Intisari Tauhid #26: Perintah Bertauhid dan Larangan Berbuat Kesyirikan

Jannatul-firdaus.net

Menyebar Ilmu Syar’i



Jannatul-firdaus.net

Menyebar Ilmu Syar’i



Bagikan…

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram



Intisari Tauhid: Perintah Bertauhid dan Larangan Berbuat Kesyirikan

  • Oleh: Ustadz Dzulqarnain Muhammad Sunusi hafizhahullah
Perintah Bertauhid dan Larangan Berbuat Kesyirikan

Allah Ta’âlâ berfirman,

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا

 

“Dan beribadahlah kalian kepada Allah, dan janganlah menyekutukan-Nya sedikit pun. [An-Nisâ`: 36]

 

Allah Subhânahu wa Ta’âlâ memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk beribadah kepada-Nya semata, tiada sekutu bagi-Nya, dan melarang mereka dari kesyirikan. Allah tidak mengkhususkan (dalam perintah beribadah hanya kepada-Nya) pada salah satu jenis ibadah, baik doa, shalat, maupun (ibadah) lain, supaya perintah tersebut dapat mencakup semua jenis ibadah. Allah juga tidak mengkhususkan (larangan-Nya) dengan salah satu jenis kesyirikan supaya dapat mencakup semua jenis kesyirikan.

Faedah Ayat:

1. Kewajiban mengesakan Allah dalam ibadah karena Allah telah memerintahkan demikian. Ini merupakan kewajiban yang paling ditekankan.

2. Pengharaman kesyirikan karena Allah telah melarangnya. Kesyirikan adalah perkara yang paling diharamkan.

3. Bahwa menjauhi kesyirikan merupakan syarat sah ibadah karena Allah menggandengkan perintah untuk beribadah dengan larangan terhadap kesyirikan.

4. Sesungguhnya kesyirikan adalah haram, baik sedikit maupun banyak, baik besar maupun kecil, karena kata ‘syai`an’ berbentuk nakirah dalam konteks larangan sehingga maknanya mencakup segala jenis dan bentuk kesyirikan.

5. Bahwasanya tidak boleh menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun dalam peribadahan, baik dengan malaikat, para nabi, orang shalih dari para wali, maupun dengan patung, karena kata ‘syai`an bermakna umum.

[Diringkas dari Kitab Penjelasan Ringkas Kitab Tauhid karya Syaikh Shalih Al-Fauzan]

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Tulisan lainnya

Intisari Tauhid #25: Hak Allah Atas Hamba-Hambanya Adalah Mereka Mentauhidkannya

Jannatul-firdaus.net

Menyebar Ilmu Syar’i



Jannatul-firdaus.net

Menyebar Ilmu Syar’i



Bagikan…

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram



Intisari Tauhid: Hak Allah Atas Hamba-Hambanya Adalah Mereka Mentauhidkannya

  • Oleh: Ustadz Dzulqarnain Muhammad Sunusi hafizhahullah
Hak Allah Atas Hamba-Hambanya Adalah Mereka Mentauhidkannya

Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَعَن مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: كُنْتُ رَدِيْفَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى حِمَارٍ فَقَالَ لِيْ: (يَا مُعَاذُ أَتَدْرِيْ مَا حَقُّ اللهِ عَلَى الْعِبَادِ، وَمَا حَقُّ الْعِبَادِ عَلَى اللهِ؟ قُلْتُ: اللهُ وَرَسُوْلُهُ أَعْلَمُ. قَالَ: (حَقُّ اللهِ عَلَى الْعِبَادِ أَنْ يَعْبُدُوْهُ وَلَا يُشْرِكُوا بِهِ شَيْئاً، وَحَقُّ الْعِبَادِ عَلَى اللهِ أَنْ لَا يُعَذِّبَ مَنْ لَا يُشْرِكُ بِهِ شَيْئاً) قُلْتُ: يَا رَسُوْلَ اللهِ أَفَلَا أُبَشِّرُ النَّاسَ؟) قَالَ: (لَا تُبَشِّرْهُم فَيَتَّكِلُوا) أَخْرَجَاهُ فِي الصَّحِيْحَيْنِ

Dari Mu’âdz bin Jabal radhiyallâhu ‘anhu, beliau berkata, “Saya pernah dibonceng oleh Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam di atas seekor keledai, lalu beliau bersabda kepadaku, ‘Wahai Mu’âdz, tahukah engkau apa hak Allah terhadap para hamba dan apa hak para hamba atas Allah?’
Saya menjawab, ‘Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui.’

