sayang, walau ia telah berbuat syirik dan kafir, ia masih membanggakan garis nasabnya yang terhubung dengan Nabi –Shallallahu alaihi wa sallam-. Sungguh orang ini telah tertipu dan takjub bangga diri. Padahal itu hanyalah makar Allah.

Ia tak tahu bahwa kedua orang tua Nabi –Shallallahu alaihi wa sallam-, paman beliau (Abu Tholib) dan keluarga beliau lainnya yang kafir dan musyrik, semuanya akan masuk neraka. Masihkah kalian bangga dan tertipu dengan nasab?!

Rasulullah –Shallallahu alaihi wa sallam– bersabda,

وَمَنْ بَطَّأَ بِهِ عَمَلُهُ لَمْ يُسْرِعْ بِهِ نَسَبُهُ

“Barangsiapa yang dilambatkan oleh amalnya, maka nasabnya tak dapat mempercepatnya”. [HR. Muslim dalam Shohih-nya (no. 2699)]

Seorang ulama Mesir, Syaikh Muhammad Fu’ad Abdul Baqi –rahimahullah– berkata,

“Maknanya, barangsiapa yang yang amalnya kurang, maka amalnya tak akan menggolongkannya ke dalam tingkatan para pemilik amal. Lantaran itu, sepantasnya ia tak berpangku pada kemuliaan nasab dan keutamaan nenek moyang serta tak teledor dalam beramal”. [Lihat Shohih Muslim (4/2074), cet. Dar Ihya’ At-Turots Al-Arobiy]

Nasab tidaklah bermanfaat bagi seseorang jika ia bermaksiat kepada Allah. Karena itu, hendaknya setiap orang mengusahakan kebaikan bagi dirinya, jangan mengandalkan nasab dan keturunan.

Jika anda tergolong orang yang selama ini bermaksiat (karena mengandalkan nasab), maka hendaklah segera bertobat sebelum Allah anda terkena makar Allah.

Al-Imam Al-Hasan Ibnu Abil Hasan Al-Bashriy –rahimahullah– berkata,

المؤمِنُ يَعْمَلُ بِالطَّاعَاتِ وَهُوَ مُشْفِقٌ وَجِلٌ خَائِفٌ، وَالْفَاجِرُ يَعْمَلُ بِالْمَعَاصِيْ وَهُوَ آمِنٌ.

“Seorang mukmin akan melakukan berbagai ketaatan, sedang ia mengharap, takut dan khawatir. Orang yang fajir akan melakukan berbagai maksiat, sedang ia merasa aman (dari makar Allah)”. [Lihat Tafsir Ibni Katsir (3/451), cet. Dar Thoybah, 1420 H]

Inilah golongan manusia-manusia yang tertipu dengan jabatan, profesi, kedudukan, waktu, kesehatan, kecerdasan, dunia, kecantikan atau ketampanan, serta nasab. Tidak ada yang ia peroleh di akhirat, melainkan penyesalan dan siksa neraka. Karena, semua yang ia dapatkan di dunia dari hal-hal tersebut, tidak ia gunakan dalam ketaatan, bahkan ia gunakan dalam maksiat dan pelanggaran.

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Tulisan lainnya

jannatul-firdaus.net @2022

MENGGAPAI CINTA ALLAH SUBHANAHU WA TA’ALA


| Menu

| MENU

Bagikan…

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram




MENGGAPAI CINTA ALLAH SUBHANAHU WA TA’ALA

  • Oleh: Anshari, S.Th.I, MA.

A. Pendahuluan
Di antara cita-cita seorang mukmin adalah meraih kecintaan Allah Subhanahu wa Ta’ala, karena apabila seseorang dicintai oleh Allah Subhanahu Wata’ala maka dia mendapatkan nikmat yang sangat besar. Sebagaimana dalam hadit Qudsiy, Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:

وَلاَ يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنِّوَافِلِ حَتَّی أُحِبَّهُ٬ فَإِذَا احْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُالَّذِي يَسْمَعُ بِهِ وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ٬ وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا٬ وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا٬ وَلَئِنْ سَأَلَنِي لَأُعْطِيَنَّهُ٬ وَلَئِنِ اسْتَعَاذَنِي لَأُعِيْذَنَّهُ.

Artinya:
” dan hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan ibadah-ibadah sunnah sehingga Aku pun mencintainya. Dan apabila Aku mencintainya maka Aku sebagai pendengarannya yang dia gunakan untuk mendengar, sebagai penglihatannya yang dia gunakan untuk melihat, sebagai tangannya yang dia gunakan untuk menyentuh, sebagai kakinya yang dia gunakan untuk berjalan. Apabila dia memohon sesuatu kepada-Ku pasti Aku akan kabulkan dan apabila dia memohon perlindungan pasti Aku akan melindunginya.” (Diriwayatkan oleh Al-Bukhariy, no. 6502, dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu).

Hadits di atas menunjukkan beberapa keutamaan bagi orang yang dicintai oleh Allah Subhanahu Wata’ala, di antaranya:
1. Allah Subhanahu Wata’ala akan meluruskan pendengarannya, penglihatannya, sehingga dia tidak akan mendengar dan melihat kecuali apa yang diridhai oleh Allah Subhanahu Wata’ala.

2. Demikian juga dia tidak gunakan tangannya untuk menyentuh atau mengambil kecuali apa yang bermanfaat dan diridhai oleh Allah Subhanahu Wata’ala, dan kakinya pun tidak akan melangkah kecuali kepada tempat-tempat yang dicintai oleh Allah Subhanahu Wata’ala.

3. Apabila dia berdoa maka pasti doanya akan dikabulkan.

4. Apabila dia meminta perlindungan maka pasti Allah akan melindunginya.

Wallahu a’lam.

-Bersambung insya Allah
————-
10 Shafar 1443H/17 September 2021M
————-
Oleh Abu Amatillah.

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Tulisan lainnya

jannatul-firdaus.net @2022

MENDAHULUKAN BERBAKTI KEPADA IBU


| Menu

| MENU

Bagikan…

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram




MENDAHULUKAN BERBAKTI KEPADA IBU

  • Oleh: Anshari, S.Th.I, MA.

عَنْ بَهْزِ بْنِ حَكِيمٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ، قَالَ: قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، مَنْ أبَرُّ؟ قَالَ: أُمُّكَ. قُلْتُ: ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ: أُمُّكَ. قُلْتُ: ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ: أُمُّكَ. قُلْتُ: ثُمَّ مَن؟ قَالَ: أبَاكَ، ثُمَّ الْأقرَبُ فَالْأقْرَبَ.

Artinya:
“Dari Bahz bin Hakim, dari ayahnya, dari kakeknya: “Aku bertanya kepada Rasulullah, ‘Wahai Rasulullah, Kepada siapa aku berbakti?’ Beliau bersabda: ‘Ibumu.’ Aku bertanya lagi, ‘Kemudian siapa?’ Beliau menjawab: ‘Ibumu.’ Aku bertanya lagi, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau bersabda: ‘Ibumu.’ Aku bertanya lagi, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau bersabda: ‘Ayahmu.’ Kemudian orang yang terdekat, kemudian orang yang terdekat.” (Hadits hasan diriwyatkan oleh Al-Bukhariy dalam al-Adabul Mufrad).

Faedah Hadits:

1. Kewajiban berbakti kepada kedua orang tua dan haramnya durhaka kepada mereka.

2. Ridha ibu lebih didahulukan dari ridha ayah.

3. Alasan mendahulukan Ibu dalam berbakti karena ia telah menjalani berbagai kesulitan ketika hamil, melahirkan dan menyusui.

3. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengulangi penyebutan ibu sebanyak tiga kali, kemudian ayah, kemudian kerabat terdekat.

4. Wasiat (untuk menjaga) ibu, karena lemah dan butuhnya dia.

5. Perintah untuk berbakti kepada sanak saudara sesuai dengan urutan keberatan mereka.

Diringkas dari:
– Kitab Rasysyul Barad Syarah Al-Adabul Mufrad Oleh Syeikh Muhammad Luqman As-Salafi rahimahullah.
– Syarah Al-Adabul Mufrad Oleh Syeikh Muhammad bin Sa’id Ruslan hafizhahullah.
———————
18 Dzulqa’dah 1442H/29Juni 2021M.
———————
Ditulis oleh: Abu Amatillah Anshari.

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Tulisan lainnya

jannatul-firdaus.net @2022

MEMINTA ILMU YANG BERMANFAAT, REZEKI YANG BAIK DAN AMALAN YANG DITERIMA


| Menu

| MENU

Bagikan…

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram




MEMINTA ILMU YANG BERMANFAAT, REZEKI YANG BAIK DAN AMALAN YANG DITERIMA

  • Oleh: Anshari, S.Th.I, MA.

Dari Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam senantiasa membaca doa berikut ini selepas shalat subuh:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا وَرِزْقًا طَيِّبًا وَعَمَلًا مُتَقَبَّلًا.

Artinya:
“Ya Allah, aku meminta kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rezeki yang baik dan amalan yang diterima.” (Diriwayatkan oleh Ahmad [26564], Ibnu Majah [925] dan dishahihkan oleh Syeikh Al-Albaniy rahimahullah).

Makna Kosakata:
١. اللَّهُمَّ
Kata اللهم asalanya adalah:
يا الله
kemudian huruf يا dihapus dan digantikan dengan huruf mim yang bertasydid. Sebab dihapusnya huruf ya, karena:
1. Karena seringnya digunakan.
2. Mencari berkah dengan memulai Nama Allah.
Kemudian huruf mim yang menunjukkan jamak sebagai isyarat akan terhimpunnya hati dalam berdoa. Dan huruf mim yang bertasydid di akhir kata sebagai pengganti huruf nida (huruf ya). (Lihat Syarul Mumti, Juz II, hal. 50 dan Jalaaul Afhaam, hal. 140-141).

Ibnul Qayyim rahimahullah juga berkata bahwa kata َّاللَّهُم yang bermakna يَا الله, ini tidak digunakan kecuali untuk meminta. Oleh karena itu, tidak boleh berkata:
اللهُمَّ غَفُورٌ رَحِيمٌ.
Ya Allah, Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Tapi harus mengucapkan:
اللهُمَّ اغْفِرْ لِي وَارْحَمْنِي.
Ya Allah, ampuni dan sayangilah aku.

