Menata Adab dan Akhlak sebelum Jauh Melangkah

Jannatul-firdaus.net

Menyebar Ilmu Syar’i



Jannatul-firdaus.net

Menyebar Ilmu Syar’i



Bagikan…

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram



Menata Adab dan Akhlak sebelum Jauh Melangkah

  • Oleh: Al-Ustadz Abdul Qodir Abu Fa’izah –hafizhahullah

Sebuah kesalahan para penuntut ilmu, ia hanya mengumpulkan ilmu sebanyak-banyaknya. Namun ia lupa menghiasi dirinya dengan adab-adab islami kepada yang lain : kepada ustadz, ilmu, kitab, kawan-kawan, tetangga, masyarakat, orang tua dan lainnya.

Tak heran bila di zaman ini, kita akan menjumpai manusia-manusia durhaka kepada guru dan ustadznya yang telah mengajarinya sekian banyak jenis ilmu yang bermanfaat bagi dunia dan akhiratnya.

Semua itu dibalas dengan adab dan akhlak buruk kepada gurunya, sampai ada diantara mereka yang meng-ghibahi gurunya, menghukuminya sebagai orang sesat, sementara itu ia tak menasihatinya.

Gelar-gelar buruk tak luput dari lisannya sehingga manusia yang berjasa dalam hidupnya ia gelari dengan “kadzdzab” (tukang dusta), dajjal, pencuri dan sederet gelar-gelar hina ia sematkan kepada sang guru.

Di sudut sana, ada segelintir manusia rendah yang punya kebiasaan CURIGA dan buruk sangka kepada gurunya dan punya hobi menguntit aib dan kesalahan-kesalahan gurunya. Padahal gurunya adalah seorang yang berjalan di atas sunnah.

Kadang pun diantara mereka, ada yang menasihati gurunya, layaknya menasihati anak kecil dengan menggunakan bahasa-bahasa yang tidak sopan dan rada merendahkan dan menggurui.

Lebih parah lagi, bila golongan manusia durhaka seperti ini membuat asumsi-asumsi negatif dan kabar miring tentang diri gurunya yang telah membinanya selama ini, disebabkan ia hanya mendengar berita qila wa qola (kabar burung) tentang gurunya. Padahal berita-berita itu belum jelas ujung pangkal dan asal-muasalnya. Susu dibalas tuba.

Tak heran bila para salaf dan orang tua mereka senantiasa mewanti-wanti anak-anak mereka jika mereka mengutusnya kepada seorang guru agar si anak betul-betul menjaga watak dan perangainya di depan guru (syaikhnya).

Imam Darul Hijroh, Imam Malik bin Anas Al-Ashbahiy -rahimahullah-  bercerita tentang kisah awalnya menuntut ilmu:

كانت أمي تلبسني الثياب وتعممني وأنا صبي وتوجهني إلى ربيعة بن أبي عبد الرحمن وتقول لي تأتي أنت مجلس ربيعة فتعلم من سمته وأدبه قبل أن تتعلم من حديثه وفهمه ” مسند الموطأ – (1 / 95)

“Dahulu ibuku mengenakan pakaianku dan memasangkan surbanku, sedang aku masih kecil serta mengarahkanku kepada Robi’ah bin Abi Abdir Rahman, seraya ibuku berkata kepadaku, “Engkau akan mendatangi majelisnya Robi’ah. Karenanya, pelajarilah perangai dan adabnya sebelum engkau mempelajari hadits dan pemahamannya”. [AR. Musnad Al-Muwaththo’ (1/95) oleh Abul Qosim Al-Jawhariy]

Perhatikanlah ibu dari Imam Malik. Yang pertama beliau pesankan pada anaknya agar mengambil dan mempelajari adab gurunya.

Pesan mulia ini terus teringat dalam benak beliau sampai saat beliau menjadi guru.

Suatu hari, saat Imam Malik telah menjadi guru dan rujukan umat, jika menemukan penuntut ilmu pemula, maka beliau nasihatkan agar mempelajari dan memperhatikan adab dulu sebelum jauh terjun dalam mengkaji dan mempelajari ilmu-ilmu lain.

Al-Imam Malik bin Anas Al-Ashbahiy –rahimahullah– berkata kepada seorang pemuda Quraisy,

((يا ابن أخي تعلم الأدب قبل أن تتعلم العلم))

“Wahai anakku, pelajari adab sebelum engkau mempelajari ilmu”. [HR. Abu Nu’aim dalam Hilyah Al-Awliya’ (6/330)]

Pesan beliau ini kepada si pemuda Quraisy merupakan hasil didikan seorang ibu yang cerdik.

Hal itu terus terukir dalam relung hatinya, sampai pun beliau sudah menjadi imam dan ulama tersohor di zamannya, beliau tetap mengingat pesan dan petuah emas yang diberikan oleh sang ibu kepada beliau.

Inilah kebiasaan turun-temurun di tengah para penuntut dari kalangan salaf.

Mereka amat memperhatikan adab, akhlak dan perangai gurunya (syaikh atau ustadznya), bukan seperti di zaman ini, kebanyakan orang hanya memperhatikan kemampuan retorikanya dan candaan dari para ustadznya.

Ada juga yang cuma mencari-cari kekurangan sang sang (guru) dan berdusta atas namanya. Na’udzu billahi min dzalik.

 

Sementara akhlak dan adab sang guru tidak mereka perhatikan, dan tidak pula mereka contoh untuk kemudian ia mengejawantahkannya dalam akhlak dan kepribadiannya.

Para pembaca yang budiman, sekarang ada baiknya kita menyimak kisah ajaib dari para salaf yang menggambarkan hebatnya perhatian mereka terhadap akhlak gurunya.

Dari Al-Husain bin Ismail dari bapaknya, ia (bapaknya) berkata,

كَانَ يَجتَمِعُ فِي مَجْلِسِ أَحْمَدَ زُهَاءُ خَمْسَةِ آلاَفٍ أَوْ يَزِيدُوْنَ، نَحْوُ خَمْسِ مائَةٍ يَكْتُبُوْنَ، وَالبَاقُوْنَ يَتَعلَّمُوْنَ مِنْهُ حُسْنَ الأَدَبِ وَالسَّمْتِ.

“Dahulu orang-orang berkumpul di majelis Ahmad sekitar 5000 orang atau lebih. Sekitar 500 orang menulis, sedang sisanya mempelajari dari beliau adab dan perangai yang baik”. [Lihat Siyar A’lam An-Nubala’ (11/316)]

Mereka mengambil akhlaq dan adab dari gurunya melalui lisan atau perbuatan gurunya.

 

Bukan main, para penuntut ilmu dahulu bertahun-tahun “menghinakan diri” di depan gurunya untuk mengambil ilmu dan adab dalam tenggang waktu puluhan tahun. Subhanallah, tekad yang hebat.

Abu Bakr Ya’qub bin Yusuf Al-Muthowwi’iy –rahimahullah– berkata,

اخْتَلَفتُ إِلَى أَبِي عَبْدِ اللهِ ثِنْتَي عَشْرَةَ سَنَةً، وَهُوَ يَقْرَأُ (المُسْنَدَ) عَلَى أَوْلاَدِهِ، فَمَا كَتَبْتُ عَنْهُ حَدِيْثاً وَاحِداً، إِنَّمَا كُنْتُ أَنْظُرُ إِلَى هَدْيِهِ وَأَخلاَقِهِ.

“Aku berbolak-balik kepada Abu Abdillah (yakni, Imam Ahmad) selama 12 tahun, sedang beliau membaca Al-Musnad di depan anak-anaknya. Aku tak pernah menulis dari beliau sebuah hadits. Aku hanyalah memandang kepada petunjuk dan akhlaknya”.[Lihat Siyar A’lam An-Nubala’ (11/316)]

Luar biasa! Keikhlasan dalam mencari ilmu dan kebaikan membentuk sosok dan pribadi para salaf. Tak ada diantara mereka yang hadir di majelis, melainkan mereka ingin mencari kebaikan! Mereka tidak ingin mencari popularitas, apalagi mencari aib gurunya.

Adapun di zaman kita ini, maka keikhlasan itu telah hilang dari lubuk hati kita, sehingga disana-sini kita menemukan berbagai keganjilan dan keganjalan dalam bermuamalah dengan ustadz selaku gurunya. Akibatnya, sang guru ia perlakukan bagaikan orang yang tak bernilai.

Di hari ini, sungguh kita butuh kepada akhlak. Syaithon menipu dirimu bahwa engkau adalah seorang ihkwah yang multazim (berpegang) dengan sunnah, namun akhlakmu masih morat-marit.

Jika engkau benar adalah seorang yang multazim dengan sunnah, maka ketahuilah bahwa sunnah itu akan memberikan pengaruh baik pada dirimu. Lalu kenapa pengaruh sunnah tidak tampak pada dirimu?!

Disinilah anda perlu bertanya, “Apakah ilmu yang selama ini aku pelajari, bermanfaat bagiku?”

Di saat kejujuran dan keikhlasan itu tercabut dari dirimu, maka keberkahan sunnah akan tercabut dari diri dan kehidupanmu.

Disinilah tampak bagi kita rahasia kesabaran para salaf dalam menempa akhlak mereka selama puluhan tahun.

Sebab, watak manusia laksana besi keras yang bengkok. Ia memerlukan waktu yang lama dalam menempa, meluruskan dan membentuknya agar menjadi indah dan berguna.

Al-Imam Abdullah bin Al-Mubarok Al-Marwaziy –rahimahullah– berkata,

طَلَبْتُ الأَدَبَ ثَلاَثِيْنَ سَنَةً، وَطَلَبْتُ الْعِلْمَ عِشْرِيْنَ سَنَةً، كَانُوْا يَطْلُبُوْنَ اْلأَدَبَ ثُمَّ الْعِلْمَ

“Aku telah mencari (mempelajari) adab selama 30 tahun dan aku mencari (mempelajari) ilmu selama 20 tahun. Dahulu mereka (para salaf) mencari (mempelajari) adab, lalu (setelah itu) ilmu”. [Lihat Tartib Al-Madarik (3/39) oleh Al-Qodhi Iyadh, cet. Mathba’ah Fadholah, dan Ghoyah An-Nihayah fi Thobaqot Al-Qurro’ (1/446/no. 1885) oleh Abul Khoir Ibnul Jazariy, cet. Maktabah Ibnu Taimiyyah, 1351 H]

Demikian secuil nukilan dari kehidupan para salaf, generasi terbaik dalam menegakkan agama.

Mereka adalah kaum yang dikenal memelihara adab dan menghiasi diri mereka dengannya. Semakin banyak ilmunya, maka semakin baik pula adabnya. Semakin ilmunya berisi, maka semakin tampak pula sifat merendah dan tawadhu’-nya.

Adapun generasi sekarang, sebagian orang diantara mereka, semakin banyak ilmunya, maka semakin congkak dan kurang ajar.

Sebagian diantara mereka ada yang berlagak bagaikan orang awam yang jahil!! Tidak segan-segan ia membeberkan aib gurunya, menyebarkannya, dan membentuk opini buruk tentang diri gurunya.

Wahai saudaraku yang masih memerlukan akhlak, sadarkah engkau bahwa ilmu yang engkau pelajari belumlah bermanfaat bagi dirimu. Cobalah engkau koreksi dirimu yang juga masih banyak kekurangan dan aibnya. Andaikan engkau adalah seorang berilmu dengan ilmu yang nafi’ (bermanfaat), maka pasti ilmu itu akan menempa dan mengubah pribadimu yang buruk.

Tapi mengapa akhlakmu masih demikian buruk?! Itu artinya, anda masih perlu memeriksa keikhlasan, dan kejujuranmu dalam belajar, atau engkau masih membutuhkan waktu panjang dalam menempa akhlak burukmu.

Adab merupakan hiasan yang amat berharga pada diri seorang penuntut ilmu, bahkan adab lebih berharga dibandingkan seorang istri dan anak yang hilang.

Disebutkan oleh Al-Imam Ibnu Jama’ah Al-Kinaniy –rahimahullah– bahwa Imam Asy-Syafi’iy –rahimahullah– pernah ditanya, “Bagaimana engkau mencari (mempelajari) adab?”

Imam Syafi’iy –rahimahullah– menjawab,

طلب المرأة المضلة ولدها، وليس لها غيره

“(Aku akan mencari adab) seperti halnya seorang wanita yang kehilangan dalam mencari anaknya, sedang ia tidak memiliki anak selainnya”. [Lihat Tadzkiroh as-Sami’ wal Mutakallim (hal. 41), cet. Maktabah Al-Imam Adz-Dzahabiy, 1424 H]

Nilai seorang penuntut ilmu bukanlah dilihat dari banyak ilmu yang ia kumpulkan, namun dilihat dari adab yang menghiasi dirinya. Apalah arti banyak ilmu, namun diri masih berlumuran dengan akhlak buruk kepada ustadz (selaku guru), kerabat, tetangga, dan lainnya.

Seorang tabi’ut tabi’in, Makhlad bin Al-Husain –rahimahullah– berkata,

نحن إلى كثيرٍ من الأدبِ أَحْوَجُ منا إلى كثيرٍ من الحديثِ

“Kita ini lebih butuh kepada adab yang banyak dibandingkan banyak hadits”. [HR. Al-Khothib dalam Al-Jami’ li Akhlaq Ar-Rowi (no. 11)]

Subhanallah, pertanyaan yang luar biasa. Alangkah benarnya ucapan beliau. Ini adalah ucapan dan pernyataan yang lahir dari sebuah ilmu dan pengalaman.

Jika di masa itu saja, seorang salaf berkata demikian, maka pasti di zaman kita jauh lebih pantas kita katakan demikian. Sebab, terlalu banyak realita dan fenomena miris yang mewarnai kehidupan ini, dimana banyaknya bermunculan ulah dan tindakan amoral dan di luar etika dari seorang murid kepada ustadz gurunya, hanya karena persoalan-persoalan remeh dan kesalahpahaman.

Ketahuilah bahwa menempa akhlak adalah urusan yang teramat susah! Ia lebih susah dibanding memindahkan sebuah gunung. Ini terlihat dari banyaknya manusia yang diberi ilmu oleh Allah –Tabaroka wa Ta’ala-, namun ia belum mampu mengentaskan dirinya dari kubang akhlak buruknya!

Itulah sebabnya Rasulullah –Shallallahu alaihi wa sallam– selalu berdoa meminta pertolongan kepada Allah -Subhanahu wa Ta’ala- agar diberi akhlak yang baik dan dijauhkan dari akhlak yang buruk, serta mengajarkan doa-doa itu kepada umatnya

Insya Allah -Ta’ala-, doa-doa tersebut akan kami bahas dalam artikel berikutnya.

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Tulisan lainnya

Ketika Hidayah Datang Menyapa Seorang Pemuda Awam

Jannatul-firdaus.net

Menyebar Ilmu Syar’i



Jannatul-firdaus.net

Menyebar Ilmu Syar’i



Bagikan…

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram



Ketika Hidayah Datang Menyapa Seorang Pemuda Awam

  • Oleh: Al-Ustadz Abdul Qodir Abu Fa’izah –hafizhahullah

[Berdasarkan Kisah Nyata]

 

Hidayah laksana emas yang turun dari langit; sebuah anugerah yang tiada tandingannya, sekalipun dinilai dg dunia.

Di sebuah sudut kota, terpilihlah seorang pemuda untuk menyambut hidayah itu, tanpa sedetik pun pernah terbetik dalam benaknya bahwa ia akan mengecap manisnya hidayah dalam mengenal Sunnah dan jalannya yang lurus nan indah.

Pemuda itu disapa dengan Abu Maryam

Awal kehidupannya –seperti umumnya- kaum muslimin yang awam, hanya mengenal Islam  turun-temurun dari leluhurnya, tanpa ada perhatian untuk mengenal Islam lebih dalam.

Abu Maryam adalah seorang pemuda yang giat dalam mencari nafkah dan dikenal akan keuletannya. Ia mahir dalam berbagai keterampilan dan keahlian dalam beberapa perkara yang menjadikannya orang yang tangguh dan mandiri dalam hidupnya. Pekerjaan tidak pernah jauh darinya.

Sebagai seorang pemuda, tentu saja orang tua masih terus memikirkannya, memikirkan masa depan anaknya kelak di masa tua. Orang tua pun tentunya terus berupaya mencari jalan untuk mencari jodoh untuk pemuda yang disapa Abu Maryam ini.

Orang tua pada umumnya –sekalipun awam akan agama-, senang dan simpati kepada wanita yang agamawan, wanita yang menjaga kesucian dan kehormatan dirinya. Serusak apapun, pasti ia akan mencari wanita sholihah yang akan siap menjadi pendamping dan teman hidup yang abadi bagi buah hatinya.

Usut punya usut, setelah bermusyawarah dan bertukar pikiran, pilihan jodoh untuk si Abu Maryam, jatuh pada seorang wanita yang berhijab, lengkap dengan cadarnya. Jrengggg!!

Orang tua pun menyampaikan kepada si pemuda awam ini bahwa jodohnya adalah seorang wanita sholihah yang bercadar agar menjadi teman hidup kekasihnya sepanjang hayat masih dikandung badan.

Tentunya sebagai seorang yang awam, ia rada kaget, karena ia selama ini berada di alam lain yang kental dengan kebiasaan para pemuda awam yang jauh dari bimbingan Al-Qur’an dan Sunnah.

Sementara calon istri di alam lain yang kental dengan kehidupan beragama dan penuh akhlak.

Banyak pertanyaan dan kebingungan yang menggelayut dalam pikirannya, usai menyimak penjelasan dari orang tua.

“Akankah aku bisa hidup dengannya”

“Siapakah wanita itu”

“Aku belum pernah melihat wajahnya yang bercadar”.

“Mampukah aku sejalan dengan seorang wanita yang agamis, sementara aku adalah pemuda yang dangkal akan agama?”

“Mampukah ia hidup bersamaku sebagai suami yang awam?”

“Dari manakah aku harus memulai pembicaraan dengannya?”

“Apakah yang ia sukai dan apa yang ia benci.”

Di lain sisi, si wanita calon pendamping hidupnya (Ummu Maryam), juga kaget dengan keputusan orang tua yang mereka ambil dengan menjodohkannya dengan seorang pemuda awam. Ia pun memikirkan dalam-dalam akan perkara itu, karena ia berada diantara dua pilihan yang sulit baginya untuk menimbang secara tepat; antara menerima calon pasangannya yang notabene berlatar belakang awam, dan antara ia menolak dan menyakiti hati orang tuanya.

Dengan penuh tawakkal dan berbaik sangka kepada Allah, yakin bahwa keteguhan hatinya dan agama yang selama ini ia dalami akan mampu mengayuh rumah tangga bersama dengan pemuda awam itu di atas bahtera rumah tangga di atas bimbingan Al-Qur’an & Sunnah. Sekalipun ia sendiri tidak menyarankan seorang wanita yang agamis bercadar untuk berani melalui aral dan tantangan yang super berat ini. Sebab, telah banyak korban dari wanita bercadar yang menikah dengan pria awam, dan pada akhirnya ia jauh dari agama dan terwarnai oleh pola kehidupan awam dari suaminya.

Berselang beberapa waktu kemudian, berlangsunglah acara walimahan ‘pernikahan’ antara Abu Maryam dengan seorang wanita yang dijodohkan untuknya. Itulah Ummu Maryam.

Hari itu adalah hari bahagia baginya dan sekaligus hari yang membuatnya rikuh dan salah tingkah. Entah apa yang ia harus lakukan. Tapi ia jalani saja sesuai dengan rencana keluarga.

Seusai pernikahan, ia harus meninggalkan kampung halaman menuju sebuah pulai di barat Nusantara ini demi mengais rezki penyambung hidup bersama sang istri yang tercinta.

Hari itu, ia berangkat bersama istri dan melangkahkah kaki menuju kehidupan yang baru di negeri orang. Ia pun berpamitan dengan orang tua dan keluarga.

Di balik keberangkatan itu, ada sebuah hal yang aneh baginya, sejak ia menikah sampai hari keberangkatan itu, sang istri yang menghijab dirinya dengan cadar, belum pernah bercengkerama dengannya. Sang istri hanya mengikuti langkahnya kemana ia pergi.

Hari itu, ia berangkat dengan sebuah kapal besar milik PELNI dalam menembus keganasan lautan untuk sampai ke negeri perantauan di ujung barat dari Nusantara ini.

Sikap dingin sang istri, ia gunakan untuk mengatur dan mengangkat barang-barang dengan gesitnya ke atas perahu raksasa itu. Sesekali, ia hanya memerintahkan istrinya untuk bergerak dan berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya. Selebihnya, suasana hanya diselimuti oleh sikap diam dan dingin dari sang istri.

Abu Maryam –sekalipun- awam- adalah seorang yang penyayang dan pengertian. Sikap dingin itu, ia tidak hadapi dengan amarah dan buruk sangka. Pikirannya, mungkin sang istri amat pemalu sehingga ia terdiam seribu bahasa, dan ia pun bingung memulai dari mana!

Di atas kapal, ia hanya duduk termangu bagaikan batu yang tidak dapat berbicara. Ia hanya memandangi orang-orang berlalu lalang di hadapannya dan sibuk dengan urusan dan hajat mereka.

Sesekali ia menoleh kepada sang istri yang bercadar, dan memandangi hijab yang membalut dirinya. Ia salut dengan istrinya yang begitu sabar selama ini untuk memakai cadar dan hijab, di tengah gemerlapnya dunia dan jauhnya wanita-wanita muslimah pada umumnya dari agama dan pakaian syar’i seperti yang digunakan oleh istrinya.

Selama di atas kapal, kebisuan itu hanya terpecahkan oleh ombak lautan yang kejar-mengejar dan gelak ria dari sebagian penumpang yang ada di sekitarnya.

Kesunyian benar-benar terasa di tengah hiruk pikuk penumpang yang lewat di hadapan mereka berdua. Kala itu, dunia belum mengenal aplikasi medsos secara meluas (seperti facebook, WhatsApp, LINE, atau yang lainnya) sebagai bahan pemecah kesunyian. Ah, tapi ia jalani saja dan barangkali ini adalah ujian berat berbuah manis di esok hari.

Kala itu, datanglah waktu makan –sebagaimana yang terjadwal-. Abu Maryam pun beranjak dari tempat duduknya untuk mencari pengisi perut yang sudah rada keroncongan. Ia pun menunggu antrian sebagaimana halnya penumpang kapal yang lainnya.

Tidak lama kemudian –setelah dapat antrian makanan-, ia pun datang membawa dua porsi makanan untuknya dan untuk istri yang tercinta, dengan penuh harap sang istri sudi bersantap makanan dan bercengkerama bersamanya.

Sambil menyodorkan makanan itu kepada kekasih hatinya, ia pun menyapanya, “Makanlah, mungkin anda sudah amat lapar.”

Jrenngggg…ternyata sang istri tidak bergerak sedikitpun, sambil terisak sedih. Ia tidak menyentuh makanan itu.

Abu Maryam sebagai seorang pemuda yang penyayang amat iba dengan istrinya. Tapi ia bingung harus berbuat apa dan berkata apa? Ia bingung, sebab sang istri hanya terdiam.

Ia pun mengerti perasaan seorang wanita, mugkin ia bersedih karena berpisah dengan keluarga yang selama ini hidup bersamanya, dan kini harus melangkah nun jauh di seberang.

Ia letakkan makanan itu di sisi istrinya, barangkali ia memakannya jika rasa sedihnya telah pudar.

Selesai santap siang, ia rebahkan badannya untuk beristirahat dan tidak lupa ia menitipkan pesan, sembari berkata, “Dik, makanannya abang letak disini ya, entar kamu makan.”

Makanan yang terdiam bisu itu, sesekali hanya disentuh oleh sang istri dalam beberapa suap saja. Yang tersisa lebih banyak daripada yang tersentuh.

Bangkit dari istirahatnya, Abu Maryam pun memberi sapaan-sapaan ringan kepada sang istri yang terus termenung dan memandangi laut lepas yang mengelilingi mereka.

Untuk memecahkan keheningan, Abu Maryam sesekali beranjak dari peraduannya menuju dek kapal yang teratas untuk menikmati keindahan lautan, dan hangatnya terpaan angin yang bertiup semilir. Ia bercengkerama bersama penumpang lain yang juga ikut berada di tempat itu.

Tidak lama ia melepas keheningan, ia kembali mendekat kepada sang istri, barangkali saja ia mau bercakap dengannya. Namun sang istri terus dalam bisunya.

Demikianlah hari-hari mereka lalui di atas bahtera besar itu, sampai berlabuh di sebuah pantai dari pulau yang mereka tuju.

Dari atas kapal sampai turun ke daratan, ia terus mengawal istrinya dengan penuh perhatian. Ia pun dengan gesit kembali memindahkan dan menurunkan barang-barang dan perbekalannya.

Abu Maryam ternyata di perantauan adalah seorang pekerja di sebuah perusahaan, dimana setiap pekerja yang berkeluarga diberi hunian yang layak.

Sesampainya ditujuan, dengan mengendarai angkutan umum, semua barang-barang bawaan dimasukkannya ke dalam rumah. Beliau mempersilakan sang istri untuk masuk ke dalam rumah tujuan itu.

Hari dan waktu mereka lalui, namun sang istri masih membisu seperti semula. Sang istri hanya makan seadanya. Hal itu membuat Abu Maryam khawatir istrinya akan jatuh sakit dan kurus.

Sampai di suatu hari, istrinya menyampaikan sebuah pernyataan, “Aku tidak ingin hidup bersama denganmu sampai abang mau belajar agama!”

“Dimanakah aku harus belajar?” sambutnya.

“Abang belajarlah agama dengan baik.”

“Terus dimanakah aku belajar?”

“Abang carilah seorang ustadz bernama fulan bin fulan yang ada di rantau ini. Aku dengar ada majelis Ahlus Sunnah di tempat ini. Abang harus cari sampai dapat dan belajarlah kepada beliau. Semoga abang mengerti agama sebagaimana halnya aku.”

Dengan hati yang berbunga-bunga, Abu Maryam pun sejak saat itu dengan penuh semangat bertanya dan mencari alamat yang diisyaratkan oleh sang istri.

Akhirnya, ia menemukan alamat itu sesuai informasi yang ia dapatkan. Hatinya amat bahagia. Ia baru menyadari bahwa untuk bersama dengan wanita sholihah, ia harus ikut jadi suami yang sholih dan mengerti agama.

Sejak itu, ia rajin mendatangi majelis-majelis yang diadakan oleh ustadz Ahlus Sunnah di tempat itu, sampai ia mengerti aqidah, akhlak dan tata cara ibadah yang benar.

Demikianlah hidayah itu menyapa seorang pemuda awam yang –insya Allah- dirahmati oleh Allah –azza wa jalla-.

 

Kini, mereka dikaruniai anak-anak yang sholih dan paham agama. Semoga Allah menjadikan mereka pasangan yang diberkahi oleh Allah dan setia di atas Sunnah sampai ajal menjemput. Amiin…

Semoga kisah ini membuahkan pelajaran penting bagi kita bahwa :

  1. Hidayah ada di tangan Allah –azza wa jalla-.
  2. Pentingnya ada nasihat diantara suami-istri.
  3. Pentingnya membangun rumah tangga di atas satu aqidah dan pemahaman agar bahtera rumah tangga tidak oleng.
  4. Indahnya hidup saling memahami dan saling pengertian, dimana hal ini akan membuahkan husnuzh zhonn (baik sangka).
  5. Ilmu agama adalah pembangun kehidupan rumah tangga di atas sakinah dan mawaddah.
  6. Besarnya pengaruh ilmu agama dalam membentuk karakter pribadi sholih dan sholihah.
    7. Teman yang baik dan istri yang sholihah akan memberikan pengaruh positif dalam kehidupan seseorang dan menjadi sebab untuk meraih hidayah dan terus istiqomah di atas kebaikan.

====================================

Diceritakan kembali dan dituangkan dalam bentuk tulisan oleh Ustadz Abdul Qodir Abu Fa’izah, Lc., dimana sebelumnya pelaku kisah bertutur kepada beliau.

Setelah tulisan ini rampung, kembali disodorkan kepada pelaku kisah agar tidak terjadi kesalahan dalam pengisahan perjalanan hidup mereka yang indah serta penuh hikmah dan pelajaran-pelajaran yang berharga.