Beliau pun menjawab, ‘Hak Allah terhadap para hamba ialah mereka beribadah kepada-Nya semata dan tidak berbuat syirik sedikit pun kepada-Nya, sedang hak para hamba atas Allah adalah bahwa Allah tidak akan mengadzab orang yang tidak berbuat syirik sedikit pun kepada-Nya.’
Saya bertanya, ‘Wahai Rasulullah, tidakkah saya (perlu) menyampaikan kabar gembira (ini) kepada manusia?’
Beliau menjawab, ‘Janganlah engkau menyampaikan kabar gembira ini kepada mereka (karena) mereka nanti akan bersikap menyandarkan diri.’.”

Dikeluarkan oleh keduanya (Al-Bukhâry dan Muslim) dalam Ash-Shahîhain.

Makna Hadits Secara Global

Bahwa Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam ingin menjelaskan kewajiban dan keutamaan bertauhid bagi para hamba. Maka, beliau menyampaikan hal itu dengan bentuk pertanyaan supaya hal itu lebih kukuh menancap dalam jiwa dan lebih optimal untuk sampai pada pemahaman orang yang diajari. Ketika Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam menjelaskan keutamaan tauhid, Mu’âdz meminta izin untuk mengabarkan hal tersebut kepada manusia agar mereka bergembira karena (kabar) tersebut, tetapi Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam melarang hal tersebut karena takut bila orang-orang akan bersandar kepada hal itu sehingga meremehkan amal shalih.

Faedah Hadits:

1. Sifat rendah hati Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam, bahwa beliau mengendarai keledai dan membonceng seseorang di atas (keledai) tersebut. Hal ini berbeda dengan keadaan orang-orang yang menyombongkan diri.

2. Bolehnya berboncengan di atas kendaraan jika kendaraannya kuat.

3. Pengajaran dengan metode tanya jawab.

4. Seseorang yang ditanya, tetapi ia tidak tahu, hendaknya mengatakan, “Allah yang lebih tahu.”

5. Mengenal hak Allah yang diwajibkan kepada para hamba, yaitu agar mereka menyembah hanya kepada-Nya semata, tiada serikat bagi-Nya.

6. Bahwasanya barangsiapa yang tidak menjauhi kesyirikan berarti pada hakikatnya dia belum menyembah Allah, meskipun kelihatannya dia menyembah Allah.

7. Keutamaan tauhid dan keutamaan orang yang berpegang teguh dengan (tauhid).

8. Tafsir tauhid, yaitu beribadah hanya kepada Allah dan meninggalkan kesyirikan terhadap-Nya.

9. Disukainya memberi kabar gembira kepada setiap muslim dengan hal-hal yang menggembirakannya.

10. Bolehnya menyembunyikan ilmu untuk kebaikan.

11. Sikap beradab seorang murid kepada gurunya.

[Diringkas dari Kitab Penjelasan Ringkas Kitab Tauhid karya Syaikh Shalih Al-Fauzan]

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Tulisan lainnya

Intisari Tauhid #24: Hidayah dan Keamanan bagi Mereka yang Memurnikan Tauhidnya

Jannatul-firdaus.net

Menyebar Ilmu Syar’i



Jannatul-firdaus.net

Menyebar Ilmu Syar’i



Bagikan…

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram



Intisari Tauhid: Hidayah dan Keamanan bagi Mereka yang Memurnikan Tauhidnya

  • Oleh: Ustadz Dzulqarnain Muhammad Sunusi hafizhahullah
Hidayah dan Keamanan bagi Mereka yang Memurnikan Tauhidnya

Allah Ta’âlâ berfirman:

الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولَئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُونَ

 

“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampurkan keimanan mereka dengan kezhaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat rasa aman dan merekalah orang-orang yang mendapat petunjuk.” [Al-An’âm: 82]

 

Makna Ayat Secara Global

Allah Subhânahu mengabarkan bahwa orang-orang yang ikhlas dalam beribadah hanya kepada Allah semata dan tidak menodai tauhidnya dengan kesyirikan, merekalah orang-orang yang mendapatkan keamanan dari rasa takut dan hal-hal yang tidak menyenangkan pada hari kiamat. Mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk untuk berjalan di atas jalan yang lurus di dunia.

Faedah Ayat:

1. Keutamaan tauhid dan buah (tauhid) yang dapat dipetik di dunia dan di akhirat.

2. Bahwa syirik adalah kezhaliman yang membatalkan keimanan kepada Allah jika berupa syirik besar, dan mengurangi

keimanan jika berupa syirik kecil.