٢. عِلْمًا نَافِعًا.
Ilmu yang bermanfaat. Ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang membuahkan amalan.
Ibnu Rajab rahimahullah berkata: “Ilmu yang bermanfaat menunjukkan pada dua hal:
Pertama: Mengenal Allah Subhanahu wa Ta’ala dan segala apa yang menjadi hak-Nya berupa nama-nama yang indah, sifat-sifat yang mulia, dan perbuatan-perbuatan yang agung. Dan hal ini mengharuskan adanya pengagungan, rasa takut, cinta, harap, dan tawakkal kepada Allah serta ridha terhadap takdir dan sabar atas segala musibah yang Allah Ta’ala berikan.
Kedua: Mengetahui segala apa yang diridhai dan dicintai Allah Subhanahu wa Ta’ala dan menjauhi segala apa yang dibenci dan dimurkai-Nya berupa keyakinan, perbuatan yang lahir dan bathin serta ucapan. Dan hal ini mengharuskan orang yang mengetahuinya untuk bersegera melakukan segala apa yang dicintai dan diridhai Allah Ta’ala dan menjauhi segala apa yang dibenci dan dimurkai-Nya. Apabila ilmu itu menghasilkan hal ini bagi pemiliknya, maka inilah ilmu yang bermanfaat. (Fadhlu ‘Ilmis Salaf ala ‘Ilmil Khalaf, hal. 34).

٣. وَرِزْقًا طَيِّبًا
Rezeki yang baik.
Rezeki yang baik (thayyib), maksudnya adalah baik dan bermanfaat bagi dirinya, serta tidak membahayakan bagi badan dan akal. (Tafsir Ibnu Katsir, Juz I, hal. 329).

Kata الطيِّب (yang baik), juga bermakna sesuatu yang suci dan tidak najis, tidak kotor yang menyebabkan hati jijik. (Aisar At-Tafaasiir,Juz I, hal. 117).

٤. وَعَمَلاً مُتَقَبَلاً.
Amalan yang diterima.
Amalan yang diterima adalah amalan yang memenuhi dua syarat, yaitu: 1) Ikhlash karena Allah, 2) Sesuai dengan syariat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. (Tafsiir Ibnu Katsiir, Juz III, hal. 138).

Makna Global
Dalam hadits ini, Nabi shallahu ‘alaihi wasallam memulai dengan ilmu yang bermanfaat, karena ilmu merupakan timbangan yang dengannya seorang dapat membedakan antara rezeki yang baik dengan rezeki yang buruk, amalan yang shaleh dan amalan yang thaleh (amalan buruk). Adapun orang yang tidak memiliki ilmu yang bermanfaat, bagaimana mungkin dia bisa membedakan antara rezeki yang halal dan haram, rezeki yang baik dan yang buruk. (Syarah al-Manzhumah al-Mimiyah, hal. 54-55).

Faedah Hadits:
1. Anjuran untuk selalu meminta ilmu yang bermanfaat.

2. Ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang membuahkan amalan.

3. Apabila kita meminta ilmu yang bermanfaat, maka hendaknya kita berlindung dari ilmu yang tidak bermanfaat.

4. Anjuran untuk mencari rezeki yang baik dan halal.

5. Hendaknya seseorang memerhatikan syarat diterimanya amalannya, yaitu: keikhlasan dan sesuai dengan tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.

6. Dalam hadits di atas terdapat isyarat “berilmu sebelum berucap dan beramal.”

Wallahu a’lam.
———————
20 Muharram 1443H/29 Agurtus 2021M.
———————
– Abu Amatillah Anshari

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Tulisan lainnya

jannatul-firdaus.net @2022

BALASAN SESUAI PERBUATAN


| Menu

| MENU

Bagikan…

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram




BALASAN SESUAI PERBUATAN

  • Oleh: Anshari, S.Th.I, MA.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

فَاذْكُرُوْنِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ.

Artinya:
“Karena itu, ingatlah kepada-Ku, niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.” (Surah Al-Baqarah, ayat 152).

Makna Ayat:
– Al-Imam Al-Baghawiy rahimahullah berkata: “Ingatlah kepada-Ku ketika engkau mendapatkan nikmat dan kelapangan, niscaya Aku akan mengingat kalian ketika dalam kondisi sulit dan mendapatkan musibah.” (Tafsir Al-Baghawiy, Juz I, hal. 166).

– Al Imam Ibnu Katsir rahimahullah menukil dari Sa’id bin Jubair rahimahullah, beliau berkata: “Ingatlah kepada-Ku dengan ketaatan, niscaya Aku akan (mengingatmu) dengan ampunan-Ku.” Dalam satu riwayat: “Dengan rahmat-Ku.” (Tafsir Ibnu Katsir, Juz I, hal. 320).

– Masih Ibnu Katsir rahimahullah menukil dari Imam Al-Hasan Al-Bashriy rahimahullah, beliau berkata: “Maksudnya, Ingatlah kalian atas apa yang Aku wajibkan atas kalian, niscaya Aku pun akan mengingat kalian atas apa yang telah Aku tetapkan bagi kalian atas diri-Ku.” (Tafsir Ibnu Katsir, Juz I, hal. 320).

– Syeikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’diy rahimahullah berkata: “Allah memerintahkan untuk mengingat-Nya dan Allah menjanjikan kepada mereka dengan balasan yang paling utama, yaitu Allah mengingat orang yang mengingat-Nya.” (Taisiir Al-Kariim Ar-Rahman, hal. 74).

– Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan orang-orang yang beriman untuk berdzikir kepada-Nya, dan menjanjikan kepada mereka balasan yang paling utama, yaitu pujian di hadapan para malaikat yang paling tinggi (kedudukannya) bagi orang yang berdzikir kepada-Nya. Dan khususkanlah bersyukur kepada-Ku wahai orang-orang yang beriman, secara lisan dan amalan, dan jangan kalian mengingkari nikmat-nikmat-Ku kepada kalian. (At-Tafsiir Al-Muyassar, hal. 23).

Faedah Ayat:
1. Balasan sesuai dengan perbuatan.

2. Hendaknya seseorang memperbanyak berdzikir kepada Allah dengan memuji-Nya dan banyak bersyukur kepada-Nya.

3. Haramnya melupakan Allah (tidak berdzikir) kepada-Nya dan tidak mensyukuri nikmat-Nya.
Wallahu a’lam.
————–
04 Dzulhijjah 1442H/14 Juli 2021M.
————–
Oleh: Abu Amatillah Anshari.

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Tulisan lainnya

jannatul-firdaus.net @2022

SEDIA PAYUNG SEBELUM HUJAN


| Menu

| MENU

Bagikan…

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram




SEDIA PAYUNG SEBELUM HUJAN

  • Oleh: Anshari, S.Th.I, MA.

بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله رب العالمين والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين.

أما بعد.

Agama Islam merupakan agama yang sangat sempurna dan komprehensif. Segala sesuatu yang dibutuhkan oleh manusia baik yang terkait dengan agama maupun dunia mereka telah dijelaskan dalam agama Islam. Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِيْنَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِيْ وَرَضِيْتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِيْنًا۝

Artinya:
“Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Aku cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agamamu.” (Surah al-Maidah, ayat 3).

Dan dalam hadits, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

قَدْ تَرَكْتُكُمْ عَلَی الْبَيْضَاءِ، لَيْلُهَا كَنَهَارِهَا لَا يَزِيْغُ عَنْهَا بَعْدِي إِلَّا هَالِك۞

Artinya:
“Sungguh aku telah meninggalkan kalian dalam keadaan yang sangat jelas, malamnya seperti siangnya, tidak ada yang menyimpang setelahku kecuali dia akan binasa.” (Diriwayatkan oleh Ahmad, no. 16519).

Dan salah satu yang telah dijelaskan oleh agama ini adalah tuntunan-tuntunan di musim hujan.
Di antara tuntunan di musim hujan yang patut diperhatikan oleh seorang muslim adalah sebagai berikut:

1. Banyak Bersyukur Kepada Allah.
Dalam Al-Qur’an disebutkan banyak dari manfaat dari hujan. Di antaranya:
1). Dapat Menyuburkan Tanah.
Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:

وَالَّذِيْ نَزَّلَ مِنَ السَّمَآءِ مَآءًۢبِقَدَرٍ ۚ فَاَنْشَرْنَا بِهٖ بَلْدَةً مَّيْتًا ۚ كَذٰلِكَ تُخْرَجُوْنَ۝

Artinya:
“Dan yang menurunkan air dari langit menurut ukuran (yang diperlukan) lalu dengan air itu Kami hidupkan negeri yang mati (tandus). Seperti itulah kamu akan dikeluarkan dari kubur.” (Surah az-Zukhruf, ayat 11).
Maksudnya bahwa Dia-lah Yang menurunkan hujan dari langit dengan ukuran, tidak melebihi batasan sehingga dapat menenggelamkan dan tidak pula sedikit sehingga tidak mencukupi kebutuhan. Sehingga hujan itu menjadi kehidupan kalian dan hewan-hewan kalian, dengan hujan itu pula Kami menumbuhkan tanah yang luas dari bumi yang kosong dari tanaman, sehingga Kami keluarkan pohon-pohon dan tanaman-tanaman dengan hujan yang Kami turunkan dari langit. Demikianlah kalian akan dikeluarkan dari kubur kalian wahai manusia setelah kematian kalian. (Tafsir al-Muyassar, hal. 490).

2). Dengan turunnya hujan maka akan terwujud kelangsungan hidup manusia, hewan, dan tumbuh-tumbuhan.

Karena air sangat dibutuhkan oleh makhluk hidup yang ada di muka bumi. Seperti halnya manusia dan hewan yang minum dengan air tawar. Selain itu air tawar juga digunakan untuk mengairi tanaman yang menjadi sumber makanan hewan dan manusia. Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:

وَأَنْزَلْنَا مِنَ السّمَاءِ مَاءً طَهُوْرًا. لِّنُحْيِيَ بِهٖ بَلْدَةً مَّيْتًا وَّنُسْقِيَهٗ مِمَّا خَلَقْنَآ اَنْعَامًاوَّاَنَاسِيَّ كَثِيْرًا۝

Artinya:
“Dan Kami turunkan air hujan yang bersih dari langit. Agar (dengan air itu) Kami menghidupkan negeri yang mati (tandus), dan Kami memberi minum sebagian apa yang telah Kami ciptakan, (berupa) hewan-hewan ternak dan manusia yang banyak.” (Surah al-Furqaan, ayat 48-49).