Rabu, 26 Romadhon 1438 H

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Tulisan lainnya

Targhib wa Tarhib

Jannatul-firdaus.net

Menyebar Ilmu Syar’i



Jannatul-firdaus.net

Menyebar Ilmu Syar’i



Bagikan…

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram



Targhib wa Tarhib

  • Oleh: Ustadz Dzulqarnain Muhammad Sunusi hafizhahullah
Keutamaan Sepuluh Hari Awal Dzulhijjah

Ibnu ‘Abbâs radhiyallâhu ‘anhumâ bahwa Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهِنَّ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الأَيَّامِ الْعَشْرِ. فَقَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَلاَ الْجِهَادُ فِيْ سَبِيلِ اللَّهِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ وَلاَ الْجِهَادُ فِيْ سَبِيلِ اللَّهِ إِلاَّ رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَىْءٍ

“Tiada suatu hari pun yang amal shalih pada hari-hari itu lebih dicintai oleh Allah daripada sepuluh hari ini. (Para shahabat) bertanya, ‘Wahai Rasulullah, tidak pula (dilebihi oleh) jihad di jalan Allah?’ Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘(Ya), tidak (pula) jihad di jalan Allah, kecuali orang yang keluar (berjihad) dengan jiwa dan hartanya, kemudian tidak kembali dengan sesuatu apapun dari hal tersebut.’.” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhâry, Abu Dâwud, At-Tirmidzy (lafazh hadits adalah milik beliau), dan Ibnu Mâjah]

Puasa Awal Dzulhijjah

Dari sebagian istri Nabi radhiyallâhu ‘anhâ, beliau bertutur,

أَنَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَصُومُ يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَتِسْعًا مِنْ ذِى الْحِجَّةِ وَثَلاَثَةَ أَيَّامٍ مِنَ الشَّهْرِ أَوَّلَ اثْنَيْنِ مِنَ الشَّهْرِ وَخَمِيسَيْنِ

“Sesungguhnya Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam berpuasa pada hari ‘Asyurâ, pada sembilan hari Dzulhijjah, dan pada tiga hari dalam sebulan: senin awal dari bulan (berjalan) dan dua kamis.” [Diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Dâwud, An-Nasâ`iy, dan Al-Baihaqy. Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albâny]

Puasa di Bulan Muharram Bukan Satu Bulan Penuh

Dari ‘Aisyah radhiyallâhu ‘anhâ, beliau berkata,

فَمَا رَأَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ إِلَّا رَمَضَانَ وَمَا رَأَيْتُهُ أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِيْ شَعْبَانَ

Saya tidak pernah melihat Rasulullah shollallâhu ‘alaihi wa sallam menyempurnakan puasa sebulan selain bulan Ramadhan dan saya melihat kebanyakan puasanya di bulan Sya’ban.” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhâry dan Muslim]

Keutamaan Puasa hari ‘Âsyûrâ (10 Muharram)

Dari Abu Qatadah radhiyallâhu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam ditanya tentang puasa hari ‘Âsyûrâ. Beliau menjawab,

يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ

 “(Puasa tersebut) menghapuskan (dosa) tahun yang telah berlalu.” [Diriwayatkan oleh Muslim]

Bahaya Memutus Silaturahmi

Dari Jubair bin Muth’im radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ قَاطِعُ رَحِمٍ

“Tidak akan masuk surga orang yang memutuskan suatu silaturahim.” [Diriwayatkan Al-Bukhary dan Muslim. Lafazh hadits milik Al-Bukhary]

Keutamaan Membangun Masjid

Dari Abu Dzarr Al-Ghifary radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ بَنَى لِلَّهِ مَسْجِدًا وَلَوْ كَمَفْحَصِ قَطَاةٍ بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ

“Siapa yang membangun masjid untuk Allah walaupun seperti sarang burung, Allah bangunkan untuknya sebuah rumah di sorga.” [Diriwayatkan oleh Ath-Thahawy, Ibnu Hibban, Al-Baihaqy dalam Syu’abul Iman dan selainnya. Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albany]

Husnul Khatimah

Dari Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ كَانَ آخِرُ كَلَامِهِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ

“Barangsiapa yang akhir ucapannya  adalah Lâ Ilâha Illallâh, dia akan masuk surga.” [Diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Daud, Al-Hakim dan selainnya. Dihasankan oleh Syaikh Al-Albany dalam Irwâ`ul Ghalîl no. 687]

Etika Seputar Kuburan

Dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhumâ, Beliau bertutur,

نَهَى رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يُجَصَّصَ الْقَبْرُ، وَأَنْ يُقْعَدَ عَلَيْهِ، وَأَنْ يُبْنَى عَلَيْهِ

“Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam melarang untuk mengapuri kuburan, duduk di atasnya, dan membangun di atasnya.” [Diriwayatkan oleh Muslim]

Kerabat Laki-laki dari Suami, apakah mahram?

Dari ‘Uqbah bin ‘Amir Al-Juhany radhiyallâhu ‘anhu, Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِيَّاكُمْ وَالدُّخُولَ عَلَى النِّسَاءِ

“Hati-hati kalian dari masuk menjumpai para perempuan.”

Seorang lelaki dari Al-Anshar bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana pendapatmu dengan Al-Hamwu ‘Kerabat laki-laki suami selain ayah dan anak’? Beliau menjawab,

الْحَمْوُ الْمَوْتُ

“Al-Hamwu adalah maut ‘kematian’.” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhary dan Muslim]

Dosa Meninggalkan Shalat

Dari Jabir bin Abdillah radhiyallâhu ‘anhumâ, Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ بَيْنَ الرَّجُلِ وَبَيْنَ الشِّرْكِ وَالْكُفْرِ تَرْكَ الصَّلَاةِ

“Sesungguhnya (batas) antara seseorang dengan kesyirikan dan kekafiran adalah meninggalkan sholat.” [Diriwayatkan oleh Muslim]

Dari Buraidah bin Al-Hushaib radhiyallâhu ‘anhu, Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda,

العَهْدُ الَّذِي بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمُ الصَّلَاةُ، فَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ كَفَرَ

“Perjanjian antara kami dan mereka adalah shalat. Siapa yang meninggalkan (shalat), sungguh dia telah kafir.” [Diriwayatkan oleh Ahmad, At-Tirmidzy, An-Nasâ`iy, dan Ibnu Majah. Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albany dan Syaikh Muqbil]

Pahala Orang yang Menjawab Adzan

Dari Abu Hurairah radhiyallâhu ‘anhu, beliau berkata,

كُنَّا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَامَ بِلَالٌ يُنَادِي، فَلَمَّا سَكَتَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ قَالَ مِثْلَ هَذَا يَقِينًا دَخَلَ الْجَنَّةَ

“Kami pernah bersama Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam, kemudian Bilal bangkit untuk menyerukan adzan. Tatkala Bilal diam, Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Siapa yang mengucapkan seperti ucapannya muadzin disertai dengan keyakinan, dia akan masuk surga.’.” [Diriwayatkan oleh Ahmad, An-Nasa’iy dan Ibnu Hibban. Dihasankan oleh Albany dalam Ats-Tsamar Al-Mustathâb 1/174-175]

Ketika Bangun dari Tidur Malam

Dari Abu Hurairah radhiyallâhu ‘anhu, Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا اسْتَيْقَظَ أَحَدُكُمْ مِنْ نَوْمِهِ، فَلَا يَغْمِسْ يَدَهُ فِي الْإِنَاءِ حَتَّى يَغْسِلَهَا ثَلَاثًا، فَإِنَّهُ لَا يَدْرِي أَيْنَ بَاتَتْ يَدُهُ

“Apabila salah seorang dari kalian bangun dari tidurnya, janganlah dia mencelupkan tangannya ke dalam bejana hingga dia mencucinya tiga kali, karena dia tidak tahu dimana tangannya bermalam.” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhary dan Muslim]

Doa Setelah Mendengan Adzan

Dari Jabir bin Abdillah radhiyallâhu ‘anhumâ, Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa yang berdoa ketika mendengan adzan,

اللَّهُمَّ رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ، وَالصَّلاَةِ القَائِمَةِ آتِ مُحَمَّدًا الوَسِيلَةَ وَالفَضِيلَةَ، وَابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُودًا الَّذِي وَعَدْتَهُ

‘Ya Allah! Wahai Rabb seruan yang sempurna ini dan shalat yang akan ditegakkan ini, berikanlah kepada Muhammad al-wasilah dan keutamaan, dan bangkitkanlah beliau pada tempat yang dipuji (maqam mahmud) yang telah Engkau janjikan kepadanya’, niscaya ia pasti akan beroleh syafaatku pada hari kiamat.” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhary]

Keutamaan Membaca Al-Qur`an

Dari Abu Musa Al-‘Asy’ary radhiyallâhu ‘anhu, Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَثَلُ الْمُؤْمِنِ الَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ، مَثَلُ الْأُتْرُجَّةِ، رِيحُهَا طَيِّبٌ وَطَعْمُهَا طَيِّبٌ، وَمَثَلُ الْمُؤْمِنِ الَّذِي لَا يَقْرَأُ الْقُرْآنَ مَثَلُ التَّمْرَةِ، لَا رِيحَ لَهَا وَطَعْمُهَا حُلْوٌ، وَمَثَلُ الْمُنَافِقِ الَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ، مَثَلُ الرَّيْحَانَةِ، رِيحُهَا طَيِّبٌ وَطَعْمُهَا مُرٌّ، وَمَثَلُ الْمُنَافِقِ الَّذِي لَا يَقْرَأُ الْقُرْآنَ، كَمَثَلِ الْحَنْظَلَةِ، لَيْسَ لَهَا رِيحٌ وَطَعْمُهَا مُرٌّ

“Permisalan seorang mukmin yang membaca Al-Qur`an adalah seperti buah atrujjah, baunya harum dan rasanya enak. Permisalan seorang mukmin yang tidak membaca Al-Qur`an seperti buah kurma, tidak ada baunya namun rasanya manis. Permisalan orang munafik yang membaca Al-Qur’an permisalannya seperti buah raihanah, baunya wangi tapi rasanya pahit. Permisalan orang munafik yang tidak membaca Al-Qur’an seperti buah hanzhalah, tidak ada baunya, rasanya pun pahit.” [Dikeluarkan oleh Al-Bukhary dan Muslim]

Beberapa Hukum Seputar Ihdad

Dari Ummu ‘Athiyyah radhiyallâhu ‘anhâ, Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَا تُحِدَّ امْرَأَةٌ عَلَى مَيِّتٍ فَوْقَ ثَلَاثٍ إِلَّا عَلَى زَوْجٍ أَرْبَعَةَ أَشْهُرٍ وَ عَشْرًا وَ لَا تَلْبَسُ ثَوْبًا مَصْبُوْغًا إِلَّا ثَوْبَ عَصْبٍ وَلَا تَكْتَحِلُ وَلَا تَمَسُّ طِيْبًا إِلَّا إِذَا طَهُرَتْ نُبْذَةً مِنْ قُسْطٍ أَوْ أَظْفَارٍ.

“Seorang perempuan tidak boleh berihdad terhadap mayyit selama lebih dari tiga malam, kecuali terhadap suaminya selama empat bulan sepuluh malam. Janganlah dia menyentuh pakaian yang dicelup dengan warna, kecuali baju ‘ashb, janganlah bercelak, dan janganlah menyentuh wewangian, kecuali sedikit wewangian qisth atau azhfâr apabila dia telah suci dari (haidhnya).” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhary]

Puasa Hari ‘Arafah

Dari Abu Qatâdah Al-Anshâry radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya tentang puasa hari ‘Arafah, beliau menjawab,

 يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ وَالْبَاقِيَةَ

“(Puasa tersebut) menggugurkan dosa tahun yang lalu dan tahun yang tersisa.” [Diriwayatkan oleh Muslim]

Tidak Makan sebelum Shalat Idul Adha

Dari Buraidah bin Al-Hushaib radhiyallâhu ‘anhu, beliau berkata,

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَخْرُجُ يَوْمَ الفِطْرِ حَتَّى يَطْعَمَ، وَلَا يَطْعَمُ يَوْمَ الأَضْحَى حَتَّى يُصَلِّيَ

“Adalah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak keluar pada hari Idul Fithri sebelum beliau makan, dan belian tidak makan pada hari Idul Adha hingga beliau shalat.” [Diriwayatkan oleh Ahmad, At-Tirmidzy, Ibnu Majah, Ibnu Hibban dan selainnya. Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albany dalam Takhrîj Al-Misykâh]

Berduaan dengan Bukan Mahram

Dari Umar bin Al-Khaththâb radhiyalllahu ‘anhu, Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَلَا لَا يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ إِلَّا كَانَ ثَالِثَهُمَا الشَّيْطَانُ

“Ingatlah, jangan sekali-kali seorang lelaki berduaan dengan perempuan, kecuali syaithan yang ketiga pada mereka berdua.” [Diriwayatkan oleh At-Tirmidzy, An-Nasâ`iy dalam Al-Kubra, Al-Hakim dan Al-Baihaqy. Dishahihkan oleh Al-Albany dalam Al-Irwâ` 6/215]

Berhijab di Kalangan Muslimah Generasi Pertama

Dari Aisyah radhiyalllâhu ‘anhâ, beliau bertutur,

يَرْحَمُ اللَّهُ نِسَاءَ المُهَاجِرَاتِ الأُوَلَ، لَمَّا أَنْزَلَ اللَّهُ: {وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ} شَقَّقْنَ مُرُوطَهُنَّ فَاخْتَمَرْنَ بِهَا

“Semoga Allah merahmati para perempuan muhajirah yang terdahulu. Tatkala Allah menurunkan (firman-Nya), ‘Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya’ [An-Nûr: 31], mereka segera menyobek sarung-sarung selimut mereka dan berkerudung dengannya.” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhary]

Doa antara Adzan dan Iqamat

Dari Anas bin Malik radhiyallâhu ‘anhu, Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ الدُّعَاءَ لَا يُرَدُّ بَيْنَ الْأَذَانِ وَالْإِقَامَةِ، فَادْعُوا

“Sesungguhnya doa antara adzan dan iqamat tidak ditolak, maka berdoalah kalian.” [Diriwayatkan oleh Ahmad (Lafazh hadits milik beliau), Abu Dawud, At-Tirmidzy, dan An-Nasâ`iy dalam ‘Amalul Yaum wal Lailah. Dishahihkan oleh Al-Albany dalam Al-Irwâ` no. 244]

Tentang Kewajiban Jum’at dan Bahaya Meninggalkannya

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

“Wahai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum’at, maka bersegeralah kalian kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagi kalian jika kalian mengetahui.” [Al-Jumu’ah: 9]

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَيَنْتَهِيَنَّ أَقْوَامٌ عَنْ وَدْعِهِمُ الْجُمُعَاتِ، أَوْ لَيَخْتِمَنَّ اللهُ عَلَى قُلُوبِهِمْ، ثُمَّ لَيَكُونُنَّ مِنَ الْغَافِلِينَ

“Hendaknya sekelompok kaum berhenti dari meninggalkan shalat-shalat Jum’at, atau Allah akan menutup hati-hati mereka, kemudian mereka tergolong orang-orang yang lalai.” [Diriwayatkan oleh Muslim dari Abdullah bin ‘Umar dan Abu Hurairah radhiyallâhu ‘anhum]

Beberapa Hadits Tentang Keutamaan Surah Al-Mulk

Dari Abu Hurairah radhiyalllahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

سُورَةٌ مِنَ الْقُرْآنِ ثَلَاثُونَ آيَةً، تَشْفَعُ لِصَاحِبِهَا حَتَّى يُغْفَرَ لَهُ: تَبَارَكَ الَّذِي بِيَدِهِ الْمُلْكُ

“Sebuah surah dari Al-Qur`an berisi tiga puluh ayat, memberi syafa’at kepada pemiliknya hingga diberi ampunan untuknya, Yaitu ‘Tabârakalladzî biyadihil Mulk’ (Surah Al-Mulk).” [Diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Dawud, At-Tirmidzy, An-Nasâ`iy dalam Al-Kubrâ, Ibnu Majah dan selainnya. Dihasankan oleh Syaikh Al-Albany dalam Shahih Sunan Abu Dawud.]

Dari Jabir bin Abdillah radhiyalllahu ‘anhuma, beliau berkata,

كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَنَامُ حَتَّى يَقْرَأَ الم تَنْزِيلُ السَّجْدَةَ، وَتَبَارَكَ الَّذِي بِيَدِهِ الْمُلْكُ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah tidur hingga membaca ‘Alif Lâm Mîm, Tanzîl As-Sajadah’ (Surah As-Sajadah) dan ‘Tabârakalladzî biyadihil Mulk’.” [Diriwayatkan oleh Ahmad, Al-Bukhary dalam Al-Adab Al-Mufrad, At-Tirmidzy, An-Nasâ`iy dalam ‘Amal Al-Yaum wa Al-Lailah, dan selainnya. Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albany dalam Ash-Shahîhah no. 585]

Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyalllahu ‘anhu, beliau berkata,

سُورَةُ تَبَارَكَ هِيَ الْمَانِعَةُ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ

“Surah Tabârak adalah penghalang dari adzab kubur.” [Diriwayatkan oleh Abdurrazzaq, Abu ‘Ubaid, Al-Hakim, Al-Baihaqy dalam Itsbât ‘Adzâb Al-Qabr, dan selainnya. Ucapan Ibnu Mas’ud di atas memiliki hukum hadits marfû’. Diriwayatkan pula oleh Abusy Syaikh dan Asy-Syajary dalam Al-Amâlî, serta dihasankan oleh Al-Albany dalam Ash-Shahîhah no. 1140]

Memulai Doa dengan Bershalawat

كُلُّ دُعَاءٍ مَحْجُوبٌ حَتَّى يُصَلَّى عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Setiap doa terhijab (terhalang) hingga dilakukan shalawat terhadap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” [Dihasankan oleh Syaikh Al-Albany dalam Ash-Shahîhah no. 2035 karena beberapa jalur riwayatnya yang saling menguatkan]

Keringanan dalam Shalat dan Puasa

Dari Anas bin Malik Al-Ka’by radhiyalllahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ وَضَعَ عَنِ الْمُسَافِرِ شَطْرَ الصَّلَاةِ وَالصِّيَامَ، وَعَنِ الْحَامِلِ وَالْمُرْضِعِ

“Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla menggugurkan separuh shalat dan puasa atas seorang musafir dan (menggugurkan puasa) dari perempuan yang hamil dan menyusui.” [Diriwayatkan oleh Abu Dawud, At-Tirmidzy, An-Nasâ’iy, Ibnu Majah dan Ibnu Khuzaimah. Dikuatkan oleh Syaikh Albani dalam Shahih Sunan Abu Dawud]

Keutamaan Membaca Surah Al-Kahfi Malam Jum’at

مَنْ قَرَأَ سُورَةَ الْكَهْفِ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ، أَضَاءَ لَهُ مِنَ النُّورِ فِيمَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْبَيْتِ الْعَتِيقِ

“Barangsiapa yang membaca surah Al-Kahfi pada malam Jum’at, Allah akan menerangi untuknya sebuah cahaya antara dirinya dan Al-Bait Al-‘Atîq (Ka’bah).” [Diriwayatkan oleh Ad-Darimy, Al-Baihaqy dalam Syu’abul Îmân, dan selainnya dari hadits Abu Sa’îd Al-Khudry secara mauqûf. Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albany dalam Al-Irwâ` no. 626]

Masuk Masjid Bagi Perempuan Haidh untuk Suatu Keperluan

Dari ‘Aisyah radhiyallâhu ‘anha, tentang seorang budak perempuan hitam yang datang kepada Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam kemudian masuk Islam. Aisyah radhiyallâhu ‘anha berkata,

فَكَانَ لَهَا خِبَاءٌ فِي المَسْجِدِ

“Dia memiliki kemah di masjid.” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhary]

Keutamaan Berbuat Baik Kepada Seluruh Makhluk

Dari Abu Hurairah radhiyallâhu ‘anhu, Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda,

بَيْنَمَا رَجُلٌ يَمْشِي بِطَرِيقٍ، اشْتَدَّ عَلَيْهِ العَطَشُ، فَوَجَدَ بِئْرًا فَنَزَلَ فِيهَا، فَشَرِبَ ثُمَّ خَرَجَ، فَإِذَا كَلْبٌ يَلْهَثُ، يَأْكُلُ الثَّرَى مِنَ العَطَشِ، فَقَالَ الرَّجُلُ: لَقَدْ بَلَغَ هَذَا الكَلْبَ مِنَ العَطَشِ مِثْلُ الَّذِي كَانَ بَلَغَ بِي، فَنَزَلَ البِئْرَ فَمَلَأَ خُفَّهُ ثُمَّ أَمْسَكَهُ بِفِيهِ، فَسَقَى الكَلْبَ فَشَكَرَ اللَّهُ لَهُ فَغَفَرَ لَهُ ” قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، وَإِنَّ لَنَا فِي البَهَائِمِ أَجْرًا؟ فَقَالَ: «نَعَمْ، فِي كُلِّ ذَاتِ كَبِدٍ رَطْبَةٍ أَجْرٌ»

“Ketika tengah berjalan di suatu jalan, seorang laki-laki mengalami kehausan yang sangat. Kemudian dia mendapati sebuah sumur lalu Dia turun ke (sumur itu) dan meminum lalu keluar (darinya). Ternyata ada seekor anjing yang menjulurkan lidahnya menjilat-jilat tanah lantaran kehausan. Orang itu berkata, ‘Sungguh anjing ini telah tertimpa dahaga seperti yang telah menimpaku.’ Ia turun (lagi) ke sumur untuk memenuhi sepatu kulitnya (dengan air) kemudian memegang sepatu itu dengan mulutnya lalu memberi minum untuk anjing tersebut. Maka Allah mensyukuri perbuatannya dan memberikan ampunan kepadanya.” (Para shahabat) bertanya, “Wahai Rasullulah, apakah kita mendapat pahala (bila berbuat baik) pada binatang?” Beliau bersabda, “(Berbuat baik) kepada setiap makhluk hidup yang memiliki hati terdapat pahala.” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhary dan Muslim]

Keutamaan Doa Ketika Turun Hujan

Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَنَّ الدُّعَاءَ كَانَ يُسْتَحَبُّ عِنْدَ نُزُوْلِ الْقَطْرِ وَإِقَامَةِ الصَّلَاةِ وَالْتِقَاءِ الصَّفَّيْنِ

“Sesungguhnya doa itu disunnahkan ketika turun hujan, shalat akan didirikan, dan perjumpaan dua pasukan.” [Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dan Asy-Syâfi’iy. Dihasankan oleh Syaikh Al-Albany dalam Ash-Shahîhâh no. 1469 lantara beberapa jalur pendukungnya.]

Puasa Ayyamul Bîdh (Hari-Hari Putih)

Dari Abu Dzarr Al-Ghifary radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,

أَمَرَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ نَصُومَ مِنَ الشَّهْرِ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ الْبِيضَ: ثَلَاثَ عَشْرَةَ، وَأَرْبَعَ عَشْرَةَ، وَخَمْسَ عَشْرَةَ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintah kami untuk berpuasa tiga hari putih pada setiap bulan, (tanggal) 13, 14, dan 15.” [Diriwayatkan oleh Ahmad, An-Nasâ`iy, Ibnu Hibban dan Al-Baihaqy. Dihasankan oleh Syaikh Al-Albany karena beberapa pendukungnya dalam Ash-Shahîhah no. 1567]

Keutamaan Doa Saat Sujud

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَقْرَبُ مَا يَكُونُ الْعَبْدُ مِنْ رَبِّهِ، وَهُوَ سَاجِدٌ، فَأَكْثِرُوا الدُّعَاءَ

“Sedekat-dekat keberadaan seorang hamba dari Rabbnya adalah dalam keadaan dia sujud, perbanyaklah doa (saat sujud).” [Diriwayatkan oleh Muslim]

Keutamaan Membangun Masjid

Dari Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ بَنَى مَسْجِدًا لِلَّهِ بَنَى اللهُ لَهُ فِي الْجَنَّةِ مِثْلَهُ

“Siapa yang membangun masjid karena Allah, Allah akan membangunkan untuknya di sorga yang semisal dengannya.” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhary dan Muslim. Lafazh hadits milik Muslim]

Keutamaan Berdoa Sembari Mengangkat Tangan

Dari Salman Al-Farisy radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ رَبَّكُمْ تَبَارَكَ وَتَعَالَى حَيِيٌّ كَرِيمٌ، يَسْتَحْيِي مِنْ عَبْدِهِ إِذَا رَفَعَ يَدَيْهِ إِلَيْهِ، أَنْ يَرُدَّهُمَا صِفْرًا

“Sesungguhnya Rabb kalian Tabâraka wa Ta’âlâ Maha Pemalu lagi Maha Pemurah, Dia malu terhadap hamba-Nya, bila (sang hamba) mengangkat kedua tangannya kepada-Nya, lalu Ia mengembalikan (kedua tangan hamba itu) dalam keadaan hampa.” [Hadits hasan. Diriwayatkan Ahmad, Abu Dawud, At-Tirmidzy dan Ibnu Majah. Baca Shahih Abi Dawud karya Al-Albany dan Tahqiq Musnad Ahmad karya Syu’aib Al-Arna`ûth.]

Di Antara Keutamaan Berdzikir

Dari Abud Dardâ` radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَلاَ أُنَبِّئُكُمْ بِخَيْرِ أَعْمَالِكُمْ، وَأَزْكَاهَا عِنْدَ مَلِيكِكُمْ، وَأَرْفَعِهَا فِي دَرَجَاتِكُمْ وَخَيْرٌ لَكُمْ مِنْ إِنْفَاقِ الذَّهَبِ وَالوَرِقِ، وَخَيْرٌ لَكُمْ مِنْ أَنْ تَلْقَوْا عَدُوَّكُمْ فَتَضْرِبُوا أَعْنَاقَهُمْ وَيَضْرِبُوا أَعْنَاقَكُمْ؟ قَالُوا: بَلَى. قَالَ: ذِكْرُ اللهِ تَعَالَى

“Inginkah kalian aku tunjukkan pada amalan kalian yang terbaik, paling suci di sisi Pengusa kalian (yakni Allah, pent.), paling tinggi dalam mengangkat derajat kalian dan lebih baik bagi kalian daripada menginfakkan emas dan perak, serta lebih baik bagi kalian daripada kalian bertemu dengan musuh kalian, lalu kalian memenggal leher-leher mereka dan mereka memenggal leher-leher kalian? Para sahabat menjawab, ‘Tentu, (wahai Rasulullah!)’ Beliau bersabda,“(Amalan itu adalah) dzikir kepada Allah Ta’âlâ.” [Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan selainnya. Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albany dan Syaikh Muqbil]

Tempat Shalat Terbaik bagi Perempuan

Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

صَلَاةُ الْمَرْأَةِ فِي بَيْتِهَا أَفْضَلُ مِنْ صَلَاتِهَا فِي حُجْرَتِهَا، وَصَلَاتُهَا فِي مَخْدَعِهَا أَفْضَلُ مِنْ صَلَاتِهَا فِي بَيْتِهَا

 “Shalat seorang perempuan di (tengah) rumahnya lebih utama baginya daripada shalatnya di ruangan (dekat tembok rumahnya), dan shalat seorang perempuan di ruang kecil khusus (di ujung rumah) lebih utama baginya daripada di (tengah) di rumahnya.” [Diriwayatkan oleh Abu Daud dengan sanad yang shahih di atas syarat Muslim, sebagaimana yang dikatakan oleh An-Nawawy, Al-Albany dan Al-Wadi’iy]

Kewajiban Shalat Berjama’ah di Masjid

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَقَدْ هَمَمْتُ أَنْ آمُرَ بِالصَّلاَةِ فَتُقَامَ، ثُمَّ أُخَالِفَ إِلَى مَنَازِلِ قَوْمٍ لاَ يَشْهَدُونَ الصَّلاَةَ، فَأُحَرِّقَ عَلَيْهِمْ

“Sungguh aku sangat berkeinginan untuk memerintah supaya shalat ditegakkan, lalu aku mendatangi rumah-rumah kaum yang tidak menghadiri shalat, kemudian aku bakar (rumah-rumah) mereka.” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhary dan Muslim. Lafazh hadits milik Al-Bukhary]

Sunnah-sunnah Fitrah

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الْفِطْرَةُ خَمْسٌ الِاخْتِتَانُ، وَالِاسْتِحْدَادُ، وَقَصُّ الشَّارِبِ، وَتَقْلِيمُ الْأَظْفَارِ، وَنَتْفُ الْإِبِطِ

“Fitrah adalah lima macam; khitan, mencukur bulu kemaluan, memendekkan kumis, menggunting kuku dan mencabut bulu ketiak.” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhary dan Muslim. Lafazh hadits milik Muslim]

Keutamaan Berjalan Ke Masjid

Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ مَشَى فِي ظُلْمَةِ اللَّيْلِ إِلَى الْمَسَاجِدِ آتَاهُ اللَّهُ نُورًا يوم القيامة

“Barangsiapa yang berjalan ke masjid pada kegelapan malam, Allah akan memberi cahaya kepadanya pada hari kiamat.”[Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah, Ibnu Hibban, dan selainnya. Baca Ats-Tsamrul Mustathâb karya Syaikh Al-Albany hal. 502-503]


Unduh

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Tulisan lainnya

Beberapa Manfaat dan Keutamaan Istighfar

Jannatul-firdaus.net

Menyebar Ilmu Syar’i



Jannatul-firdaus.net

Menyebar Ilmu Syar’i



Bagikan…

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram



Beberapa Manfaat dan Keutamaan Istighfar

  • Oleh: Ustadz Dzulqarnain Muhammad Sunusi hafizhahullah
Berikut beberapa penjelasan manfaat yang akan diraih oleh hamba dengan beristighfar.

Pertama: Istighfar Adalah Sebab Pengampunan Dosa

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَى مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ.

“Dan orang-orang yang, apabila berbuat keji atau menganiaya diri sendiri, mengingat Allah lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka. Siapa lagi yang dapat mengampuni dosa, kecuali Allah? Mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.” [Ali ‘Imran: 135]

Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman,

وَمَنْ يَعْمَلْ سُوءًا أَوْ يَظْلِمْ نَفْسَهُ ثُمَّ يَسْتَغْفِرِ اللَّهَ يَجِدِ اللَّهَ غَفُورًا رَحِيمًا.

“Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, (tetapi) kemudian memohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati bahwa Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” [An-Nisa`: 110]

Kedua: Meluaskan Rezeki Seorang Hamba

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman menjelaskan seruan Nabi Nuh ‘alaihis salam kepada kaumnya,

فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا. يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا. وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا.

“Maka saya berkata (kepada mereka), ‘Mohonlah ampunan kepada Rabb kalian (karena) sesungguhnya Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit atas kalian. Dan Dia akan melipatkangandakan harta dan anak-anak kalian, mengadakan kebun-kebun atas kalian, serta mengadakan sungai-sungai untuk kalian.” [Nuh: 10-12]

Ayat di atas menunujukkan bahwa istighfar adalah sebab turunnya rezeki dari langit, dilapangkannya harta dan keturunan, serta dibukakannya berbagai kebaikan untuk hamba sehingga, terhadap masalah apapun yang dihadapi oleh seorang hamba, jalan keluar akan dihamparkan untuknya.

