Perjalanan Hati Kepada Allah

Jannatul-firdaus.net

Menyebar Ilmu Syar’i



Jannatul-firdaus.net

Menyebar Ilmu Syar’i



Bagikan…

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram



Perjalanan Hati Kepada Allah

  • Oleh : Ustadz Dzulqarnain Muhammad Sunusi hafizhahullah
  • (Pembina Peduli Dakwah)

Allah Ta’âlâ berfirman,

التَّائِبُونَ الْعَابِدُونَ الْحَامِدُونَ السَّائِحُونَ الرَّاكِعُونَ السَّاجِدُونَ الْآمِرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّاهُونَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَالْحَافِظُونَ لِحُدُودِ اللَّهِ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ

“Mereka itu adalah orang-orang yang bertaubat, yang beribadat, yang memuji, yang melawat, yang ruku’, yang sujud, yang menyuruh berbuat ma’ruf dan mencegah berbuat munkar dan yang memelihara hukum-hukum Allah. Dan gembirakanlah orang-orang mukmin itu.” [At-Taubah: 112]

Jika ada yang bertanya, “Siapakah yang diberi kabar gembira dengan surga?”, maka jawabannya adalah orang-orang yang memiliki sifat seperti yang disebutkan dalam ayat di atas.

Sebagaimana dalam ayat lain, diterangkan sifat-sifat perempuan yang paling shalihah. Yaitu pada Firman Allah ‘Azza wa Jalla,

عَسَى رَبُّهُ إِنْ طَلَّقَكُنَّ أَنْ يُبْدِلَهُ أَزْوَاجًا خَيْرًا مِنْكُنَّ مُسْلِمَاتٍ مُؤْمِنَاتٍ قَانِتَاتٍ تَائِبَاتٍ عَابِدَاتٍ سَائِحَاتٍ ثَيِّبَاتٍ وَأَبْكَارًا

“Jika Nabi menceraikan kalian, boleh jadi Rabbnya akan memberi ganti kepadanya dengan isteri yang lebih baik daripada kalian, yang patuh, yang beriman, yang taat, yang bertaubat, yang mengerjakan ibadat, yang berpuasa, yang janda dan yang perawan.” [At-Tahrim: 5]

Ketika ayat ini turun, maka para istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersegera kepada ketaatan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sehingga mereka tidak diceraikan. Maka, jadilah para istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam perempuan yang paling baik di tengah umat ini., karena Allah tidak memilihkan untuk Nabi-Nya kecuali yang terbaik.

Salah satu sifat mereka yang diberi kabar gembira dengan surga dan sifat perempuan yang shalihah, adalah as-siyâhah (As-Sâ`ih atauh As-Sâ`ihah).

Asal makna as-siyâhah dalam bahasa Arab adalah bepergian di atas muka bumi. Bisa diartikan melawat, melakukan perjalanan, berkelana dan berkeliling.

Jumhur (mayoritas) ahli tafsir menjelaskan makna as-siyâhah pada kedua ayat di atas adalah orang yang berpuasa. (Ibnu Katsir dan banyak ahli tafsri menguatkan makna ini dan Ibnu Jarir tidak menyebutkan selainnya).

Ada juga yang menafsirkan as-siyâhah dengan, (1) orang yang berjihad, (2) orang yang berhijrah, (3) orang yang safar dalam mencari hadits dan ilmu, dan (4) orang bertafakkur terhadap tauhid dan kebesaran Allah. (Dirangkum dari beberapa buku tafsir)

As-siyâhah ditafsirkan sebagai orang yang berpuasa karena orang yang berpuasa meninggalkan kelezatan mereka sebagaimana orang yang melakukan perjalanan meninggalkan kelezatannya.

Ibnu ‘Uyainah berkata, “Seorang yang berpuasa disebut sebagai As-Sâ`ih karena dia meninggalkan segala kelezatan makan, minum dan kegiatan nikah.” (Tafsir Al-Baghawy)

Syaikh Abdurrahman As-Si’dy menyebutkan bahwa As-siyâhah adalah perjalanan hati dalam mengenal Allah dan mencintai-Nya serta terus menerus kembali kepada-Nya.

Tentu penafsiran Beliau adalah tergolong dari penafsiran yang sangat indah yang mengumpulkan berbagai penafsiran di atas. Tentu sangat dimaklumi bahwa dalam puasa terkandung perjalanan jiwa dalam mengenal Allah dan mencintainya, serta terdapat berbagai jenjang penghambaan yang agung.

Kenalilah dari keagungan puasa yang Allah syari’atkan!

Renungi dari pembahasaan ayat-ayat Al-Qur`an terhadap puasa, agar engkau lebih mendalami rahasia dan keindahan puasa!

Wallahu A’lam.

Homepage

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Tulisan lainnya

Panah-Panah Kematian

Jannatul-firdaus.net

Menyebar Ilmu Syar’i



Jannatul-firdaus.net

Menyebar Ilmu Syar’i



Bagikan…

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram



Panah-Panah Kematian

  • Oleh: Ustadz Dzulqarnain Muhammad Sunusi hafizhahullah
Panah-Panah Kematian

Ketika Khalifah Harun Ar-Rasyid memintah nasihat ringkas, Abul ‘Atâhiyah menasihatinya dalam beberapa untaian syair,

لَا تَأْمَنِ الْمَوْتَ فِيْ طَرْفٍ وَلَا نَفَسٍ  وَلَوْ تَمَنَّعْتَ بِالْحِجَابِ وَالْحَرَسِ

وَاعْلَمْ بَأَنَّ سِهَامَ الْمَوْتِ قَاصِدَةٌ  لِكُلِّ مَدَرَّعٍ مِنَّا وَمُتَرَّسِ

تَرْجُو النَّجَاةَ وَلَمْ تَسْلُكْ مَسَالِكَهَا  إِنَّ السَّفِيْنَةَ لَا تَجْرِيْ عَلَى الْيَبَسِ

“Janganlah merasa aman dari kematian dalam sekejam maupun senafas

walaupun engkau berlindung dengan tirai dan para pengawal.

Ketahuilah bahwa panah-panah kematian selalu membidik

setiap dari kita, yang berbaju besi maupun yang berperisai.

Engkau menghendaki keselamatan, sedang engkau tidak menempuh jalan-jalannya,

sesungguhnya perahu tidak akan berjalan di atas daratan kering.”

[Raudhatul ‘Uqalâ` karya Ibnu Hibban hal. 285]

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Tulisan lainnya

Nasihat Imam Asy-Syafi’iy kepada Muridnya, Imam Al-Muzany

Jannatul-firdaus.net

Menyebar Ilmu Syar’i



Jannatul-firdaus.net

Menyebar Ilmu Syar’i



Bagikan…

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram



Nasihat Imam Asy-Syafi’iy kepada Muridnya, Imam Al-Muzany

  • Oleh: Ustadz Dzulqarnain Muhammad Sunusi hafizhahullah
Nasihat Imam Asy-Syafi’iy kepada Muridnya, Imam Al-Muzany

Imam Al-Muzany bercerita:

“Aku menemui Imam Asy-Syafi’iy menjelang beliau wafat, lalu kubertanya, “Bagaimana keadaanmu pada pagi ini, wahai Ustadzku?”

Beliau menjawab, “Pagi ini aku akan melakukan perjalanan meninggalkan dunia, akan berpisah dengan kawan-kawanku, akan meneguk gelas kematian, akan menghadap kepada Allah dan akan menjumpai kejelekan amalanku. Aku tidak tahu: apakah diriku berjalan ke surga sehingga aku memberinya ucapan kegembiraan, atau berjalan ke neraka sehingga aku menghibur kesedihannya.”

Aku berkata, “Nasihatilah aku.”

Asy-Syafi’iy berpesan kepadaku, “Bertakwalah kepada Allah, permisalkanlah akhirat dalam hatimu, jadikanlah kematian antara kedua matamu, dan janganlah lupa bahwa engkau akan berdiri di hadapan Allah. Takutlah terhadap Allah ‘Azza wa Jalla, jauhilah segalah hal yang Dia haramkan, laksanakanlah segala perkara yang Dia wajibkan, dan hendaknya engkau bersama Allah di manapun engkau berada. Janganlah sekali-kali engkau menganggap kecil nikmat Allah kepadamu -walaupun nikmat itu sedikit- dan balaslah dengan bersyukur. Jadikanlah diammu sebagai tafakkur, pembicaraanmu sebagai dzikir, dan pandanganmu sebagai pelajaran. Maafkanlah orang yang menzhalimimu, sambunglah (silaturrahmi dari)orang yang memutus silaturahmi terhadapmu, berbuat baiklah kepada siapapun yang berbuat jelek kepadamu, bersabarlah terhadap segala musibah, dan berlindunglah kepada Allah dari api neraka dengan ketakwaan.”

Aku berkata, “Tambahlah (nasihatmu) kepadaku.”

Beliau melanjutkan, “Hendaknya kejujuran adalah lisanmu, menepati janji adalah tiang tonggakmu, rahmat adalah buahmu, kesyukuran sebagai thaharahmu, kebenaran sebagai perniagaanmu, kasih sayang adalah perhiasanmu, kecerdikan adalah daya tangkapmu, ketaatan sebagai mata percaharianmu, ridha sebagai amanahmu, pemahaman adalah penglihatanmu, rasa harapan adalah kesabaranmu, rasa takut sebagai pakaianmu, shadaqah sebagai pelindungmu, dan zakat sebagai bentengmu. Jadikanlah rasa malu sebagai pemimpinmu, sifat tenang sebagai menterimu, tawakkal sebagai baju tamengmu, dunia sebagai penjaramu, dan kefakiran sebagai pembaringanmu. Jadikanlah kebenaran sebagai pemandumu, haji dan jihad sebagai tujuanmu, Al-Qur`an sebagai juru bicaramu dengan kejelasan, serta jadikanlah Allah sebagai Penyejukmu. Barangsiapa yang bersifat seperti ini, surga adalah tempat tinggalnya.”

