Urgensi Ucapan ‘Insya Allah’

Jannatul-firdaus.net

Menyebar Ilmu Syar’i



Jannatul-firdaus.net

Menyebar Ilmu Syar’i



Bagikan…

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram



Urgensi Ucapan ‘Insya Allah’

  • Oleh : Ustadz Dzulqarnain Muhammad Sunusi hafizhahullah
  • (Pembina Peduli Dakwah)

Allah Subhânahû Wa Ta’âlâ berfirman,

وَلَا تَقُولَنَّ لِشَيْءٍ إِنِّي فَاعِلٌ ذَلِكَ غَدًا ، إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ

 

“Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan tentang sesuatu, ‘Sesungguhnya aku akan mengerjakan ini besok pagi,’ kecuali (dengan menyebut), ‘Insya Allah’.” [Al-Kahf: 23-24]

Ayat ini adalah petunjuk Allah kepada Rasul-Nya shallallâhu ‘alaihi wa sallam agar hal yang beliau telah niatkan dengan kesungguhan disandarkan kepada kehendak Allah ‘Azza wa Jalla semata. Karena dialah Allah Yang Maha Mengetahui segala yang ghaib, Yang mengetahui segala hal yang telah terjadi dan apa yang akan terjadi, serta Allah mengetahui apa yang tidak akan terjadi andaikata terjadi bagaimana terjadinya.

Insya Allah artinya kalau Allah menghendaki. Sebuah etika bagi seorang muslim untuk meyakini bahwa apa yang dia lakukan hanya terjadi bila Allah menghendakinya.

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Al-Bukhary dan Muslim, Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam menceritakan kisah Nabi Sulaiman ‘alaihissalam yang akan mendatangi 70 istrinya dalam satu malam, -dalam sebuah riwayat 90 istri dan dalam riwayat lain 100 istri-, agar setiap istrinya tersebut melahirkan seorang penunggang kuda yang berjihad di jalan Allah. Tapi, Nabi Sulaiman ‘alaihissalam lupa membaca ‘Insya Allah’. Akhirnya, tidak ada yang melahirkan dari istri-istrinya kecuali seorang istri saja yang melahirkan anak cacat. Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam mengingatkan bahwa andaikata Nabi Sulaiman ‘alaihissalam membaca ‘Insya Allah’ pasti setiap istrinya akan melahirkan seorang penunggang kuda yang berjihad di jalan Allah.

Biasakanlah diri dengan etika yang agung ini, agar Allah memberkahi segala usaha dan amalanmu.

www.dzulqarnain.net

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Tulisan lainnya

Memilih Kawan

Jannatul-firdaus.net

Menyebar Ilmu Syar’i



Jannatul-firdaus.net

Menyebar Ilmu Syar’i



Bagikan…

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram



Memilih Kawan

  • Oleh : Ustadz Dzulqarnain Muhammad Sunusi hafizhahullah
  • (Pembina Peduli Dakwah)

Allah Subhânahû Wa Ta’âlâ berfirman,

وَتَحْسَبُهُمْ أَيْقَاظًا وَهُمْ رُقُودٌ وَنُقَلِّبُهُمْ ذَاتَ الْيَمِينِ وَذَاتَ الشِّمَالِ وَكَلْبُهُمْ بَاسِطٌ ذِرَاعَيْهِ بِالْوَصِيدِ

 

Dan kamu mengira mereka itu bangun, padahal mereka tidur. Dan kami bolak-balikkan mereka ke kanan dan ke kiri, sedang anjing mereka mengunjurkan kedua lengannya di muka pintu gua.” [Al-Kahfy: 18]

Ayat di atas adalah penggalan dari kisah Ashabul Kahfy. Suatu kisah yang sangat menakjubkan. Anak-anak muda Ashabul Kahfy yang shalih ini ditidurkan oleh Allah selama 309 tahun tanpa merubah kondisi jasad mereka, dan tanpa makan maupun minum. Yang perlu kita renungi disini, adalah anjing Ashabul Kahfy juga ikut ditidurkan dan mendapat kemulian yang didapatkan oleh pemiliknya. Demikianlah berkawan dengan orang-orang baik, pasti membawa kebaikan.

Sebaliknya, berkawan dengan orang-orang yang tidak baik, akan membawa hal yang tidak menyenangkan. Perhatikan kisah Abu Thalib, paman Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam yang meninggal dalam keadaan kafir, karena setiap kali Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam menawarkan keislaman kepada pamannya, dua kawan Abu Thalib yaitu Abu Jahl dan Abdullah bin Umayyah mengajaknya untuk menapaki agama nenek moyang mereka. Akhirnya, Abu Thalih meninggal dalam keadaan kafir karena gengsi untuk dicela oleh kaumnya.

Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam telah mengingatkan,

مَثَلُ الجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالسَّوْءِ، كَحَامِلِ المِسْكِ وَنَافِخِ الكِيرِ، فَحَامِلُ المِسْكِ: إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ، وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً، وَنَافِخُ الكِيرِ: إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَةً

 

Perumpamaan teman duduk yang baik dan teman duduk yang jelek bagaikan pembawa minyak wangi dan peniup api. Pembawa minyak wangi, mungkin dia memberi hadiah minyak wangi kepadamu, menjualnya kepadamu, atau engkau akan mencium bau yang harum darinya. Sedang peniup api (pandai besi), mungkin dia akan membakar bajumu, atau engkau akan mendapat udara yang tidak menyenangkan.” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhary dan Muslim]

Berkawanlah dengan orang-orang baik yang mampu mengajakmu kepada kebaikan dan menjadi cermin kehidupanmu.

www.dzulqarnain.net

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Tulisan lainnya

Prasangka, Mencari-cari Kejelekan Orang lain, dan Ghibah

Jannatul-firdaus.net

Menyebar Ilmu Syar’i



Jannatul-firdaus.net

Menyebar Ilmu Syar’i



Bagikan…

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram



Prasangka, Mencari-cari Kejelekan Orang lain, dan Ghibah

  • Oleh : Ustadz Dzulqarnain Muhammad Sunusi hafizhahullah
  • (Pembina Peduli Dakwah)

Allah Subhânahû Wa Ta’âlâ berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ

 

Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka, karena sebagian dari prasangka itu adalah dosa. Dan janganlah mencari-cari kejelekan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kalian yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kalian merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang. [AlHujârât: 12]

Ada tiga akhlak buruk yang dicela dalam ayat di atas,

Pertama, prasangka tak berdasar.

Allah melarang orang-orang yang beriman dari kebanyakan prasangka, yaitu tuduhan dan anggapan berkhianat terhadap keluarga, kerabat, dan manusia, hal yang bukan pada tempatnya. Sebagian dari hal tersebut telah dipastikan sebagai dosa, dan kebanyakannya ditinggalkan untuk berhati-hati darinya. ‘Umar bin Al-Khaththab berkata, “Jangan sekali-kali engkau menyangka suatu kalimat yang keluar dari saudaramu kecuali kebaikan, sepanjang engkau masih menemukan kemungkinan kebaikan pada (kalimatnya).” [Tafsir Ibnu Katsir]

Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِيَّاكُمْ وَالظَّنَّ، فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الْحَدِيثِ، وَلَا تَحَسَّسُوا، وَلَا تَجَسَّسُوا، وَلَا تَنَافَسُوا، وَلَا تَحَاسَدُوا، وَلَا تَبَاغَضُوا، وَلَا تَدَابَرُوا، وَكُونُوا عِبَادَ اللهِ إِخْوَانًا

“Hati-hatilah kalian dari prasangka, karena prasangka adalah sedusta-dusta pembicaraan, janganlah kalian mendengar pembicaraan orang lain, janganlah kalian ber-tajassus (mencari-cari kejelekan orang), janganlah kalian saling bersaing, janganlah kalian saling hasad, janganlah kalian saling membenci, janganlah kalian saling membelakangi, dan jadilah kalian –wahai hamba-hamba Allah- sebagai orang-orang yang bersaudara.” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhary dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallâhu ‘anhu]

Kalau kita memeriksan diri masing-masing, mungkin banyak dari kita tergolong orang-orang yang banyak berprasangka jelek kepada saudaranya.Semoga Allah mengampuni kita semua.

Kedua, mencari-cari kejelekan orang lain.

Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam telah mengingatkan,

إِنَّكَ إِنِ اتَّبَعْتَ عَوْرَاتِ النَّاسِ أَفْسَدْتَهُمْ، أَوْ كِدْتَ أَنْ تُفْسِدَهُمْ

“Apabila engkau mencari-cari aurat manusia, sungguh engkau telah merusak mereka atau hampir merusak mereka.” [Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Ibnu Hibban dari Mu’âwiyah radhiyallâhu ‘anhu. Dishahihkan oleh An-Nawawy, Al-Albany dan Al-Wâdi’iy]

Dalam hadits yang lain, Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يَا مَعْشَرَ مَنْ أَسْلَمَ بِلِسَانِهِ وَلَمْ يُفْضِ الإِيمَانُ إِلَى قَلْبِهِ، لَا تُؤْذُوا المُسْلِمِينَ وَلَا تُعَيِّرُوهُمْ وَلَا تَتَّبِعُوا عَوْرَاتِهِمْ، فَإِنَّهُ مَنْ تَتَبَّعَ عَوْرَةَ أَخِيهِ المُسْلِمِ تَتَبَّعَ اللَّهُ عَوْرَتَهُ، وَمَنْ تَتَبَّعَ اللَّهُ عَوْرَتَهُ يَفْضَحْهُ وَلَوْ فِي جَوْفِ رَحْلِهِ