Al-Hafizh Ibnu Hajar menyebut sebuah atsar dari Al-Hasan Al-Bashry bahwa ada empat orang yang datang secara terpisah kepada beliau. Mereka mengeluh akan masa paceklik, kefakiran, kekeringan kebun, dan tidak mempunyai anak. Namun, terhadap semua keluhan tersebut, beliau hanya menjawab, “Beristighfarlah kepada Allah,” lalu membacakan ayat di atas.[1]

Ketiga: Menghindarkan Hamba dari Siksa Allah dan Musibah

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُعَذِّبَهُمْ وَأَنْتَ فِيهِمْ وَمَا كَانَ اللَّهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ.

“Dan Allah tidak akan menyiksa mereka sedang mereka dalam keadaan beristighfar.” [Al-Anfal: 33]

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman pula menjelaskan sebab terselamatkannya Nabi Yunus ‘alaihis salam,

فَلَوْلَا أَنَّهُ كَانَ مِنَ الْمُسَبِّحِينَ. لَلَبِثَ فِي بَطْنِهِ إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ.

“Maka kalau sekiranya dia tidak termasuk sebagai orang-orang yang banyak bertasbih, niscaya ia akan tetap tinggal di dalam perut ikan itu sampai hari kebangkitan.” [Ash-Shaffat: 143-144]

Pada ayat lain, Allah Jalla Jalaluhu menjelaskan bentuk tasbih Nabi Yunus ‘alaihis salam yang merupakan salah satu makna istighfar, yaitu dalam firman-Nya,

لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ.

“Tiada sembahan (yang hak), kecuali Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya saya termasuk ke dalam golongan orang-orang zhalim.” [Al-Anbiya`: 87]

Keempat: Istighfar Adalah Sebab yang Mendatangkan Rahmat

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

لَوْلَا تَسْتَغْفِرُونَ اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ.

“Hendaklah kalian memohon ampunan kepada Allah agar kalian dirahmati.” [An-Naml: 46]

Perhatikanlah jaminan Allah tersebut! Allah senantiasa merahmati seseorang yang senantiasa beristighfar.

Kelima: Salah Satu Sumber Tambahan Kekuatan dan Kejayaan adalah Istighfar

Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan ucapan Nabi Hud ‘alaihis salam kepada kaumnya sebagaimana dalam firman-Nya,

وَيَا قَوْمِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا وَيَزِدْكُمْ قُوَّةً إِلَى قُوَّتِكُمْ وَلَا تَتَوَلَّوْا مُجْرِمِينَ.

“Wahai kaumku, beristighfarlah kepada Rabb kalian lalu bertaubatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras atas kalian dan menambahkan kekuatan kepada kekuatan kalian, serta janganlah kalian berpaling dengan berbuat dosa.” [Hud: 52]

Keenam: Istighfar Adalah Salah Satu Hal yang Melapangkan Dada Seorang Hamba

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّهُ لَيُغَانُ عَلَى قَلْبِيْ وَإِنِّيْ لأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ فِي الْيَوْمِ مِائَةَ مَرَّةٍ

“Sesungguhnya, kadang terdapat sesuatu yang melekat pada hatiku maka saya pun beristighfar kepada Allah sebanyak seratus kali dalam sehari.” [2]

Ketujuh: Wajah Orang yang Beristighfar Dijadikan Berseri dan Berbahagia oleh Allah pada Hari Pertemuan dengan-Nya

Telah shahih bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ أَحَبَّ أَنْ تَسُرَّهُ صَحِيْفَتُهُ ، فَلْيُكْثِرْ فِيْهَا مِنَ الْاِسْتِغْفَارِ

“Barangsiapa yang ingin bahagia dengan catatan amalnya (pada hari kiamat), hendaklah ia beristighfar kepada Allah.” [3]

Telah shahih pula bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

طُوبَى لِمَنْ وَجَدَ فِي صَحِيفَتِهِ اسْتِغْفَارًا كَثِيرًا

“Sangat beruntunglah orang yang menemukan bahwa pada catatan amalnya terdapat banyak istighfar.” [4]

Kedelapan: Membersihkan Noda Hitam dari Hati Seorang Hamba

Jika seorang hamba melakukan kesalahan, suatu noda hitam akan tertitik pada hati seorang hamba. Jika hamba beristighfar, dihapuslah noda itu dan hatinya kembali bersih. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ الْمُؤْمِنَ إِذَا أَذْنَبَ كَانَتْ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ فِي قَلْبِهِ فَإِنْ تَابَ وَنَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ صُقِلَ قَلْبُهُ وَإِنْ زَادَ زَادَتْ حَتَّى يَعْلُوَ قَلْبَهُ ذَاكَ الرَّيْنُ الَّذِي ذَكَرَ اللَّهُ عزَّ وَجَلَّ فِي الْقُرْآنِ كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ.

“Jika seseorang melakukan sebuah dosa, dititiklah satu titik hitam pada hatinya. Jika dia bertaubat, berhenti (melakukan dosa), lalu beristighfar, hatinya akan kembali bersih. Jika dia mengulangi dosanya, ditambahkanlah titik hitam sampai menutupi hatinya, dan jika hatinya sudah tertutup, itulah ar-rain ‘penutup hati’ yang Allah ‘Azza wa Jalla sebutkan dalam Al-Qur`an, ‘Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya sesuatu yang selalu mereka usahakan itu menjadi ar-rain terhadap hati-hati mereka.’ [Al-Muthaffifin: 14].” [5]

Kesembilan: Istighfar Adalah Salah Satu Bekal bagi Seseorang yang Berdakwah di Jalan Allah

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

فَاصْبِرْ إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ بِالْعَشِيِّ وَالْإِبْكَارِ.

“Maka bersabarlah kamu karena sesungguhnya janji Allah itu benar, serta beristighfarlah terhadap dosamu dan bertasbihlah seraya memuji Rabb-mu pada petang dan pagi.” [Ghafir: 55]

Kesepuluh: Sebab Terkabulkannya Doa adalah Istighfar

Nabi Shalih ‘alaihis salam berkata kepada kaumnya sebagaimana yang Allah jelaskan dalam firman-Nya,

وَإِلَى ثَمُودَ أَخَاهُمْ صَالِحًا قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ هُوَ أَنْشَأَكُمْ مِنَ الْأَرْضِ وَاسْتَعْمَرَكُمْ فِيهَا فَاسْتَغْفِرُوهُ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ إِنَّ رَبِّي قَرِيبٌ مُجِيبٌ.

“Wahai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada sembahan (yang hak) bagi kalian, kecuali Dia. Dia telah menciptakan kalian dari bumi (tanah) dan menjadikan kalian sebagai pemakmur (bumi) itu maka beristighfarlah kepada-Nya, kemudian bertaubatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Rabb-ku amatlah dekat lagi mengabulkan (doa hamba-Nya).” [Hud: 61]

Kesebelas: dengan Istighfar, Seorang Hamba Akan Semakin Mengagungkan dan Membesarkan Rabb-Nya

Telah berlalu penjelasan keagungan istighfar karena digandengkan dengan tauhid dalam sejumlah ayat, juga telah berlalu penyebutan nama-nama dan sifat pengampunan Allah. Tidak diragukan bahwa dua makna tersebut sangatlah menanamkan pengagungan dan pembesaran dalam hati seorang hamba kepada Rabb-nya.


[1] Demikian makna kisah yang disebut dalam Fathul Bary 11/98.

[2] Diriwayatkan oleh Muslim dan Abu Dawud dari Al-Agharr Al-Muzany radhiyallahu ‘anhu.

[3] Diriwayatkan oleh Ath-Thabarany, dalam Al-Ausath, dan Dhiya` Al-Maqdasy dari Zubair bin Al-‘Awwam radhiyallahu ‘anhu. Dishahihkan oleh Al-Albany rahimahullah dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah no. 2299.

[4] Diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan selainnya dari Abdullah bin Busr radhiyallahu ‘anhu. Dishahihkan oleh Al-Albany rahimahullah dalam Shahih Al-Jami’.

[5] Diriwayatkan oleh Ahmad, At-Tirmidzy, An-Nasa`iy, Ibnu Majah, dan selainnya dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Dihasankan oleh Al-Albany dalam Shahih Al-Jami’ dan Syaikh  Muqbil dalam Ash-Shahih Al-Musnad.

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Tulisan lainnya

Nasihat dan Penjelasan Guna Mengobati Sumber Fitnah

Jannatul-firdaus.net

Menyebar Ilmu Syar’i



Jannatul-firdaus.net

Menyebar Ilmu Syar’i



Bagikan…

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram



Nasihat dan Penjelasan Guna Mengobati Sumber Fitnah

  • Oleh: Ustadz Dzulqarnain Muhammad Sunusi hafizhahullah

بسم الله الرحمن الرحيم

الحمد لله رب العالمين والصلاة والسلام على المبعوث رحمة للعالمين نبينا محمد وعلى آله وصحبه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين،،،

أما بعد،،،

Di antara pondasi pokok dan maksud yang dakwah kepada Allah tegak di atasnya:

  1. Mendakwahkan Tauhid dan memurnikan ibadah hanya kepada Allah Ta’âlâ.
  2. Menyelamatkan manusia dari api neraka.
  3. Menyebarkan ilmu syariat dan akhlak mulia (yang bersumber) dari Al-Qur`an dan Sunnah sesuai dengan pemahaman Salaful Ummah.
  4. Mengajak kepada perbaikan dengan segala makna dengan (perbaikan) itu, dan melarang dari kerusakan berupa segala makna kerusakan.
  5. Merealisasikan makna nasihat dalam agama yang mencakup seluruh tatanan kehidupan, serta dasar-dasar pokok dakwah Salafiyyah lainnya yang sudah dikenal.

Segala puji bagi Allah dan segala karunia hanya milik-Nya, telah berdiri markas-markas, pesantren-pesantren, sekolah-sekolah, dan pondok-pondok Tahfizh Al-Qur`an, serta pembinaan masjid-masjid dan khutbah-khutbah serta kegiatan-kegiatan dakwah lainnya dan berbagai usaha yang baik.

Manusia telah mendapatkan manfaat dengan dakwah ini, dan kami telah menyaksikan penerimaan yang baik akan kebaikan dan ilmu yang bermanfaat, serta kami telah menyaksikan usaha-usaha yang mubarakah dalam perbaikan serta saling tolong menolong kepada kebaikan dan ketakwaan bersama dengan pemerintah dan berbagai lapisan manusia pada sejumlah bidang.

Akan tetapi, sudah merupakan ketentuan Allah ‘Azza wa Jalla dalam berdakwah kepada jalan-Nya bahwa akan ada tantangan/rintangan sebagaimana Rabb kita, (Allah) Jalla wa ‘Ala, berfirman,

وَكَذَلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا شَيَاطِينَ الْإِنْسِ وَالْجِنِّ يُوحِي بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُورًا.

“Dan demikianlah Kami menjadikan, bagi tiap-tiap nabi itu, musuh dari kalangan syaitan jenis manusia dan jin yang sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan-perkataan yang indah untuk menipu (manusia).” [Al-An’âm: 112]

(Allah) Ta’âlâ berfirman pula,

وَكَذَلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا مِنَ الْمُجْرِمِينَ وَكَفَى بِرَبِّكَ هَادِيًا وَنَصِيرًا.

“Dan demikianlah Kami mengadakan, bagi setiap nabi, musuh dari kalangan orang yang berdosa, dan cukuplah Rabb-mu menjadi pemberi petunjuk dan penolong.” [Al-Furqân: 31]

Permasalahan-permasalahan dakwah beraneka ragam dan bentuk-bentuk penentangan berbilang, tetapi perselisihan di kalangan Salafiyyin dan yang bersandar kepada manhaj Salaf adalah tergolong kendala terberat terhadap dakwah.

Dikhawatirkan dari yang demikian akan terhilang salah satu sebab agung di antara sebab-sebab pertolongan (Allah) yang telah Allah Ta’âlâ jelaskan dalam firman-Nya yang haq,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا لَقِيتُمْ فِئَةً فَاثْبُتُوا وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ. وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ وَاصْبِرُوا إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ.

“Wahai orang-orang yang beriman, apabila kalian memerangi pasukan (musuh), berteguh hatilah kalian dan sebutlah (nama) Allah sebanyak-banyaknya agar kalian beruntung. Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya serta janganlah kalian berbantah-bantahan yang mengakibatkan kalian menjadi gentar dan kekuatan kalian hilang, serta bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” [Al-Anfâl: 46]

Di Indonesia telah terjadi beberapa permasalahan dakwah di kalangan Salafiyyin melebihi sepuluh tahun (lamanya), dan problem tersebut semakin besar sekitar dua tahun terakhir disebabkan oleh masuknya sebagian perusak yang sok berilmu, tetapi -dari pihak kami- permasalahan telah selesai dengan mengangkat permasalahan sekolah formal ke Al-Lajnah Ad-Dâ`imah di Kerajaan Arab Saudi -semoga Allah menjaganya-, juga guru kami, Syaikh Al-‘Allâmah Shalih Al-Fauzân -semoga Allah menjaga beliau-, telah berkenan memberikan pengarahan dan bimbingan (kepada kami) secara lisan terhadap sejumlah permasalahan dakwah tersebut.

Guru kami, Al-‘Allâmah Syaikh Shalih Al-Fauzân hafizhahullâh, telah mengarahkan kami supaya tetap berjalan di atas jalan kami, dan agar kami jangan memedulikan orang-orang yang berbuat keributan.

Maka, kami berkeyakinan bahwasanya kami tidak perlu lagi menyibukkan diri dengan “pinggiran-pinggiran jalan” (hal yang kurang berguna) setelah pengarahan –rujukan Kerajaan Arab Saudi bahkan rujukan dunia Islam- Al-Lajnah Ad-Dâ`imah Lil Iftâ` -yang diketuai oleh mufti umum: Al-‘Allâmah Syaikh Abdul Aziz Âlu Syaikh hafizhahullâh– dan (setelah) pengarahan Al-‘Allâmah Syaikh Shalih Al-Fauzân –hafizhahullâh.

Saya dan kawan-kawan (para da’i) memiliki banyak kegiatan dakwah yang tidak akan membantu kami untuk menoleh kepada orang-orang yang gemar ribut tersebut.

Apalagi, di antara kegiatan-kegiatan ini adalah apa-apa yang keluasan manfaatnya diharapkan untuk berkhidmah kepada kaum muslimin serta mewujudkan keamanan dan ketentraman pada masyarakat dan negara kami.

Akan tetapi, saya melihat keharusan untuk menulis tulisan ini dengan beberapa sebab:

  1. Semakin bertambahnya bahaya perbuatan-perbuatan Al-Akh Luqman Ba’abduh dan orang-orang yang bersamanya terhadap dakwah Salafiyyah, khususnya pada hari-hari belakangan ini sebagaimana penjelasan yang akan datang.
  2. Sampainya sebagian masyâkil kepada sebagian masyaikh yang mulia dengan penggambaran yang tidak utuh dan pertanyaan mereka tentang permasalahan tersebut, serta tidak sepantasnya perkara dibiarkan tanpa dijelaskan.

Berikut sebagian penjelasan guna membersihkan citra dakwah Salafiyyah di Indonesia dengan sebelumnya saya memohon maaf karena menyebutkan sebagian perkara yang sebenarnya jiwa tidak tenang menyebutkannya, tetapi terpaksa saya sebutkan karena cakupan firman Allah Ta’âlâ,

لَا يُحِبُّ اللَّهُ الْجَهْرَ بِالسُّوءِ مِنَ الْقَوْلِ إِلَّا مَنْ ظُلِمَ وَكَانَ اللَّهُ سَمِيعًا عَلِيمًا.

“Allah tidaklah menyukai ucapan buruk (yang diucapkan) dengan terus terang, kecuali orang yang dianiaya (dizhalimi). Adalah Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” [An-Nisâ`: 148]

Dan saya hanya memohon kepada Allah taufiq, kelurusan, dan kebenaran. Dialah Yang Maha Membuka (dengan kebenaran dan kepastian) lagi Maha Memberi Anugerah.

Pertama: Gambaran Ringkas Tentang Al-Akh Luqman Ba’abduh

Kisah tentang Al-Akh Luqman – ashlahahullâh ‘semoga Allah memperbaikinya’- bermula ketika dia kembali ke Indonesia (dari Yaman) dalam suasana pelampauan batas kaum Nashara terhadap kaum Muslimin di kepulauan Maluku. Al-Akh Luqman bergabung bersama Al-Akh Ja’far Umar Thalib –ashlahahullâh– yang memimpin jihad. Saya pernah bersama dengan mereka pada permulaan jihad dengan (berdasarkan) fatwa masyaikh kami yang memfatwakan untuk membela kaum muslimin di kepulauan Maluku. Namun, ketika saya berselisih dan berbeda pendapat dengan mereka pada masalah penegakan hukum rajam yang akan mereka terapkan, mereka pun men-tahdzîr Dzulqarnain. Kemudian, tampak dari mereka penyelewengan-penyelewengan yang banyak, tetapi mereka (malah) berlepas diri dari dan men-tahdzîr keras Dzulqarnain. Bahkan, pada penyelenggaraan sebagian ceramah mereka di kota kami (Makassar), mereka memasang spanduk pengumuman bahwa mereka tidak lagi memiliki hubungan dengan Dzulqarnain dan ma’hadnya. Pada waktu itu, saya bersyukur kepada Allah akan hal tersebut sehingga dakwah kami terlepas dari mereka secara sempurna. Ketika muncul dari mereka berbagai petaka yang lebih banyak, yang dikhawatirkan akibatnya yang jelek atas dakwah Salafiyyah pada umumnya, bahkan terhadap masyaikh yang mereka bergantung dengan nama-nama mereka pada kebanyakan tindakan dan perbuatan mereka secara khusus, maka saya bersama kawan-kawan pengasuh Ma’had As-Sunnah mengumpulkan (data) perbuatan dan petaka mereka yang tersebar berdasarkan bukti-bukti otentik (yang hal ini adalah) sebagai bentuk rasa sayang kepada mereka dan guna menjaga kemurnian dakwah. Pengumpulan data tersebut memakan waktu cukup banyak: pada masa dua bulan. Kemudian, kami mengirim surat tertulis kepada sejumlah masyaikh yang mulia, dan di antara mereka adalah guru kami, Al-‘Allâmah Al-Jalîl Rabî’ bin Hâdy Al-Madhkhaly hafizhahullâh, guna menjelaskan keadaaan mereka (yang sebenarnya).

Ketika Al-Akh Luqman dan Al-Akh Usâmah Mahri -semoga Allah memperbaiki keduanya- datang kepada Syaikh Rabî’ hafizhahullâh, Syaikh sangat marah kepada mereka sebagaimana yang disampaikan oleh Al-Akh Luqman dan Usâmah Mahri dalam kaset (yang terekam). Mereka berdua menerangkan bahwasanya sebab (kemarahan Syaikh) adalah karena isi surat yang Dzulqarnain tulis kepada Syaikh Rabî’ dan bahwa surat itu berisi kedustaan 100%. Kemudian, setelah itu datanglah Al-Akh Dzul Akmal dan Al-Akh Muhammad Wildan dengan rekaman suara Syaikh Rabî’ –hafizhahullâh yang mengandung beberapa bimbingan, di antaranya “menghentikan jihad yang telah berubah menjadi jihad Ikhwani, dan (menyeru agar) kembali kepada markas-markas ilmu dan urusan taklim, serta mengembalikan perkara kepada pemerintah (Indonesia).” Di antara perkataan Syaikh Rabî’ tentang Al-Akh Luqman Ba’abduh (pada waktu itu):

“Sesungguhnya saya khawatir bahwa Luqman ini merupakan orang Ikhwani yang pura-pura berpenampilan Salafiyyah karena Engkau mengetahui, wahai Ja’far, bahwasanya orang-orang Ikhwani menggunakan penyusup-penyusup dan memakai taqiyyah ‘penyamaran’ serta pura-pura menampakkan dakwah Salafiyyah. Al-Akh Usâmah Mahri telah mengakui (tulisan Dzulqarnain), sedang Al-Akh Luqman mulai mengingkari sedikit demi sedikit, (tetapi) kemudian menerima hal-hal yang disebutkan oleh Al-Akh Dzulqarnain, yaitu (sejumlah) delapan poin. Semuanya telah menyifati gerakan kalian dengan sifat-sifat Ikhwani secara sempurna, bahkan lebih.”

Ketika ucapan Syaikh Rabî’ telah tersebar, Al-Akh Luqman tidak mampu (berbuat apa-apa), kecuali mengakui kebenaran tulisan Al-Akh Dzulqarnain. Pada pertemuannya di kota Yogyakarta, dia mengakui bahwasanya tulisan Al-Akh Dzulqarnain adalah 85% benar, kemudian di Solo dia menyebutkan (lagi bahwa tulisan tersebut) 90% benar. Salah seorang hadirin pun bertanya kepadanya, “Naik 5%?” (Luqman) menjawab, “Iya.” (demikian persaksian Ustadz Abu Ahmad). Selanjutnya Al-Akh Luqman dan rekan-rekannya meninggalkan Al-Akh Ja’far Umar Thalib, tetapi perselisihan Al-Akh Luqman terus berlanjut terhadap Dzulqarnain dan kawan-kawannya. Hingga, pada kedatangan Syaikh Abdullah Al-Mar’iy hafizhahullâh dan Syaikh Salim Ba Muhriz hafizhahullâh, terjadilah Ishlah dengan persetujuan Syaikh Rabî’ –semoga Allah menjaga semuanya-. Di antara ketetapan ishlah dari pihak Al-Akh Luqman dan rekan-rekannya yang berhubungan dengan surat tersebut, nashnya adalah,

“Kami bersyukur pada ustadz Dzulqarnain yang mulia dan saudara-saudaranya yang mulia para pengasuh ma’had As-Sunnah atas peringatan terhadap saudara-saudaranya, maka apa yang merupakan kesalahan dari kami, kami ruju’ darinya …”

Ishlah yang terjadi pada waktu itu sangat mengembirakan Salafiyyin. Akan tetapi, hal tersebut tidak berlangsung lama. Al-Akh Luqman kembali mengadakan perpecahan dan tahdzîr secara sembunyi-sembunyi. Luqman telah mengingkari pengakuannya dalam ketetapan ishlah itu. Pada pertemuannya dengan sebagian kawan-kawannya beberapa tahun yang lalu, Al-Akh Luqman berkata, “Sesungguhnya saya tidak percaya Dzulqarnain, (baik) sebelum dan sesudahnya.” (ucapan ini dipersaksikan oleh sejumlah ustadz).

Demikian juga ucapan Luqman (terhadap Syaikh Abdullah Al-Mar’iy), “Saya dipaksa oleh Syaikh Abdullah Al-Mar’iy untuk bersalah,” (ucapan ini dipersaksikan oleh Al-Akh Zainal Arifin di Bandung pada 11 Rabiul Awal 1431 H/25-2-2010 yang dihadiri oleh sejumlah da’i).

(Dua fakta di atas) adalah sikap rujuk dan main-main Luqman Ba’abduh terhadap kesalahan-kesalahan yang dia terjerumus ke dalamnya pada masa jihad. Sepantasnyalah Al-Akh Luqman bersyukur kepada Allah kemudian bersyukur kepada siapa saja yang menjadi sebab keselamatan mereka dari kesesatan dan penyimpangan.

Pada sebagian majelis, Al-Akh Luqman telah mengakui sendiri bahwa, seandainya (dia dan kawan-kawannya) terus berada pada (kesalahan) yang mereka berada di atasnya, niscaya mereka akan jadi Khawarij murni.

Ketika Al-Akh Luqman mulai berbicara tentang sejumlah da’i dan men-tahdzîr mereka setelah ishlah terjadi, para da’i (yang di-tahdzîr) dari berbagai daerah/kota pun berkumpul untuk duduk bermajelis dengan Al-Akh Luqman bersama Syaikh Abdullah Al-Mar’iy –hafizhahullâh- pada Kamis sore tanggal 11 Rabiul Awal 1431 H/25-2-2010 di kota Bandung untuk menyatukan kalimat, tetapi Al-Akh Luqman bersembunyi di kamarnya dan menolak berkumpul dengan saudara-saudaranya. Syaikh Abdullah dan beberapa ustadz sudah memanggil Al-Akh Luqman agar keluar dan duduk bersama saudaranya-saudaranya untuk mengadakan ishlah, tetapi tidak berhasil.

Kemudian setelah itu, masyaikh pun telah berkunjung (ke Indonesia) sebanyak dua kali atau lebih maka kami meminta kembali untuk bermajelis dengan (Al-Akh Luqman), tetapi juga tidak tercapai hal yang diharapkan.

Selanjutnya, pada Ramadhan 1433 H, telah terjadi pertemuan antara Al-Akh Luqman dan rekan-rekannya bersama Al-Akh Dzulqarnain dan saudara-saudaranya di rumah Syaikh Rabî’ hafizhahullâh di Awali, Makkah.

Di antara nasihat-nasihat emas Syaikh adalah:

  • “Perhatikanlah dan hormatilah madzhab Salaf, serta perhatikanlah perkara persaudaraan. Ketahuilah bahwa perselisihan adalah kejelekan yang berbahaya.”
  • “Semoga Allah mengampuni segala yang telah berlalu. Tutuplah perkara-perkara (perselisihan) ini dan bersaudaralah di antara kalian.”
  • “Berjanjilah kepada Allah bahwa kalian akan menjauhi sebab-sebab perselisihan dan akan bersemangat untuk persaudaraan dan persatuan di antara kalian. Tinggalkanlah perkara-perkara (perselisihan) ini. Syaithan memiliki banyak jalan, banyak cara untuk mencerai-beraikan, merobek-robek, serta memecah-belah.”
  • “Saling berjabat-tanganlah di antara kalian dan rendahkanlah “hidung-hidung syaithan” (dengan berjabat tangan), dan bukalah lembaran baru.”

Itu adalah nasihat-nasihat yang membuat dada terasa sejuk, mengikat ukhuwah, dan menghilangkan permasalahan. Diharapkan akan hilang perselisihan di antara ikhwah yang menghadiri pertemuan dan selain mereka.

Di tengah-tengah kami berada di atas kebaikan, tiba-tiba kami dikagetkan lagi oleh Al-Akh Luqman dengan kembali men-tahdzîr saudara-saudaranya, bahkan menambah kezhalimannya dengan men-tahdzîr Al-Akh Harits Aceh dan Al-Akh Dzulqarnain di negeri tetangga: Malaysia dan Singapura, sehingga terjadilah fitnah karena hal tersebut.

Kami telah berusaha duduk bersama Al-Akh Luqman dan kawan-kawannya –ashlahahumullâh– untuk kali yang lain ketika kedatangan Syaikh Abdullah Al-Mar’iy –hafizhahullâh dan Syaikh Utsman As-Salimy –hafizhahullâh. Kami telah mengalah dengan (memenuhi syarat-syarat) yang mereka minta berupa tempat pertemuan di dekat bandara, juga mempersilahkan mereka untuk bertemu dengan Syaikh Abdulllah Al-Mar’iy sebelum pertemuan, tetapi mereka (tetap) menolak untuk bertemu dengan kami bersama kehadiran dua syaikh tersebut, juga sejumlah ikhwah tidak menghadiri daurah Syaikh Abdullah dan Syaikh Utsman ketika beliau berdua hadir di Malaysia disebabkan oleh tahdzîr Al-Akh Luqman dan sebagian orang yang bersamanya.

Sebagaimana pula, Al-Akh Luqman dan mayoritas orang yang bersamanya tidak menghadiri daurah-daurah dan ceramah-ceramah Syaikh Abdullah Al-Mar’iy dan Syaikh Utsman As-Salimy di Indonesia. Bahkan, pada muhadharah yang disampaikan oleh Syaikh Utsman As-Salimy di Yogyakarta selepas shalat Jum’at, mereka juga tidak hadir, padahal mereka berada di Yogyakarta sejak pagi hari.

Demikian pula, telah datang Syaikh Ruzaiq Al-Quraisy hafizhahullâh sebanyak tiga kali, sedang pada kali kedua beliau bersama Syaikh ‘Âdil Manshûr hafizhahullâh, tetapi (Al-Akh Luqman dan kawan-kawannya) juga tetap tidak hadir.

Semua hal ini berbeda dengan para da’i yang di-tahdzîr oleh Al-Akh Luqman. Mereka menghadiri semua daurah-daurah syaikh yang diadakan oleh kepanitiaan Al-Akh Luqman dan rekan-rekannya seraya memotivasi untuk hadir. Kecuali, pada daurah terakhir, sejumlah da’i tidak hadir disebabkan oleh penegasan sebagian (kawan-kawan Al-Akh Luqman) yang melarang kehadiran pihak Dzulqarnain dan kawan-kawannya.

Kemudian, Syaikh Ruzaiq –hafizhahullâh datang pada kali ketiga pada tanggal 11-22 Februari 2015 bertepatan dengan 22 Rabiul Awal 1436 H (sesuai pengumuman). Beliau datang dengan arahan Syaikh Rabî’ hafizhahullâh untuk mengishlah/mendamaikan di antara ikhwah, dan berwasiat untuk safar bersama Syaikh Khalid Azh-Zhufary hafizhahullâh, tetapi Syaikh (Ruzaiq) tidak menghubungi Syaikh Khalid karena waktu perjalanan telah tiba. Al-Akh Luqman dan rekan-rekannya pun (tetap) tidak menghadiri, bahkan men-tahdzîr daurah Syaikh Ruzaiq Al-Quraisy, padahal saya tahu persis bahwa Syaikh Ruzaiq dan Syaikh ‘Âdil Manshur bersemangat mengundang Al-Akh Luqman dan orang-orang yang bersamanya, serta (beliau berdua berharap untuk) berkumpul dengan mereka.