Kemudian, Asy-Syafi’iy mengangkat pandangannya ke arah langit seraya menghadirkan susunan ta’bir. Lalu beliau bersya’ir,

Kepada-Mu -wahai Ilah segenap makhluk, wahai Pemilik anugerah dan kebaikan-kuangkat harapanku, walaupun aku ini seorang yang bergelimang dosa. Tatkala hati telah membatu dan sempit segala jalanku, kujadikan harapan pengampunan-Mu sebagai tangga bagiku

Kurasa dosaku teramatlah besar, tetapi tatkala dosa-dosa itu

kubandingkan dengan maaf-Mu -wahai Rabb-ku-, ternyata maaf-Mu lebihlah besar.

Terus menerus Engkau Maha Pemaaf dosa, dan terus menerus

Engkau memberi derma dan maaf sebagai nikmat dan pemuliaan

Andaikata bukan karena-Mu, tidak seorang pun ahli ibadah yang tersesat oleh Iblis

bagaimana tidak,

sedang dia pernah menyesatkan kesayangan-Mu,Adam

Kalaulah Engkau memaafkan aku, Engkau telah memaafkan

seorang yang congkak, zhalim lagi sewenang-wenang yang masih terus berbuat dosa

Andaikata Engkau menyiksaku, tidaklah aku berputus asa,

walaupun diriku telah engkau masukkan ke dalam Jahannam lantaran dosaku

Dosaku sangatlah besar, dahulu dan sekarang,

namun maaf-Mu -wahai Maha Pemaaf- lebih tinggi dan lebih besar.

[Tarikh Ibnu Asakir Juz 51 hal. 430-431]

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Tulisan lainnya

Telah Mati Hati Kalian karena Sepuluh Perkara

Jannatul-firdaus.net

Menyebar Ilmu Syar’i



Jannatul-firdaus.net

Menyebar Ilmu Syar’i



Bagikan…

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram



Telah Mati Hati Kalian karena Sepuluh Perkara

  • Oleh: Ustadz Dzulqarnain Muhammad Sunusi hafizhahullah

Suatu hari, Ibrahim bin Adham rahimahullah berlalu melewati pasar Bashrah. Manusia pun berkumpul kepadanya seraya berkata, “Wahai Abu Ishaq, sesungguhnya Allah berfirman dalam kitab-Nya, ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kukabulkan bagi kalian’. Sudah sekian lama kami berdoa tapi tidak dikabulkan?”

 

Beliau menjawab,

يَا أَهْلَ الْبَصْرَةِ، مَاتَتْ قُلُوبُكُمْ فِي عَشَرَةِ أَشْيَاءَ، أَوَّلُهَا: عَرَفْتُمُ اللَّهَ ولَمْ تُؤَدُّوا حَقَّهُ، الثَّانِي: قَرَأْتُمْ كِتَابَ اللَّهِ ولَمْ تَعْمَلُوا بِهِ، وَالثَّالِثُ: ادَّعَيْتُمْ حُبَّ رَسُولِ اللَّهِ وَتَرَكْتُمْ سُنَّتَهَ، وَالرَّابِعُ: ادَّعَيْتُمْ عَدَاوَةَ الشَّيْطَانِ وَوَافَقْتُمُوهُ، وَالْخَامِسُ: قُلْتُمْ نُحِبُّ الْجَنَّةَ ولَمْ تَعْمَلُوا لَهَا، وَالسَّادِسُ: قُلْتُمْ نَخَافُ النَّارَ وَرَهَنْتُمْ أَنْفُسَكُمْ بِهَا، وَالسَّابِعُ: قُلْتُمْ إِنَّ الْمَوْتَ حَقٌّ وَلَمْ تَسْتَعِدُّوا لَهُ، وَالثَّامِنُ: اشْتَغَلْتُمْ بِعُيُوبِ إِخْوَانِكُمْ وَنَبَذْتُمْ عُيُوبَكُمْ، وَالتَّاسِعُ: أَكَلْتُمْ نِعْمَةَ رَبِّكُمْ ولَمْ تَشْكُرُوهَا، وَالْعَاشِرُ: دَفَنْتُمْ مَوْتَاكُمْ وَلَمْ تَعْتَبِرُوا بِهِمْ

 

“Wahai penduduk Bashrah, hati kalian telah mati pada sepuluh perkara,

 

  1. Kalian mengenal Allah tapi tidak menunaikan hak-Nya.
  2. Kalian membaca Al-Qur’an, tapi kalian tidak mengamalkannya.
  3. Kalian mengaku mencintai Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam, tapi kalian meninggalkan sunnahnya.
  4. Kalian mengaku memusuhi syaithan, tapi kalian mencocokinya.
  5. Kalian mengatakan bahwa kami mencintai surga, tapi kalian tidak beramal untuk (memasuki)nya.
  6. Kalian mengatakan bahwa kami takut dari neraka, tapi kalian menggadai diri-diri kalian untuk neraka.
  7. Kalian mengatakan bahwa kematian adalah benar adanya, tapi kalian tidak bersiap untuknya.
  8. Kalian sibuk membicarakan aib-aib saudara-saudara kalian, sedang kalian mencampakkan aib-aib kalian sendiri.
  9. Kalian memakan nikmat-nikmat Rabb kalian, tapi kalian tidak menunaikan kesyukuran kepada-Nya.
  10. Kalian telah mengubur orang-orang mati kalian, tapi kalian tidak mengambil pelajaran darinya.”

 

[Diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam Hilayatul Auliyâ` 8/15-16. Disebutkan juga oleh Ibnu Abdil Barr dalam Jâmi Bayân Al-‘Ilm no. 1220, Asy-Syâthiby dalam Al-I’tishâm 1/149 (Tahqîq Masyhûr Hasan), dan Al-Absyîhy dalam Al-Mustathraf 2/329.]

  • sumber tulisan: www.dzulqarnain.net

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Tulisan lainnya

Kalimat-kalimat Berharga dari Rangkaian Wasiat-wasiat Emas Nabi Nuh

Jannatul-firdaus.net

Menyebar Ilmu Syar’i



Jannatul-firdaus.net

Menyebar Ilmu Syar’i



Bagikan…

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram



Kalimat-kalimat Berharga dari Rangkaian Wasiat-wasiat Emas Nabi Nuh

  • Oleh: Al-Ustadz Abdul Qodir Abu Fa’izah –hafizhahullah

Petuah para nabi dan rasul adalah petuah yang amat berharga. Di dalamnya terdapat berbagai macam hikmah dan faedah bagi pencari kebaikan. Tak ada wasiat dan petuah yang lebih baik dibandingkan nasihat-nasihat mereka yang terpancar dari lentera wahyu dari Allah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.

Ucapan dan perilaku para nabi dan rasul menjadi pelita bagi umat manusia di sepanjang zaman. Ucapan mereka bagaikan kilauan emas dan permata indah yang menyenangkan kalbu bagi setiap pendulang hikmah.

Sebagian petuah dan wasiat mereka telah diabadikan dalam Al-Kitab dan As-Sunnah Ash-Shohihah. Di sela-sela Al-Qur’an kita menemukan banyak nasihat mereka kepada kaum dan keluarganya. Namun kali ini kami akan mengangkat sebuah wasiat dan petuah mereka dari lentera nubuwwah.

Kali ini kami akan menemani anda meneguk sebagian wasiat seorang Rasul pertama, yakni Nuh –Shallallahu alaihi wa sallam-.

Kita dengarkan seorang sahabat yang mulia, Abdullah bin Amer radhiyallahu anhuma– yang menceritakan sebuah hadits dari Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam-, beliau bersabda,

إِنَّ نَبِيَّ اللهِ نُوحًا صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمَّا حَضَرَتْهُ الْوَفَاةُ قَالَ لاِبْنِهِ : إِنِّي قَاصٌّ عَلَيْكَ الْوَصِيَّةَ : آمُرُكَ بِاثْنَتَيْنِ ، وَأَنْهَاكَ عَنِ اثْنَتَيْنِ ، آمُرُكَ بِلاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ ، فَإِنَّ السَّمَوَاتِ السَّبْعَ ، وَالأَرْضِينَ السَّبْعَ ، لَوْ وُضِعَتْ فِي كِفَّةٍ ، وَوُضِعَتْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ فِي كِفَّةٍ ، رَجَحَتْ بِهِنَّ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ ، وَلَوْ أَنَّ السَّمَوَاتِ السَّبْعَ ، وَالأَرْضِينَ السَّبْعَ ، كُنَّ حَلْقَةً مُبْهَمَةً ، قَصَمَتْهُنَّ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ ، وَسُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ ، فَإِنَّهَا صَلاَةُ كُلِّ شَيْءٍ ، وَبِهَا يُرْزَقُ الْخَلْقُ ، وَأَنْهَاكَ عَنِ الشِّرْكِ وَالْكِبْرِ قَالَ : قُلْتُ أَوْ قِيلَ يَا رَسُولَ اللهِ : هَذَا الشِّرْكُ قَدْ عَرَفْنَاهُ ، فَمَا الْكِبْرُ ؟ قَالَ : الْكِبْرُ أَنْ يَكُونَ لأَحَدِنَا نَعْلاَنِ حَسَنَتَانِ لَهُمَا شِرَاكَانِ حَسَنَانِ قَالَ : لاَ قَالَ : هُوَ أَنْ يَكُونَ لأَحَدِنَا حُلَّةٌ يَلْبَسُهَا ؟ قَالَ : لاَ قَالَ : الْكِبْرُ هُوَ أَنْ يَكُونَ لأَحَدِنَا دَابَّةٌ يَرْكَبُهَا ؟ قَالَ : لاَ قَالَ : أَفَهُوَ أَنْ يَكُونَ لأَحَدِنَا أَصْحَابٌ يَجْلِسُونَ إِلَيْهِ ؟ قَالَ : لاَ قِيلَ : يَا رَسُولَ اللهِ ، فَمَا الْكِبْرُ ؟ قَالَ : سَفَهُ الْحَقِّ ، وَغَمْصُ النَّاسِ.