3. Bahwa syirik adalah dosa yang tidak diampuni.

4. Kesyirikan mengakibatkan ketakutan di dunia dan di akhirat.

[Diringkas dari Kitab Penjelasan Ringkas Kitab Tauhid karya Syaikh Shalih Al-Fauzan]

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Tulisan lainnya

Intisari Tauhid #23: Keutamaan Lâ Ilâha Illallâ: Diharamkan dari Neraka

Jannatul-firdaus.net

Menyebar Ilmu Syar’i



Jannatul-firdaus.net

Menyebar Ilmu Syar’i



Bagikan…

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram



Intisari Tauhid: Keutamaan Lâ Ilâha Illallâ: Diharamkan dari Neraka

  • Oleh: Ustadz Dzulqarnain Muhammad Sunusi hafizhahullah
Keutamaan Lâ Ilâha Illallâ: Diharamkan dari NerakaRasullullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda:

فَإِنَّ اللهَ حَرَّمَ عَلَى النَّارِ مَنْ قَالَ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ يَبْتَغِيْ بِذَلِكَ وَجْهَ اللهِ

“Sesungguhnya Allah mengharamkan neraka bagi orang yang mengucapkan Lâ Ilâha Illallâ, mengharapkan dengannya wajah Allah.” (HR. Al-Bukhary dan Muslim)

Makna Hadits Secara Global

Bahwa Rasul shallallâhu ‘alaihi wa sallam mengabarkan dengan kabar yang tegas bahwa orang yang mengucapkan kalimat Lâ Ilâha Illallâh dengan tujuan seperti yang ditunjukkan oleh kalimat tersebut, berupa ikhlas dan tidak berbuat syirik serta mengamalkan hal itu secara lahir dan batin, kemudian meninggal dalam keadaan seperti itu, ia tidak akan disentuh oleh api neraka pada hari kiamat.

Faedah Hadits:

1. Keutamaan tauhid, dan bahwa tauhid membebaskan pemiliknya dari neraka dan menghapuskan dosa-dosanya.

2. Bahwasanya ucapan tanpa keyakinan hati tidaklah cukup bagi keimanan, seperti keadaan orang-orang munafik.

3. Bahwasanya keyakinan (hati) tanpa ucapan tidaklah cukup bagi keimanan, seperti keadaan para penentang.

4. Diharamkannya neraka terhadap orang-orang yang memiliki tauhid yang sempurna.

5. Bahwa amalan tidak bermanfaat, kecuali dengan ikhlas mengharap wajah Allah dan benar sesuai dengan sunnah Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam.

6. Orang yang mengucapkan Lâ Ilâha Illallâh, tetapi juga berdoa kepada selain Allah, ucapannya tidaklah bermanfaat, seperti keadaan para penyembah kubur pada hari ini bahwa mereka mengucapkan Lâ Ilâha Illallâh, tetapi mereka (juga justru) berdoa kepada orang yang sudah meninggal serta mendekatkan diri kepada orang tersebut.

7. Penetapan sifat wajah bagi Allah Ta’âlâ sesuai dengan kemuliaan dan keagungan-Nya.

[Diringkas dari Kitab Penjelasan Ringkas Kitab Tauhid karya Syaikh Shalih Al-Fauzan]

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Tulisan lainnya

Intisari Tauhid #22: Ampunan yang Maha Besar bagi Mereka yang Bertauhid dan Tidak Berlaku Syirik

Jannatul-firdaus.net

Menyebar Ilmu Syar’i



Jannatul-firdaus.net

Menyebar Ilmu Syar’i



Bagikan…

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram



Intisari Tauhid: Ampunan yang Maha Besar bagi Mereka yang Bertauhid dan Tidak Berlaku Syirik

  • Oleh: Ustadz Dzulqarnain Muhammad Sunusi hafizhahullah
Ampunan yang Maha Besar bagi Mereka yang Bertauhid dan Tidak Berlaku Syirik

 

وَلِلتِّرْمِذِيِّ – وَحَسَّنَهُ: عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَقُوْلُ: (قَالَ اللهُ تَعَالَى: يَا ابْنَ آدَمَ، لَوْ أَتَيْتَنِيْ بِقُرَابِ الْأَرْضِ خَطَايَا ثُمَّ لَقِيْتَنِيْ لَا تُشْرِكُ بِيْ شَيْئاً لَأَتَيْتُكَ بِقُرَابِهَا مَغْفِرَةً(

Dalam riwayat At-Tirmidzy -beliau menghasankannya- (disebutkan): Dari Anas radhiyallâhu ‘anhu (beliau berkata), “Saya mendengar Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Allah Ta’âlâ berfirman, ‘Wahai anak Adam, seandainya engkau datang kepada-Ku dengan dosa sepenuh bumi, (tetapi) kemudian engkau meninggal (dalam keadaan) tidak berbuat syirik sedikitpun kepada-Ku, niscaya Aku memberikan ampunan sepenuh bumi pula kepadamu.’.’.”