Selanjutnya, setelah tahdzîr Al-Akh Luqman dan rekan-rekannya terhadap daurah Syaikh Ruzaiq Al-Quraisy, Syaikh Ruzaiq Al-Quraisy pun menyampaikan tulisan secara umum kepada Al-Akh Luqman dan rekan-rekannya supaya menjelaskan sisi tahdzîr (terhadap daurah Syaikh) atau mau menerima untuk bertemu dengan beliau di Indonesia atau di sisi para masyaikh di Madinah. Akan tetapi, sebagaimana kebiasaannya, Al-Akh Luqman dan rekan-rekannya selalu lari mengelak dan tidak menjawab.

Syaikh Ruzaiq Al-Quraisy sangat mengetahui bahwa Al-Akh Luqman telah menzhalimi Dzulqarnain dan Al-Akh Dzul Akmal serta bahwa Al-Akh Luqman keras kepala sehingga ishlah tidak akan tercapai disebabkan oleh hal itu (sebagaimana disebutkan oleh Syaikh Ruzaiq kepada Syaikh Abdul Hadi Al-Umairy).

Adapun kisah Al-Akh Luqman dalam perpecahan dan memecah-belah kalangan Salafiyyin sangatlah panjang. Sungguh dia telah memecah-belah kalangan Salafiyyin di berbagai kota dan di berbagai daerah di Indonesia.

Akan tetapi saya ingin mengingatkan pada beberapa perkara:

Pertama

Syaikhunâ Rabî’ hafizhahullâh telah berucap suatu kalimat agung tentang Al-Akh Luqman, “Apabila dia menyebabkan kekacauan lagi, kalian tulislah (risalah) kepada kami, dan kalian tidak perlu datang (kepadaku). (Nanti) kami yang akan membuat perhitungan dengannya.” Beliau berkata lagi, “Adapun Engkau (Luqman), jagalah lisanmu dan janganlah berucap, kecuali hal yang bermanfaat bagi dakwah Salafiyyah!” (selesai nukilan dari pertemuan Ramadhan tahun 1433 H)

Syaikh hafizhahullâh telah menetapkan bahwa sebab utama perselisihan adalah kelancangan lisan Al-Akh Luqman terhadap saudara-saudaranya. Dialah sebab perselisihan-perselisihan yang terjadi di kalangan Salafiyyin. Seandainya dia mengamalkan nasihat Syaikh dan tidak berkata jelek kepada saudaranya, kecuali nasihat-nasihat dan pengarahan masyaikh, tentu tidak akan terjadi perselisihan dengan izin Allah. Akan tetapi, Al-Akh Luqman memiliki uslub dan cara (tersendiri) untuk menjatuhkan manusia di majelis-majelis khusus dan majelis-majelis umum.

Kedua

Perlu diketahui bahwa kebiasaan Al-Akh Luqman adalah menghindar dan tidak mau duduk bermajelis bersama pihak (yang diselisihi) di hadapan para masyaikh. Apa rahasianya?

Para da’i, yang telah di-tahdzîr oleh Al-Akh Luqman dan rekan-rekannya, telah bermajelis pada pertemuan ishlah tahun 1426 H/2005 M maka tampak jelas hakikat tahdzîr Akh Luqman kepada saudara-saudaranya sebagaimana kami pernah duduk tanpa ada janji di hadapan Syaikh Rabî’ (semoga Allah menjaga beliau) pada tahun 1433 H. Dari situ, telah diketahuilah kecurangan-kecurangan yang ada pada Akh Luqman dan rekan-rekannya sehingga mereka keluar dari sisi Syaikh dalam keadaan sedih dan terkalahkan. Maka tidak aneh kalau Al-Akh Luqman berlindung dibalik keahliannya dengan menghindar dan mengambil strategi serta mengirim berita (dusta) kepada masyaikh secara perantara atau langsung guna mengambil kalimat-kalimat masyaikh yang mendukung tahdzîr-annya secara diam-diam atau terang-terangan.

Ketiga

Di antara makar dan tipu daya akh Luqman dan rekan-rekannya -semoga Allah memperbaiki keadaan mereka- adalah bahwa, ketika bertemu di rumah Syaikh Rabî’, mereka membuka pembicaraan dengan menyebutkan bahaya Abul Hasan Al-Ma’riby, Ali Hasan Al-Halaby, dan Ihyâ`ut Turâts di Indonesia. Dia memberi kesan jelek bahwa kami berselisih dengan mereka dalam menyikapi (nama-nama) tersebut.

Oleh karena itu, kepada Syaikh, saya pun menjelaskan makar dan tipuan mereka di majelis tersebut bahwa seluruh da’i yang hadir dan Salafiyyin selain mereka tidaklah berselisih dalam men-tahdzîr Al-Ma’riby, Al-Halaby, dan Ihyâ`ut Turâts. Akan tetapi, sebab perselisihan (yang ada) adalah kelancangan Al-Akh Luqman dan kawan-kawannya dalam berbicara tentang saudara-saudaranya dari kalangan da’i.

Selain itu, di antara kelihaian Akh Luqman dan orang-orang yang bersamanya dalam makar dan tipu daya, mereka menyimpulkan sendiri hasil pertemuan di rumah Syaikh Rabî’ hafizhahullâh setelah setahun (pertemuan tersebut berlalu) seraya kembali menyebutkan permasalahan Al-Ma’riby, Al-Halaby, dan Ihyâ`ut Turâts, lalu menyerahkan kembali (kesimpulan pertemuan tersebut) kepada Syaikh Rabî’ tanpa adanya musyawarah dengan pihak lain, dan mereka sama sekali tidak menyebutkan ucapan Syaikh Rabî’ tentang Al-Akh Luqman bahwa (Al-Akh Luqman-lah) penyebab perselisihan dan perpecahan. Oleh karena itu, tampak jelaslah tujuan mereka dalam menetapkan bahwa Dzulqarnain dan orang-orang yang bersamanya memiliki sikap yang tidak jelas terhadap (nama-nama yang disebutkan tadi).

Keempat

Di antara kelihaian Al-Akh Luqman dalam penyamaran adalah menampakkan dirinya di hadapan para masyaikh bahwa seakan-akan hanya dia sendiri yang membantah (pemikiran) Al-Halaby, Al-Ma’riby, Al-Hajury, dan Ihyâ`ut Turâts, padahal tidaklah demikian. (Luqman) ini tidaklah memiliki kekuatan ilmiah yang layak dalam membantah (pemikiran Al-Halaby) sehingga sebagian pengikut Al-Halaby -semoga Allah memperbaiki keadaan mereka- menulis bantahan terhadap Syaikh Rabî’ hafizhahullâh bahwa (Syaikh Rabî’) berdusta terhadap As-Salaf, punya sikap keras, lagi ada pemikiran Khawarij dan Murji’ah, serta kritikan-kritikan lain. Al-Akh Luqman –ashlahahullâh– pun menulis bantahan yang membuat pengikut Al-Halaby dan selainnya tidak bergeming karena bantahan (Al-Akh Luqman) yang “kurus dan lemah”. Sampai saat ini, Al-Akh Luqman tidak bisa menjawab tuduhan-tuduhan tersebut.

Hanya saja, bantahan (Al-Akh Luqman) yang menyebutkan pujian-pujian para ulama kepada Syaikh Rabî’ hafizhahullâh, sedang perkara itu juga diketahui oleh para penuntut ilmu yang baru, juga tidak diingkari oleh para Halabiyyun tersebut.

Dzulqarnain juga ikut berserikat dalam membantah (pendukung Al-Halaby) seraya membuat mereka terdiam -segala puji bagi Allah- serta membela Syaikh Rabî’ dengan hujjah-hujjah dan bukti-bukti yang jelas seraya meruntuhkan kedustaan dan kekeliruan pemahaman sakit mereka yang menuduh bahwa Syaikh Rabî’ hafizhahullâh berdusta terhadap para Salaf, bersikap keras, lagi ada pemikiran Khawarij, dan lain-lain. Tatkala Dzulqarnain ingin membantah tuduhan (pendukung Halaby) bahwa Syaikh Rabî’ memiliki pemahaman Murji’ah, Al-Akh Luqman dan yang bersamanya pun menyebarkan nukilan Al-Akh Hânî Buraik guna men-tahdzîr Dzulqarnain.

Al-Akh Luqman dan orang-orang yang bersamanya telah menjadikan dakwah ini sebagai bahan tertawaan di sisi (Al-Halabiyyun) dan hizbiyyun.

Oleh karena itu, sekarang kami memberikan kesempatan kepada Al-Akh Luqman untuk membela Syaikh Rabî’ hafizhahullâh seputar tuduhan memiliki pemahaman Murji’ah agar orang-orang bisa mempersaksikan kejujuran pengakuan (Al-Akh Luqman) seraya kita melihat pemahaman (Al-Akh Luqman) dalam pembahasan-pembahasan seputar keimanan.

Juga Al-Akh Luqman memiliki muhadharah di masjid besar di salah satu kota besar (Tangerang, pent.) dengan judul “Mewaspadai Tersebarnya Bahaya Teroris Khawarij Melalui Yayasan Ihyaut Turots”. Dalam ceramah tersebut, pada sesi pertama dia berbicara selama satu setengah jam sebelum waktu Zhuhur, dan sesi kedua selama satu seperempat jam setelah Zhuhur. Di antara “kekuatan ilmiah” yang dimiliki oleh Al-Akh Luqman pada ceramahnya tersebut adalah dia tidak pernah menyebut ayat-ayat Al-Qur`an, kecuali ayat-ayat yang terdapat pada khutbatul hajah dan satu ayat pada akhir ceramahnya yang tidak berkaitan dengan pokok pembahasan. Begitu pula Al-Akh Luqman hanya menyebutkan dua hadits secara makna.

Demikianlah “barang perbekalan” Al-Akh Luqman –ashlahahullâh– dan pendidikannya kepada manusia dalam membantah penyelisih kebenaran, yang kesalahan-kesalahan penyelisih ini adalah pada pokok-pokok besar yang kebatilannya ditunjukkan oleh banyak dalil.

Kelima

Sungguh Al-Akh Luqman -semoga Allah memperbaiki keadaannya- telah terjatuh ke dalam kesalahan-kesalahan fatal yang mengharuskan dia untuk sibuk mengurusi diri sendiri sebelum sibuk mengurusi orang lain:

Pertama, dari Al-Akh Luqman, dipahami bahwa ada pemahaman pengafiran secara total terhadap penduduk Iraq. Di dalam bukunya, Mereka Adalah Teroris, pada halaman 422 cetakan pertama, Al-Akh Luqman berkata:

“Perlu pembaca sekalian mengetahui, bahwa penduduk Iraq itu ada dua model:

  1. Rafidhah Ja’fariyah, yang umat telah sepakat bahwa mereka itu adalah kafir. Kebanyakan kaum muslimin di Iraq itu fasik, khamr di kalangan mereka tak ubahnya seperti air saja. Mereka itu bukan orang-orang shalih.
  2. Sedangkan model lainya adalah Kaum Ba’tsiyyah, yang siang dan malam selalu menyatakan:

آمَنْتُ بِالْبَعْثِ رَبًّا لاَ شَرِيْكَ لَهُ            وَ بِالْعُرُوْبَةِ دِيْنًا مَا لَهُ ثَانِي

“Aku beriman kepada (kebenaran) Partai Ba’ts sebagai Rabb yang tiada sekutu baginya. Dan (aku beriman kepada) Nasionalisme arab sebagai agamaku yang tidak ada tandingannya”

Mereka tidak memiliki agama!” Selesai perkataannya.

Bukunya yang disebutkan tadi merupakan bantahan terhadap buku seorang tokoh teroris yang sudah dieksekusi mati. Buku (karya tokoh teroris) itu berjudul Aku Melawan Teroris. Pada halaman 184 di dalam buku tersebut, ketika berbicara mengenai perbedaan antara tindakan mencari mati syahid (bom bunuh diri) dengan perbuatan bunuh diri yang terlarang (menurut persangkaan si Teroris), si Teroris menyebut bahwa salah satu perbedaannya adalah bahwa pelaku bunuh diri kekal di dalam api neraka, sedangkan Al-Akh Luqman tidak berkomentar apapun terhadap ucapan si Teroris tersebut.

Oleh karena itu, tulisan Al-Akh Luqman mengenai penduduk Iraq dan sikap diamnya yang tidak membantah penjelasan sang Teroris bahwa pelaku bunuh diri kekal di dalam neraka merupakan perkara yang tidak sepantasnya terhadap Al-Akh Luqman. Terlebih lagi bahwa, semasa jihad (di Ambon) dahulu, Al-Akh Luqman memiliki sebagian pemikiran Khawarij yang dipersaksikan langsung oleh orang-orang yang menerima perintahnya pada saat itu untuk membunuh (persaksian mereka ada pada kami). Ada beberapa bukti di atas hal itu sebagai berikut:

  1. Perintah Al-Akh Luqman untuk membunuh para tentara pemerintah di Ambon.
  2. Al-Akh Luqman memerintah untuk membunuh para preman yang melindungi tempat-tempat mesum yang berada di wilayah kaum muslimin.
  3. Perintah-perintah Al-Akh Luqman untuk menyiksa beberapa personil Salafiyyin yang terlibat dalam di jihad sehingga mengakibatkan mereka terbunuh atau cacat.

Kedua, sesungguhnya sudah pernah ada fatwa dari Syaikh Ubaid Al-Jâbiry hafizhahullâh yang ditulis pada hari Senin, 15 Jumadal Akhirah 1430 H, bertepatan dengan 8 Juni 2009 M, mengenai bolehnya mendirikan sekolah-sekolah resmi yang diakui oleh pemerintah serta (fatwa) berbagai masalah yang terkait dengan hal itu, tetapi (Al-Akh Luqman dan rekan-rekannya) masih saja menjauhkan manusia dari sekolah-sekolah tersebut. Bahkan, salah seorang yang bersama Al-Akh Luqman, yaitu Al-Akh Mukhtar, sampai membuat rangkaian bantahan terhadap fatwa Syaikh Ubaid Al-Jâbiry itu, dan (bantahan) tersebut disebarluaskan melalui radio mereka di kota Solo. Al-Akh Mukhtar ini juga mempunyai perkataan lain kepada sebagian ikhwah bahwa “fatwa tersebut termasuk ke dalam kebatilan-kebatilan Ubaid”.

Teks fatwa:

“Dengan Nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang

Dari Ubaid Al-Jâbiry kepada para saudaranya fillah, para pendiri Madrasah Salafiyyah di Perawang, pulau Sumatera, Indonesia.

Semoga Allah menjaga kami dan kalian dengan Sunnah serta menjadikan kita sama-sama termasuk sebagai orang-orang khusus di sisi-Nya, baik di dunia maupun di akhirat kelak.

Assalâmu ‘alaikum warahmatullâhi wabarakâtuh

 

Kemudian setelah itu:

Saya telah menelaah surat kalian kepada kami yang bertanggal 18 Mei 2009 M. Sungguh isi surat yang kalian sebutkan berupa pendirian sekolah dan kurikulum kalian dalam (membuat) metodenya sehingga berada di atas Sunnah benar-benar membuatku bergembira. Maka, kesimpulan jawaban kami terhadap pertanyaan-pertanyaan kalian adalah sebagai berikut:

  1. Kalian telah bersikap benar saat kalian meminta izin kepada bagian urusan pendidikan (Departemen Agama) dalam membangun sekolah karena hal itu adalah bagian dari kesempurnaan mendengar dan menaati pemerintah.
  2. Bila undangan dari pemerintah datang kepada kalian untuk mengikuti sebuah muktamar (pertemuan), sedang kehadiran kalian merupakan sebuah keharusan, maka pilihlah beberapa orang di antara kalian untuk menghadirinya, kemudian hendaknya siapa saja yang hadir menahan atau menundukkan sebagian pandangannya sebagaimana Allah memerintahkan dalam ayat,

قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ.

“Katakanlah kepada para lelaki yang beriman bahwa hendaknya mereka menundukkan pandangan-pandangan mereka.” [An-Nûr: 30]

bilamana di dalam pertemuan tersebut terdapat para wanita.

  1. Bila pengawas dari pemerintah datang mengunjungi kalian, biarkanlah ia mengunjungi sekolah tersebut, sama saja baik pengawas itu laki-laki maupun wanita, karena yang saya pahami dari surat kalian adalah bahwa hal itu diharuskan bagi kalian dari pihak Departemen Agama.
  2. Tidaklah mengapa kalian mengambil bantuan dari pemerintah, walaupun pemerintah meminta pajak/potongan dari kalian, karena kalian sangat memerlukan bantuan ini.
  3. Pisahkanlah antara anak-anak laki-laki dan anak-anak wanita pada tiga tahun pertama. Kami menasihatkan kalian untuk menerapkan salah satu dari dua metode:
  • Menempatkan anak-anak wanita di bagian belakang yang jauh dari anak-anak laki-laki, juga memerintahkan anak-anak wanita yang sudah berusia sembilan tahun atau lelaki untuk memakai khimar ‘penutup muka’ dan pakaian lebar/longgar guna menutupi aurat, serta membuat pintu khusus (terpisah) tempat mereka masuk dan keluar.
  • Atau kalian membuatkan waktu belajar khusus untuk anak-anak wanita tersebut jika kalian tidak mampu menggabungkan mereka dengan teman-teman mereka yang ada pada tahun keempat, kelima, dan keenam, sehingga mereka bisa diajar oleh para guru wanita.
  1. Bila kalian terpaksa meletakkan gambar para guru laki-laki dan wanita, serta kalian tidak bisa melepaskan diri, kecuali dengan hal itu, tidaklah mengapa kalian lakukan, insya Allah.
  2. Jika kalian diharuskan untuk mengajarkan materi-materi pelajaran yang tidak kalian sukai untuk diajarkan karena materi tersebut murni berupa perkara-perkara haram, seperti musik, menari, berenang bagi kaum wanita, janganlah kalian terima. Namun, jika masih bisa diatasi dengan perkara yang mencocoki syariat, tidaklah mengapa materi itu diterima dan diajarkan sehingga nantinya para murid laki-laki dan wanita bisa mendapatkan ijazah yang memfasilitasi mereka untuk melanjutkan masa belajar ke universitas-universitas Islam yang diakui karena universitas-universitas tidaklah menerima (pendaftaran), kecuali dengan ijazah yang diakui oleh departemen pendidikan di negeri kalian.
  3. Tidaklah mengapa kalian mengajarkan undang-undang negara disertai dengan penjelasan tentang penyelisihan (undang-undang) itu terhadap syariat sehingga para murid lelaki dan wanita terdidik untuk berhati-hati dari (undang-undang) itu pada masa mendatang.
  4. Upaya kalian untuk memperoleh izin kepada pemerintah dan mengambil bantuan dari mereka bukanlah sikap mudâhanah ‘bermanis muka’ dan ber-mujâmalah ‘basa-basi’ selama kalian tetap mendidik para murid lelaki dan wanita itu di atas tauhid dan Sunnah.
  5. Jika Departemen Pendidikan Nasional meminta seseorang di antara kalian untuk mengawasi siswa dan siswi, sedangkan kalian tidak mampu mengelak dari hal itu, utuslah orang yang kalian percayai agamanya dan amanahnya ke sekolah-sekolah itu, walaupun di dalam (sekolah-sekolah) itu ada ikhtilath ‘campur baur antara laki-laki dan wanita’, serta hendaknya dia menundukkan pandangannya sebagaimana yang telah Allah perintahkan.
  6. Gambar-gambar makhluk bernyawa yang terdapat pada diktat-diktat pelajaran, jika kalian diharuskan menggunakan (diktat) itu, tidaklah mengapa bagi kalian, insya Allah. Hal itu merupakan musibah yang hampir merata. Sungguh Allah memberi taufiq kepada kalian dan mensyukuri segala urusan kalian.

Wassalâmu ‘alaikum warahmatullâhi wabarakatuh

 

Saudara kalian fillah

Ubaid bin Abdillah bin Sulaiman Al-Jâbiry

(Mantan Pengajar di Universitas Islam Madinah)

Ditulis pada Senin sore, 25 Jumadal Akhirah 1430 H, bertepatan dengan 8 Mei 2009 M”

KetigaAl-Akh Luqman –ashlahahullâh– mempunyai sebuah kaidah yang dia nisbahkan secara dusta kepada Ahlus Sunnah bahwa siapapun penduduk Makkah yang tidak belajar kepada Syaikh Rabî’, berarti ada sesuatu pada manhaj-nya menurut Ahlus Sunnah.

Ketika berkomentar tentang Syaikh Abdul Hâdy Al-Umairy hafizhahullâhAl-Akh Luqman berkata,

“Saya tekankan alhamdulillah, (bahwa) Antum berada di atas mauqif di zaman yang seperti ini, zaman fitnah, ya ikhwah. Ada orang-orang yang dahulu dikenal kokoh di atas Sunnah, (tetapi) sekarang mereka terjatuh ke dalam perkara-perkara bid’ah. Lalu bagaimana (dengan) orang yang memang tidak dikenal keteguhannya? Ahlis Sunnah itu amat sedikit. Bila orang ini (yang dimaksud adalah Syaikh Abdul Hâdy) termasuk penduduk Makkah dan dia akan mendekat kepada Syaikh Rabî’, penduduk Makkah itu mencintai Syaikh Rabî’, Syaikh Muhammad Bazmul, Syaikh Ahmad Bazmul, dan para masyaikh yang lainnya. Para penuntut ilmu yang berada di Makkah suka datang ke tempat Syaikh dan pelajaran-pelajaran Syaikh. Mereka meminta …. Jika dia berada di Makkah dan tidak mau datang ke majelis Syaikh Rabî’ maka orang ini perlu dipertanyakan menurut manhaj Ahlis Sunnah.” (Selesai perkataannya yang diambil dari potongan rekaman jawaban Al-Akh Luqman Mengenai Syaikh Abdul Hâdy Al-Umairy)

Termasuk di antara kedustaannya atas nama Syaikh Rabî’ adalah bahwa sengaja Al-Akh Luqman menisbahkan kepada Syaikh Rabî’ bahwa (Syaikh Rabî’) menahan tahdzîr terlebih dahulu, kemudian setelah itu baru men-tahdzîr pada waktunya tanpa menyebutkan tahapan memberi nasihat.

Al-Akh Luqman berkata tentang Syaikh Rabî’ hafizhahullâh:

“Dan Syaikh sudah punya catatan tentang orang ini (yang dia maksud adalah Dzulqarnain). Cuma, memang kebiasaan Syaikh itu menahan sampai waktunya.” (diambil dari muhadharah, yang Al-Akh Luqman anggap sebagai muhadharah al-jarh wat ta’dîl, dengan judul “Dosa-Dosa terhadap Ilmu dan Ulama” yang diadakan pada tanggal 12 Shafar 1435 H bertepatan dengan 15 Desember 2014 M)

KeempatAl-Akh Luqman mengangkat dirinya sebagai orang yang layak berbicara dalam bidang al-jarh wat ta’dîl.

Al-Akh Luqman Ba’abduh –ashlahahullâh– pernah ditanya tentang sebagian permasalahan fiqih maka dia menjawab, “Maaf, ini muhadharah al-jarh wat ta’dîl, bukan muhadharah fiqih.” (dari rekaman muhadharah berjudul “Dosa-Dosa terhadap Ilmu dan Ulama” yang diadakan pada 12 Shafar 1435 H bertepatan dengan 15 Desember 2013 M)

Termasuk kelancangan dalam fatwa, Al-Akh Luqman dan kawannya, Al-Akh Muhammad As-Sewed –ashlahahumâllâh– men-tahdzîr agar tidak masuk belajar di LIPIA Jakarta yang merupakan cabang dari Universitas Al-Imam Muhammad bin Su’ud (suara keduanya tentang hal itu ada dalam rekaman), padahal jawaban Syaikh Shalih Suhaimy –hafizhahullâh tentang hal itu sudah tersebar. Teks fatwa:

“Pertanyaan: Di negeri kami ada sebuah universitas (yang merupakan) cabang dari Universitas Al-Imam Ibnu Su’ud. Di universitas tersebut, di antara para guru ada yang terpengaruh dengan manhaj Al-Ikhwanul Muslimin maka apa nasihat Anda, wahai guru kami? Karena sebagian penuntut ilmu memperingatkan agar tidak belajar di universitas ini.

Jawaban: “Tidak, tidak … manhaj universitas ini lurus. Maka, apabila ada seseorang yang didapati tidak mengamalkan manhaj universitas ini, hal itu tidaklah mengubah kondisinya sebagai universitas yang baik. Silakan kalian masuk ke universitas ini.” (Selesai)

Juga, Al-Akh Luqman membuat para pemula dalam dakwah dan orang-orang awam lancang dan larut ke dalam masalah-masalah semacam ini sampai-sampai mereka memiliki grup-grup (komunitas) dan situs-situs dalam bidang al-jarh wat ta’dîl serta menyebarkan fitnah dan perselisihan antara sesama Salafiyyin di Indonesia, Yaman, (Arab) Saudi, dan di negara-negara lainnya.

Selain itu, di antara “kepiawaian” Al-Akh Luqman dalam bidang al-jarh wat ta’dîl adalah dia merekomendasikan seorang awam yang bodoh (yaitu Abdul Ghafur Al-Malanjiy) sebagai juru bicara resmi mereka dan menjadi pengampu suatu situs yang dikenal senang memenggal ucapan orang, tidak memiliki kejujuran, menyebar fitnah, dan memata-matai manusia.

Keenam

Yang di-tahdzîr oleh Al-Akh Luqman dan siapa saja yang bersamanya adalah dikenal menyebarkan aqidah yang benar dan manhaj Salaf serta memiliki jasa-jasa dalam dakwah. Di antara mereka adalah para da’i yang mengambil ilmu dari masyaikh Sunnah di Arab Saudi, di Yaman, dan di negara lainnya.

Di antara para da’i tersebut adalah hafizh Al-Qur`an, sangat perhatian dengan menghafal hadits-hadits dan Sunnah, serta mendirikan markas-markas, pesantren-pesantren, sekolah-sekolah, dan (memberikan) pelajaran-pelajaran Ilmiah dalam berbagai macam disiplin ilmu (agama). Buku-buku dan kaset-kaset (rekaman suara) mereka adalah bukti besar akan hal itu. Oleh karena itu, seandainya Al-Akh Luqman kembali memeriksa kegiatan-kegiatan dakwahnya dan memerhatikan pelajaran-pelajaran dan muhadharah-muhadharah-nya, kemudian membandingkan kegiatan-kegiatannya dengan kegiatan-kegiatan dakwah saudara-saudaranya (yang) dia tahdzîr, maka sudah menjadi keharusan dia untuk kembali dan memikirkan mashlahat dirinya sendiri, baru setelah itu hendaknya dia menimbang dan memikirkan berbagai macam mashlahat umat ini yang luput (karena perbuatannya), serta berbagai bahaya yang akan muncul karena tahdzîr-tahdzîr dan masalah-masalah (yang bersumber dari Al-Akh Luqman). Wallâhul Musta’ân.

Kedua: Kisah Al-Akh Hânî Buraik

Telah terjadi keributan besar di Indonesia pada dua tahun terakhir disebabkan oleh perbuatan Al-Akh Hânî Buraik –ashlahahullâh-. Bahwa, dari salah seorang guru kami yang terkenal –sallamahullâh-, Al-Akh Hânî Buraik menukil ucapan beliau tentang Dzulqarnain “seorang yang la’âb, berjalan di atas manhaj Al-Halaby dalam hal makar,” juga “berada di atas jalan Al-Halaby, mutalawwîn lagi la’âb”. (Nukilan) itu ada di dalam tulisan Al-Akh Hânî Al Buraik yang telah disebarkan Al-Akh Luqman dan kawan-kawannya sehingga mereka men-tahdzîr Dzulqarnain dan saudara-saudaranya.

Dari Indonesia, saya pun bersegera mendatangi Fadhîlatusy Syaikh kami –sallamahullâh– yang berbicara tersebut dengan ketetapan hati saya sendiri untuk menerima alhaq apabila dari saya jelas terjadi penyimpangan apapun yang keluar dari jalan yang wajar.

Saya datang dalam keadaan tidak mengetahui kritikan terhadap saya, kecuali penukilan dari Al-Akh Hânî Buraik dari Fadhîlatusy Syaikh kami yang berbicara tersebut.

Saya pun memberi salam kepada beliau –sallamahullâh– seraya berkata kepada beliau: “Telah datang kepadaku teguran Anda melalui Syaikh Hânî.”

Beliau menjawab, “Telah sampai kepadaku beberapa perkara tentangmu.”

Saya pun berkata kepada beliau, “Saya tidak mengetahui dengan pasti hal yang dikritikkan terhadap saya.”

Beliau kembali menjawab, “Mereka (Al-Akh Luqman dan rekan-rekannya) tidak berada di hadapanku saat sekarang ini sehingga saya bisa menghakimi perselisihan di antara kalian, tetapi saya menasihatkan kepadamu agar selalu istiqamah dan kokoh serta bersabar dan berlemah-lembut (menahan diri) –barakallâhu fîk– serta hendaknya engkau membuktikan kepada mereka dengan tegas bahwa engkau adalah seorang Salafy yang kokoh di atas manhaj Salaf.”

Dari jawaban beliau, menjadi jelas bagi saya beberapa perkara:

Pertama, tidak adanya kejujuran dari apa-apa yang disebarkan oleh Al-Akh Luqman Ba’abduh dan orang-orang yang bersamanya bahwa perkataan tersebut bersumber dari Fadhîlatusy Syaikh kami –sallamahullâh– tanpa adanya laporan (sebelumnya) dari Al- Akh Luqman dan kawan-kawannya.

Kedua, saya merasa aneh bahwa Fadhîlatusy Syaikh –sallamahullâh– menunggu kehadiran Al-Akh Luqman dan kawan-kawannya guna membahas kritikan-kitikan terhadap saya, tetapi di sisi lain beliau tidak menunggu untuk mengeluarkan beberapa hukum terhadap saya sebelum beliau mendengar jawaban saya atas laporan orang-orang tersebut.