“Sesungguhnya Nabi Allah, Nuh -Shallallahu alaihi wa sallam- tatkala dihampiri kematian, maka ia berkata kepada anaknya,

“Sesungguhnya aku akan menyampaikan kepadamu sebuah wasiat. Aku perintahkan kepadamu dua perkara dan aku melarangmu dari dua perkara.

Aku memerintahkanmu dengan  kalimat لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ (tiada sembahan yang haq, selain Allah).

 

Sesungguhnya tujuh lapis langit dan tujuh lapis tanah, andaikan diletakkan pada sebuah daun timbangan dan kalimat لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ pada daun timbangan yang lain, maka kalimat لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ akan mengalahkannya.

Andaikata tujuh lapis langit dan tujuh lapis tanah adalah lingkaran yang tertutup, maka kalimat (لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ ، وَسُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ) akan memecahkannya. Karena, ia adalah doa segala sesuatu; dengannya para makhluk diberi rezki.

Aku juga melarang kalian dari kesyirikan dan kesombongan.

 

Dia (Abdullah bin Amer) berkata, “Aku katakan, “Wahai Rasulullah, kesyirikan ini sungguh telah kami ketahui, maka apakah kesombongan itu?”

Seorang berkata, “kesombongan itu adalah seorang diantara kami memiliki dua sandal cantik yang memiliki dua tali indah”. Beliau bersabda, “Bukan itu”.

seorang berkata lagi, “Kesombongan itu adalah seorang diantara kami memiliki pakaian yang ia gunakan”. Beliau bersabda, “Bukan itu”.

 

Seorang berkata lagi, “Kesombongan itu adalah seorang diantara kami memiliki hewan tunggangan yang ia kendarai”. Beliau bersabda, “Bukan itu”.

Seseorang berkata, “Apakah kesombongan itu adalah seseorang diantara kami memiliki beberapa sahabat yang mereka duduk bersamanya?” Beliau bersabda, “Bukan begitu”. Lalu ditanyakan, “Wahai Rasulullah, apakah kesombongan itu?”

Beliau bersabda, “Kesombongan itu adalah menolak kebenaran dan merendahkan manusia”. [HR. Al-Bukhoriy dalam Al-Adab Al-Mufrod (no. 548) dan Ahmad dalam Al-Musnad (2/169-170 & 225). Hadits ini di-shohih-kan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Takhrij Kalimah Al-Ikhlash (hal. 57)]

Ulama Negeri Syam, Al-Muhaddits Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albaniy –rahimahullah– berkata,

“Di dalam hadits ini terdapat faedah yang banyak; aku cukup isyaratkan kepada sebagiannya saja:

Pertama, disyariatkan memberi wasiat ketika hampir wafat.

Kedua, (di dalam hadits ini) terdapat keutamaan tahlil (لا إله إلا الله) dan tasbih serta bahwa keduanya adalah sebab (datangnya) rezki makhluk.

Ketiga, Mizan (timbangan) pada hari kiamat benar adanya dan ia memiliki dua daun. Ini termasuk aqidah (keyakinan) Ahlus Sunnah. Lain halnya dengan Mu’tazilah dan para pengekornya di zaman sekarang dari kalangan orang yang tak mempercayai hadits-hadits shohih yang tsabit dengan sangkaan bahwa hadits-hadits itu hanyalah hadits ahad yang tak memberikan faedah yakin. Sungguh aku telah menghancurkan sangkaan ini dalam kitabku yang berjudul “Ma’al Ustadz Ath-Thonthowiy. Semoga Allah memudahkan penyelesaiannya.

Keempat, Bumi adalah tujuh lapis seperti halnya langit. Dalam hal ini terdapat banyak hadits di dalam ash-Shohihaian dan selainnya. Semoga saja kami bisa fokus dalam mencari dan mengeluarkan hadits-hadits itu. Ini dikuatkan oleh firman Allah -Tabaroka wa Ta’ala-,

اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ وَمِنَ الْأَرْضِ مِثْلَهُنَّ [الطلاق : 12]

“Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi”. (QS. Ath-Tholaq : 12)

 

Yakni, dalam hal penciptaan dan bilangan. Karenanya, jangan anda menoleh kepada orang menafsirkannya dengan makna yang berujung kepada peniadaan kesamaan dalam hal bilangan juga, karena mereka tertipu dengan sesuatu yang dicapai oleh ilmu orang-orang barat berupa perkembangan dan bahwa mereka tak mengetahui tujuh lapis tanah. Padahal mereka (kaum barat) juga tak tahu tujuh lapis tersebut!! Nah, apakah kita mau mengingkari kalam Allah dan kalam Rasul-Nya dengan sebab kejahilan kaum barat dan selain mereka. Padahal mereka sendiri (kaum barat) mengakui bahwa setiap kali bertambah ilmu mereka tentang alam, maka bertambah pula pengetahuan mereka tentang kejahilannya akan alam ini. Maha Benar Allah saat berfirman,

وَمَا أُوتِيتُمْ مِنَ الْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا  [الإسراء : 85]

“Tidaklah kalian diberi pengetahuan, melainkan sedikit”. (QS. Al-Israa’ : 85)

 

Kelima, berhias dengan pakaian yang indah bukanlah termasuk kesombongan sedikit pun. Bahkan itu adalah perkara yang disyariatkan. Karena, Allah adalah Maha Indah. Dia mencintai sebagaimana yang dinyatakan oleh beliau -Shallallahu alaihi wa sallam- dalam momen ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Muslim dalam Shohih-nya.

Keenam, Kesombongan yang digandengkan dengan kesyirikan, dan kesombongan yang tak memasukkan  orang yang di dalam hatinya ada kesombongan sebesar atom ke dalam neraka, hanyalah kesombongan atas kebenaran  dan menolaknya setelah jelas serta mencerca manusia, tanpa haq. Karenanya, seorang muslim harus waspada dari memiliki suatu sifat seperti sifat kesombongan ini sebagaimana hal ia harus waspada dari tersifati dengan kesyirikan yang akan mengekalkan pelakunya di dalam neraka”. [Lihat Ash-Shohihah (no. 134)]

Para pembaca yang budiman, Nabi Nuh memerintahkan anaknya dengan kalimat (لاَ إِلهَ إلاَّ اللهُ), bukanlah perintah yang kosong dari suatu makna, tanpa arti. Bahkan beliau memerintahkan anaknya agar mengucapkan kalimat itu diiringi keyakinan terhadap makna dan konsekuensinya serta terus menerus bersabar di atasnya.

Syaikh Sulaiman bin Abdir Rahman Al-Hamdan –rahimahullah– berkata, “Barangsiapa yang menyatakan kalimat ini dengan ikhlash, yakin dan mengamalkan konsekuensinya serta istiqomah di atas hal itu, maka ia termasuk orang yang tak ada rasa takut sama sekali atasnya dan tak pula mereka bersedih. Hadits ini juga menunjukkan bahwa kalimat (لا إله إلا الله) adalah dzikir paling afdhol”. [Lihat Ad-Durr An-Nadhid (hal. 34)]

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Tulisan lainnya

Menata Surga dengan Tasbih dan Tahmid

Jannatul-firdaus.net

Menyebar Ilmu Syar’i



Jannatul-firdaus.net

Menyebar Ilmu Syar’i



Bagikan…

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram



Menata Surga dengan Tasbih dan Tahmid

  • Oleh: Al-Ustadz Abdul Qodir Abu Fa’izah –hafizhahullah

Setiap manusia di dunia menginginkan rumahnya adalah rumah yang bersih, indah, aman dan menyenangkan. Mereka pun banyak menghabiskan harta, tenaga, pikiran, dan lainnya dalam menata rumah dan istananya agar ia betah dan berbahagia.

Nah, surga yang kita miliki -insya Allah-, sama keadaannya dengan rumah kita di dunia, juga memerlukan perngorbanan berupa harta, waktu dan pikiran, bahkan nyawa dalam menghiasi dan menatanya.

Surga yang Allah siapkan bagi para hamba-Nya adalah tempat yang amat luas lagi datar. Kitalah yang menata dan menghiasinya dengan amal-amal sholih kita.

Salah satu diantara amalan yang akan menghiasi dan menata surga kita dengan indah adalah BER-TASBIH dan berdzikir kepada Allah –Tabaroka wa Ta’ala-.

Bertasbih kepada Allah merupakan amalan yang memiliki fadhilah (keutamaan) yang amat besar.

Seorang yang melazimi tasbih akan ditanamkan baginya pohon kurma di dalam surga.

Rasulullah –Shallallahu alaihi wa sallam– menjelaskan keutamaan tasbih dalam sabdanya,

مَنْ قَالَ : سُبْحَانَ اللهِ العَظِيمِ وَبِحَمْدِهِ ، غُرِسَتْ لَهُ نَخْلَةٌ فِي الجَنَّةِ

“Barangsiapa yang berkata, “Subhanallahil azhim wa bihamdih”, niscaya akan ditanamkan baginya sebuah pohon kurma dalam surga”. [HR. At-Tirmidziy dalam As-Sunan (3464 & 3465). Hadits ini dinilai shohih oleh Al-Albaniy dalam Shohih At-Targhib (1564)]

Al-Imam Abu Bakr As-Suyuthiy –rahimahullah– berkata,

معنى التسبيح تنزيه الله عما لا يليق به من كل نقص، قال الكرماني: فالتسبيح إشارة إلى الجلال والتحميد إشارة إلى صفات الإكرام

“Makna tasbih adalah menyucikan Allah dari segala perkara yang tidak layak bagi-Nya berupa segala macam kekurangan”.

Al-Kirmaniy –rahimahullah– berkata“Jadi, tasbih merupakan isyarat kepada kemuliaan dan tahmid isyarat kepada sifat pemuliaan”. [Lihat Tanqih Al-Qoul Al-Hatsits (hal. 102)]

Para pembaca yang budiman, jadikanlah tasbih bagian dari kehidupanmu. Isilah hari-harimu dengan tasbih dan dzikir kepada Allah di saat-saat senggang.

Jauhkanlah dirimu dari hal-hal yang tiada guna bagi akhiratmu. Janganlah engkau menghabiskan waktumu untuk mengikuti siaran-siaran televisi yang akan menguras waktumu.