3) Air hujan dapat digunakan untuk bersuci, baik dari hadats maupun najis.
Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:

وَيُنَزِّلُ مِنَ السَّمَآءِ مَآءً لِيُطَهِّرَكُمْ بِهِ۝

Artinya:
“Dia-lah Yang menurunkan kepadamu hujan dari langit untuk mensucikan kamu dengan hujan itu.” (Surah al-Anfaal, ayat 11).
Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan makna “liyuthahhirakum bih” Yaitu mensucikamu dari hadats kecil maupun hadtas besar, yaitu thaharah zhahirah. (Tafsir Ibnu Katsir, Juz II, hal. 366).

2. Memperbanyak berdoa kepada Allah.
Baik doa-doa yang bersifat umum maupun doa-doa yang terkait dengan turunnya hujan.
Dari Ummul Mukminin, ’Aisyah radhiyallahu ’anha:

إِنَّ النَّبِىَّ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا رَأَى الْمَطَرَ قَالَ: اللَّهُمَّ صَيِّباً نَافِعاً۞

Artinya:
“Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam ketika melihat turunnya hujan, beliau mengucapkan, “Ya Allah turunkanlah pada kami hujan yang bermanfaat.” (Diriwayatkan oleh al-Bukhariy, no. 1032)
”Doa ini dianjurkan ketika turun hujan agar kebaikan dan keberkahan semakin bertambah, dan agar terhindar dari bahaya.” (Ibnu Hajar rahimahullah, Fathul Bariy, Juz II, hal. 737)

Dalam riwayat yang lain disebutkan lafaz:

اللهُمَّ صَيِّبًا هَنِيْئًا۞

Artinya:
“Ya Allah, jadikanlah hujan ini membawa berkah.” (Diriwayatkan oleh Abu Daud, no. 5099, An-Nasa’iy dalam Al-Kubra, no. 1828, Ibnu Majah, 3889).

Dan apabila hujan semakin lebat dan lama tidak berhenti, maka kita dianjurkan untuk berdoa dengan doa berikut ini:

اللَّهُمّ حَوَالَيْنَا وَلَا عَلَيْنَا,اللَّهُمَّ عَلَى الْآكَامِ وَالظِّرَابِ وَبُطُونِ الْأَوْدِيَةِ وَمَنَابِتِ الشَّجَرِ۞

Artinya:
“Ya Allah, turunkanlah hujan di sekitar kami, bukan di atas kami (untuk merusak kami). Ya Allah, arahkanlah hujan dataran tinggi, bukit-bukit, perut lembah dan tempat tumbuhnya pepohonan.” (Diriwayatkan oleh Bukhariy no. 1014)

Doa-doa di atas terkait dengan turunnya hujan.

Dan terdapat keterangan bahwa turunnya hujan merupakan waktu yang mustajab untuk berdoa. Sebagaimana dalam hadits dari Sahl bin Sa’d radhiyallahu ‘anhu, dia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda:

ثِنْتَانِ مَا تُرَدَّانِ الدُّعَاءُ عِنْدَ النِّدَاءِوَ تَحْتَ المَطَرِ۞

Artinya:
“Dua doa yang tidak akan ditolak, doa ketika adzan dan doa ketika ketika turunnya hujan.” (Diriwayatkan oleh al-Hakim dan al-Baihaqiy. Dan dihasankan oleh syeikh al-Albaniy rahimahullah).

3. Hendaknya seorang menjauhi perkara-perkara yang dapat merusak aqidahnya.
Di antaranya adalah meyakini bahwa di sana ada orang yang mampu menahan hujan selain Allah, demikian juga menyandarkan turunnya hujan kepada bintang-bintang.
Dari Zaid bin Khalid al-Juhaniy, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melakukan shalat subuh bersama kami di Hudaibiyah setelah hujan turun pada malam harinya. Tatkala hendak pergi, beliau menghadap jama’ah, kemudian mengatakan: “Apakah kalian mengetahui apa yang dikatakan Rabb kalian?” Kemudian mereka mengatakan,” Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui.” Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

أَصْبَحَ مِنْ عِبَادِى مُؤْمِنٌ بِى وَكَافِرٌ. فَأَمَّا مَنْ قَالَ مُطِرْنَا بِفَضْلِ اللَّهِ وَرَحْمَتِهِ. فَذَلِكَ مُؤْمِنٌ بِى وَكَافِرٌ بِالْكَوْكَبِ وَأَمَّا مَنْ قَالَ مُطِرْنَا بِنَوْءِ كَذَا وَكَذَا. فَذَلِكَ كَافِرٌ بِى مُؤْمِنٌ بِالْكَوْكَبِ۞

Artinya:
“Pada pagi hari, di antara hamba-Ku ada yang beriman kepada-Ku dan ada yang kafir. Siapa yang mengatakan ’Muthirna bi fadhlillahi wa rahmatih’ (Kita diberi hujan karena karunia dan rahmat Allah), makadialah yang beriman kepadaku dan kufur terhadap bintang-bintang. Sedangkan yang mengatakan ‘Muthirna binnau kadza wa kadza’ (Kami diberi hujan karena sebab bintang ini dan ini), maka dialah yang kufur kepadaku dan beriman pada bintang-bintang.” (Diriwayatkan oleh al-Bukhariy, no. 846 dan Muslim, no. 71).

4. Doa lain yang berkaitan dengan hujan
1). Doa ketika ada petir:

سُبْحَانَ الَّذِي يُسَبِّحُ الرّعْدُ وَالْمَلاَئِكَةُ مِنْ خِيْفَتِهِ۞

Artinya:
“Mahasuci Allah yang petir bertasbis dan memuji-Nya, demikian juga para Malaikat, karena takut kepada-Nya.” (Diriwayatkan oleh Imam Malik).

2). Doa ketika angin bertiup.
Dari Ubai bin Ka’ab radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jangalah kalian mencela angin, apabila kalian melihat angin maka ucapkanlah:

اللهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُ مِنْ خَيْرِ هَذِهِ الرِّيْحِ وَخَيْرِ مَا فِيْهَا وَخَيْرِ مَا أُمِرَتْ بِهِ، وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ هَذِهِ الرِّيْحِ وَشَرِّ مَا فِيْهَا وَشَرِّ مَا أُمِرَتْ بِهِ۞

Artinya:
“Ya Allah, kami memohon kepada-Mu kebaikan angin ini, kebaikan di dalamnya, dan kebaikan yang datang bersamanya. Dan aku berlindung kepada-Mu dari keburukan angin ini, keburukan yang ada di dalamnya, dan keburukan yang datang bersamanya.” (Diriwayatkan oleh at-Tirmidziy, no. 2252 dan Ahmad, no. 21176).

3) Doa apabila angin bertiup kencang:
Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha dia berkata, ketika angin bertiup kencang, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berdoa:

أَللهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ خَيْرَهَا وَخَيْرَ مَا فِيْهَا، وَخَيْرَ مَا أُرْسِلَتْ بِهِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا وَشَرِّ مَا فِيْهَا وَشَرِّ مَا أُرْسِلَتْ بِهِ۞

Artinya:
“Ya Allah, aku memohon kepadamu kebaikan (angin ini), kebaikan di dalamnya, dan kebaikan yang datang sebagai akibatnya. Aku berlindung kepadamu dari keburukannya, keburukan di dalamnya, dan keburukan yang datang sebagai akibatnya.” (Diriwayatkan oleh Muslim, no. 899).

4). Doa ketika melihat awan.
Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha dia berkata: bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam apabila melihat awan bertebaran di langit beliau menghentikan aktifitasnya, walaupun dalam keadaan shalat, kemudian beliau membaca:

اللهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا۞

Artinya:
“Ya Allah, aku memohon perlindungan dari keburukannya.” (Diriwayatkan oleh Abu Daud, no. 5099, An-Nasa’iy dalam Al-Kubra, no. 1828, Ibu Majah, no. 3889).

5. Doa setelah hujan.

مُطِرْنَا بِفَضْلِ اللَّهِ وَرَحْمَتِهِ۞

Artinya:
“Kita diberi hujan karena karunia dan rahmat Allah.”
Wallahu a’lam.

Washallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘alaa alihi washahbihi ajma’iin.

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Tulisan lainnya

jannatul-firdaus.net @2022

Orang Kafir pun tidak Boleh Anda Zalimi!


| Menu

| MENU

Bagikan…

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram




Orang Kafir pun tidak Boleh Anda Zalimi!

  • Ustadz Abdul Qodir Abu Fa’izah, Lc. hafizhahullah
  • [Pembina Ponpes Al-Ihsan Gowa]

Kemarin (Ahad, 28 Maret 2021), kita dikagetkan oleh sebuah ledakan besar di depan Gereja Katedral, Jalan RA. Kartini, Makassar. Peledakan itu terjadi sekitar pukul 10:28 WITA. Konon kabarnya, ledakan itu terjadi saat kaum Nasrani beribadah di gereja tersebut, dan datanglah dua orang yang berkendaraan sepeda motor ingin masuk ke lokasi gereja, dan ditahan oleh petugas keamanan, dan ternyata keduanya meledak karena akibat ledakan bom yang mereka bawa serta saat itu.

Hari itu, muncul banyak spekulasi tentang kejadian itu dan siapa oknum serta dalangnya? Apakah ia muslim atau kafir. Pemerintah mengimbau agar masyarakat tenang dan jangan membuat pernyataan atau memosting sesuatu yang dapat memancing keruhnya suasana. Karena, boleh jadi hal itu hanya merupakan pancingan untuk merusak keamanan dan kedamaian masyarakat yang selama ini terpelihara.

Terlepas siapa pelaku di balik bom bunuh diri tersebut, apakah ia muslim atau kafir, maka kita nyatakan bahwa hal itu tidak dibenarkan di dalam Islam. Peledakan itu adalah sebuah kerusakan dan perusakan yang dilarang di dalam Islam!

Allah _ta’ala_  berfirman,

{وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا} [الأعراف: 56]

“Dan janganlah kalian berbuat kerusakan di bumi setelah (diciptakan) dengan baik.” [QS. Al-A’raaf : 56]

Ahli Tafsir Jazirah Arab, Al-Imam Ibnu Nashir As-Sa’diy _rahimahullah_ berkata saat menafsirkan ayat yang mulia ini,

“{وَلا تُفْسِدُوا فِي الأرْضِ} بعمل المعاصي {بَعْدَ إِصْلاحِهَا} بالطاعات، فإن المعاصي تفسد الأخلاق والأعمال والأرزاق.” اهـ من تيسير الكريم الرحمن (ص: 292)

“Dan janganlah kalian berbuat kerusakan di bumi dengan melakukan maksiat-maksiat setelah diperbaiki dengan ketaatan-ketaatan. Karena, maksiat-maksiat itu akan merusak akhlak, amalan-amalan dan rezeki.” [Lihat Taisir Al-Karim Ar-Rahman (hlm. 292)]

Di antara kemaksiatan-kemaksiatan itu, dosa yang bernama “kezaliman”! Tahukah anda apa kezaliman itu? Kezaliman adalah engkau meletakkan sesuatu bukan pada tempatnya.