Sebagaimana juga, saya merasa aneh, ketika saya menyebutkan kepada beliau (kondisi) yang terjadi akibat tahdzîr Al-Akh Luqman Ba’abduh dan orang-orang yang bersamanya yang menimbulkan keributan, beliau berkata kepadaku, “Kalau kamu rujuk, mereka tidak akan men-tahdzîr-mu.”

Saya pun heran bahwa, bagaimana bisa beliau menuntut saya untuk rujuk, sedangkan beliau tidak menyebut kritikan apapun kepada saya, tidak pula terjadi pembahasan dalam hal itu?

Juga, sebelum kedatangan saya kepada Fadhîlatusy Syaikh –sallamahullâh– yang berbicara, saya telah mendengar muhadharah Al-Akh Luqman tentang tahdzîr-an terhadap saya, yang Al-Akh Luqman anggap sebagai muhadharah al-jarh wa ta’dîl. Saya pun menulis beberapa kritikan terpenting dari ucapan Al-Akh Luqman. Saya menuangkan jawaban saya tentang (tahdzîr-an) itu di atas beberapa lembaran kertas. Saya sempat menawarkan kepada Fadhîlatusy Syaikh yang berbicara untuk membaca beberapa lembaran kertas tersebut, tetapi beliau tidak menerima lembaran-lembaran tersebut dari saya karena mencukupkan dengan nasihat beliau sembari beliau kembali menekankan akan pentingnya persaudaraan dan saling berlemah-lembut. Semoga Allah membalas beliau dengan kebaikan atas hal itu.

Saya pun menghubungi Al-Akh Hânî Buraik yang menukilkan perkataan dari Fadhîlatusy Syaikh, tetapi dia justru mengatakan dengan enteng, “Ya sudah. Kami akan menulis sebuah tulisan yang akan menghapus yang telah berlalu.”

Kemudian Al-Akh Hânî menulis tulisannya sembari menyebut kandungan (tulisan)nya bahwa Dzulqarnain “konsekuen untuk rujuk dari semua kritikan yang diakui oleh masyaikh”.

Saya bertanya kepada Al-Akh Hânî tentang kritikan-kritikan terhadap saya maka dia pun menjawab, “Para ikhwah telah mengirimkan beberapa kritikan kepadaku. Di antara (kritikan) itu, ada yang benar, (tetapi) ada pula yang tidak benar, maka engkau tidak usah memikirkan hal-hal yang tidak diakui oleh para masyaikh (masyaikh yang dia maksudkan adalah dirinya sendiri dan orang-orang yang membantunya dalam penulisan).”

Saya pun meminta Al-Akh Hânî Buraik agar menjelaskan kritikan yang benar menurut (persangkaan)nya. Dia pun menyebutkan tiga atau empat kritikan yang semuanya adalah laporan Luqman dan pengikutnya (yang telah dimaklumi) maka saya katakan kepada Al-Akh Hânî, “Bukankah saya mempunyai hak untuk menjawab?”

Dia berkata kepadaku, “Iya, tetapi tidak sekarang karena sekarang kita berbicara melalui telepon. Apabila datang ke Indonesia, saya akan duduk bersamamu secara khusus.”

Saya juga meminta Al-Akh Hânî agar memperbaiki bahasa (yang ada di dalam tulisannya), tetapi dia meminta udzur karena tulisan itu telah dibaca oleh Fadhîlatusy Syaikh yang berbicara dan tiada yang tersisa, kecuali pelaksanaannya, dan bahwa tujuan yang paling utama dari tulisan itu adalah menghapus apa-apa yang sudah berlalu dan untuk mempersatukan kalimat.

Saya pun mengalah sesuai dengan keinginannya karena semangat Saya agar perkara menjadi tenang dan agar reda keributan yang terjadi.

Namun, setelah tulisan Al-Akh Hânî dirilis, tidaklah terjadi dari Al-Akh Luqman dan kawan-kawannya hal-hal yang dapat memperbaiki keadaan. Bahkan, sebagaimana kebiasaan mereka dalam memecah-belah dan memberikan kerancuan (dalam dakwah), mereka menerjemahkan kalimat di dalam tulisan itu “konsekuen untuk rujuk dari semua kritikan yang diakui oleh masyaikh” menjadi “konsisten untuk rujuk (bertaubat) dari semua kritik terhadapnya, yang semua kritikan tersebut telah diakui oleh masyaikh”. Mereka menakwil tulisan Al-Akh Hânî dengan berbagai takwil yang panjang untuk disebutkan.

Kemudian, di dalam salah satu pembicaraan via telepon, Al-Akh Hânî berusaha menjelaskan kebatilan takwil-takwil mereka dan menegaskan maksud penulisan itu serta bahwa perkara tentang ucapan Fadhîlatusy Syaikh yang berbicara terhadap Dzulqarnain telah selesai.

Akan tetapi, tidaklah berlalu upaya Al-Akh Hânî, kecuali hanya pada beberapa hari yang sedikit. Ternyata Al-Akh Luqman dan orang-orang yang bersamanya telah datang kepada Fadhîlatusy Syaikh yang berbicara. Sebagaimana biasanya, tidaklah diketahui laporan-laporan yang mereka sampaikan kepada Fadhîlatusy Syaikh yang berbicara sampai mereka menukil bahwa Fadhîlatusy Syaikh yang berbicara tidak mencabut tahdzîr-nya sehingga gugurlah upaya Al-Akh Hânî Buraik.

Pada akhirnya, Al-Akh Hânî Buraik mengirim pesan (via Whatsapp) kepadaku bahwa dia telah “angkat tangan” terhadap permasalahan kami.

Demikianlah sekilas kisah tentang campur tangan Al-Akh Hânî Buraik –ashlahahullâh– dalam permasalahan orang lain, padahal tidaklah diketahui bahwa sebelumnya dia pernah duduk bersama dengan Dzulqarnain dan orang-orang yang bersamanya, juga tidak pernah mendengar (keterangan) dari (Dzulqarnain dan orang-orang yang bersamanya).

Ketiga: Kisah Al-Akh Usâmah ‘Athâyâ

Al-Akh Usâmah ‘Athâyâ –ashlahahullâh– ketika datang ke Indonesia, mengaku bahwa dirinya adalah penyampai wasiat dari Fadhîlatusy Syaikh yang berbicara, Syaikh Ubaid Al-Jâbiry, Syaikh Abdullah Al-Bukhâry, dan Syaikh Muhammad bin Hâdy -semoga Allah menjaga mereka semua- untuk mengadakan ishlah di antara kami.

Al-Akh Usâmah ‘Athâyâ membagi kelompok yang berselisih menjadi tiga pihak: pihak Luqman, pihak Dzul Akmal, serta Pihak Dzulqarnain.

Kemudian Al-Akh Usâmah ‘Athâyâ menyampaikan beberapa perkara:

  • Bahwa para masyaikh memandang perlu untuk memadamkan fitnah.
  • Mereka para masyaikh telah jenuh terhadap perselisihan para Salafiyyin di Indonesia.
  • Setiap pihak sepatutnya sibuk mengurus dirinya sendiri dan tidak sibuk mengurus saudara-saudaranya.
  • Pihak Luqman adalah yang paling baik di antara pihak lainnya -walaupun di dalam setiap pihak ada beberapa kesalahan-.
  • Apabila ishlah tidak terwujud, pihak Dzulqarnain dan pihaknya Dzul Akmal akan di-tahdzîr.
  • Bahwa pendapat para masyaikh itu lebih baik daripada pendapat kita sendiri.
  • Bahwa Al-Akh Usâmah ‘Athâyâ akan menulis tulisan untuk menyelesaikan seluruh permasalahan setiap pihak –tetapi Al-Akh Usâmah tidak menyebutkan secara jelas apa saja yang berkaitan dengan pihak Luqman-.

Alhamdulillah, saya tidak peduli terhadap tahdzîr apapun yang tidak berdasar, hanya saja saya berpikir tentang kebaikan dakwah serta mencintai bersatunya kalimat, juga saya berusaha dengan segenap kemampuan untuk mengangkat perselisihan, walaupun harus mengorbankan diri saya sendiri.

Oleh karena itu, saya menerima usulan Al-Akh Usâmah ‘Athâyâ tentang penulisan tersebut karena beberapa hal:

  1. Karena dia hadir dari sisi para masyaikh sebagaimana
  2. Bahwa pendapat para masyaikh lebih baik daripada pendapat kita.
  3. Bahwa dia akan mengajukan hal-hal yang penulisannya telah selesai kepada para masyaikh sehingga yang menjadi patokan adalah persetujuan, penetapan, ridha, dan izin para masyaikh untuk menyebarkan (tulisan).

Mulailah Al-Akh Usâmah ‘Athâyâ –ashlahahullâh– membahas bersama Al-Akh Dzul Akmal –ashlahahullâh– tentang perkara yang dikritikkan terhadap (Al-Akh Dzul Akmal) dan menulis konsep pernyataan taubat untuk (Dzul Akmal). Kemudian setelah itu, saya datang, lalu dia membahas dengan saya tujuh poin yang disimpulkan dari kritikan-kritikan yang Al-Akh Luqman sampaikan pada ceramah (di Slipi) yang disebutkan tadi. Al-Akh Usâmah ‘Athâyâ menulis konsep (pernyataan) taubat untuk saya sebagaimana yang dia lakukan untuk Al-Akh Dzul Akmal.

Kemudian setelah itu, Al-Akh Usâmah ‘Athâyâ pergi bersama Al-Akh Luqman dan rekan-rekannya lebih dari sepekan. Lalu, kami kembali bertemu dengan (Al-Akh Usâmah)  untuk kali kedua, sedang bersama dia telah ada beberapa (tambahan) kritikan lain terhadap Dzulqarnain dan Dzul Akmal, yang kritikan tersebut telah terkonsep rapi dari pihak Al-Akh Luqman dan rekan-rekannya. (Di sisi lain) Usâmah ‘Athâyâ tidak mendatangkan suatu (pernyataan) taubat apapun dari Al-Akh Luqman atas kritikan-kritikan terhadap (Al-Akh Luqman), tidak pula Al-Akh Usâmah menanyakan hal itu. Kaidah Al-Akh Usâmah ‘Athâyâ adalah “tidak boleh bertanya tentang pihak lain” dan “setiap orang sibuk mengurusi kesalahan-kesalahannya sendiri”.

Kemudian, Usâmah mengakui bahwa tulisan telah dibacakan kepada Fadhîlatusy Syaikh kami yang berbicara –sallamahullâh-. Juga, Al-Akh Luqman dan Al-Akh Dzul Akmal telah bertemu di hadapan Al-Akh Usâmah ‘Athâyâ di Madinah dan mereka menyepakati tulisan itu, kecuali masalah sekolah formal karena nanti akan dibuatkan soal (tersendiri) tentang masalah tersebut sesuai dengan kesepakatan dua belah pihak.

Saya pun datang ke Madinah setelah Al-Akh Luqman pulang ke Indonesia, sedang Al-Akh Usâmah memberi kabar gembira bahwa segala sesuatu telah selesai dan tidak ada yang tersisa, kecuali bahwa saya menemui Fadhîlatusy Syaikh yang berbicara dan mendengarkan beberapa arahan dari beliau.

Oleh karena itu, saya bersegera bertemu dengan Fadhîlatusy Syaikh kami yang berbicara –sallamahullâh-, tetapi saya kaget mendapati bahwa beliau sangat marah kepadaku dan menyebutkan beberapa hal tentang kesyirikan, penyatuan agama, sekularisme, liberalisme, dan mengumpul-ngumpul harta di belakang (penyelenggaraan) sekolahan.

Demikianlah, begitu cepat Fadhîlatusy Syaikh kami yang berbicara –sallamahullâh– memvonis hukum terhadap kami dengan (berlandaskan) sekadar laporan yang sampai dari pihak Al-Akh Luqman. Al-Akh Usâmah juga mengaku bahwa dia tidak menyangka bahwa Al-Akh Luqman akan mengangkat permasalahan sekolah formal kepada (Syaikh yang berbicara). Padahal (sebelumnya), kami telah bersepakat dengannya agar tidak mengangkat permasalahan sekolah formal, kecuali setelah semua pihak bersepakat atas format pertanyaan dalam permasalahan sekolah formal yang diakui oleh pemerintah.

Kemudian setelah itu, datang kepadaku berita-berita dari sebagian masyaikh bahwa Fadhîlatusy Syaikh kami yang berbicara –sallamahullâh– tidaklah menyebut tahdzîr terhadap Dzulqarnain, kecuali bahwa pada diri (Dzulqarnain) ada pemikiran wihdatul adyan ‘pemersatuan agama’. Yang lebih mengherankan lagi, Syaikh Abdul Hady Al-Umairy –hafizhahullâh– mengkhabarkan kepadaku bahwa Fadhîlatusy Syaikh kami yang berbicara –sallamahullâh– menganggap bahwa saya mengakui di hadapan beliau tentang adanya wihdatul adyan di sekolah-sekolah teman-teman kami.

Wallâhibillâhi, dan tallâhi ‘demi Allah’, kapanpun, saya tidak pernah mengakui hal itu di sisi beliau, bahkan pokok perkara saya hanyalah diam karena beliau sangat marah kepadaku, dan saya tidak suka memotong ucapan beliau. Awalnya, saya mengira bahwa beliau akan memberi kesempatan kepadaku untuk duduk dan menjelaskan kepada beliau hakikat kejadian sebenarnya, tetapi beliau (ternyata) tidak memberi kesempatan kepadaku. Mungkin saja beliau memahami sikap diam saya sebagai bentuk pengakuan (akan adanya pemikiran wihdatul adyan), padahal hakikat perkara ini tidaklah seperti itu. Wallâhul Musta’ân.

Dahulu, Syaikh kami yang berbicara menerima dari Dzulqarnain kritikan-kritikan detail atas kesesatan-kesesatan Al-Akh Ja’far Umar Thalib serta Al-Akh Luqman Ba’abduh dan orang-orang yang bersamanya pada hari-hari jihad Ambon, maka bagaimana bisa disangkakan bahwa Dzulqarnain tidak mengetahui masalah-masalah yang terang terhadap kaum awam Salafy, seperti kekufuran pemikiran wihdatul adyan?!

Kemudian (setelah itu) saya kembali ke Indonesia, sementara Al-Akh Usâmah ‘Athâyâ masih saja berusaha dan menjanjikan serta meminta saya untuk mengeluarkan tulisan. Pada akhir (konsep) tulisan itu, Al-Akh Usâmah ‘Athâyâ menulis,

“Perhatikanlah:

Keberadaan taubat ini adalah dengan bimbingan dan arahan dari guru kami: Al-‘Allâmah Asy-Syaikh Rabî’ bin Hâdy Al-Madkhaly hafizhahullâh, dan dengan persetujuan Asy-Syaikh Al-‘Allâmah Ubaid bin Abdillah Al-Jâbiry, Asy-Syaikh Al-Fâdhil Abdullah bin Abdurrahim Al-Bukhâry, dan dengan sepengetahuan Asy-Syaikh Al-‘Allâmah Muhammad bin Hâdy Al-Madkhaly hafizhahullâh.

Yang membuat konsep (ini) bersama para ikhwah adalah Usâmah bin ‘Athâyâ bin Utsman Al-Utaiby.

Hendaknya diketahui bahwa taubat ini bertujuan untuk Ishlah dan mempersatukan kalimat Salafiyyin di Indonesia maka yang wajib bagi mereka adalah agar kokoh di atas kebenaran, terus berada pada bimbingan ulama, istiqamah di atas perdamaian, dan jauh dari setiap perkara yang dapat menimbulkan fitnah dan perpecahan di antara Salafiyyin. Wallâhul muwaffiq.”

Saya pun mengatakan bahwa, jika memang tulisan tersebut adalah pendapat, persetujuan, dan ridha para masyaikh, serta izin dari mereka untuk disebarkan, tidaklah mengapa.

Ketika tulisan itu telah siap untuk dirilis, tiba-tiba Al-Akh Usâmah meruntuhkan usaha yang dia rintis selama ini seraya menampakkan kegemarannya berbicara atas nama para masyaikhAl-Akh Usâmah meminta agar pernyataan pada akhir tulisan di atas dihapus sehingga konteks dari Al-Akh Usâmah dan hukum-hukum pribadinya beralih menjadi atas nama Dzulqarnain. Oleh karena itu, tulisan tersebut tidak lagi bernilai setelah penghapusan pernyataan itu.

Namun demikian, masih saja Al-Akh Usâmah –ashlahahullâh– mempercantik untuk mengeluarkan tulisan itu seraya menjanjikan bahwa dia akan pergi menghadap kepada Fadhîlatusy Syaikh kami yang berbicara dan berupaya meyakinkan Syaikh agar Syaikh ridha dan mau menyelesaikan perselisihan. Kaidah Al-Akh Usâmah -sebagaimana yang dia sebutkan kepada saya- adalah “bahwa sepatutnya kita membuat ridha para masyaikh kita karena membuat ridha para masyaikh kita adalah bagian dari membuat ridha Allah ‘Azza wa Jalla”???

Saya pun merilis tulisan Kalimat Rujuk tersebut dengan keumuman harapan bahwa akan reda keributan dan diraih kemashlahatan-kemashlahatan untuk dakwah dan untuk seluruh orang yang telah membacanya, tetapi justru tidaklah datang dari Al-Akh Luqman dan rekan-rekannya sesuatu yang dapat menyatukan hati-hati.

Pada akhir perjalanan, datanglah sang pengusung fitnah, Al-Akh Hânî Buraik, mengadakan daurah di tempat Al-Akh Luqman dan rekan-rekannya, dan kembali dia memecah fitnah-fitnah melebihi keadaan yang telah berlalu, padahal sebelumnya dia sudah menetapkan untuk “angkat tangan” dari masalah ini.

Demikianlah ringkasan kejadian dari fitnah Hânî Buraik –ashlahahullâh-. Kejadian ini adalah satu perbuatan jahat Hânî Buraik dalam hal membuat kerusakan di kalangan Salafiyyin di Yaman dan selainnya.

Menjadi jelaslah bagi saya dari penjelasan yang telah berlalu:

  1. Pengkhianatan dan permainan Al-Akh Usâmah ‘Athâyâ dan Al-Akh Hânî Buraik -semoga Allah memberi petunjuk kepada mereka berdua- serta “kecintaan” mereka berdua untuk ikut campur dalam permasalahan orang lain dengan mengatasnamakan para masyaikh.
  2. Penegasan makar dan permainan Al-Akh Luqman Ba’abduh, serta sama sekali tidak ada usaha untuk ishlah pada dirinya. Setiap kali terjadi ishlah atau telah dekat untuk ishlah, dia pun bangkit meruntuhkan upaya itu.
  3. Keberanian Al-Akh Luqman untuk berdusta di sisi para masyaikh tentang masalah sekolah formal. Kami telah membantah kedustaan-kedustaan Luqman dan rekan-rekannya tentang tulisan mereka seputar sekolah-sekolah dengan bantahan terperinci.
  4. Fadhîlatusy Syaikh kami yang berbicara –sallamahullâh– tidak berhenti berbicara terhadap Dzulqarnain, juga tidak menerima dan tidak mau mendengar penjelasan apapun dari Dzulqarnain.

Tiada faedah yang terhasilkan untuk dakwah kita dari hal-hal yang telah kami korbankan dan mengalah bersama Al-Akh Usâmah ‘Athâyâ:

  • Usâmah ‘Athâyâ telah menjadikan saya mengakui sesuatu yang tidak saya lakukan.
  • Menuliskan sesuatu yang asalnya hanyalah tanggapan dari kedustaan Luqman dan rekan-rekannya.
  • Penggambaran ketergelinciran dan kesalahan lisan di dalam pengungkapan adalah suatu kedustaan yang disengaja.
  • Memasukkan masalah orang lain ke dalam permasalahan yang tidak ada hubungannya dengan saya.
  • Dukungannya kepada sebagian orang-orang bodoh.

Oleh karena itu, saya berlepas diri kepada Allah dari segala sesuatu yang saya mengalah dan ridha dari dikte-dikte Usâmah ‘Athâyâ, Luqman Ba’abduh dan orang-orang yang bersamanya, serta saya rujuk dari setiap sesuatu yang tersebar dari hal itu.

Saya juga telah memaparkan sejumlah perkara yang disebutkan di dalam tulisan itu kepada guru kami, Syaikh Shalih Al-Fauzân –hafizhahullâh-. Dari pertemuan tersebut, terhasilkanlah –dan bagi Allah segala pujian- berbagai kebaikan dan arahan-arahan yang bermanfaat, maka tidak perlu lagi ada campur tangan Usâmah ‘Athâyâ dan selainnya.

Hal yang mengherankan adalah bahwa Al-Akh Usâmah ‘Athâyâ mengetahui bahwa Al-Akh Luqman adalah orang yang zhalim dan bahwa telah nampak dari (Al-Akh Luqman) sikap talawwun “bunglon” dan suka membatalkan janji. Bahkan, Al-Akh Usâmah ‘Athâyâ mengetahui bahwa Al-Akh Luqman dan rekan-rekannya tidak meridhai (perbuatan Al-Akh Usâmah), bahkan mereka berbicara jelek tentang (Al-Akh Usâmah) pada hari-hari ketika Al-Akh Usâmah ‘Athâyâ berada di Indonesia dan setelahnya. Maka cukuplah Allah sebaik-baik penolong.

Keempat: Makar Al-Akh Luqman Ba’abduh Seputar Sekolah Formal yang Diakui oleh Pemerintah, Serta Sebagian Musibah dari Luqman Ba’abduh yang Ditimpakan terhadap Dakwah Salafiyyah

Sungguh Al-Akh Luqman dan kawan-kawannya –ashlahahumullâh– telah mendatangkan kerusakan-kerusakan bagi dakwah Salafiyyah, bahkan bagi masyaikh Salafiyyin dengan sebab tindak-tanduk mereka yang mereka gambarkan (kesankan) sebagai arahan dan bimbingan sebagian masyaikh, serta (Al-Akh Luqman dan rekan-rekannya) seringkali mengikutsertakan nama-nama (masyaikh) tersebut. Akhirnya, dengan sebab hal itu, mereka mencoreng wajah dakwah dan citra masyaikh Salafiyyin kita.

Kepada Syaikh kita yang berbicara –sallamahullâh-, Al-Akh Luqman dan rekan-rekannya telah menyampaikan sebuah surat seputar sekolah formal di Indonesia sehingga Fadhîlatusy Syaikh mengambil sikap tegas terhadap Dzulqarnain dan saudara-saudaranya serta menuduh (Dzulqarnain dan saudara-saudaranya) memiliki (pemahaman) wihdatul adyan ‘kesamaan semua agama’.

Sungguh telah tetap di sisi Fadhîlatusy Syaikh yang berbicara bahwa problema sekolah-sekolah tersebut ada pada kurikulumnya. Hingga, permasalahan itu membuat Fadhîlatusy Syaikh yang berbicara menuntut Syaikh Abdul Hadi Al-Umairy agar meminta para pengurus sekolah-sekolah tersebut untuk mengeluarkan semua kurikulum pemerintah dari mata pelajaran untuk menyelesaikan masalah kurikulum-kurikulum itu. Bahkan, tatkala Syaikh Abdul Hady Al-Umairy berkata kepada Syaikh kita yang berbicara –sallamahullâh-, “Sesungguhnya Syaikh Ubaid Al-Jâbiry hafizhahullâh punya fatwa tentang bolehnya sekolah-sekolah ini”, beliau pun membalas, “Apakah Syaikh Ubaid seorang nabi?!”

Syaikh Abdul Hâdy Al-Umairy menuntut dari Fadhîlatusy Syaikh yang berbicara agar membuktikan adanya (pemikiran) wihdatul adyan, sekularisme, liberalisme, dan demokrasi dalam kurikulum sekolah-sekolah formal milik saudara-saudara kita yang diakui oleh pemerintah, sebagaimana kami menantang Al-Akh Luqman Ba’abduh dan rekan-rekannya tentang hal itu.

Belakangan ini, telah tampak makar, sikap talâ’ub ‘main-main’, dan kedustaan Al-Akh Luqman dan kawan-kawannya di dalam perkara ini. Sungguh mereka menulis seputar masalah sekolah dalam sebuah surat mereka sebagai berikut:

“… Sebelum semua itu, kami beritahu kepadamu bahwa kebanyakan arah pemikiran departemen pendidikan Indonesia kepada barat, baik itu pemikiran liberal maupun sekuler yang diberlakukan pada kurikulum-kurikulum departemen pendidikan,”

“Pemerintah menetapkan -bagi setiap sekolah formal- kurikulum pendidikan yang menuntut pengajaran meteri-meteri yang mengandung beberapa penyelisihan syar’i, baik itu berupa penyelisihan manhaj, aqidah, atau akhlaq. Di antaranya:

  • Pembelajaran materi PKN yang memperkenalkan kepada para siswa tentang demokrasi, Pancasila dan cara penerapannya. Demikian pula pemilihan umum dan lokal, wihdatul adyan (kesamaan/persatuan semua agama), toleransi beragama. Semua siswa dituntut untuk mengakui hal ini.” [Surat tertulis dari mereka kepada masyaikh yang kami dapatkan dari Al-Akh Usâmah ‘Athâyâ]

Perhatikanlah gambaran mereka terhadap arah pemikiran pemerintah “ke barat berupa liberalisme atau sekularisme.” Padahal sungguh telah diketahui adanya kekafiran yang terkandung pada liberalisme dan sekularisme. Yang lebih keji lagi, pernyataan mereka, “Semua siswa dituntut untuk mengakui hal ini” bahwa seakan-akan saudara-saudara kita di sekolah-sekolah mereka, para siswanya dituntut untuk mengakui kekafiran-kekafiran dan penyelisihan-penyelisihan ini. Namun, hal ini tidaklah diherankan dari Al-Akh Luqman. Sungguh kami telah menjelaskan paham takfîr ‘pengafiran’ seperti ini dalam sebagian pernyataan-pernyataannya dan sejarah masa lalunya.

Kemudian Al-Akh Luqman dan rekan-rekannya –ashlahahumullâh– bersikap plin plan. Pendapat Al-Akh Luqman dan kawan-kawannya yang dipijaki belakangan ini tentang (penyelisihan dan kekafiran) itu –sebagaimana yang disebutkan oleh Al-Akh Muhammad Syarbini (salah seorang pengikut Al-Akh Luqman)- setelah pertemuan mereka di Tawang Mangu adalah bahwa permasalahannya bukanlah pada kurikulum, melainkan permasalahannya hanyalah pada LKS (Lembaran Kerja Siswa) [Hal ini dipersaksikan oleh salah seorang yang terpercaya dari kami].

Salah seorang rekan Al-Akh Luqman Ba’abduh, yaitu Al-Akh Muhammad Afifuddin –ashlahahullâh-, ditanya, “Apa benar Asy-Syaikh Rabî’ mengatakan tentang Dzulqarnain, beliau memiliki pemahaman wihdatul adyan?”

Kemudian ia pun memberikan jawaban panjang yang intinya bahwa:

  • Ia dan seluruh ustadz-ustadznya tidak mengetahui tentang hal ini.
  • Tak ada seorang pun di antara mereka yang menyatakan bahwa Dzulqarnain -dan ia pun menyebutkan beberapa orang- menyatakan pemikiran wihdatul adyan.
  • Mereka hanya menyatakan bahwa di Pesantren Al-Madinah (salah satu sekolah milik saudara-saudara Dzulqarnain), ditengarai mengajarkan sesuatu yang mengandung unsur yang akan bermuara pada wihdatul adyan. (Dinukil dari kaset rekaman suara Al-Akh Muhammad Afifuddin)

Al-Akh Luqman dan kawan-kawannya memiliki kedustaan-kedustaan lain yang diada-adakan dalam surat mereka kepada masyaikh tentang masalah sekolah. Sungguh kami telah menjelaskan dalam bantahan kami terhadap surat mereka, yang penyebaran sebagian (bantahan) telah rampung dalam sebuah tulisan yang kami garap bersama Syaikh Abdul Hâdy Al-Umairy hafizhahullâh.

Siapa saja yang memperhatikan tindak-tanduk Al-Akh Luqman dan kawan-kawannya akan betul-betul heran tentang keberaniannya dalam berdusta atas nama manusia serta sikap tidak punya malu mereka yang menempuh cara-cara murahan demi menjatuhkan kehormatan Dzulqarnain dan saudara-saudaranya. Akan tetapi, hal seperti ini bukanlah sesuatu yang aneh dalam tindakan para kaum muflisîn ‘orang-orang bangkrut’ sepanjang sejarah. Sungguh Adz-Dzahaby rahimahullâh telah menyebutkan dalam biografi syaikh orang-orang Hanbaly: Abu Ismail Abdullah bin Muhammad bin Ali Al-Anshâry Al-Harawy, Penulis kitab Dzammul Kalam. Berikut nashnya:

“Beliau (rawi riwayat) berkata, ‘Saya telah mendengarkan kawan-kawan kami di Hurâh. Mereka berkata, ‘Tatkala Sultan Alabb Arsalan datang ke Hurâh dalam sebagian kunjungannya, berkumpullah semua masyaikh negeri itu dan para pemimpinnya.

Mereka masuk menemui dan memberi salam kepada (Syaikh) Abu Ismail (Al-Anshâry). Mereka berkata (kepada Syaikh), ‘Sultan telah datang, sedang kami sangat bersemangat ingin keluar dan mengucapkan salam kepada (Sultan). Kami senang bila dahulu mengucapkan salam kepadamu.’

Sungguh mereka telah bersepakat untuk membawa bersama mereka sebuah arca kecil yang terbuat dari tembaga. Mereka meletakkan (arca) itu di dalam mihrab di bawah sajadah Syaikh. Lalu mereka pun keluar, sedangkan Syaikh bangkit menuju peraduannya.