Tapi gunakanlah dalam memperbanyak tasbih yang akan menjadi pohon yang akan kau rasakan buahnya di akhirat.

Al-Imam Ibnul Jauziy Ad-Dimasyqiy rahimahullah– berkata,

((فانتبه يا بني لنفسك، واندم على ما مضى من تفريطك، واجتهد في لحاق الكاملين، ما دام في الوقت سعة، واسق غصنك ما دامت فيه رطوبة، واذكر ساعتك التي ضاعت فكفى بها عظة، ذهبت لذة الكسل فيها، وفاتت مراتب الفضائل… فانظر إلى مضيع الساعات كم يفوته من النخيل!)) صيد الخاطر – (1 / 504)

“Perhatikanlah dirimu –wahai anakku- dan sesali sesuatu yang berlalu berupa sikap teledor serta bersungguh-sungguhlah dalam mengejar orang-orang yang sempurna selama dalam waktumu ada kelonggaran dan siramilah dahanmu selama padanya terdapat kesegaran. Ingatlah waktumu yang telah hilang, lalu cukuplah ia sebagai nasihat. Lezatnya kemalasan telah pergi bersamanya dan telah luput derajat-derajat keutamaan…Perhatikanlah orang yang menyia-nyiakan waktunya, alangkah banyaknya pohon kurma yang ia sia-siakan (yakni, di dalam surga, -pen.)”. [Lihat Shoidul Khothir (hal. 504-505), oleh Ibnul Jauziy, cet. Dar Al-Qolam, 1425 H]

Hadits yang semisal ini amat baik direnungi oleh orang-orang yang menghabiskan waktunya dengan membaca koran, sibuk menghabiskan waktu dengan facebooktwitter, berita politik dan gossip, film dan selainnya diantara perkara yang tiada berguna di akhirat!!

Perbanyaklah tanaman surga di akhirat dengan memperbanyak dzikir ketika masih hidup di dunia. sebab, tanaman ini akan sangat bermanfaat bagi pemiliknya di akhirat.

Rasulullah –Shallallahu alaihi wa sallam– bersabda,

لَقِيتُ إِبْرَاهِيمَ لَيْلَةَ أُسْرِيَ بِي فَقَالَ : يَا مُحَمَّدُ ، أَقْرِئْ أُمَّتَكَ مِنِّي السَّلاَمَ وَأَخْبِرْهُمْ أَنَّ الجَنَّةَ طَيِّبَةُ التُّرْبَةِ عَذْبَةُ الْمَاءِ ، وَأَنَّهَا قِيعَانٌ ، وَأَنَّ غِرَاسَهَا سُبْحَانَ اللهِ وَالحَمْدُ لِلَّهِ وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ.

“Aku telah menjumpai Ibrahim di malam aku di-isra’-kan. Dia berkata, “Wahai Muhammad, sampaikanlah salam dariku kepada umatmu dan kabarilah bahwa surga, tanahnya baik dan airnya tawar dan bahwa surga itu tanah datar serta tanamannya adalah “subhanallah walhamdulillah wa laa ilaaha illallah wallahu akbar”. [HR. At-Tirmidziy dalam Sunan-nya (3462). Di-hasan-kan oleh Al-Albaniy dalam Ash-Shohihah (no. 105)]

Kalimat-kalimat yang agung ini sangat besar keutamaannya, karena ia adalah sebab Allah akan memberikan pohon yang rindang kepada pengucapnya. Pohon yang ia gunakan bersenang-senang di bawahnya.

Al-Imam Abul Ulaa Al-Mubarokfuriy –rahimahullah– berkata,

((والمعنى أعلمهم بأن هذه الكلمات ونحوها سبب لدخول قائلها الجنة ولكثرة أشجار منزلة فيها لأنه كلما كررها نبت له أشجار بعددها)) تحفة الأحوذي – (9 / 303)

“Maknanya, beritahulah mereka bahwa kalimat-kalimat ini dan sejenisnya merupakan sebab bagi masuknya orang yang mengucapkannya ke dalam surga dan sebab bagi banyaknya pepohonan di dalamnya. Karena, setiap kali ia mengulanginya, maka tumbuhlah baginya pepohonan sejumlah ucapannya”. [Syarah Sunan At-Tirmidziy (9/303)]

Namun tentunya pepohonan yang rindang lagi sejuk itu tak akan didapatkan, kecuali orang-orang yang senantiasa membasahi lisannya dengan dzikrullah.

Al-Imam Syarofuddin Ath-Thibiy –rahimahullah– berkata,

((إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى أَوْجَدَ بِفَضْلِهِ فِيهَا أَشْجَارًا وَقُصُورًا، بِحَسَبِ أَعْمَالِ الْعَامِلِينَ لِكُلِّ عَامِلٍ مَا يَخْتَصُّ بِهِ بِسَبَبِ عَمَلِهِ، ثُمَّ إِنَّهُ تَعَالَى لَمَّا يَسَّرَهُ لِمَا خُلِقَ لَهُ مِنَ الْعَمَلِ لِيَنَالَ بِذَلِكَ الثَّوَابَ جَعَلَهُ كَالْغَارِسِ لِتِلْكَ الْأَشْجَارِ)) مرقاة المفاتيح شرح مشكاة المصابيح – (4 / 1604)

“Sesungguhnya Allah -Ta’ala- menciptakan pepohonan dan istana di dalamnya berkat karunia-Nya, menurut amalan para pelakunya. Setiap pelaku mendapatkan sesuatu yang khusus baginya berkat amalnya. Kemudian Allah -Ta’ala- memberinya kemudahan kepada sesuatu yang ia diciptakan untuknya berupa amalan agar ia kelak meraih pahala dengannya. Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- menganggap si pengucap kalimat-kalimat itu laksana penanam bagi pepohonan surga itu…”. [Lihat Mirqoh Al-Mafatih (4/1604)]

Para pembaca yang budiman, “Tatkala sebab bagi Allah dalam menciptakan pepohonan itu adalah amal pelaku, maka disandarkanlah penanaman itu kepadanya. Sedang maksudnya adalah menjelaskan enaknya surga, memberikan rasa rindu kepadanya dan anjuran untuk terus mengucapkan kalimat-kalimat itu yang merupakan al-baqiyat ash-sholihat (amal-amal saleh yang kekal)”. [Lihat Faidhul Qodir (4/7) karya Al-Munawiy]

Allah –Azza wa Jalla– berfirman,

وَيَزِيدُ اللَّهُ الَّذِينَ اهْتَدَوْا هُدًى وَالْبَاقِيَاتُ الصَّالِحَاتُ خَيْرٌ عِنْدَ رَبِّكَ ثَوَابًا وَخَيْرٌ مَرَدًّا [مريم : 76]

“Dan Allah akan menambah petunjuk kepada mereka yang telah mendapat petunjuk. Dan amal-amal saleh yang kekal itu lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu dan lebih baik kesudahannya”. (QS.  Maryam : 76)

 

Nabi –Shallallahu alaihi wa sallam– bersabda,

أَلَا وَإِنَّ سُبْحَانَ اللهِ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ، وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَاللهُ أَكْبَرُ هُنَّ الْبَاقِيَاتُ الصَّالِحَاتُ

“Ingatlah, sesungguhnya kalimat Subhanallah, walhamdulillah wa laa ilaaha illallah wallahu akbar adalah “al-baqiyat ash-sholihat” (amal-amal saleh yang kekal)”. [HR. Ahmad dalam Al-Musnad (4/267). Syaikh Syu’aib Al-Arna’uth menilai hadits ini shohih dalam Takhrij Al-Musnad (no. 18353)]

Isilah hari-hari kita dengan tasbihtahmid, dan amalan-amalan sholih lainnya, yang akan kita rasakan manfaatnya yang luar biasa.

Semoga Allah –Tabaroka wa Ta’ala– menjadikan kita termasuk golongan yang mendapatkan istana surga yang berhias dengan berbagai keindahan, dan kenikmatan.

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Tulisan lainnya

Aturan Pukul-Memukul dalam Bimbingan Al-Qur’an & Sunnah

Jannatul-firdaus.net

Menyebar Ilmu Syar’i



Jannatul-firdaus.net

Menyebar Ilmu Syar’i



Bagikan…

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram



Aturan Pukul-Memukul dalam Bimbingan Al-Qur’an & Sunnah

  • Oleh: Al-Ustadz Abdul Qodir Abu Fa’izah –hafizhahullah

Di sebagian kesempatan, kami pernah menyaksikan seorang bocah cilik menampar dan memukul wajah temannya, tanpa merasa bersalah.

Ketika ditanya dan dinasihati agar jangan memukul wajah teman, maka ia beralasan bahwa itu cuma canda dan gurau.

Ia menganggap bahwa memukul orang boleh dan bebas saja, tanpa aturan!!

Kesalahan dan kejadian ini membekas dalam lubuk hati kami, yang mendorong kami agar sedikit berbicara seputar aturan pukul-memukul dalam syariat Islam yang suci.

Di sisi lain, disana ada sekelompok manusia yang menganggap bahwa memukul adalah perkara yang dilarang secara total, sehingga ia menyangka bahwa dalam dunia pendidikan –misalnya- tak boleh memukul anak didik, walaupun itu adalah pukulan mendidik. Ini jelas kesalahan berpikir!!!

 

Syariat Islam yang indah ini memiliki sikap dan posisi pertengahan: tidak membolehkan pemukulan secara mutlak dan tidak pula melarang secara mutlak.

Jika ia adalah pukulan yang dibutuhkan, maka ia adalah terapi pendidikan yang tepat dan efektif. Namun tentunya pukulan itu tidaklah berlebihan sampai menyebabkan tubuh anak memar atau terluka.

Di dalam Al-Kitab, Allah menyebutkan bolehnya seorang suami memukul istri yang melakukan nusyuz (pembangkangan dan kedurhakaan) di hadapan suami.

Sang istri tak mau lagi menurut dalam perkara yang ma’ruf. Nasihat dan pisah tempat tidur pun tak lagi bermanfaat.

Nah, tak ada jalan lain lagi, maka disinilah dibolehkan suami memukul istrinya dengan pukulan yang tidak melampaui batas.