“Wahai sekalian manusia, barangsiapa yang beriman dengan lisannya, sedangkan keimanan belum masuk ke dalam hatinya, janganlah kalian mengganggu kaum muslimin juga janganlah mencela mereka, serta janganlah kalian mencari-cari aurat mereka. Sesungguhnya, barangsiapa yang mencari-cari aurat saudaranya sesama muslim, Allah akan mencari-cari auratnya. Barangsiapa yang auratnya dicari-cari oleh Allah, niscaya Allah akan mempermalukannya, walaupun dia berada di tengah rumahnya.” [Diriwayatkan oleh At-Tirmidzy dan selainnya dari Ibnu Umar radhiyallâhu ‘anhumâ. Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albany dalam Shahîhul Jamî’]

Jangan suka mencari kejelekan orang lain, selain hal tersebut adalah dosa besar, tentu akan lebih bermanfaat kita memperbaiki dan membaca kejelekan sendiri.

Ketiga, Ghibah.

Definisi ghibah diterangkan oleh Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam sabda beliau,

ذِكْرُكَ أَخَاكَ بِمَا يَكْرَهُ

“Engkau menyebut saudaramu dengan hal yang dia tidak sukai.”

 

Seorang bertanya, “Bagaimana pendapatmu jika yang kuucapkan itu ada pada saudaraku?” Beliau menjawab,

إِنْ كَانَ فِيهِ مَا تَقُولُ، فَقَدِ اغْتَبْتَهُ، وَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِيهِ فَقَدْ بَهَتَّهُ

“Jika apa yang engkau ucapkan ada padanya, sungguh engkau telah mengghibahnya. Jika (apa yang engkau ucapkan) tidak terdapat padanya, sungguh engkau telah berbuat kedustaan terhadapnya.”[Diriwayatkan oleh Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.]

Cukup banyak hadits yang menjelaskan tentang bahaya ghibah dan besar dosa dalam hal tersebut. Cukuplah ayat ini sebagai peringatan. Allah telah memperumpamakan ghibah seperti seorang yang memakan bangkai saudaranya sendiri. Hanya orang yang tak memiliki hati yang tidak membenci hal tersebut.

Perintah bertakwa di akhir ayat adalah renungan untuk memperbaiki diri dengan melaksanakan segala ketaatan dan meninggalkan segala larangan.

Berusahalah untuk menjaga lisan, berbaik sangkalah kepada saudaramu, dan sibuklah dengan membenahi diri sendiri

www.dzulqarnain.net

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Tulisan lainnya

Anda Ingin Melihat Perubahan?

Jannatul-firdaus.net

Menyebar Ilmu Syar’i



Jannatul-firdaus.net

Menyebar Ilmu Syar’i



Bagikan…

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram



Anda Ingin Melihat Perubahan?

  • Oleh : Ustadz Dzulqarnain Muhammad Sunusi hafizhahullah
  • (Pembina Peduli Dakwah)

Allah Jalla Jalâluhû berfirman,

إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ

 

“…Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum hingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri….” [Ar-Ra’d: 11]

 

Pada ayat di atas, Allah menerangkan bahwa Allah tidak mengubah suatu nikmat, kebaikan dan kesejahteraan suatu kaum hingga mereka sendiri yang mengubah keadaan mereka dengan kekafiran, kemaksiatan atau ketidak syukuran terhadap nikmat.

Ayat ini semakna dengan firman-Nya, “(Siksaan) yang demikian itu adalah karena sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan mengubah sesuatu nikmat yang telah Dia anugerahkan kepada suatu kaum, hingga kaum itu mengubah apa-apa yang ada pada diri mereka sendiri, dan sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” [Al-Anfâl: 53], juga firman-Nya, “Dan musibah apa saja yang menimpa kalian maka itu disebabkan oleh perbuatan tangan kalian sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (kesalahan-kesalahan kalian).” [Asy-Syûrâ: 30] [Tafsir Adhwâ` Al-Bayân]

Demikian pula sebaliknya, apabila penduduk negeri mengubah kemaksiatan pada diri-diri mereka dengan beralih kepada ketaatan, Allah akan mengubah kesengsaraan mereka menjadi kebaikan, kesejahteraan dan rahmat. [Tafsir As-Si’dy]

Renungi pula firman-Nya, “…hingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.”

Perubahan harus bermula dari diri sendiri, bukan bermula dengan mengeritik orang lain dan melupakan diri sendiri yang bergelimang dengan dosa dan pelanggaran.

Marilah kita melakukan reformasi bermula dari diri sendiri.

Harapkan perubahan dengan banyak menangisi dosa, memperbaiki kesalahan, meluruskan keimanan, dan memperindah amalan.