Mereka pun masuk menemui Sultan serta meminta bantuan dalam menghadapi (Syaikh) Al-Anshâry dengan alasan (bahwa Syaikh) adalah seorang mujassim dan bahwa (Syaikh) membiarkan sebuah arca dalam mihrabnya yang ia klaim bahwa Allah –Ta’âlâ– sesuai dengan bentuk arca itu. Jika Sultan mengirim (utusan) sekarang, niscaya ia mendapati arca itu.

Akhirnya, perkara itu dianggap amat besar di sisi Sultan. (Sultan) pun mengutus seorang budak dan sekelompok orang. (Para utusan) tersebut masuk (menemui Syaikh) dan langsung menuju mihrab. (Para utusan) pun mengambil arca itu, lalu si budak melemparkan arca itu (di hadapan Sultan).

Akhirnya, Sultan mengirim orang yang bisa menghadirkan (Syaikh) Al-Anshâry. (Syaikh) pun datang seraya melihat arca dan para ulama, sedang kemarahan Sultan telah memuncak.

Sultan bertanya kepada Syaikh, ‘Apa ini?’

‘Arca yang dibuat dari tembaga yang mirip mainan,’ tukas Syaikh.

‘Bukan tentang (arca) ini yang saya tanyakan kepadamu,’ sanggah Sultan.

‘Sultan mau bertanya tentang apa kepadaku?’ tanya Syaikh.

‘Sesungguhnya mereka mengklaim bahwa Anda menyembah (arca) ini dan bahwa Anda berkata, ‘Sesungguhnya Allah sesuai dengan bentuk arca ini,’ tegas Sultan.

Syaikhul Islam (yakni Syaikh Al-Anshâry Al-Harawy, -pent.) pun berucap dengan geram dan suara yang keras, ‘Maha Suci Engkau, (Ya Allah)! Ini adalah kedustaan besar.’

Akhirnya, terbetiklah dalam hati Sultan bahwa mereka telah berdusta atas nama Syaikh. Sultan memerintahkan (agar Syaikh dipulangkan), lalu (Syaikh) pun dipulangkan menuju ke rumahnya dalam keadaan dimuliakan.

Sultan berkata tegas kepada mereka, ‘Jujurlah kalian kepadaku!’

Sultan mengancam mereka sehingga akhirnya mereka buka suara, ‘Di tangan orang ini, kami berada dalam suatu musibah, (yaitu) (Syaikh) ini lebih mendominasi terhadap kebanyakan orang atas kami (maksudnya: Syaikh lebih dipercaya oleh kebanyakan orang daripada mereka itu, pent.) maka kami ingin memutuskan keburukannya dari kami.”’

Sultan pun memerintahkan (agar hukuman mereka diproses) dan menyerahkan mereka (kepada para petugas), serta menuntut, menghukum, dan merendahkan mereka.” [Siyâr A’lam An-Nubala` (18/512)]

Selain itu, sungguh di antara musibah Al-Akh Luqman dan rekan-rekannya –sallamahumullâh-, adalah bahwa mereka banyak berkomentar tentang sekolah formal yang diakui oleh pemerintah, baik di majelis-majelis umum maupun khusus.

Pada hari-hari belakangan ini, mereka memberi kesan bahwa mereka men-tahdzîr karena bersandar kepada fatwa Fadhîlatusy Syaikh kita yang berbicara. Demikian pula, mereka men-tahdzîr saudara-saudara kita yang berusaha keras dalam mendirikan sekolah-sekolah formal Salafi. Akhirnya, terjadilah berbagai perpecahan di beberapa tempat.

Sungguh Al-Akh Luqman dan kawan-kawannya telah menjerumuskan dakwah ini ke dalam sebuah masalah besar yang berkaitan dengan negara Indonesia. Melalui jalur-jalur yang meyakinkan, telah tampak nyata bagi kami bahwa pihak keamanan negara sungguh telah mengawasi Al-Akh Luqman dan orang-orang yang bersamanya yang membuat orang lari dari sekolah-sekolah formal. Bahkan, di sebagian provinsi, pemerintah setempat memantau sebagian pengikut Al-Akh Luqman yang terang-terangan menyatakan kepada pihak berwenang tentang ide Al-Akh Luqman dan kawan-kawannya seputar sekolah formal.

Penting untuk diingatkan bahwa sungguh telah berlalu dari Al-Akh Luqman dan kawan-kawannya, pada hari-hari jihad bersama Al-Akh Jafar Umar Thalib, sebuah kebiasaan buruk dalam mengingkari pemerintah secara terang-terangan. Barangkali, masih ada sesuatu dari kebiasaan ini yang tersisa pada mereka. Pada akhirnya, hal itu berpengaruh dalam muamalah mereka pada kasus ini.

Sudah dimaklumi bahwa bukanlah manhaj Salaf, membongkar aib pemerintah di majelis-majelis umum, melainkan sepatutnya kita memperbaiki dan mengatasi kesalahan pemerintah dengan cara syar’i dan hikmah. Oleh karena itu, kita berlepas diri di hadapan Allah dari tingkah laku Al-Akh Luqman dan rekan-rekannya serta segala sesuatu yang mereka coreng berupa citra Salafiyyin dalam sisi ini.

Kewajiban kita adalah memberitahukan pemerintah tentang solusi-solusi syar’i dan segala sesuatu yang di dalamnya mengandung kemaslahatan dan kebaikan bagi hamba dan negara.

Syaikhul Islam rahimahullâh berkata, “Sebagaimana halnya dikatakan bahwa orang berakal itu bukanlah orang yang mengetahui (cara membedakan dan memilah) kebaikan dari keburukan, melainkan orang berakal itu adalah orang yang mengetahui yang terbaik di antara dua kebaikan dan yang terburuk di antara dua keburukan.” [Majmû’ Al-Fatâwâ 20/52]

Pada akhir poin ini, saya ingin mengisyaratkan beberapa “buah tangan” Al-Akh Luqman dan rekan-rekannya sejak Al-Akh Hânî Buraik menyalakan api fitnah di Indonesia dengan menyebarkan kalam Fadhîlatusy Syaikh kita yang berbicara –sallamahullâh-. Yang demikian itu adalah dalam beberapa perkara:

  1. Kesibukan terbesar mereka adalah men-tahdzîr Bahkan pada hari-hari belakangan ini, mereka mengada-adakan nukilan dari Fadhîlatusy Syaikh kita yang berbicara dalam men-tahdzîr semua “orang yang bersama Dzulqarnain”.
  2. Mereka menerapkan hukum-hukum Salaf tentang ahli bid’ah terhadap terhadap Dzulqarnain dan orang-orang yang bersamanya, yakni: tidak memberi salam kepada mereka, tidak bermuamalah dengan mereka, men-tahdzîr markas-markas dan pelajaran-pelajaran mereka, tidak menghadiri (mengurus dan mengantar) jenazah mereka, walaupun mereka itu adalah tetangga, juga tidak mau menghadiri walimah pernikahan mereka, serta hukum lainnya.
  3. Mereka mengharuskan taubat bagi orang-orang (yang) mereka anggap bersama Dzulqarnain, walaupun orang-orang ini bersikap diam dan tidak mau terlibat dalam fitnah ini.
  4. Mereka mengambil taubat atas sebagian da’i di majelis-majelis umum, di depan manusia, serta membuat tulisan tentang hal itu.
  5. Sungguh mereka telah memecah-belah manusia pada mayoritas kota, provinsi sebelumnya. Setelah adanya tahdzîr, mereka menambah perpecahan dan membuat lari kalangan Salafiyyin (dari dakwah). Bahkan, mereka memecah-belah Salafiyyin di negeri Jiran, padahal (jumlah) Salafiyyin di sana sedikit.
  6. Mereka mengadakan daurah-daurah dan pelajaran-pelajaran tandingan dalam waktu dan kota yang sama sebagai bentuk tahdzîr terhadap Dzulqarnain dan orang-orang yang bersamanya.
  7. Mereka menyibukkan Salafiyyin dan kaum awam berupa tahdzîr terhadap Dzulqarnain sehingga membuat musuh-musuh dakwah bergembira. Mereka memiliki situs-situs, grup-grup media sosial, dan media lainnya guna hal tersebut.
  8. Mereka membuat orang-orang awam menjadi lancang dalam berbuat kemungkaran: sebagian di antara mereka menjadi “imam al-jarh wat ta’dîl” di situs atau media mereka: sebagian pemuda men-tahdzîr yang lainnya; mengutamakan mengerjakan shalat di masjid-masjid awam yang sufi daripada di masjid-masjid Sunnah yang bernaung di bawah (pengelolaan) Dzulqarnain dan orang-orang yang bersamanya; sebagian istri meminta talak dari suami mereka karena perbedaan mauqif mereka; orang tua berselisih dengan anaknya atau sebaliknya. Masih banyak lagi kemungkaran selain itu.
  9. Mereka berjalan di atas cara-cara Haddadiyyah dan Hajawirah (pengikut Syaikh Yahya Al-Hajury) dalam muamalah mereka bersama Dzulqarnain dan kawan-kawannya. Tatkala guru kami, Al-‘Allâmah Muhammad bin Abdil Wahhâb Al-Abdaly Al-Wushâby rahimahullâh, wafat, salah seorang di antara mereka berkomentar, “Ana harap ikhwah menahan diri jangan menukil apapun tentang kematian Al-Wushabiy terkait pujian dan sanjungan. Dia belum rujuk dari beberapa kesalahan. Yang terakhir dari dia hanya ucapan syukur. Tunggu mauqif ulama kibar. Barakallahu fikum”. (Diucapkan oleh Muhammad Syarbini dalam sebuah edarannya)

Sebagaimana pula Muhammad Afifuddin telah men-tahdzîr Syaikh Abdurrazzaq Al-‘Abbâd hafizhahullâh dan menyifatkan Syaikh sebagai orang-orang yang memiliki makar dan problem dalam dakwah. (Perkataan tersebut dalam sebuah rekaman)

  1. Mereka merusak citra dakwah dan masyaikh Salafiyyin dengan sebab tingkah laku dan tindak-tanduk mereka yang buruk.
  2. Al-Akh Luqman memosisikan dirinya sebagai orang (yang berhak) berbicara dalam al-jarh wat ta’dîl sebagaimana ia mengungkapkan tentang dirinya dalam muhadharah bahwa muhadharah itu dalam hal al-jarh wat ta’dil, sebagaimana halnya Al-Akh Luqman memuji sebagian sufaha’ ‘orang-orang bodoh’ lagi awam yang tidak paham bahasa Arab dengan baik. Situs mereka menyebarkan semua khilaf di antara Salafiyyin dan mereka mengamalkan al-jarh wat ta’dîl sesuai kemauan mereka.
  3. Mereka men-tahdzîr semua masyaikh Yaman dan men-tahdzîr semua orang yang tidak memiliki mauqif tegas terhadap masyaikh Semua tindak-tanduk mereka ini dikuatkan berupa (bukti) tulisan, rekaman suara, atau para saksi; kami meninggalkan rincian-rinciannya demi meringkas.

Kelima: Beberapa Solusi dan Arahan

Nash-nash Al-Kitab dan Sunnah tentang maksud dan tujuan dakwah telah dikenal dan dimaklumi. Istiqamah di atas hal itu, termasuk sebab-sebab bersatunya kalimah, hilangnya khilaf dan menguatkan perjalanan kebaikan.

Sungguh kami telah berusaha keras untuk tidak melayani Al-Akh Luqman Ba’abduh dan rekan-rekannya –ashlahahumullâh– dengan bantahan-bantahan sehingga rasa gembira para musuh dakwah tidak menjadi bertambah, sebagaimana halnya kami berusaha keras sesuai kemampuan untuk mengarahkan semangat manusia kepada ilmu, belajar, dan tafaqquh fiddîn ‘memahami agama’.

Akan tetapi, Al-Akh Luqman dan rekan-rekannya tidak pernah berhenti menimpakan bahaya bagi dakwah dan Salafiyyin. Oleh karena itu, kami tak akan membiarkan dakwah menjadi kacau-balau disebabkan oleh ulah tangan Al-Akh Luqman dan kawan-kawannya.

Pada awal menyalanya api fitnah, sungguh saya telah berusaha menyelesaikan permasalahan dari arah Fadhîlatusy Syaikh kita yang berbicara –sallamahullah-. Saya berusaha dan berkorban karenanya. Akan tetapi, amat disayangkan sebab kami tidak melihat apa-apa yang kami kenal dari Fadhîlatusy Syaikh berupa kasih sayang dan sikap mendengar kedua belah pihak.

Oleh karena itu, setelah mencermati penyebab fitnah-fitnah yang disebar oleh Al-Akh Luqman dan kawan-kawannya, kami memandang perkara ke dalam dua permasalahan:

Masalah Pertama: Masalah Sekolah Formal

Sungguh kami telah merintis pesantren-pesantren dan markas-markas ilmiah dan syar’i; di dalamnya diajarkan kitab-kitab Salaf dan ilmu-ilmu syar’i berupa tafsir beserta ilmu-ilmunya, hadits beserta ilmu-ilmunya, aqidah, bahasa arab, fiqih beserta ushul-nya, dan selainnya, sebagaimana halnya di sana ada pesantren-pesantren khusus wanita dan pesantren khusus penghafal Al-Qur`an Al-Karim.

Pesantren-pesantren dan markas-markas ilmiah yang syar’i ini –walillahil hamdu walminnah- telah menghasilkan buah kebaikan yang banyak berupa kehadiran (kemunculan) para da’i ilallah, tersebarnya dakwah Salafiyyah, tersebarnya ilmu, dan kebaikan lainnya.

Sungguh kami telah berjalan di atas perkara ini lebih dari lima belas tahun. Hanya saja, -walaupun terdaftar di institusi pemerintah-, pesantren-pesantren ini tak bisa mengeluarkan ijazah yang diakui oleh pemerintah, yang membuat kalangan kaum muslimin awam tidak berminat mendaftarkan anak-anaknya di pesantren-pesantren dan markas-markas Ahlus Sunnah.

Di sela-sela hal itu, kami pun merintis sekolah-sekolah formal yang resmi lagi diakui oleh pemerintah dari tingkat TK sampai SMA sederajat. Di dalamnya diajarkan materi pelajaran umum selain materi ilmu agama yang padat serta hafalan Al-Qur`an Al-Karim dan hadits-hadits Nabawiyah.

Urgensi dari sekolah-sekolah ini tampak dari beberapa sisi:

  1. Mengajarkan anak-anak kaum muslimin aqidah dan pemahaman agama yang benar serta membebaskan mereka dari kesyirikan, bid’ah, syubhat, dan perkara yang diharamkan.
  2. Merealisasikan ketetapan pemerintah berupa wajib belajar sembilan tahun untuk tingkatan SD dan SMP. Hal ini tergolong kesempurnaan mendengar dan taat (seorang muslim) kepada pemerintahnya.
  3. Turut serta dalam memperbaiki dan menghadapi problema (masyarakat dan) negara dalam bidang keagamaan, akhlak, sosial dan problema lainnya seiring dengan merebaknya kejahilan, aneka pemikiran, dan tuntunan-tuntunan yang menyelisihi Al-Kitab dan Sunnah.
  4. Menampakkan usaha Salafiyyin dalam mengadakan perbaikan dan bersikap pertengahan sesuai dengan kemampuan dalam rangka menjaga nikmat-nikmat Allah dan waspada/takut terhadap adzab-Nya sebagaimana Allah Ta’âlâ berfirman,

وَمَا كَانَ رَبُّكَ لِيُهْلِكَ الْقُرَى بِظُلْمٍ وَأَهْلُهَا مُصْلِحُونَ.

“Dan sekali-kali tidaklah Rabb-mu akan membinasakan negeri-negeri secara zhalim, sedangkan penduduknya adalah orang-orang yang mengadakan perbaikan.” [Hûd: 117]

  1. Mengobati (masalah) yang dihadapi oleh masyarakat berupa sikap berlebih-lebihan (ekstrem) dalam banyak tempat dan keadaan, serta menanamkan keamanan pemikiran yang (keamanan permikiran ini) adalah asas atau pondasi keamanan dan ketenangan.

Serta tujuan-tujuan mulia lainnya yang bermanfaat dengan izin Allah Ta’âlâ.

Di lain pihak, Al-Akh Luqman dan rekan-rekannya telah memberikan gambaran jelek dakwah Salafiyyah seputar permasalahan sekolah formal serta menyandarkan perbuatan-perbuatan mereka kepada (fatwa) sebagian masyaikh di Arab Saudi. Oleh karena itu, kami telah berupaya mengadakan perbaikan dengan mengangkat dan melaporkan permasalahan ini kepada pihak syar’iah yang mengeluarkan fatwa-fatwa dalam permasalahan ini di Arab Saudi dan merupakan rujukan utama Haramain dan umat Islam di dunia: Al-Lajnah Ad-Dâ`imah Lil Iftâ`, yang dipimpin oleh mufti umum: Syaikh Abdul Aziz Âlu Syaikh -semoga Allah menjaga beliau dan seluruh ulama kita semua-.

Kami telah merinci kegiatan-kegiatan kami di sekolah-sekolah ini dalam bentuk pertanyaan. Kami telah menyebut keistimewaan-keistimewaan dan pengaruh-pengaruh positifnya. Kami juga menjelaskan kurikulum yang diajarkan pada madrasah tersebut dan sebagian pelajaran yang (dipandang) bermasalah, serta cara kami dalam menyelesaikan masalah tersebut. Selain itu (kami menyebutkan) keadaan para pengajar dan siswa-siswa. Sebagian data-data sekolah-sekolah saudara kami, siswanya secara keseluruhan sudah mencapai ribuan, baik laki-laki maupun perempuan, sebagaimana kami juga menerangkan rincian sebagian kritikan-kritikan yang disebarkan dan digembar-gemborkan oleh Al-Akh Luqman dan rekan-rekannya pada sebagian kurikulum sekolah.

Alhamdulillah jawaban Al-Lajnah Ad-Dâ`imah –hafizhahumullâhu jamî’a ‘ulamâ`inâ– telah keluar secara lisan, dan Al-Lajnah Ad-Dâ`imah meminta udzur mengeluarkan fatwa dalam bentuk tulisan karena permasalahan yang ditanyakan adalah berhubungan dengan Negara Indonesia. Jawaban Al-Lajnah Ad-Dâ`imah kepada kami ini juga telah dibaca oleh guru kami, Syaikh Shalih Al-Fauzân –hafizhahullâh-, secara lisan sebagaimana saya telah menanyakan langsung kepada beliau tentang sebagian hal yang berhubungan dengan permasalahan sekolah maka beliau –hafizhahullâh– memberikan bimbingan dan arahan kepada kami secara lisan yang semakin mengukuhkan kami agar berjalan diatas cara kami serta semakin menambah keyakinan dan bashirah kami dalam perkara kami. Walhamdulillah.

Fatwa-fatwa ini hanya kami sampaikan kepada saudara-saudara kami para da’i yang berakal –hafizhahumullâh– dan, Insya Allah, mereka akan menempatkan (fatwa-fatwa tersebut) pada tempatnya.

Masalah Kedua: Al-Akh Hânî Buraik Menukilkan dari Sebagian Guru-Guru Kami yang Mulia tentang Tahdzîr terhadap Dzulqarnain

Guru kami, Al-Fauzân –hafizhahullâh-, memberikan beberapa arahan dan nasihat kepada kami dalam masalah ini. Sungguh beliau –hafizhahullâh– bergembira tentang kabar-kabar dakwah kami seraya berucap, “Kalian berada di atas kebaikan, dan berjalanlah di atas jalan kalian,” sambil beliau mewasiatkan kepada kami agar kami tidak memedulikan para penghalang dakwah ini, walaupun mereka mencari-cari perkataan sebagian masyaikh untuk membuat masalah lain. Sebagaimana pula Syaikh Al-Fauzân –hafizhahullâh– mengarahkan kami dalam hal tahdzîr Fadhîlatusy Syaikh kita yang berbicara –sallamahullâh– dan beberapa perbuatan Al-Akh Luqman dan orang-orang yang bersamanya. Sebagaimana juga, saya memaparkan kepada (Syaikh Shalih Al-Fauzân) sejumlah perkara yang mereka sebarkan tentang saya. Oleh karena itu, beliau –hafizhahullâh– memberikan beberapa arahan yang berharga kepada saya dalam hal itu. Arahan-arahan yang mulia guru dan orang tua kami, Shalih Al-Fauzân –hafizhahullâh-, tentang seluruh masalah ini kami letakkan di hadapan para da’i yang berakal –hafizhahumullâh– yang -insya Allah- mereka dapat mendudukkan perkara-perkara sesuai tempatnya. Saya tidaklah seperti Al-Akh Hânî Buraik dan Al-Akh Luqman Ba’abduh dan rekan-rekannya dalam hal menebarkan perkara-perkara yang bukan pada tempatnya sehingga berdampak kepada dakwah yang menimbulkan akibat tidak terpuji.

Barangkali, tergolong ke dalam hal yang mencocoki pembahasan ini, penyebutan hadits agung yang, kalau saja manusia mau memperhatikan (hadits) ini, tentunya hal itu akan menjadi bagian dari pengobatan yang paling bermanfaat untuk kebanyakan perselisihan yang terjadi di alam Islam ini. Imam Al-Bukhâry telah meriwayatkan di dalam kitab Shahîh-nya dari Ibnu ‘Abbâs radhiyallâhu ‘anhumâ bahwa (Ibnu ‘Abbâs) berkata,

“Dahulu saya pernah membacakan (Al-Qur`an) kepada beberapa orang dari kalangan Muhajirin, yang di antara mereka adalah Abdurrahman bin ‘Auf. Ketika saya berada di rumah beliau di Mina, beliau (ternyata) berada di sisi Umar bin Al-Khaththâb pada akhir (pelaksanaan) haji (yang Umar kerjakan). Tiba-tiba Abdurrahman kembali kepadaku sembari berkata, ‘Kalau saja engkau melihat seseorang mendatangi Amirul Mukminin (yakni Umar) pada hari ini yang orang itu berkata, ‘Wahai Amirul Mukminin, apa pendapatmu tentang si Fulan yang mengikrarkan bahwa, kalau Umar meninggal, sungguh saya akan membaiat si Fulan karena, demi Allah, tidaklah keberadaan baiat Abu Bakr, kecuali sesuatu yang lepas kemudian menjadi sempurna?’

Maka Umar marah lalu berkata, ‘Sungguh saya, insya Allah, berdiri pada pagi hari di hadapan manusia untuk memperingatkan mereka yang ingin ‘merampok’ perkara-perkara mereka.’.’

Abdurrahman berkata, “Saya menjawab, ‘Wahai Amirul Mukminin, janganlah engkau melakukan (hal tersebut). Musim (haji) ini mengumpulkan orang-orang awam dan orang-orang yang senang keributan karena sesungguhnya merekalah orang-orang yang akan dominan dekat denganmu ketika engkau berdiri di hadapan manusia. Saya khawatir bila engkau berdiri kemudian mengucapkan ucapan yang tersebar pada segala penjuru darimu, sementara (ucapan itu) tidak mereka fahami dengan baik dan tidak mereka letakkan sesuai tempatnya. Undurlah hal tersebut hingga engkau tiba di Madinah karena negeri itu adalah negeri hijrah dan Sunnah sehingga engkau dapat duduk khusus bersama ahli fiqih dan orang-orang mulia. Kemudian, sampaikanlah ucapanmu dengan penuh kemapanan maka para ahli ilmu akan memahami ucapanmu dan mereka pun meletakkan (ucapanmu) sesuai tempatnya.’

Umar pun menanggapi, ‘Demi Allah, -insya Allah- saya akan berdiri untuk hal tersebut pada awal (kesempatan) berdiri yang akan saya lakukan di Madinah.’.’.” Selesai.

Di antara hal yang menggembirakan dakwah Salafiyyah dan menyelesaikan berbagai masalah yang dimunculkan oleh Al-Akh Luqman dan orang-orang yang bersamanya adalah bahwa, kepada Syaikh Al-Fauzân –hafizhahullâh-, saya telah menulis sebagian berita yang berkaitan dengan dakwah, pondok pesantren, dan sekolahan kami. Kepada beliau, saya juga menyampaikan keperluan kami untuk menyambung studi murid-murid ke universitas-universitas yang berada di Arab Saudi, keperluan kami untuk mengatur acara pelajaran-pelajaran dan ceramah-ceramah bersama anggota ulama kibar, Al-Lajnah Ad-Dâ`imah Lil Iftâ`, dan ulama besar lain yang telah dimaklumi, baik melalui teleconference maupun siaran langsung bersama program-program radio kami di Indonesia, serta keperluan-keperluan dakwah lainnya. Syaikh Al-Fauzân –ra’âhullah wa bâraka fîhi– pun menulis sebuah rekomendasi dan penyambung yang memudahkan saya dalam menjalani kegiatan-kegiatan dakwah dan bekerja sama dengan pihak-pihak resmi di Kerajaan Arab Saudi dan selainnya.

Nash Rekomendasi Syaikh Shalih Al-Fauzân hafizhahullâh:

“الحمد لله وبعد: فما ذكره الشيخ ذو القرنين من أعماله الدعوية لتصحيح العقيدة والعبادة وإرشاد الناس صحيح وثابت من أعماله فهو بحاجة إلى المساعدة بما يعينه على المضي في عمله الطيب، والله تعالى يقول: (وتعاونوا على البر والتقوى)

كتبه:

صالح بن فوزان الفوزان

عضو هيئة كبار العلماء في المملكة العربية السعودية

التوقيع والختم

في ٢٣/٤/١٤٣٦ ه”

“Alhamdulillah, wa ba’du:

Kegiatan-kegiatan dakwah yang Syaikh Dzulqarnain sebutkan untuk meluruskan aqidah dan ibadah serta membimbing manusia adalah benar dan valid dari kegiatan-kegiatannya. Beliau memerlukan dukungan yang membantunya dalam meneruskan kegiatannya yang baik. Allah Ta’âlâ telah berfirman,

“Tolong menolonglah kalian dalam kebaikan dan ketaqwaan.”

Ditulis oleh

Shalih bin Fauzân Al-Fauzân

Anggota Komite Ulama Besar Kerajaan Arab Saudi

Tanda tangan dan stempel

Pada Tanggal 23/04/1436 H”

Sebagaimana permasalahan kami juga diperhatikan oleh Syaikh Al-‘Allâmah Al-Muhaddits Washiyullah bin Muhammad Al-‘Abbâs hafizhahullâh. Beliau telah mendalami permasalahan kami serta telah berjumpa dengan Fadhîlatusy Syaikh yang berbicara -sallamahullâh- dan mendengar sudut pandang (Fadhîlatusy Syaikh) seputar sekolah formal dan tahdzîr (Fadhîlatusy Syaikh) terhadap Dzulqarnain. Maka, Syaikh Washiyullah -semoga Allah membalas kebaikan untuk beliau- menulis sebagai berikut:

“الحمد لله رب العالمين والصلاة والسلام على خير خلقه محمد وعلى آله وصحبه أجمعين،

وبعد،

فقد اجتمعت مع أحد الدعاة الكبار في إندونيسيا وهو الأخ الفاضل ذو القرنين بن محمد سنوسي، إندونيسي الجنسية والذي هو من تلامذة العلامة الشيخ مقبل من هادى الوادعي رحمه الله، وكذلك أعظم تعريف له أنه من أخص تلاميذ العلامة صالح الفوزان -أطال الله بقاءه بالصحة والعافية-،

وقد ظهر لي أن الأخ ذا القرنين سلفي العقيدة والمنهج متمسك بهما في ضوء فهم السلف، رزين الفكر في الدعوة.

ومن أعماله أنه المشرف والقائم على عدة مدارس ومعاهد وتحفيظ القرآن للبنين والبنات وله معاونون في أعماله. وذكر لي أنهم يدرسون في مدارسهم ومعاهدهم بعض مواد مدارس الدولة، ولكن ليس فيها فيما يخالف ديننا الحنيف. ولدعوتهم السلفية قبول عند عامة الإندونيسيين حتى عند بعض المسؤولين في الدولة.

ندعو الله له ولأعوانه التوفيق والنجاح والسداد فيما يأتون ويذرون وليقبلوا من الناصحين إذا حصل لهم الخطأ، ولا يبالوا بشغب الشاغبين بغير الحق، والله يعينهم،،،

وكتبه

وصي الله بن محمد عباس

التوقيع

٧/٥/١٤٣٦

المدرس بالمسجد الحرام وجامعة أم القرى

“Segala puji hanya milik Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam (semoga selalu tercurah) untuk sebaik-baik makhluk: (Nabi) Muhammad, juga kepada keluarga dan seluruh sahabat beliau.

Wa ba’du,

Saya telah bertemu dengan salah seorang da’i senior di Indonesia, yaitu Al-Akh Al-Fâdhil Dzulqarnain bin Muhammad Sunusi berkewarganegaraan Indonesia. Beliau adalah salah seorang murid Al-‘Allâmah Syaikh Muqbil bin Hâdy Al-Wâdi’iy –rahimahullâh-. Juga, di antara identitas teragung untuknya, beliau adalah tergolong sebagai murid khusus Al-‘Allâmah Syaikh Shalih Al-Fauzân -semoga Allah memanjangkan umur beliau dengan kesehatan dan afiyat-. Telah tampak bagi saya bahwa Al-Akh Dzulqarnain adalah Salafy dalam aqidah dan manhaj, berpegang dengan (aqidah dan manhaj) yang sesuai dengan petunjuk pemahaman Salaf. (Juga) beliau adalah seorang yang mendalam pemikirannya dalam dakwah.

Di antara kegiatan-kegiatan beliau adalah penanggung jawab beberapa sekolah, ma’had, dan tahfizh Al-Qur`an untuk anak didik laki-laki dan perempuan, serta beliau memiliki kawan-kawan yang bekerja sama dengannya dalam kegiatan-kegiatan tersebut.