Allah –Ta’ala– berfirman,

وَاللَّاتِي تَخَافُونَ نُشُوزَهُنَّ فَعِظُوهُنَّ وَاهْجُرُوهُنَّ فِي الْمَضَاجِعِ وَاضْرِبُوهُنَّ فَإِنْ أَطَعْنَكُمْ فَلَا تَبْغُوا عَلَيْهِنَّ سَبِيلًا إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيًّا كَبِيرًا  [النساء : 34]

“Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasihatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, Maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha besar”. (QS. An-Nisaa’ : 34)

 

Penafsir Ulung, Abdullah bin Abbas -radhiyallahu anhu- berkata,

تَهْجُرُهَا فِي الْمَضْجَعِ، فَإِنْ أَقْبَلَتْ، وَإِلاَّ فَقَدْ أَذِنَ اللهُ لَكَ أَنْ تَضْرِبَهَا ضَرْبًا غَيْرَ مُبَرِّحٍ، وَلاَ تَكْسِرْ لَهَا عَظْمًا

“Engkau tinggalkan ia (istri) di tempat tidur. Jika ia menghadap (bertobat), maka itulah yang diharap. Namun jika tidak, maka sungguh Allah telah mengizinkan bagimu untuk memukulnya dengan pukulan yang tidak membekas dan janganlah engkau mematahkan tulangnya”. [HR. Ath-Thobariy dalam Jami’ Al-Bayan *(8/314/no. 9382)]

Ketika memukul seseorang karena ada alasan yang dibenarkan, maka hendaknya seseorang menghindari wajah. Karena wajah merupakan kemuliaan seseorang dan padanya terdapat alat dan organ tubuh yang vital dan peka.

Tak heran bila Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- melarang seseorang dari memukul wajah dan menyakitinya.

Mu’awiyah bin Haidah Al-Qusyairiy -radhiyallahu anhu- berkata,

يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا حَقُّ زَوْجَةِ أَحَدِنَا عَلَيْهِ قَالَ أَنْ تُطْعِمَهَا إِذَا طَعِمْتَ وَتَكْسُوَهَا إِذَا اكْتَسَيْتَ أَوْ اكْتَسَبْتَ وَلَا تَضْرِبْ الْوَجْهَ وَلَا تُقَبِّحْ وَلَا تَهْجُرْ إِلَّا فِي الْبَيْتِ

“Wahai Rasulullah, apa hak seorang istri diantara kami atas suaminya?” Beliau bersabda, “Memberinya makan, bila engkau makan; memberinya pakaian, bila kau berpakaian; dan janganlah engkau memukul wajah, jangan berkata buruk dan jangan memboikotnya, kecuali di rumah”. [HR. Abu Dawud (no. 2142), Ibnu Majah (no. 1850) dan Ahmad dalam Al-Musnad (5/5/no. 20045). Hadits ini di-shohih-kan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Ghoyah Al-Marom (no. 244)]

Ulama Negeri India, Syamsul Haqq Al-Azhim Abaadiy rahimahullah– berkata menjelaskan sebab larangan itu,

“فإنه أعظم الأعضاء وأظهرها ومشتمل على أجزاء شريفة وأعضاء لطيفة، وفيه دليل على وجوب اجتناب الوجه عند التأديب.” اهـ من عون المعبود – (6 / 127)

“Karena, wajah adalah anggota badan yang paling agung dan paling tampak serta memiliki organ-organ tubuh yang mulia lagi lembut. Nah, di dalam hadits ini terdapat dalil tentang wajibnya menjauhi wajah di saat memberi pelajaran (yakni, hukuman)”. [Lihat Awnul Ma’bud *(6/127), cet. Dar Al-Kutub Al-Ilmiyyah, 1415 H]

Hadits ini menunjukkan larangan memukul wajah, baik saat bercanda, apalagi sungguhan!!

Di dalam hadits ini juga terdapat hujjah yang menjelaskan haramnya PERMAINAN TINJU, karena di dalam tinju seorang pemain boleh memukul wajah lawannya.

Sama dengan tinju, olah raga bela diri yang membolehkan memukul wajah.

Karenanya, kami nasihatkan kepada para pelatih bela diri agar jangan mengajarkan kepada anak didiknya untuk memukul wajah saat berlatih atau bertanding.

Para pembaca yang budiman, memukul bukanlah perkara yang tercela secara mutlak, bahkan ia adalah salah satu diantara sarana ta’dib (pengajaran) yang memberikan manfaat bila dibutuhkan.

Di dalam Islam, Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- memberikan bimbingan kepada para orang tua selaku pendidik pertama di rumah agar menggunakan sarana memukul ini, bila seorang anak –misalnya- enggan melaksanakan sholat diusia 10 tahun.

Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda,

مُرُوا أَوْلاَدَكُمْ بِالصَّلاَةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرِ سِنِينَ وَفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ فِى الْمَضَاجِعِ

“Perintahkanlah anakmu melaksanakan sholat di usia tujuh tahun dan pukullah karena meninggalkan sholat di usia 10 tahun serta pisahkanlah diantara mereka dalam hal tempat tidur”. [HR. Abu Dawud dalam Sunan-nya (no. 495). Hadits ini di-hasan-kan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Takhrij Al-Misykah (no. 572)]

Al-Alaqiy –rahimahullah– berkata saat mengomentari hadits ini,

“إنما أمر بالضرب لعشر لأنه حد يتحمل فيه الضرب غالبا والمراد بالضرب ضربا غير مبرح وأن يتقي الوجه في الضرب.” اهـ من تحفة الأحوذي – (2 / 370)

“Hanyalah orang tua diperintah untuk memukul anaknya di usia 10 tahun, karena  usia seperti itu merupakan batas seorang anak mampu menanggung (menghadapi) pukulan pada galibnya. Yang dimaksud dengan “pukulan” adalah pukulan yang tidak membekas dan hendaknya wajah dihindari”. [Lihat Tuhfah Al-Ahwadziy *(2/370), cet. Dar Al-Kutub Al-Ilmiyyah]

Jadi, memukul terkadang menjadi sarana jitu dalam meluruskan dan mengarahkan seorang manusia. Karena, memang manusia memiliki karakter dan tabiat yang berbeda serta pelanggaran yang berlainan.

Sebagian orang terkadang cukup dengan nasihat, ia sudah sadar. Sebagian lagi, ada yang sadar bila ditegur dengan tegas. Ada juga yang tak sadar, kecuali diberi pukulan yang menyadarkannya.

Seorang peminum khomer (minuman yang memabukkan) atau pecandu narkoba, ia tak akan sadar, kecuali ia dipukuli.

Sahabat Abu Hurairah –radhiyallahu anhu– berkata,

أُتِيَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِرَجُلٍ قَدْ شَرِبَ قَالَ اضْرِبُوهُ قَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ فَمِنَّا الضَّارِبُ بِيَدِهِ وَالضَّارِبُ بِنَعْلِهِ وَالضَّارِبُ بِثَوْبِهِ فَلَمَّا انْصَرَفَ قَالَ بَعْضُ الْقَوْمِ أَخْزَاكَ اللهُ قَالَ لَا تَقُولُوا هَكَذَا لَا تُعِينُوا عَلَيْهِ الشَّيْطَانَ

“Pernah didatangkan seorang laki-laki yang telah minum khomer kepada Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-. Beliau bersabda, “Pukullah dia!!” Abu Hurairah berkata, “Diantara kami ada yang memukul dengan tangannya, ada yang memukul dengan sandalnya dan yang memukul dengan pakaiannya (setelah dipilin). Tatkala selesai (dari memukul), maka sebagian orang berkata, “Semoga Allah menghinakanmu!!” Beliau bersabda, “Janganlah kalian mengucapkan hal seperti ini; janganlah membantu setan atasnya”. [HR. Al-Bukhoriy dalam Shohih-nya (6777)]

Pemukulan juga pernah terjadi di zaman Umar –radhiyallahu anhu– ketika beliau menyaksikan orang yang berbuka di bulan Ramadhan.

Abdullah bin Abil Hudzail Al-Anaziy rahimahullah– berkata,

كُنْتُ جَالِسًا عِنْدَ عُمَرَ، فَجِيْءَ بِشَيْخٍ نَشْوَانَ فِيْ رَمَضَانَ، قال: وَيْلَكَ، وَصِبْيَانُنَا صِيَامٌ؟ فَضَرَبَهُ ثَمَانِيْنَ

“Aku pernah duduk di sisi Umar, lalu didatangkanlah seorang bapak tua yang mabuk di bulan Ramadhan. Umar berkata, “Celaka engkau!! Apakah anak-anak kecil kami saja berpuasa?” Kemudian beliaupun memukul bapak tua itu sebanyak 80 kali”. [HR. Al-Bukhoriy dalam Shohih-nya secara mu’allaq, Abdur Rozzaq dalam Al-Mushonnaf (no. 17043), Ibnu Sa’ad dalam Ath-Thobaqot Al-Kubro (6/115) dan Ibnul Ja’ad Al-Jauhariy dalam Al-Musnad (no. 595)]

Dari sekian keterangan dari Al-Qur’an, Sunnah dan kalam para ulama, kita dapat menarik kesimpulan bahwa memukul dalam Islam merupakan sarana pendidikan dan pengajaran yang dianjurkan dalam agama.

Namun pukulan itu tentunya tidak berlebihan sampai memberikan bekas atau luka dan hendaknya pukulan yang dilakukan bukan tertuju pada wajah.

Semua ini menunjukkan kesalahan pemikiran sebagian praktisi pendidikan yang menyatakan bahwa memukul dalam dunia pendidikan, tak boleh secara mutlak, dan seorang guru boleh saja dituntut jika memukul anak didiknya!!!

Subhanallah, jelas pemikiran seperti ini salah!! Sebab syariat kita membolehkan hal itu sesuai kadar dan batasannya. Memang betul bahwa memukul bukanlah segalanya dalam mengatasi problema anak didik. Tapi ia merupakan salah satu diantara terapi yang dibenarkan dalam agama.