Jangan sekali-sekali mengharap perubahan dengan cara teriak-teriak di jalanan, menghalangi lalu lintas manusia, merugikan orang-orang yang tidak berdosa, dan memadamkan listrik, serta melayangkan jiwa dan materi.

www.dzulqarnain.net

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Tulisan lainnya

Jangan Mundur ke Belakang

Jannatul-firdaus.net

Menyebar Ilmu Syar’i



Jannatul-firdaus.net

Menyebar Ilmu Syar’i



Bagikan…

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram



Jangan Mundur ke Belakang

  • Oleh : Ustadz Dzulqarnain Muhammad Sunusi hafizhahullah
  • (Pembina Peduli Dakwah)

Allah Ta’ala berfirman,

وَلَا تَكُونُوا كَالَّتِي نَقَضَتْ غَزْلَهَا مِنْ بَعْدِ قُوَّةٍ أَنْكَاثًا

 

“Dan janganlah kalian seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai berai kembali.” [An-Nahl: 92]

Ayat di atas menyinggung seorang perempuan yang bekerja menenun dan memintal dengan sangat kuat. Ketika tenunannya selesai, dia kembali melepas benang tenunannya satu persatu hingga benang tenunannya bercerai berai. Sia-sia amalannya dan berlalu umur dan upayanya tanpa arti.

Kadang Kita melihat seseorang telah berjalan dalam menimba ilmu dan membaca ayat dan hadits, tetapi kemudian dia berpaling dari ilmu dan kembali seakan-akan tidak pernah belajar dan mengenal petunjuk.

Juga kadang seseorang telah berjalan dengan diri dan keluarganya menuju kebaikan setelah berbagai pengorbanan, tetapi kemudian dia kembali kepada hal yang bisa membahayakan diri dan keluarganya.

Tidak jarang ditemukan seseorang yang dimuliakan oleh Allah dengan amalan shalih, tetapi kemudian dia mengganti amalan shalihnya dengan dosa dan maksiat.

Pada Ramadhan, seorang hamba kadang telah menegakkan berbagai ibadah, tetapi di tengah jalan atau selepas Ramadhan tersebut, ibadahnya berguguran hingga kadang tanpa bekas.

Allah telah mencela Ahlul Kitab dalam firman-Nya,

وَلَا يَكُونُوا كَالَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الْأَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ وَكَثِيرٌ مِنْهُمْ فَاسِقُونَ

“Dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al-Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang fasik.” [Al-Hadid: 16]

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhuma,

“Wahai Abdullah, janganlah engkau seperti Fulan. Sebelumnya dia melakukan shalat malam, tetapi kemudian dia meninggalkan shalat malam itu.” [Muttafaqun ‘Alaihi]

Hidup ini perlu kekuatan, keteguhan, dan istiqamah.

Selalulah melangkah kedepan. Sayangi dan syukurilah kebaikan yang Allah bukakan untukmu.

Ya Allah Yang membolak-balikkan hati, kukuhkanlah hati-hati kami di atas ketaatan kepada-Mu.

www.dzulqarnain.net

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Tulisan lainnya

Bekal Keselamatan yang Terlupakan

Jannatul-firdaus.net

Menyebar Ilmu Syar’i



Jannatul-firdaus.net

Menyebar Ilmu Syar’i



Bagikan…

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram



Bekal Keselamatan yang Terlupakan

  • Oleh : Ustadz Dzulqarnain Muhammad Sunusi hafizhahullah
  • (Pembina Peduli Dakwah)

Allah Tabâraka wa Ta’âlâ berfirman,

وَأَنِيبُوا إِلَى رَبِّكُمْ وَأَسْلِمُوا لَهُ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَكُمُ الْعَذَابُ ثُمَّ لَا تُنْصَرُونَ

 

“Dan kembalilah kalian kepada Rabb kalian dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum adzab datang kepada kalian kemudian kalian tidak dapat ditolong (lagi).” [Az-Zumar: 54]

Ketika banjir telah menenggelamkan harta benda, menghanyutkan keamanan dan ketenangan, mencentangperenangkan kegembiraan, serta banyak berakhir dengan kepiluan, ratap tangis, duka, dan nestapa.

Sebagai manusia, sudah merupakan tabi’atnya untuk menyelamatkan diri, harta, anak-anak, dan keluarganya. Berbagai langkah mencari keselamatan adalah hal yang lumrah. Semoga Allah memberi keselamatan dan ganti yang baik bagi mereka yang teruji oleh banjir tersebut. Amin Ya Mujibas Sâ`ilîn.

 

Namun sangat disayangkan, banyak dari mereka yang mencari keselamatan tidak mengingat bahwa pokok dari jalan keselamatan adalah yang tertera dalam ayat di atas.

Kembali kepada Allah dengan bertaubat dan beristighfar, serta melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi setiap larangan-Nya adalah jalan keselamatan yang telah menyelamatkan para nabi dan pengikutnya. Demikian pula berserah diri kepada-Nya dengan mengikhlaskan ibadah kepada Allah, menjauhi kesyirikan, dan bertawakkal kepada Allah, serta menerima segala ketentuan dan takdir-Nya adalah gerbang keselamatan dari musibah dan petaka.