Makna Hadits Secara Global

Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam mengabarkan dari Allah ‘Azza wa Jalla bahwa (Allah) berbicara kepada hamba-hamba-Nya dan menjelaskan kepada mereka tentang keluasan karunia dan rahmat-Nya, dan bahwasanya Allah akan mengampuni dosa-dosa sebanyak apapun selama bukan dosa syirik. Hadits ini memiliki makna seperti firman Allah Ta’âlâ,

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ

 

“Sesungguhnya Allah tidaklah mengampuni dosa kesyirikan, tetapi Dia mengampuni dosa-dosa selain (kesyirikan) itu bagi siapa saja yang Dia kehendaki.” [An-Nisâ`: 48, 116]

 

Faedah Hadits:

1. Keutamaan dan banyaknya pahala tauhid.

2. Keluasan karunia Allah, kebaikan, rahmat, dan pemaafan-Nya.

3. Bantahan terhadap Khawarij yang mengafirkan pelaku dosa besar selain kesyirikan.

4. Penetapan sifat Kalam (Berbicara) bagi Allah ‘Azza wa Jalla atas apa-apa yang pantas dengan kemuliaan-Nya.

5.Penjelasan tentang makna Lâ Ilâha Illallâh, dan bahwasanya maknanya adalah meninggalkan kesyirikan, baik (kesyirikan) itu sedikit maupun banyak, dan tidaklah cukup dengan sekadar mengucapkan (kalimat) tersebut secara lisan.

6. Penetapan (akan adanya hari) berbangkit, hisab (perhitungan), dan pembalasan amalan.

[Diringkas dari Kitab Penjelasan Ringkas Kitab Tauhid karya Syaikh Shalih Al-Fauzan]

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Tulisan lainnya

Intisari Tauhid #21: Sifat-Sifat Mereka yang Merealisasikan Tauhid

Jannatul-firdaus.net

Menyebar Ilmu Syar’i



Jannatul-firdaus.net

Menyebar Ilmu Syar’i



Bagikan…

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram



Intisari Tauhid: Sifat-Sifat Mereka yang Merealisasikan Tauhid

  • Oleh: Ustadz Dzulqarnain Muhammad Sunusi hafizhahullah
Sifat-Sifat Mereka yang Merealisasikan Tauhid

Allah Subhânahu wa Ta’âlâ berfirman,

إِنَّ إِبْرَاهِيمَ كَانَ أُمَّةً قَانِتًا لِلَّهِ حَنِيفًا وَلَمْ يَكُ مِنَ الْمُشْرِكِينَ

 

“Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang menjadi teladan, senantiasa patuh kepada Allah dan menghadapkan diri (hanya kepada kepada-Nya), serta sama sekali ia tidak termasuk sebagai orang-orang musyrik.” [An-Nahl: 120]

 

Makna Ayat Pertama secara Global

Bahwa Allah Subhânahu wa Ta’âlâ menyifati Ibrahim, khalil-Nya ‘alaihis salâm, dengan empat sifat:

Sifat pertama, bahwa Ibrahim adalah teladan dalam kebaikan untuk menyempurnakan derajat kesabaran dan keyakinannya yang, dengan keduanya, akan teraih kepemimpinan dalam agama.

Sifat kedua, bahwa Ibrahim adalah seorang yang khusyu’, taat, dan terus menerus beribadah kepada Allah Ta’âlâ.

Sifat ketiga, bahwa Ibrahim berpaling dari kesyirikan dan menghadapkan diri hanya kepada Allah Ta’âlâ.

Sifat keempat, jauhnya Ibrahim dari kesyirikan dan berlepas dirinya ia dari orang-orang musyrikin.