Di antara bentuk kezaliman itu, seseorang menyakiti orang lain dengan suatu perbuatan atau suatu ucapan yang tidak pantas ia terima.

Demikian pula merusak barang-barang orang lain, dan membunuh mereka, padahal mereka tidak pantas dan tidak berhak untuk dibunuh.

Mungkin ada sebagian pihak berkilah, “Bukankah kita diperintah berjihad melawan kaum kafir, bahkan sampai membunuhnya?”

Betul, tapi semua itu dalam kerangka jihad yang dipimpin oleh pemerintah resmi yang muslim saat terjadinya seruan jihad dalam menghadapi kaum kafir harbi, seperti para penjajah kafir Belanda dahulu.

Di sinilah, para ulama membagi kaum kafir itu menjadi beberapa golongan :

 

1/ Kafir dzimmi : kaum kafir yang senegara dengan kita dan di bawah perlindungan pemerintah.

2/ Kafir mu’ahad : kaum kafir yang memiliki perjanjian kerjasama bilateral antara negeri kita dengan negeri mereka.

3/ Kafir musta’min : kafir yang meminta jaminan dan suaka keamanan kepada seorang muslim atau kepada pemerintah, lalu ia diberi jaminan keamanan oleh pemerintah untuk tinggal di negeri kita, dan ia berasal dari negeri kafir yang memerangi kaum muslimin. Namun, ia melarikan diri ke negeri kita untuk mencari suaka keamanan.

Saat pemerintah telah memberinya suaka dengan harapan si kafir bisa melihat keindahan Islam dan kebaikan akhlak kaum muslimin, maka tidak boleh ada rakyat yang mengganggunya dan menzaliminya.

4/ Kafir harbi : kaum kafir yang memerangi negeri kita, semuisal para penjajah kafir yang dulu datang menindas dan memerangi negeri kita. Jenis ini boleh kita perangi dan bunuh dengan rincian bahwa mereka yang terlibat dalam peperangan, maka itulah yang boleh kita perangi. Adapun mereka yang tidak terlibat (seperti, para pekerja atau para pedagang, dokter di rumah sakit, anak-anak kecil, wanita-wanita, para lansia, orang-orang sakit atau cacat, dan para ahli ibadah atau pendeta yang hanya sibuk mengajar di gereja mereka), maka mereka yang tidak terlibat nyata dalam aksi perang, tidak boleh kita sakiti, zalimi, apalagi dibunuh!

Dari empat golongan kafir ini, hanya satu yang boleh kita perangi dalam jihad bersama pemerintah muslim yang sah, yaitu kafir harbi saja!

Adapun kafir dzimmi, kafir mu’ahad, dan kafir musta’min, maka tidak boleh bagi kita menyakiti dan menzaliminya, kecuali bila mereka melakukan pelanggaran dan kriminal yang mengharuskan dirinya dihukum, atau bahkan mungkin dibunuh. Namun, hukuman atas pelanggaran dan kriminal yang ia lakukan harus diterapkan dan ditangani oleh pemerintah, bukan orang-perorangan. Karena, hak menghukum orang merupakan hak prerogatif pemerintah, bukan hak rakyat!

Jadi, tidak semua orang kafir boleh diperangi!

Inilah tuntunan yang dahulu ditetapkan oleh Rasul –shallallahu alaihi wa sallam- terkait dengan mu’amalah dan interaksi dengan kaum kafir di kota Madinah. Karena, di Madinah juga pada masa itu, ada orang-orang kafir yang hidup rukun dan berdampingan dengan kaum muslimin, bahkan kaum muslimin membuat perjanjian damai dengan kaum kafir yang ada di sekitar kota Madinah.

Turun ayat tentang hal itu, melalui firman Allah –azza wa jalla-,

{وَأَوْفُوا بِعَهْدِ اللَّهِ إِذَا عَاهَدْتُمْ وَلَا تَنْقُضُوا الْأَيْمَانَ بَعْدَ تَوْكِيدِهَا} [النحل: 91]

“Dan tepatilah janji dengan Allah apabila kalian berjanji dan janganlah kalian melanggar sumpah, setelah dikuatkan (dikrarkan).” (QS. An-Nahl : 91)

Al-Hafizh Abul Fida’ Ibnu Katsir _rahimahullah_ berkata,

وَهَذَا مِمَّا يَأْمُرُ اللَّهُ تَعَالَى بِهِ، وَهُوَ الْوَفَاءُ بِالْعُهُودِ وَالْمَوَاثِيقِ، وَالْمُحَافَظَةُ عَلَى الْأَيْمَانِ الْمُؤَكَّدَةِ.” اهـ من تفسير ابن كثير ت سلامة (4/ 598)

“Ini merupakan di antara perkara-perkara yang Allah –ta’ala- perintahkan, yaitu menepati perjanjian-perjanjian dan memelihara sumpah-sumpah yang diikrarkan.” [Lihat Tafsir Ibnu Katsir (4/598)]

Perjanjian itu senantiasa dijaga oleh kaum muslimin sampai Banu Nadhir dari kaum Yahudi membatalkannya dengan makar mereka yang merencanakan pembunuhan terhadap Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam-.

Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- dan kaum muslimin mengusir Banu Nadhir. Namun, mereka bertahan dan melakukan perlawanan. Akhirnya, kaum muslimin memerangi mereka dalam beberapa hari.

Pada momen yang lain, Banu Qoinuqo’ yang merupakan salah satu anak suku kaum Yahudi. Mereka juga hidup rukun dan damai dengan kaum muslimin di Kota Madinah.

Namun, Banu Qoinuqo’ sering menciptakan berbagai kasus dan kericuhan sampai pernah berusaha mengadu domba antara kaum Khozroj dan kaum Aus yang notabene keduanya dari kalangan muslimin.

Banu Qoinuqo’ terus-menerus membuat berbagai kegaduhan dan puncaknya di suatu hari kaum Yahudi dari Banu Qoinuqo’ mengganggu seorang wanita muslimah dan berusaha menelanjanginya dengan mengaitkan pakaian wanita itu dengan ujung kursi.

Kemudian si wanita berteriak dan meminta pertolongan atas kelakuan orang-orang Bani Qoinuqo’. Lalu bangkitlah seorang muslim menolong si wanita, dan terjadi perkelahian sampai terbunuhlah si Yahudi. Kemudian Banu Qoinuqo’ bersatu membunuh si muslim tersebut sampai akhirnya mereka membunuhnya.

Sebagai pelajaran bagi mereka, maka Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- akan memberikan hukuman bagi mereka. Namun, mereka melakukan perlawanan, dan kaum muslimin mengepung mereka di dalam benteng-benteng mereka selama 15 hari.

Kemudian datanglah seorang munafik kepada Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- agar membiarkan Banu Qoinuqo’, sehingga beliau membiarkan mereka.

Setelah kejadian itu, mereka merasa ketakutan atas pelanggaran yang mereka lakukan kepada kaum muslimin. Akhirnya, mereka melarikan diri dari kota Madinah menuju negeri Syam dan sebagian lagi ke kota Khoibar.

Jadi, mereka dahulu sebelum berbuat kekacauan, hidup damai dan rukun dengan penduduk asli kota Madinah.

Sementara itu, di sana terdapat anak suku dari bangsa Yahudi yang dikenal dengan Banu Quroizhoh. Dahulu juga hidup rukun dan damai dengan kaum muslimin di kota Madinah sampai mereka berbuat makar dan bekerja sama dengan kaum kafir Quraisy beserta sekutu-sekutunya dalam Perang Khondaq atau Perang Ahzab. Padahal, sudah menjadi bagian dari perjanjian antara mereka dengan kaum muslimin bahwa jika ada pihak lain yang ingin menyerang kota Madinah, maka semua bahu-membahu dalam memerangi musuh tersebut. Namun, ternyata Banu Quroizhoh malah membantu kaum Quroisy dalam memerangi kota Madinah.

Ketika Perang Khondaq selesai dengan kaburnya kaum kafir Quroisy beserta sekutu-sekutunya, maka Allah memerintahkan Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- untuk segera memerangi Banu Quroizhoh yang telah melanggar perjanjian damai dengan ikut sertanya mereka bersama kafir Quroisy dalam Perang Khondaq.

Dari tiga kisah di atas, kita mendapatkan penjelasan bahwa kaum muslimin adalah kaum yang selalu menepati dan memenuhi janji sampai kaum kafir itu sendiri yang mengkhianatinya.

Para pembaca yang budiman, bila pemerintah mereka menetapkan sebuah ketentuan untuk hidup damai, maka ketentuan dan ketetapan itu harus kita penuhi. Karena, dengan ketentuan itu pemerintah muslim berjanji untuk menjaga dan melindungi semua rakyat, baiik muslim atau kafir. Nah, janji seorang pemimpin negara juga janji yang harus dipegangi oleh semua rakyatnya.

Dari sini, semua rakyat harus berusaha menjaga perjanjian ini dengan menjaga kerukunan dan kedamaian negeri ini. Jika ada di antara mereka yang berbuat kejahatan dan kriminal atas yang lainnya, maka tidak boleh ada di antara mereka yang bermain hakim sendiri, tapi hal itu ia kembalikan urusan dan ketentuannya kepada pemerintah.

Ketika suatu masyarakat hidup berdampingan, maka tidak boleh mengganggu, menyakiti atau menzalimi pihak lain.

Hal ini pernah ditegaskan oleh Nabi –shallallahu alaihi wa sallam– dalam sebuah sabdanya,

«أَلَا مَنْ ظَلَمَ مُعَاهِدًا، أَوِ انْتَقَصَهُ، أَوْ كَلَّفَهُ فَوْقَ طَاقَتِهِ، أَوْ أَخَذَ مِنْهُ شَيْئًا بِغَيْرِ طِيبِ نَفْسٍ، فَأَنَا حَجِيجُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ»

“Ingatlah, siapapun yang menzalimi seorang kafir yang diberi jaminan keamanan, atau merendahkannya, atau membebaninya melebihi kemampuannya, atau mengambil darinya sesuatu apapun tanpa kerelaan jiwanya, maka aku akan menjadi lawannya pada hari kiamat.”