Renungilah akhir ayat, “kemudian kalian tidak dapat ditolong (lagi).” Agar kita bersegera menghisab diri, menata jiwa, serta mensucikannya dari dosa dan maksiat. Bukan menyalahkan orang lain dan mencari kambing hitam. Bukan pula dengan mendatangi tempat-tempat yang dikeramatkan, melempar sesajian dan bergantung kepada selain Allah. Hal-hal yang seperti ini hanyalah menambah musibah dan petaka.

Bersegeralah kepada Allah sebelum kesempatan berlalu.

Semoga Allah melimpahkan kebaikan dan rahmat-Nya untuk segenap kaum muslimin di berbagai belahan negeri.

www.dzulqarnain.net

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Tulisan lainnya

Tentukan Jalanmu!

Jannatul-firdaus.net

Menyebar Ilmu Syar’i



Jannatul-firdaus.net

Menyebar Ilmu Syar’i



Bagikan…

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram



Tentukan Jalanmu!

  • Oleh : Ustadz Dzulqarnain Muhammad Sunusi hafizhahullah
  • (Pembina Peduli Dakwah)

Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّهَا لَإِحْدَى الْكُبَرِ ، نَذِيرًا لِلْبَشَرِ ، لِمَنْ شَاءَ مِنْكُمْ أَنْ يَتَقَدَّمَ أَوْ يَتَأَخَّرَ

 

“Sesungguhnya (neraka) itu adalah salah satu bencana yang amat besar, sebagai ancaman bagi manusia. (Yaitu) bagi siapa saja di antara kalian yang berkehendak akan maju atau mundur.” [Al-Muddatstsir: 35-37]

Roda kehidupan ini terus berputar dan tidak mengenal kata berhenti. Dalam perputarannya, pasti ada dua hal yang menyertai: maju ke depan atau mundur ke belakang. Kalau bukan maju menuju ketaatan berarti dia mundur ke arah kejelekan. Jika tidak maju menuju surga, berarti mundur menuju neraka. Karena, tidak ada kedudukan antara surga dan neraka. (Demikian makna keterangan Ibnul Qayyim dan sejumlah ahli tafsir)

Ini semakna dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

كُلُّ النَّاسِ يَغْدُو فَبَايِعٌ نَفْسَهُ فَمُعْتِقُهَا أَوْ مُوبِقُهَا

“Setiap orang berusaha sehingga dia menjual dirinya (dalam transaksi kehidupan). Ada yang membebaskan dirinya (dari neraka), tetapi juga ada yang membinasakannya.” [Diriwayatkan oleh Muslim]

Juga Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

وَقُلِ الْحَقُّ مِنْ رَبِّكُمْ فَمَنْ شَاءَ فَلْيُؤْمِنْ وَمَنْ شَاءَ فَلْيَكْفُرْ

“Dan katakanlah, ‘Kebenaran itu datangnya dari Rabb-mu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, tetapi barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir.’.” [Al-Kahf: 29]

Banyak dalil lain yang semakna dengan kandungan dua ayat dan hadits di atas.

Senantiasalah tentukan jalan dan pilihanmu dalam kesempatan hidup ini. Jalan yang mendekatkanmu kepada surga adalah terang sebagaimana jalan yang mengantar kepada neraka juga jelas.

Jalan kehidupan seorang mukmin adalah jalan yang pasti, bukan keraguan, was-was, dan kebimbangan.

Selalu terbuka untuk seorang mukmin, pintu harapan akan kebaikan yang berada di sisi Allah, serta menghindarkan diri dari segala hal yang dibenci dan mendekatkan kepada neraka.

Tentukan pilihanmu, selalulah menatap ke depan, dan jangan mundur ke belakang. Semoga Allah memberi keteguhan dan kelapangan hati di atas petunjuk.

www.dzulqarnain.net

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Tulisan lainnya

Agar Allah Selalu Menjagamu

Jannatul-firdaus.net

Menyebar Ilmu Syar’i



Jannatul-firdaus.net

Menyebar Ilmu Syar’i



Bagikan…

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram



Agar Allah Selalu Menjagamu

  • Oleh : Ustadz Dzulqarnain Muhammad Sunusi hafizhahullah
  • (Pembina Peduli Dakwah)

Allah Jalla Jalâluhu berfirman,

لَهُ مُعَقِّبَاتٌ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ يَحْفَظُونَهُ مِنْ أَمْرِ اللهِ.

 

Bagi manusiaada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya. Mereka menjaganya atas perintah Allah. [Ar-Ra’d:11]

As-Si’dy rahimahullâh berkata, “Yaitu menjaga badan dan ruh mereka dari siapa saja yang menghendaki kejelekan padanya, juga menjaga amalan-amalan mereka.”

Demikianlah malaikat-malaikat menjaga seorang hamba dengan perintah Allah.

Penjagaan Allah Ta’âlâ kepada hamba mencakup dua hal:

1. Penjagaan kepada diri, anak, istri, keluarga, harta, dan semisalnya.

2. Penjagaan kepada agama dan kebaikannya.

Terdapat isyarat pada ayat bahwa penjagaan Allah ‘Azza wa Jalla kepada hamba adalah karena sebab-sebab amalan yang si hamba lakukan.