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Tulisan lainnya

Kabar Gembira dan solusi di Tengah Keterpurukan Umat

Jannatul-firdaus.net

Menyebar Ilmu Syar’i



Jannatul-firdaus.net

Menyebar Ilmu Syar’i



Bagikan…

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram



Kabar Gembira dan solusi di Tengah Keterpurukan Umat

  • Oleh: Al-Ustadz Abdul Qodir Abu Fa’izah –hafizhahullah

Dimana-mana kita telah menyaksikan, mendengar dan mendapatkan berita tertekan atau tertindasnya Islam dan kaum muslimin.

Sebaliknya kaum kafir semakin menunjukkan taring kebuasannya di hadapan kaum muslimin bagaikan singa yang siap menerkam mangsanya.

Islam dan pengikutnya selalu disempitkan geraknya oleh orang-orang kafir sehingga kebenaran yang akan disuarakan oleh penegak dan pembawa panji kebenaran terpinggirkan, bahkan hampir tenggelam oleh kekuatan kaum kafir dan segala makarnya dalam memadamkan cahaya kebenaran Islam.

Allah –ta’ala– berfirman,

يُرِيدُونَ أَنْ يُطْفِئُوا نُورَ اللَّهِ بِأَفْوَاهِهِمْ وَيَأْبَى اللَّهُ إِلَّا أَنْ يُتِمَّ نُورَهُ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ (32) هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ (33) [التوبة/32، 33]

“Mereka (kaum kafir) berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan- ucapan) mereka, dan Allah tidak menghendaki, selain menyempurnakan cahayanya, walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukai. Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya (dengan membawa) petunjuk (Al-Quran) dan agama yang benar untuk dimenangkan-Nya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrikin tidak menyukai”. (QS. At-Taubah : 32-33)

Ahli Tafsir Jazirah Arab, Syaikh Abdur Rahman bin Nashir As-Sa’diy rahimahullah– berkata,

ونور اللّه: دينه الذي أرسل به الرسل، وأنزل به الكتب، وسماه اللّه نورا، لأنه يستنار به في ظلمات الجهل والأديان الباطلة، فإنه علم بالحق، وعمل بالحق، وما عداه فإنه بضده، فهؤلاء اليهود والنصارى ومن ضاهوه من المشركين، يريدون أن يطفئوا نور اللّه بمجرد أقوالهم، التي ليس عليها دليل أصلا. (انظر : تيسير الكريم الرحمن – ص 335)

“Cahaya Allah adalah agama-Nya yang Dia mengutus para rasul untuk membawanya dan menurunkan kitab-kitab dengannya. Allah menamainya sebagai “cahaya”, karena ia (agama Islam) dijadikan pelita di dalam gelapnya kejahilan dan agama-agama batil. Sebab Islam itu adalah ilmu tentang kebenaran dan pengamalan terhadap kebenaran. Adapun selainnya, maka justru sebaliknya!! Orang-orang Yahudi dan Nasrani (Kristen) serta orang-orang serupa dengan mereka dari kalangan kaum musyrikin, menginginkan untuk memadamkan cahaya (agama) Allah dengan sekedar ucapan-ucapan mereka yang pada asalnya tidak didasari oleh suatu dalil”. [Lihat Taisir Al-Karim Ar-Rahman (hal. 335)]

Orang-orang kafir dengan berbagai macam tipe dan jenisnya, semuanya bersepakat ingin memadamkan cahaya Islam yang dibawa oleh Nabi –Shallallahu alaihi wa sallam– kepada umat manusia.

Upaya memadamkan cahaya Islam, mereka lakukan dengan berbagai macam propaganda busuk yang mengkambinghitamkan Islam, menyudutkan, merendahkan dan menekannya.

Namun semua upaya itu tidaklah berarti di sisi Allah, sebab Dia ingin menyempurnakan cahaya Islam dan memenangkannya di atas segala agama batil!!!

Di dalam ayat ini terdapat busyro (berita gembira) bagi kaum beriman bahwa Islam akan dimenangkan atas semua agama batil. Inilah yang diisyaratkan oleh Nabi –Shallallahu alaihi wa sallam– dalam beberapa hadits yang shohih dari beliau.

Nabi –Shallallahu alaihi wa sallam– bersabda,

إِنَّ اللَّهَ زَوَى لِىَ الأَرْضَ فَرَأَيْتُ مَشَارِقَهَا وَمَغَارِبَهَا وَإِنَّ أُمَّتِى سَيَبْلُغُ مُلْكُهَا مَا زُوِىَ لِى مِنْهَا

“Sesungguhnya Allah telah menghimpun bumi bagiku. Karenanya, aku melihat bagian-bagian timur dan baratnya. Sesungguhnya umatku, kerajaannya (kekuasaannya) akan mencapai sesuatu yang telah dihimpunkan bagiku dari bumi itu”. [HR. Muslim dalam Kitab Al-Fitan wa Asyrooh As-Sa’ah (no. 2889)]

Mungkin ada diantara kita yang bertanya dalam hati, “Siapa tahu kejayaan itu telah berlalu?”

Jawabnya“Tidaklah demikian, kejayaan Islam tidaklah berakhir, bahkan akan ada saatnya kejayaan itu kembali di akhir zaman sebagaimana yang akan anda lihat dalam hadits-hadits lainnya di bawah ini”.

 

Dari A’isyah –radhiyallahu anha– berkata, “Aku pernah mendengarkan Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda,

لاَ يَذْهَبُ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ حَتَّى تُعْبَدَ اللاَّتُ وَالْعُزَّى . فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنْ كُنْتُ لأَظُنُّ حِينَ أَنْزَلَ اللَّهُ (هُوَ الَّذِى أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ) أَنَّ ذَلِكَ تَامًّا قَالَ: إِنَّهُ سَيَكُونُ مِنْ ذَلِكَ مَا شَاءَ اللَّهُ ثُمَّ يَبْعَثُ اللَّهُ رِيحًا طَيِّبَةً فَتَوَفَّى كُلَّ مَنْ فِى قَلْبِهِ مِثْقَالُ حَبَّةِ خَرْدَلٍ مِنْ إِيمَانٍ فَيَبْقَى مَنْ لاَ خَيْرَ فِيهِ فَيَرْجِعُونَ إِلَى دِينِ آبَائِهِمْ

“Siang dan malam tak akan hilang sampai Laata dan Uzza disembah lagi”. Aku (A’isyah) katakan, “Wahai Rasulullah, sunguh aku kira -saat Allah turunkan ayat (lalu beliau bacakan ayat 32 dari Surah At-Taubah di atas)- bahwa hal itu (yakni, kemenangan Islam) telah sempurna”.

 

Beliau bersabda, “Sesungguhnya kemenangan itu kelak akan terjadi sebagaimana yang Allah kehendaki. Kemudian Allah akan mengutus angin yang harum. Allah pun mewafatkan semua orang yang di dalam hatinya ada keimanan seberat biji sawi. Akhirnya, tersisalah orang-orang yang tak ada kebaikan sama sekali pada dirinya. Lalu mereka kembali kepada kepada agama nenek moyang mereka”. [HR. Muslim dalam Shohih-nya (2907)]

Ulama Negeri Syam, Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albaniy rahimahullah– usai membawakan ayat di atas dan sebelum membawakan hadits ini berkata,

تبشرنا هذه الآية الكريمة بأن المستقبل للإسلام بسيطرته و ظهوره و حكمه على الأديان كلها , و قد يظن بعض الناس أن ذلك قد تحقق في عهده صلى الله عليه وسلم و عهد الخلفاء الراشدين و الملوك الصالحين , و ليس كذلك , فالذي تحقق إنما هو جزء من هذا الوعد الصادق (انظر : سلسلة الأحاديث الصحيحة، 1/ 31)

“Ayat yang mulia ini memberikan kabar gembira kepada kita bahwa masa depan Islam dengan berkuasanya Islam, menang dan berhukumnya Islam atas seluruh agama. Terkadang sebagian orang menyangka bahwa hal itu telah terealisasi di zaman beliau -Shallallahu alaihi wa sallam-, zaman Khulafa’ Rosyidin dan raja-raja sholih. Padahal bukanlah demikian halnya!! Kemenangan yang terealisasi hanyalah sebagian dari janji ini”. [Lihat Silsilah Al-Ahadits Ash-Shohihah (1/31)]

Kejayaan Islam tidaklah terbatas pada zaman Nabi –Shallallahu alaihi wa sallam-, bahkan akan meluas dan merata sampai tak ada tempat dan negeri, kecuali akan dikuasai oleh Islam.

Dari Tamim Ad-Dariy –radhiyallahu anhu– berkata,

“Aku telah mendengar Rasulullah –Shallallahu alaihi wa sallam– bersabda,

لَيَبْلُغَنَّ هَذَا الأَمْرُ مَا بَلَغَ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ ، وَلاَ يَتْرُكُ اللَّهُ بَيْتَ مَدَرٍ وَلاَ وَبَرٍ إِلاَّ أَدْخَلَهُ اللَّهُ هَذَا الدِّينَ ، بِعِزِّ عَزِيزٍ أَوْ بِذُلِّ ذَلِيلٍ ، عِزًّا يُعِزُّ اللَّهُ بِهِ الإِِسْلاَمَ ، وَذُلاًّ يُذِلُّ اللَّهُ بِهِ الْكُفْرَ.

“Urusan (agama) ini akan mencapai sesuatu yang dicapai oleh malam dan siang. Allah tak akan menyisakan rumah kota dan pedalaman, kecuali Allah akan memasukkan agama ini ke dalamnya dengan kemuliaan orang yang mulia dan dengan kehinaan orang yang hina; kemuliaan yang Allah akan memuliakan dengan Islam dan kehinaan yang akan menghinakan dengannya kekafiran”. [HR. Ahmad dalam Al-Musnad (4/103). Dinilai shohih oleh Al-Albaniy dalam Ash-Shohihah (no. 3)]

Hanya saja kejayaan dan kemenangan tentunya akan diraih oleh kaum muslimin dengan kesabaran, dan usaha keras dari mereka, bukan berpangku tangan dan sekedar berangan-angan. Kaum muslimin harus menguatkan fisik, materi dan iman mereka. Ini yang harus diusahakankan, jangan tergesa-gesa!! Kemenangan bukan hanya sekedar emosi dan semangat belaka!!!