[HR. Abu Dawud dalam Sunan-nya (no. 3052). Hadits ini di-hasan-kan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Shohih At-Targhib wa At-Tarhib (no. 3006)]

Para ulama kita menggolongkan kezaliman atau pengkhianatan terhadap kaum kafir sebagai dosa besar berdasarkan hadits di atas, sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnu Hajar Al-Haitamiy dalam kitabnya yang berjudul “Az-Zawajir ‘an Iqtirof Al-Kaba’ir” (2/292) saat mengulas dosa besar yang ke-402-403 .

Darah seorang kafir (selain kafir harbi) adalah terlindungi dalam Islam. Saat pemerintah telah menjaga darah mereka, maka haram hukumnya seorang mukmin melukai atau membunuhnya.

Rasululullah –shallallahu alaihi wa sallam– bersabda,

«أَيُّمَا رَجُلٍ أَمِنَ رَجُلًا عَلَى دَمِهِ ثُمَّ قَتَلَهُ، فَأَنَا مِنَ الْقَاتِلِ بَرِيءٌ، وَإِنْ كَانَ الْمَقْتُولُ كَافِرًا»

“Siapapun yang menjamin (menjaga) darah orang lain, lalu ia membunuhnya, maka aku berlepas diri dari si pembunuh, walaupun yang terbuh adalah seorang kafir.” [HR. Ibnu Hibban dalam Shohih-nya (no. 5982), dan hadits ini dinyatakan hasan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Ash-Shohihah (no. 440) ]

Termasuk dalam cakupan hadits ini, pemerintah saat menjamin orang-orang non-muslim (baik itu dari kalangan rakyatnya atau turis yang datang), maka semua rakyat wajib menjaganya dan tidak menzaliminya. Siapa yang menzaliminya, apalagi sampai membunuhnya, maka Rasul –shallallahu alaihi wa sallam- berlepas diri dari si pembunuh.

Ini semakin menegaskan bahwa menyakiti dan menzalimi kaum kafir adalah dosa besar.

Para ulama menggolongkan kezaliman yang dilakukan seorang muslim kepada kaum kafir sebagai bentuk pengkhianatan. Karena, pemerintah telah menjamin keamanannya, lalu ada yang datang mengganggu dan menzaliminya, tanpa alasan yang dibenarkan dalam syariat.

Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam– bersabda,

” إِذَا جَمَعَ اللهُ الْأَوَّلِينَ وَالْآخِرِينَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، يُرْفَعُ لِكُلِّ غَادِرٍ لِوَاءٌ، فَقِيلَ: هَذِهِ غَدْرَةُ فُلَانِ بْنِ فُلَانٍ “

“Apabila Allah telah mengumpulkan orang-orang yang terdahulu dan orang-orang belakangan pada hari kiamat, maka akan diangkat sebuah bendera bagi setiap pengkhianat, lalu dikatakan (diumukan), “Inilah bendera pengkhianatan fulan bin fulan.” [HR. Muslim (no. 1735)]

Faishol bin Abdil Aziz Al-Mubarok Al-Huroimiliy _rahimahullah_ berkata,

“نشر اللواء زيادة في فضيحة الغادر وشناعة أمره، وشهرته بذلك عند الخلق يوم القيامة.

وفي هذه الأحاديث: بيان غلظ تحريم الغدر.” اهـ من تطريز رياض الصالحين (ص: 889)

“Dikibarkannya bendera (untuk si pengkhianat) sebagai tambahan dalam rangka membongkar aib si pengkhianat dan kekejian urusannya, serta menyingkap hal itu di depan manusia pada hari kiamat.

Di dalam hadits-hadits ini terdapat penjelasan besarnya pengharam khianat.” [Lihat Tathriz Riyadh Ash-Sholihin (hlm. 889)]

Ketika pemerintah memberikan jaminan keamanan kepada orang-orang kafir (baik itu kafir dzimmi, mu’ahad, ataupu kafir musta’min), maka semua rakyat wajib menjaga dan memelihara jaminan keamanan tersebut sehingga mereka tidak boleh mengganggu dan menyakiti atau menzalimi orang-orang kafir tersebut. Karena, itu adalah amanah yang pemerintah letakkan di atas pundak seluruh rakyatnya.

Siapa yang mengganggu atau menzalimi orang-orang kafir alias non-muslim, maka ia telah melakukan pengkhianatan terhadap amanah tersebut.

Sifat khianat bukanlah sifat orang-orang yang beriman, tapi ia adalah sifat kaum munafikin yang selalu menginginkan kegaduhan dan kerusakan di negeri kaum muslimin.

Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda,

” آيَةُ المُنَافِقِ ثَلاَثٌ: إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ، وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ، وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ “

“Tanda orang munafik ada tiga : jika berbicara, maka ia dusta; jika berjanji, maka ia menyalahinya; dan jika diberi amanah, maka berkhianat.” [HR. Al-Bukhoriy dalam Shohih-nya (no. 33), dan Muslim dalam Shohih-nya (no. 59)]

Al-Munawiy _rahimahullah_ berkata,

“مقصود الحديث : الزجر عن هذه الخصال على آكد وجه وأبلغه لأنه بين أن هذه الأمور طلائع النفاق وأعلامه.” اهـ من التيسير بشرح الجامع الصغير للمناوى – (1 / 274)

“Maksud hadits ini adalah kecaman terhadap tiga perangai ini berdasarkan segi yang paling kuat dan paling dalam. Karena, Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- telah menjelaskan bahwa perkara-perkara ini adalah perintis kemunafikan dan simbol-simbolnya.” [Lihat At-Taisir bi Syarh Al-Jami’ Ash-Shoghir (1/274)]

Para pembaca yang budiman, kami tidak habis pikir, dari mana para pelaku bom bunuh diri ini berdalil atas aksi mereka dalam membunuh kaum kafir yang tidak bersalah?!

Padahal Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam– telah memberikan ancaman keras bagi para pembunuh kaum kafir tanpa haqq, melalui sabdanya,

«مَنْ قَتَلَ نَفْسًا مُعَاهَدًا لَمْ يَرِحْ رَائِحَةَ الجَنَّةِ، وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ أَرْبَعِينَ عَامًا»

“Barang siapa yang membunuh jiwa (kafir) yang diberi jaminan keamanan, maka ia (si pembunuh) tidak akan mencium harumnya surga, padahal sungguh harumnya surga bisa dirasakan dari perjalanan 40 tahun.”

[HR. Al-Bukhoriy dalam Shohih-nya (no. 6914)]

 

Demikianlah acaman demi ancaman yang diberikan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam-. Namun, semua ini tidaklah membuat para teroris sadar dan bertobat. Ini menunjukkan bahwa mereka adalah orang-orang berhati keras dan hanya mengikuti hawa nafsunya, bukan mengikuti petunjuk Allah dan Rasul-Nya –shallallahu alaihi wa sallam-, walaupun sering kali kita dengarkan dari mereka bahwa mereka adalah pejuang Islam.

Namun, ketahuilah bahwa itu hanyalah pengakuan tanpa bukti. Oleh karena itu, aku nasihatkan kepada seluruh kaum muslimin dan terkhusus para pelaku teror agar kembali belajar dengan benar kepada para ulama Islam yang lurus agar aqidah kalian lurus dan benar. Sebab, tidak ada yang melakukan kezaliman dan pembunuhan kaum kafir tanpa haqq, kecuali karena kesalahpahaman mereka tentang Islam dan syariat-syariatnya!

Andaikan mereka memahaminya dengan baik, maka pasti mereka akan jauh dari sikap arogan yang mencoreng nama Islam melalui aksi teror yang mereka lakukan dimana-mana.

Sadarlah dan ingatlah bahwa semua kelakuan kita di dunia akan ada pertanggungjawabannnya di sisi Allah.

Nabi –shallallahu alaihi wa sallam– bersabda,

«الظُّلْمُ ظُلُمَاتٌ يَوْمَ القِيَامَةِ»

“Kezaliman itu adalah kegelapan-kegelapan pada hari kiamat.” [HR. Al-Bukhoriy (no. 2447) dan Muslim (no. 2579)]

Belajar dan belajarlah dengan baik kepada ulama yang beraqidah lurus (ulama sunnah) agar anda tidak menjadi teroris!

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Tulis komentar

Logged in as admin. Log out »





Tulisan lainnya

jannatul-firdaus.net @2022

Anjuran dan Keutamaan Berdzikir


| Menu

| MENU

Bagikan…

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram



Anjuran dan Keutamaan Berdzikir

  • Oleh: Ustadz Dzulqarnain M. Sunusi hafizhahullah
  • [Pembina Peduli Dakwah]

Di antara bekal penting bagi seorang muslim dan muslimah dalam mengarungi samudra kehidupan adalah dzikir kepada Allah. Bukanlah hal samar akan keagungan dan kemuliaan kedudukan dzikir dalam tuntunan Al-Qur`an dan Sunnah, yang keduanya telah menjelaskan tentang keutamaan, tata cara, dan bentuk-bentuknya dengan uraian yang sangat meluas dan mengesankan.

Adapun anjuran dan keutamaan dzikir dan berdzikir, itu merupakan suatu hal yang sangat menerangi jiwa seorang hamba tatkala dicermati dan direnungi olehnya.

Dalam Al-Qur`an Al-Karim, terdapat beberapa sisi penjelasan tentang keutamaan dzikir dan berdzikir, di antaranya:

Pertama: Allah memerintahkan untuk berdzikir. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

وَاذْكُرِ اسْمَ رَبِّكَ وَتَبَتَّلْ إِلَيْهِ تَبْتِيلًا.

“Berdzikirlah (dengan menyebut) nama Rabb-mu dan beribadahlah kepada-Nya dengan penuh ketekunan.” [Al-Muzzammil: 8]

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا. وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلًا. هُوَ الَّذِي يُصَلِّي عَلَيْكُمْ وَمَلَائِكَتُهُ لِيُخْرِجَكُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ وَكَانَ بِالْمُؤْمِنِينَ رَحِيمًا.

“Wahai orang-orang yang beriman, berdzikirlah kepada Allah dengan dzikir yang sebanyak-banyaknya, dan bertasbihlah kepada-Nya pada pagi dan petang. Dialah yang memberi rahmat kepada kalian, sedang malaikat-Nya (memohonkan ampunan untuk kalian), supaya Dia mengeluarkan kalian dari kegelapan kepada cahaya (yang terang). Dan adalah Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman.” [Al-Ahzâb: 41-43]

وَاذْكُرْ رَبَّكَ كَثِيرًا وَسَبِّحْ بِالْعَشِيِّ وَالْإِبْكَارِ.