Faedah Ayat:

1. Keutamaan bapak kita, Ibrahim ‘alaihis shalâtu wa salâm.

2. Meneladani Nabi Ibrahim pada sifat-sifat agung tersebut.

3. Penjelasan tentang sifat-sifat yang dengannyalah realisasi tauhid dapat terpenuhi.

4. Kewajiban menjauhi kesyirikan dan orang-orang musyrikin serta berlepas diri dari orang-orang musyrikin tersebut.

5. Seseorang disifati sebagai orang beriman karena merealisasikan tauhid.

[Diringkas dari Kitab Penjelasan Ringkas Kitab Tauhid karya Syaikh Shalih Al-Fauzan]

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Tulisan lainnya

Intisari Tauhid #20: Kesyirikan Dosa Tak Terampuni

Jannatul-firdaus.net

Menyebar Ilmu Syar’i



Jannatul-firdaus.net

Menyebar Ilmu Syar’i



Bagikan…

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram



Intisari Tauhid: Kesyirikan Dosa Tak Terampuni

  • Oleh: Ustadz Dzulqarnain Muhammad Sunusi hafizhahullah
Kesyirikan Dosa Tak Terampuni

Allah Subhânahû wa Ta’âlâ berfirman,

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ

 

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, (tetapi) Dia mengampuni (dosa) selain (syirik) itu bagi siapa saja yang Dia kehendaki.” [An-Nisâ`: 48, 116]

 

Bahwa Allah Subhânahu mengabarkan dengan kabar yang pasti bahwa diri-Nya tidak akan memaafkan seorang hamba yang berjumpa dengan-Nya dalam keadaan berbuat syirik, dengan tujuan untuk memperingatkan kita agar waspada terhadap kesyirikan, dan bahwa Allah akan memaafkan dosa-dosa selain dosa syirik bagi siapa saja yang Dia kehendaki untuk dimaafkan sebagai karunia dan kebaikan dari-Nya, agar kita tidak berputus asa dari rahmat Allah.

Faedah Ayat:
1. Bahwa syirik merupakan dosa terbesar karena Allah telah mengabarkan bahwa diri-Nya tidak akan mengampuni orang yang tidak bertaubat dari perbuatan syirik.

2. Bahwa dosa-dosa selain dosa syirik, apabila seseorang tidak bertaubat darinya, masuk di bawah kehendak Allah. Kalau menghendaki, Allah akan mengampuninya tanpa bertaubat, dan kalau menghendaki, Dia akan mengadzab karenanya. Maka, dalam hal ini, terdapat dalil tentang bahaya dosa syirik.

[Diringkas dari Kitab Penjelasan Ringkas Kitab Tauhid karya Syaikh Shalih Al-Fauzan]

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Tulisan lainnya

Intisari Tauhid #19: Ketakutan Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salâm Terhadap Kesyirikan

Jannatul-firdaus.net

Menyebar Ilmu Syar’i



Jannatul-firdaus.net

Menyebar Ilmu Syar’i



Bagikan…

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram



Intisari Tauhid: Ketakutan Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salâm Terhadap Kesyirikan

  • Oleh: Ustadz Dzulqarnain Muhammad Sunusi hafizhahullah
Ketakutan Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salâm Terhadap Kesyirikan

Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salâm berkata:

وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَنْ نَعْبُدَ الْأَصْنَامَ

“…Dan jauhkanlah aku dan anak cucuku dari (perbuatan) menyembah berhala-berhala.” [Ibrâhîm: 35]

 

Nabi Ibrahim Al-Khalîl ‘alaihish shalâtu was salâm berdoa kepada Rabb-nya ‘Azza wa Jalla agar menjadikan dirinya dan anak cucunya berada pada sisi yang jauh dari peribadahan kepada patung-patung, dan agar Allah menjauhkan dirinya dari peribadahan tersebut, karena fitnah dari (peribadahan) itu sangat besar, dan tiada yang aman dari terjerumus kepada (peribadahan) tersebut.

Faedah Ayat:
1. Sikap takut terhadap kesyirikan karena Ibrahim alaihi salam -yang beliau adalah pemimpin bagi orang-orang yang condong kepada tauhid dan jauh dari syirik, yang telah menghancurkan patung-patung dengan tangannya- khawatir bila dirinya terjatuh dalam kesyirikan maka bagaimana dengan selain Ibrahim ‘alaihis salâm?

2. Disyariatkan berdoa untuk menolak malapetaka, dan bahwasanya manusia
pasti perlu kepada Allah.

3. Disyariatkan berdoa untuk kebaikan diri dan anak keturunannya.

4. Bantahan terhadap orang-orang jahil yang mengatakan, “Kesyirikan tidak akan terjadi pada umat ini,” sehingga mereka merasa aman dari hal maka mereka pun terjerumus ke dalam hal tersebut.