Khobbab bin Al-Arott –radhiyallahu anhu– berkata,

أَتَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ مُتَوَسِّدٌ بُرْدَةً (بُرْدَهُ) وَهُوَ فِي ظِلِّ الْكَعْبَةِ وَقَدْ لَقِينَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ شِدَّةً فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللهِ أَلَا تَدْعُو اللهَ فَقَعَدَ وَهُوَ مُحْمَرٌّ وَجْهُهُ فَقَالَ لَقَدْ كَانَ مَنْ قَبْلَكُمْ لَيُمْشَطُ بِمِشَاطِ (بِأَمْشَاطِ) الْحَدِيدِ مَا دُونَ عِظَامِهِ مِنْ لَحْمٍ أَوْ عَصَبٍ مَا يَصْرِفُهُ (يَصْرِفُ) ذَلِكَ عَنْ دِينِهِ وَيُوضَعُ الْمِنْشَارُ عَلَى مَفْرِقِ رَأْسِهِ فَيُشَقُّ بِاثْنَيْنِ مَا يَصْرِفُهُ ذَلِكَ عَنْ دِينِهِ وَلَيُتِمَّنَّ اللهُ هَذَا الْأَمْرَ حَتَّى يَسِيرَ الرَّاكِبُ مِنْ صَنْعَاءَ إِلَى حَضْرَمَوْتَ مَا يَخَافُ إِلَّا اللهَ * زَادَ بَيَانٌ: وَالذِّئْبَ عَلَى غَنَمِهِ

“Aku mendatangi Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-, sedangkan beliau berbantalkan kain selimut, di bawah bayangan Ka’bah. Sungguh kami telah mendapati sikap keras dari kaum musyrikin. Aku berkata, “Wahai Rasulullah, kenapa anda tak berdoa kepada Allah?” Tiba-tiba beliau duduk, sedang wajahnya memerah seraya bersabda, “Sungguh orang-orang sebelum kalian, dengan sisir besi, disisirilah sesuatu sebelum tulangnya berupa daging atau urat. Hal itu tidaklah memalingkan mereka dari agamanya. Gergaji diletakkan di atas sigaran (belahan) kepalanya, lalu dibelah menjadi dua. Hal itu tidaklah memalingkan mereka dari agamanya. Sungguh Allah akan menyempurnakan urusan (agama) ini sampai seorang pengendara akan berjalan dari kota Shon’a menuju Hadhromaut, ia tak takut, kecuali kepada Allah dan serigala atas kambingnya”. [HR. Al-Bukhoriy dalam Shohih-nya (3852)] 

 

“Masa depan adalah untuk Islam!! Allah akan menolong agama-Nya dengan kemuliaan orang yang mulia dan kehinaan orang yang hina; suatu kemuliaan yang Allah muliakan dengannya Islam dan kaum muslimin dan suatu kehinaan yang Allah hinakan dengannya kekafiran dan pengikutnya…Hadits-hadits dalam perkara ini adalah mutawatir”. [Lihat Bahjah An-Nazhirin (1/101)]

Para pembaca yang budiman, sambutlah datangnya kemenangan dan kejayaan Islam di akhir zaman dengan kesabaran dan usaha, baik materiil, maupun yang lainnya berupa usaha nyata yang baik menurut syariat.

Dengan kata lain, umat harus kembali kepada prinsip agama dan syariatnya yang suci.

Rasulullah –Shallallahu alaihi wa sallam– bersabda,

إِذَا تَبَايَعْتُمْ بِالْعِيْنَةِ وَأَخَذْتُمْ أَذْنَابَ الْبَقَرِ وَرَضِيْتُمْ بِالزَّرْعِ وَتَرَكْتُمُ الْجِهَادَ سَلَّطَ اللهُ عَلَيْكُمْ ذُلاًّ لاَ يَنْزِعُهُ حَتَّى تَرْجِعُوْا إِلَى دِيْنِكُمْ

“Apabila kalian melakukan transaksi “al-inah”(riba) dan kalian sibuk beternak sapi, serta kalian rela (puas) dengan bercocok tanam dan kalian meninggalkan jihad, pastilah Allah menimpakan kehinaan kepada kalian, dan Allah tidak akan melepaskan kehinaan itu dari kalian sebelum kalian kembali ke agama kalian”. [HR. Ahmad dalam Al-Musnad (4825), Ath-Thobraniy dalam Al-Mu’jam Al-Kabir (3/208/1), dan lainnya. Hadits ini di-shohih-kan oleh Al-Albaniy dalam Ash-Shohihah (no. 11)]

Di dalam hadits ini terdapat peringatan kaum muslimin bahwa apabila mereka meninggalkan jihad dan ajaran agama, lalu menyibukkan diri dengan dunia, maka kehinaan akan menimpa mereka.

Al-Imam Izzuddin Abu Ibrahim Al-Amir Ash-Shon’aniy –rahimahullah– berkata,

وَفِي هَذِهِ الْعِبَارَةُ زَجْرٌ بَالِغٌ وَتَقْرِيعٌ شَدِيدٌ حَتَّى جَعَلَ ذَلِكَ بِمَنْزِلَةِ الرِّدَّةِ وَفِيهِ الْحَثُّ عَلَى الْجِهَادِ. (انظر : سبل السلام – (2 / 58)

“Di dalam ungkapan ini terdapat celaan mendalam dan teguran keras sampai mendudukkan hal seperti kemurtadan. Di dalam hadits ini terdapat dorongan kepada jihad.” [Lihat Subul As-Salam (2/58)]

Jika teguran keras yang terdapat di dalam hadits ini, kita tidak indahkan dan perhatikan dengan baik, maka yakin dan pasti kehinaan, keterpurukan, kemunduran dan kelemahan akan mendera umat ini. Kita sibuk masing-masing memperhatikan kehidupan dunia kita, dan pada gilirannya kesenangan dunia yang indah membuat kita takut mati di jalan Allah demi mempertahankan dan mendakwahkan agama ini.

Al-Imam Syamsul Haqq Al-Azhim Abadiy –rahimahullah– berkata,

وسبب هذا الذل والله أعلم أنهم لما تركوا الجهاد في سبيل الله الذي فيه عز الإسلام وإظهاره على كل دين عاملهم الله بنقيضه وهو إنزال الذلة بهم فصاروا يمشون خلف أذناب البقر بعد أن كانوا يركبون على ظهور الخيل التي هي أعز مكان.” (انظر : عون المعبود – (9 / 242)

“Sebab kehinaan ini –Wallahu A’lam- bahwa mereka (kaum muslimin) tatkala meninggalkan jihad di Jalan Allah yang di dalam terdapat kewibawaan Islam dan kejayaannya di atas seluruh agama, maka Allah membalas mereka dengan sebaliknya yakni, dengan diturunkannya kehinaan pada mereka (kaum muslimin). Akhirnya, mereka pun berjalan di belakang ekor-ekor sapi, dimana sebelumnya menunggangi pungggung-punggung kuda yang merupakan tempat termulia.” [Lihat Aun Al-Ma’bud (9/242)]

Ketika kaum muslimin menyelesihi tuntunan agama yang terdapat di dalam Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya, maka mereka akan mendapatkan kehinaan. Sebaliknya, siapapun dari kalangan umat ini yang berusaha dengan sungguh-sungguh dan bersabar serta ikhlash dalam berpegang teguh dengan ajaran-ajaran agama, maka pertolongan itu akan turun dari langit.

Al-Imam Al-Hafizh Ibnu Rojab As-Salamiy Al-Dimasyqiy –rahimahullah– berkata,

“ومن أعظم ما حصل به الذل من مخالفة أمر الرسول صلى الله عليه وسلم ترك ما كان عليه من جهاد أعداء الله، فمن سلك سبيل الرسول صلى الله عليه وسلم عز، ومن ترك الجهاد مع قدرته عليه ذل…فمن ترك ما كان عليه النبي صلى الله عليه وسلم من الجهاد مع قدرته واشتغل عنه بتحصيل الدنيا من وجوهها المباحة حصل له من الذل فكيف إذا اشتغل عن الجهاد بجمع الدنيا من وجوهها المحرمة؟!” (الحكم الجديرة بالإذاعة – (ص / 40_41)

“Diantara sebab terbesar terjadi dengannya kehinaan, penyelisihan urusan (agama) Rasul -Shallallahu alaihi wa sallam-, yakni meninggalkan sesuatu yang dahulu dipijaki oleh beliau berupa berjihad melawan musuh-musuh Allah.

Jadi, barangsiapa yang menempuh jalan Rasul -Shallallahu alaihi wa sallam-, maka ia mendapatkan kewibawaan dan kejayaan. Siapapun yang meninggalkan jihad –padahal mampu berjihad-, maka ia akan menjadi hina.

Siapa saja yang meninggalkan sesuatu yang dahulu dipijaki oleh Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- berupa jihad –padahal ia mampu berjihad- dan malah menyibukkan diri (lalai) dari jihad gara-gara mengejar dunia dari arah-arah yang mubah, maka akan terjadi baginya kehinaan. Nah, bagaimana lagi bila seseorang menyibukkan diri (lalai) dari jihad gara-gara mengumpulkan dunia dari arah-arah yang diharamkan.” [Lihat Al-Hikam Al-Jadiroh bi Al-Idza’ah (hal. 40_41) karya Ibnu Rojab Al-Hambaliy, dengan tahqiq Syaikh Abdul Qodir Al-Arna’uth, cet. Dar Al-Ma’mun, 1990]

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Tulisan lainnya

Selalu Bersinar dengan Kebaikan

Jannatul-firdaus.net

Menyebar Ilmu Syar’i



Jannatul-firdaus.net

Menyebar Ilmu Syar’i



Bagikan…

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram



Selalu Bersinar dengan Kebaikan

  • Oleh: Ustadz Dzulqarnain Muhammad Sunusi hafizhahullah
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,

إِنَّا نَرَاكَ مِنَ الْمُحْسِنِينَ

 

“Sesungguhnya Kami melihat engkau tergolong sebagai oranng-orang yang berbuat baik.” [Yusuf: 36, 78]

Pernyataan dalam ayat di atas adalah dua akhir ayat pada dua tempat yang diucapkan kepada Nabi Yusuf ‘alaihis salam. Tempat pertama diucapkan oleh dua orang yang masuk penjara bersama Nabi Yusuf ‘alaihis salam dan tempat kedua diucapkan oleh saudara-saudara Nabi Yusuf ‘alaihis salam saat beliau telah menjadi seorang pembesar di Mesir.