“Dan berdzikirlah kepada Rabb-mu sebanyak-banyaknya serta bertasbihlah pada petang dan pagi hari.” [Ali Imrân: 41]

وَاذْكُرِ اسْمَ رَبِّكَ بُكْرَةً وَأَصِيلًا.

“Dan berdzikirlah (dengan menyebut) nama Rabb-mu pada pagi dan petang.” [Al-Insân: 25]

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا لَقِيتُمْ فِئَةً فَاثْبُتُوا وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ.

“Wahai orang-orang yang beriman, apabila kalian memerangi pasukan (musuh), berteguhhatilah kalian dan berdzikirlah kepada Allah sebanyak-banyaknya agar kalian beruntung.” [Al-Anfâl: 45]

Kedua: Allah Subhânahu wa Ta’âlâ melarang untuk melalaikan atau melupakan dzikir,

وَاذْكُرْ رَبَّكَ فِي نَفْسِكَ تَضَرُّعًا وَخِيفَةً وَدُونَ الْجَهْرِ مِنَ الْقَوْلِ بِالْغُدُوِّ وَالْآصَالِ وَلَا تَكُنْ مِنَ الْغَافِلِينَ.

“Dan berdzikirlah kepada Rabb-mu pada dirimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dengan tidak mengeraskan suara, pada pagi dan petang, serta janganlah engkau termasuk sebagai orang-orang yang lalai.” [Al-A’râf: 205]

Ibnul Qayyim rahimahullâh menyebutkan dua penafsiran frasa “pada dirimu”:

  1. Bermakna dalam hatimu.
  2. Bermakna dengan lisanmu sebatas memperdengarkan diri sendiri.

Allah Subhânahu berfirman pula,

وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللَّهَ فَأَنْسَاهُمْ أَنْفُسَهُمْ أُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ.

“Dan janganlah kalian seperti orang-orang yang lupa terhadap Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa terhadap diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang fasik.” [Al-Hasyr: 19]

Sifat orang-orang yang beriman adalah tidak terlalaikan dari dzikirnya oleh suatu apapun. Allah ‘Azza wa Jalla menjelaskan,

فِي بُيُوتٍ أَذِنَ اللَّهُ أَنْ تُرْفَعَ وَيُذْكَرَ فِيهَا اسْمُهُ يُسَبِّحُ لَهُ فِيهَا بِالْغُدُوِّ وَالْآصَالِ. رِجَالٌ لَا تُلْهِيهِمْ تِجَارَةٌ وَلَا بَيْعٌ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ يَخَافُونَ يَوْمًا تَتَقَلَّبُ فِيهِ الْقُلُوبُ وَالْأَبْصَارُ.

“Bertasbih kepada Allah di masjid-masjid, yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya, pada pagi dan petang, laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan tidak pula oleh jual beli dari mengingat Allah, (dari) mendirikan shalat, dan (dari) membayarkan zakat. Mereka takut terhadap suatu hari yang (pada hari itu) hati dan penglihatan menjadi guncang.” [An-Nûr: 36-37]

Ketiga: Allah Ta’âlâ mengabarkan bahaya terhadap orang-orang yang berpaling dari dzikir,

وَمَنْ يَعْشُ عَنْ ذِكْرِ الرَّحْمَنِ نُقَيِّضْ لَهُ شَيْطَانًا فَهُوَ لَهُ قَرِينٌ.

“Barangsiapa yang berpaling dari dzikir kepada (Allah) Yang Maha Pemurah (Al-Qur`an), Kami mengadakan syaithan (yang menyesatkan) baginya maka syaithan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya.” [Az-Zukhruf: 36]

لِنَفْتِنَهُمْ فِيهِ وَمَنْ يُعْرِضْ عَنْ ذِكْرِ رَبِّهِ يَسْلُكْهُ عَذَابًا صَعَدًا.

“Agar Kami memberi cobaan kepada mereka padanya. Dan barangsiapa yang berpaling dari dzikir kepada Rabb-nya, niscaya dia akan dimasukkan oleh-Nya ke dalam azab yang amat berat.” [Al-Jin: 17]

وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى.

“Dan barangsiapa yang berpaling dari dzikir kepada-Ku, sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.” [Thâhâ: 124]

Keempat: perintah Allah untuk menghindari orang-orang yang lalai terhadap dzikir. Allah Subhânahu wa Ta’âlâ berfirman,

فَأَعْرِضْ عَنْ مَنْ تَوَلَّى عَنْ ذِكْرِنَا وَلَمْ يُرِدْ إِلَّا الْحَيَاةَ الدُّنْيَا.

“Maka berpalinglah engkau dari orang yang berpaling dari dzikir kepada Kami dan tidak menginginkan (apa-apa), kecuali kehidupan duniawi.” [An-Najm: 29]

وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطًا.

“Dan janganlah engkau mengikuti orang-orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari dzikir kepada Kami serta yang menuruti hawa nafsunya, dan adalah keadaannya itu melewati batas.” [Al-Kahf: 28]

Kelima: Allah Jalla Jalâluhu mengadakan keberuntungan bagi siapa saja yang memperbanyak atau terus menerus berdzikir kepada-Nya,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا لَقِيتُمْ فِئَةً فَاثْبُتُوا وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ.

“Wahai orang-orang yang beriman, apabila kalian memerangi pasukan (musuh), berteguhhatilah kalian dan berdzikirlah kepada Allah sebanyak-banyaknya agar kalian beruntung.” [Al-Anfâl: 45]

اذْهَبْ أَنْتَ وَأَخُوكَ بِآيَاتِي وَلَا تَنِيَا فِي ذِكْرِي.

“Pergilah engkau beserta saudaramu dengan membawa ayat-ayat-Ku, serta janganlah kalian berdua lalai dalam berdzikir kepada-Ku.” [Thâhâ: 42]

Keenam: pujian Allah Subhânahu wa Ta’âlâ kepada orang-orang yang berdzikir dan penyebutan pahala untuk mereka,

إِنَّ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ … وَالذَّاكِرِينَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ أَعَدَّ اللَّهُ لَهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا.

“Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim,… laki-laki dan perempuan yang banyak berdzikir kepada Allah, Allah telah menyediakan ampunan dan pahala yang besar untuk mereka.” [Al-Ahzâb: 35]

Ketujuh: Allah ‘Azza wa Jalla mengabarkan kerugian orang yang lalai terhadap dzikir,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ.

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah harta-harta dan anak-anak kalian melalaikan kalian dari berdzikir kepada Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian, mereka itulah orang-orang yang rugi.” [Al-Munâfiqîn: 9]

Kedelapan: Allah akan senantiasa mengingat dan menyebut orang-orang yang berdzikir sebagai balasan untuk amalan mereka. Allah Jallat ‘Azhamatuhu berfirman,

فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ.

“Oleh karena itu, berdzikirlah kalian kepada-Ku, niscaya Aku mengingat kalian (pula), bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kalian mengingkari (nikmat)-Ku.” [Al-Baqarah: 152]

Kesembilan: Allah Subhânahu wa Ta’âlâ mengabarkan bahwa dzikir lebih besar daripada segala sesuatu,

اتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ وَأَقِمِ الصَّلَاةَ إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.

“Bacalah apa-apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al-Kitab (Al-Qur`an), dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya dzikir kepada Allah adalah lebih besar. Dan Allah mengetahui segala sesuatu yang kalian kerjakan.” [Al-‘Ankabût: 45]

Tentang makna “Dan sesungguhnya dzikir kepada Allah adalah lebih besar”, ada beberapa penafsiran di kalangan ulama[1]:

  1. Bahwa dzikir kepada Allah lebih besar daripada segala sesuatu karena maksud segala ketaatan yang dilakukan untuk Allah adalah guna menegakkan dzikir kepada-Nya. Oleh karena itu, dzikir adalah sebaik-baik, inti, dan ruh ketaatan.
  2. Bahwa penyebutan kalian dengan dzikir kepada Allah akan menyebabkan Allah menyebut dan mengingat kalian, sedang penyebutan Allah kepada kalian adalah lebih besar daripada dzikir kalian kepada-Nya.
  3. Bermakna bahwa dzikir kepada Allah itu sangatlah besar dan agung sehingga tidaklah pantas ada kekejian dan kemungkaran yang melekat bersamanya. Bahkan, bila dzikir telah ditegakkan, sirnalah segala dosa dan maksiat.
  4. Bahwa kandungan ayat menjelaskan bahwa shalat mempunyai dua faedah: (1) shalat itu mencegah dari kekejian dan kemungkaran, serta (2) shalat menghimpun dan mencakup dzikir kepada Allah. Sementara itu, dzikir yang terkandung dalam shalat lebih agung dan lebih besar daripada pencegahan shalat terhadap perbuatan keji dan mungkar.

Kesepuluh: Allah menjadikan dzikir sebagai penutup amalan-amalan shalih, seperti perintah Allah Ta’âlâ untuk menutup shalat dengan dzikir dalam firman-Nya,

فَإِنْ خِفْتُمْ فَرِجَالًا أَوْ رُكْبَانًا فَإِذَا أَمِنْتُمْ فَاذْكُرُوا اللَّهَ كَمَا عَلَّمَكُمْ مَا لَمْ تَكُونُوا تَعْلَمُونَ.

“Jika kalian berada dalam keadaan takut (bahaya), kerjakanlah shalat sambil berjalan atau berkendaraan. Kemudian, apabila kalian telah aman, berdzikirlah kepada Allah sebagaimana Allah telah mengajarkan apa-apa yang belum kalian ketahui kepada kalian.” [Al-Baqarah: 239]

sebagai penutup haji dalam firman-Nya,

فَإِذَا قَضَيْتُمْ مَنَاسِكَكُمْ فَاذْكُرُوا اللَّهَ كَذِكْرِكُمْ آبَاءَكُمْ أَوْ أَشَدَّ ذِكْرًا.

“Apabila kalian telah menyelesaikan ibadah haji, berdzikirlah (dengan menyebut nama) Allah sebagaimana kalian menyebut-nyebut (membangga-banggakan) nenek moyang kalian, atau (bahkan) berdzikirlah lebih banyak daripada itu.” [Al-Baqarah: 200]

dan setelah shalat Jum’at,

فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانْتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللَّهِ وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ.