[Diringkas dari Kitab Penjelasan Ringkas Kitab Tauhid karya Syaikh Shalih Al-Fauzan]

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Tulisan lainnya

Intisari Tauhid #18: Bahaya Riya (Syirik Kecil)

Jannatul-firdaus.net

Menyebar Ilmu Syar’i



Jannatul-firdaus.net

Menyebar Ilmu Syar’i



Bagikan…

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram



Intisari Tauhid: Bahaya Riya (Syirik Kecil)

  • Oleh: Ustadz Dzulqarnain Muhammad Sunusi hafizhahullah
Bahaya Riya (Syirik Kecil)

Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَخْوَفُ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمُ الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ, فَسُئِلَ عَنْهُ فَقَالَ: الرِّيَاءُ.

“Sesuatu yang paling aku khawatirkan terhadap kalian adalah syirik kecil.”
Ketika ditanya tentang (syirik kecil) itu, beliau menjawab, “Riya.” (HR. Ahmad, Ath-Thabrany dan Al-Baihaqy)

Karena kesempurnaan belas kasih dan sayang beliau shallallâhu ‘alaihi wa sallam kepada umatnya serta kesempurnaan tulusnya kebaikan kepada mereka, tidaklah ada suatu kebaikan, kecuali pastilah beliau telah tunjukkan hal itu kepada umatnya, dan tidaklah ada suatu kejelekan, kecuali pastilah beliau telah peringatkan umat darinya. Di antara kejelekan yang Rasulullah peringatkan adalah penampilan yang menampakkan ibadah kepada Allah dengan maksud untuk mendapatkan pujian dari manusia karena hal itu termasuk ke dalam syirik dalam ibadah -yang meskipun syirik kecil, bahayanya sangat besar- sebab hal itu bisa membatalkan amalan yang disertainya juga tatkala jiwa memiliki tabiat senang akan kepemimpinan dan mendapatkan kedudukan di hati-hati manusia, kecuali orang-orang yang Allah selamatkan. Oleh karena itu, jadilah riya sebagai perkara yang sangat dikhawatirkan terjadi pada orang-orang shalih -karena kuatnya dorongan ke arah hal tersebut-. Berbeda dengan dorongan untuk berbuat syirik besar, yang boleh jadi (dorongan tersebut) tidak ada di dalam hati orang-orang mukmin yang sempurna, atau (dorongan tersebut) lemah kalaupun ada.

Faedah Hadits

1. Kekuatan rasa takut untuk terjatuh ke dalam syirik kecil. Hal itu ditinjau dari dua sisi:

a. Rasul shallallâhu ‘alaihi wa sallam mengkhawatirkan terjadinya syirik tersebut dengan kekhawatiran yang sangat.

b. Rasul shallallâhu ‘alaihi wa sallam mengkhawatirkan hal tersebut terhadap orang-orang shalih yang sempurna maka orang-orang yang (derajatnya) berada di bawah mereka tentu lebih dikhawatirkan untuk terjatuh ke dalam kesyirikan tersebut.

2. Besarnya kasih sayang beliau shallallâhu ‘alaihi wa sallam kepada umatnya serta semangat beliau untuk memberi petunjuk dan nasihat kepada umatnya.

3. Bahwa kesyirikan terbagi menjadi syirik besar dan syirik kecil, -syirik besar berarti menyamakan sesuatu selain Allah dengan Allah dalam perkara-perkara yang menjadi kekhususan Allah, sedang syirik kecil adalah hal yang disebut dalam nash sebagai kesyirikan, tetapi tidak sampai pada derajat syirik besar-.

Perbedaan antara keduanya adalah:

a. Syirik besar membatalkan seluruh amalan, sedangkan syirik kecil hanya membatalkan amalan yang sedang dikerjakan.

b. Syirik besar menjadikan pelakunya kekal di neraka, sedangkan syirik kecil tidak menjadikan pelakunya kekal di neraka.

c. Syirik besar menjadikan pelakunya keluar dari Islam, sedangkan syirik kecil tidak menjadikan pelakunya keluar dari Islam.