Di antara sebab penjagaan Allah adalah:

  1. Keikhlasan.

Allah Jalla Sya`nuhu menjelaskan penjagaan-Nya kepada Nabi Yusuf ‘alaihis salâm,

كَذَلِكَ لِنَصْرِفَ عَنْهُ السُّوءَ وَالْفَحْشَاءَ إِنَّهُ مِنْ عِبَادِنَا الْمُخْلَصِينَ.

“Demikianlah, agar Kami memalingkan darinya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba Kami yang terpilih.”[Yûsuf: 24]

  1. Ketakwaan.

Allah Jalla Jalâluhu berfirman,

وَمَنْ يَتَّقِ اللهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا. وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ.

“Siapa saja yang bertakwa kepada Allahniscaya Dia akan mengadakan jalan keluarbaginya. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangka.” [Ath-Thalaq: 2-3]

  1. Keshalihan orang tua.

Sebagaimana, harta seorang yatim dijaga oleh Allah dengan alasan yang disebut dalam firman-Nya,

وَكَانَ أَبُوهُمَا صَالِحًا.

“Sedang ayah keduanya adalah seorang yang shalih.” [Al-Kahfi: 82]

  1. Menjaga segala perintah Allah dengan melaksanakan perintah tersebut dan menjaga larangan Allah dengan menjauhi larangan tersebut. Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda,

احْفَظِ اللهَ يَحْفَظْكَ، احْفَظِ اللهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ

 “Jagalah Allah, niscaya Allah akan menjagamu. Jagalah Allah niscaya engkau menemukan (Allah) dihadapanmu.” [Diriwayatkan oleh Ahmad dan At-Tirmidzy]

  1. Keimanan dan amalan shalih.

Karena, semua makhluk berada dalam kerendahan, kecuali siapa saja yang beriman dan beramal shalih. Allah Subhânahu berfirman,

ثُمَّ رَدَدْنَاهُ أَسْفَلَ سَافِلِينَ. إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ.

 “Kemudian Kami mengembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka), kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amalan shalih. [At-Tîn:5-6]

Masih tersisa sebab-sebab penjagaan lainnya.

Harus ada kesabaran dalam menjaga diri dan keluarga.

Mesti ada keteguhan dalam meraih penjagaan Allah Ta’âlâ.

Semoga Allah menerangi hati-hati Kita dengan petunjuk.

www.dzulqarnain.net

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Tulisan lainnya

Mengapa Engkau Mengganti Kebaikan dengan Kerendahan?

Jannatul-firdaus.net

Menyebar Ilmu Syar’i



Jannatul-firdaus.net

Menyebar Ilmu Syar’i



Bagikan…

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram



Mengapa Engkau Mengganti Kebaikan dengan Kerendahan?

  • Oleh : Ustadz Dzulqarnain Muhammad Sunusi hafizhahullah
  • (Pembina Peduli Dakwah)

Allah ‘Azza Wa Jalla berfirman,

قَالَ أَتَسْتَبْدِلُونَ الَّذِي هُوَ أَدْنَى بِالَّذِي هُوَ خَيْرٌ.

 

“Musa berkata, ‘Maukah kalian mengambil yang rendah sebagai pengganti yang lebih baik?’. [Al-Baqarah: 61]

Penggalan ayat di atas adalah pernyataan Nabi Musa ‘alaihis salâm kepada Bani Israil. Bani Israil telah diberi anugerah oleh Allah berupa manna ‘makanan manis seperti madu’ dan salwa ‘sebangsa burung puyuh yang dagingnya sangat lezat’, tetapi mereka meminta untuk diberi hasil bumi berupa sayur-mayur, ketimun, bawang putih, kacang adas, dan bawang merah.

Mereka mengganti nikmat Allah berupa makanan yang lebih bernilai dan lezat dengan makanan yang lebih rendah daripada itu. Akhirnya, mereka menuai kenistaan, kefaqiran, dan kemurkaan dari Allah.

Sangatlah disayangkan bahwa akhlak orang Yahudi ini, mengganti hal yang baik dengan hal yang rendah, telah dicontoh oleh banyak manusia.

Di antara mereka, ada yang lebih mencintai akhlak orang-orang kafir daripada akhlak kaum muslimin.

Ada yang lebih berkiblat ke barat atau ke timur daripada berkiblat kepada umat Islam.

Sebagiannya lagi, lebih senang berpakaian “buka-bukaan” daripada hijab yang menjaga kehormatan.

Juga, lebih mementingkan ilmu dunia daripada ilmu agama yang penuh cahaya dan keindahan.

Mereka pun lebih termotivasi dengan keberhasilan orang-orang kafir daripada ukiran sejarah dan kemercelangan Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam, para shahabat, dan orang-orang shalih.

Lebih pula mencintai kehidupan dunia daripada kehidupan akhirat.