“Apabila shalat telah ditunaikan, bertebaranlah kalian di muka bumi; serta carilah karunia Allah dan berdzikirlah kepada Allah sebanyak-banyaknya supaya kalian beruntung.” [Al-Jumu’ah: 10]

Kesebelas: yang bisa memahami dan mengambil manfaat dari ayat-ayat Allah hanyalah orang-orang yang berdzikir,

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ. الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi serta silih bergantinya malam dan siang, terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang senantiasa berdzikir kepada Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), ‘Wahai Rabb kami, tiadalah Engkau menciptakan ini secara sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami terhadap siksa neraka.” [Ali ‘Imrân: 190-191]

Kedua belas: dzikir adalah penyejuk hati dan penenang jiwa bagi orang-orang yang beriman sebagaimana dalam firman-Nya,

الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ.

“Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan dzikir kepada Allah. Ingatlah, hanya dengan dzikir kepada Allah-lah, hati menjadi tenteram.” [Al-Ra’d: 28]

اللَّهُ نَزَّلَ أَحْسَنَ الْحَدِيثِ كِتَابًا مُتَشَابِهًا مَثَانِيَ تَقْشَعِرُّ مِنْهُ جُلُودُ الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ ثُمَّ تَلِينُ جُلُودُهُمْ وَقُلُوبُهُمْ إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ ذَلِكَ هُدَى اللَّهِ يَهْدِي بِهِ مَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُضْلِلِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ هَادٍ.

“Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik, (yaitu) Al-Qur`an yang (ayat-ayatnya) serupa lagi berulang-ulang. Gemetar karenanya, kulit orang-orang yang takut terhadap Rabb-nya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka menuju dzikir kepada Allah. Itulah hidayah Allah yang, dengan (kitab) itu, Dia memberi hidayah kepada siapa saja yang Dia kehendaki. Dan barangsiapa yang disesatkan oleh Allah, tiada seorang pun pemberi petunjuk baginya.” [Az-Zumar: 23]

Ketiga belas: Allah membedakan antara orang-orang beriman dan Ahlul Kitab dalam hal berdzikir kepada Allah. Allah Jalla Sya`nuhu berfirman,

أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ وَلَا يَكُونُوا كَالَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الْأَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ وَكَثِيرٌ مِنْهُمْ فَاسِقُونَ.

“Belumkah datang waktu bagi orang-orang yang beriman untuk hati mereka tunduk dalam berdzikir kepada Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka)? Janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al-Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka, tetapi hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang fasik.” [Al-Hadîd: 16]

Keempat belas: sedikit atau melupakan berdzikir adalah salah satu sifat orang-orang munafik sebagaimana yang diterangkan dalam firman-Nya,

إِنَّ الْمُنَافِقِينَ يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْ وَإِذَا قَامُوا إِلَى الصَّلَاةِ قَامُوا كُسَالَى يُرَاءُونَ النَّاسَ وَلَا يَذْكُرُونَ اللَّهَ إِلَّا قَلِيلًا.

“Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, tetapi (Allah) akan membalas tipuan mereka. Apabila berdiri untuk mengerjakan shalat, mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan mengerjakan shalat) di hadapan manusia, dan tidaklah mereka berdzikir kepada Allah, kecuali sedikit sekali.” [An-Nisâ`: 142]

اسْتَحْوَذَ عَلَيْهِمُ الشَّيْطَانُ فَأَنْسَاهُمْ ذِكْرَ اللَّهِ أُولَئِكَ حِزْبُ الشَّيْطَانِ أَلَا إِنَّ حِزْبَ الشَّيْطَانِ هُمُ الْخَاسِرُونَ.

“Syaithan telah menguasai mereka lalu menjadikan mereka melupakan dzikir kepada Allah; mereka itulah golongan syaithan. Ketahuilah bahwa sesungguhnya golongan syaithan itulah golongan yang merugi.” [Al-Mujâdilah: 19]

Kelima belas: Allah menjelaskan tentang upaya syaithan dalam hal memalingkan manusia dari dzikir. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

إِنَّمَا يُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَنْ يُوقِعَ بَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَاءَ فِي الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ وَيَصُدَّكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَعَنِ الصَّلَاةِ فَهَلْ أَنْتُمْ مُنْتَهُونَ.

“Sesungguhnya syaithan itu hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kalian lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, serta menghalangi kalian dari dzikir kepada Allah dan dari shalat; tidakkah kalian berhenti (dari mengerjakan perbuatan itu)?” [Al-Mâ`idah: 91]

Keenam belas: banyak berdzikir adalah salah satu karakter orang yang mengambil suri teladan dari Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam sebagaimana dalam firman-Nya,

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا.

“Sesungguhnya telah ada suri teladan yang baik bagimu pada (diri) Rasulullah itu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat serta banyak berdzikir kepada Allah.” [Al-Ahzâb: 21]

Ketujuh belas: celaan terhadap orang yang hatinya membatu terhadap dzikir kepada Allah sebagaimana dalam firman-Nya,

أَفَمَنْ شَرَحَ اللَّهُ صَدْرَهُ لِلْإِسْلَامِ فَهُوَ عَلَى نُورٍ مِنْ رَبِّهِ فَوَيْلٌ لِلْقَاسِيَةِ قُلُوبُهُمْ مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ أُولَئِكَ فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ.

“Maka apakah orang-orang, yang hatinya dibukakan oleh Allah untuk (menerima) agama Islam lalu mendapat cahaya (hidayah) dari Rabb-nya (sama dengan orang yang hatinya membatu)? Maka kecelakaan besarlah bagi mereka yang hatinya telah membatu terhadap dzikir kepada Allah. Mereka itu berada dalam kesesatan yang nyata.” [Az-Zumar: 22]

Demikian beberapa sisi keutamaan berdzikir kepada Allah dalam uraian Al-Qur`an. Tentunya masih banyak keterangan yang luput dijelaskan di sini. Sunnah Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam juga mengandung sejumlah keutamaan lain. Semoga Allah menjadikan kita semua sebagai orang yang senantiasa mengingat Allah, memuji, dan mengagungkan-Nya. Kita memohon pula kepada-Nya agar dijauhkan dari golongan orang-orang yang lalai terhadap dzikir dan mengingat Allah. Innahu Jawwâdun Karîm.

[1] Sebagaimana keterangan Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah rahimahullâh dalam kitabnya, Madârij As-Sâlikîn, sedang pendapat keempat, beliau nukil dari guru beliau, Ibnu Taimiyah rahimahullâh.


Download Pdf

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Tulisan lainnya

jannatul-firdaus.net @2022

Beberapa Adab dan Etika dalam Berdzikir


| Menu

| MENU

Bagikan…

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram



Beberapa Adab dan Etika dalam Berdzikir

  • Oleh: Ustadz Dzulqarnain M. Sunusi hafizhahullah
  • [Pembina Peduli Dakwah]

Dalam Al-Qur`an Al-Karim, Allah Subhânahu wa Ta’âlâ berfirman,

وَاذْكُرْ رَبَّكَ فِي نَفْسِكَ تَضَرُّعًا وَخِيفَةً وَدُونَ الْجَهْرِ مِنَ الْقَوْلِ بِالْغُدُوِّ وَالْآصَالِ وَلَا تَكُنْ مِنَ الْغَافِلِينَ.

“Dan berdzikirlah kepada Rabb-mu pada dirimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak menjaharkan suara, pada pagi dan petang, serta janganlah kamu termasuk sebagai orang-orang yang lalai.” [Al-A’râf: 205]

Dalam ayat yang mulia ini, terdapat sejumlah adab dan etika berkaitan dengan dzikir kepada Allah Ta’âlâ.

Berikut uraiannya.

Pertama: dalam ayat di atas, termaktub perintah untuk berdzikir kepada Allah. Telah berlalu, pada tulisan sebelumnya, berbagai perintah untuk berdzikir beserta keutamaan berdzikir kepada Allah dan besarnya anjuran dalam syariat untuk hal tersebut. Seluruh hal tersebut memberikan pengertian akan pentingnya arti berdzikir dalam kehidupan seorang hamba.

Kedua: firman-Nya, “Dan berdzikirlah kepada Rabb-mu pada dirimu,” mengukir sebuah etika yang patut dipelihara dalam berdzikir kepada llahi, yaitu dzikir hendaknya dalam diri dan tidak dijaharkan. Yang demikian itu lebih mendekati pintu ikhlas, lebih patut dikabulkan, dan lebih jauh dari kenistaan riya. Ibnul Qayyim rahimahullâh menyebut dua penafsiran frasa “pada dirimu”:

  1. Bermakna dalam hatimu.
  2. Bermakna dengan lisanmu sebatas memperdengarkan diri sendiri.

Namun, penafsiran kedualah yang lebih tepat berdasarkan dalil kelanjutan ayat “… dan dengan tidak menjaharkan suara,” sebagaimana yang akan diterangkan.

Ketiga: firman-Nya, “dengan merendahkan diri,” mengandung etika indah yang patut mewarnai seluruh ibadah, yaitu hendaknya dzikir dilakukan dengan merendahkan diri kepada Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung. Hal yang demikian lebih mendekati makna ibadah yang mengandung pengertian merendah dan menghinakan diri serta tunduk dan bersimpuh di hadapan-Nya. Dengan menjaga etika ini, seorang hamba akan lebih mewujudkan hakikat penghambaan dan lebih mendekati kesempurnaan rasa tunduk kepada Allah Jallat ‘Azhamatuhu. Kapan saja seorang hamba berpijak di atas kaidah ini dalam seluruh ibadahnya, niscaya ia akan semakin mengenal jati dirinya sebagai seorang hamba yang penuh dengan kelemahan dan kekurangan, sebagai seorang hamba yang harus bersikap tawadhu dan membuang segala kecongkakan.

Keempat: firman-Nya, “Dan berdzikirlah kepada Rabb-mu … dan rasa takut,” maksudnya adalah berdzikirlah kepada Rabb-mu dalam keadaan khawatir bila terdapat kekurangan pada amalanmu dan dalam keadaan takut bila amalanmu tertolak atau tidak diterima. Etika ini adalah ketentuan tetap yang mesti dipelihara oleh setiap muslim dan muslimah dalam melaksanakan setiap ibadah.

Sangatlah banyak keterangan dari Al-Qur`an dan hadits yang mengingatkan etika agung yang banyak dilalaikan oleh sejumlah manusia ini. Di antara keterangan tersebut adalah firman Allah Jalla Jalâluhu yang menjelaskan keadaan orang-orang beriman yang bersegera menuju kebaikan,

وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَى رَبِّهِمْ رَاجِعُونَ. أُولَئِكَ يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَهُمْ لَهَا سَابِقُونَ.