[Diringkas dari Kitab Penjelasan Ringkas Kitab Tauhid karya Syaikh Shalih Al-Fauzan]

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Tulisan lainnya

Intisari Tauhid #17: Ancaman Bagi Pelaku Kesyirikan

Jannatul-firdaus.net

Menyebar Ilmu Syar’i



Jannatul-firdaus.net

Menyebar Ilmu Syar’i



Bagikan…

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram



Intisari Tauhid: Ancaman Bagi Pelaku Kesyirikan

  • Oleh: Ustadz Dzulqarnain Muhammad Sunusi hafizhahullah
Ancaman Bagi Pelaku Kesyirikan

Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ مَاتَ وَهُوَ يَدْعُو مِنْ دُونِ اللهِ نِدًّا دَخَلَ النَّارَ

“Barangsiapa yang meninggal dalam keadaan berdoa (menyembah) selain Allah sebagai tandingan (bagi Allah), ia akan masuk ke dalam neraka.” (Diriwayatkan oleh Al-Bukhâry)

Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam mengabarkan bahwa, barangsiapa yang mengadakan tandingan yang disamakan dan diserupakan dengan Allah dalam peribadahan, yang ia berdoa, meminta, dan memohon keselamatan kepada (tandingan) itu, baik tandingan tersebut berupa nabi maupun selainnya, dan ia terus menerus berada dalam keadaan seperti itu sampai meninggal dan tidak bertaubat sebelum meninggal, tempat kembali dia adalah neraka karena ia telah musyrik.

Membuat tandingan (bagi Allah) ada dua macam:

Pertama: mengadakan sekutu bagi Allah dalam jenis-jenis ibadah atau pada sebagian (jenis) maka ini adalah syirik besar yang pelakunya kekal di neraka.

Kedua: hal-hal yang termasuk ke dalam syirik kecil, seperti ucapan seseorang, “Apa-apa yang Allah dan engkau kehendaki,” “Kalau bukan karena Allah dan kamu,” serta ucapan lain yang semisal yang mengandung kata sambung dan pada lafazh Jalâlah (Allah). Juga seperti riya yang ringan, ini tidak menjadikan pelakunya kekal di neraka meskipun masuk ke dalamnya.

Faedah Hadits:

1. Memberi pertakutan terhadap perbuatan syirik, dan anjuran untuk bertaubat dari kesyirikan sebelum seseorang meninggal.

2. Bahwa setiap orang yang, bersamaan dengan doanya kepada Allah, berdoa pula kepada seorang nabi atau wali, baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal, atau kepada batu atau pohon, berarti ia telah mengadakan tandingan bagi Allah.

3. Bahwa dosa syirik tidak akan diampuni, kecuali bila (pelakunya) bertaubat.

[Diringkas dari Kitab Penjelasan Ringkas Kitab Tauhid karya Syaikh Shalih Al-Fauzan]

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Tulisan lainnya

Intisari Tauhid #16: Surga Untuk Muwahhid dan Neraka Untuk Musyrik

Jannatul-firdaus.net

Menyebar Ilmu Syar’i



Jannatul-firdaus.net

Menyebar Ilmu Syar’i



Bagikan…

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram



Intisari Tauhid: Surga Untuk Muwahhid dan Neraka Untuk Musyrik

  • Oleh: Ustadz Dzulqarnain Muhammad Sunusi hafizhahullah
Surga Untuk Muwahhid dan Neraka Untuk Musyrik

Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ لَقِيَ اللهَ وَهُوَ لَا يُشْرِكُ به شَيْئًا دَخَلَ الْجَنَّةَ وَمَنْ لَقِيَهُ يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا دَخَلَ النَّارَ

“Barangsiapa yang menemui Allah (meninggal) dalam keadaan tidak berbuat syirik terhadap-Nya sedikit pun, pasti masuk surga, (tetapi) barangsiapa yang menemui-Nya (meninggal) dalam keadaan berbuat syirik terhadap-Nya sedikit sekalipun, dia pasti masuk neraka.” (HR. Muslim)

Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam mengabarkan bahwa barang siapa yang meninggal di atas tauhid, perihal masuknya ia ke dalam surga adalah sudah pasti, meskipun ia adalah seorang pelaku dosa besar dan meninggal dalam keadaan terus menerus berbuat dosa maka ia berada di bawah kehendak Allah. Kalau menghendaki, Allah akan memaafkan dan langsung memasukkan dia ke surga. Akan tetapi, kalau menghendaki (lain), Allah akan mengadzab dia di neraka, kemudian dia
dikeluarkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga.

Adapun orang yang meninggal di atas kesyirikan besar, ia tidak akan masuk surga, tidak akan mendapat rahmat dari Allah, dan dikekalkan di neraka. Kalau meninggal di atas syirik kecil, ia dimasukkan ke dalam neraka (kalau tidak memiliki amal kebaikan yang mengalahkan kesyirikannya), tetapi ia tidak akan kekal di dalam (neraka) tersebut.