Banyak lagi bentuk lain dari akhlak hina dan tercela ini.

Pada ayat tersebut, juga terdapat anjuran untuk berjiwa besar, memiliki semangat yang tinggi, dan menghargai hal yang lebih bernilai.

Selalulah berfikir positif dan jadikanlah setiap lembaran hidup lebih baik daripada hari-hari sebelumnya.

Semoga Allah memberi taufik dan keteguhan.

www.dzulqarnain.net

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Tulisan lainnya

Kuingin Ridha-Mu, Wahai Rabb-ku

Jannatul-firdaus.net

Menyebar Ilmu Syar’i



Jannatul-firdaus.net

Menyebar Ilmu Syar’i



Bagikan…

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram



Kuingin Ridha-Mu, Wahai Rabb-ku

  • Oleh : Ustadz Dzulqarnain Muhammad Sunusi hafizhahullah
  • (Pembina Peduli Dakwah)

Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ berfirman,

وَعَجِلْتُ إِلَيْكَ رَبِّ لِتَرْضَى.

“Dan Saya bersegera kepada-Mu, wahai Rabb-ku, agar Engkau ridha (kepadaku).” [Thaha : 84]

Demikianlah keadaan Nabi Musa ‘alaihis salâm dalam penghambaannya kepada Allah. Nabi Musa mendatangi miqat dengan penuh kerinduan kepada Rabbnya dan bersegera melaksanakan perintah-Nya agar ridha Allah semakin bertambah untuk dirinya.

Sikap ibadah di atas memberikan tiga pelajaran kepada kita:

Pertama, kecintaan seorang hamba kepada Allah akan membuat hamba selalu rindu untuk beribadah kepada-Nya, cinta kepada agama dan karunia-Nya.

Kedua, bersegera dalam kebaikan dan ketaatan ini adalah sifat para nabi, para malaikat, dan orang-orang shalih

Ketiga, mencari ridha Allah adalah hal teragung. Oleh karena itu, Nabi Musa ‘alaihis salâm bersegera menjalankan perintah Allah.

Bersyukurlah kepada Allah akan berbagai ibadah yang agung dan beragam di musim ketaatan yang berberkah.

Sambutlah Ramadhan dengan penuh kecintaan dan kegembiraan.

Buktikanlah kecintaanmu kepada Allah dan kepada ibadah yang Dia syariatkan!

Bersegeralah sebelum kesempatan berlalu!!!

Carilah ridha Allah dalam lembaran-lembaran ibadah di Ramadhan,

وَرِضْوَانٌ مِنَ اللَّهِ أَكْبَرُ.

“Dan keridhaan Allah adalah lebih besar.” [At-Taubah: 72]

Wallâhu a’lam.

www.dzulqarnain.net

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Tulisan lainnya

Akhir Sebuah Cinta yang Semu

Jannatul-firdaus.net

Menyebar Ilmu Syar’i



Jannatul-firdaus.net

Menyebar Ilmu Syar’i



Bagikan…

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram



Akhir Sebuah Cinta yang Semu

  • Oleh : Ustadz Dzulqarnain Muhammad Sunusi hafizhahullah
  • (Pembina Peduli Dakwah)

Allah Subhânahu wa Ta’âlâ berfirman,

الْأَخِلَّاءُ يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلَّا الْمُتَّقِينَ

 

“Orang-orang yang saling mencintai pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa.” [Az-Zukhruf: 67]

Setiap persahabatan, kecintaan, dan perkawanan akan berubah pada hari kiamat menjadi permusuhan dan kebencian kecuali kecintaan yang dibangun di atas ketakwaan. Itulah cinta karena Allah, cinta orang-orang yang memurnikan ibadahnya hanya untuk Allah, dan kecintaan di atas dasar ketakwaan. Perhatikan kondisi orang-orang yang berbuat kesyirikan pada hari kiamat, “Dan berkata Ibrahim, ‘Sesungguhnya berhala-berhala yang kalian sembah selain Allah adalah untuk menciptakan perasaan kasih sayang di antara kalian dalam kehidupan dunia ini kemudian di hari kiamat sebahagian kalian kafir terhadap sebahagian (yang lain) dan sebahagian kalian melaknati sebahagian (yang lain); dan tempat kembali kalian ialah neraka, dan sekali-kali tak ada bagi kalian para penolongpun.’.” [Al-‘Ankabut: 25]

Mungkin saja hari ini seorang istri cinta kepada suaminya, pada hari kiamat berubah menjadi permusuhan. Mungkin seorang anak cinta kepada orang tuanya, pada hari kemudian berganti menjadi perpisahan. Apalagi hanya sebuah cinta yang dibangun di atas dosa dan maksiat, dan cinta di luar jalur pernikahan seperti cinta banyak dari kaum muda yang tidak mengerti arti agama dan kehidupan, serta terpedaya oleh syaithan.