 

Nabi Yusuf ‘alaihis salam dikenal dengan sifat kebaikan berupa kedermawanan, amanah, kejujuran, keadilan, pembawaan yang baik, dan banyak ibadah ketika dipenjara dan ketika telah menjadi seorang pembesar Mesir.

Demikianlah seharusnya seorang muslim, berusaha menghiasi diri dengan sifat-sifat yang baik dan istiqamah pada segala keadaan: dalam kondisi sehat atau sakit, dalam keadaan lapang atau sempit, dan dalam status apapun di tengah manusia. Berbagai warna dan cuaca kehidupan tidak mengubahnya.

Sifat yang sama juga terdapat pada Nabi kita, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma bertutur,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ النَّاسِ بِالْخَيْرِ وَكَانَ أَجْوَدَ مَا يَكُونُ فِي شَهْرِ رَمَضَانَ إِنَّ جِبْرِيلَ عَلَيْهِ السَّلاَمُ كَانَ يَلْقَاهُ فِيْ كُلِّ سَنَةٍ فِيْ رَمَضَانَ حَتَّى يَنْسَلِخَ فَيَعْرِضُ عَلَيْهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْقُرْآنَ فَإِذَا لَقِيَهُ جِبْرِيلُ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ بِالْخَيْرِ مِنَ الرِّيحِ الْمُرْسَلَةِ

 

“Adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam orang yang terbaik dengan kebaikan, dan beliau lebih terbaik pada bulan Ramadhan. Sesungguhnya Jibril menjumpai beliau setiap tahun pada (bulan) Ramadhan hingga bulan berlalu. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam memperhadapkan Al-Qur`an kepada (Jibril). Apabila Jibril menjumpai (Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam), beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang lebih baik dengan kebaikan daripada angin yang berembus tenang.” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhary dan Muslim]

Bersemangatlah dengan kebaikan dan bersegeralah kepada segala kebaikan karena “Tidak ada balasan kebaikan (di dunia), kecuali kebaikan (pula) (di akhirat)” [Ar-Rahman: 60] dan “Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala terbaik (surga) dan tambahannya (melihat Wajah Allah).” [Yunus:26]

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Tulisan lainnya

Intisari Tauhid #29: Hikmah Penciptaan Jin dan Manusia

Jannatul-firdaus.net

Menyebar Ilmu Syar’i



Jannatul-firdaus.net

Menyebar Ilmu Syar’i



Bagikan…

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram



Intisari Tauhid: Hikmah Penciptaan Jin dan Manusia

  • Oleh: Ustadz Dzulqarnain Muhammad Sunusi hafizhahullah
Hikmah Penciptaan Jin dan Manusia

Allah Ta’âlâ berfirman,

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإنْسَ إِلا لِيَعْبُدُونِ

 

“Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia, kecuali agar mereka beribadah kepada-Ku.” [Adz-Dzariyat: 56]

 

Allah Ta’âlâ mengabarkan bahwa Allah tidaklah menciptakan jin dan manusia, kecuali agar mereka beribadah kepada-Nya.Maka ayat ini adalah penjelasan tentang hikmah penciptaan manusia dan jin. Allah tidak menginginkan apapun dari mereka sebagaimana keinginan seorang tuan dari budaknya, berupa bantuan rezeki dan makanan. Yang Allah inginkan justru kemaslahatan buat mereka.

Faedah Ayat:

1.Kewajiban mengesakan ibadah kepada Allah bagi seluruh makhluk: jin dan manusia.

2.Penjelasan tentang hikmah penciptaan jin dan manusia.

3.Bahwa Sang Penciptalah yang berhak mendapatkan peribadahan, bukan selain-Nya yang tidak menciptakan. Ini merupakan bantahan terhadap penyembah berhala dan selainnya.

4.Penjelasan bahwa Allah Subhânahu wa Ta’âlâ tidak membutuhkan makhluk-Nya dan (penjelasan tentang) butuhnya para makhluk kepada Allah, sebab Dia-lah Yang mencipta, sedang mereka adalah yang diciptakan.

5.Penetapan adanya hikmah dalam setiap perbuatan-Nya Subhânahu wa Ta’ala.

[Diringkas dari Kitab Penjelasan Ringkas Kitab Tauhid karya Syaikh Shalih Al-Fauzan]

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Tulisan lainnya

Intisari Tauhid #28: Dakwah Para Rasul Adalah Dakwah Tauhid

Jannatul-firdaus.net

Menyebar Ilmu Syar’i



Jannatul-firdaus.net

Menyebar Ilmu Syar’i



Bagikan…

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram



Intisari Tauhid: Dakwah Para Rasul Adalah Dakwah Tauhid

  • Oleh: Ustadz Dzulqarnain Muhammad Sunusi hafizhahullah
Dakwah Para Rasul Adalah Dakwah Tauhid

Allah Ta’âlâ berfirman,

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولاً أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ

“Dan sesungguhnya, Kami telah mengutus rasul pada setiap umat (untuk menyerukan), ‘Beribadahlah kepada Allah (semata) dan jauhilah thaghut.’.” [An-Nahl: 36]

 

Allah Subhânahu wa Ta’âlâ telah mengabarkan bahwa Dia telah mengutus seorang rasul pada setiap umat dan kurun manusia, yang mengajak kepada manusia untuk beribadah kepadaAllah semata dan meninggalkan peribadahan kepada selain-Nya. Allah terus mengutus para rasul-Nya kepada manusia sejak terjadinya kesyirikan pada bani Adam pada zaman Nabi Nuh hingga Allah menutup para nabi dengan Muhammad shallallâhu ‘alaihi wa sallam.

Faedah Ayat:
1. Sesungguhnya hikmah pengutusan para rasul adalah untuk berdakwah menyeru kepada tauhid dan melarang dari kesyirikan.

2. Sesungguhnya agama para nabi adalah satu, yaitu memurnikan peribadahan kepada Allah dan meninggalkan kesyirikan, meskipun syariat mereka berbeda-beda.

3. Bahwa risalah (tauhid) ini berlaku untuk setiap umat dan hujjah telah tegak bagi seluruh umat manusia.

4. Ayat di atas menerangkan keagungan perkara tauhid dan bahwa tauhid wajib atas seluruh umat.

5. Di dalam ayat ini, terdapat kandungan kalimat Lâ Ilâha Illallâh berupa penafian (peniadaan) dan itsbat (penetapan). Hal ini menunjukkan bahwa tauhid tidak dapat ditegakkan, kecuali dengan keduanya (nafi dan itsbat). Adapun nafi saja, itu bukanlah penauhidan. Demikian pula, itsbat saja bukanlah penauhidan.

[Diringkas dari Kitab Penjelasan Ringkas Kitab Tauhid karya Syaikh Shalih Al-Fauzan]

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Tulisan lainnya

Intisari Tauhid #27: Perintah untuk Bertauhid dan Berbuat Baik Kepada Orang Tua

Jannatul-firdaus.net

Menyebar Ilmu Syar’i



Jannatul-firdaus.net

Menyebar Ilmu Syar’i



Bagikan…

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram



Intisari Tauhid: Perintah untuk Bertauhid dan Berbuat Baik Kepada Orang Tua

  • Oleh: Ustadz Dzulqarnain Muhammad Sunusi hafizhahullah
Perintah untuk Bertauhid dan Berbuat Baik Kepada Orang Tua

Allah Ta’âlâ berfirman,

وَقَضَى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا

 

“Dan Rabb-mu telah memerintahkan kalian, “Janganlah kalian beribadah, kecuali hanya kepada-Nya, dan hendaknya kalian berbuat baik kepada kedua orang tua (kalian) dengan sebaik-baiknya ….” [Al-Isrâ`: 23]

 

Ayat ini adalah pengabaran bahwa Allah Subhânahu wa Ta’âlâ telah memerintahkan dan mewasiatkan melalui lisan-lisan para rasul-Nya agar hanya Dia semata yang disembah, tidak ada yang disembah selain-Nya. Begitu juga wasiat agar seorang anak berbuat baik kepada kedua orang tuanya, melalui ucapan atau perbuatan, serta tidak berbuat jelek kepada kedua (orang tua)nya karena kedua (orang tua)nyalah yang telah memelihara dan mendidiknya ketika masih kecil dan lemah sampai dia menjadi kuat dan dewasa.

Faedah Ayat:
1. Bahwasanya tauhid itu adalah kewajiban yang pertama kali Allah perintahkan, juga merupakan kewajiban yang pertama atas hamba.

2. Kandungan kalimat Lâ Ilâha Illallâh berupa peniadaan dan penetapan, yang padanya terdapat dalil yang menunjukkan bahwa tauhid tidak akan tegak, kecuali dibangun di atas nafi dan itsbat (meniadakan peribadahan kepada selain Allah dan menetapkan ibadah hanya untuk Allah saja) sebagaimana (penjelasan) yang telah berlalu.

3. Besarnya hak kedua orang tua. Allah mengikutkan hak kedua (orang tua) tersebut kepada hak-Nya, dan hak tersebut ada pada tingkatan kedua.

4. Kewajiban berbuat baik kepada kedua orang tua dengan segala jenis kebaikan, sebab Allah tidak mengkhususkan satu jenis kebaikan tanpa yang lainnya.

5. Keharaman durhaka terhadap kedua orang tua.

[Diringkas dari Kitab Penjelasan Ringkas Kitab Tauhid karya Syaikh Shalih Al-Fauzan]

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Tulisan lainnya