(Dzulqarnain) menyebutkan bahwa mereka mengajarkan sebagian kurikulum pemerintah di sekolah-sekolah dan ma’had-ma’had mereka. Akan tetapi, dalam (kurikulum tersebut), tidak terdapat hal yang menyelisihi agama kita yang lurus. Dakwah Salafiyyah mereka diterima oleh kalangan keumuman orang-orang Indonesia hingga oleh sebagian pejabat negara.

Kami memohon taufiq, kesuksesan, dan kelurusan untuk (Al-Akh Dzulqarnain) dan kawan-kawan yang bekerja sama dengannya pada hal yang mereka lakukan dan hal yang mereka tinggalkan. Hendaknya mereka menerima (wejangan) dari para penasihat jika terjadi kekeliruan pada mereka, dan (hendaknya) mereka jangan memedulikan perbuatan orang-orang yang membuat keributan tanpa haq. Semoga Allah membantu mereka.

Ditulis oleh

Washiyullah bin Muhammad Al-‘Abbâs

Tanda tangan

Pada Tanggal 7/5/1436 H

Pengajar di Masjidil Haram dan Jami’ah Ummul Qurâ`”

Terakhir,

Kami telah mengambil pelajaran dari fiqih Al-Lajnah Ad-Dâ`imah yang tidak menjawab pertanyaan secara tertulis karena permasalahan (yang diajukan) adalah berkaitan dengan negara Indonesia. Insya Allah, pada masa mendatang apabila dimestikan, kami akan mengirim pertanyaan kepada Al-Lajnah Ad-Dâ`imah dengan bekerjasama bersama pihak resmi pemerintahan kami di Indonesia. Kami berharap agar (upaya) maksimal kami ini dapat menyelesaikan permasalahan.

Kami juga mengambil pelajaran agung dari (kejadian) di atas untuk berhati-hati dalam menjawab dan tidak sembarangan mengurusi setiap permasalahan orang lain dan memberi fatwa dalam (urusan orang lain).

Hal ini sangat berbeda dengan sebagian orang yang sok alim yang senang mencampuri masalah orang lain hingga (mencampuri) urusan-urusan negara, fitnah-fitnah, dan darah.

Kami juga mengambil pelajaran dari guru kami, Al-‘Allâmah Syaikh Shalih Al-Fauzân semoga Allah selalu menetapkan kesehatan dan afiyat untuk beliau- berupa beberapa perkara penting yang merupakan sebab-sebab terjadinya fitnah dan perpecahan di dalam Islam.

Di antara sebab-sebab tersebut adalah:

  1. Anak-anak muda dan orang yang sok alim menampilkan diri dengan mengomentari permasalahan, padahal mereka tidak mengetahui sebab-sebab munculnya permasalahan dan tidak mengenal solusi-solusi dalam rangka menyelesaikan permasalahan.
  2. Tidak ada ta’shîl ‘ilmy ‘pijakan ilmu yang valid dan mendasar’ pada banyak permasalahan yang menimbulkan perselisihan.
  3. Tidak ada dhabt ‘pijakan yang jelas dan valid’ dalam fatwa. Syaikh Shalih Al-Fauzân –hafizhahullâh– berpandangan bahwa sebagian masyaikh memang memiliki keahlian dalam memberi fatwa seputar shalat, zakat, dan semisalnya untuk pribadi-pribadi tertentu, tetapi tidak setiap masyaikh di Arab Saudi berwenang untuk berfatwa dalam pertikaian dan perselisihan. Maka, bagaimana mungkin seseorang boleh memberi fatwa untuk selain negerinya? Yang lebih parah dari itu adalah memberi fatwa dalam masalah-masalah yang merupakan wewenang para pemimpin, seperti permasalahan jihad dan selainnya.

Kepada Syaikh Shalih Al-Fauzân –hafizhahullâh-, Saya telah membacakan hadits riwayat Abu Dawud dan selainnya dari ‘Auf bin Malik Al-Asyja’iy bahwa (‘Auf) berkata: saya mendengar Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَا يَقُصُّ إِلَّا أَمِيْرٌ، أَوْ مَأْمُوْرٌ، أَوْ مُخْتَالٌ

“Tidak ada yang bercerita (kepada manusia), kecuali pemerintah, atau orang yang diperintah oleh pemerintah, atau orang yang sombong.”

Juga, kepada beliau, saya membacakan penjelasan Ath-Thîby rahimahullâh sebagaimana dalam tahqiq Syu’aib Al-Arnâ’ûth terhadap Sunan Abu Dawud dengan nash,

“Ath-Thiby berkata, ‘Sabda beliau, ‘Tidak ada yang bercerita’: (kata) tidak bukanlah pelarangan, melainkan penafian. (Maksudnya adalah) pengabaran bahwa (bercerita) seperti ini hanyalah boleh bersumber dari mereka, (yaitu) membatasi untuk ‘pemerintah’: yaitu imam/pemimpin, sedang ‘orang yang diperintah’ adalah siapa saja yang diizinkan oleh imam/pemimpin (untuk bercerita), sedangkan ‘orang yang sombong’ adalah orang yang pongah, sombong, lagi mencari kepemimpinan.

Dalam sebuah riwayat (disebutkan), ‘atau orang yang riya’: Al-Manâwy berkata, ‘Dikatakan ‘orang yang riya’ karena orang tersebut mencari kepemimpinan lagi membebani dirinya berupa sesuatu yang syariat tidak bebankan kepada dia, bahwa dia tidak diperintah untuk hal tersebut karena imam/pemimpin mengangkat (seseorang) berdasarkan maslahat-maslahat. Oleh karena itu, siapa saja yang dianggap layak oleh imam/pemimpin, dia akan diangkat oleh (imam/pemimpin) tersebut. Jika tidak layak, dia tidak boleh diangkat oleh (imam/pemimpin).’.”

Penjelasan di atas dibenarkan oleh guru kami, Syaikh Al-Fauzân. Beliau berpandangan bahwa hadits di atas dhabt yang lebih kuat terhadap permasalahan-permasalahan yang terjadi di tengah manusia sehingga tidak akan terjadi (keadaan) sebagian orang yang memvonis mubtadi’ ‘ahli bid’ah’ terhadap orang lain tanpa dhabt sebagaimana (kondisi yang) telah terjadi di banyak negara.

Adab inilah yang berjalan di tengah para shahabat radhiyallâhu ‘anhum. ‘Ammâr bin Yâsir berkata kepada Umar bin Al-Khattâb radhiyallâhu ‘anhu tentang masalah tayammum,

يَا أَمِيْرَ الْمُؤْمِنِيْنَ إِنْ شِئْتَ لِمَا جَعَلَ اللهُ عَلَيَّ مِنْ حَقِّكَ لَا أُحَدِّثُ بِهِ أَحَدًا

“Wahai Amirul Mukminin, karena haq yang telah Allah jadikan untukmu terhadap diriku, andaikata engkau berkehendak, saya tidak akan menceritakan (hadits ini) kepada seorang pun.” [Diriwayatkan oleh Muslim]

Sebagaimana guru kami, Syaikh Shalih Al-Fauzân, juga mengingatkan kesalahan penggunaan istilah kibârul ulama serta kekeliruan penyematan istilah tersebut yang dibatasi hanya kepada satu atau dua orang di antara orang-orang yang berilmu. Wallahu muwaffiq.

Juga, yang sangat mencocoki pada kesempatan ini, Kami menyebutkan nasihat yang sangat berharga lagi agung dari guru kami, Syaikh Al-‘Allâmah Shalih Al-Fauzân bin Fauzân hafizhahullâh untuk para da’i di jalan Allah. Naskah tulisan beliau pada tanggal 8/3/1435 H adalah sebagai berikut:

“Segala puji bagi Allah. Semoga shalawat dan salam tercurahkan kepada Nabi kita, Muhammad shallallâhu ‘alaihi wa sallam, serta kepada seluruh keluarga, dan para sahabatnya.

Amma ba’du:

Wahai saudara-saudara, para da’i kepada (jalan) Allah di seluruh tempat. Kalian mengetahui -semoga Allah menjaga kalian- bahwa dakwah-dakwah cukuplah banyak dan beraneka ragam pada masa ini. Masing-masing mengajak kepada madzhab dan pemikirannya hingga orang-orang kafir pun mengajak kepada kekafiran. AllahTa’âlâ berfirman,

أُولَئِكَ يَدْعُونَ إِلَى النَّارِ وَاللَّهُ يَدْعُو إِلَى الْجَنَّةِ

“Mereka mengajak kepada api neraka, sedangkan Allah mengajak kepada surga.” [Al-Baqarah: 221]

Para ahli bid’ah mengajak kepada bid’ah-bid’ah.

Sedangkan, para da’i terbaik dan terjujur adalah orang-orang yang mengajak kepada (jalan) Allah. Allah Ta’âlâ berfirman,

وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

“Dan siapakah yang lebih baik ucapan(nya) daripada orang-orang yang mengajak kepada (jalan) Allah, beramal shalih, dan mengatakan, “Sungguh Saya tergolong sebagai orang-orang yang memasrahkan diri (kepada Allah).”.” [Fushshilat: 33]

Berarti, orang-orang yang mengajak kepada (jalan) Allah adalah manusia yang ucapannya paling baik karena mereka jujur dalam dakwah mereka (dan) mereka jujur dalam ucapan mereka, yang mereka tidak mengajak kepada sebuah madzhab, aliran, kefanatikan, maupun kelompok. Mereka hanya ingin mengeluarkan manusia dari berbagai kegelapan kepada cahaya, baik dalam perkara aqidah maupun amalan mereka.

Oleh karena itu, musuh-musuh mereka dari kalangan para da’i kesesatan sangatlah antusias memecah-belah barisan mereka dan menumbuhkan permusuhan di antara mereka. Sehingga, dakwah mereka tidak bisa melintas di atas jalannya untuk membebaskan manusia dari perbudakan syirik dan bid’ah kepada cahaya Sunnah dan sikap mengikuti (Nabi). (Para da’i kesesatan mengalihkan manusia) dari berjalan di atas manhaj Salaf kepada manhaj khalaf yang berlawanan hingga (para da’i kesesatan) itu dapat menguasai akal-akal manusia secara sempurna.

Oleh karena itu, kewajiban para da’i kepada (jalan) Allah adalah hendaknya berhati-hati terhadap tipu daya musuh-musuh mereka, menyatukan barisan-barisan mereka, dan memperbaiki perselisihan-perselisihan mereka sebagaimana Allah Ta’âlâ berfirman,

فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَصْلِحُوا ذَاتَ بَيْنِكُمْ

“Maka hendaklah kalian bertakwa kepada Allah dan perbaikilah (persaudaraan) di antara kalian.” [Al-Anfâl: 1] 

 

Bagaimana kalian ingin memperbaiki manusia, sedangkan kalian tidak memperbaiki (persaudaraan) di antara kalian? Sementara Allah Ta’âlâ berfirman kepada kalian,

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ

“Tolong-menolonglah kalian di atas kebaikan dan takwa, serta janganlah kalian tolong-menolong di atas dosa dan permusuhan.” [Al-Mâ`idah: 2]

Janganlah kalian memberi peluang kepada musuh-musuh kalian untuk ikut campur di antara kalian dan menghilangkan kekuatan kalian. Hendaknya dakwah kalian berjalan di atas Al-Qur`an, Sunnah, dan manhaj Salaf. “Tiada sesuatu yang bisa membuat baik akhir umat ini, kecuali sesuatu yang telah membuat baik pendahulunya.”

Hendaklah kalian menghindari sikap hizbiyyah ‘fanatik kelompok’ dan terbagi-bagi (berpecah-pecah). Satukanlah barisan dan manhaj kalian. Sebarkanlah aqidah shahihah yang telah mempersatukan kaum muslimin pada masa Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wasallam sebagaimana Allah Ta’âlâ berfirman,

وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا

“Dan ingatlah nikmat Allah atas kalian ketika dahulu kalian saling bermusuhan, (tetapi) kemudian Dia melembutkan hati-hati di antara kalian sehingga, dengan nikmat-Nya, kalian menjadi bersaudara.” [Âli Imrân: 103]

Semoga Allah memberkahi ilmu dan amalan kalian.

Wassalâmu ‘alaikum warahmatullâhi wabarakâtuh

 

Saudara kalian,

Shalih bin Fauzân Al-Fauzân”

Saya bermohon kepada Allah Yang Maha Mulia, Rabb Arsy Yang Maha Agung, agar memperbaiki segala keadaan dan mengembalikan orang-orang yang jatuh ke dalam kesalahan supaya kembali kepada kebenaran dengan pengembalian yang indah, serta menolak dari kita semua segala kejelekan fitnah yang tampak maupun yang tidak tampak. Sebagaimana pula, saya bermohon kepada-Nya kesabaran, ketabahan dalam menanggung gangguan, penjauhan dari fitnah-fitnah, kelapangan dada, serta sikap memafkan. Juga (kita bermohon agar Dia) memberi taufiq kepada kita semua guna menjelaskan kebenaran dan membantah kebatilan dengan hikmah dan jalan-jalan yang disyariatkan.

Juga, kami bermohon kepada Allah Yang Maha Mulia Lagi Maha Perahmat untuk mengumpulkan kami dengan saudara-saudara kami yang berselisih dengan kami dalam rumah kemuliaan (surga) sebagai saudara-saudara yang berhadapan di atas permadani-permadani (surga) dan menjadikan kita semua sebagai orang-orang berberkah di manapun kita berada, serta menjadikan kita sebagai juru kunci kebaikan dan para penutup kejelekan.

Shalawat dan salam Allah semoga senantiasa tercurah kepada Nabi kita: Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, juga keapda keluarga dan para shahabat beliau.


Tulisan Versi Bahasa Arab

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Tulisan lainnya

DOA MEMINTA AKHLAK YANG BAIK

Jannatul-firdaus.net

Menyebar Ilmu Syar’i



Jannatul-firdaus.net

Menyebar Ilmu Syar’i



Bagikan…

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram



DOA MEMINTA AKHLAK YANG BAIK

  • Oleh: ABU AMATILLAH ANSHARI
Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berdoa:

اللَّهُمَّ كَمَا حَسَّنْتَ خَلْقِي فَحَسِّنْ خُلُقِي.

“Ya Allah sebagaimana Engkau perindah ciptaanku, maka perindahlah perangaiku.” (Diriwayatkan oleh Ahmad dan dishahihkan oleh Ibnu Hibban).

Penjelasan Singkat Hadits
Apabila ditinjau dari sisi zhahir (fisik) dan bathin (akhlak), manusia terbagi empat, yaitu:
1. Ada yang fisiknya buruk dan buruk pula akhlaknya. Ini manusia yang paling jelek.

2. Ada yang fisiknya buruk tapi bathinnya (akhlaknya) baik. Ini merupakan orang baik (mulia).

3. Ada orang yang zhahirnya (fisiknya) baik, tapi bathinnya (akhlaknya) buruk, seperti orang munafik. Ini orang yang buruk. Kita berlindung kepada Allah.

4. Ada orang yang zhahirnya (fisiknya) baik dan baik pula bathinnya (akhlaknya). Inilah manusia yang paling baik, dan inilah yang diminta oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam doa ini, dan beliau shallallahu ‘alaihi wasallam merupakan manusia yang paling indah fisik dan akhlaknya.
(Diringkas dari Ithaa al-Kiraam Syarah Kitab al-Jaami’ Fii al-Akhlaak wa al-Adaab Min Buluugh al-Maram, hal. 258).

Imam Muhammad bin Ismail al-Amir ash-Shan’aniy rahimahullah berkata:
قد كان صلى الله عليه وسلم من أشرف العباد خلقا وسؤاله ذلك اعترافا بالمنة وطلبًا لاستمرار النعمة وتعليمًا للأمة.
Nabi sallallahu alaihi wasallam merupakan hamba yang paling indah wajahnya dan akhlaknya. Permohonan seperti ini dipanjatkan sebagai bentuk kesyukuran terhadap anugerah yang telah diberikan oleh Allah serta permohonan agar nikmat tersebut tetap berkesinambungan. Permohonan ini juga berfungsi untuk memberi pelajaran terhadap umat. (Subul as-Salam Syarah Buluugh al-Maraam, Juz IV, hal. 284).

Nasehat:
1. Jangan berbangga dengan baiknya penampilan fisik yang engkau miliki.
2. Jangan mencela orang yang memiliki kekurangan pada fisiknya.
3. Selalu meminta kepada Allah agar Dia memperbaiki fisik dan akhlak kita.
4. Apabila engkau malu ketika ada cacat pada fisikmu, maka hendaknya lebih malu ketika ada cacat pada akhlakmu.

وصلى الله وسلم على نبينا محمد.
———-

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Tulisan lainnya

Pencinta Surga yang Terlena dengan Kesenangan Dunia dan Syahwat yang Melalaikan

Jannatul-firdaus.net

Menyebar Ilmu Syar’i



Jannatul-firdaus.net

Menyebar Ilmu Syar’i



Bagikan…

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram



Pencinta Surga yang Terlena dengan Kesenangan Dunia dan Syahwat yang Melalaikan

  • Oleh: Al-Ustadz Abdul Qodir Abu Fa’izah –hafizhahullah

Di dunia ini banyak manusia yang bercita-cita mendapatkan kebahagiaan dan nikmat surga serta terlindungi dari kerasnya siksa neraka. Hanya saja ia tak mempersiapkan bekal menuju kesana. Ia pun lalai dan terbuai dalam kesengangan dunia yang menipu dan berhura-hura dalam maksiat, sampai ia dijemput Malaikat Maut.

Seorang ulama tabi’in di zamannya, Harim bin Hayyan Al-Abdiy Al-Bashriy (wft 46 H) -rahimahullah- berkata,

مَا رَأَيْتُ كَالنَّارِ نَامَ هَارِبُهَا، وَلاَ كَالْجَنَّةِ نَامَ طَالِبُهَا

“Aku tak pernah melihat sesuatu seperti neraka; orang yang lari (takut) darinya malah tertidur, dan tidak pula sesuatu seperti surga; pencarinya pun tertidur”. [Lihat Tarikh Al-Islam (5/534) oleh Al-Imam Adz-Dzahabiy]

Demikianlah sifat dan kebiasaan orang-orang yang lalai, ia senantiasa terbuai oleh kesenangan dunia yang ia rasakan. Seakan semua hidupnya akan ia lalui tanpa beban dan pengorbanannya.

Hidupnya dipenuhi dengan gaya hidup santai, hura-hura, sesuka hati. Sedikit ia merasakan lelah dalam ketaatan dan ibadah kepada Allah, maka ia pun kesal dan berkeluh kesah.

Ia menyangka bahwa surga itu digapai dengan angan-angan kosong. Waktu dan masa sehatnya lebih banyak ia buang dan habiskan dalam perkara-perkara yang melalaikannya dari mengingat Allah serta menjauhkannya dari bersiap bekal menuju kampung hakiki, kampung setiap insan, yaitu akhirat.

Nasib setiap orang disana tergantung perjuangan dan pengorbanannya saat ia di dunia. Jika ia golongan manusia manja, maka ia akan gigit jari dengan penuh penyesalan atas segala kekosongan lembaran amal sholihnya.

Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda,

نِعْمَتَانِ مَغْبُوْنٌ فِيْهِمَا كَثِيْرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ

“Ada dua nikmat yang tertipu di dalamnya kebanyakan manusia, yaitu : kesehatan dan waktu luang”. [HR. Al-Bukhoriy dalam Shohih-nya (6412)]

 

Inilah dua nikmat yang mayoritas orang telah menghabiskannya dalam perkara yang sia-sia dan tak berguna di akhirat. Bahkan terkadang mereka gunakan dalam perkara yang diharamkan agama!!

Di saat sehat, jasad sehatnya selayaknya ia kerahkan demi mencari ridho Allah. Namun ia pakai dalam perkara yang diharamkan.

Kita lihat sebagian orang menggunakan jasadnya dalam maksiat!! Ada yang lebih gila lagi, mereka yang merusak dan berusaha membasmi kesehatannya dengan mengisap rokok yang mengandung berbagai macam senyawa racun yang dapat mematikan dan merusak fungsi organ tubuh mereka.

 

Tak heran bila mereka disiksa oleh Allah –Azza wa Jalla– dengan berbagai deraan penyakit yang menyusahkan hidupnya.

Sama halnya dengan kesehatan,  umur termasuk nikmat terbesar yang dianugrahkan oleh Sang Pencipta (Allah) –Azza wa Jalla- bagi manusia.

Namun realita menunjukkan bahwa banyak manusia yang menghabiskan umurnya dalam maksiat, seperti: minum khomer, judi, zina dan pacaran, mendengar musik. Padahal semua itu adalah perbuatan-perbuatan maksiat!!

Di pinggir-pinggir jalan atau di tempat lain, sering kita menjumpai manusia-manusia sial yang menghabiskan waktunya bermain Domino, Joker, Poker, Ludo, Ular Tangga, game, dan lainnya sampai larut malam.

 

Semua ini tentunya adalah perkara terlarang dan tercela dalam agama, karena membuat pelakunya lalai dari mengingat Allah dan menghabiskan waktu dan kesehatan dalam perkara sia-sia dan terlarang.

Sebagian orang lagi menghabiskan waktunya bermain atau nonton televisi atau bermain internet dengan segala macam ucapan yang tak berguna, bahkan non sen (omong kosong) dan penuh maksiat, seperti yang kita lihat dalam dunia Face BookTwitterBlack BerryYou Tube dan lainnya.

 

Pemuda yang gila dan hobi bola, juga tak kalah lalainya. Hari-harinya disibukkan dengan bola, nonton pertandingan, mengikuti siaran sepak bola domestik dan mancanegara, sehingga tak ada waktunya membaca Al-Qur’an, mengikuti majelis taklim, dan berziarah ke rumah kerabat.

Al-Imam Syarofuddin Ath-Thibiy –rahimahullah– berkata saat menerangkan hadits di atas,

ضرب النبي صلى الله عليه وسلم للمكلف مثلا بالتاجر الذي له رأس مال، فهو يبتغي الربح مع سلامة رأس المال، فطريقه في ذلك أن يتحرى فيمن يعامله ويلزم الصدق والحذق لئلا يغبن، فالصحة والفراغ رأس المال، وينبغي له أن يعامل الله بالإيمان، ومجاهدة النفس وعدو الدين، ليربح خيري الدنيا والآخرة وقريب منه قول الله تعالى: {يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا هَلْ أَدُلُّكُمْ عَلَى تِجَارَةٍ تُنْجِيكُمْ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ} الآيات. وعليه أن يجتنب مطاوعة النفس ومعاملة الشيطان لئلا يضيع رأس ماله مع الربح.

“Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- membuat perumpamaan bagi seorang mukallaf, seperti seorang pedagang yang memiliki modal pokok. Si pedagang mencari keuntungan di samping selamatnya modal pokok. Caranya dalam hal itu, ia memilih orang ia ajak bermuamalah, melazimi kejujuran dan kemahiran (dalam jual-belinya) agar ia tak tertipu. Jadi, kesehatan dan waktu lowong adalah modal pokok. Selayaknya, seorang hamba bermuamalah bersama Allah dengan iman, menghadapi jiwa dan musuh agama, agar ia kelak meraih keuntungan dunia dan akhirat…Ia harus menjauh dari menuruti hawa nafsunya, dan dari bermuamalah dengan setan agar modal pokoknya tidak hilang bersama keuntungannya”. [Lihat Fathul Bari (11/230) oleh Al-Hafiz Ibnu Hajar, cet. Dar Al-Fikr]

 

Seorang manusia tak akan paham tentang arti penting sebuah nikmat, kecuali setelah ia sirna dan pergi meninggalkannya. Adapun orang-orang yang cerdik, ia akan senantiasa mengumpulkan berbagai macam amal sholih di hari-harinya.

Ia tahu bahwa hari-hari di dunia ia gunakan untuk memperbanyak tabungan berupa amal sholih sebelum ia menjumpai masa-masa sulit!!

Seorang ulama tabi’in yang tsiqoh, Al-Mundzir bin Malik Abu Nadhroh Al-Abdiy Al-Bashriy –rahimahullah– berkata,

كنا نتواعظ في أول الاسلام بأربع : اعمل في فراغك لشغلك، واعمل في صحتك لسقمك، واعمل في شبابك لهرمك، واعمل في حياتك لموتك

“Dahulu kami saling menasihati di awal Islam dengan tentang empat perkara : Beramalllah di waktu senggangmu untuk (menghadapi) waktu sibukmu, beramallah di masa sehatmu untuk (menghadapi) masa sakitmu, beramallah di masa mudamu untuk (menghadapi) masa tuamu dan beramallah di masa hidupmu untuk (menghadapi) masa kematianmu”. [HR. Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah (3/97)]

 

Kelalaian dan keterlenaan dengan indahnya pemandangan dan kenikmatan dunia akan membawa sengsara. Harta benda dan kenikmatan duniawi lainnya tak akan membawa kebahagiaan hakiki di akhirat nanti, bila pemiliknya tak menggunakanya dalam kebaikan, ibadah dan ketaatan!!

Seorang yang jenius akan mempersiapkan bekal amal shalih sebanyak mungkin. Sebab ia tahu bahwa perjalanan ukhrawi penuh dengan onak dan duri yang akan siap melukai dan mencelakakan dirinya, bila ia tak memiliki bekal dan pelindung dalam menghadapinya berupa amal-amal shalih yang ikhlash.

Al-Imam Ibnul Jauziy Ad-Dimasyqiy –rahimahullah– berkata,

مَنْ تَفَكَّرَ فِيْ عَوَاقِبِ الدُّنْيَا، أَخَذَ الْحَذَرَ، وَمَنْ أَيْقَنَ بِطُوْلِ الطَّرِيْقِ، تَأَهَّبَ لِلسَّفَرِ

“Barangsiapa yang merenung tentang kesudahan dari dunia ini, maka ia akan berhati-hati. Barangsiapa yang meyakini panjangnya perjalanan (menuju Allah), maka ia akan melakukan persiapan untuk safar (perjalanan panjang)”. [Lihat Shoidul Khothir (1/26), cet. Dar Al-Qolam, 1425 H]

Pencari kebaikan harus selalu sadar bahwa kesenangan surga tak akan dipetik, tanpa usaha dan perjuangan yang dihiasi dengan kesabaran. Adapun bermalas-malasan dalam hal itu, maka kelak jangan ia mencela, kecuali dirinya sendiri.

Seorang hamba juga harus mengerti bahwa neraka tak akan jauh darinya, selain ia memperbanyak amal shalihnya dan membersihkan diri dari maksiat dan kedurhakaan kepada Allah –Azza wa Jalla-.

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Tulisan lainnya

Dentingan Cinta dan Kerinduan kepada Negeri Mekkah & Baitullah

Jannatul-firdaus.net

Menyebar Ilmu Syar’i



Jannatul-firdaus.net

Menyebar Ilmu Syar’i



Bagikan…

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram



Dentingan Cinta dan Kerinduan kepada Negeri Mekkah & Baitullah

  • Oleh: Al-Ustadz Abdul Qodir Abu Fa’izah –hafizhahullah

Sepuluh tahun telah berlalu bagiku dari kenangan masa lalu di Baitullah.

Kini kerinduan itu semakin menguat dalam kalbu di hari-hari menjelang hari pertama dari Bulan Dzulhijjah.

Kerinduan untuk menjadi tamu-tamu kemuliaan di sisi Allah –Tabaroka wa Ta’ala- semakin kuat.

Hati ini merasakan ghibthoh (kecemburuan) saat melihat saudara-saudaraku berangkat dari berbagai pelosok dunia menuju Baitullah untuk berhaji di tahun 1438 H.

Semoga Allah menganugerahkan kami kesempatan berkunjung ke rumah Allah yang mulia, Ka’bah ‘Baitullah’ Al-Musyarrofah.

Tidak terasa air mata menetes saat menyaksikan kafilah para perindu Baitullah telah berangkat menuju Baitullah yang berhias selangit pahala, dan kenikmatan surga yang menanti mereka. Itulah karunia Allah kepada mereka yang dikehendaki-Nya.

Dentingan cinta dan dorongan kerinduan untuk bertamu ke Baitullah, pasti dirasakan oleh setiap jiwa yang mengharapkan curahan kebaikan dan berkah dari Allah –Azza wa Jalla-.

Di zaman dahulu, apapun rintangannya, orang-orang beriman meninggalkan kampung halaman menuju Baitullah. Ada yang berkendaraan, dan banyak juga yang berjalan kaki.

Saat itu, manusia amat mudah menembus negeri-negeri melalui daratan dan lautan luas menuju Mekkah, tanpa melalui proses dan administrasi rumit di tapal batas.[1]

Mereka terkadang menempuh puluhan ribu kilometer demi meluapkan kerinduannya kepada Baitullah.

Tentunya di depan mereka berbagai rintangan berupa cuaca ekstrim, habisnya perbekalan, perompak dan begal, hewan buas, dan lainnya.

Tapi semua itu tidaklah membuat kerinduan mereka surut.

Inilah yang pernah dilakukan oleh seorang yang bernama Syaikh Utsman Dabu rahimahullah– sebagaimana yang disebutkan dalam kisah mengharukan di bawah ini, kisah yang kami nukilkan situs resmi Saudara kami, Ustadz Dzulqarnain –hafizhahullah– :

Mana Pengorbananmu!?

[Kisah Motivatif, Ditulis dengan Tinta Air Mata]

Adalah Syaikh Utsman Dabu –semoga Allah merahmati beliau- berasal dari Republik Gambia, ujung Barat Afrika. Beliau tinggal di rumah sederhana pada suatu desa kecil dekat ibukota Banjul.

Syaikh Utsman menceritakan perjalanannya bersama empat kawannya lima puluh tahun yang lalu ketika menuju Baitullah dengan berjalan kaki dari Banjul menuju Makkah.

Mereka berlima meretas benua Afrika dari Barat hingga Timur tanpa berkendaraan, kecuali pada waktu-waktu singkat yang mereka mengendarai hewan hingga mereka tiba di Laut Merah guna menyeberang menuju Jeddah.