Bangunlah kecintaan di atas ketakwaan, engkau akan merasakan cinta yang hakiki dan cinta yang berbuah berbagai keindahan dan keimanan.

www.dzulqarnain.net

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Tulisan lainnya

Perjalanan Hati Kepada Allah

Jannatul-firdaus.net

Menyebar Ilmu Syar’i



Jannatul-firdaus.net

Menyebar Ilmu Syar’i



Bagikan…

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram



Perjalanan Hati Kepada Allah

  • Oleh : Ustadz Dzulqarnain Muhammad Sunusi hafizhahullah
  • (Pembina Peduli Dakwah)

Allah Ta’âlâ berfirman,

التَّائِبُونَ الْعَابِدُونَ الْحَامِدُونَ السَّائِحُونَ الرَّاكِعُونَ السَّاجِدُونَ الْآمِرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّاهُونَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَالْحَافِظُونَ لِحُدُودِ اللَّهِ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ

“Mereka itu adalah orang-orang yang bertaubat, yang beribadat, yang memuji, yang melawat, yang ruku’, yang sujud, yang menyuruh berbuat ma’ruf dan mencegah berbuat munkar dan yang memelihara hukum-hukum Allah. Dan gembirakanlah orang-orang mukmin itu.” [At-Taubah: 112]

Jika ada yang bertanya, “Siapakah yang diberi kabar gembira dengan surga?”, maka jawabannya adalah orang-orang yang memiliki sifat seperti yang disebutkan dalam ayat di atas.

Sebagaimana dalam ayat lain, diterangkan sifat-sifat perempuan yang paling shalihah. Yaitu pada Firman Allah ‘Azza wa Jalla,

عَسَى رَبُّهُ إِنْ طَلَّقَكُنَّ أَنْ يُبْدِلَهُ أَزْوَاجًا خَيْرًا مِنْكُنَّ مُسْلِمَاتٍ مُؤْمِنَاتٍ قَانِتَاتٍ تَائِبَاتٍ عَابِدَاتٍ سَائِحَاتٍ ثَيِّبَاتٍ وَأَبْكَارًا

“Jika Nabi menceraikan kalian, boleh jadi Rabbnya akan memberi ganti kepadanya dengan isteri yang lebih baik daripada kalian, yang patuh, yang beriman, yang taat, yang bertaubat, yang mengerjakan ibadat, yang berpuasa, yang janda dan yang perawan.” [At-Tahrim: 5]

Ketika ayat ini turun, maka para istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersegera kepada ketaatan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sehingga mereka tidak diceraikan. Maka, jadilah para istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam perempuan yang paling baik di tengah umat ini., karena Allah tidak memilihkan untuk Nabi-Nya kecuali yang terbaik.

Salah satu sifat mereka yang diberi kabar gembira dengan surga dan sifat perempuan yang shalihah, adalah as-siyâhah (As-Sâ`ih atauh As-Sâ`ihah).

Asal makna as-siyâhah dalam bahasa Arab adalah bepergian di atas muka bumi. Bisa diartikan melawat, melakukan perjalanan, berkelana dan berkeliling.

Jumhur (mayoritas) ahli tafsir menjelaskan makna as-siyâhah pada kedua ayat di atas adalah orang yang berpuasa. (Ibnu Katsir dan banyak ahli tafsri menguatkan makna ini dan Ibnu Jarir tidak menyebutkan selainnya).

Ada juga yang menafsirkan as-siyâhah dengan, (1) orang yang berjihad, (2) orang yang berhijrah, (3) orang yang safar dalam mencari hadits dan ilmu, dan (4) orang bertafakkur terhadap tauhid dan kebesaran Allah. (Dirangkum dari beberapa buku tafsir)

As-siyâhah ditafsirkan sebagai orang yang berpuasa karena orang yang berpuasa meninggalkan kelezatan mereka sebagaimana orang yang melakukan perjalanan meninggalkan kelezatannya.

Ibnu ‘Uyainah berkata, “Seorang yang berpuasa disebut sebagai As-Sâ`ih karena dia meninggalkan segala kelezatan makan, minum dan kegiatan nikah.” (Tafsir Al-Baghawy)

Syaikh Abdurrahman As-Si’dy menyebutkan bahwa As-siyâhah adalah perjalanan hati dalam mengenal Allah dan mencintai-Nya serta terus menerus kembali kepada-Nya.

Tentu penafsiran Beliau adalah tergolong dari penafsiran yang sangat indah yang mengumpulkan berbagai penafsiran di atas. Tentu sangat dimaklumi bahwa dalam puasa terkandung perjalanan jiwa dalam mengenal Allah dan mencintainya, serta terdapat berbagai jenjang penghambaan yang agung.

Kenalilah dari keagungan puasa yang Allah syari’atkan!

Renungi dari pembahasaan ayat-ayat Al-Qur`an terhadap puasa, agar engkau lebih mendalami rahasia dan keindahan puasa!

Wallahu A’lam.

Homepage

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Tulisan lainnya