“Dan orang-orang yang memberikan apa-apa yang telah mereka berikan dengan hati yang takut (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Rabb mereka, mereka itu bersegera untuk mendapat kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang yang segera memperolehnya.” [Al-Mu`minûn: 60-61]

Aisyah radhiyallâhu ‘anhâ bertanya kepada Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam tentang firman-Nya “Dan orang-orang yang memberikan apa-apa yang telah mereka berikan dengan hati yang takut …,” “Apakah yang dimaksud adalah orang yang berzina, mencuri, dan meminum khamar?” Maka Nabi n menjawab,

لاَ يَا بِنْتَ الصِّدِّيْقِ وَلَكِنَّهُ الرَّجُلُ يَصُوْمُ وَيُصَلِّي وَيَتَصَدَّقُ وَهُوَ يَخَافُ أَنْ لاَ يُقْبَلُ مِنْهُ

Bukan, wahai putri Ash-Shiddiq, melainkan yang dimaksud adalah orang yang berpuasa, menunaikan shalat, dan bersedekah, tetapi ia khawatir bila (amalan)nya tidak diterima.” [1]

Kelima: firman-Nya, “dan dengan tidak menjaharkan suara,” juga merupakan etika yang patut diperhatikan karena berdzikir dengan tidak mengeraskan suara akan lebih mendekati khusyu’ serta lebih indah dalam benak dan pikiran. Dalam sebuah riwayat, disebutkan bahwa, dalam sebuah perjalanan, terdapat sekelompok shahabat yang menjaharkan suaranya kala berdoa maka Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam berpesan kepada mereka,

أَيُّهَا النَّاسُ ارْبَعُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ، إِنَّكُمْ لَيْسَ تَدْعُونَ أَصَمَّ وَلَا غَائِبًا، إِنَّكُمْ تَدْعُونَ سَمِيعًا قَرِيبًا، وَهُوَ مَعَكُمْ

“Wahai sekalian manusia, kuasailah diri-diri kalian dan rendahkanlah suara kalian karena sesungguhnya kalian tidaklah berdoa kepada yang tuli tidak pula kepada yang tidak hadir. Sesungguhnya kalian berdoa kepada Yang Maha Mendengar lagi Maha Dekat, dan Dia bersama dengan kalian.” [2]

Ath-Thabary rahimahullâh berkata, “Hadits (di atas) menunjukkan makruhnya menjaharkan suara ketika berdoa dan berdzikir. Ini adalah pendapat mayoritas ulama salaf dari kalangan shahabat dan tabi’in.”[3]

Dalam hadits Abu Sa’îd Al-Khudry radhiyallâhu ‘anhu, Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَلَا إِنَّ كُلَّكُمْ مُنَاجٍ رَبَّهُ فَلَا يُؤْذِيَنَّ بَعْضُكُمْ بَعْضًا وَلَا يَرْفَعْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَعْضٍ فِي الْقِرَاءَةِ أَوْ قَالَ فِي الصَّلَاةِ

Ketahuilah bahwa setiap orang di antara kalian bermunajat kepada Rabb-nya maka janganlah sekali-sekali sebagian di antara kalian mengganggu sebagian yang lain, jangan pula sebagian di antara kalian mengangkat suaranya terhadap sebagian yang lain dalam membaca, -atau beliau berkata-, … dalam shalat. [4]

Keenam: hendaknya dzikir itu dilakukan dengan hati dan lisan, bukan dengan hati saja. Etika ini dipetik dari firman-Nya “… dan dengan tidak menjaharkan suara.” Menjaharkan sesuatu berarti mengangkat dan mengumumkan suara. Oleh karena itu, ayat ini adalah nash bahwa dzikir itu dilakukan dengan lisan, tetapi tidak dijaharkan. Demikian simpulan keterangan sejumlah ahli tafsir mengenai ayat ini.

Ketujuh: firman-Nya “… pada pagi dan petang,” menunjukkan keutamaan berdzikir pada dua waktu ini: pagi dan petang. Keistimewaan berdzikir pada dua waktu ini dikarenakan banyaknya ketenangan dan kesempatan pada waktu tersebut, serta kebanyakan urusan kehidupan manusia berada di antara keduanya, sedang para malaikat naik mengangkat amalan hamba pada dua waktu ini. Oleh karena itu, di antara rahmat Allah dan kemurahan-Nya, kita dianjurkan untuk memperbanyak dzikir pada pagi dan petang serta dijanjikan berbagai keutamaan dengan mengamalkan berbagai dzikir yang dituntunkan pada dua waktu itu. Insya Allah, pada tulisan yang akan datang, akan dijelaskan berbagai dzikir yang dituntunkan untuk dibaca pada pagi dan petang.

Kedelapan: pada akhir ayat diterangkan, “… serta janganlah kamu termasuk sebagai orang-orang yang lalai,” yaitu janganlah engkau termasuk sebagai orang-orang yang dilupakan dan dipalingkan dari berdzikir kepada Allah sebab Allah Ta’âlâ telah mengingatkan,

وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللَّهَ فَأَنْسَاهُمْ أَنْفُسَهُمْ أُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ.

“Dan janganlah kalian seperti orang-orang yang lupa terhadap Allah maka Allah menjadikan mereka lupa terhadap diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang fasik.” [Al-Hasyr: 19]

Allah ‘Azza wa Jalla menjelaskan sifat orang yang beriman,

فِي بُيُوتٍ أَذِنَ اللَّهُ أَنْ تُرْفَعَ وَيُذْكَرَ فِيهَا اسْمُهُ يُسَبِّحُ لَهُ فِيهَا بِالْغُدُوِّ وَالْآصَالِ. رِجَالٌ لَا تُلْهِيهِمْ تِجَارَةٌ وَلَا بَيْعٌ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ يَخَافُونَ يَوْمًا تَتَقَلَّبُ فِيهِ الْقُلُوبُ وَالْأَبْصَارُ.

“Bertasbih kepada Allah di masjid-masjid, yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya, pada pagi dan petang, laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan tidak pula oleh jual beli dari berdzikir kepada Allah, (dari) mendirikan shalat, dan (dari) membayarkan zakat. Mereka takut terhadap suatu hari yang (pada hari itu) hati dan penglihatan menjadi guncang.” [An-Nûr: 36-37]

Allah Subhânahu mengabarkan bahaya terhadap orang-orang yang berpaling dari dzikir,

وَمَنْ يَعْشُ عَنْ ذِكْرِ الرَّحْمَنِ نُقَيِّضْ لَهُ شَيْطَانًا فَهُوَ لَهُ قَرِينٌ.

“Barangsiapa yang berpaling dari dzikir (Allah) Yang Maha Pemurah (Al-Qur`an), Kami mengadakan syaithan (yang menyesatkan) baginya maka syaithan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya.” [Az-Zukhruf: 36]

لِنَفْتِنَهُمْ فِيهِ وَمَنْ يُعْرِضْ عَنْ ذِكْرِ رَبِّهِ يَسْلُكْهُ عَذَابًا صَعَدًا.

“Agar Kami memberi cobaan kepada mereka padanya. Dan barangsiapa yang berpaling dari dzikir kepada Rabb-nya, niscaya dia akan dimasukkan oleh-Nya ke dalam adzab yang amat berat.” [Al-Jinn: 17]

وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى.

“Dan barangsiapa yang berpaling dari dzikir kepada-Ku, sesungguhnya penghidupan yang sempit baginya dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.” [Thâhâ: 124]

Seluruh nash ayat di atas memberikan pesan dan pelajaran agar seorang hamba tidak pernah putus dari dzikir, walaupun dzikir yang dia lakukan hanya sedikit.

Kesembilan: dari keterangan-keterangan yang berkaitan dengan ayat yang tertera pada awal pembahasan, nampaklah kesalahan yang sering dilakukan oleh sejumlah kaum muslimin yang berdzikir secara berjamaah dan diiringi oleh suara keras. Sesungguhnya hal tersebut adalah sebuah kemungkaran dan bid’ah dalam agama yang tidak pernah dituntunkan oleh Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam dan para shahabatnya. Etika yang tercatat dalam agama kita adalah apa-apa yang telah kami terangkan. Tiada nukilan sah yang menunjukkan adanya syariat berdzikir secara berjamaah, bahkan yang tercatat dalam perjalanan umat ini adalah bahwa bid’ah pertama yang muncul dalam bab ibadah adalah bid’ah dzikir berjama’ah yang dilakukan oleh sekelompok manusia di Kûfah pada masa Abdullah bin Mas’ûd radhiyallâhu ‘anhu, sedang Abdullah bin Mas’ûd telah mengingkari hal tersebut dan menganggapnya sebagai bid’ah dalam agama yang tidak pernah diamalkan oleh Nabi dan para shahabatnya. Demikianlah keterangan para ulama dalam buku-buku yang menjeiaskan tentang firqah-firqah (sekte-sekte) yang menyimpang dari ajaran Islam yang lurus.

Semoga Allah Ta’âlâ memberi hidayah kepada kita semua menuju jalan yang lurus serta menjaga kita dari fitnah dunia dan kesesatan. Wallâhu A’lam.

[1] Dikeluarkan oleh Ahmad, At-Tirmidzy, Ibnu Jarîr, Al-Hâkim, dan Al-Baghawy sebagaimana dalam Silsilah Al-Ahâdits Ash-Shahîhah karya Al-Albâny.

[2] Dikeluarkan oleh Al-Bukhâry dan Muslim dari hadits Abu Musa Al-Asy’ary radhiyallâhu ‘anhu.

[3] Sebagaimana dinukil dalam Fath Al-Bâry 9/189.

[4] Dikeluarkan oleh Ahmad 3/94, Abu Dawud no. 1332, An-Nasâ`iy dalam Al-Kubrâ` 5/32, Ibnu Khuzaimah no. 1162, ‘Abd bin Humaid no. 883, Al-Hâkim 1/454, Al-Baihaqy 3/11 dan dalam Syu’ab Al-Imân 2/543, serta Ibnu Abdil Barr dalam At-Tamhîd 23/318. Dianggap shahih di atas syarat Asy-Syaikhain oleh Syaikh Muqbil sebagaimana dalam Ash-Shahîh Al-Musnad Mimmâ Laisa Fî Ash-Shahîhain.

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Tulis komentar

Logged in as admin. Log out »





Tulisan lainnya

jannatul-firdaus.net @2022