Suatu perjalanan penuh keajaiban yang berlangsung selama dua tahun. Kadang mereka singgah di sebagian kota untuk istirahat, bekerja, dan berbekal, kemudian melanjutkan perjalanan.

Beliau ditanya, “Bukankah haji ke Baitullah diwajibkan atas orang yang mampu, sedangkan Kalian dalam keadaan tidak memiliki kemampuan?”

Beliau menjawab, “Benar. Namun, pada suatu hari, Kami saling berbicara tentang kisah Nabi Ibrahim ‘alaihissalâm ketika beliau berangkat membawa keluarganya ke lembah yang tidak bertanaman di sisi Baitullah yang terhormat. Salah seorang di antara Kami berkata, ‘Kita sekarang adalah para pemuda yang kuat lagi sehat. Oleh karena itu, apakah udzur Kami di sisi Allah jika Kami kurang dalam menempuh perjalanan ke Baitullah. Apalagi Kami merasa bahwa hari-hari yang bergulir hanya menambah kelemahan. Maka, untuk apa diakhirkan?’ Kawan itu pun memicu dan memotivasi Kami untuk menempuh perjalanan dengan mengharapkan pertolongan dari Allah.”

Keluarlah mereka berlima meninggalkan rumah-rumah mereka dengan perbekalan yang tidak mencukupi lebih dari satu pekan. Di perjalanan mereka, ada berbagai kesulitan, kesempitan, dan kesesakan yang hanya diketahui oleh Allah.

Betapa banyak malam yang mereka lalui dengan lapar yang hampir membinasakan mereka. Tak terbilang malam yang mereka harus meninggalkan kenikmatan tidur lantaran kejaran binatang buas. Sering berulang malam yang berliput ketakutan akan para penyamun yang menghadang di berbagai lembah.

رُبَّ لَيْلٍ بَكَيْتُ مِنْهُ فَمَا
صِرْتُ فِي غَيْرِهِ بَكَيْتُ عَلَيْهِ

“Betapa banyak malam yang telah kutangisi.
Tatkala Kupindah ke malam (lain), kembali aku menangisinya.”

 

Syaikh Utsman berkata,
“Suatu malam, Saya tersengat oleh (binatang berbisa) di tengah perjalanan. Maka, Saya pun ditimpa oleh panas hebat dan rasa pedih dahsyat yang membuatku terduduk dan tidak bisa tidur. Saya telah mecium bau kematian berjalan di urat-uratku,

وَإِنِّي لَأَرْعَى النَّجْمَ حَتَّى كَأَنَّنِيْ
عَلَى كُلِّ نَجْمٍ فِي السَّمَاءِ رَقِيبُ

Sungguh Saya terus mencermati bintang-bintang itu, hingga seakan …
Saya adalah pengawas setiap bintang di langit

Kawan-kawanku pergi bekerja, sementara saya hanya berteduh di bawah pohon hingga mereka kembali di penghujung siang. Syaithan terus memberi was-was ke dalam hatiku, “Bukankah seharusnya Engkau tetap tinggal di negerimu? Mengapa Engkau membebani dirimu dengan hal yang Engkau tak mampu saja?”

Jiwaku menjadi berat dan hampir Saya melemah hingga kawan-kawanku datang. Salah seorang di antara mereka melihat ke wajahku dan bertanya akan keadaanku.

Saya pun menoleh kepadanya dan mengusap setetes air mata yang telah mengalahkanku. Seakan, dia merasakan penderitaanku. Dia berkata, “Bangunlah. Berwudhulah, kemudian shalatlah. Engkau takkan mendapatkan, kecuali kebaikan –dengan izin Allah-.

وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى الْخَاشِعِينَ

“Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolong kalian. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’.” [Al-Baqarah: 45]

Dadaku pun menjadi lapang, dan Allah menghilangkan kesedihan dariku, alhamdulillah.

Kerinduan mereka pada dua tanah Haram terus berdendang mengiringi mereka pada segala keadaan. Pedih perjalanan serta bahaya dan prahara laluan telah menjadi ringan.

Tiga orang di antara mereka telah meninggal. Yang terakhir wafat berada di hamparan lautan. Hal menakjubkan dari orang ketiga yang wafat adalah, dia berpesan kepada kedua kawannya,
“Jika kalian berdua mencapai Masjidil Haram, beritahukanlah kepada Allah akan kerinduanku berjumpa dengan-Nya. Mintalah kalian berdua kepada-Nya agar mengumpulkan Saya dan Ibuku bersama Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam.”

Syaikh Utsman bertutur,
“Tatkala kawan Kami meninggal, Saya tertimpa gundah gulana hebat dan kesedihan dahsyat. Itulah hal terberat yang Saya jumpai pada perjalananku. (Kawanku) itu adalah orang yang paling sabar dan kuat di antara Kami. Saya telah khawatir meninggal sebelum mendapat nikmat mencapai Masjidil Haram. Saya telah menganggap hari-hari dan saat-saat itu lebih panas daripada bara api.

إِذَا بَرَقْتَ نَحْوَ الْحِجَازِ سِحَابَةٌ
دَعَا الشَّوْقُ مِنِّي بَرْقَهَا الْمُتَطَامِنُ

“Jika awan bergelegar di arah Hijaz
Kerinduan yang damai memanggil petirnya.”

Begitu Kami tiba di Jeddah, Saya sakit luar biasa. Saya pun khawatir meninggal sebelum sempat mencapai Makkah. Saya berwasiat kepada kawanku, ‘Jika Saya meninggal, kafanilah Saya dalam ihramku dan dekatkanlah Saya sesuai kemampuan ke kota Makkah. Barangkali Allah melipatgandakan pahala untukku dan menerimaku sebagai orang-orang shalih.’


Kami pun tinggal di Jeddah beberapa hari, kemudian melanjutkan perjalanan kami ke Makkah. Nafasku berhembus cepat dan kegembiraan memenuhi wajah. Rasa rindu terus menggoyang dan mendorongku hingga kami tiba di Masjidil Haram.”

Syaikh Utsman terdiam sesaat. Beliau menyeka linangan-linangan air matanya yang berderai, kemudian bersumpah dengan nama Allah bahwa dia belum pernah melihat kelezatan dalam hidupnya sebagaimana kelezatan yang memenuhi seluruh lapisan hatinya tatkala beliau melihat Ka’bah yang mulia.

Beliau berkisah,

“Tatkala melihat Ka’bah, Saya bersujud syukur kepada Allah. Saya terus menangis, seperti anak-anak kecil yang menangis, karena dahsyatnya keagungan dan kharisma (Ka’bah). Betapa mulianya Baitullah itu dan sungguh penuh keagungan.
Kemudian, Saya mengingat kawan-kawanku yang belum dimudahkan untuk sampai ke Masjidil Haram. Saya pun memuji Allah Ta’âlâ atas nikmat dan keutamaan-Nya kepadaku. Selanjutnya, Saya memohon kepada Allah Subhânahuuntuk mencatat (kebaikan) langkah-langkah mereka dan tidak mengharamkan pahala untuk mereka serta mengumpulkan Kita semua pada kedudukan jujur di sisi Allah Yang Berkuasa Lagi Maha Mampu.”

[Disadur dengan sedikit meringkas dari Ar-Rafîq Fî Rihlatil Hajj hal. 107-109]

Demikian kisah pengorbanan dari seorang yang memiliki cinta yang suci dan kerinduan kepada Baitullah. Adakah pengorbanan yang telah kita lakukan dalam membuktikan cinta kita kepada Baitullah, ataukah kita bermalas-malasan dan tidak lagi butuh kepada segala kebaikan dan curahan berkah dari Allah -Tabaroka wa Ta’ala- di hari-hari haji yang indah?!

Sebagai penutup dan renungan, kami nukilkan ketukan-ketukan jiwa dari seorang ulama kepada mereka yang lamban dan malas berhaji.

Al-Imam Jamaluddin bin Muhibbiddin Ath-Thobariy (wafat 694 H) –rahimahullah– berkata,

” ولعل بعض الكسلانين ممن قد حج يتوهم أن هذا الخطاب مقصور على من لم يأت بالفرض ( يعني قوله تعالى : ولله على الناس حج البيت من استطاع إليه سبيلا ) ، ولا أهمه الوصول له ، ويقول : لم يكلفني الله تعالى بذلك غير مرة ، وقد أسقطت الفرض .

فنقول له : هب أن الله تعالى لم يكلفك حج بيته غير مرة في العمر تخفيفا عليك ، وجعل ما عداها مندوبا باختيارك وراجعا إليك .

أما يشوقك ما فهمته من معنى كون البيت بيت الله ، وأنه وضع على مثال حضرة الملوك لأداء خدمته ؟!

أما تنبعث همتك للوفود على ساحة الله والورود على حياض نعمته ؟!

أما لك ذنوب تحتاج إلى العفو عنها بقصد جنابه الكريم ؟!

أما لك حاجة تهتم بسؤالها منه عند بابه العظيم ؟!

أما لك غرض أن تخالط زمر المترددين إلى فنائه ؟!

أما بك فاقة إلى نيل ما أعده من نعمائه ؟!

أما علمت أن الزهد فيما عند الله تعالى وصف مذموم ؟!

أما بلغك قول النبي ـ صلى الله عليه وسلم ـ يقول الله عز وجل : إن من أصححت بدنه ووسعت في رزقه ثم لم يزرني في كل خمسة أعوام عاما لمحروم “

(التشويق إلى بيت العتيق، ص 58_59)

“Barangkali sebagian orang malas dari kalangan orang yang sudah berhaji, menyangka bahwa perintah ini (yakni, perintah berhaji yang terdapat Al-Qur’an, pen.) hanya terbatas pada orang yang belum menunaikan kewajiban haji, yakni firman firman-Nya -Ta’ala-,

 

((وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا  [آل عمران : 97]))

“Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah.”

Orang malas ini tidak punya kepedulian untuk sampai ke Baitullah, seraya berdalih, ‘Aku tidaklah dibebani oleh Allah -Ta’ala- untuk hal itu (yakni, berhaji) melainkan sekali saja. Sementara aku sungguh telah menggugurkan kewajiban haji itu!!”

Kita katakan kepadanya, “Anggaplah Allah -Ta’ala- tidak membebani anda untuk berhaji ke Baitullah melainkan sekali saja dalam seumur hidup sebagaimana bentuk keringan bagi anda, dan Allah jadikan haji yang lainnya adalah mandub (dianjurkan dan hukumnya sunnah) menurut pilihanmu dan kembali kepadamu.

Tidakkah membuatmu rindu, apa yang kamu telah pahami bahwa Rumah itu (Ka’bah) adalah Rumah Allah dan bahwa rumah itu dibuat sebagai perumpamaan di sisi raja untuk menunaikan khidmat kepadanya?!

Tidakkah semangatmu bangkit untuk bertamu ke negeri Allah dan berkunjung ke telaga nikmat-Nya?!

 

Bukankah kamu memiliki dosa-dosa yang kamu butuh ampunan darinya dengan menghadap kepada Allah Yang Maha Pemurah?!

Bukankah kamu memiliki hajat yang kamu amat serius untuk memintanya dari Allah pada pintu-Nya yang agung?!

Tidakkah kamu memiliki tujuan untuk bergabung bersama orang-orang yang berbolak-balik ke halaman-Nya?!

Tidakkah kamu memiliki kebutuhan yang besar untuk meraih apa yang dijanjikan oleh Allah berupa nikmat-nikmat-Nya (di dalam surga)

Tidakkah kamu tahu bahwa zuhud (cuek) terhadap sesuatu yang ada di sisi Allah adalah sifat yang tercela?!

 

Belumkah sampai kepadamu sabda Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-, “Allah -Azza wa Jalla- berfirman,

إِنَّ مَنْ أَصْحَحْتُ بَدَنَهُ وَوَسَّعْتُ فِيْ رِزْقِهِ، ثُمَّ لَمْ يَزُرْنِيْ فِيْ كُلِّ خَمْسَةِ أَعْوَامٍ عَامًا لَمَحْرُوْمٌ “

‘Sesungguhnya barangsiapa yang aku sehatkan badannya, dan aku luaskan rezkinya, lalu ia tidak mengunjungi-Ku pada setiap lima tahun satu tahun (yakni, satu kali, pen.), (maka orang itu) benar-benar diharamkan (yakni, terhalang dari banyak kebaikan dan pahala, pen.).”[2]

[Lihat kitab At-Tasywiq ila Baitil Atiq (hal. 58-59) karya Al-Imam Jamaluddin bin Muhibbiddin Ath-Thobariy, cet. Dar Al-Kutub Al-Ilmiyyah, 1419 H, Beirut, Lebanon]

Al-Imam Ali bin Sulthon Al-Qori –rahimahullah– berkata,

يُنْدَبُ لِلْقَادِرِ أَنْ لَا يَتْرُكَ الْحَجَّ فِي كُلِّ خَمْسِ سِنِينَ

“Dianjurkan bagi orang yang mampu agar tidak meninggalkan haji pada setiap lima tahun.” [Lihat Mirqoh Al-Mafatih (5/1748)]

Terakhir, aku memohon kepada Allah dengan segala kebesaran dan kemurahan-Nya, “Ya Allah, anugerahilah kami kemampuan untuk mengunjungi rumah-Mu, dan memasukinya agar dapat meraih pahala dan surga-Mu, aamiin…”

[1] Adapun sekarang, harus melalui

[2]  Riwayat yang kami temukan, lafazhnya begini :

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ: أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ:

(قَالَ اللَّهُ: إِنَّ عَبْدًا صحَّحتُ لَهُ جِسْمَهُ ووسَّعت عَلَيْهِ فِي الْمَعِيشَةِ يَمْضِي عَلَيْهِ خمسة أعوام لا يَفِدُ إليَّ لَمَحْرُومٌ)

Dari Abu Sa’id Al-Khudriy bahwa Rasulullah –Shallallahu alaihi wa sallam– bersabda,

“Allah berfirman,

‘Sesungguhnya seorang hamba yang Aku sehatkan badannya, dan Aku lapangkan kehidupannya, sementara telah berlalu baginya lima tahun, sedang ia tidak datang kepada-Ku, maka (hamba) itu benar-benar diharamkan (yakni, terhalang dari banyak kebaikan dan pahala, pen.).” [HR. Abu Ya’la dalam Al-Musnad (1031), Ibnu Hibban dalam Shohih-nya (3703), Al-Baihaqiy dalam As-Sunan Al-Kubro (5/262), dan Ad-Dailamiy dalam Al-Firdaus (8102), Al-Uqoiliy dalam Adh-Dhu’afa’ (737). Hadits ini dinilai shohih li ghoirih oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shohihah (1662)]

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Tulisan lainnya

Penutup Setiap Amalan Ketaatan

Jannatul-firdaus.net

Menyebar Ilmu Syar’i



Jannatul-firdaus.net

Menyebar Ilmu Syar’i



Bagikan…

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram



Penutup Setiap Amalan Ketaatan

  • Oleh: Ustadz Dzulqarnain Muhammad Sunusi hafizhahullah
Allah Subhânahu wa Ta’âlâ berfirman,

فَإِذَا قَضَيْتُمْ مَنَاسِكَكُمْ فَاذْكُرُوا اللَّهَ كَذِكْرِكُمْ آبَاءَكُمْ أَوْ أَشَدَّ ذِكْرًا

“Apabila kalian telah menyelesaikan ibadah haji kalian, maka berdzikirlah dengan menyebut Allah, sebagaimana kalian menyebut-nyebut ayah-ayah/nenek moyang kalian, atau (bahkan) berdzikirlah lebih banyak dari itu.” [Al-Baqarah: 200]

Allah memerintah untuk menutup ibadah haji dengan banyak berdzikir kepada Allah, dan di ayat sebelum ayat di atas kita diperintah untuk banyak beristighfar ‘memohon ampun’ kepada Allah. Pada shalat lima waktu, kita dianjurkan untuk menutupnya dengan dzikir-dzikir yang dibaca selepas shalat dan shalat-shalat rawatib. Pada syari’at puasa Ramadhan, kita diwajibkan untuk menutupnya dengan zakat fitri dan disunnahkan puasa enam hari di bulan Syawal. Demikianlah setiap ibadah agung dalam syari’at Islam agar penutup amalannya melengkapi dan menyempurnakan kekurangan yang terjadi dalam ibadah.

Itulah kaidah dalam beribadah, tidak ada waktu beristirahat guna beramal kepada Allah, tidak perlu berlibur di kehidupan yang kita tidak mengetahui kapan ajal datang menjemput. Allah berfirman kepada Nabi-Nya,

فَإِذَا فَرَغْتَ فَانْصَبْ ، وَإِلَى رَبِّكَ فَارْغَبْ

“Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain,dan hanya kepada Rabbmulah hendaknya kamu berharap.” [Asy-Syarh: 7-8]

وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّى يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ

“Dan beribadahlah kepada Rabbmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal).” [Al-Hijr: 99]

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Tulisan lainnya

Jangan Mundur ke Belakang

Jannatul-firdaus.net

Menyebar Ilmu Syar’i



Jannatul-firdaus.net

Menyebar Ilmu Syar’i



Bagikan…

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram



Jangan Mundur ke Belakang

  • Oleh: Ustadz Dzulqarnain Muhammad Sunusi hafizhahullah
Allah Ta’ala berfirman,

وَلَا تَكُونُوا كَالَّتِي نَقَضَتْ غَزْلَهَا مِنْ بَعْدِ قُوَّةٍ أَنْكَاثًا

“Dan janganlah kalian seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai berai kembali.” [An-Nahl: 92]

Ayat di atas menyinggung seorang perempuan yang bekerja menenun dan memintal dengan sangat kuat. Ketika tenunannya selesai, dia kembali melepas benang tenunannya satu persatu hingga benang tenunannya bercerai berai. Sia-sia amalannya dan berlalu umur dan upayanya tanpa arti.

Kadang Kita melihat seseorang telah berjalan dalam menimba ilmu dan membaca ayat dan hadits, tetapi kemudian dia berpaling dari ilmu dan kembali seakan-akan tidak pernah belajar dan mengenal petunjuk.

Juga kadang seseorang telah berjalan dengan diri dan keluarganya menuju kebaikan setelah berbagai pengorbanan, tetapi kemudian dia kembali kepada hal yang bisa membahayakan diri dan keluarganya.

Tidak jarang ditemukan seseorang yang dimuliakan oleh Allah dengan amalan shalih, tetapi kemudian dia mengganti amalan shalihnya dengan dosa dan maksiat.

Pada Ramadhan, seorang hamba kadang telah menegakkan berbagai ibadah, tetapi di tengah jalan atau selepas Ramadhan tersebut, ibadahnya berguguran hingga kadang tanpa bekas.

Allah telah mencela Ahlul Kitab dalam firman-Nya,

وَلَا يَكُونُوا كَالَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الْأَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ وَكَثِيرٌ مِنْهُمْ فَاسِقُونَ

“Dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al-Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang fasik.” [Al-Hadid: 16]

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhuma,

“Wahai Abdullah, janganlah engkau seperti Fulan. Sebelumnya dia melakukan shalat malam, tetapi kemudian dia meninggalkan shalat malam itu.” [Muttafaqun ‘Alaihi]

Hidup ini perlu kekuatan, keteguhan, dan istiqamah.

Selalulah melangkah kedepan. Sayangi dan syukurilah kebaikan yang Allah bukakan untukmu.

Ya Allah Yang membolak-balikkan hati, kukuhkanlah hati-hati kami di atas ketaatan kepada-Mu.

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Tulisan lainnya

Kuingin Ridha-Mu, Wahai Rabb-ku

Jannatul-firdaus.net

Menyebar Ilmu Syar’i



Jannatul-firdaus.net

Menyebar Ilmu Syar’i



Bagikan…

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram



Kuingin Ridha-Mu, Wahai Rabb-ku

  • Oleh: Ustadz Dzulqarnain Muhammad Sunusi hafizhahullah
Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ berfirman,

وَعَجِلْتُ إِلَيْكَ رَبِّ لِتَرْضَى.

“Dan Saya bersegera kepada-Mu, wahai Rabb-ku, agar Engkau ridha (kepadaku).” [Thaha : 84]

Demikianlah keadaan Nabi Musa ‘alaihis salâm dalam penghambaannya kepada Allah. Nabi Musa mendatangi miqat dengan penuh kerinduan kepada Rabbnya dan bersegera melaksanakan perintah-Nya agar ridha Allah semakin bertambah untuk dirinya.

Sikap ibadah di atas memberikan tiga pelajaran kepada kita:

Pertama, kecintaan seorang hamba kepada Allah akan membuat hamba selalu rindu untuk beribadah kepada-Nya, cinta kepada agama dan karunia-Nya Kedua, bersegera dalam kebaikan dan ketaatan ini adalah sifat para nabi, para malaikat, dan orang-orang shalih

Ketiga, mencari ridha Allah adalah hal teragung. Oleh karena itu, Nabi Musa ‘alaihis salâm bersegera menjalankan perintah Allah.

Bersyukurlah kepada Allah akan berbagai ibadah yang agung dan beragam di musim ketaatan yang berberkah.

Sambutlah Ramadhan dengan penuh kecintaan dan kegembiraan.

Buktikanlah kecintaanmu kepada Allah dan kepada ibadah yang Dia syariatkan!

Bersegeralah sebelum kesempatan berlalu!!!

Carilah ridha Allah dalam lembaran-lembaran ibadah di Ramadhan,

وَرِضْوَانٌ مِنَ اللَّهِ أَكْبَرُ.

“Dan keridhaan Allah adalah lebih besar.” [At-Taubah: 72]

Wallâhu a’lam.

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Tulisan lainnya

Mana Pengorbananmu!?

Jannatul-firdaus.net

Menyebar Ilmu Syar’i



Jannatul-firdaus.net

Menyebar Ilmu Syar’i



Bagikan…

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram



Mana Pengorbananmu!?

  • Oleh: Ustadz Dzulqarnain Muhammad Sunusi hafizhahullah
Mana Pengorbananmu!?

[Kisah Motivatif, Ditulis dengan Tinta Air Mata]

Adalah Syaikh Utsman Dabu –semoga Allah merahmati beliau- berasal dari Republik Gambia, ujung Barat Afrika. Beliau tinggal di rumah sederhana pada suatu desa kecil dekat ibukota Banjul.

Syaikh Utsman menceritakan perjalanannya bersama empat kawannya lima puluh tahun yang lalu ketika menuju Baitullah dengan berjalan kaki dari Banjul menuju Makkah. Mereka berlima meretas benua Afrika dari Barat hingga Timur tanpa berkendaraan, kecuali pada waktu-waktu singkat yang mereka mengendarai hewan hingga mereka tiba di Laut Merah guna menyeberang menuju Jeddah.

Suatu perjalanan penuh keajaiban yang berlangsung selama dua tahun. Kadang mereka singgah di sebagian kota untuk istirahat, bekerja, dan berbekal, kemudian melanjutkan perjalanan.

Beliau ditanya, “Bukankah haji ke Baitullah diwajibkan atas orang yang mampu, sedangkan Kalian dalam keadaan tidak memiliki kemampuan?”
Beliau menjawab, “Benar. Namun, pada suatu hari, Kami saling berbicara tentang kisah Nabi Ibrahim ‘alaihissalâm ketika beliau berangkat membawa keluarganya ke lembah yang tidak bertanaman di sisi Baitullah yang terhormat. Salah seorang di antara Kami berkata, ‘Kita sekarang adalah para pemuda yang kuat lagi sehat. Oleh karena itu, apakah udzur Kami di sisi Allah jika Kami kurang dalam menempuh perjalanan ke Baitullah. Apalagi Kami merasa bahwa hari-hari yang bergulir hanya menambah kelemahan. Maka, untuk apa diakhirkan?’ Kawan itu pun memicu dan memotivasi Kami untuk menempuh perjalanan dengan mengharapkan pertolongan dari Allah.”

Keluarlah mereka berlima meninggalkan rumah-rumah mereka dengan perbekalan yang tidak mencukupi lebih dari satu pekan. Di perjalanan mereka, ada berbagai kesulitan, kesempitan, dan kesesakan yang hanya diketahui oleh Allah. Betapa banyak malam yang mereka lalui dengan lapar yang hampir membinasakan mereka. Tak terbilang malam yang mereka harus meninggalkan kenikmatan tidur lantaran kejaran binatang buas. Sering berulang malam yang berliput ketakutan akan para penyamun yang menghadang di berbagai lembah.

رُبَّ لَيْلٍ بَكَيْتُ مِنْهُ فَمَا
صِرْتُ فِي غَيْرِهِ بَكَيْتُ عَلَيْهِ

Betapa banyak malam yang telah kutangisi
Tatkala Kupindah ke malam (lain), kembali aku menangisinya

Syaikh Utsman berkata,
“Suatu malam, Saya tersengat oleh (binatang berbisa) di tengah perjalanan. Maka, Saya pun ditimpa oleh panas hebat dan rasa pedih dahsyat yang membuatku terduduk dan tidak bisa tidur. Saya telah mecium bau kematian berjalan di urat-uratku,

وَإِنِّي لَأَرْعَى النَّجْمَ حَتَّى كَأَنَّنِيْ
عَلَى كُلِّ نَجْمٍ فِي السَّمَاءِ رَقِيبُ

Sungguh Saya terus mencermati bintang-bintang itu, hingga seakan …
Saya adalah pengawas setiap bintang di langit

Kawan-kawanku pergi bekerja, sementara saya hanya berteduh di bawah pohon hingga mereka kembali di penghujung siang. Syaithan terus memberi was-was ke dalam hatiku, “Bukankah seharusnya Engkau tetap tinggal di negerimu? Mengapa Engkau membebani dirimu dengan hal yang Engkau tak mampu saja?”

Jiwaku menjadi berat dan hampir Saya melemah hingga kawan-kawanku datang. Salah seorang di antara mereka melihat ke wajahku dan bertanya akan keadaanku. Saya pun menoleh kepadanya dan mengusap setetes air mata yang telah mengalahkanku. Seakan, dia merasakan penderitaanku. Dia berkata, “Bangunlah. Berwudhulah, kemudian shalatlah. Engkau takkan mendapatkan, kecuali kebaikan –dengan izin Allah-.

وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى الْخَاشِعِينَ

“Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolong kalian. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’.” [Al-Baqarah: 45]

Dadaku pun menjadi lapang, dan Allah menghilangkan kesedihan dariku, Alhamdulillah.

Kerinduan mereka pada dua tanah Haram terus berdendang mengiringi mereka pada segala keadaan. Pedih perjalanan serta bahaya dan prahara laluan telah menjadi ringan.

Tiga orang di antara mereka telah meninggal. Yang terakhir wafat berada di hamparan lautan. Hal menakjubkan dari orang ketiga yang wafat adalah, dia berpesan kepada kedua kawannya,
“Jika kalian berdua mencapai Masjidil Haram, beritahukanlah kepada Allah akan kerinduanku berjumpa dengan-Nya. Mintalah kalian berdua kepada-Nya agar mengumpulkan Saya dan Ibuku bersama Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam.”

Syaikh Utsman bertutur,
“Tatkala kawan Kami meninggal, Saya tertimpa gundah gulana hebat dan kesedihan dahsyat. Itulah hal terberat yang Saya jumpai pada perjalananku. (Kawanku) itu adalah orang yang paling sabar dan kuat di antara Kami. Saya telah khawatir meninggal sebelum mendapat nikmat mencapai Masjidil Haram. Saya telah menganggap hari-hari dan saat-saat itu lebih panas daripada bara api.

إِذَا بَرَقْتَ نَحْوَ الْحِجَازِ سِحَابَةٌ
دَعَا الشَّوْقُ مِنِّي بَرْقَهَا الْمُتَطَامِنُ

Jika awan bergelegar di arah Hijaz
Kerinduan yang damai memanggil petirnya

Begitu Kami tiba di Jeddah, Saya sakit luar biasa. Saya pun khawatir meninggal sebelum sempat mencapai Makkah. Saya berwasiat kepada kawanku, ‘Jika Saya meninggal, kafanilah Saya dalam ihramku dan dekatkanlah Saya sesuai kemampuan ke kota Makkah. Barangkali Allah melipatgandakan pahala untukku dan menerimaku sebagai orang-orang shalih.’

Kami pun tinggal di Jeddah beberapa hari, kemudian melanjutkan perjalanan kami ke Makkah. Nafasku berhembus cepat dan kegembiraan memenuhi wajah. Rasa rindu terus menggoyang dan mendorongku hingga kami tiba di Masjidil Haram.”

Syaikh Utsman terdiam sesaat. Beliau menyeka linangan-linangan air matanya yang berderai kemudian bersumpah dengan nama Allah bahwa dia belum pernah melihat kelezatan dalam hidupnya sebagaimana kelezatan yang memenuhi seluruh lapisan hatinya tatkala beliau melihat Ka’bah yang mulia.

Beliau berkisah,

“Tatkala melihat Ka’bah, Saya bersujud syukur kepada Allah. Saya terus menangis, seperti anak-anak kecil yang menangis, karena dahsyatnya keagungan dan kharisma (Ka’bah). Betapa mulianya Baitullah itu dan sungguh penuh keagungan.
Kemudian, Saya mengingat kawan-kawanku yang belum dimudahkan untuk sampai ke Masjidil Haram. Saya pun memuji Allah Ta’âlâ atas nikmat dan keutamaan-Nya kepadaku. Selanjutnya, Saya memohon kepada Allah Subhânahu untuk mencatat (kebaikan) langkah-langkah mereka dan tidak mengharamkan pahala untuk mereka serta mengumpulkan Kita semua pada kedudukan jujur di sisi Allah Yang Berkuasa Lagi Maha Mampu.”

[Disadur dengan sedikit meringkas dari Ar-Rafîq Fî Rihlatil Hajj hal. 107-109]

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Tulisan lainnya