Faedah Hadits:
1. Kewajiban takut terhadap kesyirikan karena, agar selamat dari neraka, dipersyaratkan untuk selamat dari kesyirikan.
2. Bahwasanya yang dianggap (yang menjadi ukuran) itu bukanlah banyaknya amalan, tetapi yang dianggap (sebagai ukuran) adalah selamatnya amalan dari kesyirikan.
3. Penjelasan tentang makna Lâ Ilâha Illallâh, yaitu meninggalkan kesyirikan dan mengesakan Allah dalam ibadah.
4. Dekatnya surga dan neraka dari seorang hamba, bahwasanya tiada yang memisahkan seorang hamba dengan surga atau neraka, kecuali kematian.
5. Keutamaan orang yang selamat dari kesyirikan.

[Diringkas dari Kitab Penjelasan Ringkas Kitab Tauhid karya Syaikh Shalih Al-Fauzan]

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Tulisan lainnya

Intisari Tauhid #15: Jalan Rasulullah Shallallâhu ‘Alaihi Wa Sallam Adalah Dakwah Kepada Tauhid

Jannatul-firdaus.net

Menyebar Ilmu Syar’i



Jannatul-firdaus.net

Menyebar Ilmu Syar’i



Bagikan…

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram



Intisari Tauhid: Jalan Rasulullah Shallallâhu ‘Alaihi Wa Sallam Adalah Dakwah Kepada Tauhid

  • Oleh: Ustadz Dzulqarnain Muhammad Sunusi hafizhahullah
Jalan Rasulullah Shallallâhu ‘Alaihi Wa Sallam Adalah Dakwah Kepada Tauhid

Allah Subhânahu wa Ta’âlâ berfirman:

قُلْ هَذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ.

 

“Katakanlah, ‘Inilah jalan (agama)ku. Aku danorang-orang yang mengikutiku mengajak kalian (hanya) kepada Allah dengan hujjah yang nyata. Maha Suci Allah, dan aku tidaklah termasuk sebagai orang-orang musyrik.’.” [Yûsuf: 108]

 

Allah memerintahkan Rasul-Nya agar (Rasul-Nya) mengabarkan manusia tentang jalan dan Sunnah-Nya, yaitu berdakwah mengajak kepada syahadat Lâ Ilâha Illallâh dengan dasar ilmu dan keyakinan serta keterangan yang jelas, dan (bahwa) semua orang yang mengikuti beliau juga berdakwah di atas dasar ilmu dan keyakinan akan hal yang didakwahkan.

Di samping itu, beliau beserta orang-orang yang mengikutinyamenjauhkan dan menyucikan Allah terhadap kepemilikan sekutu dalam kekuasaan dan peribadahan serta berlepas diri dari para pelakukesyirikan, meskipun mereka adalah orang yang paling dekat dengan dirinya.

Faedah Ayat:

1. Bahwa dakwah kepada syahadat Lâ Ilâha Illallâh merupakan jalan Rasulullah dan orang-orang yang mengikuti beliau.
2. Bahwa orang yang berdakwah wajib mengilmui segala sesuatu yang dia dakwahkan dan mengilmui segala sesuatu yang ia larang dari (dakwah)nya.
3. Peringatan agar ikhlas dalam berdakwah, jangan sampai seorang yang berdakwah memiliki tujuan selain wajah Allah. Dengan dakwahnya, dia jangan bermaksud mendapatkan harta, kepemimpinan atau pujian dari manusia, atau menyeru kepada kelompok atau kepada madzhab tertentu.
4. Bahwa bashirah (ilmu dan keyakinan) merupakan hal wajib
karena mengikuti Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam adalah wajib, sedangkan seseorang tidak mungkin bisa mengikuti Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam, kecuali dengan bashirah, yaitu ilmu dan keyakinan.
5. Menunjukkan kebagusan tauhid karena tauhid menyucikan Allah Ta’âlâ.
6. Menunjukan jeleknya kesyirikan karena kesyirikan adalah pencelaan terhadap Allah Ta’âlâ.
7. Kewajiban seorang muslim untuk menjauhkan diri dari orang-orang musyrikin sehingga (muslim) tersebut tidak menjadi bagian dari (orang-orang musyrikin) dalam satu perkara pun, dan tidaklah cukup dengan tidak berbuat syirik.

[Diringkas dari Kitab Penjelasan Ringkas Kitab Tauhid karya Syaikh Shalih Al-Fauzan]

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Tulisan lainnya